Anda di halaman 1dari 21

MAKALAH

“ ASUHAN KEGAWATDARURATAN NEONATUS


PADA KASUS KEJANG ”

DI SUSUN OLEH :
KELOMPOK

1. CARINA
2. DESI WS
3. ELIS MEDIANITA
4. MAIYAH
5. SRI FATRAWATI
6. SRI MULATMI
7. SITI KHODIJAH
8. SYAMSIAH

POLI TEKNIK KESEHATAN (POLTEKKES) JAMBI


JURUSAN D-IV KEBIDANAN ALIH JENJANG JAMBI
TAHUN AKADEMIK 2021/2022

1
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa.Yang telah
memberikan banyak nikmat-Nya kepada kami. Sehingga kami mampu
menyelesaikan makalah ini sesuai dengan waktu yang kami rencanakan. Makalah
ini yang berjudul “ASUHAN KEGAWATDARURATAN NEONATUS PADA
KASUS KEJANG” kami buat dalam rangka memenuhi salah satu tugas mata
kuliah di Poltekkes Jambi.
Kami sebagai penyusun pastinya tidak pernah lepas dari kesalahan.
Begitu pula dalam penyusunan makalah ini yang mempunyai banyak kekurangan.
Oleh karena itu, kami mohon maaf atas segala kekurangannya.
Kami ucapkan terima kasih kepada Dosen pembimbing yang telah
membimbing kami dalam penyusunan makalah ini. Tidak lupa pula kepada teman-
teman yang telah ikut berpartisipasi sehingga makalah ini selesai tepat pada
waktunya.

Muara Bungo, 28 September 2021

Penulis

i
DAFTAR ISI

Kata Pengantar ............................................................................................ i


Daftar Isi ..................................................................................................... ii

BAB I PENDAHULUAN ........................................................................... 1


1.1 Latar Belakang ............................................................................... 1
1.2 Rumusan Masalah .......................................................................... 2
1.3 Tujuan Penulisan ............................................................................ 2

BAB II PEMBAHASAN ............................................................................ 3


2.1 Definisi ........................................................................................... 3
2.2 Klasifikasi Kejang .......................................................................... 5
A. Bentuk kejang yang hampir tidak kelihatan (subtle) yang sering
tidak diketahui sebagai kejang. ................................................ 5
B. Kejang Klonik Multifocal (migratory) ..................................... 5
C. Kejang Tonik ............................................................................ 6
D. Kejang Mioklonik .................................................................... 6
Epidemiologi ............................................................................. 7
1. Mortalitas/Morbiditas ........................................................... 7
2. Ras ........................................................................................ 7
3. Jenis kelamin ........................................................................ 7
4. Usia....................................................................................... 7
Etiologi ..................................................................................... 7
1. Metabolik ............................................................................. 7
2. Perdarahan Intrakranial ....................................................... 8
3. Infeksi .................................................................................. 9
4. Genetik/kelainan bawaan .................................................... 9
5. Penyebab lain ...................................................................... 9
Penyebab .................................................................................. 9

ii
2.3 Faktor Resiko ................................................................................. 11
DIAGNOSIS ............................................................................ 12
1. Anamnesa ................................................................................. 12
2. Penilaian kejang ....................................................................... 13
3. Pemeriksaan Diagnostik ........................................................... 13
2.4 Penatalaksanaan ............................................................................ 14

BAB III PENUTUP..................................................................................... 16


3.1 Kesimpulan ................................................................................... 16
3.2 Saran ............................................................................................. 16

