Anda di halaman 1dari 14

LAPORAN PENDAHULUAN PADA TN.

T
DENGAN GANGGUAN POST OPERASI HERNIA INGUINALIS
DI RUANG BOUGENFILE
RSUD RAA SOWONDO PATI

Disusun Oleh :
Nama : Daimatun Ni’mah
Nim : 920173107
Prodi : Profesi Ners

PROGRAM STUDI PROFESI NERS


UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH KUDUS
TAHUN AJARAN 2021
Jl. Ganesha 1 Purwosari Kudus Telp. 0291-4372
LAPORAN PENDAHULUAN
HERNIA INGUINALIS

A. PENGERTIAN
Menurut Muttaqin (2011), hernia adalah penonjolan sebuah organ, jaringan
atau struktur melewati dinding rongga yang secara normal memang berisi bagian-bagian
tersebut. Sumber lain mengatakan bahwa hernia merupakan sebuah tonjolan atau
benjolan yang terjadi disalah satu bagian tubuhyang seharusnya tidak ada.
Hernia merupakan penonjolan isi suatu rongga bagian terlemah dari bagian
muskuloaponeurotik dinding perut, hernia terdiri atas cincin, kantong dan isi hernia.
Semua kasus hernia terjadi melalui celah lemah atau kelemahan yang potensial pada
dinding abdomen karena peningkatan tekanan intraabdomen yang berulang atau
berkelanjutan (Townsend, 2010). Menurut kemenkes 2012, kasus hernia inguinalis
dapat dijumpai pada segala usia serta lebih banyak terjadi pada laki -laki dibanding
pada perempuan.
Hernia inguinalis adalah prolaps sebagian usus ke dalam anulus inguinalis di atas
kantong skrotum, yang disebabkan oleh kelemahan atau kegagalan menutup kongenital.
Menurut sifatnya, hernia dapat berupa hernia reponible atau irreponible. Hernia repobible
merupakan hernia yang hilang timbul karena isi hernia yang dapat kembali ke dalam
rongga abdomen, sedangkan hernia irreponible merupakan hernia dengan isi hernia yang
tidak dapat susut kembali ke dalam rongga abdomen (Suryanah, 2016). Sehingga hernia
inguinalis lateral reponible adalah hernia yang berada di atas kantung skrotum dengan isi
hernia dapat kembali ke dalam rongga abdomen. Klasifikasi hernia bibagi menjadi 2 yaitu:
1. Berdasarkan terjadinya, hernia terbagi atas:
a. Hernia bawaan atau kongenital.
mengemukakan bahwa pada hernia kongenital, sebelumnya telah terbentuk
kantong yang terjadi sebagai akibat dari perintah atau gangguan proses
perkembangan intra uteri. Kantong yang terbentuk akibat lemahnya celah
abdominal (congenital defect) yang merupakan bawaan sejak lahir.
b. Hernia dapatan atau akuisita.
Hernia ini merupakan hernia yang didapat seseorang akibat beberapa faktor,
salah satunya seperti mengangkat benda yang terlalu berat. Hernia akuisita
terbagi menjadi 2 tipe.
2. Berdasarkan letaknya, hernia terbagi atas:
a. Hernia Inguinal.
1) Inguinalis , terbagi lagi menjadi :
a) Indirek / lateralis : hernia ini terjadi melalui cincin inguinalis dan melewati
corda spermatikus melalui kanalis inguinalis. Umumnya terjadi pada pria
dan wanita. Insidennya tinggi pada bayi dan anak kecil. Hernia ini dapat
menjadi sangat besar dan sering turun ke scrotum.
b) Direk / medialis : hernia ini melewati dinding abdomen di area kelemahan
otot, tidak melalui kanal seperti pada hernia inguinalis. Umumnya pada
lansia.
2) Femoralis : terjadi melalui cincin femoral dan lebih umum pada wanita dari
pada pria. Ini mulai sebagai penyumbat lemak di kanalis femoralis yang
membesar dan secara bertahap menarik peritonium dan hampir tidak dapat
dihindari kandung kemih masuk ke dalam kantung.
3) Umbilikal : pada orang dewasa umumnya pada wanita dan karena peningkatan
tekanan abdominal. Biasanya pada klien gemuk dan wanita multipara.

