Anda di halaman 1dari 7

Materi Unit 2 :MENGAMATI DAN MENDESKRIPSIKAN KARYA SENI RUPA

KRITIK KARYA SENI RUPA

A. Pengertian Kritik

” Kritik”, berasal dari bahasa Yunani yaitu krenein yang berarti memisahkan, mengamati,
menimbang, dan membandingkan. Dalam bahasa Inggris kata kritik dianalogikan dengan
istilah critism yang mengandung arti kupasan atau ancaman.

Kritik adalah proses analisis dan evaluasi terhadap sesuatu dengan tujuan untuk
meningkatkan pemahaman, memperluas apresiasi, atau membantu memperbaiki pekerjaan.

B. Aspek Apresiasi Karya Seni

Terdapat dua aspek utama dalam apresiasi karya seni, yaitu sebagai berikut.
1. Menilai, hal ini berkaitan dengan sejauh mana karya seni yang dihasilkan memiliki
nilai estetika tertentu dan memenuhi kriteria atau prinsip-prinsip seni, seperti
komposisi warna, bahan tekstur, teknik yang digunakan, ide, atau pesan yang ingin
disampaikan.
2. Menghargai, berkaitan dengan sejauh mana penikmat seni atau masyarakat
memandang karya seni tersebut sebagai suatu hal yang penting, bernilai, berguna,
dan bermanfaat.

C. Fungsi Kritik Seni

Kritik seni memiliki fungsi yang sangat strategis dalam dunia keseni rupaan dan pendidikan
seni rupa. Fungsi kritik seni yang pertama dan utama ialah menjembatani persepsi dan
apresiasi artistik dan estetik karya seni rupa, antara pencipta (seniman, artis), karya, dan
penikmat seni. Komunikasi antara karya yang disajikan kepada penikmat (publik) seni
membuahkan interaksi timbal-balik dan interpenetrasi keduanya.

D. Jenis Kritik Seni

Kritik karya seni rupa memiliki perbedaan jenis berdasarkan dari tujuan kritik tersebut.
Karena berbagai perbedaan tersebut, maka kritik seni pun terbagi menjadi beberapa
macam, seperti pendapat Feldman (1967) yaitu:

1. Kritik Populer (popular criticism)

Kritik populer adalah jenis kritik seni yang ditujukan untuk konsumsi masyarakat pada
umumnya. Tanggapan yang disampaikan melalui kritik jenis ini bersifat pengenalan karya
secara umum. Dalam tulisan kritik populer, biasanya dipergunakan bahasa dan istilah-istilah
sederhana yang mudah dipahami oleh masyarakat luas.

2. Kritik Jurnalis (journalistic criticism)

Kritik jurnalis adalah jenis kritik seni yang hasil tanggapan atau penilaiannya disampaikan
secara terbuka kepada publik melaui media massa khususnya surat kabar. Kritik ini hampir
sama dengan kritik populer, tetapi ulasannya lebih dalam dan tajam. Kritik jurnalistik sangat
cepat mempengaruhi persepsi masyarakat terhadap kualitas dari sebuah karya seni, karena
sifat dari media massa dalam mengkomunikasikan hasil tanggapannya.

3. Kritik Keilmuan (scholarly criticism)

Kritik keilmuan merupakan jenis kritik yang bersifat akademis dan memerlukan wawasan,
pengetahuan, kemampuan dan kepekaan yang tinggi untuk menanggapi sebuah karya seni.
Kritik jenis ini umumnya disampaikan oleh seorang kritikus yang sudah teruji kepakarannya
dalam bidang seni rupa atau seni pada umumnya. Kritik yang disampaikan mengikuti
kaidah-kaidah atau metodologi kritik secara akademis. Hasil tanggapan melalui kritik
keilmuan seringkali dijadikan referansi bagi para penulis karya ilmiah lain atau kolektor,
kurator, galeri dan institusi seni yang lainnya.

4. Kritik Kependidikan (pedagogical criticism)

Kritik kependidikan merupakan kegiatan kritik yang bertujuan mengangkat atau


meningkatkan kepekaan artistik serta estetika pelajar seni. Jenis kritik ini umumnya
digunakan di lembaga-lembaga pendidikan seni rupa terutama untuk meningkatkan kualitas
karya seni rupa yang dihasilkan peserta didiknya. Kritik jenis kependidikan biasanya
digunakan oleh pengajar bidang ilmu seni dalam mata pelajaran pendidikan seni.

