Anda di halaman 1dari 44

PENGARUH PELAJARAN AKIDAH AKHLAK TERHADAP

PERILAKU SANTRI PUTRA BAGIAN C DI PONDOK


PESANTREN AL-HASYIMI SUKOLILO- BANCAR –TUBAN

PROPOSAL SKRIPSI

Oleh:

AHMAD MUNTAHA

NIM 182501140

INSTITUT AGAMA ISLAM NAHDLATUL ULAMA (IAINU)


TUBAN

FALKUTAS TARBIYAH

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

2021
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Pendidikan saat ini masih di percaya sebagai media yang sangat ampuh

dalam membangun kecerdasan sekaligus kepribadian anak manusia menjadi lebih

baik. Oleh karena itu, pendidikan secara terus menerus di bangun dan di

banggakan, agar dari proses pelaksanaannya menjadi generasi mudayang di

harapkan. (ahmad muhaimin azzet, 2011: 9)

Proses pembelajaran merupakan serangkaian interaksi yang baik antara

siswa dengan siswi, siswa dengan guru yang berlangsung dalam situasi idukatif

untuk mencapai tujuan pembelajaran tertentu, proses pembelajaran dikatakan

berhasil bila menghasilkan perubahan karakter.

Pendidikan karakter dipahami sebagai upaya cerdasan dalam berfikir,

penghayatan dalam bentuk sikap, pengalaman dalam bentuk prilaku yangsesuai

dengan nilai-nilai luhur yang menjadi jati dirinya, di wujudkan dalam interaksi
dengan tuhannya, diri sendiri, antar sesama, dan lingkungannya. Nilai-nilai luhur

tersebut antara lain: kejujuran, kemandirian, sopan santun, kemuliaan sosial,

kecerdasan berfikir termasuk kepenasaran akan intelektual, dan berfikir logis.

(zubzidi, 2012: 17)

Dengan demikian seorang pendidik mulai memperbaiki sistem pendidikan

dalam kurikulum serta melaksanakan berbagai solusi, salah satunya dengan

mengintegrasi pendidikan karakter dalam kurikulum. rambu-rambu yang dapat

membantu mengembangkansilabus pendidikan karakter di sekolah sekurang-

kurangnya teori kurikulum dan teori dan teori pendidikan karakter. (dhama

kusuma, 2011: 3)

Akhlak yang mulia dari seseorang manusia dengan demikian pembentukan

akhlak dapat di artikan sebagai usaha sungguh-sungguh dalam rangka membentuk

anak dengan sarana pendidikan dan pembinaan yang terprogram dengan baik dan

dilaksanakan dengan sungguh-sungguh dan konsisten. (abudin nata.2009.158)

Seorang anak yang berperilku negatif Di era globalisasi menurut setiap

bangsa memiliki sumber daya manusia yang berdaya tahan kuat dan berperilaku
yang handal. sumber daya manusia yang berkualitas hanya dapat di peroleh

pendidikan yang bermutu. (munawar sholeh.2005.11)

Namun demikian munculnya globalisasi juga menambah masalah baru bagi

dunia pendidikan. konflik seperti kenakalan remaja,tawuran antar sekolah,

penyalah gunaan narkoba, seks bebas, korupsi. Persoalan yang mendera bagi

bangsa indonesia. Tentu menjadi pertanyaan mengapa hal demikian terjadi di

indonesia bangsa yang di kenal akan adat ketimurannya ini apakah ada yang salah

dalam proses mendidik dan memberi pelajaran kepada anak-anak bangsa

indonesia ini, sehingga menghasilkan berbagai persoalan di atas tersebut.

Seorang pendidik jika hendak mengarahkan pendidikan dan menumbuhkan

karakter atau akhlak yang kuat pada peserta didik, haruslah mencontoh karakter

yang dimiliki oleh nabi muhammad saw. Yang memiliki karakter sempurna.

Karena semua sisi kehidupan beliau dan ucapan beliau sesungguhnya merupakan

teladan akan kesempurnaan akhlak dan kemuliaan amalan.

pengetahuan agama Islam, menanamkan keimanan kedalam jiwa anak,

mendidik anak agar taat menjalankan agama, dan mendidik anak agar berbudi

pekerti yang baik serta memiliki akhlak yang baik.


Di madrasah pendidikan akhlak tercantum dalam mata pelajaran yakni akidah

akhlak yang menekankan pada kemampuan memahami dan mempertahankan

keyakinan atau keimanan yang benar dengan mengamalkan nilai-nilai asmaul

husna. Menciptakan suasana keteladanan dan pembiasaan dengan mengamalkan

akhlak terpuji dan adab islam melalui pembiasaan contoh prilaku sehari-hari.

Mata pelajaran Aqidah Akhlak merupakan suatu cabang ilmu yang

didalamnya mengajarkan nilai-nilai moral yang sesuai dengan syariat Islam, yaitu

mengajarkan tentang keyakinan kepada Allah dan tata krama dalam pergaulan.

Dengan demikian jika pendidikan Akidah Akhlak yang dijadikan landasan

pengembangan nilai spiritual dilakukan dengan baik, maka kehidupan masyarakat

akan lebih baik

Konsep utama dari pendidikan karakter sebenarnya adalah lebih

mengutamakan pada pembentukan ative atau menyimpang ini disebabkan

pendidikan karakter yang terjadi di lingkungan sekolah terkesampingkan sehingga

kurang tertanam secara mendasar kepada siswa. Bila diamati dari permasalahan di

atas tentu terjadi keterkaitan dengan pembelajaran Akidah Akhlak yang harus

ditanamkan di sekolah agar dapat membentuk para siswa yang berakhlakul


karimah. Pembelajaran Aqidah Akhlak adalah aspek yang sangat bermanfaat yang

mengatur berbagai pola hubungan seharusnya yang dilakukan di dalam

kehidupan. Karena tidak dapat dipungkiri setiap perbuatan, perkataan manusia

harus berdasarkan pembelajaran Akidah Akhlak. Tanpa pembelajaran Akidah

Akhlak maka kehidupan di muka bumi ini tidak terkontrol dan akan mengarah

kepada perbuatan semena-mena dalam kehidupan bermasyarakat dan

lingkungannya.

setiap muslim pada hakikatnya adalah insan agama yang bercita-cita, berfikir,

beramal untuk hidup akhiratnya berdasarkan atas petunjuk dari wahyu Allah

melalui Rasulullah. Kecenderungan hidup beragama ini merupakan ruhnya agama

yang benar berkembangnya dipimpin oleh ajaran Islam yang murni bersumber

pada kitab suci yang telah menjelaskan serta menerangkan tentang perkara benar

(haq), maka dari itu berperilaku yang baik itu sangat di perlukan semua orang,

untuk apa, biar orang lain itu tidak menjahui kita akan tetapi malah menyukai kita

karena mempunyai akhlak yang baik.