B. ETIOLOGI
Menurut Henry dan Thompson (2013), terdapat dua faktor predisposisi utama
terjadinya hernia, yaitu:
a. Tekanan yang meningkat pada abdomen:
b. Mengangkat beban berat.
c. Batuk akibat PPOK.
d. Tahanan saat miksi seperti BPH atau karsinoma.
e. Tahanan saat defekasi seperti konstipasi atau obstruksi usus besar.
f. Distensi abdomen yang mungkin mengindikasikan adanya gangguan intraabdomen.
g. Perubahan isi abdomen seperti adanya asites, tumor jinak atau ganas, kehamilan,
dan lemak tubuh.
h. Kelemahan dinding abdomen:
i. Umur yang semakin bertambah.
j. Malnutrisi baik makronutrien seperti protein atau kalori maupun mikronutrien
seperti Vit. C.
k. Kerusakan atau paralisis dari saraf motorik
l. Abnormal metabolisme kolagen.

C. MANIFESTASI KLINIS
1. Penonjolan di daerah umbilikalis
2. Nyeri pada benjolan atau bila terjadi strangulasi.
3. Obstruksi usus yang ditandai dengan muntah, nyeri abdomen seperti kram dan
distensi abdomen.
4. Terdengar bising usus pada benjolan
5. Kembung
6. Perubahan pola eliminasi BAB
7. Gelisah
8. Dehidrasi
9. Hernia biasanya terjadi atau tampak di atas area yang terkena pada saat pasien berdiri
atau mendorong.

D. PATHOFISIOLOGI
Hernia inguinalis terjadi di lipatan paha. Di lipatan paha terdapat suatu area yang
disebut kanal inguinal. Kanal inguinal adalah saluran atau lubang alami yang
menembus otot-otot dinding perut. Kanal inguinal membentuk jalan bagi testis untuk
turun dari rongga perut ke kantong skrotum. Pada umumnya, setiap kanal menutup
sebelum atau segera setelah lahir. Jika lubang ini tidak menutup, akan terlihat
benjolan di regio tersebut atau pembengkakan skrotum. benjolan tersebut dapat terisi
oleh usus maupun omentum lalu menonjol keluar. Hernia ini bisa bersifat bawaan
lahir atau didapatkan selama masa dewasa. Hernia ini lebih sering terjadi pada pria
daripada wanita (Leyner & Goldberg, 2009). Secara sederhana hernia inguinalis
terjadi akibat penutupan tuba (prosesus vaginalis) yang tidak lengkap antara abdomen
dan skrotum (atau uterus pada wanita). hal ini menyebabkan turunnya sebagian
intestine (Hany, 2015).
E. PATHWAY
Aktivitas mengejak saat BAK/BAB, batuk kronis, obesitas
merangsang lokus minoris resistence
tekanan intra abdomen
kanalis inguinalis tertekan
kanalis inguinalis terbuka
proseus tidak mengalami oblitalis (tetap terbuka)

HERNIA

Medialis Lateralis

Pembedahan

Diskontinuitas jaringan Kurangnya pengetahuan tentang pembedahan

Pintu masuknya kuman


Nyeri

Resiko Infeksi
Takut beraktivitas selera makan Defisit Pengetahuan

Gangguan Mobilitas Gangguan Nutrisi Kurang


Fisik Dari Kebutuhan

Ansietas
F. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Pemeriksaan penunjang yang dilakukan pada penderita hernia adalah (Henry &
Thompson, 2015) :
1. Herniografi
Teknik ini, yang melibatkan injeksi medium kontras ke dalam kavum peritoneal dan
dilakukan X-ray, sekarang jarang dilakukan pada bayi untuk mengidentifikasi hernia
kontralateral pada groin. Mungkin terkadang berguna untuk memastikan adanya
hernia pada pasien dengan nyeri kronis pada groin.
2. USG
Ultra Sonografi (USG) sering digunakan untuk menilai hernia yang sulit dilihat secara
klinis, misalnya pada Spigelian hernia.
3. CT dan MRI
CT (Computerized Tomography) dan MRI (Magnetic Resonance Imaging) berguna
untuk menentukan hernia yang jarang terjadi misalnya pada hernia obturator.

