Anda di halaman 1dari 7

PROSIDING SEMINAR NASIONAL MULTI DISIPLIN ILMU & CALL FOR PAPERS UNISBANK (SENDI_U)

Kajian Multi Disiplin Ilmu untuk Mewujudkan Poros Maritim dalam Pembangunan Ekonomi Berbasis Kesejahteraan Rakyat
ISBN: 978-979-3649-81-8

PENENGGELAMAN KAPAL PELAKU ILLEGAL FISHING SEBAGAI UPAYA


PENEGAKAN HUKUM PERIKANAN DI INDONESIA (STUDI PUTUSAN NOMOR
4/PID.SUS-PRK/2014/PN TPG PENGADILAN NEGERI TANJUNGPINANG)

Yusuf Istanto,SH.,MH
Fakultas Hukum Universitas Muria Kudus
Yusufistanto35@gmail.com

Abstrak
Pengakuan kepada Indonesia sebagai Negara kepulauan secara otomatis memberikan hak dan kewajiban
pengelolaan atas segala sumber daya alam hayati terutama perikanan yang ada baik di laut teritorial sampai
dengan zona ekonomi ekslusif. Seiring semakin meningkatnya jumlah perkara tindak pidana di bidang perikanan
di Kepulauan Riau khususnya di wilayah Tanjung Pinang mendorong pemerintah kemudian menerbitkan Kepres
Nomor 15 Tahun 2010 pembentukan Pengadilan Perikanan di wilayah hukum pengadilan Negeri Tanjung
Pinang Riau. Kebijakan Kementerian Kelautan dan Perikanan yang secara tegas melaksanakan
penenggelaman terhadap kapal asing pelaku Illegal Fishing serta pembentukan satgas Anti Illegal Fishing
merupakan langkah tepat Pemerintahan Presiden Joko Widodo sebagai upaya penegakkan hukum perikanan di
Indonesia. Tindakan Tegas penenggelaman terhadap kapal asing pelaku Illegal Fishing berdasarkan ketentuan
Pasal 69 ayat (1) dan ayat (4) Undang-Undang Perikanan, bertujuan untuk menunjukkan ketegasan dan
kewibawaan pemerintah Indonesia dalam melindungi kedaulatan wilayah dan hasil alam yang dimilikinya, serta
menimbulkan efek jera kepada pihak asing pelaku Illegal Fishing, juga merupakan tindakan nyata
Pemerintahan Presiden Joko Widodo untuk menerjemahkan visi Indonesia sebagai Poros maritim dunia.

Kata kunci: pengadilan perikanan ,illegal fishing

A. Pendahuluan Undang-undang Nomor 45 tahun 2009 tentang


perikanan. Bagi Indonesia undang-undang Nomor
Rejim hukum Negara Kepulauan mempunyai 45 Tahun 2009 tentang Perubahan atas UU
arti dan peranan penting untuk memantapkan Nomor 31 Tahun 2004 tentang Perikanan sangat
kedudukan Indonesia sebagai Negara Kepulauan penting dengan luasnya perairan kita yang hampir
dalam rangka implementasi Wawasan Nusantara mendekati 6 juta kilometer persegi yang
sesuai amanat Majelis Permusyawaratan Rakyat mencakup perairan kedaulatan dan yuridiksi
Republik Indonesia1. Masalah rejim negara nasional memerlukan perhatian dan kepedulian
kepulauan ini mulai muncul, pasca diberikannya dari kita semua, utamanya yang menyangkut
kedaulatan dan hak berdaulat suatu negara atas upaya penegakan hukum dan pengamanan laut
sumber daya alam terutama perikanan mereka. dari gangguan dan upaya pihak asing.
Dimana berdasarkan konvensi Hukum Laut 1982
tersebut dinyatakan bahwa negara pantai Keberadaan Undang-undang Nomor 45 Tahun
mempunyai hak mengelola segala bentuk sumber 2009 ini merupakan sebuah kebijakan yang
perikanan di laut teritorialnya sampai dengan zona strategis serta langkah positif dan merupakan
ekonomi eksklusifnya. dasar bagi Penegak Hukum dan Hakim Perikanan
dalam memutuskan persoalan hukum yang terkait
Salah satu bentuk Reformasi Hukum dan dengan Illegal Fishing, yang dampaknya sangat
perundangan yang dilakukan Pemerintah adalah merugikan keuangan negara bahkan telah merusak
dengan diundangkannya Undang-undang Nomor perekonomian Bangsa Indonesia. Lebih jauh lagi
31 Tahun 2004 yang kemudian diubah dengan kegiatan Illegal Fishing di perairan Indonesia
menyebabkan kerugian negara rata-rata mencapai
1
Menimbang angka c, Undang Undang No. 17 Tahun 1985 4 sampai dengan 5 milyar (USD/tahun). Setiap
Tentang : Pengesahan United Nations Convention On The tahunnya sekitar 3.180 kapal nelayan asing
Law Of The Sea (Konvensi Perserikatan Bangsa Bangsa beroperasi secara illegal di perairan Indonesia.
Tentang Hukum Laut).

