Anda di halaman 1dari 79

Editorial

Psikobuana Volume 1 Nomor 3 ini menghadirkan enam buah artikel. Artikel pertama ditulis
oleh Idhamsyah Eka Putra dan Zora A. Wongkaren, dengan judul “Konstruksi Skala
Fundamentalisme Islam di Indonesia”. Sebagaimana kita ketahui, harian Kompas pada 28 Maret
2008 memaparkan hasil survei yang dilakukan aktivis gerakan nasionalis pada 2006, bahwa 80%
mahasiswa memilih syariah sebagai pandangan hidup berbangsa dan bernegara, 15,5% memilih
aliran sosialisme dengan berbagai varian sebagai acuan hidup, sedangkan hanya 4,5% responden
yang masih memandang Pancasila tetap layak sebagai pandangan hidup berbangsa dan bernegara.
Penelitian itu dilakukan di Universitas Indonesia, Institut Teknologi Bandung, Universitas Gadjah
Mada, Universitas Airlangga, dan Universitas Brawijaya. Dalam konteks ini, artikel Putra dan
Wongkaren sangat penting karena mereka kini menyediakan sebuah alat ukur berupa skala
psikologis yang sudah teruji yang dapat mengenali para fundamentalis Islam di Indonesia secara
lebih memadai—dibandingkan dengan alat ukur dari Barat. Dengan selangkah lagi memikirkan
bersama bagaimana alat ukur ini digunakan secara efektif serta bagaimana hasil ukur disikapi, kita
berharap bahwa karya mereka mampu memberikan sumbangsih menuju gerakan pencegahan
ekstrimisme ideologis yang disinyalir marak berkembang di kampus-kampus.
Artikel kedua ditulis oleh Meilisha Djati Arum dan A. A. Anwar Prabu Mangkunegara, dengan
judul "Peran Sikap, Norma Subjektif, dan Persepsi Kendali Perilaku Dalam Memprediksi Intensi
Wanita Melakukan Pemeriksaan Payudara Sendiri”. Kesehatan perempuan merupakan sesuatu
yang penting, terlebih lagi perempuan, khususnya di Indonesia, dewasa ini dapat menjadi pemimpin
(khalifah). Oleh karenanya, artikel hasil penelitian dari Arum dan Mangkunegara tersebut dapat
kita pandang berkontribusi terhadap upaya penyadaran dan edukasi terhadap perempuan untuk
mengembangkan intensi yang kuat guna memelihara kesehatan payudara, organ vital perempuan.
Sebab, pemeliharaan kesehatan ini berarti juga pemeliharaan kehidupan yang lebih luas.
Artikel ketiga ditulis oleh Juneman, Pengurus Ikatan Psikologi Sosial Himpunan Psikologi
Indonesia, dengan judul ”Masalah Transportasi Kota dan Pendekatan Psikologi Sosial".
Selanjutnya, Lukman Sarosa Sriamin menyampaikan pemikirannya yang berjudul ”Pancasila
Sebagai Landasan Terbentuknya ’Sane Society’ Fromm”. Sriamin memang menyayangkan bahwa
Fromm tidak dilahirkan sebagai orang Indonesia. Namun demikian, ia melihat bahwa masyarakat
yang diidamkan Fromm merupakan suatu posibilitas, bukan hanya mimpi, dan Pancasila dari
Indonesia adalah jawab untuk mewujudkannya. Pada akhirnya, Bonar Hutapea serta Rendy
Wirawan dan Eunika Sri Tyas Suci masing-masing menyampaikan hasil penelitiannya mengenai
”Studi Komparatif Tentang Motivasi Berprestasi Pada Atlet Kempo Propinsi DKI Jakarta Ditinjau
Dari Kepribadian” serta ”Gambaran Faktor-faktor Pembentuk Efikasi Diri Dalam Membuat dan
Menerbitkan Komik Bergaya Jepang Pada Komikus yang Sudah Menerbitkan Karyanya”.

Penyunting
Psikobuana ISSN 2085-4242
2010, Vol. 1, No. 3

Daftar Isi

Editorial i
Penyunting

Daftar Isi ii

Konstruksi Skala Fundamentalisme Islam di Indonesia


Idhamsyah Eka Putra dan Zora A. Wongkaren 151–161

Peran Sikap, Norma Subjektif, dan Persepsi Kendali Perilaku Dalam


Memprediksi Intensi Wanita Melakukan Pemeriksaan Payudara Sendiri
Meilisha Djati Arum dan A. A. Anwar Prabu Mangkunegara 162–172

Masalah Transportasi Kota dan Pendekatan Psikologi Sosial


Juneman 173–189

Pancasila Sebagai Landasan Terbentuknya "Sane Society" Fromm


Lukman Sarosa Sriamin 190–198

Studi Komparatif Tentang Motivasi Berprestasi Pada Atlet Kempo Propinsi


DKI Jakarta Ditinjau Dari Kepribadian
Bonar Hutapea 199–209

Gambaran Faktor-faktor Pembentuk Efikasi Diri Dalam Membuat dan


Menerbitkan Komik Bergaya Jepang Pada Komikus yang
Sudah Menerbitkan Karyanya
Rendy Wirawan dan Eunike Sri Tyas Suci 210-218

Panduan Bagi Penulis

Indeks
Psikobuana ISSN 2085-4242
2010, Vol. 1, No. 3, 151–161

Konstruksi Skala Fundamentalisme Islam di Indonesia

Idhamsyah Eka Putra dan Zora A. Wongkaren


Fakultas Psikologi, Universitas Indonesia

The purposes of this study are to adapt and modify RFS (Religious
Fundamentalism Scale) and IFS (Intratextual Fundamentalism Scale) in
order to develop ISFS (Islamic Fundamentalism Scale). Moreover, this
study is to find the coefficient correlation between IFS and prejudice
towards Christians. Data were derived from 311 Muslim participants who
were given a questionnaire. The results show that the items coefficient
reliability of the ISFS is .86 and the items coefficient validity is between
.37 and .64. Therefore, the ISFS is considered effective enough as an
Islamic fundamentalism measuring tool. The research results also indicate
that there is significant correlation between Islamic fundamentalism and
prejudice towards Christians. Further, this research exhibits the Islamic
fundamentalism as an independent variable in prejudice prediction
towards Christians. Recommendations for further researches are about the
relationship between Islamic fundamentalism and prejudice towards other
believers, certain races and or ethnicities, homosexuals, and other
psychological variables such as social identities, social dominance
orientation, and authoritarianism in prejudice.

Keywords: religious fundamentalism, prejudice, authoritarianism,


religious orientation

Dalam psikologi sosial, diskriminasi dan yang banyak ditelaah karena konflik sosial,
prasangka merupakan kajian yang banyak perang, dan penindasan antara lain diakibatkan
diteliti terutama setelah perang dunia pertama oleh prasangka.
dan kedua. Setidaknya laporan terakhir dalam Prasangka dapat muncul dari berbagai
pangkalan jurnal PsycINFO (2010) sebab, antara lain karena deprivasi relatif
menunjukkan 1.424 artikel jurnal yang (Davis, 1959), identitas (Tajfel & Turner,
memberikan judul prasangka dan sekitar 5.103 1979), konflik sosial (Bar-Tal & Teichman,
artikel jurnal yang memiliki kata kunci 2005), orientasi dominansi sosial (Sidanius &
prasangka. Data tersebut belum termasuk Pratto, 2001), sifat otoriter (Adorno, Frenkel-
jumlah buku, tesis, disertasi, artikel konferensi. Brunswik, Levinson, & Sanford, 1950;
Tokoh-tokoh awal psikologi seperti Thorndike, Altemeyer, 1981), ancaman (Greenberg,
Lewin, Ash, dan Allport pun ikut memberikan Solomon, & Pyszczynski, 1997), dan agama
kontribusi terhadap berbagai kajian di seputar (Allport, 1954). Faktor terakhir yang disebut
isu tersebut. Prasangka menjadi suatu topik sebagai penyebab prasangka, yaitu agama,
151
152 PUTRA DAN WONGKAREN

menarik untuk ditelaah secara mendalam. Hal peneliti seperti Duck dan Hunsberger (1999)
ini karena unsur ajaran setiap agama yang serta Cannon (2001) turut memberikan
mempromosikan nilai-nilai kebaikan dan dukungan dan menguatkan hasil temuan
kemuliaan (termasuk tidak memiliki prasangka mereka. Namun demikian, beberapa penelitian
negatif terhadap sesama atau manusia lain) terakhir mengenai orientasi intrinsik dan
untuk dijadikan pedoman bagi pemeluknya agar ekstrinsik membuktikan tentang lemah atau
mencapai ketenangan dan kesejahteraan hidup, tidak kuatnya konsep yang diberikan Allport
justru malah menjadi faktor prasangka. dan Ross. Beberapa temuan menunjukkan
Berkaitan dengan agama sebagai bahwa orang dengan orientasi intrinsik juga
determinan prasangka, Allport dan Ross (1967) menunjukkan dukungannya terhadap prasangka
membuktikan bahwa orang beragama dengan terhadap penganut lain (Herek, 1987; Lough,
orientasi ekstrinsik cenderung memiliki 2005; Spilka, Hood, & Gorsuch, 1985). Hasil
prasangka negatif terhadap penganut lain. dari penjelasan-penjelasan tersebut
Orang beragama dengan orientasi intrinsik menunjukkan adanya faktor lain yang terlewat
cenderung tidak mendukung prasangka atau belum terpikir, yang menjadi determinan
terhadap penganut lain. Orientasi keberagamaan sesungguhnya dalam mengukur hubungan
ekstrinsik berarti agama dimanfaatkan. Agama antara agama dan prasangka. Menurut
berguna untuk mendukung kepercayaan diri, Altemeyer (2003), hal lain yang belum
memperbaiki status, bertahan melawan terpikirkan tersebut adalah kefanatikan. Dengan
kenyataan, atau memberi sanksi pada suatu cara kata lain, kefanatikan menurutnya merupakan
hidup. Orang dengan orientasi keberagamaan penyebab sesungguhnya dalam mengukur
ekstrinsik menemukan bahwa agama hubungan antara agama dan prasangka.
bermanfaat dalam banyak hal, dan menekankan Kefanatikan ini menurutnya muncul di dalam
imbalan yang akan diperolehnya. Sebaliknya, fundamentalisme agama. Altemeyer sendiri
orientasi keberagamaan intrinsik berarti agama menjelaskan fundamentalisme agama adalah
dihayati. Iman dipandang bernilai pada dirinya suatu keyakinan kuat tentang ajaran agama
sendiri yang menuntut keterlibatan dan yang digunakan sebagai dasar untuk memahami
mengatasi kepentingan diri. Orientasi dan berperilaku. Lebih jelas, Altemeyer dan
keberagamaan intrinsik meletakkan motif Hunsberger menjelaskan:
orientasi di bawah keterlibatan yang
komprehensif (Allport, 1960, dalam Crapps, The belief that there is one set of religious
1993). Dua kecenderungan ini muncul karena, teaching that clearly contains the
menurut Allport (1954), agama selain fundamental. Basic intrinsic, essential,
mengajarkan kebaikan juga mengajarkan inerrant truth about humanity and deity; that
this essential truth is fundamentally opposed
kekerasan dan intoleransi. Kondisi ini
by forces of evil which must be vigorously
memberikan potensi munculnya dua sisi
practice of the past; and that those who
pandang yang berbeda mengenai agama, yakni
believe and follow these fundamental
di satu sisi menciptakan kebaikan, dan di sisi teachings have a special relationship with the
lain menciptakan kejahatan. deity. (Altemeyer & Husberger, 1992)
Di samping Allport dan Ross, beberapa
KONSTRUKSI SKALA 153

Senada dengan Altemeyer, Taylor dan dengan model intertekstual yaitu bentuk
Horgan (2001) mengartikan fundamentalisme pemahaman Al-Qur’an yang terbuka untuk
agama sebagai suatu ideologi yang berangkat didiskusikan dan ditafsirkan. Kitab suci sebagai
dari latar belakang keyakinan agama yang kuat dasar ajaran biasanya oleh fundamentalis agama
dan kehidupan agama yang dijalankan dengan digunakan untuk memahami dirinya dan untuk
sangat serius. Berangkat dari pemahaman memahami seluruh yang ada, yang sifatnya
tersebut, Altemeyer dan Hunsberger (1992) mutlak dan tidak berubah. Mereka yakin bahwa
membuat alat ukur yang disebut dengan skala isi kitab suci adalah suatu yang dipastikan benar
fundamentalisme agama (religious dan akurat sifat kebenarannya. Menurut mereka,
fundamentalisme scale/RFS). Pada beberapa inti pengukuran fundamentalisme agama
penelitian dengan mayoritas sampel beragama terletak pada pemahaman mengenai kitab suci.
Kristen, RFS menunjukkan hubungan yang kuat Untuk mengakomodasi gagasan ini dan
dengan prasangka ras maupun etnis (Smith, mengujinya secara empiris, mereka membuat
Stones, Peck, & Naidoo, 2007), prasangka alat ukur skala intratekstual fundamentalisme
terhadap agama yang berbeda (Altemeyer, (Intratextual Fundamentalism Scale/IFS).
2003; lihat juga Raiya, Pargament, Mahoney, & Pertanyaan yang muncul setelah membaca
Trevino, 2008; Rowatt, Franklin, & Cotton, keterangan mereka adalah apakah alat ukur
2005), dan dukungan kekerasan terhadap yang dikembangkan mereka akan cocok diukur
homoseksual (Bizumic & Duckitt, 2007; pada agama Islam. Jika mengamati konsep
Laythe, Finkel, & Kirkpatrick, 2001). fundamentalisme agama dan memahaminya
Meskipun RFS telah menunjukkan secara khusus, maka IFS yang dikembangkan
kekonsistenannya dalam menguji hubungan oleh mereka akan bermasalah ketika diuji pada
fundamentalisme agama dengan prasangka, agama Islam.
Hood, Hill, dan Williamson (2005) berpendapat Dasar Islam tidak hanya berasal dari kitab
bahwa penjelasan Altemeyer dan Hunsberger suci Al-Qur’an tetapi juga pada As-Sunnah
(1992) mengenai fundamentalisme agama perlu yang merekam segala perbuatan dan ucapan
dikoreksi dan dikembangkan. Menurut mereka, Muhammad, dan pola pengajaran atau
hal mendasar dari fundamentalisme agama tidak pemahaman yang diberikan (Lewis, 1993).
sekedar keyakinan yang kuat, melainkan juga Menurut Taylor dan Horgan (2001), beberapa
bagaimana keyakinan tersebut dimaknai dan pemahaman yang khas dimiliki
dipahami. Pemaknaan dan pemahaman ini fundamentalisme Islam adalah (1) Islam
terkait erat dengan bagaimana seseorang merupakan agama yang universal, (2) ajarannya
menempatkan, menggali, dan mempelajari kitab dapat menjelaskan dan menyelesaikan segala
sucinya. Fundamentalis agama cenderung aspek kehidupan, (3) memiliki hukum dan
memahami kitab suci secara literal dan tertutup aturan yang jelas, (4) Muhammad telah
untuk didiskusikan dan dinegosiasikan pada memberikan contoh pemerintahan yang baik di
kitab lain. Madina, atau biasa disebut sebagai zaman
Model pemahaman kitab suci tersebut oleh keemasan Islam. Dari penjelasan tersebut maka
Hood, Hill, dan Williamson (2005) disebut dapat disimpulkan bahwa kerangka konseptual
dengan model intratekstual yang berlawanan yang dikembangkan Hood, Hill, dan
154 PUTRA DAN WONGKAREN

Williamson (2005) belum dapat mengukur adalah bentuk pembangkangan terhadap sabda
fundamentalisme Islam yang sebenarnya. Tuhan", (2) "Tuhan telah memberikan manusia
Penelitian ini berupaya untuk (1) pedoman hidup yang lengkap menuju
mengadaptasi dan memodifikasi alat ukur kebahagiaan dan kesejahteraan hidup yang
fundamentalisme agama Altemeyer dan harus diikuti sepenuhnya", (3) "Pada dasarnya
Hunsberger (1992), serta Hood, Hill, dan terdapat dua macam manusia: Muslim yang
Williamson (2005), dan (2) akan diberi ganjaran surga dan yang tidak."
mengembangkannya menjadi sebuah alat ukur Instrumen kedua, Skala Fundamentalisme
fundamentalisme Islam berdasarkan penjelasan Intratekstual, merupakan terjemahan dan
Lewis (1993) serta Taylor dan Horgan (2001). adaptasi oleh Putra (2007). Bentuk alat ukur ini
Setelah skala pengukuran fundamentalisme berupa pernyataan yang diajukan dalam 6
Islam terbentuk, alat tersebut akan diuji pilihan tingkat respons, yakni dari 1 (Sangat
keterkaitannya dengan prasangka. Tidak Setuju) sampai dengan 6 (Sangat Setuju),
dengan tidak mengondisikan pilihan netral.
Metode Beberapa contoh pernyataannya adalah (1) "Al-
Qur’an adalah satu-satunya pedoman atau acuan
manusia jika ingin selamat", (2) "Al-Qur’an
Partisipan adalah pedoman yang sempurna sehingga tidak
boleh mempertanyakan unsur-unsur di
Partisipan penelitian ini adalah orang yang dalamnya".
beragama Islam dengan rentang usia 14 sampai Instrumen ketiga, Skala Fundamentalisme
dengan 32 tahun, dengan M = 17,74, dan Isla, adalah alat ukur yang dibuat berdasarkan
Median = 17 tahun. Partisipan berjumlah 311 pengembangan dan adaptasi dua alat ukur,
orang dengan komposisi jenis kelamin laki-laki yakni skala fundamentalisme agama dengan
43% dan perempuan 54%. skala fundamentalisme intratekstual, untuk
disesuaikan dan mengukur fundamentalisme
Instrumen Islam yang sesungguhnya. Bentuk alat ukur ini
berupa pernyataan yang diajukan dalam 6
Instrumen pertama adalah Skala pilihan tingkat respons, yakni dari 1 (Sangat
Fundamentalisme Agama. Penelitian ini Tidak Setuju) sampai dengan 6 (Sangat Setuju),
menggunakan Skala Fundamentalisme Agama dengan tidak mengondisikan pilihan netral.
yang dikembangkan oleh Altemeyer (2003) Instrumen keempat, alat ukur Prasangka
dengan terlebih dahulu diterjemahkan dan terhadap Pemeluk Kristen, dibangun
diadaptasi. Bentuk alat ukur ini berupa berdasarkan adaptasi dari pengukuran-
pernyataan yang diajukan dalam 6 pilihan pengukuran mengenai prasangka. Bentuk alat
tingkat respons, yakni dari 1 (Sangat Tidak ukur ini berupa pernyataan yang diajukan dalam
Setuju) sampai dengan 6 (Sangat Setuju), 6 pilihan tingkat respons, yakni dari 1 (Sangat
dengan tidak mengondisikan pilihan netral. Tidak Setuju) sampai dengan 6 (Sangat Setuju),
Beberapa contoh pernyataannya adalah (1) dengan tidak mengondisikan pilihan netral.
"Menelaah Al-Qur’an secara kritis dengan Contoh pernyataan yang diajukan adalah (1)
mempertanyakan unsur-unsur di dalamnya
KONSTRUKSI SKALA 155

"Kehadiran umat Kristen di Indonesia memiliki fundamentalisme intratekstual sangat sesuai


segi positif", (2) "Saya senang bersahabat untuk mengukur fundamentalisme Islam.
dengan siapa saja, bahkan dengan orang Kristen Uji korelasi antara fundamentalisme Islam
sekalipun", dan (3) "Kehadiran umat Kristen di dengan prasangka terhadap pemeluk Kristen
Indonesia sangat menguntungkan". menunjukkan hubungan positif (r = 0,25). Hasil
ini berarti semakin kuat fundamentalisme Islam
Hasil seseorang maka akan semakin kuat juga
prasangkanya terhadap Kristen.
Hasil uji validitas dan reliabilitas Uji regresi menunjukkan fundamentalisme
menunjukkan bahwa beberapa instrumen yang Islam memberikan kontribusi secara signifikan
diadaptasi dari alat ukur skala fundamentalisme (p < 0,01; ß = 0,071; R² = 0,064; F = 20,863)
agama dan skala fundamentalisme intratekstual pada prasangka terhadap pemeluk Kristen,
tidak kuat nilainya ketika diuji pada umat Islam. sebagaimana nampak dalam Tabel 2. Arti dari
Item-item yang tidak kuat tersebut seperti (1) signifikansi tersebut adalah bahwa
"Al-Qur’an adalah sumber pengetahuan yang fundamentalisme Islam merupakan salah satu
kedudukannya berada di atas kitab-kitab dan faktor penyebab munculnya prasangka terhadap
teks-teks lain", dan (2) "Manusia boleh berpikir pemeluk Kristen. Besarnya pengaruh yang
kritis pada hal-hal lain selain ayat-ayat Al- diberikan adalah sebesar 6,4%.
Qur’an”.
Sebaliknya, item-item baru yang bukan
Diskusi, Kesimpulan, dan Saran
hasil adaptasi dan merupakan penjabaran
konsep Islam Fundamentalisme dari salafisme
pemurnian Islam memberikan nilai yang kuat Alat Ukur dan Skala Fundamentalisme Islam
sebagai bagian dari Skala Fundamentalisme
Islam. Hasil perhitungan validitas dan Mendukung penjelasan Lewis (1993) serta
reliabilitas pada Skala Fundamentalisme Islam Taylor dan Horgan (2001), hasil penelitian ini
menunjukkan nilai reliabilitas & = 0,86 dengan menunjukkan bahwa (1) keyakinan bahwa
koefisien validitas yang diperoleh r = 0,37 permasalahan sosial akan selesai dengan
sampai dengan r = 0,64. menjalankan pemerintahan Islam seperti zaman
Analisis faktor dilakukan untuk menguji Muhammad, (2) keyakinan mengenai Islam
item-item yang mengukur fundamentalisme yang harus satu dan tidak memiliki perbedaan,
Islam dan prasangka terhadap pemeluk Kristen. serta (3) kebenaran Al-Qur’an dan As-Sunnah
Hasil analisis faktor, sebagaimana nampak sebagai suatu pedoman utama yang harus
dalam Tabel 1, menunjukkan bahwa item-item ditafsirkan seperti apa adanya, telah terbukti
yang diajukan menunjukkan kecocokannya menjadi bagian dalam fundamentalisme Islam.
terhadap sesuatu yang diukur, yaitu Temuan ini sekaligus menunjukkan bahwa alat
fundamentalisme Islam dan prasangka terhadap ukur yang dikembangkan oleh Altemeyer
pemeluk Kristen. Hasil uji ini menunjukkan (2003) serta Hood, Hill, dan Williamson (2005)
bahwa adaptasi alat ukur dan penambahan item- tidak dapat diadaptasi langsung tanpa
item yang sebelumnya tidak disertakan di dalam menambahkan pemahaman mengenai sunnah
skala fundamentalisme agama dan skala Muhammad, pemerintahan, dan hukum.
156 PUTRA DAN WONGKAREN
Tabel 1.
Konten Item dan Muatan Analisis Faktor Fundamentalisme Islam dan Prasangka Terhadap
Pemeluk Kristen

Fundamentalisme Islam

Al-Qur’an tidak dapat ditafsirkan ulang untuk disesuaikan dengan bukti-bukti sejarah
dan ilmu pengetahuan .446
Sebagai pedoman yang diturunkan Tuhan Yang Maha Tahu, Al-Qur’an telah
menjabarkan secara lengkap tentang kebijaksanaan, kebenaran, dan kehidupan, .507
sehingga tidak terlalu perlu mempelajari pedoman dari teks lain
Al-Qur’an adalah pedoman yang sempurna, sehingga tidak boleh mempertanyakan
unsur-unsur di dalamnya .542
Kebenaran dari Al-Qur’an tidak akan lekang oleh waktu, sehingga dapat diaplikasikan
pada semua generasi tanpa perlu ditafsirkan kembali .600
Al-Qur’an tidak bisa berkompromi dengan pernyataan-pernyataan dari teks atau
sumber lain .373
Al-Qur’an adalah satu-satunya pedoman atau acuan manusia jika ingin selamat
.502
Jika ada ketidaksejalanan antara sains dengan Al-Qur’an, maka yang harus
menyesuaikan adalah sains, sehingga Al-Qur’an tidak mesti ditafsirkan ulang .506
Agama Islam yang dibawa oleh Muhammad SAW adalah satu-satunya jalan hidup
yang mulia .565
Hanya ada satu pedoman kebenaran, yaitu Al-Qur’an, sehingga orang yang tidak
berpedoman dengan Al-Qur’an tidak akan menemukan kebenaran hakiki .573

Menelaah Al Quran secara kritis dengan mempertanyakan unsur-unsur di dalamnya .435


adalah bentuk pembangkangan terhadap sabda Tuhan
Pada dasarnya terdapat 2 macam manusia: muslim (pemeluk agama Islam) yang akan .497
diberi ganjaran surga, dan yang tidak
Al-Qur’an berisi kebenaran-kebenaran dasar yang perlu diterima secara absolut dan
mutlak .559

Ajaran Islam tidak akan pernah dapat disandingkan apalagi berkompromi dengan
.545
kepercayaan-kepercayaan lain
Al-Qur’an harus ditafsirkan seperti apa adanya, tidak perlu disesuaikan dengan konteks .557
jaman dan tempat
Al Qur’an dan As-Sunnah telah mengatur seluruh hidup manusia sehingga tidak .580
diperlukan tambahan dasar hokum lain karena kesannya mengada-ada atau bid’ah
Al Quran dan As Sunnah sudah cukup untuk menjawab semua permasalahan manusia .563
dari ekonomi, politik, hingga rumah tangga
Sistem pemerintahan yang pernah diterapkan Muhammad SAW dapat diterapkan kapan .554
saja dan di mana saja
Hanya dengan menerapkan sistem pemerintahan yang pernah diterapkan Muhammad .496
SAW, rakyat akan sejahtera
Islam tidak mengenal perbedaan, Islam harus satu; satu pemikiran, pemahaman, dan .531
penafsiran
KONSTRUKSI SKALA 157

Prasangka terhadap umat Kristen

Kehadiran umat Kristen di Indonesia memiliki banyak segi positif (R) .535
Saya senang bersahabat dengan siapa saja, bahkan dengan orang Kristen sekalipun (R) .362

Kehadiran umat Kristen di Indonesia sangat menguntungkan (R) .530

Orang Kristen di Indonesia boleh menjadi pemimpin bahkan Presiden sekalipun (R) .568

Item adaptasi yang tidak cocok diberikan untuk Fundamentalisme Islam

Tidak ada satu buku atau alkitab pun yang memuat secara lengkap tentang dasar-dasar -.435
kebenaran yang mendalam tentang hidup

Sumber utama kejahatan di muka bumi ini adalah syaitan, yang dengan kebrutalan
-.439
selalu menentang Tuhan

Lebih penting untuk menjadi orang yang berhati mulia/lembut dalam kesehariannya,
daripada untuk menjadi penganut 1 agama yang paling benar
-.238
Ketika terdapat konflik antara sains dan kitab suci, yang benar adalah sains karena
berdasarkan fakta-fakta empiris

Seluruh agama di muka bumi ini memiliki kelemahan atau kesalahan dalam ajarannya -.187
Catatan. R = item yang nilainya harus dibalik

Tabel 2.
Hasil Regresi dan Korelasi untuk Memprediksi Prasangka terhadap umat Kristen
Variabel ß Std. Error of the Estimate
Fundamentalisme Islam .071 3.69634
Catatan. R2 = .064; F = 20.863**; T = 4.863
P P P P

**
P p < .01.
P

sebagai satu kesatuan bangunan dalam


Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa fundamentalisme Islam. Contoh-contoh item
pengukuran fundamentalisme agama yang yang tidak dapat dipakai itu adalah (1) "Sumber
dibuat oleh Altemeyer belum cukup kuat utama kejahatan di muka bumi ini adalah setan,
mengukur gejala fundamentalisme yang ada di yang dengan kebrutalan selalu menentang
Islam. Beberapa item Skala Fundamentalisme Tuhan", (2) "Seluruh agama di muka bumi ini
Agama (Religious Fundamentalisme memiliki kelemahan atau kesalahan dalam
Scale/RFS) yang telah diterjemahkan dan ajarannya", dan (3) "Lebih penting untuk
diadaptasi, terbukti tidak cukup kuat dipakai menjadi orang berhati mulia atau lembut dalam
158 PUTRA DAN WONGKAREN

kesehariannya, daripada untuk menjadi dikembangkan oleh Hood, Hill, dan Williamson
penganut satu agama yang paling benar". (2005)—setelah diterjemahkan dan diadaptasi
Beberapa item yang tidak terpakai ini sesuai dengan bahasa Indonesia—menunjukkan
menunjukkan bahwa adanya perbedaan karakter bahwa model penafsiran intratekstual sangat
atau budaya dalam masing-masing agama yang kuat menjadi bagian dari alat ukur
satu sama lainnya sehingga alat yang fundamentalisme Islam. Hal ini menerangkan
dikembangkan Altemeyer (2003; lihat juga bahwa penafsiran Al-Qur’an yang dilakukan
Altemeyer & Hunsberger, 1992) hanya sesuai oleh fundamentalis agama bersifat tertutup dan
pada agama tertentu saja. tidak dapat didiskusikan.
Hal lain yang dapat menjadi alasan Hal lain yang menarik dibahas adalah
mengapa tidak semua item alat ukur RFS yang permasalahan generalisasi konsep pemahaman
dikembangkan Altemeyer tidak dapat fundamentalisme agama. Telah ada kesepakatan
menjelaskan gejala fundamentalisme Islam pada para peneliti (misalnya, Altemeyer &
adalah karena tidak sesuai dengan budaya Islam Hunsberger, 1992; Altemeyer, 2003; Hood
di Timur, Indonesia. Item yang dikembangkan dkk., 2005, Taylor & Horgan, 2001) bahwa
oleh Altemeyer seperti, "Lebih penting untuk fundamentalis agama adalah mereka yang
menjadi orang berhati mulia atau lembut dalam memiliki pola keyakinan tunggal yang ajek
kesehariannya, daripada untuk menjadi (konsisten) mengenai dunia berdasarkan ajaran
penganut satu agama yang paling benar," atau kitab sucinya, tanpa ada tawar menawar.
merupakan item yang tidak relevan atau tepat Kesepakatan ini tidak berarti mengartikan
diberikan pada wilayah atau daerah yang bahwa ideologi kelompok fundamentalis pada
memiliki nilai religiusitas yang tinggi seperti setiap agama akan sama. Jika tiap-tiap ajaran
Indonesia ini. Dapat dipastikan setiap muslim agama memiliki konsep, pengajaran, dasar
yang ada di Indonesia akan memilih pendapat ajaran, dan keyakinan yang berbeda-beda, maka
tidak setuju karena dalam konsep masyarakat dapat dipastikan ideologi yang muncul di dalam
religius, hal yang paling pertama dilakukan individu atau kelompok yang disebut
untuk menjadi orang berhati mulia adalah fundamentalis adalah berbeda-beda pula.
dengan beragama itu sendiri. Argumen ini Hasil penelitian ini menunjukkan dan
didukung penemuan Cohen dan Hill (2007) membuktikan bahwa untuk mengukur
yang menunjukkan adanya pemahaman fundamentalisme Islam tidak dapat diukur
religiusitas yang berbeda diantara budaya yang melalui alat ukur skala fundamentalisme agama
individualistis dengan budaya yang lebih dari Altemeyer dan Hunsbeger (1992; lihat juga
menekankan kebersamaan atau kolektivistis. Altemeyer, 2003) atau skala fundamentalisme
Budaya individualistis akan menekankan intratekstual oleh Hood, Hill, dan Williamson
pemahamannya pada pencapaian personal, (2005) dengan begitu saja menerjemahkan dan
keunikan atau kekhasan, dan pengaturan mengadaptasinya. Alat-alat tersebut perlu
personal. Sementara itu, budaya kolektivistis dikembangkan dan disesuaikan berdasarkan
lebih menekankan ikatan kelompok (Cohen & konsep fundamentalisme Islam sehingga dapat
Hill, 2007). menyentuh dan mengukur secara mendalam dan
Berbeda dengan Altemeyer, alat ukur yang lebih tepat.
KONSTRUKSI SKALA 159

