Anda di halaman 1dari 12

Bab I

PENDAHULUAN
Peranan guru sebagai manajer dalam kegiatan belajar di kelas sudah lama diakui
sebagai salah satu faktor yang penting dalam meningkatkan prestasi belajar siswa.
Guru sebagai tenaga profesional, dituntut tidak hanya mampu mengelola
pembelajaran saja tetapi juga harus mampu mengelola kelas, yaitu menciptakan
dan mempertahankan kondisi belajar yang optimal bagi tercapainya tujuan
pengajaran. Oleh karena itu sejalan dengan upaya pemerintah dalam
meningkatkan mutu di semua jenjang pendidikan, penerapan strategi pengelolaan
kelas dalam pembelajaran merupakan salah satu alternatif yang diyakini dapat
digunakan untuk memecahkan persoalan yang mendasar dari permasalahan
pendidikan di tanah air. peranan guru dalam proses belajar mengajar adalah
sebagai berikut: (a) guru sebagai demonstrator, (b) guru sebagai pengelola kelas,
(c) guru sebagai mediator dan fasilitator dan (d) guru sebagai evaluator.

Chapter Teori Psikologi bekerja di Kelas ini di harapkan untuk mendapatkan


perbandingan yang proporsional didalam penggunaan teori dan atau metode
belajar yang valid didalam pengelolaan kelas. Banyak sekali metode dan cara guru
dalam menjalankan proses belajar mengajar, salah satunya adalah Scaffolding
yang diartikan sebagai sebagai suatu teknik pemberian dukungan belajar secara
terstruktur, yang dilakukan pada tahap awal untuk mendorong siswa agar dapat
belajar secara mandiri. Pemberian dukungan belajar ini tidak dilakukan secara
terus menerus,  tetapi seiring dengan terjadinya peningkatan kemampuan siswa,
secara berangsur-angsur guru harus mengurangi dan melepaskan siswa untuk
belajar secara mandiri.  Jika siswa belum mampu mencapai kemandirian dalam
belajarnya, guru kembali ke sistem dukungan untuk membantu siswa memperoleh
kemajuan sampai mereka benar-benar mampu mencapai kemandirian. Dengan
demikian, esensi dan prinsip kerjanya tampaknya tidak jauh berbeda
dengan scaffolding dalam konteks  mendirikan sebuah bangunan.
Pembelajaran Scaffolding sebagai sebuah teknik bantuan belajar (assisted-
learning) dapat dilakukan pada saat siswa merencanakan, melaksanakan dan
merefleksi tugas-tugas belajarnya.

Page 1
Namun seiring denga perkembangan pemikiran dan penelitian-penelitian serta
karya ilmiah dari pakar-pakar pendidikan memungkinkan terjadinya perdebatan-
perdebatan dan perbedaan pandangan. Oleh sebab itu chapter ini diperlukan
mengulas tentang kelebihan dan kekurangan scaffolding berdasarkan penelitian
Michael Shayer dan Mike Beveridge dalam artikel yang disusun oleh Kathy
Sylva. Dengan adanya pandangan-pandangan dan perbedaan dalam artikel chapter
ini diharapakan pendidik dapat memahami kelemahan dan kekurangan
Scaffolding didalm penggunaanya dalam strategi proses pembelajaran

Page 2
Bab II
Terjemahan Chapter

Teori Psikologi Tentang “ Bekerja” di dalam kelas


Kathy Sylva

PENGANTAR

Ketika pertama di undang sebagai pembicara untuk Michael Shayer dan Mike
Beveridge Saya bertanya-tanya apakah mereka akan mebuat karya tulis “Head to
head”, sebuah perdebatan akademis intens yang menuntutku menemukan bahasa
umum dan menjuri ketidaksepakatan sengit. Saya sangat senang menemukan
karya ilmiah yang saling melengkapi . Perhitungan mengagumkan milik
Beveridge tentang sosio politik dari pembaruan kependidikan menciptakan sebuah
konteks teoritis, sebuah lingkup politikal yang rapi mempertahankan argumentasi
demonstrasi empiris dari kekuatan piaget dan vygotsky dalam kelas. Demikian
Beveridge menyediakan konteks – makro untuk karya ilmiah tingkat mikro untuk
Shayer .

KEBANGKITAN DAN KEMENANGAN TEORI KONTEKSTUAL


DALAM PSIKOLOGI

Karya tulis Mike Baveridge menetapkan pengertian dengan baik dengan


deskripsinya tentang psikologi di akhir abad ini. Psikologi adalah sebuah ‘cerita
sukses’ dia mengutip :

1. Menjauh dari teori utama menjadi konteks-khusus kelakuan, aktivitas dan


proses-proses. Psikologi secara potensial lebih berguna untuk pendidikan
dari yang pernah sebelumnya. Kita sekarang mempunyai teori kuat yang
harus berguna untuk para praktisi. Konsep yang berguna dalam pendidikan
mencakup pengetahuan , analogi, perwakilan eksternal, alasan dalam

Page 3
konteks, akuisisi dari pengetahuan implisit dan peran bahasa dalam
kolaborasi.
2. Sayangnya, pendidik mencari kesederhanaan, kemudahan solusi aplikasi.
Namun, ketika mereka mencoba untuk menggunakannya, mereka dengan
cepat melihat kekurangan mereka. Ini karena kesederhanaan adalah musuh
dari penerapan. Teori-teori sederhana tidak bekerja dan guru segera
menyadari ini. Demikian dilema kami pada tahun 90-an. Pendidik
menginginkan dan suara-gigitan tetapi mereka akan dengan cepat
mengutuk dan membuang itu semua ketika mereka melihat kedangkalan
mereka.

PENGGUNAAN DAN PENYALAHGUNAAN SCAFFOLDING


(PERANCAH) SEBAGAI CONTOH MEMBERIKAN PSIKOLOGI
DINI.

Para pendidik mengizinkan slogan-slogan dan mereka menemukannya di


scaffolding (perancah). Ini dulu “ laku-keras” (atau mungkin, sangat dibeli )
dalam pendidikan . Penelitian terakhir menyarankan bahwa Scaffolding
(perancah) tidak ada ataupun tidak bekerja didalam kelas . Bliss, Askew and Mc
Rae (1996) melaksanakan sebuah penelitian pada 13 guru dari tahap kunci (7-11
tahun) siswa-siswa. Mereka memberikan pertanyaan-pertanyaan berikut:
 Apakah Scaffolding (perancah) dari pengetahuan sehari-hari ( Rogoff dan
Werdichi,1984) mentransfer kepada pengetahuan sekolah ?
 Jika scaffolding (perancah) ditemukan di kelas, apa cara terbaik untuk
menanamkan contoh-contoh pada praktek yang baik?
Bisakah contoh baik dari pratek membantu guru menggunakan teknik
scaffolding (perancah) dalam pelajaran seperti menyortir bebatuan, mengetes
kekuatan kertas?

Banyak kejutan Bliss dan kawan-kawan, mereka menemukan hampir tidak ada
Scaffolding (peranca)h di kelas IPA di sekolah– sekolah di London. Mereka
malah menemukan “ Scaffolding (perancah) Semu” seperti “scaffolding
(perancah) macet”. Para peneliti menemukan beberapa contoh “pengaturan

Page 4
aktivitas” didalam kelas pengetahuan alam. Ini mengejutkan mereka karena sangat
banyak yang sudah ditulis mengenai teori kekuatan scaffolding (perancah) untuk
membantu mengembangkan/memahami praktek didalam kelas.

Ada dua studi baru dimana scaffolding (perancah) berperan sukses . Hal ini
menunjukkan bahwa dalam konteks pendidikan tertentu scaffolding (perancah)
merupakan struktur konseptual berguna untuk mengerti praktek. Pertama , Wood
dan wood (1996) menunjukkan bagaimana intruksi komputer bisa
memperkerjakan scaffolding (perancah) dalam konteks pemecahan masalah.
Kedua Hobshaum , Peter and Sylva (1996) menunjukkan bahwa pemulihan
membaca dalam tutorial program intervensi satu per satu untuk anak sukses
dalam promosi kemampuan sastra untuk pembaca lemah. Walaupun dua studi ini
menunjukkan bahwa scaffolding (perancah) bisa berperan efektif dalam (tutor
atau program komputer) disini saya menyarankan bahwa scaffolding (perancah)
bukan merupakan konsep berguna didalam pengajaran kelas pada umumnya .

Dalam kesimpulan, muncul dalam bahwa kelas-kelas bukan merupakan


perwujudan prinsip Vygotskian. Namun, situasi-situasi tutorial bisa mewujudkan
prinsip-prinsip Vygotskian. Saya percaya bahwa scaffolding (perancah) adalah
contoh baik dari sebuah konsep Vygotskian yang telah “laku keras” atau “ sangat
dibeli” oleh para pengajar kelas, keliatannya lebih bekerja sangat efektif dalam
situasi 1:1

PEMBELAJARAN VYGOTSKIAN DI KELAS

Karya tulis shayer mendemonstrasikan bahwa Piaget dan Vygotsky bisa


berkontribusi untuk meningkatkan praktek di kelas normal. Saya beralih dengan
kesenangan untuk kerja shayer dan teman-teman yang mendesain program
kependidikan berdasarkan kerja/penelitian Piaget dan Vygotsky. Karya tulis
Shayer menyediakan sebuah demonstrasi yang meyakinkan dari keefektifan
intervensi kependidikan berdasarkan teori pengembangan pengetahuan. Dia
melaporkan penemuan dari banyak sekolah di London termasuk “sekolah
penelitian”. Campur tangannya berdasarkan hipotesa berikut:

Page 5
1. Jika siswa mencapai tahap operasional formal, mereka akan menjadi pelajar-
pelajar yang lebih baik dan lebih mampu untuk menghasilkan keuntungan dari
pembelajaran instruksional.
2. Jika intervensi membantu siswa dalam operasional formal, “ Pengembangan”
ini akan menghasilkan efek ukuran dalam tes psiologi dan juga pada hasil
“pembelajaran”. Pada akhirnya terjadi karena perkembangan psikologi bisa
meningkatkan kemampuan belajar.

Dalam eksperimen Shayer, guru dipilih untuk menyampaikan 30 kegiatan,


masing-masing mempermudah langkah menuju pemikiran operasional. Hasil
penelitian menunjukan bahwa intervensi meningkatkan kemampuan belajar
(Kemajuan pada test psikologi ) tetapi ada juga peningkatan pada tugas “ Key
Stage 3” pada sains, bahasa inggris dan matematika.yang paling kuat dari seluruh
hasil shayer adalah generalisasi ke mata pelajaran sekolah yang lain seperti
Bahasa Inggris . Anak – anak benar – benar “belajar bagaimana cara belajar”.

Pandangan shayer kenapa intervensinya bekerja sangat menarik. Perkembangan


pengetahuan dan bahasa berperan ketika seorang siswa yang tidak menyaksikan
performa sukses dari siswa lain dan menginternalisasinya. Siasat yang kurang
lengkap dari siswa yang kurang mampu ditingkatkan melalui melihat kesuksesan
dari siswa yang lebih bisa. Shayer mengklaim bahwa pertandingan lebih hebat
antara internalisasi siswa yang lebih mampu dan kurang mampu, lebih hebat
itulah pembelajarannya.

Bagaimana bisa pembelajaran seperti ini dijalankan di kelas ? Diskusi seluruh


kelas setelah eksperimen kelompok kecil menyediakan kesempatan bagi siswa
untuk membangun strategi yang lebih kuat karena masing – masing wawasan di
sampaikan di kelas dan setiap kesulitan yang ditemui dan pada akhirnya
mengatasi terlihat ke siswa lain yang belajar melalui itu.

