Anda di halaman 1dari 5

NASKAH TUGAS TUTORIAL KE-2

AKUNTANSI SEKTOR PUBLIK


UNIVERSITAS TERBUKA

Nama : Abel Manuah


NIM : 041725484

SOAL 1
Terdapat beberapa stadar yang diterapkan pada sector publik salah satunya adalah standar
pelayanan minimal (SPM)

Pertanyaan:

Kemukakan apa yang diketahui tentang standar pelayanan minimal, apa unsur-unsur dasar dalam
menentukan standar pelayanan minimal dan berikan contoh penerapannya pada sektor publik!

Jawab

Berdasarkan PP No 2 tahun 2018 tentang Standar Pelayanan Minimal

Urusan Pemerintahan Wajib yang berkaitan dengan Pelayanan Dasar terdiri atas:

a. Pendidikan;

b. Kesehatan;

c. Pekerjaan umum dan penataan ruang;

d. Perumahan rakyat dan kawasan permukiman;

e. Ketenteraman, ketertiban umum, dan pelindungan masyarakat; dan

f. Sosial.

Materi muatan SPM mencakup:

a. Jenis Pelayanan Dasar;


b. Mutu Pelayanan Dasar; dan
c. Penerima Pelayanan Dasar.

Contoh penerapan dalam sektor publik adalah dalam pasal 5

(i) Pasal 5

1. SPM pendidikan mencakup SPM pendidikan Daerah provinsi dan SPM pendidikan
Daerah kabupaten/kota.
2. Jenis Pelayanan Dasar pada SPM pendidikan Daerah provinsi terdiri atas:
a. pendidikan menengah; dan
b. pendidikan khusus.
3. Jenis Pelayanan Dasar pada SPM pendidikan Daerah kabupaten/kota terdiri atas:
a. pendidikan anak usia dini;
b. pendidikan dasar; dan
c. pendidikan kesetaraan.

Pemerintah Daerah wajib menyediakan fasilitas pendidikan sesuai dengan Standar Pelayanan
Minimal diatas seperti contohnya Sekolah Dasar, Sekolah Menengah, Sekolah Luar Biasa DLL

SOAL 2
Terdapat standar akuntansi dalam sektor publik yang diterapkan untuk melakukan pemeriksaan
keuangan negara

Pertanyaan:

Kemukakan hal apa yang biasanya dilakukan dalam proses pemeriksaan keuangan negara!
Jelaskan dan berikan contoh kegiatannya!
Jawab

Berdasarkan amanat pasal 23 ayat (5) UUD 1945, Badan Pemeriksa Keuangan bertugas untuk
memeriksa pengelolaan dan tanggung jawab keuangan negara yang dilakukan oleh Pemerintah
Pusat, Pemerintah Daerah, Lembaga Negara lainnya, Bank Indonesia, Badan Usaha Milik Negara,
Badan Layanan Umum, Badan Usaha Milik Daerah, dan lembaga atau badan lain yang mengelola
keuangan negara. Kemudian dituangkan lebih lanjut dalam Pasal 4 ayat (1) UU Nomor 15 Tahun
2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara jo Pasal 6 ayat (3)
UU BPK Nomor 15 Tahun 2006 tentang Badan Pemeriksa Keuangan.

Terdapat tiga jenis pemeriksaan yang dilaksanakan oleh BPK, yaitu: pemeriksaan keuangan,
pemeriksaan kinerja,dan pemeriksaan dengan tujuan tertentu.

Pemeriksaan keuangan adalah pemeriksaan atas laporan keuangan pemerintah pusat dan
pemerintah daerah. Pemeriksaan keuangan ini dilakukan oleh BPK dalam rangka memberikan
pernyataan opini tentang tingkat kewajaran informasi yang disajikan dalam laporan keuangan
pemerintah. Pemeriksaan keuangan bertujuan untuk memberikan keyakinan yang memadai
(reasonable assurance) bahwa laporan keuangan telah disajikan secara wajar dalam semua hal
material, sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum, atau basis akuntansi komprehensif
selain prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia. Pemeriksaan atas laporan keuangan
dilakukan setelah laporan keuangan disusun oleh objek pemeriksaan (kementerian/lembaga,
pemerintah pusat, pemerintah daerah), dan diserahkan kepada BPK paling lambat 3 bulan setelah
tahun anggaran dimaksud berakhir.