Hal
PROSIDING SEMINAR NASIONAL MULTI DISIPLIN ILMU & CALL FOR PAPERS UNISBANK (SENDI_U)
Kajian Multi Disiplin Ilmu untuk Mewujudkan Poros Maritim dalam Pembangunan Ekonomi Berbasis Kesejahteraan Rakyat
ISBN: 978-979-3649-81-8

Penangkapan ikan secara illegal, atau yang terjadi di luar daerah hukum pengadilan perikanan
disebut pencurian ikan (Illegal Fishing) sangat tetap diperiksa, diadili, dan diputus oleh
merugikan negara maupun nelayan tradisional. Pengadilan Negeri yang berwenang sesuai
Nelayan tradisional yang merupakan masyarakat ketentuan peralihan dalam pasal 106 Undang-
indonesia, sehingga masyarakat pesisir tersebut Undang Republik Indonesia nomor 45 tahun 2009
juga terkena imbas dari pencurian ikan ini. Selain tentang Perikanan.
itu, masyarakat lain yang menjadi konsumen juga
Proses Persidangan dalam pengadilan perikanan
ikut dirugikan karena tidak bisa menikmati hasil
dipimpin oleh 1 (satu) hakim karier sebagai ketua
laut di negeri sendiri. Secara makro, Ikan-ikan
majelis dan 2 (dua) orang anggota yang berasal
Indonesia yang dicuri lantas diolah dengan
dari hakim ad hoc yang diatur dalam pasal 78
peralatan mumpuni sehingga meningkatkan harga
ayat 1 Undang-Undang Republik Indonesia
jualnya di luar negeri.2
Nomor 45 Tahun 2009 atas perubahan Undang-
Permasalahan Illegal Fishing terjadi karena Undang Republik Indonesia Nomor 31 Tahun
disebabkan sedikitnya dua hal yaitu Tumpang 2004 tentang Perikanan. Hukum acara tindak
tindihnya peraturan perundang-undangan yang pidana Illegal Fishing memakai hukum acara
berujung ketidakjelasan institusi negara Indonesia pemeriksaan singkat, ini dilihat dari Proses
mana yang berwenang dalam mengurus penyidikan, penuntutan dan mengadili tindak
permasalahan Illegal Fishing di samping itu pidana Illegal Fishing yang lebih singkat
konflik kepentingan antar institusi nrgara dalam dibandingkan dengan proses hukum pidana biasa
mengurus kavlingnya masing-masing, yang dijelaskan pada pasal 73 ayat 6, pasal 73
ketidakjelasan tersebut menciptakan celah hukum ayat 7, pasal 76 ayat 5, pasal 76 ayat 6, pasal 81,
bagi para pihak pelaku kejahatan Illegal Fishing.3 pasal 82, dan pasal 83 Undang-Undang Republik
Indonesia Nomor 45 Tahun 2009 atas perubahan
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 45
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 31
Tahun 2009 atas perubahan Undang-Undang
Tahun 2004 tentang Perikanan.
Republik Indonesia Nomor 31 Tahun 2004
tentang Perikanan telah memuat regulasi atau Berdasarkan pendahuluan diatas maka
formulasi baik mengenai hukum acara pidana permasalahan yang akan dibahas dalam tulisan ini
maupun tindak pidana perikanan.4 Institusi negara adalah tentang bagaimana penenggelaman kapal
yang berwenang melakukan tindakan penyidikan, pelaku Illegal Fishing upaya penegakan hukum
penuntutan, dan mengadili tindak pidana Illegal perikanan di Indonesia dalam mewujudkan
Fishing antara lain Departemen Kelautan dan Indonesia sebagai Negara Poros Maritim?
Perikanan, TNI Angkatan Laut, POLRI,
B. Pembahasan
Kejaksaan Dan Pengadilan Perikanan atau
Pengadilan Negeri.5 Indonesia adalah merupakan Negara Kepulauan,
Pembentukan Pengadilan Perikanan merupakan yang sebagian besar wilayahnya terdiri dari
amanah pasal 71 Undang-Undang Republik wilayah perairan (laut) dengan potensi perikanan
Indonesia Nomor 45 Tahun 2009 atas perubahan yang sangat besar dan beragam. Potensi perikanan
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 31 yang dimiliki merupakan potensi ekonomi yang
Tahun 2004 tentang Perikanan6, Pengadilan dapat dimanfaatkan untuk pembangunan
Perikanan di Indonesia hanya berada di tujuh perekonomian nasional .
wilayah yakni Medan, Jakarta Utara, Pontianak, Permasalahan yang banyak muncul dan
Tual, Bitung, Tanjung Pinang, dan Ranai.7 berpotensi menganggu perekonomian nasional
selama belum dibentuk pengadilan perikanan, Indonesia dalam memanfaatkan sumber daya
perkara tindak pidana dibidang perikanan yang perikanan dan kelautan yakni praktik pencurian
ikan atau IUU (Illegal, Unregulated and
2
Djoko Tribawono, 2011, Hukum Perikanan Indonesia, Unreported fishing practices) oleh nelayan-
Citra Aditya Bakri, Jakarta, hal. 210 nelayan menggunakan armada kapal ikan asing
3
Akhmad Solihin, 2010, Politik Hukum Kelautan dan dan alat tangkap ikan yang dapat merusak
Perikanan, Nuansa Aulia, Bandung, hal 4 ekosistem laut adalah yang paling banyak
4
Gatot Supramono, Hukum Orang Asing Di Indonesia, merugikan negara.
Sinar Grafika, Jakarta, 2012, hal 108
5
Supriadi dan aliminudin, 2011, Hukum Perikanan Tindakan penenggelaman terhadap kapal pelaku
Indonesia, Sinar Grafika, Jakarta, hal. 431 Illegal Fishing yang tidak memiliki dokumen
6
Gatot Supramono, Op. Cit, hal. 110 resmi atau melanggar ketentuan hukum RI
7
aliminudin, Op. Cit., 430

