Anda di halaman 1dari 29

ANALISIS PENDAPATAN USAHA PENGRAJIN MEUBEL DI KECAMATAN

MANGGALA KOTA MAKASSAR

SHADRY ANDRIANI
Program Studi Pendidikan Ekonomi
Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Makassar
Email: Shadryandriani17@gmail.com

ABSTRAK
Shadry Andriani, 2019. Analisis Pendapatan Usaha Pengrajin Meubel di Kecamatan
Manggala Kota Makassar. Skripsi Fakultas Ekonomi Program Studi Pendidikan Ekonomi
Universitas Negeri Makassar. Dibimbing oleh Bapak Dr. Mustari, S.E., M.Si dan Bapak
Muhammad Dinar, S.E., M.S.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui besarnya pendapatan usaha pengrajin meubel
di Kecamatan Manggala Kota Makassar serta untuk mengetahui besarnya keuntungan usaha
yang diperoleh pengrajin meubel di Kecamatan Manggala Kota Makassar.
Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kuantitatif yang bertujuan untuk
mengkaji dan mendeskripsikan pendapatan usaha pengrajin meubel. Populasi dalam
penelitian ini adalah semua pengrajin usaha meubel yang ada di Kecamatan Manggala Kota
Makassar karena penelitian ini menggunakan data primer maka sampel penelitian
menggunakan teknik sampling jenuh yaitu semua yang menjadi populasi dijadikan sampel.
Adapun penelitian yang dilakukan adalah mengumpulkan data yang ada kaitannya dengan
variabel-variabel yang diteliti melalui penelitian pustaka dan penelitian lapangan. Teknik
pengumpulan data yang dilakukan adalah observasi, wawancara dokumentasi dan angket.
Adapun teknik pengujian yang dilakukan antara lain pendapatan, penerimaan, analisis R/C
ratio serta analisis break event point.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa usaha pengrajin meubel yang ada di Kecamatan
Manggala memperoleh keuntungan dan sangat layak untuk diusahakan sebagai pendapatan
masyarakat setempat. Hal ini terlihat dari rasio penerimaan pengrajin meubel lebih besar dari
biaya yang dikeluarkan selama masa periode atau masa produksi.

Kata Kunci: Usaha, Pendapatan, Pengrajin, Meubel.

I. PENDAHULUAN yang terus meningkat, utamanya bagi para


industri pengolahan kayu. Tentu saja
Negara yang sedang berkembang
kebutuhan industri pengolahan kayu
pada umumnya merupakan negara agraris,
merupakan barometer peningkatan
dimana sebagian besar penduduknya hidup
perekonomian serta meningkatkan
dari usaha pertanian, seperti halnya dengan
penerimaan negara disektor kehutanan.
Indonesia merupakan salah satu negara
dengan luas hutan yang cukup banyak, Mengingat peranan industri sangat
sehingga memiliki tingkat eksploitatif penting dalam pembangunan nasional,
maka pembangunan sektor industri keluarga dan diukur dari kesempatan kerja
semakin memegang peranan penting dan mampu menyerap tenaga kerja.
strategis dalam menggerakkan usaha-usaha
Peningkatan kesejahteraan
kearah terciptanya landasan pembangunan
penduduk dapat dilakukan apabila
yang kokoh bagi tahap pembangunan
pendapatan penduduk mengalami
jangka panjang selanjutnya. Tumbuhnya
peningkatan yang cukup hingga mampu
sektor baru yaitu kegiatan industri kecil
memenuhi kebutuhan dasar untuk
merupakan satu gejala yang baru dalam
kehidupannya. Hal ini dapat diartikan
sektor perekonomian dalam masyarakat.
bahwa kebutuhan- kebutuhan sandang,
Hal ini dapat juga dilihat peranannya,
pangan, papan bisa terpenuhi sehingga
industri kecil di Indonesia dicatat mampu
penduduk yang kurang mampu semakin
menyumbang peningkatan pendapatan
berkurang jumlahnya.

Tabel 1. Produk Domestik Regional Bruto Makassar atas dasar


harga berlaku menurut lapangan usaha (Milliar
Rupiah), 2013-2017.
No Tahun Lapangan Usaha/Industry Kayu
(%)
1 2013 31,49
2 2014 33,04
3 2015 34,93
4 2016 38,05
5 2017 37,22
Sumber : Badan pusat statistik, Kota Makassar tahun 2018.

