Anda di halaman 1dari 46

1

KATA PENGANTAR

Salam Persaudaraan,
Membangun karakter seorang yang bersetia pada hatinya merupakan suatu
pekerjaan yang cukup sulit. Ini menjadi salah satu alasan bagi kebanyakan pelatih jika
mendapati siswa didiknya tak juga memahami, menghayati, dan mengamalkan ilmu setia
hati.
Sejauh ini penyusun mengkaji penyebab berhasil atau tidaknya program kepelatihan
ternyata salah satu faktornya adalah matero ke-SH-an yag cenderung dianggap sepele di
beberapa tempat latihan. Oleh karena itu, penyusun merasa terpanggil untuk menyusun
sebuah buku yang berisi kumpulan materi ke-Setia Hati-an yang disusun secara sitematis
dari tingkat ke tingkat.
Harapan dengan adanya buku ini, penyampaian materi Ke-SH-an menjadi lebih
sistematis, efektif dan efisien guna menunjang keberhasilan pendidikan.
Buku ini hanya untuk pegangan warga Setia Hati Terate dan melengkapi system
pembelajaran dan pelatihan kepada siswa Setia Hati Terate. Itu semua penyusun
bermaksud demi menjaga kewibawaan Pengurus PSHT yang berada di tingkat Cabang,
Ranting dan Rayon dalam melatih para siswanya,
Terakhir, penyusunan buku ini tentu masih sangat jauh dari kesempurnaan. Oleh
karena itu, kritik dan saran yang bersifat membangun sangat penyusun nantikan demi
perbaikan pada penulisan yang akan datang.

Tim penyusun,

Ttd

PSHT - Pusat Madiun

2
PANCASILA

1. Ketuhanan Yang Maha Esa


2. Kemanusiaan yang adil dan beradab
3. Persatuan indonesia
4. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan
dalam permusyawaratan / perwakilan
5. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat indonesia

3
Mukadimah
Persaudaraan Setia Hati Terate

Bahwa sesungguhnya hakikat hidup itu berkembang menurut kodrat iramanya


masing-masing menuju ke kesempurnaan. Demikian pun kehidupan manusia
sebagai makhluk Tuhan yang terutama, hendak menuju ke keabadian kembali
kepada Causa Prima titik tolak segala sesuatu yang ada, melalui tingkat ke
tingkat namun tidak setiap insan menyadari bahwa apa yang dikejar-kejar itu
telah tersimpan menyelinap di lubuk hati nuraninya. Setia Hati sadar meyakini
akan hakiki hayati itu dan akan mengajak serta para warganya menyingkap
tabir tirai selubung hati nurani dimana "Sang Mutiara Hidup" bertahta.

Pencaksilat salah satu ajaran Setia Hati dalam tingkat pertama berintikan seni
olah raga yang mengandung unsur pembelaan diri untuk mempertahankan
kehormatan, keselamatan dan kebahagiaan dari kebenaran terhadap setiap
penyerangan. Dalam pada itu Setia Hati sadar dan yakin bahwa sebab utama
dari segala rintangan dan malapetaka serta lawan kebenaran hidup yang
sesungguhnya bukanlah insan, makhluk atau kekuatan yang diluar dirinya. Oleh
karena itu pencak silat hanyalah sesuatu syarat untuk mempertebal
kepercayaan kepada diri sendiri dan mengenal diri pribadi.

Maka Setia Hati pada hakekatnya tanpa mengingkari segala martabat


keduniawian tidak kandas/tenggelam pada pelajaran Pencak Silat sebagai
pendidikan ketubuhan saja, melainkan lebih menyelami kedalam lambang
pendidikan kejiwaan untuk memiliki sejauh-jauh kepuasan hidup abadi lepas
dari pengaruh rangka dan suasana. Sekedar syarat bentuk lahir, disusunlah
Organisasi dalam rangka "Persaudaraan Setia Hati Terate", sebagai ikatan
antara saudara "Setia Hati" (SH) dan lembaga yang bergawai sebagai pembawa
dan pemancar cita.

4
MATERI KEROHANIAN PSHT

“ TINGKAT POLOS “

5
A. PENGENALAN TERHADAP ORGANISASI
1. Nama, Waktu, dan Tempat Kedudukan
Organisasi persaudaraan ini bernama “ Setia Hati Terate “ atau biasa disebut
SH Terate.
Organisasi SH Terate didirikan oleh Ki Hadjar Hardjo Oetomo pada tahun
1922 yang berpusat di Madiun (Jatim) untuk jangka waktu yang tidak
terbatas.
2. Azas, Sifat, dan Tujuan
Persaudaraan Setia Hati Terate berazaskan Pancasila dengan landasan
strukturalnya adalah UUD 1945.
PSHT bersifat persaudaraan yang kekal, kekeluargaan, dan kebersamaan,
serta tidak berafiliasi pada aliran politik manapun.
PSHT didirikan dengan tujuan antara lain :
a) Meningkatkan ketaqwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa;
b) Mempertinggi seni budaya pencak silat yang berpedoman pada wasiat
PSHT;
c) Memperkuat fisik, mental, dan spiritual warga PSHT pada khususnya,
dan warga Indonesia pada umumnya;
d) Mempertebal rasa cinta kasih sesama manusia;
e) Menanamkan jiwa kesatria, cinta tanah air dan bangsa Indonesia;
f) Meningkatkan kepercayaan terhadap diri sendiri bagi setiap anggota
PSHT atas dasar kebenaran;
g) Ikut serta mendidik manusia agar berbudi pekcrti luhur, tahu benar dan
salah.

3. Disiplin PSHT
Sebagai anggota organisasi PSHT setiap individu harus memahami disiplin
PSHT, yaitu:
a) Taat dan patuh kepada pelatih.
Pelatih adalah orang yang telah mengajari kita dengan tulus ikhlas.
Sehingga kita bisa menjadi orang yang berilmu dan mengenal kebaikan.
Karena pelatih kita bodoh menjadi pandai.

6
Oleh karena itu, sudah menjadi keharusan bagi kita untuk menghargai
ketulusan tersebut dengan jalan taat dan patuh kepada beliau. Dengan
catatan selama perintah beliau masih berada dalam kebenaran.

b) Taat dan patuh kepada orang tua.


Sebab mereka adalah orang yang menjadi sebab kita ada di dunia ini. Ibu
mengandung, melahirkan, menyusui, merawat, mendidik, dan
membesarkan kita dengan segenap kasih sayang dan pengorbanannya.
Bapak bekerja membanting tulang mencari rezeki demi kebahagiaan
kita, membeli makanan, pakaian dan rumah untuk keluarga.
Di dunia ini tidak ada manusia yang lahir tanpa orang tua, dan tidak ada
orang tua di dunia ini yang tidak memiliki kasih sayang kepada anaknya.
Maka hukumnya wajib bagi kita untuk berbakti kepada orang tua
meskipun orang tua kita buruk rupanya, miskin hartanya, kita tetap
wajib menghormati, menyayangi dan memperlakukan mereka dengan
lemah lembut.
"Ridho orang tua adalah ridho Tuhan
Murka orang tua adalah murka Tuhan "

c) Tidak boleh sombong.


Sebab sombong hanya akan merugikan diri kita sendiri. Membuat kita
lupa diri, terlebih-lebih melupakan Tuhan Yang Maha Kuasa.
Manusia sangat diharamkan berlaku sombong, bahkan meskipun hanya
terbetik dalam hati.
Begitu banyak sejarah mencatat perjalanan hidup manusia yang pada
akhirnya mereka hancur karena kesombongannya.
Oleh karena itu kita hams waspada agar hati kita tak terjprigkiti penyakit
sombong, agar kelak tak menjadi bomerang dalam kehidupan kita.

d) Tidak boleh mengajarkan ilmu SH tanpa izin pengurus setempat.


Baik siswa maupun warga dilarang mengajarkan ilmu SH kepada orang
lain tanpa izin resmi dari pengurus PSHT setempat, Terutama
dikhawatirkan akan mencemarkan nama baik organisasi kita.

7
e) Tidak boleh berkelahi.
Kita diajarkan untuk tidak boleh berkelahi jika hanya karena
permasalahan yang sepele, karena hal itu akan merugikan diri sendiri
dan orang yang berkelahi dengan kita

• Boleh kita berkelahi apabila terancam keselamatan kita, harga diri


kita/keluarga/organisasi sudah diinjak-injak, dan kemudian menurut
perhitungan hanya perkelahianlah jalan terbaik/terakhirnya.
Tapi harus dengan catatan: kita mantap, benar, serta yakin bahwa kita
akan menang.
"Orang SH pantang mempermasalahkan persoalan sepele,
Juga pantang menyepelekan masalah "

4. Pancadasar PSHT
Organisasi Persaudaraan Setia Hati Terate berdiri atas lima lima dasar yang
lazimnya disebut Pancadasar PSHT. Perlu diperhatikan bahwa meskipun
terdiri atas lima unsur, namun kelimanya merupaka satu yang tak dapat
dipisahkan satu sama lain. Atau biasa disebut dengan "Gangsal hang nyawiji".
Lima dasar itu adalah:
a) Persaudaraan;
Persaudaraan adalah hubungan antara manusia yang satu dengan yang
lain yang terikat karena adanya ikatan bathin. Sama seperti saudara
kandung seayah seibu namun dalam fisik satu guru.
Persaudaraan dalam PSHT adalah persaudaraan yang kekal abadi, yang
tidak memandang suku, agama, golongan, pangkat derajat.
Untuk mencapai persaudaraan yang kekal abadi kita harus saling
pengertian,
menyayangi, mengingatkan, dan saling punya rasa tanggung jawab.
Bukti adanya persaudaraan adalah:
• Berjabat tangan saat bertemu dan berpisah.
• Mong tinemong (saling mengasuh), rekso rumekso (saling menjaga),
makti matan (saling mengingatkan), dan gotong royong.

