Anda di halaman 1dari 22

MAKALAH RANCANGAN TUGAS 1

TUMBUH KEMBANG USIA SEKOLAH

DISUSUN OLEH KELOMPOK 5


ERNA LEVIS
DINA FITRIANI
GUMBOT NASUTION
KUSMIADI
NUR HAYANI
SAROJA
SUMIATI
SYAFRINI

PRODI S1 KEPERAWATAN PROGRAM B ROHIL


STIKes PAYUNG NEGERI
PEKANBARU
2021
KATA PENGANTAR

Dengan memanjatkan puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat
dan karunia-NYA sehingga makalah ini dapat diselesaikan.

Segala daya upaya penulis curahkan dalam pembuatan makalah ini karena penulis
berharap makalah ini bermanfaat bagi kita semua. Penulis menyadari dalam penyusunan makalah
ini penulis banyak mendapat bantuan, pengarahan, bimbingan secara moril maupun materil dari
berbagai pihak, oleh karena itu penulis mengucapkan terimakasih kepada pihak yang telah
membantu dalam pembuatan makalah ini.

Semoga semua pihak yang telah membantu mendapat imbalan pahala dari Allah SWT.
Dalam penyusunan makalah ini penulis menyadari sepenuhnya bahwa makalah ini masih jauh
kesempurnaan, untuk itu penulis sangat mengharapkan kritik dan saran untuk perbaikan dimasa
yang akan datang.

Akhir kata semoga makalah yang sederhana ini dapat bermanfaat bagi perkembangan
ilmu pengetahuan khususnya ilmu keperawatan.

Rokan Hilir, Januari 2021

Penulis
DAFTAR ISI

Contents
KATA PENGANTAR.....................................................................................................................2
DAFTAR ISI...................................................................................................................................3
BAB I...............................................................................................................................................6
PENDAHULUAN...........................................................................................................................6
A. Latar Belakang..................................................................................................................6
B. Rumusan Masalah.............................................................................................................8
C. Tujuan Penelitian..............................................................................................................8
1. Tujuan Umum...................................................................................................................8
2. Tujuan Khusus..................................................................................................................8
D. Manfaat Penelitian............................................................................................................8
1. Bagi pasien........................................................................................................................8
2. Bagi Ilmu Keperawatan....................................................................................................8
3. Bagi penulis.......................................................................................................................8
BAB II.............................................................................................................................................9
TINJAUAN TEORI.........................................................................................................................9
A. Kasus.................................................................................................................................9
B. Konsep Diabetes Mellitus.................................................................................................9
1. Pengertian Diabetes Mellitus............................................................................................9
2. Etiologi..............................................................................................................................9
3. Manifestasi Klinis...........................................................................................................10
4. Komplikasi......................................................................................................................11
5. Penatalaksanaan..............................................................................................................12
C. Peran dan fungsi perawat................................................................................................13
D. Edukasi kesehatan pada pasien DM................................................................................14
E. Makanan yang Dianjurkan..................................................................................................15
F. Makanan yang Harus Dihindari..........................................................................................16
BAB III..........................................................................................................................................17
KESIMPULAN DAN SARAN.....................................................................................................17
A. Kesimpulan.....................................................................................................................17
B. Saran................................................................................................................................17
DAFTAR PUSTAKA....................................................................................................................18
BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Anak usia sekolah adalah anak dengan usia 6-12 tahun, dimana pada usia ini anak
memperoleh dasar pengetahuan dan keterampilan untuk keberhasilan penyesuaian diri anak
pada kehidupan dewasanya. Sekolah menjadi pengalaman inti pada anak, karena dianggap
mulai bertanggung jawab atas perilakunya sendiri dalam hubungan dengan orang tua, teman
sebaya, dan orang lainnya (Wong,et all, 2009). Pada usia ini anak suka berkelompok (gang
age), anak sudah mulai mengalihkan perhatian dari hubungan intim dalam keluarga dan
mulai berkerjasama dengan teman dalam bersikap atau belajar (Gunarsa, 2006), dengan
demikian Anak usia sekolah mulai dominan menghabiskan waktu dengan teman sebayanya.

Orang tua mempunyai harapan agar anaknya mempunyai pengetahuan (intelektual),


keterampilan serta kemampuan prilaku yang baik yang akan berguna untuk mengatasi
persoalan dalam kehidupannya sehari-hari, dimulai dengan memiliki pengetahuan kognitif
(membaca dan menulis), dan pengetahuan eksistensial pragmatis (Leksono, 2013).
Pengetahuan itu dapat berguna untuk menjalani kehidupan anak agar anak menjadi survive,
serta anak mampu mengembangkan bakat dan minatnya, sehingga anak berguna bukan hanya
bagi keluarga tapi bangsa dan negara.

Empat negara dengan jumlah penduduk terpadat di dunia adalah Negara Cina
(Tiongkok), India, Amerika Serikat (USA), dan setelah itu Negara Indonesia. Negara Cina
(Tiongkok) memiliki jumlah penduduk 1.401.586.609 jiwa, dimana16% penduduknya
merupakan anak usia dibawah 14 tahun, sedangkan Indonesia memiliki total jumlah
penduduk 255.708.785 jiwa, dan jumlah anak usia sekolah (6-12 tahun) adalah 43.678.722
jiwa (Devisi Kependudukan PBB, 2015). Berdasarkan data tersebut ± 19% dari total jumlah
penduduk Indonesia merupakan anak usia sekolah, dimana anak membutuhkan dukungan
lebih dari orang tua dan pemerintah untuk bisa menciptakan penerus bangsa yang
mempunyai perilaku dan intelektual yang baik.

