Anda di halaman 1dari 80

KONSOLIDASI

(CONSOLIDATION)

JURUSAN TEKNIK SIPIL


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS ASAHAN
2020
Group
II Konsolidasi
(Consolidation)

KONSOLIDASI
(CONSOLIDATION)

I. Tujuan
Percobaan ini dimaksudkan untuk mengetahui sifat-sifat kemampatan tanah pada saat
tanah diberi beban.

II. Peralatan
1. Alat konsolidasi
2. Cetakan benda uji
3. Alat pengeluaran benda uji
4. Pisau pemotong
5. Stopwatch
6. Deal deformasi
7. timbangan
8. Oven

Laporan Praktikum Mekanika Tanah 2020


Alat Konsolidasi Timbangan

Oven Pisau Pemotong


III. Prosedur Percobaan.
1. Bersihkan ring contoh lalu keringkan, kemudian timbang
2. Siapkan benda uji
a) Keluarkan contoh tanah dari tabung sampel sepanjang 2 cm dengan
menggunakan extruder lalu dipotong dan diratakan
b) Pasang ring contoh didepan tabung contoh lalu dikeluarkan contoh tanah
dengan extruder sehingga ring contoh terisi penuh dengan tanah
c) Ratakan tanah menonjol dikedua ujung cetakan benda uji dengan pisau
pemotong
d) Tekanlah tanah ring contoh dengan besi pendorongnya. Potong kelebihan
tanah yang keluar dengan hati-hati
e) Tentukanlah kadar air tanah yang dipotong tadi
3. Masukkan benda uji tersebut kedalam ring contoh dangan hati-hati jangan sampai
terjadi pemampatan
4. Timbang ring contoh yang telah berisi benda uji tadi.
5. Pasang kertas saring dibagian atas dan bawah benda uji, kemudian pasang batu pori
atas dan bawah.
6. Masukkan ke dalam sel konsolidasi
7. Pasang alat penekan ke dalam batu pori kemudian letakkan bola baja kecil kedalam
cetakan plat penekan.
8. Letakkan pada alat konsolidasi.
9. atur posisi palang penekan supaya horizontal dengan cara memutar skop di bagian
belakang.
10. Atur ketinggian baut penekan supaya dapat menyentuh baja.
11. Atur posisi dial deformasi dalam posisi tertekan kemudian dinolkan.
12. Pasang beban pertama yang menghasilkan tekan pada benda uji sebesar 0,2 kg/cm 2 .
13. baca deformasi tanah pada detik 6,15,30, kemudian pada menit 1,2,3,4,8,15,30 dan
pada jam ke 1,2,3,4,8,24. setelah dibebani selama 1 menit, sel konsolidasi di isi
sampai penuh.
14. Pasang beban ke dua sebesar 2 kali beban pertama lakukan pembacaan sesuai prosedur
13.
15. Lakukan hal yang sama untuk beban-beban yang lebih besar (4x, 8x, 16x, 32x). beban
max sesuai dengan beban yang akan bekerja pada lapisan tersebut.
16. setelah dilakukan pembebanan max, kurangi beban dua tahap sampai mencapai beban
pertama. Baca dial deformasi 5 jam setelah pengurangan beban lalu beban dikurangi
lagi. Lalu pembacaan kembali setelah 5 jam berikutnya.
17. setelah pembacaan terakhir dicatat, keluarkan ring contoh dan benda uji dari sel
konsolidasi.
18. Keluarkan batu pori dan kertas ring kemudian keringkan permukaan benda uji.
19. Keluarkan benda uji dari dalam ring contoh lalu timbang dan tentukan berat
keringnya.

D. Teori Konsolidasi
Bila suatu lapisan tanah jenuh air diberi penambahan beban. Angka tekanan pori akan
naik secara mendadak. Pada tanah berpori yang sangat lembut air (permeabilitas) air dapat
mengalir dengan cepat sehingga pengaliran air pori keluar sebagai akibat dari kenaikan
tekanan air pori dapat selesai dengan cepat.
Keluarnya air dari dalam pori selalu disertai berkurangnya volume tanah.
Berkuranganya volume tanah tersebut dapat menyebabkan penurunan lapisan tanah air karena
air dalam tanah berpori dapat mengalir dengan cepat, penurunan dengan segera dan
penurunan konsolidasi secara bersamaan.
Prosedur untuk melakuan test konsolidasi satu dimensi, pertama kali diperkenalkan
oleh Terzaghi, tes tersebut dilakukan dalam sebuah konsolidometer, skema konsolidometer
dapat dilihat dibawah ini.
Contoh tanah diletakkan dalam cincin dengan dua buah pori diletakan diatas dan
bawah contoh tersebut. Ukuran contoh tanah yang diinginkan biasanya dalam 1 meter.
Pembebanan contoh tanah dilakukan dengan cara meletakkan beban pada ujung sebuah balok
datar dan pemampatan contoh tanah diukur dengan menggunakan skala ukur dan skala
micrometer.
Contoh tanah selalu direndam dalam air selama percobaan tiap-tiap beban biasanya
diberi waktu selama 24 jam setelah itu beban dinaikkan sampai 2 kali lipat dari beban
sebelumnya, dan ukuran pemampatan diteruskan pada sat percobaan selesai berat kering dan
contoh tanah diteruskan.
Pada umumnya, bentuk grafik untuk menunjukan hubungan antara pemampatan dan
waktu adalah seperti tergambar dibawah ini.
Tahap I (awal)
Tahap II Konsolidsai primer
Pemampatan

Tahap III Konsolidasi sekuder

Waktu (skala log)

Gambar 1: Grafik waktu pemampatan selama konsolidasi untuk suatu penambah


beban yang diberikan.

Dari grafik tersebut diatas dapat dilihat bahwa ada tiga tahapan yang berbeda dan
dapat dijelaskan sebagai berikut :
1) Tahap I
Pemampatan awal (initial compation) yang pada umumnya disebabkan pembebanan
awal (percobaan loading)
2) Tahap II
Konsolidasi primer yaitu pada periode selama air pori secara lambat laun dipindahkan
ke dalam tegangan efektif sebagai akibat keluarnya air pori dari dalam tanah.
3) Tahap III
Konsolidasi sekunder yaitu tejadi setelah air pori hilang seluruhnya. Pemampatan yang
terjadi disini adalah disebabkan oleh penyesuaian yang bersifat plastis air dan butir-
butir tanah.

Grafik angka pori dan tekanan.


Setelah mendapatkan grafik antara waktu dan pemampatan untuk besar pembebanan yang
bermacam-macam dari percobaan laboratorium. Selanjutnya sangat penting bagi kita untuk
mengetahui pembebanan angka pori terhadap tekanan. Langkah-langkah urutan pelaksanaan
untuk memperoleh grafik angka pori Vs tekanan.
1. Hitung tinggi butiran pada (Hs) seperti gambar berikut :
Ws
Hs 
AxGsx
w
Dimana : Ws : berat kering contoh tanah
A : luas penampang
Gs : berat spesifik contoh tanah
w : berat volume air

AH2 Hy = H – H2
AH1

Padat Ws
H  A.w.
w

Gambar: 2: perbedaan tinggi contoh pada test konsolidasi satu dimensi

2. Hitung tinggi awal ruang pori ( Hv )


( Hv ) = H – Hs
3. Hitung angka pori dari contoh tanah ( eo )
Vv Hv.A Hv
( eo ) = V1  Hs.A  Hs

4. Untuk penambahan beban pertama


bebantotal
(P)=
luaspenampan
g

Yang menyebabkan penurunan H1 dihitung dari perubahan angka pori  e1


H1
 e1 =
Hs
H1 = didapatkan dari pembacaan awal dan akhir pada skala, pada waktu beban P1.
5. Hitung angka pori ( e1 ) setelah konsolidasi yang disebabkan oleh penambahan beban
P1.
e1 = e0 -  e1
Dengan melakukan cara yang sama, angka pori pada saat akhir konsolidasi untuk
semua penambahan beban dapat diperoleh, hasil grafik seperti dibawah ini :
Angka Pori, e

e0
e1
e2
Angka pori

Tekanan P P1 P2

Gambar 3 Tekanan Pada Angka Pori

Pengisian Formulir Konsolidasi


Ada dua macam formasi yang ada pada percobaan konsolidasi
a) Formulir A = pembacaan dial
b) Formulir B = grafik penurunan Cv waktu
c) Formulir C = perhitungan konsolidasi
d) Formulir D = grafik penurunan angka pori dan Cv1, Cv2, tekanan
e) Formulir E = perhitungan koefisien rembesan dan konsolidasi
Keterangan:
a) Formulir A
Pembacaan dial sesuai dengan masing-masing pembebanan dan waktu.
b) Formulir B
1. Dari masing-masing pembebanan dibuat grafik penurunan V waktu
2. Penurunan Ht – Hz – 1
3. Plotkan titik-titik (koordinat) penurunan Vs waktu dan buat kurva
4. Tarik garis a, yaitu garis lurus yang menyinggung kurva dan melewati 3 titik pembacaan
5. Buat garis b = 1,15 garis a
T90 = waktu yang diperoleh dari perpotongan garis b dengan kurva.
c) Formulir C
1. Dari a (pembacaan arloji) tekanan pada baris kedua
2. Pembacaan arloji pada saat awal pembebanan t = 0 detik.
3. Hp – Hp + 1 (mm)
4. Kosong tidak ada
5. Dari (3) dijadikan (cm)
6. Sesuai rumus
7. Sesuai rumus
(3) pi  (3) pi  1
8. 2
9. Ho – (8) pi
10. Dari perhitungan B
11. Sesuai rumus
d) Formulir D
1. Dari grafik penurunan (kolom 5 from) Vs tekanan (kolom1 from) grafik angka
pori (kolom 7 from c) Vs tekanan (kolom1 from) kurva dan melewati tiga titik
pembacaan.
2. Grafik Cv (kolom 11 from c).
e) Formulir E
1. (1)pi + 1 – 1 dari gfrom C1
2. Ho – H (dari from C5
3. Hi Hi + 1.
Catatan :
1. Untuk menjagah supaya tidak terjadi perubahan kadar air, benda uji harus segera
diperiksa dan diberi beban.
2. Pada permulaan percobaan, batu pori harus benar-benar rapat pada permukaan benda
uji dan plat penekan harus rapat satu sama lain. Jika hal ini tidak di perhatikan maka
pada pembebanan pertama kemungkinan diperoleh pembacan menurun yang jauh
lebih besar dari harga sesungguhnya.
3. Selama percobaan sel konsolidasi harus terisi air dengan penuh.
4. untuk tanah tertentu yang memiliki faktor swelling besar, kemungkinan pada
pembacaan pertam yang terjadi bukan penurunan melainkan pengembangan. Dalam
hal ini, segera pasang beban kedua untuk menghentikan pengembangan tanah tersebut.
Bila hal ini terjadi, segera pasang beban ke dua untuk menghentikan pengembangan
tanah tersebut. Bila hal ini tidak menolong, segera diberi beban ketiga dan seterusnya.

IV. ISTILAH “NORMAALY CONSOLIDATED” DAN “OVER CONSOLIDATED”


Kedua istilah ini dipakai untuk menggambarkan suatu sifat yang penting dari lapisan
lempung endapan (senmenyary elays). Lapisan semacam ini setelah pengendapannya akan
mengalami konsolidasi dan penurunan akibat tekanan lapisan-lapisan yang kemudian
mengendap diatasnya. Lapisan yang diatasnya ini lama kelamaan mungkin menjadi hilang
lagi oleh karena sebab-sebab geologi, misalnya erosi air (atau es). Ini berarti lapisan-lapisan
bawah pada suatu saat dalam sejarah geologinya pernah mengalami konsolidasi akibat
tekanan yang lebih tinggi dari pada tekanan yang berlaku diatasnya pada masa sekarang.
Lapisan-lapisan semacam ini disebut “OVER CONSOLIDATED”, sedangkan lapisan
yang belum pernah mengalami tekanan diatasnya lebih tinggi dari pada tekanan yang berlaku
pada masa sekarang disebut “NORMALLY CONSOLIDATED”.
F.Pengukuran Konsolidasi
Untuk mengukur konsolidasi di laboratorium dipakai alat konsolidasi (Consolidated
apparantus or aedometer). Prinsip alat ini dapat dilihat pada gambar K.2.

Gambar 4 :Pengukuran Konsolidasi


Contoh tanah untuk percobaan ini dimasukkan dalam suatu cincin dengan batu berpori
(Pourous Stone) yang dipasang dibawah dan diatasnya.

Kemudian cincin dengan batu berpori ini ditaruh dalam sel konsolidasi (Consolidated
Cell) yang berisi air supaya tanah tidak menjadi kering.
Setelah dipasang dalam alat, contoh diberi beban vertikal yang tertentu dan penurunan diukur
dengan arloji penunjuk (dialgauge). Tekanan tersebut dibiarkan berlaku sampai penurunan
selesai. Sesudah itu contoh diberi tambahan beban, yang mana juga dibiarkan berlaku sampai
penurunan berhenti dan seterusnya. Biasanya beban ditambah setiap 24 jam dengan memakai
harga tekanan berikut.
0,25; 0,50; 1,00; 2,00; 4,00; 8,00 kg/cm 2
2 2
Setelah mencapai 8 kg/cm beban dikurangi lagi sampai 0,25 kg/cm untuk
mendapatkan “rebound curve”. Pada setiap pembebanan pembacaan penurunan dilakukan
pada jangka waktu tertentu. Dengan demikian baik besarnya penurunan maupun kecepatannya
diketahui.

V. Besarnya Penurunan
Besarnya penurunan yang terjadi pada setiap tegangan diambil dari pembacaan-
pembacaan arloji penunjuk yang terakhir untuk tegangan tersebut. Angka penurunan ini
dipakai untuk membuat grafik penurunan terhadap tegangan sebagai abses (dengan skala
logaritmes) dan angka pori sebagai ordinat (dengan skala biasa). Tetapi pembacaan penurunan
dapat dipakai langsung sebagai ordinat dan metode ini masih sering dipakai di Indonesia.

VI. Hasil Percobaan Konsolidasi


a. Pada contoh tidak asli yang dicampur air sehingga menjadi cair (Slurry Sample)
Bayangkanlah suatu contoh semacam ini yang ditambah beban diatasnya sedikit demi
sedikit, dengan memperbolehkan konsolidasi berjalan sampai pada beban penambahan beban.
Tebalnya contoh ini akan menurunknan akibat konsolidasi itu, dan besarnya penurunan ini
dapat ditentukan pada setiap saat dari pembacaan arloji penunjuk.
Dari pembacaan ini angka pori juga dapat dihitung asal kadar air contoh semula
diketahui dengan demikian dapat dibuat grafik penurunan (angka pori terhadap tegangan
seperti terlihat pada gambar K.3.
Jika tegangan ditambah sampai mencapai Po maka kita dapat mendapat garis AB.
Garis AB ini biasanya hampir lurus disebut ” virgin consolidasi curve” (garis konsolidasi
asli). Pada waktu lapisan-lapisan lempung mengendap di lapangan, suatu proses yang sama
akan berjalan. Dan bilamana tegangan dan penurunan ditentukan maka akan diperoleh grafik
seperti garis AB juga.
Apabila tegangan sekaang dikurangi lagi menjadi P1 maka tebalnya contoh akan
menjadi lebih besar sedikit, menurut garis BC. Demikian juga dilapangan, kalau setelah di
proses pengendapan berhenti, dan tegangan diatas menjadi lebih kecil lagi tanah akan
mengikuti garis BC itu. Jika sekarang tegangan ditambah kembali sampai menjadi sebesar P,
maka kita akan mendapat garis CDE. Garis DE merupakan terusan garis AB, yaitu ABE
adalah garis konsolidasi asli. Persamaan yang biasanya dipakai untuk garis AE ini adalah
sebagai berikut :
 Untuk grafik yang dibuat dengan mempergunakan penurunan sebagai ordinat.
h 1 P
h  C log e

Po
Dimana :  h = penurunan akibat tambahan tegangan dari Po menjadi
P H = tebalnya contoh
C = Constanta

Gambar 5.Percobaan Konsolidasi Pada Contoh Tidak Asli

Cc 
e0  e
log 10p p
0

P
yaitu : e 0 - e = Cc log
10P0

dimana : e 0 = angka pori pada tegangan Po


e = angka pori pada tegangan P
Cc = compression index

b. pada contoh yang normally consolidated.


Bilamana dilakukan percobaan konsolidasi pada contoh semacam ini, maka akan
diperoleh hasil seperti terlihat pada gambar 6.
Tegangan Po adalah tegangan efektif yang berlaku diatas tanah ini dilapangan dan angka pori
eo adalah angka pori aslinya. Dengan demikian titik A menunjukkan keadaan tanah setempat
Gambar 6.percobaan konsolidasi pada contoh yang Normally Cosolidated

Sebelum tegangan mencapai harga Po penurunan dilakukan dilaboratorium kecil,


tetapi kalau tegangan sudah melebihi tegangan Po maka penurunan kan menjadi besar. Jika
contoh yang dipakai benar-benar contoh yang asli maka setelah tegangan Po dilampaui maka
penurunan akan berlangsung menurut garis konsolidasi asli (Virgin Consolidation Curve),
yaitu garis AB.
Dari grafik seperti ini kita dapat menghitung besarnya penurunan yang akan terjadi
dilapangan. Misalnya, kalau tegangan sempat naik dari Po menjadi P besarnya penurunan
(atau perubahan angka pori) dapat dibaca langsung dari grafik. Yaitu penurunan per satuan
tebal akan sebesar ;
h e e
atau o
h 1  eo

Dimana: h = penurunan akibat tambahan teganagn dari Po menjadi P


h = tebalnya contoh dilaboratorium
eo = angka pori pada tegangan Po, yaitu angka pori asli
e = angka pori pada tegangan P
Dengan demikian penurunan (s) pada lapisan setebal H adalah sebesar:
h
s= .H
h
atau
eo  e
s= .H  e
.H
1  eo
1  eo

Karena penurunan dalam hal ini adalah garis konsolidasi asli maka kedua rumus ini
dapat dirubah menjadi:

h H P
s= .H  .log e
h C Po
dan
eo  e
s= .H  H .Cc log 10 P
1  eo 1 Po
eo

Kedua rumus ini dapat dipakai hanya untuk lapisan tanah yang normally consolidated.
Penentuan t90
Grafik pembacaan penurunan vs akar pangkat dua dari waktu untuk setiap pembebanan dapat
digunakan untuk mencari besarnya t90. Setelah didapat nilai t90 untuk masing-masing
pembebanan maka dapat dicari besar nilai Cv. Harga koefisien konsolidasi ditentukan dengan
metoda akar waktu (time square root method) adalah sebagai berikut (lihat gambar di bawah):
1. Gambar suatu garis AB melalui bagian awal kurva (ambil kurva yang lurus).
2. Gambar suatu garis AC sehingga OC = 1.15 OB. Absis titik D, yang merupakan
perpotongan antara garis AC dan kurva konsolidasi merupakan perpotongan antara garis AC
dan kurva konsolidasi, memberikan harga akar waktu untuk tercapainya konsolidasi 90 %.
3. Hitung koefisien konsolidasi dengan menggunakan rumus berikut:
0,848 Hdr 2
Cv
 t90

A
Pemampatan (bertambah besar)

t90

0 B C
Waktu (akar waktu)
Gambar 8.Grafik Metode Akar waktu (squarer-root-of-time method)

Sumber : Mekanika Tanah (Prinsip-prinsip Rekayasa Geoteknis) Jilid 1,Braja M.Das,


diterjemahkan Noor
Endah & Indrasurya B. Mochtar, Erlangga (7/208-210)
TABEL PERHITUNGAN KONSOLIDASI
Tekanan Waktu t Akar Pembacaan Penurunan Tinggi teoritis Δe = ΔH/Hs Angka pori Hs akhir d= ΔH/2 t90 Tv Cv=(Tv x (0,5H)2)/t
90
(kg/cm2) (menit) waktu (√t) dial (mm) ΔH (cm) Hs (cm) e= e0-Δe H-ΔH(cm) (cm) (menit) (cm/menit)
0.5 0 0.0 0 0.00 0.11 0.00 33.55 3.80 0 40.96 0.848 0.0246
0.5 0.10 0.3 15 1.50 0.11 13.64 19.91 2.30 0.75 40.96 0.848 0.0246
0.5 0.25 0.5 26 1.10 0.11 10.00 23.55 2.70 0.55 40.96 0.848 0.0246
0.5 0.50 0.7 35 0.90 0.11 8.18 25.37 2.90 0.45 40.96 0.848 0.0246
1 1 1.0 48 1.30 0.11 11.82 21.73 2.50 0.65 40.96 0.848 0.0246
1 15 3.9 120 7.20 0.11 65.45 -31.90 -3.40 3.60 40.96 0.848 0.0246
1 30 5.5 155 3.50 0.11 31.82 1.73 0.30 1.75 40.96 0.848 0.0246
2 60 7.7 175 2.00 0.11 18.18 15.37 1.80 1.00 40.96 0.848 0.0246
4 120 11.0 189 1.40 0.11 12.73 20.82 2.40 0.70 40.96 0.848 0.0246
8 180 13.4 195 0.60 0.11 5.45 28.10 3.20 0.30 40.96 0.848 0.0246

Kisaran, 27 Oktober 2020


Dosen Pembimbing

Alexander Tuahta S. S.T, M.T


Grafik t90
0
A
20

40
Penurunan

60

80

Grafik t90
100
140 b=1.15a
120
160
D √tt90 = 6,4 cm
180 t90 = 40,96 mnt

200

220 6,4 B C
0.0 1.0 2.0 3.0 4.0 5.0 6.07.0
8.09.010.011.012.013.014.015.0
Akar waktu

Kisaran, 27 Oktober 2020


Dosen Pembimbing

Alexander Tuahta S. S.T, M.T


Group
II Konsolidasi
(Consolidation)

VII. Analisa Data Consolidation


1. Luas Cincin = ¼ . π . (d)²
= ¼ . (3.14) . (5,9)²
= 27,33 cm²

2. Volume Cincin = Luas x Tinggi


= 27,33 x 3,8
= 103,84 cm³

3. Berat Tanah Basah = Berat (Tanah Basah + Cincin) – Berat Cincin


= 154,7 – 56,5
= 98,20 gr

4. Berat Tanah Kering = Berat (Tanah Kering + Cincin) – Berat Cincin


= 129,4 – 56,5
= 72,90 gr

5. Berat Air = Berat Tanah Basah – Berat Tanah Kering


= 98,20 – 72,90
= 25,30 gr

Berat Air
6. Kadar Air x 100
Berat Sampel
= Kering

25,30
= 72,90 x 100

= 34,71%

Berat Contoh Basah


7. Berat Isi Basah
Volume Sampel
=
98,20
103,84
=
= 0,946 gr/cm³

Laporan Praktikum Mekanika Tanah 2020


Berat Isi Basah
8. Berat Isi Kering
1  KadarAir
=
0,946
1  34,71%
=
= 0,702 gr/cm³

9. Berat Jenis (Gs)


Berat Isi Kering
VolumeCincin BeratIsiBa
= sah
0,702
 0,946
= 103,84
= 0,953 gr/cm³

10. Tinggi Teoritis (Hs) Berat contoh ker ing


= Luascincin * Beratjenis *
Beratair
72,90
=
27,33x0,953x25,30
= 0,11 cm

11. Tinggi Awal ruang pori (Hv) = Tinggi contoh (H) – Tinggi Teoritis (Hs)
= 3,8 – 0,11
= 3,69 cm

12. Angka pori (eo) Tinggiawalruangpori(Hv) * Tinggiawalruangpori(Hv)


= Luascincin Tinggiteoritis(Hs) *  Tinggiteoritis(Hs)
Luascincin

3,69x27,33 100,85
= 0,11x27,33  3,01

= 33,55%

13. γsat

=
33,55
0,953
=
= 35,205 gr/cm²
14. Derajat Kejenuhan

=
35,205x0,953
0,953 x100%
=
= 35,21%

15. ∆e =

1,50
= 0,11

= 13,64

16. e = eo – ∆e
= 33,55 – 13,64
= 19,91

17. √t90 (Dapat dari grafik) = 6,4 cm

18. t90 = 6,4 x 6,4 = 40,96 mnt

19. Cv

=
0,848X 0,5(3,8)2
40,96
=
= 0,0246 cm²/detik
DOKUMENTASI PERCOBAAN CONSOLIDATION
VIII. KESIMPULAN DAN SARAN
1. Kesimpulan :
 Dari hasil praktikum setelah dilakukan analisa data maka diperoleh :
a. Koefisien konsolidasi ( Cv ) = 0,0246 cm²/detik
b. Kadar Air dalam tanah = 34,71%
c. Berat Basah = 98,20 gram
d. Berat kering = 72,90 gram
e. Angka Pori = 33,55%
f. Berat Jenis = 0,953 gr/cm³

2. Saran :
1. Contoh tanah sebaiknya seragam dan tidak mengandung retak atau lapisan pasir
sehingga nilai Cv dapat diperoleh dengan baik.
2. Diusahakan pembacaan alat lebih teliti.
PERMEABILITAS
(PERMEABILITY)

JURUSAN TEKNIK SIPIL


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS ASAHAN
2020
Group
II Permeabilitas
(Permeability)
PERMEABILITAS
(PERMEABILITY)

I. Tujuan
Pengujian ini dilakukan untuk menentukan daya Rembes tanah berbutir kasar maupun
halus secara laboratorium. Satu metode yang digunakan yaitu “ Constan Head “

II. Peralatan
1. Alat Permeability

Alat
pengukur
Buret
Tiang
Buret

Tutup
Penutup keran
tabung

Mur

Batang
Selang penjepit

Tabung Landasan
permeability

Laporan Praktikum Mekanika Tanah 2020


2. Batu Pori

3. Gelas Ukur

4. Aquades

5. Jangka Sorong
Alat Permeability

III. Prosedur percobaan


Constant Head (Disturbet)
1. Ambil contoh tanah kering yang mengandung butiran tanah lolos saringan No. 200
lebih kecil dari 10 %.
2. Campurkan air secukupnya untuk menghindari segregasi selama pengisian tabung
sehingga campuran tersebut dapat mengalir bebas untuk membentuk lapisan-lapisan
dalam tabung.
3. Lepaskan tutup tabung lalu masukkan batu pori ke dalamnya.
4. Masukkan campuran tanah tadi kedalam tabung dengan menggunakan corong dengan
gerakan melingkar. Pengisian diteruskan sampai didapat ketinggian tanah 6 cm.
5. Padatkan lapisan tanah tersebut dengan alat penumbuk. Ulangi prosedur 4 dan 5
sampai ketinggian yang diinginkan.
6. Letakkan batu pori diatasnya lalu masukkan pegas . tutup kembali tabung tersebut
catat benda uji dalam tabung.
7. Hubungkan selang ke corong melalui buret lalu isi corong tersebut dengan air terus
menerus.
8. Hidupkan stopwatch dan tampung air yang keluar dengan gelas ukur. Catat waktu
yang dibutuhkan untuk mendapatkan volume tertentu.
IV. TEORI
Tanah adalah merupakan susunan butiran padat dengan pori-pori yang berhubungan
satu sama lain sehingga air dapat mengalir dari satu titik yang mempunyai energi yang lebih
tinggi ke titik yang mempunyai energi yang lebih rendah. Sifat bahan berongga yang dapat
memungkinkan air atau cairan lainnya dapat menembus atau merembes melalui hubungan
antara pori-pori disebut sebagai Permeabilitas. Bahan atau material yang mempunyai pori-
pori kontinue disebut permeable (dapat tembus), kerikil mempunyai sifat permeabel yang
tinggi sedangkan lempung kaku mempunyai sifat permeable yang rendah. Studi mengenai
aliran air melalui pori-pori tanah diperlukan dalam mekanika tanah karena hal ini sangat
berguna di dalam :
a Memperkirakan jumlah rembesan dalam tanah
b Menyelidiki permasalahan-permasalahan yang menyangkut pemompaan air untuk
konstruksi dibawah tanah.
c Menganalisa kestabilan dari suatu bendungan tanah dan konstruksi dinding penahan
tanah yang terkena gaya rembesan.
Menurut persamaan Bernoulli, tinggi energi total pada suatu titik didalam air yang
mengalir dapat dinyatakan sebagai penjumlahan dari tinggi tekanan, tinggi kecepatan dan
tinggi elevasi, atau :
p v
h  2z
γw 2g

p 2
Tinggi tekanan ; v Tinggi kecepatan ; z Tinggi elevasi
γw 2g

dimana : h : Tinggi energi total


p : Tekanan
v : Kecepatan
g : Percepatan karena gravitasi bumi
w : Berat volume air

Apabila persamaan Bernaoulli diatas dipakai untuk air yang mengalir melalui pori-pori
tanah bagian dari persamaan yang mengandung tinggi kecepatan dapat diabaikan. Hal ini
disebabkan karena kecepatan rembesan air didalam tanah adalah sangat kecil. Maka dari itu,
tinggi energi total pada suatu titik dapat dinyatakan sebagai berikut:
p
h z
γw
Material lempung dan lanau dalam deposit alami mempunyai angka pori yang besar
tetapi hampir tidak permeabel atau tidak tembus air, terutama oleh ruang kosongnya yang
berukuran kecil walaupun faktor yang lain ikut mempengaruhi, istilah porositas (n) dan angka
pori (e) dipergunakan untuk menerangkan ruang kosong didalam suatu massa tanah.
Gradien kecepatan pada jarak radial (r) dari pusat tabung adalah dv/dr, gaya-gaya dari
suatu lapisan bebas (freebody) silinder air dengan dimensi dapat dilihat pada persamaan
berikut :
h = (2 r L) dv/dr
=  r2 . h1 . w – r2. h2. w
dengan pemisahan variabel-variabel, mengkombinasikan dengan
i = (h2 – h) / L
didefenisikan sebagai gradien hidrolis serta integrasi diperoleh :
γw 2
Vr = - r .i 
c4
Pada r = R . Vr = 0, persamaan diatas menjadi :
γw
Vr = i . . 2  ..SR (R2 – r2)
4n
γw
Aliran total dalam waktu dengan integral diperoleh : Q . R2.i
= 8n

Koefisien Rembesan
Koefisien rembesan (coefficient of permeability) mempunyai satuan yang sama
dengan kecepatan. Istilah koefisien rembesan sebagian besar digunakan oleh para ahli teknik
tanah (geoteknik), para ahli geologi menyebutnya sebagai konduktifitas hidrolik (hydraulic
conductivity).
Penentuan koefisien permeabilitas dapat dilakukan dengan salah satu cara yang
tersedia, nilai perkiraan dapat diperoleh dari laboratorium dengan menggunakan metode
permeabilitas tinggi konstan (constant head) ataupun tinggi yang menurun (falling head).
Percobaan tinggi menurun lebih ekonomis untuk percobaan berjangka lama sedangkan
untuk perbedaan tinggi konstan lebih sesuai untuk tanah berbutir kasar seperti pasir dan
kerikil yang mempunyai angka pori yang lebih besar dimana kualitas aliran yang besar akan
diinginkan untuk mempertinggi ketepatan perhitungan.
Koefisien tanah tergantung pada beberapa faktor seperti kekentalan cairan, distribusi
ukura pori, distribusi ukuran butir, angka pori, kekasaran permukaan butiran tanah da derajat
kejenuhan tanah. Pada tanah berlempung, struktur tanah memegang peranan penting dalam
menentukan koefisien rembesan. Faktor lain yang mempengaruhi sifat rembesan tanah
lempung adalah konsentrasi ion dan ketebalan lapisan air yang menempel pada butiran
lempung.
Harga koefisien rembesan (k) untuk tiap-tiap jenis tanah adalah berbeda-beda. Nilai
koefisien rembesan diterangkan dalam tabel berikut:

Tabel 1. koefisien rembesan (k) untuk setiap jenis tanah yang berbeda
Jenis tanah K (cm/detik)
Kerikil bersih 1.0 – 100
Pasir kasar bersih 1.0 – 2 x 10-2
Pasir campuran lempung,
2 x 10-2 – 5 x 10-2
lanau
Pasir halus 5 x 10-2 – 2 x 10-3
Pasir kelanauan 2 x 10-3 – 5 x 10-4
Lanau 5 x 10-4 – 2 x 10-5
Lempung 2 x 10-5 – 10-9

Tabel 2. nilai koefisoen permeabilitas secara kasar


Koefisien rembesan K  rata-rata butir tanah
Jenis tanah
(cm/det) (mm)
Lempung
5.0 x 10-6 0.00 – 0.01
Lanau
4.5 x 10-4 0.01 – 0.05
Pasir sangat
3.5 x 10-3 0.05 – 0.10
halus
1.5 x 10-2 0.10 – 0.25
Pasir halus
8.5 x 10-1 0.25 – 0.50
Pasir sedang
3.5 x 10-1 0.50 – 1.00
Pasir kasar
3.0 1.00 – 5.00
Kerikil kecil

Daya rembesan suatu macam tanah tertentu dapat dihubungkan dengan angka pori
menurut persamaan berikut :
k . c3
K=
1c
dimana : K = koefisien daya rembesan
c = angka pori
k = konstanta
Hasil percobaan laboratorium menujukkan bahwa rumus ini cukup baik pada material
pasir tetapi kurang baik pada tanah lempung. Jumlah air yang merembes melalui tanah dalam
waktu tertentu adalah menurut hukum Darcy sebagai berikut :
Q=k.i.A
Q.i
K= dimana i = gradien hidrolis
A.ht
A = luas penampang (cm2)
t = waktu (dt)
Q = jumlah air yang keluar dalam waktu t (cm3/dt)

Tabel 3. Temperatur
vs Viskositas
Dinamis dan tarikan
permukaan untuk air

Tarikan permukaan,
T 0C . KN/m3 . Dyne. s/cm2
dyne/cm
4 9,807 0,01567 75,6
16 9,7969 0,01111 73,4
18 9,7935 0,01056 73,1
20 9,7896 0,01005 72,8
22 9,7854 0,00958 72,4
24 9,7808 0,00914 72,2
26 9,7758 0,00874 71,8
28 9,7704 0,00836 71,4
30 9,7646 0,00801 71,2
Sumber : Sifat-sifat fisis dan geoteknis tanah, Joseph E. Bowles
Gambar Kisaran (range) koefisien permeabilitas dan metode pengujian yang dianjurkan

Gambar diatas memperlihatkan kisaran (range) nilai-nilai k yang mungkin akan


diperoleh. Koefisien permeabilitas digambarkan dalam skala log karena kisaran
permeabilitasnya sangat besar. Tidak ada sifat-sifat teknis material lainnya yang
memperlihatkan range sedemikian besarnya seperti pada permeabilitas tanah.
Falling Head Test
dh
Pada tabung gelas pengukur : dQ = - xa
dt
Pada contoh tanah : dQ = k . i. A
Dengan penjabaran rumus didapat persamaan permeabilitas sebagai berikut :

a. h
1
K = 2,30 Log
L h2
A.
t
Dimana : K = koefisien permeabilitas (cm/detik
a = luas penampang tabung gelas pengukur (cm2)
A = luas penampang cotoh tanah (cm2)
L = tinggi atau panjang contoh tanah (cm)
T = lama waktu percobaan, t2 – t1 (detik)
Gambar variasi
n70C/n200C
dengan temperatur uji

h1 = tinggi air pada t1 (cm)


h2 = tinggi air pada t2 (cm)
Sebagai standard koefisien permeabilitas dihitung pada suhu 20 0C. Apabila pada saat
percobaan suhunya tidak sama dengan 20 0C, maka koefisien permeabilitas dikoreksi dengan
menggunakan persamaan ;
μT
K 200 C = KT x
μ 20 C
0

Dimana : K200 C = Koefisien permeabilitas pada suhu standard


KT = Koefisien permeabilitas pada suhu percobaan
T = kekentalan air pada suhu percobaan
20 0C = kekentalan air pada suhu 20 0C
Gambar : Skema terinci dari pengujian di laboratorium untuk menentukan koefisien
permeabilitas. Gunakan bagian kanan untuk mengetahui istilah – istilah yang
digunakan dalam uji tinggi konstan dan bagian kiri untuk uji tinggi jatuh.

Constant Head Test

L Contoh Tanah
( Luas A )

Dari persamaan Q = k . i . A di dapatkan persamaan koefisien rembesan pada constant head


sebagai berikut :
Q h
K=  i
i.A . t L

Q.L
K = h. A . t
LABORATORIUM MEKANIKA TANAH
JURUSAN TEKNIK SIPIL
UNIVERSITAS ASAHAN
JL.Jend. Ahmad Yani Kisaran

Data Hasil Percobaan

 Constand Head (uji tinggi jatuh)

DATA HASIL PERCOBAAN


Keterangan Sampel 1 Sampel 2 Satuan
Diameter Dalam Buret 1,3 1,3 cm
Luas Potongan Dalam Buret (a) 1,33 1,33 cm2
Diameter contoh Tanah 15,3 15,3 cm
Luas Potongan Contoh Tanah (A) 183,76 183,76 cm
Tinggi Contoh Tanah (L) 6 6 cm
Waktu mulai (t1) 0 0 cm
Waktu Akhir (t2) 70 51,21 detik
H 240 230 cm
(t2 – t1) 70 51,21 detik
L/h 0,025 0,026
V 3,43 4,50 cm/det
L V
KT =  6,7 x 10-6 1,25 x 10-5 cm/det
h A(t2  t1 )
T 0C 28 28 0
C
0
µT / µ20 C 0,83 0,83 cm/det
T
K20 = KT 
5,6 x 10-6 1,04 x 10-5 cm/det
 C0
20

Koefisien Rembesan 6,7 x 10-6 1,25 x 10-5 cm/det

GROUP II Kisaran, 27 Oktober 2020


Dosen Pembimbing
NAMA NIM
1. Richard Syatria Adjie 18011024
2. Nurul Hayati 18011003
3. Nurul Ikhsan 18011027
4. Rizky Bayu Setiawan 18011021
5. Wahyu Ramadhani 18011006 Alexander Tuahta S, ST,MT
V. ANALISA DATA
1. Constand Head (Uji Tinggi Konstan)
Sampel I
Diameter dalam buret = 1,3 cm
Luas potongan buret (a)

a = 1   d = 1  3,14
2 4 4
(1,3)2
= 1,33 cm2
Diameter contoh tanah = 15,3 cm
Luas potongan contoh tanah (A)

A = 1   d 2 = 1  3,14  (15,3)2
4 4
= 183,76 cm2
H = 240 cm
V = 3,43 cm3 / detik

KT = L V
H A(t2  t1 )

6
= 240 3,43
 183,76(70  0)

= 6,7 x 10-6 cm / detik


dari grafik diatas, maka diperoleh nilai ;
T
= 0,83
20
maka nilai yang diperoleh pada saat suhu 28 0C adalah :
T
K20 0C = KT x
 200C
= 6,7 x 10-6 x 0,83
= 5,6 x 10-6 cm / detik

 Sampel II
Diameter dalam buret = 1,3 cm
Luas potongan buret (a)

a = 1   d = 1  3,14
2 4 4
(1,3)2
= 1,33 cm2
Diameter contoh tanah = 15,3 cm
Luas potongan contoh tanah (A)

A = 1   d 2 = 1  3,14  (15,3)2
4 4
= 183,76 cm2
H = 240 cm
V = 4,50 cm3 / detik

KT L V
H  A(t2  t1 )
=

6
= 240 4,50
 183,76(51,21 0)

= 1,25 x 10-5 cm / detik


dari grafik diatas, maka diperoleh nilai ;
T
= 0,83
20
maka nilai yang diperoleh pada saat suhu 28 0C adalah :
T
K20 0C = KT x
 200C
= 1,25 x 10-5 x 0,83
= 1,04 x 10-5 cm / detik
DOKUMENTASI PERCOBAAN PERMEABILITY
VI. KESIMPULAN DAN SARAN

1. Kesimpulan
a. Dari dua cara yang digunakan diperoleh :
Constant Head:
Sampel I :
KT = 6,7 x 10-6 cm / detik
K20 0C = 5,6 x 10-6 cm / detik

Sampel II :
KT = 1,25 x 10-5 cm / detik
K20 0C = 1,04 x 10-5 cm / detik

Dapat disimpulkan bahwa material berbutir kasar lebih cepat merembes dari pada
material berbutir halus.

2. Saran
Dari hasil percobaan didapat suatu ketelitian yang cukup baik dan dalam percobaan
sebaiknya segala bentuk perubahan yang terjadi harus dipertimbangkan karena setiap
perubahan selalu mempengaruhi data yang dihasilkan.
PERCOBAAN PEMADATAN
(COMPACTION)

JURUSAN TEKNIK SIPIL


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS ASAHAN
2020
Group
II Percobaan Pemadatan
(Compaction)
PERCOBAAN PEMADATAN
(COMPACTION)

I. Tujuan
Percobaan ini dimaksudkan untuk mengetahui hubungan kadar air dan kepadatan
tanah. Dapat disebut juga Proctor test dan dapat dilakukan secara standard (ST) maupun
modified (Mod).

II. PERALATAN
1. Mold pemadatan  4“
2. Mold pemadatan  6”
3. Palu pemadatan standard
4. Palu pemadatan modified
5. Palu karet
6. Cawan
7. Pisau pemotong
8. Gelas ukur 1000 ml
9. Extruder mold
10. Dongkrak

Laporan Praktikum Mekanika Tanah 2020


Mold  6”

Gelas ukur
Pemadatan Modified

Extruder mold
Palu pemadatan standar

Dongkrak
Mold
 4”

Cawan
Pisau Pemotong

Palu Karet
Oven

Timbangan 0,01gr

Jangka sorong

Timbangan 1,5kg
III. PROSEDUR KERJA
1. Siapkan sampel tanah yanng sudah dijemur lalu hancurkan gumpalan gumpalannya
dengan menggunakan palu karet lalu diayak menggunakan ayakan no.4 dan diambil
tanah yang lolos ayakan no.4 minimal 10kg untuk percobaan standard compaction dan
minimal 25kg untuk percobaan modified compaction.
2. Tentukan kadar air tanah tersebut dengan menggunakan speedy.
3. Pisahkan lima buah sampel tanah tersebut masing – masing 2 kg dan 5 kg lalu
masukan kekantong plastik.
4. Ambil salah satu sampel tadi kemudian semprotkan dengan air sedikit demi sedikit
sambil diaduk-aduk dengan tangan sampai merata. Penambahan air dilakukan sampai
didapat campuran tanah yang bila dikepal dengan tangan lalu tidak hancur atau
lengket. Setelah itu didapat campuran tanah seperti ini dicatat jumlah air yang
ditambahkan tadi.
5. Isikan data tersebut pada formulir kolom-kolom samping kiri dan kanan untuk kadar
air 5 % dan 10 % diatas dan dibawah kadar air minimum .
6. Hitunglah penambahan air yang diperlukan untuk membuat sampel tanah dengan
kadar air tersebut. Lakukan penambahan air sesuai dengan perhitungan lalu simpan
sampel tanah tersebut selama 24 jam agar didapat kadar air optimum yang benar benar
merata.
7. Timbangan mold standart berikut alasnya dengan ketelitian 1 gram, beri tanda mold
tersebut dengan spidol agar tidak tertukar.
8. Pasang collar lalu kencangkan mur penjepit ditempatkan pada tumpuan yang kokoh.
9. Ambil salah satu sampel tanah dari kantong plastik yang telah dipersiapkan lalu isikan
kedalam mold kurang lebih sampai setengah tinggi. Tumbukan dengan palu
pemadatan standart sebanyak 25 tumbukan secara merata sehingga lapisan setelah
padat tanah teresebut mengisi kurang lebih sepertiga mold.
10. Lakukan hal yang serupa untuk lapisan kedua dan ketiga sehingga lapisan terakhir
mengisi sebagian collar (berada sedikit lebih tinggi dari pada tinggi mold).
11. Lepaskan collar dan ratakan kelebihan tanah pada mold denngan menggunakan pisau
pemotong.
12. Isikan rongga-rongga yang terbentuk dengan tanah sisi pemotongan tadi sehingga
didapatkan permukaan tanah yang merata.
13. Timbang mold berikut alas dan tanah yang berada didalamnya dengan ketelitian 1
gram.
14. Keluarkan sampel tanah yang telah didapat dari dalam mold dengan menggunakan
extruder lalu setiap mold diambil 3 bagian intinya untuk pemeriksaan kadar air.
15. Ulangi prosedur 9 sampai prosedur 14 untuk sampel tanah lain isikan data – data
tersebut pada formulir sehingga diperoleh 5 buah pemadatan.

IV. TEORI
Pemadatan adalah suatu kriteria untuk menaikan harga kekuatan, memperkecil
rembesan air pada tanah, jadi pemadatan adalah suatu proses dimana udara pori – pori
tanah dikeluarkan dengan salah satu mekanis untuk memadatkan tanah ada bermacam –
macam dilapangan diantaranya cara menggilas sedangkan dilaboratorium digunakan cara
memukul.
Untuk setiap daya pemadatan, kepadatan yang tercapai tergantung pada kadar air
dimana bila tanah keras dan kaku agak sulit untuk memadatkannya, pada pemadatan
digunakan energi yang sama, nilai kepadatan tergantung dari kadar air tersebut.
Hubungan antara berat isi ( γ dry desity ) dari tanah yang dipadatkan dengan kadar air
dari berat isi kering maksimum dan kadar air yang diperoleh pada pemedatan ini disebut
kadar air optimum.
Untuk menguji kekuatan tanah yang dipadatkan biasanya digunakan percobaan tanah
penetrasi, bahwa umumnya kekuatan tanah setelah pemadatan pemadatan menunjukan
harga maksimum pada kadar air yang sedikit lebih rendah dari kadar air optimum.
Kekuatan tanah berkurang sedikit lebih rendah tetapi jika tanah menyerap air tanah
yang dipadatkan dengan kadar air banyak sehingga tanah lembek akan mengakibatkan
kekuatan tanah akan berkurang. Kekuatan tanah yang maksimum seperti yang ditunjukan
oleh garis pada gambar akan berada disekitar kadar air optimum. Karateristik ini
merupakan sifat-sifat yang tepenting bagi bangunan tanah yang terganggu oleh
permeabilitas seperti bendungan, urugan tanggul sungai dan lain- lain . Dilaboratorium ada
dua macam percobaan yaitu standard ASTM dan modified. Untuk menentukan jenis tanah
maka akan dapat ditentukan berdasarkan nilai Gs sebagai berikut.

Tabel D.I. Nilai – nilai Gs pada tanah


JENIS TANAH Gs ( gr/m2 )
Kerikil 2,65 – 2,68
Pasir 2,65 – 2,68
Lanau tidak organik 2,65 – 2,68
Lempung organik 2,68 – 2,75
Humus 1,37
Gambut 1,25 – 1,80
Tabel II. Data – data alat untuk pemadatan

Keterangan Standart ( ASTM D 698 ) Modified

Palu
Tinggi jatuh palu 305 mm (12mm) 4,75 mm (18’’)
Jumlah lapisan 3 5
Jumlah tumbukan 25 56
Volume acuan 0,00093 0,0043 m2
Sumber : Mekanika tanah dan prinsip – prinsip rekayasa,Braja M,Das

V. PRINSIP PEMADATAN
Tingkat pemadatan tanah yang diukur dari volume berat kering tanah yang dipadatkan,
air tersebut berfungsi sebagai unsur pelumas partikel - partikel tanah. Karena ada air,
partikel partikel tanah tersebut akan lebih mudah bergerak dan bergeser satu sama lain dan
membentuk kedudukan yang rapat/padat.
Pemadatan adalah suatau proses, dimana udara pada pori – pori tanah dikeluarkan
dengan cara mekanis.
a) Mekanika kekuatan daya dukung tanah
b) Memperkecil kompresbility dan daya rembes air
c) Memperkecil pengaruh air terhadap tanah tersebut
Mudah atau tidak pemadatan dilaksanakan padat tanah yang ditentukan oleh kadar air
tanah tersebut yaitu :
a. Bila kadar air tanah tersebut rendah,tanah akan kaku dan sukar dipadatkan
b. Bila kadar air tersebut ditambahkan, maka air sebagai pelumas yang mempermudah
pelaksanaan pemadatan yang dilakukan.
Hasil percobaan pemadatan akan dilihat dengan sistem grafis yang ditentukan,
sehingga mempunyai syarat – yarat sebagai berikut :
a. Grafik-grafik yang didapat dari pemadatan tidak boleh memotong garis “zero air zoids
“ yang kadar air tertingginya harus sejajar dengan garis tersebut.
b. Skets gambar yang ditentukan adalah grafik pengaruh kadar air dan daya pemadatan
terhadap kepadatan yang ditetapkan.
Gambar E.1 : Hasil percobaan pemadatan
Gambar E.2 : Hasil Percobaan Compaction

Gambar E.3 :
Pengaruh Kadar Air dan Daya Pemadatan Terhadap Kepadatan Tanah
Gambar E.4 : Hasil Percobaan Compaction

a. Uji Proctor Standard Dan Proctor Modified


Pada uji proctor, tanah didapatkan dalam sebuah cetakan slinder bervolume
1/30 ft (943,3cm3 ). Diameter cetakan tersebut 4 inchi ( 10,16 ), selama percobaan
cetakan ini dikelem pada sebuah dasar dan diatasnya diberi panjang ( juga berbentuk
silinder ).

Tanah dicampur air dengan kadar air yang berbeda – beda kemudian
dipadatkan . Dengan menggunakan penumbuk khusus,pemadatan tersebut dilakukan
dalam 5 lapis, 25 kali untuk standard dan 56 kali untuk modified pada setiap
lapisannya Berat penumbuk adalah 5,5 lb untuk penumbuk standart,dan 10 lb untuk
penumbuk modified pada setiap lapisannya, dengan tinggi jatuh 12” dan 18”. Untuk
setiap percobaan, berat volume basah dari tanah yang dipadatkan tersebut dapat
dihitung :

Volume basah W...................................


(1)
= V

Dimana :
W = Berat tanah yang dipadatkan
V = Volume cetakan (1/3 ft3 = 928,9 cm3 )
Juga pada setiap percobaan, besarnya kadar air dalam tanah dipasitkan dapat
ditentukan dalam laboratorium. Bila kadar air diketahui, serta volume kering dari
tanah tersebut dapat dihitung ;

d  .......................................... (2)
W%
1 100

dimana :
W = Persentase kadar air
 = berat isi tanah basah
 d = berat isi tanah kering

Nilai d dari persamaan (2) tersebut dapat digambarkan terhadap kadar air untuk
mendapatkan volume kering maksimum dan kadar air optimum. Gambar dibawah ini
menunjukan suatu grafik hasil pemadatan suau tanah lempung berlanau.

Prosedur pelaksanaan uji proctor standart lebih dirinci dalam ASTM test designation
D-698 dan dalam AASHTO test desugnation T-99. Untuk suatu kadar air tersebut,
berat volume kering maksimum secara teoritis didapat bila pori-pori tanah sudah tidak
ada udaranya lagi, yaitu pada saat dimana derajat kejenuhan telah sama dengan 100%.
Jadi berat kering maksimum (teoritis) pada suatu kadar air tertentu dengan kondisi
zero dry voids (pori-pori tanah tidak mengandung udara sama sekali). Dan dapat
ditulis sebagai berikut :

 Gs.w …………………………………(3)
 1
Zav
Gs.w
Dimana
:
zav = Berat volume pada kondisi zero dry voids
w = Berat volume air
Gs = 2.650 Gr/cc Tabel 1 Nilai-nilai Gs (lanau tidak organik)
w = Kadar air

Untuk mendapatkan variasi dari zav terhadap air gunakan prosedur sebagai berikut:
1. Tentukan berat spesifikasi butiran tanah
2. Cari berat volume
3. Tentukan sendiri berapa kadar air,misalnya 2 %,4 %,6 % dan seterusnya.
4. Gunakan persamaan (3) untuk mencari zav dari kadar air tersebut.
Gambar juga menunjukan variasi dari zav terhadap kadar air dan tempat kurva
tersebut , terhadap kurva pemadatan. Dalam keadaan apapun kurva pemadatan tidak boleh
memotong kurva zero dry voids.
1) Faktor – faktor yang mempengaruhi Pemadatan
Pada sub bab terdahulu ditunjukan bahwa kadar air mempunyai pengaruh yang
besar pada tingkat pemadatan yang dicapai oleh suatu tanah. Disamping pada kadar
air, faktor – faktor lain juga mempengaruhi pemadatan adalah jenis tanah dan usaha
pemadatan.
VI. TEORI RUMUS
Rumus – rumus yang digunakan pada perhitungan Compaction Test adalah :
• Menentukan berat air ( Ww )
Ww = Berat (cawan + tanah basah) – Berat (cawan + tanah kering)
• Menentukan berat tanah kering ( Ws )
Ws = Berat (cawan + tanah kering) – berat cawan
• Menghitung kadar air (W)

W =
Ww x100
Ws
• Menentukan berat isi tanah ()

(Berat mold  tan ah)  berat mold


 = volumemold
• Menentukan berat isi kering (d)

d
100  W
=
• Menentukan Zero Air Voids ( ZAV)

 Zav
Gs.w
 1 Gs.W

Keterangan :
Gs = 2,65 gr/m2 (jenis tanah lanau tidak organik)
γw = Berat Volume Air
Ww = Berat air
Wt = Berat tanah basah
Ws = Berat tanah kering
W = Kadar air
γ = Berat isi tanah
γd = Berat isi kering
γzav = Berat volume pada kondisi zero dry voids
GAMBAR PUKULAN
MOLD STANDART (2 kg)

PUTARAN I

1
5 7

3 9 4

8 6
2

PUTARAN II

10
16
14

17 13
12

15 11

PUTARAN III

18 23

20 21
25

20 19
24

a. Setiap Mold Standard, Sample Terdiri Dari 3 Lapisan.


- Setiap lapisan terdiri dari 25 kali pukulan.
- Setiap lapisan terdiri dari 3 kali putaran yang masing-masing 9, 8, dan 8 kali pukulan.
GAMBAR PUKULAN
MOLD MODIFIED (4 kg)

PUTARAN I PUTARAN II

1 15
20
8 6 22
27 25
4 13 11
18 19
105 24
17
12 14 3 26 28
23
7 9 21
2 16

PUTARAN III PUTARAN IV

29 34
43 48
36 39 53
41 50
33 55
32 31 47 45
38
42 46 52
56
40 37 51
54
35 30
49 44

b. Setiap mold modified, sample terdiri dari 5 lapisan.


- Setiap lapisan terdiri dari 56 kali pukulan.
- Setiap lapisan terdiri dari 4 kali putaran yang masing-masing 14 kali pukulan.
LABORATORIUM MEKANIKA TANAH
JURUSAN TEKNIK SIPIL
UNIVERSITAS ASAHAN
Jl. Jend. Ahmad Yani, Telp, (0623) 347222 KISARAN – 21224
STANDARD COMPACTION TEST
AASHTO T99 / T180

Date of test : 27 - 10 - 2020 Sample No. :


Location : Date of sampling :
Material : Lempung, merah Tested by : Group II
Test No. 1 2 3 4 5
Weight of Wet Soil (gr) 2000 2000 2000 2000 2000
Water Added (cc) 240 280 320 360 400
Water Added (%) 12 14 16 18 20
DENSITY DETERMINATION
a Weight. of Sample+Mold (gr) 5254.0 5293.0 5487.0 5703.0 5682.0
b Weight of Mold (gr) 3822.0 3822.0 3822.0 3822.0 3822.0
c Volume of Mold (cm3) 964.94 964.94 964.94 964.94 964.94
d Weight of Wet Soil ( a-b ) (gr) 1432.0 1471.0 1665.0 1881.0 1860.0
e Wet Density ( d / c ) (gr/cm3) 1.484 1.524 1.725 1.949 1.928
f Water content (%) 17.86 16.13 15.63 20.69 20.83
g Dry Density (100*e/f+100) (gr/cm3) 1.259 1.313 1.492 1.615 1.595
h Zero Air Void 1.840 1.901 1.919 1.749 1.745
WATER CONTENT
Tare number A4 AIII K41 3E KN
a Weight of Wet Soil + Tare (gr) 44.00 47.00 48.00 46.00 40.00
b Weight of Dry Soil + Tare (gr) 39.00 42.00 43.00 40.00 35.00
c Weight of Tare (gr) 11.00 11.00 11.00 11.00 11.00
d Weight of Water ( a-b ) (gr) 5.00 5.00 5.00 6.00 5.00
e Weight of Dry Soil ( b- c) (gr) 28.00 31.00 32.00 29.00 24.00
f Water Content ( 100*d/e) (%) 17.86 16.13 15.63 20.69 20.83
Average Water Content (%) 17.86 16.13 15.63 20.69 20.83
COMPACTION CURVE RESULT OF TEST

2.200 Compaction Methode Standard


2.100 3 2.741
Specific Gravity (gr/cm )
2.000
Wet density Max. (gr/cm3) 1.725
1.900 MDD = 1,492 gr/cm³
Water Content Optimum (%) 15.63
1.800
Dry density Max. (gr/cm3) 1.492
Dry Density (t/m3)

1.700
OMC = 15,63% 95 % Dry density Max. (gr/cm3) 1.418
1.600

1.500
Rammer :
1.400 Weight : 2000 gr.
1.300 Height of drop : 304,8 mm
Blows per layer : 25
1.200 Number of layer : 3
1.100

1.000 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25

Water Content (%)

Group II Kisaran, 27 Oktober 2020


1. Richard Syatria Adjie 18011024 Dosen Pembimbing
2. Nurul Ikhsan 18011027
3. Nurul Hayati 18011003
4. Rizky Bayu Setiawan 18011021
5. Wahyu Ramadhani 18011006 Alexander T. Sihombing,ST,M.T
MODIFIED COMPACTION TEST
AASHTO T99 / T180

Date of test : 27 - 10 - 2020 Sample No. :


Location : Date of sampling :
Material : Lempung, merah Tested by : Group II
Test No. 1 2 3 4 5
Weight of Wet Soil (gr) 2000 2000 2000 2000 2000
Water Added (cc) 260 300 340 380 420
Water Added (%) 13 15 17 19 21
DENSITY DETERMINATION
a Weight. of Sample+Mold (gr) 9740.0 10432.0 10387.0 10283.0 10209.0
b Weight of Mold (gr) 5893.0 5893.0 5893.0 5893.0 5893.0
c Volume of Mold (cm3) 2066.51 2066.51 2066.51 2066.51 2066.51
d Weight of Wet Soil ( a-b ) (gr) 3847.0 4539.0 4494.0 4390.0 4316.0
e Wet Density ( d / c ) (gr/cm3) 1.862 2.196 2.175 2.124 2.089
f Water content (%) 14.81 18.18 27.27 23.08 27.59
g Dry Density (100*e/f+100) (gr/cm3) 1.621 1.859 1.709 1.726 1.637
h Zero Air Void 1.949 1.829 1.568 1.679 1.561
WATER CONTENT
Tare number D1 D2 3C 2F G
a Weight of Wet Soil + Tare (gr) 42.00 50.00 40.00 28.00 49.00
b Weight of Dry Soil + Tare (gr) 38.00 44.00 34.00 25.00 41.00
c Weight of Tare (gr) 11.00 11.00 12.00 12.00 12.00
d Weight of Water ( a-b ) (gr) 4.00 6.00 6.00 3.00 8.00
e Weight of Dry Soil ( b- c) (gr) 27.00 33.00 22.00 13.00 29.00
f Water Content ( 100*d/e) (%) 14.81 18.18 27.27 23.08 27.59
Average Water Content (%) 14.81 18.18 27.27 23.08 27.59
COMPACTION CURVE RESULT OF TEST

2.200 Compaction Methode Standard

2.100 Specific Gravity 3


(gr/cm ) 2.741
Wet density Max. (gr/cm3) 2.175
2.000 MDD = 1,709 gr/cm³
Water Content Optimum (%) 27.27
1.900 Dry density Max. (gr/cm3) 1.709
Dry Density (t/m3)

OMC = 27,27%
95 % Dry density Max. (gr/cm3) 1.623
1.800

1.700 Rammer :
Weight : 4000 gr.
1.600 Height of drop : 457 mm
Blows per layer : 56
Number of layer : 5
1.500

1.400
12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30

Water Content (%)


Group
II Percobaan Pemadatan
(Compaction)
VII. ANALISA DATA
I. Mold Standard
Diameter Mold = 10,1 cm
Tinggi Mold = 12,05 cm
Berat Mold = 3822 gram
Volume Mold (1/4)*(II)*(D2)*(T) = 0,25 x 3,14 x 10,1 x 10,1 x 12,05 = 964,94 cm3

 DENSITY DETERMINATION (Penentuan Berat Isi)


 SAMPLE I
a. Weight. of Sample+Mold = 5254 gr
b. Weight of Mold = 3822 gr
c. Volume of Mold = 964,94 cm³
d. Weight of Wet Soil ( a-b ) = 1432,0 gr
e. Wet Density (d/c) = 1,484 gr/cm³
f. Water content = 17,86%
g. Dry Density (100*e/f+100) = 1,259 gr/cm³
h. Zero Air Void = 1,840

 SAMPLE II
a. Weight. of Sample+Mold = 5293 gr
b. Weight of Mold = 3822 gr
c. Volume of Mold = 964,94 cm³
d. Weight of Wet Soil ( a-b ) = 1471,0 gr
e. Wet Density (d/c) = 1,524 gr/cm³
f. Water content = 16,13%
g. Dry Density (100*e/f+100) = 1,313 gr/cm³
h. Zero Air Void = 1,901

 SAMPLE III
a. Weight. of Sample+Mold = 5487 gr
b. Weight of Mold = 3822 gr
c. Volume of Mold = 964,94 cm³
d. Weight of Wet Soil ( a-b ) = 1665,0 gr
e. Wet Density (d/c) = 1,725 gr/cm³
f. Water content = 15,63%
g. Dry Density (100*e/f+100) = 1,919 gr/cm³
h. Zero Air Void = 1,919

Laporan Praktikum Mekanika Tanah 2020


 SAMPLE IV
a. Weight. of Sample+Mold = 5703 gr
b. Weight of Mold = 3822 gr
c. Volume of Mold = 964,94 cm³
d. Weight of Wet Soil ( a-b ) = 1881,0 gr
e. Wet Density (d/c) = 1,949 gr/cm³
f. Water content = 20,69%
g. Dry Density (100*e/f+100) = 1,615 gr/cm³
h. Zero Air Void = 1,749

 SAMPLE V
a. Weight. of Sample+Mold = 5682 gr
b. Weight of Mold = 3822 gr
c. Volume of Mold = 964,94 cm³
d. Weight of Wet Soil ( a-b ) = 1860,0 gr
e. Wet Density (d/c) = 1,928 gr/cm³
f. Water content = 20,83%
g. Dry Density (100*e/f+100) = 1,595 gr/cm³
h. Zero Air Void = 1,745

 WATER CONTENT (Kadar Air)


 SAMPLE I
a. Weight of Wet Soil + Tare = 44,00 gr
b. Weight of Dry Soil + Tare = 39,00 gr
c. Weight of Tare = 11,00 gr
d. Weight of Water ( a-b ) = 5,00 gr
e. Weight of Dry Soil ( b- c) = 28,00 gr
f. Water Content ( 100*d/e) = 17,86%
g. Average Water Content = 17,86%

 SAMPLE II
a. Weight of Wet Soil + Tare = 47,00 gr
b. Weight of Dry Soil + Tare = 42,00 gr
c. Weight of Tare = 11,00 gr
d. Weight of Water ( a-b ) = 5,00 gr
e. Weight of Dry Soil ( b- c) = 31,00 gr
f. Water Content ( 100*d/e) = 16,13%
g. Average Water Content = 16,13%

 SAMPLE III
a. Weight of Wet Soil + Tare = 48,00 gr
b. Weight of Dry Soil + Tare = 43,00 gr
c. Weight of Tare = 11,00 gr
d. Weight of Water ( a-b ) = 5,00 gr
e. Weight of Dry Soil ( b- c) = 32,00 gr
f. Water Content ( 100*d/e) = 15,63%
g. Average Water Content = 15,63%

 SAMPLE IV
a. Weight of Wet Soil + Tare = 46,00 gr
b. Weight of Dry Soil + Tare = 40,00 gr
c. Weight of Tare = 11,00 gr
d. Weight of Water ( a-b ) = 6,00 gr
e. Weight of Dry Soil ( b- c) = 29,00 gr
f. Water Content ( 100*d/e) = 20,69%
g. Average Water Content = 20,69%

 SAMPLE V
h. Weight of Wet Soil + Tare = 40,00 gr
i. Weight of Dry Soil + Tare = 35,00 gr
j. Weight of Tare = 11,00 gr
k. Weight of Water ( a-b ) = 5,00 gr
l. Weight of Dry Soil ( b- c) = 24,00 gr
m. Water Content ( 100*d/e) = 20,83%
n. Average Water Content = 20,83%
II. Mold Modified
Diameter Mold = 15 cm
Tinggi Mold = 11,7 cm
Berat Mold = 5893 gram
Volume Mold (1/4)*(II)*(D2)*(T) = 0,25 x 3,14 x 15 x 15 x 11,7 = 2066,51 cm3

 DENSITY DETERMINATION (Penentuan Berat Isi)


 SAMPLE I
a. Weight. of Sample+Mold = 9740 gr
b. Weight of Mold = 5893 gr
c. Volume of Mold = 2066,51 cm³
d. Weight of Wet Soil ( a-b ) = 3847,0 gr
e. Wet Density (d/c) = 1,862 gr/cm³
f. Water content = 14,81%
g. Dry Density (100*e/f+100) = 1,621 gr/cm³
h. Zero Air Void = 1,949

 SAMPLE II
a. Weight. of Sample+Mold = 10432,0 gr
b. Weight of Mold = 5893 gr
c. Volume of Mold = 2066,51 cm³
d. Weight of Wet Soil ( a-b ) = 4539,0 gr
e. Wet Density (d/c) = 2,196 gr/cm³
f. Water content = 18,18%
g. Dry Density (100*e/f+100) = 1,859 gr/cm³
h. Zero Air Void = 1,829

 SAMPLE III
a. Weight. of Sample+Mold = 10387,0 gr
b. Weight of Mold = 5893 gr
c. Volume of Mold = 2066,51 cm³
d. Weight of Wet Soil ( a-b ) = 4494,0 gr
e. Wet Density (d/c) = 2,175 gr/cm³
f. Water content = 27,27%
g. Dry Density (100*e/f+100) = 1,709 gr/cm³
h. Zero Air Void = 1,568
 SAMPLE IV
a. Weight. of Sample+Mold = 10283,0 gr
b. Weight of Mold = 5893 gr
c. Volume of Mold = 2066,51 cm³
d. Weight of Wet Soil ( a-b ) = 4390,0 gr
e. Wet Density (d/c) = 2,124 gr/cm³
f. Water content = 23,08%
g. Dry Density (100*e/f+100) = 1,726 gr/cm³
h. Zero Air Void = 1,679

 SAMPLE V
a. Weight. of Sample+Mold = 10209,0 gr
b. Weight of Mold = 5893 gr
c. Volume of Mold = 2066,51 cm³
d. Weight of Wet Soil ( a-b ) = 4316,0 gr
e. Wet Density (d/c) = 2,089 gr/cm³
f. Water content = 27,59%
g. Dry Density (100*e/f+100) = 1,637 gr/cm³
h. Zero Air Void = 1,561

 WATER CONTENT (Kadar Air)


 SAMPLE I
a. Weight of Wet Soil + Tare = 42,00 gr
b. Weight of Dry Soil + Tare = 38,00 gr
c. Weight of Tare = 11,00 gr
d. Weight of Water ( a-b ) = 4,00 gr
e. Weight of Dry Soil ( b- c) = 27,00 gr
f. Water Content ( 100*d/e) = 14,81%
g. Average Water Content = 14,81%

 SAMPLE II
a. Weight of Wet Soil + Tare = 50,00 gr
b. Weight of Dry Soil + Tare = 44,00 gr
c. Weight of Tare = 11,00 gr
d. Weight of Water ( a-b ) = 6,00 gr
e. Weight of Dry Soil ( b- c) = 33,00 gr
f. Water Content ( 100*d/e) = 18,18%
g. Average Water Content = 18,18%

 SAMPLE III
a. Weight of Wet Soil + Tare = 40,00 gr
b. Weight of Dry Soil + Tare = 34,00 gr
c. Weight of Tare = 12,00 gr
d. Weight of Water ( a-b ) = 6,00 gr
e. Weight of Dry Soil ( b- c) = 22,00 gr
f. Water Content ( 100*d/e) = 27,27%
g. Average Water Content = 27,27%

 SAMPLE IV
a. Weight of Wet Soil + Tare = 28,00 gr
b. Weight of Dry Soil + Tare = 25,00 gr
c. Weight of Tare = 12,00 gr
d. Weight of Water ( a-b ) = 3,00 gr
e. Weight of Dry Soil ( b- c) = 13,00 gr
f. Water Content ( 100*d/e) = 23,08%
g. Average Water Content = 23,08%

 SAMPLE V
a. Weight of Wet Soil + Tare = 49,00 gr
b. Weight of Dry Soil + Tare = 41,00 gr
c. Weight of Tare = 12,00 gr
d. Weight of Water ( a-b ) = 8,00 gr
e. Weight of Dry Soil ( b- c) = 94,00 gr
f. Water Content ( 100*d/e) = 27,59%
g. Average Water Content = 27,59%
DOKUMENTASI PERCOBAAN COMPACTION
VIII. KESIMPULAN DAN SARAN
1. Kesimpulan :
 Dari hasil percobaan Compaction yang diperoleh hasil sebagai berikut :
1. Untuk Mold Standard diperoleh :
- MDD (Dry Density Max) = 1,492 gr/cm3
- OMC (Water Content Optimum) = 15,63%
2. Untuk Mold Modified diperoleh :
- MDD (Dry Density Max) = 1,709 gr/cm3
- OMC (Water Content Optimum) = 27,27%

2. Saran :
1. Dalam melakukan percobaan sebaiknya dipakai berbagai macam contoh tanah, hal ini
untuk mendapatkan perbedaan kadar air dan besar daya dukung tanah tersebut dari
masing-masing tanah yang bervariasi.
2. Untuk mendapatkan hasil yang akurat diharapkan ketelitian dalam pengukuran dan
penimbangan dengan menggunakan alat yang masih baik.
CALIFORNIA BEARING RATIO
(CBR LABORATORIUM)

JURUSAN TEKNIK SIPIL


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS ASAHAN
2020
Group
II California Bearing Ratio (CBR
Laboratorium)

CALIFORNIA BEARING RATIO


(CBR LABORATORIUM)

I. MAKSUD
Pengujian CBR (California Bearing Ratio) laboratorium yang dimaksudkan
pada standar ini adalah penentuan nilai CBR contoh material tanah, agregat atau campuran
tanah dan agregat yang dipadatkan di laboratorium pada kadar air sesuai yang ditentukan.

II. PERALATAN
a. Cetakan - Cetakan berupa silinder dari logam dengan ukuran diameter bagian dalam
(152,40 ± 0,66) mm dan tinggi (177,80 ± 0,46) mm. Cetakan harus dilengkapi leher
sambung (extension collar) dengan tinggi ± 50 mm dan keping alas yang berlubang
banyak yang dapat dipasang pas (tidak bergerak) pada kedua ujung cetakan, lihat
Lampiran A. Setiap pengujian, paling kurang disediakan tiga cetakan;

b. Keping pemisah - Sebuah keping pemisah dari logam, berpenampang bundar


(lingkaran) dengan diameter (150,80 ± 0,80) mm dan tinggi (61,37 ± 0,25) mm, lihat
Lampiran A dan CATATAN 1;

CATATAN 1 - Apabila menggunakan cetakan dengan tinggi 177,80 mm, diperlukan


keping alas dengan tinggi 61,37 mm untuk menghasilkan ketebalan atau tinggi benda
uji padat 116,43 mm sesuai SNI 1742 : 2008 atau SNI 1743 : 2008.

c. Penumbuk - Alat penumbuk yang digunakan sesuai SNI 1742:2008 atau SNI
1743:2008;

d. Peralatan pengukur pengembangan - Terdiri dari keping pengembangan dengan


tangkai/batang yang dapat diatur, lihat Lampiran A, dan sebuah kaki tiga (tripot)
untuk dudukan arloji ukur pengembangan. Keping pengembangan harus dibuat dari
logam dengan diameter (149,20 ± 1,60) mm dan dibuat berlubang banyak dengan
diameter lubang 1,60 mm. Kaki tiga yang digunakan untuk dudukan arloji ukur
pengembangan dipasang pada permukaan cetakan atau jika diperlukan, pada
permukaan leher sambung;

e. Arloji ukur - Dua arloji ukur, masing-masing harus berkapasitas 25 mm dengan


ketelitian pembacaan sampai 0,02 mm;

Laporan Praktikum Mekanika Tanah 2020


f. Keping beban - Keping beban dari logam, berpenampang bundar (lingkaran) dengan
lubang berdiameter ± 54,00 mm di tengah-tengahnya atau berupa keping terpisah
(belah). Diameter keping beban (149,20 ± 1,60) mm dengan massa setiap keping
(2,27 ± 0,04) kg, lihat Lampiran A dan CATATAN 2;

CATATAN 2 - Jika menggunakan keping yang terpisah, massa total


(sepasang) keping tersebut harus (2,27 ± 0,04) kg.
g. Piston penetrasi - Sebuah piston dari logam, berpenampang bundar (lingkaran) dengan
diameter (49,63 ± 0,13) mm, luas penampang 1935 mm2 (3 inci2) dan panjang tidak
kurang dari 102 mm, lihat Lampiran A;
h. Peralatan pembebanan - Sebuah peralatan tekan yang mampu memberikan
peningkatan beban yang seragam pada kecepatan penetrasi piston ke dalam benda uji
sebesar 1,27 mm/menit. Kapasitas peralatan tekan ini harus melebihi kapasitas
kekuatan material yang diuji;
i. Bak perendam - Sebuah bak perendam yang sesuai untuk mempertahankan tinggi air
25 mm di atas permukaan benda uji;
j. Oven pengering - Sebuah oven pengering yang dilengkapi pengatur suhu, mampu
mempertahankan suhu (110 ± 5) C untuk mengeringkan contoh basah;
k. Cawan kadar air - Cawan kadar air sesuai SNI 1965:2008;
l. Peralatan bantu - Peralatan bantu seperti bak pencampur (baki), sendok pengaduk,
pisau pemotong, alat perata (straightedge), kertas filter dan timbangan.
III. PROSEDUR PERCOBAAN
a. Benda Uji

Benda uji harus dipersiapkan menurut cara : Pengujian Pemadatan Ringan Untuk
Tanah, (SKBI 3.3.30. 1987/UDC. 624.131.43 (02)) atau Pengujian Pemadatan Berat
Untuk Tanah (SKBI 3.3.30.1987/UDC. 624.131.53.(02)).
b. Ambil contoh kira-kira seberat 5 kg atau lebih untuk tanah dan 5,5 kg untuk campuran
tanah atau agregat.
c. Kemudian campur bahan tersebut dengan air sampai kadar air optimum.
d. Pasang cetakan pada keping alas dan timbang. Masukan piringan pemisah (spacer disc)
diatas keping alas dan pasang kertas saring diatasnya.
e. Padatkan masing-masing bahan tersebut di dalam cetakan dengan jumlah tumbukan
10,35 dan 65 dengan jumlah lapis dan berat penumbuk sesuai cara : Pengujian
Pemadatan Ringan Untuk Tanah, (SKBI 3.3.30. 1987/UDC. 624.131.43 (02)) atau
Pengujian Pemadatan Berat Untuk Tanah (SKBI 3.3.30.1987/UDC. 624.131.53.(02)).
Bila benda uji akan direndam, periksa kadar airnya sebelum dipadatkan. Bila benda uji
tersebut tidak direndam, periksa kadar air dilakukan setelah benda uji dikeluarkan dari
cetakan.
f. Buka leher sambung dan ratakan dengan alat perata. Tambal lubang-lubang yang
mungkin terjadi pada permukaan karena lepasnya butir-butir kasar dengan bahan yang
lebih halus. Keluarkan piringan pemisah, balikan dan pasang kembali cetakan berisi
benda uji pada keping alas, kemudian timbang.