8
• Adanya sikap saling menghormati.
• Adanya sambung. Sambung dalam SH bukannya kita diadu tetapi
bertujuan untuk meningkatkan rasa percaya diri, mempertebal rasa
persaudaraan, dan untuk mempraktikkan ajaran yang telah didapat.
"Orang SH harus gemar sambung "

*Sambung bermakna menyambung tali silaturahmi.

b) Olah raga;
Organisasi Persaudaraan Setia Hati Terate mengajarkan pencak silat,
maka jelas di dalamnya terkandung unsur olah raga. Olah raga sendiri
artinya adalah gerak tubuh manusia untuk mendapatkan kesehatan
jasmani dan rohani. Dalam SH diajarkan senam, jurus dan aus dower.
Sebuah pepatah asing mengatakan, "Mensana in corporesano", yang
artinya di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat.
Jadi secara nyata SH ikut serta menjadikan manusia yang sehat lahir
maupun
bathin.

c) Bela diri;
Organisasi Persaudaraan Setia Hati Terate di dalamnya terkandung unsur
bela diri, yang dalam hal ini adalah pencak silat. Bela diri yaitu gerak
obah polah manusia untuk mempeTtahankan diri guna mendapatkan
kesejahteraan lahir bathin. Jadi pencak silat berfungsi sebagai alat
membela diri dan kepercayaan pada diri
sendiri. Oleh karena pencak silat merupakan warisan budaya bangsa
Indonesia, maka kita
berkewajiban menjaga dan sekaligus mengembangkannya.
Ingat kata-kata berikut:
• Bangsa yang terjajah jiwanya adalah bangsa yang tidak sudi
menghargai kebudayaannya sendiri.

9
• Bangsa yang terjajah jiwanya adalah bangsa yang mudah
terombang-ambing, yaitu bangsa yang tidak mempunyai pedoman
hidup.

d) Kesenian;
Pencak silat di dalamnya terkandung unsur seni, yaitu keindahan gerak
tubuh dalam langkah-iangkah yang selaras dan seirama, Gerak tubuh
manusia dalam PSHT didapat dari senam, jurus, pasangan dan teknik
dengan nama tertentu dapat dijadikan seni yang dapat dipentaskan
dalam sambung.
Dengan demikian PSHT secara nyata ikut pula menciptakan manusia
yang mengerti akan keindahan dan nilai-nilai kepribadian bangsa.

* Ada empat unsur kesempurnaan seni:


• Wirogo (raga/ gerakan)
• Wiromo (irama/musik gamelan, gong, dsb)
• Busono (Busana/ seragam)
• Wiroso (Rasa)

e) Kebathinan/kerohanian
Kebathinan/ kerohanian adalah sumber azas ke-Tuhan-an Yang Maha
Esa untuk mendapatkan budi yang luhur guna mencapai
kasampurnaning hurip. Kebathinan/ kerohanian merupakan tujuan akhir
dari pancadasar ini dimana kebathinan SH berpijak pada keaslian. Ada
dua macam kebathinan :
• Kebathinan ilmu karang
Penjelasannya ada di tembang pangkur, "Kekerane ilmu karang,
kekarangane bongso ghaib. Iku boreh paminipun, tan rumasuk
ingjasad amung anek sak jabaning daging kulub, yen kepengkok
ubayane mblalenjani".

"Manungso iku yen luwe kudu mangan panganane manungso, dudu


sing dipangan bangsane beling, gem Ian liyane ".

10
Di SH tidak diajarkan ilmu karang, karena ilmu ini mengajarkan
sesuatu yang perbuatannya bukan merupakan perbuatan
manusia pada umumnya (menyalahi qodrat Illahi).
Contoh ilmu karang: Ora tedas bacok, ora tedas papak palune
pandhe, mangan beling, mangan geni, santet Ian sakpanunggale.

Tuhan menciptakan manusia sesuai qodramya adalah ada kulit,


daging, darah, dan tulang. Yang apabila tergores kulit akan sobek,
daging akan terbelah, kemudian akan keluar darah. Oleh karena itu
jika orang mempelajari ilmu karang berarti orang tersebut
menyalahi kodrat Ilahi atas penciptaan dirinya Manusia yang
demikian dikatakan "Manungso sing ora narimo ing pandum "
(serakah). Dan kelak pasti akan mendapat balasan dari Tuhan Yang
Maha Kuasa.

• Kebhatinan ilmu asli


Kebathinan asli (dari dalam) gunanya adalah untuk menentramkan
hati agar kita berwibawa, kharismatik, berkepribadian/berbudi luhur
dan merasakan kehambaan din dihadapan Sang Pencipta.
Oleh karena itu di dalam devinisinya dikatakan, "Sumber azas ke-
Tuhan-an Yang Maha Esa untuk mendapatkan budi yang luhur guna
mencapai kasampuranig hurip.

B. PENCAK SILAT SEBAGAIWARISAN LUHUR BANGSA


Dalam hal bela diri, Persaudaraan Setia Hati Terate telah menetapkan Pencak
Silat sebagai jenis bela dirinya. Hal ini menyiratkan sebuah makna bahwa pencak
silat sangatlah cocok untuk membangun karakter pendekar bangsa Indonesia.
Dengan alasan bahwa pencak silat merupakan bela diri khas yang bersumber
pada kepribadian dan jati diri asli bangsa Indonesia. Terlepas dari jenis dan
bentuk, yang jelas manfaat dari pencak silat sangat terasa sekali baik dari segi
zahiriyah maupun bathiniyah. Salah satu sifat dari seseorang yang menguasai
pencak silat adalah gerak dan tindakan orang tersebut terlihat mantap dan

11
penuh percaya diri. Ia tidak akan merasa was-was atau ragu dalam menghadapi
permasalahan maupun di dalam melakukan suatu pekerjaan. Ia pun tidak merasa
takut dalam mengambil sikap atau menentukan keputusan. Lebih jauh lagi ia
akan menguasai taktik dan teknik yang dikonotasikan dan diaplikasikan dalam
kehidupan sehari-hari, di samping selalu menjaga amanat dan janji ksatria.

Hal lain yang dapat diandalkan dari seorang yang menguasai ilmu pencak silat
adalah tidak gampang putus asa. Ia akan terus berjuang demi mempertahankan
kewajiban dan haknya. Ia memiliki sifat berani dan tak takut mati (karena ia yakin
bahwa mati hukumnya wajib bagi setiap yang benyawa).
Jika ia harus menghadapi cobaan hidup, ia akan menerimanya dengan lapang
dada, karena semenjak ia mulai berlatih, jiwanya mulai ditempa dan digembleng
agar tak mudah mengeluh/ putus asa. Ia menyadari bahwa seberapa besarnya
kesengsaraan, jika ikhlas menerima, maka hikmahlah yang akan didapat (Sepiro
gedhene sengsoro, yen tinompoamung dadi cobo).
Sehigga pada saatnya nanti ia akan dapat menerapkan satu konsep hidup yang
kokoh, suatu konsep yang ia serap ketika masih mengikuti gemblengan pencak
silat. Dampaknya mengimbas pada, sekali lagi. kehidupan sehari-hari. Dan
dengan sendirinya hal tersebut akan membuahkan suatu kesadaran tentang
hakikat kehidupannya. Yakni pada dasamya kehidupan ini mempakan suatu
romantika.
"Segala yang ada di dalam dunia ini terdiri atas dua bagian,
Yang berlainan namun merupakan pasangan,
Keduanya tak dapat terpisahkan ".
Dalam pemahaman yang lebih dalam lagi, kehidupan merupakan seni yang
bemilai tinggi. Kebahagiaan dan penderitaan tak mempengaruhi kepribadian
dan keyakinan akan kekuasaan Tuhan.
Ia terus bersilat, pantang mati langkah dalam menghadapi musuh yang menjelma
menjadi persoalan hidup. Ketika jatuh, ia akan bangkit secepat mungkin untuk
menghindari kemungkinan yang lebih buruk lagi.

Begitulah spirit yang terkandung dalam pencak silat. Gerak yang gemulai namun
bertenaga tinggi juga mengajarkan suatu sikap kesatria yang santun, ramah,

12
berwibawa, namun sebenamya ia juga merupakan pribadi yang keganasannya
mengalahkan macan sekalipun. Pencak silat, dengan kandungan filosofinya,
merupakan warisan adiluhung yang sangat layak untuk kita pelajari, kita jaga,
dan tentunya untuk kita kembangkan.

