Anda di halaman 1dari 18

RESUME

STRATEGI PEMBELAJARAN
(BAB III BAHAN AJAR DAN HASIL BELAJAR)

Disampaikan Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah


Strategi Pembelajaran
Pada Prodi Pendidikan Bahasa Dan Sastra Indonesia

(Dosen Pengampu: Dra. Rifnida, M.Pd)

Disusun oleh kelompok II :

1. Abdul Kodir Zain 161210013


2. Dwi Nurhayati 161210038
3. Novita Anggraeni 161210073
4. Sri Idaman 161210112
5. Subhatul Jamilah 161210010

SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN


PERSATUAN GURU REPUBLIK INDONESIA
(STKIP-PGRI) BANDAR LAMPUNG
2018
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat rahmat dan Karunia-Nya kami dapat
menyelesaikan makalah ini. Adapun makalah ini kami buat untuk melengkapi tugas dalam mata
kuliah Strategi Pembelajaran.
kami mengucapkan terimakasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam menyelesaikan
makalah ini.
Dalam pembuatan makalah ini, kami menyadari bahwa makalah ini teramat jauh dari kata
sempurna, oleh karena itu, semua bentuk perbaikan, saran, kritik, masukan dari teman-teman
mahasiswa dan terutama dari dosen sangat kami hargai untuk peningkatan kualitas tulisan kami di
kemudian hari. Akhir kata, harapan besar kami adalah semoga makalah ini membawa manfaat bagi
kita semua.

Bandar Lampung. Oktober 2018

Kelompok II
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

KBM (Kegiatan Belajar mengajar) merupakan suatu kegiatan yang bernilai edukatif antara guru
dengan anak didik, hal ini karena KBM yang dilakukan, diarahkan untuk mencapai tujuan tertentu
yang telah dirumuskan. Guru merencanakan kegiatan pengajarannya secara sistematis guna
kepentingan pengajaran, untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran secara aktif
peserta didik dalam megembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spritual,
pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan dan akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan
dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Perubahan perilaku dalam belajar mencakup seluruh aspek
pribadi peserta didik, yaitu aspek kognitif, afektif dan psikomotorik.

Akan tetapi, kenyataannya kita menyadari selama ini tidak mudah bagi guru menjadikan peserta
didik aktif dalam mengembangkan potensi diri peserta didik.Salah satu penyebabnya adalah
kemampuan siswa untuk dapat menyelesaikan masalah kurang diperhatikan oleh guru.Akibatnya,
manakala siswa menghadapi masalah dianggap sepele.

Untuk itu, Salah satu cara mengatasi masalah tersebut adalah dengan menerapkan  SPBM dimana
Pembelajaran berdasarkan masalah (problem based learning) adalah suatu pendekatan untuk
membelajarkan siswa untuk mengembangkan keterampilan berfikir dan keterampilan memecahkan
masalah. Untuk lebih jelasnya mengenai SPMB akan dipaparkan dalam makalah ini.
1.2 Rumusan Masalah

1. Apa Pengertian Model Pembelajaran Berbasis Masalah?


2. Apa Karakteristik Dan Prinsip Dalam Model Pembelajaran Berbasis Masalah ?
3. Apa Saja Tahapan-Tahapan Dalam Model Pembelajaran Berbasis Masalah ?
4. Apa Saja Keunggulan Dan Kelemahan Dalam Penggunaan Model Pembelajaran Berbasis
Masalah ?

1.3 Tujuan Masalah

Adapun tujuan dari masalah ini ialah untuk mengetahui:

1. Apa Pengertian Model Pembelajaran Berbasis Masalah?


2. Apa Karakteristik Dan Prinsip Dalam Model Pembelajaran Berbasis Masalah ?
3. Apa Saja Tahapan-Tahapan Dalam Model Pembelajaran Berbasis Masalah
4. Apa Saja Keunggulan Dan Kelemahan Dalam Penggunaan Model Pembelajaran Berbasis
Masalah ?
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Model Pembelajaran Berbasis Masalah

Menurut Muslimin I dalam Boud dan Felleti (2000:7), Pembelajaran berdasarkan masalah


(problem based learning) adalah suatu pendekatan untuk membelajarkan siswa untuk
mengembangkan keterampilan berfikir dan keterampilan memecahkan masalah, belajar peranan
orang dewasa yang otentik serta menjadi pelajar mandiri. Pembelajaran berdasarkan masalah tidak
dirancang untuk membantu guru memberikan informasi yang sebanyak-banyaknya kepada siswa,
akan tetapi pembelajaran berbasis masalah dikembangkan untuk membantu siswa mengembangkan
kemampuan berpikir, pemecahan masalah dan keterampilan intelektual, belajar berbagai peran
orang dewasa melalui pelibatan mereka dalam pengalaman nyata dan menjadi pembelajaran yang
mandiri.

Menurut Jodion Siburian, dkk dalam Utami (2011), Pembelajaran berbasis masalah (problem based
learning) merupakan salah satu model pembelajaran yang berasosiasi dengan pembelajaran
kontekstual. Pembelajaran artinya dihadapkan pada suatu masalah, yang kemudian dengan melalui
pemecahan masalah, melalui masalah tersebut siswa belajar keterampil-keterampilan yang lebih
mendasar.