Shayer ditanya pertanyaan provokatif : ‘Apakah Piaget atau Vygotsky paling


berkontribasi terhadap intervensi sukses tersebut?’ Dia menjawab bahwa apa yang
diperoleh siswa (Penyusunan tugas mereka sendiri, perangkat keras intelektual )
diperoleh dari Piaget. Namun latihan pedagogiknya diambil dari Vygotsky karena
berbagai aspek mediasi adalah akibat dari perkembangan kognitive, dan karena

Page 6
agen mediasi (dia menggambar pada kerja Feuerstein) merangkai dan
mengorganisir lingkungan pembelajaran.

Tugas mereka sendiri dalam penelitian shayer benar -benar membutuhkan konteks
operasional formal schemat solusi. Mereka mencakup pengendalian variable-
variabell dan juga penggunaan pemikiran proposional.

PENGEMBANGAN VS PEMBELAJARAN ADALAH SEBUAH


DIKOTOMI LAMA (OUTDATE)

Haruskah kita mendorong pengembangan anak-anak sehingga membentuk dasar


untuk pembelajaran sekolahnya kelak? atau haruskah kita mendorong
pembelajaran untuk menggunakan peralatan kultural dalam konteks subjeck
( sains, matematika) agar mereka bisa menstransfer pelajaran sekolah?

Dalam pandangan pemikiran Vygostky perkembangan berasal dari proses


pengajaran. Pandangan ini berhubungan dengan proses-proses dialog seperti
Scaffolding (perancah) dengan alat untuk pemikiran seperti menulis dan konsep
natural seperti interkoneksi. Shayer mengingatkan kami pada deskripsi piegetian
dari berbagai level pengetahuan. Dia berharap mendorong pengembangan progresi
dan pemikiran operasional. Dan pekerjaannya menunjukan pemikiran optimal
akan menyamaratakan ke bahasa inggris. Tetapi dua pendekatan itu sangat
berbeda.

Penelitian Shayer berasumsi bahwa :

Pengembangan → pembelajaran

Dimana Vygotsky telah mengklaim:

Pembelajaran → Pengembangan

Saran saya disini adalah untuk membuang perbedaan-perbedaan ini. Malah kita
harus belajar “pembelajaran dalam konteks”. Dalam beberapa kasus pembelajaran
ini akan berperan dalam sekolah (sebuah konteks pendidikan) dan pada yang lain
ini akan terjadi dirumah dan dilingkungan sekitar. Konteks khususnya bermasalah

Page 7
kecil; yang bermasalah adalah bahwa anak telah mendapat pengetahuan,
kemampuan dan sikap baru dan bahwa ini mendorongnya menuju kematangan.
Pengetahuan, kemampuan dan sikap akan sering menjadi bagian “ Cultural took
kit”. Terkadang pembelajaran akan berperan pada sebuah konteks sosial (di tradisi
Vygotsky) dan diwaktu yang lain ini akan terjadi ketika anak-anak berada pada
tradisi piagetian. Anak-anak menjadi bagian darinya bermasalah kecil karena
pelajar memiliki sebuah perwakilan internal dan “yang lain” bahkan ketika dia
sedang mempelajari (atau mengembangkan ) miliknya sendiri hanya membuat
saran radikal ini karena gaya percaya bahwa kita telah bergerak cukup jauh dari
teori pembelajaran kelakuan untuk mengklaim ulang kata “pembelajaran”
perbedaan antara yang saya percaya telah mengecualikan pembentuk dari
praktikal perdebatan.