C. TATA KRAMA
Tata krama adalah sopan santun, tata cara yang dipatuhi dalam kehidupan
masyarakat yang tertulis maupun tidak tertulis.

Tujuan mempelajari tata krama adalah:


1. Menghormati sesama.
2. Agar tidak menyinggung perasaan orang lain.
3. Agar tidak mengganggu ketentraman hidup orang lain.
4. Menyesuaikan dan menjunjung tinggi budaya setempat yang baik

Orientasi dan pelaksanaan tata krama di tingkat polos :


1. Bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa
2. Berbakti kepada kedua orang tua
3. Menghormati orang yang lebih tua
4. Sopan dan ramah kepada sesama
5. Menghormati pelatih dan warga lainnya
6. Mematuhi tata tertib siswa
7. Memperlakukan teman sebaya dan teman yang lebih muda dengan lembut.

D. PENANAMAN DISIPLIN, TEKAD, dan SEMANGAT


Kedisiplinan, tekad baja dan semangat yang luar biasa, merupakan syarat untuk
mencapai apa pun yang kita mau. Tak terkecuali jika seorang siswa ingin berhasil
memperoleh gelar warga yang berkualitas. Semua persyaratan itu harus
dipersiapkan dan dibiasakan sejak dini, karena itu akan sangat berpengaruh pada
kondisi mental kelak.

Penanaman disiplin dengan cara:


1. Hadir di tempat latihan minimal 15 menit sebelum latihan dimulai.

13
2. Mengenakan seragam dengan baik dan rapi.
3. Kejujuran ketika melaksanakan intruksi pelatih pada saat latihan.
4. Berjabat tangan dengan pelatih atau warga lain.
5. Berjabat tangan dengan sesama siswa sebelum dan sesudah latihan.
6. Mengirim surat pemberitahuan jika berhalangan hadir.
7. Selalu membawa buku dan alat rulis ketika berangkat latihan.
8. Membawa jamu dan air gula.

Semakin kuat tekad seseorang untuk ingin bisa, maka semakin besarlah peluang
untuk berhasil mencapai puncak yang kita inginkan. Untuk itu perlu ditanamkan
tekad baja dalam diri masing-masing siswa, dengan jalan:
1. Melatih fisik maupun materi di luar waktu latihan.
2. Sesegera mungkin mencatat kata bijak para pelatih baik ketika dijelaskan,
maupun ketika jam latihan telah usai.
3. Sesegera mungkin menggambar materi senam, jurus, dan teknik lainnya
setelah diberikan (diluar jam latihan).
4. Melaksanakan segala intruksi pelatih, demi kebaikan di masa yang akan
datang.
5. Menghindarkan diri dari perbuatan yang dapat merusak diri sendiri. Contoh:
judi, mabuk-mabukan, narkoba, dll.

Untuk menumbuhkan dan memelihara semangat beriatih, seseorang sangat


memerlukan motivasi. Motivasi bisa diperoleh dengan jalan mengingat-ingat
impian yang harus kita kejar, bisa dengan sering membaca kalimat motivasi,
maupun dengan cara yang lain. Beberapa kalimat motivasi yang harus kita
tanamkan dalam hati demi mendongkrak semangat beriatih yaitu:
1. Sepiro gedhene sengsoro yen tinompo amung dadi cobo. Artinya,
seberapapun besamya kesengsaraan, jika kita menerima dengan lapang
dada, itu hanya akan menjadi cobaan yang pasti akan berlalu dan tentunya
akan memberikan hikmah yang banyak.
2. Memelihara semangat beriatih, sama halnya dengan merawat bayi yang tak
pernah tumbuh dewasa.
3. Aku yakin, aku mampu menakhlukkan hawa malasku!

14
4. Setiap sesuatu yang besar, harus diperoleh dengan pengorbanan yang besar
pula.
5. Sikap mental ketika menjadi siswa, menjadi cermin bagaimana setelah
menjadi warga.
6. KEMAHIRAN, membutuhkan pengulangan.
7. Aku berjanji akan menguasai materi ini dengan secepatnya.
8. Lakukan ini: Pejamkan mata, tank nafas dalam, tahan, lalu katakan dalam
hati "Diriku benar-benar dalam semangat yang tinggi". Setelah itu buang
nafas, lalu buka mata kembali.

Menyanyikan mars PSHT dan Padamu Negeri pada awal maupun usai latihan juga
dapat meningkatkan semangat.

15
MATERI KEROHANIAN PSHT

“ TINGKAT JAMBON “

16
A. SEJARAH SINGKAT SETIA HATI TERATE
Persaudaraan Setia Hati Terate didirikan pada tahun 1922 oleh Ki Hadjar
Hardjo Oetomo di Madiun, Jatim.
Pada awalnya bemama Pencak Sport Club (PSC) karena pada waktu itu zaman
penjajahan Belanda. Jadi semua perkumpulan bela diri dibubarkan karena
Belanda khawatir dapat
menggalang persatuan dan membakar semangat perjuangan rakyal untuk
melakukan perlawanan/pemberontakan.
Oleh karena itu untuk mengelabuhi pemerintah Belanda, PSC sempat
berubah-ubah nama.
Kemudian atas usul Bapak Soeratno Soerengpati pada tahun 1942, berubah
menjadi "Persaudaraan Setia Hati Terate" sampai sekarang.

Pada kenferensi PSHT tahun 1948, Persaudaraan Setia Hati Terate yang pada
awalnya bersifat perguruan berubah menjadi organisasi yang memiliki
AD/ART.

B. PENGENALAN LAMBANG PSHT


1. Berbentuk perisai segi empat
2. Berwarnaa dasar hitam
3. Ditengah ada gambar jantung/hati bersinar dengan batas merah
4. Pancaran sinar putih yang berasal dari hati
5. Terdapat tulisan "PERSAUDARAAN SETIA HATI TERATE".
6. Ada garis tegak lurus berwarna putih-merah-putih.
7. Dibawah jantung/hati ada gambar terate yang berbunga tiga macam,
kuncup, setengah mekar, dan mekar.
8. Ada gambar senjata pencak silat yang terdiri dari: Toya, Rambik, Belati,
Trisula, dan Pedang.

17
C. PENGENALAN BUKAAN PSHT
Bukaan PSHT berbentuk gerakan-gerakan yang mengandung arti kehidupan,
doa keselamatan, pengharapan, dan sugesti yang dapat meningkatkan kekuatan
mental dalam menghadapi persoalan hidup.
Bukaan PSHT adalah gerak baku, yang artinya suatu rangkaian gerakan yang tidak
boleh ditambah/dikurang, meskipun dengan alasan untuk keindahan seni.
Karena setiap geraknya terkandung makna yang sangat dalam.
Di tingkat ini siswa mulai diperkenalkan dengan gerakan bukaan PSHT tanpa
disertai maknanya,
Urutan gerakan dalam bukaan PSHT yaitu:
1. Sikap awal berdiri tegak seperti huruf alif dengan jari-jari telapak tangan
menghadap ke atas di depan uluh hati, ibu jari ke arah uluh hati.
2. Kaki kanan dibuka ke arah kanan-belakang (serong).
3. Duduk jongkok (pasang A bawah) dengan kedua jari tangan kanan
menempei tanah, kemudian diarahkan ke atas (udara) dan kemudian ke
pelipis.
4. Setelah itu tangan dikepalkan ke depan (dreg, suwing, atau pukulan).
5. Berdiri kembali ke sikap semula (berdiri tegak alif)
6. Pelaksanaannya pada waktu memulai sambung atau solospel/permainan
tunggal.

Catatan:
1. Selama melakukan gerakan bukaan, tangan kiri tetap melindungi uluh
hati.
2. Dua jari yang digunakan adalah jari telunjuk dan jari tengah.
3. Bakunya/dasarnya cukup hanya rangkaian gerakan itu saja. Kalaupun
ingin ditambah rangkaian gerakan yang sama untuk yang kiri tidak apa-
apa, tapi harus disertai dengan elak sikut.

D. TATA KRAMA
Tata krama harus difahami dengan baik agar pergaulan kita dengan seseorang
atau sekelompok orang tetap berjalan dengan baik dan harmonis. Yang tentu

18
saja hal itu akan mengundang simpati orang lain. Siapa yang menjaga tata
kramanya, dia akan disenangi oleh orang banyak.
Ada banyak macam tata krama yang kesemuanya bertujuan untuk menjadikan
kita manusia yang berbudi luhur. Namun kesemua itu terangkum dalam dua jenis
tatakrama, yaitu:
1. Tata krama dalam beribadah kepada Tuhan (hubungan vertikal)
2. Tata krama dalam berhubungan dengan sesama makhluk Tuhan (hubungan
horizontal)
Penjabarannya sebagai berikut.
1. Tata krama dalam beribadah kepada Tuhan (hubungan vertikal) Dalam
beribadah kepada Tuhan, selain ada aturan bakunya, kita juga harus
memperhatikan tata krama dalam peribadatan. Semisal menggunakan
pakaian yang baik (tidak asal pakai), merendahkan diri dan suara ketika
berdoa, dan lain sebagainya,
Kita harus memiliki tata krama, yang kesemuanya dapat dipelajari dari guru
agama masing-masing.
Pada intinya harus bertaqwa pada Tuhan Yang Maha Esa dengan cara
menjalankan semua perintah-Nya serta menjauhi semua larangan-Nya.