Pendidikan tanpa akhlak atau prilaku yang baik akan membuat individu

tumbuh menjadi sosok yang cerdas dan pandai namun kurang meneliti

pertumbuhan secara lebih penuh sebagai manusia. oleh sebab itu pelaksanaan
pendidiikan akhlak atau prilaku yang paling berperan di dalam kelas adalah guru,

karena guru secara langsung berupaya mengajarkan, mempengaruhi, membina,

mendidik dan mengembangkan kemampuan peserta didik agar menjadi manusia

yang cerdas, terampil dan bermoral tinggi.

Pondok pesantren al-hasyimi sukolilo bancar tuban adalah salah satu lembaga

pendidikan salaf yang sudah mendapatkan kepercayaan masyarakat di wilayah

kecamatan bancar khususnya masyrakat desa sukolilo dan sekitarnya. Dalam

pondok pesantren al-hasyimi santri mengikuti atau belajar salah satu pelajaran

yang di ajarkan di dalam pondok yaitu akidah akhlak dimana pelajaran tersebut

bertujuan untuk membentuk keyakinan, perilaku dan adab santri biar lebih baik.

Pembelajaran akidah akhlak memuat materi-materi yang dapat mengarahkan

santri untuk selalu berperilaku terpuji dan menghindari perbuatan tercela. Selain

itu pelajaran akidah akhlak pada dasarnya untuk membentuk kepribadian yang

baik sesuai dengan ajaran agama islam yaitu menjadi manusia yang beriman dan

bertakwa kepada allah swt. sehingga dapat membawa diri pada tingkat kemuliaan

tertinggi yang sesuai dengan syariat islam.


Atas dasar pemikiran dan permasalahan tersebut, peneliti tertarik untuk meneliti

dan mengungkapkan dalam sebuah laporan penelitian dengan judul

“PENGARUH PELAJARAN AKIDAH AKHLAK TERHADAP PERILAKU

SANTRI PUTRA BAGIAN C DI PONDOK PESANTREN AL-HASYIMI

SUKOLILO- BANCAR –TUBAN”

1.2 RUMUSAN MASALAH

Berdasrkan latar belakang dapat di rumuskan masalah

penelitian sebagai berikut:

1.2.1 bagaimana pembelajaran akidah akhlak di pondok pesantren al-hasyimi

sukolilo-bancar-tuban

1.2.2 bagaimana perilaku santri di pondok pesantren al-hasyimi sukolilo-

bancar-tuban

1.2.3 bagaimana pengaruh pembelajaran akidah akhlak terhadap

Perilaku santri di pondok pesantren al-hasyimi sukolilo-bancar-tuban


1.3 TUJUAN PENELITIAN

Sebagai konsekuensi dari permasan pokok, maka tujuan yang ingin dicapai

Dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

1.3.1 untuk mengetahui pembelajaran akidah akhlak di pondok pesantren

al-hasyimi sukolilo-bancar-tuban

1.3.2 untuk mengetahui perilaku santri di pondok pesantren al-hasyimi

sukolilo- bancar-tuban

1.3.3 untuk mengetahui pengaruh pembelajaran akhidah akhlak terhadap

perilaku santri di pondok pesantren al-hasyimi sukolilo-bancar-tuban

1.4. KEGUNAAN PENELITIAN

Adapun kegunaan dari penelitian ini adalah:

1.4.1 kegunaan teoritis

1.4.1.1 di jadikan bahan bacaan yang bermanfaat untuk memperluas cakrawala

Pengetahuan pembeca.
1.4.1.2 memberikan sumbangsi pemikiran terhadap prektisi pendidikan,

khususnya Pendidikan islam.

1.4.1.3 sebagai tambahan referensi ilmiah bagi peneliti relevan

1.4.2 kegunaan praktis

Hasil penelitian ini di harapkan dapat digunakan oleh berbagai pihak di

antaranya:

1.4.2.1 bagi perguruan tinggi khususnya jurusan pendidikan agama islam IAINU

Tuban menjadi referensi atau tambahan informasi dalam

Pengembangan ilmu pengetahuan terhadap para mahasiswa

Mengenai pengaruh pembelajaran akiddah akhlak terhadap perilaku

Santri di pondok pesantren al-hasyimi sukolilo-bancar-tuban

1.4.2.2 pribadi peneliti, bisa dijadikan sebagai bekal yang berguna bagi karirnya

Sebagai pendidik nantinya.


1.4.2.3 bagi guru, penelitian ini menjadi umpan balik dalam rangka untuk

Meningkatkan kemampuan agar tidak semata-mata meningkatkan

Aspek kognitif, tetapi juga memperhatikan aspek keagamaan.


BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 LANDASAN TEORI

2.1.1 Pengertian Pembelajaran Aqidah Akhlak

Pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik

dan sumber belajar pada suatu lingkunan belajar.(abd rozak, m.si,fauzan

ma dan drs ali nurdin m.pd, 2010: 550) Dalam pembelajaran aqidah

akhlak pembelajaran yang berisi yang dapat mengarahkan kepada

pencapaian kemampuan dasar peserta didik untuk memahami rukun

iman dengan serderhana serta pengamalan dan pembiasaan berakhlak

Islami sederhana pula, untuk dapat dijadikan perilaku dalam sehari-hari

serta sebagai bekal untuk jenjang pendidikan berikutnya.

Akidah adalah berasal dari kata “ „aqudz, yang berarti pengikatan.

Banyak sekali Bahasa Arab yang berkaitan dengan kata aqidah, seperti

“I‟tiqad yang berarti kepercayaan hati “ Mu‟aqid”yang berarti yang

beri‟tiqad”(yang mempercayai). Sedang secara teknis aqidah berarti iman,

kepercayaan dan keyakinan. Dan tumbuhnya kepercayaan tentunya di


dalam hati.Dengan demikian dapat diartikan bahwa akidah menurut

bahasa adalah merupakan perbuatan hati, yaitu kepercayaan hati dan

pembenarannya terhadap sesuatu atau sesuatu yang dipercayai hati.