DAFTAR PUSTAKA

iii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Kejang demam adalah bangkitan kejang yang terjadi pada kenaikan
suhu (suhu rektal lebih dari 380C) yang disebabkan oleh suatu proses
ekstrakranium (diluar rongga kepala). Kejang demam ini biasanya terjadi
bayi atau anak-anak antara umur 3 bulan dan 5 tahun yang berhubungan
dengan demam tetapi tidak pernah terbukti adanya infeksi intrakranial atau
penyebab tertentu. Anak yang pernah kejang tanpa demam dan bayi yang
berumur kurang dari 4 minggu tidak termasuk. Kejang demam harus
dibedakan dengan epilepsi, yaitu yang ditandai dengan kejang berulang tanpa
demam.
Faktor resiko kejang demam yang penting adalah demam. Selain itu
terdapat faktor riwayat kejang demam pada orang tua atau saudara kandung,
perkembangan terlambat, problem pada masa neonatus, anak dalam
perawatan khusus, dan kadar natrium rendah. Setelah kejang demam pertama
kira kira 33% anak akan mengalami satu kali rekurensi (kekambuhan), dan
kira kira 9 % anak mengalami recurensi 3 kali atau lebih, resiko rekurensi
meningkat dengan usia dini, cepatnya anak mendapat kejang setelah demam
timbul, temperatur yang rendah saat kejang, riwayat keluarga kejang demam,
dan riwayat keluarga epilepsi.
Hingga kini belum diketahui dengan pasti penyebab kejang demam.
Demam sering disebabkan infeksi saluran pernafasan atas, radang telinga
tengah, infeksi saluran cerna dan infeksi saluran kemih. Kejang tidak selalu
timbul pada suhu yang tinggi. Kadang kadang demam yang tidak begitu
tinggi dapat menyebabkan kejang.
Kejang demam merupakan salah satu kelainan saraf yang paling
sering dijumpai pada bayi dan anak. Sekitar 2,2% hingga 5% anak pernah
mengalami kejang demam sebelum mereka mencapai usia 5 tahun. Sampai
saat ini masih terdapat perbedaan pendapat mengenai akibat yang
ditimbulkan oleh penyakit ini namun pendapat yang dominan saat ini kejang

1
pada kejang demam tidak menyebabkan akibat buruk atau kerusakan pada
otak namun kita tetap berupaya untuk menghentikan kejang secepat
mungkin. Dan bagi beberapa orang tua, kejang demam pada anak sering
menimbulkan fobia tersendiri. Keyakinan untuk segera menurunkan panas
ketika anak demam sudah melekat erat dalam benak orang tua. Demam
diidentikkan dengan penyakit, sehingga saat demam berhasil diturunkan,
orangtua merasa lega karena menganggap penyakit akan segera pergi
bersama turunnya panas badan.

1.2 Rumusan Masalah


1. Apa yang di maksud dengan kejang neonatus ?
2. Apa saja klasifikasi dari kejang neonatus ?
3. Apa saja faktor dari kejang neonatus ?
4. Bagaimana dan apa saja penatalaksanaan dari kejang neonatus ?

1.3 Tujuan Penulisan


1. Untuk mengetahui definisi kejang neonatus.
2. Untuk mengetahui apa saja klasifikasi dari kejang neonatus
3. Untuk mengetahui apa saja faktor dari kejang neonatus
4. Untuk mengetahui apa saja dan bagaimana penatalaksanaan kejang
pada neonatus.

2
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Definisi
Kejang pada neonatus ialah suatu gangguan terhadap fungsi
neurologis seperti tingkah laku, motorik, atau fungsi otonom. Periode bayi
baru lahir (BBL) dibatasi sampai hari ke-28 kehidupan pada bayi cukup
bulan, dan untuk bayi prematur, batasan ini biasanya digunakan sampai usia
gestasi 42 minggu. Kebanyakan kejang pada BBL timbul selama beberapa
hari. Sebagian kecil dari bayi tersebut akan mengalami kejang lanjutan dalam
kehidupannya kelak. Kejang pada neonatus relatif sering dijumpai dengan
manifestasi klinis yang bervariasi. Timbulnya sering merupakan gejala awal
dari gangguan neurologi dan dapat terjadi gangguan pada kognitif dan
perkembangan jangka panjang.
kejang pada bayi baru lahir adalah

a) Kejang yang terjadi pada bayi sampai dengan usia 28 hari


b) Kejang pada BBL merupakan keadaan darurat karena kejang merupakan
suatu tanda adanya penyakit sistem sayarf pusat (SSP), kelainan metabolik
atau penyakit lain.
c) Sering tidak dikenali karena berbeda dengan kejang pada anak
d) Kejang umum tonik klonik jarang terjadi pada BBL
e) Kejang berulang menyebabkan berkurangnya oksigenisasi, ventilasi dan
nutrisi otak

