Anda di halaman 1dari 28

MAKALAH

PENGEMBANGAN MASYARAKAT
TENTANG
PENYAKIT TIDAK MENULAR (PTM)

DI SUSUN OLEH :
KELOMPOK

1. SRI WAHYUNI NIM : PO71241210169


2. MAYA NOVIZA, NIM : PO7124120183
3. JUMAINI, NIM : PO7124120
4. RIMAWATY, NIM : PO7124120
5. RIDAYANTI, NIM : PO7124120

POLI TEKNIK KESEHATAN (POLTEKKES) JAMBI


TAHUN AKADEMIK 2021/2022

i
KATA PENGANTAR

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.


Alhamdulilah, puji syukur kehadirat Allah,S.W.T.  karena atas berkat,
hidayah, dan karunianya sehingga Makalah Pengembangan Masyarakat dengan
Judul “Penyakit Tidak Menular (PTM)” dapat terselesaikan tepat pada waktunya.
Shalawat serta salam semoga tetap tercurah kepada Nabiullah Muhammad S.A.W.
Dalam penulisan makalah ini penulis mengucapkan banyak terima kasih
kepada pihak-pihak yang memberikan motivasi dalam upaya penyelesaian
makalah ini. Namun demikian, dalam penyusunan makalah ini penulis menyadari
bahwa tidak menutup kemungkinan dalam makalah ini masih terdapat
kekurangan-kekurangannya, untuk itu penulis mengharapkan masukan dan saran
bagi pihak-pihak yang mempelajari makalah ini demi keberhasilan yang lebih
baik lagi untuk waktu yang akan datang.
Karena penulis menyadari bahwa segala kekurangan itu datangnya dari
kita sendiri sebagai manusia biasa yang tak luput dari kesalahan dan jika terdapat
kelebihan, semua itu tentu karena kehendak Allah S.W.T. Akhirnya penulis
berharap semoga makalah ini bermanfaat bagi semua khususnya penulis. Aamiin.

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Bungo, 25 Agustus 2021

Penulis

i
DAFTAR ISI

Kata Pengantar ............................................................................................ i


Daftar Isi...................................................................................................... ii

BAB I PENDAHULUAN............................................................................ 1
1.1. Latar Belakang...................................................................................... 1
1.2. Perumusan Masalah.............................................................................. 8
1.3. Tujuan Penulisan................................................................................... 9
1.4. Pembuat Kebijakan............................................................................... 10

BAB II PEMBAHASAN............................................................................. 12
2.1. Penyakit Kardiovaskuler....................................................................... 12
2.2. Kanker .................................................................................................. 12
2.3. Penyakit Pernapasan Kronis ................................................................. 13
2.4. Diabetes Mellitus ................................................................................. 13
2.5. Peningkatan Tekanan Darah ................................................................ 17
2.6. Kelebihan Berat Badan ........................................................................ 17
2.7. Kadar Glukosa Darah yang Tinggi ...................................................... 17
2.8. Peningkatan Kadar Kolesterol ............................................................. 18
2.9. Penyakit Degeneratif............................................................................. 20
2.10. Pencegahan Penyakit Tidak Menular (PTM)...................................... 20

BAB III PENUTUP..................................................................................... 22


3.1 Kesimpulan ........................................................................................... 22
3.2 Saran....................................................................................................... 23

DAFTAR PUSTAKA

ii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Penyakit tidak menular (PTM) sudah menjadi penyebab utama kematian di


dunia sejak milenium ketiga. Proposi kematian karena PTM di dunia terus
meningkat dari 47% tahun 1990, menjadi 56% tahun 2000 WHO (dalam
Boutayeb & Boutayeb, 2005). Pada tahun 2008 terjadi peningkatan, dari 57 juta
kematian, 36 juta atau 63% disebabkan oleh PTM, terutama jantung, diabetes,
kanker dan penyakit pernapasan kronis. Kematian karena penyakit tidak menular
sebanyak 29 juta (80%) terjadi di negara berpenghasilan rendah dan menengah
(WHO, 2011a). Proyeksi WHO, kematian penyakit tidak menular akan meningkat
sebesar 15% secara global antara tahun 2010 sampai dengan 2020 (untuk 44 juta
kematian). Peningkatan terbesar akan terjadi wilayah Afrika, Asia Tenggara dan
Mediterania Timur, akan meningkat lebih dari 20%. Sebaliknya di wilayah Eropa,
WHO memperkirakan tidak akan ada kenaikan.

