Anda di halaman 1dari 21

FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PRILAKU MASYARAKAT DALAM

PENCEGAHAN PENYEBARAN COVID 19 DI KEPENGHULUAN PUJUD WILAYAH KERJA UPT.


PUSKESMAS PUJUD

SUHANDI
Program Studi S1 Keperawatan Stikes Payung Negeri Pekanbaru

ABSTRAK

Perilaku masyarakat dalam upaya pencegahan penularan Covid-19 masih kurang baik. Hal ini disebabkan
oleh berbagai faktor yang bersumber dari masyarakat itu sendiri. Beberapa faktor yang berkaitan dengan
perilaku masyarakat terdiri dari karakteristik individu meliputi umur, pendidikan dan pekerjaan, faktor
pengetahuan, faktor sumber informasi dan faktor peran tenaga kesehatan. Tujuan penelitian ini adalah untuk
mengetahui faktor yang berhubungan dengan perilaku masyarakat dalam pencegahan penyebaran Covid 19.
Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif, dengan desain analitik observasional dan pendekatan Cross
Sectional. Teknik sampling yang digunakan yaitu Stratified Random Sampling dengan jumlah sampel
sebanyak 160 responden. Penelitian ini dilakukan di Desa Kepenghuluan Pujud. Analisa data yang
digunakan yaitu analisis univariat dan analisis bivariat dengan menggunakan uji statistik Chi Square. Hasil
penelitian menunjukkan bahwa ada hubungan umur dengan dengan perilaku masyarakat dalam pencegahan
penyebaran Covid 19 (p Value = 0,014 < α = 0,05), ada hubungan pekerjaan dengan dengan perilaku
masyarakat dalam pencegahan penyebaran Covid 19 (p Value = 0,010 < α = 0,05), ada hubungan
pengetahuan dengan dengan perilaku masyarakat dalam pencegahan penyebaran Covid 19 (p Value = 0,021
< α = 0,05), ada hubungan sumber informasi dengan dengan perilaku masyarakat dalam pencegahan
penyebaran Covid 19 (p Value = 0,012 < α = 0,05) ada hubungan peran tenaga kesehatan dengan dengan
perilaku masyarakat dalam pencegahan penyebaran Covid 19 (p Value = 0,038 < α = 0,05) dan Tidak ada
hubungan Pendidikan dengan perilaku masyarkaat dalam pencegahan penyebaran Covid 19 (p Value =
0,765 < α = 0,05). Diharapkan kepada masyarakat agar dapat meningkatkan perilaku pencegahan penularan
Covid 19 dengan menerapkan protokol kesehatan yang baik dan kepada peneliti agar dapat melakukan
upaya pencegahan melalui penyebaran informasi hasil penelitian.
Kata Kunci : Covid 19, Peran, Sumber Informasi, Tenaga Kesehatan
Bahan Rujukan : 31 referensi

PENDAHULUAN Pandemi COVID-19 (Coronavirus Disease- 2019)