Prasangka kelompok akan membentuk solidaritas sebagai


perwujudan ikatan kebersamaan. Efek dari
Temuan penelitian ini menunjukkan adanya pembentukan identitas ini adalah pengagungan
hubungan yang positif antara fundamentalisme yang berlebih terhadap kelompok dan menghina
Islam dengan prasangka terhadap pemeluk atau merendahkan orang-orang yang berasal
Kristen. Hasil saat ini mendukung dan dari kelompok lain. Penjelasan ini menerangkan
memperkuat temuan-temuan sebelumnya yang bahwa orang dengan identitas agama yang kuat
menerangkan adanya hubungan yang positif akan memiliki prasangka yang negatif terhadap
antara fundamentalisme agama dengan pemeluk agama lain.
prasangka (Altemeyer, 2003; lihat juga Raiya, Orientasi dominansi sosial merupakan
Pargament, Mahoney, & Trevino, 2008; konsep yang dikembangkan oleh Sidanius dan
Rowatt, Franklin, & Cotton, 2005). Hal ini Pratto (2001). Pemahaman dasarnya adalah
menerangkan bahwa orang-orang yang bahwa kehidupan sosial memiliki struktur sosial
memiliki fanatisme pada pemahaman ayat Al- yang sifatnya hierarki. Kondisi hierarki sosial
Qur’an, As-Sunnah Muhammad, model ini membentuk dua model struktur kelompok
pemerintahan masa lalu, dan satu kebenaran berbeda, yaitu (1) kelompok superior sebagai
mutlak akan memiliki kecenderungan memiliki kelompok pemegang kuasa atau yang memiliki
prasangka. dominansi, dan (2) kelompok inferior sebagai
Temuan penelitian ini juga menunjukkan kelompok rendah atau lemah. Bagi individu
hasil bahwa fundamentalisme merupakan salah atau kelompok yang memegang pemahaman
satu prediktor atau faktor penyebab munculnya seperti ini, orang dari kelompok lain bernilai
prasangka terhadap pemeluk Kristen. Akan lebih rendah atau bahkan tidak memiliki nilai.
tetapi, prasangka terhadap pemeluk Kristen Otoritarianisme awalnya dikembangkan
hanya dihasilkan 6,4% dari fundamentalisme sebagai suatu bentuk kepribadian (Adorno,
Islam. Hal ini menunjukkan bahwa munculnya Frenkel-Brunswik, Levinson, & Sanford, 1950;
prasangka terhadap pemeluk Kristen lebih besar Altemeyer, 1981) sebelum Duckitt (2001)
disebabkan oleh faktor-faktor lain. Artinya mengembangkan dan menyimpulkan bahwa
bahwa fundamentalisme Islam tidak dapat sikap otoritarian berangkat dari suatu ideologi.
dijadikan sebagai satu-satunya prediktor dalam Biasanya orang yang memiliki ideologi
mengukur prasangka terhadap pemeluk Kristen. otoritarian adalah mereka yang bersifat
Faktor-faktor lain yang perlu dipertimbangkan konservatif, menolak hal yang baru, tidak
tersebut adalah identitas sosial, orientasi menyukai perbedaan, dan menekankan pada
dominansi sosial (ODS), dan otoritarianisme. satu pemahaman. Individu atau kelompok yang
Tajfel dan Turner (1979) menerangkan memiliki kecenderungan otoritarian akan
bahwa melalui suatu identitas seseorang dapat memandang yang memiliki pemahaman
memahami dan membangun nilai-nilai positif. berbeda sebagai suatu ancaman dan keburukan.
Identitas adalah hal yang sifatnya di luar Orang yang berbeda ini dianggap akan merusak
personalitas atau sangat bersifat sosial. Di kestabilan pemahaman sehingga akan
dalam identitas sosial, individu-individu yang membentuk suatu dunia yang kehancuran atau
mencirikan dirinya sebagai satu identitas tidak menentu. Orang beragama yang
160 PUTRA DAN WONGKAREN

menganggap bahwa ajarannya yang paling York: Cambridge universisty press.


benar dan agama lain sebagai suatu ancaman Bizumic, B., & Duckitt, J. (2007). Varieties of
maka dapat dipastikan mereka akan memiliki group self-centeredness and dislike of the
prasangka yang negatif pada orang dari agama specific other. Basic and Applied Social
lain. Psychology, 29(2), 195-202.
Penelitian lebih lanjut perlu dilakukan untuk Cannon, C. E. (2001). The influence of religious
menguji hubungan fundamentalisme Islam orientation and white racial identity on
dengan prasangka terhadap ras atau etnis expressions of prejudice. Disertasi, tidak
tertentu, jender, dan homoseksualitas, di diterbitkan, University of Marryland Coll
samping perlu juga mempertimbangkan faktor Park, US.
yang dapat mengontrol hubungan Cohen, A. B., & Hill, P. C. (2007). Religion as
fundamentalisme dengan prasangka (misalnya, culture: Religious individualism and
identitas sosial, orientasi dominansi, dan collectivism among American Catholics,
otoritarianisme). Jews, and Protestants. Journal of
Personality, 75(4), 709-742.
Crapps, R. W. (1993). Dialog psikologi dan
Bibliografi agama (A. M. Hardjana, Penerj.). Yogyakarta:
Kanisius.
Adorno, T. W., Frenkel-Brunswik, E.,
Davis, J. A. (1959). Group decision and social
Levinson, D. J., & Sanford, R. M. (1950).
interaction: A theory of social decision
The authoritarian personality. New York:
schemes. Psychological Review, 80, 97-125.
Harper.
Duck, R.J. & Hunsberger, B. (1999). Religious
Allport, G. W. (1954). The nature of prejudice
orientation and prejudice: The role of
(3rd ed.). Boston: The Beacon Press.
religious proscription, right-wing
P P

Allport, G. W., & Ross, J. M. (1967). Personal


authoritarianism, and social desirability. The
religious orientation and prejudice. Journal
International Journal for the Psychology of
of Personality and Social Psychology, 4,
Religion, 9, 157-179.
432-443.
Duckitt, J. (2001). A dual-process cognitive-
Altemeyer, B. (1981). Right-wing
motivational theory of ideologi and
authoritarianism. Canada: University of
prejudice. Dalam Zanna, M. P. (Ed.),
Manitoba Press.
Advances in Experimental Social
Altemeyer, B. (2003). Why do religious
Psychology, 33, 41-113.
fundamentalists tend to be prejudiced? The
Greenberg, J., Solomon, S., & Pyszczynski, T.
International Journal for the Psychology of
(1997). Terror management theory of self-
Religion, 13(1), 17-28.
esteem and cultural worldviews: Empirical
Altemeyer, B., & Hunsberger, B. E. (1992).
assessments. Advances in Experimental
Authoritarianism, religious fundamentalism,
Social Psychology, 29, 139.
quest, and prejudice. International Journal
Herek, G. M. (1987). Religious orientation and
for the Psychology of Religion, 2, 113-133.
prejudice: A comparison of racial and
Bar-Tal, D., & Teichman, Y. (2005).
sexual attitudes. Personality and Social
Stereotypes and prejudice in conflict. New
KONSTRUKSI SKALA 161

Psychology Bulletin, 13(1), 56-65. racial attitudes and spiritual beliefs in post-
Hood, R. W., Hill, P. C., & Williamson, P. apartheid South Africa. Mental Health,
(2005). The psychology of religious Religion & Culture, 10(3), 263-274.
fundamentalism. New York-London: The Spilka, B., Hood, R. W., & Gorsuch, R. L.
Guilford Press (1985). The psychology of religion: An
Laythe, B., Finkel, D.,& Kirkpatrick, L. A. empirical approach. Englewood Cliffs, NJ:
(2001). Predicting prejudice from religious Prentice-Hall.
fundamentalism and right-wing Tajfel, H. & Turner, J. C. (1979). An integrative
authoritarianism: A multiple-regression theory of intergroup conflict. Dalam Austin,
approach. Journal for the Scientific Study of W. G., & Worchel, S. (Eds.), The social
Religion, 40, 1-10. psychology of intergroup relations (h. 33-
Lewis, B. (1993). Islam and the West. New 47). Montley, CA: Brooks/Cole.
York: Oxford University Press. Taylor, M., & Horgan, J. (2001). The
Lough, J. (2005). Religious orientation, social psychological and behavioural bases of
conservatism, traditional values, and Islamic fundamentalism. Terrorism and
authoritarianism as predictors of prejudice. Political Violence, 10(4), 37-71.
Disertasi, tidak diterbitkan, George fox
University.
Putra, I. E. (2007). Pengaruh orientasi
keberagamaan, ideologi politik,
fundamentalisme, orientasi dominasi sosial
terhadap intoleransi politik: Studi pada
kelompok agama Islam. Tesis, tidak
diterbitkan, Universitas Indonesia, Depok.
Raiya, H. A., Pargament, K. I., Mahoney, A., &
Trevino, K. (2008). When Muslims are
perceived as a religious threat: Examining
the connection between desecration,
religious coping, and anti-Muslim attitudes.
Basic and Applied Social Psychology, 30(4),
311-325.
Rowatt, W. C., Franklin, L. M., & Cotton, M.
(2005). Patterns and personality correlates
of implicit and explicit attitudes toward
Christians and Muslims. Journal for the
Scientific Study of Religion, 44(1), 29-43.
Sidanius, J., & Pratto, F. (2001). Social
dominance. Cambridge: University Press.
Smith, T. B., Stones, C. R., Peck, C. E., &
Naidoo, A. V. (2007). The association of
Psikobuana ISSN 2085-4242
2010, Vol. 1, No. 3, 162–172

Peran Sikap, Norma Subjektif, dan Persepsi Kendali


Perilaku Dalam Memprediksi Intensi Wanita
Melakukan Pemeriksaan Payudara Sendiri

Meilisha Djati Arum dan A. A. Anwar Prabu Mangkunegara


Fakultas Psikologi, Universitas Mercu Buana

The objective of this study is to find how attitude, subjective norm and
perceived behavioral control (PBC) play in women's intention prediction
for performing breast cancer early detection by breast self-examination
(BSE) technique. The theory used is the theory of planned behavior
(TPB). This is a quantitative research with ex-post-facto field study design
and the research instrument was an attitude scale. Using the accidental
sampling technique, there were 120 female students of the Mercu Buana
University - Jakarta as participants of this study. The results of multiple
regression analysis showed that: a) attitude, subjective norm and
perceived behavioral control (PBC) was interactively influential for the
intention prediction; b) attitude and perceived behavioral control (PBC)
independently and significantly are able to predict the intention; and c)
subjective norm alone is not significantly able to predict the intentions.

Keywords: theory of planned behavior, intention, attitude, subjective


norm, perceived behavioral control, breast self examination (BSE)

Pada tahun 2008 data statistik Globocan per tahun dari seluruh penyakit kanker yang
(Global burden of cancer) International Agency diderita wanita di Indonesia. Kanker payudara
for Research on Cancer (IARC) menunjukkan adalah tumbuhnya sel abnormal di payudara
bahwa 292.600 jiwa penduduk Indonesia yang tidak mengenal batas volume serta bisa
menderita kanker (kasus baru). Dari jumlah menyebar. Benjolan di payudara disebut jinak
tersebut sebanyak 39.831 jiwa dari wanita jika tetap di tempatnya, dan ganas jika menjalar
Indonesia menderita kanker payudara (“Most ke organ lain, seperti ke paru-paru, hati, tulang,
frequent cancers”, 2010). Kanker payudara atau otak (“Dicanangkan, program nasional”,
menempati urutan pertama dalam jumlah 2008).
penderita dari seluruh jenis kanker yang ada Menurut Kementerian Kesehatan, salah satu
pada penduduk Indonesia. Dari data tersebut alasan semakin berkembangnya penyakit
didapatkan informasi jumlah insiden penemuan kanker payudara adalah rendahnya cakupan
kasus baru kanker payudara sebesar 36,2 jiwa deteksi dini (“Dicanangkan, program nasional”,
per 100.000 jiwa per tahun dengan jumlah 2008). Berdasarkan data Sistem Informasi
kematian sebanyak 18,6 jiwa per 100.000 jiwa Rumah Sakit (SIRS) tahun 2007, kanker

162
PERAN SIKAP, NORMA 163

payudara menempati urutan pertama pada yang lebih baik (Kurebayashi, 1994, dalam
pasien rawat inap di seluruh RS di Indonesia Mason & White, 2008). Untuk hasil yang lebih
(16,85%). Hal ini sesuai dengan estimasi komprehensif, selanjutnya SADARI dilengkapi
Globocan IARC tahun 2002 ("Jika tidak dengan pemeriksaan klinis payudara oleh
dikendalikan", 2010). Data statistik ini tenaga medis profesional, pemeriksaan
memberikan pemahaman tentang dampak dari ultrasonografi (USG) atau dengan mammografi.
penyakit pada populasi wanita dan menyoroti Kemungkinan penderita kanker payudara untuk
perlunya strategi pencegahan yang efektif. Data sembuh lebih tinggi apabila kanker diketahui
lain yang mendukung estimasi Globocan IARC pada stadium satu. Pada kondisi ini penderita
diperoleh dari sumber data bidang rekam kanker payudara tidak perlu melakukan operasi
medis Rumah Sakit Kanker Dharmais (RSKD) pengangkatan payudara. Itu sebabnya, deteksi
pada pasien rawat jalan. Data ini menyebutkan sedini mungkin melalui SADARI sangat
bahwa kanker payudara menempati urutan penting.
tertinggi dalam jumlah penderita dari tahun Masalahnya, di Indonesia umumnya
2004 sampai dengan tahun 2007 dibandingkan seseorang baru diketahui menderita penyakit
dengan jenis kanker lainnya. Jumlah penderita berisiko tinggi ini setelah menginjak stadium
kanker yang paling banyak diderita pada tahun lanjut. Sedikitnya pengetahuan ditambah rasa
2007 adalah kanker payudara (Ca mammae) takut dan malu menjadi penyebab utama wanita
sebanyak 437 kasus dari data pasien rawat jalan terlambat menyadari telah terkena kanker
di RSKD (“10 besar kanker”, 2007). Cakupan payudara. Padahal dengan menyadari adanya
umur para penderita kanker payudara juga kelainan pada area payudara, risiko penyakit ini
melebar. Jika dahulu para penderita yang datang bisa dihindari dengan penanganan yang tepat.
pertama kali ke rumah sakit terdeteksi Rendahnya unjuk perilaku masyarakat
mengidap kanker payudara umumnya berumur khususnya wanita untuk melakukan deteksi dini
40-46 tahun. Namun dewasa ini, Rumah Sakit kanker payudara yang dapat dilaksanakan
Cipto Mangunkusumo mencatat seorang wanita dengan SADARI menjadi konsen peneliti.
muda berumur 24 tahun telah didiagnosis Penelitian tentang prediktor intensi
mengidap kanker (“Dicanangkan, program melakukan SADARI belum banyak
nasional”, 2008). dilakukan—kalau bukan tidak ada—di
Deteksi dini kanker payudara dapat Indonesia, khususnya dimensi yang
menggunakan metode SADARI (pemeriksaan menyangkut psikologi sikap. Penelitian ini
payudara sendiri). Tujuan dari SADARI secara bermaksud untuk mengisi kesenjangan ini.
rutin adalah untuk merasakan dan mengenal Penelitian ini mengadopsi sebuah pendekatan
lekuk-lekuk payudara sehingga jika terjadi berbasis teori untuk memeriksa keyakinan-
perubahan dapat diketahui segera (Damanik, keyakinan yang mendasari dalam pemahaman
2008). Pemeriksaan payudara sendiri kita tentang bagaimana keyakinan yang
(SADARI) secara rutin memiliki berbagai seseorang pegang pada akhirnya dapat
keuntungan seperti efektivitas biaya, tidak mempengaruhi keputusan perilaku mereka.
invasif, merupakan metode deteksi dini yang Teori perilaku terencana (Theory of Planned
sederhana, serta dapat melangsungkan hidup Behavior/TPB) yang dikemukakan oleh Ajzen
164 ARUM DAN MANGKUNEGARA

dapat digunakan sebagai dasar teoretis yang Enam bulan kemudian, ia mengirim surat
bermanfaat untuk memahami berbagai perilaku kepada semua tempat yang sudah
termasuk SADARI (Mason & White, 2008). dikunjunginya dengan pertanyaan apakah
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mereka mau menerima tamu dari ras China.
melakukan analisis terhadap intensi melakukan Dari 128 yang membalas surat, 90 persen
SADARI berdasarkan TPB pada wanita menjawab tidak (Sarwono, 2002). Pemahaman
berumur antara 18 sampai dengan 30 tahun. para ahli psikologi sosial mengenai hubungan
Penelitian ini memeriksa Sikap, Norma sikap-perilaku telah berkembang pesat sejak
Subjektif dan Persepsi Kendali Perilaku (PBC) publikasi dari penelitian LaPiere yang
melalui keyakinan-keyakinan behavioral, dipaparkan di atas. Penelitian LaPiere dan
keyakinan normatif, dan keyakinan kendali pengembangan selanjutnya dipandang sebagai
terkait dengan keterlibatan wanita dalam bukti dari inkonsistensi antara hal yang
melakukan SADARI. Keyakinan-keyakinan itu dikatakan orang (sikap) dengan hal yang
hendak diketahui kontribusi perannya, baik dilakukan orang.
secara sendiri-sendiri maupun bersama-sama, Guna tidak sekedar memahami, namun juga
terhadap perilaku SADARI. untuk dapat memprediksi perilaku, Ajzen dan
Diharapkan bahwa penelitian ini dapat Fishbein (dalam Azwar, 2003) mengemukakan
menjadi masukan bagi Pemerintah maupun teori tindakan beralasan (Theory of Reasoned
lembaga-lembaga di masyarakat (terutama Action/TRA). TRA mengatakan bahwa sikap
lembaga pendidikan dan lembaga kesehatan) mempengaruhi perilaku lewat suatu proses
untuk menyusun serta mengembangkan pengambilan keputusan yang teliti dan
kebijakan-kebijakan dan program-program beralasan, dan dampaknya terbatas hanya pada
konkret dalam rangka meningkatkan intensi tiga hal. Pertama, perilaku tidak banyak
(niat) dan perilaku SADARI melalui ditentukan oleh sikap umum tetapi oleh sikap
pemahaman dan modifikasi keyakinan individu yang spesifik terhadap sesuatu. Kedua, perilaku
dan masyarakat seputar SADARI. dipengaruhi tidak hanya oleh sikap tetapi juga
oleh norma-norma subjektif (subjective norms)
Teori Perilaku Terencana yaitu keyakinan kita mengenai apa yang orang
lain inginkan agar kita perbuat. Ketiga, sikap
terhadap suatu perilaku bersama norma-norma
Adanya ketidaksesuaian antara sikap dan
subjektif membentuk suatu intensi atau niat
perilaku sudah diketahui oleh para ahli sejak
untuk berperilaku tertentu. Sebagaimana
lama. LaPiere (1934, dalam Albarracin, Blair &
nampak dalam Gambar 1, secara sederhana
Zanna, 2005) dengan penelitiannya mengenai
teori ini mengatakan bahwa seseorang akan
hubungan sikap dan perilaku menunjukkan
melakukan suatu perbuatan apabila ia
bahwa tidak terdapat konsistensi antara sikap
memandang perbuatan itu positif dan bila ia
dan perilaku aktual. LaPiere bersama seorang
percaya bahwa orang lain ingin agar ia
teman keturunan China berkeliling Amerika
melakukannya (Azwar, 2003).
Serikat, mendatangi 251 restoran, hotel, dan
tempat umum lainnya. Dari semua tempat yang
dikunjungi, hanya satu kali mereka ditolak.
PERAN SIKAP, NORMA 165

Ajzen dan Fishbein (1975, dalam Hagger &


Chatzisarantis, 2005) berhipotesis bahwa intensi
mengindikasikan derajat perencanaan yang
direncanakan seseorang pada perilaku
mendatang dan menggambarkan seberapa keras
Gambar 1. Teori tindakan beralasan
seseorang menghendaki untuk mencoba serta
(Azwar, 2003)
seberapa banyak upaya yang mereka perkirakan
untuk dikeluarkan dalam menampilkan
TRA kemudian diperluas dan dimodifikasi
perilaku. Sikap adalah disposisi untuk
oleh Ajzen (dalam Azwar, 2003). Modifikasi ini
berespons secara positif (favorable) atau negatif
dinamai Teori Perilaku Terencana (Theory of
(unfavorable) terhadap benda, orang, institusi
Planned Behavior/TPB). Kerangka pemikiran
atau kejadian (Ajzen, 2005). Sikap terhadap
TPB dimaksudkan untuk mengatasi masalah
perilaku ditentukan oleh total rangkaian
kontrol volisional yang belum lengkap dalam
keyakinan (belief) keperilakuan yang aksesibel
teori terdahulu. Inti TPB berada pada faktor
yang mengaitkan perilaku dengan berbagai hasil
Intensi perilaku. Namun determinan intensi
dan atribut-atribut yang lain. Dengan perkataan
tidak hanya dua (Sikap terhadap perilaku yang
lain, seseorang yang yakin bahwa sebuah
bersangkutan dan Norma-norma subjektif)
tingkah laku dapat menghasilkan outcome yang
melainkan tiga dengan diikutsertakannya aspek
positif, maka ia akan memiliki sikap yang
Persepsi Kendali Perilaku (perceived
positif, begitu juga sebaliknya.
behavioral control/PBC). Dalam TPB,
Selanjutnya, Ajzen (2005) mendefinisikan
keyakinan-keyakinan (beliefs) berpengaruh
norma subjektif sebagai tekanan sosial yang
pada sikap terhadap perilaku tertentu, norma-
dipersepsikan oleh seseorang untuk melibatkan
norma subjektif, dan pada persepsi kendali
diri atau tidak melibatkan diri dalam sebuah
perilaku (PBC). Ketiga komponen ini
perilaku. Ajzen mengasumsikan bahwa norma
berinteraksi dan menjadi determinan bagi
subjektif ditentukan oleh total rangkaian
intensi, yang pada gilirannya akan menentukan
keyakinan normatif (normative belief) yang
apakah perilaku yang bersangkutan akan
dapat diakses berkenaan dengan harapan-
dilakukan atau tidak (Gambar 2).
harapan yang berasal dari referent atau
orang/kelompok yang berpengaruh bagi
individu (significant others) seperti orang tua,
pasangan, teman dekat, rekan kerja atau
lainnya, tergantung pada perilaku yang terlibat.
Norma subjektif tidak hanya ditentukan oleh
referent, tetapi juga ditentukan oleh motivation
to comply. Secara umum, individu yang yakin
bahwa banyak referent yang membuat dirinya
termotivasi untuk mengikuti, berpikir bahwa
Gambar 2. Teori perilaku terencana (Ajzen,
dirinya harus menampilkan perilaku, akan
2005)
merasakan tekanan sosial untuk melakukannya.
166 ARUM DAN MANGKUNEGARA

Sebaliknya, individu yang yakin bahwa sebuah perilaku. Kesuksesan unjuk perilaku
kebanyakan referent akan tidak menyetujui bergantung tidak hanya pada intensi yang
dirinya menampilkan perilaku tertentu maka hal favorabel, tetapi juga bergantung pada tingkat
ini akan menyebabkan dirinya memiliki kendali perilaku yang cukup (sufficient). Sejauh
subjective norm yang menempatkan tekanan PBC itu akurat, maka PBC juga dapat menjadi
pada dirinya untuk menghindari melakukan wakil (proxy) dari kontrol perilaku aktual, serta
perilaku tersebut (Ajzen, 2005). dapat digunakan untuk meramalkan terjadinya
Gambar 2 menunjukkan dua hal penting perilaku (Ajzen, 2006). Penelitian dewasa ini
dari TPB. Pada gambar di atas terdapat dua menunjukkan bahwa penambahan konstruk
jalur hubungan antara Persepsi Kendali Perilaku PBC secara umum sungguh-sungguh
(PBC) dan Perilaku: (1) garis penuh dengan meningkatkan prediksi dari intensi dan perilaku,
perantara intensi, dan (2) garis putus-putus khususnya apabila perilaku yang dicakup
tanpa melalui intensi. Hal penting pertama, merupakan perilaku yang tidak dapat dikontrol
teori ini berasumsi bahwa PBC memiliki secara sempurna oleh individu (Semin &
implikasi motivasional pada intensi. Orang Fiedler, 1996).
yang percaya bahwa dirinya tidak memiliki
sumber daya atau kesempatan untuk Metode
menampilkan perilaku tertentu cenderung tidak
membentuk intensi yang kuat untuk
melakukannya walaupun jika ia memiliki sikap Partisipan
yang favorabel terhadap perilaku itu dan ia
percaya bahwa orang-orang terdekatnya Populasi dalam penelitian ini adalah 120
(important others) akan mendukung unjuk mahasiswi aktif Universitas Mercu Buana
perilakunya itu. Hal ini menggambarkan bahwa Jakarta berusia 18-30 tahun. Sebelum
asosiasi antara PBC dan Intensi tidak ditengahi melakukan pengambilan data lapangan melalui
oleh Sikap dan Norma Subjektif. Hal ini kuesioner penelitian, peneliti melakukan tahap
digambarkan oleh panah yang menghubungkan elisitasi keyakinan-keyakinan yang menonjol
PBC dan Intensi (Ajzen, 2005). (salient beliefs) dengan sampel terpakai
Hal penting kedua adalah posibilitas sebanyak 40 orang.
hubungan langsung antara PBC dan perilaku
yang digambarkan dengan panah putus-putus. Desain dan Analisis
Dalam banyak kejadian unjuk, perilaku tidak
Penelitian ini adalah ex post facto field study
hanya tergantung pada motivasi untuk
atau penelitian non-eksperimental. Penelitian ini
melakukannya, namun juga pada kendali yang
menggunakan desain korelasional. Analisis
cukup kuat terhadap perilaku yang hendak
regresi berganda (multiple regression)
diramalkan. Kontrol perilaku aktual (actual
digunakan untuk melihat signifikansi prediksi
behavioral control) merupakan derajat sejauh
variabel Sikap, Norma Subjektif dan Persepsi
mana seseorang memiliki keterampilan,
Kendali Perilaku/PBC terhadap Intensi wanita
sumber-sumber daya, dan prasyarat-prasyarat
melakukan SADARI.
lain yang dibutuhkan untuk menampilkan
PERAN SIKAP, NORMA 167