Sedangkan menurut istilah aqidah adalah suatu kesatuan keyakinan yang

utuh dan murni dalam hati dan perbuatan yang tersusun mulai yakin akan

ke-Esa-an Allah, Malaikat-Nya,Kitab-Nya ,Rasul-Nya,hari pembalasan

danTakdir baik dan buruk semuanya dari Allah.(sutrisna sumadi, rafi”

uddin, 2002: 31-32).

Dan menurut pendapat yang lainnya akidah adalah hal-hal yang

wajib dibenarkan oleh hati dan jiwa merasa tentram kepadanya,

sehingga menjadi keyakinan kukuh yang tidak tercampur oleh keraguan.

(abdullah bin abdil hamid al-atsari, 2005: 28).

M. Hasbi Ash Shiddiqi mengatakan akidah menurut ketentuan bahasa

(bahasa arab) ialah sesuatu yang dipegang teguh dan terhunjam kuat di

dalamLubuk jiwa dan tak dapat beralih dari padanya. .(syahminan zaini, 1983:

51).

Adapun akidah menurut Syaikh Mahmoud Syaltout adalah segi teoritis

yang dituntut pertama-tama dan terdahulu dari segala sesuatu untuk


dipercayai dengan suatu keimanan yang tidak boleh dicampuri oleh syakwasangka

dan tidak dipengaruhi oleh keragu- raguan. Aqidah atau keyakinan adalah suatu

nilai yang paling asasi dan prinsipil bagi manusia, sama halnya dengan nilai

dirinya sendiri, bahkan melebihinya.(syaikh mahmout syaltout, 1967: 28-29).

Sedangkan Syekh Hasan Al-Banna menyatakan aqidah sebagai sesuatu yang

seharusnya hati membenarkannya sehingga menjadi ketenangan jiwa, yang

menjadikan kepercayaan bersih dari kebimbangan dan keragu-raguan.(A. Syihab,

1998: 1).

Perkataan akhlak berasal dari bahasa Arab yaitu bentuk jamak dari kata

khuluk yang berarti budi pekerti, perangai tingkah laku atau tabiat. Di dalam

kamus Dairatul Ma‟arif disebutkan bahwa akhlak adalah sifat-sifat manusia yang

terdidik. Dengan pengertian tersebut dapat diketahui bahwa akhlak ialah sifat-sifat

yang sudah tertanam dalam diri manusia, ada yang berupa perbuatan yang baik

dan mulia (al-akhlak al- karimah) dan ada pula perbuata yang buruk dan tercela

(al- akhlak al madzmumah). Sedangkan menurut istilah dalam kitab Ihya Ulum al-

Din Akhlak dikemukakan oleh Imam al-Ghajali yaitu sifat yang tertanam dalam

jiwa yang menimbulkan macam-macam perbuatan dengan gampang dan mudah

tanpa melakukan pemikiran dan pertimbangan.(Drs.H.Badri yatim, 1996: 9-10).


Menurut yuunahar ilyas, akhlak (bahasa arab) adalah bentuk jamak dari

khuluq yang berarti budi pekerti, perangai, tingkah laku atau tabiat. Berakar dari

kata khalaqa yang berarti menciptakan. Seakar dengan kata kholiq (pencipta),

makhluk (yang diciptakan ) dan khalq (penciptaan). Dari pengertian terminologis

sperti ini, akhlak bukan saja merupakan tata aturan atau norma perilaku yang

mengatur hubungan antar sesama manusia, tetapi juga norma yang mengatur

hubungan antara manusia dengan tuhan dan bahkan dengan alam semesta

sekalipun. (ilyas, 2005:1)

Sedangkan menurut ali abdul halim mahmud akhlak menunjukan sifat tabiat

fitri (asli) pada manusia dan sejumlah sifat yang di usahakanhinggah seolah-olah

fitrah akhlak ini memiliki dua bentuk, pertama, bersifat batiniah (kejiwaan), dan

kedua bersifat dzahiriyah yang terimplementasi dalam bentuk amaliyah.

(mahmud, 1991: 95)

Adapun Menurut Prof. Dr. Ahmad Amin, yang disebut akhlak itu ialah kehendak

yang dibiasakan. Artinya kehendak itu bila membiasakan sesuatu, maka kebiasaan

itulah yang dinamakan akhlak. Dalam penjelasannya, kehendak ialah ketentuan

dari beberapa keinginan sesudah bimbang, sedangkan kebiasaan ialah perbuatan

yang diulang-ulang sehingga mudah dikerjakan. apa yang bernama kehendak itu
dikerjakan berulang-kali sehingga menjadi kebiasaan, maka itulah yang kemudian

berproses menjadi akhlak.(tim dosen agama islam, 1995: 170)

Dengan demikian pembelajaran aqidah akhlak adalah upaya sadar dan terencana

dalam menyiapkan peserta didik untuk mengenal, memahami, menghayati dan

mengimani Allah SWT dan merealisasikannya dalam perilaku akhlak mulia dalam

kehidupan sehari-hari berdasarkan Qur‟an dan Hadits melalui kegiatan

bimbingan, pengajaran ,latihan, serta penggunaan pengalaman. Dibarengi tuntutan

untuk menghormati penganut agama lain dan hubungannya dengan kerukunan

antar umat beragama dalam masyarakat hingga terwujud kesatuan dan persatuan

bangsa.(depag, 2003:2)

keseluruhan definisi akhlak tersebut diatas tampak tidak terdapat

pertentangan yang signifikan, melainkan memiliki kemiripan satu sama lain.

Definisi-definisi akhlak tersebut secara subtnsi tampak saling melengkapi satu

sama lain, dan pembahasan definisi diatas dapat ditarik konnklusi mengenai empat

(4) ciri yang terdapat dalam akhlak, yaitu:

1. Akhlak adalah perbuatan yang telah tertanam kuat dalam jiwa seseorang,

sehinggzh telah menjadi kepribadiannya.


2. Akhlak adalah perbuatan yang dilakukan dengan mudah dan tanpa

pemikiran (spontanitas).

3. Akhlak adalah perbuaatan yang timbul dari dalam diri orang yang

mengajarkannya tanpa ada intervensi dari luar.

4. Akhlak adalah perbuatan yang dilakukan dengan sesungguhnya, bukan

main-main atau karena rekayasa.