Proporsi PTM menjadi penyebab kematian di Indonesia mengalami


peningkatan cukup tinggi, dari 41,7% tahun 1995, menjadi 49,9% tahun 2001,
dan 59,5% tahun 2007 (WHO, 2011b, Kemenkes, 2012). Pada tahun 2011 terjadi
peningkatan 64% (WHO, 2011c), dan tahun 2012 kematian sebanyak 1.551.000
jiwa, diperkirakan mencapai 71% disebabkan oleh PTM, terdiri atas penyakit
kardiovaskuler/jantung 37%, kanker 13%, penyakit paru kronis 5%, diabetes
6%, dan penyakit tidak menular lainnya 10% (WHO, 2014). Di Indonesia
kematian disebabkan PTM, probabilitas kematian dini 23% (WHO, 2015).

Prevalensi asma, penyakit kronis dan degeneratif lainnya (PKDL), dan


kanker di Indonesia masing-masing 4,5 persen, 3,7 persen, dan 1,4 per mil.
Prevalensi diabetes melitus (DM) dan hipertiroid di Indonesia berdasarkan
jawaban pernah di diagnosis dokter sebesar 1,5 persen, berdasarkan diagnosis atau
gejala sebesar 2,1 persen. Prevalensi hipertensi pada umur ≥18 tahun di Indonesia
yang didapat melalui jawaban pernah didiagnosis tenaga kesehatan sebesar 9,4

1
persen. Prevalensi jantung koroner berdasarkan diagnosis dokter atau gejala
sebesar 1,5 persen. Prevalensi gagal jantung berdasarkan diagnosis dokter atau
gejala sebesar 0,3 persen. Prevalensi stroke di Indonesia berdasarkan diagnosis
tenaga kesehatan atau gejala sebesar 12,1 per mil (Balitbangkes, 2013).

Prevalensi PTM di Provinsi Jambi cenderung meningkat dari tahun 2007


s.d. 2013 berdasarkan hasil Riskesdas 2013 antara lain: diabetes melitus (DM),
stroke, prevalensi kanker 2,0 per mil di Provinsi Jambi merupakan terbanyak
keempat di Indonesia. Perilaku hidup bersih dan sehat masih rendah di Provinsi
Jambi, antara lain terlihat dari banyak masyarakat yang merokok pada tahun 2013
yakni sebanyak 37% dari jumlah penduduk (Balitbangkes, 2013).

Salah satu penyakit tidak menular adalah diabetes melitus


memerlukan terapi terus menerus seumur hidup sehingga memerlukan biaya
yang sangat besar. Secara global, pengeluaran kesehatan untuk diabetes
mencapai $ 471 millar atau setara dengan 11,7% dari total pengeluaran kesehatan
(ADA, 2012). Hasil studi Finkelstein et al. (2014) memperkirakan pada tahun
2020 diabetes melitus akan meningkatkan beban ekonomi Indonesia mencapai
lebih dari $ 1,270 miliar.

PTM dikenal sebagai penyakit kronik atau penyakit berkaitan dengan gaya
hidup, tidak ditularkan dari orang ke orang. PTM adalah penyakit dengan durasi
panjang dan perkembangannya lambat. Empat jenis utama dari penyakit tidak
menular adalah penyakit kardiovaskuler (seperti serangan jantung dan stroke),
kanker, penyakit pernapasan kronis (seperti penyakit paru kronis dan asma) dan
diabetes (ESLM., 2014).

