Anda di halaman 1dari 8

NASKAH TUGAS TUTORIAL KE-3

HUKUM PAJAK
UNIVERSITAS TERBUKA
Nama : Abel Manuah
NIM : 041725484
SOAL 1
Sebagian masyarakat ada yang berpendapat bahwa retribusi daerah sama dengan pajak daerah.
Retribusi daerah dan pajak daerah memang keduanya merupakan salah satu sumber pendapatan
pemerintah yang penting untuk membiayai pembangunan, bersifat dipaksakan dan dibebankan
kepada masyarakat. Silakan Saudara jelaskan apakah yang dimaksud dengan retribusi daerah dan
pajak daerah? Jelaskan pula bagaimana tata cara pemungutan retribusi daerah?

Jawaban
Pajak adalah pungutan wajib yang dibayar rakyat untuk negara dan akan digunakan untuk
kepentingan pemerintah dan masyarakat umum. Rakyat yang membayar pajak tidak akan
merasakan manfaat dari pajak secara langsung, karena pajak digunakan untuk kepentingan
umum, bukan untuk kepentingan pribadi. Sedangkan retribusi adalah pungutan Daerah sebagai
pembayaran atas jasa atau pemberian izin tertentu yang khusus disediakan dan/atau diberikan
oleh Pemerintah Daerah untuk kepentingan orang pribadi atau Badan. Berdasarkan dua
pengertian diatas, kita dapat menjabarkan antara perbedaan pajak dan retribusi.

Perbedaan Pajak dan retribusi adalah sebagai berikut :


1. Pajak
a. Dasar Hukum
Sebagaimana diatur dalam UUD 1945 Pasal 23A, disebutkan bahwa Pajak dan pungutan lain
yang bersifat memaksa untuk keperluan negara diatur dengan undang-undang.
b.Balas Jasa
Pajak merupakan salah satu sarana pemerataan pendapatan warga negara. Jadi ketika membayar
pajak dalam jumlah tertentu, Anda tidak langsung menerima manfaat pajak yang dibayar, yang
akan Anda dapatkan berupa perbaikan jalan raya di daerah Anda, fasilitas kesehatan gratis bagi
keluarga, beasiswa pendidikan bagi anak Anda, dan lain-lainnya.
c. Objek Pajak
Objek pajak bersifat umum contohnya pajak penghasilan, pajak barang mewah, pajak kendaraan
bermotor
d. Sifat Pajak
Pajak menurut Undang-undang pemungutannya dapat dipaksakan sehingga bila tidak membayar
pajak ada konsekuensi yang harus ditanggung.
e. Lembaga Pemungut
Berdasarkan lembaga yang memungutnya pajak dapat dibagi menjadi dua, yaitu Pajak Negara
yang pemungutannya dilakukan oleh Direktorat Pajak dan Pajak Daerah yang pemungutannya
dilakukan oleh organisasi perangkat daerah yang ditunjuk misalnya Badan Pendapatan Daerah
atau Dinas Pelayanan Pajak.
f. Tujuan
Secara umum tujuan yang dapat dicapai dari diberlakukannya pajak adalah untuk mencapai
kondisi meningkatnya ekonomi suatu negara yaitu (1) untuk membatasi konsumsi dan dengan
demikian mentransfer sumber dari konsumsi ke investasi. (2) untuk mendorong tabungan dan
menanam modal. (3) untuk mentransfer sumber dari tangan masyarakat ke tangan pemerintah
sehingga memungkinkan adanya investasi sumber dari tangan masyarakat ke tangan pemerintah
sehingga memungkinkan adanya investasi pemerintah. (4) untuk mmodifikasi pola investasi. (5)
untuk mengurangi ketimpangan ekonomi dan (6) untuk memobilisasi surplus ekonomi (Nurkse,
1971) dalam (Muchlis, 2002).

2. Retribusi
a. Dasar Hukum
Retribusi dipungut berdasarkan Peraturan Pemerintah, Peraturan Menteri, atau Peraturan Daerah.
b. Balas Jasa
Balas jasa kepada wajib retribusi dapat dirasakan langsung, contohnya retribusi kebersihan
(sampah) manfaatnya dapat dirasakan langsung dengan diangkutnya sampah wajib retribusi oleh
petugas.
c. Objek Retribusi
Orang atau Badan yang menggunakan atau mendapatkan jasa atau izin yang diberikan oleh
pemerintah.
d. Sifat Retribusi
Dapat dipaksakan dengan sifat yang ekonomis hanya kepada orang atau badan yang
menggunakan atau mendapatkan jasa atau izin yang diberikan oleh pemerintah.
e. Lembaga Pemungut
Retribusi dipungut oleh pemerintah daerah.
f. Tujuan
Retribusi memiliki tujuan untuk memberikan jasa atau ijin kepada masyarakat sehingga mereka
dapat melaksanakan kegiatan mereka serta mendapatkan pelayanan dari pemerintah.