Industri Meubel merupakan salah seni yang cukup tinggi, sehingga industri
satu komoditi hasil kerajinan tangan yang meubel dalam negeri dikatakan memiliki
mempunyai peran cukup penting demi peranan cukup besar meskipun belum
memenuhi kebutuhan masyarakat dalam digali secara maksimal. Para pengusaha
rangka meningkatkan kesejahteraan industri meubel melakukan pekerjaan
masyarakat. Selain itu, industri meubel dengan tujuan untuk memperoleh
juga salah satu komoditi ekspor Indonesia pendapatan demi kebutuhan hidup. Untuk
yang cukup penting sebagai penghasil pelaksanaannya diperlukan beberapa
devisa negara sesudah minyak dan gas, perlengkapan dan dipengaruhi oleh
sebagai home industri yang memiliki nilai beberapa faktor yang mempengaruhi
pendapatan industri meubel yang terdiri model atau barang yang bernuansa seni,
dari besarnya modal, jumlah tenaga kerja, unik, eksotis, motif dan kreasi.
pengalaman/skill, upah tenaga kerja, dan Usaha meubel ini merupakan salah
lama usaha. satu usaha mikro kecil dan menengah
Hubungan modal kerja, tenaga (UMKM) yang telah lama dikembangkan
kerja, upah, pengalaman/skill serta oleh masyarakat sebagai wadah
lamanya usaha terjadi apabila sebagian peningkatan kesejahteraan masyarakat.
dari pendapatan ditabung dan Usaha industri meubel dengan bahan baku
diinvestasikan kembali dengan tujuan utama kayu yang memiliki beragam
memperbesar output dan pendapatan macam seperti kayu jati, kayu bayam,
dikemudian hari. Penambahan tenaga kayu mahoni, kayu nyatoh, kayu pinus,
kerja, pengadaan pabrik baru, mesin-mesin kayu sungkai, kayu cedar, dan kayu ramin
canggih, peralatan dan bahan baku akan merupakan usaha tradisional yang telah
meningkatkan stok modal secara fisik berkembang sejak lama dan dilakukan
(yakni nilai riil atas seluruh barang modal secara turun temurun dalam melayani
produktif secara fisik). Dan hal ini lebih kebutuhan masyarakat di Kecamatan
jelas memungkinkan akan terjadinya Manggala dan sekitarnya maka tidak heran
peningkatan output di masa mendatang. jika kebutuhan masyarakat untuk barang-
Pembentukan usaha yaitu suatu barang yang menggunakan bahan dasar
kegiatan yang dilakukan dan kayu akan terus meningkat. Meskipun
dikembangkan oleh seseorang atau sudah banyak barang-barang yang
sekelompok dengan tujuan menghasilkan menggunakan bahan plastik, aluminium,
berbagai jenis barang dan jasa yang besi dan lain-lain, namun barang yang
dibutuhkan oleh masyarakat dalam menggunakan material kayu memiliki nilai
kehidupannya. Sehingga melalui usaha tersendiri dalam bidang seni dan
industri diharapkan bisa memajukan dan keindahan.
membangun kehidupan masyarakat dari
kemiskinan atas terbatasnya kebutuhan
ekonomi yang dimiliki. Karena usaha
industri juga merupakan suatu langkah
sebagai solusi yang tepat untuk digunakan
oleh masyarakat dalam berkreatifitas dan
menciptakan nilai produksi dengan model-
Tabel 2. Jumlah industri meubel di usaha pengrajin meubel mempunyai tujuan
Kecamatan Manggala.
utama yaitu mendapatkan laba yang
No Kelurahan Jumlah Persentase
sebesar besarnya dan mempertahankan
Industri (%)
atau semakin berusaha meningkatkannya.
1 Antang 10 28
Meskipun persaingan antar usaha meubel
2 Tamangapa 11 31
cukup ketat tetapi mereka berusaha untuk
Raya
memberikan pelayanan yang terbaik
kepada para konsumen guna untuk
3 Borong 4 11
memaksimumkan pendapatannya.
4 Batua 3 8
Pendapatan dari industri meubel
5 Manggala 2 5,5
berdasarkan besar kecilnya kemampuan
6 Bangkala - -
produksi sehingga semakin besar modal
7 Bitowa 4 11
usaha maka semakin besar pula
8 Biring 2 5,5
kemampuan industri meubel memproduksi
Romang 36 100
suatu barang, akan tetapi sekalipun
Total
industri meubel ini di dukung dengan
Sumber : Olahan data primer, tahun 2018.
modal usaha yang besar akan tetapi tidak
Tabel 1.2 dapat dijelaskan bahwa
didukung dengan tenaga kerja yang
industri meubel di atas merupakan salah
berpengalaman maka produksi industri
satu kelompok dari berbagai macam
meubel ini tidak akan pernah mendapatkan
industri yang perlu di bina, dibimbing dan
hasil yang memuaskan dan sangat
diarahkan untuk meningkatkaan taraf
berkorelasi dengan tingkat produksi dan
hidupya dan mampu meningkatkan
pendapatan industri meubel.
pendapatannya mengingat jumlah dan
Oleh karena itu, para pengrajin
kontribusi mereka yang cukup besar
sering dihadapkan pada persoalan tentang
terhadap retribusi daerah selain itu juga,
bagaimana mencapai keberhasilan usaha
keberadaan mereka sangat diperlukan oleh
melalui optimalisasi peningkatan
masyarkat. Usaha ini memang cukup
pendapatan yang dituangkan dalam
menarik dilihat dari sudut pandang
pemilihan kombinasi dari beberapa faktor-
kemandirian dalam menciptakan lapangan
faktor keputusan serta starategi pemasaran
kerja serta menyediakan barang dan jasa
masih belum kondusif disebabkan para
dan harga sesuai dengan kualitasnya dalam
pengrajin sebagian hanya memasarkan
lingkup usaha yang mencegah timbulnya
produknya ditempat produksi itu sendiri
pengangguran dan keresahan sosial. Para
atau disebut dengan tempat dimana
pengrajin membuatnya. Banyak faktor- mereka dapat mengembangkan usahanya
faktor yang diduga mempengaruhi dengan mengambil kebijaksanaan yang
pendapatan pengrajin, termasuk tepat. Berdasarkan pemikiran dan
diantaranya adalah modal, upah, tenaga permasalahan yang telah diuraikan di atas,
kerja, lama usaha, dan keahlian/Skill. maka penulis tertarik untuk mengadakan
Namun dari semua faktor-faktor penelitian dengan judul “Analisis
yang telah disebutkan diatas, berdasarkan Pendapatan Usaha Pengrajin Meubel di
hasil pengamatan dan wawancara Kecamatan Manggala Kota Makassar”.
mendahului yang dilakukan peneliti
dengan pengrajin selama kurang lebih dua II. TINJAUAN PUSTAKA DAN
minggu, rata-rata pendapatan pengrajin KERANGKA PIKIR
meubel yang ada di Kecamatan Manggala a. Tinjauan Pustaka
ini berkisar Rp. 5.000.000,00 hingga Rp. 1. Konsep Pendapatan
10.000.000,00 per bulan dan bahkan Menurut Sukirno (2000) “Pendapatan
sampai Rp. 50.000.000,00 per bulannya merupakan unsur yang sangat penting
tergantung dari banyaknya permintaan. dalam sebuah unsur perdagangan, karena
Hal demikian karena mereka memproduksi dalam melakukan suatu usaha tentu ingin
sesuai dengan permintaan pelanggan. mengetahui nilai atau jumlah pendapatan
Adapun diduga modal dan lama usaha yang diperoleh selama melakukan usaha
paling kuat berpengaruh terhadap tersebut. Dalam arti ekonomi, pendapatan
pendapatan pengrajin. Kedua faktor merupakan balas jasa atas penggunaan
tersebut merupakan faktor internal, dimana faktor-faktor produksi yang dimiliki oleh
modal usaha yang digunakan sebagian sektor rumah tangga dan sektor perusahaan
besar merupakan modal dari pemilik usaha yang dapat berupa gaji/upah, sewa, bunga
sendiri dan lama usaha yang bervariasi serta keuntungan/profit.
cenderung berpengaruh terhadap Menurut Karl E. Case & Ray C.
pendapatan pengrajin yang diperoleh saat Fair (2007 : 427), “Pendapatan
ini. Namun pada saat ini masih belum didefenisikan sebagai jumlah uang yang
diketahui berapa pendapatan pengrajin bisa dibelanjakan oleh suatu rumah tangga
meubel secara merata yang ada di selama satu periode tertentu tanpa
Kecamatan Manggala. Untuk itulah meningkatkan atau menurunkan asset
dengan diketahuinya pengaruh dari bersihnya. Uang yang diterima inilah yang
beberapa faktor-faktor tersebut terhadap akan menjadi tolak ukur kesejahteraan
pendapatan usaha meubel, diharapkan masyarakat. sesuai dengan yang
dikemukakan Samuelson dan Nordhaus atau dengan kata lain merupakan segala
(2002), dimana kondisi seseorang dapat pendapatan yang diperoleh oleh
diukur dengan menggunakan konsep perusahaan hasil dari penjualan
pendapatan yang menunjukkan jumlah produksinya kepada pedagang atau
seluruh uang yang diterima oleh seseorang langsung kepada konsumen.
atau rumah tangga selama jangka waktu Menurut Karl E. Case dan Ray C.
