Anda di halaman 1dari 6

BERITA ACARA PRESENTASI KELOMPOK 1

PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR

FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN – UNIVERSITAS NEGERI MEDAN

Kelompok : 9

Nama Mahasiswa : 1. Kharisma Ramadhani Alya (1193111051)

2. Putri Julianti Naibaho (1193111042)

3. Esra Pelita Situmorang (1193111045)

4. Novita Yolanda Panjaitan (1193111039)

Materi : Pembelajaran PPKN SD Berbasis Literasi, HOTS, 4C dan PPK"

Kelas : E Reguler 2019

Tanggal : Senin, 06 September 2021

Mata Kuliah : Pembelajaran PKn SD

Dosen Pengampu : Apiek Gandamana, S.Pd., M.Pd.

PERTANYAAN DAN JAWABAN

1. Michael (kelompok 5)
Saya ingin bertanya kepada penyaji bagaimana peranan HOTS dalam perubahan sikap anak?
Yang dimana kita ketahui dari ketiga keseimbangan yaitu sikap pengetahuan dan keterampilan
anak SD masih di utamakan atau di fokuskan pada sikapnya.
Jawab :

HOTS atau Higher Order Thinking Skills diartikan sebagai kemampuan seseorang untuk berpikir
tingkat tinggi. Tingkatan kemampuan berpikir HOTS digambarkan dalam bentuk piramida. Dari
tingkatan paling rendah yaitu remembering (mengingat), understanding (memahami), applying
(menerapkan), analyzing (menganalisis), evaluating (mengevaluasi), hingga creating
(menciptakan).

Lalu bagaimana peranan hots dalam perubahan sikap anak ?


Nah seperti yang kita tahu bahwa pembelajaran sekarang itu sudah menggunakan kurikulum
2013 dimana Kurikulum 2013 ini adalah kurikulum yang menuntut kompetensi yang bersifat
multidimensi. Tuntutan kompetensi yang harus dicapai oleh peserta didik tidak hanya terbatas
pada ranah kognitif saja. Kurikulum 2013 juga menuntut pembentukan karakter peserta didik.

Dan di dalam kurikulum 2013 di SD itu sendiri ada yang namanya tema terpadu (tematik) dan
didalam tematik itu sendiri memuat karakteristik hots sesuai dengan karakter yang menjadi
tuntutan dinas pendidikan pada kurikulum 2013.

Sebagai contoh peranan hots dalam perubahan sikap anak ini adalah pada Kompetensi inti sikap
sosial siswa SD adalah berkerjasama, bertanggung jawab, responsif, dan aktif

Nah pada pembelajaran tematik memuat pembelajaran dimana siswa dituntut untuk dapat
bekerjasama dengan baik bersama temannya dan juga mampu mengeluarkan pendapat

Itu berarti hots ini punya peranan untuk sikap dan keterampilan si anak .

2. windi Afriani Pohan (kelompok 1)