yang disebabkan oleh virus SARS- CoV-2 (Severe
Acute Respiratory Syndrome Coronavirus-2)
menjadi peristiwa yang mengancam kesehatan
Covid-19 saat ini menjadi permasalahan dunia masyarakat secara umum dan telah menarik
yang serius dengan jumlah kasusnya yang selalu perhatian dunia. Pada tanggal 30 Januari 2020,
mengalami peningkatan setiap harinya, WHO (World Health Organization) telah
menyerang setiap orang tanpa memandang usia menetapkan pandemi COVID-19 sebagai keadaan
maupun jenis kelamin dan sudah dikategorikan darurat kesehatan masyarakat yang menjadi
sebagai pandemi global. Covid-19 merupakan perhatian dunia internasional (Yanti et al., 2020).
jenis virus yang baru sehingga banyak pihak yang
tidak tahu dan tidak mengerti cara
penanggulangan virus tersebut (Sari et al., 2020).
1
Hampir seluruh dunia sudah terjangkit Covid- dan orang lain dengan cara sering mencuci tangan
19. Menurut data WHO (2020) tertanggal 13 dengan air mengalir dan sabun atau menggunakan
Desember 2020 menunjukkan bahwa 69.808.588 hand sanitizer, menggunakan masker dan tidak
jiwa yang terkonfirmasi positif, dan 1.588.854 menyentuh area muka sebelum mencuci tangan,
jiwa yang dinyatakan meninggal akibat Covid-19. serta menerapkan etika batuk dan bersin dengan
Berdasarkan wilayah, kasus tertinggi terjadi di baik (Purnamasari & Raharyani, 2020).
Amerika sebesar 29.770.479 jiwa terkonfirmasi,
di Eropa sebesar 21.688.472 jiwa terkonfirmasi,
South-East Asia sebesar 11.319.634 jiwa Proses pencegahan penting dalam
terkonfirmasi, Eastern Mediterania sebesar penanggulangan Covid 19 terletak pada kegiatan
4.465.756 jiwa terkonfirmasi, di Afrika sebesar proteksi dasar. Hal tersebut menjadi proses pokok
1.610.874 jiwa terkonfirmasi dan di Western penangggulangan Covid 19 dimana berkaitan erat
Pacifik sebesar 952.629 jiwa terkonfirmasi Covid- dengan perilaku masyarakat dalam kehidupan
19. Angka kematian akibat Covid-19 juga yang berisiko terhadap penularan Covid 19.
tertinggi terjadi di Amerika yaitu sebesar 290.133 Sedangkan kegiatan isolasi dan deteksi dini proses
jiwa (World Health Organization (WHO), 2020). pencegahannya dilakukan melalui peran serta
tenaga kesehatan untuk menjamin terjadinya
penularan melalui proses penelusuran kasus yang
Di Indonesia kejadian pandemi Covid-19 juga berisiko dan berlanjut pada upaya isolasi. Dengan
sangat mengkhawatirkan dengan jumlah kejadian demikian kunci utama dalam proses kegiatan
kasus yang semakin meningkat. Data per tanggal pencegahan penularan Covid 19 berfokus utama
13 Desember 2020 didapatkan jumlah pada kegiatan proteksi dini melalui penerapan
terkonfirmasi Positif sebesar 611.631 jiwa, kasus kegiatan 4 M yaitu mencuci tangan, menggunakan
Sembuh sebesar 501.376 jiwa dan kasus masker, menjaga jarak dan menghindari
Meninggal sebesar 18.653 jiwa. Adapun sebaran kerumunan (Rosidin et al., 2020)
berdasarkan wilayah Provinsi didapatkan data
bahwa sebaran kasus Covid-19 sudah menyebar
ke-34 provinsi se Indonesia. Jumlah kasus Covid- Sejalan dengan program pencegahan tersebut,
19 peringkat 3 besar tertinggi yaitu terjadi di DKI kampanye PHBS pun kembali digaungkan oleh
Jakarta sebesar 151.201 jiwa (24,7%), Jawa pemerintah pada masyarakat agar diterapkan
Timurs sebesar 69.130 jiwa (11,3%) dan Jawa untuk memutus mata rantai penyebaran virus.
Tengah sebesar 65.600 jiwa (10,7%) (Gugus Penerapan PHBS untuk mencegah Covid-19
Tugas Covid-19, 2020a). bukanlah hal yang mudah dilakukan oleh warga
masyarakat. Pemerintah pun menghimbau para
tokoh masyarakat, baik formal maupun informal,
Tingginya penyebaran kasus di dunia dan di di setiap wilayah untuk berperan aktif dalam
Indonesia tersebut tidak terlepas dari rendahnya mengkampanyekan PHBS pada warga masyarakat
upaya pencegahan penyebaran Covid-19. untuk mencegah penyebaran Covid-19, dan juga
Sosialisasi dan arahan tentang pencegahan Covid- berperan dalam upaya penanggulangan dampak
19 telah disebarluaskan keseluruh penduduk. pandemi. Pemerintah melibatkan para tokoh
Sebagian besar masyarakat telah mengetahui masyarakat karena mereka memiliki kedudukan
tentang penyakit Covid-19 dan bagaimana cara dan kekuatan sosial untuk mempengaruhi warga
pencegahanya. Namun tidak sedikit pula dari masyarakat dalam mem- bentuk suatu perilaku
masyarakat yang belum memahami betul dan memotori gerakan sosial yang bertujuan
bagaimana pencegahanya. Masih banyak menanggulangi pandemi (Rosidin et al., 2020).
masyarakat yang belum melakukan apa yang
diarahkan oleh pemerintah (Sembiring & Meo,
2020). Cara terbaik untuk mencegah penyakit ini Penularan Covid 19 melalui kontak dekat dan
adalah dengan memutus mata rantai penyebaran droplet, bukan melalui transmisi udara. Orang
covid-19 melalui proses pencegahan penularan yang berisiko terinfeksi adalah yang berhubungan
Covid 19 melalui kegiatan isolasi, deteksi dini dan dekat dengan orang yang positif covid-19.
melakukan proteksi dasar yaitu melindungi diri Tindakan pencegahan merupakan kunci penerapan
di pelayanan kesehatan dan masyarakat. Langkah
2
pencegahan di masyarakat adalah dengan menjaga outcome dari kesehatan masyarakat (Moudy &
kebersihan tangan menggunakan hand sanitizer Syakurah, 2020a).
jika tangan tidak terlihat kotor. Cuci tangan
dengan sabun jika tangan terlihat kotor.
Menghindari menyentuh mata, hidung dan mulut. Penelitian yang dilakukan oleh Sari et al.,
Dan menerapkan etika batuk atau bersin dengan (2020) menyebutkan bahwa beberapa faktor yang
menutup hidung dan mulut dengan lengan atas berkaitan dengan perilaku masyarakat dalam
bagian dalam. Memakai masker dan menjaga pencegahan Covid-19 diantaranya yaitu faktor
jarak (minimal 1 meter) dari orang lain. sikap masyarakat dan faktor karakteristik
Melakukan komunikasi risiko penyakit dan masyarakat yang terdiri dari jenis kelamin yang
pemberdayaan masyarakat untuk meningkatkan berhubungan dengan perilaku masyarakat dalam
pengetahuan (Wulandari et al., 2020) pencegahan Covid-19. Selain itu, Penelitian
Sembiring & Meo, (2020) mengemukakan bahwa
terdapat hubungan pengetahuan yang tinggi dan
Program pemerintah tersebut dalam upaya sikap positif terhadap peningkatan perilaku
pencegahan dan penanggulangan pandemi Covid- pencegahan Covid-19 yang baik dari masyarakat.
19 dirasa belum maksimal. Hal ini disebabkan
karena kepatuhan masyarakat dalam menerapkan
perilaku pencegahan Covid-19 dirasa masih Pengetahuan merupakan pemahaman
kurang. Kendala yang sering terjadi masyarakat partisipan tentang topik yang diberikan.
beranggapan bahwa kasus Covid-19 belum Pengetahuan adalah kemampuan untuk menerima,
dipahami secara menyeluruh sehingga masyarakat mempertahankan, dan menggunakan informasi,
mengganggap kasus penyakit ini adalah kasus yang dipengaruhi oleh pengalaman dan
penyakit biasa. Perilaku masyarakat dalam upaya keterampilan. Sebagian besar dari pengetahuan
pencegahan penularan Covid-19 ini dirasa kurang yang dimiliki seseorang berasal dari pendidikan
disebabkan oleh berbagai faktor yang bersumber baik formal dan informal, pengalaman pribadi
dari individu masyarakat itu sendiri maupun maupun orang lain, lingkungan, serta media
berasal dari faktor dari luar individu yang massa. Sikap merupakan respon atau reaksi
mendorong masyarakat tersebut berperilaku buruk seseorang yang masih bersifat tertutup terhadap
dalam menerapan upaya pencegahan Covid-19 suatu objek, stimulus, atau topik. Sikap juga dapat
tersebut (Buana, 2020). diartikan sebagai kecenderungan seseorang untuk
bertindak, baik mendukung maupun tidak
mendukung pada suatu objek. Sikap belum
Menurut Notoadmodjo, (2012), merupakan suatu tindakan, tetapi merupakan suatu
mengemukakan bahwa dalam menjaga kesehatan faktor predisposisi terhadap suatu perilaku. Sikap
seseorang, terdapat dua faktor pokok yang yang utuh dibentuk oleh komponen kognisi, afeksi
memengaruhi kesehatan, yaitu faktor perilaku dan dan konasi.Tindakan adalah segala kegiatan atau
faktor non- perilaku. Menurut B. Bloom, terdapat aktivitas yang dilakukan seseorang, sebagai reaksi
tiga domain/ranah dari perilaku, yaitu atau respons terhadap stimulus dari luar, yang
pengetahuan (knowledge), sikap (attitude), dan menggambarkan pengetahuan dan sikap mereka
tindakan (practice). Sedangkan perilaku kesehatan (Moudy & Syakurah, 2020a).
tersebut, menurut L. Green, dipengaruhi dan
ditentukan oleh tiga faktor yaitu faktor
predisposisi (predisposing factor), faktor Di Provinsi Riau, kasus Covi-19 juga sudah
pemungkin (enabling factor), dan faktor tersebar di 12 Kabupaten/Kota yang ada. Data
pendorong/penguat (reinforcing factor). Jika Update Kasus Covid-19 per tanggal 13 Desember
dilihat dari faktor predisposisi, masyarakat 2020 menunjukkan bahwa jumlah total kasus
memiliki faktor sosiodemografi seperti perbedaan terkonfirmasi yaitu sebanyak 22.131 jiwa yang
umur, jenis kelamin, pendidikan, pekerjaan, latar terdiri dari yang menjalani isolasi mandiri
belakang pendidikan/pekerjaan serta daerah asal. sebanyak 1.131 jiwa, yang dirawat di Rumah
Gambaran karakteristik sosiodemografi tersebut Sakit sebanyak 687 jiwa, yang dinyatakan sembuh
dapat memengaruhi perilaku masyarakat serta sebanyak 19.806 jiwa dan yang meninggal
sebanyak 507 jiwa. Sedangkan sebaran
3
berdasarkan Kabupaten/Kota di Provinsi Riau, rutin dilakukan masyarakat secara berkelompok-
didapatkan jumlah Kabupaten/Kota dengan kelompok sehingga pengaturan jarak atau phisical
peringkat 3 besar yaitu Kota Pekanbaru sebanyak distancing juga tidak terlaksana dengan baik.
10.526 jiwa terkonfirmasi dengan 245 jiwa kasus Apabila penyebaran kasus Covid-19 tidak
kematian, Kota Dumai sebanyak 2.026 jiwa ditangani serius dengan penerapan perilaku
terkonfirmasi dengan 32 jiwa kasus kematian dan kesehatan/ protokol kesehatan yang ketat.
Kabupaten Kampar sebanyak 1.861 jiwa
terkonfirmasi dengan 48 jiwa kasus kematian
(Gugus Tugas Covid-19, 2020b). Hasil wawancara yang dilakukan peneliti
terhadap 20 Kepala Keluarga (KK) yang ada di
Kepenghuluan Pujud didapatkan data bahwa 14
Kabupaten Rokan Hilir juga menjadi salah KK menyatakan tidak menggunakan Masker bila
satu wilayah dengan kasus sebaran yang cukup keluar rumah, jarang mencuci tangan dan tidak
tinggi dengan peringkat ke-7 di Provinsi Riau. ada ketentuan melakukan menjaga jarak.
Jumlah kasus Covid-19 di Kabupaten Indragiri Sedangkan hanya 6 KK saja yang dapat
Hulu per tanggal 13 Desember 2020 ditemukan menerapkan perilaku 4M protokol Covid-19
sebesar 764 jiwa terkonfirmasi dimana 91 jiwa dengan baik. Selain itu 11 dari 20 KK juga
melakukan isolasi mandiri, 9 jiwa dirawat di menyatakan tidak memahami dan mengetahui
rumah sakit, 645 jiwa telah dinyatakan sembuh secara baik bagaimana penerapan protokol
dan 19 jiwa kasus kematian akibat Covid-19. kesehatan Covid-19 dalam upaya pencegahan
Jumlah kasus yang ada di Kabupaten Rokan Hilir penularan Covid-19. Pengetahuan mereka hanya
tersebar di 19 Puskesmas. Salah satu angka sebatas bahwa diwajibkan untuk memakai masker
penyebaran yang cukup tinggi yaitu terjadi di apabila keluar dari rumah. Hasil wawancara yang
UPT. Puskesmas Pujud. juga dilakukan terhadap 5 penderita kasus
terkonfirmasi positif Covid-19 menyatakan bahwa
penularan terjadi pada mereka akibat perilaku
Studi pendahuluan yang dilakukan oleh penerapan protokol kesehatan Covid-19 yang
peneliti pada tanggal 11 Desember 2020 di UPT. jelek dan tidak dilakukan. Hal tersebut
Puskesmas Pujud didapatkan data bahwa update diakibatkan pemahaman mereka yang masih
jumlah kasus Covid-19 di Wilayah Kerja UPT. kurang dan keinginan serta perasaan yang cuek
Puskesmas Pujud sebesar 67 jiwa kasus dari mereka sehingga terjadi penularan Covid-19.
terkonfirmasi dengan 31 jiwa kasus dengan isolasi
mandiri, 35 jiwa kasus dinyatakan sembuh.
Dengan 1 kasus kematian di wilayah kerja UPT. Hasil Wawancara yang dilakukan oleh peneliti
Puskesmas Pujud. Adapun salah satu yang di Kepenghuluan Pujud juga menunjukkan bahwa
menjadi wilayah kerja UPT. Puskesmas Pujud masyarakat menyatakan tidak telalu peduli tentang
yaitu Kepenghuluan Pujud dengan jumlah penerapan protokol Covid-19 dalam upaya
penduduk yaitu sebesar 2.547 jiwa yang pencegahan penularan Covid-19. Masyarakat
mempunyai resiko sangat besar terjadinya menyatakan bahwa penyakit Covid-19 ini hanya
penularan Covid-19. Resiko penularan tersebut masalah penyakit biasa saja. Akan tetapi masih
dimungkinkan terjadi akibat karena aktivitas terdapat beberapa masyarakat yang juga tampak
masyarakat yang berinteraksi cukup tinggi, sangat bagus menerapkan perilaku 4M dalam
mobilitas penduduk yang sering keluar masuk upaya pencegahan penyebaran dan penularan
wilayah desa Kepenghuluan Pujud. Hasil Covid-19. Uraian masalah perilaku pencegahan
observasi secara sederhana juga menunjukkan penularan Covid-19 secara rinci tersebut, menjadi
bahwa masyarakat juga tampak masih kurang dasar penulis untuk melakukan penelitian dengan
peduli dan kurang aktif menggunakan masker judul penelitian “Faktor-Faktor Yang
dalam kegiatan aktivitas sehari-hari diluar rumah, Berhubungan Dengan Prilaku Masyarakat
minimnya tempat-tempat yang menyediakan Dalam Pencegahan Penyebaran Covid 19 Di
tempat cuci tangan sehingga bersiko juga Kepenghuluan Pujud Wilayah Kerja UPT.
masyarakat tidak melakukan kebiasaan cuci Puskesmas Pujud”
tangan dan juga juga aktivitas diluar rumah yang
4
METODOLOGI PENELITIAN Variabel peran petugas kesehatan diukur
dengan menggunakan kuesioner. Kuesioner
disusun berdasarkan penelitian Retnani
Jenis penelitian ini adalah penelitian (2016) (Susmaneli, 2013). Jumlah pertanyaan
kuantitatif dengan dengan desain penelitian adalah dalam kuesioner yaitu sebanyak 10
Deskriptif Analitik. Pendekatan yang digunakan pertanyaan. Dalam mengukur variabel peran
dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan petugas kesehatan menggunakan kuesioner
rancangan penelitian Cross Sectional yaitu dengan skala Guttman. Adapun indikator
desain yang digunakan dalam penelitian dimana pengukurannya sebagai berikut: Ya : diberi
variable independen dan variable dependen diukur skor 1, Tidak : diberi skor 0
secara bersamaan (Dharma, 2011). Adapun 2. Variabel Dependen
variabel yang diukur secara bersamaan yaitu Variabel yang diukur dalam penelitian ini adalah
variabel sumber informasi dan peran petugas variabel independen yaitu variabel perilaku
kesehatan dengan variabel perilaku pencegahan pencegahan penyebaran Covid 19. Alat ukur yang
penyebaran Covid 19. digunakan disusun sendiri oleh peneliti
Instrumen Penelitian berdasarkan sumber yang dikutif dari Kemenkes
1. Variabel Independen RI (2017) tentang Pencegahan Covid 19. Jumlah
a. Variabel Karakteristik Individu pertanyaan dalam kuesioner motivasi yaitu 8
Variabel karakteristik individu diukur butir pertanyaan. Kuesioner yang dikembangkan
menggunakan kuesioner pertanyaan tertutup. menggunakan skala likert. Kuesioner
Adapun variabel karakteristik individu menggunakan indikator sebagai berikut: Sangat
meliputi pertanyaan tentang umur responden, Sering : diberi skor 3, Sering : diberi skor 2,
pendidikan responden dan pekerjaan
responden. Adapun indikator pengukuran yang
digunakan terdiri dari: Umur menggunakan Frekuensi Persentase
indikator kategori usia, pendidikan terdiri dari N Karakteristik
SD, SMP, SMA, dan Perguruan Tinggi o Responden
(D1,D2,D3, S1, S2 dan S3) serta pekerjaan (f) (%)
Umur
terdiri dari indikator Bekerja dan Tidak
a. Dewasa Awal
Bekerja. 1 (26-35 tahun)
b. Variabel Pengetahuan b. Dewasa Akhir
Jenis data yang digunakan pada variabel (36-45 tahun)
pengetahuan adalah data kategorik. Sumber c. Lansia (>46 99 61,9
data merupakan data Primer yang bersumber tahun)
langsung dari responden. Variable
pengetahuan perawat diukur dengan 37 23,1
menggunakan kuesioner yang dikembangkan
oleh peneliti. Kuesioner pengetahuan dengan 24 15,0
jumlah soal 10 butir pertanyaan. Kuesioner
pengetahuan menggunakan alternative
jawaban dengan menggunakan skala Guttman 2 Pekerjaan
dengan indikator “Ya” diberi skor 1 dan a. PNS
“Tidak” diberi skor 0 b. Swasta
c. Variabel Sumber Informasi c. Buruh 17 10,6
Variabel Sumber Informasi diukur dengan d. Tani
e. IRT
menggunakan kuesioner. Jumlah pertanyaan 38 23,8
f. Tidak Bekerja
dalam kuesioner yaitu sebanyak 1 pertanyaan.
Dalam megukur variable sumber informasi
menggunakan skala guttman. Adapun 2 1,3
indicator pengukurannya yaitu: Ya
: diberi skor 1, Tidak : diberi skor 0
51 31,9
d. Peran Petugas Kesehatan
5
27 16,9