tertentu. Defenisi lain dari pendapatan Fair (2007 : 205-206) membagi
adalah jumlah penghasilan yang diperoleh penerimaan kedalam tiga jenis, yaitu :
dari hasil pekerjaan dan biasanya a. Penerimaan Total/ Total Revenue
pendapatan seseorang dihitung setiap (TR)
tahun atau setiap bulan. Dengan demikian, Penerimaan total adalah jumlah
pendapatan merupakan gambaran terhadap total yang di dapatkan perusahaan dari
posisi ekonomi keluarga dalam penjualan produknya, di rumuskan sebagai
masyarakat. Menyadari hal tersebut berikut :
maka sangat penting untuk meningkatkan TR = P x Q
pendapatan demi mencapai kesejahteraan Keterangan :
masyarakat. TR : Penerimaan Total
Berdasarkan paparan diatas tentang P : Harga Barang
konsep pendapatan, maka dapat Q : Jumlah Produksi
disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan b. Penerimaan Rata-rata (Average
pendapatan adalah semua keuntungan baik Total Revenue / AR)
berupa uang atau lainnya yang diperoleh Penerimaan rata-rata adalah rata-
seseorang atau badan usaha atas jasa yang rata penerimaan dari per kesatuan produk
telah dilakukan dalam jangka waktu yang dijual atau di hasilkan, yang
tertentu. Jika dikaitakan dengan usaha diperoleh dengan jalan membagi hasil total
pengrajin meubel maka yang dimaksud penerimaan dengan jumlah satuan barang
dengan pendapatan adalah sejumlah yang dijual.
keuntungan yang berupa uang yang c. Penerimaan Marjinal (Marjinal
diterima oleh pengrajin meubel yang Revenue / MR)
dicapai dalam suatu periode tertentu. Penerimaan marjinal adalah
2. Konsep Penerimaan penerimaan tambahan yang diterima
Menurut Sukirno (2004: 13) perusahaan ketika perusahaan
penerimaan adalah sejumlah uang yang meningkatkan output sebanyak satu unit
diperoleh dari penjualan sejumlah output tambahan.
Jadi, penerimaan adalah input) sedangkan dalam jangka panjang
keseluruhan hasil penjualan yang diterima semua faktor produksi dapat mengalami
oleh seseorang dari hasil produksinya perubahan yang artinya bahwa setiap
selama produksi tertentu. Jika dikaitkan produksi dapat ditambah jumlahnya kalau
dengan usaha pengrajin meubel, maka memang diperlukan.
penerimaan yang dimaksud adalah Produksi dapat dikatakan sebagai
pendapatan kotor penjual meubel, artinya kegiatan yang menghasilkan dan
pendapatan yang belum dikurangi biaya- menambah nilai guna barang atau jasa.
biaya yang digunakan. Soeharno (2009 : 4) dalam bukunya Teori
3. Konsep Produksi Mikro Ekonomi menyatakan bahwa :
Menurut Suhardi (2016 : 196) “Produksi merupakan kegiatan untuk
Produksi adalah kegiatan yang mengubah meningkatkan manfaat suatu barang.
input menjadi output/autcome untuk Untuk meningkatkan manfaat tersebut,
meningkatkan manfaat, bisa dilakukan diperlukan bahan-bahan yang disebut
dengan cara mengubah bentuk (form faktor produksi. Sesuai dengan asumsi
utility), memindahkan tempat (place bahwa sumber-sumber ekonomi (faktor
utility) atau dengan cara menyimpan (store produksi) yang bersifat jarang maka
utility). faktor-faktor produksi harus
Tujuan dari produksi itu tentunya dikombinasikan secara baik-baik atau
adalah untuk menghasilkan barang/jasa, secara efisien sehingga dicapai kombinasi
meningkatkan nilai guna barang/jasa, secara baik atau secara rendah”.
meningkatkan keuntungan, memperluas Dari beberapa pendapat ahli dapat
lapangan usaha, meningkatkan disimpulkan bahwa produksi yang
kemakmuran masyarakat, dan menjaga dimaksud dalam penelitian ini diartikan
kesinambungan usaha perusahaan. sebagai usaha atau kegiatan yang
Soekartawi (2002), mengatakan dilakukan oleh pengrajin meubel meliputi
bahwa “produksi adalah suatu kegiatan proses pengolahan kayu (bahan mentah)
yang mengubah input menjadi output”. sampai pada pengambilan hasil produksi
Kegiatan tersebut dalam ekonomi biasa (bahan jadi siap pakai) agar menghasilkan
dinyatakan dalam fungsi produksi. produk yang baik dan maksimal dengan
Analisis terhadap kegiatan produksi jalan mengkombinasikan berbagai macam
perusahaan dikatakan berada dalam jangka faktor produksi.
pendek apabila sebagian dari faktor 4. Faktor-faktor produksi
produksi dianggap tetap jumlahnya (fixed a. Modal
Salah satu faktor yang sangat Organization (ILO) adalah penduduk usia
penting dalam usaha perdagangan adalah 15 tahun ke atas yang dikelompokkan ke
modal. Peran modal dalam suatu usaha dalam angkatan kerja dan bukan angkatan
sangat penting karena sebagai alat kerja.
produksi suatu barang dan jasa. Suatu Tenaga kerja merupakan faktor
usaha tanpa adanya modal sebagai salah yang penting dalam produksi. Tenaga
satu faktor produksinya tidak akan dapat kerja adalah penduduk dalam usia kerja
berjalan. yang siap melakukan pekerjaan, antara
Menurut Case and Fair (2007) lain, mereka yang sudah bekerja, mereka
Modal adalah barang yang diproduksi oleh yang sedang mencari kerja, mereka yang
sistem ekonomi yang digunakan sebagai bersekolah, dan mereka yang mengurus
input untuk memproduksi barang dan jasa rumah tangga. Sedangkan menurut
di masa depan serta tidak hanya terbatas pendapat Sumitro Djojohadikusumo
pada uang atau aset keuangan seperti (2005), bahwa tenaga kerja adalah semua
obligasi dan saham, tetapi barang-barang orang yang bersedia dan sanggup bekerja
fisik seperti pabrik, peralatan, persediaan dan mereka yang menganggur terpaksa
dan aset tidak berwujud. akibat tidak ada kesempatan kerja.
Sedangkan menurut Sadono Adapun pendapat menurut Sadono
Sukirno, (2015 : 6) “Modal merupakan Sukirno, (2015: 6), dimana tenaga kerja,
benda yang diciptakan oleh manusia dan faktor produksi ini bukan saja berarti
digunakan untuk memproduksi barang- jumlah buruh yang terdapat dalam
barang dan jasa-jasa yang mereka perekonomian. Pengertian tenaga kerja
butuhkan meliputi juga keahlian dan keterampilan
b. Tenaga Kerja yang mereka miliki. Dari segi keahlian dan
Berdasarkan UU No. 13 tahun pendidikannya, tenaga kerja dibedakan
2003 tentang ketenagakerjaan, yang kepada tiga golongan berikut :
dimaksud dengan tenaga kerja adalah a) Tenaga kerja terdidik adalah tenaga
“Setiap orang yang mampu melakukan kerja yang memiliki pendidikan
pekerjaan guna menghasilkan barang atau cukup tinggi dan ahli dalam bidang
jasa, baik untuk memenuhi kebutuhan tertentu seperti: dokter, akuntan,
sendiri maupun untuk masyarakat”. ahli ekonomi, dan insinyur.
Penduduk usia kerja menurut Badan b) Tenaga kerja terampil adalah
Pusat Statistik (2016) dan sesuai dengan tenaga kerja yang memiliki
yang disarankan oleh International Labor keahlian dari pelatihan atau
pengalaman kerja seperti: montir, termasuk tunjangan, baik untuk pekerja
tukang kayu dan ahli mereparasi sendiri maupun untuk keluarganya.
TV. Tenaga kerja merupakan salah satu
c) Tenaga kerja kasar adalah tenaga faktor produksi yang digunakan dalam
kerja yang tidak berpendidikan atau melaksanakan proses produksi. Dalam
rendah pendidikan dan tidak proses produksi, tenaga kerja memperoleh
memiliki keahlian dalam suatu pendapatan sebagai balas jasa dari usaha
bidang pekerjaan. yang telah dilakukannya yakni upah. Maka
Dari berbagai uraian di atas, dapat pengertian permintaan tenaga kerja adalah
disimpulkan bahwa tenaga kerja adalah tenaga kerja yang diminta oleh pengusaha
setiap orang yang berada dalam usia kerja pada berbagai tingkat upah. Terdapat
dan mampu melakukan pekerjaan guna kenaikan tingkat upah rata-rata, maka akan
menghasilkan barang atau jasa. Tenaga di ikuti oleh turunnya jumlah tenaga kerja
kerja yang dimaksud dalam penelitian ini yang diminta, berarti akan terjadi
adalah Pengrajin usaha meubel yang ada di pengangguran. Atau kalau di balik, dengan
Kecamatan Manggala Kota Makassar. turunnya tingkat upah rata-rata akan
c. Upah diikuti oleh meningkatnya kesempatan
Menurut Undang-undang No. 13 kerja, sehingga dapat dikatakan bahwa
Tahun 2003 yang dimaksud dengan Upah kesempatan kerja mempunyai hubungan
ialah penerimaan sebagai imbalan dari terbalik dengan tingkat upah.