Material dan Prosedur SADARI?”, “Adakah konsekuensi lain yang


Anda hubungkan dengan melakukan
Penelitian ini menggunakan dua alat ukur. SADARI?”), (2) Normative beliefs (“Siapa
Alat ukur pertama digunakan pada tahap sajakah orang-orang/kelompok yang
elisitasi untuk melihat salient beliefs tentang mendukung Anda melakukan SADARI?”,
perilaku SADARI dari partisipan. Sedangkan “Siapa sajakah orang-orang/kelompok yang
alat ukur kedua adalah skala yang digunakan menghambat Anda melakukan SADARI?”,
untuk mengukur determinan-determinan intensi “Siapa sajakah orang-orang/kelompok yang
(sikap, norma subjektif dan PBC) serta intensi muncul dalam pikiran Anda saat Anda berpikir
melakukan SADARI. tentang melakukan SADARI?”), (3) Control
Tahap elisitasi diperlukan untuk Belief (“Faktor/keadaan apa sajakah yang akan
mengidentifikasi keyakinan behavioral, membantu/memudahkan Anda melakukan
keyakinan normatif dan keyakinan kendali yang SADARI?”, “Faktor/keadaan apa sajakah yang
dapat diakses. Elisitasi dalam penelitian ini akan menyulitkan Anda atau tidak
dilakukan dengan memberikan partisipan memungkinkan Anda melakukan SADARI?”,
deskripsi singkat mengenai SADARI. “Apakah ada hal lain yang muncul dalam
Kemudian partisipan diberikan kuesioner pikiran ketika Anda berpikir tentang kesulitan
terbuka yang berupa serangkaian pertanyaan melakukan SADARI?”).
yang berkaitan dengan perilaku SADARI. Alat ukur yang digunakan dalam penelitian
Respons yang didapat dari partisipan digunakan ini berupa kuesioner yang merupakan metode
untuk mengidentifikasi salient beliefs pribadi, self-report, yakni partisipan diminta untuk
yaitu keyakinan yang unik/menonjol dari memberikan respons sesuai dengan keadaan
masing-masing partisipan penelitian, atau untuk dirinya. Alat ukur ini berupa satu kuesioner,
membangun sebuah daftar modal salient belief. disusun berdasarkan panduan dari Ajzen
Modal salient belief dijadikan dasar untuk (2006), yang terbagi menjadi 5 bagian, yaitu:
membangun alat ukur kedua yang digunakan Pertama, Skala Sikap yang terdiri atas 2
untuk mengukur Sikap, Norma Subjektif, PBC, sub-skala, yaitu Behavioral Belief dan Outcome
dan Intensi. Tahap elisitasi ini dilakukan pada Evaluation. Skala Sikap uji coba terdiri atas 12
57 orang dengan karakteristik yang sama butir untuk masing-masing sub-skala (A1 =
dengan populasi, namun hanya 40 orang yang behavioral beliefs/keyakinan akan konsekuensi
memenuhi syarat. perilaku, dan A2 = outcome
Peneliti menggunakan daftar pertanyaan evaluation/penilaian terhadap hasil perilaku).
berdasarkan pedoman yang dicontohkan Ajzen Contoh pernyataan untuk skala A1: (1)
(2006) untuk menggali salient beliefs SADARI akan memunculkan bayangan rasa
partisipan. Berikut adalah daftar pertanyaan takut telah terjadi suatu penyakit pada payudara
yang diajukan peneliti kepada partisipan saya, (2) SADARI memunculkan rasa dosa
penelitian: (1) Behavioral beliefs (“Apa sajakah karena menimbulkan rangsangan, (3) SADARI
keuntungan yang Anda yakini dengan hanya mendapatkan hasil yang tidak akurat
melakukan SADARI?”, “Apa sajakah kerugian mengenai kondisi payudara saya. Pilihan
yang Anda yakini dengan melakukan respons bergerak dari 1 (Sangat Tidak Setuju)
168 ARUM DAN MANGKUNEGARA

sampai dengan 7 (Sangat Setuju). Contoh (1) Saya mampu menciptakan keadaan yang
pernyataan untuk skala A2: (1) Bagi saya, tenang dan sendirian untuk melakukan
munculnya bayangan rasa takut telah terjadi SADARI, (2) Waktu luang yang tersedia akan
suatu penyakit pada payudara saya …, (2) Bagi mendorong saya untuk melakukan SADARI,
saya, munculnya rasa dosa akibat menimbulkan (3) Saya mampu mengingat langkah-langkah
rangsangan pada badan ...., (3) Bagi saya, SADARI.
ketidakakuratan pengetahuan mengenai kondisi Keempat, Skala Intensi uji coba (Skala D)
payudara …. Pilihan respons bergerak dari 1 terdiri atas 4 butir. Contoh pernyataan untuk
(Sangat Buruk) sampai dengan 7 (Sangat Baik). skala D: Saya berniat untuk melakukan
Kedua, Skala Norma Subjektif uji coba SADARI secara rutin minimal 1 (satu) kali
terdiri atas 5 butir untuk masing-masing sub- dalam sebulan. Kelima, Kuesioner data diri
skala (B1 = normative belief/keyakinan (Kuesioner E) yang terdiri dari untuk
normatif, dan B2 = motivation to mengetahui gambaran demografis dan
comply/motivasi untuk mengikuti norma). psikografis partisipan penelitian.
Contoh pernyataan untuk skala B1: (1) Sahabat Selanjutnya, instrumen penelitian yang
saya akan menyetujui saya melakukan sudah teruji digunakan untuk penelitian
SADARI, (2) Ibu dan/atau ayah saya lapangan yang melibatkan 120 partisipan.
mengharapkan saya melakukan SADARI, (3) Semua tahapan ini dilakukan di lingkungan
Pacar saya mendukung saya melakukan UMB. Partisipan pada tahap elisitasi, uji coba
SADARI. Contoh pernyataan untuk skala B2: dan penelitian lapangan merupakan tiga
(1) Harapan ibu dan/atau ayah saya membuat kelompok partisipan yang berbeda. Artinya,
saya melakukan SADARI, (2) Persetujuan partisipan yang sudah mengikuti salah satu
sahabat saya meneguhkan saya melakukan tahap dipastikan tidak mengikuti tahap lainnya.
SADARI, (3) Dukungan pacar saya memegang
peran penting bagi tindakan saya melakukan Hasil
SADARI.
Ketiga, Skala Persepsi Kendali/PBC Berdasarkan data, peneliti membagi usia
Perilaku uji coba terdiri atas 12 butir untuk partisipan menjadi 4 kelompok. Total jumlah
masing-masing sub-skala (C1 = keyakinan partisipan dalam penelitian ini sebanyak 120
kendali/control belief, dan C2 = power orang. Gambaran umum partisipan
perceived/daya atau kekuatan yang menunjukkan bahwa usia partisipan yang
dipersepsikan dari faktor kendali). Contoh terbesar adalah pada rentang usia 18-20 tahun
pernyataan untuk skala C1: (1) Keadaan yang (40%) dan 21-23 tahun (42,50%), dengan M
tenang dan sedang sendirian adalah keadaan usia = 21,38 tahun dan SD = 0,25 tahun.
yang mendukung untuk melakukan SADARI, Sedangkan kelompok usia terkecil berada di
(2) Waktu luang yang tersedia menjadi faktor rentang usia 27-30 tahun (6,67%). Berdasarkan
pendukung untuk melakukan SADARI, (3) data, seluruh partisipan tidak pernah menderita
Mengingat langkah-langkah SADARI menjadi kanker payudara dan tidak ada keluarga intinya
hal yang mendukung untuk melakukan juga bukan penderita kanker. Jumlah partisipan
SADARI. Contoh pernyataan untuk skala C2: penelitian yang terkena paparan pengetahuan
SADARI dan yang tidak pernah terkena
PERAN SIKAP, NORMA 169

paparan pengetahuan SADARI jumlahnya penelitian ini mengandung makna bahwa


hampir seimbang. Yang pernah terpapar semakin positif Sikap untuk melakukan
pengetahuan SADARI sebanyak 46,67% dan SADARI, maka Intensi untuk melakukan
yang tidak pernah terpapar sebanyak 53,33%. SADARI semakin tinggi pula. Selanjutnya,
Hasil uji validitas dan reliabilitas alat ukur Norma Subjektif (ß = 0,124; p > 0,05) secara
adalah sebagai berikut: (1) Skala Sikap sendirian tidak signifikan untuk memprediksi
menunjukkan konsistensi internal yang tinggi (/ Intensi. Persepsi Kendali Perilaku/PBC (ß =
= 0,771) setelah mengeliminasi 2 butir yang 0,426; p < .05) secara sendiri signifikan
tidak valid, (2) Skala Norma Subjektif memprediksi Intensi. Temuan penelitian ini
menunjukkan konsistensi internal yang tinggi (/ mengandung makna bahwa semakin tinggi
= 0,876) tanpa mengeliminasi satu butir pun, (3) persepsi kendali perilaku/PBC untuk melakukan
Skala PBC ini menunjukkan konsistensi internal SADARI, maka Intensi melakukan SADARI
yang tinggi (/ = 0,877) setelah mengeliminasi 5 semakin tinggi pula.
butir yang tidak valid, (4) Skala Intensi ini Untuk mengetahui kontribusi efektif dari
menunjukkan konsistensi internal yang tinggi (/ masing-masing prediktor, dilakukan analisis
= 0,855) tanpa mengeliminasi satu butir pun. regresi ganda stepwise.
Sebelum dilakukan analisis regresi, diuji Sebagaimana nampak dalam Tabel 2, hasil
terlebih dahulu korelasi antara masing-masing menunjukkan bahwa: (1) Sumbangan efektif
variabel bebas (prediktor) dengan variabel prediktor Sikap dan PBC secara bersama adalah
terikat (kriterion). Hasil menunjukkan terdapat 30,5%, berdasarkan hasil R2 = 0,305; (2)
P P

korelasi Pearson antara Sikap, Norma Sumbangan efektif prediktor PBC adalah
Subjektif, dan PBC dengan Intensi masing- 26,5%, berdasarkan hasil R2 = 0,265; (3)
P P

masing dengan p < 0,01. Artinya bahwa seluruh Sumbangan efektif prediktor Sikap adalah 4%.
prediktor/variabel bebas dapat menjadi kandidat Hal ini diperoleh dari 30,5% (kontribusi Sikap
model regresi berganda. Selanjutnya, dilakukan dan PBC) dikurangi dengan 26,5% (kontribusi
analisis regresi berganda, dengan hasil sebagai PBC); (4) Sumbangan efektif prediktor Norma
berikut. Subjektif adalah 0,8%. Hal ini diperoleh dari
Sebagaimana nampak dalam Tabel 1, 31,3% (kontribusi Sikap, PBC, Norma
regresi berganda menunjukkan hasil koefisien Subjektif) dikurangi dengan 30,5% (kontribusi
determinasi ganda R2 = 0,313, F(3; 230,771) =
P P Sikap dan PBC). Jadi, sumbangan efektif
17,618; p < 0,01. Hal ini berarti bahwa 31,3% terbesar dalam memprediksi Intensi berasal dari
dari variasi Intensi dapat dijelaskan oleh Sikap, PBC, yakni 26,5%. Dengan perkataan lain,
Norma Subjektif, dan PBC sebagai sumbangan relatif prediktor ini dibandingkan
prediktornya; sedangkan variasi sisanya dengan prediktor lainnya adalah sebesar
dijelaskan oleh prediktor lain yang tidak 84,67% (yaitu: proporsi 26,5% dari 31,3%).
diperhitungkan dalam penelitian ini.
Berdasarkan koefisien Beta pada Tabel 1, Diskusi, Kesimpulan, dan Saran
penelitian ini menemukan bahwa Sikap (ß =
0,202; p < 0,05) secara sendirian Penelitian ini menemukan bahwa Sikap,
signifikan untuk memprediksi Intensi. Temuan Norma Subjektif dan PBC secara interaksional
berpengaruh dalam memprediksi intensi wanita
170 ARUM DAN MANGKUNEGARA

Tabel 1.
Hasil Analisis Regresi Ganda untuk Memprediksi Intensi (n = 120)
Variabel B SE B ß
Sikap .013 .005 .202* P

Norma subjektif .009 .008 .124


Persepsi kendali perilaku .028 .007 .426**
P

2 **
Catatan. R = .559; R = .313; F = 17.618 , df = (3, 230.771)
P P P P

**
P p < .01.
P

Tabel 2.
Hasil Analisis Regresi Ganda dengan Metode Stepwise

Model R R2P Adjusted R2


P Std. Error of the Estimate
1 .515a P .265 .259 3.71092
b
2 .552 P .305 .293 3.62573
a. Prediktor: (Constant), Persepsi_Kendali
b. Prediktor: (Constant), Persepsi_Kendali, Sikap

untuk melakukan SADARI. Hal ini sekali lagi Maka, tidak mengherankan apabila Sikap dan
mengkonfirmasi keberlakuan teori perilaku PBC yang lebih memiliki lokus pada pribadi,
terencana (planned behavior) yang apabila diperbandingkan dengan Norma
dikemukakan oleh Ajzen (1991, dalam Mason Subjektif yang lebih memiliki lokus pada
& White, 2008). significant others dan tokoh panutan, dalam
Hasil penelitian ini juga memperlihatkan penelitian ini ditemukan lebih memegang
bahwa Norma Subjektif secara sendirian tidak peranan dalam menentukan intensi wanita
bermakna dalam memprediksi intensi wanita melakukan SADARI. Besarnya kontribusi
melakukan SADARI. Hal ini dapat dipahami relatif PBC, yakni 84,67% kembali
dan dijelaskan dengan mempertimbangkan mengkonfirmasi bahwa pemikiran pribadi,
fakta bahwa sampel yang diambil dalam dibandingkan dengan pemikiran orang lain
penelitian ini adalah para wanita dewasa muda dalam Norma Subjektif, memegang peran yang
yang hidup di kota besar metropolitan Jakarta. penting.
Emile Durkheim (1960) mengungkapkan bahwa Temuan penelitian ini juga diperkuat oleh
perubahan masyarakat yang cepat karena penelitian-penelitian sebelumnya yang
semakin meningkatnya pembagian kerja mengaplikasikan teori perilaku terencana.
menghasilkan suatu kebingungan tentang Misalnya, Armitage dan Conner (2001, dalam
norma, yang akhirnya mengakibatkan runtuh Hagger & Chatzisarantis, 2005) mengungkap
atau simpang siurnya norma-norma sosial yang bahwa Norma Subjektif memang memainkan
mengatur perilaku. Hal ini disebut sebagai peran dengan bobot yang kurang dalam hal
kondisi anomi. Norma dan nilai dengan memprediksi Intensi, apabila dibandingkan
demikian menjadi relatif, khususnya dalam Era dengan peran Sikap dan Persepsi Kendali
Posmodern sekarang ini (Bauman, 1993). Perilaku. Menurut mereka, hal ini mungkin
PERAN SIKAP, NORMA 171

disebabkan karena orang-orang yang wanita melakukan SADARI adalah lemah


membentuk Intensi berdasar atas norma-norma, (secara sendirian), maka menarik sekali untuk
yang disebut sebagai “orang-orang yang merancang intervensi dalam rangka melakukan
dikendalikan secara normatif” (normatively perubahan sikap ini. Untuk konstruk yang sudah
controlled individuals) merupakan kelompok kuat, misalnya dalam penelitian ini adalah
minoritas dalam masyarakat. Oleh karena itu, Persepsi Kendali Perilaku, maka urgensi
untuk mayoritas orang, target intervensi untuk kebutuhan untuk melakukan intervensi justru
memodifikasi niat wanita untuk melakukan tidak begitu penting. Dengan perkataan lain,
SADARI bukanlah Norma Subjektifnya penelitian ini memberikan tantangan terapan
melainkan Sikap dan Persepsi Kendali untuk merancang intervensi pengubahan sikap.
Perilakunya. Dalam hal ini, Ajzen (1991, dalam Hagger &
Selanjutnya, menurut Ajzen (1991, dalam Chatzisarantis, 2005) mengungkapkan bahwa
Hagger & Chatzisarantis, 2005), Sikap dan penampilan persuasif dan komunikasi persuasif
Persepsi Kendali Perilaku dapat diubah dengan merupakan intervensi yang cukup efektif.
memodifikasi sistem keyakinan dominan yang
mendasarinya (underlying belief systems, modal
salient belief). Yang dimaksud dengan “modal Bibliografi
belief” dalam hal ini adalah keyakinan-
10 besar kanker tersering di RS Kanker
keyakinan yang terungkap dengan frekuensi
Dharmais rawat jalan (kasus baru) tahun
yang cukup tinggi terkait dengan target perilaku
2007. (2007). Diakses dari
(SADARI) dalam populasi yang diteliti. Oleh
http://www.dharmais.co.id/index.php/statisti
karena itu, apabila hasil penelitian ini hendak
HT

c-center.html pada 10 Desember 2009.


ditransfer penerapannya dalam populasi wanita
TH

Ajzen, I. (2005). Attitudes, personality, and


yang lain (suku bangsa lain, jenjang pendidikan
behavior (2nd Ed.). Milton-Keynes,
yang lain, daerah/wilayah yang lain, kelompok
P P

England: Open University Press/McGraw-


usia yang lain), maka konsekuensinya adalah
Hill.
bahwa pengguna (user) hasil penelitian ini
Ajzen, I. (2006). Constructing a TPB
hendaknya kembali melakukan elisitasi sistem-
questionnaire: Conceptual and
sistem keyakinan yang menonjol dalam
methodological considerations. Diakses dari
populasi yang bersangkutan. Dengan perkataan
http://people.umass.edu/aizen/pdf/tpb.measu
lain bahwa penelitian ini memberikan temuan
HT

rement.pdf pada pada 10 Desember 2009.


yang penting bahwa Sikap dan Persepsi Kendali
TH

Albarracin, D., Blair, T. J. & Zanna, M. P.


Perilaku serta interaksi Sikap-Persepsi Kendali
(2005). The handbook of attitudes. Dalam
Perilaku-Norma Subjektif memainkan peran
Ajzen, I. & Fishbein, M., The Influence of
dalam meramalkan intensi. Namun demikian,
attitudes on behavior. New Jersey:
dalam rangka intervensi sosial, sistem
Lawrence Erlbaum Associates.
keyakinan dalam populasi harus diidentifikasi
Azwar, S. (2003). Sikap manusia: Teori dan
kembali, agar intervensi efektif.
pengukurannya. Yogyakarta: Pustaka
Untuk populasi dengan karakteristik seperti
Pelajar.
dalam penelitian ini, dalam hal mana sikap
Bauman, Z. (1993). Postmodern ethics. Oxford:
172 ARUM DAN MANGKUNEGARA

Blackwell Publishers Ltd. parasuicide: An exploratory study. Current


Brown, C. (2006). Social psychology. London: Psychology, 22, 247-256
Sage Publications. Sarwono, S. W. (2002). Psikologi sosial:
Damanik, C. (2008). Deteksi kanker payudara Individu dan teori-teori psikologi sosial.
sendiri pun bisa!. Diakses dari Jakarta: Balai Pustaka.
http://www.kompas.com/read/xml/2008/11/
HT Semin, G. R. & Fiedler, K. (1996). Applied
12/13331334/deteksi.kanker.payudara.sendi social psychology. London: Sage
ri.pun.bisa pada 10 Desember 2009.
TH Publications.
Dicanangkan, program nasional deteksi kanker
rahim dan payudara. (2008, 21 April).
Dicanangkan, Program Nasional Deteksi
Kanker Rahim dan Payudara. Kompas.
Diakses dari
http://www.kompas.com/read/xml/2008/04/
HT

21/09585380/dicanangkan.program.nasionai
.deteksi.kanker.rahim.dan.payudara pada 10
T

Desember 2009.
Durkheim, E. (1960). The Division of Labor in
Society. (G. Simpson, Penerj.) New York:
The Free Press.
Hagger, M., & Chatzisarantis, N. (2005). Social
psychology of exercise and sport. Berkshire:
Open University Press.
Jika tidak dikendalikan 26 juta orang di dunia
menderita kanker. (2010) Diakses dari
http://www.depkes.go.id/index.php/berita/pr
HT

ess-release/1060-jika-tidak-dikendalikan-
26-juta-orang-di-dunia-menderita-kanker-
.html pada 10 Januari 2010.
TH

Mason, T. E., & White, K. M. (2008). The role


of behavioral, normative and control beliefs
in breast self-examination. Women &
Health, 47(3), 39-46.
Most frequent cancers: Women. (2010).
Globocan 2008 Fast Stats. Diakses dari
http://globocan.iarc.fr/factsheets/population
HT

s/factsheet.asp?uno=360#WOMEN pada 10
TH

Januari 2010.
O'Connor, R.C. & Armitage, C.J. (2003).
Theory of planned behaviour and
Psikobuana ISSN 2085-4242
2010, Vol. 1, No. 3, 173–189

Masalah Transportasi Kota dan


Pendekatan Psikologi Sosial

Juneman
Ikatan Psikologi Sosial, Himpunan Psikologi Indonesia

The writer of this article tried to clear up urban transport problems using
social psychology approach. The first major problem is about traffic jam,
which is analyzed by the concept of Tragedy of the Commons (Hardin,
1968). The second major difficulty is the traffic accidents which are
analyzed by the risk theories of Wilde (1982, 1998), Summala (1974,
1997), and Fuller (2000). The writer also delivers the influence of illusion
of control, optimism bias, and locus of control on risk taking decision.
Moreover, the writer offers three solutions for each of the problems and
the solutions are intended for individual level, cultural level and structural
level. It is expected that this writing will give a theoretical contributions in
the subject of transportation psychology in Indonesia. Transportation
psychology is a relatively new field of applied psychology in Indonesia,
and there is not much yet attention and development given to this
particular subject. It is also expected that this writing gives ideas for
transportation policies made by the governmental officers, especially in
Indonesia's big cities.

Keywords: traffic-jam, traffic accidents, transportation psychology,


tragedy of the commons, risks theory, urban transport policies

Dua masalah utama yang sering terjadi pada agar dapat sampai di kantor sebelum pukul
dunia transportasi di kota besar, seperti Jakarta, 08.00. Jika berangkat sesudah pukul 06.20,
adalah (1) kemacetan, dan (2) kecelakaan lalu saya butuh waktu tiga jam untuk menempuh
lintas. Ungkapan Cahyo Wardana, warga perjalanan 27 kilometer ke kantor.

Pamulang, Tangerang Selatan berikut ini


(“Jakarta Mengarah”, 2009) mewakili keluhan
hampir seluruh warga kota besar mengenai Menurut Ketua Umum Masyarakat
permasalahan yang pertama: Transportasi Indonesia, Bambang Susanto
(2006), berkebalikan dengan keyakinan umum,
Saya ini kerja di kota, tetapi pola untuk pusat kota, yang diperlukan adalah
berangkatnya seperti petani di desa. Sebelum mengelola kebutuhan (transport demand
matahari terlalu tinggi, saya harus segera management) dan bukannya menambah jalan
meninggalkan rumah. Saya harus baru. Jalan baru di tengah kota dianggap akan
meninggalkan rumah sebelum pukul 06.00 membangkitkan lalu lintas baru (latent
173
174 JUNEMAN

demand), yang pada akhirnya justru akan masalah utama dalam dunia transportasi di kota
menambah kemacetan. besar. Waktu tempuh untuk jarak yang sama
Permasalahan lainnya adalah kecelakaan dari waktu ke waktu mengalami penambahan.
lalu lintas. Angka kecelakaan lalu lintas pada Masalah klasiknya adalah bahwa pertambahan
2009 mencapai 19.000 kasus. Menurut Menteri jalan tidak sebanding dengan pertambahan
Perhubungan Jusman Sfafii Djamil di Jakarta jumlah kendaraan bermotor. Sebagai contoh,
(“Angka Kecelakaan”, 2009), jumlah ini naik angka kepemilikan sepeda motor setiap
dibanding tahun sebelumnya yang mencapai tahunnya mengalami kenaikan yang signifikan.
18.000 kasus. Sebanyak 70 persen penyumbang Jika pada 2005 jumlah sepeda motor mencapai
kecelakaan adalah kendaraan roda dua. 4,4 juta unit, kini di tahun 2009 jumlah
Berdasarkan data yang diperoleh dari Polda kendaraan roda dua ini naik menjadi 7,3 juta
Metro Jaya, sedikitnya empat orang tewas unit (“Di Jakarta”, 2009).
setiap harinya akibat kecelakaan lalu lintas di Pada kebanyakan wilayah, jalan memang
Jakarta, dan setiap harinya terjadi sekitar 20 merupakan milik bersama warga kota (public
kasus kecelakaan di seluruh wilayah Jakarta goods) yang bebas digunakan oleh siapa saja.
(“Di Jakarta”, 2009). Umumnya korban Namun, kerap kali jalan digunakan secara tidak
kecelakaan merupakan pengendara sepeda tertib sehingga mengurangi nilainya bagi setiap
motor. Sementara itu, angka kecelakaan lalu orang. Setiap orang ingin menggunakan jalan
lintas yang melibatkan bus Trans Jakarta secara berlebihan. Sementara itu, tidak ada
(busway) mengalami peningkatan tiap tahun, insentif finansial sekecil apapun sekiranya
dalam hal mana angka kecelakaan hingga orang tidak melakukan penggunaan jalan secara
Oktober 2009 menembus 268 kasus berlebihan. Setiap individu berupaya untuk tiba
(“Sepanjang 2009”, 2009). Faktor utamanya di tempat tujuannya dengan kendaraannya
adalah semua koridor busway tidak steril karena secepat mungkin dengan melalui rute-rute
dimasuki kendaraan lain. tercepat. Pada awalnya, setiap tambahan
Mencermati fenomena transportasi kota di pengendara di jalan tidak memperlambat lalu
atas, psikologi sosial sebagai "Ilmu lintas. Hal ini karena terdapat kemungkinan
pengetahuan yang mempelajari tingkah laku momen-momen “kelancaran lalu lintas kecil-
individu sebagai fungsi dari rangsang-rangsang kecil” yang cukup untuk menampung
sosial" (Shaw & Costanzo, 1970) sangat pengendara tambahan. Kendati demikian, pada
berkepentingan untuk memainkan perannya sejumlah fase kritis, setiap tambahan
dalam memahami (dalam dimensi ontologis) pengendara mengakibatkan pengurangan
sekaligus menawarkan pemecahan masalah kecepatan rata-rata dari semua kendaraan. Pada
(dalam dimensi aksiologis) atas “permasalahan akhirnya, terdapat terlalu banyak pengendara
kronis” yang menjangkiti kota-kota besar di sehingga lalu lintas padat-merayap.
Indonesia tersebut. Masalah ini dapat ditinjau dari kacamata
psikologi sosial sebagai contoh modern dari
Kemacetan Lalu Lintas gejala The Tragedy of the Commons (Tragedi
Bersama) yang dikemukakan oleh Garret
Hardin (1968). Guna memahami Tragedi
Kemacetan lalu lintas merupakan salah satu
MASALAH TRANSPORTASI 175

Bersama, mari kita simak ilustrasi berikut ini. panjang, (3) mencoba mengambil keuntungan
Bayangkan diri Anda berada dalam sebuah dengan melanggar lampu lalu lintas saat tidak
lingkungan pedesaan dengan kampung- ada polisi yang mengawasi, (4) “tidak mau
kampung yang dikelilingi oleh padang rumput rugi” dengan menggunakan setiap ruas jalan
di mana para gembala dapat bebas apapun yang bisa digunakan (termasuk trotoar
menggembalakan dombanya. Padang rumput, pejalan kaki) untuk dilalui atau pun untuk
yang merupakan tempat bersama (the commons) tempat parkir, (5) setuju untuk memanfaatkan
itu, tersedia bagi semua gembala tanpa jasa pungli (pungutan liar) untuk mempercepat
pembatasan. Bayangkan bahwa padang rumput waktu tempuh, demikian juga (6) penggunaan
tersebut menampung domba-domba dalam kendaraan individual yang bersifat masif (tidak
jumlah maksimum tertentu. Terdapat jumlah mau beralih menggunakan transportasi masal
rerumputan yang cukup untuk seluruh domba umum) sementara tidak selalu ada pertambahan
tersebut untuk terberi makan dengan baik. jalan, (7) supir angkutan umum yang ngetem
Menambahkan satu domba lagi saja akan beberapa saat untuk mencari penumpang,
mengurangi jumlah makanan bagi domba- maupun (8) calon penumpang yang
domba yang lain. Namun demikian, tiap-tiap memberhentikan kendaraan umum bukan di
gembala berpikir bahwa meningkatkan jumlah halte yang semestinya, sesungguhnya telah
gembalaannya akan merupakan hal yang bersama-sama “berkonspirasi” untuk menjamin
menguntungkan. Lebih banyak domba yang waktu tempuh berkendara yang lebih panjang
digembalakan berarti dapat dihasilkan lebih bagi setiap orang.
banyak wol dan lebih banyak penghasilan bagi Puncak tragedi bersama yang dapat kita
gembala. Terdapat pula kerugian bila hal ini bayangkan adalah bahwa semua kendaraan di
dilakukan, yakni jumlah makanan akan Jakarta akan terjebak kemacetan sesaat setelah
berkurang sedikit bagi domba-domba yang lain, keluar dari rumah pada tahun 2014 (“Jakarta
termasuk domba gembalaannya sendiri. Namun, Mengarah”, 2009).
ketidakuntungan ini kelihatannya kecil karena
tersebar merata diantara domba-domba. Jadi, Kecelakaan Lalu Lintas
dari sudut pandang masing-masing gembala,
perolehan yang didapatnya besar, sementara
kerugian yang diakibatkan oleh tindakannya Kecelakaan lalu lintas dapat disebabkan
adalah kecil. Tragedi terjadi ketika semua oleh sejumlah faktor, misalnya kondisi
gembala melakukan hal yang sama, karena kendaraan, lingkungan, dan pengendara, serta
“kerugian yang kecil-kecil” tadi kemudian lalu interaksi antar faktor-faktor tersebut. Namun
meningkat menjadi “bencana” bagi setiap demikian, karakteristik pengendara
orang. menyumbang proporsi terbesar. Hal ini sesuai
Berdasarkan kacamata psikologi sosial di dengan analisis Lewin (1982), bahwa faktor
atas, maka setiap pengendara yang (1) berupaya manusia berkontribusi terhadap kecelakaan lalu
untuk mencari jalan pintas atau jalan tercepat, lintas sampai dengan 90%. Tidak semua
(2) tidak mau berkorban untuk melalui jalan kecelakaan ini disebabkan oleh kekhilafan atau
dengan rute normal atau yang agak lebih kekeliruan (error). Seringkali pengendara
secara sengaja menyimpang dari perilaku
176 JUNEMAN

berkendara yang aman (Reason, Manstead, aspek ini dapat dirunut kepada dua faktor, yakni
Stradling, Baxter, & Campbell, 1990). (1) risiko yang ditakuti (dread risk), dan (2)
Penyimpangan ini mungkin disebabkan oleh risiko yang tidak diketahui (unknown risk).
sejumlah faktor, seperti misalnya kebutuhan Risiko yang ditakuti dicirikan oleh persepsi
sehari-hari (misalnya: berupaya untuk tentang aspek no. (5), (7), (8), dan (9). Risiko
memenuhi janji di suatu tempat), karakteristik yang tidak diketahui dicirikan oleh bahaya yang
kepribadian (misalnya: kepribadian yang suka tidak teramati, bahaya yang tidak diketahui,
mencari sensasi), motivasi, dan bias-bias serta bahaya baru. Faktor risiko yang ditakuti
kognitif. Penyimpangan dari perilaku ditemukan berkorelasi tinggi dengan persepsi
berkendara yang aman ini meningkatkan risiko risiko apabila dibandingkan dengan faktor
sampai ke titik yang tidak terduga, bergantung risiko yang tidak diketahui.
pada komponen atau sifat dari peristiwa Pada masa yang lalu, pendekatan yang
kecelakaan itu sendiri. dilakukan untuk mengurangi kecelakaan
Risiko dan perubahan perilaku yang utamanya difokuskan pada ukuran-ukuran
dihasilkannya merupakan konsep inti dalam rancang-bangun. Dengan perkataan lain, dengan
penelitian tentang keamanan (safety). Risiko memperbaiki atau meningkatkan infrastruktur,
adalah setiap situasi yang dapat berakhir dengan merancang jalan-jalan yang lebih aman, serta
hasil negatif, dan melibatkan dua komponen, mewajibkan penggunaan sabuk pengaman dan
yakni (1) kemungkinan hasil negatif, dan (2) helm SNI, diharapkan mengurangi tingkat
tingkat beratnya hasil negatif (van der Pligt, fatalitas kecelakaan sampai derajat tertentu.
1996). Dalam mempelajari risiko, konstruk ini Lebih jauh lagi, tindakan-tindakan regulatif
biasanya dipelajari sebagai sebuah konstruk juga dilakukan dengan menjadikan penggunaan
subjektif dan multi-aspek. Penelitian-penelitian sabuk pengaman sebagai kewajiban,
psikometris pada akhir 1970-an (Fischoff, pembatasan jumlah alkohol yang diperbolehkan
Slovic, Lichtenstein, Read, & Combs, 1978; ketika berkendara, serta pembatasan kecepatan
sebagaimana dikutip dalam Kobbeltvedt, Brun, laju kendaraan. Namun demikian, baik
& Laberg, 2004) membuktikan adanya intervensi rancang-bangun maupun pengaturan-
sembilan aspek dari persepsi risiko, yakni (1) pengaturan hukum dapat berinteraksi dengan
ketidaksengajaan paparan (involuntariness of efek pilihan-pilihan pribadi pengendara serta
exposure), (2) kesegeraan akibat (immediacy of pilihan-pilihan yang tidak diniatkannya dalam
effects), (3) ketiadaan pengetahuan yang akurat mempengaruhi perilaku berkendaranya
mengenai tingkat risiko (lack of precise (Rothengatter, 2002).
knowledge about risk levels), (4) ketiadaan Dengan perkataan lain, faktor manusia tidak
pengetahuan ilmiah (lack of scientific dapat dikontrol tanpa upaya untuk memahami
knowledge), (5) ketidakmampuan faktor-faktor psikologis yang mempengaruhi
mengendalikan (uncontrollability), (6) kebaruan perilaku pengendara dan persepsi pengendara.
(newness), (7) potensi katastrofik (catastrophic Pengendara mengadaptasikan perilaku mereka
potential), (8) perasaan cemas atau takut menurut kebutuhan situasi dengan
(feeling of dread), dan (9) konsekuensi mempertimbangkan persepsi risiko dan persepsi
mematikan (fatal consequences). Kesembilan tuntutan tugas mereka (Rothengatter &
MASALAH TRANSPORTASI 177