Perilaku anak yang baik dapat tercipta jika anak mampu melakukan tugas tumbuh
kembang anak sesuai usianya. Pada pertumbuhan yang dilihat adalah pembentukan secara
fisik diantaranya adalah tinggi badan, berat badan sesuai usia, kerentanan terhadap penyakit,
dan status kesehatan yang ada (cacat tubuh) (Wong,et all, 2009). Pada perkembangan anak
dilihat dari delapan aspek perkembangan yaitu perkembang kognitif (tahap operasi konkret)
anak mampu berpikir logis, perkembangan bahasa dengan melihat laju perkembangan bicara
anak, perkembangan afektif (tahap Industry Vs Inferiority/ Inferioritas) anak mampu
berkompetisi dalam kelompok, perkembangan perilaku sesuai peran dan identitas diri anak,
perkembangan fisiologis dimana anak memiliki tinggi dan berat badan yang sesuai, serta
keadaan tubuh yang baik, perkembangan motorik (anak mampu bermain dan belajar sesuai
dengan tingkat usianya), perkembangan sosial (anak mampu bersosialisasi dengan teman
sebaya, keluarga dan masyarakat), moral spiritual dimana anak mampu bersikap dan
bertindak sesuai norma yang berlaku, serta anak mampu menjalankan ibadah sesuai dengan
aturannya (Stuart, 2016). Keseluruhan aspek tumbuh kembang anak dapat berjalan dengan
baik jika anak mempunyai kesadaran diri mengenai dirinya dalam proses berkembang.

Menurut Tjandrasa (2007) banyak permasalahan yang dihadapi dalam respon proses
tumbuh kembang anak diantaranya pada perkembangan kognitif (anak menilai negatif
dirinya), perkembangan bahasa (anak memberikan komentar hinaan yang berdampak terjadi
perilaku kekerasan atau perkelahian), perkembangan fisiologis (rendah diri tehadap kondiri
tubuhnya), perkembangan motorik (rendah diri dan mengucilkan diri dari kegiatan karena
kekakuan) perkembangan sosial (rasa penolakan dari teman sebaya).

Sedangkan masalah pada perkembangan afektif (anak terlalu banyak berharap). Prilaku
(anak tidak jujur dan perilaku antisosial). Moral (sering melangar peraturan karena inggin
dihargai). Spiritual (anak tidak mau berdoa karena merasa doanya tidak pernah terkabul)
(Wong,et all., 2009). Semua masalah pada aspek tumbuh kembang terkait dengan peran
teman sebaya dan persepsi diri, oleh karena itu diperlukan konsep diri yang adaptif, sehingga
anak mempunyai gambaran citra tubuh, identitas diri, ideal diri, peran diri serta harga diri
yang sesuai pada anak untuk membangun kedelapan aspek perkembangan secara
komperhensif .

Pada anak yang mengalami keterlambatan tumbuh kembang berpeluang untuk memiliki
konsep diri maladaptif, dimana individu cenderung memandang bahwa dirinya lemah, tidak
berdaya, tidak mampu berbuat apa-apa, menarik diri, bahkan cendrung bersikap psimistik,
serta menyalahkan diri sendiri dan orang lain (Rakhmat, 2009) hal ini dapat berdampak pada
timbulnya perilaku kenakalan anak. Perilaku kenakalan yang dilakukan anak bisa disebabkan
karena ketidak sinambungan delapan aspek tumbuh kembang anak terhadap konsep diri anak,
masalah kenakalan anak itu biasanya terpusat pada 4 hal dasar yaitu: malas belajar, senang
melanggar peraturan, putus sekolah dan melakukan prilaku kekerasan pada siswa lain
(Kusumaningrum, 2016), dengan demikian terlihat hubungan yang erat antara konsep diri
untuk mencegah perilaku kenakalan pada anak usia sekolah.

Menurut Ariesto dalam Mudjijanti (2011) kenakalan anak seperti malas belajar, suka
melangar peraturan (trouble maker), putus sekolah dan melakukan prilaku kekerasan pada
siswa lain (bullying), umumnya disebabkan karena anak ingin mencari perhatian dari orang
sekelilingnya, mencoba-coba, terpengaruh oleh teman sebayanya, tekanan teman sebaya,
sikap pembiaran dari sekolah serta pola asuh orang tua yang otoriter. Hal ini didukung oleh
penelitian Budianawa, dkk (2014) yang menyatakan bahwa pola asuh orang tua di rumah
berpengaruh terhadap motivasi anak belajar di sekolah.

Menurut Hurlock dalan Tjandrasa (2007) dampak kenakalan pada anak usia sekolah ialah
anak cenderung membolos, merokok, mencuri, dan melakukan bullying pada teman sebaya .
Salah satu tempat tujuan anak membolos adalah warnet (warung internet), pengguna internet
di Indonesia merupakan pengguna internet terbesar ke-4 di Asia dan 60% pengakses internet
berumur 5 - 12 Tahun (Badan Pusat Statistik, 2012). Riskesdas (2010) menyatakan bahwa
jumlah angka perokok usia 6-14 tahun sebanyak 29,1%. Untuk kasus bullying Indonesia
menjadi Negara dengan peringkat ke dua dalam kejadian bullying (WHO, 2013). korban
bullying lebih banyak menimpa anak yang berusia sekolah dasar yang berusia(9-
12tahun)53%, usia(13-15 tahun)38%, dan usia (15-18 Tahun)36% (Moh Zainol rohman,
2015). Hal ini didukung oleh penelitian Pratiwi S (2008) yang menyatakan faktor yang paling
kuat dalam masalah perilaku menyimpang siswa bullying adalah peer group (teman sebaya).

