Anda di halaman 1dari 5

Nama : Abel Manuah

NIM : 041725484

Pembinaan iman di Paroki Santo Antonious Padua Kotabaru

Perkembangan ilmu dan teknologi pada masa dewasa ini membawa perubahan besar
terhadap kehidupan manusia. Banyaknya tawaran-tawaran dunia modern sekarang ini tanpa
disadari membuat umat beriman khususnya kaum muda mengalami kesulitan untuk
memperdalam imannya

Kenyataan hidup yang dialami kaum muda dengan tawaran-tawaran kemajuan ilmu dan
teknologi sekarang ini sangat dirasakan dampaknya terutana pada kaum muda. Kaum muda yang
diharapkan dapat menjadi generasi penerus bangsa terbius oleh tawaran dunia sehingga
mengalami kesulitan mengatasi segala tantangan yang ada. Sebab banyak kaum muda sekarang
ini mudah terjebak dalam tawaran dunia yang begitu halus sehingga mudah sekali masuk ke
dalam budaya hedonis, pengkonsumsi narkoba, pergaulan bebas dan bahkan sampai tindakan
aborsi. Hadirnya tawaran dan budaya instan itu membuat dampak yang begitu besar bagi
perkembangan pribadi kaum muda khususnya dalam perkembangan hidup beriman. Dalam
dinamika kaum muda sekarang ini tidak sedikit kaum muda yang tidak mampu bertahan dalam
proses dan mudah menyerah terhadap tantangan dalam kenyataan hidupnya.

Dalam buku yang berjudul Gereja dan Politik Djiwandono mengatakan “ Secara umum
kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) yang cepat dan semaking canggih sering
dilihat sebagai tantangan bagi iman keagamaan. Tantangan ini bisa dikhawatirkan menjadi
tantangan utama kaum muda, yang pada umumnya dianggap lebih rawan terhadap pengaruh luar
dan tanggap pada perubahan dan gagasan-gagasan baru sebagaimana yang terus menerus
ditawarkan oleh iptek

Kcnyataan hidup kaum muda yang disebutkan itu mencnjukan adanya kerapuhan dan
kelemahan yang merintangi usaha pencarian, pendewasaan, pembatinan nilai, sehingga semakin
menumbuhkan perasaan tidak senang, pertanyaan yang membingungkan, bahkan kesulitan
untuk mengambil kcputusan yang berkaitan dengan masa depannya.
Kesulitan untuk mencontoh. mengambil keputusan dan mengatasi tantangan-tantangan
tersebut juga dapat kita jumpai pada kaum muda dalem Gereja. Dalam hal ini saya membahas
pada pendewasaan iman khsusnya pergulatan iman kaum muda dalam hidup menggereja di
Paroki St. Antonius Kotabaru Yogyakarta. Kaum muda di Paroki St. Antonius Kotabaru
Yogyakarta pada masa ini banyak yang kurang tertarik untuk terlibat dalam kehidupan kegiatan
menggereja. Bila tertarik pun hanya pada kegiatan amal saja yang saya perhatikan hanya untuk
mengisi waktu luang di sela-sela kesibukan kaum muda bergaul maupun bersekolah.

Kesibukan disini dapat diartikan pclarian dari iman. pendalaman hati dau jiwa. juga
pelarian dari doa. Dengan kata lain tidak tahan menyepi sendirian bcrhadapan dengan Tuhan
secara pribadi dan jujur dalam mcncari tugas perutusannya di dunia ini khususnya dalam
mcngcmban panggillan hidup menggereja. Mereka juga cenderung kurang peduli deugun hal-hal
yang ada kaitannya dengau kegiatan pcndalaman rohani. Kalaupun muncul lahir kclompok
atau komunitas gerakan kcrohanian, mereka sangat mudah sekali disusupi oleh roh-roh lain yang
mcmbuat kelompok atau komunitas itu saling mcmusuhi dan akhimya kegiatan menggereja itu
menjadi kering.

Banyak kaum muda mudah mcngalami patah semaugat serta mudah putus asa dalam
menghadapi persoalan: studi. karir. keluarga. Relasi bahkan sampai melakukan tindakan yang
bertentangan dengan nilai-nilai Kristiani. Hal ini membuktikan kedewasaan iman kaum muda
di paroki pada masa ini banyak yang tidak dewasa dan dipertanyakan keberadaan kedewasaan
imannya.

Berbicara mengenai kaun muda dengan kedewasaannya tidak terlepas dari pendidikan
iman itu sendiri yang sangat mempengaruhi perkembangan pribadi kaum muda. Dalam hal ini
Drost meugatakan: Kaum muda perlu rnendapar kebebasan guna mcecmpuh sebuah jalan hidup
yang memungkinkan mereka mcnjadi pribadi yang sepenuhnya dewasa.

