Anda di halaman 1dari 19

Tinjauan Pustaka

KANKER PAYUDARA
I. Definisi

Kanker adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh pertumbuhan sel-sel jaringan
tubuh yang tidak normal. Kanker merupakan salah satu penyakit non infeksi pembunuh kedua
di dunia. Jumlah penderita kanker di Indonesia belum diketahui secara pasti, tetapi
peningkatan dari tahun ke tahun dapat dibuktikan sebagai salah satu penyebab kematian.1

Kanker payudara (Carcinoma mammae) didefinisikan sebagai suatu penyakit


neoplasma ganas dengan pertumbuhan jaringan mammae abnormal yang tidak memandang
jaringan sekitarnya, biasanya tumbuh infiltratif dan destruktif serta dapat bermetastase. 2,4,5,6

II. Etiologi dan Faktor Resiko

Penyebab kanker payudara tidak diketahui. Faktor-faktor risiko yang mungkin


berperan pada terjadinya kanker payudara antara lain:

• Keluarga
Dari epidemiologi tampak bahwa kemungkinan untuk menderita kanker payudara dua
sampai tiga kali lebih besar pada wanita yang ibunya atau saudara kandungnya menderita
kanker payudara. Diperkirakan 5% dari semua kanker payudara adalah akibat predisposisi
keturunan, dengan melibatkan beberapa gen yang sangat berperan, autosomal dominan
yang diturunkan. Predisposisi diturunkan bila minimal 3 anggota keluarga tingkat 1
mempunyai kanker payudara. BRCA1 pada kromosom 17 dan BRCA2 pada kromosom
13 merupakan gen-gen yang menimbulakan predisposisi untuk kanker payudara yang
telah dapat dilokalisasi. Terutama keluarga yang mempunyai gen BRCA dapat dijumpai
juga resiko yang meningkat untuk karsinoma ovarium. Kemungkinan ini lebih besar bila
ibu atau saudara kandung itu menderita kanker bilateral atau kanker pada
pramenopause.1,2,5

• Usia
Seperti banyak jenis kanker, insidens menurut usia naik sejalan dengan bertambahnya
usia. Karsinoma payudara jarang ditemukan pada usia sebelum 30 tahun.1,2

• Hormon (faktor endokrin)


Graviditas matur yang dini memberi pengurangan resiko sedikit seumur hidup untuk
terjadinya kanker payudara. Graviditas matur yang lambat (di atas 30 tahun ) sebagai juga
nuliparitas memberi sedikit kenaikan resiko. Menarche dini (kurang dari 12 tahun),
terutama bila disertai klimakterium yang lambat (lebih atau sama dengan 55 tahun) juga
memberi sedikit kenaikan resiko.1,2,5

• Karsinoma payudara yang telah dialami dahulu

Terjadinya malignansi secara sinkron di payudara lain karena payudara merupakan organ
yang berpasangan sebagai satu sistem dan dipengaruhi oleh faktor – faktor yang sama.
Kemungkinan terjadi malignitas baru jika seseorang telah mendapat karsinoma payudara
sebelumnya adalah 5 kali lebih besar. Hal ini menjadi alasan untuk menjalankan kontrol
mamografik tahunan seumur hidup.2

• Makanan, berat badan dan faktor resiko lain


Insidensi karsinoma payudara yang bervariasi secara internasional memberi dugaan antara
lain adalah karena faktor makanan. Berat badan yang berlebih berhubungan dengan
kenaikan kejadian tumor yang berhubungan dengan estrogen pada wanita post menopause.
Konsumsi alkohol tampaknya juga ada hubungan dengan kenaikan resiko kanker
payudara (1,5 sampai 2 kali ). Tetapi belum jelas berapa banyak penggunaan alkohol tiap
hari yang dapat menimbulkan resiko ini.1,5

• Kontrasepsi oral dan kanker payudara


Banyak penelitian menunjukan adanya hubungan antara penggunaan pil jangka lama
(sama atau lebih dari 12 tahun ) dan resiko terjadinya karsinoma payudara pada golongan
mur kurang dari 36 tahun. Selama periode wanita menggunakan pil, mereka mempunya
resiko 24% lebih tinggi terhadap kanker payudara. Jika wanita berhenti menggunakan pil
kenaikan resiko ini berangsur-angsur berkurang dan sesudah 10 tahun resikonya sama
dengan wanita yang tidak pernah menggunakan pil. Penurunan resiko terhadap penyakit
koromer demgam penggunaan estrogen dan kurangnya terjadi ostroporosis fraktur
panggul harus dipertimbangkan terhadap kemungkinan kenaikan karsinoma payudara. 1

