Anda di halaman 1dari 16

DAFTAR ISI

DAFTAR ISI………………………………………………………...…. 1
BAB I……………………...……………………………………………. 2
PENDAHULUAN……………………………………………………… 2
A. Latar Belakang……………………………………………….......….. 2
B. Rumusan Masalah………………………………………...…………. 3
C. Tujuan……………………………………………………...………....3
BAB II TINJAUAN PUSTAKA…………………………………….… 4
A. Manusia dan Lingkungan Hidup……………...………………………4
B. Lingkungan Hidup…………………………………………………....4
C. Definisi Lingkungan Hidup Indonesia………………………………..5
D. Pengertian Etika,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,5
E. Jenis-jenis Etika Lingkungan……………………………………...….7
F. Etika Ekologi Dangkal………………………………………………..7
G. Etika Ekologi Dalam………………………………………………….8
H. Prinsip Integritas Moral……………………………………………....9
I. Etika Baru Lingkungan…………………………………………….....9
J. Kesadaran Lingkungan…………………………………………….. .12
BAB III………………………………………………………………....13
PENUTUP…………………………………………………………...…13
A. Kesimpulan………………………..………………………………..13
B. Saran……………………………………………………………..…13

DAFTAR PUSTAKA……………………………………………….…15

1
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pada umumnya manusia bergantung pada keadaan lingkungan


disekitarnya yaitu berupa sumber daya alam yang dapat menunjang kehidupan
sehari-hari. Sumber daya alam yang utama bagi manusia adalah tanah, air, dan
udara. Tanah merupakan tempat manusia untuk melakukan berbagai kegiatan.
Air sangat diperlukan oleh manusia sebagai komponen terbesar dari tubuh
manusia. Untuk menjaga keseimbangan, air sangat dibutuhkan dengan jumlah
yang cukup banyak dan memiliki kualitas yang baik. Selain itu, udara
merupakan sumber oksigen yang alami bagi pernafasan manusia. Lingkungan
yang sehat akan terwujud apabila manusia dan lingkungannya dalam kondisi
yang baik.
Krisis lingkungan hidup yang dihadapi manusia modern merupakan
akibat langsung dari pengelolaan lingkungan hidup yang “nir-etik”. Artinya,
manusia melakukan pengelolaan sumber-sumber alam hampir tanpa peduli
pada peran etika. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa krisis ekologis
yang dihadapi umat manusia berakar dalam krisis etika atau krisis moral.
Umat manusia kurang peduli pada norma-norma kehidupan atau mengganti
normanorma yang seharusnya dengan norma-norma ciptaan dan
kepentingannya sendiri. Manusia modern menghadapi alam hampir tanpa
menggunakan ‘hati nurani. Alam begitu saja dieksploitasi dan dicemari tanpa
merasa bersalah. Akibatnya terjadi penurunan secara drastis kualitas sumber
daya alam seperti lenyapnya sebagian spesies dari muka bumi, yang diikuti
pula penurunan kualitas alam. Pencemaran dan kerusakan alam pun akhirnya
mencuat sebagai masalah yang mempengaruhi kehidupan sehari-hari manusia.

2
B. Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalahdari makalah ini, yaitu:
1. Pengertian etika Lingkungan?
2. Jenis-jenis etika Lingkungan?
3. Teori tentang etika Lingkungan?
4. Prinsip-prinsip etika Lingkungan?

C. Tujuan
Adapun tujuan penulisan dari makalah ini adalah
sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui pengertian dari etika Lingkungan.
2. Untuk mengetahui jenis-jenis etika Lingkungan.
3. Untuk mengetahui teori tentang etika Lingkungan.
4. Untuk mengetahui prinsip-prinsip dari etika Lingkungan.