Pendapat Drost ini merupakan masukan yang sangat berharga untuk proses
pcmbinaan kaum muda. Besar kemungkinan bahwa gagasan pembinaan ini bisa juga diterapkan
untuk pembinaan iman di paroki, dengan harapan bahwa kaum muda diberi kesempatan dan
kemudahan untuk berkreatifita demi mengembangkan imannya. Situasi semacam ini banyak
sekali memunculkan permasalahan dan keprihatian dari pihak paroki. Paroki Santo Antonious
Padua Kotabaru menyikapinya dengan proaktif, merangkul duduk bersama, berkomunikasi
dengan hati dan dengan semangat jiwa kaum muda. Salah satu bentuk kegiatan itu adalah
melibatkan kaum muda untuk hidup menggereja serta memberikan kemudahan kepada kaum
muda dalam berproses mendewasakan imannya.

Paroki Santo Antonious Padua Kotabaru adalah salah satu Paroki yang mau belajar dalam
menanggapi keprihatinan kaum muda di atas. Paroki ini merupakan Paroki terbuka dan
merangkul siapa saja yang mau terlibat di dalamnya, termasuk diantaranya kaum muda. Namun
tidak begitu mudah mengikuti keinginan dan pola piker kaum muda. Mereka cenderung bersikap
kurang peduli terhadap segala betuk kegiatan yang bersifat pendalaman rohani yang mengarah
pada proses pendewasaan iman. Mereka lebih menyukai kegiatan yang bersifat hura-hura serta
terkesan pelarian.

Kaum muda sebagai generasi penerus bangsan dan sekaligus tulang punggung Gereja
hendaknya memiliki iman yang dewasa. Untuk memiliki iman yang dewasa, maka kaum muda
perlu dipersiapkan melalui berbagai macam pembinaan. Pembinaan iman bagi kaum muda di
Paroki Santo Antonious Padua Kotabaru sudah dilaksanakan oleh Bidang Pengembangan Kaum
Muda Dewan Pastoral Paroki Santo Antonious Padua Kotabaru. Salah satu kegiatan pembinaan
iman yang sudah dilaksanakan oleh Bidang Pengembangan Kaum Muda Dewan Pastoral Paroki
Santo Antonious Padua Kotabaru adalah kegiatan-kegiatan yang tergabung dalam komunitas
kategorial misalnya sharing kitab suci, pendalaman iman antar komunitas-komunitas yang
tergabung dalam lingkuh kategorial dan kegiatan lain yang berupa pelayanan umat yang dating
ke Paroki Santo Antonious Padua Kotabaru diantaranya adalah : PATEMON, Komunitas Koor,
HOMBY, 2535, EKM, Teater dan lain-lain.

Kegiatan kegiatan pekayanan di seputar liturgi tersebut diminati oleh kaum muda Paroki
Santo Antonious Padua Kotabaru. Untuk pembinaan iman melalui kegiatan yang mengarah pada
proses pendewasaan iman dimana aspek pewartaan, kesaksian dan perutusan belum terlaksana
dengan baik karena banyak kaum muda tidak serius menanggapi panggilan hidup menggereja
serta mudah terjebak dalam budaya instan, egoism, kesenangan dan kenikmatan praktis.
Pembinaan komunitas lingkup territorial seperti MUDIKA di tiap-tiap lingkungan juga tidak
terlalu berfungsi.

Kegiatan MUDIKA juga bervariasi dalam mengembangkan usahanya, seperti beberapa


Lingkungan yang ada mencoba tetap bertahan meneruskan kegiatan MUDIKA. yang telah
dirintis oleh para pendahulunya. Kegiatan MUDIKA tetap berjalan karena proses regenerasi
sungguh diperhatikan. Artinya sebelum terjadi pergantian pengurus, sudah ada tenaga yang
dipersiapkan untuk mengganti sehingga ketika terjadi pergantian pengurus baru sudah ada
tenaganya, sedangkan beberapa Lingkungan yang lain sudah mati. Penyebabnya adalah:
permasalahan pribadi, di mana di antara MUDIKA ada yang merasa minder untuk mengikuti
kegiatan karena sudah lama tidak aktif; kesenjangan usia sehingga kalau tidak ada teman sebaya
tidak mau datang; tuntutan tugas dari sekolah atau tempat kerja. Selain itu juga karena jumlah
MUDIKA di Lingkungan hanya sedikit sehingga kegiatan MUDIKA tidak jalan. Ada pula
MUDIKA yang di Lingkungan tidak aktif karena lebih suka mengikuti kegiatan di komunitas
atau di gereja lain yang lebih maju kegiatannya. Di dalam organisasi MUDIKA sendiri juga
terjadi pergesekan Antara pengurus dan anggotanya yang disebabkan oleh ketidakpuasan
anggota terhadap pengurus yang kurang mampu mempertanggungjawabkan tugas yang telah
dipercayakan kepadanya. Contohnya meninggalkan tugas kepengurusan begitu saja karena
mendapat tugas di luar kota. Hal ini menunjukkan lemahnya sistim organisasi dalam MUDIKA
tersebut. Selain itu juga problem keluarga menyangkut keadaan ekonomi di mana orang tua
menuntut para anggota keluarga untuk bersama-sama berusaha bekerja mencari nafkah untuk me
nghidupi keluarganya. Selain itu juga situasi dan kondisi tempat kerja yang kurang
memungkinkan MUDIKA untuk dapat membagi waktunya antara kerja dan kegiatan MUDIKA.