• Virus
Pada air susu ibu ditemukan partikel virus yang sama dengan yang terdapat pada air susu
tikus yang menderita karsinoma mammae. Akan tetapi, peranannya sebagai faktor
penyebab pada manusia tidak dapat dipastikan. 2

• Sinar ionisasi

Pada hewan coba terbukti adanya peranan sinar ionisasi sebagai faktor penyebab kanker
payudara. Dari penelitian epidemiologi setelah ledakan bom atom atau penelitian pada
orang setelah panjanan sinar Rontgen, peranan sinar ionisasi sebagai faktor penyebab pada
manusia lebih jelas.2,5

III.Epidemiologi

Tumor payudara mempunyai peran terbesar dalam kematian wanita karena tumor
maligna. Insidensi karsinoma payudara di kebanyakan negara meningkat 1-2 % tiap tahun
dimulai dari tahun 2000 kira-kira 1 juta wanita tiap tahun mendapat penyakit ini.
Perbandingan laki-laki dan perempuan kira-kira 1 : 100. Karsinoma payudara sebelum umur
20 tahun merupakan perkecualian dan jarang sebelum umur 30 tahun, tetapi sesudah itu
insidennya meningkat berangsur-angsur. Usia tersering antara 45-66 tahun. Terdapat
perbedaan geografik yang jelas dimana wanita-wanita di dunia barat mempunyai
kemungkinan 2-4 kali lebih tinggi dibanding wanita di Afrika atau Asia.1,2,3

IV. Patologi

Sebagian besar kanker payudara adalah tumor epitelial yang berkembang dari sel
yang berasal dari duktus atau lobulus; jarang merupakan kanker nonepitel dari stroma (mis,
angiosarkoma, sarkoma stroma primer, tumor phyllodes). Kanker dibagi menjadi karsinoma
in situ dan kanker invasif.4

Karsinoma in situ adalah proliferasi dari sel kanker di dalam duktus atau lobulus dan
tanpa invasi dari jaringan stroma. Biasanya, karsinoma duktus in-situ (DCIS/ductal carcinoma
in situ) terdeteksi hanya oleh mammografi dan terlokalisir di satu area dan dapat menjadi
infasif. Karsinoma lobuler in situ (LCIS/lobular carcinoma in situ) merupakan lesi yang tidak
terpalpasi dan biasanya ditemukan melalui biopsi, jarang terlihat dengan mammografi. LCIS
sering multifokal dan bilateral, tidak ganas, namun keberadaannya mengindikasikan
peningkatan risiko dari karsinoma invasif, sekitar 1 sampai 2 % pasien dengan LCIS menjadi
kanker setiap tahunnya. 4,5

Kanker invasif biasanya merupakan adenokarsinoma. Sekitar 80% adalah tipe infiltrasi
duktal, sisanya infiltrasi lobular. Bentuk lainnya yang jarang antara lain meduler, mucinosa,
dan karsinoma tubuler.5

Penyakit Paget yang berawal dari puting susu merupakan salah satu bentuk karsinoma
duktal in situ yang meluas ke kulit puting susu dan areola, dengan manifestasi lesi kulit
inflamatorik. Karakteristik dari sel ganas yang disebut dengan sel Paget dapat ditemukan di
epidermis. Kanker jenis ini dapat menjadi invasif.5

Berikut adalah jenis-jenis karsinoma payudara:

1. Karsinoma in situ

Karsinoma in situ artinya adalah kanker yang masih berada pada tempatnya, merupakan
kanker dini yang belum menyebar atau menyusup keluar dari tempat asalnya.

