Anda di halaman 1dari 38

NASKAH AKADEMIK (PEMERINTAH) 10 MEI 2007

NASKAH AKADEMIK

RANCANGAN UNDANG-UNDANG
TENTANG
SUSUNAN DAN KEDUDUKAN
MAJELIS PERMUSYAWARATAN RAKYAT,
DEWAN PERWAKILAN RAKYAT, DEWAN
PERWAKILAN DAERAH,
DAN DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH

DEPARTEMEN DALAM NEGERI


REPUBLIK INDONESIA
TAHUN 2007

CETRO 1
NASKAH AKADEMIK (PEMERINTAH) 10 MEI 2007

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar belakang
Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun
1945 mengamanatkan bahwa Negara Republik Indonesia adalah negara yang
berkedaulatan rakyat yang dalam pelaksanaannya menganut prinsip kerakyatan
yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan.
Untuk melaksanakan kedaulatan rakyat atas dasar kerakyatan yang
dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan, perlu
diwujudkan lembaga permusyawaratan rakyat, lembaga perwakilan rakyat, dan
lembaga perwakilan daerah yang mampu mencerminkan nilai-nilai demokrasi serta
dapat menyerap dan memperjuangkan aspirasi rakyat termasuk kepentingan
daerah sesuai dengan tuntutan perkembangan kehidupan berbangsa dan
bernegara.
Sejalan dengan perkembangan kehidupan ketatanegaraan dan politik
bangsa, termasuk perkembangan dalam susunan dan kedudukan lembaga
permusyawaratan dan lembaga perwakilan dengan keberadaan lembaga
perwakilan daerah sebagai komponen baru dalam sistem keparlemenan Indonesia,
telah dibentuk Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2003 tentang Susunan dan
Kedudukan Majelis Permusyawaratan Rakyat, Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan
Perwakilan Daerah, dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah, yang dimaksudkan
sebagai upaya penataan susunan dan kedudukan majelis permusyawaratan rakyat,
dewan perwakilan rakyat, dewan perwakilan daerah, dan dewan perwakilan rakyat
daerah dalam rangka mewujudkan lembaga permusyawaratan rakyat, lembaga
perwakilan rakyat, dan lembaga perwakilan daerah.
Untuk mengembangkan kehidupan demokrasi dalam penyelenggaraan
pemerintahan daerah, perlu diwujudkan lembaga perwakilan rakyat daerah sebagai
unsur penyelenggara pemerintahan daerah yang bersama-sama dengan
pemerintah daerah mampu mengatur dan mengurus urusan pemerintahan dan
kepentingan masyarakat setempat berdasarkan aspirasi masyarakat dalam sistem
Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Untuk mewujudkan lembaga permusyawaratan/perwakilan yang lebih
mampu mencerminkan nilai-nilai demokratis dan memperjuangkan aspirasi rakyat
dan daerah sesuai perkembangan kehidupan berbangsa dan bernegara perlu
penataan kembali susunan dan kedudukan Majelis Permusyawaratan Rakyat,
Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah, dan Dewan Perwakilan
Rakyat Daerah sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Dasar Negara
Republik Indonesia Tahun 1945.
Berdasarkan pertimbangan tersebut di atas dipandang perlu untuk
membentuk Undang-undang (UU) tentang Susunan dan Kedudukan MPR, DPR,
DPD, dan DPRD, sebagai penyempurnaan Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2003
tentang Susunan dan Kedudukan Majelis Permusyawaratan Rakyat, Dewan
Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah, dan Dewan Perwakilan Rakyat
Daerah, dalam rangka meningkatkan peran dan tanggung jawab lembaga
permusyawaratan rakyat, lembaga perwakilan rakyat, dan lembaga perwakilan

CETRO 2
NASKAH AKADEMIK (PEMERINTAH) 10 MEI 2007

daerah untuk mengembangkan kehidupan demokrasi, menjamin keterwakilan rakyat


dan daerah dalam melaksanakan tugas dan kewenangannya, serta
mengembangkan mekanisme checks and balances antara lembaga legislatif dan
eksekutif serta meningkatkan kualitas, produktivitas, dan kinerja anggota lembaga
permusyawaratan rakyat, lembaga perwakilan rakyat, dan lembaga perwakilan
daerah demi mewujudkan keadilan dan kesejahteraan rakyat.

B. Maksud dan tujuan


1. Maksud
Pembentukan UU tentang Susunan dan Kedudukan MPR, DPR, DPD, dan
DPRD dimaksudkan untuk melakukan penyempurnaan atas UU Nomor 22 Tahun
2003 tentang Susunan dan Kedudukan MPR, DPR, DPD, dan DPRD, khususnya
penyempurnaan atas sejumlah materi pengaturan kelembagaan yang terkait
dengan peningkatan kinerja MPR, DPR, DPD, dan DPRD dan anggota-
anggotanya.

2. Tujuan
Tujuan pembentukan UU tentang Susunan dan Kedudukan MPR, DPR,
DPD, dan DPRD adalah terbentuknya undang-undang sebagai landasan hukum
yang kuat bagi pemantapan MPR, DPR, DPD, dan DPRD sebagai lembaga
permusyawaratan rakyat, lembaga perwakilan rakyat, lembaga perwakilan daerah,
dan lembaga perwakilan rakyat daerah, sehingga pelaksanaan kedaulatan rakyat
atas dasar kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam
permusyawaratan/ perwakilan, serta pengembangan demokrasi dalam
penyelenggaraan pemerintahan negara dan pemerintahan daerah, dapat terwujud.

C. Landasan penyempurnaan
1. Landasan filosofis
Secara filosofis, pembentukan UU tentang Susunan dan Kedudukan MPR,
DPR, DPD, dan DPRD diperlukan sebagai upaya pengaktualisasian nilai-nilai
demokrasi dalam penyelenggaraan kehidupan bernegara dan berpemerintahan.
Kehadiran lembaga-lembaga negara dalam bentuk lembaga permusyawaratan
rakyat, lembaga perwakilan rakyat, dan lembaga perwakilan daerah sesungguhnya
adalah cerminan nilai-nilai demokrasi dalam hidup bernegara dan berpemerintahan.
Melalui lembaga-lembaga tersebut, penyerapan dan penyaluran aspirasi rakyat dan
daerah dalam proses dan tata kelola kenegaraan dan kepemerintahan diharapkan
dapat berlangsung dengan baik.

2. Landasan politik
Sejalan dengan pemikiran filosofis di atas, pembentukan UU tentang
Susunan dan Kedudukan MPR, DPR, DPD, dan DPRD juga diperlukan dalam
rangka mewujudkan tata kelembagaan negara dan pemerintahan yang
mencerminkan aktualisasi prinsip checks and balances dalam pengelolaan
kekuasaan. Sebagaimana telah ditegaskan dalam UUD Negara Republik Indonesia

CETRO 3
NASKAH AKADEMIK (PEMERINTAH) 10 MEI 2007

Tahun 1945 Hasil Amandemen, mandat pengelolaan kekuasaan negara secara


institusional telah diberikan kepada sejumlah lembaga negara dan pemerintahan,
yang pada domain perwakilan politik berada pada lembaga permusyawaratan
rakyat, lembaga perwakilan rakyat, dan lembaga perwakilan daerah, serta lembaga
perwakilan rakyat daerah. Kehadiran lembaga-lembaga tersebut merupakan suatu
keharusan dan kebutuhan bagi berlangsungnya proses pengelolaan kekuasaan
yang akuntabel, terkontrol, dan seimbang, terutama dalam kerangka perwujudan
penyelenggaraan pemerintahan negara dan daerah yang berwatak demokratis,
jauh dari watak otoriterian, dan tidak terpusat pada eksekutif, terutama pada
Presiden di tingkat nasional serta pada gubernur dan bupati/walikota di tingkat
daerah.

3. Landasan sosiologis
Pembentukan UU tentang Susunan dan Kedudukan MPR, DPR, DPD, dan
DPRD pada dasarnya tidak hanya bermakna filosofis dan politik, tetapi juga
memiliki makna sosiologis. Kehadiran lembaga-lembaga permusyawaratan rakyat,
lembaga perwakilan rakyat, dan lembaga perwakilan daerah, serta lembaga
perwakilan rakyat daerah, yang memiliki kemampuan dalam memainkan peran
secara maksimal dalam tata pengelolaan negara dan pemerintahan merupakan
sebuah kebutuhan. Realitas sosial mengisyaratkan bahwa berbagai persoalan dan
kebutuhan publik senantiasa mengandaikan pentingnya kehadiran lembaga-
lembaga permusyawaratan dan perwakilan politik dalam penanganannya. Sistem
penyelenggaraan pemerintahan negara dan daerah yang bertumpu pada eksekutif,
secara faktual tidak selalu dapat dijadikan andalan dalam penyelesaian persoalan
dan pemenuhan kebutuhan masyarakat. Bahkan, secara sosiologis, ketidakadilan
justeru sering terjadi dalam sistem sosial yang dikelola tanpa perwakilan politik.

4. Landasan hukum
Pembentukan UU tentang Susunan dan Kedudukan MPR, DPR, DPD, dan
DPRD didasarkan pada mandat konstitusi sebagai hukum dasar, baik sebagai
hukum dasar dalam kaitan dengan kewenangan pembentukan undang-undang
maupun sebagai hukum dasar dalam kaitan dengan materi muatan undang-
undang. Khusus yang terkait dengan materi muatan undang-undang, pembentukan
UU tentang Susunan dan Kedudukan MPR, DPR, DPD, dan DPRD didasarkan
pada pasal-pasal dalam UUD 1945 (Hasil Amandemen), khususnya Pasal 2 ayat
(1) yang mengatur tentang MPR, Pasal 18 ayat (3) yang mengatur tentang DPRD
sebagai unsur penyelenggara pemerintahan daerah, Pasal 19 ayat (2) yang
mengatur tentang susunan DPR, Pasal 22C ayat (4) yang mengatur tentang
susunan dan kedudukan DPD, dan Pasal 22E yang menegaskan tentang pemilihan
umum sebagai proses pengisian keanggotaan DPR, DPD, dan DPRD.
Sementara itu, UU Nomor 17 Tahun 2007 tentang Rencana
Pembangunan Jangka Panjang Nasional Tahun 2005-2025 dan Peraturan
Presiden Nomor 7 Tahun 2005 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah
Nasional Tahun 2005-2009 menggariskan bahwa salah satu misi pembangunan
nasional jangka panjang adalah mewujudkan masyarakat demokratis berlandaskan
hukum, yang akan diwujudkan melalui pencapaian sasaran pokok berupa
”pemantapan pelembagaan demokrasi yang kokoh”. Pemantapan kelembagaan

CETRO 4
NASKAH AKADEMIK (PEMERINTAH) 10 MEI 2007

demokrasi yang kokoh dicapai melalui penyempurnaan struktur politik yang


dititikberatkan pada proses pelembagaan demokrasi, yang dilakukan dengan,
antara lain:
a. mempromosikan dan menyosialisasikan pentingnya keberadaan sebuah
konstitusi yang kuat dan memiliki kredibilitas tinggi sebagai pedoman dasar bagi
seluruh proses demokratisasi berkelanjutan;
b. menata hubungan antara kelembagaan politik, dalam kehidupan bernegara;
c. meningkatkan kinerja lembaga-lembaga penyelenggara negara dalam
menjalankan kewenangan dan fungsi-fungsi yang diberikan oleh konstitusi dan
peraturan perundangan-undangan; dan
d. menciptakan kelembagaan demokrasi lebih lanjut untuk mendukung
berlangsungnya konsolidasi demokrasi secara berkelanjutan,
yang dicapai melalui pelaksanaan program, antara lain:
a. penyempurnaan dan penguatan kelembagaan demokrasi, yang bertujuan untuk
mewujudkan pelembagaan fungsi-fungsi dan hubungan antara lembaga
eksekutif, legislatif, yudikatif, lembaga politik lainnya, serta lembaga-lembaga
kemasyarakatan yang kokoh dan optimal;
b. perbaikan proses politik, yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas dan
efektivitas penyelenggaraan pemilihan umum dan uji kelayakan publik, serta
pelembagaan perumusan kebijakan publik.

D. Metode
Pembentukan UU tentang Susunan dan Kedudukan MPR, DPR, DPD, dan
DPRD dilakukan dengan metode kerja sebagai berikut:
a. Evaluasi atas pelaksanaan UU Nomor 22 Tahun 2003 tentang Susunan dan
Kedudukan MPR, DPR, DPD, dan DPRD;
b. Pengkajian terhadap pasal-pasal dalam UU Nomor 22 Tahun 2003 yang dinilai
mengandung kelemahan dan/atau bermasalah;
c. Pengkajian terhadap konsep teoritis tentang sistem perwakilan yang ideal;
d. Penyesuaian dengan UU Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah;
dan
e. Analisis komprehensif dan penyusunan konsep pengaturan yang baru.

E. Sistematika penulisan
Naskah Akademik ini ditulis dengan sistematika sebagai berikut:
Bab I PENDAHULUAN, berisi uraian tentang latar belakang, maksud dan tujuan,
landasan penyempurnaan, metode, dan sistematika penulisan;
Bab II ARAH DAN TUJUAN SERTA CAKUPAN PENYEMPURNAAN UU
NOMOR 22 TAHUN 2003 TENTANG SUSUNAN DAN KEDUDUKAN
MPR, DPR, DPD, DAN DPRD, yang berisi uraian tentang arah dan tujuan
serta cakupan penyempurnaan UU Nomor 22 Tahun 2003;
Bab III PROBLEMATIKA UNDANG-UNDANG NOMOR 22 TAHUN 2003
TENTANG SUSUNAN DAN KEDUDUKAN MPR, DPR, DPD, DAN DPRD,
berisi uraian tentang kondisi objektif lembaga permusyawaratan dan

CETRO 5
NASKAH AKADEMIK (PEMERINTAH) 10 MEI 2007

lembaga perwakilan, dan identifikasi aspek-aspek yang memerlukan


penyempurnaan;
Bab IV MATERI RANCANGAN UNDANG-UNDANG, berisi uraian tentang materi
penyempurnaan dan susunan rancangan undang-undang; dan
Bab V PENUTUP.
Bagian akhir Naskah Akademik dilengkapi dengan daftar pustaka yang
berisi referensi pendukung.