Hal
PROSIDING SEMINAR NASIONAL MULTI DISIPLIN ILMU & CALL FOR PAPERS UNISBANK (SENDI_U)
Kajian Multi Disiplin Ilmu untuk Mewujudkan Poros Maritim dalam Pembangunan Ekonomi Berbasis Kesejahteraan Rakyat
ISBN: 978-979-3649-81-8

didasarkan pada ketentuan Pasal 69 ayat (1) dan Hal ini merupakan langkah awal, kedepan
ayat (4) Undang-Undang Nomor 45 Tahun 2009 tindakan tegas berupa penengggelaman kapal
tentang Perubahan Atas Undang-Undang No. 31 asing pelaku Illegal Fishing akan terus dilakukan
Tahun 2004 Tentang Perikanan (UU Perikanan). untuk menimbulkan rasa jera kepada pelakunya.8
Pasal 69 ayat (1) UU Perikanan menentukan
Tindakan tegas berupa penenggelamkan kapal
bahwa kapal pengawas perikanan berfungsi
asing yang melakukan tindak pidana Illegal
melaksanakan pengawasan dan penegakan hukum
Fishing wilayah laut Indonesia, bertujuan untuk
di bidang perikanan dalam wilayah pengelolaan
menunjukkan ketegasan dan keseriusan
perikanan Negara Republik Indonesia. Sedangkan
Pemerintah Indonesia dalam melindungi
Pasal 69 ayat (4) berbunyi, dalam melaksanakan
kedaulatan wilayah dan hasil alam yang
fungsi sebagaimana ayat (1) penyidik dan atau
dimilikinya, serta, diharapkan dapat
pengawas perikanan dapat melakukan tindakan
menimbulkan efek jera, sekaligus wujud nyata
khusus berupa pembakaran dan atau
upaya Pemerintah untuk menerjemahkan visi
penenggelaman kapal perikanan berbendera asing
poros maritim yang tengah digencarkan
berdasarkan bukti permulaan yang cukup.
pemerintah dalam satu tahun terakhir, terutama
Selanjutnya tindakan pemusnahan merujuk pada
yang berkaitan dengan kedaulatan penuh di laut.
ketentuan Pasal 76 Huruf A UU Perikanan, bahwa
benda atau alat yang digunakan atau dihasilkan Contoh kasus pencurian ikan (Illegal Fishing)
dari pidana perikanan dapat dirampas atau oleh Warga Negara Asing (WNA) yang terjadi di
dimusnahkan setelah mendapat persetujuan Tanjungpinang kepulauan riau adalah ;
pengadilan.
Salah satu contoh kasus di Pengadilan
Upaya nyata pemberantasan praktik Illegal Perikanan Tanjungpinang pada Kamis tanggal 30
Fishing tersebut, Presiden Joko Widodo telah Oktober 2014, pukul 16.00 WIB terdakwa selaku
memerintahkan aparat keamanan dilapangan KM. LAUT NATUNA 28 mengoperasikan kapal
dapat bertindak tegas, apabila diperlukan penangkapan ikan KM. LAUT NATUNA 28 di
laksanakan menenggelamkan kapal asing yang perairan Laut Natuna pada posisi 010 56.000’ LU