2. Karsinoma duktal

Karsinoma duktal berasal dari sel-sel yang melapisi saluran yang menuju puting susu.
Sekitar 90% kanker payudara merupakan karsinoma duktal. Kanker ini biasanya terjadi
sebelum maupun sesudah masa menopause. Kadang kanker ini dapat diraba dan pada
pemeriksaan mammogram, kanker ini tampak sebagai bintik-bintik kecil dari endapan
kalsium (mikrokalsifikasi). Kanker ini biasanya terbatas pada daerah tertentu di payudara
(tampak sebagai benjolan) dan bisa diangkat secara keseluruhan melalui pembedahan.
Sekitar 25-35% penderita karsinoma duktal akan menderita kanker invasive (biasanya
pada payudara yang sama).

3. Karsinoma lobuler
Karsinoma lobuler mulai tumbuh di dalam kelenjar susu, biasanya terjadi setelah
menopause. Kanker ini tidak dapat diraba dan tidak terlihat pada mammogram, tetapi
biasanya ditemukan secara tidak sengaja pada mammografi yang dilakukan untuk
keperluan lain. Sekitar 25-30% penderita
karsinoma lobuler pada akhirnya akan
menderita kanker invasive. Gejala pada
karsinoma lobuler sering tidak tampak
sebagai benjolan yang nyata, seringkali
hanya berupa rasa penuh atau bengkak,
perubahan kulit diatas payudara dan
retraksi puting susu.

4. Kanker invasif

Kanker invasif adalah kanker yang telah


menyebar dan merusak jaringan lainnya,
bisa terlokalisir (terbatas pada payudara)
maupun metastatik (menebar kebagian
tubuh lainnya). Sekitar 80% kanker
payudara invasif adalah kanker duktal
dan 10% adalah kanker lobular.3,4,6

V. Patofisiologi

Kanker payudara menginvasi secara lokal dan menyebar pertama kali melalui kelenjar
getah bening regional, aliran darah, atau keduanya. Kanker payudara yang bermetastasis dapat
mengenai hampir seluruh organ tubuh, terutama paru-paru, hepar, tulang, otak dan kulit.2,5

Kebanyakan metastase kulit terjadi dekat dengan tempat dilakukannya bedah


payudara, metastasis ke kulit kepala juga sering ditemukan. Metastasis kanker payudara
biasanya muncul bertahun-tahun atau beberapa dekade setelah diagnosis pertama dan terapi.4

Reseptor estrogen dan progesteron, pada beberapa kanker payudara, merupakan


reseptor hormon inti yang mempromosikan replikasi DNA dan pembelahan sel saat hormon
yang tepat berikatan dengan reseptornya. Karenanya obat yang mem-blok reseptor tersebut
dapat bermanfaat untuk terapi tumor dengan reseptor hormon. Pada sekitar 2/3 wanita
postmenopause memiliki tumor dengan reseptor estrogen yang positif (ER+). Insidens tumor
ER+ lebih rendah pada pasien premenopause.4,5

Reseptor seluler lainnya adalah ‘human epidermal growth factor receptor 2‘ (HER2),
keberadaannya berkorelasi dengan prognosis yang lebih buruk pada stadium kanker
berapapun.3,4,5

VI. Diagnosis

A. Gejala Klinis

Benjolan di payudara biasanya mendorong penderita untuk ke dokter. Benjolan ganas


yang kecil sukar dibedakan dengan benjolan tumor jinak, tetapi kadang dapat diraba benjolan
ganas yang melekat pada jaringan sekitarnya.6

Gejala awal berupa sebuah benjolan yang biasanya dirasakan berbeda dari jaringan
payudara disekitarnya, tidak menimbulkan nyeri dan biasanya memiliki pinggiran yang tidak
teratur. Pada stadium awal, jika didorong oleh jari tangan, benjolan bisa digerakkan dengan
mudah dibawah kulit. Pada stadium lanjut, benjolan biasanya melekat pada dinding dada atau
kulit disekitarnya.1,2,6

Pada kanker stadium lanjut, bisa terbentuk benjolan yang membengkak atau borok
dikulit payudara. Kadang kulit di atas benjolan mengkerut dan tampak seperti kulit jeruk.
Dapat juga ditemukan gejala dan tanda metastasis kanker (lihat Tabel 1: Gejala dan tanda
metastasis kanker payudara).2,6

Gejala lainnya yang mungkin ditemukan:

1. Benjolan atau massa di ketiak.

2. Perubahan ukuran atau bentuk payudara.

3. Keluar cairan yang abnormal dari puting susu (biasanya berdarah atau berwarna
kuning sampai hijau, mungkin juga bernanah).