ingin bertanya tadikan penyaji sudah menjelaskan Penerapan Literasi Budaya Dan
Kewarganegaraan Dalam Pembelajaran di SD jadi pertanyaannya coba penyaji jelaskan Apa
peranan literasi budaya dan kewargaan didalam kehidupan bermasyarakat dan keluarga dan
bagaimana penerapannya?
Terimakasih
Jawab:
Literasi budaya dan kewargaan merupakan kemampuan yang harus dimiliki individu dan
masyarakat untuk dapat bersikap di lingkungan sosial, sebagian bagian dari suatu budaya bangsa
Indonesia. Kemampuan literasi budaya dan kewargaan harus dimiliki masyarakat
terutama generasi millennial agar tetap mencintai serta dan bisa melestarikan kebudayaan lokal
yang ada sebagai bagian dari identitas bangsa Indonesia. Peranan literasi budaya dan
kewargaan pada masyarakat dapat digunakan untuk mengatasi disinformasi yang terjadi di
dalam kehidupan berbangsa ini terutama pada generasi millennial agar bisa
mengolah informasi dengan lebih baik serta bisa tetap mencintai dan melestarikan budaya lokal
(lokal konten) yang dimiliki Indonesia. Dimana hal tersebut dapat dilakukan melalui pertama,
penyedian bahan bacaan tentang budaya, kewargaan dan disinformasi di
desa baik dalam bentuk perpustakaan maupun Taman Bacaan Masyarakat (TBM) agar
masyarakat terutama generasi millennial tertarik membaca dan menerapkannya. Kedua,
pengadaan pelatihan mengenai literasi budaya dan kewargaan serta bahaya disinformasi bagi
generasi millennial untuk masyarakat, agar orang tua bisa mengimplementasikan literasi budaya
dan kewargaan kepada anak agar terhindar dan bisa mengatasi
bahaya dari disinformasi. Ketiga, pengadaan kegiatan studi budaya dari pemerintah daerah
untuk masyarakat, yaitu seperti pengenalan budaya lokal, berkunjung ke tempat yang
mengandung nilai budaya, dan sebagainya. Keempat, pengadaan kegiatan nasionalisme dan
cinta terhadap keberagaman yang dimiliki Indonesia dari pemerintah daerah untuk
masyarakat, contohnya seperti pengadaan peringatan hari-hari nasional, bela Negara dan
sebagainya agar masyarakat terutama generasi millennial tidak menjadi individualis, tetap
mengutamakan kerja sama dan musyawarah bersama, dan bisa menjaga identitas bangsa
Indonesia. Kelima, pengadaan kegiatan anti disinformasi dari pemerintah daerah kepada
masyarakat, contohnya seminar anti disinformasi, bahaya disinformasi, dan cara mengatasi
disinformasi untuk generasi millennial.

Sama hal nya dengan peranan literasi budaya dan kewargaan dalam kehidupan
bermasyarakat, peranan literasi budaya dan kewargaan pada keluarga juga untuk mengatasi
disinformasi pada generasi millennial yang dapat dilakukan melalui, pertama, penyedian bahan
bacaan tentang budaya, kewargaan dan disinformasi dalam keluarga (di rumah), agar anak
tertarik untuk membaca dan menerapkannya. Kedua, kegiatan wajib membaca bersama
minimal 15 menit dalam keluarga setiap hari, agar anak terbiasa membaca.
Ketiga, penerapan literasi budaya dan kewargaan serta anti disinformasi kepada anak agar dapat
mengetahui dari sejak dini. Keempat, keluarga dapat berkunjung ke tempat yang mengandung
nilai budaya seperti Candi Borobudur, Istana Maimunah, dan tempat lainnya
yang memiliki nilai budaya. Kelima, memberikan pengajaran kepada anak tentang keberagaman
di Indonesia, baik keberagaman suku bangsa, bahasa, kebiasaan, adat istiadat, kepercayaan, dan
kebudayaan. Keenam, orang tua harus bisa menyediakan waktu luang untuk bisa berkumpul
bersama anak, untuk mengetahui perkembangan anak dan apa yang dibutuhkan seorang anak di
abad 21 ini. Ketujuh, mengajarkan bahaya disinformasi pada anak agar anak bisa mengetahui
bahaya dari disinformasi dan anti disinformasi.