Untuk mengatasi kenakalan pada anak usia sekolah dibutuhkan peranan dari dalam diri
anak sendiri dengan membentuk konsep diri yang adaptif sehingga anak mampu menyaring
(menfilter) pergaulan, anak tidak merasa terisolasi sosial dari kelompok sebaya jika tidak
mengikuti kegiatan kelompok yang bernampak negative (Mutith, 2015). Hal ini didukung
oleh penelitian Rosanti (2011) menyatakan konsep diri yang adaptif mampu meningkatkan
harga diri anak, sehingga anak tidak menjadi malu dan mampu meningkatkan motovasi anak
sekolah.

Masalah perkembangan dan kenakalan anak usia sekolah akan mempengaruhi perilaku
hidup serta prestasi akademik anak usia sekolah, oleh karena itu diperlukan sebuah cara
preventif (pencegahan) untuk menangani masalah ini, diantaranya melibatkan peran orang
tua dalam pola asuh anak di rumah, melibatkan unsur sekolah, dan memberikan suatu
tindakan kepada peranan diri anak misalnya memberikan pendidikan agama, dan pendidikan
pengendalian emosi, menggunakan sumber koping dan meningkatkan konsep diri pada anak
(Rasyidin dkk, 2010).

Tindakan preventif yang lebih ditekankan disini adalah tindakan untuk meningkatkan
konsep diri anak karena pada periode ini, anak mengalami periode imitasi, yakni peniruan
terhadap lingkungan. Anak usia 6-12 tahun akan mudah belajar berbagai kebiasaan baik atau
kebiasaan yang buruk, yang berasal dari lingkungan keluarga, lingkungan pertemanan
maupun dari lingkungan alamiah, dampak dari lingkungan ini terbawa anak sampai
selanjutnya dan menjadi sifat dasar bagi masa depan anak tersebut (Sumantri, 2008). Oleh
karena itu penting untuk menerapkan konsep diri yang adaptif pada anak, agar anak mampu
menjadi individu yang baik dengan memfilter tiruan dari lingkungan.

Konsep Diri (self-esteem) atau ada yang menyebut self-worth, self-acceptance atau
konsep diri penting untuk dilihat sebagai pertahanan anak terhadap masalah dari kenakanalan
anak usia sekolah, karena konsep diri merupakan gagasan, kepercayaan, dan keyakinan
pengetahuan dari diri seseorang dan dipengaruhi oleh hubungan dengan orang lain yang
dipelajari melalui dari pengalaman internal setiap orang, hubungan dengan orang lain, dan
interaksi dengan dunia luar (Stuart dalam Keliat, 2016). Hal ini didukung oleh penelitian
Kilpatrick, dkk (2010) yang menunjukkan bahwa hubungan dengan orang lain dan dukungan
teman sebaya berpengaruh bagi evaluasi konsep diri. Sehingga dapat disimpulkan bahwa
konsep diri terbentuk dari bagaimana seseorang menilai dirinya sendiri, menilai hubungan
dirinya dengan orang lain, dan menilai interaksi dirinya sendiri terhadap teman sebaya.

Evaluasi konsep diri dapat dilakukan dengan pengukuran respon konsep diri, yang terdiri
dari 2 kelompok, yaitu respon adaptif dan maladaptive. Respon adaptif terjadi jika individu
memiliki citra tubuh positif dan tepat, memiliki ideal diri yang realistic, memiliki harga diri
yang tinggi, memiliki penampilan peran yang memuaskan, serta memiliki rasa identitas yang
jelas, setelah anak memiliki konsep diri yang adaptif barulah anak dapat mengaktualisasikan
dirinya. Individu yang tidak memiliki kriteria konsep diri adaptif akan terlebih dahulu
mengalami respon harga diri yang rendah, barulah individu masuk ke dalam respon konsep
diri malladaptif, sehingga terjadi keracunan identitas, sampai deporsonalisasi (Stuart dalam
Keliat, 2016). Respon konsep diri yang adaptif untuk anak usia sekolah dasar (6 – 12 Tahun),
ialah anak selalu berhubungan dengan kelompok sebaya, anak merasa harga dirinya tumbuh
dan meningkat, anak memiliki kemampuan baru serta anak akan menyadari kekurangan dan
kelebihannya (Muhith, 2015).

Konsep diri yang maladaptif dapat diubah menjadi adaptif dengan lima tingkatan
tindakan keperawatan, tingkatan pertama adalah perawat memperluas kesadaran diri anak
dengan meningkatkan pengalaman positif, kedua perawat mendorong individu untuk mampu
mengeksplorasi prasaan, dan pikiran terkait dengan stressor yang dialami, ketiga ialah
evaluasi diri, perawat melakukan konfrontasi, membujuk, dan menentang persepsi klien yang
salah, keempat mengidentifikasi solusi atau alternative yang ada (latihan/bermain peran).
Kelima yaitu perawat membantu individu untuk membuat komitmen dengan keputusasaan
mereka melalui perubahan perilaku (Stuart dalam Keliat, 2015). Sedangkan terapi yang tepat
untuk mengubah konsep diri diantaranya ada empat terapi, yaitu: Asertive Tranning Therapy,
Behaviour Therapy, Congnitif behavior therapy, dan Therapy supoortif kelompok (Rubly,
2007).