4. Perubahan pada warna atau tekstur kulit pada payudara, puting susu maupun areola
(daerah berwarna coklat tua disekeliling puting susu).
5. Payudara tampak kemerahan.

6. Kulit disekitar puting susu bersisik.

7. Puting susu tertarik kedalam atau terasa gatal.

8. Nyeri payudara atau pembengkakan salah satu payudara. Pada stadium lanjut bisa
timbul nyeri tulang, penurunan berat badan, pembengkakan lengan atau ulserasi
kulit.1,2,3,4,5,6

B. Pemeriksaan Fisik:

• Massa tumor: ukuran, lokasi, bentuk, konsistensi, terfiksir atau tidak terfiksir kekulit
atau dinding dada .

• Perubahan kulit: kemerahan, oedem, peau d’orange, dimpling, nodul satelit, ulserasi

• Perubahan putting susu: tertarik, kemerahan, erosi, krusta, perubahan warna,


cairan(discharge) hemoragis atau tidak.

• Status kelenjar getah bening


KGB axilla: jumlah, lokasi, ukuran, terfiksasi satu dengan yang lain atau sekitar,
suspek jinak atau ganas
KGB intraklavikula
KGB supraklavikula

• Kelainan-kelainan berhubungan dengan metastasis :


Sakit tekan dan sakit ketuk tulang-tulang
Kelainan paru-paru
Kelainan berhubungan dengan system saraf sentral.1,2,6

C. Penyaringan (Skrining)

Kanker pada stadium awal jarang menimbulkan gejala, karena itu sangat penting untuk
dilakukan penyaringan. Beberapa prosedur yang digunakan untuk penyaringan kanker
payudara:
1. SADARI (Pemeriksaan Payudara Sendiri)

Jika SADARI dilakukan secara rutin, seorang wanita akan dapat menemukan benjolan
pada stadium dini.

2. Mammografi

Pada mammografi digunakan sinar X dosis rendah untuk menemukan daerah yang
abnormal pada payudara.

3. USG payudara

Digunakan untuk membedakan kista (kantong berisi cairan ) dengan benjolan padat.

4. Termografi

Pada termografi digunakan suhu untuk menemukan kelainan pada payudara.4,5,6

D. Dasar diagnosis kanker mammae:

1. Dasar diagnosis klinis


Tumor pada mammae yang tumbuh progesif dengan tanda-tanda infiltrasi dan atau
metastasis

2. Dasar diagnosis patologi


Tumor dengan tanda-tanda keganasan.5,6

E. Pemeriksaan Penunjang Klinis 3,6

a. Pemeriksaan radiologis
1.Mammografi / USG mammae
2.X-foto thoraks
3.Kalau perlu: Tulang-tulang - Bone scan, USG abdomen - CT scan

b. Pemeriksan laboratorium

1.Rutin: darah lengkap, urin


2.Gula darah: puasa dan 2 jam pp
3.Enzym: alkali fosfatase, LDH
4. Hormon reseptor: ER, PR
5. Kalau perlu: aktivitas estrogen / vaginal smear

c. Pemeriksaan sitologis

1.Biopsi dari tumor (FNAB, biopsi insisi, biopsi eksisi)


2.Cairan kista
3.Cairan pleura
4.Sekret puting susu

F. Staging (Penentuan Stadium Kanker)

Penentuan stadium kanker penting sebagai panduan pengobatan, follow-up, dan


penentuan prognosis. Pada saat ini penetapan stadium kanker payudara berdasarkan TNM
(Tumor, Node, Metastasis) system yang berlaku diseluruh dunia. Sistem internasional ini
mula- mula dilaporkan pada pertemuan International Union Againts cancer di Sao Paulo,
Brazilia pada tahun 1954. kemudian oleh The American Joint Committee on Cancer Staging
and End Results Reporting pada tahun 1974.

