Anda di halaman 1dari 54

HUBUNGAN ANTARA PENGETAHUAN DAN SIKAP IBU

RUMAH TANGGA TENTANG PERILAKU PENGOBATAN


SENDIRI PENYAKIT REMATIK DI DESA MENGGALA
SAKTI KECAMATAN TANAH PUTIH
KABUPATEN ROKAN HILIR

PROPOSAL PENELITIAN
Diajukan sebagai persyaratan untuk memperoleh gelar
sarjana keperawatan

Oleh:

ERNA LEVIS
NIM: 19312030

PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN STIKES


PAYUNG NEGERI PEKANBARU
2021
PERSETUJUAN PEMBIMBING

Judul : HUBUNGAN ANTARA PENGETAHUAN DAN SIKAP IBU


RUMAH TANGGA TENTANG PERILAKU PENGOBATAN
SENDIRI PENYAKIT REMATIK DI DESA MENGGALA SAKTI
KECAMATAN TANAH PUTIH KABUPATEN ROKAN HILIR

Nama : Erna Levis

NIM : 19312030

Prodi : S 1 Keperawatan

Proposal telah diperiksa, disetujui dan siap di pertahankan dengan tim penguji
proposal Program Studi S1 Keperawatan Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan
(STIKES) Payung Negeri Pekanbaru

Pekanbaru, Desember 2020

Pembimbing

(Dr. Ns. Ezalina, M. Kes)

NIDN : 1015117201
DAFTAR ISI

Lembar Judul........................................................................................... i
Lembar Persetujuan Pembimbing...........................................................
Daftar Isi ................................................................................................. ii
Daftar Gambar......................................................................................... iii
Daftar Tabel ............................................................................................ iv
BAB I PENDAHULUAN ....................................................................... 1
A. Latar Belakang ............................................................................ 1
B. Rumusan masalah ....................................................................... 5
C. Tujuan penelitian......................................................................... 5
D. Manfaat penelitian....................................................................... 6
E. Ruang lingkup penelitian ............................................................ 7

BAB II TINJAUAN PUSTAKA............................................................. 8


A. Tinjauan teoritis .......................................................................... 8
B. Keaslian Penelitian...................................................................... 26
C. Kerangka konsep......................................................................... 27
D. Hipotesis...................................................................................... 27

BAB III METODE PENELITIAN ......................................................... 29


A. Desain penelitian......................................................................... 29
B. Waktu dan tempat penelitian ....................................................... 29
C. Populasi dan sampel .................................................................... 29
D. Instrument penelitian................................................................... 30
E. Definisi operasional .................................................................... 31
F. Pengumpulan data....................................................................... 33
G. Teknik pengolahan data .............................................................. 34
H. Analisa data................................................................................. 35

DAFTAR PUSTAKA ............................................................................. 38


LAMPIRAN............................................................................................ 40

iii
DAFTAR GAMBAR

Skema 2.2 Kerangka Konsep .................................................................. 27

iv
DAFTAR TABEL

Tabel 3.1 Defenisi variabel secara operasional....................................... 33


Tabel 3.2 Hubungan Pengetahuan ibu rumah tangga terhadap
perilaku pengobatan sendiri ...................................................... 37
Tabel 3.3 Hubungan Sikapn ibu rumah tangga terhadap perilaku
pengobatan sendiri .................................................................... 37

v
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Swamedikasi atau pengobatan sendiri merupakan bagian dari upaya

masyarakat menjaga kesehatannya sendiri. Pada pelaksanaanya, swamedikasi

atau pengobatan sendiri dapat menjadi masalah terkait obat (Drug Related

Problem) akibat terbatasnya pengetahuan mengenai obat dan penggunaannya

(Nur Aini, 2017). Dasar hukum swamedikasi adalah peraturan Menteri

Kesehatan No. 919 Menkes/Per/X/1993. Menurut Pratiwi, et al (2014)

swamedikasi merupakan salah satu upaya yang sering dilakukan oleh

seseorang dalam mengobati gejala sakit atau penyakit yang sedang

dideritanya tanpa terlebih dahulu melakukan konsultasi kepada dokter.

Swamedikasi yang tepat, aman, dan rasional terlebih dahulu mencari

informasi umum dengan melakukan konsultasi kepada tenaga kesehatan

seperti dokter atau petugas apoteker. Adapun informasi umum dalam hal ini

bisa berupa etiket atau brosur. Selain itu, informasi tentang obat bisa juga

diperoleh dari apoteker pengelola apotek, utamanya dalam swamedikasi obat

keras yang termasuk dalam daftar obat wajib apotek (Depkes RI., 2006;

Zeenot, 2013).

Hasil Survey Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) tahun 2014

menunjukkan bahwa presentase penduduk yang melakukan swamedikasi atau

pengobatan diri sendiri akibat keluhan kesehatan yang dialami sebesar

61,05%. Hal ini menunjukkan bahwa perilaku swamedikasi di Indonesia

1
2

masih cukup besar (BPS, 2016). Alasan masyarakat Indonesia melakukan

swamedikasi atau peresepan sendiri karena penyakit dianggap ringan (46%),

harga obat yang lebih murah (16%) dan obat mudah diperoleh (9%)

(Kartajaya et al., 2011).

Swamedikasi biasanya dilakukan untuk mengatasi keluhan-keluhan dan

penyakit ringan yang banyak dialami masyarakat seperti rematik, demam,

nyeri, pusing, batuk, influenza, sakit maag, cacingan, diare, penyakit kulit dan

lain-lain (Depkes RI, 2010). Kriteria yang dipakai untuk memilih sumber

pengobatan adalah pengetahuan tentang sakit dan pengobatannya, keyakinan

terhadap obat/ pengobatan, keparahan sakit, dan keterjangkauan biaya, dan

jarak ke sumber pengobatan. Keparahan sakit merupakan faktor yang

dominan diantara keempat faktor diatas (Supardi, 2015).

Perilaku swamedikasi dibentuk melalui suatu proses dan berlangsung

dari interaksi manusia dengan lingkungannya. Faktor-faktor yang

mempengaruhi terbentuknya perilaku dibedakan menjadi dua yakni faktor-

faktor intern dan ekstern. Faktor intern mencakup pengetahuan, kecerdasan,

persepsi, emosi, motivasi dan sebagainya yang berfungsi untuk mengolah

rangsangan dari luar (Yusrizal, 2015). Menurut Notoatmodjo (2015) faktor

ekstern meliputi lingkungan sekitar baik fisik maupun non fisik seperti iklim,

manusia, sosial-ekonomi, kebudayaan, dan sebagainya.

Swamedikasi menjadi tidak tepat apabila terjadi kesalahan mengenali

gejala yang muncul, memilih obat, dosis dan keterlambatan dalam mencari

nasehat atau saran tenaga kesehatan jika keluhan berlanjut. Selain itu, risiko
3

potensial yang dapat muncul dari swamedikasi antara lain adalah efek

samping yang jarang muncul namun parah, interaksi obat yang berbahaya,

dosis tidak tepat, dan pilihan terapi yang salah (BPOM, 2014). Salah satu

penyakit yang menggunakan obat-obatan yang dijual bebas yaitu penyakit

rematik

Penyakit rematik didefinisikan sebagai kelainan sendi kronik karena

ketidakseimbangan sintesis dan degradasi pada sendi, matriks ekstraseluler,

kondrosit serta tulang subkondral pada usia tua (Syamsuhidayat, dkk 2013).

Menurut WHO (2016) 335 juta penduduk di dunia mengalami rheumatik.

Rheumatik telah berkembang dan menyerang 2,5 juta warga Eropa, sekitar 75

% diantaranya adalah wanita dan kemungkinan akan mengurangi harapan

hidup mereka sampai 10 tahun. Bukan hanya di Eropa, menurut Arthritis

Foundation (2015), sebanyak 22 % orang dewasa di Amerika Serikat berusia

18 tahun atau lebih didiagnosa Arthitis. Berdasarkan data tersebut, sekitar 3%

mengalami rematik (Afrilia, 2019).