CETRO 6
NASKAH AKADEMIK (PEMERINTAH) 10 MEI 2007

BAB II
ARAH DAN TUJUAN SERTA CAKUPAN PENYEMPURNAAN UNDANG-
UNDANG NOMOR 22 TAHUN 2003 TENTANG SUSUNAN DAN KEDUDUKAN
MPR, DPR, DPD, DAN DPRD

A. Arah dan tujuan penyempurnaan UU Nomor 22 Tahun 2003


Penyempurnaan UU Nomor 22 Tahun 2003 pada dasarnya merupakan
bagian dari upaya penataan kehidupan politik dan pemerintahan di Indonesia,
khususnya dalam rangka pencapaian suatu sistem politik yang demokratis dan
sistem pemerintahan yang efektif.
Sistem politik yang demokratis mengandung pengertian bagaimana institusi,
prosedur, dan rutinitas demokrasi menyatu dalam kultur berpolitik di tempat
tersebut. Dalam hal ini sistem politik yang demokratis adalah semakin
mengemukanya cara-cara demokrasi untuk menata negara, politik, dan
masyarakat. Politik yang demokratis menjadi sebuah sistem bila kepentingan
berbagai aktor dalam jangka panjang adalah untuk menjaga stabilitas aturan-aturan
main demokratis yang mereka sepakati.
Strategi yang dapat dilakukan adalah dengan upaya melihat aplikasi
konsepsi partisipasi dan representasi pada lembaga dan proses politik secara kritis.
Dalam hal ini, semangat memperkuat lembaga dan proses politik adalah dalam
rangka menjadikannya sensitif dan responsif terhadap keinginan rakyat. Aturan
main dan mekanisme yang dibuat harus juga aplikatif. Misalnya, pengertian wakil
rakyat dikaitkan dengan tingkah laku yang memperjuangkan kepentingan rakyat.
Penguasa yang memerintah harus dipilih melalui pemilihan umum. Warga negara
dijamin haknya untuk mengutarakan dan menuntut institusi yang
mengatasnamakan mereka merespon kepentingan mereka. Adanya prosedur yang
memungkinkan pemilik kedaulatan, yaitu rakyat, mengawasi dan memberikan
sanksi terhadap mereka yang mengatasnamakan mereka. Adanya mekanisme
checks and balances antar lembaga-lembaga pemerintahan dalam kerangka
kepentingan rakyat.
Sementara itu, pemerintahan yang efektif adalah suatu proses pembentukan
dan pelaksanaan kebijakan publik oleh lembaga-lembaga publik yang selaras
dengan aspirasi dan keinginan rakyat berdasarkan tata perundangan yang berlaku.
Sedangkan pengertian sistem pemerintahan yang efektif adalah suatu pola
hubungan antara berbagai lembaga-lembaga publik dalam rangka pembentukan
dan pelaksanaan kebijakan publik dengan dasar-dasar prinsip tertentu untuk
menterjemahkan aspirasi dan keinginan rakyat.
Pentingnya suatu sistem pemerintahan yang efektif, paling tidak karena 3
(tiga) alasan utama. Pertama, dengan adanya pemerintahan yang efektif, aktivitas
pemerintahan menjadi lebih responsif. Pemerintah akan berusaha menterjemahkan
keinginan rakyat menjadi kebijakan publik. Kedua, pemerintahan yang efektif akan
membuat aktivitas pemerintahan lebih bisa didukung oleh berbagai kekuatan politik
maupun masyarakat. Energi ini akan membuat pencapaian aktivitas pemerintah
meluas oleh karena partisipasi masyarakat dan kekuatan politik dalam pelaksanaan
fungsi pemerintahan umum seperti memberikan pelayanan umum, mengatur
konflik, maupun pembagian sumber-sumber ekonomi. Ketiga, pemerintahan yang
efektif akan memungkinkan berlangsungnya aktivitas yang stabil dalam jangka

CETRO 7
NASKAH AKADEMIK (PEMERINTAH) 10 MEI 2007

panjang. Semakin minimnya distorsi dan interupsi proses pemerintahan akan


membuat pencapaian tujuan bernegara dan berbangsa lebih mudah.
Untuk mendukung tercapainya sistem pemerintahan yang efektif, maka perlu
suatu upaya serius untuk menguatkan berbagai elemen sistem pemerintahan bagi
kebijakan publik yang aspiratif dan responsif. Jenis elemen-elemen tersebut sangat
tergantung pada jenis sistem pemerintahan yang hendak dibangun.

Sebagai sebuah sistem pemerintahan, untuk efektivitas fungsi pemerintahan


maka lembaga presiden harus juga didukung oleh bekerjanya suatu sistem
perwakilan yang efektif. Hubungan antara keduanya harus pula berimbang, yang
didasarkan pada fondasi checks and balances.1 Secara umum dapat dikatakan
bahwa penguatan sistem pemerintahan presidensiil membutuhkan penguatan
lembaga kepresidenan, penguatan lembaga perwakilan, serta perimbangan
hubungan kelembagaan antara presiden dan legislatif.
Dalam banyak pemikiran dan teori tentang perancangan konstitusi dan
kelembagaan (constitutional and institutional design) baik yang klasik maupun
kontemporer, para pakar melihat keterkaitan yang erat antara upaya penataan
sistem politik yang demokratis dengan sistem pemerintahan yang efektif.
Bagi negara yang tengah mengalami transisi politik seperti Indonesia, maka
pemahaman terhadap hubungan antara kedua proses itu menjadi sangat penting
untuk beberapa alasan. Karena keterbatasan waktu dan tenaga maka seringkali
penataan elemen-elemen sistem politik dan pemerintahan dilakukan secara
terpisah. Logika yang digunakan seringkali berbeda satu dengan yang lainnya.
Dalam realitas, semua elemen tersebut akan digunakan dan menimbulkan
kemungkinan komplikasi satu dengan lainnya.
Munculnya sistem perwakilan yang kuat akan membuat sistem
pemerintahan presidensial menjadi efektif. Selanjutnya, sistem keparlemenan juga
memiliki hubungan yang langsung dengan pelaksanaan sistem presidensialisme.
Keberadaan sistem bikameral akan diharapkan memperkuat sistem perwakilan.
Dalam sistem bikameral maka perwakilan rakyat itu didasarkan pada perwakilan
berdasarkan kekuatan politik (partai) dan perwakilan berdasarkan teritori. Luasnya
wilayah Indonesia, kompleksitas persoalan daerah, dan semangat desentralisasi
menjadi dasar penguatan berdasarkan perwakilan teritori.
Kedudukan Dewan Perwakilan Daerah (DPD) pada realitasnya tak jelas
karena kekuasaan dan hak-haknya yang sangat terbatas (DPD RI, 2006). Demi
tegaknya prinsip checks and balances maka amandemen kembali konstitusi dalam
jangka menengah atau panjang bersifat mutlak karena menjadi salah satu fondasi
utama bagi stabilitas dan efektifitas sistem pemerintahan presidensial. Urgensi
prinsip saling mengawasi secara seimbang itu diabaikan pula oleh konstitusi hasil
amandemen dalam hal relasi DPR sebagai representasi rakyat dan DPD sebagai
representasi wilayah. DPD harus dipandang sebagai “Senat” ataupun “Majelis
Tinggi” yang juga memiliki kewenangan legislasi kendati tidak harus seluas
kekuasaan legislasi yang dimiliki DPR sebagai “Majelis Rendah”, sehingga kedua
Dewan adalah kamar-kamar parlemen di dalam suatu sistem perwakilan bicameral
yang kuat (strong bicameral). Dengan demikian harus dibuat pengaturan yang

1
Scott Mainwaring, “Presidentialism, Multipartism, and Democracy: The Difficult Combination,”
Comparative Political Studies, 26 (1993), 198-222.

CETRO 8
NASKAH AKADEMIK (PEMERINTAH) 10 MEI 2007

memungkinkan untuk membuat kerjasama dan sinergitas antara DPR dan DPD.
Bentuknya dapat berupa penguatan fungsi MPR.

B. Cakupan penyempurnaan UU Nomor 22 Tahun 2003


Salah satu ciri sistem presidensial adalah berlaku dan tegaknya prinsip
pemisahan kekuasaan di antara tiga cabang kekuasaan utama yakni eksekutif-
legislatif-yudikatif dan terutama antara lembaga eksekutif dan legislatif2. Melalui
pemisahan kekuasaan tersebut diharapkan dapat ditegakkan prinsip check and
balances di antara cabang-cabang kekuasaan pemerintahan.. Problematik sistem
presidensial hasil amandemen atas konstitusi kita dewasa ini adalah bahwa prinsip
checks and balances itu sulit ditegakkan karena presiden yang memperoleh
mandat dan legitimasi langsung dari rakyat tidak memiliki semacam hak veto untuk
menolak UU yang telah disepakati oleh DPR. Di sisi lain, UU yang telah disepakati
oleh pemerintah dan DPR tetap bisa berlaku sebagai hukum positif meskipun tidak
disahkan oleh Presiden dalam waktu 30 hari. Selain itu, konstitusi semestinya pula
mengakomodasi prinsip checks and balances yang sama dalam relasi intra-
parlemen, yaitu antara DPR dan DPD. Jelas sekali bahwa penataan relasi presiden
dan parlemen (dalam hal ini DPR dan DPD), dan relasi DPR-DPD seperti
diamanatkan oleh konstitusi hasil amandemen, cenderung tidak akan menghasilkan
sistem presidensiil yang kuat, stabil, dan efektif. Sebaliknya, yang muncul adalah
praktik tata kelola pemerintahan yang cenderung parlementer dan atau campur-
aduk antara obsesi presidensialisme di satu pihak dan praktik parlementarianisme
di pihak lain. Oleh karena itu, pembentukan sistem pemerintahan presidensial yang
kuat dan efektif pada dasarnya tak bisa dipisahkan dari kontribusi sistem legislatif
atau keparlemenan yang sinergis dan efektif pula.
Paling tidak ada empat argumen kesaling-keterkaitan antara sistem
pemerintahan di satu pihak dan sistem perwakilan di pihak lain. Pertama, berbeda
dengan sistem parlementer di mana fokus segenap proses politik berpusat pada
parlemen, maka di dalam sistem presidensial lembaga eksekutif berbagi peranan
dan fungsi secara relatif tegas dan jelas dengan lembaga legislatif. Kedua,
konsisten dengan argumen pertama, presiden dan parlemen masing-masing
memiliki tanggung jawab secara terpisah sekaligus secara bersama-sama dalam
penguatan dan efektifitas sistem pemerintahan presidensial. Ketiga, konsisten
dengan dua argumen sebelumnya, tanggung jawab secara terpisah – dalam
fungsinya masing-masing —sekaligus bersama-sama tersebut hanya dapat
ditegakkan apabila relasi antara presiden dan parlemen dibangun di atas prinsip
checks and balances. Keempat, sistem legislatif yang dapat melembagakan
tanggung jawab secara bersama-sama, sinergis dan efektif hanya dapat
diwujudkan apabila terbangun pola relasi dan kerjasama yang sinergis di antara
bagian-bagian parlemen.
Dalam kaitan ini, penguatan sistem perwakilan dimaksudkan sebagai upaya
membangun sistem perwakilan yang tidak hanya koheren dan konsisten dengan
pilihan sistem pemerintahan presidensiil, melainkan juga mendukung dan
memperkuatnya. Tampak di sini bahwa terdapat empat konsep utama yang saling
terkait satu satu lain untuk membangun sistem perwakilan demikian, yaitu
sinergitas, efektifitas, akuntabilitas, dan produktifitas. Sistem perwakilan yang

2
Arend Lijphart, Sistem Pemerintahan Parlementer dan Presidensial, Jakarta: PT RajaGrafindo Persada,
1995, hal. 47.

CETRO 9
NASKAH AKADEMIK (PEMERINTAH) 10 MEI 2007

sinergis diperlukan bukan saja dalam rangka efektifitas fungsi setiap lembaga
parlemen (DPR dan DPD), melainkan juga untuk meningkatkan kualitas
akuntabilitas di satu pihak dan produktifitas di pihak lain.
Akuntabilitas adalah konsep yang tak terpisahkan dari keberadaan setiap
lembaga perwakilan. DPR sebagai parlemen yang mewakili rakyat, DPD yang
mewakili wilayah (propinsi), dan para anggotanya yang memperoleh mandat
tersebut dapat dikatakan akuntabel apabila dalam melaksanakan fungsi,
kewenangan, dan hak-haknya berorientasi kepada kepentingan rakyat selaku
pemberi mandat melalui melalui pemilihan umum. Sedangkan produktifitas
berhubungan dengan tingkat pencapaian kinerja keparlemenan dalam hitungan
produk kebijakan yang dihasilkan selama masa kerja parlemen.
Dewasa ini sinergitas parlemen belum terbangun karena DPR dan DPD
cenderung bekerja sendiri-sendiri. Konstitusi memang membatasi kewenangan
DPD, namun peran dan kontribusi DPD sebenarnya dapat dioptimalkan melalui
mekanisme relasi dan kerjasama yang lebih baik antara DPR dan DPD. Efektifitas
DPR dan DPD sebagai bagian dari lembaga parlemen nasional relatif belum
optimal karena struktur alat kelengkapan kedua Dewan belum mendukung
efektifitas kerja keparlemenan.
Berkaitan dengan kebutuhan penyempurnaan sistem perwakilan, maka
dalam jangka pendek paling kurang ada empat arah sekaligus tujuan yang hendak
dicapai untuk memperkuat sistem perwakilan yang masih bersifat “semi-bikameral”
yang berlaku dewasa ini, yaitu: (1) peningkatan efektifitas keparlemenan DPR; (2)
penguatan akuntabilitas lembaga dan anggota parlemen; (3) penataan hubungan
kerja DPR dan DPD; dan (4) peningkatan efektifitas fungsi MPR.
Dalam konteks substansi hasil amandemen, di satu pihak hendak dibangun
sistem pemerintahan presidensiil yang kuat, stabil, dan efektif, namun di sisi lain
obsesi besar tersebut tidak didukung oleh struktur perwakilan bicameral yang kuat
pula. Kedudukan Dewan Perwakilan Daerah (DPD) yang semestinya merupakan
salah satu “kamar” dari sistem perwakilan dua-kamar, bahkan tak jelas karena
kekuasaan dan hak-haknya yang sangat terbatas. Tidak mengherankan jika para
anggota DPD dewasa ini mempertanyakan relevansi keberadaan mereka dalam
sistem yang berlaku jika tidak ada komitmen politik untuk mengubahnya secara
mendasar (DPD RI, 2006). Sebaliknya, para politisi di Panitia Ad-Hoc I MPR selaku
penyusun konstitusi justru makin memperkuat posisi, kedudukan, kekuasaan, dan
hak-hak DPR melebihi yang seharusnya dimiliki oleh DPR dalam konteks sistem
presidensial.
Selain itu, UUD 1945 hasil amandemen tidak melembagakan berlakunya
mekanisme checks and balances di antara cabang-cabang kekuasaan
pemerintahan utama, yakni lembaga eksekutif-legislatif pada khususnya dan
eksekutif-legislatif-yudikatif pada umumnya. Di satu pihak, suatu UU dapat tetap
berlaku apabila dalam waktu 30 hari tidak disahkan oleh Presiden, namun di pihak
lain Presiden tidak memiliki semacam hak veto untuk menolak UU yang telah
disetujui DPR. Padahal tegaknya prinsip checks and balances bersifat mutlak
karena menjadi salah satu fondasi utama bagi stabilitas dan efektifitas sistem
pemerintahan presidensial. Urgensi prinsip saling mengawasi secara seimbang itu
diabaikan pula oleh konstitusi hasil amandemen dalam hal relasi DPR sebagai
representasi rakyat dan DPD sebagai representasi wilayah.