Assertive tranning therapy merupakan tindakan untuk melatih seseorang mencapai


perilaku asertif (Kaplan & Saddock dalam Modul FIK UI, 2015) terapi ini efektif dan lebih
banyak digunakan kepada pelaku bullying, hal ini telah diteliti oleh Febrianti (2014) dengan
hasil kemampuan perilaku asertif anak usia sekolah yang didampingi orangtua, guru
menunjukan nilai lebih tinggi secara bermakna dibandingkan dengan kelompok yang hanya
didampingi orangtua dan anak, dan penelitian Mujiyati (2015) dengan hasil penelitian
assertive training efektif untuk meningkatkan self esteem. Behaviour Therapy digunakan
untuk mengubah perilaku yang negatif menjadi prilaku yang lebih positif hal ini diperkuat
oleh penelitian Paramitha (2014). Yang menyatakan bahwa terapi behavior efektif dalam
meningkatkan self esstem. Congnitif behavior therapy merupakan terapi gabungan antara
terapi kognitif dan behavior yang merupakan terapi komunikatif yang menggunakan
pendekatan penyelesaian masalah dengan mempelajari cara pengontrolan pikiran melalui
perubahan persepsi terhadap orang dan situasi tertentu. (Kassel & Rais dalam Modul FIK UI,
2014). Penelitian terkait dengan terapi ini adalah Pambudhi (2015) dengan hasil terapi
cognitive behavior therapy cukup efektif untuk menurunkan cemas pada prilaku bullying
pada korban bullying, namun untuk komponen harga diri terapi ini tidak memberi kontribusi
yang cukup berarti.

Therapy supoortif kelompok dilakukan oleh sekumpulan orang-orang yang berencana,


mengatur, dan berespon secara langsung terhadap issue atau tekanan yang khusus maupun
keadaan yang merugikan. Tujuan dari terapi ini adalah untuk memberikan support dan
menyelesaikan pengalaman isolasi dari masing-masing angotanya. Terapi ini biasa dilakukan
pada teman sekelompok dimana satu kelompok akan memberikan dukungan atau support
(peer support/dukungan kelompok), yang bermanfaat dan berfokuskan pada prinsip memberi
dan menerima, mengaplikasi keterampilan swabantu (self help) serta pengembangan
pengetahuan, berhubungan dengan fungsi secara psikologis (Modul FIK UI, 2014). Tingkat
perkembang anak usia sekolah mulai beralih dari kedekatan kepada orang tua menjadi
kepada teman sebaya, oleh karena itu terapi ini dinilai baik dilakukan pada anak usia sekolah
dengan berkelompok.

Penelitian terapi terkait dengan prilaku kenakalan anak biasa dilakukan pada kenakalan
anak dengan perilaku bullying, penelitian oleh Juvonen (2001) didapatkan hasil bahwasanya
terapi suportif yang dilakukan anak sebaya bermanfaat dalam menekan prilaku bullying.
Penelitian Septiyuni (2014) menyatakan terapi kelompok teman sebaya berpengaruh terhadap
terjadinya perilaku bullying siswa di sekolah, namun peneliti belum menemukan penelitian
yang spesifik menghubungkan antara terapi supportive kepada konsep diri anak sekolah
dasar. Oleh karena itu penulis tertarik untuk membahas terapi suportif untuk melihat
perubahan konsep diri pada anak sekolah dasar.

Menurut Hunt dalam Modul FIK,UI (2015) pelaksanaan terapi supportif terdiri dari
empat sesi pada tiap sesi mengikutsertakan kelima tingkatan tindakan perubahan konsep diri.
Sesi satu mengidentifikasi kemampuan anak dan sumber pendukung yang ada, dengan
memperluasaan kesadaran diri anak, eksplorasi perasaan anak dan evaluasi diri. Sesi kedua
ialah mengidentifikasi dan menggunakan sistem pendukung konsep diri yang ada pada diri
anak sendiri, dengan memonitor, dan melihat hambatannya dalam latihan bermain peran.
Ketiga ialah mengidentifikasi dan menggunakan sistem pendukung pada teman
sebaya/sekelompok dengan latihan bermain peran, dan sesi keempat yaitu mengevaluasi hasil
dan hambatan dan membantu anak untuk membuat komitmen berubah.

