Anda di halaman 1dari 4

BUKU JAWABAN TUGAS MATA KULIAH

TUGAS 3

Nama Mahasiswa : Muhammad Afam Bassaruddin

Nomor Induk Mahasiswa/ NIM : 042702157

Kode/Nama Mata Kuliah : EKMA4478 / Analisis Kasus Bisnis

Kode/Nama UPBJJ : 74 / Malang

Masa Ujian : 2021/22.1 (2021.2)

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN


UNIVERSITAS TERBUKA
1 TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Saat ini, Warunk Upnormal sudah memiliki 23 cabang
yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia.
Cabang tersebut mencakup Bandung (Cihampelas, Riau, Dipati Ukur, Burangrang, Buah
Batu, Kopo, Antapani, Ujung Berung, Braga), Cimahi, Tasikmalaya, Serang, Jakarta
(Cempaka Putih, Tebet), Tangerang (Gading Serpong, Jalan Kisamaun), Makassar,
Palembang, Purwokerto dan Yogyakarta. "Untuk model bisnisnya sendiri kami
menyediakan slot kemitraan, yaitu bagi para peminat di luar sana yang ingin bergabung
dan membuka Warunk Upnormal maka bisa menjadi Mitra dari PT Citarasa Prima yang
merupakan grup utama dari Warunk Upnormal, di mana juga terdapat beberapa brand
lain yaitu Bakso Boedjangan, Nasi Goreng MAFIA dan Sambal Karmila. Tim Kemitraan PT
Citarasa Prima akan terus membimbing, memantau dan membantu para mitra mulai dari
persiapan hingga nanti berjalannya outlet mitra yang bersangkutan," kata Public Relation
CRP Group, Cindy Alvionita.
Untuk strategi pemasaran, Warunk Upnormal mengaktifkan media promosi baik baik
online maupun offline.

Untuk online media, Warunk Upnormal selalu berusaha agar terus keep in touch
dengan para konsumen melalui berbagai media sosial di antaranya Instagram, Facebook,
Twitter, hingga Youtube. Sedangkan untuk offline, mereka terbuka dengan berbagai
kerjasama maupun event baik dengan brands kekinian lainnya.
Dengan konsep yang dimiliki, Warunk Upnormal ingin membidik orang yang berjiwa muda
sebagai segmen utamanya.

Persaingan di bisnis kuliner pun direspon dengan mengandalkan keberagaman menu yang
bersumber dari kecintaan pada ragam rasa Indonesia dan atmosfer kebersamaan dalam
setting tempatnya.
Yogyakarta sendiri yang identik dengan kota pelajar tentunya sudah menjadi incaran CRP
Grup sejak lama.
"Warunk Upnormal selalu mengupayakan kualitas produk, kenyamanan tempat dan best
service dikarenakan menurut kami, customer pada dasarnya akan memilih untuk kembali
dan kembali lagi ke suatu restoran/kafe berdasarkan banyak faktor, dan sebagian besarnya
adalah hal yang telah disebutkan tersebut di atas" jelasnya.
Ke depan, Warunk Upnormal akan segera buka di berbagai daerah, yakni Grogol, Cinere,
Depok, Kelapa Gading, Semarang dan Batam.
"Tentunya kami berharap nantinya Warunk Upnormal bisa berdiri dan available di seluruh
area di Indonesia, dikarenakan produk kami sangat menjunjung tinggi cita rasa dan rempah
khas Indonesia dan tentunya bisa menjadi tempat nongkrong dan gaul kekinian orang
Indonesia," tutupnya. (*)

Penulis: GayaLufityanti Editor:


oda
Sumber: https://jogja.tribunnews.com/2016/08/28/warunk-upnormal-miliki-23-cabang-
di-seluruh- indonesia. diakses tgl 17/09/2020
Dari informasi di atas, pertanyaannya adalah:
Warunk Upnormal dapat dikatakan membidik segmen apa? Usia berapa? cabang warunk
Upnormal dimana saja? Konsumen untuk jenis kelamin apa? dan berpenghasilan berapa?
Jawaban :
Segmentasi pasar didefinisikan sebagai kegiatan memilah-milah pasar yang heterogen ke dalam
kelompok-kelompok pasar yang homogen (Kotler, 2003). Segmentasi pasar membantu
perusahaan untuk memilah-milah segmen pasar yang luas, kemudian membidik satu atau
beberapa segmen saja, dan selanjutnya mengembangkan produk serta program pemasaran yang
dirancang khusus untuk masing-masing segmen yang dipilih. Dengan adanya segmentasi ini,
penetapan pasar sasaran (target market) akan lebih terarah sehingga perusahaan dapat fokus
bersaing dalam segmen pasar yang dapat dilayani secara efektif dan tentunya paling
menguntungkan.
Segmentasi geografis mengelompokkan pasar ke dalam unit-unit geografis yang berbeda
seperti desa, kota, wilayah, provinsi, negara, dan iklim. Para penganut segmentasi geografis
percaya bahwa setiap wilayah memiliki karakter berbeda dengan wilayah lainnya. Dalam
segmentasi berdasarkan variabel geografis ini, pemasar dapat memutuskan untuk beroperasi
dalam satu atau beberapa wilayah geografis atau beroperasi dalam seluruh wilayah geografis
namun memberikan perbedaan sesuai kekhasan, kebutuhan dan preferensi sesuai dengan
kondisi geografis tersebut.
Segmentasi demografis dilakukan dengan memilah-milah pasar menjadi beberapa segmen
berdasarkan variabel-variabel demografis seperti usia, jenis kelamin, penghasilan, agama, dan
pendidikan. Para penganut segmentasi ini percaya bahwa variabel-variabel demografis, seperti
usia, penghasilan, pendidikan, kelas sosial, generasi (cohort) terkait erat dengan keinginan atau
preferensi masyarakat terhadap suatu produk.
Segmentasi Generasi (Cohort) mengelompokkan pasar ke dalam generasi tertentu. Hal ini tentu
ada dasar dan tujuannya yakni untuk meramalkan perilaku dan pandangan hidup yang dianut
masingmasing generasi tersebut. Mengapa demikian, karena masing-masing cohort tersebut
mempunyai karakteristik yang berbeda-beda, dan hal ini berimplikasi pada perilaku pembelian.
Segmentasi Psikografi, kelompok konsumen yang mempunyai karakteristik geografi dan
demografi yang sama, ternyata mempunyai keinginan atau gaya hidup yang berbeda-beda. Gaya
hidup (life style) merupakan cerminan bagaimana seseorang menghabiskan waktu dan uangnya
yang dinyatakan dalam aktivitas, minat, dan opini mereka. Sebagai gambaran, Susianto (1993).
Peneliti dari Fakultas Psikologi Universitas Indonesia telah mengidentifikasi gaya hidup anak
muda di Indonesia ke dalam beberapa segmen yaitu hura-hura, hedonis, anak rumahan, sportif,
tipe kebanyakan, dan tipe untuk orang lain.
Segmentasi perilaku, konsumen dibagi dalam beberapa kelompok berdasarkan pengetahuan,
sikap, pemakaian atau respons mereka terhadap suatu produk. Dalam hal ini pemasar meyakini
bahwa variabel-variabel perilaku seperti manfaat, kejadian, status pemakai, tingkat pemakaian,
tingkat kesetiaan merupakan variabel yang baik dalam membentuk segmen pasar
Menurut pendapat saya :
- Segmen utama yang dibidik merupakan orang orang berjiwa muda
- Usia tidak dikatakan spesifik dengan usia, namun target utamanya adalah orang yang masih
termasuk dalam golongan orang berjiwa muda sehingga alat promosinya menggunakan media
sosial Instagram, Facebook, Twitter, dan Youtube yang familiar digunakan oleh orang berusia
17 s.d. 35 tahun
- Cabang Warung Upnormal ada di daerah Bandung (Cihampelas, Riau, Dipati Ukur,
Burangrang, Buah Batu, Kopo, Antapani, Ujung Berung, Braga), Cimahi, Tasikmalaya, Serang,
Jakarta (Cempaka Putih, Tebet), Tangerang (Gading Serpong, Jalan Kisamaun), Makassar,
Palembang, Purwokerto dan Yogyakarta.
- Konsumen untuk jenis kelamin tidak ditargetkan secara spesifik
- Penghasilan konsumen yang dibidik: berdasarkan penempatan lokasi dan pasar yang dipilih
seperti Yogyakarta yang termasuk kota nya mahasiswa atau kota pelajar dimana banyak
kalangan pemuda yang mendominasi maka penghasilan konsumen yang dibidik adalah para
pelajar/mahasiswa/orang-orang yang belum mempunyai penghasilan sendiri.

Referensi:
- BMP Analisis Kasus Bisnis halaman 7.3 s.d. 7.17

Anda mungkin juga menyukai