Klasifikasi TNM UICC 2002:

Tumor

 TX Tumor primer tidak dapat ditentukan

 TO Tidak ada bukti adanya tumor primer

 TIS Karsinoma in situ

 T1 Tumor ≤ 2 cm

 T1a Tumor 0,1-0,5cm

 T1b Tumor 0,5-1 cm


 T1c Tumor 1-2 cm

 T2 Tumor 2-5 cm

 T3 Tumor >5cm

 T4 Ukuran tumor berapapun dengan ekstensi langsung ke dinding dada / kulit

 T4a Ekstensi ke dinding dada tidak termasuk otot pektoralis

 T4b Edema (termasuk peau d'orange), ulserasi, nodul satelit pada kulit yang
terbatas pada satu payudara

 T4c Mencakup kedua hal diatas

 T4d Mastitis karsinomatosa

Nodul limfatik

 NX Kelenjar regional tidak bisa dinilai

 NO Tidak terdapat metastasis KGB

 N1 Metastasis ke KGB aksila ipsilateral yang mobile

 N2 Metastasis ke KGB aksila terfiksir, berkongomerasi,atau adanya pembesaran

KGB mamaria interna ipsilateral tanpa adanya metastasis ke KGB aksila

 N2a Metastasis pada KGB aksila terfiksir atau melekat ke struktur lain

 N2b Metastasis hanya pada KGB mamaria internal ipsilateral secara klinis dan
tidak terdapat pada KGB aksila

 N3 Metastasis pada KGB infraklavikular ipsilateral dengan atau tanpa


metastasis KGB aksila atau klinis terdapat metastasis pada KGB mamaria
interna ipsiliateral klinis dan metastasis pada KB aksila; atau metastasis
pada KGB supraklavikula ipsilateral dengan atau tanpa metastasis pada KGB
aksila / mamaria interna

 N3a Metastasis ke KGB infraklavikular ipsilateral

 N3b Metastasis ke KGB mamaria


interna dan KGB ipsilateral

• N3c Metastasis ke KGB supraklavikula

Metastasis

• MX Tidak dapat ditentukan metastasis jauh

• MO Tidak ada metastasis jauh

• M1 Terdapat metastais jauh ke kelenjar supraklavikuler 2,6

Staging kanker payudara (American Joint Committee on Cancer):

Stadium 0 : Kanker in situ dimana sel-sel kanker berada pada tempatnya di dalam payudara
yang normal.

Stadium I : Tumor dengan garis tengah kurang dari 2 cm dan belum menyebar keluar
payudara.

Stadium IIA : Tumor dengan garis tengah 2-5 cm dan belum menyebar ke kelenjar getah
bening ketiak atau tumor dengan garis tengah kurang dari 2 cm tetapi sudah
menyebar ke kelenjar getah bening ketiak.

Stadium IIB : Tumor dengan garis tengah lebih besar dari 5 cm dan belum menyebar ke
kelenjar getah bening ketiak atau tumor dengan garis tengah 2-5 cm tetapi
sudah menyebar ke kelenjar getah bening ketiak.

Stadium IIIA : Tumor dengan garis tengah kurang dari 5 cm dan sudah menyebar ke kelenjar
getah bening ketiak disertai perlengketan satu sama lain atau perlengketan ke
struktur lainnya; atau tumor dengan garis tengah lebih dari 5 cm dan sudah
menyebar ke kelenjar getah bening ketiak.

Stadium IIIB : Tumor telah menyusup keluar payudara, yaitu ke dalam kulit payudara atau ke
dinding dada atau telah menyebar ke kelenjar getah bening di dalam dinding
dada dan tulang dada.

Stadium IV : Tumor telah menyebar keluar daerah payudara dan dinding dada, misalnya ke
hati, tulang dan paru-paru.1,2,3,4,6
Tabel 1. Gejala dan tanda metastasis kanker payudara2

Letak Gejala dan tanda

Otak Nyeri kepala, mual-muntah, epilepsi, ataksia, paresis, parestesia


Pleura Efusi, sesak nafas
Paru biasanya asimptom.
Hati Massa, ikterus obstruktif, kadang tanpa gejala.
Tulang:
- tengkorak Nyeri, kadang (-)
- vertebra Pegal-pegal, gg sumsum tulang
- iga &tulang Nyeri, patah tulang
panjang

VII. Tatalaksana

Ada tiga macam terapi utama pada karsinoma mammae:

- Operatif

- Terapi radiasi

- Terapi hormonal, kemoterapi, atau keduanya

Untuk kebanyakan pasien, terapi primer merupakan pembedahan yang sering diikuti dengan
terapi radiasi. Kemoterapi, terapi hormonal, maupun keduanya dapat juga dipakai, tergantung
dari tumor dan karakteristik pasien (lihat Tabel 2: Kelainan Payudara: Terapi berdasarkan
Jenis Kanker)

Tabel 2.Kelainan Payudara: Terapi berdasarkan jenis kanker

Terapi berdasarkan Jenis Kanker

Jenis Terapi yang mungkin

DCIS Mastektomi

Wide excision dengan atau tanpa* terapi radiasi

LCIS Observasi dengan pemeriksaan regular dan mamogram

Tamoxifen atau, untuk wanita postmenopause, raloxifene

untuk mengurangi risiko kanker invasif

Mastektomi Bilateral Profilaksis (jarang)


Stadium I and II (stadium Breast-conserving surgery untuk membuang tumor dan jaringan

awal) sekitarnya diikuti terapi radiasi

Kadang mastektomi dengan rekonstruksi payudara.

Kemoterapi postoperatif, terapi hormonal, trastuzumab, atau

kombinasi, kecuali pada wanita postmenopause dengan tumor < 1 cm

Preoperative chemotherapy jika tumor> 5 cm

Stage III (locally advanced) Preoperative systemic therapy, usually chemotherapy

Breast-conserving surgery or mastectomy if tumor is resectable after

preoperative therapy

Mastectomy for inflammatory breast cancer

Usually, postoperative radiation therapy

Sometimes postoperative chemotherapy, hormonal therapy, or both

Stage IV (metastatic) cancer If cancer is symptomatic and multifocal, hormone therapy, ovarian

ablation therapy, or chemotherapy

If HER2 is overexpressed, trastuzumab

For brain metastases, local skin recurrences, or isolated, symptomatic

bone metastases, radiation therapy

For bone metastases, IV bisphosphonates to reduce bone loss and

bone pain

Paget's disease of the nipple Usually, the same as for other types

Occasionally, local excision only

Locally recurrent breast Mastectomy, sometimes preceded by chemotherapy or hormone

cancer therapy

Phyllodes tumors if Wide excision

cancerous Mastectomy if the mass is large or histology suggests cancer

*Wide excision may be used alone, especially if the lesion is < 2.5 cm and histologic characteristics are favorable, or with

radiation therapy if size and histologic characteristics are less favorable.

DCIS = ductal carcinoma in situ; LCIS = lobular carcinoma in situ.

Pembedahan

Untuk pasien dengan kanker invasif angka survival tidak berbeda secara signifikan
jika dilakukan mastektomi radikal yang dimodifikasi (simple mastektomi ditambah diseksi
kelenjar getah bening aksila) atau breast-conserving surgery ditambah terapi radiasi. Breast-
conserving surgery termasuk lumpektomi, eksisi luas (wide excision) atau quadranektomi.
Pilihan pasien dapat membantu menentukan pilihan terapi. Keutungan dari breast-conserving
surgery ditambah radiasi adalah kosmetik. Pada 15% pasien yang telah diterapi, hasil
kosmetiknya memuaskan.

Beberapa dokter menggunakan kemoterapi preoperatif untuk mengecilkan tumor


sebelum membuangnya dan diberi terapi radiasi, sehingga beberapa pasien yang
membutuhkan mastektomi dapat dilakukan breast-conserving surgery. Data terbaru
menunjukkan teknik seperti ini tidak mempengaruhi survival.

Terapi radiasi setelah mastektomi secara signifikan mengurangi insidens dari rekurensi
lokal pada dinding dada dan KGB regional dan mungkin meningkatkan survival keseluruhan
pada pasien dengan tumor primer >5cm atau dengan keterlibatan >4 KGB axilla.