25 15,6
Kadang-kadang : diberi skor 1, Tidak responden terdiri dari kategori Umur Responden
pernah : diberi skor 0 Mayoritas Masa Dewasa Awal (26-35 tahun) yaitu
sebanyak 99 orang (61,9%), Pekerjaan
Responden mayoritas Tani yaitu sebesar 51 orang
Sebelum alat ukur ini digunakan dalam (31,9%) dan Pendidikan Responden Mayoritas
penelitian yang sesungguhnya dilakukan uji coba Pendidikan SMP yaitu sebesar 48 orang (30,0%).
(try out) kepada sejumlah responden yang Distribusi faktor pengetahuan tentang pencegahan
memiliki karaktersitik yang sama dengan penyebaran Covid 19 di Kepenghuluan Pujud
karakteristik populasi penelitian. Hal ini dilakukan wilayah kerja UPT Puskesmas Pujud mayoritas
untuk mengetahui tingkat ksahihan (validitas) dan kategori Tinggi yaitu sebanyak 90 orang (56,3%).
kekonsistenan (reabilitas), guna mendapat Distribusi frekuensi faktor sumber informasi
instrument yang benar-benar mengukur apa yang masyarakat di Kepenghuluan Pujud wilayah kerja
ingin diukur. Uji reabitlitas dan validitas UPT Puskesmas Pujud mayoritas kategori Ada
dilaksanakan pada bulan April 2021 di UPT yaitu sebanyak 122 orang (76,3%). Distribusi
Puskesmas Pujud terhadap 30 orang responden. frekuensi faktor peran petugas kesehatan di
Kepenghuluan Pujud Wilayah Kerja UPT
Puskesmas Pujud mayoritas kategori Positif yaitu
Data tersebut dianalisa menggunakan program
sebesar 107 orang (66,9%). Distribusi frekuensi
SPSS 2.10. analisa univariat dilakukan untuk
perilaku pencegahan penyebaran Covid 19 di
mengetahui sebaran frekuensi responden
Kepenghuluan Pujud wilayah kerja UPT
berdasarkan umur, pendidikan, pekerjaan,
Puskesmas Pujud mayoritas kategori Tinggi yaitu
pengetahuan dan sumber informasi. Analisa
sebanyak 101 orang (63,1%).
bivariate digunakan untuk mengetahui hubungan
antara faktor-faktor yang berhubungan dengan
perilaku pencegahan penyebaran Covid 19.

HASIL DAN PEMBAHASAN Tabel 4.1

Berdasarkan analisa data yang dilakukan secara Distribusi frekuensi karakteristik responden di
univariat didapatkan hasil bahwa dari 160 Kepenghuluan Pujud Wilayah Kerja UPT
responden yang menjadi sample penelitian, Puskesmas Pujud
distribusi frekuensi dan persentase karakteristik

6
3 Pendidikan
a. SD
Tabel 4.2
b. SMP
c. SMA 42 26,3
d. PT
Distribusi frekuensi Faktor Pengetahuan
48 30,0 tentang Pencegahan Covid 19 di Kepenghuluan
Pujud Wilayah Kerja UPT Puskesmas Pujud

46 28,8
Tabel 4.3
Frekuensi Persentase
No Pengetahuan24 15,0
Distribusi frekuensi Faktor Sumber Informasi
(f) (%) Masyarakat di Kepenghuluan Pujud di
Total 160 100% Wilayah Kerja UPT Puskesmas Pujud
1 Tinggi 90 56,3

2 Rendah 70 43,7
Frekuensi Persentase Tabel 4.4
Sumber
No
Total
Informasi 160 100%
(f) (%) Distribusi frekuensi Faktor Peran Petugas
Kesehatan di Kepenghuluan Pujud Wilayah
Kerja UPT Puskesmas Pujud
1 Ada 122 76,2

2 Tidak Ada 38 23,8


Peran Frekuensi Persentase
Petugas
No Tabel 4.5
Kesehata
Total 160 100%
n (f) (%)

Distribusi frekuensi Perilaku Pencegahan


1 Positif 107 66,9 Penyebaran Covid 19 di Kepenghuluan Pujud
Wilayah Kerja UPT Puskesmas Pujud
2 Negatif 53 33,1

Total 160 100%


Perilaku Frekuensi Persentase
N Pencegahan
o Penyebaran
Covid 19 (f) (%)

1 Tinggi 101 63,1

2 Rendah 59 36,9

Total 160 100%

7
pencegahan kategori Tinggi yaitu sebesar 14
orang (8,8%). Analisis pekerjaan sebagian besar
kategori Bekerja yaitu sebesar 108 (67,5%)
mayoritas perilaku pencegahan kategori tinggi
yaitu sebesar 76 orang (47,5%) dan pekerjaan
kategori tidak bekerja yaitu sebesar 52 orang
(32,5%) mayoritas perilaku pencegahan kategori
Rendah yaitu sebesar 27 orang (16,9%)

Hasil analisis uji statistik Chi-Square


hubungan karakteristik responden dengan perilaku
pencegahan Covid 19 menunjukkan bahwa
Variabel Umur memiliki nilai p Value = 0,014 <
α = 0,05 artinya Ho ditolak sehingga disimpulkan
bahwa ada hubungan umur dengan perilaku
pencegahan Covid 19 di Kepenghuluan Pujud
Faktor-faktor yang berhubungan dengan wilayah Kerja UPT Puskesmas Pujud. Variabel
prilaku masyarakat dalam pencegahan Pendidikan memiliki nilai p Value = 0,765 > α =
penyebaran covid 19 di kepenghuluan pujud 0,05 artinya Ho Gagal ditolak sehingga
wilayah kerja upt. Puskesmas pujud. disimpulkan bahwa Tidak ada hubungan
Pendidikan dengan perilaku pencegahan Covid 19
di Kepenghuluan Pujud wilayah Kerja UPT
Analisis tabel silang hubungan
Puskesmas Pujud. Variabel Pekerjaan memiliki
karakteristik responden dengan perilaku
nilai p Value = 0,010 < α = 0,05 artinya Ho
pencegahan penyebaran Covid 19 sebagian besar
ditolak sehingga disimpulkan bahwa ada
usia responden kategori dewasa awal yaitu sebesar
hubungan pekerjaan dengan perilaku pencegahan
99 (61,9%) mayoritas perilaku pencegahan
Covid 19 di Kepenghuluan Pujud wilayah Kerja
kategori tinggi yaitu sebesar 65 orang (40,6%) dan
UPT Puskesmas Pujud. Hasil analisis
usia responden kategori Lansia yaitu sebesar 24
menunjukkan variabel karakteristik responden
orang (15,0%) mayoritas perilak pencegahan
yang berhubungan yaitu variabel umur dan
kategori Rendah yaitu sebesar 15 orang (9,4%).
pekerjaan sedangkan variabel yang tidak
Analisis pendidikan sebagian besar kategori
berhubungan yaitu variabel pendidikan.
Rendah yaitu sebesar 136 (85,0%) mayoritas
perilaku pencegahan kategori tinggi yaitu sebesar
87 orang (54,5%) dan pendidikan kategori tinggi
yaitu sebesar 24 orang (15,0%) mayoritas perilaku

Tabel 4.6

Analisis Hubungan Karakteristik Reponden (Umur, Pendidikan dan Pekerjaan) dengan


Perilaku Pencegahan Covid 19 di Kepenghuluan Pujud Wilayah Kerja UPT Puskesmas Pujud

Perilaku Pencegahan OR
P
Karakteristik Total
Value
(Odd
Tinggi Rendah
Ratio)
Responden

f % f % F % 0,014 -

8
Dewasa Awal 65 40,6 34 21,3 99 61,9

Umur Dewasa Akhir 27 16,9 10 6,3 37 23,1

Lansia 9 5,6 15 9,4 24 15,0

Tinggi 14 8,8 10 6,3 24 15,0 0,78 (0,32-


1,90)
Pendidikan 0,765
Rendah 87 54,5 49 30,6 136 85,0

Bekerja 76 47,5 32 20,0 108 67,5 2,56 (1,29-


5,07)
Pekerjaan 0,010
Tidak Bekerja 25 15,6 27 16,9 52 32,5

10
Jumlah 63,1 59 36,9 160 100
1

Analisis tabel silang hubungan pengetahuan pencegahan penyebaran Covid 19 di


dengan perilaku pencegahan penyebaran Covid 19 Kepenghuluan Pujud wilayah kerja UPT
di Kepenghuluan Pujud wilayah kerja UPT Puskesmas Pujud menunjukkan bahwa nilai p
Puskesmas Pujud, sebagian besar pengetahuan Value = 0,021 < α = 0,05 artinya Ho ditolak
kategori Tinggi yaitu sebesar 90 (56,3 %) sehingga disimpulkan bahwa Ada hubungan
mayoritas perilaku Pencegahan Covid 19 kategori pengetahuan dengan perilaku pencegahan
Tinggi yaitu sebesar 64 orang (40,0%) dan penyebaran Covid 19 di Kepenghuluan Pujud
Pengetahuan kategori Rendah yaitu sebesar 70 Wilayah Kerja UPT Puskesmas Pujud. Hasil
orang (43,8%) mayoritas Perilaku Pencegahan Analisis Odd Ratio (OR) menunjukkan nilai
Covid 19 kategori Tinggi yaitu sebesar 37 orang sebesar 2,19 artinya pengetahuan yang tinggi
(23,1%). memiliki kecenderungan sebesar 2,19 kali
Hasil analisis uji statistik Chi-Square meningkatkan perilaku pencegahan penyebaran
hubungan pengetahuan dengan perilaku Covid 19 dibandingkan pengetahuan yang rendah.
Analisis Hubungan Pengetahuan dengan Perilaku Pencegahan Penyebaran Covid 19 di
Kepenghuluan Pujud Wilayah Kerja UPT Puskesmas Pujud
Perilaku Pencegahan P OR
Covid 19 Total Valu (Odd
Variabel
Tinggi Rendah e Ratio)
f % F % f %
56,
Tinggi 64 40,0 26 16,3 90
Pengetahua 3 2,19
n 43, 0,021 (1,14-
Rendah 37 23,1 33 20,6 70
8 4,23)