Peran orang tua dalam mendorong dan mendukung putra-putrinya untuk terlibat, baik itu
di Lingkungan Gereja maupun masyarakat sangat penting. Hal ini dipengaruhi oleh pendidikan
nilai yang telah ditanamkan para orang tua sejak anak masih kecil. Segala sesuatu yang diperoleh
pada masa anak-anak itulah yang akan dikembangkan ketika menginjak dewasa. Apabila sejak
usia dini anak telah ditanamkan atau dididik untuk melibatkan diri dalam kegiatan hidup
menggereja seperti PIA, rajin ikut misa mingguan, rajin berdoa bersama dalam keluarga,
mengikuti pendalaman iman Lingkungan, dll, maka sikap yang telah ditanamkan sejak masa
anak-anak inilah yang nantinya akan membuahkan hasil. Hasil itu adalah mereka aktif terlibat
dalam kegiatan di Lingkungan Gereja dan masyarakat dengan kesadaran serta kebebasan bukan
hanya sekedar ikut- ikutan, karena diajak teman atau karena tidak mempunyai teman. Selain itu
juga ada beberapa orang tua yang masih memiliki anggapan bahwa sekolah adalah yang utama
sedangkan kegiatan MUDIKA itu kurang penting. Menurut orang tua kegiatan MUDIKA banyak
menyita waktu dan tenaga anak sehingga mengurangi porsi anak untuk belajar. Dengan kata lain
orang tua memiliki ketakutan kalau kegiatan MUDIKA dapat mengganggu proses belajar
anaknya. Mereka lupa bahwa MUDIKA adalah generasi penerus Gereja.

Penyebab lain adalah kurangnya kesediaan dari para orang tua untuk merelakan dirinya
menjadi pendamping MUDIKA. MUDIKA dibiarkan berjalan sendirian dalam menjalankan
kegiatannya sehingga tidak rutin dilakukan. Oleh karena itu kurangnya pendampingan bagi
MUDIKA secara berkesinambungan dan terus menerus menyebabkan mereka merasa berjalan
sendirian. Meskipun disadari bahwa tidak selamanya MUDIKA harus menggantungkan diri
kepada generasi tua tetapi paling tidak, masih ada bentuk perhatian yang diberikan oleh para
orang tua. Perhatian itu dapat berupa memberikan dukungan dan motivasi bagi MUDIKA untuk
bergerak mewujudkan potensi dan imannya melalui keterlibatan mereka, baik di dalam
Lingkungan Gereja maupun masyarakat.

Kesadaran dan peranan kaum tua yang kurang berani memberi kepercayaan kepada
MUDIKA untuk bergerak dan terlibat dengan leluasa mengekspresikan diri dalam kegiatan
Gereja juga masih kuat mewarnai kegiatan di paroki Baciro. Hal ini disebabkan oleh budaya
Jawa yang menganggap bahwa orang tua yang layak berada di barisan paling depan terhadap
jalannya perkembangan keagamaan. Selain itu juga karena orang-orang yang terlibat dalam reksa
pastoral merasa masih mampu sehingga MUDIKA hanya sekedar membantu. Para orang tua
kurang menyadari akan potensi yang dimiliki MUDIKA, di mana mereka memiliki kemampuan
menjadi penggerak bagi sesama kaum muda sendiri.

Kegiatan yang mengarah pada proses pendewasaan iman kurang dimintati oleh
kebanyakan kaum muda di lingkup Pastoral Paroki Santo Antonious Padua Kotabaru. Hal ini
memperlihatkan bahwa pembinaan iman bagi kaum muda di Pastoral Paroki Santo Antonious
Padua Kotabaru belum berjalan dengan baik.