Pemeriksaan kinerja adalah pemeriksaan atas aspek ekonomi dan efisiensi, serta pemeriksaan
atas aspek efektivitas yang lazim dilakukan bagi kepentingan manajemen oleh aparat pengawasan
intern pemerintah. Pasal 23E Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945
mengamanatkan BPK untuk melaksanakan pemeriksaan kinerja pengelolaan keuangan negara.
Tujuan pemeriksaan ini adalah untuk mengidentifikasikan hal-hal yang perlu menjadi perhatian
lembaga perwakilan. Adapun untuk pemerintah, pemeriksaan kinerja dimaksudkan agar kegiatan
yang dibiayai dengan keuangan negara/daerah diselenggarakan secara ekonomis dan efisien, serta
memenuhi sasarannya secara efektif. Maksud pemeriksaan adalah untuk memberikan rekomendasi
yang dapat mendorong ke arah perbaikan. Contoh pemeriksaan kinerja yang dilakukan BPK di
antaranya adalah kinerja atas efektivitas pengelolaan dana desa, kinerja atas efektivitas
penyelenggaraan program jaminan kesehatan nasional, serta kinerja atas pengelolaan dana
pendidikan melalui program BOS dan PIP. Pemeriksaan kinerja atas suatu tema tidak dilakukan
rutin setiap tahun, melainkan berdasarkan perencanaan prioritas pemeriksaan yang telah disusun
sebelumnya.

Pemeriksaan dengan tujuan tertentu, atau biasa disebut dengan PDTT, adalah adalah
pemeriksaan yang dilakukan dengan tujuan khusus, di luar pemeriksaan keuangan dan
pemeriksaan kinerja. Termasuk dalam pemeriksaan tujuan tertentu ini adalah pemeriksaan atas
hal-hal lain yang berkaitan dengan keuangan dan pemeriksaan investigatif. PDTT dalam bentuk
pemeriksaan kepatuhan keuangan bertujuan untuk menilai apakah hal pokok yang diperiksa sesuai
(patuh) dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Sedangkan PDTT dalam bentuk
pemeriksaan investigatif bertujuan untuk mengungkap adanya indikasi kerugian negara/daerah
dan/atau unsur pidana. Contoh pemeriksaan kepatuhan yang dilakukan BPK di antaranya adalah
PDTT atas belanja daerah, PDTT atas belanja modal infrastruktur, serta PDTT atas pendapatan
daerah. Sebagaimana halnya dengan pemeriksaan kinerja, PDTT atas suatu tema tertentu juga
tidak dilakukan rutin setiap tahun, melainkan berdasarkan perencanaan prioritas pemeriksaan yang
telah disusun sebelumnya. Contoh pemeriksaan investigatif yang dilakukan BPK adalah
pemeriksaan investigatif atas PT Asuransi Jiwasraya. Pemeriksaan investigatif biasanya dilakukan
karena adanya permintaan dari Aparat Penegak Hukum atas suatu kasus tertentu.
SOAL 3
Terdapat beberapa pendekatan yang dilakukan oleh pemerintah dalam perencanaan publik
diantaranya adalah pendekatan top down dan pendekatan buttom up.

Pertanyaan:

Jelaskan perbedaan pendekatan top down dan pendekatan buttom up dan kemukakan pendekatan
mana yang tepat digunakan dalam sistem pemerintahan desentralisasi!

