y BUDIDAYA TANAMAN KAKAO

Kukuo merupukun suluh sutu komodltus yung sesuul
untuk perkebunun rukyut, kurenu tunumun lnl duput berbungu dun berbuuh sepun|ung tuhun,
sehlnggu duput men|udl sumber penduputun hurlun utuu mlngguun bugl pekebun.
Tunumun Kukuo (Theobromu cucuo)merupukun komodltl Perkebunun Prlmudonu, hul lnl
tergumbur durl bunyuknyu permlntuun blblt Kukuo yung bermutu durl petunl/kelompok tunl.
Hul lnl dldukung oleh bunyuk potensl luhun yung cocok securu ekologls untuk tunumun lnl
dlsumplng hurgu yung cukup stubll dun bulk sehlnggu duput menlngkutkun penduputun dun
kese|uhteruun petunl/musyurukut pertunlun.
Dulum usuhu tunl Kukuo membutuhkun teknlk budlduyu yung bulk dun benur ugur
memperoleh produksl yung optlmul, |ugu memperhutlkun kondlsl llngkungun dun ugrokllmut
dl lokusl pembukuun kebun kukuo hurus sesuul dengun kebutuhun tunumun kukuo.
Syurut Tumbuh Tunumun Kukuo
Tunumun kukuo bulk dltunumun pudu dueruh dengun ketlngglun durl muku luut 0 գ 600
meter dpl, Curuh Hu|un 1250 գ 3000 mm, Suhu 25 գ 30
0
C, Kelembubun Uduru 70 գ 80 %,
Kemlrlngun 0 գ 40
0
, pH tunuh 5 գ 8 dun Intensltus penylnurun 70 գ 80 %.
Klon An|urun :
ICCRI 01, ICCRI 02, DR1, 2 ICS 13, ICS 60
Umur blblt 5 գ 8 bln.
Pemellhuruun Tunumun Kukuo
1. Lukukun penylungun 1 x 1 bulun untuk tunumun mudu dun 1 x 3 bln untuk tunumun
produksl
2. Slslp tunumun yung rusuk dun mutl
3. Gunukun pupuk orgunlk (kompos dun pupuk kundung) dun pupuk buutun (Ureu, TSP,
KCl utuu NPK)
Pemungkusun Tunumun Kukuo dun Penuung
1. Cubung utumu (Jourget) dlpertuhunkun 3 buuh
2. Buung tunus ulr, cubung mengguntung, cubung suklt dun tlduk berproduksl lugl (tuu)
3. Tlnggl tunumun tlduk leblh durl 4 m
Humu Penyuklt
1. Penggerek Buuh Kukuo (Conopomorphu spp)
u) Menyerung buuh kecll dun mudu
b) Hldup duluh buuh dun memukun duglng buuh
c) Buuh musuk leblh uwul dun belung-belung |lnggu
d) Bl|l hltum dun melekut sutu sumu luln
Pengendullun
- Kuruntlnu benlh/blblt
- PsPSP (Punen serlng, Pemungkusun, Sunltusl, Pemupukun)
- Surunglsusl
- Rumpusun (punen besur untuk memutus slklus)
2. Penyuklt Busuk Buuh (Cenduwun Phltopthoru Pulmlvoru)
u) Buuh men|udl coklut-kehltumun mulul durl u|ung buuh utuu pungkul buuh dekut tungkul,
udu |ugu tenguh buuh.
b) Serungun lun|ut seluruh buuh men|udl hltum.
Pengendullun :
- Mekunls : Memetlk buuh yung busuk lulu dlkuburkun.
- Kultur Teknls : Mengutur kelembubun melulul pemungkusun.
- Klmlu : Penyemprotun dengun funglsldu.
Punen dun Puscu Penen
1. Punenluh buuh yung suduh musuk/suduh ter|udl perubuhun wurnu50գ60%,
durlHIJAU KUNING, MERAH JINGGA.
2. Gunukun bendu tu|um, tungkul buuh dlpotong dekut buntulun buuh, tunpu merusuk kullt
butung dun buuh |ungun sumpul terluku.
Pengoluhun Kukuo
1. Pemlllhun buuh kukuo musuk
2. Pemerumun Buuh (5-7) hurl
3. Pemecuhun Buuh
4. Fermentusl (4-6) hurl
5. Perendumun (3 |um) dun Pencuclun (hlnggu 1/2 berslh)
6. Pengerlngun (s/d KA 8%)
7. Sortusl Bl|l
8. Penylmpunun dun Pengemusun.
Kukuo mempunyul nllul |uul yung tlnggl
upubllu kltu mengoluhnyu men|udl coklut, kurenu tlduk mungkln kltu lungsung memukun
kukuo ltu tunpu dloluh terleblh duhulu. Kltu duput mengemus cokelut tersebut dengun
berbugul bentuk yung menurlk, sehlnggu orung-orung terturlk untuk membellnyu.Seluln ltu
kltu |ugu blsu mengekspor bl|l kukuo lnl ke berbugul neguru sehlnggu duput men|udl suluh
sutu devlsu bugl neguru Indoneslu.
Duftur Pustuku
http://www.mull-urchlve.com/ugromunlu@yuhoogroups.com/msg00037.html
http://pertunlun-centre.blogspot.com/2008/10/budl-duyu-tunumun-kukuo.html