pemberi kerja kepada penerima kerja d. Keahlian/Skill
untuk pekerjaan atau jasa yang telah atau Menurut Sadono Sukirno (2015 :
akan dilakukan. 6) mengemukakan bahwa Skill adalah
Sedangkan menurut Try Wahyu kemampuan pengusaha untuk mendirikan
Rejeki Ningsih (2009), upah adalah suatu dan mengembangkan berbagai kegiatan
penerimaan sebagai imbalan dari usaha. Faktor produksi ini berbentuk
pengusaha kepada pekerja untuk suatu keahlian dari kemampuan pengusaha
pekerjaan atau jasa yang telah dilakukan untuk mendirikan dan mengembangkan
atau dinilai dalam bentuk uang yang berbagai kegiatan usaha. Keahlian
ditetapkan atas dasar suatu persetujuan keusahawan meliputi kemahirannya
atau peraturan perundang-undangan serta mengorganisasi berbagai sumber atau
dibayarkan atas dasar suatu perjanjian faktor produksi tersebut secara efektif dan
kerja antara pengusaha dengan pekerja efisien sehingga usahanya berhasil dan
berkembang serta dapat menyediakan waktu yang sudah dijalani pengrajin dalam
barang dan jasa untuk masyarakat. menjalankan usahanya, waktu tersebut
Dari beberapa pendapat ahli dapat merupakan lamanya pengrajin dalam
disimpulkan bahwa keahlian/skill yang menekuni bidang usahanya. Untuk satuan
dimaksud dalam penelitian ini diartikan pengukuran lamanya usaha, peneliti
sebagai karyawan yang dikatakan telah menggunakan satuan tahun dan bulan. Hal
mahir atau memiliki kemampuan yang tersebut dimaksudkan agar mudah dalam
cukup kompeten dalam mengelola usaha memperoleh data bagi pengrajin yang baru
meubel tersebut dan biasanya menekuni bidang indusrti seperti meubel
keahlian/skill yang baik ditandai dengan maupun yang sudah lama menekuni di
lamanya sesorang tersebut bekerja karena bidang tersebut.
dianggap sebagai salah satu penunjang Berdasarkan beberapa faktor
untuk memperoleh pendapatan yang produksi, dapat disimpulkan bahwa
maksimal. Pengrajin meubel harus memiliki modal,
e. Lama Usaha tenaga kerja, upah, kemampuan/skill, dan
Lama usaha juga dapat diartikan lama usaha dalam mengelola usaha
sebagai lamanya waktu yang sudah meubelnya. Pengrajin meubel juga mampu
dijalani pedagang dalam menjalankan membuat perencanaan yang dapat
usaha. Lamanya suatu usaha dapat diartikan sebagai suatu proses pemikiran
menimbulkan pengalaman berusaha, dan penentuan secara matang dari hal-hal
dimana pengalaman dapat mempengaruhi yang akan dikerjakan dimasa mendatang
pengamatan seseorang dalam bertingkah dalam rangka pencapaian tujuann yang
laku (Sukirno, 2006). Ada suatu asumsi maksimal.
bahwa semakin lama seseorang 5. Harga
menjalankan usahanya maka akan Menurut Gregory Mankiw (2003
semakin berpengalaman orang tersebut. :93), “ Harga adalah suatu penentu dari
Sedangkan pengalaman kerja itu sendiri kuantitas yang ditawarkan”. Harga dan
merupakan proses pembentukan kuantitas yang ditawarkan memiliki
pengetahuan atau keterampilan tentang hubungan positif yang dinamakan hukum
metode suatu pekerjaan karena penawaran, yaitu semakin tinggi harga
keterlibatan dalam pelaksanaan tugas semakin banyak jumlah barang yang
pekerjaan. bersedia ditawarkan. Sebaliknya semakin
Di dalam penelitian ini yang rendah tingkat harga, semakin sedikit
dimaksud dengan lama usaha adalah lama jumlah barang yang bersedia ditawarkan.
Sedangkan menurut Karl E. Case dan Ray Untuk lebih jelasnya, menurut Sadono
C. Fair (2007 : 49), “Harga adalah jumlah Sukirno (2015 : 209) ada beberapa
yang dijual oleh suatu produk per unit, dan klasifikasian dalam biaya produksi sebagai
mencerminkan berapa yang bersedia berikut:
dibayarkan oleh masyarakat”. Harga input, a. Biaya tetap (fixed cost)
tenaga kerja, tanah, dan modal Biaya tetap adalah biaya yang
menentukan berapa banyak biaya jumlah totalnya tetap dalam kisaran
pembuatan suatu produk. perubahan volume kegiatan tertentu. Tetap
Dari pengertian- pengertian diatas, besar kecilnya biaya tetap dipengaruhi
maka dapat disimpulkan harga adalah nilai oleh kondisi usaha jangka panjang.
jual dari suatu produk yang mampu b. Biaya variabel (variable cost)
dibayarkan oleh konsumen dan juga dapat Yaitu biaya yang jumlahnya
dikatakan sebagai penentu dalam hal berubah-ubah sesuai dengan jumlah
jumlah barang yang akan disediakan. produk yang dhasilkan, semakin besar pula
6. Konsep Biaya jumlah variabelnya. Biaya variabel per
Menurut Firdaus dan Wasilah unit tetap adanya volume kegiatan atau
(2012: 22) mendefinisikan biaya sebagai produksi. Seperti biaya bahan baku dan
pengeluaran-pengeluaran atau nilai upah tenaga kerja yang dibayarkan sesuai
pengorbanan untuk memperoleh barang jumlah produk dihasilkan.
atau jasa yang berguna untuk masa yang c. Biaya total (total cost)
akan datang. Sedangkan pengertian biaya Biaya total adalah keseluruhan
menurut Supriyono (2011: 12) adalah jumlah biaya produksi yang dikeluarkan.
harga perolehan yang dikorbankan atau Biaya yang tetap yang harus ditanggung
digunakan dalam rangka memperoleh oleh suatu perusahaan tertentu itu bukan
penghasilan (revenue) yang akan dipakai hanya berkenaan dengan satu jenis ongkos
sebagai pengurang penghasilan. atau biaya saja tetapi terdiri dari beberapa
Sedangkan menurut Sukirno (2010) jenis biaya. Biaya total adalah biaya yang
“Biaya produksi dapat didefenisikan dikeluarkan untuk memproduksi seluruh
sebagai semua pengeluaran yang output dan semua bersifat variabel. Dapat
dikeluarkan oleh perusahaan untuk dirumuskan sebagai berikut:
memperoleh faktor-faktor produksi dan TC = TFC + TVC
bahan-bahan mentah yang akan digunakan Keterangan :
untuk menciptakan barang-barang yang TC : Biaya total
akan diproduksi oleh perusahaan tersebut”. TFC : Biaya tetap
TVC : biaya tidak tetap Dari pengertian-pengertian biaya
d. Biaya total rata-rata (average total diatas, maka disimpulkan bahwa biaya
cost) merupakan keseluruhan pengorbanan yang
Biaya total rata-rata adalah biaya dikeluarkan dalam sebuah proses produksi
total dibagi dengan output atau jumlah tertentu.
produksi yang dihasilkan. Dapat 6. Analisis Break Event Point (BEP)
dirumuskan sebagai berikut : Analisis pulang pokok (break event
point) merupakan suatu keadaan dimana
AC =
usaha dijalankan tidak mengalami
Keterangan : kerugian dan tidak pula mengalami
AC : Biaya rata-rata keuntungan (impas). Dalam hal ini jumlah
TC : Biaya total penerimaan sama dengan jumlah
Q : Jumlah produksi pengeluaran.
1. Biaya tetap rata-rata (average fixed Menurut Soekartawati (2006)
cost) Biaya tetap rata-rata merupakan bahwa “hal yang harus diperhatikan ialah
biaya tetap yang dibagi jumlah output. di dalam analisis Break Event Point,
(FC/Q). bahwa biaya produksi yang dikeluarkan
2. Biaya variabel rata-rata (average diklasifikasikan ke dalam biaya tetap dan
variable cost) Biaya variabel rata-rata juga dalam biaya variabel”. Dimana harga
merupakan biaya yang dibagi jumlah jual serta biaya produksi adalah faktor
output. (VC/Q) yang berpengaruh dalam analisis Break
e. Biaya marginal (marginal cost) Event Point.
Marjinal adalah kenaikan biaya Dalam suatu operasi perusahaan,
produksi yang dikeluarkan untuk harga jual serta biaya produksi seringkali
menambah produksi sebanyak satu unit. akan mengalami perubahan. Perubahan
Dapat dirumuskan sebagai berikut : harga jual akan dapat mengakibatkan
perubahan total pada penerimaan,
MC =
sedangkan perubahan pada biaya tetap atau
Keterangan : juga biaya variabel akan mengakibatkan
MC : Biaya Marjinal perubahan total biaya.
TC : Perubahan biaya total Menurut Soekartawati (2006)
Q : Perubahan kuantitas (jumlah Untuk mengetahui analisis pulang pokok
produk) (break event point) maka dapat dihitung
dengan menggunakan rumus sebagai FC = Biaya tetap
berikut : VC = Biaya variabel
a) BEP Penjualan dalam Rp. P = Harga jual
BEP Penjualan (Rp) =
B. Kerangka Pikir
Untuk lebih jelasnya kerangka
pikir dalam penelitian ini diuraikan dalam
b) BEP dalam Unit
bentuk skema sebagai berikut :
BEP unit =