Kejang pada bayi baru lahir ialah kejang yang timbul masa neonatus
atau dalam 28 hari sesudah lahir (Buku Kesehatan Anak) Menurut Brown
(1974) kejang adalah suatu aritma serebral. Kejang adalah perubahan secara
tiba-tiba fungsi neurology baik fungsi motorik maupun fungsi otonomik
karena kelebihan pancaran listrik pada otak (Buku Pelayanan Obstetric
Neonatal Emergensi Dasar). Kejang bukanlah suatu penyakit tetapi
merupakan gejala dari gangguan saraf pusat, lokal atau sistemik. Kejang ini
merupakan gejala gangguan syaraf dan tanda penting akan adanya penyakit
lain sebagai penyebab kejang tersebut, yang dapat mengakibatkan gejala sisa

3
yang menetap di kemudian hari. Bila penyebab tersebut diketahui harus
segera di obati. Hal yang paling penting dari kejang pada bayi baru lahir
adalah mengenal kejangnya, mendiagnosis penyakit penyebabnya dan
memberikan pertolongan terarah, bukan hanya mencoba menanggulangi
kejang tersebut dengan obat antikonvulsan.
Kejang pada bayi baru lahir sering tidak dikenali karena bentuknya
berbeda dengan kejang pada anak atau orang dewasa.Hal ini disebabkan
karena ketidakmatangan organisasi korteks pada bayi baru lahir.Kejang
umum tonikklonik jarang pada bayi baru lahir.Manifestasi kejang pada bayi
baru lahir dapat berupa tremor, hiperaktif, kejang-kejang, tiba-tiba menangis
melengking, tonus otot hilang disertai aatau tidak dengan hilangnya
kesadaran, tidak menentu, involuntary movement, nistagmus, (fenomena
oral dan bukal), bahkan apnu oleh karena manifestasi klinik yang berbeda-
bada dan bervariasi, sering kali pada bayi baru lahir tidak dikenali oleh yang
belum berpengalaman .
Dalam prinsip ,setiap gerakan yang tidak biasa pada bayi baru lahir
apabila berlangsung berulang-ulang dan periodic ,harus dipikirkan
kemungkinan merupakan manifestasi kejang.
Perbedaan kejang dan spasme
Masalah Temuan khusus
Kejang - Gerakan wajah dan ekstermitas yang teratur dan berulang
umum - Ekstensi atau fleksi tonik lengan atau tangkai,baik sinkron
maupun tidak sinkron
- Perubahan status kesadaran (bayi mungkin tidak sadar atau
tetap bangun tetapi tidak responsive/apatis)
- Apnea (nafas spontan berhenti lebih 20 detik)
Kejang - Gerakan mata berkedip,berpudar dan dan juling yang
suble berulang
- Gerakan mulut dan lidang berulang
- Gerakan tangkai tidak terkendali, gerakan seperti mengayuh
sepeda
- Bayi bias masih sadar

4
Spasme - Kontraksi otot tidak terkendali paling tidak beberapa detik
sampai beberapa menit
- Dipicu oleh sentuhan, suara maupun cahaya
- Bayi tetap sadar,sering menangis kesakitan
- Trismus (rahang kaku,mulut tidak dapat di buka,bibir
mencuci seperti mulut ikan
- Opitotonus
- Gerakan tangan seperti meninju dan mengepal

2.2 Klasifikasi Kejang


Volpe (1977) membagi kejang pada bayi lahir sebagai berikut :
A. Bentuk kejang yang hampir tidak kelihatan (subtle) yang sering tidak
diketahui sebagai kejang. Terbanyak di neonatus berupa :
1) Deviasi horizontal bola mata.
2) Getaran dari kelopak mata/berkedip-kedip
3) Gerakan dari pipi dan mulut, seperti menghisap-hisap,mengunyah,
mengecap, dan menguap
4) Apnea berulang
5) Gerakan tonik tungkai
6) Gerakan mengunyah , salivasi berlebihan, perubahan pola pernafasan
termasuk apneu, berkedip, nistagmus, gerakan bersepeda atau mengayuh
pedal , dan perubahan warna.
Setiap gerakan yang tidak biasa pada neonatus, bila berlangsung beurlang-
ulang dan periodic perlu dipikirkan kemungkinan dari kejang.

B. Kejang Klonik Multifocal (migratory)


Gerakan klonik berpindah-pindah dari satu anggota gerak ke anggota
gerak lainnya secara tidak teratur. Kadang-kdang kejang yang satu dengan
yang lainnya bersambungan, dapat menyerupai kejang umum.