1. Pola Tanam dan Tumpang Sari
Usaha tani kakao selalu menghadapi risiko kegagalan panen akibat serangan hama
dan penyakit serta kondisi musim yang tidak mendukung produksi. Fluktuasi harga biji
juga kadang-kadang menyebabkan pekebunan kaka menderita kerugian besar. Laju
peningkatan faktor input yang pelan tetapi pasti, suatu saat tidak bisa diimbangi oleh
peningkatan harga jual produk. Konsekuensinya adalah pekebunan kakao
menyesuaikan penggunaan faktor input pada tingkat yang optimal. Padahal tingkatan
ini berisiko menurunkan kesehatan tanaman dan tingkat produksi.

Risiko kegagalan usaha tersebut dapat ditekan dengan menerapkan diversifikasi
(penganekaragaman) tanaman. Dalam budi daya kakao, peluang melakukan
diversifikasi horisontal cukup luas karena tanaman ini toleran terhadap penaungan.
Pemakaian pohon naungan yang produktif serta tanaman sela yang tepat merupakan
bentuk diversifikasi yang sebaiknya dikembangkan.

Satu-satunya cara meningkatkan produktivitas di lahan kering adalah dengan
tumpang sari (intercropping). Tumpang sari menjamin berhasilnya penanaman
menghadapi iklim yang tidak menentu, serangan hama dan penyakit, serta fluktuasi
harga. Selain itu, dengan pola ini distribusi tenaga kerja dapat lebih baik sehingga
sangat berguna untuk daerah yang padat tanaga, luas lahan pertanian terbatas, serta
modal untuk memberi sarana produksi juga terbatas. Dengan kata lain, usaha tani
tumpang sari berarti meminimalkan risiko dan memaksimalkan keuntungan.
Antar-individu tanaman dan antar jenis tanaman yang diusahakan secara tumpang
sari terjadi interaksi dalam mencari faktor tumbuh cahaya, air, dan unsur hara.
Interaksi ini sering disebut dengan konpetisi (persaingan). Kompetisi akan lebih para
jika salah satu jenis tanaman mengeluarkan zat beracun atau sebagai inang hama dan
penyakit.Keragaman penyebaran serta aktivitas sistem perakaran juga menjadi
penyebab kompetisi. Dengan begitu, persaingan tersebut sangat kompleks dan
merupakan kumpulan dari semua proses yang mengakibatkan tidak meratanya
penyebaran faktor tumbuh antar-individu tanaman. Memperhatikan faktor penyebab
kompetisi dan untuk menghindari dampak negarif yang ditimbulkannya, pemilihan
jenis tanaman yang diusahakan dalam tumpang sari merupakan langkah awal yang
sangat penting.
(Sumber : Panduan Lengkap Budidaya Tanaman Kakao, 2006)