Surgery for Breast Cancer

Pembedahan untuk kanker payudara terdiri dari dua pilihan utama


• Breast-conserving surgery, which includes lumpectomy (removal of a small amount of
surrounding normal tissue), wide excision or partial mastectomy (removal of a somewhat
larger amount of the surrounding normal tissue), and quadrantectomy (removal of 1/4 of the
breast)

• Mastectomy (removal of all breast tissue)

Terapi Ajuvan Sistemik

Pasien dengan LCIS sering diterapi dengan tamoxifen oral harian. Untuk wanita
postmenopause, raloksifen sebagai alternatif. Untuk pasien dengan kanker invasif, kemoterapi
atau terapi hormone biasanya dimulai sesegera mungkin setelah pembedahan dan dilanjutkan
selama beberapa bulan atau bertahun-tahun, untuk memperlambat atau mencegah rekurensi
pada hampir seluruh pasien, dan memperpanjang survival pada beberapa pasien.
Bagaimanapun, beberapa ahli percaya bahwa terapi ini tidak penting untuk tumor yang
berukuran <1cm tanpa perubahan KGB (terutama pada wanita postmenopause) karena
prognosisnya sudah memuaskan. Jika tumor >5cm, terapi ajuvan sistemik harus dilakukan
sebelum pembedahan.

Pasien postmenopause dengan tumor ER- mendapat keuntungan terbaik dengan


kemoterapi ajuvan (lihat Tabel 3: Pilihan Terapi Ajuvan Sistemik untuk Kanker Payudara).

Tabel 3

Pilihan Terapi Ajuvan Sistemik untuk Kanker Payudara

KGB Axilla Premenopausal Postmenopausal

ER+ ER− ER+ ER−

Negative* Tamoxifen Chemotherapy An aromatase inhibitor Chemotherapy

with or without ortamoxifen (orraloxifene)

chemotherapy with or without chemotherapy

Positive Chemotherapy Chemotherapy Chemotherapy (with or Chemotherapy

(with or without a (including a without a taxane) plus an (including a taxane)

taxane) taxane) aromatase inhibitor

plustamoxifen ortamoxifen (orraloxifene )

ER = estrogen receptor.

*Treatment of node-negative tumors also depends on tumor size and grade.

Note: For all protocols involving chemotherapy, enrollment in a clinical trial is often considered.

Regimen kemoterapi kombinasi (mis, siklofosfamid, metotreksat, ditambah 5-


fluorourasil; doksorubisin ditambah siklofosfamid; doksetasel ditambah siklofosfamid) lebih
efektif dibandingkan obat tunggal. Regimen diberikan selama 4-6 bulan, sama efektifnya
dengan regimen yang diberikan selama 6-24 bulan. Efek yang tidak diharapkan tergantung
dari regimennya, biasanya terjadi mual, muntah, mukositis, fatique, alopesia, mielosupresi,
dan trombositopeni.

VIII. Prognosis
Prognosis jangka panjang tergantung dari stadium tumor (lihat pada Tabel 1:Kelainan
Payudara: Stadium dan Survival dari Kanker Payudara). Status nodul (termasuk jumlah dan
lokasinya) berhubungan dengan kebebasan dari penyakit dan suvival keseluruhan yang paling
baik dibandingkan dengan faktor prognosis lainnya.5

Tabel 1: Kelainan Payudara: Stadium dan Survival dari Kanker Payudara

Stadium Tumor KGB regional/ 10-thn Disease-Free Survival (%)*

Mestastasis Jauh
Tanpa Terapi Terapi Optimal

0 Tis N0/M0 94 98

I T1† N0/M0 92 96

IIA T0 N1/M0 80 90

T1† N1/M0 75 87

T2 N0/M0 83 90

IIB T2 N1/M0 60 80

T3 N0/M0 50 75

IIIA T0 N2/M0 50 75

TI† N2/M0 60 80

T2 N2/M0 55 75

T3 N1/M0 45 70

T3 N2/M0 30 65

IIIB T4 N0/M0 25 40

T4 N1/M0 10 30

T4 N2/M0 5 10

IIIC Any T N3/M0 5 10

IV Any T Any N/M1 5 10

Diadaptasi dari: American Joint Committee on Cancer, AJCC Cancer Staging Manual, Sixth Edition. New York, Springer-

Verlag, 2002 and Thor A: A revised staging system for breast cancer. The Breast Journal 10 (S1): S15–S18 2004.

Prognosis buruk berhubungan dengan faktor-faktor berikut ini:3,4,5

• Usia muda: Prognosis tampak lebih buruk pada pasien yang terdiagnosa kanker
payudara pada usia 20 dan 30 tahun-an dibandingkan pada pasien yang terdiagnosa
kanker pada usia paruh baya.
• Tumor primer yang lebih besar: Tumor yang besar seringkali disertai nodul yang
positif, tumor yang besar juga menunjukkan prognosis yang buruk diluar dari status
nodusnya.

