Anda di halaman 1dari 3

NASKAH TUGAS LAB PPN dan PPnBM

UNIVERSITAS TERBUKA
SEMESTER: 2020/21.1

Fakultas : Hukum Ilmu Sosial dan Ilmu Politik


Program Studi : D-III Perpajakan
Kode/Nama MK : PAJA3355/Lab PPN dan PPnBM
Tugas : 6
Nama : Abel Manuah
NIM : 041725484

No Soal Skor
1. Pada tanggal 10 Maret 2019, Ahmad memulai pelaksanaan pendirian sebuah bangunan
untuk usaha di atas tanah seluas 300 m2 yang terletak di Jalan. Melati Nomor 10
Bandung dengan luas bangunan 250 m2 . Pelaksanaan bangunan tersebut dilakukan dan
diawasi sendiri. Catatan yang berkaitan dengan pengeluaran untuk pembelian bahan
bangunan dan lain-lain dalam rangka pembangunan gedung tersebut adalah sebagai
berikut.
 April 2019 Rp.100.000.000,00 40
 Mei 2019 Rp.127.000.000,00
 Juni 2019 Rp.373.000.000,00
 Juli 2019 Rp.258.000.000,00
Bangunan selesai bulan Juli 2019 dan digunakan sebagai tempat usaha bengkel.
Hitung PPN yang harus dibayar dan kapan batas penyetorannya!
2.  PT Bangun Jaya pengusaha kena pajak bergerak dalam bidang developer real
estate pada bulan Desember 2019 membangun sendiri sebuah gedung yang
digunakan untuk kantor pemasaran. Dalam bulan Desember 2015 dikeluarkan
biaya sebesar Rp165.000.000,-.
 PT Serasi adalah PKP industri garmen. Dalam bulan Mei 2019 sedang
membangun sendiri sebuah gedung untuk outlet seluas 480m2. Dalam bulan 30
Mei 2019 dikeluarkan biaya sebesar Rp180.000.000,- termasuk PPN atas
pembelian bahan bangunan sebesar Rp26.000.000
Apakah transaksi berikut terutang PPN? Jelaskan justifikasi Saudara disertai dasar
hukum dan penghitungannya!

3. Percetakan Tulisanku adalah PKP yang bergerak di bidang percetakan buku-buku dan
majalah olahraga terkenal di Ibu Kota Jakarta. Pada tahun 2019 ini berencana menjual
mesin cetak yang selama ini digunakan sebagai alat produksinya sebesar
Rp500.000.000,00. Mesin ini menurut UU PPN adalah barang produksi yang pajak
masukannya ketika membeli tahun 2010 sebesar Rp70.000.000,00 dapat dikreditkan
30
dan sudah dikreditkan pada saat pembelian, yaitu bulan September tahun 2010.
Disamping mesin, juga akan dijual TV dan kulkas seharga masing-masing
Rp.1.000.000,00 dan Rp.700.000,00.
Hitunglah PPN terutang yang harus dibayar oleh Percetakan Tulisanku dan jelaskan
Analisa anda terkait transaksi diatas!
1. PPN KMS = Tarif x 20% x DPP

April 2019 Rp. 100.000.000,00


PPN atas KMS
= 10% x 20% x 100.000.000
= Rp 2.000.000

-Mei 2019 PPN atas KMS


= 10% x 20% x 127.000.000
= Rp. 2.540.000

Juni 2019 PPN atas KMS


= 10% x 20% x 373.000.000
= Rp. 7.460.000

Juli 2019 PPN atas KMS


= 10% x 20% x 258.000.000
= Rp. 5.160.000

Untuk batas penyetoran PPN KMS adalah Tanggal 15 bulan berikutnya


PPN atas KMS April 2019 disetor paling lambat 15 Mei 2019
PPN atas KMS Mei 2019 disetor paling lambat 15 Juni 2019
PPN atas KMS Juni 2019 disetor paling lambat 15 Juli 2019
PPN atas KMS Juli 2019 disetor paling lambat 15 Agustus 2019