Menurut Duch (1994) Pembelajaran Berbasis Masalah adalah metode instruksional yang
menantang peserta didik agar belajar untuk belajar, bekerja sama dalam kelompok untuk mencari
solusi bagi masalah yang nyata. Masalah ini digunakan untuk mengaitkan rasa keingintahuan serta
memiliki kemampuan analisis peserta didik dan inisiatif atas materi pelajaran.PBMmempersiapkan
peserta didik untuk berpikir kritis dan analitis, dan untuk mencari serta menggunakan sumber
pembelajaran yang sesuai.

Berdasarkan beberapa pendapat ahli, maka dapat disimpulkan bahwa Model Pembelajaran
Berbasis Masalah (Problem Based Learning) adalah model pembelajaran yang diawali dengan
pemberian masalah kepada peserta didik dimana masalah tersebut dialami atau merupakan
pengalaman sehari-hari peserta didik. Selanjutnya peserta didik menyeleseikan masalah tersebut
untuk menemukan pengetahuan baru.Secara garis besar PBL terdiri dari kegiatan menyajikan
kepada peserta didik suatu situasi masalah yang autentik dan bermakna serta memberikan
kemudahan kepada mereka untuk melakukan penyelidikan dan inkuiri.

Pada aspek filosofi, PBL dipusatkan pada siswa yang dihadapkan pada siswa yang dihadapkan
pada suatu masalah. Sementara pada subject based learning guru menyampaikan pengetahuannya
kepada siswa sebelum menggunakan masalah untuk memberi ilustrasi pengetahuan tadi. PBL
bertujuan agas siswa mampu memperoleh dan membentuk pengetahuannya secara efisien,
kontekstual, dan terintegrasi. Model pembelajaran pokok dalam PBL berupa belajar dalam
kelompok kecil dengan sistem tutorial.

Strategi pembelajaran dengan pemecahan masalah dapat diterapkan :

1. Mana kala guru menginginkan agar siswa tidak hanya sekedar dapat mengingat materi
pelajaran, akan tetapi menguasai dan memahaminya secara penuh.
2. Apabila guru bermaksud untuk mengembangkan keterampilan berpikir rasional siswa,
yaitu keterampilan menganalisis situasi, menerapkan pengetahuan yang mereka miliki
dalam situasi baru, mengenal adanya perbedaan antara fakta dan pendapat, serta
mengembangkan kemampuan dalam membuat judgment secara objektif.
3. Manakala guru menginginkan kemampuan siswa untuk memecahkan masalah serta
membuat tantangan intelektual siswa. Jika guru ingin mendorong siswa untuk lebih
bertanggung jawab dalam belajar.
4. Jika guru ingin agar siswa memahami hubungan antara apa yang dipelajari dengan
kenyataan dalam kehidupannya (hubungan antara teori dengan kenyataan).
5. Karateristikdan Prinsip dalam Metode Pembelajaran Berbasis Masalah

2.2 Karakteristik Dan Prinsip Dalam Model Pembelajaran Berbasis Masalah

 Ciri khusus pembelajaran berdasarkan masalah menurut Arends model PBL memiliki
karakteristik sebagai barikut ini,
1. Pengajuan pertanyaan atau masalah
Mengajukan situasi kehiduupan nyata autentik, emnghindari jawaban sederhana, dan
memungkinkan adanya berbagai macam solusi untuk situasi tersebut.
2. Berfokus pada keterkaitan antar disiplin
Meskipun pembelajara      berdasarkan masalah mungkin berpusat pada mata pelajaran IPA
atau matematika, masalah yang akan diselidiki telah dipilih benar -benar nyata agar dalam
pemecahannya.
3. Penyelidikan autentik
Mengharuskan siswa melakukan penyelidikan autentik untuk mencari penyeselesaian
nyata terhadap masalah nyata, mereka harus menganalisis dan menidentifikasi masalah,
mengembangkan hipotesis, dan membuat ramalan.
4. Menghasilkan produk dan memamerkannya
Menuntuk siswa untuk menghasilkan produk tententu dalam bentuk karya nyata atau
artefak dan peragaan yang menjelaskan atau mewakili bentuk penyelesaian masalah yang
mereka temukan.
5. Kolaborasi
Dicirikan oleh siswa yang bekerja sama satu dengan yang lainnya, paling sering secara
berpasangan atau dalam kelompok kecil. Bekerja sama memberikan motivasi untuk secara
berkelanjutan terlibat dalam tugas-tugas kompleks dan memperbanyak peluang untuk
berbagi inkuiri dan dialog dan untuk mengembangkan ketrampilan sosial dan ketrampilan
berpikir. 

Berdasarkan uraian tersebut tampak jelas bahwa pembelajaran dengan model PBL dimulai oleh
adanya masalah (dapat dimunculkan oleh siswa atau guru), kemudian siswa memperdalam
pengetahuannya tentang apa yang mereka telah ketahui dan apa yang mereka perlu ketahui untuk
memecahkan masalah tersebut. Siswa dapat memilih masalah yang dianggap menarik untuk
dipecahkan sehingga mereka terdorong berperan aktif dalam belajar.

Pembelajaran berdasarkan masalah tidak dirancang untuk membantu guru memberikan informasi
yang sebanyak-banyaknya kepada siswa, akan tetapi pembelajaran berbasis masalah dikembangkan
untuk membantu siswa mengembangkan kemampuan berpikir, pemecahan masalah dan
keterampilan intelektual, belajar berbagai peran orang dewasa melalui pelibatan mereka dalam
pengalaman nyata dan menjadi pembelajaran yang mandiri.