2. Tata krama dalam berhubungan dengan sesama makhluk Tuhan (hubungan


horizontal)
a. Dalam berkomunikasi
Berbicara memiliki tatakramanya sendiri. Kalau dalam bahasa jawa ada
boso ngoko, kromo, kromo inggil.

Jika berbicara dengan orang yang di bawah kita usahakan menggunakan


kata yang baik, jangan meremehkan orang tersebut meskipun kita lebih
tua, kaya, ataupun lebih hebat. Tetap pergunakan bahasa yang baik dan
dengan rasa sayang.

Jika berbicara dengan orang yang sebaya atau setingkat dengan kita, kita
hams menghormatinya dengan berbicara yang baik dan tidak
kebablasan. Jangan mentang-mentang sebaya jadi semaunya sendiri,

19
kasar, ataupun saling mengejek. Tetaplah menjaga kesopanan, karena
kesopanan itu pasti akan kembali pada diri kita.

Jika berbicara dengan orang diatas kita, tentu kita harus lebih berhati-
hati. Sangat perlu menjaga kehormatannya. Berbicara dengan bahasa
yang baik, sopan, merendah, dan tidak cerewet. Kalau memang bisa,
lebih baik Iagi menggunakan bahasa krama inggil.
Berbicaralah seperlunya, jangan terlalu mengumbar perkataan untuk hal
yang tidak perlu. Jangan suka mbukak wadine liyan (membuka
keburukan orang lain).
Berbicaralah dengan manis, jangan rewel/ceriwis.
Perkataan kita jangan sampai ada yang menyakiti hati orang lain, agar
tidak menimbulkan dendam di hatinya. Jangan terlalu jauh ataupun
terlalu dekat saat berbicara.

Ketika ada orang lain sedang berbicara, kita harus memperhatikan dan
mendengarkan dengan baik perkataannya. Jika kita hendak bertanya,
kita hams menunggu sampai ia selesai berbicara. Jangan seperti orang
yang lancang memotong pembicaraan orang lain.

b. Dalam berperilaku di depan umum


Semua orang akan menghormati kita jika kita mampu bertata krama
dengan baik. Wajah yang sejuk dan andap asor.
Dalam berperilaku di depan umum kita hams bisa menjaga diri dengan
baik. Ketika menggunakan fasilitas umum kita harus memanfaatkan
dengan semestinya, tidak merusak ataupun egois dengan menggunakan
sekehendak hati kita.

* Ketika berjalan, berjalanlah di sebelah kiri, jangan ugal-ugalan, patuhi


peraturan lalu lintas.
Gunakanlah pakaian yang sesuai dengan keadaan. Bersih, rapi, dan
sopan. Karena pakaian yang kita kenakan dapat menunjukkan harga diri

20
kita. Jika bertamu ke rumah orang lain, pilihlah waktu yang tepat agar
tidak mengganggu pemilik rumah.

c. Dalam hubungan berbangsa dan bernegara


Mematuhi aturan atau undang-undang yang berlaku.
Menggunakan bahasa Indonesia yang baik.
Melaksanakan upacara bendera dengan tertib dan tenang.

d. Dalam hubungan dengan alam semesta


Kita diturunkan ke dunia ini sebagai khalifah/ pemimpin untuk
memimpin di muka bumi ini. Kewajiban kita adalah menjaga keindahan
dan keselamatan bumi, memayu hayuning huwono.
Oleh karena itu, kita harus benar-benar menjaga dan melestarikan alam
ini dengan cara menjaga keharmonisan hidup dengan alam semesta.

• Jangan menyakiti binatang tanpa alasan yang dibenarkan.


• Tidak menebangi hutan secara liar.
• Membuang sampah pada tempatnya
• Menjaga hubungan yang harmonis dengan alam astral/ghaib.

21
MATERI KEROHANIAN PSHT

“ TINGKAT HIJAU “

22
A. MAKNA LAMBANG PSHT
1. Berbentuk Perisai Segi Empat
Melambangkan adanya empat kiblat/ arah, yaitu timur, barat, selatan, dan
utara. Makna yang lebih dalam lagi yaitu orang SH harus tahu arah, memiiiki
pendirian dan tujuan hidup.
Begitu pula orang SH percaya adanya empat nafsu, yaitu:
a. Sufiah (nafsu ingin memiiiki)
b. Lawamah (nafsu serakah, rakus, makan, tidur dll)
c. Amarah (nafsu marah/emosi atau egonya tinggi)
d. Mutmatnah (sabar, tenang dan cinta kasih)

2. Warna Dasar Hitam


Bermakna kekal dan abadi. Yang dimaksud kekal abadi di sini adalah rasa
persaudaraan antara warga PSHT.

3. Jantung/ Hati Berwarna Putih Dengan Batas Merah


Bermakna cinta kasih yang suci terhadap sesama makhluk namun tetap ada
batasannya. Cinta kasih tanpa batas adalah pembunuhan. Suatu contoh :
a. Orang tua yang terlalu menyayangi anak nya, apa yang diminta pasti
dituruti. Tidak tega melihat anaknya sengsara sedikit saja. Maka jika
kelak anak tersebut sudah dewasa, dia tidak akan mampu hidup mandiri.
Kerjanya hanya berganmng pada belas kasih orang tuanya.
b. Seorang pelatih yang terlalu emanl sayang terhadap siswanya, sampai ia
tidak tega mendidik siswanya dengan sedikit keras. Maka jika kelak
siswanya menjadi warga, ia akan menjadi pendekar yang lemah, minder,
dan kurang memahami hakikat pendidikan.
Dari kedua contoh kasus tersebut (pahami sekali lagi!!!), membuktikan
bahwa cinta kasih yang tanpa batas kepada anak dan siswa merupakan
bentuk pembunuhan secara halus.

Dari sini dapat dipahami bahwa segala sesuatu yang tanpa batas atau
berlebihan kerap kali menimbulkan masalah lain. Termasuk cinta kasih ke
seluruh makhluk. Manusia SH harus proporsional!!!

23
4. Jantung/ Hati Bersinar
Bermakna seorang SH hams mampu menjadi penexang di sekelilingnya.
Maksudnya orang SH hams mampu menjadi suri tauladan yang lebih baik
bagi orang-orang di sekitamya di manapun ia berada.
Sinarjuga bermakna hukum timbal balik/ karma. " Ngunduh wohing pakartu
Sopo sing nandur pari ngunduh beras. Sopo sing nandur jagung yo
ngunduh jagung “. Siapa yang menanam kebaikan ia akan mendapatkan
balasan kebaikan. Begitu pula sebaliknya.

5. Tulisan, "Persaudaraan Setia Hati Terate"


a. Persaudaraan
Pada lambang PSHT yang dicantumkan adalah kata “Persaudaraan”
bukan “Pencak Silat”. Itu menyiratkan suatu makna bahwa dalam PSHT
yang diutamakan adalah rasa persaudaraan, bukan pencak silatnya.
Ajaran persaudaraan dalam PSHT yaitu:
• Mong tinemong (Saling mengasuh)
• Rekso rumekso (Saling menjaga)
• Makti matan (Saling mengingatkan)
• Gotong royong.

b. Setia Hati
Setia Hati, dua kata yang memiliki kesatuan makna, yaitu setia kepada
hati nurani. Dengan hati, manusia bisa mengenal Tuhan dan merasakan
keberadaan-Nya.
Hati adalah pemimpin bagi seluruh anggota badan. Jika hati baik/suci,
maka baiklah ucapan, perbuatan, pandangan, fikiran dan seluruh
anggota badannya.
Namun jika hati buruk/terkotori hawa nafsu, maka yang terjadi adalah
kebalikannya.
Pada dasamya, manusia dilahirkan dalam keadaan suci hatinya. Oleh
karena itu, kewajiban kita adalah tetap setia menjaga kesucian hati kita.

24
Setia Hati juga bermakna setia/patuh pada kata hati. Karena pada
hakikatnya, Tuhan memberikan petunjuk hidup kepada kita melalui hati.

6. Garis Putin Tegak Lurus di Tcngah Merah


Maknanya adalah orang SH harus berani berdiri ditengah kebenaran atau
menegakkan kebenaran. Benar yang artinya menyatakan hakikat keadaan
yang sebenamya tidak dikurang/ditambah.
Di SH ada tiga macam kebenaran:
a. Benarnya sendiri
b. Benarnya umum
c. Benarnya Tuhan

7. Bunga Terate
Bunga Terate melambangkan sifat zahir (perwujudan diri). Maknanya orang
SH harus bersifat megah, indah, simpatik, dan dapat hidup di segaia lapisan
masyarakat dan di manapun ia berada.
Sesuai dengan sifat bunga terate yang indah, simpatik, dan dapat hidup
dimana-mana.
Campur wong pinter ora katon hodhone,
Campur wong bodho ora minteri.
Bunga terate yang terdiri dari kuncup (tidak mampu), setengah mekar (cukup
mampu) dan mekar (sangat mampu/kaya).
Ini menandakan orang SH terdiri dari berbagai lapisan masyarakat dengan
tingkat kehidupan sosial yang berbeda-beda, namun tetap satu saudara

8. Senjata Silat (Toya, Belati, Rambik, Trisula, dan Pedang)


Melambangkan kekuatan zhahir bathin dalam ketajaman berfikir. Juga
melambangkan bahwa pencak silat merupakan pagar dari persaudaraan.
Pada lambang PSHT terdapat sembilan senjata, maknanya adalah bahwa
penciptaan manusia dilengkapi dengan sembilan lubang yang memiliki
fungsinya masing-masing untuk kebahagiaan hidup di dunia

25
Namun kesembilan lubang tersebut seperti layaknya senjata, jika kita tidak
mampu memainkan/menggunakan dengan baik dan benar, maka bisa jadi
kita sendiri yang akan terluka/hancur karenanya.