Huguenin, 2004). Menurut Schlag (1999), sasaran merupakan keuntungan bersih (net
pencegahan kecelakaan serta peningkatan benefit) dari risiko yang diniatkan (intended
keamanan berlalu lintas ini termasuk dalam area risk). Dengan perkataan lain, tingkat risiko
psikologi transportasi dan lalu lintas. sasaran merupakan fungsi utilitas/kegunaan
Terdapat tiga teori yang mengupas perilaku ekonomis dalam rangka memaksimalkan
kompensatori pengendara: (1) Risk homeostasis pencapaian bersih yang dikaitkan dengan
theory (teori homeostasis risiko) dari Wilde dugaan kerugian dan keuntungan dari alternatif
(1982), (2) Zero risk theory (teori nol risiko) berisiko serta alternatif aman. Teori ini
dari Summala (1974)—yang selanjutnya berasumsi bahwa orang membuat penilaian
berkembang menjadi model hierarkis tentang tentang risiko secara berkelanjutan. Apabila
adaptasi perilaku (1997), dan (3) Task risiko yang dipersepsikan (perceived risk,
capability model (model kapabilitas tugas) dari subjective risk) tidak kongruen dengan tingkat
Fuller (2000). risiko sasaran (target risk), maka orang akan
Kompensasi risiko (risk compensation) mengadaptasikan perilaku mereka untuk
merupakan perilaku adaptif dalam merespons memperkecil bahkan menghapus kesenjangan
perubahan-perubahan dalam risiko yang (sampai dengan nol) di antara keduanya. Jadi,
dipersepsikan seseorang. Apabila orang apabila tingkat risiko yang dipersepsikan
meyakini bahwa risikonya meningkat, maka ia (subjective risk) lebih rendah daripada yang
akan mengambil tindakan pengamanan untuk dapat diterimanya, maka orang cenderung untuk
mengurangi efek negatif dari situasi yang terlibat dalam tindakan yang meningkatkan
melibatkan risiko. Sebaliknya, jika orang keterpaparan mereka terhadap risiko.
mempersepsikan risiko itu rendah dan merasa Misalnya, apabila saat berkendara, hari
aman, ia akan berperilaku kurang waspada serta mulai hujan, maka orang akan melambatkan
siap menghadapi atau berkonfrontasi dengan kendaraannya untuk mengurangi kemungkinan
situasi bahaya. Persoalan pokok dalam celaka. Namun, apabila matahari bersinar
kompensasi risiko adalah persepsi tentang kembali, mereka akan mempercepat laju
perubahan dalam tingkat risiko, yang akan kendaraannya sampai dengan titik di mana
menghasilkan perubahan perilaku (Hedlund, mereka merasa nyaman; hal ini
2000). Bilamana pengendara merasa memiliki menggambarkan tingkat risiko sasaran mereka.
kebutuhan untuk mengadaptasikan perilaku Contoh lainnya adalah pada tingkah laku
mereka? pengendara melintasi rel kereta. Pada saat
pengendara melihat dari jauh bahwa palang
Teori Homeostatis Risiko lintasan kereta belum benar-benar menutup
(atau bahkan tidak ada palang), pengendara
Gerald J. S. Wilde dalam Teori Homeostatis akan memiliki suatu peningkatan persepsi
Risiko (1982) menghipotesiskan bahwa kita keamanan (penurunan persepsi risiko bahaya)
semua memiliki “tingkat risiko sasaran” (target untuk melintasi rel kereta. Persepsi tersebut
risk level) serta mengukur risiko seperti sebuah akan berimplikasi pada peningkatan kecepatan,
termostat risiko. Perilaku berisiko melibatkan yang hasilnya adalah suatu persepsi subjektif
untung-rugi (costs and benefits). Tingkat risiko keuntungan (dapat berhasil melintasi rel) yang
178 JUNEMAN

sesungguhnya justru secara objektif tidak aman. keeping), menyeberang (crossing management),
Teori Wilde mencakup sebuah lingkaran dan bermanuver (maneuvering). Tingkat
umpan balik (feedback loop) antara perilaku pemrosesan psikologis ini membedakan antara
dan pencapaian (outcome), sebagaimana kontrol perseptual-motor dan pengambilan
nampak dalam Gambar 1. Dengan demikian, keputusan serta tingkat pemantauan
perilaku pengendara yang penuh kehati-hatian (supervisory monitoring level). Model ini
tercermin dalam tingkat kerugian (injury rate), menyatakan bahwa “semakin tinggi tugas dalam
sementara tingkat kerugian juga tercermin taksonomi fungsional, semakin sering
dalam perilaku pengendara. Risiko sasaran pengambilan keputusan sadar dan pemantauan
merupakan konsep kunci dalam kausalitas diterapkan”. Kontrol perhatian (attention
sirkular ini. Teori ini menyatakan bahwa untuk control) berada di antara kedua proses tersebut
mengurangi tingkat kerugian (meningkatkan dan diterapkan baik top-down maupun bottom-
perilaku aman), maka tingkat risiko sasaran up. Kontrol kecepatan dan kontrol waktu
yang ingin diambil oleh seseorang harus terletak di tengah kubus karena kedua faktor ini
dikurangi (Wilde, 1998). menentukan mobilitas dan merupakan tujuan
motivasional utama berkendara.
Teori Nol-Risiko
Model Kapabilitas Tugas
Teori nol-risiko berfokus pada determinan
motivasional, khususnya penilaian risiko Model kapabilitas tugas dari Fuller (2000)
subjektif pengendara dan perilaku kompensatori membedakan antara kompetensi pengendara
yang ingin diambil oleh mereka (Naatanen & dan kapabilitas pengendara. Kompetensi
Summala, 1974). Summala memperluas merupakan pencapaian keterampilan
pendekatan teoretis nol-risiko pengendara dari pengendara, yang mencakup keterampilan
sejumlah aspek. kontrol, keterampilan persepsi bahaya, dan
Model hierarkis adaptasi perilaku tugas keterampilan antisipasi serta defensif.
pengendara dari Summala mempertimbangkan Kapabilitas merupakan kemampuan pengendara
perubahan dalam sistem lalu lintas (changes in untuk mentransfer tingkat kompetensinya dalam
the traffic system) dalam menilai reaksi situasi tertentu.
pengendara. Model ini dibangun dari kubus Sejumlah besar hasil penelitian yang
tugas tiga-dimensi (Summala, 1997). Model ini dipublikasi dalam jurnal-jurnal, seperti Accident
memandang tugas berkendara (driving task) Analysis and Prevention, Ergonomics, Safety
sebagai interaksi antara (a) hierarki fungsional, Science, Human Factors, dan Transportation
(b) tingkat pemrosesan, dan (c) taksonomi Research, menggambarkan keterbatasan umum
fungsional. Dimensi hierarki fungsional manusia dalam hal: persepsi pengendara,
memiliki kisaran dari kontrol kendaraan sampai pengambilan keputusan pengendara, dan
dengan keputusan pergi (trip decisions) dan eksekusi respons. Jurnal-jurnal tersebut
pilihan kendaraan. Dimensi taksonomi menunjukkan bahwa terdapat banyak faktor
fungsional perilaku mencakup keterampilan individual dan faktor temporer yang dapat juga
berkendara, seperti melewati liukan jalan (lane mempengaruhi seberapa efektif dan seberapa
MASALAH TRANSPORTASI 179

aman pengendara melakukan tugas mereka. Misalnya, ambang stimulus (jumlah energi
Faktor-faktor tersebut mulai dari pendidikan minimum dalam sebuah stimulus yang
dan pengalaman, alkohol dan agresi, sampai dibutuhkan untuk dapat dideteksi kehadirannya
dengan kantuk dan stres. Faktor-faktor itu juga oleh pengendara), kecepatan pemrosesan
berkontribusi terhadap instabilitas kinerja informasi, waktu reaksi, dan ketajaman
pengendara, dan dapat berinteraksi dengan penglihatan. Banyak dari unsur-unsur ini
motivasi sesaat dari pengendara. bervariasi secara sistematis sebagai fungsi dari
Mengendarai kendaraan dapat digambarkan usia. Berdasarkan karakteristik konstitusional
sebagai tugas kendali dinamis (dynamic control ini, pengendara juga membawa dalam dirinya
task) dalam hal mana pengendara harus pengetahuan dan keterampilan yang berasal dari
menyeleksi informasi yang relevan dari pendidikan dan pelatihan, yang dikembangkan
sejumlah besar masukan visual, untuk membuat dan diasah dengan pengalaman kumulatif.
keputusan dan menjalankan respons kendali Secara bersama-sama, pendidikan dan pelatihan
yang tepat guna mencapai mobilitas yang aman. serta pengalaman kumulatif ini menentukan
Meskipun terdapat situasi-situasi di mana batas atas dari kapabilitas pengendara, yang
pengendara harus bereaksi terhadap sejumlah disebut sebagai kompetensi pengendara.
peristiwa tak terduga (misalnya, seorang anak Namun demikian, pengendara tidak selalu
yang tiba-tiba keluar dari belakang sebuah mampu untuk beroperasi pada tingkat
kendaraan yang sedang diparkir), namun kompetensi ini. Yang dapat dilaksanakan oleh
utamanya pengendara menjalankan tindakan pengendara pada momen waktu tertentu dapat
yang direncanakan yang dibentuk oleh harapan- dipengaruhi oleh sejumlah variabel yang
harapan mereka tentang bentangan jalan, disebut faktor-faktor manusia (human factors).
pejalan kaki, dan skenario lalu lintas di depan Faktor-faktor ini mencakup kelelahan, kantuk,
mereka, serta realitas yang mereka amati secara emosi, stres, distraksi, efek alkohol dan obat-
aktual. obatan, serta motif-motif (seperti agresi).
Dari Gambar 2 di atas, kita dapat melihat Faktor-faktor manusia tersebut berinteraksi
faktor-faktor kuncinya adalah lingkungan, yang dengan kompetensi pengendara untuk
disusun oleh jalan dan kondisi fisik seperti menghasilkan kapabilitas (Fuller & Santos,
adhesi permukaan dan visibilitas jalan, 2002).
pengguna jalan yang lain dengan siapa Gambar 3 dan Gambar 4 berturut-turut
pengendara mungkin berinteraksi, serta menunjukkan tuntutan tugas pengendara dan
tampilan/display informasi, kontrol, dan kapabilitas pengendara. Apabila kita
karakteristik operasional dari kendaraan yang mengintegrasikan kedua gambar tersebut, maka
dikendalikan oleh pengendara. Pengendara dapat dihasilkan model jembatan antar
sendiri memiliki dua unsur tugas yang penting, keduanya, yang kita sebut task-capability
yakni posisi di jalan dan kecepatan. interface model (model jembatan tugas-
Pada saat melaksanakan tugasnya, kapabilitas), sebagaimana nampak dalam
pengendara membawa dalam dirinya Gambar 5.
karakteristik konstitusional tertentu, kapabilitas Berdasarkan model ini, apabila kapabilitas
biologis yang menjadi unsur kinerja individual. melampaui tuntutan tugas, maka pengendara
180 JUNEMAN

mampu untuk melaksanakan tugasnya secara antara pengendara dengan bentangan jalan dan
aman. Namun jika kapabilitas lebih rendah skenario lalu lintas menentukan kesulitan tugas
daripada tuntutan tugas, maka akan terjadi objektif. Kedua hal ini (kesulitan tugas objektif
tabrakan atau kehilangan kendali. Perkecualian dan sasaran kesulitan pengendara) kemudian
terhadap hal ini adalah ketika pengguna jalan diperbandingkan. Jika kesulitan melampaui
yang lain membuat manuver defensif atau (atau: diantisipasi untuk melebihi) sasaran
meloloskan diri, misalnya seorang pejalan kaki kesulitan pengendara, maka pengendara
melompat keluar dari jalan yang sedang dilalui mengambil tindakan untuk mengurangi tingkat
kendaraan si pengendara yang kehilangan kesulitan (misalnya dengan memperlambat laju
kontrol ini. Manuver semacam itu mengubah kendaraan). Di sisi lain, jika kesulitan yang
secara efektif tuntutan tugas pada sebuah dipersepsikan lebih rendah daripada sasaran,
momen kritis. maka pengendara mengambil tindakan untuk
Pertanyaan berikutnya adalah, setelah kita meningkatkan tingkat kesulitan (misalnya
mengetahui unsur-unsur kunci yang dengan mempercepat laju kendaraan).
berkontribusi terhadap model ini, lalu apakah Ringkasnya, model Fuller menyatakan
yang memberikan energi kepada model ini? bahwa kesulitan tugas (task difficulty) berasal
Apakah yang membuat model ini bergerak? dari kesenjangan antara upaya pengendara
Guna menjawab pertanyaan ini, Fuller untuk merespons tuntutan tugas dan tingkat
menyampaikan sebuah hipotesis kerja sebagai kapabilitas yang tersedia (Gambar 6). Apabila
berikut. Bahwa untuk hampir seluruh waktunya, tuntutan tugas melebihi kapabilitas pengendara,
pengendara berkendara sedemikian rupa untuk maka tugas dipersepsikan sebagai sulit dan
mencapai mobilitasnya, untuk mencapai tujuan berisiko. Hasil dari ketidaksesuaian ini dapat
perjalanannya, dan sementara itu memastikan menjadi sebuah kecelakaan. Guna mengelola
bahwa kesulitan tugas tetap berada dalam batas- kesulitan tugas, pengendara dapat memodifikasi
batas yang dapat diterima. Jadi, apabila hal-hal tuntutan tugas atau kapabilitasnya.
menjadi sangat hectic (sibuk dan cepat) di jalan,
terlalu menuntut, maka pengendara akan Kelemahan Teori Risiko
melambatkan laju kendaraannya. Apabila tugas
terlampau mudah, maka pengendara Ketiga teori risiko yang dikemukakan di
meningkatkan laju kendaraannya, sehingga atas mencoba untuk menjelaskan perilaku
menjadi lebih menantang. Hal ini disebut pengendara dan bagaimana mereka menangani
sebagai homeostasis tugas-kesulitan (task- risiko dalam berlalu lintas. Teori-teori tersebut
difficulty homeostasis). tidak mempertimbangkan apakah prakiraan
Dalam proses ini, (1) kapabilitas risiko pengendara akurat ataukah tidak.
pengendara, sebagaimana yang dipersepsikan Kenyataan bahwa pengendara tetap mengalami
oleh pengendara itu sendiri, serta (2) motivasi kecelakaan meskipun terdapat peningkatan
pengendara untuk melibatkan diri dalam tingkat dalam hukum, regulasi, dan rancang-bangun
kesulitan tugas tertentu, secara bersama-sama mengindikasikan bahwa pengendara gagal
menentukan rentang kesulitan tugas yang untuk mengestimasi risiko secara akurat.
menjadi sasaran pengendara. Interaksi dinamis Terdapat kesenjangan antara risiko yang
MASALAH TRANSPORTASI 181

dipersepsikan dan risiko objektif. Estimasi atau dalam mengasosiasikan perilaku dan risiko akan
prakiraan risiko mengalami bias oleh proses- menimbulkan persistensi (kegigihan) dalam
proses kognitif, konteks, serta karakteristik mempertahankan perilaku berisiko khususnya
personal dan kultural. Meskipun pengendara apabila hasilnya tidak negatif. Taylor dan
nampaknya sadar terhadap risiko yang terkait Brown (1988) menyatakan bahwa sifat alami
dengan tingkah laku tertentu, mereka gagal self-serving dalam hal prakiraan risiko mungkin
untuk memperkirakan secara akurat kekuatan disebabkan oleh keyakinan kontrol yang
(magnitude) risiko bagi diri mereka sendiri. dilebih-lebihkan dan bias optimisme. Dengan
Teori atribusi dapat membantu untuk perkataan lain, kontrol dan optimisme yang
memahami mengapa pengendara memiliki bersifat overestimasi atau superior
kecenderungan untuk memiliki bias estimasi. menimbulkan reduksi dalam persepsi risiko dan
Riset atribusi menyatakan bahwa proses atribusi meningkatkan kecenderungan perilaku
(sebagai istilah payung untuk upaya individu pengambilan risiko. Oleh karena itu, pengaruh
untuk mencari hubungan kausal dari peristiwa- ilusi kendali, bias optimisme, dan lokus kendali
peristiwa yang terjadi di sekitarnya) diwarnai terhadap perilaku pengambilan risiko perlu
oleh sejumlah kekeliruan dan bias sistematis. dipertimbangkan.
Kekeliruan dan bias ini mungkin disebabkan
oleh keterbatasan sistem kognitif, faktor-faktor
motivasional, atau keduanya. Salah satu bias ini Rekomendasi Intervensi untuk Masalah
adalah bias melayani diri sendiri (self-serving
Kemacetan Lalu Lintas
bias), yang merupakan kecenderungan untuk
menginterpretasikan dan menjelaskan hasil
dengan cara-cara yang menguntungkan Tingkat Individual
(favorable) bagi diri sendiri. Self-serving bias
memiliki dua faset: (a) bias peningkatan diri Orang perlu ditingkatkan kesadarannya
(self-enhancement bias), dan (b) bias tentang dilema sosial. Orang tidak selalu
perlindungan diri (self-protective bias). Bias menyadari bahwa perilaku mereka
peningkatan diri bertanggung jawab bagi hasil- berkonsekuensi negatif terhadap banyak orang
hasil yang sukses, sedangkan bias perlindungan lain, dalam hal ini kemacetan lalu lintas dan
diri menolak untuk bertanggung jawab bagi polusi lingkungan yang diakibatkan oleh
hasil-hasil negatif (Blaine & Crocker, 1993). masifnya penggunaan kendaraan pribadi.
Dengan mengaplikasikan konsep self- Penelitian menunjukkan bahwa semata-mata
serving biases pada penilaian risiko menyatakan pemberian informasi tentang dilema sosial
bahwa orang memiliki kecenderungan untuk dapat mempengaruhi secara kuat keputusan
membuat atribusi terhadap disposisi apabila orang (Komorita & Parks, 1994). Karenanya,
mereka memperoleh hasil positif sebagai hasil perlu disampaikan pesan bahwa jalan akan
dari peristiwa yang melibatkan risiko (risk- lancar, waktu tempuh akan menjadi lebih
involving). Sebaliknya, orang tidak suka pendek, apabila sejumlah orang berkontribusi
membuat atribusi disposisional bagi hasil-hasil dengan perilakunya masing-masing. Artinya,
negatif dari peristiwa berisiko. Kegagalan kontribusi satu-dua orang saja tidak akan
182 JUNEMAN

memiliki pengaruh yang signifikan untuk melestarikan terjadinya Tragedi Bersama.


mengatasi kemacetan lalu lintas. Namun Bahwa meskipun perbedaan dalam hasil
demikian, perasaan tiadanya efikasi personal (payoffs) memang selalu menguntungkan
(keyakinan akan keberhasilan kontribusi pelaku defektif tidak peduli apa yang dilakukan
pribadi) ini merupakan salah satu rintangan orang lain, namun orang perlu percaya bahwa
utama bagi individu untuk bekerjasama, hasil absolut (absolute payoff)—tiadanya
terutama dalam dilema sosial dengan jumlah kemacetan—selalu lebih tinggi apabila semua
orang yang besar (Kerr, 1996). Apabila orang bekerjasama untuk mengatasi kemacetan
sejumlah pengendara kendaraan pribadi dapat lalu lintas ini, misalnya dengan bersama-sama
dipersuasi untuk menggunakan transportasi menggunakan transportasi publik. Kepercayaan
publik (ketimbang mobil pribadi, misalnya), ini harus terus dibangun terus-menerus.
maka pengendara yang lain (“free-riders”) akan Memang tidak mudah, tetapi mungkin.
menikmati keuntungan karena lalu lintas yang
kurang macet. Hal ini akan menginspirasi orang Tingkat Kultural
untuk menggunakan kendaraan pribadinya
kembali. Ditambah lagi, penggunaan mobil Kita perlu memperkuat norma dalam situasi
memberikan sejumlah keuntungan langsung, dilema sosial. Dalam situasi dilema sosial yang
khususnya terciptanya perasaan akan kebebasan terjadi di dunia nyata, seperti dalam berlalu
dan kemandirian serta kenyamanan. Oleh lintas ini, keputusan sebagian besar dibuat
karena itu, perlu diadakan kampanye informasi secara anonim. Dengan demikian orang dapat
publik yang berkelanjutan yang tidak hanya secara mudah menyangkal tanggung jawabnya
menekankan pentingnya warga berkontribusi dalam menciptakan atau memecahkan
dengan perilakunya, tetapi juga menekankan permasalahan. Solusi terhadap hal ini adalah
bahwa kontribusi dari masing-masing individu dengan membuat menonjol norma sosial yang
memang sungguh-sungguh dapat “membuat menekankan kerja sama. Contoh: (1)
perbedaan hasil”. Penghargaan untuk “kota nol kemacetan atau
Individu dapat diedukasi untuk mengubah nol kecelakaan”; hal ini menciptakan
orientasi nilai, dari pro-diri menjadi pro-sosial perbandingan sosial (social comparison) dan
(van Vugt dalam Messick & McClintock, perlombaan yang sehat antar kota; (2) Program
1968). Pro-diri berarti orang memaksimalkan anti-kemacetan dan anti-kecelakaan
pencapaian/keuntungannya sendiri, sedangkan diselenggarakan pada tingkat komunitas,
pro-sosial berarti orang memaksimalkan sehingga orang lebih berkomitmen untuk
pencapaian kolektif/bersama. Orientasi memecahkan masalah yang terjadi pada
prososial ini hendaknya dikombinasikan dengan lingkungan di depan matanya (direct
faktor krusial lain dalam sosial dilema, environment); (3) Program pengawasan
sebagaimana dinyatakan oleh Dawes (1980), masyarakat, dalam hal mana para pelanggar,
yakni bahwa orang harus memiliki sejumlah misalnya pengendara motor yang berupaya
alasan untuk percaya bahwa orang lain tidak menyeberang, menaikkan motornya pada
akan bertingkah laku defektif. Tingkah laku jembatan penyeberangan (yang seharusnya
defektif maksudnya adalah tingkah laku yang hanya untuk pejalan kaki) dilaporkan secara
MASALAH TRANSPORTASI 183

langsung ke polisi terdekat agar dapat menggunakan transportasi publik apabila hal ini
diidentifikasi dan dihukum. lebih efisien dan memberikan status yang baik.
Agar kemacetan dapat dikurangi karena Misalnya, busway yang digunakan cepat, aman,
adanya pungutan liar (pungli) di jalan-jalan dan terdapat kesan mewah (dengan adanya
yang memperlancar kendaraan tertentu saja, televisi, koneksi internet, dll). Hal ini dapat
maka di samping perlu diusahakan adanya dipahami karena suasana yang demikian
polisi yang tegas di jalan-jalan yang rawan merupakan suasana yang kongruen dengan
pungli; maka perlu dibangun suatu budaya konsep diri para pelaku bisnis pada umumnya.
masyarakat yang menolak pungli. Masyarakat Solusi struktural terakhir adalah dengan
perlu kompak untuk menolak pungutan liar, mengeliminasi (baik sebagian atau pun
tidak memanfaatkan "kesempatan dalam seluruhnya) interdependensi antar orang dalam
kesempitan". Dengan demikian, transaksi situasi dilema sosial. Dalam literatur dilema
pungli menjadi "mau untung jadi buntung" sosial, strategi ini disebut privatisasi (Messick
(pembalikan manfaat). & Brewer, 1983). Jadi, orang yang lebih
mampu, jika menggunakan BBM, tidak
Tingkat Struktural diberlakukan tarif normal/rata-rata (flat rate
tariff), melainkan dikenakan biaya sesuai
Strategi lain yang dapat digunakan untuk dengan penggunaannya. Penggunaan yang
mengatasi kemacetan lalu lintas adalah dengan semakin banyak berarti harga yang dibayar
menerapkan reward untuk tingkah laku yang harus semakin mahal.
mendukung teratasinya tragedi bersama dan
punishment untuk tingkah laku yang tidak Rekomendasi Intervensi untuk Masalah
mendukung. Penggunaan transportasi publik Kecelakaan Lalu Lintas
dapat dipromosikan dengan memberikan
reward berupa keringanan pajak (tax benefits) Tingkat Individual
bagi orang-orang yang memiliki dan rutin
menggunakan kartu busway atau kereta. Di Berdasarkan teori mutakhir dari Fuller
samping itu, punishment dapat dilakukan (2000), serta Fuller dan Santos (2002), nampak
dengan menaikkan pajak mobil mewah atau bahwa keamanan berkendara terancam apabila
pajak bahan bakar mobil. Keberhasilan dari terdapat kesenjangan antara kesulitan tugas
intervensi ini sangat bergantung pada besarnya yang dipersepsikan pengendara (perceived task
reinforcement (reward dan punishment) serta difficulty) dengan kesulitan tugas objektif
konsistensi pemberiannya (van Lange & (objective task difficulty), khususnya ketika
Messick, 1996). pengendara menganggap remeh kesulitan tugas
Hal yang penting juga adalah bahwa bentuk objektif. Solusi untuk mengatasi hal ini adalah
insentif harus bermakna bagi orang. Misalnya, dengan memberikan pengendara informasi yang
dalam hal moda transportasi, penelitian van jelas, ilmiah, dan andal, yang mencakup
Vugt, Meertens, & van Lange. (1995) informasi mengenai kecepatan, jurusan
menunjukkan bahwa para pelaku bisnis akan kendaraan, tingkat adhesi jalan, serta hal-hal
berubah dari menggunakan mobil menjadi lain apa pun yang berpotensi menjadi bahaya.
184 JUNEMAN

Gambar 1. Model homeostatis dari Wilde (1982, h. 212)

Gambar 2. Faktor-faktor yang berkontribusi terhadap tuntutan tugas bagi pengendara (Fuller &
Santos, 2002, h. 4)
MASALAH TRANSPORTASI 185

Gambar 3. Determinan kapabilitas pengendara (Fuller & Santos, 2002, h. 5)

Gambar 4. Kemungkinan hasil dari jembatan antara tuntutan tugas dan kapabilitas pengendara
(Fuller & Santos, 2002, h. 6)
186 JUNEMAN

Gambar 5. Model Jembatan Tugas-Kapabilitas (Fuller & Santos, 2002, h. 7)

Gambar 6. Homeostatis kesulitan tugas (Fuller & Santos, 2002, h. 8)


