Anda di halaman 1dari 16

Jawaban

“Ujian Tengah Semester”


Mata Kuliah Landasan Ilmiah Ilmu Pendidikan
Dosen Pengampu : Prof. Dr. H. Muhammad Badiran, M.Pd

DISUSUN OLEH :

Nama : Emri Yulizal Ardi


N I M : 8146121009
Kelas : A2-Teknologi Pendidikan

PROGRAM PASCA SARJANA


PROGRAM STUDI TEKNOLOGI
PENDIDIKAN
UNIVERSITAS NEGERI MEDAN
2015
Universitas Negeri Medan
Program studi Teknologi Pendidikan
Pasca sarjana

Ujian Tengah Semester


Mata Kuliah : LANDASAN ILMIAH ILMU PENDIDIKAN
Program Studi : TEKNOLOGI PENDIDIKAN
Dosen : PROF. DR. H. MUHAMMAD BADIRAN, M.PD
Waktu : Senin, 6 April 2015, Pukul 14.00 Wib.
Soal :

1. Kehadiran UU Dosen dan Guru memberikan perlindungan hukum kepada


dosen dan guru dalam melaksanakan fungsi dan kinerjanya baik sebagai unsur
pendidikan, maupun sebagai warga negara. Bagaimanakah usaha guru dalam
mengkondisikan pembelajaran untuk meningkatkan prestasi belajar peserta
didik ?
2. Fungsi seni yang hakiki adalah: penjelajahan pengalaman jiwa yang terdalam,
sehingga sajian setiap peristiwa kesenian diharapkan dapat mengangkat harkat
martabat manusia dan memanusiakan manusia. Bagaimana usaha Saudara
sebagai perancang pendidikan menemukan pembentukan hakekat seni dalam
kurikulum pendidikan agar bermanfaat bagi kehidupan manusia.
3. Bentuk pendidikan yang terdahulu adalah: menekankan rote learning, repeated
drill of material, pricise memorization, orderly habits of study, strict
discipline, dll. Bagaimana usaha saudara merajutnya dengan paradigma baru
yang berimplikasi membentuk orang kreatif dalam dunia pendidikan.
4. Politik secara sederhana merupakan suatu strategi meraih kekuasaan agar
dapat mengatur suatu organisasi dalam mencapai tujuan yang disepakati.
Berikan argumentasi saudara mengapa politik diperlukan dalam pelaksanaan
pendidikan serta beri contoh penerapannya dalam pelaksanaan pendidikan.
5. Andaikan saat ini menurut saudara sistem pendidikan di Indonesia perlu
dibenahi karena adanya kesenjangan dalam pelaksanaannya. Apa usaha
saudara dalam mengatasi permasalahan pendidikan tersebut, beri argumentasi
yang tajam dan dilengkapi dengan bukti-bukti yang menurut saudara perlu
diajukan.

Jawaban :
1. Kehadiran UU Dosen dan Guru memberikan perlindungan hukum
kepada dosen dan guru dalam melaksanakan fungsi dan kinerjanya baik
sebagai unsur pendidikan, maupun sebagai warga negara.
Bagaimanakah usaha guru dalam mengkondisikan pembelajaran untuk
meningkatkan prestasi belajar peserta didik?
Jawaban:
Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi di era globalisasi membawa
pengaruh perubahan yang luar biasa terhadap pola kehidupan ummat manusia
di belahan bumi ini. Terjadi transformasi budaya pada seluruh sendi
kehidupan masyarakat, sehingga perubahan demi perubahan terus terjadi baik
pada ranah kompleks ide, kompleks kelakuan berpola, dan kompleks sistem
teknologi (Koentjaraningrat, 1982; Sztompka. 2004).
Dalam Undang Undang No. 20 tahun 2003 tentang SISDIKNAS dan Undang
Undang No.14 tahun 2006 tentang Guru dan Dosen, bahwa kedudukan, peran
dan fungsi guru sangat sentral dalam membangun kualitas pendidikan
nasional. Merujuk pada beberapa peraturan perundangan bidang pendidikan
tersebut di atas, baik berupa Undang Undang, Peraturan Pemerintah sampai
Permendiknas, pada era sekarang dan akan datang setiap guru harus memiliki
empat kompetensi dasar, yaitu: (1) Kompetensi pedagogik, meliputi: (a)
kemampuan memahami peserta didik; (b) kemampuan memahami prinsip
pembelajaran; (c) kemampuan melaksanakan prinsip pembelajaran; (d)
kemampuan merancang dan melaksanakan evaluasi pembelajaran; dan (e)
kemampuan mengembangkan potensi peserta didik; (2) Kompetensi
kepribadian, meliputi: (a) kemampuan bertindak sesuai nilai dan norma
kehidupan; (b) konsisten membangun sikap mental positif; (c) menjunjung
tinggi prinsip kemaslahatan hidup; dan (d) kemampuan mewujudkan akhlak
mulia; (3) Kompetensi sosial, meliputi: (a) kemampuan menjalin interaksi
sosial dengan peserta didik; (b) kemampuan menjalin interaksi sosial dengan
sesama guru; (c) kemampuan menjalin interaksi sosial dengan tenaga
kependidikan; (d) kemampuan menjalin interaksi sosial dengan orang tua/
wali siswa; dan (e) kemampuan menjalin interaksi sosial dengan warga
masyarakat; (4) Kompetensi profesional, meliputi: (a) kemampuan
penguasaan materi pembelajaran; (b) kemampuan menerapkan konsep-konsep
keilmuan dengan kehidupan sehari-hari; dan (c) kemampuan dalam membuat
karya ilmiah tenang pendidikan.
Menurut Chin dan Benne dalam Lauer, R., (1978), ada tiga metode yang dapat
digunakan oleh agent of change dalam mendorong atau mempengaruhi
terjadinya perubahan sosial budaya, yaitu: (1) metode rasional–empiris; (2)
metode normatif–edukatif; dan (3) metode paksaan–kekuasaan. Apabila
mencermati paradigma pembelajaran dan sistem evaluasi yang dikembangkan
dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), maka motode yang
dapat digunakan oleh guru sebagai agen perubahan (agent of change) dalam
mendorong terjadinya perubahan kualitas pembelajaran siswa di kelas adalah
metode pertama (metode rasional–empiris) dipadukan dengan metode kedua
(metode normatif–edukatif) (Depdiknas. 2003; BSNP, 2006)

Beberapa langkah strategis yang dapat dilakukan dalam meningkatkan peran


guru sebagai agen perubahan (agent of change) pembelajaran siswa di kelas
antara lain: Pertama, membangun kualitas mentalitas positif guru melalui
kegiatan pelatihan ’motivasi berprestasi’ dan sejenisnya secara periodik,
misalnya pembinaan dan pelatihan ESQ. Meskipun setiap guru secara teoritik
telah mengetahui sebagian teori-teori psikologi pembelajaran, dia tetap
memerlukan penyegaran orientasi dan wawasan hidup prospektif dari para
pakar psikologi atau para motivator dalam menghadapi beragam persoalan
pekerjaan sebagai pendidik. Dalam hal ini fokus pelatihan lebih ditekankan
pada upaya membangun konsistensi diri sebagai pendidik sepanjang karir
profesinya untuk mengembangkan tentang: (a) prinsip selalu belajar (learning
principle); (b) prinsip kebutuhan untuk berprestasi (need achievement
principle); (c) prinsip kepemimpinan (leadership principle); prinsip orientasi
hidup ke depan (vision principle); dan (d) prinsip menjadi pencerah dalam
kehidupan kelompok (well organized principle) (Agustian, A.G. 2005;
Seligman, M. 2005). Ketika lima prinsip tersebut terinternalisasi dengan baik
pada diri setiap guru, maka guru tersebut akan mampu bertindak sebagai agent
of change pembelajaran peserta didik, baik pada aspek emosional, kepribadian
dan pengetahuan-ketrampilan peserta didik. Demikian juga sebaliknya, ketika
kelima prinsip tersebut tidak menyatu dan tidak berkembang pada diri setiap
guru, maka kehadiran guru di kelas hakikatnya kurang berfungsi dalam
menyiapkan peserta didik untuk menghadapi beragam tantangan hidup di era
globalisasi.

2. Fungsi seni yang hakiki adalah: penjelajahan pengalaman jiwa yang


terdalam, sehingga sajian setiap peristiwa kesenian diharapkan dapat
mengangkat harkat martabat manusia dan memanusiakan manusia.
Bagaimana usaha Saudara sebagai perancang pendidikan menemukan
pembentukan hakekat seni dalam kurikulum pendidikan agar
bermanfaat bagi kehidupan manusia.

Jawaban :
Seni merupakan sesuatu yang subjektif untuk digambarkan. Seni itu indah dan
halus. Seni bukan saja diaplikasikan dalam satu bidang tetapi dalam beberapa
bidang seperti seni suara, seni tari dan seni lakon. Kesemua seni yang
dinyatakan tadi merupakan seni yang memerlukan pergerakan, suara, dan
ekspresi dalam melahirkan sesuatu yang indah dari dalam diri kita. Seni juga
diaplikasikan dalam pengajaran. Pengajaran memerlukan pemahaman dan
pemahaman memerlukan tarikan yang menarik dan kreatif. Seni yang
disematkan dalam setiap pengajaran haruslah memberi satu nilai dalam jangka
masa yang panjang dan memberi dampak yang positif untuk seseorang
individu.

“Seni adalah hasil daripada kreatif dan kritis dari pemikiran seseorang
manusia yang diolah secara halus dan sederhana”. (Pahlawi Web Al. Mei
2007). Kenyataan tadi mendefinisikan seni sebagai satu pergerakan yang
dinamik dan pemikiran logik manusia yang diwujudkan melalui ketekunan
dan kehalusan budi yang ditentukan oleh ilmu, moral, dan ketakwaan manusia
terhadap sang pencipta. Seni juga merupakan satu disiplin ilmu yang bersama-
sama terbentuk dalam mencapai kedewasaan akhlak dan tabiat seseorang
muslim seperti jujur, rajin , taqwa serta sabar. Apabila dasar pembelajaran
seni ini diterapkan, pembelajaran menjadi lebih lengkap dari pelbagai aspek.
Pendidikan sebagai panduan ilmu dan seni dikemukakan oleh A.S
Neil.Menurutnya “Mendidika dan mengajar bukanlah hanya suatu ilmu, tapi
adalah seni. Mendidik yang diartikan sebagai seni ialah sebagaimana kita
dapat hidup dengan anak-anak dan dapat mengerti anak-anak sehingga seolah-
olah kita menjadi seperti anak-anak.Gramophone dapat menyajikan pelajaran
dengan baik, tetapi hal seperti itu tidak dapat menemukan suatu hubungan
yang vital dengan anak-anak.
Pandangan bahwa mengajar (mendidik) tidaklah seni semata, tetapi juga ilmu
dikemukakan pula oleh Charles Silberman. Silberman antara lain
menyatakan : “yakin mengajar-sepert praktek kedokteran-banyak merupakan
suatu seni, yang memerlukan latihan bakat dan kreativitas. Tetapi seperti
kedokteran, mengajar adalah juga – atau hendaknya menjadi sebuah ilmu,
karena berkenaan dengan suatu perbendaharaan teknik-teknik, prosedur-
prosedur, dan kecakapan-kecakapan yang dapat dipelajari dan diterangkan
secara sistematis, dan oleh karena itu ditransmisikan dan dikembangkan”
(Redja Musyahardjo).
Demikianlah, pandangan pendidikan sebagai seni tidak perlu dipertentangkan
dengan pandangan pendidikan sebagai ilmu. Pendidik memerlukan ilmu
pendidikan dalam rangka memahami dan mempersiapkan suatu praktek
pendidikan, namun dalam prakteknya pendidik harus kreatif, scenario atau
persiapan mengajar hanya dijadikan rambu-rambu saja, pendidik perlu
melakukan improvisasi. Kurikulum dalam pendidikan formal di sekolah atau
madrasah memiliki peranan yang sangat strategis dan menentukan pencapaian
tujuan pendiidikan. Terdapat tiga peranan yang dinilai sangat penting yaitu:
A. Peranan konservatif: Peranan ini menekankan bahwa kurikulum dapat
dijadikan sebagai sarana utuk mentransmisikan nilai-nilai warisan budaya
yang dianggap masih relevan dengan masa kini kepada generasi muda,
dalam hal ini para siswa.
B. Peranan kreatif: Peranan kreatif menekankan bahwa kurikulum harus
mampu mengembangkan sesuatu yang baru sesuai dengan perkembangan
yang terjadi dan kebutuhan-kebutuhan masyarakat pada masa sekarang
dan masa mendatang.
C. Peranan kritis dan evaluatif: Peranan ini dilatarbelakangi oleh adanya
kenyataan bahwa nilai-nilai dan budaya yang hidup dalam masyarakat
senantiasa mengalami perubahan, sehingga pewarisan nilai-nilai dan
budaya masa lalu kepada siswa perlu disesuaikan dengan kondisi yang
terjadi pada masa sekarang.
Pendidikan diupayakan dengan berawal dari manusia apa adanya (aktualitas)
dengan mempertimbangkan berbagai kemungkinan yang ada padanya
(potensialitas), dan diarahkan menuju terwujudnya manusia yang
seharusnya /dicita-citakan (idealitas). Sebagai humanisasi pendidikan
seyogyanya meliputi berbagai bentuk kegiatan dalam upaya mengembangkan
berbagai potensi manusia dalam konteks dimensi keberagaman, moralitas,
individualitas/personalitas, sosialitas dan keberbudayaan secara menyeluruh
dan terintergrasi.

3. Bentuk pendidikan yang terdahulu adalah: menekankan rote learning,


repeated drill of material, pricise memorization, orderly habits of study,
strict discipline, dll. Bagaimana usaha saudara merajutnya dengan
paradigma baru yang berimplikasi membentuk orang kreatif dalam
dunia pendidikan.

Jawaban :
Prof. Tilaar mengemukakan pokok-pokok paradigma baru pendidikan sebagai
berikut: (1) pendidikan ditujukan untuk membentuk masyarakat Indonesia
baru yang demokratis; (2) masyarakat demokratis memerlukan pendidikan
yang dapat menumbuhkan individu dan masyarakat yang demokratis; (3)
pendidikan diarahkan untuk mengembangkan tingkah laku yang menjawab
tantangan internal dan global; (4) pendidikan harus mampu mengarahkan
lahirnya suatu bangsa Indonesia yang bersatu serta demokratis; (5) di dalam
menghadapi kehidupan global yang kompetitif dan inovatif, pendidikan harus
mampu mengembangkan kemampuan berkompetisi di dalam rangka
kerjasama; (6) 4 Seri Pendidikan Karakterpendidikan harus mampu
mengembangkan kebhinekaan menuju kepada terciptanya suatu masyarakat
Indonesia yang bersatu di atas kekayaan kebhinekaan masyarakat, dan (7)
yang paling penting, pendidikan harus mampu meng-Indonesiakan
masyarakat Indonesia sehingga setiap insan Indonesia merasa bangga menjadi
warga negara Indonesia.

Pergantian era kekuasaan sangat mempengaruhi model dan kebijakan


pendidikan yang dihasilkan. Pendidikan memang tidak bisa terlepas dari
situasi politik sebuah bangsa. pada masa Indonesia merdeka pendidikan
diarahkan sebagai medium pembangkit rasa nasionalisme. Karena keadaan
tertentu, periode ini tidak banyak pengembangan pendidikan yang bisa
diharapkan. Secara kualitas, pendidikan tetap terjaga mutunya hanya
pendirian bangunan sekolah tidak banyak artinya. Pada masa Orde Baru,
perubahan kurikulum senantiasa silih berganti. Perubahan dilaksanakan dalam
rangka mengantisipasi kepentingan global yang berubah. Hal ini pun masih
dilanjutkan dengan pergantian kurikulum pada era reformasi. Kurikulum 2006
merupakan alternatif terakhir dari bangunan kurikulum dalam sejarah
Indonesia. Artinya, pemerintah tetap belajar dari pengalaman. Lintasan
pendidikan yang berusia cukup tua pada akhirnya menghasilkan kebijakan
yang penuh nuansa keberpihakan pada esensi pendidikan itu sendiri.
Dengan paradigma baru pendidikan nasional untuk mewujudkan masyarakat
Indonesia baru yaitu masyarakat madani Indonesia maka posisi pendidikan
nasional harus disesuaika dengan tuntutan tersebut. Di dalam menentukan
posisi pendidikan nasional tersebut beberapa konsep perlu dikembangkan dan
dijabarkan lebih lanjut di dalam program-program serta kegiatan yang nyata.
Konsep tersebut adalah sebaga berikut:
1) Redefinisi pendidikan nasional.
2) Pendidikan adalah proses pemberdayaan.
3) Pendidikan adalah proses pembudayaan.

Pernyataan di atas menyatakan bahwa bagaimana kita mendidik anak lebih


penting dari pada berapa banyak kita mendidik anak ,artinya bahwa kwalitas
mendidik lebih penting dari kwantitas didikan. Tentunya hal ini menyangkut
cara,metode ataupun strategi yang kita pakai dalam mendidik anak.Banyaknya
jumlah pertemuan terhadap anak tidak dapat menjadi jaminan akan
keberhasilan kita dalam mendidik apalagi jika tidak dilaksanakan dengan
benar, tetapi lebih ditentukan bagaimana kita memanfaatkan waktu dan
kesempatan yang tersedia dengan baik.
Bila dikaitkan dengan KBK/KTSP, Peranan KTSP disini merupakan bentuk
operasional pengembangan kurikulum dalam konteks desentralisasi
pendidikan dan otonomi daerah, yang akan memberikan wawasan baru
terhadap sistem yang sedang berjalan selama ini. Hal ini diharapkan dapat
membawa dampak terhadap peningkatan efisiensi dan efektivitas kinerja
seko-lah, khususnya dalam meningkatkan kualitas pembelajaran. Mengingat
peserta didik memilki karakteristik dan latar belakang berbeda-beda, maka
sekolah harus memperhatikan asas pemerataan, baik dalam bidang sosial,
ekonomi, maupun politik. Di sisi lain, sekolah juga harus meningkatkan
efisiensi, partisipasi, dan mutu, serta bertanggung jawab kepada masyarakat
dan pemerintah.
Karakteristik KTSP bisa diketahui antara lain dari bagaimana sekolah dan
satuan pendidikan dapat mengoptimalkan kinerja, proses pembelajaran,
pengelolaan sumber belajar, profesionalisme tenaga kependidikan, serta
sistem penilaian. Berdasarkan uraian di atas, dapat dikemukakan beberapa
karakteristik KTSP sebagai berikut: pemberian otonomi luas kepada sekolah
dan satuan pendidikan, partisipasi masyarakat dan orang tua yang tinggi,
kepemimpinan yang demokratis dan profesional, serta team-kerja yang
kompak dan transparan. KTSP merupakan strategi pengembangan kurikulum
untuk mewujudkan sekolah yang efektif, produktif, dan berprestasi. KTSP
merupakan paradigma baru pengembangan kurikulum, yang memberikan
otonomi luas pada setiap satuan pendi-dikan, dan pelibatan masyarakat dalam
rangka mengefektifkan proses belajar-mengajar di sekolah.
Otonomi diberikan agar setiap satuan pendidikan dan sekolah memiliki
keleluasaan dalam mengelola sumber daya, sumber dana, sumber belajar dan
mengalokasikannya sesuai dengan prioritas kebutuhan, serta lebih tanggap
terha-dap kebutuhan setempat. Strategi yang harus diperhatikan oleh sekolah
dalam pengembangan dan pelaksanaan KTSP antara lain: menciptakan
suasana yang kondusif, mengembangkan fasilitas dan sumber belajar,
membina disiplin, mengembangkan kemandirian kepala sekolah, mengubah
paradigma (pola pikir) guru, serta memberdayakan staf. Dalam rangka
pelaksanaan hasil pengembangan KTSP, sekolah harus mengembangkan
fasilitas laboratorium, pusat sumber belajar, dan perpustakaan, serta tenaga
pengelola yang profesional.

4. Politik secara sederhana merupakan suatu strategi meraih kekuasaan


agar dapat mengatur suatu organisasi dalam mencapai tujuan yang
disepakati. Berikan argumentasi saudara mengapa politik diperlukan
dalam pelaksanaan pendidikan serta beri contoh penerapannya dalam
pelaksanaan pendidikan.
Jawaban :
Keterkaitan antara pendidikan dan politik berimplikasi pada semua dataran,
baik pada dataran filosofis maupun dataran kebijakan. Di Indonesia, filsafat
pendidikan nasional adalah artikulasi pedagogis dari nilai-nilai yang terdapat
pada Pancasila dan UUD 1945. Pada dataran kebijakan, sangat sulit
memisahkan antara kebijakan-kebijakan pendidikan yang dibuat oleh
pemerintah di suatu negara dengan persepsi dan kepercayaan politik yang ada
pada pemerintah tersebut.

Pada gilirannya, implementasi dari suatu kebijakan pendidikan berdampak


pada kehidupan politik. Berbagai kebijakan pendidikan berdampak langsung
pada akses, minat dan kepentingan pendidikann para stakeholder pendidikan
terutama orangtua dan peserta didik, dan masyarakat pada umumnya. Sedang
empat aspek kehidupan masyarakat yang dapat dipengaruhi oleh kebijakan-
kebijakan yang dibuat oleh pemerintah, yaitu lapangan kerja, mobilitas sosial,
ide-ide, dan sikap.

Politik pendidikan yang dimaksud termanifestasikan dalam kebijakan-


kebijakan strategis pemerintah dalam bidang pendidikan. Politik pendidikan
yang diharapkan tentunya politik pendidikan yang berpihak pada rakyat kecil
atau miskin. Bagaimanapun, hingga hari ini masih banyak orang tua yang
tidak mampu menyekolahkan anak-anaknya sampai tingkat SD sekalipun.
Masih banyak sekolah yang kekurangan fasilitas atau bahkan tidak memiliki
gedung yang representatif atau tak memiliki ruang belajar sama sekali. Masih
banyak sekolah yang sangat kekurangan guru pengajar. Masih banyak pula
guru (honorer) yang dibayar sangat rendah yang menyebabkan motivasi
mengajarnya sangat rendah.

Dinamika hubungan timbal balik antara pendidikan dan politik dalam suatu
masyarakat terus meningkat, seiring dengan perubahan-perubahan yang
terjadi dalam masyarakat tersebut. Di negara-negara berkembang, dinamika
tersebut cenderung lebih tinggi karena perubahan-perubahan di negara-negara
tersebut terjadi lebih intens. Abernethy dan Coombe mengamati hal-hal
berikut ini.

Secara umum, signifikansi politik pendidikan dalam masyarakat kontemporer


meningkat dengan derajat perubahan yang sedang berlangsung dalam
masyarakat. Perubahan-perubahan besar yang telah dialami oleh negara-
negara berkembang dan perubahan-perubahan, baik yang disengaja atau tidak
disengaja, yang sedang berproses, semuanya memperlihatkan hubungan
timbal balik antara politik dan pendidikan.

Hubungan dan peran politik dalam pendidikan terwujud ke dalam berbagai


bentuk yang berbeda-beda, sesuai karakteristik setting sosial politik di mana
hubungan itu terjadi. Misalnya, dalam masyarakat yang lebih primitif, yang
berdasarkan pada basis kesukuan (tribal-based societes), adalah lazim bagi
orangtua dari satu suku memainkan dua peran, sebagai pemimpin politik dan
sebagai pendidik. Mereka membuat keputusan-keputusan penting dan
memastikan bahwa keputusan-keputusan ini diimplementasikan dan
diterapkan. Mereka juga mempersiapkan generasi muda untuk memasuki
kehidupan dewasa dengan mengajarkan mereka teknik-teknik berburu dan
mencari ikan, metode-metode berperang, dan sebagainya. Selain itu, mereka
juga menanamkan pada generasi muda mereka kepercayaan, nilai-nilai dan
tradisi, dan mempersiapkan mereka untuk berperan secara politis.
Salah satu komponen terpenting pendidikan, kurikulum,misalnya, dapat
menjadi media sosialisasi politik. Menurutnya, kurikulum di suatu lembaga
pendidikan memiliki tiga sumber utama. Pertama: pendapat kelompok
profesional pendidikan yang sangat dipengaruhi oleh institusi-institusi
pelatihan guru dan seringkali merefleksikan atau mengadaptasi ide dari
individu-individu yang didewa-dewakan, seperti John Dewey, John Lock, dan
William Stern. Kedua, kebutuhan akan dana. Ketiga,aktivitas kelompok-
kelompok berpengaruh, seperti asosiasi industri, perserikatan, dan beberapa
organisasi kebangsaan yang memiliki semangat patriotik.

Fungsi politik pendidikan secara khusus juga dapat diaktualisasikan melalui


proses pembelajaran. Proses pembelajaran bisa bersifat kognitif (misalnya,
mendapatkan pengetahuan dasar tentang suatus sistem), bisa bersifat afektif
(misalnya, mengetahui sikap-sikap positif dan negatif terhadap penguasa atau
simbol-simbol), bisa bersifat evaluatif (misalnya, menilai peran-peran politik
berdasarkan standar tertentu), atau bisa bersifat motivatuf (misalnya,
penanaman rasa ingin berpartisipasi). Sebagian besar unsur-unsur
pembelajaran tersebut dapat dirancang dan diarahkan sedemikian rupa untuk
memenuhi tuntutan politik tertentu.

5. Andaikan saat ini menurut saudara sistem pendidikan di Indonesia perlu


dibenahi karena adanya kesenjangan dalam pelaksanaannya. Apa usaha
saudara dalam mengatasi permasalahan pendidikan tersebut, beri
argumentasi yang tajam dan dilengkapi dengan bukti-bukti yang
menurut saudara perlu diajukan.
Jawaban :
Agar pendidikan nasional berjalan pada jalurnya, maka diperlukan upaya-
upaya yang diharapkan dapat memecahkan permasalahan-permasalahan yang
ada. Upaya-upaya itu sebenarnya merupakan langkah awal dalam
pembangunan pendidikan dalam konteks pembangunan nasional.
Mengatasi Permasalahan Akses Sampai dengan tahun 2013 dilakukan
berbagai upaya sistematis dalam pemerataan dan perluasan pendidikan,
khususnya dalam konteks pelaksanaan wajib belajar dua belas tahun.
Penuntasan program wajib belajar pendidikan dasar dua belas tahun
memperhatikan pelayanan yang adil dan merata bagi penduduk yang
menghadapi hambatan ekonomi dan sosial-budaya (yaitu penduduk miskin,
memiliki hambatan geografis, daerah perbatasan, dan daerah terpencil).
Demikian juga anak-anak yang memiliki kelainan fisik, emosi, mental serta
intelektual. Strategi yang diambil antara lain dengan membantu dan
mempermudah mereka yang belum berkesempatan mengikuti pendidikan,
baik di sekolah atau di madrasah, putus sekolah, serta lulusan SD/MI/SDLB
yang tidak melanjutkan ke SMP/MTs/SMPLB apalagi melanjut ke jenjang
/SMA/SMALB/SMK/MAK yang masih besar jumlahnya, untuk memperoleh
layanan pendidikan. Dalam strategi ini juga ditempuh penerapan kelas-kelas
inklusi, yakni dengan memberi kesempatan kepada peserta didik yang
mempunyai kelainan untuk belajar bersama peserta didik yang normal. Solusi
lain yang ditawarkan adalah, peningkatan akses pendidikan melalui
pembukaan kesempatan bagi pihak swasta dalam mendirikan lembaga
pendidikan tinggi baru. Namun, strategi ini harus dikaitkan dengan kualitas
dalam rangka peningkatan daya saing bangsa. Dalam pengendaliannya perlu
dibuat persyaratann yang ketat dalam mengijinkan partisipasi swasta ini.
Untuk itu, pemerintah harus membenahi peraturan dan perundang-undangan
serta memperkuat kapasitas kelembagaan yang terkait dengan fungsi
pengendalian dan penjaminan kualitas. Kebijakan perluasan pendidikan tinggi
ini juga diarahkan dalam upaya membuka kesempatan bagi calon mahasiswa
yang berasal dari penduduk di atas usia ideal pendidikan tinggi (lebih dari 24
tahun) seperti karyawan, guru, tenaga spesialis industri, dan mencakup
perluasan pendidikan non-gelar serta pendidikan profesi yang mengutamakan
penguasaan pengetahuan, ketrampilam dan teknologi yang sesuai dengan
kebutuhan lapangan kerja industri. Untuk menjangkau populasi yang lebih
luas namun terkendala oleh berbagai faktor, seperti letak geografis dan waktu,
perluasan akses pendidikan tinggi juga dilakukan melalui pengembangan
kapasitas pembelajaran jarak jauh dengan memanfaatkan teknologi
komunikasi. Kemungkinan penggunaan modus pembelajaran jarak jauh ini
bukan hanya oleh universitas terbuka tetapi juga oleh perguruan tinggi lain
yang diberi izin dalam pengimplementasian strategi ini.
Mengatasi Permasalahan Kualitas dan Relevansi dalam mengatasi
permasalahan kualitas dan relevansi pendidikan nasional setidaknya ada
delapan strategi yang dapat dilakukan yaitu :
A. Mengimplementasikan penerapan standar nasional pendidikan yang telah
dikembangkan berdasarkan peraturan pemerintah Nomor 19 tahun 2005
tentang standar nasional pendidikan. Standar tersebut digunakan sebagai
dasar untuk melaksanakan akreditasi lembaga-lembaga pendidikan dan
berbagai program keahlian serta program studi yang dilakukan oleh BAN
S/M dan BAN PT, dan untuk penilainan program dan pendidikan,
peningkatan kapasitas pengelolaan pendidikan, peningkatan sumber daya
pendidikan, upaya penjaminan kualitas pendidikan.
B. Diterapkannya system penilaian pendidikan untuk UN dan UAS oleh
sebuah badan mandiri yang ditugasi untuk melaksanakannya. UN
mengukur pencapaian kompetensi peserta didik berdasarkan standar
kompetensi lulusan yang ditetapkan secara nasional sebagai benchmark.
Hasil UN bukan satu-satunya alat untuk menentukan kelulusan siswa
tetapi terutama sebagai sarana untuk melakukan pemetaan dan analisis
kualitas pendidikan yang dimulai dari tingkat satuan pendidikan,
kabupaten/kota, provinsi sampai tingkat nasional.
C. Adanya penjaminan kualitas melalui suatu proses analisis yang sistematis
terhadap hasil UN dan hasil evaluasi lainnya untuk menentukan faktor
pengungkit dalam upaya peningkatan kualitas, baik antar satuan
pendidikan, antar kabupaten/kota, antar provinsi, atau melalui
pengelompokan lainnya. Analisis dilakukan oleh pemerintah bersama
pemerintah provinsi yang secara teknis dibantu oleh lembaga penjaminan
kualitas pendidikan (LPMP) pada masing-masing wilayah. Hasil analisis
tersbut, diberikan intervensi terhadap atuan dan program pendidikan
diantaranya melalui pendidikan dan pelatihan terutama pengembangan
proses pembelajaran efektif, bantuan teknis, pengadaan dan pemanfaatan
sumber daya pendidikan, serta pemanfaatan TIK dalam pendidikan.
Disamping itu, untuk mempercepat tercapainya pemerataan kualitas
pendidikan dilakukan pemberian bantuan yang diarahkan pada satuan
pendidikan yang belum mencapai standar nasional.
D. Perlunya dilakukan tindakan afirmatif dengan memberikan perhatian
lebih besar pada satuan pendidikan yang kualitasnya masih rendah baik
dari input, proses, maupun outputnya.
E. Dilaksanakan akreditasi satuan dam program pendidikan untuk
menentukan tingkat kelayakan masing-masing. Hasil akreditasi dijadikan
landasan untuk melakukan progam pengembangan kapasitas dan
peningkatan kualitas tiap satuann atau program pendidikan.
F. Perlunya dilakukan pengembangan dan peningkatan profesionalisme
guru. Sebagai tenaga kerja profesional guru ataupun tenaga kependidikan
harus memiliki sertifikat profesi setelah menempuh pendidikan profesi
dan berdasarkan hasil uji kompetensi, sebagai imbalannya mereka diberi
tunjangan profesi. Standar profesi guru dikembangkan sebagai dasar bagi
penilaian kinerja guru yang dilakukan secara berkelanjutan atas dasar
kinerjanya baik pada tingkat kelas maupun satuan pendidikan.
G. Dalam rangka meningkatkan relevansi pendidikan diperlukan
pengembangan kurikulum yang relevan dengan pangsa pasar/dunia kerja.
Investasi juga dilakukan untuk pengembangan satuan pendidikan pada
pendidikan dasar dan menengah, non-formal dan pendidikan tinggi.
H. Dalam rangka mengejar keunggulan dan daya saing perlu dikembangkan
sejumlah sekolah/madrasah dan perguruan tinggi yang bertaraf
internasional menggunakan hasil pengukuran yang berstandar
internasional dan menggunakan benchmark institusi pendidiakn unggul di
dunia. Tentunya ini memerlukan kesiapan baik sarana dan prasarana yang
mendukung. Dalam rangka mendorong keunggulan juga perlu
dikembangkan peningkatan jumlah dan kualitas publikasi ilmiah dan hak
atas kekayaan intelektual. Kegiatan ini terutama berkaitan dengan peran
perguruan tinggi yang memiliki otonomi keilmuan dengan melakukan
penelitian dan pengembangan untuk kepentingan pengembangan sains
dan teknologi.