Aikins (2016) mendefinisikan penyakit tidak menular dengan sebutan


chronic non-communicable disease (NCDs), yaitu penyakit non infeksi yang
berlangsung seumur hidup dan membutuhkan pengobatan dan perawatan jangka
panjang. Penyakit tidak menular dapat dicegah melalui intervensi yang efektif
terhadap faktor risiko, yaitu: penggunaan tembakau, diet yang tidak sehat,
aktivitas fisik yang kurang, dan penggunaan alkohol (WHO, 2013a). Perlu bukti
yang kuat untuk mendukung penjelasan peran perilaku gaya hidup negatif pada

2
kejadian penyakit kronis, peran perilaku gaya hidup positif pada insiden dan
manajemen yang efektif (Dean and Söderlund, 2015).

Peningkatan penderita PTM dan 71% penyebab kematian di Indonesia


pada tahun 2012, merupakan masalah bagi kesehatan masyarakat. Kondisi ini
perlu dikaji guna upaya pencegahan dan pengendalian terhadap PTM tersebut.
Upaya pencegahan dan pengendalian PTM dapat dilakukan dengan perilaku hidup
sehat. WHO merekomendasikan gaya hidup sehat adalah dengan makan banyak
buah-buahan dan sayuran, mengurangi lemak, gula, dan asupan garam serta
berolahraga (WHO, 2014a).

Perubahan gaya hidup memerlukan pendekatan komprehensif dan


multidimensi. Oleh karena itu program pengendalian PTM perlu difokuskan pada
faktor risiko. Pengendalian PTM secara terintegrasi dan komprehensif (promotif-
preventif, kuratif-rehabilitatif), meliputi dimensi kebijakan, lingkungan, perilaku,
dan pelayanan kesehatan. Pemberdayaan masyarakat perlu dukungan lintas
program dan lintas sektor. Faktor risiko PTM dapat dicegah dan dikendalikan
secara lebih dini. Oleh sebab itu diperlukan pengetahuan dan informasi serta
besarnya masalah PTM sebelum melakukan intervensi perubahan faktor risiko.
Perubahan faktor risiko PTM membutuhkan waktu yang lama, terutama gaya
hidup (Puspromkes, 2010).

Upaya pencegahan dan pengendalian penyakit tidak menular yang sedang


dikembangankan di Indonesia adalah Pos pembinaan terpadu penyakit tidak
menular (Posbindu PTM). Posbindu PTM merupakan kegiatan secara terintegrasi
untuk mencegah dan mengendalikan faktor risiko PTM berbasis masyarakat
sesuai sumber daya dan kebiasaan masyarakat (Kemenkes, 2014a). Tujuan
Posbindu PTM adalah untuk meningkatkan peran serta masyarakat dalam
mencegah dan menemukan secara dini faktor risiko PTM. Sasaran kegiatan utama
adalah kelompok masyarakat sehat, berisiko dan penyandang penyakit tidak
menular berusia 15 tahun ke atas (Kemenkes, 2014b).

Upaya pengendalian PTM dibangun berdasarkan komitmen bersama dari


seluruh elemen masyarakat yang peduli terhadap ancaman PTM melalui
kegiatan Posbindu PTM. Pengembangan Posbindu PTM merupakan bagian

3
integrasi dari sistem pelayanan kesehatan berdasarkan persoalan PTM yang
ada di masyarakat yang mencakup upaya promotif dan preventif serta pola
rujukan. Posbindu PTM merupakan peran serta masyarakat dalam melakukan
kegiatan deteksi dini dan pemantauan terhadap faktor risiko PTM yang
dilaksanakan secara terpadu, rutin, dan periodik.

Faktor-faktor penentu kesehatan tidak dapat ditangani tanpa kerja


kolaborasi dari semua pihak. Masyarakat perlu bekerja untuk mengidentifikasikan
kebutuhan dan aset mereka yang ada, kemudian meminta para stakeholder
membantu menyediakan alat dan sumber daya yang dibutuhkan untuk
mengembangkan rencana kesehatan yang ditargetkan (The Select Committee on
Wellness, 2008).