MASALAH TRANSPORTASI 187

Tingkat Kultural pengendara tidak dapat melakukan apa-apa


untuk mereduksi tuntutan tugas atau pun untuk
Dari sisi kultural, Wilde (1985) telah meningkatkan kapabilitasnya, maka pengendara
memberikan empat pendekatan untuk akan memilih untuk menghindari kondisi
mengurangi tingkat risiko sasaran pengendara tersebut (kondisi tuntutan tugas yang berlebih).
(baca: mengurangi kejadian kecelakaan), yakni Hal ini menjelaskan paradoks mengapa
(1) meningkatkan penghargaan kepada perilaku intervensi keamanan yang bersifat membuat
aman (misalnya, dengan memberikan insentif), tugas menjadi mudah (misalnya meluruskan
(2) menghukum perilaku yang berisiko atau jalan yang tadinya berbentuk kurva) justru
tidak aman, (3) menurunkan keuntungan dari menyebabkan perilaku berisiko seperti
perilaku berisiko (misalnya, jangan memberikan peningkatan kecepatan oleh pengendara.
sebutan “hebat” / heroism kepada perilaku Berdasarkan pengetahuan tersebut, maka
tersebut), dan (4) menurunkan konsekuensi intervensi keamanan yang bersifat membuat
negatif dari perilaku aman (misalnya, jangan tugas nampak menjadi lebih sulit (misalnya,
membiarkan terjadinya kehilangan waktu / time liukan/putaran “S”, leher jalan, pintu gerbang,
loss pada para pengendara yang berperilaku penyempitan jalan) patut dipertimbangkan. Jadi
aman). diperlukan rancangan yang membuat tugas
Selanjutnya, Wilde dan Robertson (2002) nampaknya lebih sulit daripada kesulitan
menambahkan dua pendekatan lagi, yakni (1) objektifnya, sehingga pengendara dapat
memberikan penghargaan kepada pengendara memperlambat laju kendaraannya. Hal ini dapat
yang tidak mengalami kecelakaan (misalnya, dikombinasikan dengan paparan peringatan data
mengenakan premi asuransi yang lebih murah statistik kejadian kecelakaan lalu-lintas yang
kepada pengendara yang tidak pernah diletakkan di jalan. Pendekatan kombinatif ini
melakukan klaim asuransi; hal ini disebut “no- diperlukan karena, sebagaimana dinyatakan
claim bonus”), dan (2) menghukum pengendara oleh Baron, Byrne, dan Branscombe (2005),
yang mengalami kecelakaan. Namun demikian, pesan-pesan yang berbingkai negatif (negatively
teori ini tidak memperhitungkan framed) sebagai strategi preventif dan ditolak
regulasi/peraturan keamanan lingkungan, orang. Hal ini disebabkan karena pesan-pesan
seperti rancangan jalan dan kendaraan yang mencemaskan, dan menimbulkan afeksi
(Hedlund, 2000; Rothengatter, 2002). Hal ini ketakutan seperti itu bersifat mengancam diri
dapat dipahami karena asumsi teori ini adalah (self) seseorang, sehingga dapat mengaktifkan
bahwa modifikasi lingkungan atau pengaturan mekanisme pertahanan (defense mechanism)
perilaku pengendara tanpa mempengaruhi dalam rangka mempertahankan citra diri (self-
tingkat risiko sasaran adalah kesia-siaan belaka. image) yang positif; selanjutnya, hal ini
mengganggu kemampuan orang untuk menaruh
Tingkat Struktural perhatian pada sebuah pesan untuk mengingat
bahaya dari perilakunya.
Menurut Fuller dan Santos (2002), ketika
tuntutan tugas (demands of the task) melampaui
kapabilitasnya, dan pada saat yang sama
188 JUNEMAN

Bibliografi http://nasional.kompas.com/read/2009/06/1
9/06125151/jakarta.mengarah.pada.kemacet
Angka kecelakaan lalu lintas meningkat. (2009, an.total, pada 5 Januari 2010.
25 Juni). Liputan 6. Diakses dari Kerr, N. L. (1996). Does my contribution really
http://berita.liputan6.com/sosbud/200906/23 matter: The role of efficacy in social
4785/Angka.Kecelakaan.Lalu.Lintas.Tahun. dilemmas. European Review of Social
Ini.Meningkat, pada 5 Januari 2010. Psychology, 7, 209-240.
Baron, R.A., Byrne, D., & Branscombe, N. Kobbeltvedt, T., Brun, W., & Laberg, J.C.
(2005). Social psychology (Edisi ke-11). (2004). Measuring and modelling risk in a
Boston: Allyn & Bacon. naturalistic setting. Journal of Risk
Blaine, B & Crocker J. (1993). Self-esteem and Research, 7, 789-810.
self-serving biases in reactions to positive Komorita, S. S. & Parks, C. D. (1994). Social
and negative events: An integrative review. dilemmas. Dubuque, IA: Brown &
Dalam Baumeister, R. F. (Ed.). Self-esteem: Benchmark.
The puzzle of low self-regard (h. 55-85). Lewin, I. (1982). Driver training: A perceptual-
New York,USA: Plenum Press. motor skills approach. Ergonomics, 25, 917-
Dawes, R.M. (1980). Social dilemmas. Annual 924.
Review of Psychology, 31, 169-193. Messick, D. M. & Brewer, M. B. (1983).
Di Jakarta, setiap hari empat orang tewas akibat Solving social dilemmas: A review. Review
kecelakaan lalin (2009, 21 Desember). of Personality and Social Psychology, 4, 11-
Republika. Diakses dari 44. Beverly Hills, CA: Sage.
http://www.republika.co.id/berita/breaking- Messick, D. M., & McClintock, C. G. (1968).
news/metropolitan/09/12/21/97040-di- Motivational bases of choice in
jakarta-setiap-hari-empat-orang-tewas- experimental games. Journal of
akibat-kecelakaan-lalin, pada 5 Januari Experimental Social Psychology, 4, 1–25.
2010. Naatanen, R. & Summala, H. (1974). A model
Fuller, R. (2000). The task-capability interface for the role of motivational factors in
model of the driving process. Recherche, drivers’ decision-making. Accident Analysis
Transports, Sécurité, 66, 47-59. and Prevention, 6, 243-261.
Fuller, R., & Santos, J. A. (2002). Human Reason, J., Manstead, A, Stradling, S.G.,
factors for highway engineers. Emerald Baxter, J., & Campbell, K. (1990). Errors
Group Publishing. and violations on the roads: A real
Hardin, G. (1968, 13 Desember). The tragedy of distinction? Ergonomics, 33(10/11), 1315-
the commons. Science, 162(3859), 1243- 1332.
1248. Rothengatter, J. A. (2002). Drivers’ illusions-
Hedlund, J. (2000). Risky business: Safety no more risk. Transportation Research Part
regulations, risk compensation, and F, 5, 249-258.
individual behavior. Injury Prevention, 6, Rothengatter, T. & Huguenin, R. D. (2004).
82-90. Introduction. Dalam Rothengatter, T., &
Jakarta mengarah pada kemacetan total. (2009, Huguenin, R. D. (Eds.), Traffic and
19 Juni). Kompas.com. Diakses dari
MASALAH TRANSPORTASI 189

transport psychology (h. 3-7). Amsterdam, A. M. (1995). Car versus public


Netherlands: Elsevier. transportation? The role of social value
Schlag, B. (Ed.). (1999). Empirische orientations in a real-life social dilemma.
verkehrspsychologie [Empirical traffic Journal of Applied Social Psychology, 25,
psychology]. Lengerich, Berlin: Pabst 258-278.
Science Publishers. Wilde, G. J. S. (1982). The theory of risk
Sepanjang 2009, angka kecelakaan "busway" homeostasis: Implications for safety and
268 kasus (2009, 25 Desember). health. Risk Analysis, 2, 209-225.
Kompas.com. Diakses dari Wilde, G. J. S. (1985). The use of incentives
http://female.kompas.com/read/2009/12/25/ for the promotion of accident free
13281751/Sepanjang.2009.Angka.Kecelaka driving. Journal of Studies on Alcohol, 10,
an.Busway.268.Kasus, pada 5 Januari 2010. 161-167.
Shaw, M. E., & Costanzo, P. R. (1970). Wilde, G. J. S. (1998). Risk homeostasis theory:
Theories of social psychology. McGraw- An overview. Injury Prevention, 4, 89-91.
Hill, New York. Wilde, G. J. S., & Robertson, L. (2002). For and
Summala, H. (1997). Hierarchical model of Against: Does risk homoeostasis have
behavioural adaptation and traffic accidents. implications for road safety. British Medical
Dalam Rothengatter, J. A., & Carbonell Journal, 324, 1149-1152.
Vaya, E. (Eds.), Traffic and transport
psychology: Theory and application.
Oxford: Pergamon.
Susanto, B. (2006). Tol di tengah kota: Solusi
atau masalah baru? Dalam Verdiansyah, C.,
Politik kota dan hak warga kota. Jakarta:
Penerbit Buku Kompas.
Taylor, S. E. & Brown, J. D. (1988). Illusion
and well-being: A social psychological
perspective on mental health. Psychological
Bulletin, 103(2), 193-210.
van der Pligt, J. (1996). Risk perception and
self-protective behavior. European
Psychologist, 1(1), 34-43.
van Lange, P. A. M. & Messick, D. M. (1996).
Psychological processes underlying
cooperation in social dilemmas. Dalam
Gasparski, W., Mucki, M. & Banathy, B.
(Eds), Social agency: dilemmas and
educational praxiology (vol.4). New
Brunswick: Transaction.
van Vugt, M., Meertens, R. M. & van Lange, P.
Psikobuana ISSN 2085-4242
2010, Vol. 1, No. 3, 190–198

Pancasila Sebagai Landasan Terbentuknya


"Sane Society" Fromm

Lukman Sarosa Sriamin


Fakultas Psikologi, Universitas Bhayangkara Jakarta Raya

It is wisely advised that Indonesians need to think of sane and insanity


society while they enjoy growing development. As a developing country,
Indonesia is known to be located between two oceans and two big
continents and inevitably is an open "conflicting" area for several parties.
The parties are conflicting for ideological reasons, economical reasons,
technological reasons and other reasons which may influence a society's
behavior. Alienation and insanity might inevitably come as consequences
for Indonesia. The Indonesia development, however, is designed for so-
called "a whole Indonesian," and the development basis is the Pancasila. It
is now questioned if the Pancasila a perfect basis for prosperous healthy
society and if it is a right basis for mentally health personality
development. In order to answer these questions, the writer tried to trace
the problems in Indonesian society development and Erich Fromm's ideas
on sane society. It is found that there were complimentary themes between
Indonesians need and Fromm's ideas.

Keywords: Pancasila, sane society, existential needs, Fromm

Erich Fromm dilahirkan di Frankfurt, kondisi yang membedakan manusia dengan


Jerman, pada tahun 1900 dan mempelajari hewan. Seorang anak akan memperoleh
psikologi dan sosiologi di Universitas kebebasan dari ikatan-ikatan dengan orang
Heidelberg, Frankfurt dan Munich. Setelah tuanya dengan suatu akibat ia akan merasa
memperoleh gelar Ph.D. dari Universitas terisolir dan tidak berdaya. Menurut Fromm,
Heidelberg pada tahun 1922, ia memperdalam manusia telah mendapatkan kebebasan yang
psikoanalisis di kota Munich dan Berlin lebih besar selama ini, namun juga merasa sepi.
Psychoanalytic Institute. Banyak dari karangan- Kebebasan menjadi suatu kondisi yang negatif,
karangannya yang bersumber pada dan manusia berusaha untuk membebaskan
pengetahuannya tentang sejarah, sosiologi, seni dirinya. Manusia dapat keluar dari dilema ini
sastra, dan filsafat. dengan menyatukan dirinya dengan orang lain
Tema inti dari karangan-karangan Fromm dalam semangat cinta dan kerjasama. Atau, ia
adalah bahwa manusia merasa dirinya sepi dan dapat memperoleh rasa aman dengan tunduk
terisolir karena dia terpisah dari alam dan pada suatu otoritas dan konformitas sosial. Pada
manusia lainnya. Kondisi isolasi ini tidak dapat satu pihak, manusia dengan kebebasannya dapat
ditemukan pada spesies lain, dan merupakan mengembangkan suatu masyarakat yang lebih
190
PANCASILA SEBAGAI 191

baik, namun pada pihak lain manusia Masyarakat yang diusulkan Fromm (1955, h.
membentuk ikatan-ikatan baru. 314) tergambar dalam pernyataannya, sebagai
Jadi, ada suatu hubungan antara masyarakat berikut:
dengan perkembangan eksistensi manusia. Bagi
Fromm, manifestasi dari kebutuhan-kebutuhan A society in which man relates to man
manusia serta cara-cara ia menyadari dan lovingly, in which he is rooted in bonds of
mengaktualisasikan potensi-potensi ditentukan brotherliness and solidarity, rather than
oleh susunan dan aturan-aturan masyarakat di in the ties of blood and soil; a society
mana ia hidup. Perkembangan kepribadian which gives him the possibility of
seseorang berkembang sejalan dengan transcending nature by creating rather
kesempatan-kesempatan yang diberikan oleh than by destroying, in which everyone
kondisi masyarakat. Penyesuaian diri manusia gains a sense of self by experiences
terhadap masyarakatnya biasanya himself as the subject of his powers rather
mempresentasikan suatu kompromi antara and devotion exists without man’s needing
kebutuhan-kebutuhan diri manusia dengan to distort reality and to worship idols.
tuntutan-tuntutan luar masyarakat. Tuntutan-
tuntutan masyarakat ini kadang kala
bertentangan dengan kodrat manusia, sehingga Hubungan Manusia - Kesehatan Mental -
menyebabkan frustasi. Individu menjadi
Sane Society
terpisah dari situasi kemanusiaannya dan
merintangi pemuasan dari kebutuhan-kebutuhan
dasar eksistensinya. Menurut Fromm (1947), eksistensi manusia
Fromm menunjuk pada suatu fakta bahwa mempunyai ciri-ciri, sebagai berikut. Pertama,
bila masyarakat mengalami suatu perubahan, nalar (reason). Dibandingkan dengan hewan
misalnya dari feodalisme ke kapitalisme, maka yang menyandarkan diri pada kekuatan
perubahan-perubahan ini akan menyebabkan instingnya, maka keterbatasan biologis manusia
perubahan sosial anggota-anggotanya. Struktur dapat diatasi dengan nalarnya. Dengan nalar
karakter yang lama sudah tidak sesuai lagi manusia mempunyai kesadaran akan dirinya
dengan kondisi masyarakat yang baru. Hal ini dan mempunyai imajinasi yang merupakan
akan mengakibatkan penderitaan dan alienasi. sebab dari kualitas-kualitas kemanusiaannya.
Ia terpisah dari ikatan-ikatan tradisionalnya dan Kedua, disharmoni. Pada saat yang sama
merasa kehilangan pegangan sampai saatnya ia manusia adalah bagian tetapi juga terpisah dari
mengembangkan suatu ikatan-ikatan baru. alam. Ketiga, dikotomi yang bersifat
Selama masa transisi inilah ia mudah menjadi eksistensial dan kesejarahan. Kedua macam
korban dari berbagai ideologi, paham-paham dikotomi ini tidak terelakkan oleh manusia.
pemikiran yang menawarkan kepadanya suatu Dikotomi eksistensial berarti manusia berdiri
pelarian dari rasa sepinya. antara hidup dan mati. Dikotomi kesejarahan
Masalah hubungan masyarakat dengan mengandung arti bahwa disamping manusia
individu merupakan pokok tema yang diulang- dapat menciptakan sesuatu namun ia juga
ulang oleh Fromm dalam karya-karyanya. menjadi korban hasil ciptaannya itu.
192 SRIAMIN

Semua manusia ditandai oleh ciri-ciri yang didasarkan atas dasar suatu asumsi bahwa,
sama seperti ketiga hal tersebut diatas ini. Akan sebagaimana terdapat dalam semua masalah.
tetap dalam persamaannya, terkandung pula Ada penyelesaian yang salah dan tepat,
keunikan. Keunikan ini disebabkan karena memuaskan atau tidak memuaskan atas masalah
setiap orang mempunyai caranya masing- eksistensi manusia.
masing untuk mengaktualisasikan masalah Menurut Fromm (1955, h. 23):
eksistensinya, melalui nalarnya. Nalar
mempunyai sifat perspektif yang tidak hanya Mental health is achieved if man develops
meraih hal-hal yang praktis dan relevan, tetapi into full maturity according to the
juga “with the essential, with and the universal characteristic and laws of human nature.
(1947, h. 109)”. Perkembangan individu akan Mental illness consists in the failure of
dapat dicapai sepenuhnya bila ia mengikuti development.
“nature of life” atas dasar “human existence”
secara dinamis. Dari premis tersebut, kesehatan mental
Namun demikian, banyak individu yang bukan berarti dapatnya individu menyesuaikan
tidak dapat mencapai tingkat perkembangan diri diri terhadap tata sosial masyarakat; melainkan
dengan mempergunakan nalarnya. Ia menjadi terhadap suatu kriteria yang universal, berlaku
kurang dinamis, statis, mengalami hambatan- untuk semua orang, yang memberikan jawaban
hambatan dan kesukaran-kesukaran. Hal ini bila yang memuaskan terhadap masalah eksistensi
diasumsikan secara klinis merupakan manusia. Dalam hal ini, fungsi masyarakat
manifestasi dari ketidakmampuan individu adalah menciptakan suasana dalam mana setiap
untuk menyesuaikan diri dengan tuntutan- manusia dapat memanifestasikan eksistensinya
tuntutan masyarakatnya. Dalam hal ini, Fromm dan tidak mendiktenya. Di samping itu,
mempertanyakan asumsi yang mengatakan pengertian kesehatan mental disini bukan
bahwa manusianya lah yang tidak dapat sebagai kesehatan jiwa belaka, melainkan pula
memenuhi tuntutan masyarakatnya. mempunyai arti terhadap proses perkembangan
Apakah bukan justru masyarakatnya yang kemanusiaan. Kesehatan mental ini
tidak sehat? Pandangan “social relativism” bersumberkan pada kondisi-kondisi eksistensi
mengandung arti bahwa suatu masyarakat itu manusia, sebagaimana dinyatakan oleh Fromm:
normal (dalam arti sehat), bila masyarakat itu
berfungsi (Fromm, 1955, h. 21). Pandangan ini Mental Health is characterized by the
relatif sifatnya. Fromm mempertanyakan: ability to love and to create, by the
“Apakah bisa dikatakan masyarakat tersebut emergence from incestuous ties to clan
sehat kalau dalam masyarakat tersebut terdapat and soil, by sense of identity based on
banyak kejahatan, orang bunuh diri, one’s experience of self as the subject and
pembunuhan dan sebagainya? Apakah tidak ada agent of one’s power’s by the grasp or
suatu kriteria patologi yang universal?” reality inside and outside or ourselves,
Menurut Fromm, ada, yaitu yang disebutnya that is, by the development of objectivity
“normative humanism” (Fromm 1955, h. 22). and reason. (Fromm, 1955, h. 68)
Pendekatan “normative humanism” ini,
PANCASILA SEBAGAI 193

Dalam menetapkan eksistensinya ini, ada menentukan derajat perkembangan individu.


beberapa kebutuhan yang harus dipenuhi oleh Dari derajat perkembangan yang dicapainya ini,
manusia. Kebutuhan ini lebih merupakan dapat ditentukan apakah seseorang itu sehat
alternatif-alternatif, lebih merupakan mental ataukah tidak.
kemungkinan-kemungkinan pilihan. Kemungkinan-kemungkinan kebutuhan itu
Kemungkinan mana yang dipilih oleh sebagian adalah sebagai berikut. Pertama, “Relatedness
besar individu, akan menentukan corak atau narcissism”. Keterikatan seseorang dengan
masyarakat dimana ia bertempat tinggal. Corak dunia lingkungannya melalui cinta yang
masyarakat yang terbentuk ini, sebaliknya, akan produktif akan membentuk kondisi dimana
mempengaruhi tingkat perkembangan individu seseorang dapat memiliki kebebasan dan
yang bersangkutan. integritas, dan juga sekaligus bersatu dengan
Tingkat perkembangan individu tersebut manusia lainnya. Sedangkan, “narcissism”
oleh Fromm dibagi menjadi tiga macam. merupakan bentuk “insanity”, karena manusia
Pertama, “sane”, yaitu suatu tingkat tidak dapat mengalami realitas sebagaimana
perkembangan dimana individu dapat adanya, melainkan sebagaimana dibentuk dan
memenuhi kebutuhan-kebutuhan eksistensinya ditentukan oleh alam pikirannya sendiri.
secara optimal karena kondisi masyarakat Individu itu tidak bereaksi atas dasar realitas,
memungkinkan. Kedua, “defect”, yaitu tingkat tetapi atas dasar pikiran dan perasaannya
perkembangan yang dicapai oleh individu tidak sendiri.
optimal, yang dialami oleh sebagian besar Kedua, “Transcendence: creativeness atau
anggota masyarakat karena kondisi masyarakat destructiveness”. Kemampuan manusia untuk
yang tidak memungkinkan. Ketiga, “neurosa”, mentransendensikan dirinya dari alam dan
yaitu individu sama sekali tidak berkembang lingkungannya dapat berakibat adanya
secara optimal dalam memenuhi kebutuhan- kreativitas, kemampuan mencipta atau
kebutuhan eksistensinya. Hal ini disebabkan penghancuran hidup itu sendiri. Ketiga,
karena kondisi-kondisi masyarakat yang ada “Rootedness: brotherliness atau incest”.
bertentangan dengan “human nature” anggota Manusia dapat memilih, apakah ia akan
masyarakatnya (Fromm, 1947, h. 57; Fromm, mengakarkan dirinya kepada persaudaraan antar
1955, h. 23-28). manusia pada umumnya; ataukah hanya kepada
lingkungan kecilnya saja, yaitu keluarga, suku,
Kemungkinan-Kemungkinan Bagi bangsa dan Negara secara ekstrim. Bila yang
Terbentuknya Sane Society terakhir yang dipilih, maka manusia tidak dapat
menghayati dirinya sendiri maupun orang lain
Untuk menentukan eksistensinya, manusia dalam realitas kemanusiaannya.
harus memenuhi kebutuhannya. Pada tiap Keempat, “Sense of identity: individuality
kebutuhan, seperti yang dikatakan oleh Fromm, atau herd conformity”. Identitas sebagai “aku”
ada kemungkinan (alternatif). Ada dua macam merupakan persyaratan untuk membentuk
cara untuk merealisasikannya. Cara mana yang konsep tentang diri (self), karena manusia tidak
akan dipilih, akan menentukan corak dan hanya sekedar harus hidup, tetapi memang
kondisi masyarakat, dan selanjutnya akan hidup. Identitas yang mendasarkan diri pada
194 SRIAMIN

keanggotaan suatu kelompok hanyalah bahwa dengan adanya kesadaran akan dirinya,
merupakan identifikasi status dan bukan imajinasi dan nalar, manusia sadar bahwa ia
identifikasi individual dalam arti kata yang harus mendapatkan eksistensinya sebagai
sebenarnya. manusia. Dalam usaha untuk menetapkan
Kelima, “Frame of orientation and eksistensinya ini terdapat beberapa kebutuhan
devotion: reason atau irrationality”. Kerangka yang harus dipenuhi; kebutuhan-kebutuhan
orientasi dan pengabdian ini diperlukan tersebut adalah “relatedness, transcendence,
manusia untuk mengarahkan dirinya kepada rootedness, sense of identity, frame of
dunia secara intelektual, emosional dan orientation and devotion.”
“sensual” (sensing). Elemen-elemen ini Eksistensi manusia Indonesia yang merdeka
diekspresikan dalam hubungannya dengan suatu tidak didasarkan atas pandangan-pandangan
objek, kepada siapa atau apa manusia itu yang sudah ada di dunia ini. Eksistensi manusia
mengabdikan dirinya, sehingga akan memberi Indonesia ditegakkan atas dasar kebutuhan
makna tertentu pada eksistensi manusia. kodrat manusiawinya, yang dapat ia penuhi dari
Kerangka orientasi dan pengabdian ini dapat situasi kondisi Indonesia itu sendiri. Seperti
dimisalkan sebagai sistem-sistem agama di yang sebagaimana dikatakan Bung Karno,
dunia, aliran-aliran filsafat, dan sebagainya. “Kami tidak mungkin meminjam falsafah hidup
Masalahnya adalah apakah kerangka ini orang lain” (Adams, 1966, h. 300).
diterima secara rasional berdasarkan Panggilan tradisi Indonesia yang menukik
kemampuan nalar manusia atau hanya diterima jauh sampai ke dasarnya telah mengeluarkan
secara irasional saja. lima butir mutiara yang indah, Pancasila.
Diharapkan bahwa Pancasila dapat menjadi
Pancasila dan Sane Society jiwa manusia Indonesia, menjadi falsafah hidup
manusia Indonesia, dalam mengembangkan
Manusia selalu dihadapkan pada ketakutan eksistensinya untuk mencapai kebutuhan-
akan keterpisahan, ketidakberdayaan dan kebutuhannya. Hingga saat ini ternyata harapan
kesendirian. Oleh karena itu, manusia berusaha tersebut dapat dipenuhi, yaitu dengan adanya
menemukan bentuk keterikatan baru yang Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat
menghubungkan dirinya dengan alam, sehingga yang merupakan badan perwakilan manusia
ia mendapatkan rasa aman. Bentuk keterikatan Indonesia:
yang baru ini harus diciptakannya sendiri,
seperti yang dikatakan oleh Fromm (1955, h. Sesungguhnya sejarah telah
31), “by making the world a human one by mengungkapkan bahwa Pancasila adalah
becoming truly human himself.” jiwa seluruh rakyat Indonesia, yang
Kemanunggalan manusia dengan alam memberi kekuatan hidup kepada bangsa
semesta ini, tidak hanya berdasarkan Indonesia, serta membimbingnya dalam
terpenuhinya kebutuhan-kebutuhan untuk mengejar kehidupan lahir batin yang
instingnya saja, tetapi yang penting adalah makin baik, di dalam masyarakat
adanya jawaban atas eksistensinya sebagai Indonesia yang adil dan makmur.
manusia. Sesuai dengan pendapat Fromm, (Abdulgani, 1976)
PANCASILA SEBAGAI 195

Dalam alam kemerdekaan itulah manusia Hal ini mengandung asumsi bahwa manusia
Indonesia akan dapat memanifestasikan Indonesia pertama-tama adalah seorang
kebutuhannya serta akan dapat pula menyadari manusia, sama seperti manusia yang lain di
dan mengaktualisasikan potensi-potensinya. muka bumi ini. Ia tidak dapat dipisah-pisahkan
Dengan adanya Pancasila ini, masyarakat tidak dari keberadaannya di antara manusia lain. Ia
mengalami perubahan karakter sosial anggota- menjunjung nilai-nilai kemanusiaan, tidak
anggotanya. Manusia Indonesia juga tidak membedakan seperti yang disebut dalam
terpisah dari ikatan-ikatan tradisionalnya karena kutipan diatas. Ia tidak terpaku hanya pada
Pancasila itu sendiri berasal dari tradisi manusia kebangsaannya saja atau pada keluarganya saja,
Indonesia. pada kelompoknya, pada warna kulitnya atau
Pada sila yang pertama, yaitu sila pada manusia yang sejenis kelamin dengannya.
Ketuhanan Yang Maha Esa, tiap manusia Manusia menuju pada pengembangan dari
Indonesia mempunyai kebebasan untuk nalarnya dan cinta, dengan membuat suatu
menjalankan ibadatnya, untuk menyembah dunia yang berdasarkan solidaritas kemanusiaan
Tuhannya dengan cara yang leluasa. dan keadilan. Dengan ditimbulkannya perasaan
Ketuhanannya adalah Ketuhanan yang bersaudara terhadap semua manusia, maka akan
berkebudayaan, Ketuhanan yang berbudi tercapai dunia yang manusiawi.
pekerti yang luhur, Ketuhanan yang Hal tersebut sesuai seperti yang dikatakan
menghormati satu sama lain. Kebutuhan akan Fromm (1955, h. 60):
“Frame or orientation and devotion” terpenuhi
dengan adanya sila ini dalam Pancasila, The person who has not freed himself
sehingga manusia Indonesia dapat mengarahkan from the ties to blood an soil is not yet
dirinya kepada dunia secara intelektual, fully born as a human being; his capacity
emosional, dan sensual. Dengan melalui hal ini for love and reason are crippled; he does
pula, dapat dipenuhi kebutuhan manusia untuk not experience himself nor his fellow man
manunggal dengan alam. in their and his own-human reality.
Sila selanjutnya, Kemanusiaan yang Adil
dan Beradab, berarti bahwa: Implikasi dari sila kedua dan pernyataan
Fromm tersebut di atas adalah bahwa hanya
Manusia diakui dan diperlakukan sesuai dengan membangun suatu dunia yang
dengan harkat dan martabatnya sebagai didasarkan atas solidaritas umat manusia dan
makhluk Tuhan Yang Maha Esa, yang keadilan, hanya atas pengarahan pada rasa
sama derajatnya, yang sama hak dan persaudaraan yang universal, maka manusia
kewajiban-kewajiban asasinya, tanpa dapat mengubah dunia ini menjadi dunia yang
membeda-bedakan suku, keturunan, mempunyai makna manusiawi. Dalam hal ini,
agama dan kepercayaan, jenis kelamin, kebutuhan “rootedness” terpenuhi.
kedudukan sosial, warna kulit dan Kebutuhan manusia akan “sense of identity”
sebagainya. (Departemen Penerangan RI, merupakan kebutuhan bagi setiap orang agar
1978, h. 14). dia bisa merasakan dan menghayati ke-“aku”-
annya. Kebutuhan manusia Indonesia untuk
196 SRIAMIN

menunjukkan statusnya, identifikasinya sebagai mengenai pembahasan permasalahan yang


manusia Indonesia, sebagai bangsa Indonesia, sedemikian rupa sehingga diperoleh pengertian
tercakup dalam sila Persatuan Indonesia. Inilah yang mendasar terhadap masalah yang
“nationale staat” Indonesia seluruhnya yang dibicarakan. Akan lebih mudah dicapai kata
telah berdiri di jaman Sriwijaya dan Majapahit mufakat apabila cara pemecahan masalah lebih
(7, hal. 47-48). Akan tetapi rasa kebangsaan berdasarkan kepada kecintaan, kesadaran dan
tidaklah dimaksudkan untuk menjadikan bangsa kepentingan terhadap bangsa. Dengan
Indonesia sebagai bangsa yang tertinggi dan demikian, manusia Indonesia dapat memenuhi
berada diatas segala bangsa di muka bumi. kebutuhannya untuk mentransendensikan
Fromm (1955, h. 63) mengatakan, “Nation, dirinya, sehingga dapat timbul adanya
religion, class and occupation serve to furnish a kreativitas serta kemampuan untuk mencipta
sense of identity.“ Ini merupakan identitas dengan penuh kesadaran.
dalam arti luas. Bangsa Indonesia hidup, Selanjutnya, kebutuhan yang lain yang
berada, di antara bangsa lain berdasarkan terdapat pada manusia adalah kebutuhan
persaudaraan. Atas dasar identitas manusia “relatedness”. Menurut Fromm, kebutuhan ini
Indonesia yang khas, ia dapat mengembangkan timbul karena manusia merasakan
sikap saling mencintai sesama manusia. keterpisahannya dengan alam, kesendirian dan
Kebutuhan yang lain, yaitu kebutuhan ketidakberdayaannya. Cara yang seharusnya
“transcendence” dengan adanya imajinasi dan ditempuh manusia adalah cinta, sehingga dapat
kemampuan berpikir pada manusia, ia mencapai kemanunggalannya dengan alam.
mempunyai dorongan untuk berusaha “Productive love always implies a syndrome of
melampaui peranannya sebagai makhluk yang attitudes; that of care, responsibility, respect
diciptakan. Manusia ingin menetapkan and knowledge“ (Fromm, 1955, h. 38). Dengan
eksistensinya dengan menjadikan dirinya cinta, manusia melibatkan dirinya dalam dirinya
sebagai pencipta. Fromm (1955, h. 41) seseorang, dan juga memenuhi kebutuhan-
mengatakan: kebutuhan yang ada pada diri orang tersebut.
Manusia dapat melihat sesuatu diluar dirinya
Man can creates life. This is miraculous secara objektif, melihat sebagaimana adanya,
quality which he indeed shares with all tanpa kehilangan identitas dirinya, akan tetapi
living beings, but with the difference that utuh sebagai manusia.
he alone is aware of being created and of Kebutuhan seperti itu tercakup pula dalam
being a creator. sila Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat
Indonesia. Dalam sila itu disebutkan mengenai
Dalam mencipta terkandung pengertian kesejahteraan bagi manusianya, bagi rakyatnya,
akan adanya aktivitas, suatu tanggungjawab dan bukan hanya Badan Perwakilan Rakyat, akan
pemeliharaan. Pengertian ini ada pada cinta; tetapi juga kesejahteraan sosial, sandang pangan
cinta sebagai suatu aspek yang produktif. Pada rakyatnya. Keadilan sosial berarti adanya
sila keempat, sila Kerakyatan yang Dipimpin pemerataan hak, rasa kekeluargaan, sehingga
oleh Hikmat/Kebijaksanaan dalam dapat dihindarinya kehendak untuk memperalat
Permusyawaratan/Perwakilan, dibicarakan orang lain untuk kepentingannya sendiri.
PANCASILA SEBAGAI 197