3
BAB II
ETIKA LINGKUNGAN HIDUP

A. Manusia dan Lingkungan Hidup


Manusia dan lingkungan hidup (alam) memiliki hubungan sangat
erat. Keduanya saling memberi dan menerima pengaruh besar satu sama lain.
Pengaruh alam terhadap manusiamanusia lebih bersifat pasif, sedangkan
pengaruh manusia terhadap alam lebih bersifat aktif. Manusia memiliki
kemampuan eksploitatif terhadap alam sehingga mampu mengubahnya sesuai
yang dikehendakinya. Dan walaupun alam tidak memilikim keinginan dan
kemampuan aktif-eksploitatif terhadap manusia, namun pelan tapi pasti, apa
yang terjadi pada alam, langsung atau tidak langsung, akan terasa
pengaruhnya bagi kehidupan manusia. Lingkungan yang indah dan lestari
akan membawa pengaruh positif bagi kesehatan dan bahkan keselamatan
manusia; sebaliknya, lingkungan yang buruk bagi kehidupan manusia.
Tindakan eksploitatif manipulatif terhadap alam akan mengakibatkan
kerusakan langsung terhadap alam, dan secara tidak langsung hal itu akan
berdampak negatif bagi kehidupan manusia khususnya, dan kehidupan
berbagai mahluk lain pada umumnya. Sebaliknya, apabila manusia
menunjukkan kasih sayang yang besar terhadap alam, dengan memelihara dan
melestarikannya, maka alam akan menjamin kelangsungan hidup manusia
dalam suasana nyaman dan menyenangkan.
B. Lingkungan hidup
Lingkungan hidup dapat didefinisikan sebagai:

1. Daerah di mana sesuatu mahluk hidup berada.


2. Keadaan/kondisi yang melingkupi suatu mahluk hidup.
3. Keseluruhan keadaan yang meliputi suatu mahluk hidup atau sekumpulan
mahluk hidup, terutama:

4
• Kombinasi dari berbagai kondisi fisik di luar mahluk hidup yang
mempengaruhi pertumbuhan, perkembangan dan kemampuan
mahluk hidup untuk bertahan hidup.
• Gabungan dari kondisi sosial and budaya yang berpengaruh pada
keadaan suatu individu mahluk hidup atau suatu
perkumpulan/komunitas mahluk hidup.
Istilah lingkungan dan lingkungan hidup atau lingkungan hidup manusia
seringkali digunakan silih berganti dalam pengertian yang sama. Apabila
lingkungan hidup itu dikaitkan dengan hukum/aturan pengelolaannya, maka
batasan wilayah wewenang pengelolaan dalam lingkungan tersebut harus
jelas.

C. Definisi Lingkungan Hidup Indonesia

Lingkungan hidup bagi bangsa Indonesia tidak lain merupakan


Wawasan Nusantara, yang menempati posisi silang antara dua benua dan dua
samudera dengan iklimtropisdan cuacaserta musimyang memberikan kondisi
alamiah dan kedudukan dengan peranan strategis yang tinggi nilainya, tempat
bangsa indonesiamenyelenggarakan kehidupan bernegara dalam segala
aspeknya. Secara hukum maka wawasan dalam menyelenggarakan penegakan
hukum pengelolaanlingkunganhidupdiindonesiaadalahwawasannusantara.

Persetujuan Internasional Tentang Lingkungan Hidup Indonesia


termasuk dalam perjanjian: Biodiversitas, Perubahan Iklim, Desertifikasi,
Spesies yang Terancam, Sampah Berbahaya, Hukum Laut, Larangan Ujicoba
Nuklir, Perlindungan Lapisan Ozon, Polusi Kapal, Perkayuan Tropis 83,
Perkayuan Tropis 94, Dataran basah, Perubahan Iklim Protokol Kyoto (UU
17/2004), Perlindungan Kehidupan Laut (1958) dengan UU 19/19 Masalah
Lingkungan Hidup di Indonesia.Bahaya alam: banjir, kemarau panjang,

5
tsunami, gempa bumi, gunung berapi, kebakaran hutan, gunung lumpur, tanah
longsor.