3. Yemima Anastasya Br Ginting (kelompok 3)


Saya ingin bertanya kepada kelompok penyaji Apakah ada hambatan dalam penerapan
pembelajaran PKN berbasis PPK? Jika ada sebutkan dan bagaimana cara mengatasi hambatan
tersebut.
Terimakasih
Jawab:
Kendala-Kendala Implementasi Pendidikan Karakter di Sekolah
Pendidikan karakter merupakan program baru yang diprioritaskan Kementrian Pendidikan dan
Kebudayaan. Sebagai program baru masih menghadapi banyak kendala. Kendala-kendala
tersebut adalah:
(1) nilai-nilai karakter yang dikembangkan di sekolah belum terjabarkan dalam indikator yang
representatif. Indikator yang tidak representatif dan baik tersebut menyebabkan kesulitan
dalam mengungukur ketercapaiannya.
(2) sekolah belum dapat memilih nilai-nilai karakter yang sesuai dengan visinya. Jumlah nilai-
nilai karakter demikian banyak, baik yang diberikan oleh Kementrian Pendidikan dan
Kebudayaan, maupun dari sumber-sumber lain. Umumnya sekolah menghadapi kesulitan
memilih nilai karakter mana yang ssuai dengan visi sekolahnya. Hal itu berdampak pada gerakan
membangun karakter di sekolah menjadi kurang terarah dan fokus, sehingga tidak jelas pula
monitoring dn penilaiannya.

(3) pemahaman guru tentang konsep pendidikan karakter yang masih belum menyeluruh.
Jumlah guru di Indonesia yang lebih 2 juta merupakan sasaran program yang sangat besar.
Program pendidikan karakter belum dapat disosialisaikan pada semua guru dengan baik
sehingga mereka belum memahaminya.

(4) guru belum dapat memilih nilai-nilai karakter yang sesuai dengan mata pelajaran yang
diampunya. Selain nilai-nilai karakter umum, dalam mata pelajaran juga terdapat nilai-nilai
karakter yang perlu dikembangkan guru pegampu. Nilai-nilai karakter mata pelajaran tersebut
belum dapat digali dengan baik untuk dikembangkan dalam proses pembelajaran.

(5) Guru belum memiliki kompetensi yang memadai untuk mengintegrasikan nilai-niai
karakter pada mata pelajaran yang diampunya. Program sudah dijalankan, sementara pelatihan
masih sangat terbatas diikuti guru menyebabkan keterbatasan mereka dalam mengintegrasikan
nilai karakter pada mata pelajaran yang diampunya.

(6) guru belum dapat menjadi teladan atas nilai-nilai karakter yang dipilihnya. Permasalahan
yang paling berat adalah peran guru untuk menjadi teladan dalam mewujudkan nilai-nilai
karakter secara khusus sesuai dengan nilai karakter mata pelajaran dan nilai-nilai karakter
umum di sekolah.

4. Neni Apdian
Adanya pandemi covid 19 ini membuat para siswa hingga saat ini masih harus melakukan
pembelajaran jarak jauh (pembelajaran online). Namun di sisi lain, banyak pula keluhan yang
disampaikan siswa dalam belajar jarak jauh ini maupun masyarakat sekitar dalam bekerja.

Jadi, permasalahan itu muncul bisa saja dikarenakan masih minimnya literasi digital baik itu pada
siswa sekolah maupun pada masyarakat.

Lantas, bagaimana cara meningkatkan literasi digital yang dikolaborasikan dalam pembelajaran
pkn di sd ini? Kasih contohnya ya. Udah gitu literasi digital yang baik bagi siswa sekolah dasar
itu yang bagaimana seharusnya? Terimakasih

Jawab :
nah sebelumnya kita harus tahu dulu mengapa minimnya literasi digital di kalangan mahasiswa
ataupun masyarakat ini biasanya disebabkan beberapa faktor yang saya ketahui itu 1 faktor
teknologi di era globalisasi sekarang masih ada di Indonesia sia daerah-daerah terpencil masih
banyak yang tidak menggunakan fasilitas teknologi seperti handphone dan lain sebagainya
sementara pada masa pandemi ini anak sekolah sangat membutuhkan fasilitas tersebut . secara
kalau kita lihat masa pandemi ini proses belajar mengajar dilakukan secara daring menggunakan
handphone . adapun masyarakat yang sudah menggunakan teknologi ni namuN masih banyak
kurang dalam mengakses perkembangan teknologi sekarang ini sehingga
Dalam mengoperasionalkan, pengguna banyak yang gagap teknologi. Tidak sedikit guru-guru tua
maupun orang tua yang mengalami technology anxiety atau tidak percaya diri menghadapi
teknologi. Makanya, ketika mereka memberikan pelajaran daring ke siswa, mereka lebih senang
memberi tugas daripada memberi pembelajaran daring ketimbang guru muda yang lebih fasih
teknologi.
tidak hanya orang tua di kalangan anak-ana sekarang banyak menyalahgunakan teknologi
tersebut apalagi di masa pandemi ini banyak menggunakannya
untuk sekadar pleasure, leisure, bermain gim, hingga mem-bully dan chatting dll.