Pemahaman terhadap keempat tipe kritik seni dapat menentukan pola pikir kita saat
melakukan kritik seni. Setiap jenis mempunyai berbagai cara dan metode yang berbeda dari
sudut pandang, sasaran, dan materi yang tidak sama.

E. Bentuk Kritik Seni

Selain berdasarkan tujuan, kritik seni memilik berbagai bentuk yang berbeda berdasarkan
perbedaan pendekatan dan metode yang digunakan. Selain jenis kritik yang disampaikan
oleh Feldman, berdasarkan landasan yang digunakan, dikenal juga beberapa bentuk kritik
yaitu: kritik formalistik, kritik ekspresivistik dan instrumentalistik. Berikut adalah
pemaparannya.

1. Kritik Formalistik

Melalui pendekatan formalistik, kajian kritik ditujukan utamanya terhadap karya seni rupa
sebagai konfigurasi aspek-aspek formalnya, aspek bentuk atau unsur-unsur
pembentukannya. Pada sebuah karya lukisan, maka sasaran kritik lebih tertuju kepada
kualitas penyusunan (komposisi) unsur-unsur visual seperti warna, garis, tekstur, dan
sebagainya yang terdapat dalam karya tersebut. Kritik formalistik berkaitan juga dengan
kualitas teknik dan bahan yang digunakan dalam berkarya seni.

2. Kritik Ekspresivistik

Pendekatan ekspresivistik dalam kritik seni, kritikus kemungkinan akan menilai dan
menanggapi kualitas gagasan dan perasaan atau ekspresi yang ingin dikomunikasikan oleh
seniman melalui sebuah karya seni. Kegiatan kritik ekspresivistik umumnya menanggapi
kesesuaian atau keterkaitan antara judul, tema, isi dan visualisasi objek-objek yang
ditampilkan dalam sebuah karya.
3. Kritik Instrumentalistik

Melalui pendekatan instrumentalistik sebuah karya seni cenderung dikritisi berdasarkan


kemampuananya dalam upaya mencapai tujuan, moral, religius, politik atau psikologi.
Pendekatan kritik ini tidak terlalu mempersoalkan kualitas formal dari sebuah karya seni
tetapi lebih melihat aspek konteksnya baik saat ini maupun masa lalu. Lukisan berjudul
‘Penangkapan Pangeran Diponegoro’ karya Raden Saleh misalnya, dikritisi tidak saja
berdasarkan kualitas teknis penciptaan lukisannya saja tetapi keterkaitan antara objek, isi,
tema dan tujuan serta pesan moral yang ingin disampaikan pelukisnya atau interpretasi
pengamatnya terhadap konteks ketika karya tersebut dihadirkan, bukan hanya secara
formalistic seperti yang telah dijelaskan diatas.

F. Tahapan Kritik Seni

Tahapan kritik seni rupa menurut Feldman ( 1967 : 469 ), mengungkapkan tahapan kritik
terdiri dari :

1. Deskripsi ( Description )

Deskripsi adalah tahapan dalam kritik untuk memperhatikan, menemukan berbagai unsur
terkecil seni rupa, mencatat dan mendeskripsikan segala sesuatu yang dilihat apa adanya
tanpa berusaha melakukan analisis atau mengambil kesimpulan terlebih dahulu. Untuk
dapat mendeskripsikan dengan baik, seorang kritikus harus mengetahui istilah-istilah teknis
yang umum digunakan dalam dunia seni rupa. Tanpa pengetahuan tersebut, maka kritikus
akan kesulitan untuk mendeskripsikan fenomena menarik yang terdapat pada karya yang
dilihatnya. Deskripsi harus menjawab pertanyaan ‘apa yang kita lihat?’. Berikut adalah
beberapa unsur dan prinsip yang dapat diikuti ketika melakukan analisis formal terhadap
karya seni. Berbagai elemen yang merupakan deskripsi meliputi:

- Bentuk seni adalah lukisan, patung atau salah satu media seni lain.

- Medium apa yang digunakan, misal cat, batu, dll, dan teknik (alat yang digunakan).

- Ukuran dan skala pekerjaan (hubungan dengan orang, bingkai atau konteks skala lain).

- Elemen atau bentuk umum dalam komposisi, termasuk pembangunan struktur atau
lukisan; identifikasi benda.

- Deskripsi poros apakah vertikal, diagonal, horizontal, dll.

- Deskripsi garis, termasuk kontur seperti lembut, planar, bergerigi, dll.

- Deskripsi tentang bagaimana garis menggambarkan bentuk dan ruang (volume);


membedakan antara garis objek dan garis komposisi, mis., tebal, tipis, bervariasi, tidak
beraturan, terputus-putus, tidak jelas, dll.