Menurut survei BPS (Badan Pusat Statistik) tahun 2019, Kecamatan

Tanah Putih memiliki wilayah kerja 1.933,23 km2 terdiri dari 17 desa dengan

jumlah penduduk 72.797 jiwa, 17.552 kepala keluarga. Berdasarkan data

BPS, desa Menggala Sakti memiliki penduduk 7.900 jiwa dengan rumah

tangga 2.054 kepala keluarga.

Berdasarkan data jumlah kunjungan puskesmas Sedinginan tahun 2019,

terdapat 967 kunjungan yang berasal dari desa Menggala Sakti. Dengan

demikian persentase masyarakat desa Menggala Sakti yang melakukan


4

pengobatan ke Puskesmas, Pustu, dan Poskesdes pada tahun 2019 sebanyak

12,25% sedangkan target standar pelayanan minimal (SPM) rawat jalan yaitu

15% dari jumlah penduduk (Profil Kesehatan Puskesmas Tanah Putih, 2019).

Berdasarkan survey pendahuluan yang dilakukan dengan cara

wawancara dan observasi pada ibu rumah tangga, dari 15 responden terdapat

10 responden yang melakukan pengobatan sendiri pada penyakit rematik

dengan mengunakan obat modern maupun tradisional yang di jual di warung

jamu atau tokoh obat. Responden mengatakan, mereka tidak tahu akan efek

samping obat-obatan modern maupun jamu untuk rematik dimana obat dan

jamu yang di gunakan dapat menyebabkan komplikasi penyakit lain dan

berbahaya bagi kesehatan bila tidak di dukung dengan pengetahuan dan sikap

yang baik dalam melakukan tindakan pengobatan sendiri. Rata-rata responden

melakukan pengobatan sendiri dengan minum obat untuk rematik

berdasarkan pengalaman dari orang tua, informasi teman dan iklan di televisi,

berdasarkan aturan sendiri.

Ibu rumah tangga merupakan factor penting dalam upaya pengobatan

sendiri, memiliki waktu yang banyak dalam mengurusi anggota keluarga

yang lain seperti suami, anak, orang tua dan anggota keluarga lainnya, dan

pengambil keputusan dalam melakukan pengobatan sendiri khusunya

penyakit rematik yang di derita sendiri maupun anggota keluarga lainya.

Pengobatan yang dilakukan sendiri oleh masyarakat baiknya

diperhatikan dan didukung guna menghindari masalah yang dapat merugikan

diri sendiri maupun orang lain, Dari hasil wawancara dengan Kepala
5

Puskesmas Sedinginan dimana masyarakat khusunya Kecamatan Tanah Putih

Kabupaten Rokan Hilir melakukan pengobatan sendiri terhadap penyakit

rematik yang mereka rasakan. Mereka tidak tahu efek yang muncul jika

dilakukan berulang ulang karena sudah dilakukan turun temurun dan

berkeyakinan kebiasaan yang dilakukan akan membawa kesembuhan.

Berdasarkan permasalahan di atas dan banyaknya ibu rumah tangga

melakukan pengobatan sendiri pada penyakit rematik. Maka penulis tertarik

untuk meneliti tentang “Apakah ada hubungan pengetahuan dan sikap ibu

rumah tangga tentang perilaku pengobatan sendiri pada penyakit rematik di

desa Menggala Sakti Kecamatan Tanah Putih Kabupaten Rokan Hilir”.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang diatas maka rumusan masalah pada

penelitian ini adalah “apakah terdapat hubungan pengetahuan dan sikap Ibu

rumah tangga terhadap perilaku pengobatan sendiri pada penyakit rematik di

desa menggala kecamatan tanah putih Kabupaten Rokan Hilir?”

C. Tujuan Penelitian

1. Tujuan Umum

Untuk mengetahui hubungan pengetahuan dan sikap ibu rumah tangga

terhadap perilaku pengobatan sendiri pada penyakit rematik di Desa

Menggala Sakti.
6

2. Tujuan Khusus

a. Untuk mengetahui gambaran tingkat pengetahuan ibu rumah

tangga dalam melakukan pengobatan sendiri pada penyakit

rematik.

b. Untuk mengetahui gambaran sikap ibu rumah tangga dalam

melakukan pengobatan sendiri pada penyakit rematik.

c. Untuk mengetahui hubungan pengetahuan ibu rumah tangga

terhadap pengobatan sendiri pada penyakit rematik.

d. Untuk mengetahui hubungan sikap ibu rumah tangga terhadap

perilaku pengobatan sendiri pada penyakit rematik.

D. Manfaat Penelitian

1. Bagi Puskesmas

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi dan

masukan mengenai faktor-faktor yang berhubungan dengan perilaku

pengobatan sendiri pada penyakit rematik.

2. Bagi Institusi Pendidikan

Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan bacaan dan

wawasan bagi mahasiswa/i Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKes)

Payung Negeri, serta sebagai bahan tambahan informasi bagi peneliti

selanjutnya khususnya tentang hubungan pengetahuan dan sikap ibu

rumah tangga terhadap perilaku pengobatan sendiri pada penyakit

rematik.
7

3. Bagi Penulis

Dapat memberikan pengalaman serta menambah wawasan

khususnya dalam penelitian mengenai hubungan pengetahuan dan dan

sikap ibu rumah tangga terhadap perilaku pengobatan sendiri pada

penyakit rematik di desa menggala kecamatan tanah putih Kabupaten

Rokan Hilir

E. Ruang Lingkup Penelitian

Ruang lingkup penelitian ini oleh karena keterbatasan kemampuan,

waktu dan dana tentang penelitian ini, maka penulis membatasi ruang lingkup

penelitian yaitu hanya meneliti hubungan pengetahuan dan sikap ibu rumah

tangga terhadap perilaku pengobatan sendiri pada penyakit rematik di desa

menggala kecamatan tanah putih Kabupaten Rokan Hilir


BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Tinjauan Teoritis

1. Perilaku

a. Pengertian Perilaku

Dari aspek biologis, perilaku merupakan suatu kegiatan

atau aktivitas organisme atau makhluk hidup yang bersangkutan.

Mulai dari binatang sampai manusia mempunyai aktivitas

masing-masing (Notoatmodjo, 2017). Secara singkat aktivitas

manusia dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu :

1) Aktivitas-aktivitas yang dapat diamati oleh orang lain,

misal: berjalan, bernyanyi, tertawa, dan sebagainya.

2) Aktivitas yang tidak dapat diamati oleh orang lain,

misalnya: berfikir, berfantasi, bersikap, dan sebagainya.

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa yang disebut

perilaku (manusia) adalah semua kegiatan atau aktivitas

manusia, baik yang dapat diamati langsung maupun yang tidak

dapat diamati pihak luar (tidak langsung) (Notoatmodjo, 2017).

Menurut Skiner dalam Notoatmodjo (2017), perilaku

kesehatan adalah merupakan respon seseorang terhadap stimulus

atau obyek yang berkaitan dengan sehat-sakit, penyakit, dan

8
9

faktor-faktor yang mempengaruhi sehat-sakit (kesehatan) seperti

lingkungan, makanan, minuman, dan pelayanan kesehatan.

Dengan kata lain perilaku kesehatan adalah semua aktivitas atau

kegiatan seseorang baik yang dapat diamati maupun yang tidak

dapat diamati, yang berkaitan dengan pemeliharaan dan

peningkatan kesehatan. Pemeliharaan kesehatan ini meliputi

mencegah atau melindungi diri dari penyakit dan masalah

kesehatan lain, meningkatkan kesehatan, dan mencari

penyembuhan apabila sakit atau terkena masalah kesehatan.