Tata cara pemungutan retribusi menurut Undang-undang Nomor 28 Tahun 2009 adalah sebagai
berikut :
BAB IX
PEMUNGUTAN RETRIBUSI
Bagian Kesatu
Tata Cara Pemungutan
Pasal 160
(1) Retribusi dipungut dengan menggunakan SKRD atau dokumen lain yang dipersamakan.
(2) Dokumen lain yang dipersamakan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat berupa karcis,
kupon, dan kartu langganan.
(3) Dalam hal Wajib Retribusi tertentu tidak membayar tepat pada waktunya atau kurang
membayar, dikenakan sanksi administratif berupa bunga sebesar 2% (dua persen) setiap
bulan dari Retribusi yang terutang yang tidak atau kurang dibayar dan ditagih dengan
menggunakan STRD.
(4) Penagihan Retribusi terutang sebagaimana dimaksud pada ayat (3) didahului dengan Surat
Teguran.
(5) Tata cara pelaksanaan pemungutan Retribusi ditetapkan dengan Peraturan Kepala Daerah.
SOAL 2
Apabila petugas retribusi memberikan perhitungan kepada pembayar retribusi, dan pembayar
retribusi tidak menyetujui hasil perhitungan tersebut. Menurut Saudara apakah pembayar
retribusi dapat mengajukan keberatan? Jika bisa, apakah syarat pengajuan keberatan tersebut
dan bagaimana penyelesaiannya? Jelaskan!

Menurut Undang-undang Nomor 28 Tahun 2009 adalah sebagai berikut :


Bagian Ketiga
Keberatan
Pasal 162
(1) Wajib Retribusi tertentu dapat mengajukan keberatan hanya kepada Kepala Daerah atau
pejabat yang ditunjuk atas SKRD atau dokumen lain yang dipersamakan.
(2) Keberatan diajukan secara tertulis dalam bahasa Indonesia dengan disertai alasan-alasan
yang jelas.
(3) Keberatan harus diajukan dalam jangka waktu paling lama 3 (tiga) bulan sejak tanggal
SKRD diterbitkan, kecuali jika Wajib Retribusi tertentu dapat menunjukkan bahwa jangka
waktu itu tidak dapat dipenuhi karena keadaan di luar kekuasaannya.
(4) Keadaan di luar kekuasaannya sebagaimana dimaksud pada ayat (3) adalah suatu keadaan
yang terjadi di luar kehendak atau kekuasaan Wajib Retribusi.
(5) Pengajuan keberatan tidak menunda kewajiban membayar Retribusi dan pelaksanaan
penagihan Retribusi.
Pasal 163
(1) Kepala Daerah dalam jangka waktu paling lama 6 (enam) bulan sejak tanggal Surat
Keberatan diterima harus memberi keputusan atas keberatan yang diajukan dengan
menerbitkan Surat Keputusan Keberatan.
(2) Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah untuk memberikan kepastian hukum
bagi Wajib Retribusi, bahwa keberatan yang diajukan harus diberi keputusan
oleh Kepala Daerah.
(3) Keputusan Kepala Daerah atas keberatan dapat berupa menerima seluruhnya atau sebagian,
menolak, atau menambah besarnya Retribusi yang terutang.
(4) Apabila jangka waktu sebagaimana dimaksud pada ayat (1) telah lewat dan Kepala Daerah
tidak memberi suatu keputusan, keberatan yang diajukan tersebut dianggap dikabulkan.
Pasal 164
(1) Jika pengajuan keberatan dikabulkan sebagian atau seluruhnya, kelebihan pembayaran
Retribusi dikembalikan dengan ditambah imbalan bunga sebesar 2% (dua persen) sebulan
untuk paling lama 12 (dua belas) bulan.
(2) Imbalan bunga sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dihitung sejak bulan pelunasan sampai
dengan diterbitkannya SKRDLB.

SOAL 3
Pada tanggal 5 Januari 2021 Dirjen Pajak menerbitkan Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar
(SKPKB) yang ditujukan pada PT. Alhanan sebesar Rp 10.000.000 dengan batas pelunasan
pembayarannya pada tanggal 5 Februari 2021. Pembayaran tetap atas angsuran tersebut sebesar
Rp 1.666.667,-.

a. Jika, PT. Alhanan diperbolehkan untuk mengangsur pembayaran pajak dalam jangka
waktu 6 bulan, maka hitunglah jumlah angsuran pertama sampai dengan lunasnya?