10
Jumlah 63,1 59 36,9 160 100
1

9
Analisis tabel silang hubungan sumber Kepenghuluan Pujud wilayah kerja UPT
informasi dengan perilaku pencegahan Puskesmas Pujud menunjukkan bahwa nilai p
penyebaran Covid 19 di Kepenghuluan Pujud Value = 0,012 < α = 0,05 artinya Ho ditolak
wilayah kerja UPT Puskesmas Pujud, sebagian sehingga disimpulkan bahwa Ada hubungan
besar sumber informasi kategori Ada yaitu sebesar sumber informasi dengan perilaku pencegahan
122 (76,3%) mayoritas perilaku Pencegahan penyebaran Covid 19 di Kepenghuluan Pujud
Covid 19 kategori Tinggi yaitu sebesar 84 orang Wilayah Kerja UPT Puskesmas Pujud. Hasil
(52,5%) dan sumber informasi kategori Rendah Analisis Odd Ratio (OR) menunjukkan nilai
yaitu sebesar 38 orang (23,8%) mayoritas Perilaku sebesar 2,73 artinya Adanya sumber informasi
Pencegahan Covid 19 kategori Rendah yaitu memiliki kecenderungan sebesar 2,73 kali
sebesar 21 orang (13,1%). meningkatkan perilaku pencegahan penyebaran
Hasil analisis uji statistik Chi-Square Covid 19 dibandingkan tidak ada sumber
hubungan sumber informasi dengan perilaku informasi.
pencegahan penyebaran Covid 19 di

Analisis Hubungan Sumber Informasi dengan Perilaku Pencegahan Penyebaran Covid 19 di


Kepenghuluan Pujud Wilayah Kerja UPT Puskesmas Pujud

Perilaku Pencegahan P OR
Covid 19 Total Valu (Odd
Variabel
Tinggi Rendah e Ratio)
f % f % f %
76,
Ada 84 52,5 38 23,8 122
Sumber 3 2,73
Informasi 23, 0,012 (1,29-
Tidak Ada 17 10,6 21 13,1 38
8 5,75)

10
Jumlah 63,1 59 36,9 160 100
1

Analisis tabel silang hubungan peran Kepenghuluan Pujud wilayah kerja UPT
tenaga kesehatan dengan perilaku pencegahan Puskesmas Pujud menunjukkan bahwa nilai p
penyebaran Covid 19 di Kepenghuluan Pujud Value = 0,038 < α = 0,05 artinya Ho ditolak
wilayah kerja UPT Puskesmas Pujud, sebagian sehingga disimpulkan bahwa Ada hubungan
besar peran tenaga keseahtan kategori Positif yaitu peran tenaga kesehatan dengan perilaku
sebesar 107 (66,9%) mayoritas perilaku pencegahan penyebaran Covid 19 di
Pencegahan Covid 19 kategori Tinggi yaitu Kepenghuluan Pujud Wilayah Kerja UPT
sebesar 74 orang (46,3%) dan peran tenaga Puskesmas Pujud. Hasil Analisis Odd Ratio (OR)
kesehatan kategori Rendah yaitu sebesar 53 orang menunjukkan nilai sebesar 2,15 artinya peran
(33,1%) mayoritas Perilaku Pencegahan Covid 19 tenaga kesehatan yang positif memiliki
kategori Tinggi yaitu sebesar 27 orang (16,9%). kecenderungan sebesar 2,15 kali meningkatkan
Hasil analisis uji statistik Chi-Square perilaku pencegahan penyebaran Covid 19
hubungan peran tenaga kesehatan dengan perilaku dibandingkan peran tenaga kesehatan yang
pencegahan penyebaran Covid 19 di negatif.
Analisis Hubungan Peran Tenaga Kesehatan dengan Perilaku Pencegahan Penyebaran Covid 19
di Kepenghuluan Pujud Wilayah Kerja UPT Puskesmas Pujud

Perilaku Pencegahan P OR
Covid 19 Total Valu (Odd
Variabel
Tinggi Rendah e Ratio)
f % f % f % 0,038 2,15
(1,09-
Peran Positif 74 46,3 33 20,6 107 66,
4,25)
Tenaga 9