 Prinsip-Prinsip dalam Penerapan Pembelajaran Berbasis Masalah, Yaitu :

Pembelajaran berbasis masalah secara khusus melibatkan pebelajar bekerja pada masalah dalam
kelompok kecil yang terdiri dari lima orang dengan bantuan asisten sebagai tutor. Masalah
disiapkan sebagai konteks pembelajaran baru. Analisis dan penyelesaian terhadap masalah itu
menghasilkan perolehan pengetahuan dan keterampilan pemecahan masalah. Permasalahan
dihadapkan sebelum semua pengetahuan relevan diperoleh dan tidak hanya setelah membaca teks
atau mendengar ceramah tentang materi subjek yang melatar belakangi masalah tersebut.Hal inilah
yang membedakan antara PBL dan metode yang berorientasi masalah lainnya. Tutor berfungsi
sebagai pelatih kelompok yang menyediakan bantuan agar interaksi pebelajar menjadi produktif
dan membantu pebelajar mengidentifikasi pengetahuan yang dibutuhkan untuk memecahkan
masalah. Hasil dari proses pemecahan masalah itu adalah, pebelajar membangun pertanyaan-
pertanyaan (isu pembelajaran) tentang jenis pengatahuan apa yang diperlukan untuk menyelesaikan
masalah? Setelah itu, pebelajar melakukan penelitian pada isu-isu pembelajaran yang telah
diidentifikasi dengan menggunakan berbagai sumber. Untuk itu pebelajar disediakan waktu yang
cukup untuk belajar mandiri. Proses PBL akan menjadi lengkap bila pebelajar melaporkan hasil
penelitiannnya (apa yang dipelajari) pada pertemuan berikutnya. Tujuan pertama dari paparan ini
adalah untuk menunjukkan hubungan antara pengetahuan baru yang diperoleh dengan masalah
yang ada ditangan pebelajar.
Fokus yang kedua adalah untuk bergerak pada level pemahaman yang lebih umum, membuat
kemungkinan transfers pengetahuan baru. Setelah melengkapi siklus pemecahan masalah ini,
pebelajar akan memulai menganalisis masalah baru, kemudian diikuti lagi oleh prosedur: analisis-
penelitian- laporan.

2.3 Tahapan-Tahapan Dalam Model Pembelajaran Berbasis Masalah

Banyak ahli yang menjelaskan bentuk penerapan SPBM. John Dewey seorang 6 langkah SPBM
yang kemudian dia namakan metode pemecahan masalah (problem solving), yaitu :

1) Merumuskan masalah yaitu langkah siswa menentukan masalah yang akan dipecahkan.
2) Menganalisis masalah, yaitu langkah siswa meninjau masalah secar kritis  dari berbagai
sudut pandang.
3) Merumuskan hipotesis yaitu langkah siswa merumuskan berbagai kemungkinan
pemecahan sesuai dengan pengetahuan yang dimilikinya.
4) Mengumpulkan data, yaitu langkah siswa mencari dan menggambarkan informasi yang
diperlukan untuk pemecahan masalah.
5) Pengujian hipotesis, yaitu langkah siswa mengambil atau merumuskan kesimpulan sesuai
dengan penerimaan dan penolakan hipotesis yang diajukan.
6) Merumuskan rekomendasi pemecahan masalah yang dapat dilakukan sesuia rumusan hasil
pengujian hipotesis dan rumusan kesimpulan.

Sesuai dengan tujuan SPBM adalah untuk menumbuhkan sikap ilmiah, dari beberapa bentuk
SPBM yang dikemukakan para ahli, maka secara umum SPBM bisa dilakukan dengan langkah-
langkah :

1) Menyadari Masalah

Implemanatsi SPBM adalah harus dimulai dengan kesadaran adanya masalah yang harus
di pecakan.Pada tahapan ini guru membimbing siswa pada kesadaran adanya kesenjanagn atau gap
yang dirasakan oleh manusia atau lingkungan sosial.Biasanya melalui pertanyaan-pertanyaan.

Menurut Arends (dalam Abbas, 2000:13), pertanyaan dan masalah yang diajukan haruslah
memenuhi kriteria sebagai berikut : Autentik, Jelas, Mudah dipahami, Luas dan sesuai dengan
tujuan pembelajaran dan Bermanfaat.

2) Merumuskan Masalah

Bahan pelajaran dalam bentuk topik yang dapat dicari dari kesenjangan, slanjutnya difokuskan
pada masalah apa yang pantas untuk dikaji..Kemampuan yang diharapkan dari siswa dalam
langkah ini adalah siswa dapat menentukan prioritas masalah.Siswa dapat memanfaatkan
pengetahuanya untuk mengkaji, memerinci, dan menganalisis masalah sehingga pada akhirnya
muncul rumusan masalah yang jelas, spesifik, dan dapat dipecahkan.

3) Merumuskan Hipotesis

Sebagai proses berpikir ilmiah yang merupakan perpaduan dari berpikir deduktif dan induktif,
maka merumuskan hipotesis merupakan langkah penting yang tidak boleh ditinggalkan.