- Hubungan antara bentuk, misalnya, besar dan kecil, tumpang tindih, dll.

- Deskripsi skema warna dan warna; palet.


- Tekstur permukaan atau komentar lain tentang pelaksanaan pekerjaan.

- Konteks objek: lokasi asli dan tanggal pembuatan.

2. Analisis formal ( Formal Analisys )

Analisis formal adalah tahapan dalam kritik karya seni untuk menelusuri sebuah karya seni
berdasarkan struktur formal atau unsur-unsur pembentuknya. Pada tahap ini seorang
kritikus harus memahami unsur-unsur seni rupa dan prinsip-prinsip seni rupa atau ilmu
penataan komposisi unsur dalam sebuah karya seni. Analisis formal berarti menentukan apa
unsur dan prinsip yang digunakan dan memutuskan mengapa seniman menggunakan
berbagai fitur tersebut untuk menyampaikan gagasannya. Analisis Ini menjawab pertanyaan,
“Bagaimana seniman melakukannya?”

Berbagai elemen analisis formal meliputi:


- Penentuan materi pelajaran melalui penentuan elemen ikonografi, misalnya
peristiwa historis, alegori, mitologi, dll.
- Pemilihan fitur atau karakteristik yang paling khas baik garis, bentuk, warna,
tekstur, dll.
- Analisis prinsip-prinsip seni rupa dan desain atau komposisi, misalnya,
seimbang, jomplang, dll. Kesatuan, irama, keselarasan, dll.
- Pembahasan tentang bagaimana elemen atau sistem struktural
berkontribusi terhadap tampilan gambar atau fungsi.
- Analisis penggunaan cahaya dan peran warna, misalnya, kontras,
bayangan, dingin, hangat, warna sebagai simbol, dll.
- Perlakuan terhadap ruang, baik yang nyata maupun yang ilusi (termasuk
penggunaan perspektif), misalnya, kompak, dalam, dangkal, naturalistik,
acak, dll.
- Penggambaran gerakan dan bagaimana pencapaiannya.
- Efek medium tertentu yang digunakan
- Persepsi seniman terhadap keseimbangan, proporsi dan skala (hubungan
setiap bagian komposisi secara keseluruhan dan satu sama lain) dan emosi
atau ekspresi yang dihasilkan.
- Reaksi terhadap objek atau monumen

3.Interpretasi ( Interpretation )

Interpretasi adalah penafsiran makna atau isi sebuah karya seni meliputi tema yang digarap,
simbol yang dihadirkan dan tanda-tanda lain yang dimunculkan. Penafsiran ini sangat
terbuka sifatnya, dipengaruhi sudut pandang dan wawasan kritikusnya. Semakin luas
wawasan seorang kritikus biasanya semakin kaya interpretasi karya yang dikritisinya.
Interpretasi haru dapat menjawab pertanyaan, ‘Mengapa seniman menciptakannya dan apa
artinya’

Beberapa elemen yang merupakan interpretasi meliputi:


- Ide utama, keseluruhan arti dari karya.
- Pernyataan Interpretasi: Dapatkah kita mengungkapkan apa yang kita
pikirkan /tafsirkan tentang karya seni itu dalam satu kalimat?
- Bukti: Bukti apa yang ada di dalam dan di luar karya seni itu, untuk
mendukung penafsiran kita.

Prinsip Interpretasi

Berikut adalah beberapa prinsip interpretasi menurut Terry Barret. Terry Barret adalah
seorang kritikus seni asal Amerika Serikat menyusun beberapa prinsip-prinsip Interpretasi
seni.
- Karya seni memiliki “ketidakjelasan” dan dibutuhkan interpretasi.
- Interpretasi adalah argumen persuasif.
- Beberapa interpretasi lebih baik dari yang lain.
- Penafsiran seni yang baik lebih banyak menceritakan tentang karya seni itu
sendiri daripada penafsirnya sendiri.
- Perasaan adalah panduan untuk interpretasi.
- Ada interpretasi yang berbeda, bersaing, dan kontradiktif terhadap karya
seni yang sama.
- Interpretasi sering didasarkan pada pandangan dunia.
- Interpretasi tidak terlalu benar, tapi kurang lebih masuk akal, meyakinkan,
mencerahkan, dan informatif.
- Interpretasi dapat dinilai berdasarkan koherensi, korespondensi, dan
inklusivitas.
- Sebuah karya seni belum tentu tentang apa yang seniman inginkan.
- Seorang kritikus seharusnya tidak menjadi juru bicara seniman.
- Interpretasi harus menyajikan bagian terbaik karya, bukan bagian
terlemahnya
- Objek penafsiran adalah karya seni, bukan seniman.
- Semua karya seni adalh bagian tentang dunia di mana ia muncul.
- Semua karya seni adalah bagian dari karya seni lainnya.
- Tidak ada penafsiran yang lengkap tentang arti sebuah karya seni.
- Makna sebuah karya seni mungkin berbeda dari kepentingan pemirsa.
Interpretasi pada akhirnya adalah usaha komunal, dan masyarakat pada
akhirnya mungkin akan mengoreksinya lagi.
- Interpretasi yang baik akan mengundang kita untuk melihat diri kita dan
melanjutkan interpretasi menurut pendapat kita sendiri.

G. Evaluasi atau penilaian ( Evaluation and judgement )

Evaluasi merupakan tahapan yang menjadi ciri utama dari kritik karya seni jika dibandingkan
dengan apresiasi. Evaluasi atau penilaian adalah tahapan dalam kritik untuk menentukan
kualitas suatu karya seni dan biasanya akan dibandingkan dengan karya lain yang sejenis.
Perbandingan dilakukan terhadap berbagai aspek yang terkait dengan karya tersebut baik
aspek formal maupun aspek konteks. Menilai sebuah karya berarti memberi penilaian dalam
kaitannya dengan karya lain dan tentu saja mempertimbangkan aspek yang sangat penting
dari seni visual; orisinalitasnya. Berikut ini adalah berbagai elemen penilaian.
- Apakah itu karya seni yang bagus?
- Kriteria: Kriteria apa yang menurut kita paling sesuai untuk menilai karya
seni ini ?
Bukti: Bukti apa yang ada di dalam dan di luar karya seni yang berkaitan dengan setiap
kriteria?
- Penilaian: Berdasarkan kriteria dan buktinya, apa penilaian kita tentang
kualitas karya seni tersebut?
- Mengevalusi atau menilai secara kritis dapat dilakukan dengan
langkah-langkah sebagai berikut:
- Mengkaitkan sebanyak-banyaknya karya yang dinilai dengan karya yang
sejenis
- Menetapkan tujuan atau fungsi karya yang ditelaah
- Menetapkan sejauh mana karya yang ditetapkan “menyimpang” dari yang
telah ada sebelumnya.
- Menelaah karya yang dimaksud dari segi kebutuhan khusus dan segi
pandang tertentu yang melatarbelakanginya.

Selain itu Mengapresiasi sebuah karya seni sebagaimana dikemukakan oleh Brent G.
Wilson dalam bukunya berjudul Evaluation Of Learning In Art Education , bahwa apresiasi
memiliki tiga konteks utama, yaitu :

1. Apresiasi Empatik ; menilai atau menghargai sebuah karya seni yang dapat ditangkap
indrawi saja

2. Apresiasi Estetik ; menilai atau menghargai suatu karya seni dengan melibatkan
pengamatan dan penghayatan yang dalam

3. Apresiasi kritik ; menilai atau menghargai sebuah karya seni dengan melibatkan
klasifikasi deskripsi, analisis tafsiran dan evaluasi.

H. Metode dan Pendekatan Apresiasi Seni

Proses apresiasi seni , dapat dilakukan melalui metode dan pendekatan , seperti yang
dikemukakan oleh ( Sahman, 1993 : 153 ; Sudarso 1990 : 83 – 84 )

a. Pendekatan aplikatif: Pendekatan ini dilakukan melalui proses

penciptaan seni secara langsung

b. Pendekatan Historis: Ditempuh melalui pengenalan sejarah seni.

Penciptaan demi penciptaan, peristiwa demi peristiwa yang masingmasing

memiliki problema sendiri, dibicarakan dan dibahas secara urut.

c. Pendekatan problematik: Menyoroti masalah serta liku-liku seni sebagai

sarana untuk dapat menikmatinya secara semestinya, kemudian deretan

problem-problem senilah yang harus dibahas satu persatu.


Mendeskripsikan Karya Seni Rupa
Hal-hal yang diperhatikan dalam mendeskripsikan karya seni rupa adalah :

· Medium yang digunakan ( teknik dan bahan )

Contoh : bila karya menggunakan cat minyak , maka teknik yang digunakan adalah
melukis dan bahannya adalah cat minyak dan kanvas

· Unsur-unsur karya ( objek, warna, bentuk, dan unsur lainnya yang terlihat pada
objek karya seni rupa ).

************************************************************