Evaluasi kinerja program merupakan bagian penting dari strategi


pemerintah untuk mengelola hasil. Siklus program, desain, implementasi, dan
evaluasi cocok menjadi siklus yang lebih luas dari sistem manajemen pemerintah.
Rencana menetapkan tujuan dan kriteria untuk sukses. Sementara, laporan kinerja
dapat digunakan untuk menilai apa yang telah dicapai (MPWGS). Menurut UNDP
(2009), sebuah kerangka kerja yang jelas, disepakati antara pemangku
kepentingan utama di akhir tahap perencanaan, sangat penting untuk dilakukan
pemantauan dan evaluasi secara sistematis.

Berdasarkan hasil pengamatan dan wawancara dengan kader dan petugas


Puskesmas terhadap pelaksanaan 3 (tiga) Posbindu PTM, peran stakeholder masih
belum optimal dalam memberdayakan masyarakat untuk mengikuti kegiatan
Posbindu PTM. Posbindu PTM saat ini dilaksanakan oleh kader bersama
Puskesmas yang terintegrasi dengan kegiatan Posyandu, Posyandu
lansia/Pengobatan lansia, dan Majelis Taklim. Kader yang melaksanakan
Posbindu PTM banyak yang belum dilatih tentang penyelenggaraan Posbindu
PTM sehingga masih kurang percaya diri untuk melakukan pemeriksaan faktor
risiko PTM. Posbindu PTM di Provinsi Jambi pada tahun 2014 sebanyak 191 unit
(Dinkes. Prov, 2014), sedangkan kelurahan/desa berjumlah 1495 dengan
penduduk berusia di atas 15 tahun berjumlah 1.287.000 jiwa (Dinkes. Prov,
2014a). Rencana Strategi Kementerian Kesehatan 2015—2019 setiap

4
kelurahan/desa telah melaksanakan kegiatan Posbindu PTM (Kemenkes, 2015).
Pada tahun 2011—2013 tercatat 7225

Posbindu PTM di Indonesia. Posbindu PTM ini diharapkan dapat berkembang


lebih cepat di tengah masyarakat sehingga setiap kelurahan/desa
mempunyai 1(satu) Posbindu PTM (Kemenkes, 2015).

Kesenjangan yang ditemukan pada penelitian ini adalah peran stakeholder


masih belum optimal, fungsi kader masih terbatas, pengetahuan dan keterampilan
masih kurang. Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota dan Puskesmas telah melakukan
bimbingan tetapi belum banyak perubahan. Pemahaman masyarakat sebagai
individu dalam upaya deteksi dini, pencegahan untuk hidup sehat, belum
didukung oleh informasi tentang Posdindu PTM dan PTM. Puskesmas sebagai
pendamping pelaksanaan desa siaga telah memberi bekal teknik fasilitasi yang
baik sehingga dapat menuju desa siaga aktif.

Posbindu PTM merupakan salah satu kegiatan untuk mewujudkan desa


siaga. Fasilitasi yang dilakukan puskesmas dalam pengembangan desa siaga
belum mewujudkan community development, dimana masyarakat dapat
mengidentifikasi dan menyelesaikan masalah kesehatan, melainkan lebih ke
arah mobilisasi sosial atau mengumpulkan masyarakat untuk mengikuti suatu
kegiatan (Rezeki dkk., 2012). Puskesmas perlu berupaya mencari teknik untuk
dapat mewujudkan pemberdayaan Posbindu PTM untuk mencapai tujuan deteksi
dini, mencegah, dan mengendalikan penyakit tidak menular. Kegiatan
pemberdayaan sangat memerlukan peran kader dan stakeholder untuk dapat
menggerakkan masyarakat dan melaksanakan kegiatan Posbindu PTM.

Faktor-faktor yang mempengaruhi kemampuan pemecahan masalah


kesehatan lokal pada program desa ddiaga meliputi modal sosial dan partisipasi
masyarakat (Sulaeman dkk., 2012).

Peran desa siaga sebagai pusat kegiatan berbasis masyarakat yang lebih
luas, sekarang perlu dibangun kembali untuk memenuhi tantangan menghadapi
pengembangan dan implementasi kebijakan di Indonesia (Hill dkk., 2013). Modal
partisipasi masyarakat perlu dikembangkan untuk kemauan dan kemampuan

5
deteksi dini, mencegah dan mengendalikan PTM dengan memberdayakan
Posbindu PTM. Kemampuan masyarakat untuk dapat mendeteksi dini,
mencegah dan mengendalikan PTM, memerlukan peran stakeholder untuk dapat
memberi pengetahuan dan pemahaman.