g. Untuk pemeriksaan CBR langsung, benda uji ini telah siap untuk diperiksa. Bila
dikehendaki CBR yang direndam (soaked CBR)harus dilakukan langkah-langkah
berikut :
1. Pasang keping pengembangan diatas permukaan benda uji dan pasang keping
pemberat yang dikehendaki minimum kemudian seberat 4,5 kg atau 10 lb atau
sesuai dengan keadaan beban perkerasan.
2. Rendam cetakan beserta beban didalam air sehingga air dapat meresap dari atas
maupun dari bawah. Pasang tripod beserta arloji pengukur pengembangan. Catat
pembacaan pertama dan biarkan benda uji selam 4x 24 jam.
3. Permukaan air selama perendaman harus tetap (kira-kira 2,5 cm diatas permukaan
benda uji).
4. Tanah berbutir halus atau berbutir kasar yang dapat melakukan air lebih cepat
dapat direndam dalam waktu yang lebih singkat sampai pembacaan arloji
tetap.Pada akhir perendaman catat pembacaan arloji pengembangan.
5. Keluarkan cetakan dari bak air dan miringkan selama 15 menit sehingga air bebas
mengalir habis. Jagalah agar selama pengeluaran air tersebut permukaan benda uji
tidak terganggu.
6. Ambil beban dari cetakan, kemudian cetakan beserta isinya ditimbang. Benda uji
CBR yang direndam telah siap untuk dilakukan pengujian.
h. Letakan keping pemberat diatas permukaan benda uji seberat minimal 4,5 kg atau 10 lb
atau sesuai dengan perkerasan.
i. Untuk benda uji yang direndam, beban harus sama dengan beban yang dipergunakan
waktu perendaman.
Pertama, letakan keping pemberat 2,27 kg atau 5 lb untuk mencegah mengembangnya
permukaan benda uji pada bagian lubang keping pemberat. Pemberatan selanjutnya
dipasang setelah torak disentuhkan pada permukaan benda uji.
j. Kemudian atur torak penetrasi pada permukaan benda uji sehingga arloji beban
menunjukan beban permulaan sebesar 4,5 kg atau 10 lb. Pembebanan permulaan ini
diperlukan untuk menjamin bidang sentuh yang sempurna antara torak dengan
permukaan benda uji. Kemudian arloji penunjuk beban dan arloji pengukur penetrasi
di-nol-kan.
k. Berikan pembebanan dengan teratur sehingga kecepatan penetrasi mendekati kecepatan
1,27 mm/menit atau 0,05”/menit.
Catat pembacaan pembebanan pada penetrasi 0,312 mm atau 0,0125”; 0,62 mm atau
0,025”; 1,25 mm atau 0,05”; 0,187 mm atau 0,075”; 2,5 mm atau 0,10”; 3,75 mm
atau 0,15”; 5 mm atau 0,20”; 7,5 mm atau 0,30”; 10 mm atau 0,40”; dan 12,5 mm
atau 0,50”.
l. Catat beban maksimum dan penetrasinya bila pembebanan maksimum terjadi sebelum
penetrasi 12,5 mm atau 0,50”.
m. Keluarkan benda uji dari cetakan dan tentukan kadar air dari lapisan atas benda uji
setebal 25,4 mm atau 1”.
n. Bila diperlukan kadar air rata-rata maka pengembalian benda uji untuk kadar air dapat
diambil dari seluruh kedalaman.
Benda uji untuk pemeriksaan kadar air sekurang-kurangnya 100 gram untuk tanah
berbutir halus atau sekurang-kurangnya 500 gram untuk tanah berbutir kasar.

IV. TEORI
Pengujian CBR (California Bearing Ratio) laboratorium yang dimaksudkan pada
standar ini adalah penentuan nilai CBR contoh material tanah, agregat atau campuran tanah
dan agregat yang dipadatkan di laboratorium pada kadar air sesuai yang ditentukan.
Pengujian CBR digunakan untuk mengevaluasi potensi kekuatan material lapis tanah
dasar, fondasi bawah dan fondasi, termasuk material yang didaur ulang untuk perkerasan jalan
dan lapangan terbang.
Pengujian CBR laboratorium dilakukan terhadap beberapa benda uji, umumnya
tergantung pada kadar air pemadatan dan densitas kering yang ingin dicapai. Secara umum
pengujian CBR laboratorium ini (sesuai tahapannya) mencakup penyiapan peralatan, contoh
material dan contoh uji, pemadatan, penentuan massa basah dan kadar air benda uji,
perendaman, uji penetrasi, penggambaran kurva hubungan antara beban dan penetrasi, dan
penentuan nilai CBR. CBR desain juga dapat ditentukan melalui pengujian CBR ini, yaitu
dengan menggunakan kurva hubungan antara CBR dan densitas kering dari setiap benda uji.
Standar ini menetapkan cara untuk menentukan CBR (California Bearing Ratio)
material lapis tanah dasar, fondasi bawah dan fondasi, termasuk material yang didaur ulang
untuk perkerasan jalan dan lapangan terbang, yang dipadatkan di laboratorium.
Standar ini terutama dimaksudkan, tetapi tidak terbatas, untuk mengevaluasi kekuatan
material kohesif dengan ukuran butir maksimum kurang dari 19,0 mm (3/4 inci);
Apabila material yang diuji mempunyai ukuran butir maksimum lebih besar dari 19,0 mm
(3/4 inci), standar ini menetapkan cara memodifikasi gradasi material sehingga semua
material yang digunakan untuk pengujian lolos saringan 19,0 mm (3/4 inci), sedangkan
jumlah fraksi tertahan saringan 4,75 mm (No. 4) dan lolos saringan 75 mm (3 inci) tetap
sama.
Walaupun secara tradisional, cara mempersiapkan contoh material tersebut telah
digunakan untuk menghindari kesalahan dalam pengujian material yang mengandung material
berukuran besar di dalam peralatan uji CBR, kemungkinan material yang dimodifikasi
mempunyai sifat kekuatan yang berbeda secara signifikan dibandingkan material asli.
Akan tetapi berdasarkan pengalaman, cara memodifikasi gradasi material ini telah
umum digunakan, dan cara desain yang memuaskan diperoleh berdasarkan hasil pengujian
sesuai cara ini;
Studi terdahulu menunjukkan bahwa CBR material yang mengandung sejumlah
persentase partikel tertahan saringan 4,75 mm (No. 4) lebih bervariasi dibandingkan dengan
material yang lebih halus. Untuk material tersebut, diperlukan lebih banyak percobaan
(mínimum tiga kali percobaan) untuk menentukan nilai CBR yang dapat dipercaya;
Standar ini menetapkan cara penentuan CBR material pada kadar air optimum atau pada
rentang kadar air dan densitas kering yang ditentukan sesuai hasil uji densitas.
Densitas kering umumnya dinyatakan sebagai persentase dari densitas kering
maksimum sesuai SNI 1742:2008 atau SNI 1743:2008;
Kadar air atau rentang kadar air dan densitas kering yang diperlukan untuk pengujian
CBR ini harus ditentukan;
Kecuali jika ditentukan lain atau jika tidak berpengaruh terhadap hasil pengujian,
semua benda uji harus direndam di dalam air terlebih dahulu sebelum dilakukan uji penetrasi;
Satuan yang digunakan dalam standar ini dinyatakan dalam SI.

 Kurva beban - penetrasi


Gambarkan kurva hubungan antara beban dan penetrasi setiap benda uji sebagaimana
ditunjukkan pada Gambar 1. Dalam beberapa hal, terutama pada awal pembacaan, beban
meningkat tidak sebanding dengan peningkatan penetrasi sehingga kurva yang diperoleh
cenderung berbentuk cekung. Untuk mendapatkan kurva hubungan antara beban dan penetrasi
yang benar, koreksi bagian kurva yang berbentuk cekung tersebut sampai mendekati bentuk
kurva standar dengan mengatur atau memperpanjang bagian garis lurus dari kurva hubungan
beban penetrasi dan penetrasi yang diperoleh ke bawah sampai memotong sumbu X atau
absis. Misalnya, titik X0 adalah perpotongan antara perpanjangan kurva dan sumbu X dengan
jarak a dari titik penetrasi 0,00 mm (0,00 in), lihat garis putus- putus pada kurva 2.
Selanjutnya, titik penetrasi 2,54 mm (0,10 inci) dan 5,08 mm (0,20 inci)
digeser ke kanan masing-masing dengan jarak a dari titik semula (titik X 1 dan X2) sehingga
beban berubah menjadi Y1 untuk penetrasi X1 dan Y2 untuk penetrasi X2.
Gambar 1 - Kurva hubungan antara beban dan penetrasi

 CBR

Nilai beban terkoreksi harus ditentukan untuk setiap benda uji pada penetrasi 2,54 mm (0,10
inci) dan 5,08 mm (0,20 inci). Nilai CBR, dinyatakan dalam persen, diperoleh dengan
membagi nilai beban terkoreksi pada penetrasXi 22,54 mm (0,10 inci) dan 5,08 mm (0,20 inci)
dengan beban standar secara berurutan sebesar 13 kN (3000 lbs) dan 20 kN (4500 lbs), dan
kalikan dengan 100, lihat persamaan (2).
CBR = (Beban Terkoreksi / Beban Standar) x 100
CBR umumnya dipilih pada penetrasi 2,54 mm (0,10 inci). Jika CBR pada penetrasi 5,08 mm
(0,20 inci) lebih besar dari CBR pada penetrasi 2,54 mm (0,10 inci), pengujian CBR harus
diulang. Jika setelah diulang, tetap memberikan hasil yang serupa, CBR pada penetrasi 5,08
mm (0,20 inci) harus digunakan.

 CBR desain untuk pemadatan pada kadar air optimum


Data hasil pengujian dari 3 benda uji digambarkan dalam bentuk kurva seperti ditunjukkan
pada Gambar 2. CBR desain ditentukan pada persentase densitas kering maksimum yang
diperlukan, umumnya pada persentase minimum yang disyaratkan sesuai spesifikasi.
Gambar 2 - Penentuan CBR desain untuk contoh uji yang dipadatkan pada kadar air
optimum
Contoh:
Jika densitas kering maksimum = 1,99 g/cm3, tentukan CBR pada densitas kering 95 %
densitas kering maksimum
Solusi: 95 % dari 1,986 g/cm3 = 1,89 g/cm3
Pada densitas kering = 1,89 g/cm3, CBR = 52 %

 CBR desain untuk pemadatan pada rentang kadar air tertentu


Data hasil pengujian yang diperoleh dengan menggunakan 3 energi pemadatan digambarkan
dalam bentuk kurva sebagaimana ditunjukkan pada Gambar 3. Data yang digambarkan
tersebut menunjukkan respons tanah pada suatu rentang kadar air yang ditentukan. Untuk
pelaporan, pilih CBR yang paling kecil dalam rentang kadar air yang ditentukan dengan
densitas kering antara minimum yang ditentukan dan densitas kering yang dihasilkan melalui
pemadatan dalam rentang kadar air yang ditentukan. Dari kurva hubungan antara densitas
kering dan CBR terkoreksi, diperoleh CBR desain = 10,5 %.
Keterangan:

o 56 tumbukan per lapis


 25 tumbukan per lapis
Δ 10 tumbukan per lapis

Catatan: Pembebanan untuk perendaman dan uji penetrasi = 22,73 kg. Semua benda uji direndam selama 4 hari. Semua
benda uji dipadatkan dalam 5 lapis di dalam cetakan CBR, menggunakan penumbuk 4,5 kg dengan tinggi jatuh 457 mm.

Gambar 3 - Penentuan CBR desain untuk pemadatan contoh uji pada suatu rentang
kadar air tertentu
Lanjutan

Tampak atas

Tampak depan

Keping pemisah

Tampak depan

Tangkai/batang pengatur dan keping (pelat)


Pegangan untuk keping pemisah alas
Lanjutan
Lanjutan

Tampak depan

Tampak atas
Keping beban

Tampak depan
Piston penetrasi

Tampak atas

Tampak depan

Keping beban
Lampiran B (informatif)
Gambar alat uji penetrasi CBR laboratorium

Anda mungkin juga menyukai