CETRO 10
NASKAH AKADEMIK (PEMERINTAH) 10 MEI 2007

BAB III
PROBLEMATIKA UNDANG-UNDANG NOMOR 22 TAHUN 2003 TENTANG
SUSUNAN DAN KEDUDUKAN MPR, DPR, DPD, DAN DPRD

Sistem pemerintahan yang terkonstruksi dalam UUD 1945 adalah sistem


pemerintahan presidensiil, yang bercirikan keberlakuan dan penegakan prinsip
pemisahan kekuasaan di antara tiga cabang kekuasaan utama yakni legislatif,
eksekutif, dan yudikatif, dan secara khusus antara lembaga eksekutif dan legislatif3.
Melalui pemisahan kekuasaan tersebut diharapkan dapat ditegakkan prinsip check
and balances di antara cabang-cabang kekuasaan pemerintahan.
Penguatan sistem pemerintahan presidensiil pada dasarnya tidak bisa
dipisahkan dari kontribusi sistem legislatif atau keparlemenan yang sinergis dan
efektif pula. Paling tidak ada empat argumen kesaling-keterkaitan antara sistem
pemerintahan di satu pihak dan sistem perwakilan di pihak lain. Pertama, berbeda
dengan sistem parlementer di mana fokus segenap proses politik berpusat pada
parlemen, maka di dalam sistem presidensiil, lembaga eksekutif berbagi peranan
dan fungsi secara relatif tegas dan jelas dengan lembaga legislatif. Kedua,
konsisten dengan argumen pertama, presiden dan parlemen masing-masing
memiliki tanggung jawab secara terpisah sekaligus secara bersama-sama dalam
penguatan dan pengefektifan sistem pemerintahan presidensiil. Ketiga, konsisten
dengan dua argumen sebelumnya, tanggung jawab secara terpisah dalam
fungsinya masing-masing hanya dapat ditegakkan apabila relasi antara presiden
dan parlemen dibangun di atas prinsip checks and balances. Keempat, sistem
legislatif yang dapat melembagakan tanggung jawab secara bersama-sama,
sinergis dan efektif hanya dapat diwujudkan apabila terbangun pola relasi dan
kerjasama yang sinergis di antara bagian-bagian parlemen.
Dalam kaitan ini, penguatan sistem perwakilan dimaksudkan sebagai
upaya membangun sistem perwakilan yang tidak hanya koheren dan konsisten
dengan pilihan sistem pemerintahan presidensiil, melainkan juga mendukung dan
memperkuatnya. Tampak di sini bahwa terdapat empat konsep utama yang saling
terkait satu sama lain untuk membangun sistem perwakilan dimaksud, yaitu
sinergitas, efektifitas, akuntabilitas, dan produktifitas. Sistem perwakilan yang
sinergis diperlukan bukan saja dalam rangka efektifitas fungsi setiap lembaga
parlemen (DPR dan DPD), melainkan juga untuk meningkatkan kualitas
akuntabilitas di satu pihak dan produktifitas di pihak lain.
Akuntabilitas adalah konsep yang tak terpisahkan dari keberadaan setiap
lembaga perwakilan. DPR sebagai parlemen yang mewakili rakyat, DPD yang
mewakili wilayah (propinsi), dan para anggotanya yang memperoleh mandat
tersebut dapat dikatakan akuntabel apabila dalam melaksanakan fungsi,
kewenangan, dan hak-haknya berorientasi kepada kepentingan rakyat selaku
pemberi mandat melalui pemilihan umum.
Produktifitas berhubungan dengan tingkat pencapaian kinerja
keparlemenan dalam hitungan produk kebijakan yang dihasilkan selama masa
kerja parlemen.

3
Arend Lijphart, Sistem Pemerintahan Parlementer dan Presidensial, Jakarta: PT RajaGrafindo Persada,
1995, hal. 47.

CETRO 11
NASKAH AKADEMIK (PEMERINTAH) 10 MEI 2007

Dewasa ini, sinergitas parlemen belum terbangun karena DPR dan DPD
cenderung bekerja sendiri-sendiri. Konstitusi memang membatasi kewenangan
DPD, namun peran dan kontribusi DPD sebenarnya dapat dioptimalkan melalui
mekanisme relasi dan kerjasama yang lebih baik antara DPR dan DPD. Efektifitas
DPR dan DPD sebagai bagian dari lembaga parlemen nasional relatif belum
optimal karena struktur alat kelengkapan kedua Dewan belum mendukung
efektifitas kerja keparlemenan.
Sementara itu, peranan DPRD provinsi sebagai unsur penyelenggara
pemerintahan daerah provinsi dan DPRD kabupaten kota sebagai unsur
penyelenggara pemerintahan kabupaten/kota juga dirasakan masih memerlukan
peningkatan. Rumusan ketentuan yang menyangkut kedua lembaga perwakilan
rakyat daerah tersebut, baik yang terkait dengan kelembagaan maupun yang terkait
dengan keanggotaan masih perlu disempurnakan.
Dari sisi kebutuhan penyempurnaan sistem
permusyawaratan/perwakilan, maka dalam jangka pendek, khususnya dalam
rangka penyempurnaan UU Nomor 22 Tahun 2003 tentang Susunan dan
Kedudukan MPR, DPR, DPD, dan DPRD, terdapat paling sedikit enam arah
sekaligus tujuan yang hendak dicapai untuk memperkuat sistem perwakilan yang
berlaku dewasa ini, yaitu:
1. peningkatan efektifitas persidangan MPR;
2. peningkatan efektifitas pelaksanaan tugas, wewenang, dan kewajiban DPR;
3. penguatan fungsi dan hak, serta efektifitas pelaksanaan tugas, wewenang, dan
kewajiban DPD;
4. penataan hubungan kerja DPR dan DPD;
5. peningkatan akuntabilitas dan kinerja anggota DPR dan DPD;
6. pemantapan kedudukan dan fungsi DPRD sebagai unsur penyelenggara
pemerintahan daerah; dan
7. peningkatan akuntabilitas dan kinerja anggota DPRD.

Sesuai dengan Pasal 2 UUD 1945, MPR sebagai institusi negara yang
terdiri atas anggota DPR dan anggota DPD memiliki tugas dan wewenang
sebagaimana ditegaskan dalam Pasal 3 dan Pasal 8 ayat (2) dan ayat (3) UUD
1945. Dari sudut kelembagaan, MPR mempunyai kedudukan dan kewenangan
tersendiri, yang berbeda sama sekali dengan kedudukan dan kewenangan DPR
dan DPD. MPR bukan hanya merupakan persidangan gabungan anggota DPR dan
anggota DPD, tetapi juga adalah lembaga sendiri.
Oleh karena itu, keberadaan MPR sebagai lembaga negara yang oleh
konstitutisi diberi tugas dan wewenang kenegaraan yang secara tegas berbeda
dengan tugas dan wewenang DPD dan DPD tetap perlu ditingkatkan efektititasnya,
terutama efektifitas persidangan MPR.
Efektifitas lembaga perwakilan menunjuk pada kapasitas lembaga
tersebut dalam mengoptimalkan peranan fraksi, komisi dan alat kelengkapan
lainnya dalam mendukung kinerja parlemen sebagai lembaga perwakilan
rakyat/daerah dan mitra eksekutif. Dalam konteks sistem pemerintahan presidensiil,
prinsip checks and balances tidak akan tegak apabila kinerja keparlemenan tidak
efektif.

CETRO 12
NASKAH AKADEMIK (PEMERINTAH) 10 MEI 2007

Agenda penguatan akuntabilitas parlemen, baik secara institusi maupun


anggota secara individual, perlu dilakukan dalam rangka mendukung penguatan
sistem presidensiil. Akuntabilitas institusi makin kuat apabila pelaksanaan fungsi
legislasi, anggaran, dan pengawasan DPR berorientasi pada penguatan sistem
presidensiil. Di sisi lain, akuntabilitas anggota secara individual makin kuat apabila
kinerja para anggota DPR berorientasi pada penguatan akuntabilitas Dewan secara
institusi.
Penguatan kapasitas parlemen dalam fungsi legislasi juga perlu
dilakukan melalui pengadaan staf ahli yang profesional dan bersifat permanen.
Beban kerja DPR4 yang sangat berat sebagai akibat tekanan fungsi legislasi yang
berada di pundaknya, mengharuskan Dewan memiliki staf ahli permanen yang
dibiayai oleh negara. Penataan ulang pengaturan hak recall bagi Pimpinan dan
anggota DPR dengan perluasan kewenangan dan optimalisasi fungsi Badan
Kehormatan adalah juga penting. Satu hal yang dapat dijadikan pertimbangan
adalah bahwa perubahan sistem pemilu legislatif menuju sistem proporsional
terbuka penuh meniscayakan dikuranginya peranan partai dalam recalling terhadap
anggota Dewan. Hal yang sama secara proporsional juga berlaku bagi lembaga
dan anggota DPD dan DPRD sesuai dengan kedudukan dan fungsi masing-
masing.
Penataan kembali kunjungan anggota parlemen (DPR, DPD, dan DPRD)
pada waktu reses supaya berkunjung langsung ke daerah pemilihannya dan
berkomunikasi intensif dengan konstituennya juga sangat penting.
Terkait dengan keberadaan DPD, masih terdapat ruang yang memadai
bagi pengaturan dan penataan relasi kerja antara DPR dan DPD. Arahnya adalah
penguatan DPD sebagai mitra DPR dalam kerangka sistem perwakilan. Melalui
penataan kembali hubungan kerja DPR-DPD diharapkan kinerja kedua Dewan
secara sinergis di satu pihak dan efektifitas sistem pemerintahan presidensiil di
pihak lain dapat meningkat.

4
Akibat beban kerja yang berat setiap tahun DPR hanya bisa menyelesaikan sekitar 30-40 persen RUU dari
Proglegnas tahun yang berjalan sehingga semakin bertumpuk pada persidangan tahun berikutnya. Selain itu,
sebagian anggota Dewan harus merangkap menjadi anggota panitia khusus untuk pembahasan 3-4 RUU
sekaligus.

CETRO 13
NASKAH AKADEMIK (PEMERINTAH) 10 MEI 2007

BAB IV
MATERI RANCANGAN UNDANG-UNDANG

A. Materi Penyempurnaan
1. Persidangan dan pengambilan keputusan MPR
Seiring dengan perkembangan dan dinamika politik bangsa dan negara
dewasa ini, maka patut diperkirakan bahwa persidangan dan pengambilan
keputusan di MPR tidak selalu akan berlangsung dengan mulus. Kemungkinan
terjadinya kebuntuan (deadlock) dalam pengambilan keputusan sangatlah besar.
Oleh karena itu, pengaturan tentang persidangan dan pengambilan keputusan
MPR disempurnakan dengan memberi kemungkinan dilakukannya pengambilan
keputusan dengan pemungutan suara ulang.
Apabila karena sifat masalah yang dihadapi tidak mungkin dicapai
keputusan dengan mempergunakan pemungutan suara sekali jalan, dilakukan
pemungutan suara ulang. Apabila dalam pemungutan suara ulang diperoleh hasil
sama dengan hasil pemungutan suara sebelumnya, maka pengambilan keputusan
ditangguhkan sampai rapat berikutnya, atau usul yang bersangkutan ditolak.

2. Susunan DPR
Sesuai dengan sistem pemilihan yang akan digunakan dalam pemilihan
umum anggota DPR dan DPRD, yaitu sistem proporsional dengan daftar terbuka
penuh dengan penetapan calon terpilih berdasarkan perolehan suara terbanyak,
maka berbeda dengan rumusan UU 22/2003 yang menyatakan bahwa “DPR terdiri
atas anggota partai politik peserta pemilihan umum yang dipilih berdasarkan hasil
pemilihan umum”, RUU ini menegaskan bahwa “DPR terdiri atas anggota partai
politik peserta pemilihan umum yang dipilih melalui pemilihan umum”.

3. Fungsi DPR
Dalam rangka pemantapan sistem penyelenggaraan pemerintahan
negara berdasarkan UUD 1945, khususnya dalam relasi kenegaraan antara DPR
dan Presiden, perlu penegasan makna fungsi DPR dalam kerangka kebersamaan
penyelenggaraan pemerintahan negara dengan Presiden. Sehingga, dalam RUU
ini dirumuskan pengaturan tentang fungsi DPR sebagai berikut:
a. fungsi legislasi dilaksanakan dalam pembentukan undang-undang dengan
persetujuan bersama Presiden;
b. fungsi anggaran dilaksanakan dalam bentuk pemberian persetujuan atau tidak
memberikan persetujuan atas undang-undang tentang anggaran pendapatan
dan belanja negara dengan persetujuan bersama Presiden;
c. fungsi pengawasan dilaksanakan melalui pengawasan atas pelaksanaan
undang-undang dan anggaran pendapatan dan belanja negara.