2. sementara yang kedua itu terkendala dalam akses jaringan tidak hanya tidak hanya fasilitas
teknologi jaringan juga sangat dibutuhkan dalam proses belajar mengajar atau mengakses
informasi di Indonesia terutama di daerah terpencil akses internet ini sangat sulit dijangkau
sehingga masyarakat di sekitaran itu itu aku tak acuh dengan informasi-informasi yang sedang
berkembang saat ini. mereka hanya bisa mengandalkan informasi dari berita koran saja sehingga
memungkinkan literasi mereka atau informasi mereka dapat itu masih minim tidak meluas .

kemudian faktor ketiga yaitu kurangnya keterampilan berpikir kritis terhadap anak-anak maupun
kalangan masyarakat . bisa kita lihat sekarang ini banyak orang-orang tertipu dengan berita-berita
hoax dikarenakan mereka kurang akses dalam mencari informasi. apalagi sekarang ini banyak
oknum oknum yang tidak bertanggungjawab menyebarkan berita-berita hoax seperti menshare
video foto-foto yang tidak sesuai dengan fakta sebenarnya sehingga masyarakat disii mudah
terpengaruh terhadap berita hoax tersebut .

Jadi bagaimana meningkatkan literasi digital


peranan guru atau orang tua sangat penting dalam meningkatkan literasi digital pada anak-anak
peranan guru dalam meningkatkan literasi digital kepada anak-anak yaitu guru harus mampu.
mengoperasionalkan secara teknis perangkat digital, menguasai seperangkat alat digital, ataupun
mahir dalam perangkat lunaknya. dengan tujuan meningkatkan keterampilan kognitif, emosional,
dan sosial karena perangkat digital tidak hanya berisi aplikasi, tetapi pengguna juga berhadapan
dengan informasi
contohnya dalam pembelajaran PKN
memanfaatkan ponsel pintar untuk pendidikan akademik. Ternyata ketika mereka membuat
tugas-tugas dari guru untuk dikerjakan di rumah, mereka membuka Google, lalu soal itu diketik
pada mesin pencari.Ketika hasil pencarian keluar, dia tidak bisa memilih. Mereka hanya
mengutip dari 10 situs pertama yang muncul di pencariannya, paling tidak tiga teratas. Itu artinya
mereka tidak ada kemampuan meliterasi informasi. Padahal, untuk mengetik kata kunci itu juga
harus punya pemahaman terhadap konten yang dicari

Literasi digital bisa diterapkan di mana saja,


yakni di lingkungan keluarga, lingkungan sekolah ataupun lingkungan masyarakat. Berikut
beberapa
contoh penerapan literasi digital:
1.Literasi digital di sekolah
Komunikasi dengan guru atau teman menggunakan media sosial. Mengirim tugas sekolah lewat
e-mail. Pembelajaran dengan cara online, yakni lewat aplikasi ataupun web. Mencari bahan ajar
dari sumber tepercaya di internet.

2. Literasi digital di rumah Melakukan penelusuran dengan menggunakan browser.


Mendengarkan musik dari layanan streaming resmi. Melihat tutorial memasak dari internet.
Menggunakan laptop yang tersambung ke internet untuk mengerjakan tugas atau pekerjaan.
Literasi digital di lingkungan masyarakat Menggunakan media internet untuk menggalang dana
atau donasi. Penggunaan media sosial untuk sarana promosi penjualan. Memakai aplikasi meeting
untuk rapat RT. Menggunakan grup di media sosial untuk menyebarkan informasi yang tepat dan
kredibel.