Selanjutnya dalam menentukan baik buruknya akhlak, islam telah

meletakkan dasar-dasar sebagai suatu pendidikan nilai, dimana ia tidak

mendasarkan konsep al-makruf dan al-munkar semata-mata pada rasio

(common sense), nafsu, intuisi, dan pengalaman yang muncul lewat

panca indra yang selalu mengalami perubahan. Tetapi islam telah

memberikan sember tetap, yang menentukan tingkah laku moral yang

tetap dan universal, yaitu al-qur’an dan as-sunnah. Dan tersebut

menyangkut kehidupan individu, keluarga, tetangga, masyarakat, sampai

kehidupan berbangsa dan bernegara (mahfudz, 1994: 1800-181).

pendidikan aqidah akhlak merupakan suatu sarana pendidikan

agama Islam yang didalamnya terdapat bimbingan dari pendidik

kepada peserta didik agar mereka mampu memahami, menghayati, dan


meyakini kebenaran ajaran agama Islam, kemudian mengamalkannya

dalam kehidupan sehari-hari. Namun yang lebih penting, mereka dapat

terbiasa melakukan perbuatan dari hati nurani yang ikhlas dan spontan

tanpa harus menyimpang dari Al-Qur‟an dan Hadist.

2.1.2 Ruang lingkup pembelajaran akidah alkhlak

Ruang lingkup merupakan obyek utama dalam pembahasan


pembelajaran aqidah akhlak di Madrasah Ibtidaiyah meliputi:
2.1.2.1 Aspek akidah ( keimanan) meliput:
1. kalimat thayyibah sebagai meteri pembiasaan seperti laa

ilaahaillaah, basmalah, alhamdulillah, subhanallah, Alluhu

Akbar,ta‟awwudz,Maasya Allah, Assalamu „alaikum, laa

haula walaa quwwata illaa billah dan istighfaar

2. Al- Asma al-husna sebagai materi pembiasaan seperti al-Ahad,

al-Khalik, ar- ahman ar Rahiim al-hamiid, asy-Syukur, al-

Quduus, as-Shammad dan sebagainya.

3. Iman kepada Allah dengan pembuktian sederhana melalui

kalimat thayyibah al-asma al-husna dan pengenala terhadap

shalat lima waktu sebagai menifestasi iaman kepada Allah.

4. Meyakini ruku iman ( iman kepada Allah , Malaikat, itab,

Rasul,
hari akhir serta qada dan qadar Allah)

2.1.2.2 Aspek akhlak meliputi:

1. Pembiasaan akhlak karimah (mahmudah) seperti: sopan santun

disiplin hidup bersih, patuh, tolong menolong, dan sebagainya.

2. Menhindari akhlak tercela (madzmumah) seperti: hidup kotor, berbicara kotor

/ kasar, bohong, sombong, malas, durhaka putus asa dan sebagainya.

2,1,2,3 Aspek adab Isalami,meliputi:

1. Adab terhadap diri sendiri Yaitu: adab mandi,Tidur, buang

air besar/ kecik, berpakaian dan sebagainya,

2. Adab terhadap Allah yaitu: adab di mesjid, mengaji beribadah.

3. Adab terhadap sesama yaitu: kepada orang tua, saudara,

guru, temen dantetangga.

4. Adab terhadap lingkungan, yaitu: kepada binatang, tumbuhan,

di tempat umum dan di jalan.

2.1.2.4 Aspek kisah teladan, Meliputi:

kisah Nabi Ibrahim mencari Tuhan, Nabi Sulaiman dengantentara


semut dan umatnya, nabi Muhammad di masa kecil dan remaja, Ashabul

Kahfi, kelicikan saudara-saudara nabi Yusuf AS dan sebagainya.

(ibid:550-552)

Dan menurut ruang lingkup pendidikan aqidah akhlak menurut Moh.

Rifai meliputi:

a. Hubungan manusia dengan Allah.

Hubungan vertikal antara manusia dengan Khaliqnya

mencakup dari segi aqidah yang meliputi: iman kepada Allah, iman

kepada malaikat- malaikat-Nya, iman kepada kitab-kitab-Nya, dan

iman kepada rasul-Nya, iman kepada hari akhir dan iman kepada

qadha- qadarNya.

b. Hubungan manusia dengan manusia.

Materi yang dipelajari meliputi: akhlak dalam pergaulan hidup

sesama manusia, kewajiban membiasakan berakhlak yang baik

terhadap diri sendiri dan orang lain, serta menjauhi akhlak yang

buruk.

c. Hubungan manusia dengan lingkungannya.

Materi yang dipelajari meliputi akhlak manusia terhadap alam


lingkungannya, baik lingkungan dalam arti luas, maupun makhluk

hidup selain manusia, yaitu binatang dan tumbuh-tumbuhan.(ibid: 51)

Menurut buku yang dikutip oleh Departemen Agama, pendidikan

aqidah akhlak di Madrasah Tsanawiyah cakupan pembahasannya

antara lain sebagai berikut:

a. Aspek aqidah, terdiri atas keimanan kepada sifat wajib,

mustahil dan jaiz Allah, keimanan kepada kitab Allah, rasul

Allah, sifat-sifat dan mu‟jizatnya, dan hari kiamat.

b. aspek akhlak terpuji yang terdiri atas khauf, raja‟, taubat,

tawadhu, ikhlas, bertauhid, inovatif, kreatif, percaya diri,

tekad yang kuat, ta‟aruf, ta‟awun, tafahum, tasamuh, jujur,

adil, amanah, menepati janji dan bermusyawarah.

c. Aspek akhlak tercela meliputi kompetensi dasar kufur, syirik,

munafik, namimah, takabur, tamak dan ghadab.(mulyadi dan

masan alfat, 2003: 33-46)

Dari uraian di atas penulis menyimpulkan bahwa objek

pendidikan aqidah akhlak tidak hanya mencakup hubungan

manusia dengan Tuhannya, melainkan hubungan manusia dengan


sesamanya serta hubungan manusia dengan lingkungannya.

Sehingga terwujudlah keyakinan yang kuat, yang pada akhirnya

terbentuklah akhlak yang luhur yakni akhlak terpuji.

2.1.3 Tujuan Pembelajaran Akidah Akhlak

Setiap kegiatan pendidikan merupakan bagian dari suatu proses

yang diharapkan untuk menuju kesuatu tujuan. Dimana tujuan pendidikan

merupakan suatu masalah yang sangan fundamental dalam pelaksanaan

pendidikan, sebab dari tujuan pendidikan akan menentukan kearah mana

peserta didik itu dibawah, karena pengertian dari tujuan itu sendiri yaitu

suatu yang diharapkan tercapai setelah usaha atau kegiatan selesai.(zkiyah

daradjat, 1996: 29)

Akhlak hendak menjadikan orang berakhlak baik, bertindak tanduk

baik terhadap manusia dan terhadap tuha (masy’ari, 1990:4). Manusia

sempurna adalah manusia yang berakhlak mulia serta bertingkah laku dan

bergaul dengan baik, inilah yang menjadi aspek penting tujuan pendidikan

akhlak(akhlak pendidikan) dalam pendidikan (aly dan munzir, 2003:152)

rumusan ibnu maskawih yang dikuttip oleh abuddin nata bahwa tujuan
pendidikan akhlak ialah terwujudnya sikap batin yang mampu mendorong

seseorrang secara spontanuntuk melahirkan semua perbuatan yang

bernilai baik (nata, 2001: 11).