4) Mengumpulkan Data

Yaitu sebagai proses berpikir empiris, keberadaan data dalam proses berpikir ilmiah merupakan hal
yang sangat penting. Sebab, menentukan cara menyelesaikan masalah sesuai dengan hipotesis yang
diajukan harus diajukan sesuai dengan data yang ada. Kemampuan yang diharapkan pada tahap ini
adalah kecakapan siswa untuk mengumpulkan dan memilah data, kemudian memetakan dan
menyajikan dalam berbagai tampilan sehingga mudah dipahami.

5) Menguji hipotesis

Berdasarkan data yang dikumplkan, akhirnya siswa mengumpulkan hipotesis mana yang diterima
dan mana yang ditolak kemampuan yang diharapkan dari siswa dalam tahapan ini adalah
kecakapan menelaah data dan sekaligus membahasnya untuk melihat hubungannya dengan
masalah yang dikaji.Disamping itu, diharapkan siswa dapat mengambil keputusan dan mengambil
kesimpulan.

6) Menentukan pilihan penyelesaian

Merupakan akhir dari proses SPBM. Kemampuan diharapkan dari tahapan ini adalah kecakapan
memilih alternatif penyelesaian yang memungkinkan dapat dilakukan serta dapat
memperhitungkan kemungkinan yang akan terjadi sehubungan dengan alternatif yang dipilihnya,
termasuk memperhitungkan akibat yang akan terjadi pada pilihannya

2.4 Keunggulan Dan Kelemahan Dalam Penggunaan Model Pembelajaran Berbasis Masalah

Sebagai suatu strategi pembelajaran, SPBM memiliki beberapa keunggulan, di antaranya:

a. Pemecahan masalah ( problem solving) merupakan teknik yang cukup bagus untuk lebih
memahami isi pelajaran.
b. Pemecahan masalah (problem solving) dapat menantang kemampuan siswa serta
memberikan kepuasan untuk menemukan pengetahuan baru bagi siswa.
c. Pemecahan masalah (problem solving) dapat meningkatkan aktivitas pembelajaran siswa.
d. Pemecahan masalah (problem solving) dapat membantu siswa bagaimana mentransfer
pengetahuan mereka untuk memahami masalah dalam kehidupan yata.
e. Pemecahan masalah (problem solving) dapat membantu siswa untuk mengembangkan
pengetahuan barunya dan bertanggung jawab dalam pembelajaran yang mereka lakukan.
Disamping itu, pemecahan masalah itu juga dapat mendorong untuk melakukan evaluasi
sendiri baik terhadap hasil maupun proses belajarnya.
f. Melalui pemecahan masalah (problem solving) bisa memperlihatkan kepada siswa bahwa
setiap mata pelajaran (matematika, IPA, sejarah, dan lain sebagainya), pada dasarnya
merupakan cara berpikir, dan sesuatu yang harus dimengerti oleh siswa, bukan hanya
sekedar belajar dari guru atau dari buku-buku saja.
g. Pemecahan masalah (problem solving) dianggap lebih menyenangkan dan diskusi siwa.
h. Pemecahan masalah (problem solving) dapat mengembangkan kemampuan siswa untuk
berpikir kritis dan mengembangkan kemampuan mereka untuk menyesuaikan dengan
pengetahuan baru.
i. Pemecahan masalah (problem solving) dapat memberikan kesempatan pada siswa untuk
mengaplikasikan pengetahuan yang mereka miliki dalam dunia nyata.
j. Pemecahan masalah (problem solving) dapat mengembangkan minat siswa untuk secara
terus-menerus belajar sekalipun belajar pada pendidikan formal telah berakhir.

Di samping keunggulan, SPBM juga memiliki kelemahan, diantaranya :

a. Manakala siswa tidak memiliki minat atau tidak memiliki kepercayaan bahwa masalah
yang dipelajari sulit untuk dipecahkan, maka mereka akan merasa enggan untuk mencoba.
b. Keberhasilan strategi pembelajaran melalui problem solving membutuhkan cukup waktu
untuk persiapan.
c. Tanpa pemahaman mengapa mereka berusaha untuk memecahkan masalah yang sedang
dipelajari, maka mereka tidak akan belajara apa yang mereka ingin pelajari.
2. Keterampilan Proses Ilmiah sebagai Bahan Ajar

Bahan ajar yang berupa produk pengetahuan tetap digunakan sampai sekarang. Namun,
seiring perkembangan zaman belajar tidak hanya berarti mempelajari pengetahuan,
melainkan juga diartikan mempelajari bagaimana belajar (learn how to learn. Dalam
pemahaman belajar, terdapat konotasi bahwa belajar adalah proses sebagaimana telah
dilakukan oleh para ilmuwan ketika melakukan penyelidikan dan menemukan fakta,
konsep, prinsip, serta prosedur. Belajar dengan proses penyelidikan dan penemuan itu
menemukan kecakapan yang disebut keterampilan proses ilmiah (science process skill).
Keterampilan proses ilmiah yang dikuasai oleh para ilmuwan, kemudian digunakan ketika
mereka melakukan studinya. Para ahli pendidikan melihat betapa bermanfaatnya
keterampilan proses ilmiah sebagai sarana belajar bagi para ilmuwan. Oleh sebab itu, para
ahli pendidikan menyadari bahwa perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang
demikian pesat terjadi karena adanya keterampilan proses ilmiah. Dalam hal ini, para ahli
pendidikan mengubah paradigm, yaitu paradigma belajar pengetahuan diubah menjadi
belajar keterampilan proses ilmiah. Dengan demikian, keterampilan proses ilmiah adalah
bahan ajar.

Sementara itu hasil belajar adalah penguasaan isi pengetahuan yang dijadikan
bahan ajar. Namun, pada pembelajaran masa kini, keterampilan proses ilmiah tidak hanya
dipandang sebagai langkah-langkah kerja ilmiah yang harus dijalani siswa, tetapi lebih
dimaknai sebagai perolehan belajar. Sebagai contoh, dalam daftar standar kompetensi dan
kompetensi dasar mata pelajaran IPA, SD, SMP, dan SMA. Kurikulum Tingkat Satuan
Pendidikan dinyatkan sebagai berikut.

Biologi sebagai salah satu bidang IPA, menyediakan berbagai pengalaman belajar
untuk memahami konsep dan proses sains. Keterampilan proses ini meliputi keterampilan
mengamati, mengajukan hipotesis, menggunakan alat dan bahan secara baik dan benar dan
dengan selalu mempertimbangkan keamanan dan keselamatan kerja, mengajukan
pertanyaan, menggolongkan dan menafsirkan data, serta mengkomunikasikan hasil temuan
secara lisan atau tertulis, menggali dan memilah informasi factual yang relevan untuk
menguji gagasan-gagasan atau memecahkan masalah sehari-hari(Departemen Pendidikan
Nasional, 2006).

Asas tersebut menjelaskan bahwa keterampilan proses adalah kecakapan dan


dengan kecakapan itu siswa dapat menguji gagasan ilmiah, bahkan dapat memcahkan
masalah sehari-hari. Jadi, apabila keterampilan proses ilmiah dikuasai siswa, keterampilan
itu dapat digunakan kelak pada berbagai bidang kehidupan sehari-hari( Longwoodedu).
Inilah gagasan utama dari pembelajaran dengan pendekatan keterampilan proses ilmiah.
Gagasan itu lebih bermakna daripada pembelajaran yang bahan ajarnya berupa produk
pengetahuan yang lebih banyak dihafalkan siswa.

3.Bahan Ajar Kontekstual

Menginjak tahun 2000, pendidikan cenderung menerapkan paham kontruktivisme. Namun,


paham itu memandang bahwa pengetahuan tidak dapat berada di luar pikiran, melainkan
sesuatu yang ada di dalam pikiran manusia. Ahli kontruktivisme memandang bahwa
belajar adalah membangun pengertian atau pemahaman baru tentang fenomena-fenomena
dari pengalman-pengalaman yang telah dimiliki sebelumnya. Oleh sebab itu, para ahli
konstruktivisme menekankan pentingnya keaktifan setiap siswa untuk membangun
pengetahuan melalui saling keterkaitan antara belajar lama dengan belajar baru. Kunci dari
teori kontrukstivisme adalah siswa belajar melalui keaktifan untuk membangun
pengetahuannya sendiri, membandingkan informasi baru dengan pemahaman yang telah
dimiliki, dan perbedaan-perbedaan yang ada pada pengetahuan baru dan lama untuk
mencapai pemahaman baru (Louks-Horsley; Harlen; Petterseon dan Knap; Yager dalam
Martin, 1997). Sebagai penejelasan, para ahli kontruktivisme mencontohkan bahwa dalam
pengalaman pertama menghadapi dunia yang ada disekitarnya, siswa mengembangkan
pikiran-pikiran yang memungkinkan untuk memahami segala hal yang terjadi di
sekitarnya.

Pembelajaran kontektual menyajikan tujuh prinsip pokok, yaitu pemodelan,


bertanya, inkuri, kontruktivisme, komunitas belajar, autentik asesmen, dan refleksi.
Khusus pada prinsip bertanya, inkuri, dan kontruktivisme, bahan ajar yang berupa benda
atau kejadian alam sebaiknya dikemas sedemikian rupa sehingga berupa fenomena yang
dapat merangsang timbulnya konflik kognitif. Selanjutnya, konflik kognitif akan
menjadikan siswa bertanyaatau merumuskan masalah, kemudian munculnya masalah akan
dipecahkan dengan tindakan inkuri sampai dapat membangun penegtahuan sendiri.

C. HASIL BELAJAR

Hasil belajar (learning outcomes) adalah kemampuan yang diperoleh siswa selama
melakukan kegiatan belajar. Kemampuan yang diperoleh itu menyangkut pengetahuan,
pengertian, dan pekerjaan yang dapat dilakukan oleh siswa. Dalam konteks pendidikan
formal pada umumnya dinyatakn bahwa hasil belajar adalah pernyataan yang
mendeskripsikan penegtahuan, sikap, dan keterampilan yang dimiliki siswa setelah
menempuh pelajaran tertentu

1.Hasil Belajar Pengetahuan

Pembelajaran konvensional pada umumnya dipandang sebagai pemeblajaran yang berbasis


penegtahuan (knowledge-based learning). Pembelajaran itu merupakan pembelajaran yang
memusatkan perhatian pada produk pengetahuan sebagai objek pelajaran. Namun,
mempunyai isi (konten) yang terkait dengan isi pengetahuan dalam disiplin akademik,
seperti matematika, fisika, kimia, biologi, sejarah, georgrafi dan lain-lain.