Peran perawat sangat penting disini untuk meningkatkan konsep diri yang adaptif pada
anak, (anak mampu meningkatkan gambaran diri, ideal diri, harga diri, penampilan peran dan
identitas diri yang adaptif) dengan melatih anak melakukan teraphy supportive sehingga anak
mampu melakukan tumbuh kembang sesuai usianya dan terhindar dari perilaku kenakalan
anak di usia sekolah, prestasi akademik anak meningkat, serta anak memiliki kepribadian
yang baik (Patil, 2009).
\

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Konsep Tumbuh Kembang Anak Usia Sekolah


Pertumbuhan adalah perubahan fisik dan peningkatan ukuran. Pertumbuhan dapat diukur secara
kuantitatif. Indikator pertumbuhan meliputi tinggi badan, berat badan, ukuran tulang, dan
pertumbuhan gigi. Pola pertumbuhan fisiologis sama untuk semua orang, akan tetapi laju
pertumbuhan bervariasi pada tahap pertumbuhan dan perkembangan berbeda. Perkembangan
adalah peningkatan kompleksitas fungsi dan kemajuan keterampilan yang dimiliki individu
untuk beradaptasi dengan lingkungan. Perkembangan merupakan aspek perilaku dari
pertumbuhan, misalnya individu mengembangkan kemampuan untuk berjalan, berbicara, dan
berlari dan melakukan suatu aktivitas yang semakin kompleks (Behrman, Kliegman, & Arvin,
2000; Supartini, 2004; Potter & Perry, 2005; Wong, Hockenberry-Eaton, Wilson, Winkelstein,
& Schwartz, 2009; Kozier, Erb, Berman, & Snyder, 2011).
Istilah pertumbuhan dan perkembangan keduanya mengacu pada proses dinamis.
Pertumbuhan dan perkembangan walaupun sering digunakan secara bergantian, keduanya
memiliki makna yang berbeda. Pertumbuhan dan perkembangan merupakan proses yang
berkelanjutan, teratur, dan berurutan yang dipengaruhi oleh faktor maturasi, lingkungan, dan
genetik (Kozier, Erb, Berman, & Snyder, 2011).

B. Pengertian Anak Usia Sekolah


Anak usia antara 6-12 tahun, periode ini kadang disebut sebagai masa anak-anak pertengahan
atau masa laten, masa untuk mempunyai tantangan baru. Kekuatan kognitif untuk memikirkan
banyak faktor secara simultan memberikan kemampuan pada anak-anak usia sekolah untuk
mengevaluasi diri sendiri dan merasakan evaluasi teman-temannya. Dapat disimpulkan
sebagai sebuah penghargaan diri menjadi masalah sentral bagi anak usia sekolah (Behrman,
Kliegman, & Arvin, 2000).
Menurut Buku Data Penduduk yang ditebirkan oleh Kementerian Kesehatan Indoneisa
(2011), anak usia sekolah adalah anak-anak yang berusia 7-12 tahun (Depkes, 2011), periode
pubertas sekitar usia 12 tahun merupakan tanda akhir masa kanak-kanak menengah (Potter &
Perry, 2005; Wong, Hockenberry- Schwartz, 2009). Periode pra-remaja atau pra-pubertas
terjadi pada tahap perkembangan usia sekolah, periode pra-remaja atau pra-pubertas
menandakan berakhirnya periode usia sekolah dengan usia kurang lebih 12 tahun, ditandai
dengan awitan pubertas (Kozier, Erb, Berman, & Snyder, 2011).

C. Tahap Tumbuh-Kembang Anak Usia Sekolah (6-12 Tahun)


1. Pertumbuhan Fisik

Pertumbuhan selama periode ini rata-rata 3-3,5 kg dan 6cm atau 2,5 inchi pertahunnya. Lingkar
kepala tumbuh hanya 2-3 cm selama periode ini, menandakan pertumbuhan otak yang
melambat karena proses mielinisasi sudah sempurna pada usia 7 tahun (Behrman, Kliegman, &
Arvin, 2000). Anak laki-laki usia 6 tahun, cenderung memiliki berat badan sekitar 21 kg,
kurang lebih 1 kg
lebih berat daripada anak perempuan. Rata-rata kenaikan berat badan anak usia
sekolah 6 ± 12 tahun kurang lebih sebesar 3,2 kg per tahun. Periode ini, perbedaan
individu pada kenaikan berat badan disebabkan oleh faktor genetik dan
lingkungan. Tinggi badan anak usia 6 tahun, baik laki-laki maupun perempuan
memiliki tinggi badan yang sama, yaitu kurang lebih 115 cm. Setelah usia 12
tahun, tinggi badan kurang lebih 150 cm (Kozier, Erb, Berman, & Snyder, 2011).
Habitus tubuh (endomorfi, mesomorfi atau ektomorfi) cenderung secara relatif
tetap stabil selama masa anak pertengahan. Pertumbuhan wajah bagian tengah dan
bawah terjadi secara bertahap. Kehilangan gigi desidua (bayi) merupakan tanda
maturasi yang lebih dramatis, mulai sekitar usia 6 tahun setelah tumbuhnya gigi-
gigi molar pertama. Penggantian dengan gigi dewasa terjadi pada kecepatan
sekitar 4/tahun. Jaringan limfoid hipertrofi, sering timbul tonsil adenoid yang
mengesankan membutuhkan penanganan pembedahan (Behrman, Kliegman, &
Kozier, Erb, Berman, & Snyder, 2011).
Kekuatan otot, koordinasi dan daya tahan tubuh meningkat secara terus-
menerus. Kemampuan menampilkan pola gerakan-gerakan yang rumit seperti
menari, melempar bola, atau bermain alat musik. Kemampuan perintah motoric yang lebih
tinggi adalah hasil dari kedewasaan maupun latihan; derajat penyelesaian mencerminkan
keanekaragaman yang luas dalam bakat, minat dan kesempatan bawaan sejak lahir. Organ-
organ seksual secara fisik belum matang, namun minat pada jenis kelamin yang berbeda dan
tingkah laku seksual tetap aktif pada anak-anak dan meningkat secara progresif sampai pada
pubertas .
2. Perkembangangan Kognitif
Perubahan kognitif pada anak usia sekolah adalah pada kemampuan untuk berpikir dengan cara
logis tentang disini dan saat ini, bukan tentang hal yang bersifat abstraksi. Pemikiran anak
usia sekolah tidak lagi didominiasi oleh persepsinya dan sekaligus kemampuan untuk
memahami dunia secara luas. Perkembangan kognitif Piaget terdiri dari beberapa tahapan,
yaitu: (1) Tahap sensoris-motorik (0-2 tahun); (2) Praoperasional (2-7 tahun); (3) Concrete
operational (7-11 tahun); dan (4) Formal operation (11-15 tahun).