Adapun tujuan pendidikan aqidah akhlak menurut beberapa para

ahli adalah sebagai berikut:

Tujuan akhlak menurut Barmawie Umary yaitu supaya orang

dapat terbiasa atau melakukan yang baik, indah, mulia, terpuji, serta

menghindari yang buruk, jelek, hina, tercela. Dan supaya hubungan kita

dengan Allah SWT dan dengan sesama makhluk selalu terpelihara

dengan baik dan harmonis.(barmawie umary, 1991: 2)

Menurut Mohd. Athiyah Al-Abrasyi tujuan dari pendidikan moral

atau akhlak dalam Islam ialah untuk membentuk orang-orang yang

bermoral baik, keras kamauan, sopan dalam bicara dan perbuatan, mulia

dalam tingkah laku dan perangai, bersifat bijaksana, sempurna, sopan

dan beradab, ikhlas, jujur dan suci.(mohd. Athiyah al-abrasyi, 1984: 104)

Sedangkan Menurut Moh. Rifai tujuan pendidikan aqidah akhlak

yaitu sebagai berikut:

a. Memberikan pengetahuan, penghayatan dan keyakinan kepada siswa


akan hal-hal yang harus diimani, sehingga tercermin dalam sikap dan

tingkah lakunya sehari-hari.

b. Memberikan pengetahuan penghayatan, dan kemauan yang kuat

untuk mengamalkan akhlak yang baik, dan menjauhi akhlak yang

buruk, baik dalam hubungannya dengan Allah, dengan dirinya

sendiri, dengan sesama manusia, maupun dengan alam

lingkungannya.

c. Memberikan bekal kepada siswa tentang aqidah dan akhlak untuk

melanjutkan pelajaran ke jenjang pendidikan menengah.(moh. Rifai,

1994: 5)

Berdasarkan rumusan-rumusan di atas, maka dapat penulis ambil

suatu kesimpulkan bahwa tujuan pendidikan aqidah akhlak tersebut

sangat menunjang peningkatan keimanan dan ketaqwaan siswa kepada

Allah SWT serta dapat memberikan pengetahuan sekitar pendidikan

agama Islam ke arah yang lebih baik.

2.1.4 Perilaku santri

2.1.4.1 Pengertian Perilaku Siswa

Perilaku siswa terbentuk dari dua kata, yaitu kata “ perilaku” dan

kata ”siswa”. Untuk memberi arti keseluruhan kata tersebut, penulis


terlebih dahulu akan menguraikan pengertian perilaku.

Secara etimologi kata perilku merupakan kata benda abstrak ( noun ),

yang menurut kamus besar Bahasa Indonesia di artikan gerak ,olah, laku,

sikap atau perbuatan. Perilaku atau tingkah laku ( behavior ) merupakan

daya gerak (gerakan ) manusia biologis yang didasarkan pada sistem

syaraf yang terdiri atas komposisi sel-sel yang di sebut “ neurons” .

Apabila mendapat stimulasi, neurons dorongan-dorongan elektronis yang

merangsang gerakan elektronis lainnya guna merangsang gerakan neurons

lainnya guna merangsang gerakan urat-urat dan otot- otot tubuh.

Lebih lanjut di katakana bahwa perilku atau tingkah laku manusia

secara umum terbagi atas dua bentuk,yaitu:

a. Responden Behavior, yaitu tingkah laku bersyarat dan tidak sengaja

selalu bergantung stimuli.

b. Opent Behavior, Yaitu tingkah laku yang disengaja dan tidak selalu

bergantung pada stimuli.(maila dinia husni rahim, 2011: 117)

Sedangkan perilaku adalah reaksi individu yang terwujud dalam

gerakan (sikap). Menurut Hamzah ya‟qub “ perilaku mengandung

persamaan arti dalam bahasa Indonesia dengan perkataan akhlak.

(hamzah ya’qub, 1996: 151) Perilaku mencakup pernyataan hidup


individu yang meliputi asfek kognitif, afektif dan psikomotorik.

Dengan demikian dari beberapa pendapat di atas dapat di simpulkan

bahwa yang di maksud dengan perilaku adalah gejala tindak tanduk

seseorang yang tidak hanya meliputi asfek psikis tetapi juga berbentuk

ucapan atau fisik yang bertolak dari asfek kognitif, afektif dan

fsikomotornya sebagai cermin dari kepribadiannya.

Adapun kata “ siswa” artinya pelajar atau di identikan dengan

seseorang yang sedang sekolah yang menggali ilmu..

2.1.4.1 Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Perilaku Siswa

Perilaku individu dipengaruhi oleh dua faktor, yaitu faktor intern

yaitu faktor yang berasal dari diri sendiri dan faktor ekstern yaitu faktor

yang berasal dari lingkungan di luar dirinya bahwa dalam tingkah laku

organisme tidak lepas dari dari pengaruh organisme itu sendiri.

Sedangkan menurut Hamzah ya‟qub faktor- faktor yang turut mencetak

dan mempengaruhi perikalu manusia dalam pergaulannya meliputi

masalah manusia sebagai pelaku akhlak, insting (naluri) kebiasaan,

keturunan, lingkungan, kehendak, suara hati, dan pendidikan.(ibid:55)

Manusia sebagai makhluk terbaik ciptaan Allah memiliki banyak


keunikan dalam berperilaku. Keunikan yang dimaksud di karenakan

adanya perpaduan antara perbedaan fisik dan mental ini akan

melahirkan perilaku yang beralasan. Untuk melahirkan perilaku yang

baik yang dapat dirasakan oleh orang lain dalam berinteraksi

memerlukan persiapan fisik dan mental yang selaras, karena apabila

keselarasan tidak terjadi akan menciptakan ketidakseimbangan antara

kesanggupan penghayatan dan kesanggupan pengamalan Agama. Setiap

kelakuan dan tindakaan manusia berasal dari sebuah kehendak yang di

gerakan oleh naluri. Naluri ini merupakan sesuatu yang di bawa manusia

sejak lahir dan merupakan pembawaan asli manusia sebagai makhluk

individu dan makhluk sosial. Dalam kehidupannya manusia harus

menyalurkan nalurinya sesuai dengan norma dan ajaran agama untuk

menghasilkan perilaku yang baik. Apabila manusia menyalurkan

nalurinya dengan salah akan menghasilkan perilaku yang buruk dan

akibat yang merugikan.