5
C. Kejang Tonik
1) Ekstensi kedua tungkai, kadang-kadangan disertai fleksi kedua lengan
menyerupai keadaan dekortikasi.
2) Ditandai dengan postur tungkai dan badan yang kaku, dan kadang disertai
dengan deviasi mata yang tetap.

D. Kejang Mioklonik
1) Berupa gerakan fleksi seketika seluruh tubuh, jarang terlihat pada
neonatus.
2) Jingkatan jingkatan setempat atau menyeluruh tungkai atau badan
sebentar yang cenderung melibatkan kelompok otot distal.

Berdasarkan gambaran klinisnya, kejang dapat diklasifikasikan


menjadi 3 (tiga) yaitu kejang tonik, kejang klonik dan kejang mioklonik.
1. Kejang Tonik
Kejang ini biasanya terjadi pada bayi baru lahir dengan berat badan
lahir rendah (BBLR) dengan masa kehamilan kurang dari 34 minggu dan
bayi dengan komplikasi prenatal berat. Bentuk klinis kejang tonik yaitu
berupa pergerakan tonik satu ekstremitas atau pergerakan tonik umum
dengan ekstensi lengan dan tungkai yang menyerupai desebrasi, atau ekstensi
tungkai dan fleksi lengan bawah dengan bentuk dekortifikasi. Bentuk kejang
tonik yang menyerupai desebrasi haris dibedakan dengan sikap epistotonus
yang disebabkan oleh rangsang meningkat karena infeksi selaput otak atau
kernikterus.

2. Kejang Klonik
Kejang klonik dapat berbentuk fokal, unilateral, bilateral dengan
permulaan fokal dan multifokal yang berpindah-pindah. Bentuk klinik
kejang fokal berlangsung antara 1 - 3 detik, terlokalisasi dengan baik, tidak
disertai gangguan kesadaran, dan biasanya tidak diikuti oleh fase tonik.
Bentuk kejang ini disebabkan oleh kontusio serebri akibat trauma fokal pada
bayi besar dan cukup bulan atau oleh ensefalopati metabolik.

6
3. Kejang Mioklonik
Gambaran klinis yang terlihat adalah gerakan ekstensi dan fleksi lengan
atau keempat anggota gerak yang berulang dan terjadinya cepat. Gerakan
tersebut menyerupai gerakan refleks moro. Kejang ini merupakan pertanda
kerusakan susunan saraf pusat yang luas dan hebat. Gambaran EEG kejang
mioklonik pada bayi tidak spesifik.

Epidemiologi
1. Mortalitas/Morbiditas
a) Kejang demam biasanya tidak berbahaya.
b) Anak dengan kejang demam memiliki resiko epilepsy sedikit lebih
tinggi dibandingkan yang tidak (2% : 1%).
c) Faktor resiko untuk epilepsy di tahun-tahun berikutnya meliputi
kejang demam kompleks, riwayat epilepsy atau kelainan neurologi
dalam keluarga, dan hambatan pertumbuhan. Pasien dengan 2 faktor
resiko tersebut mempunyai kemungkinan 10% mendapatkan kejang
demam.
2. Ras
Kejang demam terjadi pada semua ras.
3. Jenis kelamin
Beberapa penelitian menunjukkan kejadian lebih tinggi pada pria.
4. Usia : Kejang demam terjadi pada anak usia 3 bulan sampai 5 tahun.

Etiologi
1. Metabolik
a. Hipoglikemia
Bila kadar darah gula kurang dari 30 mg% pada neonatus cukup bulan
dan kurang dari 20 mg% pada bayi dengan berat badan lahir rendah.
Hipoglikemia dapat dengan/tanpa gejala. Gejala dapat berupa serangan
apnea, kejang sianosis, minum lemah, biasanya terdapat pada bayi berat
badan lahir rendah, bayi kembar yang kecil, bayi dari ibu penderita diabetes
melitus, asfiksia.