10
Negatif 33,
Kesehatan 27 16,9 26 16,3 53
1
10
Jumlah 63,1 59 36,9 160 100
1

PEMBAHASAN dianjurkan oleh petugas kesehatan (Indrayani


A. Interprestasi dan Diskusi Hasil & Ronoatmodjo, 2018).
1. Karakteristik Responden Lingkungan pekerjaan dapat memberikan
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengetahuan atau pengalaman kepada
distribusi frekuensi dan persentase karakteristik seseorang baik secara langsung atau pun tidak
responden terdiri dari kategori Umur yang juga akan memengaruhi proses seseorang
Responden Mayoritas Masa Dewasa Awal (26- untuk mencerna pengetahuan. Seseorang yang
35 tahun) yaitu sebanyak 99 orang (61,9%), bekerja dalam lingkup kesehatan akan
Pekerjaan Responden mayoritas Tani yaitu memiliki pengetahuan kesehatan yang lebih
sebesar 51 orang (31,9%) dan Pendidikan tinggi daripada yang tidak karena pengalaman
Responden Mayoritas Pendidikan SMP yaitu yang dijalaninya. Namun, disamping itu juga
sebesar 48 orang (30,0%). status pekerjaan tidak memiliki korelasi yang
Rentang umur 36-45 merupakan usia signifikan dengan pengetahuan Covid-19
matang dengan pertimbangan seseorang pada karena proporsi tingkat pengetahuan rendah
umur tersebut akan memiliki pola tangkap dan yang sama antara individu yang bekerja dan
daya pikir yang baik sehingga pengetahuan yang tidak bekerja (Pratiwi et al., 2020).
yang dimilikinya juga akan semakin membaik. Hasil penelitian ini didukung oleh penelitian
Akan tetapi, ada 6 faktor fisik yang dapat Putra et al., (2020) yang mengemukakan bahwa
menghambat proses belajar pada orang dewasa sebagian besar responden memiliki status
diantaranya gangguan penglihatan dan pendidikan terakhir SMA. Sebanyak 71 orang
pendengaran sehingga membuat penurunan (62,3%), 18 orang (15,8%) sarjana dan 9 orang
pada suatu waktu dalam kekuatan berfikir dan (7,9%) orang merupakan diploma. Sisanya
bekerja. Faktor lain yang juga menghambat merupakan lulusan SD dan SMP sebanyak 9
adalah kondisi fisiologis dan psikologi dan 7 orang (7,9% dan 6,1%). Berdasarkan
seseorang seperti kondisi seseorang ketika sakit pekerjaan saat ini mayoritas responden
atau ada keterbatasan dalam indra (Wulandari penelitian merupakan pegawai swasta sebanyak
et al., 2020). 48 orang (42,1%) serta terbanyak kedua adalah
Tingkat pendidikan seseorang akan lain-lain yang tidak termasuk dalam perkerjaan
mempengaruhi tingkat pengetahuannya. yang tersedia yakni sebanyak 23 orang
Apabila tingkat pendidikan dan pengetahuan (20,2%).
baik, maka perilaku juga akan baik. Responden Penelitian Sari et al., (2020) mengemukakan
yang berpendidikan lebih tinggi akan bahwa Responden yang bekerja dan memiliki
mempunyai pengetahuan yang lebih luas perilaku pencegahan covid-19 yang baik
dibandingkan dengan responden yang tingkat sebanyak 85,31%, sedangkan yang tidak
pendidikannya rendah. Tingkat pendidikan bekerja dan memiliki perilaku pencegahan
dapat mempengaruhi kemampuan dan covid-19 yang baik hanya sebesar 82,98%.
pengetahuan seseorang dalam menerapkan Penelitian Yanti et al., (2020) juga
perilaku hidup sehat. Semakin tinggi tingkat mengemukakan bahwa sebagian responden
pendidikan maka akan semakin tinggi pula memiliki berpendidikan Sarjana (52.67%),
kemampuan seseorang dalam menjaga pola berusia antara 17-25 tahun (34%), dan
hidupnya agar tetap sehat. Pendidikan sangat memiliki pekerjaan sebagai pegawai swasta
erat kaitanya dengan pengetahuan. Dengan atau pensiunan swasta (30.67%) dalam
pengetahuan yang diperoleh maka akan melakukan pencegahan Covid 19.
mengetahui manfaat dari saran atau nasihat Peneliti berasumsi bahwa karakteristik
petugas kesehatan sehingga akan termotivasi responden meliputi umur, pendidikan dan
untuk lebih patuh menjalani pengobatan yang pekerjaan merupakan faktor penting dalam
mendukung pembentukan pengetahuan
11
responden tentang pencegahan Covid 19. tersebut dapat mengakibatkan perbedaan
Dengan tingkat kematangan usia, pendidikan variasi informasi yang diterima dan sulit
yang tinggi dan pekerjaan yang berkorelasi membedakan informasi benar dan tidak benar
maka akan secara langsung meningkatkan akibat beban frekuensi pekerjaan dan
akses informasi tentang pencegahan Covid 19. meningkatkan ambang kelelahan sehingga
Hal ini secara langsung akan berdampak juga cenderung langsung menerima informasi tanpa
terhadap peningkatan pengetahuan responden. menyaringnya atau diistilahkan information
Dengan demikian maka perilaku pencegahan obesity (Gannika & Sembiring, 2020).
penularan Covid 19 juga akan sejalan dengan Hasil penelitian ini sejalan dengan
peningkatan pengetahuan tersebut. penelitian Putra et al., (2020) yang
mengemukakan bahwa asil dari pengetahuan
2. Faktor Pengetahuan tentang Pencegahan yang terdiri dari 8 soal tanda dan gejala
Covid 19 (manifestasi klinis) pasien, tata cara
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pencegahan Covid-19 dapat diklasifikasikan
distribusi faktor pengetahuan tentang sebagian besar partisipan responden memiliki
pencegahan penyebaran Covid 19 di pengetahuan baik terhadap Covid-19 yakni
Kepenghuluan Pujud wilayah kerja UPT sebanyak 59 orang (51,8%). Namun hasil
Puskesmas Pujud mayoritas kategori Tinggi tersebut hanya memiliki selisih sedikit dengan
yaitu sebanyak 90 orang (56,3%). tingkat pengetahuan masyarakat yang buruk
Pengetahuan adalah merupakan hasil “tahu terhadap Covid-19 di Desa Gulingan sebanyak
“dan ini terjadi setelah orang melakukan 55 orang (48,2%).
pengindraan suatu obyek tertentu. Pengetahuan Peneliti berasumsi bahwa peningkatan
umumnya datang dari pengindraan yang terjadi pengetahuan responden didukung karena latar
melalui panca indra manusia yakni indra belakang responden yang mayoritas merupakan
penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan dalam kategori rentang dewasa akhir dimana
raba, sebagaian besar pengetahuan manusia kemampuan untuk memperoleh pengetahuan
diperoleh melalui mata dan telinga. yang cukup tinggi. Disamping itu responden
Pengetahuan umumnya datang dari yang sebagian besar bekerja juga memberikan
pengalaman juga dapat diperoleh dari dampak terhadap keluasan responden untuk
informasi yang disampaikan oleh orang lain, mendapatkan informasi dari luar, sehingga
dari buku, surat kabar atau media massa atau pengetahuan responden juga dapat meningkat
media elektronik. Pengetahuan atau kognitif secara baik terutama dalam upaya peningkatan
merupakan domain yang sangat penting status kesehatan dan pencegahan suatu
terbentuknya tindakan seseorang. Pengetahuan penyakit seperti pencegahan penyebaran Covid
juga ditafsirkan sebagai keseluruhan 19.
keterangan dan ide yang terkandung dalam
pernyataan- pernyataan yang dibuat mengenai 3. Faktor Sumber Informasi
peristiwa baik yang bersifat alamiah, sosial Hasil penelitian menunjukkan bahwa
maupun individu (Keswara et al., 2019). distribusi frekuensi faktor sumber informasi
Tingginya pengetahuan sangat berkorelasi masyarakat di Kepenghuluan Pujud wilayah
langsung dengan tingkat Pendidikan. Hal ini kerja UPT Puskesmas Pujud mayoritas kategori
didukung oleh responden yang menjadi sampel Ada yaitu sebanyak 122 orang (76,3%).
mayoritas merupakan lulusan Pendidikan akhir Meskipun media sosial menjadi sumber
SMA yang sudah mampu menyerap informasi informasi yang paling banyak diakses oleh
berkaitan dengan Covid- 19. Pengetahuan responden dalam penelitian ini, proporsi
Covid-19 yang buruk dominan terjadi pada terbesar dari responden berpengetahuan baik
responden dengan berpenghasilan rendah. Hal adalah responden yang mengakses informasi
tersebut berpengaruh dari jumlah pekerja pada terkait COVID-19 melalui televisi. Hal ini
responden yang dominan pegawai swasta yang disebabkan oleh adanya persepsi masyarakat
rentan dalam penerimaan informasi yang tidak bahwa, informasi yang diperoleh dari televisi
adekuat sebagai salah satu faktor risiko yang lebih akurat dan valid dibandingkan media
rentan mengalami infeksi Covid-19. Keadaan sosial. Keakuratan informasi yang diperoleh
12
berhubungan positif dengan tingkat dilakukan menggunakan jejaring media sosial
pengetahuan seseorang. Informasi yang akurat dengan sumber informasi yang valid berasal
juga akan meningkatkan kepercayaan diri dari pemerintah maupun panitian tugas resmi
seseorang dan kepercayaan terhadap sumber tentang Covid 19. Sumber informasi ini juga
informasi (Kundari et al., 2020). berasa dari tenaga kesehatan setempat yang
Menyangkut upaya untuk meningkatkan dapat memberikan pendidikan kesehatan
pertukaran informasi melalui dukungan tentang penyebaran Covid 19. Apabila sumber
elektronik agar terselenggaranya manajemen informasi didapatkan oleh responden dengan
sistem kesehatan yang lebih baik, aman dan baik, maka akan membentuk pengetahuan
dengan biaya efektif dalam mendukung tentang pencegahan Covid 19 yang baik pula.
pelayanan kesehatan, surveilans kesehatan, Sehingga hal ini akan berdampak terhadap
literatur kesehatan, serta pendidikan, pembentukan perilaku pencegahan Covid 19.
pengetahuan, dan penelitian kesehatan,
sehingga pentingnya pengetahuan petugas 4. Faktor Peran Tenaga Kesehatan
kesehatan dalam menyampaikan informasi Hasil penelitian menunjukkan bahwa
melalui teknologi informasi, guna emberikan distribusi frekuensi faktor peran petugas
informasi yank baik dan benar. Kebutuhan kesehatan di Kepenghuluan Pujud Wilayah
pengetahuan tentang COVID-19 sangat Kerja UPT Puskesmas Pujud mayoritas
beragam. Kehadiran corona dalam waktu yang kategori Positif yaitu sebesar 107 orang
relatif cepat di era informasi seperti saat ini (66,9%)
juga berimbas pada cepatnya penyebaran Pada umumnya, tenaga kesehatan hanya
informasi atau kabar apapun tentang virus dapat dijumpai di fasilitas pelayanan kesehatan.
mematikan ini. Berita baru tentang corona Namun, saat situasi wabah, masyarakat lebih
seolah muncul setiap detik. Mulai dari mengurangi aktivitas di luar rumah termasuk
pengumuman resmi pemerintah, stasiun pergi ke pelayanan kesehatan kecuali dalam
televisi, surat kabar online maupun cetak, keadaan penting atau darurat. Oleh karena itu,
hingga kiriman pesan dari rekan melalui media tenaga kesehatan berupaya untuk
sosial. Sifat era informasi ini tercermin dalam memanfaatkan teknologi termasuk media sosial