• Stadium tumor yang tinggi: Pasien dengan tumor yang berdiferensiasi buruk
memiliki prognosis yang lebih buruk.

• Tidak adanya reseptor estrogen dan progesteron: Pasien dengan tumor ER+
memiliki prognosis yang lebih baik dan memiliki keuntungan dari terapi hormone.
Pasien dengan reseptor progesterone pada tumor juga memiliki prognosis yang lebih
baik. Pasien dengan kedua reseptor estrogen dan progesterone pada tumor memiliki
prognosis yang lebih baik lagi dibandingkan dengan mereka yang hanya memiliki satu
buah reseptor, namun hal ini belum jelas.

• Keberadaan HER2 protein: Ketika gen HER2 overexpresif, peningkatan


pertumbuhan dan reproduksi sel seringkali menghasilkan sel tumor yang lebih agresif.
Overekspresif dari HER2 merupakan faktor risiko independen untuk prognosis yang
buruk.

• Keberadaan dari gen BRCA: Untuk semua stadium, pasien dengan gen BRCA1
tampak memiliki prognosis yang lebih buruk dengan mereka yang tidak, mungkin
karena tingginya proporsi dari stadium kanker yang tinggi dan reseptor hormone yang
negatif. Pasien dengan gen BRCA 2 memiliki prognosis yang sama dengan mereka
yang tidak mempunyai gen tersebut jika tumornya memiliki sifat yang sama.

IX. Pencegahan

Banyak faktor resiko yang tidak dapat dikendalikan. Beberapa ahli diet dan ahli
kanker percaya bahwa diet dan gaya hidup secara umum bisa mengurangi angka kejadian
kanker.
Diusahakan untuk melakukan diagnosis dini kanker payudara lebih mudah diobati dan masih
bisa disembuhkan jika masih pada stadium dini. SADARI, pemeriksaan payudara secara
klinis dan mammografi sebagai prosedur penyaringan merupakan 3 alat untuk mendeteksi
kanker secara dini. 4,6

Penelitian terakhir telah menyebutkan 2 macam obat yang terbukti bisa mengurangi
resiko kanker payudara, yaitu tamoksifen dan raloksifen. Keduanya adalah anti estrogen di
dalam jaringan payudara.Tamoksifen telah banyak digunakan untuk mencegah kekambuhan
pada penderita yang telah menjalani pengobatan untuk kanker payudara. Obat ini bisa
digunakan pada wanita yang memiliki resiko sangat tinggi. 6

Mastektomi pencegahan adalah pembedahan untuk mengangkat salah satu atau kedua
payudara dan merupakan pilihan untuk mencegah kanker payudara pada wanita yang
memiliki resiko sangat tinggi (misalnya wanita yang salah satu payudaranya telah diangkat
karena kanker).6

DAFTAR PUSTAKA
1. Buku rebil

2. Wim de jong

3. Weiss M. Understanding Breast Cancer [online] dalam: BREASTCANCER.ORG.


Terakhir diubah: 24 May 2010. Diunduh dari: <http://www.breastcancer.org
/symptoms/understand_bc/>. Diakses tanggal 15 April 2011, pk.23:45 WIB.

4. Swart R, Harris JE. Breast Cancer [online] dalam: Medscape Reference. Terakhir
diubah: 29 Maret 2011. Diunduh dari:
<http://emedicine.medscape.com/article/1947145-overview#aw2aab6b2b6aa>.
Diakses tanggal 15 April 2011, pk 23:55 WIB.

5. Vogel, VG. Breast Cancer [online] dalam: The Merck’s Manual-Online Medical
Library. Terakhir diubah: November 2008. Diunduh dari:
<http://www.merckmanuals.com /professional/sec18/ch253/ch253e.html>. Diakses
tanggal 15 April, pk 24:05 WIB.
6. Anonim. Kanker Payudara [online]. Diunduh dari: <http://makalah-kesehatan-
online.blogspot.com/2009/01/kanker-payudara.html>. Diakses tanggal 15 April, pk
24:12 WIB