Model pemberdayaan masyarakat didasarkan pada tiga elemen:


membangun kepercayaan, kapasitas dan sistem. Konsep model pemberdayaan
kesehatan dan kesejahteraan, dilengkapi pengetahuan, kepercayaan diri dan
keterampilan untuk membuat perbedaan dalam komunitas mereka. Model
pemberdayaan kesehatan dan kesejahteraan lebih baik dari model pemberdayaan
(Woodall dkk., 2010). Sebuah tinjauan membuktikan kaitan bahwa ketika pasien
diaktifkan untuk mengambil bagian yang lebih besar dan kontrol dalam mengelola
kondisi sendiri, tuntutan lebih kecil pada layanan rumah sakit. Program
manajemen penyakit kronis menunjukkan bahwa partisipasi perilaku sehat telah
meningkatkan status kesehatan dan menurunkan jumlah hari perawatan peserta di
rumah sakit (NICE, 2008). Konsep masyarakat yang menjadi pasien akan lebih
berpartisipasi dalam peningkatan perilaku hidup sehat. Pemberdayaan
Posbindu PTM bertujuan agar anggota dapat berperilaku hidup sehat untuk
mencegah dan mengendalikan PTM.

Intervensi komunitas yang diorganisir dapat dilakukan dengan lima fase: a.


membangun kepercayaan; b. meningkatkan kesadaran; c. mengembangkan
program; d. mengor- ganisir masyarakat; dan e. inisiatif pemeliharaan program.
Model pemberdayaan masyarakat adalah pilihan yang memungkinkan sebagai
strategi moderat untuk menampung keinginan masyarakat mencapai tujuan sistem
kesehatan. Kapital sosial yang cukup kaya di masyarakat dan pengalaman untuk
memobilisasi memberikan satu peluang untuk melakukan intervensi pember-
dayaan masyarakat. Beberapa hambatan perlu antisipasi dalam intervensi
pemberdayaan masyarakat antara lain: keseimbangan antara standarisasi dan
akomodasi, pemenuhan kebutuhan sumber daya, dan menjaga tujuan bersama
(Dewi, 2013). Pemberdayaan Posbindu PTM perlu memperhatikan upaya
pemenuhan kebutuhan sumber daya untuk pelaksanaan dan pengembangan
Posbindu PTM.

6
Perubahan kebijakan perlu ditindaklanjuti dengan sosialisasi agar terjadi
kesamaan dan keselarasan dalam memakai penamaan sebuah kebijakan baru,
seperti desa/kelurahan/RW siaga. Pemahaman oleh Pemerintah Daerah, kebijakan
yang dikaitkan dengan pemberdayaan masyarakat, khususnya penguatan kapasitas
pemerintah tingkat kelurahan/desa perlu diintegrasikan pada tatanan kementerian
dalam kerangka pengembangan dan penguatan otonomi daerah (Darmawan dkk.,
2012).

Faktor pendukung dan penghambat upaya peningkatan peran serta


masyarakat di Kota Manado dan Palangkaraya adalah sebagai berikut: a. pimpinan
pemerintah setempat seperti kepala kecamatan dan kepala kelurahan/kepala desa;
b. tokoh agama dan masyarakat; c. Dinas Kesehatan atau Puskesmas; d.
masyarakat; e. organisasi yang potensial seperti Tim Penggerak PKK, Lembaga
swadaya masyarakat, karang taruna, lembaga keagamaan, dan lembaga adat
(Pranata dkk., 2011). Posbindu PTM yang dikembangkan di Provinsi Jambi
perlu dilakukan penelitian. Pengembangan yang dimaksud adalah
pengembangan model pemberdayaan Posbindu PTM dengan melakukan kajian
peran stakeholder dalam upaya meningkatkan pengetahuan, sikap, dan perilaku
masyarakat untuk melakukan deteksi dini, mencegah, dan mengendalikan PTM.