Dilihat dari bentuk respon terhadap stimulus ini, maka

perilaku dapat di bedakan menjadi dua, yaitu :

a) Perilaku Tertutup (Covert Behavior)

Respon seseorang terhadap stimulus dalam bentuk tertutup

(covert). Respon ini masih terbatas pada perhatian,

persepsi, pengetahuan/ kesadaran, dan sikap yang terjadi

pada orang yang menerima stimulus tersebut, dan belum

dapat diamati dengan jelas oleh orang lain.

b) Perilaku Terbuka (Overt Behavior)

Respon seseorang terhadap stimulus dalam tindakan yang

nyata atau terbuka. Respon ini sudah jelas dalam tindakan

atau praktek (practice), yang dapat diamati oleh orang lain

dengan jelas.
10

b. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Perilaku

Menurut Notoatmodjo (2015), perilaku terbentuk di dalam

diri seseorang dari dua faktor utama , yaitu :

1) Faktor Eksternal

Faktor eksternal atau stimulus adalah factor lingkungan,

baik lingkungan fisik maupun nonfisik dalam bentuk

sosial, ekonomi, budaya, dan sebagainya.

a) Sosial

Setiap individu sejak lahir berada di dalam suatu

kelompok, terutama kelompok keluarga. Kelompok

ini akan membuka kemungkinan untuk dipengaruhi

dan mempengaruhi anggota anggota kelompok lain.

Setiap kelompok memiliki aturan dan norma sosial

tertentu, sehingga perilaku setiap individu anggota

kelompok berlangsung dalam suatu jaringan normatif.

b) Ekonomi

Keadaan ekonomi juga berpengaruh terhadap suatu

penyakit. Misalnya, angka kematian lebih tinggi di

kalangan masyarakat yang status ekonominya rendah

dibandingkan dengan masyarakat dengan status

ekonomi tinggi. Hal ini disebabkan karena masyarakat

dengan ekonomi rendah tidak memiliki biaya untuk


11

berobat sehingga tidak ada suatu penanganan yang

baik dalam menghadapi suatu penyakit.

c) Budaya

Setiap daerah pasti memiliki budaya yang berbeda-

beda. Misalnya dalam suatu komunitas yang

masyarakatnya menganut agama islam, tidak akan

mau memakan daging babi karena bagi mereka

daging babi adalah haram, dan tidak baik bagi

kesehatan. Maka dari itu mereka tidak akan mau

memakan daging babi tersebut demi menjaga

kesehatan mereka.

2) Faktor Internal

Faktor internal yang menentukan seseorang itu merespon

stimulus dari luar yaitu:

a) Perhatian

Ada dua batasan tentang perhatian, yaitu energi psikis

yang tertuju pada suatu obyek dan banyak sedikitnya

kesadaran yang menyertai suatu aktivitas yang sedang

dilakukan.

b) Pengamatan

Pengamatan adalah pengenalan obyek dengan cara

melihat, mendengar, meraba, membau, dan mengecap.


12

Sedangkan mendengar, meraba, membau, dan

mengecap itu sendiri disebut sebagai modalitas

pengamatan.

c) Persepsi

Setelah melakukan pengamatan maka akan terjadi

gambaran yang tinggal dalam ingatan. Gambaran

yang tinggal dalam ingatan inilah yang disebut

persepsi.

d) Motivasi

Motivasi adalah suatu dorongan dari dalam diri

seseorang yang menyebabkan orang tersebut

melakukan kegiatan-kegiatan tertentu guna mencapai

suatu tujuan. Motif tidak dapat diamati. Yang dapat

diamati adalah kegiatan atau mungkin alasan-alasan

tindakan tersebut.

e) Fantasi

Fantasi adalah kemampuan untuk membentuk

tanggapan yang telah ada. Tanggapan baru ini tidak

haruslah sama dengan tanggapan yang telah ada

sebelumnya.

Menurut Green dikutip oleh Notoatmodjo (2015), faktor

perilaku ditentukan oleh tiga faktor utama, yaitu :


13

a) Faktor-Faktor Predisposisi

Merupakan faktor-faktor yang mempermudah dan

mempredisposisi terjadinya perilaku seseorang atau

masyarakat, adalah pengetahuan dan sikap atau masyarakat

tersebut terhadap apa yang dilakukan. Misalnya perilaku warga

untuk mencegah penularan Chikungunya akan lebih mudah

apabila warga tersebut tahu apa manfaat dari pencegahan

tersebut. Disamping itu, kepercayaan, tradisi, system nilai di

masyarakat setempat juga sangat mempengaruhi terbentuknya

perilaku.

b) Faktor-Faktor Pemungkin

Merupakan faktor-faktor yang memungkinkan atau yang

memfasilitasi perilaku atau tindakan. Maksud faktor

pemungkin adalah sarana dan prasarana atau fasilitas untuk

terjadinya perilaku kesehatan seseorang atau masyarakat. Dari

segi kesehatan masyarakat, agar masyarakat mempunyai

perilaku sehat harus terakses (terjangkau) sarana dan prasarana

atau fasilitas pelayanan kesehatan.

c) Faktor-Faktor Penguat

Merupakan faktor-faktor yang mendorong atau

memperkuat terjadinya perilaku. Kadang-kadang meskipun

seseorang tahu dan mampu untuk berperilaku sehat, tetapi ia

tidak melakukannya. Dalam hal ini dukungan atau dorongan


14

dari orang lain sangat dibutuhkan untuk pencegahan suatu

penyakit. Selain itu sikap dan perilaku petugas kesehatan juga

menjadi panutan bagi seseorang atau masyarakat.

c. Perilaku Pencegahan

Perilaku pencegahan adalah mengambil tindakan terlebih

dahulu sebelum kejadian, bisa juga di sebut perilaku antisipasi

terhadap kejadian yang mungkin akan dialami nanti. Dalam

mengambil langkah-langkah untuk pencegahan, haruslah

didasarkan pada data atau keterangan yang bersumber dari hasil

analisis epidemiologi atau hasil pengamatan/ penelitian

epidemiologis.

Sedangkan yang dimaksud pencegahan terhadap penyakit

menular adalah upaya untuk menekan terjadinya peristiwa

penyakit menular dalam masyarakat serendah mungkin sehingga

tidak menimbulkan gangguan kesehatan pada masyarakat

tersebut. Sedangkan untuk menekan merebaknya penyakit

Chikungunya ini maka perlu dilakukan upaya pencegahan yaitu

melalui pemberantasan sarang nyamuk.


15

2. Pengobatan sendiri

a. Pengertian

Menurut Rahardja (2011) mengemukakan bahwa

swamedikasi berarti mengobati segala keluhan pada diri sendiri

dengan obat-obat yang sederhana yang dibeli bebas di apotik atau

toko obat atas inisiatif sendiri tanpa nasehat dokter. Swamedikasi

atau pengobatan sendiri adalah perilaku untuk mengatasi sakit

ringan sebelum mencari pertolongan ke petugas atau fasilitas

kesehatan. Lebih dari 60% dari anggota masyarakat melakukan

swamedikasi, dan 80% di antaranya mengandalkan obat modern.

Penggunaan obat yang sesuai dengan aturan dan kondisi

penderita akan mendukung upaya penggunaan obat yang tepat.

Pengobatan sendiri harus dilakukan sesuai dengan penyakit yang

dialami. Pelaksanaannya sedapat mungkin harus memenuhi

kriteria pengobatan sendiri yang sesuai aturan. Pengobatan sendiri

yang sesuai dengan aturan mencakup 4 kriteria antara lain: (a)

tepat golongan obat, yaitu menggunakan golongan obat bebas dan

obat bebas terbatas, (b) tepat kelas terapi obat, yaitu

menggunakan obat yang termasuk dalam kelas terapi yang sesuai

dengan keluhannya, (c) tepat dosis obat, yaitu menggunakan obat

dengan dosis sekali dan sehari pakai sesuai dengan umur dan (d)

tepat lama penggunaan obat, yaitu apabila berlanjut segera

berkonsultasi dengan dokter (Depkes RI, 2006).