D. Pengertian Etika Lingkungan

Etika Lingkungan berasal dari dua kata, yaitu Etika dan Lingkungan.
Etika berasal dari bahasa yunani yaitu “Ethos” yang berarti adat istiadat atau
kebiasaan. Ada tiga teori mengenai pengertian etika, yaitu: etika Deontologi,
etika Teologi, dan etika Keutamaan. Etika Deontologi adalah suatu tindakan
di nilai baik atau buruk berdasarkan apakah tindakan itu sesuai atau tidak
dengan kewajiban. Etika Teologi adalah baik buruknya suatu tindakan
berdasarkan tujuan atau akibat suatu tindakan. Sedangkan Etika keutamaan
adalah mengutamakan pengembangan karakter moral pada diri setiap orang.
Lingkungan adalah segala sesuatu yang ada di sekitar manusia yang
mempengaruhi kelangsungan kehidupan kesejahteraan manusia dan makhluk
hidup lain baik secara langsung maupun secara tidak langsung. Jadi, etika
lingkungan merupakan kebijaksanaan moral manusia dalam bergaul dengan
lingkungannya.etika lingkungan diperlukan agar setiap kegiatan yang
menyangkut lingkungan dipertimbangkan secara cermat sehingga
keseimbangan lingkungan tetap terjaga.
Adapun hal-hal yang harus diperhatikan sehubungan dengan
penerapan etika lingkungan sebagai berikut:
a. Manusia merupakan bagian dari lingkungan yang tidak terpisahkan
sehingga perlumenyayangi semua kehidupan dan lingkungannya selain
dirinya sendiri.
b. Manusia sebagai bagian dari lingkungan, hendaknya selalu berupaya untuk
menjaga terhadap pelestarian , keseimbangan dan keindahan alam.
c. Kebijaksanaan penggunaan sumber daya alam yang terbatas termasuk
bahan energy.

6
d. Lingkungan disediakan bukan untuk manusia saja, melainkan juga untuk
makhluk hidup yang lain.

Di samping itu, etika Lingkungan tidak hanya berbicara mengenai


perilaku manusia terhadap alam, namun juga mengenai relasi di antara semua
kehidupan alam semesta, yaitu antara manusia dengan manusia yang
mempunyai dampak pada alam dan antara manusia dengan makhluk hidup lain
atau dengan alam secara keseluruhan.

E. Jenis-Jenis Etika Lingkungan


Etika Lingkungan disebut juga Etika Ekologi. Etika Ekologi selanjutnya
dibedakan dan menjadi dua yaitu etika ekologi dalam dan etika ekologi
dangkal. Selain itu etika lingkungan juga dibedakan lagi sebagai etika
pelestarian dan etika pemeliharaan. Etika pelestarian adalah etika yang
menekankan pada mengusahakan pelestarian alam untuk kepentingan manusia,
sedangkan etika pemeliharaan dimaksudkan untuk mendukung usaha
pemeliharaan lingkungan untuk kepentingan semua makhluk.

F. Etika Ekologi Dangkal


Etika Ekologi Dangkal adalah pendekatan terhadap lingkungan yang
menekankan bahwa lingkungan sebagai sarana untuk kepentingan manusia,
yang bersifat antroposentris. Etika Ekologi Dangkal ini biasanya diterapkan
pada filsafat rasionalisme dan humanisme serta ilmu pengetahuan mekanistik
yang kemudian diikuti dan dianut oleh banyak ahli lingkungan. Kebanyakan
para ahli lingkungan ini memiliki pandangan bahwa alam bertujuan untuk
memenuhi kebutuhan hidup manusia.
Etika ini dapat digolongkan menjadi dua yaitu etika antroposentris yang
menekankan segi estetika dari alam dan etika antroposentris yang
mengutamakan kepentingan generasi penerus. Etika ekologi dangkal yang
berkaitan dengan kepentingan estetika didukung oleh dua tokohnya yaitu

7
EugeneHargrove dan Mark Sagoff. Menurut mereka etika lingkungan harus
dicari pada aneka kepentingan manusia, secara khusus kepentingan estetika.
Sedangkan etika antroposentris yang mementingkan kesejahteraan
generasi penerus mendasarkan pada perlindungan atau konservasi alam yang
ditujukan untuk generasi penerus manusia. Secara umum, Etika ekologi
dangkal ini menekankan hal-hal berikut ini :
1. Manusia terpisah dari alam.
2. Mengutamakan hak-hak manusia atas alam tetapi tidak menekankan
tanggung jawab manusia.
3. Mengutamakan perasaan manusia sebagai pusat keprihatinannya.
4. Kebijakan dan manajemen sunber daya alam untuk kepentingan manusia.
5. Norma utama adalah untung rugi.
6. Mengutamakan rencana jangka pendek.
G. Etika Ekologi Dalam
Yang dimaksud Etika Ekologi Dalam adalah pendekatan terhadap
lingkungan yang melihat pentingnya memahami lingkungan sebagai
keseluruhan kehidupan yang saling menopang, sehingga semua unsur
mempunyai arti dan makna yang sama. Etika ekologi ini memiliki prinsip yaitu
bahwa semua bentuk kehidupan memiliki nilai bawaan dan karena itu memiliki
hak untuk menuntut penghargaan karena harga diri, hak untuk hidup, dan hak
untuk berkembang. Premisnya adalah bahwa lingkungan moral harus
melampaui spesies manusia dengan memasukkan komunitas yang lebih luas.
Komunitas yang lebih luas disini maksudnya adalah komunitas yang
menyertakan binatang dan tumbuhan serta alam. Menurut pandangan etika ini
alam memiliki fungsi sebagai penopang kehidupan. Untuk itu lingkungan patut
dihargai dan diperlakukan dengan cara yang baik.
Etika ini juga disebut Etika Lingkungan Ekstensionisme dan Etika
Lingkungan Preservasi. Etika ini menekankan pemeliharaan alam bukan hanya