Naluri yang menjadi pendorong tingkah laku manusia salah satunya

adalah berupa naluri bertuhan. Yaitu berupa tabiat manusia mencari dan

merindukan penciptanya yang mengatur dan memberikan rahmat


kepadanya, naluri ini disalurkan kedalam hidup beragama.(ibid:59)

Dengan demikian, kebutuhan manusia untuk beragama tidak dapat

dihindarkan. Karena pada dasarnya manusia akan merasakan ada sebuah

kekuatan yang lebih dari selain dirinya. Ketika ia sedang berada dalam

kesulitan dan orang-orang yang beriman akan menjalankan perintah Allah

secara kaffah yang di realisasikan dalam perilaku.

Adapun dengan kebiasaan itu, di maksudkan dengan perbuatan yang

selalu di ulang-ulang sehingga menjadi mudah untuk di kerjakan. Karena

seseorang ingin merubah kebiasaan lama dengan sebuah perilaku yang

baru yang lebih baik, tentu akan membutuhkan waktu dalam

pelaksanaanya. Hal itu dikarenakan kuatnya pengaruh kebiasaan lama

yang apabila ada perubahan akan menimbulkan reaksi dari dalam pribadi

itu sendiri.

Dalam berperilaku, reaksi yang timbul itu diredam dengan usaha

pemahaman terhadap ajaran Agama, dengan demikian maka kesadaran

pengamalannya dalam hal ini berperilaku akan terlaksana dengan baik

juga.

Islam mengajarkan, baik buruk seseorang tergantung pada hatinya,


bila hatinya baik maka akan baik seluruh perilakunya, dan bila hatinya

buruk akan buruk pula seluruh perilakunya. Hati tidak akan terlihat

kebaikannya apabila pemilik nya hanya mengikuti hawa nafsunya saja,

hal ini akan menyebabkan hati tertutup dalam menerima pancaran cahaya

kebenaran, sedangkan hati yang selalu

di tuntun untuk meninggalakan kegelapan akan menjadi landasaan bagi

pola tingkah laku yang baik.

Manusia dilahirkan dengan mewarisi sifat-sifat yang diturunkan oleh

orang tuanya, adapun yang diturunkan bukanlah sifat yang di miliki yang

telah tumbuh dengan matang karena pengaruh lingkungan., adat atau

pendidikan, melainkan bawaan sifat-sifat sejak lahir, sifat-sifat ini berupa

sifat jasmaniah dan sifat rohaniah. Orang yang memiliki mewarisi

kekuatan fisik tentunya berbeda dengan orang yng tidak memiliki

kekuatan fisik dalam bertindak. Demikian pula orang yang memiliki

kekuatan rohaniah dengan orang yang tidak memiliki kekuatan rohaniah

akan memperlihatkan perbedaan dalam bersikap. Orang yang memiliki

kekuatan fisik dan kesehatan rohani akan memiliki perilaku yang

diwujudkan dalam aktifitas yang energik,cerdas dan terkendali.


Manusia sebagai makhluk sosial tidak akan terlepas dari lingkungan

sekitar nya, lingkungan yang di maksud adalah lingkungan alam dan

lingkungan pergaulan, orang yang hidup di lingkungan alam yang subur

akan berbeda dengan orang yang hidup di lingkungan alam tidak subur,

orang yang hidup di lingkungan yang kurang subur akan cenderung

lebih bisa menghadapi kesulitan dan tantangan hidup, begitupun dalam

kehidupan pergaulan, setiap lingkungan di mana individu berada akan

mempengaruhi karakter dan perilakunya. Perilaku akan muncul bila

lingkungan pergaulannya mendukung.

Dengan gambaran di atas dapat difahami faktor yang dapat

mempengaruhi perilaku pada seseorang meliputi faktor intern dan faktor

ekstern. Yang termasuk kedalam intern adalah manusia sebagai pelaku

akhlak,insting, kehendak, dan suara hati, sedangkan faktor ekstern

mencakup keturunan, lingkungan dan pergaualan.

2.1.4.3 Indikator Perilaku Siswa

Agama Islam sebagai agama yang selamat memiliki seorang Rasul

yang sangat mulia, Rasulullah Saw di utus untuk menyempurnakan

akhlak yang mulia. Di dalam Islam akhlak atau perilaku itu terbagi
menjadi tiga yang meliputi, hubungan individu dengan Allah, hubungan

individu dengan sesama manusia, dan hubungan individu dengan

lingkungan.

Perilaku yang religius atau Islami sepanjang ajaran agama berkisar

pada perbuatan ibadah, dan akhlak mulia baik secara vertikal terhadap

Tuhan maupun secara horizontal terhadap sesama makhluk.(m.hafi

anshari, 1991: 48) Adapun indikator perilaku antara lain sebagai berikut :

1.Hubungan individu dengan Allah di antaranya Shalat dan shaum.

2. Hubungan manusia dengan sesama anatara lain berbuat baik kepada orang

tua, berbuat baik kepada guru, berbuat baik kepada teman, dan berbuat

baik kepada diri sendiri.

3. Hubungan manusia dengan alam sekitar seperti menjaga kebersihan, dan

memelihara tanaman dan tumbuhan.(moh. Ardani, 2005: 49-57)

Berdasarkan pendapat di atas dapat di tentukan bahwa indikator

perilaku siswa yaitu :

2.1.4.3.1 Hubungan Individu dengan Allah Swt.

Kedudukan manusia di alam jagat raya ini disamping sebagai


seorang khalifah yang memiliki kekuasaan untuk mengolah alam dengan

segenap daya potensi yang di milikinya, juga sebagai „abdi Allah, yang

seluruh usaha dan aktifitasnya itu harus dilaksanakan dalam ranggka

ibadah kepada Allah.

“Kewajiban manusia pada kholiqnya adalah bagian dari rangkaian

hak dan kewajiban manusia dalam hidupnya sebagai wujud dan maujud.

(rahmad djadmika, 1996: 173) Pengabdian kepada Allah merupakan

kewajiban setiap muslim pengabdian kepada Allah Swt mengandung arti

beribadah atau membaktikan diri ke hadirat Allah Swt, beibadah kepada

Allah yakni melaksanakan perintah dan menjauhi larangan-Nya,

hubungan manusia dengan Allah adalah hubungan manusia

sebagai makhluk dan Allah sebagai kholik. Dalam masalah

ketergantungan, manusia selalu memiliki ketergantungan kepada orang

lain. Dan tumpuan serta pokok ketergantungan adalah ketergantungan

kepada Yang Maha Kuasa.

Dari penjelasan diatas maka wajiblah manusia mengadakan hubungan dengan

allah swt yang mencerminkan penghambaan diri, tunduk dan menyerahkan semua
keputusan di dalam kekehidupannya kepada allah.

Adapun bentuk hubungan individu dengan Allah terimplementasi

dalam bentuk, diantaranya adalah ibadah shalat, shaum, dan lainya.

a. Shalat

Secara bahasa shalat adalah do‟a adapun arti secara istilah adalah

perbuatan yang di ajarkan oleh syara yang di mulai dengan takbir dan

diakhiri dengan salam.(m.hafi anshari: 149)

Shalat merupakan rukun Islam yang kedua yang di wajibkan bagi

setiap orang yang mukallaf, Shalat fardu sebagai ibadah yang paling

utama yang banyak mengandung faidah dan hikmah bagi yang

mengerjakannya, diantaranya adalah shalat dapat memberikan ketenangan

jiwa, mencegah dari perbuatan keji dan munkar serta menjaga kesucian

jasmani. Sebagaimana firman Allah Swt dalam surat al-Ankabut ayat 45.

b. Shaum

Shaum menurut bahasa adalah menahan diri dari sesuatu yang

membatalkannya, satu hari lamanya mulai dari terbit fajar sampai

terbenam matahari dengan niat dan beberapa syarat.(ibid: 172)

wajibkan bagi tiap-tiap mukallaf selama satu bulan penuh di bulan


Ramadhan, adapun hikmahnya yang dapat di ambil sebagai berikut :

1. Disiplin rohani

2. Pembentukan akhlak karimah

3. pengembangan Nili-nilai sosial

4. penjelasan tentang kondisi psikologis manusia yang berpengaruh

terhadap kondisi fisiknya.(maila dinia husni rahim:187)

2.1.4.3.2 Hubungan Manusia Dengan Sesama

manusia kepada sesama di batasi pada berbuat baik , berbuat kepada

orang tua, guru, teman sebaya, dan kepada diri sendiri.

2.1.2.3.3 Berbuat baik kepada Orang tua

Orang tua adalah dua insan utama yang sangat menentukan

keberadaan anak di dunia, sebab dengan cinta kasihnya, anak dapat

mengenal dunia dan kehidupannya, ibu telah mengandung dengan susah

payah, bahkan sampai mempertaruhkan nyawa dan jasadnya, tiada yang

mampu menyamainya oleh karena itulah seseorang harus berbuat baik

kepada orang tua “ Ibu dan ayah adalah

kedua orang tua yang sangat besar jasanya kepada anaknya, dan mereka
mempunyai tanggung jawab yang sangat besar terhadap anak-anaknya jasanya

tidak dapat di hitung dan di bandingkan dengan harta sekalipun

Ayah dan ibu lebih berhak dari segala manusia lainnya untuk di cintai

dan di hormati karena keduanya memelihara, mengasuh, dan mendidik.

Berbuat baik terhadap harus berdasarkan prinsip-prinsip ajaran islam

yaitu “

Islam mengajarkan prinsip-prinsip yang perlu di tunaikan oleh anak

kepada orang tuanya, yaitu mematuhinya, ikhlas, lemah lembut,

merendah diri, berterima kasih, memohon rahmat dan magfiroh, setelah

wafat menyolatkan nya, memohon rahmat dan ampunan Allah,

menyempurnakan janjinya, menghormati sahabatnya, dan melanjutkan

jalinan pertalian tali silaturrahmi yang sudah terjalin selama orang tuanya

masih hidup.(hamzah ya’qub, 1996: 153-154)

2.1.4.3.4 Berbuat baik kepada Guru

Selain kepada orang tua, seorang anak pun harus berbuat baik kepada

guru. Guru adalah seorang manusia yang mengabdikan sebagian

hidupnya untuk kepentingan anak didik, di akui atau tidak jasanya tak
ternilai yakni mendidik siswa sampai tahu segala hal, melalui tangan

halus dan sikap lemah lembut mereka, siswa yang tidak tahu apa-apa

menjadi tahu, gurulah yang mendidik jiwa, memelihara otak, menunjukan

kepada kebaikan dan kebahagiaan. Guru mengajar anak didiknya menulis,

membaca, mengajarkan aneka pengetahuan, melatih berbagai ilmu

keterampilan, dan lain sebagai nya. Oleh Karena itulah sepatutnya

seorang siswa hen daklah mentaati, mematuhi, danb menghormati

gurunya, terlebih lagi kepada guru agama, karena guru agama selain

mengjarkan membaca, menulis juga telah mengenalkan kepada Allah

Sang Pencipta Alam, mengajarkan kita cara beribadah, menunjukan

segala sifat kesempurnaan dan sifat terpuji.

2.1.4.3.5 Berbuat baik terhadap Teman

Salah satu kewajiban muslim adalah tidak mengganggu muslim yang

lainnya, manusia sebagai makhluk sosial memerl;ukan orang lain dalam

kehidupannya, manusia membutuhkan teman untuk bergaul dan

berbudaya, teman sangat besar pengaruhnya bagi seseorang bahkan

Rosululloh Saw pernah mengatakan bahwa untuk mengetahui bagaimana


seseorang itu maka lihatlah siapa temannya .

2.1.4.3.6 Berbuat baik terhadap Diri sendiri

Manusia mempunyai kewajiban terhadap dirinya sendiri, mereka

sering lupa bahwa ia mempunyai kewajiban terhadap dirinya sendiri.

Islam melarang manusia mencelakakan dirinya tidak peduli dengan

keadaan diri dan masa depannya, dengan menjaga dirinya dari hal-hal

buruk, itu menandakan manusia sedang mensyukuri karunia Allah,

berbuat kepada diri sendiri ini meliputi aspek jasmani dan rohani,

manusia dilarang membiarkan jasmaninya kotor dan rusak juga tidak

menjaga jasmaninya, membiarkan diri tidak bertambah ilmu dan

mengikuti hawa nafsu adalah merupakan hal yang menyebabkan rohani

tidak sehat, perintah berbuat baik terhadap diri sendiri tercantum dalam

Al-Qur‟an :

2.1..4.3.7 Hubungan Manusia dengan Alam Sekitar

Alam sekitar di ciptkan allah untuk memenuhi kebutuhan hidup

manusia, alam inipun di fungsikan Allah bagi manusia sebagai upaya


menjalankan tugas manusia di muka bumi ini yaitu sebagai khalifah,

semua makhluk mengambil tempat dan waktu dalam suatu lingkungan di

alam sekitarnya. Dan makhluk hidup sangat tergantung akan keberadan

alam dalam mempertahankan kehidupannya.