Keterangan :

Usaha Pengrajin
Meubel

Penerimaan Biaya Produksi (TC)

(TR)  Biaya Tetap


 Biaya Variabel

Pendapatan

 Analisis Pendapatan
 Analisis R/C Ratio
 Analisi BEP (Break
Event Point)

Rekomendasi

Gambar 1 : Skema Kerangka Pikir


C. Hipotesis Dalam melakukan penelitian terlebih
Dalam penelitian ini akan lagi untuk penelitian deskriptif kuantitatif,
dirumuskan hipotesis guna memberikan salah satu langkah yang penting ialah
arah dan pedoman dalam melakukan membuat desain penelitian. Desain
penelitian. Hipotesis yang digunakan penelitian adalah suatu strategi untuk
dalam penelitian ini adalah : mencapai tujuan penelitian yang telah di
1. Pendapatan usaha pengrajin meubel di tetapkan dan berperan sebagai pedoman
Kecamatan Manggala Kota Makassar atau penuntun peneliti pada seluruh proses
mengalami peningkatan. dalam penelitian.
2. Secara Usaha pengrajin meubel di B. Defenisi Operasional Variabel
Kecamatan Manggala Kota Makassar
Variabel adalah sesuatu yang
menguntungkan dan layak untuk di
menjadi pusat atau objek perhatian, yang
usahakan.
memberikan pengaruh dan memiliki nilai
III. METODE PENELITIAN sehingga dapat berubah. Variabel dapat
A. Variabel dan Desain Penelitian disebut juga perubah. Untuk menghindari
1. Variabel Penelitian perbedaan interpretasi terhadap variabel
Andi Munarfah (2009 : 40) yang akan di teliti, maka variabel tersebut
menyatakan bahwa variabel penelitian perlu di operasionalkan sebagai berikut:
merupakan suatu atribut atau sifat/nilai 1. Pendapatan yaitu selisih antara
dari orang, objek atau kegiatan yang penerimaan keseluruhan dari hasil
mempunyai variasi tertentu yang penjualan meubel yang sebelumnya
ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari telah dikurangi oleh biaya-biaya
dan ditarik kesimpulannya. produksi yang dinyatakan dengan
Penelitian ini dimaksudkan untuk satuan rupiah (Rp).
mengetahui berapa besar pendapatan usaha 2. Penerimaan yaitu banyaknya
meubel di Kecamatan Manggala Kota pendapatan atau uang yang
Makassar dan untuk mengetahui apakah diterima pengrajin usaha meubel
usaha meubel dapat menguntungkan bagi dengan satuan rupiah (Rp).
pengrajin. Dalam penelitian ini digunakan 3. Produksi yaitu banyaknya jumlah
variabel tunggal yaitu pendapatan yang hasil produksi meubel yang telah
mencakup penerimaan dan biaya. selesai.
2. Desain Penelitian 4. Biaya yaitu sejumlah dana atau
uang yang dikeluarkan oleh
pengrajin meubel dalam satu kali 2. Sampel
produksi meubel diukur dengan Menurut Suharsimi (2010 : 131)
satuan rupiah (Rp) yang mencakup sampel adalah sebagian atau wakil dari
: populasi yang diteliti. Adapun menurut
a. Biaya tetap yaitu jumlahnya tidak Arikunto (Ridwan dan Akdon, 2009 : 238-
tergantung pada hasil produksi 240) mengatakan “Sampel adalah bagian
yakni terdiri dari biaya penyusutan dari populasi (sebagian atau wakil populasi
peralatan yang diteliti). Sampel penelitian ini adalah
b. Biaya tidak tetap yaitu biaya yang sebagian dari populasi yang diambil
jumlahnya tergantung pada jumlah sebagai sumber data atau dan dapat
hasil produksi meubel yakni terdiri mewakili seluruh populasi.
dari bahan baku , upah tenaga Menurut Sugiyono (2008 :61)
kerja, dan tenaga kerja berkaitan dengan penentuan sampel
5. Harga yaitu nilai yang diterima penelitian menggunakan teknik penelitian
pengrajin selaku produsen dari non probabilitas, salah satunya sampling
setiap unit meubel yang dihasilkan jenuh yaitu suatu teknik penentuan sampel
diukur dengan satuan rupiah (Rp). jika semua anggota populasi digunakan
C. Populasi dan Sampel sebagai sampel. Hal ini sering sekali
1. Populasi dilakukan jika jumlah populasi relatif kecil
Menurut Sugiyono (2008 : 55) atau penelitian yang ingin membuat
mengemukakan bahwa “populasi adalah generalisasi dengan kesalahan yang
wilayah pegeneralisasi yang terdiri atas relative kecil. Istilah lain dari sampling
objek/subjek yang mempunyai kualitas jenuh adalah sensus.
dan karakteristik tertentu yang ditetapkan D. Teknik Pengumpulan Data
oleh peneliti untuk dipelajari dan Teknik pengumpulan data
kemudian ditarik kesimpulannya”. Adapun merupakan langkah yang paling strategis
yang menjadi populasi dalam penelitian ini dalam penelitian, karena tujuan utama dari
adalah seluruh pengrajin yang terdapat di penelitian adalah mendapatkan data
Kelurahan Antang, Kelurahan Bitowa, (Sugiyono, 2015 : 62). Adapun teknik
Kelurahan Borong, Kelurahan Batua, pengumpulan data yang digunakan dalam
Kelurahan Manggala, Kelurahan Biring penelitian ini adalah sebagai berikut :
Romang dan Kelurahan Tamangapa Raya 1. Observasi (pengamatan)
di Kecamatan Manggala Kota Makassar Observasi adalah sebuah proses
sebanyak 35 usaha pengrajin meubel. pengamatan atau pemantauan akan suatu
objek atau masalah yang dari situ akan di menjabarkan ke dalam unit-unit,
ambil laporan atau kesimpulan. Dalam melakukan sintesa, menyusun ke dalam
penelitian ini objek yang dimaksud adalah pola, memilih mana yang penting dan yang
usaha meubel. akan di pelajari dan membuat kesimpulan
2. Wawancara (interview) sehingga mudah di pahami oleh diri
Teknik ini digunakan untuk sendiri maupun orang lain”.
mendukung data-data dari hasil observasi Untuk menganalisis data dalam
yang dilakukan. Dalam pelaksanaan penelitian ini digunakan analisis deskriptif
interview dilakukan pada pemilik usaha untuk menjawab permasalahan pendapatan
pembuatan meubel guna mendapatkan usaha pengrajin meubel dan sekaligus
data-data yang akurat. menganalisis keuntungan dari usaha
2. Angket pengrajin meubel di Kecamatan Manggala.
Yaitu cara pengumpulan data Menurut Soekartawati (2006 : 58) dengan
dengan cara memberikan sejumlah rumus sebagai berikut :
pertanyaan tertulis yang disusun dalam 1. Pendapatan
sebuah lembaran dan dijawab secara π = TR-
tertulis yang berhubungan dengan apa TC
yang diteliti. Dimana :
3. Dokumentasi TR = Y. Py
Teknik ini dilakukan dengan cara TC = FC + VC
mengumpulkan, memilih, mengolah, dan Keterangan :
menyimpan informasi di bidang Π : Pendapatan
pengetahuan; pemberian atau TR : Total penerimaan (total
pengumpulan bukti dari keterangan seperti revenue)
gambar, kutipan, guntingan koran dan TC : Total biaya
bahan referensi lain yang diperoleh Y : Jumlah produksi
dilapangan. Py : Harga jumlah produksi
E. Teknik Analisis Data FC : Biaya tetap (fixed cost)
Menurut Sugiyono (2015 : 89), VC : Biaya variabel (variable
“Analisis data adalah proses mencari dan cost)
menyusun secara sistematis data yang 2. Penerimaan
diperoleh dari hasil wawancara, catatan TR = P x
lapangan, dan dokumentasi, dengan cara Q
mengorganisasikan data ke dalam kategori, Keterangan :
TR : Penerimaan total R/C > 1 maka usaha mengalami
P : Harga (price) untung
Q : Jumlah produksi 4. Anaslisi BEP (Break Even Point)
3. Analisis R/C Ratio, dalam Menurut Soekartawati (2006)
Soekartawati (2006 : 58) dengan bahwa dalam menentukan Break Event
rumus : Point, maka biaya harus dipisahkan
A = R/C menjadi biaya tetap dan biaya tidak tetap,
R = Py.Y dimana data-data yang diperoleh kemudian
C = FC + VC diolah dan di analisa dengan menggunakan
Sehingga : rumus sebagai berikut :

A= a) BEP Penjualan dalam Rp.


BEP Penjualan (Rp) =
Keterangan :
R = Penerimaan
C = Biaya (cost)
b) BEP dalam Unit
Y = Pengeluaran/output
BEP unit =
Py = Harga output
FC = Biaya tetap
VC = Biaya variabel
Keterangan :
Dengan kriteria jika :
FC = Biaya tetap
R/C < 1 maka usaha mengalami
VC = Biaya variabel
kerugian
P = Harga Jual
R/C = 1 maka usaha mengalami
titik impas (break event
point)

