Anda di halaman 1dari 4

Nama : Dias Ivoni Dwijayanti

NIM : 7211419220
Rombel : AKT D 19

A. Analisis Model T
Analisis yang digunakan untuk mengetahui seberapa besar pengembalian yang
diperoleh pemegang saham perusahaan dalam hal variabel akuntansi yang diperoleh
dari laporan keuangannya. Rumus untuk mencari model T menggunakan formula
sebagai berikut :

𝑅𝑂𝐸 − 𝑔 ∆𝑃𝐵
𝑇=𝑔+ + (1 + 𝑔)
𝑃𝐵 𝑃𝐵
Dimana :
T =Tingkat return dari saham pada akhir periode
g =Tingkat pertumbuhan nilai buku perusahaan selama periode
ROE =Pengembalian ekuitas perusahaan
PB =Rasio harga/nilai buku pada awal periode
B. Analisis bagi kreditur
Dapat dilakukan dengan menggunakan analisis 5C yaitu :
1. Character
Karakter ini bertujuan untuk menganalisis karakter dan latar belakang calon
peminjam, tujuannya untuk mengetahui bagaimana karakternya, apakah orangnya
bertanggungjawab, apakah punya ambisi untuk menjadi lebih baik atau besar
usahanya.
2. Capacity
Kapasitas ini menganalisis kemampuan calon peminjam dalam membayar kreditnya,
dilihat dari kemampuan calon nasabah menjalankan usahanya guna memperoleh
laba.
3. Collateral
Barang yang berfungsi sebagai pelindung bagi kreditur jika debitur tidak mampu
membayar pinjamannya.
4. Capital
Semakin besar modal sendiri dalam perusahaan diasumsikan semakin tinggi
kesungguhan calon nasabah menjalankan usahanya, dilihat struktur modal terhadap
utangnya.
5. Condition
Melihat faktor mikro dan makro perusahaan. Menganalisis kondisi perekonomian baik
bersifat general atau khusus pada bidang usaha yang dijalankan debitur.
Selain analisis 5C, analisis bagi kreditur lainnya adalah analisis 3C yaitu :
1. Return (hasil yang dicapai), perkiraan penilaian atas hasil yang akan dicapai oleh
perusahaan debitur setelah dibantu oleh kredit, dan keuntungan yang diperoleh bank
apanila memberikan kredit pemohon
2. Repayment (pembayaran kembali), melihat bagaimana kemampuan pemohon kredit
dalam membayar kembali pinjamannya sesuai dengan kemampuan membayar
kembali.
3. Risk Bearing Ability (kemampuan untuk menanggung risiko), kreditor harus menilai
sejauh mana pemohon mampu menanggung risiko gagal bayar, serta menilai
kemampuan kreditor sendiri dalam menanggung risiko jika sesuatu terjadi terhadap
usaha peminjam.