Pembaharuan/Novelty penelitian ini adalah model peningkatan peran


stakeholder: Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota, Puskesmas, kepala kecamatan,
kepala kelurahan/kapala desa, Tim penggerak pemberdayaan dan kesejahteraan
keluarga (TP PKK) provinsi, TP PKK kabupaten/kota, kecamatan, TP PKK
kelurahan, kader dalam upaya kemandirian masyarakat melakukan deteksi dini,
mencegah, dan mengendalikan penyakit tidak menular. Penelitian pemberdayaan
masyarakat dalam upaya pencegahan dan pengendalian PTM di Kota Yogjakarta,
berdasarkan hasil survey dan data kualitatif tahap awal, suatu intervensi pilot
didesain untuk menginisiasi perubahan perilaku. Hasil penelitian menjadi bahan
penyusunan pedoman pemberdayaann Posbindu PTM dengan peningkatan peran
stakeholder dan perbaikan kebijakan/membuat kebijakan dalam upaya deteksi
dini, pencegahan, dan pengendalian penyakit tidak menular.

7
1.2. Perumusan Masalah

Pelaksanaan Posbindu PTM menunjukkan bahwa belum optimalnya


peran stakeholder dalam meningkatkan kemauan masyarakat untuk melakukan
deteksi dini faktor risiko PTM secara terpadu dan periodik. Berdasarkan
hasil penelitian Dewi (2013), pemberdayaan masyarakat diterapkan dengan
cara menggerakkan kapital sosial yang dimiliki masyarakat.

Kapital sosial yang kaya dan berpengalaman di masyarakat merupakan


satu peluang untuk melakukan intervensi pemberdayaan masyarakat. Beberapa
hambatan perlu diantisipasi dalam intervensi berdasarkan pemberdayaan
masyarakat; yaitu: keseimbangan antara standarisasi dan akomodasi, pemenuhan
kebutuhan sumber daya, dan menjaga tujuan bersama.

Pos pembinaan terpadu penyakit tidak menular (Posbindu PTM) mulai


diperkenalkan di Provinsi Jambi pada tahun 2008 dengan daerah uji coba di Kota
Jambi. Setiap tahun Posbindu PTM bertambah di beberapa kabupaten dan kota
Jambi. Pada tahun 2012 semua kabupaten/kota se Provinsi Jambi telah
mengembangkan Posbindu PTM. Mengingat perkembangan Posbindu PTM masih
lambat, maka perlu dikembangkan penelitian model pemberdayaan Posbindu
PTM melalui peran stakeholder dalam upaya meningkatkan kemauan masyarakat
melakukan deteksi dini, mencegah, dan mengendalikan penyakit tidak menular.

Penelitian Woodall dkk. (2010) bertujuan untuk memberdayakan orang di


seluruh daerah Yorkshire dan Humber untuk hidup sehat. Model ini didasarkan
pada tiga elemen; yaitu: membangun kepercayaan, kapasitas dan sistem. Konsep
model pemberdayaan kesehatan dan kesejahteraan dilengkapi dengan
pengetahuan, kepercayaan diri, dan keterampilan untuk membuat perbedaan
dalam komunitas mereka. Model pemberdayaan kesehatan dan
kesejahteraan lebih baik dari model pemberdayaan. Menurut Janice dan Clarke
(2010), PTM dapat dicegah dengan perubahan perilaku hidup sehat. Pencegahan
adalah fitur yang menonjol dari reformasi pelayanan kesehatan yang

8
berlangsung akhir 1960-an. Mulai awal 1970 di Amerika Serikat, strategi yang
selama ini dijalankan seperti vaksinasi seluruh bangsa, promosi perubahan gaya
hidup sehat, dan peraturan keselamatan, diperkenalkan dan secara luas diterima
sebagai sarana untuk meningkatkan kesehatan masyarakat sekaligus mengurangi
pengeluaran pelayanan kesehatan.