IV. HASIL PENELITIAN DAN dimana pengusaha dapat mengubah faktor-


PEMBAHASAN faktor produksi menjadi barang produksi
1. Produksi sehingga dapat dijual dipasaran. Untuk lebih
Produksi merupakan suatu kegiatan jelasnya mengenai jumlah produksi usaha
menghasilkan atau menambahkan atau meubel di Kecamatan Manggala dapat dilihat
mengubah nilai guna suatu barang sehingga pada tabel berikut :
memiliki nilai ekonomis yang lebih tinggi.
Sama halnya dengan produksi usaha meubel
Tabel 11 : Distribusi responden menurut Tabel 12 : Harga rata-rata barang per unit
jumlah produksi usaha meubel dari usaha meubel di Kecamatan
yang dihasilkan dalam Satu bulan Manggala tahun 2019.
meubel di Kecamatan Manggala No Nama Barang Harga Rata-
tahun 2019.
No Jumlah Produksi Jumlah Persentase rata
(unit) (Orang) (%)
1. Lemari Rp. 2.126.087
1. < 10 6 17
2. Pintu Rp. 1.131.482
2. 10 – 20 12 34
3. Jendela Rp. 414.000
3. > 20 17 49
4. Kuseng Rp. 520.833
Jumlah 35 100
5. Meja & Kursi Rp. 1.070.000
Sumber : Data setelah diolah, tahun 2019.
6. Gerobak Rp. 1.628.571
Berdasarkan tabel 11, menunjukkan
7. Rak Buku Rp. 1.358.333
bahwa dari 35 responden, jumlah yang dapat
Sumber : Data setelah diolah, tahun 2019.
memproduksi kurang dari 10 unit sebanyak 6
Berdasarkan tabel 12 diatas,
responden atau 17% dalam sebulan, dan
menunjukkan bahwa lemari seharga Rp.
jumlah yang dapat memproduksi meubel
2.126.087/unit, pintu seharga Rp.
berkisar 10 – 20 unit sebanyak 12 responden
1.131.482/unit, jendela seharga Rp.
atau 34% dalam sebulan , dan yang terakhir
414.000/unit, kuseng seharga Rp.
jumlah yang dapat memproduksi meubel
520.833/unit, meja & kursi seharga Rp.
berkisar 20 unit keatas sebanyak 17
1.070.000/unit, gerobak seharga Rp.
responden dalam sebulan.
1.628.571/unit kemudian yang terkahir rak
2. Harga
buku seharga Rp. 1.358.333. Harga dari
Harga merupakan penunjang dari
setiap unit barang ditentukan berdasarkan
besarnya pendapatan yang diperoleh para
jenis bahan kayu yang pengrajin gunakan,
pengusaha meubel. Adapun harga barang
semakin mahal harga kayu tersebut maka
usaha meubel yang dijual dapat dilihat pada
semakin tinggi pula harga dari unit barang
tabel berikut :
tersebut.
3. Biaya Produksi
Didalam struktur biaya produksi
dapat dikategorikan dalam biaya tetap dan
biaya variabel. Dimana biaya produksi ini
termasuk biaya yang harus dikeluarkan
dalam mengolah bahan baku dari kayu
menjadi lemari, jendela, pintu, kuseng, meja,
kursi, gerobak, rak buku dan lain sebagainya No Jenis Biaya Variabel Harga
yang siap untuk dijual. 1. Kayu Rp. 2.902.857
a. Biaya tetap 2. Listrik Rp. 580.000
Tabel 13 : Harga peralatan mesin yang 3. Makan dan Minum Rp. 4.238.580
digunakan responden. dalam 30 hari @ Rp.
No Nama Peralatan Harga 4. 141.286 Rp. 454.761
Biaya Perawatan Mesin
1. Mesin Gergaji Rp. 1.360.000
Jumlah Rp. 8.176.468
2. Mesin Jigsaw Rp. 1.275.714
Sumber : Data setelah diolah, tahun 2019.
3. Mesin Ketam Rp. 600.000
Berdasarkan tabel 14 diatas, dapat
4. Mesin Amplas Rp. 444.286
dijelaskan biaya variabel yang dikeluarkan
5. Mesin Bor Rp. 425.714
oleh pengrajin meubel dalam satu bulan
6. Mesin Profil/Rootter Rp. 408.571
dikelurahan yang ada di Kecamatan
7. Mesin Gurinda Rp. 474.286
Manggala, dengan biaya variabel kayu
8. Compressor Rp. 2.517.143 sebesar Rp. 2.902,857, biaya pembayaran
Jumlah Rp. 7.505.714 listrik sebesar Rp. 580.000, dan biaya makan
Sumber : Data setelah diolah, tahun 2019. dan minum dalam hitungan selama 30 hari
Penyusutan = Harga perolehan : umur sebesar Rp. 4.238.580, serta biaya perawatan
ekonomis (hitungan per bulan) mesin Rp. 454.761.
= Rp. 7.505.714 : ( 3 tahun x 12 bulan) = 4. Penerimaan
Rp. 7.505.714 : 36 Mengenai jumlah yang diperoleh
= Rp. 208.492 pengrajin meubel adalah banyaknya yang
Dari hasil perhitungan maka terjual dalam tiap produksi yang dihasilkan
diketahui nilai penyusutan peralatan oleh dengan harga tiap barang berdasarkan model
seluruh pengrajin meubel di Kecamatan dan ukuran yang diiginkan oleh pelanggan.
Manggala selama satu bulan adalah sebesar Jumlah rata-rata produksi yang dihasilkan
Rp. 208.492. secara keseluruhan oleh 35 orang pengrajin
b. Biaya variabel meubel tiap kali produksi dalam satu bulan
Tabel 14 : Biaya rata-rata variabel yang dikeluarkan
adalah 30 unit barang yang terdiri dari 4 unit
pengrajin meubel dalam satu kali
lemari, 4 unit pintu, 7 unit kuseng, 4 unit
produksi di Kecamatan Manggala tahun
jendela, 4 unit meja dan kursi, 4 unit gerobak
2019. serta 3 unit rak buku. Jika dirata-ratakan
maka jumlah masing-masing unit barang
yaitu sebagai berikut :
1. Lemari Harga Jual (P) (Rp.
Rp. 2.126.087 x 4 unit = Rp. 8.504.348 35.062.319)

2. Pintu Total Penerimaan


Rp. 1.051.869.570, -
Rp. 1.168.514 x 4 unit = Rp. 4.674.056
Jumlah Responden
3. Kuseng
35
Rp. 414.000 x 7 unit = Rp. 2.898.000
Total Penerimaan
4. Jendela
Rp. 30.053.416,-
Rp. 522.917 x 4 unit = Rp. 2.091.668
Biaya Tetap (FC)
5. Meja & Kursi Biaya Peralatan Rp. 7.505.714,-
Rp. 1.070.000 x 4 unit = Rp. 4.280.000 Penyusutan Peralatan Rp. 208.492,-
6. Gerobak Total Biaya Tetap (FC) Rp. 7.714.206,-
Rp. 1.628.571 x 4 = Rp. 6.514.248 Biaya Variabel (VC)
7. Rak Buku Kayu Rp. 2.902.857,-

Rp. 2.033.333 x 3 unit = Rp. 6.099.999 Listrik Rp. 580.000,-


Makan dan Minum Rp. 4.945.010,-
Jadi total penerimaan semuanya jika
Biaya Perawatan Mesin Rp. 454.761,-
dijumlahkan secara keseluruhan sebesar Rp.
Upah Rp. 7.878.571,-
35.062.319.
Total Biaya Variabel (VC)
5. Analisis Pendapatan Usaha Pengrajin
Rp. 16.761.199,-
Meubel Total Biaya (TC = FC + VC)
a. Analisis pendapatan usaha pengrajin Rp. 24.475.405,-
meubel dalam Soekartawati (2006: Pendapatan (π = TR – TC)
58) Rp. 5.578.011,-
Pendapatan usaha pengrajin meubel
meliputi penerimaan total dikurangi dengan Berdasarkan tabel 15 diatas maka
semua biaya yang digunakan dalam proses akan diperoleh besarnya pendapatan rata-rata
produksi. Untuk mengetahui pendapatan pengrajin meubel dalam memproduksi
yang diterima oleh pengrajin meubel maka meubel tiap bulannya di Kecamatan
perlu dilakukan analisis pendapatan. Manggala Kota Makassar menunjukkan
bahwa jumlah penerimaan produksi sebesar
Uraian Nilai Rp. 30.053.416 sedangkan jumlah biaya
Penerimaan yang dikeluarkan pengrajin meubel sebesar
Produksi usaha meubel Rp. 24.475.405 maka jumlah pendapatan
Jumlah produksi yang terjual (Q) 30 unit yang diperoleh pengrajin meubel dalam satu
kali produksi dalam 1 bulan adalah Rp.
5.578.011 R/C < 1 maka usaha meubel mengalami
Tabel 16. Analisis pendapatan usaha meubel kerugian
di Kecamatan Manggala Kota
R/C = 1 maka usaha meubel impas (break
Makassar, tahun 2019.
N Metode Analisis Hasil Analisis Kesimpulan event point)
o
R/C > 1 maka usaha meubel menguntungkan
1. Π = Rp. Penerimaan Untung
5.578.011 lebih besar
dari biaya
2. R/C = Rp. Lebih besar Untung Sumber : Data setelah diolah, tahun 2019.
1,22 dari 1
Berdasarkan data diatas, dapat dilihat
b. Analisis R/C Ratio
nilai dan rasio sebesar Rp. 1,22 yang berarti
Dalam penelitian digunakan untuk
bahwa usaha pengrajin meubel di beberapa
mengetahui apakah usaha meubel di
kelurahan yang ada di Kecamatan Manggala
Kecamatan Manggala menguntungkan atau
memberikan keuntungan, artinya bahwa
layak diusahakan. Secara umum analisis R/C
setiap biaya yang dikeluarkan oleh pengrajin
Ratio merupakan perbandingan antara
meubel menghasilkan pendapatan sebesar
penerimaan dengan biaya.
Rp. 1,22.
Untuk mengetahui besarnya
c. Analisis Break Event Point (BEP)
perbandingan antara penerimaan dengan
Menurut Soekartawati (2006) bahwa
pemasukan dapat dihitung dengan
dalam menentukan Break Event Point, maka
menggunakan rumus R/C Ratio :
biaya harus dipisahkan menjadi biaya tetap
a = R/C
dan biaya tidak tetap, dimana data-data yang
R = Rp. 30.053.416
diperoleh kemudian diolah dan di analisa
C = Rp. 24.475.405
dengan menggunakan rumus sebagai berikut
Sehingga :
:
a = Rp. 30.053.416
1. Lemari
Rp. 24.475.405
a. Biaya Tetap Unit : =
a = Rp. 1,22
Dari perhitungan diatas dapat Rp. 2.792.935

disimpulkan bahwa pengrajin meubel di b. Biaya Variabel unit : =


beberapa kelurahan yang ada di Kecamatan
Rp. 44.336
Manggala memperoleh keuntungan sebesar
1). BEP dalam Unit
Rp. 1,22 dengan kriteria yang digunakan
sebagai berikut : BEP unit =

=
= =

= 1 = Rp. 2.417.853
2). BEP Penjualan dalam Rp. 3. Jendela

BEP Penjualan (Rp) = a. Biaya Tetap Unit : = Rp.