Prospek Jangka Pendek Industri Kakao / Coklat
Apr.21, 2010 in Usaha Perdagangan, Usaha Perkebunan, Usaha Pertanian
Prosepek bagi Pekebun / Petani Kakao / Coklat : Saat ini harga kakao dunia masih
tinggi sehingga petani dan perkebunan dapat memanfaatkan harga yang tinggi ini
dengan meningkatkan pemeliharaan tanaman kakaonya sehingga tingkat
produktivitasnya meningkat. Untuk itu diperlukan penggunaan pupuk dan pembasmi
hama secara intensif.
Selisih harga ditingkat petani dan ditingkat eksportir saat ini membaik karena para
eksportir kesulitan pasok. Pada tahun 2001 harga ditingkat petani hanya sepertiga
harga ditingkat eksportir, sekarang sudah meningkat menjadi lebih dari setengah
harga ditingkat eksportir.
Harga dalam jangka pendek masih akan tetap tinggi karena negara pemasok utama
kakao masih kesulitan meningkatkan kembali produksinya.
Prospek Bagi Industri Pengolahan : Dengan harga biji kakao yang tinggi industri
pengolahan kakao kesulitan mendapat bahan baku, padahal permintaan pasar untuk
kakao olahan ini tinggi. Maka dalam jangka pendek industri pengolahan akan
menghadapi kesulitan dalam mempertahankan kelangsungan produksinya.
Selama ini industri makanan dari coklat mengimpor kakao olahan (Cocoa butter, cocoa
pasta, cocoa powder) untuk kebutuhan industrinya karena lebih mudah
mendapatkannya dari dalam negeri. Akibat menguatnya nilai tukar Rupiah sejak tahun
2002 maka industri makanan olahan dari coklat yang selama ini mengimpor cocoa
powder akan menghadapi kesulitan karena harganya naik. Dengan demikian mereka
akan berpaling kepada industri pengolahan kakao lokal sehingga industri pengolahan
kakao kembali bisa memiliki prospek untuk pasar lokal.
Industri pengolahan mempunyai peluang untuk memanfaatkan Rupiah yang lebih kuat
karena bisa bersaing dengan eksportir asing dalam memperoleh biji kakao. Untuk itu
industri pengolahan kakao harus bisa mendapatkan dana perbankan yang cukup untuk
membiayai pembelian bahan baku biji kakao dari pengumpul atau eksportir lokal.
Sementara itu permintaan terhadap produk olahan kakao didunia saat ini masih cukup
tinggi sehingga peluang ekspor selalu terbuka.

POTENSI KAKAO DI MASA DEPAN
POTENSI KAKAO DI MASA DEPAN
OLEH
CATHERINE JULIANI T, SP,MMA
BALAI BESAR PERBENIHAN DAN PROTEKSI TANAMAN PERKEBUNAN (BBP2TP)
MEDAN