Manusia Indonesia menyadari hak serta adalah hanya sebagian saja dari seluruh umat
kewajibannya. Hak miliknya tidak manusia lainnya di bumi ini. Ini sejalan dengan
dipergunakan untuk usaha-usaha pemerasan pemikiran Fromm yang berpijak pada
terhadap orang lain. Juga dapat dipupuk adanya pandangan bahwa ‘rootedness’ yang benar
sikap kerja keras dan sikap menghargai hasil adalah yang berdasarkan persaudaraan.
kerja orang lain yang bermanfaat untuk Sila Persatuan Indonesia berarti bahwa
mencapai kemajuan dan kesejahteraan bersama. manusia Indonesia tidak dapat dilepaskan dari
Tanah Air yang melingkunginya, yang
Diskusi memberikannya ciri khas dan membedakannya
dari bangsa-bangsa lain di dunia. Ini berarti
Berdasarkan seluruh analisis yang bahwa identitas Indonesia tidak mengikuti suatu
dikemukakan di atas, maka diajukan proposisi cara hidup yang sama atau meniru bangsa lain.
bahwa dalam Pancasila tercakup pula Berarti pula, identitas ini merupakan
pengertian dan tujuan manusia Indonesia untuk individualitas, bukan identitas yang didasarkan
mencapai suatu kepribadian yang sehat mental. atas “herd conformity” sebagaimana dikatakan
Dari sudut kesehatan mental, Pancasila dapat Fromm.
dijadikan landasan selanjutnya bagi Sila Kerakyatan yang Dipimpin oleh
terbentuknya suatu masyarakat yang sehat Hikmat Kebijaksanaan dalam
(“sane society”) bagi masyarakat Indonesia. Permusyawaratan/Perwakilan berarti bahwa
Pancasila sebagai dasar Negara berisikan siapa pun yang menjadi pimpinan hendaknya
faktor-faktor landasan di atas mana Negara menyadari kreativitasnya, sebagai rakyatnya.
Republik Indonesia didirikan. Pancasila juga Atau dengan perkataan lain, kemampuan
merupakan suatu ungkapan dari cara hidup “transcendence”-nya bukan menghancurkan,
suatu bangsa. Kebutuhan-kebutuhan tetapi untuk mengembangkan kreativitas dan
eksistensial manusia yang diajukan oleh mengaktualisasikan potensi-potensi yang ada
Fromm, merupakan kemungkinan-kemungkinan dalam diri seseorang, seperti yang dikatakan
dengan mana suatu kondisi masyarakat Fromm.
terbentuk. Kondisi masyarakat yang terbentuk Akhirnya, sila Keadilan Sosial Bagi Seluruh
akan menentukan corak kehidupan individu- Rakyat Indonesia memiliki arti bahwa dalam
individunya. mengejar suatu kebutuhan hendaknya setiap
Sila Ketuhanan Yang Maha Esa merupakan orang ingat akan adanya orang lain yang
gambaran dari manusia Indonesia yang ber- memiliki kebutuhan yang sama dengan dirinya.
Tuhan; Tuhan kepada siapa manusia itu Hal ini berarti bahwa meskipun kemampuan
terutama mengabdi dan mengarahkan hidupnya dan hasil yang dicapai berbeda-beda, namun
di dunia ini. Sila ini dapat ditinjau dari seseorang harus merasa terikat dengan orang
kebutuhan akan kerangka orientasi dan lain. Kurang sepantasnyalah jika hanya
pengabdian yang diajukan Fromm. Kebutuhan memikirkan dirinya sendiri, seperti yang
ini, menurut Fromm, diperlukan untuk memberi diuraikan Fromm.
makna dan kedudukan pada eksistensi manusia.
Sila Kemanusiaan yang Adil dan Beradab
melambangkan bahwa manusia Indonesia
198 SRIAMIN

Kesimpulan
Dapat disimpulkan bahwa bila kebutuhan
(yang benar) yang memungkinkan tercapainya
suatu “sane society” yang dipilih, maka warga-
warga yang hidup dalam masyarakat itu dapat
mencapai perkembangan kemanusiaannya
secara optimal. Warga tersebut mempunyai
mental yang sehat.
Konsep “sane society” dari Fromm dapat
diproyeksikan ke Pancasila. Dapat ditarik
adanya suatu analogi dari sila-sila Pancasila
dengan kebutuhan-kebutuhan (dan
kemungkinan yang benar) yang seharusnya
diambil oleh manusia untuk menerapkan
eksistensinya di dunia ini. Sungguh
berbahagialah bangsa Indonesia mempunyai
Pancasila. Sayang sekali, Fromm tidak
dilahirkan sebagai orang Indonesia.

Bibliografi
Abdulgani, R. (1976). Pengembangan Pancasila
di Indonesia. Jakarta: Yayasan Idayu.
Adams, C. (1966). Bung Karno: Penyambung
lidah rakyat Indonesia. Jakarta: Gunung
Agung.
Departemen Penerangan RI. (1978). Pedoman
penghayatan dan pengamalan Pancasila
(Ekaprasetia pancakarsa) dan GBHN.
Fromm, E. (1947). Man for himself: An Inquiry
into the psychology of ethics. Connecticut:
Fawcett Premier Books.
Fromm, E. (1955). The sane society. New York:
Holt, Rinehart & Winston.
Psikobuana ISSN 2085-4242
2010, Vol. 1, No. 3, 199–209

Studi Komparatif Tentang Motivasi Berprestasi


Pada Atlet Kempo Propinsi DKI Jakarta
Ditinjau Dari Kepribadian

Bonar Hutapea
Fakultas Psikologi, Universitas Persada Indonesia YAI

Indonesian athletes get reasonably the same guidance and training.


Unfortunately they show different level of achievement, regarding
particularly the frequency and quality of their achievement. It is argued
that achievement motivation level differences and personality type are
influential enough for the achievement differences. The purpose of this
research is to find the achievement motivation differences between the
introvert Kempo athletes and the extrovert ones in the DKI Jakarta
Province. The sampling technique was simple random sampling, The
valid and reliable achievement motivation scale and Eysenck Personality
Inventory (EPI) were given to 120 participants. Independent sample t-test
statistical technique showed that there were no significantly achievement
motivation differences among the athletes, based on their personality type
(t = 1.201; p > .05).

Keywords: achievement motivation, personality, athletes, kempo

Pembinaan olahraga dan pelatihan motivasi memiliki peran yang penting dalam
peningkatan kemampuan secara fisik, kognisi, mempengaruhi prestasi atlet. Gill (1986)
maupun emosi diberikan kepada tiap atlet menyatakan bahwa motivasi untuk berprestasi
dalam rangka mencapai prestasi. Penyediaan (achievement motivation) adalah orientasi
sarana, fasilitas, hingga faktor pelatih yang individu untuk tetap berusaha memperoleh hasil
berkualitas menjadi perhatian utama. Para atlet terbaik semaksimal mungkin dengan dasar
dalam bidang olahraga yang sama diberikan kemampuan untuk tetap bertahan sekalipun
program latihan yang sama dan diberikan gagal, dan tetap berupaya menyelesaikan tugas
perlakuan yang sama, menggunakan fasilitas sebaik-baiknya karena merasa bangga untuk
berlatih secara bersama, dan terkadang dilatih mampu menyelesaikan tugas dengan baik.
oleh pelatih yang sama. Namun, pada hasil Maka, perbedaan prestasi atlet didasari oleh
akhir atau prestasi yang dihasilkan pada tiap diri adanya perbedaan motivasi berprestasi pada tiap
atlet berbeda. Seorang atlet dapat diri individu.
memenangkan pertandingan berkali-kali, Dalam teori hirarki kebutuhan Maslow
sedangkan lainnya tidak. dinyatakan bahwa individu akan menampilkan
Menurut Smith (dalam Satiadarma, 2000), suatu perilaku karena adanya kebutuhan akan
199
200 HUTAPEA

suatu hal tertentu. Kebutuhan tersebut akan didefinisikan dengan teliti dan jelas.
menimbulkan dorongan, kehendak, dan niat Sebagaimana individu pada umumnya,
untuk melakukan suatu perbuatan. (Gunarsa, masing-masing atlet juga merupakan gambaran
2004). Selanjutnya, Satiadarma (2000) dari salah satu tipe-tipe kepribadian. Setiap tipe
menyatakan bahwa kebutuhan individu bersifat kepribadian memiliki cara yang khas dalam
spesifik pada individu yang bersangkutan dan berespon terhadap kebutuhan dan situasi yang
pada saat yang spesifik pula. Hal ini disebabkan dihadapi yang mempengaruhi motivasi atlet
manusia adalah makhluk yang kompleks, yang untuk berprestasi. Menurut Satiadarma (2000)
berespon secara berbeda dan unik terhadap atlet adalah individu yang memiliki keunikan
kebutuhan dan situasi yang dihadapi. Menurut tersendiri. Atlet memiliki bakat tersendiri, pola
Eysenck (Suryabrata, 2003, h. 291), struktur perilaku dan kepribadian tersendiri serta latar
kepribadian tersusun atas tindakan-tindakan, belakang kehidupan yang mempengaruhi secara
disposisi-disposisi yang terorganisasi dalam spesifik pada dirinya.
susunan hirarkis berdasarkan atas keumuman Anshel (1990) mengemukakan beberapa
dan kepentingan, dan kepentingan ini hambatan perolehan data standar baku untuk
bersumber dari kebutuhan. Demikian pula menentukan aspek kepribadian yang menjamin
bahwa kebutuhan individu dipengaruhi oleh sukses seorang atlet besar. Kemungkinan
faktor kepribadian. tersebut disebabkan oleh berbagai faktor,
Dengan adanya kepribadian yang berbeda seperti adanya perbedaan spesifikasi bidang
dalam bereaksi terhadap kebutuhan yang olahraga yang berkaitan erat dengan perbedaan
dihadapi, maka terdapat suatu studi mengenai spesifikasi kepribadian atlet yang menggeluti
klasifikasi tingkah laku dalam teori kepribadian bidang olahraga tersebut. Untuk itu, diperlukan
yang berusaha membedakan kepribadian yang adanya penelitian yang lebih spesifik terhadap
satu dengan yang lain melalui tipologi cabang olahraga yang dikaji. Dalam penelitian
kepribadian. Menurut Eysenck (Suryabrata, ini, subyek yang akan diteliti adalah atlet
2003), dalam kepribadian, tipe adalah olahraga cabang Kempo di Provinsi DKI
organisasi di dalam individu yang lebih umum, Jakarta. Atlet Kempo adalah atlet cabang bela
lebih mencakup luas. Perhatian pokok Eysenck diri (martial art) yang semula berasal dari India
tertuju kepada dimensi-dimensi dasar atau tipe- yang kemudian berkembang pesat di daratan
tipe kepribadian, yang bertujuan menemukan Cina, dan kini berpusat di Jepang. Di Indonesia
dimensi-dimensi primer kepribadian, yang akan sendiri Kempo berkembang pada tahun 1966
memungkinkan penyusunan tipologi yang dengan terbentuknya PERKEMI (Persaudaraan
cukup baik dan tahan uji. Lebih lanjut Eysenck Bela Diri Kempo Indonesia), dan sejak tahun
menemukan dua faktor dasar kepribadian, yaitu 1976 pada PON IX di Jakarta, Kempo termasuk
“neuroticism” dan “introversion-extroversion”. salah satu cabang olahraga yang
Sebagai hasil akhir penyelidikan, Eysenck dipertandingkan.
membuat pencandraan mengenai introvert dan Olahraga Kempo memiliki nama asli
ekstravert. Penggolongan tipe kepribadian Shorinji Kempo dan atlet Kempo disebut
menjadi extrovert dan introvert dipandang Kenshi. Olahraga Kempo memiliki ciri bertahan
sederhana tapi merupakan dimensi pokok yang yang dipengaruhi oleh dasar falsafah untuk
STUDI KOMPARATIF 201

tidak menyakiti terlebih dahulu. Berdasarkan pemahaman mendalam terhadap faktor


doktrin ini, mempengaruhi pula susunan kepribadian menjadi sesuatu yang menarik dan
beladiri Kempo, sehingga gerakan teknik selalu penting terutama bagi para pelatih dan atlit.
dimulai dengan mengelak atau menangkis Kremer dan Scully (Satiadarma, 2000)
serangan dahulu, baru kemudian membalas. mengemukakan bahwa motivasi mengacu pada
Selanjutnya disesuaikan menurut kebutuhan, adanya kebutuhan individu yang dilandasi oleh
yakni menurut keadaan serangan lawan kepribadian individu yang bersangkutan.
(“Falsafah Shorinji”, 2006). Sedangkan menurut Anshel et. al. (Satiadarma,
Hal ini disebabkan kempo merupakan 2000) bahwa salah satu sumber motivasi adalah
olahraga yang sedang berkembang pembinaan orientasi pelaku (trait centered/ participant
dan pelatihannya, meskipun olahraga tersebut centered orientation). Orientasi ini
sudah ada sejak lama. Olahraga Kempo di DKI mengemukakan bahwa sumber motivasi terletak
Jakarta sejak tahun 1977 telah mengirim pada diri individu yang bersangkutan. Jadi,
binaannya dalam Kejuaraan Nasional Atlet motivasi merupakan bentuk kecenderungan
Kempo maupun dalam Pekan Olahraga pribadi. Segi kepribadian yang difokuskan
Nasional (PON), dan selalu menjadi juara dalam penelitian ini adalah tipe extrovert dan
umum. Namun beberapa tahun terakhir provinsi introvert. Dengan demikian permasalahan
DKI Jakarta menghadapi kesulitan untuk keluar dalam penelitian dapat dirumuskan dengan
menjadi juara umum dalam kejuaraan nasional, pertanyaan, “Apakah ada perbedaan motivasi
dan hanya beberapa atlet yang meraih prestasi berprestasi antara individu tipe kepribadian
dan menjadi juara pertama pada kejuaraan introvert dengan individu tipe kepribadian
tersebut (“Sejarah Shorinji”, 2006). extrovert pada atlet Kempo Provinsi DKI
Berdasarkan wawancara yang dilakukan Jakarta?”
terhadap pelatih atlet Kempo di Dojo Rawasari,
bahwa prestasi yang maksimal sulit diraih Motivasi Berprestasi
disebabkan sulitnya menyatukan serta
menyeragamkan visi tiap individu dalam
berkempo. Kendala utama disebabkan oleh diri Woodwoth (2001) mendefinisikan motif
tiap individu yang bervariasi dimana pelatih sebagai “…a state or set of the individual which
menghadapi kepribadian yang berbeda baik dari disposes him for certain behaviour and seeking
segi temperamen dimana atlet mudah certain goal.” Dari pendapat Woodwoth ini
terpancing secara emosional, ada pula atlet yang dapat dipahami bahwa motif menentukan
enggan berlatih, atau bahkan yang sangat ingin perilaku. Dengan memahami esensi dari motif,
mendisiplinkan diri sehingga cenderung maka dapat lebih mudah memahami definisi
memaksakan diri atau ingin menonjolkan diri. motivasi secara lebih mendalam.
Hal ini membuat pelatih menyadari pentingnya Menurut Gunarsa (2004), motivasi
pembinaan psikologis pada diri atlet, khususnya merupakan suatu kekuatan atau tenaga
dalam upaya meningkatkan motivasi berprestasi pendorong untuk melakukan sesuatu hal atau
atlet. menampilkan sesuatu perilaku tertentu.
Peningkatan motivasi berprestasi melalui Perumusan singkat dalam kaitan dengan
olahraga, diberikan oleh G. H. Sage (dalam
202 HUTAPEA

Gunarsa, 2004) sebagai berikut: “motivation individu berinteraksi dengan lingkungan


can be defined simply as the direction and sosialnya. Motivasi untuk berprestasi adalah
intensity of one’s effort”.Yang dimaksudkan motivasi untuk berhasil mencapai sukses yang
dengan arah usaha dalam hal ini adalah situasi meliputi: (1) standar mengungguli tugas, yaitu
yang menarik dan membangkitkan minat berusaha mengerjakan tugas sesuai dengan
individu sehingga ada upaya individu untuk kesempurnaan tugas, (2) standar keunggulan
mendekatinya, sedangkan intensitas adalah diri, yaitu berusaha mencapai prestasi melebihi
besarnya upaya individu untuk dapat mendekati yang sudah dicapai sebelumnya, dan (3) standar
situasi atau kondisi yang diminati. individu lain, yaitu berupaya mencapai prestasi
Senada dengan pendapat tersebut, Alderman melebihi prestasi individu lain. Dalam konteks
(dalam Satiadarma, 2000) mendefinisikan olahraga, motivasi berprestasi menjadi faktor
motivasi sebagai suatu kecenderungan untuk penentu (determinan) yang amat penting dan
berperilaku secara selektif ke suatu arah menentukan agar mendapat hasil terbaik,
tertentu, dan perilaku tersebut akan bertahan berprestasi lebih baik daripada sebelumnya,
sampai sasaran perilaku dapat dicapai. Sifat sanggup bersaing dan unggul, mampu
selektif dari perilaku berarti individu yang mengatasi rintangan serta memelihara semangat
berperilaku membuat suatu keputusan untuk tinggi.
memilih tindakannya. Arah tertentu dari McClelland (dalam Munandar, 2001)
perilaku artinya tindakan yang dilakukan menemukan bahwa individu dengan dorongan
memiliki suatu tujuan sesuai dengan keinginan. prestasi yang tinggi berbeda dari individu lain
Adapun yang dimaksud dengan konsekuensi dalam keinginan kuat untuk melakukan hal-hal
adalah suatu kondisi negatif yang diperoleh dengan lebih baik. Individu dengan motivasi
individu jika tidak melakukan perilaku tersebut. berprestasi yang tinggi mencari kesempatan-
Gill (1986) mendefinisikan motivasi untuk kesempatan dimana individu tersebut memiliki
berprestasi (achievement motivation) sebagai tanggung jawab pribadi dalam menemukan
orientasi individu untuk tetap berusaha jawaban-jawaban terhadap masalah-masalah.
memperoleh hasil terbaik semaksimal mungkin Individu tersebut lebih menyukai pekerjaan-
dengan dasar kemampuan untuk tetap bertahan pekerjaan dimana terdapat tanggung jawab
sekalipun gagal, dan tetap berupaya untuk pribadi, akan memperoleh balikan, dan tugas
menyelesaikan tugas sebaik-baiknya karena pekerjaan memiliki resiko yang sedang
merasa bangga untuk mampu menyelesaikan (moderate). Individu yang memiliki kebutuhan
tugas dengan baik. Hampir senada denga itu, berprestasi yang tinggi bukan pemain judi
motivasi berprestasi menurut Gunarsa (2004) (gambler), tidak suka berhasil secara kebetulan.
adalah sesuatu dorongan yang harus ada dan Tujuan-tujuan yang ditetapkan merupakan
penting sekali untuk mencapai keberhasilan. tujuan yang tidak terlalu sulit dicapai dan juga
Lebih lanjut McClelland (1967) menyatakan bukan tujuan yang terlalu mudah dicapai.
bahwa motivasi berprestasi adalah suatu usaha Tujuan yang harus dicapai merupakan tujuan
mencapai sukses yang bertujuan untuk berhasil dengan derajat kesulitan menengah (moderate).
dalam kompetisi, dalam suatu ukuran Lebih lanjut McClelland menyatakan
keunggulan dan motivasi itu muncul ketika karakteristik individu dengan motivasi
STUDI KOMPARATIF 203

berprestasi yang tinggi menurut McClelland adalah organisasi di dalam individu yang lebih
sebagai berikut: (1) Keinginan menjadi yang umum, lebih mencakup lagi. Intinya, tipe
terbaik; (2) Menyukai pekerjaan dengan merupakan kategori kepribadian berdasarkan
tanggung jawab pribadi; (3) Membutuhkan karakteristik yang sama berdasarkan sifat-sifat
umpan balik setelah melakukan suatu khusus tertentu.
pekerjaan; (4) Resiko pemilihan tugas moderat; Rorschach (dalam Chaplin, 2002)
(5) Kreatif-inovatif dalam melakukan suatu mendefinisikan introversiveness
tugas atau pekerjaan. (introversivitas) sebagai kepribadian seseorang
yang menampilkan suatu fungsi imajinatif yang
Tipe Kepribadian Extrovert dan Introvert berkembang dengan baik, dan mengurangi
reaktivitasnya terhadap dunia luar. Individu
introversif mereaksi lebih banyak dengan sistem
Kepribadian menurut Allport (dalam syaraf otak dan otonomis daripada dengan
Suryabrata, 2003) organisasi dinamis dalam sistem otot atau urat berjalur.
individu sebagai sistem psikofisis yang Jung (dalam Suryabrata, 2003) menguraikan
menentukan caranya yang khas dalam individu dengan tipe kepribadian introvert
menyesuaikan diri terhadap lingkungan. Dalam terutama dipengaruhi oleh dunia subyektif,
maksud meramalkan, pengertian kepribadian yaitu dunia di dalam diri sendiri. Orientasi
yang diajukan Cattel (dalam Suryabrata, 2003) terutama tertuju ke dalam: pikiran, perasaan,
yakni: “…..that which permits a prediction of serta tindakan-tindakan terutama ditentukan
what a person will do in a given situation.” oleh faktor-faktor subyektif. Penyesuaian
Artinya, kepribadian adalah sesuatu yang dengan dunia luar kurang baik; jiwa tertutup,
memungkinkan suatu prediksi terhadap apa sukar bergaul, sukar berhubungan dengan
yang akan manusia lakukan dalam situasi individu lain, kurang dapat menarik hati
tertentu. Dalam konteks psikologi olahraga, individu lain. Penyesuaian dengan batin sendiri
kepribadian dimaksudkan untuk meramalkan baik. Bahaya tipe introvert ini ialah bila jarak
perilaku-perilaku terkait olahraga. Dalam hal ini dengan dunia obyektif terlalu jauh, sehingga
motivasi berprestasi. individu lepas dari dunia obyektifnya.
Chaplin (2002, h. 522) mengemukakan Eysenck (dalam Suryabrata, 2003)
definsi tipe (type) sebagai berikut: (1) Satu menjelaskan tipe kepribadian introvert dicirikan
pengelompokan individu yang bisa dibedakan sifat-sifat tenang, konsisten, terkontrol, berpikir
dari individu lain karena memiliki satu sifat sebelum bertindak, pasif, moody, cemas, rigid,
khusus; (2) Individu yang memiliki semua atau sober, pesimis, reserved, unstable, dan
paling banyak ciri-ciri khas dari suatu pendiam. Sedangkan seorang ekstravert sifatnya
kelompok; (3) Satu pola karakteristik yang sosial, lebih banyak berbuat daripada
berperan sebagai satu pembimbing untuk berkontemplasi (merenung, berpikir), dan
menempatkan individu dalam kategori; (4) seseorang dengan motif-motif yang
Ekstrimitas dari rangkaian kesatuan, atau dari dikondisionir oleh karakteristik ekstraversi.
distribusi, seperti yang ditunjukkan dalam tipe Jung (dalam Chaplin, 2002) menguraikan
agresif, atau tipe sosial. Sedangkan menurut bahwa ekstraversi-introversi sebagai satu
Eysenck (dalam Suryabrata, 2003) tipe (type)
204 HUTAPEA

dimensi kepribadian bipolar, di mana orang (motivasi berprestasi). Dalam kaitannya dengan
dibagi dalam tipe-tipe tertentu. Ektraversi hal ini Atkinson dan McClelland (dalam
ditandai dengan pengarahan keluar, dan pribadi Satiadarma, 2000) mengajukan teori motivasi
pada ujung ekstrim yang satu; sedang introversi yang didasari oleh pemenuhan kebutuhan (need
mengarah ke dalam, dan ada pada ujung ekstrim achievement theory) di mana salah satu
lainnya. Individu yang ekstravert terutama komponennya adalah kepribadian individu.
dipengaruhi oleh dunia obyektif, yaitu dunia di Menurut Satiadarma (2000) atlet adalah
luar diri. Orientasi terutama tertuju keluar; individu yang memiliki keunikan tersendiri.
pikiran, perasaan, serta tindakan terutama Atlet memiliki bakat tersendiri, pola perilaku
ditentukan oleh lingkungan, baik lingkungan dan kepribadian tersendiri serta latar belakang
sosial maupun lingkungan non-sosial. Individu kehidupan yang mempengaruhi secara spesifik
extrovert bersikap positif terhadap masyarakat; pada dirinya. Dengan keunikan yang dimiliki
hati terbuka, mudah bergaul, hubungan dengan masing-masing atlet, maka untuk
individu lain lancar. Lebih lanjut, menurut mengklasifikasikan tiap kepribadian ditetapkan
Eysenck (dalam Ermida, 2001) individu dengan istilah tipe kepribadian. Kepribadian menurut
kepribadian ekstravert digambarkan memiliki Eysenck (dalam Suryabrata, 2003) tersusun atas
ciri-ciri memimpin, berani menerima tantangan, tindakan-tindakan, disposisi-disposisi yang
responsif, agresif, menyukai kesenangan, minat terorganisasi dalam susunan hirarkis, dan yang
sosial tinggi, optimis, aktif, dan menyukai menjadi sorotan utama adalah tipe (type).
perubahan. Perbedaan sifat yang terkandung dalam
tipe kepribadian extrovert dan introvert
Motivasi dan Kepribadian Atlet sebagaimana dijelaskan dari perspektif Eysenck
di atas mengarah kepada perbedaan motivasi.
Atlet dengan tipe extrovert yang ditandai
Motivasi yang mengacu pada adanya dengan ciri-ciri memimpin, berani menerima
kebutuhan individu dilandasi oleh kebutuhan tantangan, responsif, agresif, menyukai
individu yang bersangkutan (Kremer & Scully, kesenangan, minat sosial tinggi, optimis, aktif,
dalam Satiadarma, 2000). Karenanya, motivasi dan menyukai perubahan tampaknya lebih
tidak bisa digeneralisasikan bagi semua termotivasi untuk berprestasi dibandingkan
individu melainkan harus ditinjau secara khusus dengan tipe introvert yang ditandai dengan ciri
dari satu individu ke individu lain. Tinjauan sifat-sifat tenang, konsisten, terkontrol, berpikir
kepribadian secara khusus ini disebut sifat, yang sebelum bertindak, pasif, moody, cemas, rigid,
kemudian peranannya untuk membuat sober, pesimis, reserved, unstable, dan
identifikasi dimensi-dimensi dasar atau tipe-tipe pendiam.
kepribadian. Berdasarkan uraian di atas, maka layak
Lebih lanjut, Cox (dalam Satiadarma, diduga bahwa ada keterkaitan antara motivasi
2000) mengemukakan bahwa beberapa studi berprestasi dengan tipe kepribadian. Individu
kepribadian, salah satu karakteristik yang dengan tipe kepribadian extrovert diduga lebih
menentukan kesuksesan atlet adalah tingginya termotivasi untuk berprestasi.
kebutuhan untuk berprestasi. Kebutuhan ini
dikenal sebagai Achievement Motivation
STUDI KOMPARATIF 205

Metode Sebagai hasil dari sampling tersebut,


berdasarkan Nomogram Harry King maka 117
individu yang akan dijadikan sampel penelitian
Penelitian ini bersifat non eksperimental dan dan dibulatkan menjadi 120 individu. Hal ini
merupakan penelitian kuantitatif dengan lebih aman dilakukan dalam penelitian daripada
pendekatan eksplanatif yang mencoba kurang dari 117 sampel (Sugiyono, 2003) sebab
menjelaskan mengapa dan bagaimana hubungan jumlah sampel sebesar 117 adalah jumlah
antar dua aspek situasi atau fenomena (Kumar, minimum yang dipersyaratkan sebagai
1996). representasi populasi.