CETRO 14
NASKAH AKADEMIK (PEMERINTAH) 10 MEI 2007

4. Tugas dan Wewenang DPR


Dalam rangka pemantapan sistem perwakilan berdasarkan UUD 1945
Hasil Amandemen, khususnya dengan keberadaan DPD sebagai lembaga
perwakilan daerah, maka perlu dilakukan penyesuaian tugas dan wewenang DPR,
terutama yang terkait langsung dengan DPD. Dalam RUU ini, direkomendasikan
rumusan tambahan tugas dan wewenang DPR sebagai berikut:

a. menerima rancangan undang-undang yang diusulkan oleh DPD yang berkaitan


dengan otonomi daerah, pembentukan, pemekaran dan penggabungan daerah,
hubungan pusat dan daerah, pengelolaan sumber daya alam dan sumber daya
ekonomi lainnya, serta perimbangan keuangan pusat dan daerah;
b. membahas rancangan undang-undang sebagaimana dimaksud pada huruf c
bersama DPD sebelum dimulainya pembahasan oleh DPR bersama Presiden
sesuai tata tertib DPR;
c. membahas pertimbangan DPD atas rancangan undang-undang mengenai
anggaran pendapatan dan belanja negara dan rancangan undang-undang yang
berkaitan dengan pajak, pendidikan, dan agama;
d. membahas bersama DPD rancangan undang-undang yang diusulkan oleh
Presiden dan/atau DPR, berkaitan dengan otonomi daerah, pembentukan,
pemekaran dan penggabungan daerah, hubungan pusat dan daerah,
pengelolaan sumber daya alam dan sumber daya ekonomi lainnya, serta
perimbangan keuangan pusat dan daerah, sebelum dimulainya pembahasan
oleh DPR dengan Presiden sesuai tata tertib DPR.

5. Hak DPR
DPR sebagai lembaga perwakilan yang berkedudukan sebagai lembaga
negara memiliki hak konstitusional berupa hak interpelasi, angket, dan menyatakan
pendapat. Penggunaan hak tersebut penting diatur dalam undang-undang dengan
pertimbangan perlunya dasar legitimasi yang kuat bagi DPR dalam menggunakan
haknya, sehingga di dalam RUU dirumuskan sebagai berikut:
a. Penggunaan hak interpelasi:
1) Hak interpelasi adalah hak DPR untuk meminta keterangan kepada
Presiden mengenai kebijakan Pemerintah yang penting dan strategis serta
berdampak luas pada kehidupan bermasyarakat dan bernegara.
2) Hak interpelasi diajukan oleh paling sedikit 15 (lima belas) orang anggota
DPR kepada pimpinan DPR dan mendapatkan persetujuan dari rapat
paripurna DPR yang dihadiri sekurang-kurangnya 3/4 (tiga perempat) dari
jumlah anggota DPR dan putusan diambil dengan persetujuan sekurang-
kurangnya 2/3 (dua pertiga) dari jumlah anggota DPR yang hadir.
b. Penggunaan hak angket:
1) Hak angket adalah hak DPR untuk melakukan penyelidikan terhadap
kebijakan Pemerintah yang penting dan strategis serta berdampak luas
pada kehidupan bermasyarakat dan bernegara yang diduga bertentangan
dengan peraturan perundang-undangan.

CETRO 15
NASKAH AKADEMIK (PEMERINTAH) 10 MEI 2007

2) Hak angket diajukan oleh paling sedikit 15 (lima belas) orang anggota DPR
kepada pimpinan DPR dan mendapatkan persetujuan dari rapat paripurna
DPR yang dihadiri sekurang-kurangnya 3/4 (tiga perempat) dari jumlah
anggota DPR dan putusan diambil dengan persetujuan sekurang-
kurangnya 2/3 (dua pertiga) dari jumlah anggota DPR yang hadir.
3) Dalam menggunakan hak angket dibentuk panitia angket yang terdiri atas
semua unsur fraksi DPR dengan keputusan DPR.
4) Panitia angket melaporkan pelaksanaan tugasnya kepada rapat paripurna
DPR paling lama 60 (enam puluh) hari sejak dibentuknya panitia angket.
5) Dalam menggunakan hak angketnya, DPR dapat memanggil pejabat
negara, pejabat pemerintah, badan hukum, atau warga masyarakat yang
dianggap mengetahui atau patut mengetahui masalah yang diselidiki untuk
memberikan keterangan serta untuk meminta menunjukkan surat atau
dokumen yang berkaitan dengan hal yang sedang diselidiki.
6) Pejabat negara, pejabat pemerintah, badan hukum, atau warga masyarakat
yang dipanggil wajib memenuhi panggilan DPR kecuali ada alasan yang
sah menurut peraturan perundang-undangan.
7) Dalam hal telah dipanggil dengan patut secara berturut-turut tidak
memenuhi panggilan, DPR dapat memanggil secara paksa dengan
bantuan Kepolisian Negara Republik Indonesia sesuai dengan peraturan
perundang-undangan.
c. Penggunaan hak menyatakan pendapat:
1) Hak menyatakan pendapat adalah hak DPR untuk menyatakan pendapat
terhadap kebijakan Pemerintah yang penting dan strategis atau mengenai
kejadian luar biasa yang terjadi di tanah air atau situasi dunia internasional
disertai dengan rekomendasi penyelesaiannya atau sebagai tindak lanjut
pelaksanaan hak interpelasi dan hak angket.
2) Hak menyatakan pendapat diajukan oleh paling sedikit 15 (lima belas)
orang anggota DPR kepada pimpinan DPR dan mendapatkan persetujuan
dari rapat paripurna DPR yang dihadiri sekurang-kurangnya 3/4 (tiga
perempat) dari jumlah anggota DPR dan putusan diambil dengan
persetujuan sekurang-kurangnya 2/3 (dua pertiga) dari jumlah anggota
DPR yang hadir.

6. Kewajiban Anggota DPR


Dalam rangka peningkatan akuntabilitas dan kinerja lembaga dan
anggota DPR, dipandang perlu merumuskan aturan yang menyangkut kewajiban
anggota DPR untuk dapat memenuhi kewajibannya dalam menegaskan
"menyerap, menghimpun, menampung, dan menindaklanjuti aspirasi masyarakat”.
Sehingga, di dalam RUU dirumuskan bahwa disamping kewajiban-kewajiban yang
lain, anggota DPR juga mempunyai kewajiban:
a. menyerap dan menghimpun aspirasi konstituen melalui kunjungan kerja secara
berkala;
b. menampung dan menindaklanjuti aspirasi dan pengaduan masyarakat.

CETRO 16
NASKAH AKADEMIK (PEMERINTAH) 10 MEI 2007

7. Pimpinan DPR
Sejalan dengan penerapan sistem pemilihan proporsional yang telah
dikemukakan sebelumnya, RUU ini juga menganut prinsip perlunya memberikan
reward secara politik bagi partai politik yang berhasil memperoleh hasil pemilihan
umum yang lebih baik dari partai politik lainnya. Sehingga, berbeda dengan
ketentuan dalam UU Nomor 22 Tahun 2003, di dalam RUU ini dirumuskan
ketentuan bahwa:
a. Pimpinan DPR terdiri atas seorang Ketua dan tiga orang wakil ketua yang
berasal dari partai politik berdasarkan urutan perolehan kursi terbanyak di DPR;
b. Dalam hal terdapat lebih dari satu partai politik yang memperoleh kursi sama,
Ketua dan wakil ketua ditentukan berdasarkan urutan hasil perolehan suara
terbanyak dalam pemilu;
c. Dalam hal terdapat lebih dari satu partai politik yang memperoleh suara sama,
Ketua dan wakil ketua ditentukan berdasarkan persebaran perolehan suara.
Sementara itu, pengaturan tentang pemberhentian Pimpinan DPR juga
dipandang perlu disempurnakan, khususnya dalam kaitan dengan akuntabilitas dan
kinerjanya, serta dengan mempertimbangkan keberadaan mereka sebagai kader
partai politik. Oleh karena itu, pengaturan tentang pemberhentian Pimpinan DPR
dirumuskan sebagai berikut:
a. Pimpinan DPR berhenti dari jabatannya karena:
1) meninggal dunia;
2) mengundurkan diri; atau
3) diberhentikan.
b. Alasan pemberhentian Pimpinan DPR, selain karena alasan sebagaimana telah
dirtentukan dalam UU Nomor 22 Tahun 2003, juga apabila:
1) tidak dapat melaksanakan tugas secara berkelanjutan atau berhalangan
tetap sebagai pimpinan DPR selama 3 (tiga) bulan berturut-turut;
2) melanggar sumpah/janji jabatan dan kode etik DPR berdasarkan hasil
pemeriksaan Badan Kehormatan DPR;
3) diusulkan oleh partai politiknya sesuai ketentuan undang-undang; atau
4) diberhentikan sebagai anggota partai politik;
c. Dalam hal salah satu pimpinan DPR diberhentikan dari jabatannya,
penggantinya berasal dari fraksi yang sama dengan fraksi pimpinan yang
diberhentikan.

8. Sanksi bagi anggota DPR


Berbeda dengan UU Nomor 22 Tahun 2003 yang tidak mengatur sanksi
bagi anggota DPR yang tidak melaksanakan kewajibannya, maka di dalam RUU ini
ditegaskan bahwa anggota DPR yang terbukti tidak melaksanakan kewajibannya
dapat dikenai sanksi, dengan pengaturan sebagai berikut:

CETRO 17
NASKAH AKADEMIK (PEMERINTAH) 10 MEI 2007

a. anggota DPR yang tidak melaksanakan kewajiban dapat dikenakan sanksi


berupa pemberhentian sebagai anggota DPR dan/atau pemberhentian
sementara sebagai anggota DPR;
b. setiap orang, kelompok atau organisasi dapat mengajukan pengaduan kepada
Badan Kehormatan DPR dalam hal memiliki bukti-bukti yang cukup bahwa
terdapat anggota DPR yang tidak melaksanakan salah satu atau lebih
kewajibannya;
c. badan Kehormatan DPR berwenang menyelidiki, memverifikasi dan
memutuskan pengaduan sebagaimana dimaksud pada huruf b;
d. dalam hal Badan Kehormatan DPR memutuskan anggota DPR tidak
melaksanakan kewajibannya, keputusan Badan Kehormatan disampaikan
kepada pimpinan DPR;
e. pimpinan DPR menyampaikan keputusan Badan Kehormatan DPR tentang
pemberhentian anggota DPR atau pemberhentian sementara anggota DPR
kepada Presiden untuk memperoleh pengesahan pemberhentian atau
pemberhentian sementaranya;
f. Dalam hal keputusan Badan Kehormatan DPR menyatakan tidak terdapat
cukup bukti anggota DPR tidak melaksanakan kewajibannya, anggota DPR
direhabilitasi namanya.

9. Tugas dan Wewenang DPD


Seiring dengan pemantapan sistem perwakilan berdasarkan UUD 1945
Hasil Amandemen melalui penyesuaian tugas dan wewenang DPR, terutama yang
terkait langsung dengan DPD, khususnya dengan keberadaan DPD sebagai
lembaga perwakilan daerah, maka dalam RUU ini juga dipandang perlu dilakukan
penyesuaian dan tambahan tugas dan wewenang DPD, dengan rumusan sebagai
sebagai berikut:
a. ikut serta dalam penyusunan program legislasi nasional yang berkaitan dengan
otonomi daerah, pembentukan, pemekaran dan penggabungan daerah,
hubungan pusat dan daerah, pengelolaan sumber daya alam dan sumber daya
ekonomi lainnya, serta perimbangan keuangan pusat dan daerah;

b. ikut membahas bersama DPR rancangan undang-undang yang berkaitan


dengan hal sebagaimana dimaksud pada huruf a;
c. ikut membahas bersama DPR rancangan undang-undang yang diajukan oleh
Presiden dan DPR, yang berkaitan dengan otonomi daerah, pembentukan,
pemekaran dan penggabungan daerah, hubungan pusat dan daerah,
pengelolaan sumber daya alam dan sumber daya ekonomi lainnya, serta
perimbangan keuangan pusat dan daerah;
d. bersama DPR membahas pertimbangan DPD atas rancangan undang-undang
APBN dan rancangan undang-undang yang berkaitan dengan pajak,
pendidikan, dan agama;
e. menyampaikan hasil pengawasan atas pelaksanaan undang-undang mengenai
otonomi daerah, pembentukan, pemekaran dan penggabungan daerah,
hubungan pusat dan daerah, pengelolaan sumber daya alam dan sumber daya

CETRO 18
NASKAH AKADEMIK (PEMERINTAH) 10 MEI 2007

ekonomi lainnya, serta pelaksanaan undang-undang APBN, pajak, pendidikan,


dan agama, kepada DPR sebagai bahan pertimbangan untuk ditindaklanjuti.
Sedikit berbeda dengan rumusan UU Nomor 22 Tahun 2003 yang
menegaskan keikutsertaan DPD dalam pembahasan RUU pada awal pembicaraan
Tingkat I, maka dalam RUU ini ditegaskan bahwa pelaksanaan tugas dan
wewenang di atas dilakukan sebelum pembahasan RUU dalam rapat kerja antara
DPR dengan Presiden sesuai tata tertib DPR.

10. Hak DPD


Dalam rangka penguatan DPD, dan sesuai dengan pasal 22D UUD
1945, dipandang perlu menambah hak DPD sebagai berikut:
a. memberikan pertimbangan kepada DPR dalam pembahasan rancangan
undang-undang mengenai anggaran pendapatan dan belanja negara dan
rancangan undang-undang yang berkaitan dengan pajak, pendidikan, dan
agama;
b. melakukan pengawasan atas pelaksanaan undang-undang mengenai otonomi
daerah, pembentukan, pemekaran, dan penggabungan daerah, hubungan
pusat dan daerah, pengelolaan sumber daya alam, dan sumber daya ekonomi
lainnya, pelaksanaan APBN, pajak, pendidikan, dan agama.