B. MAKNA PAKAIAN PSHT


Pakaian orang SH merupakan sebagian wadah pelajaran hidup sebagai orang SH.
1. Dibuat Longgar
Orang SH memiliki sifat lapang dada (jembar dadane), tidak mudah emosi
dan marah. Menghadapi segala permasalahan dengan kebijaksanaan dan
kesabaran, tidak grusa-grusn. Jika mengambil keputusan benar-benar
dipertimbangkan baik buruknya.

2. Berwarna Hitam
Berpakaian hitam itu melambangkan mantep dan cereng (berbobot).
Maksudnya, orang yang ber-SH akan dipandang matap dan berbobot oleh
orang lain.
Dipandang berbobot tentu karena ilmu dan budi pekertinya yang menjulang
tinggi.
Dari sini dapat dipahami bahwa jika ada warga SH yang tidak dipandang
berbobot oleh orang lain, tentu yang bersangkutan haruss berani
mengkoreksi diri. Ada apa?

3. Baju Berkerah
Melambangkan kewajaran. Maksudnya orang SH diajarkan untuk
mempelajari ilmu-ilmu yang wajar sesuai dengan kodrat manusia.
Hal ini menasihatkan kepada orang SH untuk tidak mempelajari ilmu karang,
karena mengingat godaan untuk mempelajari ilmu karang itu sangat besar.

4. Tali Putih
Melambangkan tali kesucian untuk mengikat hawa nafsu.
Maksudnya, seperti yang sudah dijelaskan, bahwa manusia memiliki empat
macam nafsu. Jadi orang SH hams bisa mengikat hawa nafsunya (bukan
mematikannya, hanya
diikat agar mudah dikendalikan). Sehingga nafsu yang ada dapat
dimanfaatkan sesuai dengan porsinya.
26
Contoh:
Salah satu nafsu yang dimiliki manusia adalah nafsu amarah.
Jika setiap ajakan amarah ini selalu dituruti orang, coba bayangkan apa yang
akan terjadi? Pasti kerusakan akan terjadi dimana-mana.
Sekarang jika nafsu amarah ini dimusnahkan, tentu akan timbul masalah lain.
Misalnya keluarga, organisasi, agama, negara atau hal prinsip kita lainnya
diinjak-injak orang lain, apakah kita hanya diam, tersenyum dan
membiarkannya
begitu saja?
Tidak! Kita harus marah!
Jadi intinya mengikat hawa nafsu agar tidak liar menguasai diri kita, justru
kitalah yang harus menguasai nafsu-nafsu tersebut.

5. Tali Putih Disusun Gojak-Gajik (Bertingkat-tingkat)


Orang SH jika ingin melakukan sesuatu benar-benar difikirkan untung dan
ruginya. Jika sudah difikirkan dan diambil keputusan, coba koreksi sekali lagi,
benarkah keputusan tersebut harus diambil.

C. MAKNA SABUK
1. Sabuk merupakan tanda bukti kenaikan tingkat dan prestasi yang didapat.
2. Sabuk ditali wangsul, bermakna sebagai manusia kita pasti akan wangsul
pulang kembali ke asalnya. Orang SH harus berserah diri kepada Tuhan Yang
Maha Kuasa dan selalu ingat bahwa kita akan kembali pada-Nya.
Dengan eling hal tersebut membuat kita tidak akan gentar dalam
menegakkan kebenaran. Karena MATI itu hukumnya PASTI bagi makhluk
yang bernyawa. Yang terpenting adalah bagaimana kita menjalani kehidupan
dengan baik, agar suatu saat kita wangsul menyang alam kelcmggengan
dalam keadaan khusnul khotimah.

27
D. LARANGAN PSHT
1. Molimo (M5)
a. Main
Main yang dimaksud adalah bermain judi. Suatu perbuatan yang
mengharapkan sesuatu tanpa mau berusaha semaksimalnya dan
cenderung merugikan orang lain yang diajak bermain.

b. Minum
Minum yang dimaksud adalah meminum segala macam minuman yang
memabukkan hingga menghilangkan kesadaran akal.

c. Maling
Yang dimaksud maling adalah mengambil segala sesuatu yang bukan
merupakan haknya, baik mengambilnya secara sembunyi-sembunyi,
tcrang-terangan, ataupun dengan kekerasan.

d. Madat
Madat adalah perbuatan dimana seseorang menginginkan
kekuatan/kepuasan sesaat, tanpa peduli bahwa apa yang diperbuatnya
dapat merusak diri sendiri/orang lain. Contohnya menggunakan
narkoba/obat-obatan terlarang.

e. Madon
Perbuatan yang hanya ingin memenuhi nafsu birahi kepada wanita/ pria
yang belum ada ikatan pernikahan.

2. Larangan Khusus
a. Ojo ngerusak purus ijo
Maksudnya adalah tidak boleh merusak segala sesuatu yang sedang
berkembang. Misalnya:
• Merusak gadis yang sedang tumbuh dan
berkembang/mengembangkan karirnya seperti sekolah, kursus dll
demi masa depannya.

28
• Merusak jejaka yang sedang berkembang.

b. Ojo ngerusak pager ayu


Maksudnya adalah tidak boleh merusak kebahagiaan orang lain, seperti:
• Merusak keharmonisan rumah tangga orang lain (Berselingkuh
dengan istri/suami orang Iain).
• Merusak, merampas, memiliki hak orang lain secara tidak sah.

3. Lain-Lain
a. Ojo nampih awehane liyan, maksudnya adalah jangan menolak
pemberian/kebaikan orang lain yang diiakukan secara ikhlas.
b. Ojo seneng mbukak wadine liyan, maksudnya adalah jangan menjadi
orang yang gemar membuka aib orang lain.
c. Ojo seneng gawe gelane liyan, maksudnya adalah jangan suka
mengecewakan atau membuat sedih orang lain.
d. Ojo manggon ing panggonan kang legok, maksudnya adalah jika suatu
saat menjadi pemimpin, kita tidak boleh pilih kasih dalam
memperlakukan orang yang kita pimpin.
e. Ojo seneng tukar padu, maksudnya adalah jangan suka bertengkar
ataupun berdebat, terlebih-lebih berkelahi tanpa sebab yang
dibenarkan. Ojo kumaluhur, tumindak'o kang prasojo, jangan merasa diri
terhormat, beriakulah dengan laku yang bersahaja/sederhana/tak terlalu
mencolok.

E. PEMAHAMAN DAN PENGHAYATAN JIWA SETIA HATI TERATE


1. Ciri manusia yang Setia Kepada Hati Sanubarinya
Seseorang yang benar Setia kepada Hatinya (ber-SH) dapat kita ketahui dari
ciri-ciri berikut:
a. Bertaqwa kepada terhadap Tuhan Yang Maha Esa.
b. Memiliki budi pekerti yang luhur, tindakan serta ucapannya terasa
nyaman di hati orang lain.
c. Keberadaannya selalu membawa manfaat di manapun ia berada

29
d. Mencintai dan menjaga alam semesta dan seisinya (memayu hayuning
buwono)
e. Menghadapi persoalan yang kecil/remeh selalu mengalah, kalau sudah
menyangkut persoalan yang prinsip baru bertindak.
f. Pemberani dan tidak takut mati dalam menegakkan kebenaran serta
keadilan.
g. Arif, sabar, sederhana dan bijaksana menyikapi persoalan hidup.
h. Karakternya:
• Ora kagetan (tidak gampang terkejut)
• Ora gumunan (tidak gampang hecan)
• Yakin (percaya pada diri sendiri dan pertolongan Tuhan)
• Wani ngelakoni (berani menjalani)

2. Penilaian Baik atau Buruknya Seseorang Dalam PSHT


Di PSHT diajarkan cara menilai seseorang itu baik atau buruk, yaitu
dengan mempertimbangkan:
a. Apabila perbuatan baiknya lebih banyak dari perbuatan buruknya, maka
seseorang itu dinyatakan baik.
b. Apabila perbuatan buruknya lebih banyak dari perbuatan baiknya, maka
seseorang itu dinyatakan buruk.