Jawab

Perbedaan Top-down Bottom-up


Fokus awal Kebijakan pemerintah Jaringan implementasi pd
(pusat) dari level paling bawah
Identifikasi aktor utama Dari pusat (atas) Dari bawah, yaitu para
dilanjutkan ke bawah sbg implementer pada level
konsekuensi implementasi lokal ke atas
Kriteria evaluasi Berfokus pada pencapaian Kurang begitu jelas, apa saja
tujuan formal yg yang dianggap peneliti
dinyatakan dlm dokumen penting dan pny relevansi
kebijakan dgn kebijakan
Fokus secara keseluruhan Bagaimana mekanisme Interaksi strategis antar
implementasi bekerja berbagai aktor yang
untuk mencapai tujuan terlibat dlm implementasi
kebijakan

Sistem pemerintahan desentralisasi menggunakan pendekatan bottom-up, Dengan adanya UU


No. 22 tahun 1999, tentang pemerintahan daerah kepala daerah diberi wewenang yang luas untuk
mengurus dan mengatur kepentingan masyarakat daerahnya sesuai dengan prakarsa sendiri
berdasarkan aspirasi masyarakat (UU No. 22 th. 1999 pasal 1, huruf h). Pemberian wewenang
yang luas tidak berarti apabila tidak dibarengi dengan pemberian wewenang atas pengelolaan
keuangan yang memadai (UU No. 22 Th. 1999, pasal 8 ayat 1 dan 2) Tujuan pemberian
kewenangan dalam penyelenggaran otonomi daerah adalah meningkatkan kesejahteraan rakyat,
pemerataan dan keadilan sosial.
Seperti yang kita ketahui tujuan dari adanya desentralisasi ini adalah mencapai sasaran
pembangunan (Kuncoro, 2004) seperti:
1. Meningkatkan laju pertumbuhan ekonomi daerah.
2. Meningkatkan pendapatan per kapita.
3. Mengurangi kemiskinan, pengangguran dan ketimpangan.
SOAL 4
Terdapat enam sistem penganggaran publik yaitu line item budgeting, performance budgeting,
incremental budgeting, planning programing budgeting system, zero based budgeting dan medium
term budgeting framework.

Pertanyaan:

Dari keenam sistem penganggaran yang ada, sistem manakah yang tepat digunakan dalam
perencanaan jangka panjang, jelaskan!
Jawab
Menurut saya, sistem penganggaran yang tepat digunakan dalam perencanaan jangka panjang
adalah Planning Progamming Budgeting System, sistem penganggaran ini merupakan proses
perencanaan, pembuatan program, dan penganggaran yang terkait dalam suatu sistem sebagai
kesatuan yang bulat dan tidak terpisah, yang didalamnya terkandung identifikasi tujuan organisasi
serta permasalahan yang mungkin timbul. Proses pengorganisasian , pengoordinasian, dan
pengawasan terhadap semua kegiatan yang diperlukan, serta pertimbangan atas implikasi
keputusan terhadap berbagai kegiatan dimasa yang akan datang. Pada hakikatnya, berbagai jenis
anggaran yang muncul belakangan memiliki karakter yang lebih rasional dibandingkan line-item
budgeting. PPBS berusaha merasionalkan proses pembuatan anggaran dengan cara menjabarkan
rencana jangka panjang kedalam program-program, sub-program, serta berbagai proyek
Konsepsi pokok PPBS adalah sebagai berikut:
(1)Tujuan: menjadi pengarah menuju hasil yang akan diperoleh ataupun pelayanan dan jasa-jasa
yang akan diberikan.
(2) Alternatif cara : menyajikan pilihan dari serangkaian cara ataupn tindakan.
(3) Hasil guna: berkaitan dengan pengukuran atas tingkat keberhasilan tindakan dalam rangka
pencapaian tujuan.
(4) Dimensi waktu: memperkirakan perspektif secara tahunan dalam mempertimbangkan akibat
dari tuntutan yang diproyeksikan pada masa mendatang.
(5) Prioritas: berkaitan dengan penentuan tindakan yang diutamakan, akan diambil kriteria
pilihan tertentu.
(6) Pengendalian/pengawasan: pengendalian/pengawasan ketatalaksanaan yang terintegrasikan,
berkaitan dengan sistem pelaporan dan aliran balik informasi

Anda mungkin juga menyukai