11. Kewajiban Anggota DPD


Dalam rangka peningkatan akuntabilitas dan kinerja lembaga dan
anggota DPD, dipandang perlu merumuskan aturan yang menyangkut kewajiban
anggota DPD untuk dapat memenuhi kewajibannya dalam menegaskan
"menyerap, menghimpun, menampung, dan menindaklanjuti aspirasi masyarakat”.
Sehingga, di dalam RUU dirumuskan bahwa disamping kewajiban-kewajiban yang
lain, anggota DPD juga mempunyai kewajiban:
a. menyerap dan menghimpun aspirasi masyarakat di daerah yang di wakilinya
melalui kunjungan kerja secara berkala;
b. menampung dan menindaklanjuti aspirasi dan pengaduan masyarakat.

12. Pimpinan DPD


Pengaturan tentang pemberhentian Pimpinan DPD dipandang perlu
disempurnakan, khususnya dalam kaitan dengan akuntabilitas dan kinerjanya. Oleh
karena itu, pengaturan tentang pemberhentian Pimpinan DPD dirumuskan sebagai
berikut:
a. Pimpinan DPD berhenti dari jabatannya karena:
1) meninggal dunia;
2) mengundurkan diri; atau
3) diberhentikan.
b. Alasan pemberhentian Pimpinan DPD, selain karena alasan sebagaimana telah
ditentukan dalam UU Nomor 22 Tahun 2003, juga apabila:

CETRO 19
NASKAH AKADEMIK (PEMERINTAH) 10 MEI 2007

1) tidak dapat melaksanakan tugas secara berkelanjutan atau berhalangan


tetap sebagai pimpinan DPD selama 3 (tiga) bulan berturut-turut;
2) melanggar sumpah/janji jabatan dan kode etik DPD berdasarkan hasil
pemeriksaan Badan Kehormatan DPD.

13. Sanksi bagi anggota DPD


Berbeda dengan UU Nomor 22 Tahun 2003 yang tidak mengatur sanksi
bagi anggota DPD yang tidak melaksanakan kewajibannya, maka di dalam RUU ini
ditegaskan bahwa anggota DPD yang terbukti tidak melaksanakan kewajibannya
dapat dikenai sanksi, dengan pengaturan sebagai berikut:
a. Anggota DPD yang tidak melaksanakan kewajibannya dapat dikenakan sanksi
berupa pemberhentian sebagai anggota DPD atau pemberhentian sementara
sebagai anggota DPD;
b. Setiap orang, kelompok atau organisasi dapat mengajukan pengaduan kepada
Badan Kehormatan DPD dalam hal memiliki bukti-bukti yang cukup bahwa
terdapat anggota DPD yang tidak melaksanakan salah satu atau lebih
kewajibannya;
c. Badan Kehormatan DPD berwenang memeriksa, memverifikasi dan
memutuskan pengaduan sebagaimana dimaksud pada huruf b;
d. Dalam hal Badan Kehormatan DPD memutuskan anggota DPD tidak
melaksanakan kewajibannya, keputusan Badan Kehormatan disampaikan
kepada pimpinan DPD.
e. Pimpinan DPD menyampaikan keputusan Badan Kehormatan DPD tentang
pemberhentian anggota DPD atau pemberhentian sementara anggota DPD
kepada Presiden untuk memperoleh pengesahan pemberhentian atau
pemberhentian sementaranya.
f. Dalam hal keputusan Badan Kehormatan DPD menyatakan tidak terdapat
cukup bukti anggota DPD tidak melaksanakan kewajibannya, anggota DPD
direhabilitasi namanya.

14. Susunan dan Kedudukan DPRD Provinsi


Sesuai dengan sistem pemilihan yang akan digunakan dalam pemilihan
umum anggota DPR dan DPRD, yaitu sistem proporsional dengan daftar terbuka
penuh dengan penetapan calon terpilih berdasarkan perolehan suara terbanyak,
maka berbeda dengan rumusan UU 22/2003 yang menyatakan bahwa “DPRD
provinsi terdiri atas anggota partai politik peserta pemilihan umum yang dipilih
berdasarkan hasil pemilihan umum”, RUU ini menegaskan bahwa “DPRD provinsi
terdiri atas anggota partai politik peserta pemilihan umum yang dipilih melalui
pemilihan umum”.
Sesuai dengan UU Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan
Daerah, rumusan kedudukan DPRD provinsi perlu disesuaikan dari “lembaga
pemerintahan daerah provinsi” menjadi “unsur penyelenggara pemerintahan
daerah provinsi”.

CETRO 20
NASKAH AKADEMIK (PEMERINTAH) 10 MEI 2007

15. Fungsi DPRD Provinsi


Untuk menegaskan dan memberi makna bagi kedudukan DPRD Provinsi
sebagai unsur penyelenggara pemerintahan daerah provinsi, maka rumusan fungsi
DPRD provinsi dari fungsi legislasi, anggaran, dan pengawasan, dipandang perlu
disesuaikan dan dirubah menjadi:
a. fungsi pembentukan peraturan daerah provinsi;
b. fungsi pembahasan dan persetujuan anggaran pendapatan dan belanja daerah
provinsi bersama dengan gubernur; dan
c. fungsi pengawasan pelaksanaan penyelenggaraan pemerintahan daerah
provinsi.

16. Tugas dan Wewenang DPRD Provinsi


Sebagai unsur penyelenggara pemerintahan daerah provinsi, DPRD
provinsi mempunyai tugas dan wewenang yang secara langsung terkait dengan
tujuan penyelenggaraan pemerintahan daerah. Oleh karena itu, rumusan tugas dan
wewenang DPRD provinsi perlu disempurnakan dan disesuaikan dengan
konstruksi penyelenggaraan pemerintahan daerah menurut UU Nomor 32 Tahun
2004, dengan tambahan sebagai berikut:
a. memilih wakil gubernur dalam hal terjadi kekosongan jabatan wakil gubernur;
b. memberikan persetujuan terhadap rencana kerjasama internasional yang
dilakukan oleh pemerintah daerah provinsi;
c. memberikan persetujuan terhadap rencana kerjasama antar daerah dan dengan
pihak ketiga yang membebani masyarakat dan daerah;
d. mengupayakan terlaksananya kewajiban daerah sesuai dengan peraturan
perundang-undangan.

17. Hak DPRD Provinsi


DPRD provinsi sebagai lembaga perwakilan rakyat daerah yang
berkedudukan sebagai unsur penyelenggara pemerintahan daerah provinsi
memiliki hak konstitusional berupa hak interpelasi, angket, dan menyatakan
pendapat. Penggunaan hak tersebut penting diatur dalam undang-undang dengan
pertimbangan perlunya dasar legitimasi yang kuat bagi DPRD provinsi dalam
menggunakan haknya, sehingga di dalam RUU dirumuskan sebagai berikut:
a. Penggunaan hak interpelasi:
1) Hak interpelasi adalah hak DPRD provinsi untuk meminta keterangan
kepada gubernur mengenai kebijakan pemerintah provinsi yang penting
dan strategis serta berdampak luas pada kehidupan masyarakat, daerah,
dan negara.
2) Hak interpelasi diajukan oleh paling sedikit 10 (sepuluh) orang anggota
DPRD provinsi kepada pimpinan DPRD provinsi dan mendapatkan
persetujuan dari rapat paripurna DPRD provinsi yang dihadiri sekurang-
kurangnya 3/4 (tiga perempat) dari jumlah anggota DPRD provinsi dan

CETRO 21
NASKAH AKADEMIK (PEMERINTAH) 10 MEI 2007

putusan diambil dengan persetujuan sekurang-kurangnya 2/3 (dua pertiga)


dari jumlah anggota DPRD provinsi yang hadir.
b. Penggunaan hak angket:
1) Hak angket adalah hak DPRD provinsi untuk melakukan penyelidikan
terhadap kebijakan gubernur yang penting dan strategis serta berdampak
luas pada kehidupan masyarakat, daerah, dan negara yang diduga
bertentangan dengan peraturan perundang-undangan.

2) Hak angket diajukan oleh paling sedikit 10 (sepuluh) orang anggota DPRD
provinsi kepada pimpinan DPRD provinsi dan mendapatkan persetujuan
dari rapat paripurna DPRD provinsi yang dihadiri sekurang-kurangnya 3/4
(tiga perempat) dari jumlah anggota DPRD provinsi dan putusan diambil
dengan persetujuan sekurang-kurangnya 2/3 (dua pertiga) dari jumlah
anggota DPRD provinsi yang hadir.
3) Dalam menggunakan hak angket dibentuk panitia angket yang terdiri atas
semua unsur fraksi DPRD provinsi dengan keputusan DPRD provinsi.
4) Panitia angket melaporkan pelaksanaan tugasnya kepada rapat paripurna
DPRD provinsi paling lama 60 (enam puluh) hari sejak dibentuknya panitia
angket.
5) Dalam menggunakan hak angketnya, DPRD provinsi dapat memanggil
pejabat negara tingkat provinsi, pejabat pemerintah provinsi, badan hukum,
atau warga masyarakat di provinsi yang dianggap mengetahui atau patut
mengetahui masalah yang diselidiki untuk memberikan keterangan serta
untuk meminta menunjukkan surat atau dokumen yang berkaitan dengan
hal yang sedang diselidiki.
6) Pejabat negara tingkat provinsi, pejabat pemerintah provinsi, badan hukum,
atau warga masyarakat di provinsi yang wajib memenuhi panggilan DPRD
provinsi kecuali ada alasan yang sah menurut peraturan perundang-
undangan.
7) Dalam hal telah dipanggil dengan patut secara berturut-turut tidak
memenuhi panggilan, DPRD provinsi dapat memanggil secara paksa
dengan bantuan Kepolisian Negara Republik Indonesia sesuai dengan
peraturan perundang-undangan.
c. Penggunaan hak menyatakan pendapat:
1) Hak menyatakan pendapat adalah hak DPRD provinsi untuk menyatakan
pendapat terhadap kebijakan gubernur yang penting dan strategis atau
mengenai kejadian luar biasa yang terjadi di daerah disertai dengan
rekomendasi penyelesaiannya atau sebagai tindak lanjut pelaksanaan hak
interpelasi dan hak angket.
2) Hak menyatakan pendapat diajukan oleh paling sedikit 10 (sepuluh) orang
anggota DPRD provinsi kepada pimpinan DPRD provinsi dan mendapatkan
persetujuan dari rapat paripurna DPRD provinsi yang dihadiri sekurang-
kurangnya 3/4 (tiga perempat) dari jumlah anggota DPRD provinsi dan
putusan diambil dengan persetujuan sekurang-kurangnya 2/3 (dua pertiga)
dari jumlah anggota DPRD provinsi yang hadir.

CETRO 22
NASKAH AKADEMIK (PEMERINTAH) 10 MEI 2007

18. Keanggotaan DPRD Provinsi


Dengan mempertimbangan perlunya pembangunan pemerintahan
daerah yang berbasis struktur penyelenggara pemerintahan yang efektif dan
efisien, serta mempertimbangkan jumlah anggota DPR-RI yang relatif kecil (Hasil
Pemilu 2004 berjumlah 550 orang), maka jumlah kursi DPRD provinsi menurut
RUU ini seyogianya disesuaikan. Diusulkan agar “Anggota DPRD provinsi
berjumlah paling sedikit 30 (tiga puluh) orang dan paling banyak 90 (sembilan
puluh) orang”, tidak lagi berjumlah paling sedikit 35 (tiga puluh lima) dan paling
banyak 100 (seratus) orang sebagaimana ditetapkan dalam UU Nomor 22 Tahun
2003.

19. Kewajiban anggota DPRD Provinsi


Dalam rangka peningkatan akuntabilitas dan kinerja lembaga dan
anggota DPRD provinsi, dipandang perlu merumuskan aturan yang menyangkut
kewajiban anggota DPRD provinsi untuk dapat memenuhi kewajibannya dalam
menegaskan "menyerap, menghimpun, menampung, dan menindaklanjuti aspirasi
masyarakat”. Sehingga, di dalam RUU dirumuskan bahwa disamping kewajiban-
kewajiban yang lain, anggota DPRD provinsi juga mempunyai kewajiban:
a. menyerap dan menghimpun aspirasi konstituen melalui kunjungan kerja secara
berkala;
b. menampung dan menindaklanjuti aspirasi dan pengaduan masyarakat;
c. mengikuti orientasi dan pendalaman tugas bagi anggota DPRD provinsi.
Untuk mendukung pelaksanaan tugas dan wewenang DPRD provinsi,
anggota DPRD provinsi mengikuti orientasi dan pendalaman tugas, yang
dilaksanakan sesuai dengan peraturan perundang-undangan, khususnya UU
Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah.

20. Pimpinan DPRD Provinsi


Prinsip pemberian reward secara politik bagi partai politik yang berhasil
memperoleh hasil pemilihan umum yang lebih baik dari partai politik lainnya dalam
pengisian Pimpinan DPR juga perlu digunakan dalam pengisian Pimpinan DPRD
provinsi, sehingga ketentuan dalam pengisian Pimpinan DPRD provinsi dirumuskan
sebagai berikut:
a. Pimpinan DPRD provinsi terdiri atas seorang Ketua dan paling banyak 3 (tiga)
orang wakil ketua yang berasal dari partai politik berdasarkan urutan perolehan
kursi terbanyak di DPRD provinsi;
b. Dalam hal terdapat lebih dari satu partai politik yang memperoleh kursi sama,
ketua dan wakil ketua DPRD provinsi ditentukan berdasarkan urutan hasil
perolehan suara terbanyak dalam pemilu;
c. Dalam hal terdapat lebih dari satu partai politik yang memperoleh suara sama,
ketua dan wakil ketua DPRD provinsi ditentukan berdasarkan persebaran
perolehan suara.
Sementara itu, pengaturan tentang pemberhentian pimpinan DPRD
provinsi juga dipandang perlu disempurnakan, khususnya dalam kaitan dengan

CETRO 23
NASKAH AKADEMIK (PEMERINTAH) 10 MEI 2007

akuntabiliats dan kinerjanya, serta dengan mempertimbangkan keberadaan mereka


sebagai kader partai politik. Oleh karena itu, pengaturan tentang pemberhentian
pimpinan DPRD provinsi dirumuskan sebagai berikut:
a. Pimpinan DPRD provinsi berhenti dari jabatannya karena:
1) meninggal dunia;
2) mengundurkan diri; atau
3) diberhentikan.
b. Alasan pemberhentian pimpinan DPRD provinsi, selain karena alasan
sebagaimana telah ditentukan dalam UU Nomor 22 Tahun 2003, juga apabila:
1) tidak dapat melaksanakan tugas secara berkelanjutan atau berhalangan
tetap sebagai pimpinan DPRD provinsi selama 3 (tiga) bulan berturut-turut;
2) melanggar sumpah/janji jabatan dan kode etik DPRD provinsi berdasarkan
hasil pemeriksaan badan kehormatan DPRD provinsi;
3) diusulkan oleh partai politiknya sesuai ketentuan undang-undang; atau
4) diberhentikan sebagai anggota partai politik.
c. Dalam hal salah satu pimpinan DPRD provinsi diberhentikan dari jabatannya,
penggantinya berasal dari fraksi yang sama dengan fraksi pimpinan yang
diberhentikan.

21. Sanksi bagi anggota DPRD Provinsi


Berbeda dengan UU Nomor 22 Tahun 2003 yang tidak mengatur sanksi
bagi anggota DPRD provinsi yang tidak melaksanakan kewajibannya, maka di
dalam RUU ini ditegaskan bahwa anggota DPRD provinsi yang terbukti tidak
melaksanakan kewajibannya dapat dikenai sanksi, dengan pengaturan sebagai
berikut:
a. Anggota DPRD provinsi yang tidak melaksanakan kewajiban dapat dikenakan
sanksi berupa pemberhentian sebagai anggota DPRD provinsi atau
pemberhentian sementara sebagai anggota DPRD provinsi;
b. Setiap orang, kelompok atau organisasi dapat mengajukan pengaduan kepada
badan kehormatan DPRD provinsi dalam hal memiliki bukti-bukti yang cukup
bahwa terdapat anggota DPRD provinsi yang tidak melaksanakan salah satu
atau lebih kewajibannya;
c. Badan kehormatan DPRD provinsi berwenang memeriksa, memverifikasi dan
memutuskan pengaduan sebagaimana dimaksud pada huruf b;
d. Dalam hal badan kehormatan DPRD provinsi memutuskan anggota DPRD
provinsi tidak melaksanakan kewajibannya, keputusan badan kehormatan
disampaikan kepada pimpinan DPRD provinsi;
e. Pimpinan DPRD provinsi menyampaikan keputusan badan kehormatan DPRD
provinsi tentang pemberhentian anggota DPRD provinsi atau pemberhentian
sementara anggota DPRD provinsi kepada Menteri Dalam Negeri untuk
memperoleh pengesahan pemberhentian atau pemberhentian sementaranya;

CETRO 24
NASKAH AKADEMIK (PEMERINTAH) 10 MEI 2007

f. Dalam hal keputusan badan kehormatan DPRD provinsi menyatakan tidak


terdapat cukup bukti anggota DPRD provinsi tidak melaksanakan
kewajibannya, anggota DPRD provinsi direhabilitasi namanya.

22. Susunan dan Kedudukan DPRD Kabupaten/Kota


Sesuai dengan sistem pemilihan yang akan digunakan dalam pemilihan
umum anggota DPR dan DPRD, yaitu sistem proporsional dengan daftar terbuka
penuh dengan penetapan calon terpilih berdasarkan perolehan suara terbanyak,
maka berbeda dengan rumusan UU 22/2003 yang menyatakan bahwa “DPRD
kabupaten/kota terdiri atas anggota partai politik peserta pemilihan umum yang
dipilih berdasarkan hasil pemilihan umum”, RUU ini menegaskan bahwa “DPRD
kabupaten/kota terdiri atas anggota partai politik peserta pemilihan umum yang
dipilih melalui pemilihan umum”.
Sesuai dengan UU Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan
Daerah, rumusan kedudukan DPRD kabupaten/kota perlu disesuaikan dari
“lembaga pemerintahan daerah kabupaten/kota” menjadi “unsur penyelenggara
pemerintahan daerah kabupaten/kota”.

23. Fungsi DPRD Kabupaten/Kota


Untuk menegaskan dan memberi makna bagi kedudukan DPRD
kabupaten/ kota sebagai unsur penyelenggara pemerintahan daerah
kabupaten/kota, maka rumusan fungsi DPRD kabupaten/kota dari fungsi legislasi,
anggaran, dan pengawasan, dipandang perlu disesuaikan dan dirubah menjadi:
a. fungsi pembentukan peraturan daerah kabupaten/kota;
b. fungsi pembahasan dan persetujuan anggaran pendapatan dan belanja daerah
provinsi bersama dengan bupati/walikota; dan
c. fungsi pengawasan pelaksanaan penyelenggaraan pemerintahan daerah
kabupaten/kota.

24. Tugas dan Wewenang DPRD Kabupaten/Kota


Sebagai unsur penyelenggara pemerintahan daerah kabupaten/kota,
DPRD kabupaten/kota mempunyai tugas dan wewenang yang secara langsung
terkait dengan tujuan penyelenggaraan pemerintahan daerah. Oleh karena itu,
rumusan tugas dan wewenang DPRD kabupaten/kota perlu disempurnakan dan
disesuaikan dengan konstruksi penyelenggaraan pemerintahan daerah menurut
UU Nomor 32 Tahun 2004, dengan tambahan sebagai berikut:
a. memilih wakil bupati/wakil walikota dalam hal terjadi kekosongan jabatan wakil
bupati/wakil walikota;
b. memberikan persetujuan terhadap rencana kerjasama internasional yang
dilakukan oleh pemerintah daerah kabupaten/kota;
c. memberikan persetujuan terhadap rencana kerjasama antar daerah dan dengan
pihak ketiga yang membebani masyarakat dan daerah;

CETRO 25
NASKAH AKADEMIK (PEMERINTAH) 10 MEI 2007

d. mengupayakan terlaksananya kewajiban daerah sesuai dengan peraturan


perundang-undangan.

25. Hak DPRD Kabupaten/Kota


DPRD kabupaten/kota sebagai lembaga perwakilan rakyat daerah yang
berkedudukan sebagai unsur penyelenggara pemerintahan daerah kabupaten/kota
memiliki hak konstitusional berupa hak interpelasi, angket, dan menyatakan
pendapat. Penggunaan hak tersebut penting diatur dalam undang-undang dengan
pertimbangan perlunya dasar legitimasi yang kuat bagi DPRD kabupaten/kota
dalam menggunakan haknya, sehingga di dalam RUU dirumuskan sebagai berikut:
a. Penggunaan hak interpelasi:
1) Hak interpelasi adalah hak DPRD kabupaten/kota untuk meminta
keterangan kepada bupati/walikota mengenai kebijakan pemerintah
kabupaten/kota yang penting dan strategis serta berdampak luas pada
kehidupan masyarakat, daerah, dan negara.
2) Hak interpelasi diajukan oleh paling sedikit 10 (sepuluh) orang anggota
DPRD kabupaten/kota kepada pimpinan DPRD kabupaten/kota dan
mendapatkan persetujuan dari rapat paripurna DPRD kabupaten/kota yang
dihadiri sekurang-kurangnya 3/4 (tiga perempat) dari jumlah anggota DPRD
kabupaten/kota dan putusan diambil dengan persetujuan sekurang-
kurangnya 2/3 (dua pertiga) dari jumlah anggota DPRD kabupaten/kota yang
hadir.
b. Penggunaan hak angket:
1) Hak angket adalah hak DPRD kabupaten/kota untuk melakukan
penyelidikan terhadap kebijakan bupati/walikota yang penting dan strategis
serta berdampak luas pada kehidupan masyarakat, daerah, dan negara
yang diduga bertentangan dengan peraturan perundang-undangan.
2) Hak angket diajukan oleh paling sedikit 10 (sepuluh) orang anggota DPRD
kabupaten/kota kepada pimpinan DPRD kabupaten/kota dan mendapatkan
persetujuan dari rapat paripurna DPRD kabupaten/kota yang dihadiri
sekurang-kurangnya 3/4 (tiga perempat) dari jumlah anggota DPRD
kabupaten/kota dan putusan diambil dengan persetujuan sekurang-
kurangnya 2/3 (dua pertiga) dari jumlah anggota DPRD kabupaten/kota yang
hadir.
3) Dalam menggunakan hak angket dibentuk panitia angket yang terdiri atas
semua unsur fraksi DPRD kabupaten/kota dengan keputusan DPRD
kabupaten/kota.
4) Panitia angket melaporkan pelaksanaan tugasnya kepada rapat paripurna
DPRD kabupaten/kota paling lama 60 (enam puluh) hari sejak dibentuknya
panitia angket.
5) Dalam menggunakan hak angketnya, DPRD kabupaten/kota dapat
memanggil pejabat negara tingkat kabupaten/kota, pejabat pemerintah
kabupaten/kota, badan hukum, atau warga masyarakat di kabupaten/kota
yang dianggap mengetahui atau patut mengetahui masalah yang diselidiki
untuk memberikan keterangan serta untuk meminta menunjukkan surat atau
dokumen yang berkaitan dengan hal yang sedang diselidiki.

CETRO 26
NASKAH AKADEMIK (PEMERINTAH) 10 MEI 2007

6) Pejabat negara tingkat kabupaten/kota, pejabat pemerintah kabupaten/kota,


badan hukum, atau warga masyarakat di kabupaten/kota yang wajib
memenuhi panggilan DPRD kabupaten/kota kecuali ada alasan yang sah
menurut peraturan perundang-undangan.
7) Dalam hal telah dipanggil dengan patut secara berturut-turut tidak memenuhi
panggilan, DPRD kabupaten/kota dapat memanggil secara paksa dengan
bantuan Kepolisian Negara Republik Indonesia sesuai dengan peraturan
perundang-undangan.
c. Penggunaan hak menyatakan pendapat:
1) Hak menyatakan pendapat adalah hak DPRD kabupaten/kota untuk
menyatakan pendapat terhadap kebijakan bupati/walikota yang penting dan
strategis atau mengenai kejadian luar biasa yang terjadi di daerah disertai
dengan rekomendasi penyelesaiannya atau sebagai tindak lanjut
pelaksanaan hak interpelasi dan hak angket.
2) Hak menyatakan pendapat diajukan oleh paling sedikit 10 (sepuluh) orang
anggota DPRD kabupaten/kota kepada pimpinan DPRD kabupaten/kota
dan mendapatkan persetujuan dari rapat paripurna DPRD kabupaten/kota
yang dihadiri sekurang-kurangnya 3/4 (tiga perempat) dari jumlah anggota
DPRD kabupaten/kota dan putusan diambil dengan persetujuan sekurang-
kurangnya 2/3 (dua pertiga) dari jumlah anggota DPRD kabupaten/kota
yang hadir.

26. Kewajiban anggota DPRD Kabupaten/Kota


Dalam rangka peningkatan akuntabilitas dan kinerja lembaga dan anggota
DPRD kabupaten/kota, dipandang perlu merumuskan aturan yang menyangkut
kewajiban anggota DPRD kabupaten/kota untuk dapat memenuhi kewajibannya
dalam menegaskan "menyerap, menghimpun, menampung, dan menindaklanjuti
aspirasi masyarakat”. Sehingga, di dalam RUU dirumuskan bahwa disamping
kewajiban-kewajiban yang lain, anggota DPRD kabupaten/kota juga mempunyai
kewajiban:
a. menyerap dan menghimpun aspirasi konstituen melalui kunjungan kerja secara
berkala;
b. menampung dan menindaklanjuti aspirasi dan pengaduan masyarakat;
c. mengikuti orientasi dan pendalaman tugas bagi anggota DPRD kabupaten/kota.
Untuk mendukung pelaksanaan tugas dan wewenang DPRD
kabupaten/kota, anggota DPRD kabupaten/kota mengikuti orientasi dan
pendalaman tugas, yang dilaksanakan sesuai dengan peraturan perundang-
undangan, khususnya UU Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah.

27. Pimpinan DPRD Kabupaten/Kota


Prinsip pemberian reward secara politik bagi partai politik yang berhasil
memperoleh hasil pemilihan umum yang lebih baik dari partai politik lainnya dalam
pengisian Pimpinan DPR dan DPRD provinsi juga perlu digunakan dalam pengisian
pimpinan DPRD kabupaten/kota, sehingga ketentuan dalam pengisian pimpinan
DPRD kabupaten/kota dirumuskan sebagai berikut:

CETRO 27
NASKAH AKADEMIK (PEMERINTAH) 10 MEI 2007

a. Pimpinan DPRD provinsi terdiri atas seorang Ketua dan paling banyak 2 (dua)
orang wakil ketua yang berasal dari partai politik berdasarkan urutan perolehan
kursi terbanyak di DPRD kabupaten/kota;
b. Dalam hal terdapat lebih dari satu partai politik yang memperoleh kursi sama,
ketua dan wakil ketua DPRD kabupaten/kota ditentukan berdasarkan urutan
hasil perolehan suara terbanyak dalam pemilu;
c. Dalam hal terdapat lebih dari satu partai politik yang memperoleh suara sama,
ketua dan wakil ketua DPRD kabupaten/kota ditentukan berdasarkan
persebaran perolehan suara.
Sementara itu, pengaturan tentang pemberhentian pimpinan DPRD
kabupaten/kota juga dipandang perlu disempurnakan, khususnya dalam kaitan
dengan akuntabilitas dan kinerjanya, serta dengan mempertimbangkan keberadaan
mereka sebagai kader partai politik. Oleh karena itu, pengaturan tentang
pemberhentian pimpinan DPRD kabupaten/kota dirumuskan sebagai berikut:
a. Pimpinan DPRD kabupaten/kota berhenti dari jabatannya karena:
1) meninggal dunia;
2) mengundurkan diri; atau
3) diberhentikan.
b. Alasan pemberhentian Pimpinan DPRD kabupaten/kota, selain karena alasan
sebagaimana telah ditentukan dalam UU Nomor 22 Tahun 2003, juga apabila:
1) tidak dapat melaksanakan tugas secara berkelanjutan atau berhalangan
tetap sebagai pimpinan DPRD kabupaten/kota selama 3 (tiga) bulan
berturut-turut;
2) melanggar sumpah/janji jabatan dan kode etik DPRD kabupaten/kota
berdasarkan hasil pemeriksaan badan kehormatan DPRD kabupaten/kota;
3) diusulkan oleh partai politiknya sesuai ketentuan undang-undang; atau
4) diberhentikan sebagai anggota partai politik.
c. Dalam hal salah satu pimpinan DPRD kabupaten/kota diberhentikan dari
jabatannya, penggantinya berasal dari fraksi yang sama dengan fraksi pimpinan
yang diberhentikan.

28. Sanksi bagi anggota DPRD Kabupaten/Kota


Berbeda dengan UU Nomor 22 Tahun 2003 yang tidak mengatur sanksi
bagi anggota DPRD kabupaten/kota yang tidak melaksanakan kewajibannya, maka
di dalam RUU ini ditegaskan bahwa anggota DPRD kabupaten/kota yang terbukti
tidak melaksanakan kewajibannya dapat dikenai sanksi, dengan pengaturan
sebagai berikut:
a. Anggota DPRD kabupaten/kota yang tidak melaksanakan kewajiban dapat
dikenakan sanksi berupa pemberhentian sebagai anggota DPRD
kabupaten/kota atau pemberhentian sementara sebagai anggota DPRD
kabupaten/kota;
b. Setiap orang, kelompok atau organisasi dapat mengajukan pengaduan kepada
badan kehormatan DPRD kabupaten/kota dalam hal memiliki bukti-bukti yang

CETRO 28
NASKAH AKADEMIK (PEMERINTAH) 10 MEI 2007

cukup bahwa terdapat anggota DPRD kabupaten/kota yang tidak melaksanakan


salah satu atau lebih kewajibannya;
c. Badan kehormatan DPRD kabupaten/kota berwenang memeriksa,
memverifikasi dan memutuskan pengaduan sebagaimana dimaksud pada huruf
b;

d. Dalam hal badan kehormatan DPRD kabupaten/kota memutuskan anggota


DPRD kabupaten/kota tidak melaksanakan kewajibannya, keputusan badan
kehormatan disampaikan kepada pimpinan DPRD kabupaten/kota;
e. Pimpinan DPRD kabupaten/kota menyampaikan keputusan badan kehormatan
DPRD kabupaten/kota tentang pemberhentian anggota DPRD kabupaten/kota
atau pemberhentian sementara anggota DPRD kabupaten/kota kepada
gubernur untuk memperoleh pengesahan pemberhentian atau pemberhentian
sementaranya;
f. Dalam hal keputusan badan kehormatan DPRD kabupaten/kota menyatakan
tidak terdapat cukup bukti anggota DPRD kabupaten/kota tidak melaksanakan
kewajibannya, anggota DPRD kabupaten/kota direhabilitasi namanya.

29. Penggantian Antarwaktu Anggota DPR, DPD, DPRD Provinsi, dan DPRD
Kabupaten/Kota
Sejalan dengan upaya peningkatan akuntabilitas dan kinerja lembaga
dan anggota DPR, DPD, DPRD provinsi, dan DPRD kabupaten/kota, maka
pengaturan tentang penggantian antarwaktu anggota DPR, DPD, DPRD provinsi,
dan DPRD kabupaten/kota juga perlu disempurnakan.
a. Penggantian antarwaktu anggota DPR:
Anggota DPR berhenti antarwaktu karena:
1) meninggal dunia;
2) mengundurkan diri; atau
3) diberhentikan.
Dalam RUU dirumuskan bahwa anggota DPR diberhentikan antarwaktu, selain
karena alasan yang telah ditetapkan di dalam UU Nomor 22 Tahun 2003, juga
apabila:
1) tidak dapat melaksanakan tugas secara berkelanjutan atau berhalangan
tetap sebagai anggota DPR selama 3 (tiga) bulan berturut-turut;
2) tidak menghadiri rapat paripurna dan/atau rapat alat kelengkapan yang
menjadi tugas dan kewajibannya selama 6 (enam) kali berturut-turut tanpa
alasan yang sah;
3) diberhentikan sebagai anggota partai politik.
Pemberhentian anggota DPR yang berkedudukan sebagai pimpinan DPR yang
telah memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud di atas disampaikan oleh
pimpinan partai politik kepada pimpinan DPR untuk selanjutnya disampaikan
oleh pimpinan DPR kepada Presiden untuk diresmikan. Usulan pemberhentian
oleh pimpinan partai politik tersebut dikirim tembusannya kepada Presiden.

CETRO 29
NASKAH AKADEMIK (PEMERINTAH) 10 MEI 2007

Apabila diperlukan, Badan Kehormatan DPR dalam melakukan penyelidikan,


verifikasi, dan pengambilan keputusan dapat dibantu oleh tim ahli independen
yang dibentuk oleh Badan Kehormatan DPR.
Dalam hal penyampaian usulan pemberhentian oleh unsur pimpinan DPR tidak
dilaksanakan paling lambat dalam waktu 7 (tujuh) hari kerja setelah diterimanya
usulan pemberhentian, dengan sendirinya pemberhentian dapat diresmikan
oleh Presiden.
b. Penggantian antarwaktu anggota DPD:
Anggota DPD berhenti antarwaktu karena:
1) meninggal dunia;
2) mengundurkan diri; atau
3) diberhentikan.
Dalam RUU dirumuskan bahwa anggota DPD diberhentikan antarwaktu, selain
karena alasan yang telah ditetapkan di dalam UU Nomor 22 Tahun 2003, juga
apabila:
1) tidak dapat melaksanakan tugas secara berkelanjutan atau berhalangan
tetap sebagai anggota DPD selama 3 (tiga) bulan berturut-turut.
2) tidak menghadiri rapat paripurna dan rapat alat kelengkapan yang menjadi
tugas, wewenang dan kewajibannya selama 6 (enam) kali berturut-turut
tanpa alasan yang sah.
3) diusulkan oleh masyarakat dari daerah yang diwakilinya sesuai ketentuan
undang-undang.
Pemberhentian anggota DPD yang berkedudukan sebagai pimpinan DPD yang
telah memenuhi ketentuan di atas (angka 1 dan angka 2) langsung disampaikan
oleh unsur pimpinan DPD lainnya kepada Presiden untuk diresmikan.
Pemberhentian anggota DPD dan anggota DPD yang berkedudukan sebagai
pimpinan DPD yang telah memenuhi ketentuan angka 3 disampaikan oleh
masyarakat pengusul kepada pimpinan DPD untuk selanjutnya disampaikan
oleh pimpinan DPD kepada Presiden untuk diresmikan. Usulan pemberhentian
oleh masyarakat pemilih dikirim tembusannya kepada Komisi Pemilihan Umum.
Apabila diperlukan, Badan Kehormatan DPD dalam melakukan penyelidikan,
verifikasi, dan pengambilan keputusan dapat dibantu oleh tim ahli independen
yang dibentuk oleh Badan Kehormatan DPD.
Dalam hal penyampaian usulan pemberhentian oleh unsur pimpinan DPD tidak
dilaksanakan paling lambat dalam waktu 7 (tujuh) hari kerja sejak diterimanya
usulan pemberhentian, dengan sendirinya pemberhentian dapat diresmikan
oleh Presiden.
c. Penggantian antarwaktu anggota DPRD provinsi:
Anggota DPRD provinsi berhenti antarwaktu karena:
1) meninggal dunia;
2) mengundurkan diri; atau
3) diberhentikan.

CETRO 30
NASKAH AKADEMIK (PEMERINTAH) 10 MEI 2007

Dalam RUU dirumuskan bahwa anggota DPRD provinsi diberhentikan


antarwaktu, selain karena alasan yang telah ditetapkan di dalam UU Nomor 22
Tahun 2003, juga apabila:
1) tidak dapat melaksanakan tugas secara berkelanjutan atau berhalangan
tetap sebagai anggota DPRD provinsi selama 3 (tiga) bulan berturut-turut;
2) tidak menghadiri rapat paripurna dan rapat alat kelengkapan yang menjadi
tugas, wewenang dan kewajibannya selama 3 (tiga) kali berturut-turut tanpa
alasan yang sah;
3) diberhentikan sebagai anggota partai politik.
Pemberhentian anggota DPRD provinsi yang berkedudukan sebagai pimpinan
DPRD provinsi yang telah memenuhi ketentuan tersebut di atas disampaikan
oleh pimpinan partai politik kepada pimpinan DPRD provinsi untuk selanjutnya
disampaikan oleh pimpinan DPRD provinsi kepada Menteri Dalam Negeri
melalui gubernur untuk diresmikan. Usulan pemberhentian oleh pimpinan partai
politik dikirim tembusannya kepada Menteri Dalam Negeri dan gubernur.
Apabila diperlukan, Badan Kehormatan DPRD provinsi dalam melakukan
penyelidikan, verifikasi, dan pengambilan keputusan dapat dibantu oleh tim ahli
independen yang dibentuk oleh Badan Kehormatan DPRD provinsi.
Dalam hal penyampaian usulan pemberhentian oleh unsur pimpinan DPRD
provinsi tidak dilaksanakan paling lambat 7 (tujuh) hari kerja sejak diterimanya
usulan pemberhentian, dengan sendirinya pemberhentian dapat diresmikan
oleh Menteri Dalam Negeri setelah menerima pemberitahuan dari gubernur atas
usul dari pimpinan partai politik yang bersangkutan.

d. Penggantian antarwaktu anggota DPRD kabupaten/kota:


Anggota DPRD kabupaten/kota berhenti antarwaktu karena:
1) meninggal dunia;
2) mengundurkan diri; atau
3) diberhentikan.
Dalam RUU dirumuskan bahwa anggota DPRD kabupaten/kota diberhentikan
antarwaktu, selain karena alasan yang telah ditetapkan di dalam UU Nomor 22
Tahun 2003, juga apabila:
1) tidak dapat melaksanakan tugas secara berkelanjutan atau berhalangan
tetap sebagai anggota DPRD kabupaten/kota selama 3 (tiga) bulan berturut-
turut.
2) tidak menghadiri rapat paripurna dan rapat alat kelengkapan yang menjadi
tugas, wewenang dan kewajibannya selama 3 (tiga) kali berturut-turut tanpa
alasan yang sah.
3) diberhentikan sebagai anggota partai politik.
Pemberhentian anggota DPRD kabupaten/kota yang berkedudukan sebagai
pimpinan DPRD kabupaten/kota yang telah memenuhi ketentuan tersebut di
atas disampaikan oleh pimpinan partai politik kepada pimpinan DPRD
kabupaten/kota untuk selanjutnya disampaikan oleh pimpinan DPRD
kabupaten/kota kepada gubernur melalui bupati/walikota untuk diresmikan.

CETRO 31
NASKAH AKADEMIK (PEMERINTAH) 10 MEI 2007

Usulan pemberhentian oleh pimpinan partai politik dikirim tembusannya kepada


gubernur dan bupati/walikota.
Apabila diperlukan, badan kehormatan DPRD kabupaten/kota dalam melakukan
penyelidikan, verifikasi, dan pengambilan keputusan dapat dibantu oleh tim ahli
independen yang dibentuk oleh badan kehormatan DPRD kabupaten/kota.
Dalam hal penyampaian usulan pemberhentian oleh unsur pimpinan DPRD
kabupaten/kota tidak dilaksanakan paling lambat 7 (tujuh) hari kerja, dengan
sendirinya pemberhentian dapat diresmikan oleh gubernur setelah menerima
pemberitahuan dari bupati/walikota atas usul pimpinan partai politik yang
bersangkutan.

30. Calon Pengganti Antar Waktu Anggota DPR, DPD, DPRD Provinsi, dan
DPRD Kabupaten/Kota
Dalam rangka penggantian antarwaktu anggota DPR, dirumuskan
ketentuan bahwa calon pengganti adalah:
a. calon anggota DPR yang memperoleh suara terbanyak urutan berikutnya
dalam daftar peringkat perolehan suara dari partai politik yang sama pada
daerah pemilihan yang sama;
b. apabila calon pengganti sebagaimana dimaksud pada huruf a mengundurkan
diri, meninggal dunia, atau diberhentikan, diajukan calon anggota DPR yang
memperoleh suara terbanyak urutan berikutnya dari partai politik yang sama
pada daerah pemilihan yang sama.

Dalam rangka penggantian antarwaktu anggota DPD, dirumuskan


ketentuan bahwa calon pengganti adalah:
a. calon anggota DPD yang memperoleh suara terbanyak urutan berikutnya
dalam daftar peringkat perolehan suara calon anggota DPD dari provinsi yang
sama;
b. apabila calon pengganti sebagaimana dimaksud pada huruf a mengundurkan
diri, meninggal dunia, atau diberhentikan, diajukan calon anggota DPD yang
memperoleh suara terbanyak urutan berikutnya dalam peringkat perolehan
suara calon anggota DPD dari provinsi yang sama.
Dalam rangka penggantian antarwaktu anggota DPRD provinsi,
dirumuskan ketentuan bahwa calon pengganti adalah:
a. calon anggota DPRD provinsi yang memperoleh suara terbanyak urutan
berikutnya dalam daftar peringkat perolehan suara dari partai politik yang sama
pada daerah pemilihan yang sama;
b. apabila calon pengganti sebagaimana dimaksud pada huruf a mengundurkan
diri, meninggal dunia, atau diberhentikan, diajukan calon pengganti pada urutan
peringkat perolehan suara berikutnya dari partai politik yang sama pada daerah
pemilihan yang sama.
Dalam rangka penggantian antarwaktu anggota DPRD kabupaten/kota,
dirumuskan ketentuan bahwa calon pengganti adalah:

CETRO 32
NASKAH AKADEMIK (PEMERINTAH) 10 MEI 2007

a. calon anggota DPRD kabupaten/kota yang memperoleh suara terbanyak urutan


berikutnya dalam daftar peringkat perolehan suara dari partai politik yang sama
pada daerah pemilihan yang sama;
b. apabila calon pengganti sebagaimana dimaksud pada huruf a mengundurkan
diri, meninggal dunia, atau diberhentikan diajukan calon pengganti pada urutan
peringkat perolehan suara berikutnya dari partai politik yang sama pada daerah
pemilihan yang sama.
Tata cara pengajuan penggantian antarwaktu, verifikasi terhadap
persyaratan calon pengganti antarwaktu, dan pengesahan calon pengganti
antarwaktu anggota DPR, DPD, DPRD provinsi, dan DPRD kabupaten/kota
ditetapkan dengan peraturan pemerintah.

31. Pemberhentian Sementara Anggota DPR, DPD, DPRD Provinsi, dan DPRD
Kabupaten/Kota
Untuk mengantisipasi kemungkinan selama masa jabatannya anggota
DPR, DPD, DPRD provinsi, dan DPRD kabupaten/kota tersangkut masalah hukum,
khususnya sebagai akibat dari perbuatan melawan hukum berupa perkara tindak
pidana umum dan perkara tindak pidana khusus, maka dipandang perlu adanya
pengaturan tentang pemberhentian sementara anggota DPR, DPD, DPRD provinsi,
dan DPRD kabupaten/kota.
Anggota DPR, DPD, DPRD provinsi dan DPRD kabupaten/kota
diberhentikan sementara karena:
a. menjadi terdakwa dalam perkara tindak pidana umum yang diancam dengan
pidana penjara lima tahun atau lebih;
b. menjadi terdakwa dalam perkara tindak pidana khusus.
Beberapa rumusan ketentuan yang menyangkut pemberhentian
sementara anggota DPR, DPD, DPRD provinsi, dan DPRD kabupaten/kota adalah:
a. Dalam hal anggota DPR, DPD, DPRD provinsi dan DPRD kabupaten/kota
dinyatakan terbukti bersalah karena melakukan tindak pidana sebagaimana
dimaksud pada huruf a dan/atau huruf b di atas berdasarkan putusan
pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap, anggota yang
bersangkutan diberhentikan sebagai anggota DPR, DPD, DPRD provinsi dan
DPRD kabupaten/kota;
b. Dalam hal anggota DPR, DPD, DPRD provinsi dan DPRD kabupaten/kota
dinyatakan tidak terbukti melakukan tindak pidana sebagaimana dimaksud pada
huruf a dan/atau huruf b berdasarkan putusan pengadilan yang telah
memperoleh kekuatan hukum tetap, anggota yang bersangkutan diaktifkan
kembali sampai dengan berakhirnya masa jabatan anggota DPR, DPD, DPRD
provinsi dan DPRD kabupaten/kota;
c. Dalam hal anggota DPR, DPD, DPRD provinsi dan DPRD kabupaten/kota
diberhentikan sementara, hak keuangannya tidak dibayarkan kecuali uang
representasi;
d. Dalam hal anggota DPR, DPD, DPRD provinsi dan DPRD kabupaten/kota
diberhentikan, pemberhentiannya berlaku terhitung mulai tanggal putusan
pengadilan telah memperoleh kekuatan hukum tetap.

CETRO 33
NASKAH AKADEMIK (PEMERINTAH) 10 MEI 2007

32. Alat Kelengkapan dan Pendukung


Sebagai bagian dari upaya penguatan DPD sebagai lembaga perwakilan
daerah yang berkedudukan sebagai lembaga negara, dipandang perlu melegitimasi
keberadaan beberapa alat kelengkapan DPD yang selama ini telah ada
berdasarkan Peraturan Tata Tertib DPD. Beberapa alat kelengkapan yang
dipandang penting untuk menjadi tambahan rumusan dalam RUU adalah:
a. Panitia Musyawarah;
b. Panitia Perancang Undang-Undang;
c. Panitia Urusan Rumah Tangga;
d. Panitia Kerjasama Antar Parlemen;
e. Alat Kelengkapan lain yang diperlukan.
Sementara itu, penguatan DPRD provinsi dan DPRD kabupaten/kota,
khususnya dalam pelaksanaan fungsi pembentukan peraturan daerah provinsi dan
pembentukan peraturan daerah kabupaten/kota, dipandang perlu alat kelengkapan
DPRD yang terkait langsung dengan fungsi tersebut. Oleh karena itu, di dalam
RUU dirumuskan adanya Panitia Program Penyusunan Peraturan Daerah sebagai
alat kelengkapan DPRD Provinsi dan alat kelengkapan DPRD kabupaten/kota.
Untuk mengoptimalkan pelaksanaan fungsi, tugas dan wewenang DPR,
DPRD provinsi, dan DPRD kabupaten/kota, serta hak dan kewajiban anggota DPR,
dibentuk fraksi sebagai wadah berhimpun anggota-anggota DPR, DPRD provinsi,
dan DPRD kabupaten/kota. Setiap anggota DPR, DPRD provinsi, dan DPRD
kabupaten/kota menjadi anggota salah satu fraksi. Setiap fraksi di DPR
beranggotakan paling sedikit 25 (dua puluh lima) orang, di DPRD provinsi
beranggotakan paling sedikit 15 (lima belas) orang, di DPRD kabupaten/kota
beranggotakan paling sedikit 10 (sepuluh ) orang. Partai politik yang jumlah
anggotanya di DPR, DPRD provinsi, dan DPRD kabupaten/kota mencapai
ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) atau lebih dapat membentuk 1
(satu) fraksi. Dalam hal partai politik yang jumlah anggotanya di DPR, DPRD
provinsi, dan DPRD kabupaten/kota tidak mencapai ketentuan sebagaimana
dimaksud pada ayat (3), anggotanya dapat bergabung dengan anggota partai
politik yang memenuhi ketentuan untuk membentuk 1 (satu) fraksi atau anggotanya
bergabung dengan anggota partai politik lain untuk memenuhi ketentuan
pembentukan fraksi.

33. Pengelolaan Keuangan MPR, DPR, dan DPD


Berbeda dengan UU Nomor 22 Tahun 2003, di dalam RUU dirumuskan
bahwa kedudukan protokoler dan keuangan pimpinan dan anggota MPR, DPR dan
DPD diatur dengan peraturan pemerintah berdasarkan masukan dari masing-
masing lembaga. Pengelolaan keuangan MPR, DPR, dan DPD dilaksanakan oleh
Sekretariat Jenderal MPR, Sekretariat Jenderal DPR, dan Sekretariat Jenderal
DPD sesuai dengan peraturan perundang-undangan.
Hal tersebut sejalan dengan ketentuan UU Nomor 17 Tahun 2003
tentang Keuangan Negara dan UU Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan
Negara, yang menunjuk Kepala Satuan Kerja sebagai Pengguna Anggaran. Oleh
karena itu, Sekretaris Jenderal MPR, Sekretaris Jenderal DPR, dan Sekretaris

CETRO 34
NASKAH AKADEMIK (PEMERINTAH) 10 MEI 2007

Jenderal DPD sebagai Kepala Satuan Kerja Sekretariat Jenderal MPR, DPR, dan
DPD adalah Pengguna Anggaran. Sesuai dengan rumusan dalam RUU ini, maka
Pimpinan MPR, Pimpinan DPR, dan Pimpinan DPD mempunyai tugas menetapkan
arah dan kebijakan umum anggaran MPR, DPR, dan DPD.

34. Ketentuan Lain-lain


Untuk mengakomodasi dinamika politik pemerintahan pasca pemilihan
umum, khususnya dalam kaitan dengan pembentukan daerah otonom baru, maka
dalam ketentuan lain-lain perlu diatur ketentuan tentang pengisian anggota DPRD
provinsi dan/atau DPRD kabupaten/kota pada provinsi dan atau kabupaten/kota
yang dibentuk setelah pemilihan umum.
Pengisian anggota DPRD provinsi dan/atau DPRD kabupaten/kota pada
provinsi dan atau kabupaten/kota yang dibentuk setelah pemilihan umum,
disamping ketentuan yang telah terdapat dalam UU Nomor 22 Tahun 2003, juga
harus dilakukan dengan ketentuan “menetapkan jumlah kursi DPRD provinsi dan
atau DPRD kabupaten/kota yang bersangkutan berdasarkan jumlah penduduk
menurut ketentuan undang-undang tentang pemilihan umum anggota DPR, DPD,
dan DPRD”.
Pengurangan anggota DPRD provinsi induk dan atau DPRD
kabupaten/kota induk sebagai akibat dari pemindahan anggota DPRD provinsi dan
atau DPRD kabupaten/kota ke daerah yang dibentuk setelah pemilihan umum,
dapat dilakukan pengisian anggota baru, dengan ketentuan:
a. jumlah kursi DPRD provinsi dan atau DPRD kabupaten/kota yang bersangkutan
ditentukan kembali berdasarkan jumlah penduduk menurut ketentuan Undang-
Undang tentang Pemilihan Umum anggota DPR, DPD, dan DPRD;
b. dalam hal jumlah anggota DPRD provinsi dan atau DPRD kabupaten/kota yang
ada setelah dikurangi dengan anggota yang dipindahkan ke
provinsi/kabupaten/kota yang baru tidak memenuhi jumlah kursi sebagaimana
dimaksud pada huruf a, dilakukan pengisian baru;
c. pengisian baru sebagaimana dimaksud pada huruf b dilakukan dengan
mengangkat anggota baru dari daftar calon tetap anggota DPRD provinsi dan
atau DPRD kabupaten/kota induk berdasarkan peringkat perolehan suara dari
setiap calon dalam pemilihan umum yang berasal dari daerah pemilihan di
provinsi dan atau kabupaten/kota induk.

B. Susunan Rancangan Undang-Undang


RUU tentang Susunan dan Kedudukan MPR, DPR, DPD, dan DPRD
disusun dengan struktur Bab dan Pasal, yang terdiri atas 13 Bab dan 131 Pasal.
Dibandingkan dengan UU Nomor 22 Tahun 2003 yang terdiri atas 12 Bab dan 114
Pasal, maka dalam RUU terdapat penambahan 1 Bab dan 17 Pasal. Penambahan
Bab terjadi karena Bab VIII (ALAT KELENGKAPAN, PROTOKOLER, KEUANGAN,
DAN PERATURAN TATA TERTIB) dalam UU Nomor 22 Tahun 2003 dijadikan dua
bab dalam RUU, yaitu Bab VIII (ALAT KELENGKAPAN DAN PENDUKUNG) dan
Bab IX (KEDUDUKAN PROTOKOLER, KEUANGAN, DAN PERATURAN TATA
TERTIB).

CETRO 35
NASKAH AKADEMIK (PEMERINTAH) 10 MEI 2007

Secara lengkap, ke 13 Bab dan 126 Pasal dalam RUU adalah:


Bab I KETENTUAN UMUM;
terdiri atas 1 pasal, yaitu Pasal 1.
BAB II MAJELIS PERMUSYAWARATAN RAKYAT;
terdiri atas 14 pasal, yaitu Pasal 2 sampai dengan Pasal 15.
BAB III DEWAN PERWAKILAN RAKYAT;
terdiri atas 21 pasal, yaitu Pasal 16 sampai dengan Pasal 36.
BAB IV DEWAN PERWAKILAN DAERAH;
terdiri atas 15 pasal, yaitu Pasal 37 sampai dengan Pasal 51.
BAB V DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH PROVINSI;
terdiri atas 20 pasal, yaitu Pasal 52 sampai dengan Pasal 71.
BAB VI DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH KABUPATEN/KOTA;
terdiri atas 20 pasal, yaitu Pasal 72 sampai dengan Pasal 91.
BAB VII PENGGANTIAN ANTARWAKTU;
terdiri atas 19 pasal, yaitu Pasal 92 sampai dengan Pasal 110.
BAB VIII ALAT KELENGKAPAN DAN PENDUKUNG;
terdiri atas 6 pasal, yaitu Pasal 111 sampai dengan Pasal 116.
BAB IX KEDUDUKAN PROTOKOLER, KEUANGAN, DAN PERATURAN
TATA TERTIB;
terdiri atas 3 pasal, yaitu Pasal 117 sampai dengan Pasal 119.
BAB X KEKEBALAN, LARANGAN, DAN PENYIDIKAN TERHADAP
ANGGOTA MPR, DPR, DPD, DPRD PROVINSI, DAN DPRD
KABUPATEN/KOTA;
terdiri atas 5 pasal, yaitu Pasal 120 sampai dengan Pasal 124.
BAB XI KETENTUAN LAIN-LAIN;
terdiri atas 2 pasal, yaitu Pasal 125 sampai dengan Pasal 126.
BAB XII KETENTUAN PERALIHAN;
terdiri atas 3 pasal, yaitu Pasal 127 sampai dengan Pasal 129.
BAB XIII KETENTUAN PENUTUP;
terdiri atas 2 pasal, yaitu Pasal 130 sampai dengan Pasal 131.

CETRO 36
NASKAH AKADEMIK (PEMERINTAH) 10 MEI 2007

BAB V
PENUTUP

Demikianlah Naskah Akademik ini dibuat untuk dijadikan acuan dalam


perumusan dan pembahasan RUU tentang Susunan dan Kedudukan MPR, DPR,
DPD, dan DPRD.

CETRO 37
NASKAH AKADEMIK (PEMERINTAH) 10 MEI 2007

DAFTAR PUSTAKA

1. Arend Lijphart, Sistem Pemerintahan Parlementer dan Presidensial, Jakarta:


PT RajaGrafindo Persada, 1995.
2. Scott Mainwaring, “Presidentialism, Multipartism, and Democracy: The Difficult
Combination,” Comparative Political Studies, 26, 1993.
3. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.
4. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan
Negara.
5. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 2003 tentang Susunan
dan Kedudukan MPR, DPR, DPD, dan DPRD.
6. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 2004 tentang
Perbendaharaan Negara.
7. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 10 Tahun 2004 tentang
Pembentukan Peraturan Perundang-undangan.
8. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2004 tentang
Pemerintahan Daerah.
9. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 17 Tahun 2007 tentang Rencana
Pembangunan Jangka Panjang Nasional Tahun 2005-2025.
10. Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2004 tentang Pedoman Penyusunan
Peraturan Tata Tertib Dewan Perwakilan Rakyat Daerah.
11. Peraturan Pemerintah Nomor 53 Tahun 2005 tentang Perubahan atas
Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2004 tentang Pedoman Penyusunan
Peraturan Tata Tertib Dewan Perwakilan Rakyat Daerah.
12. Peraturan Presiden Nomor 7 Tahun 2005 tentang Rencana Pembangunan
Jangka Menengah Nasional Tahun 2005-2009.

CETRO 38