G. PENATAAKSANAAN KEPERAWATAN
1. Secara konservatif (non operatif)
a. Reposisi hernia : hernia dikembalikan pada tempat semula bisa langsung dengan
tangan.
b. Penggunaan alat penyangga dapat dipakai sebagai pengelolaan sementara,
misalnya pemakaian korset.
2. Secara operatif
1. Hernioplasty : memindahkan fasia pada dinding perut yang lemah, hernioplasty
sering dilakukan pada anak-anak.
2. Hernioraphy. Pada bedah elektif, kanalis dibuka, isi hernia dimasukan, kantong
diikat, dan dilakukan bainyplasty atau tehik yang lain untuk memperkuat dinding
belakang kanalis inguinalis. Ini sering dilakukan pada orang dewasa.
3. Herniotomy. Seluruh hernia dipotong dan diangkat lalu dibuang. Ini dilakukan
pada hernia yang sudah nekrosis.
H. PENGKKAJIAN
1. Identitas pasien
Jenis kelamin : Jenis klamin pria mempunyai resiko 3 kali lipat untuk teerkena hernia
inguinalis dibandingkan dengan waenita.
Riwayat Keperawatan
a. Keluhan utama : keluhan utama yang paling sering muncul pada pasien adanya
benjolan pada lipatan paha bagian atas.
b. Riwayat Penyakit sekarang
Berkaitan dengan perjalanan penyakit pasien yang sekarang.
c. Riwayat penyakit dahulu
Penderia hernia inguinalis sebelumnya kemungkinan pernah menderita.
d. Riwayat penyakit keluarga
Orang dengan riwayat keluarga hernia mempunyai resiko lebih besar dibandingn
dengan tanpa riwayat keluarga
2. Pola fungsional
a. Pola persepsi dan managemen kesehatan
Menggambarkan pola pemahaman klien tentang kesehatan dan kesejahteraan dan
bagaimana kesehatan itu diatur.
b. Pola metabolic dan nutrisi
Menggambarkan konsumsi relative terhadap kebutuhan metabolic dan suplai gizi,
pola konsumsi makanan dan cairan, keadaan kulit, rambut kuku dan membrane
mukosa, suhu tubuh dan berat badan. Terdapat pengkajian ABCD
A (Antropometri)
Tinggi badan, berat badan saat ini, berat badan sebelum sakit, IMT, lingkar kepala,
lingkar lengan.
B (Biochemical/ biokimia) : hemoglobin, leukosit, trombosit
C (Clinical assessment/ pemeriksaan klinis): yang dapat dilihat perawat. Seperti
rambut, mata, kulit.
D (Diit) : yang dimakan klien
c. Pola eliminasi
Menggambarkan pola fungsi eksresi termasuk pola individu sehari-hari atau
eliminasi sehari-hari, perubahan atau gangguan dan metode yang digunakan untuk
mengendalikan eksresi, berapa kali BAB dan BAK, ada gangguan atau tidak,
konsistensi.
d. Pola aktivitas dan olahraga
Menggambarkan olahraga aktivitas pengisisan waktu luang dan rekresi termasuk
aktivitas sehari-hari. Tipe dan jenis olahraga mempengaruhi pola aktivitas (otot,
saraf, respirasi, sirkulasi).
e. Pola istirahat tidur
Menggambarkan pola tidur, istirahat dan reaksi setiap bantuan merubah pola
tersebut. Mengalami gangguan tidur atau tidak, tidur nyenyak atau tidak.
f. Pola persepsi dan kognitif
Menggambarkan pola persepsi sensori dan pola kognitif meliputi keadekuatan
untuk sensori penglihatan, pendengaran, perabaan, pengecapan, dan penciuman
serta laporan persepsi nyeri.
g. Pola persepsi dan konsep diri
Menggambarkan bagaimana seseorang memandang dirinya sendiri, kemampuan
mereka,gambaran diri dan peran diri.
h. Pola hubungan peran
Menggambarkan pola keterkaitan peran dengan hubungan, meliputi persepsi
terhadap peran utama dan tanggung jawab sesuai kehidupan saat ini.
i. Pola reproduksi
Menggambarkan kepuasan atau ketidakpuasan dalam seksualitas, jenis kelamin
termasuk status reproduksi.
j. Pola koping dan toleransi dan stress
Menggambarka koping umum dan efektifan keterampilan koping dalam
mentoleransi jantung.
k. Pola nilai dan kepercayaan
Menggambarkan pola nilai, tujuan atau kepercayaan yang mengarah pilihan dan
kepercayaan diri.
3. Pemeriksaan fisik
a. Status Kesehatan Umum
Meliputi kedaan penyakit, tingkat kesadaran,suara bicara, tanda-tanda vital, berat
badan dan tinggi badan.
b. Kepala
Apakah klien terdapat nyeri kepala, bagaimana bentuknya, apakah terdapat masa
bekas terauma pada kepala, bagaimana keadaan rambut klien.

c. Muka
Bagaimana bentuk muka, apakah terdapat edema, apakah terdapat paralysis otot
muka dan otot rahang.
d. Mata
Apakah kedua mata memiliki bentuk yang berbeda, bentuk alis mata, kelopak
mata, kongjungtiva, sclera, bola mata apakah ada kelainan, apakah daya
penglihatan klien masih baik.
e. Telinga
Bentuk kedua telinga simetris atau tidak, apakah terdapat sekret, serumen dan
benda asing, membran timpani utuh atau tidak, apakah klien masih dapat
mendengar dengan baik.
f. Hidung
Apakah terjadi deformitas pada hidung klien, apakah settum terjadi diviasi, apakah
terdapat secret, perdarahan pada hidung, apakah daya penciuman masih baik.
g. Mulut Faring
Mulut dan Faring, apakah tampak kering dan pucat, gigi masih utuh, mukosa mulut
apakah terdapat ulkus, karies, karang gigi, otot lidah apakah masih baik, pada
tonsil dan palatum masih utuh atau tidak.
h. Leher
Bentuk leher simetis atau tidak, apakah terdapat kaku kuduk, kelenjar limfe terjadi
pembesaran atau tidak.
i. Dada
Apakah ada kelainan paru-paru dan jantung.
j. Abdomen
Bentuk abdomen apakah membuncit, datar, atau penonjolan setempat, peristaltic
usus meningkat atau menurun, hepar dan ginjal apakah teraba, apakah terdapat
nyeri pada abdomen.
k. Inguinal /Genetalia/ anus
Apakah terdapat hernia, pembesaran kelejar limfe, bagaimana bentuk penis dan
scrotum, apakah terpasang keteter atau tidak, pada anus apakah terdapat hemoroid,
pendarahan pistula maupun tumor, pada klien vesikollitiasis biasanya dilakukan
pemeriksaan rectal toucer untuk mengetahuan pembesaran prostat dan
konsistensinya.
l. Ekstermintas
Apakah pada ekstermitas bawah dan atas terdapat keterbatasan gerak, nyeri
sendi atau edema, bagaimana kekuatan otot dan refleknya.

I. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Ansietas berhubungan dengan kurang pengetahuan tentang tindakan operasi
2. Resiko infeksi berhubungan dengan insisi pembedahan
3. Nyeri akut berhubungan dengan agen cidera fisik pada daerah inguinalis
4. Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan Kerusakan neuromuskuler, spasme otot.
5. Resiko perubahan nutrisi berhubungan dengan mual muntah
6. Defisit pengetahuan berhubungan dengan keterbatasan pengetahuan tentang
pembedahan/operasi

J. INTERVENSI KEPERAWATAN
No. Diagnosa NOC (Tujuan) NIC (Intervensi)
Keperawatan
1. Ansietas berhubungan Setelah dilakukan 1. Tinjau ulang keadaan
dengan kurang tindakan keperawatan penyakit dan harapan
pengetahuan tentang diharapkan kecemasan masa depan
tindakan operasi dapat dikontrol dengan 2. Observasi tingkah laku
Kriteria hasil : yang menunjukkan tingkat
1. Klien tidak panik lagi ansietas
2. klien terlihat lebih 3. Berikan lingkungan
tenang dari pada perhatian, keterebukaan
sebelumnya dan penerimaan privasi
untuk pasien atau orang
terdekat, anjurkan bahwa
orang terdekat ada
kapanpun saat diperlukan
2. Resiko infeksi Setelah dilakukan 1. Monitor TTV
berhubungan dengan tindakan keperawatan 2. Kaji daerah luka
insisi pembedahan diharapkan infeksi dapat pembedahan
dikontrol dengan Kriteria 3. Bersihkan lingkungan
hasil : setelah dipakai pasien lain
3. Klien bebas dari tanda 4. Batasi pengunjung bila
dan gejala infeksi perlu
4. Menunjukkan 5. Gunakan sabun
kemampuan untuk antimikroba untuk
mencegah timbulnya mencuci tangan
infeksi Jumlah 6. Tingkatkan intake nutrisi
leukosit dalam batas 7. Berikan terapi antibiotik
normal bila perlu
8. Monitor tanda dan gejala
infeksi sistemik dan lokal
9. Monitor kerentanan
terhadap infeksi
10. Dorong masukan cairan
11. Dorong istirahat
12. jarkan keluarga dan pasien
tanda dan gejala infeksi