16

Menurut Supardi (2015) terdapat keuntungan dan

kekurangan seseorang dalam menggunakan obat secara mandiri.

Keuntungan yang didapatkan antara lain aman apabila digunakan

sesuai dengan petunjuk (efek samping dapat diperkirakan), efektif

untuk menghilangkan keluhan karena 80% sakit bersifat self

limiting, yaitu sembuh sendiri tanpa intervensi tenaga kesehatan,

biaya pembelian obat relatif lebih murah daripada biaya

pelayanan kesehatan, hemat waktu karena tidak perlu

menggunakan fasilitas atau profesi kesehatan, kepuasan karena

ikut berperan serta dalam sistem pelayanan kesehatan,

menghindari rasa malu atau stres apabila harus menampakkan

bagian tubuh tertentu di hadapan tenaga kesehatan. Kekurangan

dalam menggunakan obat secara mandiri yaitu dapat

membahayakan kesehatan apabila tidak digunakan sesuai dengan

aturan, pemborosan biaya dan waktu apabila salah menggunakan

obat, kemungkinan kecil dapat timbul reaksi obat yang tidak

diinginkan, misalnya sensitifitas, efek samping atau resistensi,

penggunaan obat yang salah akibat salah diagnosis dan pemilihan

obat dipengaruhi oleh pengalaman menggunakan obat di masa

lalu dan lingkungan sosialnya.

Swamedikasi menjadi tidak tepat apabila terjadi kesalahan

mengenali gejala yang muncul, memilih obat, dosis dan

keterlambatan dalam mencari nasihat dan atau saran tenaga


17

kesehatan jika keluhan berlanjut. Selain itu, risiko potensial yang

dapat muncul dari swamedikasi antara lain adalah efek samping

yang sering muncul namun parah, interaksi obat yang berbahaya,

dosis tidak tepat, dan pilihan terapi yang salah (BPOM, 2014).

Berdasarkan penjelasan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa

swamedikasi merupakan upaya yang dilakukan oleh seseorang

untuk menjaga kesehatannya sendiri dengan mengobati dirinya

sendiri ketika sakit. Swamedikasi terkait dengan penggunaan

obat, sehingga seseorang yang tidak melibatkan tenaga kesehatan

ketika sakit dan melakukan swamedikasi, harus memperhatikan

penggunaan obat. Swamedikasi harus benar-benar memperhatikan

dosis yang tepat atau dapat melakukan konsultasi dengan tenaga

apoteker (Djunarko, 2011).

b. Sumber Pengobatan

Supardi.dkk (2013), mengatakan sumber pengobatan sendiri

terdiri dari :

1) Obat modern

Obat medis adalah obat modern yang dibuat dari bahan

sintentik atau bahan alam yang diolah secara modern dan

digunakan serta diresepkan dokter dan kalangan medis untuk

mengobati penyakit tertentu. Obat medis yang bisa

diresepkan mempunyai kekuatan ilmiah karena sudah melalui


18

uji klinis yang dilakukan bertahun-tahun. Sebagian besar obat

medis yang beredar di Indonesia dan diresepkan berasal dari

negara-negara barat dan dipatenkan. Meski begitu efek

samping dari obat-obat modern yang sudah diuji klinis tetap

ada karena daya tahan tubuh dan kondisi kesehatan orang

masing-masing tidak sama (Harmanto dan Subroto, 2007).

Penggolongan obat di Indonesia terdiri dari 5 golongan,

yaitu obat bebas, obat bebas terbatas, obat keras (termasuk di

dalamnya obat wajib apotek), psikotropik dan narkotika

(Depkes RI, 2008). Obat medis atau moderen yang biasa

digunakan sebagai upaya pengobatan mandiri adalah obat

bebas (OB), obat bebas terbatas (OBT) dan obat wajib apotek

(OWA). Obat wajib apotek merupakan golongan obat keras

dapat dibeli di apotek tanpa resep dokter, namun harus

diserahkan secara langsung oleh apoteker. Hal ini terkait

dengan Peraturan Menteri Kesehatan nomor 924 tahun 1993

tentang obat wajib apotek.

2) Obat tradisional

Dalam undang-undang No.36 tahun 2009 tentang

kesehatan menyebutkan bahwa obat tradisional adalah bahan

atau ramuan bahan yang berupa bahan tumbuhan, bahan

hewan, bahan mineral, sediaan sarian (galenik) atau


19

campuran bahan tersebut yang secara turun-temurun telah

digunakan untuk pengobatan berdasarkan pengalaman dan

dapat di terapkan sebagai norma yang berlaku dimasyarakat.

Penggunaan obat tradisional di Indonesia merupakan bagian

dari budaya bangsa dan banyak dimanfaatkan masyarakat

sejak berabad- abad yang lalu, namun demikian pada

umumnya efektivitas dan keamanannya belum sepenuhnya

didukung oleh penelitian yang memadai (Sulasmono, 2010

c. Upaya Pengobatan

Anief (2011), dalam upaya pengobatan sendiri mempunyai

ciri dasar sebagai berikut :

1) Dipengaruhi oleh pekerjaan, pengetahuan, social ekonomi

dan tingkat pendidikan

2) Dilakukan pada saat di butuhkan saja

3) Diluar kerangka kerja medic professional

4) Modelnya sangat bervariasi sesuai dengan kebiasaan

masyarakat

d. Alasan yang mendorong masyarakat dalam pengobatan sendiri

Anief (2011), alasan yang mendorong masyarakat

menggunakan obat dalam pengobatan sendiri adalah :

1) Efektifitas biaya dan tenaga dibandingkan pergi ke prakek

dokter.
20

2) Tidak membutuhkan lama

3) Dari segi kepraktisannya masyarakat dengan mudah dan

cepat mendapatkannya di warung, took obat dan apotik

4) Penyakit yang di rasakan ringan

e. Pedoman melakukan pengobatan sendiri

Badan pengawasan obat dan makanan (2011), menyatakan

kriteria yang dapat digunakan masyarakat sebagai pedoman dalam

melakukan pengobatan sendiri adalah :

3. Penyakit rematik

a. Pengertian Rematik

Menurut Rizasyah Daud (2016) rematik adalah penyakit

kelainan pada sendi yang menimbulkan nyeri dan kaku pada

system musculoskeletal (sendi, tulang, jaringan ikat dan otot ).

Penyakit ini menyerang sendi dan struktur jaringan

penunjang disekitar sendi sehingga dapat menimbulkan rasa

nyeri. Dalam tingkat parah rematik dapat menimbulkan

kecacatan tetap, ketidak mampuan dan penurunan kualitas hidup

b. Manifestasi Klinis

Gejala klinis utama adalah poliartritis yang mengakibatkan

terjadinya kerusakan pada rawan sendi dan tulang disekitarnya.

Kerusakan ini terutama mengenai sendi perifer pada tangan dan


21

kaki yang umumnya bersifat simetris (Sudoyo, dkk, dalam

Wiarto, 2017). Menurut Priyanto, (2009) dalam buku Wiarto,

(2017) secara umum, manifestasi klinis yang dapat kita lihat,

antara lain:

1) Nyeri sendi, terutama pada saat bergerak

2) Pada umum nya terjadi pada sendi penopang beban tubuh,

seperti panggul, tulang belakang, dan lutut.

3) Terjadi kemerahan, inflamasi, nyeri, dan dapat terjadi

deformitas.

4) Yang tidak progresif dapat menyebabkan perubahan cara

berjalan

5) Rasa sakit bertambah hebat terutama pada sendi panggul,

lutut, dan jari-jari

6) Saat perpindahan posisi pada persalinan bisa terdengar suara.