a. Concrete operational (7 ± 11 tahun)


Fase ini, pemikiran meningkat atau bertambah logis dan koheren. Anak mampu
mengklasifikasi benda dan perintah dan menyelesaikan masalah secara konkret dan sistematis
berdasarkan apa yang mereka terima dari lingkungannya. Kemampuan berpikir anak sudah
rasional, imajinatif, dan dapat menggali objek atau situasi lebih banyak untuk memecahkan
masalah. Anak sudah dapat berpikir konsep tentang waktu dan mengingat kejadian yang lalu
serta menyadari kegiatan yang dilakukan berulang-ulang, tetapi pemahamannya belum
mendalam, selanjutnya akan semakin berkembang di akhir usia sekolah atau awal masa
remaja.
b. Formal operation (11 ± 15 tahun)
Tahapan ini ditunjukkan dengan karakteristik kemampuan beradaptasi dengan lingkungan
dan kemampuan untuk fleksibel terhadap lingkungannya Anak remaja dapat berpikir dengan
pola yang abstrak menggunakan tanda atau simbol dan menggambarkan kesimpulan yang
logis. Mereka dapat membuat dugaan dan mengujinya dengan pemikiran yang abstrak,
teoritis, dan filosifis. Pola berpikir logis membuat mereka mampu berpikir tentang apa yang
orang lain juga memikirkannya dan berpikir untuk memecahkan masalah.
Menurut Piaget, usia 7±11 tahun menandakan fase operasi konkret. Anak mengalami perubahan
selama tahap ini, dari interaksi egosentris menjadi interaksi kooperatif. Anak usia sekolah juga
mengembangkan peningkatan mengenai konsep yang berkaitan dengan objek-objek tertentu,
contohnya konservasi lingkungan atau pelestarian margasatwa. Pada masa ini anak-anak
mengembangkan pola pikir logis dari pola pikir intuitif, sebagai contoh mereka belajar untuk
mengurangi angka ketika mencari jawaban dari suatu soal atau pertanyaan. Pada usia ini
anak juga belajar mengenai hubungan sebab akibat, contohnya mereka tahu bahwa batu tidak
akan mengapung sebab batu lebih berat daripada air (Piaget, J., 1996; Kozier, Erb, Berman, &
Snyder, 2011).
Kemampuan membaca biasanya berkembang dengan baik di akhir masa kanak-kanak dan
bacaan yang dibaca anak biasanya dipengaruhi oleh keluarga. Setelah usia 9 tahun, kebanyakan
anak termotivasi oleh dirinya sendiri. Mereka bersaing dengan diri sendiri dan mereka senang
membuat rencana kedepan, mencapai usia 12 tahun, mereka termotivasi oleh dorongan di dalam
diri, bukan karena kompetisi dengan teman sebaya. Mereka senang berbicara, berdiskusi
mengenai berbagai subjek dan berdebat

Fase Perkembangan Kognitif Menurut Piaget


Fase dan Tahap Usia Perilaku signipikan

Fase Sensorimotor Lahir ± 2 tahun

Tahap 1 Lahir ± 1 bulan Sebagian besar


Penggunaan Refleks tindakan bersifat reflex

Tahap 2 1 ± 4 bulan Persepsi mengenai


Reaksi Sirkuler Primer berbagai
kejadian
terpusat pada tubuh.
Objek merupakan
ekstensi diri.
Tahap 3 4 ± 8 bulan Mengenali lingkungan
Reaksi Sirkuler dan eksternal.
Sekunder Membuat perubahan
secara aktif di dalam
Lingkungan
Tahap 4 8 ± 12 bulan Dapat
Koordinasi Skema membedakan
Sekunder tujuan
dari
cara
pencapaian tujuan
tersebut.
Tahap 5 12 ± 18 bulan Mencoba dan
Reaksi Sirkuler Tersier menemukan tujuan
serta cara
baru untuk mencapai
tujuan.
Ritual merupakan hal
penting
Tahap 6 18 ± 24 bulan Menginterprestasi
Penemuan Arti yang lingkungan dengan
Baru kesan
mental.
Melakukan permainan
imajinasi dan imitasi.
Fase Prakonseptual 2 ± 4 tahun Menggunakan
pendekatan egosentrik
untuk
mengakomodasi
tuntutan lingkungan.
Semua hal bermakna
dan berkaitan dengan
³DNX_´
Mengekplorasi
lingkungan.
Bahasa berkembang
dengan cepat.
Megasosiasikan kata
dengan objek.
Fase Pemikiran Intuitif 4 ± 7 tahun Pola pikir egosentrik
berkurang.
Memikirkan sebuah ide
pada satu waktu
Melibatkan
orang
lain
di
lingkungan
tersebut.
Kata-kata
mengekspresikan
pemikiran
Fase Operasi Konkret 7 ± 11 tahun Menyelesaikan masalah
yang konkret.
Mulai memahami
hubungan seperti
ukuran.
Mengerti kanan dan
kiri.
Sadar akan sudut
pandang orang
Fase Operasi Formal 11 ± 15 tahun Menggunakan
pemikiran yang
rasional.
Pola pikir yang
deduktif dan futuristic