2. Asumsi “Dalam bulan Desember 2015 dikeluarkan biaya sebesar Rp165.000.000,-.” Adalah
kesalahan ketik, seharusnya “Dalam bulan Desember 2019 dikeluarkan biaya sebesar
Rp165.000.000,-.”

a. Berdasarkan PMK 163/PMK.03/2012 Pasal 2 yaitu :

Kegiatan membangun sendiri sebagaimana dimaksud adalah kegiatan membangun


bangunan yang dilakukan tidak dalam kegiatan usaha atau pekerjaan oleh orang pribadi atau
badan yang hasilnya digunakan sendiri atau digunakan pihak lain.
Bangunan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) berupa satu atau lebih konstruksi teknik
yang ditanam atau dilekatkan secara tetap pada satu kesatuan tanah dan/atau perairan dengan
kriteria:
a. konstruksi utamanya terdiri dari kayu, beton, pasangan batu bata atau bahan sejenis,
dan/atau baja;
b. diperuntukkan bagi tempat tinggal atau tempat kegiatan usaha; dan
c. luas keseluruhan paling sedikit 200m2 (dua ratus meter persegi).
Penjelasan dari poin B yaitu, Untuk tempat tinggal/usaha pribadi adalah bangunan berstatus
kena pajak jika digunakan sebagai hunian maupun tempat usaha pribadi, misalnya, membuka
warung, toko, bisnis jasa, dan lain sebagainya.
Dasar Pengenaan Pajak atas kriteria diatas adalah 20% (dua puluh persen) dari jumlah
biaya yang dikeluarkan dan/atau yang dibayarkan untuk membangun bangunan, tidak termasuk
harga perolehan tanah. Pajak Pertambahan Nilai terutang sebagaimana dimaksud dalam Pasal
2 dihitung dengan cara mengalikan tarif 10% (sepuluh persen) dengan Dasar Pengenaan
Pajak.

PPN KMS = Tarif x 20% x DPP


= 10 % x 20% x Rp. 165.000.000
= Rp 3.300.000

b. Berdasarkan PMK 163/PMK.03/2012 Pasal 10


Pajak Masukan yang dibayar sehubungan dengan kegiatan membangun sendiri tidak dapat
dikreditkan.

PPN KMS = Tarif x 20% x DPP


= 10 % x 20% x Rp. 180.000.000
= Rp. 3.600.000

3. PPN terutang atas penyerahan aktiva yang menurut tujuan semula tidak untuk diperjual belikan
(Pasal 16D)
Penjualan Mesin Produksi sebesar Rp. 500.000.000, dikenakan PPN 16 D karena :
1. yang melakukan penyerahan atau pemindahtanganan adalah Pengusaha Kena Pajak;
2. perolehan aktiva tersebut bukan untuk diperjualbelikan atau sebagai barang dagangan.
3. perolehan aktiva tersebut berhubungan langsung dengan kegiatan usaha dan bukan jenis
kendaraan sedan dan station wagon.
PPN 16 D
= 10% x Rp. 500.000.000
= Rp. 50.000.000

Untuk transaksi TV dan kulkas seharga masing-masing Rp.1.000.000,00 dan Rp.700.000,00.


Menurut saya tidak dikenakan PPN 16D karena menurut Penjelasan UU PPN pasal 9 ayat (8) huruf
b

“Yang dimaksud dengan pengeluaran yang langsung berhubungan dengan kegiatan usaha adalah
pengeluaran untuk kegiatan produksi, distribusi, pemasaran, dan manajemen. Ketentuan ini
berlaku untuk semua bidang usaha. Agar dapat dikreditkan, Pajak Masukan juga harus memenuhi
syarat bahwa pengeluaran tersebut berkaitan dengan adanya penyerahan yang terutang Pajak
Pertambahan Nilai. Oleh karena itu, meskipun suatu pengeluaran telah memenuhi syarat adanya
hubungan langsung dengan kegiatan usaha, masih dimungkinkan Pajak Masukan tersebut tidak
dapat dikreditkan, yaitu apabila pengeluaran dimaksud tidak ada kaitannya dengan penyerahan
yang terutang Pajak Pertambahan Nilai.”

Anda mungkin juga menyukai