mencuri ikan di perairan Indonesia. Hal ini – 1060 49.000’ BT. yang merupakan Wilayah
tentunya dilakukan sesuai ketentuan hukum yang Pengelolaan Perikanan Republik Indonesia di
berlaku, seperti mengamankan kru kapal terlebih Zona Ekonomi Ekonmi Eksklusif Indonesia
dahulu sebelum dilakukan tindakan (ZEEI) tepatnya di perairan laut Cina
penenggelaman terhadap kapal. Akibat perbuatan Selatan/peraian Natuna wilayah pengelolaan
pelaku Illegal Fishing setiap tahunnya Indonesia perikanan Republik Indonesia. Setelah dilakukan
mengalami kerugian ratusan triliun rupiah. pemeriksaan lebih lanjut oleh Penyidik Lantamal
Tindakan penenggelaman kapal pelaku Illegal IV Tanjung pinang ditemukan kapal KM.LAUT
Fishing merupakan salah satu kewajiban Negara NATUNA 28 tertangkap saat menggunakan alat
untuk mengamankan kekayaan alam dan laut penangkap ikan trawl dan ditemukan hasil
Indonesia. tangkapan ikan campuran sekitar 100 kg..
Majelis Hakim Pengadilan Negeri Perikanan
Merespon instruksi Presiden tersebut, TNI AL,
Tanjungpinang menjatuhkan vonis pidana
Badan Koordinasi Keamanan Laut (Bakorkamla),
terhadap terdakwa Mr. Sangwiam Srisom oleh
serta Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP)
karena itu dengan pidana penjara 3 (tiga) tahun,
telah melaksanakan kegiatan eksekusi
denda sebesar Rp.500.000.000,- (lima ratus juta
penenggelaman terhadap kapal ikan asing yang
rupiah), menetapkan apabila denda tersebut tidak
telah terbukti melakukan praktek Illegal Fishing
dibayar diganti dengan pidana kurungan selama 3
di wilayah perairan Indonesia. Aksi ini menjadi
(tiga) bulan. Menyatakan Barang bukti Dirampas
peringatan keras buat para pelaku Illegal Fishing
untuk negara berupa:
sekaligus juga bentuk komitmen Indonesia dalam
pengawasan dan penegakan hukum di wilayah  1 (satu) unit kapal KM. LAUT NATUNA 28
laut Indonesia. Eksekusi penenggelaman kapal ini ;
dilakukan di wilayah perairan Tanjung Pedas,  1 (satu) unit GPS merk Onwa KP-8299 A ;
Kabupaten Kepulauan Anambas, Kepulauan Riau,  1 (satu) unit GPS merk Onwa KP-626 ;
pada tanggal 5 Desember 2014. Ada tiga kapal
ikan yang ditembak, diledakkan, dan akhirnya 8
ditenggelamkan oleh jajaran penegak hukum laut “TNI AL Tenggelamkan Tiga Kapal Ikan Asing“
di Indonesia, TNI AL, Bakorkamla, dan KKP. /http;/www.republika.co.id, diakses pada 20 Mei 2015.