Isi pengetahuan yang digunakan untuk objek pelajaran harus dipilih,


diorganisasikan, serta disusun menjadi paket-paket yang secara paedagogis dapat disajikan
kepada siswa yang mempunyai perbedaan dan latar belakang berbeda (Anderson dan
Krathwohl, 2001). Isi pengetahuan yang dijadikan objek pelajaran disebut bahan pelajaran,
sedangkan kemasan bhaan pelajaran pada umumnya berupa buku teks.
Pada pembelajaran berbasis pengetahuan ini bahwa pengetahuan dijadikan bahan
ajar dan juga hasil belajar. Misalnya, sebagai hasil belajar, pengetahuan yang diajarkan
harus dikuasai oleh siswa setelah menempuh suatu pembelajaran. Hal yang spesifik dari
hasil belajar yang berupa pengetahuan adalah penguasaan pengetahuan itu umumnya
bersifat hafalan. Di samping itu, pengetahuan yang dipelajari bersifat pemahaman,
aplikatif, atau analitik maka struktur pemahaman, aplikasi, dan analisis dari pengetahuan
yang dikuasai harus sesuai dengan struktur pengetahuan yang diajarkan.

2.Hasil Belajar Kognitif

Pembelajaran berbasis pengetahuan adalah pembelajaran yang menyajikan pengetahuan


dengan struktur yang sudah baku dan belajar merupakan kegiatan pasif siswa untuk
menerima dan menampilkan pengetahuan dengan struktur semula. Namun, para ahli
pendidikan pengikut aliran belajar kognitivisme mempunyai gagasan bahwa belajar adalah
pemrosesan informasi oleh pusat-pusat pikiran di dalam otak. Informasi yang diolah
adalah stimulus yang berasal dari lingkungan. Informasi yang berupa fenomena dari benda,
gejala, peristiwa yang ada di lingkungan sekitar diolah oleh otak menjadi bangunan atau
struktur kognitif dan struktur kognitif yang terbentuk di otak disebut skema. Adapun
skema dibedakan menjadi skema operatif, yaitu skema tentang struktur gerakan motorik
tubuh dan skema figuratif, yaitu skema yang berkaitan dengan bangun konseptual. Skema
figuratif diekspresikan secara tertulis atau lisan dalam bentuk pengetahuan factual,
konseptual, procedural atau metakognitif. Kemampuan seseorang untuk membangun
struktur kognitif dalam bentuk skema figuratif ketika belajar adalah hasil belajar. Jadi,
pengubahan atau perkembangan kognitif yang terjadi setelah belajar juga disebut hasil
belajar.

a.Hasil Belajar Kemampuan Kognitif

Benjamin S.Bloom mengidentifikasi bahwa hasil belajar kognitif terdiri dari mengingat,
memahami, mengaplikasikan, menganalisis, mengevaluasi, dan mencipta. Pembelajaran
dengan hasil belajar kemampuan kognitif dapat melibatkan fakta, konsep, prinsip,
prosedur, dan metakognitif sebagai bahan ajar. Akan tetapi, materi pengetahuan tersebut
lebih berperan sebagai “Kendaraan “ bagi siswa untuk menguasai kemampuan kognitif.

Tes hasil belajar pada umumnya menggunakan soal-soal yang mengukur aspek
ingatan, pemahaman, aplikasi, analisis,evaluasi, dan sintensis. Tes itu sebenarnya adalah
tes kognitif dan tes itu tampak sekali menjadi tes kognitif jika soalnya tersusun oleh bahan
acuan (introductory material) dan masalah ata pernyataan yang mengikuti bahan acuan
(Gronlund,1977).

Contoh Soal :

Soal tes pengetahuan : Berapakah jumlah penduduk Indonesia pada tahun 2012

Soal tes kognitif :

Gambar di samping menunjukkan pertumbuhan penduduk di suatu negara


a. Berapakah jumlah penduduk pada tahun 1995?
b. Berapakah kira-kira jumlah penduduk pada tahun 2006?

c.Hasil Belajar Perkembangan Kognitif

Para ahli belajar kognitif mengemukakan gagasan bahwa belajar mengubah konsepsi
menjadi konsep. Konsepsi adalah konsep yang dimiliki siswa yang dibangun pada saat
mereka mengamati atau menghadapi fenomena yang dijumpai di lingkungan sekitar.
Sementara itu konsepsi sering disebut prakonsep karena konsepsi pada umumnya
berstruktur sederhana dan bisa bersifat miskonsepsi jika dibandingkan dengan konsep yang
baku. Jika prakonsep berkembang menjadi konsep, konsep sederhana berkembang menjadi
konsep yang lebih kompleks atau miskonsepsi diperbaiki menjadi konsep baku, terjadilah
perkembangan kognitif. Namun, perkembangan kognitif yang terjadi ketika siswa belajar
dapat ditelusuri dengan teori perkembangan kognitif yang dikemukakan oleh piaget.

Hasil belajar dalam bentuk perkembangan kognitif mungkin sulit diamati atau diukur
dengan tes karena struktur kognitif ada di dalam otak. Oleh karena itu, guru tidak mampu
melihat struktur dan perkembangan kognitif, kecuali diidentifikasi dengan jawaban lisan
atau tulisan siswa terhadap pertanyaan yang dihadapkan kepadanya. Hasil belajar kognitif
memungkinkan siswa untuk mengembangkan keamampuan berfikir logis dan mampu
menanggapi lingkungan secara kritis, kreatif, dan metakognitif.