Pada masa yang akan datang komoditas kakao
diharapkan menduduki tempat yang sejajar
dengan komoditi perkebunan lainnya, seperti
kelapa sawit dan karet. Setidaknya dari segi luas
areal pertanaman maupun sumbangannya
kepada negara sebagai komoditi ekspor.
Pengembangan budidaya kakao tentu dengan
tujuan untuk mamanfaatkan lahan yang tersedia, memenuhi konsumsi dan memperoleh devisa
melalaui ekspor serta meningkatkan pendapatan produsen biji kakao.
Kakao merupakan salah komoditas perkebunan yang sesuai untuk perkebunan rakyat, karena
tanaman ini dapat berbunga dan berbuah sepanjang tahun, sehingga dapat menjadi sumber
pendapatan harian atau mingguan bagi pekebun. Sentra penanaman budidaya kakao di
Indonesia diusahakan oleh Perusahaan Perkebunan Negara dan Swasta serta Perkebunan
Rakyat. Lokasi Perusahaan Perkebunan skala besar yang diusahakan negara terletak di
Sumatera Utara, Jawa Tengah dan Jawa Timur, sedangkan Perkebunan rakyat terdapat
terutama di Maluku, Irian Jaya, Sulawesi Utara, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara dan Nusa
Tenggara Timur.
Untuk meningkatkan produksi kakao di Indonesia pemerintah telah menggalakkan pertanaman
kakao baik oleh perkebunan besar maupun perkebunan rakyat. Langkah awal yang harus
dilakukan dalam pengembangan budidaya kakao untuk menghasilkan produksi yang optimal
adalah dengan cara penyediaan bibit yang unggul dan menjaga tanaman selama di pembibitan,
karena kondisi tanaman selama di pembibitan sangat mempengaruhi pertumbuhan dan
produksi kakao.
Pada masa yang akan datang komoditas kakao diharapkan menduduki tempat yang sejajar
dengan komoditi perkebunan lainnya, seperti kelapa sawit dan karet. Setidaknya dari segi luas
areal pertanaman maupun sumbangannya kepada negara sebagai komoditi ekspor.
Pengembangan budidaya kakao tentu dengan tujuan untuk mamanfaatkan lahan yang tersedia,
memenuhi konsumsi dan memperoleh devisa melalaui ekspor serta meningkatkan pendapatan
produsen biji kakao.
Kakao merupakan salah komoditas perkebunan yang sesuai untuk perkebunan rakyat, karena
tanaman ini dapat berbunga dan berbuah sepanjang tahun, sehingga dapat menjadi sumber
pendapatan harian atau mingguan bagi pekebun. Sentra penanaman budidaya kakao di
Indonesia diusahakan oleh Perusahaan Perkebunan Negara dan Swasta serta Perkebunan
Rakyat. Lokasi Perusahaan Perkebunan skala besar yang diusahakan negara terletak di
Sumatera Utara, Jawa Tengah dan Jawa Timur, sedangkan Perkebunan rakyat terdapat
terutama di Maluku, Irian Jaya, Sulawesi Utara, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara dan Nusa
Tenggara Timur.
Untuk meningkatkan produksi kakao di Indonesia pemerintah telah menggalakkan pertanaman
kakao baik oleh perkebunan besar maupun perkebunan rakyat. Langkah awal yang harus
dilakukan dalam pengembangan budidaya kakao untuk menghasilkan produksi yang optimal
adalah dengan cara penyediaan bibit yang unggul dan menjaga tanaman selama di pembibitan,
karena kondisi tanaman selama di pembibitan sangat mempengaruhi pertumbuhan dan
produksi kakao.
Kakao (Theobroma cacao) merupakan tumbuhun berwujud pohonyang berasal
dari Amerlku Selutun. Dari bl|l tumbuhan ini dihasilkan produk olahan yang dikenal
sebagai cokelut. Oleh karena itu kakao bukanlah tanaman asli Indonesia tetapi berasal dari
Meksiko (Amerika Selatan). Sampainya di Indonesia dibawa oleh bangsa Portugis dan kemudian
tanaman kakao diusahakan dalam bentuk perkebunan. Perkebunan itu sebagian besar adalah
milik pemerintah dan ada juga beberapa kebun milik rakyat.
Pada umumnya tanaman kakao tumbuh baik di daerah yang suhu udaranya 27-30
o
C, curah
hujan 3000-4000 mm dengan penyebaran hujan yang merata sepanjang tahun dan tanahnya
berdrainase baik. Daerah yang demikian biasanya mempunyai ketinggian tidak lebih dari 500 m
di atas permukaan laut
Delapan negara penghasil kakao terbesar adalah : (1) Puntul Gudlng (38%) , (2)Ghunu (19%),
(3) Indoneslu (13%, sebagian besar kakao curah), (4) Nlgerlu(5%), (5) Brusll (5%),
(6) Kumerun (5%), (7) Ekuudor (4%) dan (8)Muluyslu (1%). Sedangkan negara-negara lain
menghasilkan 9% sisanya.