4. Pengetahuan

a. Pengertian Pengetahuan

Pengetahuan merupakan hasil dari tahu, dan ini terjadi

setelah orang melakukan pengindraan terhadap suatu objek

tertentu. Pengindraan terjadi melalui pancaindra manusia, yakni

indra penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa, dan raba.

Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melaluimata dan

telinga. Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang


22

sangat penting dalam membentuk tindakan seseorang (over

behavior) (Notoatmodjo, 2017).

b. Tingkat Pengetahuan

Menurut Notoatmodjo (2007) pengetahuan mencakup

didalamnya domain kognitif mempunyai 6 tingkatan, yakni :

1) Tahu (Know)

Tahu artinya sebagai mengingat suatu materi yang telah

dipelajari sebelumnya. Termasuk kedalam pengetahuan

tingkat ini adalah mengingat kembali (recall) terhadap

suatu yang spesifik dari seluruh bahan yang dipelajari atau

rangsangan yang telah diterima. Oleh sebab itu, tahu

merupakan tingkat pengetahuan yang paling rendah.

2) Memahami (Comprehension)

Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan untuk

menjelaskan secara benar tentang objek yang diketahui

dan dapat menginterpretasikan materi tersebut secara

benar.

3) Aplikasi (Aplication)

Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk

menggunakan materi yang telah dipelajari situasi atau

kondisi riil (sebenarnya).


23

4) Analisis (Analysis)

Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan

materi atau subyek ke dalam komponen-komponen, tetapi

masih dalam suatu struktur organisasi tersebut dan masih

ada kaitannya satu sama lain.

5) Sintesis (Syntesis)

Sintesis menunjukkan kepada suatu kemampuan untuk

meletakkan atau menghubungkan bagian-bagian didalam

suatu bentuk keseluruhan yang baru. Dengan kata lain

sintesis adalah suatu komponen untuk menyusun formulasi

baru dari formulasi yang ada.

6) Evaluasi (Evaluation)

Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk

melakukan penelitian terhadap suatu materi atau objek.

Penelitian itu berdasarkan suatu kriteria-kriteria yang telah

ada.

d) Pengukuran Pengetahuan

Pengukuran pengetahuan dapat dilakukan dengan

memberikan seperangkat alat tes/kuesioner tentang obyek

pengetahuan yang mau diukur. Selanjutnya dilakukan penilaian

dimana setiap jawaban yang benar dari masing-masing

pertanyaan diberi nilai 1 jika salah diberi nilai 0 (Notoatmodjo,


24

2017). Menurut Arikunto (2010) tingkat pengetahuan

dikategorikan menjadi tiga yaitu :

1) Baik : menjawab benar 76% - 100%

2) Cukup : menjawab benar 56% – 75%

3) Kurang : menjawab benar < 56%

5. Sikap

a. Definisi Sikap

Sikap menurut Notoatmodjo, (2017) merupakan reaksi

atau respon yang masih tertutup dari seseorang terhadap suatu

stimulasi atau objek.

b. Komponen Pokok Sikap

Sikap itu mempunyai 3 komponen pokok menurut

Notoatmodjo, (2017) antara lain :

1) Kepercayaan (keyakinan), ide, dan konsep terhadap suatu

objek

2) Kehidupan emosional atau evaluasi terhadap suatu objek

3) kecenderungan untuk bertindak (tend to behave)

Ketiga komponen ini secara bersama-sama membentuk

sikap yang utuh (total attitude). Dalam penentuan sikap yang

utuh ini, pengetahuan, pikiran, keyakinan, dan emosi memegang

peranan penting.

c. Tingkatan Sikap
25

Sikap ini terdiri dari berbagai tingkatan yaitu :

1) Menerima (Receving)

Menerima diartikan bahwa orang (Subjek) mau dan

memperhatikan Stimulus yang diberikan (Objek).

2) Merespon (Responding)

Memberikan jawaban apabila ditanya, mengerjakan, dan

sikap menyelesaikan tugas yang diberikan adalah suatu

indikasi dari sikap.

3) Menghargai (Valving)

Mengajak orang lain untuk mengerjakan atau

mendiskusikan suatu masalah.

4) Bertanggung Jawab (Responsible)

Bertanggung jawab atas segala sesuatu yang telah

dipilihnya dengan segala resiko merupakan sikap yang

paling tinggi. Pengukuran sikap dapat dilakukan secara

langsung dan tidak langsung. Secara langsung dapat

ditanyakan bagaimana pendapat atau pernyataan

responden terhadap suatu objek. Secara tidak langsung

dapat dilakukan dengan pernyataan Hipotesis, kemudian

ditanyakan pendapat Responden.


26

B. Keaslian Penelitian

Penelitian tentang hubungan pengetahuan dan sikap ibu rumah tangga

terhadap perilaku pengobatan sendiri pada penyakit rematik di desa

Menggala Sakti Kecamatan Tanah Putih Kabupaten Rokan Hilir, mengacu

pada berbagai penelitian yang sudah dilakukan sebelumnya, diantaranya

adalah:

1. Islamiyah (2006) Judul Penelitian mengenai hubungan factor

prediposisi ibu rumah tangga dengan pengobatan sendiri didesa lubuk

bendahara kecamatan rokan IV koto kabupaten rokan hulu, hasil

penelitian menunjukan pengobatan sendiri yang di lakukan ibu rumah

tangga terdapat hubungan yang bermakna antara tingkat pengetahuan,

sikap, tingkat pendidikan, status pekerjaan ibu rumah tangga dan

pendapatan keluarga dengan pengobatan sendiri.

2. Wahyuni (2011) Judul Penelitian mengenai hubungan pengetahuan

dan sikap lansia penderita rematik terhadap perilaku lansia dalam

mengatasi rematik di Puskesmas Payung Sekaki. Hasil penelitian

menunjukkan bahwa pengetahuan erat hubungannya dengan perilaku

lansia dalam mengatasi rematik. Pengetahuan yang kurang cenderung

melakukan pengobatan sendiri kurang baik dan melakukan tanpa

control dari petugas kesehatan ataupun medis


27

C. Kerangka Konsep

Kerangka konsep merupakan suatu uraian dan visualisasi hubungan

atau kaitan antara konsep satu terhadap konsep yang lainnya, atau antara

variabel yang satu dengan variabel yang lain. (Notoadmodjo, 2010).

Kerangka konsep pada penelitian ini menjelaskan tentang gambaran

pengetahuan dan tindakan ibu rumah tangga terhadap perilaku pengobatan

sendiri terhadap penyakit rematik. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada

skema 2.2 dibawah ini:

Skema 2.2
Kerangka Konsep

Variabel Independen Variabel Dependen

Pengetahuan
1. Baik
2. Kurang

Perilaku Pengobatan
Sendiri
1. Sering
2. Jarang
Sikap
1. Positif
2. Negatif

D. Hipotesis

Hipotesis adalah sebuah pernyataan tentang hubungan yang diharapkan

antara dua variabel atau lebih yang dapat diuji secara sistimatis (Hidayat,

2017). Berdasarkan permasalahan dan tujuan yang telah dijelaskan


28

sebelumnya dalam penelitian ini, maka hipotesa yang dirancang penelitia

adalah sebagai berikut:

Ha: Ada hubungan pengetahuan dan sikap ibu rumah tangga terhadap

perilaku pengobatan sendiri pada penyakit rematik di desa menggala

kecamatan tanah putih Kabupaten Rokan Hilir

Ho: Tidak Ada hubungan pengetahuan dan sikap ibu rumah tangga terhadap

perilaku pengobatan sendiri pada penyakit rematik di desa menggala

kecamatan tanah putih Kabupaten Rokan Hilir


BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

A. Desain Penelitian

Jenis penelitian kuantitatif dengan rancangan korelasi melalui

pendekatan cross sectional. Rancangan cross sectional yaitu variabel

independen (pengetahuan) dan variabel dependen (sikap) dilihat dalan

waktu yang bersamaan dalam suatu populasi tertentu (Notoatmodjo, 2013).