Partisipan Instrumen

Populasi dalam penelitian ini adalah Instrumen yang digunakan dalam


atlet Kempo Provinsi DKI Jakarta. Sedangkan pengumpulan data adalah skala psikologi yang
yang menjadi sampel dalam penelitian ini diisi oleh subjek penelitian. Skala yang
adalah mereka yang telah menjadi atlet digunakan merupakan skala data interval berupa
sekurang-kurangnya 6 bulan. Pertimbangan ini skala model Likert untuk mengetahui tingkat
dibuat dengan anggapan bahwa atlet tersebut motivasi berprestasi atlet Kempo Provinsi DKI
sudah mendapatkan pembinaan dan latihan Jakarta. Sedangkan untuk mengetahui individu
yang relatif cukup dan sama dengan atlet bertipe kepribadian introvert atau extrovert,
lainnya. Demikian pula dengan fasilitas, sarana, digunakan skala yang bersifat nominal dimana
dan pelatih relatif sama atau sekurang- kategorisasi dilakukan berdasarkan dua dimensi
kurangnya mengalami dilatih dengan orang yang berbeda, bukan dimensi yang sama.
yang berbeda-beda dalam kurun waktu yang Tujuannya agar menempatkan responden pada
tidak terlampau singkat. kategorisasi tertentu (tidak berjenjang)
Sampel atlet yang akan diambil tidak berdasarkan konsep teoritik yang diperoleh.
dibatasi pada jenis kelamin tertentu dengan Skala motivasi berprestasi ini berasal dari
pertimbangan bahwa motivasi berprestasi tak teori McClelland (1967) yang terdiri dari lima
hanya didominasi pria saja sebagaimana karakteristik yaitu keinginan menjadi yang
seringkali diyakini banyak pihak sebagai salah terbaik, menyukai pekerjaan-pekerjaan dengan
satu karakteristik stereotip peran jenis kelamin. tanggung jawab pribadi, membutuhkan umpan
Kriteria utama yang harus dipenuhi adalah usia balik setelah melakukan suatu pekerjaan, resiko
yakni 16 tahun ke atas. Hal ini didasari pemilihan tugas moderat, dan kreatif-inovatif
pertimbangan bahwa instrumen yang dipakai dalam melakukan suatu pekerjaan. Dalam skala
untuk mengukur kepribadian mensyaratkan motivasi berprestasi pada atlet Kempo ini
demikian. Adapun jumlah atlet yang sesuai terdapat 20 pernyataan yang mendukung objek
dengan kriteria sampel ini adalah 202 orang. sikap (favorable) dan 20 pernyataan yang tidak
Pengambilan sampel dilakukan dengan mendukung objek sikap (unfavorable). Jadi
teknik Simple Random Sampling. Teknik ini jumlah keseluruhan dari masing-masing
dipilih dengan mengasumsikan bahwa populasi pernyataan dalam skala motivasi berprestasi
relatif homogen atau tidak cukup bervariasi.
206 HUTAPEA

pada atlet Kempo sebanyak 40 item. Urutan Subjek dalam mengerjakan tes ini diminta
pernyataan (item) diacak. Karena alat ukur ini langsung menjawab setelah membaca
berupa skala Likert maka terdapat lima pilihan pernyataan dalam skala sesuai dengan keadaan
respon yang masing-masing mewakili skor. cara diri subjek. Pemberian skor adalah 1 untuk
pemberian nilai yang digunakan dalam jawaban “Ya” pada pernyataan yang berkode aE
kelompok pernyataan yang mendukung (affirmative extraversion), aN (affirmative
(favorable) dengan kelompok pernyataan yang neuroticism), aL (affirmative lie), dan
tidak mendukung (unfavorable). Respon-respon pemberian nilai 1 untuk jawaban “Tidak” pada
untuk skor-skor tersebut adalah: skor 5 untuk pernyataan yang berkode nE (neglected
respon Sangat Sesuai, skor 4 untuk respon affirmative extraversion), nN (neglected
Sesuai, skor 3 untuk respon Netral, skor 2 untuk affirmative neuroticism), nL (neglected
respon Tidak Sesuai, dan skor 1 untuk respon affirmative lie). Nilai diberikan pada kolom L,
Sangat Tidak Sesuai. Semua skor ini berlaku E, N yang sesuai dengan huruf belakang dari
untuk kelompok pernyataan mendukung pengkodean pernyataan. Pengklasifikasian tipe
(favorable) dan sebaliknya bagi kelompok kepribadian berdasarkan atas nilai norma yaitu
pernyataan tak mendukung (unfavorable). 14 untuk dimensi E dan N. Nilai rata-rata untuk
Eysenck Personality Inventory (EPI) untuk Extraversion adalah 13-15. Jika skor E subjek
mengkategorikan tipe kepribadian responden 14 ke atas maka subjek tersebut memiliki
ke dalam tipe ekstravert atau introvert. kecenderungan extrovert, dan jika skor E subjek
penilaian kategori nominal didasarkan pada berada pada 12 ke bawah maka subjek memiliki
skor mean responden. Alat tes EPI merupakan kecenderungan introvert. Pada dimensi N juga
inventori dari H.J. Eysenck yang menguraikan berlaku hal yang sama, jika skor subjek 14 ke
tipe-tipe kepribadian ke dalam tipe stable atas maka subjek memiliki kecenderungan
introvert, stable extrovert, unstable introvert neurotik (lebih ke arah unstable pada dimensi
dan unstable extrovert, dalam skala EPI ini N) dan jika skor 14 ke bawah maka subjek
terdapat 23 item yang mengindikasikan posisi cenderung stabil (lebih ke arah stable dalam
subjek dalam dimensi stable – unstable, 24 item dimensi N). Untuk penilaian kejujuran jika
yang mengindikasikan subjek ke dalam dimensi subjek pada dimensi L memiliki skor di bawah
extrovert dan introvert, dan 9 item untuk 3 berarti subjek tergolong jujur dan jika skor L
mengetahui kejujuran subjek dalam menjawab. di atas 5 maka subjek tersebut tidak menjawab
Cara penilaian EPI berpedoman pada kriteria dengan jujur. Skala Eysenck Personality
jawaban Eysenck Personality Inventory yang Inventory (EPI) ini dapat dikenakan untuk
diterbitkan oleh “Urusan Reproduksi dan subjek berusia 16 tahun ke atas.
Distribusi Alat-Alat Tes Psikologi” (URDAT)
Fakultas Psikologi Universitas Indonesia. Analisis
Jawaban subjek dalam skala EPI ini dibatasi
dalam jawaban “Ya” dan “Tidak” dengan Peneliti menggunakan piranti lunak SPSS
memberikan tanda silang (X) di kolom “Ya” versi 12.0 for Windows untuk mengolah data
apabila jawaban subjek adalah ya dan di kolom dalam penelitian ini. Berikut adalah teknik
“Tidak” apabila jawaban subjek adalah tidak. pengolahan yang digunakan peneliti: (1)
STUDI KOMPARATIF 207

Statistik deskriptif untuk mendapatkan mean, antar faktor, tidak ada faktor yang digugurkan
skor maksimum responden, skor minimum karena dianggap merupakan bagian tak
responden, dan standard deviation; (2) Uji terpisahkan dari keseluruhan faktor dalam skala
perbedaan dilakukan dengan independent yang sama. Uji reliabilitas dilakukan dengan
sample t-test, karena t-test dalam hal ini menggunakan teknik Cronbach Alpha Dari uji
digunakan untuk menguji dua kategori yang reliabilitas yang dilakukan terhadap skala
berdiri sendiri (independent). Dalam penelitian motivasi berprestasi didapat hasil sebesar 0,87
ini dua kategori yang berdiri sendiri yaitu tipe dan tergolong dalam kategori reliabel menurut
kepribadian introvert dan tipe kepribadian kaidah reliabilitas Guilford dan Fruchter.
extrovert. Penelitian dilakukan di Sekretariat
PERKEMI Propinsi DKI Jakarta yang berlokasi
Hasil di Gelanggang Olahraga Rawamangun.
Penelitian dilakukan dengan cara memberikan
dua buah skala kepada atlet Kempo dan kepada
Peneliti mengujicobakan (try out) instrumen pihak pelatih Kempo yang kemudian disebar
berupa skala motivasi berprestasi pada 30 kepada atlet Kempo, yaitu skala motivasi
partisipan pada Februari 2010 dengan teknik berprestasi yang terdiri dari 30 item dan
incidental sampling. Sedangkan untuk skala Eysenck Personality Inventory (EPI) Form A
tipe kepribadian tidak diadakan uji coba karena yang terdiri dari 56 item untuk mengukur tipe
skala Tipe Kepribadian dari Eysenck (EPI) kepribadian. Berdasarkan analisis tipe
telah terstandardisasi dan merupakan skala kepribadian menggunakan skala EPI, diperoleh
baku. Uji validitas skala motivasi berprestasi hasil sebanyak 62 atlet (51,67%) bertipe
menggunakan teknik korelasi Product Moment kepribadian introvert, 51 atlet (42,5%) bertipe
Pearson. Kualitas item dilihat dari corrected kepribadian extrovert dan 7 atlet (5,83%) netral
item-total correlation. Apabila lebih besar dari dengan skor E = 13. Analisis data terhadap
0,3 maka dianggap sebagai item yang baik perbedaan motivasi berprestasi antara atlet
(valid). Dari 40 item diperoleh hasil 30 item Kempo tipe kepribadian introvert dengan atlet
yang memenuhi kriteria baik, di mana semua Kempo tipe kepribadian extrovert di Provinsi
indikator terwakili dengan jumlah relatif sama. DKI Jakarta menggunakan t-test diperoleh nilai
Uji korelasi antar faktor dilakukan menguji t sebesar 1,201 dan p sebesar 0,232 (p > 0,05).
kesahihan antar faktor dalam setiap skala Jadi, tidak ada perbedaan motivasi berprestasi
dengan konstraknya untuk mengetahui jika antara atlet Kempo tipe kepribadian introvert
faktor dalam skala yang dibuat sudah mampu dengan atlet Kempo tipe kepribadian extrovert
mengungkap konstrak yang telah didefinisikan di Provinsi DKI Jakarta.
dan juga untuk melihat jika ada faktor yang
tumpang tindih (overlapping) dengan faktor lain
Diskusi dan Kesimpulan
yang ada dalam skala tersebut. semua faktor
mempunyai hubungan yang signifikan, yang
berarti faktor-faktor yang dikemukakan di Hasil penelitian ini menunjukkan tidak
dalam skala tersebut saling memiliki terdapat perbedaan motivasi berprestasi ditinjau
keterkaitan. Berdasarkan hasil analisa korelasi dari tipe kepribadian. Berbeda dari dugaan
208 HUTAPEA

semula bahwa dengan melihat perbedaan ciri- pengurus maupun pelatih yang berusaha
ciri dan sifat-sifat dalam tipe extrovert dan menyeragamkan pikiran dan visi tiap individu
introvert diduga akan terdapat pula perbedaan dalam berlatih maupun bertanding. Sehingga
dalam motivasi berprestasi. Atlet perbedaan individu tidak terlalu ditonjolkan
berkepribadian extrovert dengan berani dalam cabang olahraga ini, meskipun tidak
menerima tantangan, responsif, agresif, memungkiri adanya perbedaan karakteristik
menyukai kesenangan, minat sosial tinggi, antara individu satu dengan yang lain. Hal ini
optimis, aktif, dan menyukai perubahan sesuai dengan yang diungkapkan oleh Weinberg
diyakini lebih terdorong meraih prestasi lebih dan Gould (dalam Satiadarma, 2000) bahwa
tinggi dan lebih intens. Khusus bagi olahraga menurut teori Orientasi Interaksional
Kempo yang menuntut ketangguhan mental dan (Interactional Orientation), motivasi tidak
fisik sebagai suatu macam olahraga bela diri hanya dikaji berlandaskan pada individu yang
(martial art). terkait (atlet yang bersangkutan), juga tidak
Tidak signifikannya perbedaan ini mungkin hanya dilandasi oleh faktor situasional,
terjadi karena terdapat variabel lain yang melainkan bagaimana interaksi kedua aspek ini
menjadi mencampuri (intervening) karena tidak berlangsung. Berdasarkan paradigma tersebut,
dikontrol oleh peneliti. Variabel yang dikontrol ada sejumlah faktor yang perlu
hanyalah lamanya menjadi atlet dan keanggotan dipertimbangkan dalam meningkatkan motivasi
resmi. Padahal variabel lain seperti jenis atlet. Dalam pribadi atlet misalnya terdapat
kelamin kemungkinan berperan. Beberapa ahli aspek kebutuhan, minat, sasaran, dan
misalnya Lips dan Colwill (1978) menyatakan kepribadian atlet itu sendiri yang kesemuanya
bahwa dalam berbagai aspek psikologis terdapat perlu mendapat perhatian. Dalam faktor
perbedaan antara pria dan wanita. Pria situasional, gaya kepemimpinan, fasilitas, dan
ditemukan lebih termotivasi meraih prestasi hasil yang pernah diperoleh memiliki peran
khususnya untuk olahraga kompetitif dan signifikan sebagai pembangkit motivasi atlet.
mengandalkan kekuatan fisik. Untuk olahraga Berbagai faktor yang ada ini harus saling
sejenis bela diri sejauh ini pria jauh lebih mendukung untuk bisa membangkitkan
mendominasi dalam jumlah maupun partisipasi motivasi atlet untuk berprestasi. Namun
dalam kejuaraan dan pertandingan. Hal ini juga disamping itu juga perlu diperhatikan bahwa
kemungkinan terkait dengan peran jenis atlet yang menjadi subyek pembinaan berada
kelamin (gender role). Rasa berkompetisi dalam suatu situasi yang tertentu pula.
tampaknya masih tetap bagian dari tipikal Berdasarkan pernyataan di atas bahwa
jender maskulin dan diasosiasikan dengan jenis orientasi interaksional merupakan suatu
kelamin laki-laki. interaksi antara faktor pribadi dengan faktor
Hal lain yang juga dianggap berperan dalam situasional yang tidak dapat dipisahkan dalam
mencampuri mengapa keterkaitan antara rangka meningkatkan motivasi berprestasi atlet.
kepribadian dengan motivasi berprestasi kurang Tiap aspek dalam faktor pribadi atlet maupun
signifikan adalah karena perbedaan tipikal aspek yang berasal dari faktor situasional
kepribadian, sengaja atau tidak, telah mempengaruhi motivasi berprestasi pada atlet.
dinetralisir oleh pola pelatihan dari pihak
STUDI KOMPARATIF 209

Bibliografi

Anshel, M. H. (1990). Sport psychology: From


theory to practice. Arizona: Gorsuch
Scarisbrick Publishers
Chaplin, J. P. (2002). Kamus lengkap psikologi.
Jakarta: PT RajaGrafindo Persada.
Ermida. (2001). Sikap terhadap pembelian
produk secara online (e-commerce) ditinjau
dari tipe kepribadian ekstravert–introvert.
INSAN, Media Psikologi, 3(3).
Falsafah Shorinji Kempo. (2006).
PERKEMI.or.id. Diakses dari
http://www.perkemi.or.id/index.php?get=Ar
ticle&view=135, pada 5 Januari 2010.
Gill, D. L. (1986) Psychological dynamics of
sport, Illinois: Human Kinetic Publishers,
Inc
Gunarsa, S. D. (2004). Psikologi olahraga
prestasi. Jakarta: Gunung Mulia.
Lips, H. M. & Colwill, N. L. (1978) The
psychology of sex differences. New Jersey:
Prentice Hall, Inc.
Munandar, A. S. (2001). Psikologi industri dan
organisasi. Jakarta: Penerbit Universitas
Indonesia (UI Press).
Satiadarma, M. P. (2000). Dasar-dasar
psikologi olahraga. Jakarta: Pustaka Sinar
Harapan.
Sejarah Shorinji Kempo. (2006).
PERKEMI.or.id. Diakses dari
http://www.perkemi.or.id/index.php?get=Ar
ticle&view=135, pada 5 Januari 2010.
Suryabrata, S. (2003). Psikologi kepribadian.
Jakarta: PT RajaGrafindo Persada.
Woodwoth. (2001). Encyclopaedia of
Psychology 1 (In 4 Volume). Delhi: Sports
Publication.
Psikobuana ISSN 2085-4242
2010, Vol. 1, No. 3, 210–218

Gambaran Faktor-faktor Pembentuk Efikasi Diri


Dalam Membuat dan Menerbitkan Komik Bergaya
Jepang Pada Komikus yang
Sudah Menerbitkan Karyanya

Rendy Wirawan dan Eunike Sri Tyas Suci


Fakultas Psikologi, Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya

The Japanese style comics began its popularity in Indonesia in 1991. The
Indonesians are attracted to the translated Japanese comics and Japanese
style drawing. This phenomenon is visible according to the increasing
numbers of schools and books which offer courses on Japanese style
comics' creation. In order to join in a comic competition, a comic artist has
to deliver great effort and motivation. Effort and motivation are important
part in self-efficacy. This research is a qualitative description study and
the data were gathered through depth-interview which was delivered to
five experienced comic artist whose comics have been published. The
research results showed that personal and others' experiences are the most
influential factor for self-efficacy. Most comic artists perceived that their
starting point and or deeper self-efficacy were from others' success.
Other's failure (as models), however, also shape the artists' self-efficacy.
Unfortunately, the artists get less social persuasion as another factor of
self-efficacy. Temporarily though, the artists' self-efficacy also shaped by
physical and psychological situations. Further considerations are advisable
for diverse artists and delivery of this research findings to young comic
artist to improve their self-efficacy efficiently.

Keywords: self-efficacy, comic artists, comics, Japanese style comics

Mulai tahun 1991, komik Jepang menawarkan pendidikan dalam membuat komik
terjemahan masuk dan akhirnya mendominasi bergaya Jepang.
pasar komik Indonesia. Banyak penerbit komik Terlepas dari gayanya, komikus Indonesia
ternama memilih untuk memberikan proporsi sebenarnya memiliki kompetensi yang baik.
yang besar kepada komik-komik ini (Kulsum, Selalu ada komik yang bagus dan menarik
2007; "Mendidik anak", 2003). Selain komik muncul dalam sayembara setiap tahunnya
Jepang terjemahan, gaya menggambar komik ("Mendidik anak", 2003). Hal ini juga terlihat
Jepang juga mulai menarik perhatian kaum dari beberapa komik yang berhasil
muda Indonesia. Hal ini ditunjukkan dari memenangkan lomba internasional (Lesmana,
meningkatnya jumlah buku dan lembaga yang 2008; Marsiela, 2007) atau yang berhasil
210
GAMBARAN FAKTOR 211

menembus pasar internasional (Komunikasi ini penting diketahui agar menjadi model bagi
personal dengan ilustrator sebuah penerbit di komikus muda yang belum mempunyai
Bandung, 1 Juni 2009; Wibowo, 2007). pengalaman dalam penerbitan.
Walaupun demikian, menerbitkan komik di
Indonesia bukanlah hal yang mudah. Pasar Komik dan Proses Psikologis
komik Indonesia masih melihat komik
Indonesia “seperempat mata” (Komunikasi
personal dengan editor sebuah penerbit di Komik merupakan semua gambar atau
Jakarta, 11 Juni 2009) sehingga penerbit juga lambang yang diatur dengan urutan tertentu dan
membatasi penerbitan komik lokal mereka. menimbulkan kesan kesinambungan dengan
Cara menerbitkan secara mandiri pun dirasa tujuan tertentu (McCloud, 2001). Menurut
sulit bagi komikus yang memiliki keterbatasan McCloud (2001), komik lebih banyak berada
dana dan kemampuan mendistribusikan. pada dunia makna/ide/gagasan daripada dunia
Untuk menghadapi situasi ini, para komikus realita. Komik sendiri tidak dapat “berjalan”
dituntut untuk memiliki kemauan berusaha tanpa adanya proses internal (proses psikologis)
lebih dan kemampuan untuk menghadapi dari pembacanya. McCloud (2008) juga
kegagalan. Sayangnya, beberapa forum yang menambahkan bahwa komik Jepang memiliki
ditemukan menunjukkan bahwa hal tersebut beberapa kekhasan yaitu penggambaran wajah
kurang terlihat pada “calon komikus”. Mereka yang ikonik (penggambaran yang lebih dekat
lebih memilih untuk tidak menggambar atau dengan dunia ide daripada dunia kenyataan atau
menerbitkan komik lagi. realita), perancangan karakter yang matang,
Ketiga hal tersebut dapat ditingkatkan transisi antar panel yang unik, penggambaran
melalui peningkatan efikasi diri (self-efficacy), latar belakang yang realistik, rincian dunia
yaitu keyakinan bahwa seseorang mampu nyata yang detil, kematangan genre (jenis
menyelesaikan sebuah tugas atau aktivitas cerita), penggunaan garis gerak subjektif, serta
dengan sukses untuk mendapatkan hasil yang penggunaan ekspresionisme untuk
diinginkan (Bandura, 1977). Peningkatan ini memunculkan efek emosi.
dirasa penting karena komik dapat digunakan Membuat komik merupakan proses yang
dalam berbagai pembelajaran lainnya. Dengan memuat perencanaan isi dan tampilan komik,
memahami gambaran keempat faktor serta pembuatan komik itu sendiri secara teknis
pembentuk efikasi diri diharapkan komikus (pemetaan berdasarkan Haraguchi, 2003;
lokal dapat meningkat efikasi dirinya dalam McCloud, 2001; McCloud, 2008; The Society
membuat dan menerbitkan karyanya. for The Study of Manga Techniques, 2000a; The
Menyadari pentingnya efikasi diri pada Society for The Study of Manga Techniques
komikus Indonesia dalam menerbitkan hasil 2000b). Perencanaan isi memuat perencanaan
karyanya, peneliti tertarik untuk melihat plot, penokohan, dan setting dari komik
bagaimanakah gambaran faktor-faktor tersebut. Perencanaan tampilan komik memuat
pembentuk efikasi diri dalam membuat dan pemilihan momen (adegan), bingkai (sudut
menerbitkan komik bergaya Jepang pada para pandang; pengambilan momen), citra (gaya
komikus yang sudah menerbitkan karyanya. Hal menggambar), kata (tulisan), dan alur
(bagaimana mata “dipaksa” untuk mengikuti
212 WIRAWAN DAN SUCI

semua elemen lainnya). Proses pembuatan yang akan dilakukan, besar usaha yang akan
komik secara teknis memuat pembuatan name diberikan dalam kegiatan tersebut, besar usaha
(“rencana komik”), pembuatan sketsa, yang akan diberikan untuk menghadapi
penintaan, dan pewarnaan. kegagalan atau hambatan, serta besar
Berdasarkan formatnya, komik dalam kemampuan untuk bertahan ketika mengalami
penelitian ini akan dibagi ke dalam dua kegagalan dan hambatan (didukung juga oleh
kategori, yaitu komik tunggal (komik yang penelitian oleh Schunk, 1989, dalam Pintrich &
dikerjakan sendiri oleh seorang komikus) dan Schunk, 1996).
komik kompilasi (komik yang memuat Bandura (1977; 1989) menyatakan bahwa
beberapa hasil kerja lebih dari satu komikus). ada empat faktor pembentuk efikasi diri, yaitu
Berdasarkan cara menerbitkan, penerbitan pengalaman sendiri (enactive experience),
komik dalam penelitian ini akan dibagi menjadi pengalaman orang lain (vicarious experience),
menggunakan penerbitan (percetakan dan persuasi sosial (social persuasion), dan keadaan
pendistribusian dilakukan oleh penerbit) dan fisik dan/atau psikis (physical and emotional
penerbitan mandiri (percetakan dan state). Secara umum, keberhasilan yang dialami
pendistribusian dilakukan oleh dua pihak yang diri sendiri dan/atau dialami model, serta
berlainan atau oleh komikus itu sendiri). Setiap adanya persuasi verbal akan meningkatkan
cara memiliki prosedur, serta kelebihan dan efikasi diri sedangkan keadaan fisik/psikis akan
keuntungan masing-masing. meningkatkan efikasi diri ketika keadaan ini
ada pada tingkat sedang (tidak terlalu tinggi
Efikasi Diri maupun terlalu rendah).

Metode
Terkait dengan efikasi diri pada komikus
dalam menerbitkan hasil karyanya, efikasi diri
itu sendiri merupakan bagian dari kemampuan Penelitian ini termasuk dalam penelitian
manusia untuk mengevaluasi dirinya sendiri kualitatif deskriptif, yaitu penelitian yang
(self-reflectiveness) dan memiliki peran yang menggunakan data kualitatif berupa narasi dan
sentral dalam “agen perubahan” yang dimiliki bertujuan untuk memberikan gambaran.
manusia (Bandura, 1982; Bandura, 1986; Penelitian ini juga termasuk dalam jenis non-
keduanya dalam Bandura, 1989). Efikasi diri eksperimental.
adalah keyakinan seseorang bahwa ia mampu Perlu diketahui, penelitian ini meneliti
melakukan suatu perilaku dengan sukses untuk faktor-faktor pembentuk efikasi diri, dan bukan
mencapai hasil yang diinginkan (Bandura, efikasi diri itu sendiri. Secara teoritis, faktor-
1977) atau penilaian atas kemampuan seseorang faktor pembentuk efikasi diri dalam terdiri dari
dalam mengontrol dirinya sendiri dan empat hal, yaitu pengalaman sendiri,
lingkungannya (Bandura, 2001). pengalaman orang lain, persuasi sosial, dan
Efikasi diri memiliki beberapa kontribusi keadaan fisik/psikis seseorang yang berkaitan
dalam kehidupan seseorang. Bandura (1977; dengan keyakinan seseorang mengenai
1989) berpendapat bahwa efikasi diri akan kemampuannya dalam melakukan sebuah atau
mempengaruhi pemilihan perilaku atau aktivitas seperangkat perilaku. Dalam membuat dan
GAMBARAN FAKTOR 213

menerbitkan komik, faktor pembentuk efikasi (Flick, 2002), peneliti merasa metode analisis
diri tersebut berkaitan dengan keyakinan yang bertujuan untuk membentuk kategori
seorang komikus bahwa ia mampu membuat (tema) lebih sesuai dengan tujuan penelitian
dan menerbitkan komiknya. daripada metode yang bertujuan membangun
Faktor pengalaman sendiri merujuk kepada struktur baru sebuah kasus dengan menjabarkan
kegagalan atau keberhasilan yang dialami oleh dan menginterpretasikan data. Dengan
komikus yang mempengaruhi keyakinan demikian, peneliti memilih untuk menggunakan
komikus akan kemampuannya. Faktor analisis tema (thematic analysis), yaitu suatu
pengalaman orang lain merupakan kegagalan metode dalam menemukan dan menganalisis
atau keberhasilan yang dialami oleh model yang pola (tema) dari data yang ditemukan (Braun &
menurut komikus memiliki pengaruh terhadap Clarke, 2006).
keyakinan akan kemampuannya. Faktor
persuasi sosial berisi sugesti yang diberikan Hasil dan Diskusi
oleh orang lain kepada komikus, baik sugesti
yang memperkuat maupun yang memperlemah
keyakinan komikus terhadap kemampuannya. Peneliti melakukan wawancara terhadap
Faktor yang terakhir, faktor keadaan fisik/ lima komikus, yaitu (bukan nama sebenarnya)
psikis adalah keadaan fisik atau psikis pada Miss, Spawn, Captain, Miracle, dan Mari. Data
suatu waktu yang mempengaruhi keyakinan dan jenis komik yang dibuat oleh kelima
komikus akan kemampuannya. komikus ini dapat dilihat pada Tabel 1 dan
Subjek penelitian ini adalah lima orang Tabel 2.
komikus yang sudah pernah menerbitkan Berdasarkan wawancara mendalam, peneliti
komiknya setidak-tidaknya satu kali dan menemukan bahwa pada awalnya semua
mengaku menggunakan gaya membuat komik komikus bergerak dari faktor yang sama, yaitu
Jepang. Kelima komikus ini dikelompokkan pengalaman pribadi. Mereka mengatakan
berdasarkan jenis komik dan cara penerbitan bahwa sejak kecil mereka sudah memiliki
yang mereka pakai. Hal ini berbeda dengan kecenderungan untuk menggambar yang berarti
perencanaan awal yang ingin mengkategorikan sejak awal mereka sudah sering menggambar.
komikus berdasarkan jenis komik dan cara Hal ini diperkuat dengan komik yang mereka
penerbitan secara terpisah karena ternyata baca. Keberadaan komik-komik ini
beberapa komikus yang menjadi subjek menumbuhkan rasa keyakinan bahwa mereka
penelitian membuat lebih dari satu jenis komik dapat menggambar dengan “citra” yang sama
baik berdasarkan format maupun cara dan membuat komik secara keseluruhan.
menerbitkan. Selain komik, ada juga yang terpengaruh
Untuk menggali pengalaman komikus, oleh keberadaan keluarga mereka. Misalnya,
peneliti memilih untuk mewawancarai para keyakinan Miss dan Miracle juga bertambah
komikus secara mendalam berdasarkan panduan karena mereka memiliki kakak yang sudah
wawancara yang sudah disusun berdasarkan membuat komik sebelum mereka.
keempat faktor pembentuk efikasi diri. Dari dua Pada proses pembuatan komik, faktor yang
strategi dasar dalam melakukan analisa tulisan terlihat mendominasi semua komikus adalah
pengalaman pribadi mereka masing-masing.
214 WIRAWAN DAN SUCI