7
b. Hipokalsemia
Yaitu: keadaan kadar kalsium pada plasma kurang dari 8 mg/100 ml
atau kurang dari 8 mg/100 ml atau kurang dari 4 MEq/L
Gejala: tangis dengan nada tinggi, tonus berkurang, kejang dan diantara dua
serangan bayi dalam keadaan baik.
c. Hipomagnesemia
Yaitu kadar magnesium dalam darah kurang dari 1,2 mEg/l. biasanya
terdapat bersama-sama dengan hipokalsemia, hipoglikemia dan lain-lain.
Gejala kejang yang tidak dapat di atasi atau hipokalsemia yang tidak dapat
sembuh dengan pengobatan yang adekuat.
d. Hiponatremia dan hipernatremia
Hiponatremia adalah kadar Na dalam serum kurang dari 130 mEg/l.
gejalanya adalah kejang, tremor. Hipertremia, kadar Na dalam darah lebih
dari 145 mEg/l. Kejang yang biasanya disebabkan oleh karena trombosis
vena atau adanya petekis dalam otak.
e. Defisiensi pirodiksin dan dependensi piridoksisn
Merupakan akibat kekurangan vitamin B6. gejalanya adalah kejang
yang hebat dan tidak hilang dengan pemberian obat anti kejang, kalsium,
glukosa, dan lain-lain. Pengobatan dengan memberikan 50 mg pirodiksin
f. Asfiksia
Suatu keadaan bayi tidak bernafas secara spontan dan teratur segera
setelah lahir etiologi karena adanya gangguan pertukaran gas dan transfer O 2
dari ibu ke janin.

2. Perdarahan Intrakranial
Dapat disebabkan oleh trauma lahir seperti asfiksia atau hipoksia,
defisiensi vitamin K, trombositopenia. Perdarahan dapat terjadi sub dural,
dub aroknoid, intraventrikulus dan intraserebral. Biasanya disertai
hipoglikemia, hipokalsemia. Diagnosis yang tepat sukar ditetapkan, fungsi
lumbal dan offalmoskopi mungkin dapat membantu diagnosis. Terapi :
pemberian obat anti kejang dan perbaikan gangguan metabolism bila ada.

8
3. Infeksi
Infeksi dapat menyebabkan kejang, seperti : tetanus dan meningitis
4. Genetik/kelainan bawaan
5. Penyebab lain
a. Polisikemia
Biasanya terdapat pada bayi berat lahir rendah, infufisiensi placenta,
transfuse dari bayi kembar yang satunya ke bayi kembar yang lain dengan
kadar hemoktrokit di atas 65%
b. Kejang idiopatik
Tidak memerlukan pengobatan yang spesifik, bila tidak diketahui
penyebabnya berikan oksigen untuk sianosisnya
c. Toksin estrogen
Misalnya : hexachlorophene

Penyebab

Tak jarang bayi Indonesia mengalami kejang dan hal ini sangat
mengkhawatirkan bagi para orangtua. Sebenarnya apa yang menjadi
penyebab bayi kejang ? Kejang demam atau kejang yang disertai demam
biasanya terjadi karena bayi memang mengalami suatu penyakit. Contohnya,
bayi terkena infeksi pada saluran pencernaannya yang menyebabkan dia
demam dan kemudian kejang. Penyakit lainnya yang bisa menyebabkan
kejang pada bayi adalah penyakit radang telinga, infeksi pada paru dan
infeksi lainnya.
Penyakit diabetes mellitus yang diderita oleh ibu bisa juga menjadi
penyebab bayi kejang. Ibu yang terkena penyakit kencing manis ini bisa
menyebabkan bayi mengalami kekurangan kadar gula darah. Selain itu, bayi
yang pada saat lahir memiliki berat badan lebih dari 4 kg memiliki resiko
terkena kejang hingga hari ke-28 dia dilahirkan. Kejang yang timbul karena
dua hal di atas biasanya tidak disertai demam.
Kejang yang tidak disertai demam biasanya juga terjadi karena
kelainan di otak. Penyakit yang mengganggu fungsi otak bayi bisa