Dalam hal Wajib Pajak disetujui untuk mengangsur pembayaran pajak kecuali untuk utang
pajak berupa Surat Tagihan Pajak, Wajib Pajak dikenai sanksi administrasi berupa bunga sebesar
2% (dua Persen) per bulan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19 ayat (2) UU KUP yang
dihitung sejak jatuh tempo pembayaran sampai dengan pembayaran angsuran/pelunasan, dengan
ketentuan bagian dari bulan dihitung penuh 1 (satu) bulan.

Bunga tersebut dihitung berdasarkan saldo utang pajak dan ditagih dengan menerbitkan Surat
Tagihan Pajak pada setiap tanggal jatuh tempo angsuran atau pada tanggal pembayaran.

Sanksi administrasi berupa bunga untuk setiap angsuran dihitung sebagai berikut:

• angsuran ke-1 : 2% x Rp10.000.000 = Rp 200.000

Total Angsuran = Rp. 1.666.667 + Rp 200.000

= Rp. 1.866.667
• angsuran ke-2 : 2% x Rp8.333.333 = Rp 166.667

Total Angsuran = Rp. 1.666.667 + Rp 166.667

= Rp. 1.833.334

• angsuran ke-3 : 2% x Rp6.666.666 = Rp 133.333

Total Angsuran = Rp. 1.666.667 + Rp 133.333

= Rp. 1.800.000

• angsuran ke-3 : 2% x Rp4.999.999 = Rp 100.000

Total Angsuran = Rp. 1.666.667 + Rp 100.000

= Rp. 1.766.667

• angsuran ke-4 : 2% x Rp3.333.332 = Rp 66.667

Total Angsuran = Rp. 1.666.667 +Rp 66.667

= Rp. 1.733.334

• angsuran ke-5 : 2% x Rp1.666.665 = Rp 33.333

Total Angsuran = Rp. 1.666.667 +Rp 33.333

= Rp. 1.700.000
b. Jika, PT. Alhanan diperbolehkan untuk menunda pembayaran pajaknya hingga 30 Juli
2021, maka hitunglah jumlah yang harus dibayarkan PT. Alhanan pada saat pembayaran
atas penundaan tersebut?

Dalam hal Wajib Pajak disetujui untuk menunda pembayaran pajak kecuali untuk utang pajak
berupa Surat Tagihan Pajak, Wajib Pajak dikenai sanksi administrasi berupa bunga sebesar
2% (dua Persen) per bulan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19 ayat (2) UU KUP yang
dihitung sejak jatuh tempo pembayaran sampai dengan pembayaran/pelunasan, dengan
ketentuan bagian dari bulan dihitung penuh 1 (satu) bulan.

Bunga tersebut dihitung berdasarkan saldo utang pajak dan ditagih dengan menerbitkan Surat
Tagihan Pajak pada tanggal jatuh tempo penundaan atau pada tanggal pembayaran.

Sanksi administrasi berupa bunga atas penundaan pembayaran Surat Ketetapan Pajak Kurang
Bayar tersebut sebesar adalah 6 bulan x 2% x Rp10.000.000 = Rp 1.200.000

SOAL 4
PT. Sinar Pelangi merupakan perusahaan yang menjual peralatan komputer seperti laptop, PC,
monitor, dll. Pada tanggal 21 Maret 2021 PT. Sinar Pelangi menjual 30 unit monitor kepada PT.
Mutiara yang akan dibayarkan pada tanggal 5 Juni 2021 via transfer Bank. Monitor tersebut
dijual dengan harga Rp 1.500.000/unit dan belum termasuk PPN. Kedua perusahaan tersebut
sepakat bahwa PPN ditanggung oleh pembeli sehingga menambahkan harga jualnya.

Diminta:
a. Hitunglah besaran PPN dan PPh 23 yang dikenakan dari transaksi di atas?

PPN Terutang atas transaksi tersebut

= 10 % x DPP

= 10 % x Rp. 1.500.000 x 30

= Rp. 4.500.000

Untuk transaksi diatas tidak termasuk objek PPh pasal 23


b. Buatlah jurnal-jurnal yang dibutuhkan dari transaksi di atas pada PT. Sinar Pelangi?

Tanggal Keterangan Debit Kredit

21 Maret 2021 Piutang dagang Rp. 49.500.000

PPN Keluaran Rp. 4.500.000

Penjualan Rp. 45.000.000

5 Juni 2021 Kas Rp. 49.500.000

Piutang dagang Rp. 49.500.000

c. Buatlah jurnal-jurnal yang dibutuhkan dari transaksi di atas pada PT. Mutiara

Tanggal Keterangan Debit Kredit

21 Maret 2021 Pembelian Rp. 45.000.000

PPN Masukan Rp. 4.500.000

Piutang dagang Rp. 49.500.000

5 Juni 2021 Piutang dagang Rp. 49.500.000

Kas Rp. 49.500.000

Anda mungkin juga menyukai