Tabel 1.
Latar Belakang Subjek
Jenis kelamin Wanita Pria Wanita Wanita Wanita
Usia 24 24 26 24 29
Status Belum Belum Belum Menikah Belum
pernikahan menikah menikah menikah menikah
Pendidikan D2 Sekretaris S1 Desain S1 Teknik SMA D1 Komputer
Komunikasi Informatika Akuntansi
Visual D2 Digital
Studio
Pekerjaan saat Guru Creative Guru Guru Guru
ini menggambar designer pada menggambar menggambar menggambar
graphic design dan designer
agency

Tabel 2.
Jenis Komik dan Penerbitan
Jenis penerbitan
Melalui penerbit Mandiri
Jenis komik Komik tunggal Miss Spawn
Miracle
Mari
Komik kompilasi Miracle Miss
Mari Captain

Misalnya, Captain dan Spawn yang berhasil tingkat tinggi dan membuat komik dengan tema
memenangkan lomba membuat komik dan yang lain.
memilih untuk mengembangkan atau Faktor pengalaman orang lain yang sangat
mengeksplorasi gaya mereka sendiri daripada terlihat menonjol terlihat pada Miss. Walaupun
meniru atau mencontek gaya orang lain. Contoh kegagalan yang ia alami sempat membuatnya
lainnya adalah Mari yang memperbaiki gaya tidak yakin akan mampu membuat komik,
menggambarnya atas kegagalan yang ia terima keberadaan teman-temannya, apalagi adik
sebelumnya. Kemudian, Miss dan Miracle juga kelasnya, yang sudah berhasil menerbitkan
secara spesifik merasa tidak mampu membuatnya kembali yakin bahwa ia dapat
menggunakan name berdasarkan pengalaman menerbitkan komiknya (yang pada akhirnya
mereka sebelumnya. berujung pada keyakinan bahwa ia dapat
Faktor pengalaman orang lain Mari juga membuat komik; akan dibahas lebih lanjut pada
mendapatkan beberapa keyakinan akan bagian berkaitan dengan penerbitan komik).
kemampuannya dari komikus lainnya, seperti Dalam pemilihan format, kebanyakan
kemampuan untuk ikut mendapat pujian editor. komikus memilih berdasarkan pengalaman
Efikasi diri Captain dan Miracle juga pribadi mereka. Walaupun demikian, pemilihan
dipengaruhi oleh pengalaman orang lain, yaitu format ini tidak didasarkan pada kegagalan
dalam membuat komik dengan keterampilan pada format lainnya. Keyakinan mereka
GAMBARAN FAKTOR 215

semakin bertambah seiring dengan keberhasilan mereka. Keberhasilan mereka dalam


mereka dalam membuat (dan menerbitkan menerbitkan komik pertama kali tentu memiliki
dengan sukses) komik-komik mereka. dampak yang besar terhadap keyakinan mereka.
Persuasi sosial tidak banyak didapatkan oleh Hal ini terutama berpengaruh kepada komikus
para komikus. Hanya Miss dan Miracle yang yang sudah mengalami kegagalan besar
merasa mendapat persuasi verbal dalam hal sebelumnya seperti Miss dan Mari. Kegagalan
membuat komik. Miss mendapatkan persuasi sebelumnya tentu berpengaruh pada persepsi
verbal dari teman-temannya ketika ia berusaha akan “menerbitkan” itu sendiri. Sesuai dengan
kembali membuat dan menerbitkan komik, teori Bandura, penyelesaian tugas yang
sedangkan Miracle mendapatkan persuasi dianggap sulit akan lebih meningkatkan efikasi
verbal yang sejenis dari kakaknya. Berbeda dari diri daripada penyelesaian tugas yang tidak
Miss, Miracle juga mendapat dukungan verbal dianggap sulit.
dari suaminya mengenai pemilihan tema yang Setelah ditelaah, dukungan orangtua dengan
ia buat. bentuk “membiarkan” maupun “tidak
Walaupun tidak terlihat menonjol, keadaan memperbolehkan” (tidak setuju) tidak terlalu
fisik/psikis juga mempengaruhi keyakinan para banyak mempengaruhi keyakinan para komikus
komikus dalam membuat komik. Keadaan ini secara umum terhadap kemampuan mereka
sifatnya sementara, sehingga tidak dalam membuat dan menerbitkan komik.
mempengaruhi efikasi diri pada situasi lainnya. Adapun pengaruh yang muncul sepertinya
Bagaimana akhirnya para komikus merasa bersifat tidak bertahan lama. Miss, Captain, dan
yakin dengan pilihan mereka dalam Mari, misalnya, tetap secara sembunyi-
menerbitkan komik didapat dari faktor sembunyi membuat komik, bahkan Mari sempat
pengalaman orang lain. Miss dan Spawn, mencoba menerbitkan komiknya saat ayahnya
misalnya, sejak awal mendapat keyakinan masih melarangnya.
mereka untuk mampu menerbitkan dengan cara Satu-satunya dukungan sosial yang benar-
mereka masing-masing berdasarkan benar meningkatkan efikasi diri dalam
pengalaman orang lain. Sebaliknya, Captain, menerbitkan komik didapat Captain dari
Miracle, dan Mari merasa yakin menerbitkan ayahnya. Berbeda dari orangtua subjek lainnya
dengan cara mereka tanpa adanya referensi yang tidak mendukung atau memperbolehkan
pengalaman orang lain. Sedikit berbeda, anaknya berkecimpung di dunia komik, ayah
keyakinan Captain untuk mampu menerbitkan Captain sejak awal mengatakan bahwa apa pun
komik berkualitas baik melalui penerbit sangat yang anaknya tekuni dapat menghasilkan uang.
tergantung dengan syarat dan ketentuan yang Hal ini merupakan pemberian sugesti bahwa
diajukan penerbit tersebut. Dapat dikatakan seseorang dapat hidup hanya dari komik.
bahwa keyakinan dalam memilih cara Namun secara umum Nampak bahwa
menerbitkan sebagian komikus dipicu dari pengalaman pribadi para komikus mengarahkan
pengalaman orang lain sedangkan sebagian mereka kepada rendahnya keyakinan bahwa
lainnya tidak. mereka mampu hidup hanya dari membuat dan
Pengalaman pribadi mereka juga memiliki menerbitkan komik. Semua komikus
dampak terhadap keyakinan atas kemampuan mengalami pengalaman bahwa penghasilan
216 WIRAWAN DAN SUCI

yang mereka dapat tidaklah banyak. yang tidak pernah dipikirkan atau dialami
Salah satu kejadian yang mempengaruhi sebelumnya. Tidak ada komikus yang luput dari
keyakinan komikus dalam menerbitkan adanya hal baru dalam hidup mereka, seperti
komiknya adalah keberhasilan mereka sendiri. cara menerbitkan yang belum pernah dilakukan
Semakin banyak komik yang sudah berhasil sebelumnya, keterampilan menggambar yang
diterbitkan, mereka semakin yakin akan lain, dan tema cerita yang baru. Meskipun
kemampuannya menerbitkan komik mereka. demikian, tetap ada pengalaman baru yang
Spawn dan Captain memilih untuk mencetak dijamah oleh para komikus tanpa adanya
(bukan memfotokopi) komik mereka meskipun referensi dari pengalamannya sendiri, maupun
lebih mahal. Hal ini berkaitan dengan pengalaman orang lain.
keberhasilan mereka menjual beberapa komik Selain sebagai “titik awal”, pengalaman
serupa sebelumnya. Pada Mari, ia merasa yakin orang lain juga dapat meningkatkan efikasi diri
mampu mulai menerbitkan komiknya komikus. Peneliti mengamati bahwa “orang
menggunakan penerbit lain berdasarkan lain” yang dijadikan model oleh para komikus
pengalaman temannya yang sudah lebih dulu secara umum memiliki kesamaan karakteristik
melakukan hal tersebut. dengan komikus, namun lebih kompeten (sudah
Setelah melihat faktor dan proses pernah mengalami keberhasilan sebelumnya).
pembentukan efikasi diri, peneliti melakukan Jadi umumnya keyakinan para komikus
analisa perbandingan antara data di lapangan kebanyakan dipengaruhi oleh keberhasilan
dengan teori yang sudah dikemukakan oleh orang lain. Tidak banyak kejadian yang
Bandura. Proses pembentukan efikasi diri dikaitkan komikus dengan pengalaman
paling banyak terjadi melalui faktor pertama kegagalan (atau ketidakkompetenan) orang lain.
dan kedua, yaitu pengalaman sendiri dan Persuasi sosial bukan merupakan faktor
pengalaman orang lain. Sesuai teori yang pembentukan efikasi diri yang sering didapat
diajukan Bandura, baik keberhasilan maupun oleh para komikus. Namun begitu, beberapa
kegagalan seseorang memiliki pengaruh persuasi sosial yang didapat oleh komikus
terhadap keyakinan seseorang. Walaupun berkaitan dengan kemampuan menggambar,
demikian, tidak semua kegagalan berakhir pada pemilihan tema, dan kemampuan untuk
menurunnya efikasi diri komikus. Hal ini sesuai menerbitkan mereka. Keadaan fisik/psikis juga
dengan penjelasan Bandura bahwa ada beberapa mempengaruhi keyakinan komikus atas
karakteristik seperti kemungkinan adanya kemampuan mereka dalam membuat komik.
harapan yang tinggi dan tidak optimalnya Namun demikian, karena sifatnya yang
kinerja seseorang pada saat itu yang pada sementara, perubahan ini tidak mempengaruhi
akhirnya membuat kegagalan tersebut tidak keyakinan tersebut dalam jangka panjang.
terlalu berarti. Hal yang menarik untuk dikemukakan
Faktor kedua yang juga banyak membentuk adalah bahwa penelitian menemukan adanya
efikasi diri adalah faktor pengalaman orang beberapa hasil analisa yang berbeda dari teori
lain. Pengalaman orang lan ini dirasa peneliti yang diajukan Bandura. Misalnya, Bandura
lebih banyak menjadi “pemicu” atau referensi mengatakan bahwa karakteristik model yang
untuk “titik awal” (starting point) efikasi diri kompeten lah yang dapat meningkatkan efikasi
GAMBARAN FAKTOR 217

diri dan keberhasilan melakukan tugas yang


sulit dapat meningkatkan efikasi diri. Dalam Bandura, A. (1977). Self efficacy: Toward a
penelitian ini, ada komikus yang efikasi dirinya unifying theory of behavioral change.
meningkat setelah melihat keberhasilan model Psychological Review, 84(2), 191-215.
yang kurang kompeten dan ada yang efikasi Bandura, A. (1989). Social cognitive theory.
diri-nya menurun setelah menyelesaikan tugas Dalam R. Vasta (Ed.), Annals of child
yang sulit. development (Vol. 6): Six theories of child
development (h. 1-60). Greenwich, CT: JAI
Kesimpulan dan Saran Press.
Bandura, A. (2001). Social cognitive theory: An
agentic perspective. Annual Review of
Secara umum dapat disimpulkan bahwa Psychology, 52, 1-26
faktor yang paling dominan dalam Braun, V. & Clarke, V. (2006). Using thematic
pembentukan efikasi diri adalah faktor analysis in Psychology. Qualitative
pengalaman pribadi dan pengalaman orang lain. Research in Psychology, 3, 77-101.
Pada faktor pengalaman orang lain, kebanyakan Flick, U. (2002). An introduction to qualitative
komikus mendapatkan “titik awal” dan/ atau research (2nd ed.). Sage Publication.
penambahan efikasi diri dari keberhasilan yang Haraguchi, S. (Ed.). (2003). Manga techniques
dialami oleh orang lain. Namun, ada juga (Vol. 5): How to draw Japanese manga.
kegagalan orang lain (model) yang ikut S.E. Inc.
membentuk efikasi diri komikus. Kegagalan Kulsum, U. (2007, 26 November). Masih
maupun keberhasilan pribadi komikus banyak dalam Dekapan "Manga". Kompas.
memiliki andil dalam pembentukan efikasi diri. Lesmana, J. (2008, Februari). Second
Persuasi sosial merupakan faktor tidak banyak international manga award. Animonster,
didapat oleh komikus. Beberapa komikus 107, 93.
mendapatkannya dari teman atau orangtua Marsiela, A (2007, 14 Januari). Dari Ajang "24
mereka. Walaupun sifatnya sementara, efikasi Hour Comics Day": Komikus Indonesia
diri komikus juga dibentuk oleh keadaan fisik Tembus Dunia. Suara Pembaruan.
dan psikis pada situasi tertentu. McCloud, S. (2001). Memahami komik. (S.
Saran untuk pengembangan penelitian ke Kinanti, Penerj.). (Cet. ke-3). Jakarta:
depan adalah perlu adanya latar belakang dan Gramedia. (Karya asli diterbitkan tahun
landasan teori disusun dengan menggunakan 1993)
data yang lebih lengkap. Selain itu perlu adanya McCloud, S. (2008). Membuat komik: Rahasia
batas-batas komik bergaya Jepang yang lebih bercerita dalam komik, manga, dan novel
jelas. Terakhir, pemilihan subjek sebaiknya grafis. (Alpha Febrianto, Penerj.). (Cet. ke-
lebih beragam, terutama dalam hal tempat 2). Jakarta: Gramedia. (Karya asli
berdomisili dan jenis kelamin. diterbitkan tahun 2006)
Mendidik Anak dengan Komik, Mengapa
Tidak? (2003, Mei). Familia, 15-18.
Bibliografi Pintrich, P. R., & Schunk, D. H. (1996).
218 WIRAWAN DAN SUCI

Motivation in education: Theory, research,


and application. Prentice Hall.
The Society for The Study of Manga
Techniques. (2000a). How to draw Manga:
Power up MANGA techniques for beginners
and beyond (Vol. 2), compiling techniques.
Graphic-sha publishing co. Ltd.
The Society for The Study of Manga
Techniques. (2000b). How to draw Manga:
Power up MANGA techniques for beginners
and beyond (Vol. 3), compiling application
and practice. Graphic-sha publishing co.
Ltd.
Wibowo, M. A. (2007, 27 April). Rei Ikaza:
Karyanya hingga Amerika. Suara Merdeka.
Psikobuana ISSN 2085-4242
2010, Vol. 1, No. 3, 219–220

Panduan Bagi Penulis Jurnal Psikobuana


(Judul, 22 point Centered)

Nama penulis, lengkap, tanpa gelar, tanpa posisi


Nama dan alamat lembaga (12 point centered)

Abstract is written in English and Indonesian, limited to 200 words, and


written in single paragraph. Abstract should contain goal, research
method, and short description of result. (11 point, use block format, no
indentation).

Keywords: written inline, three to ten words (10 point).

Dokumen ini ditulis sebagai pedoman format Artikel ditulis pada kertas A4, huruf Times New
final artikel Jurnal PsikoBuana. Bagian pendahuluan Roman ukuran 12, spasi 1,25, rata kiri-kanan, tidak
ini tanpa menggunakan heading "Pendahuluan" atau melebihi 15 halaman. Penulisan naskah pada
"Latar Belakang". umumnya mengikuti kaidah-kaidah yang tertuang
dalam Publication Manual of the American
Panduan Bagi Penulis Psychological Association (APA) 6th ed. (2009).
Heading tanpa penomoran dengan maksimal dua
Isi artikel memerhatikan gagasan tematik yang peringkat sub-heading:
dipersiapkan Sidang Penyunting untuk jurnal nomor
berikutnya, yang dapat dilihat dalam situs web
Ini Heading
www.psikobuana.com
Revisi artikel hanya akan diterima dalam bentuk Ini Sub-Heading Peringkat 1 (Italicize, Flush
softcopy, dengan mengikuti format cetak (dokumen Left, Capitalize Keywords)
ini), selambatnya 10 (sepuluh) hari kerja setelah
surat pemberitahuan revisi. Teks dalam paragraf ini diberi indentasi first
Penyunting tidak berkewajiban mengembalikan line dengan spasi atas ganda. Apabila sub-heading
artikel yang tidak dimuat. Kepastian peringkat satunya adalah "Prosedur Pengumpulan
pemuatan/penolakan /revisi dilakukan secara dan Analisis Data", maka teks dalam paragraf ini
tertulis. menerangkan hal tersebut.
Manuskrip orisinal beserta tiga eksemplar Badan utama artikel hasil penelitian berisi: (a)
salinannya dikirimkan dalam format soft copy pendahuluan (memuat latar belakang & pernyataan
(Microsoft Word atau OpenOffice Writer) melalui masalah, tinjauan pustaka, kerangka berpikir, tujuan
media cakram kompak ke alamat surat Sidang dan manfaat penelitian, hipotesis yang hendak
Penyunting, atau melalui surat elektronik dengan diuji), (b) metode (memuat rancangan penelitian,
alamat penyunting@psikobuana.com gambaran partisipan, serta prosedur pengumpulan
dan analisis data), (c) hasil (memuat hasil uji
Format, Sistematika, Tabel, dan Gambar hipotesis, yang dapat menyertakan tabel, grafik, dan
sebagainya), (d) pembahasan (memuat interpretasi

219
220 PANDUAN BAGI PENULIS

dan evaluasi terhadap hasil penelitian, serta ulasan berasal dari sumber primer (laporan penelitian,
problem-problem terkait yang dipandang dapat artikel jurnal ilmiah). Contoh penulisan bibliografi:
memengaruhi hasil penelitian), dan (e) kesimpulan,
implikasi, dan rekomendasi. Artikel hasil pemikiran
Bibliografi
meliputi: (a) pendahuluan (latar belakang, tujuan,
ruang lingkup), (b) bahasan utama (terbagi dalam Alison, L., Bennell, C., Mokros, A., & Ormerod, D.
beberapa bagian), dan (c) penutup atau kesimpulan (2002). The personality paradox in offender
dan rekomendasi. profiling: A theoretical review of the processes
Tabel dan gambar harus diberi caption involved in deriving background characteristics
(judul/keterangan) menggunakan huruf besar di from crime scene actions. Psychology, Public
awal kata (Title Case untuk tabel dan Sentence case Policy, and Law, 8(1), 115-135.
untuk gambar), serta dengan penomoran yang Canter, C. (2003). Mapping murder: The secrets of
berurutan. Caption tabel diletakkan di atas, geographical profiling. UK: Virgin Books.
sedangkan gambar di bawah. Tabel dan gambar Harter, S., Waters, P. L., & Whitesell, N. R. (1997,
simetris di tengah (centered), dan dibuat ukurannya April). Level of voice among adolescent males
tidak terlalu kecil. and females. Paper presented at the bi-annual
Usahakan penggunaan gambar dua warna meeting of the Society for Research in Child
(hitam-putih), dan hilangkan garis tepi gambar. Development, Washington, D. C.
Gambar disertakan dalam bentuk soft-copy dalam Johnson, E. (1995). The role of social support and
format JPEG. Sumber gambar disebutkan di bagian gender orientation in adolescent female
bawah gambar apabila bukan karya sendiri. Izin development. Disertasi, tidak diterbitkan,
penggunaan atau bukti kepemilikan gambar harus University of Denver, Denver, CO.
disertakan apabila gambar tersebut dimiliki hak Murphy, H. B. M. (1976). Notes for a theory of
ciptanya oleh orang lain. Penulisan hasil olah latah. Dalam Lebra, W. P. (Ed.), Culture-bound
statistik seperti contoh berikut: F(2, 116) = 2,80, p < syndromes, ethnopsychiatry, and alternative
0,05 untuk ANOVA; atau t(60) = 1,99, p < 0,05 therapies. Honolulu: The University Press of
untuk uji-t; 2 (4, N = 90) = 10,51, p < 0,05 untuk Hawaii.
kai kuadrat, dan sejenisnya. National Council Against Health Fraud. (2001).
Pseudoscientific psychological therapies
scrutinized. NCAHF news, 24(4).
Cara Mengacu dan Bibliografi
Ditemukembali pada 18 Februari 2009, dari
Penulisan acuan mengikuti format APA (2001). http://www.ncahf.org/nl/2001/7-8.html
Contoh cara mengacu: Petition for the recognition of police psychology as
Kotter (1995, h. 152) mengingatkan, "Setiap a proficiency in professional psychology.
fase dari tahapan itu hendaknya dilalui," namun .... (2008). Ditemukembali pada 18 Februari 2009,
Subagyo ("Kesalehan Lingual," 2008) dari http://www.apa.org/crsppp/APA%20Police
berargumen bahwa kekerasan verbal .... %20Psychology%20Proficiency%20Petition-
Sejumlah penulis (Harter, 1990, 1993; Harter, Final.pdf
Whitesell, & Waters, 1997; McIntosh, 1996a; Shaw, M. E., & Costanzo, P. R. (2002). Teori-teori
McIntosh, 1996b) menyampaikan kesimpulan yang psikologi sosial (Sarlito W. Sarwono, Penerj. &
serupa mengenai .... Peny.). Jakarta: RajaGrafindo Persada. (Karya
Bibliografi, terbatas pada sumber yang dirujuk, asli diterbitkan tahun 1970)
disusun urut berdasarkan abjad. Utamakan pustaka Taylor, C., & Clara, S. (2005, April). A New Brain
termuktahir (terbit sepuluh tahun terakhir), dan yang for Intel. Time Magazine, 9-10.
Psikobuana ISSN 2085-4242
2010, Vol. 1, No. 3

Indeks

Forensik
Indeks Subjek
JUNEMAN, "Mempertanyakan Pemrofilan
Budaya Kriminal sebagai Sebuah Ilmu Psikologis," 1(1),
13-28, Juni 2009.
KADIR, HATIB ABDUL, "Menafsir Fenomena
Latah sebagai Emosi Kebudayaan Masyarakat Kesehatan
Melayu (Suatu Kajian Psikoantropologi)," 1(1),
49-59, Juni 2009. ARUM, MEILISHA DJATI, dan A. A. ANWAR
PRABU MANGKUNEGARA, "Peran Sikap,
Edukasi Norma Subjektif, dan Persepsi Kendali Perilaku
Dalam Memprediksi Intensi Wanita Melakukan
SARAGIH, SEPTA LESTARI, dan AMITYA Pemeriksaan Payudara Sendiri," 1(3), 162-172,
KUMARA, "Penggunaan Strategi Belajar Februari 2010.
Bahasa Inggris Ditinjau dari Motivasi Intrinsik SUCI, EUNIKA SRI TYAS, "Gambaran Perilaku
dan Gaya Belajar," 1(2), 110-128, Oktober Jajan Murid Sekolah Dasar di Jakarta," 1(1), 29-
2009. 38, Juni 2009.

Sosial Kesenian

JUNEMAN, "Masalah Transportasi Kota dan RISTARGI, LISA, "Dinamika Psikologis Sutradara
Pendekatan Psikologi Sosial," 1(3), 173-189, Teater Peserta Festival Teater Jakarta," 1(2), 86-
Februari 2010. 92, Oktober 2009.
KOENTJORO, dan BEBEN RUBIANTO,
"Radikalisme Islam dan Perilaku Orang Kalah Komunitas
Dalam Perspektif Psikologi Sosial," 1(1), 64-70,
Juni 2009. SUCI, EUNIKA SRI TYAS, "Himpsi Jaya 2005-
MARKUM, M. ENOCH, "Pengentasan Kemiskinan 2007, Apa yang Telah Kau Kerjakan? Sebuah
dan Pendekatan Psikologi Sosial," 1(1), 1-12, Evaluasi Tentang Kinerja Organisasi Profesi
Juni 2009. Psikologi wilayah Jakarta", 1(2), 93-109,
PUTRA, IDHAMSYAH EKA, dan ZORA A. Oktober 2009.
WONGKAREN, "Konstruksi Skala WIRAWAN, RENDY, dan EUNIKA SRI TYAS
Fundamentalisme Islam di Indonesia," 1(3), SUCI, "Gambaran Faktor-faktor Pembentuk
151-161, Februari 2010. Efikasi Diri Dalam Membuat dan Menerbitkan
SRIAMIN, LUKMAN SAROSA, "Pancasila Komik Bergaya Jepang Pada Komikus yang
Sebagai Landasan Terbentuknya Sane Society Sudah Menerbitkan Karyanya", 1(3), 210-218,
Fromm", 1(3), 190-198, Februari 2010. Februari 2010.
INDEKS

Olahraga H

HUTAPEA, BONAR, "Studi Komparatif Tentang HUTAPEA, BONAR, "Studi Komparatif Tentang
Motivasi Berprestasi Pada Atlet Kempo Motivasi Berprestasi Pada Atlet Kempo
Propinsi DKI Jakarta Ditinjau Dari Propinsi DKI Jakarta Ditinjau Dari
Kepribadian", 1(3), 199-209, Februari 2010. Kepribadian", 1(3), 199-209, Februari 2010.
KUSUMAWARDHANI, RENI, "Pendampingan
Psikologis Bagi Atlet Cilacap dalam Pekan Olah J
Raga Provinsi Jawa Tengah Tahun 2009 di Solo
(Studi Preliminer)," 2(2), 73-85, Oktober 2009. JUNEMAN, "Mempertanyakan Pemrofilan
Kriminal sebagai Sebuah Ilmu Psikologis," 1(1),
Pengukuran 13-28, Juni 2009.
JUNEMAN, "Masalah Transportasi Kota dan
WIDHIARSO, WAHYU, "Koefisien Reliabilitas Pendekatan Psikologi Sosial," 1(3), 173-189,
Pada Pengukuran Kepribadian yang Bersifat Februari 2010.
Multidimensi," 1(1), 39-48, Juni 2009.
K
Perkembangan
KADIR, HATIB ABDUL, "Menafsir Fenomena
VAN TIEL, JULIA MARIA, "Permasalahan Latah sebagai Emosi Kebudayaan Masyarakat
Deteksi dan Penanganan Anak Cerdas Istimewa Melayu (Suatu Kajian Psikoantropologi)," 1(1),
Dengan Gangguan Perkembangan Bicara dan 49-59, Juni 2009.
Bahasa Ekspresif (Gifted Visual-spatial KOENTJORO, dan BEBEN RUBIANTO,
Learner)," 1(2), 129-147, Oktober 2009. "Radikalisme Islam dan Perilaku Orang Kalah
Dalam Perspektif Psikologi Sosial," 1(1), 64-
Terapi 70, Juni 2009.
KUMARA, AMITYA lihat Saragih, Septa Lestari.
SUTANTO, LIMAS, "Menyimak Kritik Bandler," KUSUMAWARDHANI, RENI, "Pendampingan
1(1), 60-63, Juni 2009. Psikologis Bagi Atlet Cilacap dalam Pekan
Olah Raga Provinsi Jawa Tengah Tahun 2009
di Solo (Studi Preliminer)," 2(2), 73-85,
Indeks Pengarang Oktober 2009.

M
A
MANGKUNEGARA, A. A. ANWAR PRABU lihat
ARUM, MEILISHA DJATI, dan A. A. ANWAR Arum, Meilisha Djati.
PRABU MANGKUNEGARA, "Peran Sikap, MARKUM, M. ENOCH, "Pengentasan Kemiskinan
Norma Subjektif, dan Persepsi Kendali Perilaku dan Pendekatan Psikologi Sosial," 1(1), 1-12,
Dalam Memprediksi Intensi Wanita Melakukan Juni 2009.
Pemeriksaan Payudara Sendiri," 1(3), 162-172,
Februari 2010. P

PUTRA, IDHAMSYAH EKA, dan ZORA A.


INDEKS

WONGKAREN, "Konstruksi Skala Pada Pengukuran Kepribadian yang Bersifat


Fundamentalisme Islam di Indonesia," 1(3), Multidimensi," 1(1), 39-48, Juni 2009.
151-161, Februari 2010.
WIRAWAN, RENDY, dan EUNIKA SRI TYAS
SUCI, "Gambaran Faktor-faktor Pembentuk
R
Efikasi Diri Dalam Membuat dan Menerbitkan
RISTARGI, LISA, "Dinamika Psikologis Sutradara Komik Bergaya Jepang Pada Komikus yang
Teater Peserta Festival Teater Jakarta," 1(2), 86- Sudah Menerbitkan Karyanya", 1(3), 210-218,
92, Oktober 2009.
Februari 2010.
RUBIANTO, BEBEN lihat Koentjoro.
WONGKAREN, ZORA A. lihat Putra, Idhamsyah

S Eka.

SARAGIH, SEPTA LESTARI, dan AMITYA


KUMARA, "Penggunaan Strategi Belajar
Bahasa Inggris Ditinjau dari Motivasi Intrinsik
dan Gaya Belajar," 1(2), 110-128, Oktober
2009.
SRIAMIN, LUKMAN SAROSA, "Pancasila
Sebagai Landasan Terbentuknya Sane Society
Fromm", 1(3), 190-198, Februari 2010.
SUCI, EUNIKA SRI TYAS, "Gambaran Perilaku
Jajan Murid Sekolah Dasar di Jakarta," 1(1), 29-
38, Juni 2009.
SUCI, EUNIKA SRI TYAS, "Himpsi Jaya 2005-
2007, Apa yang Telah Kau Kerjakan? Sebuah
Evaluasi Tentang Kinerja Organisasi Profesi
Psikologi wilayah Jakarta", 1(2), 93-109,
Oktober 2009.
SUCI, EUNIKA SRI TYAS lihat Wirawan, Rendy.
SUTANTO, LIMAS, "Menyimak Kritik Bandler,"
1(1), 60-63, Juni 2009.

VAN TIEL, JULIA MARIA, "Permasalahan


Deteksi dan Penanganan Anak Cerdas Istimewa
Dengan Gangguan Perkembangan Bicara dan
Bahasa Ekspresif (Gifted Visual-spatial
Learner)," 1(2), 129-147, Oktober 2009.

WIDHIARSO, WAHYU, "Koefisien Reliabilitas