9
membangkitkan kejang. Misalnya perdarahan, tumor dan radang yang terjadi
di otak. Dalam hal ini kejang berkaitan dengan otak karena di dalam otak
terdapat pusat syaraf tubuh.
Kondisi pada saat hamil juga bisa menyebabkan kejang pada bayi jika
ibu terinfeksi salah satu dari virus TORCH. Selain itu, proses kelahiran juga
bisa mempengaruhi kejang pada bayi Indonesia. Seperti misalnya pada saat
menjelang kelahiran, bayi mengalami infeksi atau cedera. Demikian pula
dengan proses kelahiran yang sulit dan bayi yang lahir kuning. Hal-hal ini
membuat asupan oksigen ke otak berkurang sehingga bayi mengalami
kejang.
Kejang pada bayi juga bisa disebabkan karena bayi memang
menderita penyakit epilepsi. Biasanya kejang karena epilepsi lama.
Penyebab lain seperti terjadinya gangguan pada peredaran darah dan
gangguan metabolisme. Demikian pula karena keracunan makanan, alergi
terhadap sesuatu serta cacat bawaan bisa membuat bayi kejang.
Memang ada banyak kemungkinan yang bisa menyebabkan bayi
kejang. Bisa juga karena bayi demam. Tingginya suhu tubuh bayi bisa
menyebabkan dia menjadi kejang. Sebaiknya bila anak pernah mengalami
kejang, konsultasikan ke dokter untuk mengetahui penyebab
pastinya. Kejang neonatal bisa disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain
sebagai berikut :
1. bayi yang tidak menangis pada waktu lahir adalah penyebab yang paling
sering.
timbul pada 24 jam kehidupan pada kebanyakan kasus.
2. Perdarahan otak dapat timbul sebagai akibat dari kekurangan oksigen
atau trauma pada kepala. perdarahan ini biasanya diakibatkan oleh
trauma dapat menimbulkan kejang.
3. Kekurangan gula darah (hipoglikemia) sering timbul dengan gangguan
pertumbuhan dalam kandungan dan pada bayi dengan ibu penderita DM
(Diabetes Mellitus). jarak waktu antara hipoglikemia dan waktu sebelum
pemberian awal pengobatan merupakan waktu timbulnya kejang. kejang

10
lebih jarang timbul pada ibu pendeita diabetes, kemungkinan karena
waktu hipoglikemia yang pendek.
4. infeksi sekunder akibat bakteri dan nonbakteri dapat timbul pada bayi
dalam kandungan, selama persalinan, atau pada periode perinatal. seperti
bakteri meningitis, toksoplasmosis, sifilis, atau rubella (campak). resiko
kejang adalah lebih tinggi jika bayi prematur atau BBLR.
5. adanya cedera jika persalinan
6. bayi kuning disebut sebagai resiko bila terjadi pada hari pertama
kelahiran. bayi kuning akan normal bila terjadi dalam tiga hari.
7. infeksi saat kehamilan (TORCH). terutama pada trimester pertama
dikatakan sebagai penyebab kejang.

2.3 Faktor Resiko


Faktor yang mempengaruhi kejang demam adalah:
1. Umur
a. 3% anak berumur di bawah 5 tahun pernah mengalami kejang demam.
b. Insiden tertinggi terjadi pada usia 2 tahun dan menurun setelah 4 tahun,
jarang terjadi pada anak di bawah usia 6 bulan atau lebih dari 5 tahun.
c. Serangan pertama biasanya terjadi dalam 2 tahun pertama dan kemudian
menurun dengan bertambahnya umur.
2. Jenis kelamin
Kejang demam lebih sering terjadi pada anak laki-laki daripada
perempuan dengan perbandingan 2 : 1. Hal ini mungkin disebabkan oleh
maturasi serebral yang lebih cepat pada perempuan dibandingkan pada laki-
laki.
3. Suhu badan
Kenaikan suhu tubuh adalah syarat mutlak terjadinya kejang demam.
Tinggi suhu tubuh pada saat timbul serangan merupakan nilai ambang
kejang. Ambang kejang berbeda-beda untuk setiap anak, berkisar antara
38,3°C – 41,4°C. Adanya perbedaan ambang kejang ini menerangkan
mengapa pada seorang anak baru timbul kejang setelah suhu tubuhnya
meningkat sangat tinggi sedangkan pada anak yang lain kejang sudah timbul