B. Waktu dan Tempat Penelitian

1. Waktu Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Maret s/d Juni 2021

2. Tempat Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di desa menggala sakti

C. Populasi dan Sampel

1. Populasi

Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas :

objek/subjek yang mempunyai kuantitas dan karakteristik tertentu yang

diterapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik

kesimpulannya (Hidayat, 2017). Adapun populasi dalam penelitian ini

adalah ibu rumah tangga di desa menggala sakti dengan jumlah

populasi yaitu sebanyak 2054 KK

29
30

2. Sampel

Sampel adalah bagian populasi yang akan diteliti atau sebagian

jumlah dari karakteristik yang dimiliki oleh populasi (Hidayat, 2017).

Pengambilan sampel dilakukan secara random sampling yaitu

pengambilan sampel yang dilakukan secara acak. Penentuan jumlah

sampel dilakukan dengan menggunakan rumus menurut Setiadi (2017),

yaitu :

N
Rumus :n =
1 + N (d2)
Keterangan : n = Besarnya sampel

N = Besarnya Populasi

d = Tingkat kesalahan 10%

Diketahui: N = 2054 KK

2054
n =
1 + 2054 (0,1 2)

2054
n =
1 + 2054 (0,01)

2054
n =
21.54

n = 95,36

n = 95

a) Kriteria Sampel

Kriteria sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah

kriteria insklusi. Kriteria insklusi merupakan kriteria dimana


31

penentuan sampel harus yang dikehendaki harus sesuai dengan

kriteria tertentu yang ditetapkan (Saryono, 2018)

Adapun kriteria inklusi dari sampel adalah :

1) Ibu-ibu yang bersedia menjadi responden.

2) Usia 25-60 tahun

3) Pernah melakukan pengobatan sendiri pada nyeri sendi yang

diderita diri sendiri

4) Dapat membaca dan menulis.

5) Dapat berkomunikasi dengan baik.

D. Instrumen Penelitian

Instrumen penelitian adalah alat atau fasilitas yang digunakan oleh

peneliti dalam mengumpulkan data agar pekerjaannya lebih mudah dan

hasilnya lebih baik (cermat, lengkap, dan sistematis) sehingga lebih mudah

diolah (Saryono, 2018). Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini

adalah kuesioner yang dibuat secara sederhana sehingga mudah dimengerti

dan dipahami oleh masyarakat. Data demografi responden terdiri dari usia,

pendidikan, pekerjaan, dan lama melakukan pengobatan sendiri

Pertanyaan pengetahuan diukur melalui kuesioner test pengetahuan

dengan 10 pertanyaan, setiap item pertanyaan terdapat 3 pilihan jawaban :

a. Untuk pilihan jawaban yang benar mendapat skor 1

b. Untuk pilihan jawaban yang salah mendapat skor 0

Pertanyaan untuk prilaku pengobatan sendiri terdiri dari 10 pertanyaan

dengan Penskoran instrumen dibuat dengan menggunakan skala Likert


32

dengan tiga alternatif jawaban. Jawaban setiap instrumen mempunyai gradasi

berupa kata-kata atau pertanyaan, nilai setiap responden dijumlahkan

sehingga diperoleh skor total. Adapun gradasi jawaban responden adalah

skor 3 = sering (S), skor 2 = kadang-kadang (KD), skor 1 = tidak pernah (TP).

Pertanyaan untuk sikap pengobatan sendiri terdiri dari 10 pertanyaan

dengan Penskoran instrumen dibuat dengan menggunakan skala Likert

dengan tiga alternatif jawaban. Jawaban setiap instrumen mempunyai gradasi

berupa kata-kata atau pertanyaan, nilai setiap responden dijumlahkan

sehingga diperoleh skor total. Adapun gradasi jawaban responden adalah

skor 3 = setuju (S), skor 2 = ragu-ragu (RR), skor 1 = tidak setuju (TS)

Untuk variabel pengetahuan dan sikap akan dilakukan uji validitas dan

reliabilitas Validitas adalah suatu yang menunjukkan alat ukur itu benar-benar

mengukur apa yang ingin diukur. Sebuah instrumen dikatakan valid apabila

mampu mengukur apa yang diinginkan atau dapat mengungkapkan data dari

variabel yang diteliti secara tepat. Suatu variabel (pengetahuan dan sikap)

dikatakan valid bila skor tersebut berkorelasi secara signifikan dengan skor

totalnya.

Reliabilitas adalah indeks yang menunjukkan sejauh mana suatu alat

pengukur dapat dipercaya atau diandalkan. Hal ini menunjukkan sejauh mana

hasil pengukuran itu tepat konsisten bila dilakukan pengukuran dua kali atau

lebih dengan alat ukur yang sama. Pengukuran reliabilitas dimulai dengan

mmenguji validitas terlebih dahulu. Jika sebuah pertanyaan tidak valid, maka

pertanyaan tersebut dibuang.


33

E. Definisi Operasional

Defenisi operasional mendefenisikan variabel secara operasional

berdasarkan karakteristik yang diamati ketika melakukan pengukuran secara

cermat terhadap suatu objek atau fenomena dengan menggunakan parameter

yang jelas (Hidayat, 2017).

Tabel 3.1
Defenisi variabel secara operasional

No Variabel Definisi Alat Ukur Skala Hasil


Operasional Ukur Ukur
1. Pengobatan Tindakan yang Kuesioner Ordinal Sering jika
Sendiri dilakukan ibu nilai ≥
rumah tangga mean/medi
dalam an
mengatasi sakit Jarang
rematik dengan jika nilai <
melakukan mean/medi
pengobatan an
sendiri
2. Pengetahuan Segala sesuatu Kusioner Ordinal 1. Baik,
yang diketahui jika nilai
ibu tentang skor (76-
pengobatan 100% )
sendiri 2. Cukup,
penyakit jika nilai
rematik yang skor (56-
meliputi 75%)
pengertian, 3. Kurang,
penyebab, jika nilai
pedoman skor
34

pengobatan, (<56%)
tanda gejala (Notoatmo
dan komplikasi djo, 2016)
3. Sikap Respon atau Kuesioner Ordinal Positif
kesiapan ibu jika nilai
dalam nilai ≥
menanggapi mean/medi
pengobatan an
sendiri tentang Negatif
penyakit jika nilai <
rematik mean/medi
an

F. Pengumpulan Data

1. Data primer

Data primer disebut juga data tangan pertama. Data primer diperoleh

langsung dari subyek penelitian dengan mengenakan alat pengukuran atau

alat pengambil data, langsung pada subyek sebagai sumber informasi yang

dicari (Saryono, 2018). Pengumpulan data yang dilakukan dengan

menggunakan data primer yaitu dengan menggunakan kuisioner yang

diberikan kepada ibu - ibu rumah tangga di desa menggala sakti.

2. Data sekunder

Data sekunder adalah data yang diperoleh oleh pihak lain, tidak

langsung diperoleh oleh peneliti dari subyek penelitinya. Biasanya bersifat

data dokumentasi atau data laporan yang telah tersedia (Saryono, 2018).
35

Pengumpulan data dengan mengumpulkan data sekunder yaitu

diperoleh melalui studi kepustakaan, bahan-bahan dari internet dan buku-

buku yang sesuai dengan bahasan masalah yang diteliti, dan data-data

yang diperoleh peneliti di Puskesmas Sedinginan

G. Teknik Pengolahan Data

Dalam melakukan analisis, data terlebih dahulu harus diolah dengan

tujuan mengubah data menjadi informasi. Dalam proses pengolahan data,

menurut Setiadi (2017) terdapat langkah-langkah yang harus ditempuh yaitu:

A. Editing

Editing adalah proses pengecekan/pengoreksian data yang telah di

kumpulkan, karena kemungkinan data yang di masukkan atau data yang

terkumpul tidak logis dan meragukan. Tujuan editing adalah untuk

menghilangkan kesalahan-kesalahan yang terdapat pada pencatatan di

lapangan/ bersifat koreksi.