3. Hasil Belajar Keterampilan Proses

Keterampilan proses ilmiah adalah keterampilan-keterampilan yang dimiliki oleh para


ilmuwan, dengan keterampilan-keterampilan itu para ilmuwan dapat membangun tubuh
pengetahuan dalam bentuk fakta, konsep, prinsip, dan prosedur. Berdasarkan pandangan
ini, ada system pendidikan yang yang menerapkan Pendekatan Keterampilan Proses
Ilmiah(PKPI) atau Pendekatan Keterampilan Proses (PKP). Pada pendidikan yang
menerapkan PKP, siswa belajar diharapkan untuk menguasai macam-macam keterampilan
proses yang dimiliki oleh para ilmuwan. Ketika siswa sudah menguasai keterampilan
proses ilmiah maka siswa akan dapat melakukan studi atau kerja ilmiah. Selanjutnya siswa
dapat menemukan dan membangun unsure-unsur tubuh pengetahuan yaitu fakta, konsep,
prinsip, dan prosedur melalui kerja ilmiah. Jadi, hasil belajar siswa dalam pendidikan yang
menerapkan PKP adalah Keterampilan Proses Ilmiah. Namun, sering kali guru kurang
memperhatikan bahwa “kemampuan yang diharapkan oleh siswa adalah kemampuan
dirinya sendiri”. Secara ringkas dapat dinyatakan bahwa pada pendekatan tujuan siswa
hanya diharapkan menguasai “pengetahuan, sikap, dan keterampilan menjiplak” dari orang
lain, termasuk dari gurunya. Sebaliknya, PKP tidak mengharapkan siswa menguasai
pengetahuan, sikap, dan keterampilan jiplakan; tetapi menguasai keterampilan proses
ilmiah. Dengan demikian, siswa dapat menemukan dan membangun pengetahaun,
keterampilan, dan sikap sendiri. Jika berdasarkan kurikulum,
pengetahuan/keterampilam/sikap yang ditemukan dan dibangun siswa sendiri sama dengan
pengetahuan/keterampilan/sikap yang dibangun para pakar terdahulu, diasumsikan bahwa
secara kebetulan hal tersebut terjadi.
4.Hasil Belajar Afektif dan Moral

Hasil belajar yang menyangkut tingkah laku mental selain kognitif adalah afektif dan
moral. Tingkah laku afektif dan moral itu merupakan tingkah laku yang muncul sebagai
dorongan dari dalm pikiran, yang lebih bersifat emosional daripada logika, walupun
strukturnya berkolerasi dengan struktur kognitif.

a. Afektif
Tingkah laku afektif adalah cara manusia menghadapi sesuatu secara emosional,
bisa berupa perasaan, nilai, apresiasi, keantusiasan, motivasi,dan kepedulian.
Adapun ranah afektif dibedakan menjadi lima kategori, yaitu menerima,
menanggapi, menghargai, mengorganisasi, dan karakterisasi. Guru pada umumnya
memaknakan afektif sebagai sikap umum terhadap kegiatan belajar dan mengajar.
Misalnya, memerhatikan dengan seksama, rajin, patuh, tidak mengganggu, tekun
dan sopan. Oleh karena itu, guru tidak menilai ranah afektif sebagai hasil belajar
dari suatu mata pelajaran. Sementara itu, ranah afektif seharusnya juga menjadi
hasil belajar pada mata pelajaran tertentu. Misalnya, pada kegiatan belajar
lapangan. Sementara itu, mata pelajaran agama, pendidikan moral Pancasila,
sejarah dan bahasa seharusnya lebih banyak muatan afektifnya daripada
kognitifnya.

b. Moral
Moral adalah tingkah laku yang membedakan perhatian, keputusan, dan tindakan
terhadap sesuatu yang dinilai baik (benar) dan buruk( salah). Pada system
pendidikan masa kini khususnya di Indonesia, pendidikan moral juga sangat
diharapkan terjadi. Pendidikan itu dipublikasikan sebagai pendidikan karakter.
Artinya, setelah menempuh pendidikan para siswa harus memiliki moral yang baik.
Hal tersebut merupakan hasil belajar. Menurut Piaget, pemikiran moral tumbuh
mulai dari anak-anak sampai orang menjadi dewasa. Teori Piaget menyatakan
bahwa perkembangan pemikiran moral terdiri dari dua tahap. Anak-anak yang
berumur di bawah 10 atau 11 tahun berfikir bahwa moral merupakan hokum atau
batasan-batasan yang pasti dan absolute. Oleh sebab itu, hukum moral itu dibuat
oleh orang-orang dewasa atau Tuhan maka siapa pun tidak dapat mengubahnya.
Berdasarkan hasil studi dan Kholberg, perkembangan moral adalah hasil belajar
yang perlu dicapai anak setelah mengikuti pendidikan teretentu.