3. Nyeri akut Setelah dilakukan 1. Monitor TTV


berhubungan dengan tindakan keperawatan 2. Lakukan pengkajian nyeri
agen cidera fisik pada diharapkan nyeri secara komprehensif
daerah inguinalis berkurang dengan termasuk lokasi,
Kriteria hasil: karakteristik, durasi,
1. Mampu mengontrol frekuensi, kualitas, dan
nyeri faktor presiptasi
2. Melaporkan bahwa 3. Observasi reaksi
nyeri berkurang nonverbal dari
dengan menggunakan ketidaknyamanan
manajemen nyeri 4. Gunakan teknik
3. Mampu mengenali komunikasi terapeutik
nyeri (skala, untuk mengetahui
intensitas, frekuensi, pengalaman nyeri pasien
dan tanda nyeri) 5. Kontrol lingkungan yang
dapat mempengaruhi nyeri
6. Berikan analgetik untuk
mengurangi nyeri
7. Temukan lokasi,
karakteristik, kualitas, dan
derajat nyeri sebelum
pemberian obat
8. Cek intruksi dokter
tentang jenis obat, dosis,
dan frekuensi

4. Gangguan mobilitas Setelah dilakuan 1. Monitor TTV dan keadaan


fisik berhubungan tindakan keperawatan umum
dengan Kerusakan diharapkan mobilitas 2. Kaji derajat imobilisasi
neuromuskuler, fisik tidak terganggu akibat cidera
spasme otot. dengan criteria hasil : 3. Dorong partisipasi pada
1. Meningkatkan aktifitas terapuetik
mobilitas pada tingkat 4. Bantu dalam gerak
paling tinggi rentang pasif/ aktif
5. Ubah posisi secara
2. Melakukan ROM
periodic
secara mandiri
6. Kolaborasi dengan ahli
terapis
5. Resiko perubahan Setelah dilakuan 1. Monitor keadaan umum
nutrisi berhubungan tindakan keperawatan pasien
dengan mual muntah diharapkan nutrisi pasien 2. Monitor TTV
dapat terpenuhi dengan 3. Monitr berat badan pasien
criteria hasil : 4. Anjurkan pasien makan
1. BB dalam batas sedikit tapi sering
normal 5. Turgor kulit dalam
2. tidak ada tanda-tanda keadaan normal
kekurangan nutrisi 6. Kolaborasi dengan ahli
gizi untuk pemberian
nutrisi yang adekuat
6. Defisit pengetahuan Setelah dilakukan 1. Kaji tingkat pengetahuan
berhubungan dengan tindakan keperawatan pasien dan keluarganya
keterbatasan diharapkan pasien dapat tentang penyakitnya
pengetahuan tentang mengetahui tentang 2. Berikan penjelasan pada
pembedahan/operasi operasi dengan kriteria pasien dan keluarganya
hasil : tentang penyakitnya dan
1. Melakukan prosedur kondisinya sekarang
dan menjelasakan 3. Anjurkan pasien dan
alasan dari Tindakan keluarga untuk
yang akan dilakukan memperhatikan diet
2. Bisa menjelaskan makanan yang
kembali yang sudah seharusnya dikonsumsi
dijelaskan perawat dan tidak dikonsumsi
4. Minta pasien dan
keluarga untuk
mengulangi yang sudah
dijelaskan oleh perawat

K. DAFTAR PUSTAKA
NANDA. (2015). Panduan Diagnosa Keperawatan Definisi dan Klasifikasi. Jakarta :
Prima Medika
Brunner & Suddarth. 2012. Keperawatan Medikal Bedah Edisi 8, volume 2. EGC: Jakarta
Bulechek, G dkk. 2013. Nursing Intervention Classification (NIC) edisi keenam. Elsivier
Mosby: Missouri

Herdman, T. H. & Kamitsuru, S. 2014. NANDA International Nursing Diagnoses:


Defenition & Classification, 2018-2020. Whiley Blackwell: Oxford

Moorhead, S dkk. 2013. Nursing Outcomes Classification (NOC): Pengukuran Outcomes


Kesehatan Edisi Kelima. Elsivier Saundier: Missouri