B. Coding

Merupakan kegiatan pengelompokan data dengan pemberian

lambang atau code tertentu.

C. Sorting

Adalah mensortir dengan memilih atau mengelompokkan data

menurut jenis yang dikehendaki (klasifikasi data).

D. Entry Data

Jawaban-jawaban yang sudah diberi kode kategori kemudian

dimasukkan dalam tabel dengan cara menghitung frekuensi data.


36

Memasukkan data, boleh dengan cara manual atau melalui pengolahan

komputer.

E. Tabulating

Yakni membuat tabel-tabel data sesuai dengan tujuan penelitian atau

yang di inginkan oleh peneliti.

H. Analisis Data

1. Analisa univariat

Analisa univariat bertujuan untuk melihat hasil perhitungan

frekuensi dan presentase dari hasil penelitian yang nantinya akan

digunakan dalam pembahasan dan kesimpulan. Untuk mencari

persentase responden digunakan rumus menurut Setiadi (2017), yaitu :

ntuk mencari persentase responden digunakan rumus:

P = F x 100%
N

Keterangan:

P = Presentase (%)

F = Jumlah jawaban yang benar (skor)

N = Jumlah skor angket

untuk memperoleh rata-rata (mean) dari setiap jawaban responden

dapat dilihat dengan rumus:

x = Jumlah nilai total responden


Banyaknya responden
37

2. Analisis Bivariat

Analisa bivariat dilakukan terhadap dua variabel yang diduga

berhubungan/berkorelasi. Uji analisis yang digunakan adalah uji chi

square karena data variabel pengetahuan dan sikap mempunyai jenis data

katagorik-dan katagorik yaitu ordinal-ordinal. Dari perhitungan statistik

untuk mengetahui ada tidaknya hubungan yang signifikan antara varaibel

yang diteliti maka digunakan p value dengan tingkat signifikansi 0,05.

Tolak Ho jika p< 0.05 dimana ada hubungan antara pengetahuan dan

sikap ibu rumah tangga tentang perilaku pengobatan sendiri penyakit

rematik.

Tabel 3.2
Hubungan pengetahuan ibu rumah tangga terhadap perilaku
Pengobatan sendiri

Perilaku Pengobatan Sendiri


Jumlah
Pengetahuan Kadang-
Sering (n)
kadang
Tinggi a b a+b
Rendah c d c+d
Jumlah (n) a|c|e b|d|f a|b|c|d|e|f

Tabel 3.3
Hubungan sikap ibu rumah tangga terhadap perilaku
Pengobatan sendiri

Perilaku Pengobatan Sendiri Jumlah


Sikap
Sering Jarang (n)
Negatif a b a+b
Positif c d c+d
Jumlah (n) a|c b|d a|b|c|d|
38

DAFTAR PUSTAKA

Anief (2011). Pengolahan obat berdasarkan khasiat dan penggunaanya.


yogyakarta:gajah mada Universite Press
Daud, R.A.N. 2001, Arthritis Rheumatoid. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid I
Edisi 3, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta.
Departemen Kesehatan dan Kesejahteraan Sosial Republik Indonesia Direktorat
Jenderal Pegendalian Penyakit Dan Penyehatan Lingkungan.(2010). Buku
Saku Petugas Kesehatan.Depkes, Jakarta.
Depkes RI. (2006). Pedoman Penggunaan Obat Bebas Dan Terbatas. Jakarta:
Departemen Kesehatan Republik Indonesia.
Kemenkes RI. (2014). Riset Kesehatan Dasar 2013. Jakarta: Badan Penelitian dan
Pengembangan Kesehatan.
Hidayat, A.A. (2017). Pengantar Ilmu Keperawatan Anak. Selemba
Medika,Jakarta.
Kementerian Kesehatan RI. (2017). Profil Kesehatan Indonesia. Jakarta.
Hidayat, A.A. (2017).Metode Penelitian Keperawatan dan TehnikAnalisis Data.
SalembaMedika,Jakarta.
Notoatmodjo, S. (2013).Pendidikan dan Perilaku Kesehatan.RinekaCipta,
Jakarta.
Notoatmodjo, S. (2017).PromosiKesehatan dan Ilmu Perilaku.. RinekaCipta,
Jakarta.
Notoatmodjo, Soekidjo. (2010).Metodologi Penelitian Kesehatan.. RinekaCipta,
Jakarta.
Rizasyah, D., (2011), Diagnosis dan Penatalaksanaan Atritis Reumatoid, 9-13,
Staf Sub Bagian Reumatologi Bagian Ilmu Penyakit Dalam FKUI
Setiadi.(2017). KonsepdanPenulisanRisetKeperawatan, GrahaIlmu. Yogyakarta
Supardi, S & Notosiswoyo(2015). Pengobatan sendiri sesuai dengan aturan pada
ibu-ibu dijawa barat. Buletin Penelitian Kesehatan, 30,11-21
____________________________. Pengobatan sendiri sakit kepala, demam,
batuk dan pilek pada masyarakat desa ciwalen, Kecamatan
39

Warungkondang, kabupaten cianjur, Jawa Barat. Majalah Informasi


Kefarmasian, 30,11-21
Supardi dkk (2015). Obat tradisional pada pengobatan sendiri. Buletin Penelitian
Kesehatan, 31,25-35
Sugiyono (2011). Metodologi Penelitian administrasi.Bandung:Alfabeta
40

LAMPIRAN

LEMBAR PERSETUJUAN RESPONDEN

Dengan ini saya yang bertanda tanggan dibawah ini :

Inisial : ……………………………………………………………..

Umur : ……………………………………………………………..

Pendidikan : ……………………………………………………………..

Pekerjaan : ……………………………………………………………..

Menyatakana bersedia untuk menjadi responden penelitian yang dilakukan dengan

judul “ Hubungan antara pengetahuan dan sikap ibu rumah tangga tentang

perilaku pengobatasendiri penyakit rematik di Desa Menggala Sakti Kecamatan

Tanah Putih Kabupaten Rokan Hilir “ .

Saya memahami bahwa penelitian ini tidak berakibat negative oleh karena itu saya

bersedia untuk menjadi responden pada penelitian ini.

Menggala, Februari 2021

Responden

…………………………………..
41

KUESIONER PENELITIAN

HUBUNGAN ANTARA PENGETAHUAN DAN SIKAP IBU RUMAH


TANGGA TENTANG PERILAKU PENGOBATAN SENDIRI
PENYAKIT REMATIK DI DESA MENGGALA SAKTI
KECAMATAN TANAH PUTIH KABUPATEN
ROKAN HILIR

No Responden:

A. Identitas Responden

Beri tanda (√ ) pada kolom yang anda pilih.


a. Nama : .....................................
b. Umur Ibu : ......... tahun
c. Pendidikan terakhir :
SD SMP

SMA Akademis
Sarjana Pascasarjana

d. Pekerjaan : ....................................
42

B. Pengetahuan

Petunjuk Pengisian Kuesioner


Beri tanda silang (Χ) pada pertanyaan dibawah ini yang anda anggap benar:

1. Menurut ibu pengertian dari pengobatan sendiri adalah ?


a. Tidak tahu
b. Pengobatan sendiri sering dilakukan oleh masyarakat sebagai
tindakan pertama pada saat mengalami keluhan kesehatan atau
menderita sakit yang dapat dilakukan dengan mengunakan obat
modern atau obat tradisional tanpa resep dokter
c. Pengobatan yang dilakukan sendiri dengan memakai resep dokter