HUBUNGAN ANTARA PENELITIAN SHAYER DAN PERNYATAAN


SOSIOLOGI POLITIKAL BEVERIDGE

Beveridge menjelaskan “budaya komodifikasi” dari sekolah ekonomi yang mana


“potensi” disebut pembelajaran atau pengetahuan “diproduksi” oleh guru dan
yang lain seperti cara untuk mengembangkan “hasil” kepada masyarakat
(kebanyakan industrialis) dan untuk meminimalisir biaya pajak. Jika Piaget akan
Vygotsky ingin memiliki ciri khas pendidikan sekarang. Kami harus bisa
menghubungkan teori-teori mereka dengan tujuan dan prosedur dari sebuah
sistem sekolah yang bertujuan untuk mengubah dan memproduksi ulang
pengetahuan secara efesien dalam sumber pembatas yang tersedia. Produk dari
sistem pendidikan ini disebut “ pengetahuan sekolah “dan ini abstrak.walaupun
penerapan langsungnya kepada arena lain dari kehidupan seperti karyawan adalah
lemah.

Saya kembali ke awal optimis dari Beveridges. Tidak pernah sebelumnya


memiliki begitu banyak psikolog “pengetahuan berguna” untuk menjual tenaga
kependidikan. Jika alat-alat kultural memungkinkan pembelajaran mutahir yang
lebih,dan jika mereka diperoleh dalam mediasi konteks, selanjutnya kami akan
meyakinkan para ahli ekonomi dalam pendidikan yang mereka akan bayar.

Page 8
Tapi saya tidak akan mengakhiri disini, aku akan melihat fokus penelitian kami
secara lebih tepat pada Wertch (1994) konsep dari aksi mediasi bahwa kita harus
mengambil interaksi antara orang dewasa,siswa dan tugas-tugas seperti unit
analisis, bukan induvidual.

Beveridge juga menyarankan kebutuhan untuk teknik keefektifan bahasa. Namun,


itu harus ditanamkan dalam teori mendalam, bukan teori dangkal. Kami mungkin
mengadopsi sebuah sistem pendekatan untuk proses-proses implementasi explisit.
Beveridge mencela ‘angka pertumbuhan’ dari teknisi-teknisi tetapi sedikit pemikir
dan sarjana. Konferensi-konferensi seperti ini adalah satu pegerakan lagi melawan
kedangkalan.

KESIMPULAN
1. Aku memuji dari dua makalah yang saling melengkapi.
2. Saya berpendapat terhadap over-penerapan scaffolding untuk pembelajaran di
kelas.
3. Aku memuji penekanan pada tindakan dimediasi, tidak melupakan
penyimpangan operasional Piaget dari Michael Shayer.
4. Aku mengakui 'komodifikasi' pendidikan berarti kita harus menunjukkan
hasil. Kita perlu membuat jelas bahwa 'pengembangan' mengarah ke 'lebih
pencapaian pendidikan'.
5. Saya menyambut teori yang kaya pada proses itu sendiri, bukan hanya hasil-
hasil.
6. Namun, saya menyarankan bahwa unit baru analisis harus menjadi aktivitas
dalam konteks (misalnya sekolah, kelas atau kelompok kecil) dan bukan
peserta secara individual.

DAFTAR PUSTAKA

Bliss, J., Askew, M. and McRae, S. (1996). Effective teaching and learning:
scaffolding revisited. Oxford Review of Education, 22 (1), 37–61.
Hobsbaum, A., Peters, S. and Sylva, K. (1996). Scaffolding in Reading Recovery.
Oxford Review of Education, 22 (1), 17–35.
Rogoff, B. and Wertsch, J.V. (1984). Children’s learning in the ‘zone of proximal
development’. In B.Rogoff and J.V.Wertsch (eds) New Directions for Child
Development. San Francisco: Jossey-Bass.

Page 9
Wertsch, J.V. (1994). The primacy of mediated action in sociocultural studies.
Mind, Culture and Activity, 1, 202–8.
Wood, D. and Wood, H. (1996). Vygotsky, tutoring and learning. Oxford Review
of Education, 22 (1), 5–15.