Keberhasilan pemerintah orde baru menurunkan angka kematian ibu dan


anak dilakukan dengan “political entrepreneurship”. Presiden memimpin langsung
kampanye kebijakan, menambah anggaran untuk mengurangi angka kematian ibu
dan anak, dan memobilisasi pemerintah provinsi serta kabupaten/kota untuk
memperhatikan masalah yang sama. Puskesmas dan Posyandu pada era orde baru
menjadi ujung tombak implementasi program di bidang kesehatan. Pelayanan
kesehatan dan Posyandu yang tersebar hingga ke desa terpencil berhasil menekan
angka kematian ibu dan bayi, mengendalikan penyebaran penyakit menular, dan
memperbaiki kondisi kesehatan masyarakat. Posyandu mengajarkan warga
bagaimana mengelola nutrisi yang baik, dan perilaku hidup sehat (Shiffman,
2007)

1.3. Tujuan Penulisan

Tujuan Umum

Menyusun model pemberdayaan Pos Pembinaan Terpadu Penyakit


Tidak Menular (Posbindu PTM) dengan peningkatan peran stakeholder.

Tujuan Khusus

1) Melakukan kajian peran Stakeholder pada proses pembentukan, persiapan,


pelaksanaan, monitoring, evaluasi, dan pengetahuan masyarakat terhadap
pemberdayaan Pos pembinaan terpadu penyakit tidak menular (Posbindu
PTM).
2) Melakukan kajian formulasi model kebijakan pemberdayaan Pos
Pembinaan terpadu penyakit tidak menular (Posbindu PTM) dengan
peningkatan peran stakeholder.

9
3) Menyusun formulasi model pemberdayaan Posbindu PTM dengan
peningkatan peran stakeholder. Manfaat Penelitian Ilmu Pengetahuan

Hasil penelitian ini akan bermanfaat bagi ilmu pengetahuan sebagai salah satu
alternative :

model pemberdayaan Posbindu PTM dengan peningkatan peran stakeholder


dalam upaya meningkatkan kemauan masyarakat melakukan deteksi dini,
pencegahan, dan pengendalian PTM.

1.4. Pembuat Kebijakan

Kementerian Kesehatan

Menyusun formulasi perbaikan kebijakan pemberdayaan Posbindu PTM


melalui peningkatan peran stakeholder, sebagai pelayanan promotif dan preventif
dalam upaya deteksi dini, pencegahan, dan pengendalian PTM, dalam bentuk
pedoman penyelenggaraan Posbindu PTM.

Dinas Kesehatan

a) Menyusun formulasi kebijakan Dinas Kesehatan Kabupaten/kota dalam


pemberdayaan Posbindu PTM dengan peningkatan peran stakeholder;
b) Menyusun kebijakan bagi Puskesmas untuk pemberdayaan Posbindu PTM
dengan peningkatan peran stakeholder dalam upaya meningkatkan kemauan
masyarakat melakukan deteksi dini, mencegah, dan mengendalikan PTM.

Praktisi

Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota

Model pembinaan pemberi pelayanan kesehatan primer untuk melaksanakan


pelayanan promotif dan preventif dalam upaya meningkatkan kemauan

10
masyarakat melakukan deteksi dini, mencegah, dan mengendalikan PTM dengan
mengoptimalkan peran Posbindu PTM.

Pemberi Pelayanan Kesehatan Primer

Model upaya meningkatkan kemauan masyarakat melakukan deteksi dini,


mencegah dan mengendalikan penyakit tidak menular dengan mengembangkan
pelayanan promotif dan preventif melalui Posbindu PTM.

Pemerintah Kabupaten/Kota

Menyusun kebijakan pemberdayaan Posbindu PTM dengan meningkatkan peran


Kepala Kecamatan, Kepala Kelurahan/Kepala Desa, pengusaha dan lembaga
lainya, dalam mengembangkan pelayanan promotif dan preventif untuk
meningkatkan kemauan masyarakat melakukan deteksi dini, mencegah, dan
mengendalikan PTM di masyarakat.

Masyarakat dan Individu

Posbindu PTM sebagai wadah melakukan deteksi dini, mencegah dan


mengendalikan penyakit tidak menular bagi masyarakat/individu.