&&5.DNDR\DQJEHUPXWXGDULSHWDQLNHORPSRNWDQL +DOLQLGLGXNXQJROHKEDQ\DNSRWHQVLODKDQ\DQJFRFRNVHFDUDHNRORJLVXQWXNWDQDPDQLQL GLVDPSLQJKDUJD\DQJFXNXSVWDELOGDQEDLNVHKLQJJDGDSDWPHQLQJNDWNDQSHQGDSDWDQGDQ NHVHMDKWHUDDQSHWDQLPDV\DUDNDWSHUWDQLDQ 'DODPXVDKDWDQL.PHUXSDNDQNRPRGLWL3HUNHEXQDQ3ULPDGRQDKDOLQL WHUJDPEDUGDULEDQ\DNQ\DSHUPLQWDDQELELW.DNDR .QWHQVLWDVSHQ\LQDUDQ  .HOHPEDEDQ8GDUD  .&6 8PXUELELW EOQ 3HPHOLKDUDDQ7DQDPDQ.ORQ$QMXUDQ ..&6.HPLULQJDQ S+WDQDK GDQ.'5.DNDR 7DQDPDQNDNDREDLNGLWDQDPDQSDGDGDHUDKGHQJDQNHWLQJJLDQGDULPXNDODXW  PHWHUGSO&XUDK+XMDQ PP6XKX &.DNDRPHPEXWXKNDQWHNQLNEXGLGD\D\DQJEDLNGDQEHQDUDJDU PHPSHUROHKSURGXNVL\DQJRSWLPDOMXJDPHPSHUKDWLNDQNRQGLVLOLQJNXQJDQGDQDJURNOLPDW GLORNDVLSHPEXNDDQNHEXQNDNDRKDUXVVHVXDLGHQJDQNHEXWXKDQWDQDPDQNDNDR 6\DUDW7XPEXK7DQDPDQ.&&5.

 /DNXNDQSHQ\LDQJDQ[EXODQXQWXNWDQDPDQPXGDGDQ[EOQXQWXNWDQDPDQ SURGXNVL  6LVLSWDQDPDQ\DQJUXVDNGDQPDWL  *XQDNDQSXSXNRUJDQLN NRPSRVGDQSXSXNNDQGDQJ.

GDQSXSXNEXDWDQ 8UHD763 .&ODWDX13.

DNDRGDQ3HQDXQJ  &DEDQJXWDPD -RXUJHW. 3HPDQJNDVDQ7DQDPDQ.

GLSHUWDKDQNDQEXDK  %XDQJWXQDVDLUFDEDQJPHQJJDQWXQJFDEDQJVDNLWGDQWLGDNEHUSURGXNVLODJL WXD.

DNDR &RQRSRPRUSKDVSS.  7LQJJLWDQDPDQWLGDNOHELKGDULP +DPD3HQ\DNLW  3HQJJHUHN%XDK.

 D.

0HQ\HUDQJEXDKNHFLOGDQPXGD E.

+LGXSGDODKEXDKGDQPHPDNDQGDJLQJEXDK F.

%XDKPDVDNOHELKDZDOGDQEHODQJEHODQJMLQJJD G.

DUDQWLQDEHQLKELELW 3V363 3DQHQVHULQJ3HPDQJNDVDQ6DQLWDVL3HPXSXNDQ.%LMLKLWDPGDQPHOHNDWVDWXVDPDODLQ 3HQJHQGDOLDQ .

 6DUXQJLVDVL 5DPSDVDQ SDQHQEHVDUXQWXNPHPXWXVVLNOXV.

 3HQ\DNLW%XVXN%XDK &HQGDZDQ3KLWRSWKRUD3DOPLYRUD.

 D.

%XDKPHQMDGLFRNODWNHKLWDPDQPXODLGDULXMXQJEXDKDWDXSDQJNDOEXDKGHNDWWDQJNDL DGDMXJDWHQJDKEXDK .

E.

6HUDQJDQODQMXWVHOXUXKEXDKPHQMDGLKLWDP 3HQJHQGDOLDQ 0HNDQLV0HPHWLNEXDK\DQJEXVXNODOXGLNXEXUNDQ .XOWXU7HNQLV0HQJDWXUNHOHPEDEDQPHODOXLSHPDQJNDVDQ .-$8.81.1**$  *XQDNDQEHQGDWDMDPWDQJNDLEXDKGLSRWRQJGHNDWEDQWDODQEXDKWDQSDPHUXVDNNXOLW EDWDQJGDQEXDKMDQJDQVDPSDLWHUOXND 3HQJRODKDQ.DNDR  3HPLOLKDQEXDKNDNDRPDVDN  3HPHUDPDQ%XDK .LPLD3HQ\HPSURWDQGHQJDQIXQJLVLGD 3DQHQGDQ3DVFD3HQHQ  3DQHQODKEXDK\DQJVXGDKPDVDNVXGDKWHUMDGLSHUXEDKDQZDUQD  GDUL+.1*0(5$+-.