Page 10
BAB III

ANALISIS KEKUATAN DAN KELEMAHAN CHAPTER

a. Kekuatan Chapter
Chapter ini menjelaskan dan mengupas tentang teori-teori dan praktik
belajar dalam kelas dimulai dari karya tulis Mike Baveridge tentang
psikologi “Teori Kontekstual” yang sedikit menjelaskan tentang kekuatan
konteks khusus kelakukan, aktivitas dan proses-proses pendidikan secara
psikologi.
Kemudian chapter ini menjelaskan penggunaan dan penyalahgunaan
Scaffolding sebagai psikologi dini. Dijelaskan tentang kelemahan
scaffolding dalam penelitian Bliss, Askew dan Mc Rae (1996) terhadap 13
orang guru dan merekan menemukan hampr tidak ada keberhasilan
Scaffolding (Sacffolding semu dan atau mati) dalam pembelajaran
khususnya di Kelas IPA di kelas-kelas London. Walaupun banyak teori
yang mengangkat kekuatan dari scaffolding dalam praktik pembelajaran di
kelas. Kekuatan chapter ini adalah dinyatakan bahwa Situasi tutorial-
tutorial bisa menerapkan perwujudan prisnsip-prinsip Vygotskian. Dan di
nyatakan bahwa scaffolding kelihatannya lebih bekerja sangat efektif
dalam situasi pembelajaran 1:1 antara guru dan siswa.
Selanjutnya Karya tulis Shayer menuliskan tentang keefektifan intervensi
pendidikan berdasarkan teori pengembangan pengetahuan dimana hasil
penelitiannnya menunjukkan bahwa intervensi meningkatkan kemampuan
belajar dan terdapat juga peningkatan pada tugas.
Dalam chapter ini menjelaskan juag tentang dikotomi pengeembangan dan
pembelajaran sehingga diperoleh masukan yang kuat terhadap hubungan
anatara pengembangan dan pengajaran. Dan menurut Kathy Sylva dalam
cahapternya tersebut bahwa harus membuang perbedaan-perbedaan antara
apakah Pengembangan Pembelajaran atarau sebaliknya. Ia
menyarankan harus melakuan proses belajar yaitu Pembelajaran dalam
Konteks.

Page 11
Yang menjadi kekuatan lain chapter ini adalah komodifikasi pendidikan
dimana seluruh proses pendidikan yang dilakukan di kelas harus
berorientasi pada hasil dan pencapaian pendidikan.

b. Kelemahan Chapter
Kelemahan chapter ini adalah bahwa ulasan dan penyajian peneletian-
penelitian sangat ringkas tanpa dikuatkan dengan data yang valid. Data
yang disajikan untuk memperkuat berbagai alasan dan argumentasi sebatas
wacana ringkas dan tidak detail. Teori dan argumentasi yang di sampaikan
juga tidak spesifik dan mengerucut terhadap satu objek dan subjek
masalah, karena yang disajikan berkaitan dengan psikologi pendidikan
dalam pengelolaan kelas sehingga banyak teori dan metode belajar yang
disampikan terhadap kekuatan dan kelemahan teori dan metode belajar
yang disampaikan secara psikologi.
Bahasa yang sulit untuk dipahami dan Pemahaman saya tentang
menterjemahkan chapter kurang menguasai mengakibatkan timbula rasa
bimbang dan ragu terhadap kritisi yang dituliskan.

c. Rangkuman Chapter
1. Psikologi merupakan konsep yang sangat berguna dalam pendidikan
meliputi kognisi terletak, analogi, representasi eksternal, penalaran
dalam konteks, akuisisi pengetahuan implisit, dan peran bahasa dalam
kolaborasi. Kesederhanan konsep/aplikasi adalah musuh penerapan.
2. Penggunaan Scaffolding yang semu atau gagal pada bidang Ilmu
Pengetahuan mengindikasikan bahwa Scaffolding bukan merupakan
konsep berguna didalam pembelajaran kelas pada umumnya. Namun,
situasi kondisi Tutorial dapat diwujudkan dengan scaffolding dan
kelihatannya bekerja sangat efektif dalam situasi 1:1
3.

Page 12