3. Syarat Langgengnya Persaudaraan


Persaudaraan harus terus dipupuk agar tetap langgeng dengan cara:
a. Saling pengertian
b. Saling menyayangi
c. Saling menghormati
d. Saling membutuhkan
e. Saling bertanggungjawab
Disamping itu setiap warga SH harus menjaga diri dari hal-hal yang menodai
/ menghancurkan persaudaraan, yaitu:
a. Maunya menang sendiri / arogan
b. Merasa diri paling hebat / over acting.
c. Iri dan dengki kepada saudara yang lain

30
4. Perihal Kesetiaan
Setelah memahami makna persaudaraan dan ilmu Setia Hati akan timbul
kesetiaan di hati kita masing-masing.
Kesetiaan kepada hati menjadikan kita pribadi yang jumbuh njobo jerone,
kalau di hati putih yang keluarpun putih, kalau di hati kuning yang keluarpun
kuning. Artinya orang yang Setia Hati tidak memiliki sifat munafik (ora selak
karo bathine). Yang diucapkan/ dilakukan sesuai dengan yang di dalam hati.
Dalam bergaul di SH Terete juga harus dilambari dari hati ke hati sehingga
temu rosone. Jadi kita tidak bicara kalau hati belum bertemu, hal ini
digambarkan suruh temu rose.
Pemahaman kita teriiadap ilmu Setia Hati dan persaudaraannya itu pula
menumbuhkan kesetiaan kita teriiadap organisasi yang menjadikan kita
pribadi yang rumongso handarbeni (merasa ikut memiliki), kemudian
menimbulkan perasaan wajib melu hangrungkebi (wajib ikut membela).
Karena negara yang sangat besarpun pasti akan cepat runtuh kalau dalam
hati setiap warganya tidak ada rasa ikut memiliki dan merasa ikut membela.
Untuk itu kesetiaan dan loyalitas kita terhadap organisasi harus benar-benar
dipelihara demi sebuah cita-cita kita bersama,
"Selama matahari masih bersinar,
Selama bumi masih dihuni manusia,
Selama itupula PSHT akan jaya abadi selama-lamanya"
F. SOLO SPEL
Solo Spel adalah rangkaian gerak silat yang dimainkan secara solo (sendirian).
Gunanya adalah:
1. Untuk menunjukkan kepada masyarakat umum bagaimana permainan
pencak silat itu dalam gerakan sendirian.
2. Untuk mempertahankan prestasi pesilat tersebut.

RAHASIA SOLO SPEL:


Semua gerakan yang dilakukan tidak boleh difikir, biarkan mengalir secara
alami. Dalam hal ini pesilat harus banyak berlatih untuk mempertajam
perasaan, sedangkan tajamnya perasaan dapat mengikuti suasana. Persoalan

31
dalam solo spel adalah: "Semua gerakan saya adalah benar, dan sayalah yang
paling benar".

ISINYA:
Seolah kita menghadapi musuh yang sebenarnya.

MIMIK WAJAH:
Mata jangan plilikan dan harus kelihatan berwibawa. Gerakan jelas
mengikuti irama yang ada misalnya pada gamelan, pukulan dijatuhkan pada
gong dan sebagainya.
Dalam solo spel harus memiliki/ menguasai tiga macam permainan silat
yaitu: atas, tengah dan bawah.

RAHASIA PUKULAN :
Sebenarnya orang jatuh dipukul bukan karena kerasnya pukulan, tetapi
karena tidak tahu arah pukulan atau tiba-tiba. Seperti contoh :

32
MATERI KEROHANIAN PSHT

“ TINGKAT PUTIH “

33
A. KEPEMIMPINAN
Daiam rangka ikut serta membentuk manusia yang siap terjun menjadi pribadi
yang bermanfaat daiam kehidupan bermasyarakat, maka PSHT membekali para
calon warganya dengan ilmu kepemimpinan. Agar kelak dapat dimanfaatkan
sesuai dengan tugasnya mengemban misi Memayu Hayuning Buwono.
1. Pengertian Kepemimpinan
Kepemimpinan adalah kemampuan seseorang (pemimpin) untuk
mempengaruhi dan memotivasi orang lain dalam situasi tertentu agar
bersedia bekerjasama secara sukarela melakukan aktivitas sesuai dengan
tujuan yang telah ditetapkan. Pemimpin adalah orang yang memiliki
kecakapan atau kelebihan di suatu bidang sehingga dia mampu
mempengaruhi / memotivasi orang lain untuk bersama-sama melakukan
aktivitas tertentu guna mencapai satu atau beberapa tujuan.

2. Syarat Menjadi Pemimpin


Syarat adalah ketentuan-ketentuan pokok (standar) yang hams
dimiliki dan dikembangkan oleh) setiap pemimpin, yang meliputi:
a) Memiliki keimanan dan ketaqwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa.
b) Memiliki watak yang baik, mental, moral, budi pekerti yang luhur, tidak
lekas putus asa, tangguh dan selalu mengembangkan inisiatif untuk
mengatasi scgala masalah dengan sebaik-baiknya.
c) Mampu raelihat organisasi secara keseluruhan.
d) Memiliki intelejensia yang tinggi, yaitu mempunyai daya tangkap yang
cepat. Sehingga mampu dengan cepat dan tepat mcngcrti pokok
permasalahan yang dihadapi dan kemudian mampu mengambi)
keputusan dengan cepat dan tepat pula.
e) Memiliki kemampuan menyelesaikan tugas atau kewajiban, sehingga
akan timbul rasa tanggung jawab dan percaya diri pribadi.
f) Memiliki kemampuan berkomunikasi yang baik terhadap bawahan,
atasan maupun pihak luar. Kemampuan berkomunikasi menjadi sangat
penting mengingat banyaknya contoh gagalnya kepemimpinan
seseorang karena kurang pandai daiam menyampaikan suatu pesan.

34
Selain itu ada tiga pilar utama kepemimpinan daiam memimpin suatu
organisasi/ masyarakat/ perusahaan masa kini, yaitu:
a) LEGITIMASI
➢ Legalitas
➢ Penerimaan
➢ Etika

b) KEMAMPUAN TEKNIS MANAJERIAL


➢ Teknik Perencanaan
➢ Teknik Pengorganisasian
➢ Teknik Motivasi
➢ Teknik Mengambil Keputusan
➢ Teknik Memimpin Rapat
➢ Teknik Berkomunikasi
➢ Teknik Mengelola Konflik
➢ Teknik Marketing Organisasi

c) KARISMATIK/WIBAWA
➢ Ilmu dan Laku
➢ Keturunan
➢ Pencapaian Nilai
➢ Integritas
➢ Kredibilitas
➢ Penampilan

(Catatan: Mengenai Tiga Pilar Kepemimpinan akan diuraikan di akhir


pembahasan)

3. Sifat-sifat pemimpin sejati


Sifat kepemimpinan adalah sikap dan tingkah laku yang hams diketahui,
disadari, dihayati dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Sifat
pemimpin yang baik dan yang perlu dikembangkan adalah:
a) Kejujuran

35
b) Gemar memperluas pengetahuan
c) Keberanian/ kekuatan fisik dan mental
d) Berinisiatif, kreatif dan inovatif.
e) Adil dan bijaksana
f) Sederhana dan rendah hati
g) Antusias dan loyalitas
h) Tegas dan ulet/tahan uji
i) Ngandel, kendel, Ian bandel
j) Tetep, mantep Ian antep
k) Nerimah mawi pasrah

4. Nasihat Kepemimpinan Hastabrata


Dalam budaya / sastra (dunia pewayangan) kita terdapat nasihat yang selalu
diberikan kepada calon raja / pemimpin, yang dikenal dengan Hasta Brata
(delapan laku). Nasihat itu disarikan dari perkataan Prabu Rama Wijaya
dalam lakon Makutoromo, bahwa seorang raja/ pemimpin harus memiliki
sifat-sifat berikut :
a) Bantolo / Bantala (Tanah)
Tanah bersifat pemurah dan belas kasihan. Bumi selalu menunjukkan
kemurahannya, tumbuh-tumbuhan berbuah itu untuk manusia dan
makhluk lainnya. Walaupun dibajak, ditraktor, dicangkul dan digenangi
air, tanah diam saja dan sebaliknya tetap memberikan hasil bagi manusia
dan makhluk hidup lainnya. Jadi seorang raja/ pemimpin harus bersifat
pemurah dan tak pernah menyimpan dendam pada rakyat/
bawahannya.

b) Chondro / Chandra (Bulan)


Bulan bersifat terang, indah, tidak panas dan memancarkan cahayanya
untuk menerangi kegelapan malam.
Seorang raja/ pemimpin hams selalu menambah ilmu dan pengetahuan
schingga bisa memberikan petunjuk atau penerangan kepada rakyat
yang memerlukan. Dan harus mampu menimbulkan rasa aman dan
tenteram dalam berbagai situasi dan kondisi.

36
c) Kartiko / Kartika (Bintang)
Bintang dijadikan penunjuk arah bagi orang yang berlayar atau
mengembara di hutan / padang pasir, sehingga tidak tersesat.
Seorang raja / pemimpin harus bisa menjadi penuntun atau panutan
bagi rakyat bawahannya. Pemimpin juga harus mampu menunjukkan
arah untuk bertindak.

d) Tirto / Tirta (Air)


Air befsifat sejuk, mengalir rata ke seluruh permukaan, mengalir dari
tempat yang tinggi ke tempat yang rendah.
Seorang raja / pemimpin hams mampu bertindak adil dan merata, serta
bertindak / berkata yang menimbulkan kesejukan di hati rakyat /
bawahannya
Memiliki kebijaksanaan yang tinggi untuk menyelesaikan segala
permasalah bawahannya.

e) Suryo / Surya (Matahari)


Matahari memiliki energi yang bermanfaat untuk kehidupan alam
semesta. Demikian pula seorang raja/ pemimpin hams mampu menjaga
dan mengobarkan semangat rakyat/ bawahannya. Raja/ pemimpin hams
memberikan dorongan kekuatan dan bantuan.

f) Maruto / Maruta (Angin)


Angin bersifat mampu merambah ke segala ruang (mengembang).
Sebagai seorang raja/ pemimpin hams mampu merasakan semua tingkat
kehidupan rakyatnya, wajib meneliti celah-celah kehidupan rakyatnya
dan memperhatikan nasib rakyatnya.

g) Samudro / Samudra (Laut)


Laut sifatnya lebar dan mempunyai daya muat yang tidak terbatas.
Mampu mewadahi air dari beribu sungai.

37
Seorang raja / pemimpin hams memiliki sifat sabar dan lapang dada.
Dengan sifat tersebut pemimpin akan mampu menerima segala kondisi
rakyat / bawahannya
secara ikhlas. Karena tidak setiap sikap dan keadaan rakyat / bawahan
sesuai dengan harapan pemimpin.
Seorang raja / pemimpin juga harus bersedia menerima pendapat orang
lain, tahan terhadap kritik, dan menyadari bahwa dirinya adalah manusia
yang tak luput dari salah dan khilaf.

h) Dahono / Dahana (Api)


Api bersifat menghangatkan, membakar, memusnahkan.
Seorang raja / pemimpin harus mampu menegakkan kebenaran dan
keadilan. Siapa yang salah harus mendapatkan hukuman. Siapa yang
benar dan beijasa harus mendapat pujian dan penghargaan. Seorang
raja tidak boleh deskriminasi atau pilih kasih terhadap bawahannya.

B. MENGHAYATI MAKNA GERAKAN BUKAAN PSHT


1. Bersalaman
Maksudnya kita tetap bersaudara meskipun akan diadu. "Tego larane
nanging ora tego patine", di sini menunjukkan kebesaran pendekar SH
Terate yang tidak mengenal dendam dan semata-mata berniat untuk
menjalin persaudaraan yang kekal dan abadi. Tidak mudah tersinggung atau
mencari menangnya sendiri serta saling mengayomi.

2. Sikap awal berdiri tegak seperti huruf alif dengan jari-jari tangan
menghadap ke atas di depan uluh hati, ibu jari ke arah uluh hati.
Maksudnya adalah untuk mengheningkan cipta, sehingga tercapai kondisi
yang disebut dengan “manunggaling kawulo kelawan Gusti”. Bersatunya
akal dan hati kepada kehendak Tuhan Yang Maha Kuasa.
Kawulo (hamba) mengarahkan hati dan akalnya untuk selalu setia dan patuh
atas kehendak Tuhan Yang Maha Esa.

38
Berdiri tegak seperti huruf alif adalah manifestasi dari sifat Tuhan Yang Maha
TunggaL Maha Berdiri Sendiri, Maha Hidup dan Maha Perkasa. Kita
memohon kekuatan dan keselamatan dalam membela kebenaran-Nya.

3. Dua jari di atas: Kita ada karena sebab ibu dan bapak, untuk itu kita
memohon restu.
Dua jari, di dunia ini setiap kejadian selalu berpasangan yaitu panas-dingin,
hitam-putih, siang-malam, pria-wanita, menang-kalah, dan lain sebagainya.
Menang-kalah bukan masalah, yang terpenting adalah kita menegakkan
kebenaran Tuhan Yang Maha Esa.
Kita sebagai manusia memiliki kemampuan yang terbatas. Maka dalam
sambung / berkelahi kalau tidak menang ya kalah. Yang terpenting kita
bersaudara untuk menang.
Jadi walaupun kita ini orang Setia Hati, sebagai manusia biasa jangan
pernah beranggapan bahwa pendekar Setia Hati pasti menangan. Karena
kalau mempunyai anggapan yang dcmikian bcrarti orang Setia Hati itu
takabur. Hal seperti inilah yang tidak sesuai dengan tujuan Setia Hati,
yaitu menjadi orang yang “Narimo Ing Pandum”. Falsafah Setia Hati
menjelaskan: "Manusia dapat dihancurkan, manusia dapat
dimatikan, tetapi manusia tidak dapat dikalahkan selama manusia itu
masih setia kepada dirinya sendiri atau ber-SH pada dirinya sendiri".
Jadi sebenaraya yang tidak dapat dikalahkan adalah kebenarannya.
Karena yang disebut kebenaran di dalam ajaran Setia Hati adalah
kebenaran yang hakiki, kebenaran menurut ajaran Tuhan Yang Maha
Esa. Singkatnya dua jari di atas adalah: mengingatkan kita agar orang
Setia Hati tidak boleh takabur atau ndisiki kerso.

4. Duduk jongkok (pasang A bawah) dengan kedua jari tangan kanan


menempel tanah, kemudian diarahkan ke atas (udara) dan kemudian ke
pelipis:
Maksudnya memohon doa restu pada ibu pertiwi. Tujuannya memohon
kekuatan kepada yang Menciptakan bumi ini, karena kita berasal dari tanah.
Ini mengandung maksud kita tidak boleh sombong dan takabur, karena

39
musuh kita pun terbuat dari tanah. Maka kita tak layak untuk
menyombongkan diri.
Dua jari menunjuk ke atas: memohon restu kepada Bopo Angkoso. Kita
tahu, bahwa kita hidup karena adanya udara sebagai unsur penciptaan
manusia. Karena itu kita memohon restu kepada Pencipta udara ini.
Ditempelkan di pelipis: maksudnya kita yakin atas kemampuan sendiri, yakin
untuk membela kebenaran dan yakin atas pertolongan Tuhan Yang Maha Esa
karena kita selalu berusaha dan berdoa kepadanya.

5. Setelah itu tangan dikepalkan ke depan (dreg, suwing atau pukulan):


Sanggup menyelesaikan persoalan dan sanggup menjalankan kewajiban
untuk membela kebenaran. Mengepal berarti bertekad bulat untuk
menyelesaikan persoalan dengan pertimbangan yang masak, perlu atau
tidaknya mengambil tindakan.

6. Berputar dari kanan ke kiri dengan disertai sikutan: maksudnya adalah


sebagai orang SH yen wani miwiti kudu biso mungkasi Jika berani memulai
harus bisa mengakhiri / menyelesaikan. Artinya orang SH karyanya jangan
separo-separo. Ini tidak ada. Harus sampai selesai.

C. PEMANTAPAN ETIKA
1. Kebersamaan hidup dalam masyarakat
a) Berbicara dengan nada yang lemah lembut.
b) Berpakaian yang sopan dan sesuai dengan situasi/kondisi.
c) Senang membantu sesama dan bergotong-royong.
d) Memperhatikan waktu bertamu ataupun menghubungi orang lain
(telpon, sms, dll).
e) Jika merokok hams memperhatikan keadaan sekilar. Dikhawatirkan
mengganggu orang lain.
f) Dan lain sebagainya. Intinya adalah hiasi diri dengan sifat atau karakter
yang mulia.

40
2. Sikap sebagai seorang pemimpin atau bawahan
a) Sebagai seorang pemimpin hams banyak memberikan teladan, motivasi,
inovasi, dan bantuan yang dibutuhkan bawahannya.
b) Sebagai seorang pemimpin hams adil dan bijaksana, serta mampu
berbicara dengan bahasa yang baik dan menentramkan bawahannya.
c) Sebagai seorang pemimpin harus bersikap rendah hati dan tidak
mementingkan diri sendiri, serta rela menerima saran/ kritikan dari
bawahannya.
d) Sebagai seorang bawahan/ rakyat, harus percaya dan patuh terhadap
pemimpinnya.
e) Sebagai seorang bawahan/ rakyat harus ikut serta membangun negeri/
organisasi sesuai dengan intruksi yang diberikan pemimpin.

3. Sikap terhadap alam semesta


a) Tidak merusak alam dengan cara membakar atau menebang hutan
sembarangan. Untuk menghindari banjir, tanah longsor, dan rusaknya
lapisan ozon.
b) Mengadakan perbaikan alam, sebagai contoh menanam pohon,
mengolah limbah, dan Iain-lain.
c) Membuang dan mengelola sampah dengan tepat agar tidak mengotori
dan menjadi penyebab timbulnya bencana alam banjir.
d) Tidak melakukan perburuan hewan secara liar, karena pada dasarnya
setiap ciptaan pasti memiliki manfaat untuk umat manusia.
e) Tidak meracuni sungai/ laut, dikhawatirkan bukan hanya ikan besar saja
yang mati, melainkan juga ikan kecil serta hewan-hewan air lainnya bisa
terancam punah.
f) Intinya orang SH harus memayu hayuning buwono, Jangan malah
sebaliknya, yaitu merusak alam semesta.

D. SEMBOYAN SETIA HATI TERATE


"Selama matahari masih bersinar,
Selama bumi masih dihuni manusia,
Selama itupula PSHT akan jaya abadi selama-lamanya"

41
E. FALSAFAH SETIA HATI TERATE
"Manusia dapat dihancurkan, manusia dapat dimatikan,
tetapi manusia tidak dapat dikalahkan selama manusia itu masih setia
kepada dirinya sendiri atau ber-SH pada dirinya sendiri".

F. MUKADIMAH SETIA HATI TERATE


Sesungguhnya hakikat hidup itu berkembang sesuai kodrat iramanya masing-
masing menuju kesempurnaan. Demikian pula kehidupan manusia scbagai
makhluk Tuhan yang paling utama, hendak menuju ke keabadian kembali pada
'Causa Prima' (titik tolak segala yang ada) melalui tingkat ke tingkat. Namun tidak
setiap insan menyadan bahwa segala yang dikejar-kejamya itu telah tersimpan
menyelinap dalam lubuk hati masing-masing.

(Organisasi) Setia Hati sadar dan meyakini hakikat hidup itu serta akan mengajak
para warganya untuk menyingkap tirai/tabir hati nurani yang terselubung,
dimana letak Sang Mutiara Hidup bertahta.

Pencak silat merupakan salah satu ajaran (organisasi) Setia Hati dalam tingkat
pertama yang berintikan seni olah raga yang mengandung unsur pembelaan diri
untuk mempertahankan kehormatan, keselamatan dan kebahagiaan dari setiap
penyerang.

Dalam pada itu Setia Hati sadar dan yakin bahwa sebab utama dari segala
rintangan dan malapetaka serta lawan kebenerran hidup yang sesungguhnya
bukalah insan, makhluk atau kekuatan yang berasal dari luar dirinya. Oleh sebab
itu pencak silat hanyalah suatu syarat untuk mempertebal kepercayaan diri
sendiri dan mengenal diri pribadi.

Maka Setia Hati pada hakikatnya (tanpa mengingkari segala martabat


keduniawian) tidak kandas atau berhenti pada pelajaran pencak silat sebagai
pendidikan ragawi saja, melainkan lebih lanjut untuk menyelam ke dalam
lembaga ruhani guna memetik sejauh-jauhnya kepuasan hidup dalam keabadian,
yang terlepas dari pengaruh rangka dan suasana.

42
Sekadar syarat bentuk dzahir, dibentuklah organisasi "PERSAUDARAAN SETIA
HATI TERATE" sebagai ikatan antara saudara SETIA HATI (SH) dan lembaga yang
berawal sebagai pembawa dan pemancar cita.

G. KEWAJIBAN WARGA PSHT, saudara harus ingat kewajiban setiap warga PSHT.
1. Nglakoni, maksudnya adalah menjalankan / mengamalkan ilmu-ilmu yang
telah diperoleh selama mengjkuti pendidikan. Seorang warga yang telah
disahkan hams terus berjalan untuk mencari, mengamalkan dan
menyebarkan mutiara ilmu Setia Hati.
Sehingga niat untuk Memayu Hayuning Buwono benar-benar bisa
diwujudkan meskipun dimulai dalam skala yang masih sederhana.

2. Ngomongi, maksudnya adalah warga PSHT berkewajiban menasihati sesama


manusia di manapun berada. Jika melihat kemungkaran harus berani
mengatakan atau menunjukkan bahwa perbuatan itu memang salah.
Tentunya tetap dengan mcmegang prinsip empan papan, yaitu pandai
menempatkan diri sesuai situasi dan kondisi.
Memang ada pepatah, "Diam itu lebih baik". Tapi perlu diingat itu adalah
nasihat untuk orang yang sering berbicara buruk ataupun berlebihan.
Selama kita berbicara dalam konteks dan situasi yang benar, maka
menasihati menjadi wajib hukumnya.
Dalam hal melatih siswa, seorang warga wajib memberikan nasihat yang baik
demi mematangkan kepribadian siswa.

3. Nyontoni, maksudnya adalah seorang warga PSHT berkewajiban untuk


memberi contoh / teladan kepada sesama manusia. Warga SH telah
digembleng agar memiliki kepribadian atau budi pekerti yang luhur. Jadi
sudah seharusnya dia selalu bisa menjadi contoh / teladan bagi lingkungan
di manapun ia berada. Pepatah mengatakan, "Contoh dengan perbuatan,
jauh lebih berkesan dari pada nasihat dengan lisan." Orang SH harus bisa
menjadi sinar bagi sekelilingnya.

43
4. Meneng, maksudnya adalah seorang warga PSHT berkewajiban untuk diam.
Diam yang dimaksud adalah tidak banyak berbicara atau bertindak untuk
sesuatu yang tidak perlu / tidak ada gunanya.

H. HAL YANG PERLU/ DIPERHATIKAN AGAR BERHASIL MENCAPAI TUJUAN


1. Titen, telaten lan open
Titen : Pandai memperhatikan dan mengamati
Telaten : Tekun, rajin, ulet, dan pantang menyerah
Open : pandai memelihara atau merawat

2. Resik atine, bener lakune, Ian manteb tekade


Resik atine : Bersih hatinya, tidak berprasangka buruk atau berniat buruk
Bener lakune : sesuai prosedur, tidak salah langkah
Manteb tekade : Bertekad bulat untuk menggapai tujuan, tak mudah
goyah

3. Wani miwiti, kudu biso mungkasi


Maksudnya adalah jika berani memulai, harus bisa mengakhiri. Untuk
mencapai tujuan yang dimaksud, kita harus siap berjuang sampai puncak
kesuksesan.
JANGAN SETENGAH-SETENGAH !
Contoh motivasi: Aku sanggup mengikuti pendidikan sampai berhasil
menjadi Warga PSHT. Berarti aku juga pasti bisa menyeiesaikan/ mencapai
tujuanku yang Iain!
Dan itu harus dik!

I. LEBIH LANJUT MENGENAI ILMU SH


Pada hakikatnya ilmu Setia Hati adalah ilmu untuk mempelajari dan mengenal
diri sendiri. Ilmu merupakan hakikat segala sesuatu yang tersusun secara rapi
dan dapat dibuktikan kebenaranaya Setia berarti berani berkorban demi yang
dicintai apapun resiko akibat dari kesetiannya. Sedang hati yang dimaksudkan
disini bukanlah segumpal daging yang berbentuk sanaubar (menyerupai daun
waru) pada dada sebelah kiri manusia. Tetapi perangkat hidup manusia yang

44
melihat, mendengar serta dapat menerima petunjuk, untuk dapat membedakan
antara kebenaran dan kebathilan, itulah hakikat hati manusia.
Jadi Setia Hati merupakan sarana untuk mendekatkan diri kepada Tuhan, dengan
merendahkan diri, merasa cukup dengan yang ada, dapat menahan hawa nafsu
dan yakin bahwa dengan mematuhi segala kehendak Tuhan akan memperoleh
kebahagiaan hakiki di dunia dan di akhirat.

Orang Setia Hati adalah orang telah memiliki dan menguasai ilmi Setia Hati untuk
diamalkan dengan berlandaskan taqwa kepada Tuhan agar ilmu yang dimiliki itu
dapat bcrmanfaat bagi agama, nusa dan bangsa. Namun jika tidak demikian,
mengamalkan ilmu dengan tujuan untuk mendapatkan pujian orang lain (golek
wah), ini adalah hal yang sia-sia. Dan ilmu yang tidak bermanfaat/ berguna akan
mencelakakan pemiliknya sendiri. Hal ini sesuai dengan ajaran Tuhan yaitu
manusia yang akan mendapat siksa berat pada hari kemudian (akhirat) adalah
manusia yang berilmu namun tidak bermanfaat dengan ilmunya.

Oleh karena itu ilmu Setia Had bertitik tolak untuk selalu mempelajari dan
mengenal diri sendiri akan segala kelemahannya dan mengakui akan hal itu
dengan berdasarkan ajaran
Tuhan yang maksudnya:
"Barang siapa yang mengenal dirinya sendiri, maka akan mengetahui kebesaran
Tuhannya."
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pengenalan diri sendiri merupakan
kunci dari terbukanya hijab/tirai yang menyelubungi hati untuk dapat
mengetahui rahasia kebesaran Tuhan.

J. SYARAT PENGESAHAN WARGA TINGKAT I


1. Ubo rampe / perlengkapan: Mori, uang mahar, daun sirih, ayam jago, lilin,
pisang raja dan baju sakral.
2. Usia :
a) Putra minimal berusia 17 tahun.
b) Putri minimal berusia 16 tahun.

45
3. Materi :
a) Senam dasar : lengkap 90 gerakan
b) Jurus dasar : lengkap 35 gerakan
c) Pasangan : 35 gerakan
d) Senam Toya : 25 gerakan
e) Jurus Toya : 15 gerakan
f) Belati : 17 gerakan
g) Krippen : Salaman : 5 gerakan
Dekapan depan : 3 gerakan
Dekapan belakang : 6 gerakan
Pitingan : 5 gerakan
Cekikan depan : 5 gerakan
Cekikan belakang : 1 gerakan
Jambakan : 1 gerakan
h) Dan telah mendapatkan materi ke-SH-an secukupnya.

46

Anda mungkin juga menyukai