3. Perkembangan Moral
Perkembangan moral anak menurut Kohlberg didasarkan pada perkembangan kognitif anak dan
terdiri atas tiga tahapan utama, yaitu: (1) preconventional; (2) conventional; (3)
postconventional.
a. Fase Preconventional
Anak belajar baik dan buruk, atau benar dan salah melalui budaya sebagai dasar dalam peletakan
nilai moral. Fase ini terdiri dari tiga tahapan. Tahap satu didasari oleh adanya rasa egosentris
pada anak, yaitu kebaikan adalah seperti apa yang saya mau, rasa cinta dan kasih sayang akan
menolong memahami tentang kebaikan, dan sebaliknya ekspresi kurang perhatian bahkan
mebencinya akan membuat mereka mengenal keburukan. Tahap dua, yaitu orientasi hukuman
dan ketaatan dan ketaatan, baik dan buruk sebagai suatu konsekuensi dan tindakan. Tahap
selanjutnya, yaitu anak berfokus pada motif yang menyenangkan sebagai suatu kebaikan. Anak
menjalankan aturan sebagai sesuatu yang memuaskan mereka sendiri, oleh karena itu hati-
hati apabila anak memukul temannya dan orangtua tidak memberikan sanksi. Hal ini akan
membuat anak berpikir bahwa tindakannya bukan merupakan sesuatu yang buruk.
b. Fase Conventional
Pada tahap ini, anak berorientasi pada mutualitas hubungan interpersonal dengan kelompok.
Anak sudah mampu bekerjasama dengan kelompok dan mempelajari serta mengadopsi
norma-norma yang ada dalam kelompok selain norma dalam lingkungan keluarganya. Anak
mempersepsikan perilakunya sebagai suatu kebaikan ketika perilaku anak menyebabkan mereka
diterima oleh keluarga atau teman sekelompoknya. Anak akan mempersepsikan perilakunya
sebagai suatu keburukan ketika tindakannya mengganggu hubungannya dengan keluarga,
temannya, atau kelompoknya. Anak melihat keadilan sebagai hubungan yang saling
menguntungkan antar individu. Anak mempertahankannya dengan menggunakan norma
tersebut dalam mengambil keputusannya, oleh karena itu penting sekali adanya contoh
karakter yang baik, seperti jujur, setia, murah hati, baik dari keluarga maupun teman
kelompoknya.
c. Fase Postconventional
Anak usia remaja telah mampu membuat pilihan berdasar pada prinsip yang dimiliki dan yang
diyakini. Segala tindakan yang diyakininya dipersepsikan sebagai suatu kebaikan. Ada dua fase
pada tahapan ini, yaitu orientasi pada hukum dan orientasi pada prinsip etik yang umum.
Pada fase pertama, anak menempatkan nilai budaya, hukum, dan perilaku yang tepat yang
menguntungkan bagi masyarakat sebagai sesuatu yang baik. Mereka mempersepsikan
kebaikan sebagai susuatu yang dapat mensejahterakan individu. Tidak ada yang dapat
mereka terima dari lingkungan tanpa membayarnya dan apabila menjadi bagian dari kelompok
mereka harus berkontribusi untuk pencapaian kelompok. Fase kedua dikatakan sebagai tingkat
moral tertinggi, yaitu dapat menilai perilaku baik dan buruk dari dirinya sendiri. Kebaikan
dipersepsikan ketika mereka dapat melakukan sesuatu yang benar. Anak sudah dapat
mempertahankan perilaku berdasarkan standard moral yang ada, seperti menaati aturan dan
hukum yang berlaku di masyarakat.
Menurut Kohlberg, beberapa anak usia sekolah masuk pada tahap I tingkat pra-konvensional
Kohlberg (Hukuman dan Kepatuhan), yaitu mereka berupaya untuk menghindari hukuman,
akan tetapi beberapa anak usia sekolah berada pada tahap 2 (Instumental±Relativist
orientation). Anak-anak tersebut melakukan berbagai hal untuk menguntungkan diri mereka.
(Kozier, Erb, Berman, & Snyder, 2011).
4. Perkembangan Psikoseksual
Freud menggambarkan anak-anak kelompok usia sekolah (6±12 tahun) masuk dalam
tahapan fase laten. Selama fase ini, fokus perkembangan adalah pada aktivitas fisik dan
intelektual, sementara kecenderungan seksual seolah ditekan. Teori Perkembangan
Psikoseksual anak menurut Freud terdiri atas fase oral (0±11 bulan), fase anak (1±3 tahun), fase
falik (3±6 tahun), dan fase genital (6±12 tahun).
a. Fase Laten (6-12 tahun)
Selama periode laten, anak menggunakan energy fisik dan psikologis yang merupakan media
untuk mengkesplorasi pengetahuan dan pengalamannya melalui aktivitas fisik maupun sosialnya.
Pada fase laten, anak perempuan lebih menyukai teman dengan jenis kelamin perempuan, dan
laki-laki dengan laki-laki. Pertanyaan anak tentang seks semakin banyak dan bervariasi,
mengarah pada sistemtem reproduksi. Orangtua harus bijaksana dalam merespon pertanyaan-
pertanyaan anak, yaitu menjawabnya dengan jujur dan hangat. Luanya jawaban orangtua
disesuaikan dengan maturitas anak. anak mungkin dapat bertindak coba-coba dengan teman
sepermainan karena seringkali begitu penasaran dengan seks.
Orangtua sebainya waspada apabila anak tidak pernah bertanya mengenai seks.
Peran ibu dan ayah sangat penting dalam melakukan pendekatan dengan anak, termasuk
mempelajari apa yang sebenarnya sedang dipikirkan anak berkaitan dengan seks.
b. Fase Genital (12-18 tahun)
Menurut Freud, tahapan akhir masa ini adalah tahapan genital ketika anak mulai masuk fase
pubertas. Ditandai dengan adanya proses pematangan organ reproduksi dan tubuh mulai
memproduksi hormon seks.