Hal
PROSIDING SEMINAR NASIONAL MULTI DISIPLIN ILMU & CALL FOR PAPERS UNISBANK (SENDI_U)
Kajian Multi Disiplin Ilmu untuk Mewujudkan Poros Maritim dalam Pembangunan Ekonomi Berbasis Kesejahteraan Rakyat
ISBN: 978-979-3649-81-8

 1 (satu) unit Kompas merk Daiko ; prevensi umum maupun efek jera terhadap pelaku
 1 (satu) unit Radar merk KKK ; tindak pidana perikanan.
 1 (satu) unit Radio merk Super Star 2400 ; 1. Faktor-faktor yang memberi pengaruh
 1 (satu) unit Radio merk Super Star 2400 terhadap penegakan hukum.
MK-II;
 1 (satu) unit Radio SSB merk Kenwood Penegakan hukum adalah suatu proses untuk
TKM-707 ; mewujudkan tujuan-tujuan hukum, ide-ide
 1 (satu) unit Telepon Satelit merk Aces ; hukum menjadi kenyataan.9 Tujuan atau Ide
para pembuat hukum tersebut diwujudkan
Sanksi yang dijatuhkan Majelis Hakim kepada dalam bentuk penegakan hukum (law
Terdakwa dalam kasus ini sudah tepat yaitu enforcement).
pidana penjara 3 (tiga) tahun, denda sebesar Keberhasilan dalam penegakan hukum itu
Rp.500.000.000,- (lima ratus juta rupiah), akan sangat dipengaruhi oleh sistem hukum.
menetapkan apabila denda tersebut tidak dibayar Friedmen, membagi sistem hukum kedalam
diganti dengan pidana kurungan selama 3 (tiga) tiga komponen utama yakni;
bulan. Menyatakan Barang bukti (kapal dan se
isinya) Dirampas untuk negara. [1] Struktur Hukum (Lembaga Penegak
Hukum)
Putusan yang ditetapkan oleh hakim terhadap
kasus pencurian ikan (Illegal Fishing) di Zona [2] Substansi Hukum (peraturan
Ekonomi Eksklusif Indonesia ( ZEEI ) di sekitar perundangan); dan
perairan Laut Natuna, Kepulauan Riau. Wilayah [3] Kultur Hukum. Baik Internal legal
Pengelolaan Perikanan Republik Indonesia ( culture (polisi, Jaksa, hakim, pengacara)
WPP-RI ) sudah menerapkan penjatuhan pidana atau external legal culture (masyarakat).
denda dan perampasan kapal ikan KM. LAUT
NATUNA 28 alias KM. SUDHITA berbendera Dari tiga komponen diatas, sturktural hukum
Thailand beserta isinya dengan pidana penjara menjadi faktor yang sangat penting dalam
disertai dengan denda sebagaimana diatur dalam suatu proses penegakan hukum.
ketentuan Pasal 92 Undang-Undang Nomor 45 Hakim dalam memutus perkara harus
Tahun 2009 tentang perubahan atas Undang- memperhatikan pada tiga nilai dasar hukum
Undang Nomor 31 Tahun 2004 tentang Perikanan. sebagaimana diungkapkan oleh Radbruch
Hakim sudah merealisasikan ketentuan pasal 92 yaitu Kepastian hukum, Keadilan dan
Undang-Undang Nomor 45 Tahun 2009 tentang Kemanfaatan.10
perubahan atas Undang-Undang Nomor 31 1) Kepastian hukum, artinya dalam
Tahun 2004 tentang Perikanan yang memberikan memberikan putusan hukum seorang
kewenangan kepada hakim untuk memutus hakim harus berdasarkan adanya
perkara pencurian ikan ( Illegal Fishing ) di Zona peraturan.
Ekonomi Eksklusif Indonesia (ZEEI) perairan
Wilayah Pengelolaan Perikanan Republik 2) Keadilan, artinya dalam memutuskan
Indonesia ( WPP-RI ). perkara hakim harus adil sesuai dengan
fakta hukum yang tergali dalam
Putusan yang dijatuhkan oleh hakim terhadap persidangan.
kasus pencurian ikan ( Illegal Fishing ) ini juga
telah menerapkan filsafat pemidanaan ditinjau 3) Kemanfaatan hukum, artinya putusan
dari presfektif Pancasila yaitu keseimbangan dan hakim harus dapat memberikan manfaat
keselarasan antara kepentingan korban, pelaku, atau dapat menyelesaikan masalah.
masyarakat, dan Negara. Hakim dalam hal pengambilan keputusan
Terlihat dari putusan di atas, hakim tidak hanya berdasarkan nilai keadilan, kemanfaatan dan
menerapkan sanksi pidana penjara, tetapi juga kepastian hukum bertentangan dan dapat
menerapkan sanksi pidana denda. kedua sanksi menimbulkan masalah maka nilai keadilan
tersebut diterapkan secara bersamaan karena
9
sifatnya yang kumulatif. Kondisi tersebut, dapat Esmi Warasih, 2005, Lembaga Pranata Hukum Sebuah
berpengaruh positif terhadap efektifitas Telaah Sosiologis, Suryandaru, Utama, Semarang, hal.
penegakan hukum tindak perikanan baik tujuan 11.
10
Gustav Radbruch dalam Satjipto Rahardjo, Ilmu Hukum,
Citra Aditya Bakti Bandung, 2006, hal. 19.