perilaku masyarakat (Yunus & Zakaria, 2021) agar tetap berkomunikasi dan memberikan
Penelitian yang dilakukan oleh Yunus & dukungannya kepada masyarakat. Dukungan
Zakaria, (2021) mengemukakan bahwa Secara tersebut berupa pemberian informasi terkait
umum, mayoritas responden (80,6%) memiliki COVID-19, ajakan untuk berperilaku sehat
pengetahuan yang baik terkait COVID- 19. untuk mencegah penyebaran virus, peringatan
Hanya sebagian kecil responden yang memiliki tentang bahaya COVID-19 bagi masyarakat
tingkat pengetahuan yang kurang (19,5%). yang tidak melakukan perilaku pencegahan,
Responden dalam penelitian ini menjadikan ajakan untuk saling peduli terhadap kesehatan
media sosial sebagai sumber informasi terkait keluarga dan orang disekitar (Kundari et al.,
COVID-19 yang palig banyak diakses (47,1%), 2020).
kemudian diikuti dengan televisi (39,7%) dan Tenaga kesehatan Puskesmas dalam hal ini
surat kabar (13,2%). Sebanyak 46,4% berfungsi sebagai komunikator atau pihak yang
responden yang memiliki tingkat pengetahuan menyampaikan pesan atau informasi mengenai
baik terkait COVID-19 mengakses informasi kesehatan dan juga pelayanan kesehatan
melalui televisi, 43,6% responden mengakses kepada keluarga yang ada di wilayah kerja
informasi melalui media sosial, dan sisanya Puskesmas tersebut. Kemampuan
(10%) mengakses informasi melalui surat berkomunikasi ini bukan hanya untuk
kabar menyampaikan informasi kepada orang lain,
Peneliti berasumsi bahwa dalam akan tetapi juga untuk memahami apa yang
meningkatkan akses pengetahuan yang baik mereka katakan kepada kita. Dengan melihat
dalam pencegahan Covid 19 dapat dilakukan latar belakang yang telah dipaparkan, maka
dengan peningkatan akses informasi yang baik. penelitian ini bertujuan untuk mengetahui
Sumber informasi yang paling trend dan paling bagaimana pentingnya peran keterampilan
cenderung sekarang paling banyak yaitu komunikasi bagi tenaga kesehatan Puskesmas
13
dan bagaimana efektivitas komunikasi berkelanjutan bagi perilaku dan berkontri- busi
antarpribadi dalam pendekatan keluarga yang bagi persistensi atau pengulangannya.
dilakukan oleh tenaga kesehatan Puskesmas Notoatmodjo (2012) menyebut bahwa
(Rachmawati, 2020). perilaku kesehatan adalah respon individu
Hasil penelitian ini sejalan dengan terhadap stimulus atau obyek yang berkaitan
penelitian Kundari et al., (2020) yang dengan sehat sakit, penyakit dan faktor-faktor
mengemukakan bahwa Sekitar 61% dari 205 yang mempengaruhi sehat sakit (kesehatan)
responden yang cukup mendapatkan dukungan seperti lingkungan, makanan, minuman dan
tenaga kesehatan memiliki perilaku pelayanan kesehatan. Artinya, perilaku
pencegahan COVID-19 yang baik. Sekitar kesehatan adalah semua aktivitas atau kegiatan
55,7% dari 194 responden yang memiliki seseorang baik yang dapat diamati maupun
persepsi positif mengenai kebijakan pemerintah yang tidak dapat diamati yang berkaitan
dalam penanggulangan COVID-19 memiliki dengan pemeliharaan dan peningkatan
perilaku pencegahan COVID-19 yang baik. kesehatan. Ranah perilaku meliputi:
Peneliti berasumsi bahwa tanpa pengetahuan (knowledge), sikap (attitude) dan
keterampilan komunikasi interpersonal yang tindakan atau praktik (practice). Sejalan dengan
efektif, hubungan yang terjalin diantara pihak teori tersebut, perilaku masyarakat terhadap
Puskesmas dengan masyarakat sekitar wilayah Covid-19 dapat dilihat dan ditelusuri dari ranah
kerja Puskesmas dapat memburuk atau pengetahuan, sikap, dan tindakan mereka
menurun dan setiap orang baru yang kita temui terkait virus tersebut.
mungkin tidak ingin meng-asosiasikan diri Hal ini sejalan dengan penelitian Rosidin
dengan kita. Maka penting bagi para tenaga et al., (2020) yang mengemukakan bahwa
kesehatan Puskesmas untuk menguasai Pengetahuan dan sikap tentang Covid-19 di
keterampilan komunikasi interpersonal dalam kalangan para tokoh masyarakat di Desa
menyampaikan informasi kesehatan kepada Jayaraga mendorong mereka untuk melakukan
keluarga sekitar Puskesmas sebagai bagian dari tindakan dalam upaya merespon pandemi.
program Indonesia Sehat agar informasi yang Tindakan yang dilakukan oleh para tokoh
diberikan dan diterima berjalan dengan baik masyarakat antara lain menyebarluaskan
dan dalam upaya peningkatan pencegahan informasi mengenai Covid-19 dan cara penye-
penyebaran Covid 19. barannya, mengkampanyekan PHBS sebagai
upaya pencegahan infeksi, membantu warga
kondisi sosial-ekonominya terpuruk akibat
5. Perilaku Pencegahan Penyebaran Covid 19 pandemi; serta memberikan aneka bentuk
Hasil penelitian menunjukkan bahwa dukungan pada warga masyarakat.
distribusi frekuensi perilaku pencegahan Peneliti berasumsi bahwa dalam
penyebaran Covid 19 di Kepenghuluan Pujud membentuk perilaku masyarakat dalam
wilayah kerja UPT Puskesmas Pujud mayoritas pencegahan penyebaran Covid 19 harus
kategori Tinggi yaitu sebanyak 101 orang didukung dengan peningkatan domain
(63,1%). pengetahuan dan peningkatan domain sikap.
Green dan Kreuter (dalam Rosidin et al., Apabila masyarakat memiliki pengetahuan
2020) menyatakan bahwa perilaku individu, yang tinggi dan sikap yang positif akan secara
termasuk perilaku keseha- tannya, dibangun langsung membentuk perilaku masyarakat
oleh tiga elemen utama yai- tu predisposing dalam pencegahan penyebaran Covid 19 lebih
factors (faktor pemudah) atau faktor baik. Dengan demikian agar masyarakat dapat
pemicu/anteseden perilaku yaitu faktor yang melakukan upaya pencegahan penyebaran
memberikan alasan atau motivasi pada individu Covid 19, maka hal mendasar yang perlu
untuk mengadopsi perilaku tersebut, enabling dilakukan yaitu dengan peningkatan
factors atau faktor pemungkin yaitu anteseden pengetahuan tentang pencegahan Covid 19 dan
perilaku yang memungkinkan mo- tivasi untuk peningkatan sikap masyarakat dalam
terlaksana, dan reinforcing factors (faktor melakukan pencegahan penyebaran Covid 19.
penguat) atau faktor sesudah perilaku terbentuk
yang berperan sebagai reward atau in- sentif
14
6. Hubungan Karakteristik Responden (Umur, karena tidak bekerja dengan pengetahuan
Pendidikan dan Pekerjaan) dengan Perilaku rendah tentang pencegahan Covid-19.
Pencegahan Penyebaran Covid 19 Penelitian Satria et al., (2021) juga
Hasil penelitian menunjukkan bahwa mengemukakan bahwa ada hubungan yang erat
analisis uji statistik Chi-Square hubungan antara usia responden, pendidikan SMA dan
karakteristik responden dengan perilaku responden yang bekerja dalam pembentukan
pencegahan Covid 19 menunjukkan bahwa perilaku penerapan protokol pencegahan Covid
Variabel Umur memiliki nilai p Value = 0,014 19 di Kecamatan Datuk Lima Puluh Kabupaten
< α = 0,05 artinya Ho ditolak sehingga Batu bara.
disimpulkan bahwa ada hubungan umur Peneliti berasumsi bahwa faktor
dengan perilaku pencegahan Covid 19 di karakteristik responden meliputi umur,
Kepenghuluan Pujud wilayah Kerja UPT pendidikan, dan jenis kelamin merupakan
Puskesmas Pujud. Variabel Pendidikan faktor internal yang harus dimiliki oleh
memiliki nilai p Value = 0,765 > α = 0,05 responden secara baik dan matang sehingga
artinya Ho Gagal ditolak sehingga disimpulkan akan membentuk perilaku yang baik dalam
bahwa Tidak ada hubungan Pendidikan dengan pencegahan Covid 19. Umur yang cukup
perilaku pencegahan Covid 19 di dewasa akan memberikan kemampuan analisa
Kepenghuluan Pujud wilayah Kerja UPT yang baik bagi responden dalam menerima
Puskesmas Pujud. Variabel Pekerjaan memiliki informasi pencegahan covid 19 yang baik.
nilai p Value = 0,010 < α = 0,05 artinya Ho Selanjutnya pendidikan yang tinggi juga akan
ditolak sehingga disimpulkan bahwa ada berdampak mudahnya informasi diterima
hubungan pekerjaan dengan perilaku secara baik oleh responden serta Pekerjaan juga
pencegahan Covid 19 di Kepenghuluan Pujud memberikan peluang bagi responden untuk
wilayah Kerja UPT Puskesmas Pujud. menerima akses informasi yang baik juga
Faktor umur, pendidikan dan pekerjaan dalam upaya pencegahan penularan Covid 19.
merupakan faktor karakteristik yang dimiliki
oleh individu yang berkaitan erat dengan 7. Hubungan Pengetahuan dengan Perilaku
pembentukan pengetahuan. Responden yang Pencegahan Penyebaran Covid 19
memiliki tingkat kematangan usia, pendidikan Hasil penelitian menunjukkan bahwa
yang tinggi dan pekerjaan yang berkaitan analisis uji statistik Chi-Square hubungan
dengan akses informasi tentang Covid 19 akan pengetahuan dengan perilaku pencegahan
berdampak terhadap pembentuk perilaku penyebaran Covid 19 di Kepenghuluan Pujud
pencegahan Covid 19 yang baik, disebabkan wilayah kerja UPT Puskesmas Pujud
karena akses informasi dan pengetahuan menunjukkan bahwa nilai p Value = 0,021 < α
tentang pencegahan Covid 19 yang diterima = 0,05 artinya Ho ditolak sehingga disimpulkan
juga sangat baik. Hal ini lah secara langsung bahwa Ada hubungan pengetahuan dengan
berkorelasi dalam pembentukan perilaku perilaku pencegahan penyebaran Covid 19 di
pencegahan Covid 19 (Notoadmodjo, 2012). Kepenghuluan Pujud Wilayah Kerja UPT
Penelitian yang dilakukan oleh Wulandari Puskesmas Pujud. Hasil Analisis Odd Ratio
et al., (2020) mengemukakan bahwa (OR) menunjukkan nilai sebesar 2,19 artinya
masyarakat dengan kategori umur yang pengetahuan yang tinggi memiliki
berbeda tersebut memungkinkan untuk kecenderungan sebesar 2,19 kali meningkatkan
memiliki keaktifan dan keterpaparan informasi perilaku pencegahan penyebaran Covid 19
yang sama, pengetahuan yang didapatkan oleh dibandingkan pengetahuan yang rendah
masyarakat dengan pendidikan rendah Menurut Notoatmodjo (2012),
mengenai penularan Covid- 19 tidak hanya dari pengetahuan dipengaruhi oleh pengalaman
pendidikan formal tetapi dari pengalaman seseorang dan lingkungan yang kemudian
dirinya maupun lingkungan kehidupan dapat diekspresikan dan diyakini sehingga
bermasyarakat dan pekerjaan dengan menim- bulkan motivasi. Pekerjaan dan latar
pengetahuan masyarakat di Kalimantan Selatan belakang pendidikan/pekerjaan yang
tentang pencegahan Covid-19 disebabkan ditemukan berhu- bungan dengan tingkat
pengetahuan terhadap COVID-19 pada
15
penelitian ini dapat diasumsikan sejalan dengan akan terbentuk dalam sikap maupun tindakan.
teori Bloom revisi dan Notoatmodjo. Individu Pengetahuan penderita tentang pencegahan
yang memiliki latar belakang Covid-19 dengan kepatuhan penggunaan
pendidikan/pekerjaan non-kesehatan tentunya masker memiliki peranan penting dalam
memiliki pengalaman terhadap pengetahuan mengantisipasi kejadian berulang.
mengenai kesehatan yang lebih rendah
dibandingkan individu dengan latar belakang 8. Hubungan Sumber Informasi dengan
pendidikan/pekerjaan kesehatan. Hal inilah Perilaku Pencegahan Penyebaran Covid 19
yang dapat menjadikan perbedaan tingkatan Hasil penelitian menunjukkan bahwa
pengetahuan terhadap masalah kesehatan, analisis uji statistik Chi-Square hubungan
khususnya COVID-19, antar kedua kelompok sumber informasi dengan perilaku pencegahan
ini (Moudy & Syakurah, 2020b). penyebaran Covid 19 di Kepenghuluan Pujud
Menurut Notoatmodjo (2012), wilayah kerja UPT Puskesmas Pujud
pengetahuan merupakan suatu domain kognitif menunjukkan bahwa nilai p Value = 0,012 < α
yang sangat berpengaruh dalam membentuk = 0,05 artinya Ho ditolak sehingga disimpulkan
tindakan seseorang. Penerimaan terhadap bahwa Ada hubungan sumber informasi
perilaku baru akan lebih langgeng bila dengan perilaku pencegahan penyebaran Covid
didasarkan oleh pengetahuan, sedangkan 19 di Kepenghuluan Pujud Wilayah Kerja UPT
perilaku tersebut tidak akan bertahan lama Puskesmas Pujud. Hasil Analisis Odd Ratio
tanpa didasarkan oleh pengetahuan (Silalahi, (OR) menunjukkan nilai sebesar 2,73 artinya
2013). Hasil penelitian ini sejalan dengan Adanya sumber informasi memiliki
penelitian Zhong (2020). dengan topik yang kecenderungan sebesar 2,73 kali meningkatkan
sama pada masyarakat China. Penelitian perilaku pencegahan penyebaran Covid 19
tersebut menemukan skor pengetahuan yang dibandingkan tidak ada sumber informasi
lebih tinggi berhubungan signifikan sebagai (Kundari et al., 2020).
faktor protektif terhadap tindakan yang tidak Keterpajanan media sosial (intensitas,
baik terhadap COVID-19, yaitu pergi ke frekuensi, dan respon) tidak berpengaruh
tempat keramaian (OR:0,90, p<0,001) dan signifikan terhadap perilaku pencegahan
tidak menggunakan masker di luar (OR:0,78, COVID-19. Media sosial merupakan media
p<0.,001) (Zhong, 2020). Hal ini mendukung yang tidak hanya berupa jejaring sosial seperti
teori adaptasi yang menyatakan bahwa tingkat facebook, twitter, instagram, tetapi mencakup
pengetahuan baik dapat mendorong seseorang semua layanan yang menyediakan pembuatan,
untuk mempunyai tindakan yang baik pula berbagi, dan bertukar konten seperti forum
(Moudy & Syakurah, 2020b). internet, blog, situs jaringan, dan lain
Penelitian berasumsi bahwa pengetahuan sebagainya. Melalui media sosial, masyarakat
pasien Covid- 19 dapat diartikan sebagai hasil dapat lebih mudah bertukar informasi
tahu dari pasien mengenai penyakitnya, kesehatan termasuk terkait pencegahan
memahami penyakitnya, cara pencegahan, COVID-19 tanpa berinteraksi secara tatap
pengobatan dan komplikasinya. Pengetahuan muka (Kundari et al., 2020).
memegang peranan penting dalam penentuan Salah satu usaha pencegahan masyarakat
perilaku yang utuh karena pengetahuan akan Indonesia adalah dengan mengekases informasi
membentuk kepercayaan yang selanjutnya mengenai infeksi COVID-19. Media sosial
dalam mempersepsikan kenyataan, menjadi sumber berita yang paling banyak
memberikan dasar bagi pengambilan keputusan diakses oleh hampir 80% responden tentang
dan menentukan perilaku terhadap objek COVID-19 seperti WhatsApp, Line, Instagram
tertentu sehingga akan mempengaruhi dan Facebook. Menurut Kemeneg PP&PA
seseorang dalam berperilaku. Terbentuk suatu (2018), media sosial menjadi alasan utama
perilaku baru terutama pada orang dewasa generasi millenial dalam mengakses internet,
dimulai pada domain kognitif dalam arti yaitu sebanyak 83,23%, sedangkan untuk
subyek tahu terlebih dahulu terhadap stimulus mendapatkan informasi/berita sebanyak
yang berupa materi atau obyek di luarnya, 68,01%, dan untuk hiburan sebanyak 46,81%.
sehingga menimbulkan pengetahuan baru dan Hal ini menyebabkan COVID-19 menjadi
16
fenomena yang mendunia karena akses media pencegahan penularan Covid 19 melalui media
sosial terjadi setiap detiknya sehingga yang baik dan jelas akan secara mudah
menyebar dengan mudah dan cepat (Moudy & dipahami oleh masyarakat . sebaliknya apabila
Syakurah, 2020b). sumber informasi yang didapatkan tidak benar
Tidak semua masyarakat menerapkan maka perilaku pencegahan Covid 19 juga tidak
perilaku pencegahan COVID-19 dari informasi dapat dilakukan dengan baik.
yang disampaikan walaupun dianggap
membantu. Hal tersebut mungkin terjadi karena 9. Hubungan Peran Tenaga Kesehatan dengan
adanya faktor lain yang memengaruhi individu Perilaku Pencegahan Penyebaran Covid 19
dalam berperilaku, seperti memastikan terlebih Hasil penelitian menunjukkan bahwa
dahulu kebenaran informasi yang diperoleh, analisis uji statistik Chi-Square hubungan
tidak adanya fasilitas yang mendukung untuk peran tenaga kesehatan dengan perilaku
melakukan perilaku pencegahan, kurangnya pencegahan penyebaran Covid 19 di
dorongan atau motivasi yang diberikan Kepenghuluan Pujud wilayah kerja UPT
langsung oleh orang terdekat. Selain mencari Puskesmas Pujud menunjukkan bahwa nilai p
informasi COVID-19, setiap individu memiliki Value = 0,038 < α = 0,05 artinya Ho ditolak
tujuan yang berbeda- beda dalam sehingga disimpulkan bahwa Ada hubungan
menggunakan media sosial. Beberapa peran tenaga kesehatan dengan perilaku
diantaranya yaitu berkomunikasi, aktivitas pencegahan penyebaran Covid 19 di
belanja atau usaha online, mencari atau Kepenghuluan Pujud Wilayah Kerja UPT
membagikan informasi terkait bidang tertentu, Puskesmas Pujud. Hasil Analisis Odd Ratio
berbagi foto atau video melalui fitur-fitur yang (OR) menunjukkan nilai sebesar 2,15 artinya
tersedia, dan lain sebagainya. Oleh karena itu, peran tenaga kesehatan yang positif memiliki
salah satu kelemahan dari penelitian ini adalah kecenderungan sebesar 2,15 kali meningkatkan
intensitas dan frekuensi penggunaan media perilaku pencegahan penyebaran Covid 19
sosial belum mampu mengukur secara spesifik dibandingkan peran tenaga kesehatan yang
tingkat keterpaparan informasi COVID-19 negatif.
pada setiap responden (Kundari et al., 2020). Dorongan akan menciptakan sebuah
Hasil penelitian menunjukkan bahwa perilaku, dengan dorongan tersebut akan
responden yang menggunakan website berita memberikan suatu keyakinan terhadap
online sebagai sumber informasi utama terkait seseorang untuk melakukan perilaku tersebut,
COVID-19 cenderung memiliki pengaruh dorongan dalam bentuk dukungan petugas
perilaku pencegahan yang baik dibandingkan kesehatan sangat penting dalam upaya
mereka yang memilih jejaring sosial. Website pencegahan dan penanggulangan covid- 19.
berita online terdiri dari website pemerintah, Dukungan petugas Kesehatan merupakan
website organisasi kesehatan, platform faktor pendorong dalam teori determinan
kesehatan, situs blog, dan berita online. perilaku mempengaruhi upaya pencegahan dan
Sumber informasi resmi yang bersumber penanggulangan covid-19 terutama di tempat
langsung dari pemerintah, badan organisasi kerja yang memiliki banyak tenaga kerja yang
kesehatan, ahli kesehatan berlisensi, dan memiliki perilaku yang berbeda- beda
jurnalis berita terpercaya, tentu memaparkan (Keswara et al., 2019).
informasi yang bersifat faktual dan aktual, Monitoring pengawasan dan
sehingga memberikan pengaruh positif pendampingan terkait upaya pencegahan dan
terhadap perilaku masyarakat dalam mencegah penanggulangan covid-19 dilakukan setiap hari
COVID-19 (Kundari et al., 2020). oleh petugas kesehatan, namun pegawai
Peneliti berasumsi bahwa faktor sumber mendapatkan dukungan petugas kesehatan
informasi dalam pembentukan perilaku yang baik sebagian besar tidak menerapkan
pencegahan Covid 19 disebabkan karena upaya pencegahan dan penanggulangan covid-
sumber informasi dapat membentuk 19. Hal ini dikarenakan banyaknya kabar
pemahaman yang baik tentang bagaimana cara miring tentang covid-19 seperti fasilitas
pencegahan penyebaran Covid 19. Apabila kesehatan yang menjadikan covid-19 sebagai
masyarakat mendapatkan informasi tentang bisnis mencari keuntungan. Pendekatan dari
17
petugas kesehatan dan pendampingan selama 4. Distribusi frekuensi faktor peran petugas
masa pandemi sangat penting dilakukan untuk kesehatan di Kepenghuluan Pujud Wilayah
memotivasi dan memberikan kepercayaan Kerja UPT Puskesmas Pujud mayoritas
mengenai pentingnya melakukan upaya kategori Positif yaitu sebesar 107 orang
pencegahan covid-19 sehingga pegawai akan (66,9%)
melakukan upaya pencegahan dengan penuh 5. Distribusi frekuensi perilaku pencegahan
kesadaran agar lingkungan kerja selalu aman penyebaran Covid 19 di Kepenghuluan Pujud
(Herawati et al., 2021). wilayah kerja UPT Puskesmas Pujud
Hasil penelitian ini sejalan dengan mayoritas kategori Tinggi yaitu sebanyak 101
penelitian yang dilakukan Susilowati et al., orang (63,1%).
(2021) mengemukakan bahwa Peran petugas 6. Hasil analisis uji statistik Chi-Square
Kesehatan berperan dengan patuh sebanyak 56 hubungan karakteristik responden dengan
responden (84,8%) dan tidak patuh sebanyak perilaku pencegahan Covid 19 menunjukkan
10 responden (15,2%)Hasil analisis nilai bahwa Variabel Umur memiliki nilai p Value
dengan menggunakan uji chi square = 0,014 < α = 0,05 artinya Ho ditolak
menunjukkan nilai p-value= 0,000 < 0,05 maka sehingga disimpulkan bahwa ada hubungan
Ho ditolak dan Ha diterima berarti ada umur dengan perilaku pencegahan Covid 19 di
hubungan peran petugas kesehatan dengan Kepenghuluan Pujud wilayah Kerja UPT
kepatuhan menggunakan masker dalam upaya Puskesmas Pujud. Variabel Pendidikan
pencegahan Covid-19 di Desa Jelapat 1 memiliki nilai p Value = 0,765 > α = 0,05
Kabupaten Batola. artinya Ho Gagal ditolak sehingga
Peneliti berasumsi bahwa karena sebagian disimpulkan bahwa Tidak ada hubungan
besar respondenmenyatakan adanya pelayanan Pendidikan dengan perilaku pencegahan
yang baikdari petugas kesehatan yang mereka Covid 19 di Kepenghuluan Pujud wilayah
terima, pelayanan yang baik inilah yang Kerja UPT Puskesmas Pujud. Variabel
menyebabkan perilaku positif. Perilaku Pekerjaan memiliki nilai p Value = 0,010 < α
kepatuhan pencegahan Covid 19 diantaranya = 0,05 artinya Ho ditolak sehingga
ada faktor yang memperkuat atau mendorong disimpulkan bahwa ada hubungan pekerjaan
(reinforcing factor) yaitu berupa sikap atau dengan perilaku pencegahan Covid 19 di
perilaku petugas kesehatan yang mendukung Kepenghuluan Pujud wilayah Kerja UPT
masyarakat dalam melakukan pencegahan Puskesmas Pujud
Covid 19. 7. Hasil analisis uji statistik Chi-Square
Kesimpulan hubungan pengetahuan dengan perilaku
1. Distribusi frekuensi dan persentase pencegahan penyebaran Covid 19 di
karakteristik responden terdiri dari kategori Kepenghuluan Pujud wilayah kerja UPT
Umur Responden Mayoritas Masa Dewasa Puskesmas Pujud menunjukkan bahwa nilai
Awal (26-35 tahun) yaitu sebanyak 99 orang p Value = 0,021 < α = 0,05 artinya Ho ditolak
(61,9%), Pekerjaan Responden mayoritas Tani sehingga disimpulkan bahwa Ada
yaitu sebesar 51 orang (31,9%) dan hubungan pengetahuan dengan perilaku
Pendidikan Responden Mayoritas Pendidikan pencegahan penyebaran Covid 19 di
SMP yaitu sebesar 48 orang (30,0%). Kepenghuluan Pujud Wilayah Kerja UPT
2. Distribusi faktor pengetahuan tentang Puskesmas Pujud. Hasil Analisis Odd Ratio
pencegahan penyebaran Covid 19 di (OR) menunjukkan nilai sebesar 2,19 artinya
Kepenghuluan Pujud wilayah kerja UPT pengetahuan yang tinggi memiliki
Puskesmas Pujud mayoritas kategori Tinggi kecenderungan sebesar 2,19 kali
yaitu sebanyak 90 orang (56,3%). meningkatkan perilaku pencegahan
3. Distribusi frekuensi faktor sumber informasi penyebaran Covid 19 dibandingkan
masyarakat di Kepenghuluan Pujud wilayah pengetahuan yang rendah
kerja UPT Puskesmas Pujud mayoritas 8. Hasil analisis uji statistik Chi-Square
kategori Ada yaitu sebanyak 122 orang hubungan sumber informasi dengan perilaku
(76,3%). pencegahan penyebaran Covid 19 di
Kepenghuluan Pujud wilayah kerja UPT
18
Puskesmas Pujud menunjukkan bahwa nilai Berbasis Android. Jurnal Pengabdian
p Value = 0,012 < α = 0,05 artinya Ho ditolak Masyarakat Teknik Elektro, April.
sehingga disimpulkan bahwa Ada Gannika, L., & Sembiring, E. (2020). Tingkat
hubungan sumber informasi dengan perilaku Pengetahuan dan Perilaku Pencegahan
pencegahan penyebaran Covid 19 di Coronavirus Disease 2019 (COVID-19) Pada
Kepenghuluan Pujud Wilayah Kerja UPT Masyarakat Sulawesi Utara. Jurnal
Puskesmas Pujud. Hasil Analisis Odd Ratio Keperawatan, 16(2), 83–89.
(OR) menunjukkan nilai sebesar 2,73 artinya
Adanya sumber informasi memiliki Gugus Tugas Covid-19. (2020a). Data Sebaran
kecenderungan sebesar 2,73 kali Kasus Covid-19 di Indonesia. Gugus Tugas
meningkatkan perilaku pencegahan Covid-19 RI.
penyebaran Covid 19 dibandingkan tidak ada Gugus Tugas Covid-19. (2020b). Update Kasus
sumber informasi Covid-19 Provinsi Riau. Gugus Tugas
9. Hasil analisis uji statistik Chi-Square Covid-19 Dinas Kesehatan Provinsi Riau.
hubungan peran tenaga kesehatan dengan
perilaku pencegahan penyebaran Covid 19 di Herawati, C., Yasinta, & Indragiri, S. (2021).
Kepenghuluan Pujud wilayah kerja UPT Faktor determinan perilaku dalam upaya
Puskesmas Pujud menunjukkan bahwa nilai pencegahan dan penanggulangan Covid 19.
p Value = 0,038 < α = 0,05 artinya Ho ditolak Jurnal Kesehatan Masyarakat Indonesia,
sehingga disimpulkan bahwa Ada 3(2), 2004.
hubungan peran tenaga kesehatan dengan Indrayani, & Ronoatmodjo, Su. (2018). Faktor-
perilaku pencegahan penyebaran Covid 19 di faktor yang berhubungan dengan kualitas
Kepenghuluan Pujud Wilayah Kerja UPT hidup lansia. Jurnal Kesehatan Reproduksi,
Puskesmas Pujud. Hasil Analisis Odd Ratio 9(1), 69–78.
(OR) menunjukkan nilai sebesar 2,15 artinya https://doi.org/10.22435/kespro.v9i1.892.69-
peran tenaga kesehatan yang positif memiliki 78
kecenderungan sebesar 2,15 kali
meningkatkan perilaku pencegahan Kemenkes RI. (2020). Pedoman Pencegahan dan
penyebaran Covid 19 dibandingkan peran Pengendalian Coronavirus Disease (Covid-
tenaga kesehatan yang negatif. 19). In Jakarta: Kemenkes RI (pp. 0–115).
Keswara, U. R., Wahyudi, D. A., & Sari, W. E. P.
(2019). Pengetahuan, Sikap Dan Peran
DAFTAR PUSTAKA Tenaga Kesehatan Terhadap Penerapan Pola
Beck, D. F. P., & Tatano, C. (2012). Resourch Hidup Bersih Dan Sehat (Phbs) Rumah
manual for Nursing Research (ninth edit). Tangga. Holistik Jurnal Kesehatan, 13(1),
Lippincott Williams & Wilkins Wolter 37–47.
Kluwer Health. https://doi.org/10.33024/hjk.v13i1.1128
Buana, R. D. (2020). Analisis Perilaku Kundari, N. F., Hanifah, W., Azzahra, G. A.,
Masyarakat Indonesia dalam Menghadapi Islam, N. R. Q., & Nisa, H. (2020).
Pandemi Covid-19 dan Kiat Menjaga Hubungan Dukungan Sosial dan
Kesejahteraan Jiwa. Sosial Dan Budaya, Keterpaparan Media Sosial terhadap Perilaku
Fakultas Syariah Dan Hukum Universitas Pencegahan COVID-19 pada Komunitas
Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Wilayah Jabodetabek Tahun 2020. Media
Jakarta, 53(9), 1689–1699. Penelitian Dan Pengembangan Kesehatan,
file:///C:/Users/User/Downloads/fvm939e.pd 30(4), 281–294.
f https://doi.org/10.22435/mpk.v30i4.3463
Dharma, K. K. (2011). Metodologi Penelitian Moudy, J., & Syakurah, R. A. (2020a).
Keperawatan. Jakarta; Trans Info Media. Pengetahuan terkait usaha pencegahan
Coronavirus Disease (COVID-19) di
Fadli, A. (2020). Mengenal Covid-19 dan Cegah
Indonesia. Higeia Journal of Public Health
Penyebaran dengan Peduli Lindungi Aplikasi
Research and Development, 4(3), 333–346.
19
https://doi.org/10.15294/higeia.v4i3.37844 Jayaraga, Kabupaten Garut. Umbara, 5(1),
42.
Moudy, J., & Syakurah, R. A. (2020b).
https://doi.org/10.24198/umbara.v5i1.28187
Pengetahuan terkait usaha pencegahan
Coronavirus Disease (COVID-19) di Sari, A. R., & Dkk. (2020). Perilaku Pencegahan
Indonesia. Higeia Journal of Public Health Covid-19 Ditinjau dari Karakteristik Individu
Research and Development, 4(3), 333–346. dan Sikap Masyarakat. Journal of Chemical
Information and Modeling, 53(9), 1689–
Notoadmodjo, S. (2012). Promosi Kesehatan dan
1699.
Ilmu Perilaku. Jakarta: Rineka CIpta.
Sari, A. R., Rahman, F., Wulandari, A., Pujianti,
Polit, & Beck. (2012). Nursing Research. In
N., & Nurlali. (2020). Perilaku Pencegahan
Lippincott; Williams & Wilkins (Vol. 34,
Covid-19 Ditinjau dari Karakteristik Individu
Issue 6).
dan Sikap Masyarakat. Journal of Chemical
https://doi.org/10.1097/01.NMC.0000363684
Information and Modeling, 53(9), 1689–
.43186.fe
1699.
Pratiwi, M. S. A., Yani, M. V. W., Putra, A. I. Y.
Satria, B., Kasim, F., Sitepu, K., Rambey, H.,
D., Mardiana, I. W. G., Adnyana, I. K. A.,
Simarmata, M., Melda Br Bangun, S., &
Putri, N. M. M. G., Karang, N. P. S. W. A.,
Rionald Sihite, H. G. (2021). Hubungan
& Setiawan, I. P. Y. (2020). Hubungan
Karakteristik Responden Dan Dukungan
Karakteristik Individu Terhadap Perilaku
Keluarga Dengan Kepatuhan Terhadap
Mengenai Covid-19 Di Desa Gulingan,
Protokol Kesehatan Pencegahan Covid-19 Di
Mengwi, Bali. Jurnal Kesehatan, 13(2), 112.
Kecamatan Datuk Lima Puluh Kabupaten
https://doi.org/10.24252/kesehatan.v1i1.1634
Batu Bara. Jurnal Kesmas Dan Gizi (Jkg),
0
3(2), 213–217.
Purnamasari, I., & Raharyani, A. E. (2020). Peran https://doi.org/10.35451/jkg.v3i2.688
Tokoh Agama Dalam Memutus Rantai
Sembiring, E. E., & Meo, M. L. N. (2020).
Pandemi Covid-19 Di Media Online
Pengetahuan dan sikap berhubungan dengan
Indonesia. Living Islam: Journal of Islamic
resiko tertular COVID-19 pada masyarakat
Discourses, 3(1), 125.
Sulawesi Utara. NERS Jurnal Keperawatan,
https://doi.org/10.14421/lijid.v3i1.2224
7(3), 75–82.
Putra, A. I. Y. D., Pratiwi, Made Sindy AstriYani, http://ners.fkep.unand.ac.id/index.php/ners/ar
M. V. W., Danang, G. R., Gunawan, ticle/view/371
Ganesha, Ghaniy Muhammad Aminawati,
Susilo, A., Rumende, C. M., Pitoyo, C. W.,
Agnes Maria Aprilia EvelynWibhawa, I. P.
Santoso, W. D., Yulianti, M., Sinto, R.,
G. D., Aryana, & Suryawati, I. G. A. A.
Singh, G., Nainggolan, L., Nelwan, E. J.,
(2020). Gambaran Karakteristik
Khie, L., Widhani, A., Wijaya, E.,
Pengetahuan, Sikap dan Perilaku Risiko
Wicaksana, B., Maksum, M., Annisa, F.,
Covid-19 Dalam Kerangka Desa Adat di
Jasirwan, O. M., Yunihastuti, E.,
Desa Gulingan, Mengwi, Bali. Jurnal
Penanganan, T., New, I., … Cipto, R. (2020).
Kesehatan Andalas, 9(3), 313–319.
Coronavirus Disease 2019 : Tinjauan
Rachmawati, T. S. (2020). Peran tenaga kesehatan Literatur Terkini. Jurnal Penyakit Dalam
puskesmas sebagai komunikator dalam Indonesia, 7(1), 45–67.
program indonesia sehat dengan pendekatan
Susilowati, D., Indah, M. F., & Agustina, N.
keluarga. Jurnal Komunikasi Profesional,
(2021). Hubungan Pengetahuan dan Peran
4(1), 1–13.
Petugas Kesehatan dengan Kepatuhan
https://doi.org/10.25139/jkp.v4i1.2370
Mengunakan Masker dalam Upaya
Rosidin, U., Rahayuwati, L., & Herawati, E. PEncegahan Covid 19 di Desa Jelapat 1
(2020). Perilaku dan Peran Tokoh Kabupaten Batola. Universitas Islam
Masyarakat dalam Pencegahan dan Kalimantan.
Penanggulangan Pandemi Covid -19 di Desa
Susmaneli, H. (2013). Faktor-Faktor yang
20
Berhubungan dengan Pemberian ASI
Eksklusif di Wilayah Kerja Puskesmas
Rambah Hilir I Kabupaten Rokan Hulu.
Jurnal Kesehatan Komunitas, 2(36), 67–71.
World Health Organization (WHO). (2020).
Coronavirus disease (COVID-19) pandemic
WHO Global Report. WHO Publications.
Wulandari, A., Rahman, F., Pujianti, N., Sari, A.
R., Laily, N., Anggraini, L., Muddin, F. I.,
Ridwan, A. M., Anhar, V. Y., Azmiyannoor,
M., & Prasetio, D. B. (2020). Hubungan
Karakteristik Individu dengan Pengetahuan
tentang Pencegahan Coronavirus Disease
2019 pada Masyarakat di Kalimantan
Selatan. Jurnal Kesehatan Masyarakat
Indonesia, 15(1), 42.
https://doi.org/10.26714/jkmi.15.1.2020.42-
46
Yanti, N. P. E. D., Nugraha, I. M. A. D. P.,
Wisnawa, G. A., Agustina, N. P. D., &
Diantari, N. P. A. (2020). Gambaran
Pengetahuan Masyarakat tentang Covid-19
dan Perilaku Masyarakat di Masa Pandemi
Covid-19. Jurnal Keperawatan Jiwa, Vol. 8
No.(3), 485–490.
Yunus, M., & Zakaria, S. (2021). Sumber
Informasi berhubungan dengan Pengetahuan
Masyarakat tentang Covid 19. Jurnal
Keperawatan, 13(1), 213–226.
http://journal.stikeskendal.ac.id/index.php/Ke
perawatan%0ANURSES

21