11
walaupun suhu meningkat tidak terlalu tinggi. Dari kenyataan ini dapatlah
disimpulkan bahwa berulangnya kejang demam akan lebih sering pada anak
dengan nilai ambang kejang yang rendah.
4. Faktor keturunan
Faktor keturunan memegang peranan penting untuk terjadinya kejang
demam. Beberapa penulis mendapatkan bahwa 25 – 50% anak yang
mengalami kejang demam memiliki anggota keluarga ( orang tua, saudara
kandung ) yang pernah mengalami kejang demam sekurang-kurangnya
sekali.
Faktor – faktor lain diantaranya:
a. riwayat kejang demam pada orang tua atau saudara kandung,
b. perkembangan terlambat,
c. problem pada masa neonatus,
d. anak dalam perawatan khusus, dan
e. Kadar natrium rendah.
Setelah kejang demam pertama, kira-kira 33% anak akan mengalami
satu kali rekurensi atau lebih, dan kira-kira 9% anak mengalami 3 kali
rekurensi atau lebih. Risiko rekurensi meningkat dengan usia dini, cepatnya
anak mendapat kejang setelah demam timbul, temperatur yang rendah saat
kejang, riwayat keluarga kejang demam, dan riwayat keluarga
epilepsi.Sekitar 1/3 anak dengan kejang demam pertamanya dapat
mengalami kejang rekuren.
Faktor resiko untuk kejang demam rekuren meliputi berikut ini:
a. Usia muda saat kejang demam pertama
b. Suhu yang rendah saat kejang pertama
c. Riwayat kejang demam dalam keluarga
d. Durasi yang cepat antara onset demam dan timbulnya kejang

DIAGNOSIS

Anamnesa

1. Riwayat kehamilan

Bayi kecil untuk masa kehamilan

12
a) Bayi kurang bulan
b) Ibu tidak disuntik TT
c) Ibu menderita DM

2. Riwayat persalinan

a) Persalinan dengan tindakan


b) Persalinan presipitatus
c) Gawat janin

3. Riwayat kelahiran

a) Trauma lahir
b) Lahir asfiksia
c) Pemotongan tali pusat dengan alat tidak steril

Pemeriksaan kelainan fisik

1) Kesadaran
2) Suhu tubuh
3) Tanda-tanda infeksi lain

Penilaian kejang

1. Bentuk kejang : gerakan bola mata abnormal, nistagmus, gerakan


mengunyah, gerakan otot-otot muka, timbulnya episode apnea,
adanya kelemahan umum yang periodik, tremor, gerakan klonik
sebagian ekstremitas, tubuh kaku
2. Lama kejang

Pemeriksaan Diagnostik

1. Pemeriksaan gula darah, elektrolit darah, AGD, darah tepi, lumbal


pungsi
2. EKG

13
3. EEG
4. Biakan darah
5. Titer untuk toksoplasmosis, rubela, citomegalovirus, herpes
6. Foto rontgen kepala
7. USG kepala

2.4 Penatalaksanaan
Prinsip tindakan untuk mengatasi kejang

1. Menjaga jalan nafas tetap bebas

2. Mengatasi kejang dengan memberikan obat anti kejang

3. Mengobati penyebab kejang

Dosis 0,1-0,3 mg/kg BB IV disuntikan perlahan-lahan sampai kejang


hilang atau berhenti. Dapat diulangi pada kejang beruang, tetapi tidak
dianjurkan untuk digunakan pada dosis pemeliharaan

Obat anti kejang (Buku Acuan Nasional Maternatal dan Neonatal, 2002)
1. Diazepam
2. Fenobarbital Dosis 5-10 mg/kg BB IV disuntikkan perlahan-
lahan, jika kejang berlanjut lagi dalam 5-10 menit. Fenitoin diberikan apabila
kejang tidak dapat di berikan 4-7 mg/kg BB IV pada hari pertama di
lanjutkan dengan dosis pemeliharaan 4-7 mg/kg BB atau oral dalam 2 dosis.
Penanganan Kejang Pada BBL
1. Bayi diletakan dalam tempat yang hangat.pastikan bahwa bayi tidak
kedinginan.suhu bayi dipertahankan 36,50C-370C.
2. Jalan nafas bayi dibersihkan dengan tindakan penghisapan lendir
diseputar mulut hidung sampai nasofaring.
3. Bila bayi apnea,dilakukan pertolongan agar bayi bernafas lagi dengan
alat bantu balon dan sungkup,diberi oksigen dengan kecepatan 2L/menit
4. Dilakukan pemasangan infus intravena di pembuluh darah
perifer,diangan,kaki atau kepala.bila bayi diduga dilahirkan oleh ibu