KDUL  3HPHFDKDQ%XDK  )HUPHQWDVL .

KDUL  3HUHQGDPDQ MDP.

GDQ3HQFXFLDQ KLQJJDEHUVLK.

$.  3HQJHULQJDQ VG.

  6RUWDVL%LML  3HQ\LPSDQDQGDQ3HQJHPDVDQ .

Fluktuasi harga biji juga kadang-kadang menyebabkan pekebunan kaka menderita kerugian besar. Pola Tanam dan Tumpang Sari Usaha tani kakao selalu menghadapi risiko kegagalan panen akibat serangan hama dan penyakit serta kondisi musim yang tidak mendukung produksi..LWDGDSDWPHQJHPDVFRNHODWWHUVHEXWGHQJDQ EHUEDJDLEHQWXN\DQJPHQDULNVHKLQJJDRUDQJRUDQJWHUWDULNXQWXNPHPEHOLQ\D6HODLQLWX NLWDMXJDELVDPHQJHNVSRUELMLNDNDRLQLNHEHUEDJDLQHJDUDVHKLQJJDGDSDWPHQMDGLVDODK VDWXGHYLVDEDJLQHJDUD. Laju peningkatan faktor input yang pelan tetapi pasti.QGRQHVLD 'DIWDU3XVWDND KWWSZZZPDLODUFKLYHFRPDJURPDQLD#\DKRRJURXSVFRPPVJKWPO KWWSSHUWDQLDQFHQWUHEORJVSRWFRPEXGLGD\DWDQDPDQNDNDRKWPO     1.DNDRPHPSXQ\DLQLODLMXDO\DQJWLQJJL DSDELODNLWDPHQJRODKQ\DPHQMDGLFRNODWNDUHQDWLGDNPXQJNLQNLWDODQJVXQJPHPDNDQ NDNDRLWXWDQSDGLRODKWHUOHELKGDKXOX. Konsekuensinya adalah pekebunan kakao . suatu saat tidak bisa diimbangi oleh peningkatan harga jual produk.

Satu-satunya cara meningkatkan produktivitas di lahan kering adalah dengan tumpang sari (intercropping). pemilihan . Risiko kegagalan usaha tersebut dapat ditekan dengan menerapkan diversifikasi (penganekaragaman) tanaman. usaha tani tumpang sari berarti meminimalkan risiko dan memaksimalkan keuntungan. Selain itu. serangan hama dan penyakit. persaingan tersebut sangat kompleks dan merupakan kumpulan dari semua proses yang mengakibatkan tidak meratanya penyebaran faktor tumbuh antar-individu tanaman. luas lahan pertanian terbatas. Kompetisi akan lebih para jika salah satu jenis tanaman mengeluarkan zat beracun atau sebagai inang hama dan penyakit. Memperhatikan faktor penyebab kompetisi dan untuk menghindari dampak negarif yang ditimbulkannya. Dalam budi daya kakao. air. Antar-individu tanaman dan antar jenis tanaman yang diusahakan secara tumpang sari terjadi interaksi dalam mencari faktor tumbuh cahaya. serta fluktuasi harga. Tumpang sari menjamin berhasilnya penanaman menghadapi iklim yang tidak menentu. Interaksi ini sering disebut dengan konpetisi (persaingan). dengan pola ini distribusi tenaga kerja dapat lebih baik sehingga sangat berguna untuk daerah yang padat tanaga. Pemakaian pohon naungan yang produktif serta tanaman sela yang tepat merupakan bentuk diversifikasi yang sebaiknya dikembangkan. Padahal tingkatan ini berisiko menurunkan kesehatan tanaman dan tingkat produksi. serta modal untuk memberi sarana produksi juga terbatas. Dengan kata lain.Keragaman penyebaran serta aktivitas sistem perakaran juga menjadi penyebab kompetisi. Dengan begitu.menyesuaikan penggunaan faktor input pada tingkat yang optimal. dan unsur hara. peluang melakukan diversifikasi horisontal cukup luas karena tanaman ini toleran terhadap penaungan.