8
demi manusia tetapi juga demi alam itu sendiri. Karena alam disadari sebagai
penopang kehidupan manusia dan seluruh ciptaan. Untuk itu manusia dipanggil
untuk memelihara alam demi kepentingan bersama.
Etika lingkungan ini dibagi lagi menjadi beberapa macam menurut
fokus perhatiannya, yaitu Neo-Utilitarisme, Zoosentrisme, Biosentrisme, dan
Ekosentrisme. Etika Lingkungan Neo-Utilitarisme merupakan pengembangan
etika utilitarisme Jeremy Bentham yang menekankan kebaikan untuk semua.
Dalam konteks etika lingkungan maka kebaikan yang dimaksudkan, ditujukan
untuk seluruh makhluk. Tokoh yang memelopori etika ini adalah Peter Singer.
Dia beranggapan bahwa menyakiti binatang dapat dianggap sebagai perbuatan
tidak bermoral.Etika Lingkungan Zoosentrisme adalah etika yang menekankan
perjuangan hak-hak binatang, karenanya etika ini juga disebut Etika
Pembebasan Binatang. Tokoh bidang etika ini adalah Charles Brich. Menurut
etika ini, binatang mempunyai hak untuk menikmati kesenangan karena mereka
dapat merasa senang dan harus dicegah dari penderitaan. Sehingga bagi para
penganut etika ini, rasa senang, dan penderitaan binatang dijadikan salah satu
standar moral.
Menurut The SocietyforthePreventionofCrueltytoAnimals, perasaan
senang dan menderita mewajibkan manusia secara moral memperlakukan
binatang dengan penuh belas kasih.Etika Lingkungan Biosentrisme adalah etika
lingkungan yang lebih menekankan kehidupan sebagai standar moral. Salah
satu tokoh penganutnya adalah Kenneth Goodpaster. Menurut Kenneth rasa
senang atau menderita bukanlah tujuan pada dirinya sendiri. Bukan senang atau
menderita, akhirnya, melainkan kemampuan untuk hidup atau kepentingan
untuk hidup. Kepentingan untuk hidup yang harus dijadikan standar moral.
Sehingga bukan hanya manusia dan binatang saja yang harus dihargai secara
moral tetapi juga tumbuhan. Menurut Paul Taylor, karenanya tumbuhan dan

9
binatang secara moral dapat dirugikan atau diuntungkan dalam proses
perjuangan untuk hidup mereka sendiri, seperti bertumbuh dan bereproduksi.
Etika Lingkungan Ekosentrisme adalah sebutan untuk etika yang
menekankan keterkaitan seluruh organisme dan anorganisme dalam ekosistem.
Setiap individu dalam ekosistem diyakini terkait satu dengan yang lain secara
mutual. Planet bumi menurut pandangan etika ini adalah semacam pabrik
integral, suatu keseluruhan organisme yang saling membutuhkan, saling
menopang dan saling memerlukan.
Sehingga proses hidup-mati harus terjadi dan menjadi bagian dalam tata
kehidupan ekosistem. Kematian dan kehidupan haruslah diterima secara
seimbang. Hukum alam memungkinkan makhluk saling memangsa diantara
semua spesies. Ini menjadi alasan mengapa manusia boleh memakan unsur-
unsur yang ada di alam, seperti binatang maupun tumbuhan. Menurut salah satu
tokohnya, John B. Cobb, etika ini mengusahakan keseimbangan antara
kepentingan individu dengan kepentingan keseluruhan dalam ekosistem.
Secara umum etika ekologi dalam ini menekankan hal-hal berikut :
1. Manusia adalah bagian dari alam.
2. Menekankan hak hidup mahluk lain, walaupun dapat dimanfaatkan
oleh manusia, tidak boleh diperlakukan sewenang-wenang.
3. Prihatin akan perasaan semua mahluk dan sedih kalau alam
diperlakukan sewenang-wenang.
4. Kebijakan manajemen lingkungan bagi semua mahluk.
5. Alam harus dilestarikan dan tidak dikuasai.
6. Pentingnya melindungi keanekaragaman hayati.
7. Menghargai dan memelihara tata alam.
8. Mengutamakan tujuan jangka panjang sesuai ekosistem.
9. Mengkritik sistem ekonomi dan politik dan menyodorkan sistem.

10
H. Prinsip integritas moral

Prinsip ini terutama dimaksudkan untuk pejabat public, dimana pejabat


public dituntut agar mempunyai sikap dan perilaku moral yang terhormat serta
memegang teguh prinsip- prinsip moral yang mengamankan kepentingan
public.
I. Etika Baru Lingkungan
Parahnya krisis lingkuangan akibat pembalakan liar, pembakaran
hutan dan pengeksploitasian lingkungan tanpa batas, telah lama menuai protes
keras dari masyarakat, baik lewat tulisan maupun lewat aksi demonstrasi. Dari
perspektif sejarah, gaung protes kaum pecinta lingkungan sebenarnya mulai
membahana, ketika Rachel Carson dalam bukunya Silent Spring (1962) secara
dramatis meramalkan ancaman kerusakan lingkungan yang menimbulkan
hancurnya ekosistem yang mengancam keselamatan penghuni bumi. Ia
meramalkan terjadi musim semi yang sunyi, tanpa kicauan dan indahnya
warna-warni.
Ironisnya, meski protes para pecinta lingkungan terus gencar, tetapi
hutan dan lingkungan disini tetap saja dieksploitasi tanpa batas, dan dibakar
sehingga semakin merusak lingkungan dan telah memusnahkan banyak
ekosistem didalamnya. Seperti bencana Lumpur beracun, PT lapindo Brantas
Sidoarjo, yang terkesan dibiarkan berlarut-larut sehingga menimbulkan
kerusakan lingkungan yang sangat parah, dan belum diketahui kapan selesai
penangananya .
Seperti kata Erich Fromm dalam bukunya To Haveorto Be, keinginan
padahal merupakan sesuatu yang tidak terbatas. Keinginan untuk memiliki
sesuatu akan muncul keinginan berikutnya yang akan menimbulkan
keserakahan. Keserakahan itu sifatnya tidak terbata, tidak pernah sampai pada
titik jenuh, karena ini menyangkut mental. Oleh karena itu, ada dua hal yang
harus diperhatikan secara serius. Pertama, sebagaimana kerap

11
dikumandangkan para pemerhati lingkungan, yaitu penegakan hokum secara
tegas terhadap semua perusak hutan. Bahkan itu menjadi kata kunci dari
semua permasalahan ini. Sikap bodoh dan permisif masyarakat terhadap
penjarahan hutan, pembakaran liar, dan pembakaran hutan disebabkan karena
kurng tegasnya pemerintah dalam menerapkan Hukum secara adil. Kedua,
sudah saatnya dibutuhkan kemanusiaan baru yang beretika, dan memiliki
kesadaran lingkungan yang tinggi, yang sanggup menghubungkan pola
kehidupan yang lebih sehat dengan lingkungan dan tidak bersifat eksploitatif.
Etika lingkungan seperti itu, kerap pula disebut etika lingkungan
yang namanya kontekstualisme atau etika kontekstual. Dalam kontekstualisme
ini tidak diperlawankan manusia dengan alam atau lingkungannya, tetapi
memandang dampak-dampak dari kontaknya sebagai perilaku yang mandiri.
Suatu etika yang berlandas kuat dalam kosmos, sekaligus dalam landas
pikiran dan tingkah laku manusia yang bukan hanya memanfaatkan alam demi
keuntungan semata, melainkan harus bertanggung jawab mengembangkan
daya-dayanya demi generasi yang akan dating. Artinya, dalam diri masyarakat
ditanamkan kesadaran lewat pembentukan kepribadian dan jiwa kosmis,
bahwa hutan memiliki fungsi yang sangat sentral untuk kehidupan kita
sekarang dan generasi yang akan datang. Dalam kaitannya ini, kata ekolog
Robin Attfield, manusia harus tegas merombak cara berpikir yang lazim
dalam pengelolaan alam, dan disiplin berpikir dengan bertolak dari sisi alam,
bukan dari sisinya sendiri.
Tuntutan suatu etika lingkungan hidup baru dapat dirangkum sebagai berikut :
a. Manusia harus belajar untuk menghormati alam. Alam dilihat tidak
sematamata sebagai sesuatu yang berguna bagi manusia, melainkan yang
mempunyai nilai sendiri. Kalau terpaksa manusia men-campuri
prosesproses alam, maka tidak seluruhnya dan dengan terus menerus
menjaga keutuhannya.

12
b. Manusia harus memberikan suatu perasaan tanggung jawab khusus
terhadap lingkungan lokal. Agar lingkungan manusia bersih, sehat,
alamiah, sejauh mungkin diupayakan agar manusia tidak membuang
sampah seenaknya,
c. Manusia harus merasa bertanggung jawab terhadap kelestarian biosfer.
Untuk itu, diperlukan sikap peka terhadap kehidupan.
d. Etika lingkungan hidup baru menuntut larangan keras untuk merusak,
mengotori dan meracuni. Terhadap alam atau bagiannya manusia tidak
mengambil sikap yang merusak, mematikan, menghabiskan, mengotori,
menyia-nyiakan, melumpuhkan, ataupun membuang.
e. Solidaritas dengan generasi-generasi yang akan datang. Harus menjadi
acuantetap dalam komunikasi dengan lingkungan

J. Kesadaran Lingkungan
Hasil penelitian teoritik tentang kesadarna lingkungan hidup dari
Neolaka (1991), menyatakan bahwa kesadaran adalah keadaan tergugahnya
jiwa terhadap sesuatu, dalam hal ini terhadap lingkungan hidup, yang dapat
terlihat dari perlaku dan tidakan masing-masing individu .Menurut Joseph
Murphy, kesadaran adalah siuman atau sadar akan tingkah lakunya yanitu
pikiran sadar yang diingini
Dari teori diatas maka dapat diberikan pengertian sebagai berikut.
Pertama, kesadaranialah pengetahuan sadar sama dengan tahu. Pengetahuan
akan hal yang nyata, konkrit, dimaksudkan adalah pengetahuan yang
mendalam. Contohnya jika ada pengetahuan bahwa dilarang membuang
sampah kesungai, itu penting ditaati, maka manusia tersebut menunjukkan
bahwa ia sadar lingkungan. Menurut Ensiklopedia Umum (1977) lingkungan
adalah alam sekitar termasuk orang-orangnya dalam hidup pergaulan yang
mempengaruhi manusia sebagai anggota masyarakat dalam kehidupan
kebudayaannya. Menurut Ensiklopedia Indonesia (1983), lingkungan adalah

13
segala sesuatu yang ada diluar organisme meliputi lingkungan mati yaitu
lingkungan diluar suatu organisme yang terdiri dari benda atau faktor alam
yang tidak hidup, seperti bahan kimia, cahaya, gravitasi, atmosfer, suhu, dan
lain-lain. Lingkungan hidup adalah lingkungan diluar suatu organisme yang
terdiri dari organisme hidup, seperti tumbuhan, hewan dan manusia.
Setelah diberikan pengertian tentang lingkungan maka akan dibahas
mengenai “lingkungan hidup”. Menurut UU RI No.4 tahun 1982, tentang
ketentuan-ketentuan pokok Pengelolaan Lingkungan Hidup dan UU RI No.23
tahun 1997. tentang pengelolaan lingkuang hidup , diakatakan bahwa ;
Lingkungan Hidup adalah kesatuan ruang dengan semua benda, daya, keadaan
dan mahluk hidup, termasuk manusia dan perilakunya, yang mempengaruhi
kelangsungan perikehidupan dan kesejahteraan manusia serta mahluk hidup
lainnya. Dalam sejarah, kesadaran lingkungan telah berlangsung dari proses
tahap awal lingkungan habitat yaitu dengan konferensi Stockholm,1972. Di
Indonesia diwujudkan pembentukan lembaga non kepemerintahan, yaitu
Meneg PPLH dan sekarang meneg LH. Masing-masing dengan acuan yang
ditetapkan dalamBHN.

14
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulani

15
i

Anda mungkin juga menyukai