14
berpenyakit diabetes mellitus,dilakukan pemasangan infuse melalui vena
umbilikalis.
5. Bila infus sudah terpasang diberi obat anti kejang diazevam 0,5 Mg/Kg
supositoria/Im setiap 2 menit sampai kejang teratasi.kemudian
ditambahkan luminal (fenobarbital)30Mg I.M/I.V
6. Nilai kondisi bayi selama 15 menit.perhatikan kelainan fisik yang ada.
7. Bila kejang sudah teratasi diberi cairan infuse dextrose 10% dengan
kecepatan 60 Ml/Kg bb/hari.
8. Dilakukan anamesis mengenai keadaan bayi untuk mencari factor
penyebab kejang(perhatikan riwayat kehamilan,persalinan dan
kelahiran)
- Apakah kemungkinan bayi di lahirkan oleh ibu berpenyakit DM
- Apakah kemungkianan bayi premature
- Apakah kemungkinan bayi mengalami aspeksia
- Apakah kemingkinan ibu bayi pengidap atau menggunakan bahan
narkotika.
- Kejang sudah teratasi, diambil bahan untuk pemeriksaan
laboratorium untuk mencari faktor penyebab, misalnya : darah tepi,
elektrolit darah, gula darah, kimia darah, kultur darah, pemeriksaan
TORCH
- Kecurigaan kearah sepsis (pemeriksaan pungsi lumbal)
- Kejang berulang, diazepam dapat diberikan sampai 2 kali
- Masih kejang : dilantin 1,5 mg/kgBB sebagai bolus iv diteruskan
dalam dosis 20 mg iv setiap 12 jam
- Belum teratasi : phenytoin 15 mg/kgBB iv dilanjutkan 2 mg/kg tiap
12 jam
- Hipokalsemia (hasil lab kalsium darah <8mg .="" 10="" 25-50=""
2="" 5-10="" :="" apabila="" belum="" dalam="" diberi=""
glukonas="" juga="" kalsium="" kg="" menit="" mg="" ml=""
o:p="" pyridoxin="" teratasi="" waktu="">
- Hipoglikemia (hasil lab dextrosit/gula darah < 40 mg%) : diberi infus
dextrose 10%

15
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Kejang pada bayi baru lahir ialah kejang yang timbul masa neonatus
atau dalam 28 hari sesudah lahir (Buku Kesehatan Anak) Menurut Brown
(1974) kejang adalah suatu aritma serebral. Kejang adalah perubahan secara
tiba-tiba fungsi neurology baik fungsi motorik maupun fungsi otonomik
karena kelebihan pancaran listrik pada otak (Buku Pelayanan Obstetric
Neonatal Emergensi Dasar).
Klasifikasi kejang
Bentuk kejang yang hampir tidak kelihatan (subtle) yang sering tidak
diketahui sebagai kejang,Kejang klonik multifocal (migratory),Kejang
tonik,Kejang mioklonik,Kejang mioklonik
Faktor Resiko
Umur, Jenis kelamin, Faktor keturunan, Suhu badan
Penatalaksanaan
(Prinsip tindakan untuk mengatasi kejang)
Menjaga jalan nafas tetap bebas,Mengatasi kejang dengan
memberikan obat anti kejang,Mengobati penyebab kejang
Obat anti kejang (Buku Acuan Nasional Maternatal dan Neonatal, 2002)
1. Diazepam
2. Fenobarbital

3.2 Saran
Setiap bayi baru lahir beresiko mengalami kejam untuk itu
diharapkan kepada bidan dan ibu hamil untuk mengetahui gejala dari
kejang dan pencegahannya.

16
DAFTAR PUSTAKA

Markum, A. H. dkk. 1981. Kegawatan Anak. Jakarta: Nuha Medika


Price, S. 1995. Patofisiologi. Jakarta:EGC
Saifudin,abdul bari.2002.Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan
Maternal dan Neonatal.Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono
Prawirohardjo.
Sudarti,Afroh Fauziah.2012.Asuhan Kebidanan Neonatus,Bayi dan
Anak Balita.Yogyakarta : Nuha Medika.
Staf pengajar IKA FKUI.1985. Ilmu Kesehatan Anak. Jakarta:bagian IKA FKU

17