jenis tanaman yang diusahakan dalam tumpang sari merupakan langkah awal yang sangat penting. cocoa powder) untuk kebutuhan industrinya karena lebih mudah mendapatkannya dari dalam negeri. Dengan demikian mereka akan berpaling kepada industri pengolahan kakao lokal sehingga industri pengolahan kakao kembali bisa memiliki prospek untuk pasar lokal. Harga dalam jangka pendek masih akan tetap tinggi karena negara pemasok utama kakao masih kesulitan meningkatkan kembali produksinya.$. 327(16. Untuk itu industri pengolahan kakao harus bisa mendapatkan dana perbankan yang cukup untuk membiayai pembelian bahan baku biji kakao dari pengumpul atau eksportir lokal. Untuk itu diperlukan penggunaan pupuk dan pembasmi hama secara intensif. Usaha Pertanian Prosepek bagi Pekebun / Petani Kakao / Coklat : Saat ini harga kakao dunia masih tinggi sehingga petani dan perkebunan dapat memanfaatkan harga yang tinggi ini dengan meningkatkan pemeliharaan tanaman kakaonya sehingga tingkat produktivitasnya meningkat. Selisih harga ditingkat petani dan ditingkat eksportir saat ini membaik karena para eksportir kesulitan pasok. Sementara itu permintaan terhadap produk olahan kakao didunia saat ini masih cukup tinggi sehingga peluang ekspor selalu terbuka. Usaha Perkebunan.21. padahal permintaan pasar untuk kakao olahan ini tinggi. 2006) Prospek Jangka Pendek Industri Kakao / Coklat Apr. Maka dalam jangka pendek industri pengolahan akan menghadapi kesulitan dalam mempertahankan kelangsungan produksinya. Industri pengolahan mempunyai peluang untuk memanfaatkan Rupiah yang lebih kuat karena bisa bersaing dengan eksportir asing dalam memperoleh biji kakao. sekarang sudah meningkat menjadi lebih dari setengah harga ditingkat eksportir. 2010 in Usaha Perdagangan. (Sumber : Panduan Lengkap Budidaya Tanaman Kakao.$2'. Pada tahun 2001 harga ditingkat petani hanya sepertiga harga ditingkat eksportir. Prospek Bagi Industri Pengolahan : Dengan harga biji kakao yang tinggi industri pengolahan kakao kesulitan mendapat bahan baku. Selama ini industri makanan dari coklat mengimpor kakao olahan (Cocoa butter.0$6$'(3$1 POTENSI KAKAO DI MASA DEPAN . cocoa pasta.. Akibat menguatnya nilai tukar Rupiah sejak tahun 2002 maka industri makanan olahan dari coklat yang selama ini mengimpor cocoa powder akan menghadapi kesulitan karena harganya naik.

Irian Jaya. Jawa Tengah dan Jawa Timur. Setidaknya dari segi luas areal kepada pertanaman negara maupun sumbangannya ekspor. Sulawesi Selatan. Lokasi Perusahaan Perkebunan skala besar yang diusahakan negara terletak di Sumatera Utara. SP. sedangkan Perkebunan rakyat terdapat terutama di Maluku. memenuhi konsumsi dan memperoleh devisa melalaui ekspor serta meningkatkan pendapatan produsen biji kakao. Kakao merupakan salah komoditas perkebunan yang sesuai untuk perkebunan rakyat. Sulawesi Tenggara dan Nusa . Sentra penanaman budidaya kakao di Indonesia diusahakan oleh Perusahaan Perkebunan Negara dan Swasta serta Perkebunan Rakyat. seperti kelapa sawit dan karet. sebagai komoditi Pengembangan budidaya kakao tentu dengan tujuan untuk mamanfaatkan lahan yang tersedia. karena tanaman ini dapat berbunga dan berbuah sepanjang tahun. Sulawesi Utara. sehingga dapat menjadi sumber pendapatan harian atau mingguan bagi pekebun.OLEH CATHERINE JULIANI T.MMA BALAI BESAR PERBENIHAN DAN PROTEKSI TANAMAN PERKEBUNAN (BBP2TP) MEDAN Pada masa yang akan datang komoditas kakao diharapkan menduduki tempat yang sejajar dengan komoditi perkebunan lainnya.