5. Perkembangan Psikososial
Erikson mengidentifikasi masalah sentral psikososial pada masa ini sebagai krisis antara
keaktifan dan inferioritas. Perkembangan kesehatan membutuhkan peningkatan pemisahan dari
orangtua dan kemampuan menemukan penerimaan dalam kelompok yang sepadan serta
merundingkan tantangan- tantangan yang berada diluar.
Pendekatan Erikson dalam membahas proses perkembangan anak adalah dengan menguraikan
lima tahapan perkembangan psikososial, yaitu: percaya versus tidak percaya (0±1 tahun),
Otonomi versus rasa malu dan ragu (1±3 tahun), Inisiatif versus rasa bersalah (3±6 tahun),
Industry versus inferiority (6±12 tahun), Identitas versus kerancuan peran (12±18 tahun).
a. Industry versus inferiority (6-12 tahun)
Anak akan belajar untuk bekerjasama dengan bersaing dengan anak lainnya melalui kegiatan
yang dilakukan, baik dalam kegiatan akademik maupun dalam pergaulan melalui permainan
yang dilakukan bersama. Otonomi mulai berkembang pada anak di fase ini, terutama awal usia
6 tahun dengan dukungan keluarga terdekat. Perubahan fisik, emosi, dan sosial pada anak
yang terjadi mempengaruhi gambaran anak terhadap tubuhnya (body image). Interaksi sosial
lebih luas dengan teman, umpan balik berupa kritik dan evaluasi dari teman atau lingkungannya
mencerminkan penerimaan dari kelompok akan membantu anak semakin mempunyai
konsep diri yang positif. Perasaan sukses dicapai anak dengan dilandasi adanya motivasi
internal untuk beraktivitas yang mempunyai tujuan. Kemampuan anak untuk berinteraksi
sosial lebih luas dengan teman dilingkungannya dapat memfasilitasi perkembangan perasaan
sukses (sense of industry).
Perasaan tidak adekuat dan rasa inferiority atau rendah diri akan berkembang apabila anak
terlalu mendapat tuntutan dari lingkungannya dan anak tidak berhasil memenuhinya. Harga diri
yang kurang pada fase ini akan mempengaruhi tugas-tugas untuk fase remaja dan dewasa.
Pujian atau penguatan reinforcement) dari orangtua atau orang dewasa terhadap prestasi yang
dicapainya menjadi begitu penting untuk menguatkan perasaan berhasil dalam melakukan
sesuatu.
b. Identitas versus kerancuan peran (12-18 tahun)
Anak remaja akan berusaha untuk menyesuaikan perannya sebagai anak yang sedang berada
pada fase transisi dari kanak-kanak menuju dewasa. Mereka menunjukkan perannya dengan
bergaya sebagai remaja yang sangat dekat dengan kelompoknya, bergaul dengan mengadopsi
nilai kelompok dan lingkungannya, untuk dapat mengambil keputusannya sendiri. Kejelasan
identitas diperoleh apabila ada kepuasan yang diperoleh dari orangtua atau lingkungan
tempat ia berada, yang membantunya melalui proses pencarian identitas diri sebagai anak
remaja, sedangkan ketidakmampuan dalam mengatasi konflik akan menimbulkan kerancuan
peran yang harus dijalankannya.
Menurut Erikson, tugas utama anak usia sekolah adalah pada fase industry versus inferiority.
Pada masa ini, anak-anak mulai membentuk dan mengembangkan rasa kompetensi dan
ketekuanan. Anak usia sekolah termotivasi oleh berbagai kegiatan yang membuatnya merasa
berguna. Mereka berfokus pada upaya menguasai berbagai keterampilan yang akan membuat
mereka berfungsi di dunia dewasa. Meskipun berjuang keras untuk sukses, anak pada usia ini
selalu dihadapkan pada kemugkinan gagal yang dapat menimbulkan perasaan inferior. Anak-
anak yang dapat mencapai sukses pada tahap sebelumnya akan termotivasi untuk tekun dan
bekerjasama dengan anak-anak yang lain untuk mencapai tujuan umum
http://scholar.unand.ac.id/18675/2/BAB%201.pdf