5. Hasil Belajar Keterampilan Psikomotorik


Keterampilan psikomotorik dapat berkembang dari yang sederhana sampai yang
kompleks. Anak-anak dapat melakukan gerakan sederhana, orang dewasa dapat
melakukan gerakan kompleks. Sementara itu, gerakan sederhana pada orang
dewasa dapat dilatih terus-menerus sampai menjadi gerakan kompleks.
Keterampilan psikomotorik dibedakan menjadi 5 macam yaitu gerak terbimbing,
mekanistik, gerak kompleks, Adaptasi dan organisasi.
Perkembangan keterampilan psikomotorik menjadi hasil belajar pada mata
pelajaran tertentu. Misalnya, mata pelajaran olahraga, seni, kerajinan tangan, dan
pertukangan lebih banyak bertujuan untuk memfasilitasi siswa untuk
mengembangkan keterampilan prikomotorik. Artinya, mata pelajaran yang
menggunakan metode eksperimen, percobaan, pengamatan, dan sebagainya banyak
member latihan untuk perkembangan gerak psikomotorik, misalnya ilmu
pengetahuan alam.

6. Hasil Belajar Kecakapan Hidup


Pendidikan kecakapan hidup mempromosikan ranah-ranah kecakapan baru
yang harus dikuasai oleh peserta didik. Kecakapan baru itu mencakup semua aspek
kemampuan manusia, baik kemampuan penguasaan ilmu pengetahuan dan
teknologi, kemampuan menanggapi perubahan lingkungan, kemampuan
berinteraksi dan membangun relasi dengan sesame, maupun kemampuan untuk
meningkatkan kualitas kepribadian, khususnya yang menyangkut hubungan dirinya
dengan Tuhan Yang Maha Esa. Para ahli pendidikan pengikut aliran pendidikan
kecakapan hidup mengkategorikan kecakapan hidup menjadi lima ranah, yaitu
kecakapan mengenal pribadi, kecakapan sosial, kecakapan berpikir rasional,
kecakapan akademik, dan kecakapan vokasional.

7.Hasil Belajar Kecerdasan Majemuk


Kecerdasan intelegensi adalah kemampuan untuk belajar, mengerti, atau
yang berkaitan dengan situasi baru. Kecerdasan juga dapat diartikan dengan
kemampuan untuk untuk mengaplikasikan pengetahuan guna memanipulasi
lingkungan atau berfikir abstrak. Intelegensi dapat diukur dengan suatu criteria
ruang objektif, misalnya ada tes berstandardisasi yang digunakan untuk mengukur
intelegensi, hasilnya berupa skor yang disebut Intellegence Quotient (IQ). Oleh
sebab itu, IQ sering digunakan sebgai indicator dari pencapaian hasil belajar
(educational achievement). Artinya, intelegensi termasuk hasil belajar.
Jika dihubungkan dengan IQ, intelegensi dinyatakan sebagai kemampuan
umum yang tunggal. Kemampuan tunggal itu termasuk kemampuan kognitif.
Namun, Howard Gardner mengungkapkan bahwa intelegensi sebenarnya bukan
kemampuan tunggal, tetapi kemampuan yang mempunyai rentangan luas.
Intelegensi itu terdiri dari beberapa kemampuan maka dikenal dengan kecerdasan
majemuk (multiple intelligences). Jadi,kecerdasan majemuk itu terdiri dari delapan
jenis . semua orang mempunyai lebih dari satu jenis kecerdasan (bahkan
semuanya), tetapi kapasitas setiap jenis berbeda pada seseorang, yaitu antara satu
orang dengan orang lain.
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Pembelajaran berbasis masalah merupakan suatu model pembelajaran yang mana siswa
mengerjakan permasalahan yang otentik dengan maksud untuk menyusun pengetahuan mereka
sendiri, mengembangkan inkuiri dan ketrampilan berpikir tingkat lebih tinggi, mengembangkan
kemandirian, dan percaya diri. Model pembelajaran berbasis masalah memiliki karakteristik
pengajuan pertanyaan atau masalah, berfokus pada keterkaitan antar disipli, penyelidikan autentik,
menghasilka produk dan memamerkannya dan kolaborasi. Pembelajaran berdasarkan masalah
terdiri dari 5 langkah utama yang dimulai dengan guru memperkenalkan siswa dengan suatu situasi
masalah dan diakhiri dengan penyajian dan analisis hasil kerja siswa.

Pemecahan masalah dalam pembelajaran berdasarkan masalah harus sesuai dengan langkah-
langkah metode ilmiah. Proses pemecahan masalah dalam problem based learning mengikuti 7
langkah yaitu diantaranya (1)mengidentifikasi masalah dan klarifikasi kata-kata sulit yang ada
didalam skenario, (2) menentukan masalah, (3) brainstorming, (4) menentukan tujuan pembeajaran
yang akan dicapai, (5) memilih solusi yang paling tepat sebagai penyelesaian masalah, (6) belajar
mandiri, (7) setiap anggota kelompok menjelaska hasl belajar mandiri mereka dan saling berdikusi.
DAFTAR PUSTAKA

Prima, Nur M Wikandari. (1998). Teori Pembelajaran Kognitif. Surabaya: IKIP Surabaya

Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain. (2002). Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: PT. Reneka
Cipta

Suprihatiningrum, Amil. (2014). Strategi Pembelajaran Teori dan Aplikasi. Yogyakarta: Ar Ruzz
Media

Hamdayana, Jumanta. (2014). Model dan Metode Pembelajaran. Bogor: Ghalia Indonesia

Anda mungkin juga menyukai