Di alam ini antara makhluk hidup dan makhluk tidak hidup memiliki

saling ketergantungan adakalanya kehidupan manusia bergantung kepada

benda-benda mati seperti air, udara,tanah sinar matahari, barang tambang

dan lain sebaiginya. Karena dengan akal yang dimiliki, manusia dapat

mengolah dan memanfaatkan benda-benda mati itu yang mengakibatkan

kebutuhan hidupnya terpenuhi. Selain manusia tergantung sama makhluk

hidup yang lainnya berupa tumbuhan bahan makanan, tumbuhan yang di

pakai bahan pakaian, obat-obatan yang berasal dari tanaman, serta

binatang untuk membantu pekerjaan, pelengkap gizi dan kesenangan.

Apabila salah satu komponen di alam ini hilang atau rusak akan

mengakibatkan ketidakseimbangan ekosistem. Ketidakseimbangan ini

akan berpengaruh besar kepada manusia, karena manusia akan tidak

merasa nyaman dalam kehidupannya dan kesulitan mengatur keselarasan


alam.

Lingkungan hidup merupakan dukungan terhadap kehidupan dan

kesejahteraan, bukan saja terhadap manusia tapi juga terhadap makhluk

lainnya seperti hewan tumbuhan, Oleh karena itu keserasian alam harus

tetap terjaga,

sehingga secara kesinambungan tetap dalam fungsinya sebagai

pendukung kehidupan, akhlak terhdap lingkungan ini dapat terwujud

dalam bentuk perbuatan ihsan yaitu menjaga keserasian dan

kelestariannya dengan tidak merusak lingkungan hidup.

Dari ayat di atas jelaslah bahwa perusak tanaman, pemusnahan

binatang dan segala perbuatan yang merusak lingkungan hidup

merupakan larangan agama bahayakan, seharusnya manusia menjaga dan

memeliharanya. Akhlak terhadap lingkungan alam dapat dilakukan

dengan cara :

1. Memiliki perasaan kasih dan sayang terhadap semua makhluk Allah yang

ada di alam, tidak menyakiti badan dan perasaanya walaupun terhadap

binatang, bukankah Nabi Sulaiman A.S juga bersifat demikian tidak mau

menyakiti semut yang akan terinjaknya.


2. Memelihara hewan yang di muliakan oleh agama

3. Menjaga kelestarian alam dengan melakukan penghijauan, tidak

membuang sampah sembarangan, menggunakan bahan-bahan alami atau

yang dapat di daur ulang

2.1.5. Pengaruh Pembelajaran Aqidah Akhlak Terhadap Perilaku Santri

Pengaruh pembelajaran aqidah akhlak terhadap perilaku santri di


sekolah adalah keadaan sesuatu yang kita ajarkan atau aktifitas dimana
ada efek dari hasil pembelajaran kepada siswa di sekolah maupun
diluar sekolah, obyek yang kita berikan pengajaran aqidah akhlak
supaya akan melahirkan sebuah tanggapan atau anggapan qolbaniyyah (
hati ) zhahirnya sering di sebut keimanan, jika kita perhatikan keimanan
bersumber dari hati seseorang tetapi yang menyebabkan keimanan itu
berasal dari apa yang bisa di rasakan oleh panca indera misalnya
pendengaran, penglihatan, dan perasaan.
Secara psikologis, manusia akan menyukai suatu objek apabila objek
tersebut di tanggapi dengan positif, begitupun sebaliknya ia tidak
menyukai suatu objek jika di tanggapi dengan negatif, rasa suka dan tidak
suka merupakan hasil dari tanggapan terhadap objek. Anak akan
cenderung menangkap terhadap apa yang ia rasakan di sekolah maupun di
luar sekolah, baik itu yang di dengar, yang di lihat, dan yang di rasakan
dan itu akan menjadi sebuah keyakinan dan akan membentuk karakter,
watak. Sikap, dan perilaku di kemudian hari, oleh karena itu apabila
suasana dalam sekolah, keluarga,lingkungan sangat bagus, religius,
Islami.

Hal tersebut akan mendorong kepada anak untuk berperilaku dengan


baik suatu kehidupan seseorang yang baik, sesuai dan tetap menjalankan
agama yang dianutnya merupakan persiapan yang baik untuk memasuki
pendidikan sekolah, oleh karena melalui pembelajaran aqidah akhlak
yang demikian itu tumbuh perkembangan efektif anak secara benar
sehingga ia dapat tumbuh dan berkembang secara wajar43 Kegiatan-
kegiatan yang diberikan kepada siswa dengan contoh kisak-kisah yang
menpengaruhi aqidah akhlak yang baik, akan menjadi perilaku siswa dan
bekal (nasihat) yang dilaksanakan secara terus menerus dalam
kehidupannya dapat mentranspormasikan, menginternalisasikan nilai-nilai
secara baik pada diri anak, sehingga pembelajaran akidah akhlak menjadi
sumber nilai dan pegangan dalam bersikap dan berperilaku baik dalam
ruang lingkup pergaulan, belajar dan lain sebagainya., lebih jelasnya
semakin baik penerapan pembelajaran aqidah akhlak terhadap perilaku
siswa maka akan semakin bagus pula perilaku siswa, baik di sekolah atau
di luar sekolah.

2.1.5 hipotesis penelitian

berdasarkan teori yang dikemukakan di atas maka peneliti iini melibatkan


dua variabel yaitupembelajaran akidah akhlak di pondok sebagai variabel
pertama atau variabel bebas, dan perilaku santri sebagai variabel ke dua
atau variabel terikat. Berdasarkan pemikiran-pemikiran sebelumnya dapat
di identifikasi secara teoritik dan ditarik asumsi perilaku santri tidak dapat
dilepaskan dari siapa yang memberikan pendidikan. Beranjak dari asumsi
dasar tersebut maka hipotesis dari penelitian ini terdapat pengaruh yang
sangat signifikan antara pembelajaran akidah akhlak terhadap prilaku
santri bagian c pondok pesantren al-hasyimi sukolilo bancar tuban.
bab III

Anda mungkin juga menyukai