C. Analisis Kebangkrutan
Kebangkrutan merupakan keadaan dimana perusahaan sudah tidak dapat
membiayai kegiatan operasionalnya. Hal ini yang ditakutkan oleh para pelaku bisnis
karena apabila para pelaku bisnis mengalami kebangkrutan maka akan berdampak
pada kegagalan operasional usahanya, sehingga tidak dapat mencapai tujuannya
dalam mendapatkan keuntungan. Alat pendeteksi kebangkrutan menggunakan
Metode Zmijewski. Analisis Zmijewski adalah metode untuk memprediksi
keberlangsungan suatu perusahaan yang menggabungkan 13 variabel rasio keuangan
yang umum digunakan dan memberikan bobot yang berbeda satu dengan lainnya.
(Rudianto, 2013: 264). Rumusnya sebagai berikut :
Z= -4,3 - 4,5X1 + 5,7X2 - 0,004X3
Keterangan:
Z = Nilai skor
X1 = Laba Bersih/Total Aset
X2 = Total Utang/Total Aset
X3 = Aset Lancar/Utang Lancar
Klasifikasi perusahaan yang sehat dan bangkrut didasarkan pada nilai score
metode Zmijewski, yaitu dengan penilaian sebagai berikut:
a. Jika perhitungan menghasilkan nilai negatif maka perusahaan tidak berpotensi
bangkrut.
b. Jika perhitungan menghasilkan nilai positif maka perusahaan akan berpotensi
bangkrut.
D. Analisis terkait Inflasi
Kondisi di mana harga barang tinggi secara terus menerus dalam waktu
tertentu merupakan tanda dari inflasi. Inflasi merupakan sebuah peristiwa yang
menunjukkan proses meningkatnya harga barang dan jasa yang menjadi kebutuhan
masyarakat dalam waktu panjang. Namun hal yang perlu digarisbawahi adalah tidak
semua kenaikan harga yang muncul di masyarakat berarti terjadi inflasi.
Karakteristik utama dari inflasi adalah harga yang naik mencakup kebutuhan
masyarakat luas, dan terjadi dalam waktu yang lama. Jadi kalau terjadi kenaikan harga
hanya pada momen tertentu saja seperti hari raya yang kemudian akan normal lagi
setelah beberapa saat, maka itu tidak termasuk inflasi. Terjadinya inflasi bisa
disebabkan oleh beberapa faktor seperti permintaan, meningkatnya biaya produksi
maupun jumlah uang yang beredar.
Inflasi sendiri tidak selalu menjadi sesuatu yang negatif bagi perekonomian
sebuah negara, tergantung pada tinggi rendahnya tingkat persentase inflasi. Justru
jika tidak ada tingkat inflasi maka tidak ada juga pergerakan positif dalam
perekonomian, dimana sama sekali tidak terjadi perubahan harga. Namun perlu
diperhatikan, tingkat inflasi yang tinggi dapat memberikan dampak yang negatif baik
bagi masyarakat maupun negara.
Bagi perusahaan, kenaikan inflasi bisa jadi baik atau bahkan buruk. Inflasi yang
tidak terlalu tinggi akan dapat merangsang pertumbuhan pekerjaan. Perusahaan
dapat menyesuaikan biaya produksi dan menaikkan harga barang dan jasa, sehingga
tidak terlalu berimbas pada perolehan pendapatan dan potensi laba perusahaan.
Namun jika inflasi yang terjadi terlalu tinggi, perusahaan harus merasa
khawatir. Sebab inflasi yang terlalu tinggi berbahaya bagi keuangan perusahaan.
Kenaikan inflasi yang tidak terduga berpotensi memiliki dampak negatif terhadap
perusahaan.
Oleh karena nya, investor harus cermat dalam menyaring informasi dan
menganalisis kondisi pasar agar mampu membuat keputusan bijak untuk berinvestasi
pada kondisi periode inflasi.
Tak semua kelompok saham memiliki kinerja buruk selama periode inflasi
tinggi, bahkan sebagian justru menunjukkan kinerja yang lebih baik. Untuk itu,
dibutuhkan kejelian investor dalam mengambil keputusan. Investor harus mampu
melindungi nilai saham terhadap inflasi, seiring dengan kemampuan perusahaan
menghasilkan pendapatan dan laba pada tingkat yang sama dengan inflasi.

E. Merger
Penggabungan beberapa perusahaan dengan jalan kepemilikan langsung oleh
salah satu perusahaan terhadap perusahaan lain yang bergabung. Salah satu
perusahaan yang bergabung masih tetap bertahan dengan identitas perusahaan
tersebut, dan satu yang lainnya dilikuidasi. Untuk mengetahui kondisi keuangan suatu
perusahaan sebelum dan setelah melakukan merger, dapat menggunakan alat analisis
Rasio CAMEL, dengan 5 aspek, yaitu :
1. Capital : CAR = Modal x 100%
ATMR
2. Asset Quality : NPL = Total Kredit Bermasalah x 100%
Total Kredit
3. Management : NPM = Laba bersih x 100%
Pendapatan operasional
4. Earning : ROA = Laba sebelum pajak x 100%
Total aset
5. Liquidty : LDR = Total Kredit x 100%
Dana pihak ketiga

F. Restrukturisasi
Restrukturisasi adalah istilah manajemen perusahaan untuk tindakan mereorganisasi
struktur hukum, struktur kepemilikan, struktur operasional, atau struktur lainnya dari
sebuah perusahaan, agar perusahaan tersebut dapat lebih menguntungkan atau agar
lebih sesuai dengan kebutuhan. Jenis Restrukturisasi Perusahaan yaitu :
1. Restrukturisasi Portofolio atau Aset : kegiatan penyusunan portofolio perusahaan
agar kinerja perusahaan menjadi semakin baik. Portofolio perusahaan meliputi
setiap aset, lini bisnis, divisi, unit usaha atau SBU (Strategic Business Unit), maupun
anak perusahaan.
2. Restrukturisasi Keuangan atau Modal atau Bisnis : kegiatan penyusunan ulang
komposisi modal perusahaan. Hal ini dilakukan agar kinerja keuangan perusahaan
menjadi lebih sehat.
3. Restrukturisasi Manajemen atau Organisasi : kegiatan Penyusunan ulang
komposisi manajemen, struktur organisasi, pembagian kerja, sistem operasional,
atau hal yang berkaitan dengan masalah manajerial dan organisasi.