Tenggara Timur. Irian Jaya. Sulawesi Selatan. karena kondisi tanaman selama di pembibitan sangat mempengaruhi pertumbuhan dan produksi kakao. seperti kelapa sawit dan karet. Setidaknya dari segi luas areal pertanaman maupun sumbangannya kepada negara sebagai komoditi ekspor. Pengembangan budidaya kakao tentu dengan tujuan untuk mamanfaatkan lahan yang tersedia. . karena tanaman ini dapat berbunga dan berbuah sepanjang tahun. sedangkan Perkebunan rakyat terdapat terutama di Maluku. Langkah awal yang harus dilakukan dalam pengembangan budidaya kakao untuk menghasilkan produksi yang optimal adalah dengan cara penyediaan bibit yang unggul dan menjaga tanaman selama di pembibitan. Untuk meningkatkan produksi kakao di Indonesia pemerintah telah menggalakkan pertanaman kakao baik oleh perkebunan besar maupun perkebunan rakyat. Sulawesi Utara. sehingga dapat menjadi sumber pendapatan harian atau mingguan bagi pekebun. Lokasi Perusahaan Perkebunan skala besar yang diusahakan negara terletak di Sumatera Utara. Jawa Tengah dan Jawa Timur. Kakao merupakan salah komoditas perkebunan yang sesuai untuk perkebunan rakyat. memenuhi konsumsi dan memperoleh devisa melalaui ekspor serta meningkatkan pendapatan produsen biji kakao. Sentra penanaman budidaya kakao di Indonesia diusahakan oleh Perusahaan Perkebunan Negara dan Swasta serta Perkebunan Rakyat. Pada masa yang akan datang komoditas kakao diharapkan menduduki tempat yang sejajar dengan komoditi perkebunan lainnya. Sulawesi Tenggara dan Nusa Tenggara Timur.

. Kakao (Theobroma cacao) merupakan WXPEXKDQ berwujud SRKRQyang berasal dari $PHULND 6HODWDQ. Pada umumnya tanaman kakao tumbuh baik di daerah yang suhu udaranya 27-30oC. (7) (NXDGRU (4%) dan (8)0DOD\VLD (1%). Sampainya di Indonesia dibawa oleh bangsa Portugis dan kemudian tanaman kakao diusahakan dalam bentuk perkebunan. (5) %UDVLO (5%). curah hujan 3000-4000 mm dengan penyebaran hujan yang merata sepanjang tahun dan tanahnya berdrainase baik. Langkah awal yang harus dilakukan dalam pengembangan budidaya kakao untuk menghasilkan produksi yang optimal adalah dengan cara penyediaan bibit yang unggul dan menjaga tanaman selama di pembibitan. (3) .Untuk meningkatkan produksi kakao di Indonesia pemerintah telah menggalakkan pertanaman kakao baik oleh perkebunan besar maupun perkebunan rakyat.DPHUXQ (5%). Oleh karena itu kakao bukanlah tanaman asli Indonesia tetapi berasal dari Meksiko (Amerika Selatan). (6) . Sedangkan negara-negara lain menghasilkan 9% sisanya. karena kondisi tanaman selama di pembibitan sangat mempengaruhi pertumbuhan dan produksi kakao. Daerah yang demikian biasanya mempunyai ketinggian tidak lebih dari 500 m di atas permukaan laut Delapan negara penghasil kakao terbesar adalah : (1) 3DQWDL *DGLQJ (38%) . sebagian besar kakao curah). Perkebunan itu sebagian besar adalah milik pemerintah dan ada juga beberapa kebun milik rakyat. (2)*KDQD (19%).QGRQHVLD (13%. Dari ELML tumbuhan ini dihasilkan produk olahan yang dikenal sebagai FRNHODW. (4) 1LJHULD(5%).

 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful