Anda di halaman 1dari 5

Penyelesaian Masalah Kasus Penyuapan

Penyuapan adalah bentuk pemberian yang dilakukan oleh korporasi atau pihak swasta berupa
pemberian barang, uang, janji, dan bentuk lainnya yang bertujuan memengaruhi pengambilan
keputusan dari pihak penerima suap. Suap disertai dengan kesepakatan kedua belah pihak.
Tindakan suap, baik yang dilakukan di dalam atau pun luar negeri, pada jam kerja atau pun di
luar jam kerja, akan dipidana.

Kasus Penyuapan di Indonesia

Tindakan korupsi dapat terjadi di berbagai instansi, baik DPR/DPRD, BUMN/BUMD,


Pemerintah Provinsi, Kementerian/Lembaga, Komisi, ataupun Pemkab/Pemkot. Berdasarkan
hasil data analisis, mayoritas 36% tersangka korupsi berasal dari kementerian dan lembaga. 32%
berasal dari Pemkab/Pemkot, 14% berasal dari pemerintah provinsi. Dari tindakan korupsi
tersebut, sebagian besar tindak pidana yang terjadi adalah kasus pidana penyuapan sebanyak 507
kasus (39%).

Salah satu skandal kasus penyuapan yang sempat mendapat sorotan besar adalah skandal suap
Meikarta yang terjadi pada Oktober 2018. Proyek fenomenal Meikarta tersebut tersangkut kasus
suap penyalahgunaan izin lahan Lippo Group. KPK pun menyeret bupati Bekasi dan direktur
operasional Lippo Group atas penyuapan senilai Rp 7 Milliar. Ketentuan mengenai
pemberantasan tindak pidana korupsi ini telah diatur dalam Undang-Undang.

Peraturan terkait Penyuapan

Peraturan terkait korupsi sektor korporasi sebagai pelaku tindak pidana diatur dalam UU No 20
tahun 2001 tentang Pemberantas Tindak Pidana Korupsi. Pada UU No.20 tahun 2001 pasal 20
ayat 2, dinyatakan bahwa tindak pidana korupsi dilakukan oleh korporasi apabila tindak pidana
tersebut dilakukan oleh orang-orang baik berdasarkan hubungan kerja maupun berdasarkan
hubungan lain, bertindak dalam lingkungan korporasi tersebut baik sendiri maupun bersama-
sama.

Pidana yang diberikan tidak hanya bagi penerima, tapi juga pemberi suap. Pidana untuk pemberi
suap diatur dalam pasal 5 ayat 1 dan 2 UU No.20 tahun 2001. Pada pasal ini dijelaskan bahwa:
pelaku suap dipidana dengan pidana penjara paling singkat 1 (satu) tahun dan paling lama 5
(lima) tahun dan atau pidana denda paling sedikit Rp 50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah) dan
paling banyak Rp 250.000.000,00 (dua ratus lima puluh juta rupiah) bagi setiap orang yang:

1. memberi atau menjanjikan sesuatu kepada pegawai negeri atau penyelenggara negara
dengan maksud supaya pegawai negeri atau penyelenggara negara tersebut berbuat atau
tidak berbuat sesuatu dalam jabatannya, yang bertentangan dengan kewajibannya; atau
2. memberi sesuatu kepada pegawai negeri atau penyelenggara negara karena atau
berhubungan dengan sesuatu yang bertentangan dengan kewajiban, dilakukan atau tidak
dilakukan dalam jabatannya.

Pidana terhadap penerima suap dijelaskan pada pasal 5 ayat 2 UU No.20 tahun 2001. Pada pasal
ini dinyatakan bahwa; pegawai negeri atau penyelenggara negara yang menerima pemberian atau
janji sebagaimana dimaksud dalam pasal 5 ayat 1 huruf a atau huruf b, dipidana dengan pidana
yang sama sebagaimana dimaksud dalam pasal 5 ayat 1.

Dalam rangka menindaklanjuti regulasi ini, diberlakukan Instruksi Presiden (Inpres) tentang
Aksi Pencegahan dan Pemberantasan Korupsi Tahun 2016. Pada aksi 20 dinyatakan bahwa salah
satu upaya untuk mencegah dan memberantas korupsi adalah dengan melakukan inisiasi upaya
sertifikasi antikorupsi.

Pencegahan Tindak Pidana Korupsi Penyuapan dengan ISO 37001

Salah satu sistem manajemen antikorupsi yang dapat diterapkan dan disertifikasi dalam rangka
mencegah tindakan penyuapan adalah ISO 37001:2016. ISO 37001:2016 diterbitkan pada 15
Oktober 2016 untuk membantu organisasi mencegah, melaporkan, maupun menyelesaikan kasus
penyuapan. Sistem ini dirancang untuk menumbuhkan budaya antisuap pada suatu organisasi dan
meningkatkan peluang untuk mendeteksi upaya-upaya insiden penyuapan dari awal. Sistem
manajemen ini bersifat fleksibel sehingga dapat diterapkan pada berbagai jenis organisasi,
perusahaan, lembaga, ataupun institusi.

Langkah-langkap penerapan ISO 37001:2016 adalah sebagai berikut.

1. Membentuk dan membina komitmen manajemen


2. Menunjuk pengawas anti-penyuapan
3. Menilai risiko suap untuk seluruh aktivitas
4. Menetapkan dan mewujudkan kebijakan, prosedur, ataupun kontrol lainnya berdasarkan
risiko suap yang mungkin terjadi
5. Melakukan peningkatan kesadaran bagi semua pihak terkait
6. Melaporkan, memantau, dan menginvestigasi implementasi sistem manajemen antisuap
serta menginvestigasi kasus suap yang terjadi
7. Melakukan tindakan korektif dan peningkatan berkelanjutan

Penerapan ISO 37001:2016 akan membantu organisasi dalam meningkatkan pengendalian


terhadap salah satu tindakan korupsi. Implementasi sistem ini juga memberikan kepercayaan
terhadap seluruh pihak berkepentingan organisasi, baik manajemen, pemilik, pelanggan, dan
rekan bisnis, bahwa organisasi telah melaksanakan praktik pengendalian antisuap yang baik dan
telah diakui secara internasional. Apabila suatu saat terjadi penyelidikan kasus penyuapan dalam
organisasi, penerapan sistem ini juga akan memberikan bukti kepada jaksa maupun pengadilan
bahwa organisasi telah mengambil langkah-langkah dalam upaya pencegahan penyuapan.

Anda mungkin juga menyukai