2.569.500
BEP Penjualan (Rp) = b. Biaya Variabel unit : = Rp.
40.789
= 1). BEP dalam Unit

BEP unit =
=
=
= Rp. 2.806.970
2. Pintu =
a. Biaya Tetap Unit : = = 7
Rp. 2.379.167 2). BEP Penjualan dalam Rp.

b. Biaya Variabel unit : = Rp. BEP Penjualan (Rp) =


37.768
1). BEP dalam Unit =

BEP unit =
=
=
=
=
= Rp. 2.605.984
= 2 4. Kuseng
2). BEP Penjualan dalam Rp.
a. Biaya Tetap Unit : =
BEP Penjualan (Rp) = Rp. 1.529.464

b. Biaya Variabel unit : = Rp.


=
24.279
1). BEP dalam Unit
=
BEP unit =
= =

= =
= 3 = Rp. 2.619.226
2). BEP Penjualan dalam Rp.

BEP Penjualan (Rp) =


6. Gerobak

a. Biaya Tetap Unit : =


=
Rp. 9.176.786

= b. Biaya Variabel unit : = Rp.

145.675
=
1). BEP dalam Unit
= Rp. 1.552.755
BEP unit =
5. Meja & Kursi

a. Biaya Tetap Unit : = =

Rp. 2.569.500
=
b. Biaya Variabel unit : = Rp.
= 6
40.789 2). BEP Penjualan dalam Rp.
1). BEP dalam Unit
BEP Penjualan (Rp) =
BEP unit =

=
=

= =
= 2
=
= Rp. 9.307.085
2). BEP Penjualan dalam Rp.
7. Rak Buku
BEP Penjualan (Rp) =

a. Biaya Tetap Unit : =


=
Rp. 7.137.500
b. Biaya Variabel unit : = Rp.
dari segi jenis produk satu persatu, terlihat
bahwa jenis produk lemari dan meja dan
113.303
kursi sedikit mengalami kerugian, tetapi jika
1). BEP dalam Unit
dilihat secara keseluruhan maka usaha
BEP unit = meubel ini mengalami keuntungan karena
dari ke dua jenis produk yang mengalami
=
kerugian tertutupi dari kelima jenis produk

= yang mengalami keuntungan yang telah


diproduksi oleh pengrajin meubel. Sebab
= 4
dalam analisis break event point apabila
2). BEP Penjualan dalam Rp. usaha memproduksi lebih dari satu jenis
BEP Penjualan (Rp) = produk maka dianggap konstan (tetap).
Sehingga dapat disimpulkan bahwa :