Hal
PROSIDING SEMINAR NASIONAL MULTI DISIPLIN ILMU & CALL FOR PAPERS UNISBANK (SENDI_U)
Kajian Multi Disiplin Ilmu untuk Mewujudkan Poros Maritim dalam Pembangunan Ekonomi Berbasis Kesejahteraan Rakyat
ISBN: 978-979-3649-81-8

haruslah diutamakan karena hukum dibentuk (4) Undang-Undang Perikanan, yang


untuk memberikan keadilan. menyatakan: “Kapal pengawas perikanan
berfungsi melaksanakan pengawasan dan
Sesuai dengan ketentuan Pasal 2 ayat (1) UU
penegakan hukum di bidang perikanan
No. 48 Tahun 2009, tentang Kekuasaan
dalam wilayah pengelolaan perikanan Negara
Kehakiman yang berbunyi peradilan dilakukan
Republik Indonesia; selanjutnya dalam
“DEMI KEADILAN BERDASARKAN
melaksanakan fungsi sebagaimana tersebut
KETUHANAN YANG MAHA ESA”.
penyidik dan/atau pengawas perikanan dapat
Artinya hakim dalam memutus sebuah perkara
melakukan tindakan khusus berupa
harus didasarkan pada nilai ketuhanan seperti
pembakaran dan/atau penenggelaman kapal
jujur, adil dan benar. Karena putusan hukum
perikanan yang berbendera asing
yang dibuat oleh hakim harus
berdasarkan bukti permulaan yang cukup.”
dipertanggungjawabkan kepada Tuhan Yang
Maha Esa. Berdasarkan ketentuan Pasal 69 ayat (1) dan
ayat (4) Undang-Undang Perikanan jelas
Sementara itu Pasal 5 ayat (1) UU No. 48
disebutkan bahwa setiap penegak hukum
Tahun 2009 disebutkan bahwa hakim dan
dibidang perikanan dalam hal ini adalah
hakim konstitusi wajib menggali, mengikuti
pengawas perikanan yang berfungsi
dan memahami nilai-nilai hukum dan rasa
melaksanakan pengawasan dan penegakan
keadilan yang hidup dalam masyarakat. Hakim
hukum dibidang perikanan di wilayah
tidak hanya menjalankan peraturan
pengelolaan perikanan Republik Indonesia
perundangan saja dalam memutus perkara
dapat melakukan tindakan khusus berupa
melainkan juga harus memperhatikan nilai-
“pembakaran’ dan/atau “penenggelaman
nilai hukum serta rasa keadilan yang
kapal” yang berbendera asing berdasarka
berkembang dimasyarakat.
bukti permulaan yang cukup.
Hubungannya dengan Putusan Pengadilan
Kebijakan penenggelaman kapal asing
Perikanan pada Pengadilan Negeri
illegaldiyakini tidak akan mempengaruhi
Tanjungpinang Nomor 4/PID.SUS-PRK/
hubungan bilateral, regional, dan multilateral
2014/PN TPG. Tertanggal 5 januari 2015
Indonesia dengan negara lain. Menurut Guru
mengenai penangkapan ikan di wilayah
Besar Hukum Internasional Universitas
Pengelolaan Perikanan Republik Indonesia
Indonesia, Hikmahanto Juwana, terdapat lima
tidak memiliki Surat Izin Usaha Perikanan
alasan kenapa kebijakan tersebut justru layak
(SIUP) yang dilakukan oleh Terdakwa
didukung dan tidak akan memperburuk
Sangwiam Srisom Warga Negara Thailand.
hubungan antarnegara. Pertama, tidak ada
Bahwa terhadap putusan nomor: 4/Pid.Sus- negara di dunia ini yang membenarkan
PRK/2014/PN Tpg tanggal 5 januari 2015 tindakan warganya yang melakukan kejahatan
ditemukan fakta dalam putusan tersebut di negara lain. Kapal asing yang
merupakan putusan yang mencerminkan ditenggelamkan merupakan kapal yang tidak
adanya keadilan serta kepastian hukum berizin untuk menangkap ikan di wilayah
terhadap penegakan hukum tindak pidana Indonesia, sehingga disebut tindakan kriminal.
perikanan yang berkenaan dengan Pelanggaran Kedua, tindakan penenggelaman dilakukan di
Pasal 92 UU No. 45 Tahun 2009 dengan wilayah kedaulatan dan hak berdaulat
menjatuhkan putusan hukum dengan formulasi Indonesia (zona ekonomi eksklusif). Ketiga,
putusan kumulatif sebagaimana ketentuan tindakan penenggelaman dilakukan atas dasar
dalam Pasal 92 UU No. 45 Tahun 2009 ketentuan hukum yang sah, yaitu Pasal 69 ayat
menurut bunyi normanya, ketentuan Pasal 92 (4) UU Perikanan. Keempat, negara lain harus
diformulasikan bersifat kumulatif. memahami bahwa Indonesia dirugikan dengan
tindakan kriminal tersebut. Jika terus dibiarkan
2. Dampak Yuridis Penenggelaman Kapal Pelaku
maka kerugian yang dialami akan semakin
Illegal Fishing
besar. Kelima, proses penenggelaman telah
Instruksi Presiden untuk mengambil langkah
tegas terhadap para pelaku Illegal Fishing
yang salah satunya dilakukan dengan
menenggelamkan kapal dilakukan dengan
berpedoman kepada Pasal 69 ayat (1) dan ayat

Hal
PROSIDING SEMINAR NASIONAL MULTI DISIPLIN ILMU & CALL FOR PAPERS UNISBANK (SENDI_U)
Kajian Multi Disiplin Ilmu untuk Mewujudkan Poros Maritim dalam Pembangunan Ekonomi Berbasis Kesejahteraan Rakyat
ISBN: 978-979-3649-81-8

memperhatikan keselamatan para awak benar-benar ditegakkan. Upaya tindakan tegas


kapal.11 berupa penenggelaman kapal ini dalam diplomasi
internasional juga dirasakan sangat efektif, satu
Namun demikian, Pemerintah harus terus
tindakan konkrit dan tegas jauh lebih penting dan
mensosialisasikan kebijakan penenggelaman
efektif daripada seribu ancaman.
kapal pelaku Illegal Fishing tersebut kepada
Negara lain. Hikmahanto Juwana menegaskan
mekanisme yang dapat dilakukan pemerintah
adalah menginformasikan kebijakan tersebut
kepada para duta besar yang bertugas di
Indonesia untuk meneruskannya kepada
pemerintah masing-masing, terutama kepada
negara-negara yang kapal nelayannya kerap
memasuki wilayah Indonesia secara ilegal,
seperti Thailand, Filipina, Malaysia,
Tiongkok, dan juga perwakilan Taiwan.
Langkah selanjutnya, Pemerintah
berkoordinasi dengan perwakilan negara yang
kapal nelayannya ditenggelamkan. Dengan
demikian, hubungan baik antarnegara
diharapkan tetap terjaga.

C. Penutup
Optimalisasi pengelolaan kekayaan laut
Indonesia yang berlimpah belum mampu
diwujudkan untuk sebesar-besar kemakmuran
rakyat. Salah satunya karena maraknya praktik
pencurian ikan oleh kapal-kapal asing. Kebijakan
Presiden Joko Widodo untuk menindak tegas
kapal ikan asing yang beroperasi secara ilegal di
perairan Indonesia merupakan momentum yang
tepat untuk menegakkan hukum nasional di
wilayah NKRI.
Upaya penegakan hukum di perairan dan laut
Indonesia ini diharapkan merupakan kegiatan
yang berkelanjutan sehingga akan membuat efek
jera bagi nelayan asing untuk mencuri kekayaan
laut Indonesia. Karena kapal tersebut merupakan
alat produksi utama pelaku pencurian. Kalau
kapal dan perlengkapannya yang berharga mahal
tersebut ditenggelamkan, pencuri akan berpikir
seribu kali untuk mengulangi pencurian di
wilayah Indonesia karena motif pencurian adalah
mencari keuntungan. Persoalan illegal fishing
oleh kapal asing bukanlah persoalan hilangnya
sumberdaya perikanan belaka, melainkan juga
soal pelanggaran kedaulatan negara yang
merupakan hal sangat prinsip, untuk itu
penegakan hukum dan kedaulatan kita harus

11
Ada 5 Alasan Kenapa Penenggelaman Kapal Asing Tak
bisa diprotes", http://news.detik.com/, diakses 8 Mei
2015

Hal
PROSIDING SEMINAR NASIONAL MULTI DISIPLIN ILMU & CALL FOR PAPERS UNISBANK (SENDI_U)
Kajian Multi Disiplin Ilmu untuk Mewujudkan Poros Maritim dalam Pembangunan Ekonomi Berbasis Kesejahteraan Rakyat
ISBN: 978-979-3649-81-8

REFERENSI

Buku-buku:

[1] Akhmad Solihin, Politik Hukum Kelautan


dan Perikanan, Nuansa Aulia, Bandung,
2010.
[2] Djoko Tribawono, Hukum Perikanan
Indonesia, Citra Aditya Bakri, Jakarta, 2011.
[3] Esmi Warasih, Lembaga Pranata Hukum
Sebuah Telaah Sosiologis, Suryandaru,
Utama, Semarang, 2005.
[4] Gatot Supramono, Hukum Orang Asing Di
Indonesia, Sinar Grafika, Jakarta, 2012.
[5] Gustav Radbruch dalam Satjipto Rahardjo,
Ilmu Hukum, Citra Aditya Bakti Bandung,
2006.
[6] Supriadi dan aliminudin, Hukum Perikanan
Indonesia, Sinar Grafika, Jakarta, 2011.

Undang-Undang:
[1] Undang Undang No. 17 Tahun 1985 Tentang:
Pengesahan United Nations Convention On
The Law Of The Sea (Konvensi Perserikatan
Bangsa Bangsa Tentang Hukum Laut).
[2] Undang-Undang No. 8 Tahun 1981 tentang
Hukum Acara Pidana (KUHAP).
[3] Undang-Undang Nomor 45 Tahun 2009
tentang Perubahan atas Undang-Undang
Nomor 31 Tahun 2004 tentang Perikanan.
[4] Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan
Republik Indonesia Nomor
PER.12/MEN/2009 tentang Perubahan atas
Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan
Nomor PER.05/MEN/2008 tentang Usaha
Perikanan Tangkap.
[5] Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan
Republik Indonesia Nomor
PER.01/MEN/2009 tentang Wilayah
Pengelolaan Perikanan Republik Indonesia
(WPP-RI).
[6] Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan
Republik Indonesia Nomor
PER.08/MEN/2011 tentang Perubahan atas
Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan
Nomor 02/MEN/2011 tentang Jalur
Penangkapan Ikan dan Penempatan Alat
Penangkapandan Alat Bantu Penangkapan
Ikan di Wilayah Pengelolaan Perikanan
Negara Republik Indonesia.

Internet:
[1] Ada 5 Alasan Kenapa Penenggelaman Kapal
Asing Tak bisa diprotes",
http://news.detik.com/, diakses 8 Mei 2015
[2] “TNI AL Tenggelamkan Tiga Kapal Ikan
Asing“ /http;/www.republika.co.id, diakses
pada 20 Mei 2015.

Hal