2. Apakah ibu tahu pedoman dalam melakukan pengobatan sendiri?


a. Tidak tahu
b. Tepat golongan, tepat obat, tepat dosis, lama pengobatan terbatas
c. Pengobatan yang dilakukan sendiri dengan memakai resep dokter

3. Penggunaan obat dalam pengobatan sendiri dikatakan rasional jika


memenuhi kriteria?
a. Tidak tahu
b. Sesuai dengan indikasi, diberikan dengan dosis yang tepat, obat
harus efektif, dengan mutu terjamin dan aman
c. Dilakukan sesuai dengan pengalaman dan informasi dari tetangga

4. Menurut pengetahuan ibu apa yang dimaksud dengan penyakit rematik?


a. Tidak tahu
b. Penyakit kelainan pada sendi yang menimbulkan nyeri dan kaku
pada sistem musculoskeletal (sendi, tulang, jaringan ikat dan otot)
c. Penyakit pada bagian tulang saja

5. Beberapa factor resiko yang di ketahui berhubungan dengan rematik


ataupun pegal lini, antara lain

a. Tidak tahu
b. Kegemukan, cedera sendi yang berulang, kepadatan tulang
berkurang (osteoporosis), beban sendi yang terlalu berat (olah raga
atau kerja tertentu)
c. Mandi malam dank arena sudah tua

6. Apakah ibu mengetahui jenis-jenis penyakit rematik?


a. Tidak tahu
b. Asam urat, arthritis rheumatoid (AR), osteoarthritis (OR) dan lupus
erimatosus (LE)
c. Rematik pada tulang dan sendi saja
43

7. Manifestasi / gejala klinis rematik yang dapat di lihat, antara lain


a. Tidak tahu
b. Sakit seluruh tubuh
c. Terjadi kemerahan, inflamasi, nyeri dan dapat terjadi deformitas
(perubahan bentuk)

8. Apa ibu tahu efek samping obat rematik ?


a. Tidak tahu
b. Bisa menyebabkan gangguan pada saluran pencernaan, komplikasi
pada ginjal, kelainan hati, timbulnya hipertensi infark miokard dan
gagal jantung
c. Tidak ada efek samping

9. Menurut ibu selain menggunakan obat modern, pengobatan pada


rematik bisa juga menggunakan obat tradisional?
a. Tidak tahu
b. Bisa menggunakan jahe, kunyit, biji selendri, daun lidah buaya,
rosemary, aroma terapi, atau minyak juniper yang bisa
menghilangkan bengkak pada sendi
c. Dengan balsam. Diurut dan dipijit

10. Selain mengobati, kita juga bisa mencegah datangnya penyakit rematik
ini dengan cara?
a. Tidak tahu
b. Tidak bekerja terlalu berat dan hindari makanan penyebab rematik
seperti kacang-kacangan
c. Olah raga dengan beban berat
44

C. Perilaku Pengobatan Sendiri

Di bawah ini disajikan pertanyaan berkaitan dengan penilaian Anda tentang


perilaku pengobatan sendiri. Mohon penilaian Anda dengan memberi tanda
“centang“ ( √ ) pada kolom yang sesuai dengan jawaban Anda.

Keterangan :
S = Sering
KD = Kadang-kadang
TP = Tidak Pernah

No Pertanyaan S KD TP

1 Pengobatan sendiri di tujukan untuk mengobati


penyakit ringan tidak pada penyakit berat.

2 Pengobatan sendiri merupakan tindakan


pertama untuk mengatasi keluhan sakit
sebelum ke puskesmas

3 Saya tidak akan menggatasi rematik saya


apabila rematik saya kambuh

4 Dalam melakukan pengobatan sendiri, dari


pada makan obat modern lebih baik
menggunakan obat tradisional dalam
mengobati nyeri sendi

5 Pengobatan sendiri dirumah harus tepat


golongan, tepat obat, tepat dosis, lama
pengobatan terbatas

6 Pengobatan sendiri pada rematik dilakukan


berdasarkan pengalaman keluarga dan tetangga
tanpa panduan dokter
45

7 Selain dengan obat-obatan, untuk mengurangi


rasa nyeri juga bisa dilakukan tanpa obat,
misalnya dengan memberikan kompres air es

8 Obat-obatan untuk penyakit rematik boleh


digunakan dalam pengobatan sendiri semau
kita saja

9 Selain mengobati, kita juga bisa mencegah


datangnya penyakit rematik, seperti tidak
melakukan olahraga/kerja secara berlebihan

10 Beberapa jenis herbal juga bisa membantu


melawan nyeri rematik, misalnya jahe, kunyit,
daun lidah buaya, aroma terapi, atau minyak
juniper yang bisa menghilangkan bengkak pada
sendi
46

D. Sikap

Di bawah ini disajikan pertanyaan berkaitan dengan penilaian Anda tentang


sikap pengobatan sendiri. Mohon penilaian Anda dengan memberi tanda
“centang“ ( √ ) pada kolom yang sesuai dengan jawaban Anda.

Keterangan :
S = Setuju
RR = Ragu-ragu
TS = Tidak Setuju

No Pertanyaan S RR TS

1 Saya akan melakukan kompres air hangat untuk


mengatasi nyeri rematik saya

2 Saya akan menghindari makanan pemicu


kambuhnya penyakit rematik

3 Nyeri sendi tidak boleh dibiarkan begitu saja

4 Obat tradisional seperti kunyit dan jahe lebih


baik dari pada minum jamu yang tidak jelas
kandungannya.

5 Penyakit rematik atau nyeri sendi bisa di atasi


sendiri tidak perlu berobat lebih lanjut ke
puskesmas

6 Begitu nyeri muncul, segeralah periksa diri ke


dokter untuk mendeteksi mana yang sekedar
pegal linu biasa atau yang merupakan gejala
rematik

7 Obat modern untuk penyakit rematik apakah


harus mengunakan resep dokter
47

8 Obat rematik tidak harus sesuai dengan jenis


rematik yang kita derita

9 Saya akan berolahraga secara teratur setiap hari

10 Saya meminum obat sesuai dengan aturan


pakai yang tertera pada kemasan obat
48

LEMBAR KONSULTASI

Nama : Erna Levis

NIM : 919312030

Dosen Pembimbing : Dr. Ns. Ezalina, M.Kes

Tanda Tangan
No Hari/Tanggal Materi Bimbingan
Pembimbing

1 8 Desember 2020 Dilatar belakang di

o Tampilkan Persentase
masyarakat pengobatan
sendiri dan dampak
pengobatan sendiri,
berdasarkan hasil penelitian
o Tampilkan hasil penelitian
terkait
o Tampilkan hasil survey awal

2 2 Januari 2021 Dibab II

o Dikerangka konsep
tambahkan dengan sering dan
jarang
o Tambahkan HO: di hipotesis
nya
o Di instrument penelitan
tambahkan Untuk variabel
pengetahuan dengan jumlah
soal….. dengan alternative
jawaban….sedangkan untuk
variabel sikap dengan junlah
soal…..dengan alternative
jawaban…..
49

3 24 Januari 2021 Dibab I

o Keaslian penelitian di
pindahkan ke bab II

Dibab II

o Kerangka teori di hapus

4 9 Februari 2021 Dibab III

o Instrumen penelitan lebih


dijelaskan
o Buat table hubungan
pengetahuan dengan perilaku
dan table hubungan sikap
dengan perilaku

5 12 Februari 2021 Bab III

Di bagian analisis bivariat di tabel


3.2 dan 3.3 Ganti dengan sering,
kadang-kadang, tinggi, rendah pada
tabel Hubungan pengetahuan ibu
rumah tangga terhadap perilaku

Di bagian analis bivariat di tabel 3.3


Ganti dengan sering, jarang pada
tabel Hubungan sikap ibu rumah
tangga terhadap perilakuPengobatan
sendiri

Dilembar persetujuan responden


ganti nama dan alamat dengan inisial
dan pekerjaan