= 1. Jumlah minimal produk yang harus


terjual dan harus dipertahankan agar
pengrajin tidak mengalami kerugian.
=
2. Untuk mengetahui efek perubahan
= harga jual, biaya, maupun volume
penjualan terhadap laba yang
= Rp. 7.231.510
diperoleh.
Dari hasil analisis pendapatan
sebelumnya bahwa keuntungan yang
PEMBAHASAN
diperoleh pengrajin meubel dalam sekali
Penerimaan yang telah diterima oleh
produksi sebanyak Rp. 35.062.319 dalam 30
pengrajin meubel yang ada di Kecamatan
unit. Sedangkan dari hasil analisis break
Manggala merupakan hasil kali produksi
event point seperti pada gambar kurva diatas
meubel dengan harga jual pada saat
terlihat bahwa usaha pengrajin meubel
produksi. Besarnya penerimaan sangat
dikatakan tidak untung dan tidak pula rugi
tergantung pada hasil produksi dan harga jual
atau dalam hal ini dikatakan impas apabila
usaha meubel. Apabila hasil produksi dan
mencapai keuntungan sebanyak 25 unit
harga jual meubel sangat tinggi maka
dengan total harga Rp. 28.541.383 dengan
penerimaan yang akan didapat oleh pengrajin
jumlah jenis produk sebanyak 7 (Lemari,
akan semakin besar. Begitu pula sebaliknya,
pintu, jendela,kuseng, meja dan kursi,
jika hasil produksi dan harga jual rendah
gerobak dan rak buku). Namun jika dilihat
maka penerimaan yang diperoleh juga
rendah. Hal ini sesuai dengan pendapat terkadang pengrajin mengalami keuntungan
Sukirno (2004: 13) bahwa penerimaan yang cukup besar. Hasil dari penelitian ini
adalah sejumlah uang yang diterima dari dimana usaha meubel memiliki peranan
penjualan produknya kepada pedagang atau penting dalam menentukan kuantitas dan
langsung kepada konsumen”. kualitas produksi meubel. Kualitas kayu
Hasil penelitian ini menunjukkan yang baik dengan harga yang cukup tinggi
bahwa usaha pengrajin meubel yang ada di berpengaruh terhadap produksi meubel di
Kecamatan Manggala mendapatkan Kecamatan Manggala Kota Makassar.
keuntungan dan sangat layak untuk UMR atau Upah Minimum Regional
diusahakan sebagai pendapatan masyarakat adalah suatu standar yang digunakan oleh
setempat. Hal ini terlihat dari rasio para pengusaha dan pelaku industri dalam
penerimaan pengrajin meubel lebih besar memberikan upah kepada pegawai,
dari biaya yang dikeluarkan selama masa karyawan atau buruh di dalam lingkungan
periode atau masa produksi. Terdapat asumsi usaha atau kerjanya. Adanya penerapan gaji
bahwa semakin tinggi tingkat modal yang UMR digunakan untuk melindungi hak para
dimiliki oleh pengrajin meubel maka tenaga kerja dalam mendapatkan upah yang
semakin besar pula pendapatan yang layak dan sesuai dengan beban kerja.
diterima oleh pengrajin. Akan tetapi Berdasarkan Permenaker No. 1 Tahun 1999
pendapatan yang diterima masih terkadang tentang Upah Minimum, UMR terbagi
rendah karena usaha meubel ini tergantung menjadi dua yaitu : UMR tingkat I yang
dari banyaknya permintaan dari konsumen. berada di Provinsi dan UMR tingkat II di
Dari hasil pengumpulan data yan Kota/Kabupaten. Namun dengan adanya
telah dilakukan pada usaha pengrajin meubel Kepmenankertrans No. 226 Th 2000, UMR
di Kecamatan Manggala Kota Makassar tingkat I telah diubah namanya menjadi
terdapat beberapa keluhan dari responden Upah Minimum Provinsi (UMP); dan UMR
yang menyatakan bahwa beberapa tahun tingkat II diubah menjadi Upah Minimum
terakhir ini produksi meubel yang Kabupaten/Kota (UMK).
dihasilkannya tidak maksimal. Hal ini Dewan Pengupahan Kota Makassar,
disebabkan karena harga kayu dari tahun ke akhirnya menetapkan Upah Minimum Kota
tahun semakin mahal seperti kayu bayam, (UMK), menurut Kepala Dinas
maranti, jati, nyatoh, dll. Ditambah lagi Ketenagakerjaan Kota Makassar, Irawan
usaha meubel memproduksi sesuai dengan Bangsawan menjelaskan kenaikan UMK
permintaan pelanggan apabila ada pesanan Makassar sebesar Rp. 2.941.270 atau naik
masuk dalam sistem borongan maka 8,03 % dari sebelumnya Rp. 2.722.631.
Oleh karena itu dapat disimpulkan produksi yang digunakan dalam usaha
bahwa pendapatan yang diperoleh pengrajin meubel maka akan memperoleh keuntungan
sebesar Rp. 5.578.011/bulan lebih besar yang merupakan suatu balas jasa atas apa
dibandingkan dengan penetapan upah yang telah dikerjakan atau diusahakannya
minimum kota yaitu sebesar Rp. 2.941.270 dalam satu bulan tertera atau dalam sekali
sehingga usaha ini dikatakan mengalami masa produksi tertentu.
keuntungan dan layak untuk diusahakan. Berdasarkan hasil analisis ini, telah
Dari penjelasan diatas dapat memberikan jawaban terhadap hipotesis
disimpulkan bahwa dari perbandingan ke yang diajukan sebelumnya bahwa usaha
tujuh jenis meubel diatas yang memberikan pengrajin meubel di Kecamatan Manggala
kontribusi atau keuntungan lebih besar dari menguntungkan dan layak di jadikan sebagai
segi jumlah produk yang terjual dan juga mata pencaharian masyarakat setempat
seluruh biaya yang dikeluarkan baik itu biaya karena dari hasil analisis menunjukkan
tetap maupun biaya variabel yaitu : bahwa rata-rata pengrajin usaha meubel
1. Kuseng mempunyai penghasilan yang cukup besar
2. Pintu dalam sekali produksi.
3. Jendela
4. Lemari V. KESIMPULAN DAN SARAN
5. Meja dan kursi a. Kesimpulan
6. Rak Buku
Berdasarkan hasil penelitian
7. Gerobak
mengenai analisis pendapatan usaha
Hal ini juga tergantung dari
pengrajin meubel di Kecamatan Manggala
permintaan pelanggan dan juga jenis kayu
Kota Makassar, diperoleh kesimpulan
yang diinginkan oleh pelanggan sebab
sebagai berikut :
semakin bagus kualitas kayu maka semakin
1. Pendapatan usaha pengrajin meubel di
mahal pula harga meubel tersebut. Dan juga
Kecamatan Manggala Kota Makassar
jenis kayu yang paling diminati yaitu kayu
cukup besar namun jika dilihat dari segi
jati putih, kayu jati merah, kayu bayam, dan
individual bervariasi dan sangat
kayu nyatoh.
tergantung dari banyaknya permintaan
Konsep pendapatan diatas memiliki
pelanggan.
hubungan dan searah dengan hasil yang
2. Usaha pengrajin meubel di Kecamatan
diperoleh dari usaha meubel, dimana
Manggala Kota Makassar
mengorbankan sejumlah harta yang dimiliki
menguntungkan dan layak di jadikan
pengrajin untuk pemenuhan faktor-faktor
sebagai mata pencaharian masyarakat dengan standar kebutuhan hidup para
setempat karena dari hasil analisis R/C pekerja dan sesuai dengan jumlah
Ratio menunjukkan bahwa rata-rata produk yang telah dibuat.
pengrajin usaha meubel mempunyai
penghasilan yang cukup besar dalam I. DAFTAR PUSTAKA
sekali produksi. Ahmad, Firdaus, dan Abdullah, Wasilah.
b. Saran 2012. “Akuntansi Biaya”. Edisi
Berdasarkan hasil penelitian, adapun 3. Salemba Empat.
saran yang diberikan yaitu:
Asmie, Poniwati. 2008. Analisis Faktor-
1. Untuk meningkatkan produksi dan
Faktor Yang Mempengaruhi
pendapatan usaha meubel maka perlu
Tingkat Pendapatan Pedagang
ditunjang oleh adanya dukungan dari
Pasar Tradisional Di Kota
berbagai faktor-faktor produksi terutama
Yogyakarta. [skripsi].
modal yang cukup karena faktor modal
Yogyakarta: Universitas Gajah
ini sangat signifikan pada peningkatan
Mada.
produksi dibanding variabel lainnya.
Modal yang tinggi dijelaskan mampu Arieffauzz.blogspot.com/2012/07/tentan
mendongkrak produksi, juga secara g-produksi-meubel.html?m=1
langsung meningkatkan pendapatan.
Assauri, Sofian. 2010. Matematika
2. Pemerintah diharapkan dapat
Ekonomi. Jakarta: Rajawali Pers.
meningkatkan jumlah bantuan berupa
modal usaha untuk program UMKM Bungin, Burhan. 2013. Metode
serta memberikan kontrol terhadap harga Penelitian Social & Ekonomi:
bahan baku seperti kayu yang semakin Format-format Kuantitatif dan
mahal, agar dapat meningkatkan hasil Kualitatif Untuk Studi Sosiologi,
produksi usaha meubel. Kebijakan, Publik, Komunikasi,
3. Hendaknya pihak pengrajin lebih Manajemen, dan Pemasaran.
memperhatikan mengenai pentingnya Edisi Pertama. Jakarta: Kencana
memperhatikan biaya faktor-faktor Prenada Media Group.
produksi secara efisien dan efektif, agar
Edilius & Sudarsono. 2001. Kamus
pendapatan yang diperoleh dapat lebih
Ekonomi Uang & Bank. Jakarta:
ditingkatkan atau seimbang dengan
Rineka Cipta.
biaya yang dikeluarkan. Dan juga upah
yang diterima pekerja disesuaikan
Fachmi. 2014. Analisis Produksi dan Kadariah (1994). Teori Ekonomi Mikro.
Pendapatan Industri Meubel di Jakarta: Lembaga Penerbit
Kota Makassar. [skripsi]. Fakultas Ekonomi Universitas
Makassar : Universitas Indonesia.
Hasanuddin.
Kasmir, Jakfar. 2007. Studi Kelayakan
Fair & Case, 2007. Prinsip-prinsip Bisnis. Jakarta : Kencana.
Ekonomi. PT Gelora Aksara
Kuncoro, Haryo. 2001. Sistem Bagi
Pratama. Jakarta : Erlangga.
Hasil dan Stabilitas Penyerapan
Firdausa, Rosetyadi Artistyan dan Fitrie Tenaga Kerja, Media Ekonomi,
Arianti. 2013. “Pengaruh Modal Volume 7, Nomor 2 Hal. 165-
Awal, Lama Usaha Dan Jam 168.
Kerja Terhadap Pendapatan
Koutsoyiannis, A. 2007. Modern
Pedagang Kios Di Pasar Bintoro
Microeconomics. London:
Demak”. Diponegoro Journal Of
McMillan.
Economics. Vol. 2 No. 1. Hal 1-
6. Mahmud. 2011. Metode Penelitian
Pendidikan. Bandung : Cv.
Hayyum. 2017. Analisis Pendapatan
Pustaka Setia.
Usaha Tiram Di Dusun Lajari
Desa Garessi Kecamatan Tanete Mankiw, N Gregory. 2006. Pengantar
Rilau Kabupaten Barru. [skripsi]. Ekonomi. PT. Gelora Aksara
Makassar : Universitas Negeri Pratama. Jakarta : Erlangga.
Makassar.
Mubyarto, 1986. Pengantar Ekonomi
Ivancevich John M. Konopaske Robert. Pertanian. Jakarta : LP3ES.
Matteson Michael T. (2006).
Mulyadi S. 2014. Ekonomi Sumber Daya
Perilaku Dan Manajemen
Dalam Perspektif Pembangunan.
Organisasi. Jakarta: Erlangga.
Depok : PT. Raja Grafindo
Jannah, Raodatul. 2016. Analisis Persada.
Pendapatan Usaha Tani Talas
Munarfah, Andi. 2007. Ekonomi Mikro.
Satoimo Di Kabupaten Bantaeng.
Makassar : Badan Penerbit
[skripsi]. Makassar : Universitas
Universitas Negeri Makassar.
Negeri Makassar.
Nicholson. 2009. Teori Ekonomi Mikro : Suparmoko, M. dan Irawan . 2008.
Prinsip Dasar dan Ekonomi Pembangunan. Edisi
Pengembangannya. Jakarta : PT keenam. Yogyakarta: BPEE.
Raja Grafindo Persada.
Supriyono, R. 2011. Akuntansi Biaya
Rismayana. 2015. Analisis Pendapatan Conventional Costing, Just In
Usaha Meubel Di Kelurahan Time, Based Costing, Refika
Manongkoki Kacamatan Aditama. Bandung.
Polongbangkeng Utara
Sofian Effendi. 2009. Metode Penelitian
Kabupaten Takalar. [skripsi].
Survey. Jakarta : LP3ES.
Makassar : Universitas Negeri
Makassar. Soeharno. 2016. Teori Ekonomi Mikro.
Jakarta : PT. Raja Grafindo
Sugiyono. 2008. Metode Penelitian
Persada.
Kuantitatif, Kualitatif, R&D.
Bandung : Alfabeta. Soekartawati. 2006. Pembangunan
Pertanian. Jakarta : PT. Raja
Sugiyono. 2015. Metode Penelitian
Grafindo Persada.
Kombinasi (Mix Methods).
Bandung : Alfabeta. Undang-undang Republik Indonesia
Nomor 13 Tahun 2003 tentang
Suhardi. 2016. Pengantar Ekonomi
Ketenagakerjaan.
Mikro. Yogyakarta : Penerbit
Gava Media.

Sukirno. 2006. Mikro Ekonomi Teori


Pengantar. Jakarta: PT. Raja
Grafindo Persada.

Sukirno. 2015. Mikro Ekonomi Teori


Pengantar. Jakarta: PT. Raja
Grafindo Persada.

Sumitro Djojohadikusumo. 2005.


Ekonomi Pembangunan. Jakarta:
Pustaka Ekonomi.