11
BAB II
PEMBAHASAN

Akibat perilaku manusia pula, lingkungan hidup dieksploitasi sedemikian


rupa sampai menjadi tidak ramah terhadap kehidupan manusia sehingga
meningkatkan jumlah penderita penyakit paru kronis yang seringkali berakhir
dengan kematian. Demikian pula berbagai penyakit kanker dapat dipicu oleh
bermacam bahan kimia yang bersifat karsinogenik, kondisi lingkungan, serta
perilaku manusia.

2.1. Penyakit Kardiovaskuler

Secara global, penyakit kardiovaskuler merupakan penyebab kematian


nomor satu dan diproyeksikan akan tetap demikian. Penyakit kardiovaskuler
mencakup penyakit jantung koroner, penyakit serebrovaskuler, peningkatan
tekanan darah, penyakit arteri perifer, penyakit jantung rematik, penyakit jantung
bawaan, dan gagal jantung.Penyebab utama penyakit kardiovaskuler adalah
merokok, aktivitas fisik yang kurang, dan diet yang tidak sehat.Merokok, diet
yang tidak sehat, dan aktivitas fisik yang kurang meningkatkan risiko serangan
jantung dan stroke.Tekanan darah tinggi tidak memiliki gejala, namun dapat
menyebabkan serangan jantung dan stroke.Lebih dari 80% kematian akibat
penyakit kardiovaskuler terjadi di negara berpenghasilan rendah sampai
menengah. Status ekonomi yang rendah meningkatkan paparan faktor risiko dan
kerentanan terhadap penyakit kardiovaskuler.

2.2. Kanker

Kanker menyumbang kematian kedua setelah penyakit


kardiovaskuler.Jenis utama kanker adalah kanker paru, kanker perut, kanker
kolorektal, kanker hati, dan kanker payudara.Lebih dari 70% semua kematian
akibat kanker terjadi di negara berpenghasilan rendah sampai menengah. Dan

12
diproyeksikan akan terus meningkat dengan perkiraan 11.5 juta kematian pada
2030. Faktor risiko utama kanker adalah merokok, konsumsi alkohol, faktor
makanan (termasuk konsumsi sayur dan buah yang kurang), aktivitas fisik yang
kurang, infeksi kronis dari Helycobacter pylori, virus hepatitis B, virus hepatitis
C, dan beberapa jenis Human Papilloma Virus (HPV), serta lingkungan dan risiko
kerja yang berhubungan dengan pengion dan radiasi.

2.3. Penyakit Pernapasan Kronis

Penyakit pernapasan kronis adalah penyakit pada saluran udara dan


struktur paru lainnya seperti asma dan alergi pernapasan, penyakit paru obstruktif
kronis, penyakit paru kerja (kerusakan paru akibat debu, uap, atau gas berahaya
yang terhirup pekerja di tempat kerja), sleep apnea syndrome, dan hipertensi
pulmonal.Prevalensi penyakit ini meningkat dimana-mana, khususnya di kalangan
anak-anak dan orang tua serta meningkat di daerah dengan penghasilan rendah
samai menengah. Penyakit pernapasan kronis sering kurang
diperhatikan,underdiagnosed, kurang diobati, dan kurang dicegah. Faktor risiko
dari penyakit pernapasan kronis adalah merokok (baik aktif maupun pasif),
terpapar polusi udara, paparan allergen, infeksi saluran pernapasan berulang pada
anak, serta debu kerja dan bahan kimia.

2.4. Diabetes Mellitus

Diabetes adalah penyakit kronis yang terjadi ketika pankreas tidak


menghasilkan cukup insulin atau ketika tubuh tidak dapat secara efektif
menggunakan insulin yang dihasilkan. Risiko kematian orang yang menderita
diabetes mellitus adalah dua kali lipat dibandingkan orang tanpa diabetes mellitus.
Ada dua tipe diabetes, yaitu diabetes mellitus tipe 1 dan diabetes mellitus tipe 2.

Diabetes mellitus tipe 1 ditandai dengan kurangnya produksi insulin; tanpa


pemberian insulin harian, diabetes mellitus tipe 1 akan berakibat fatal. Diabetes
mellitus tipe 2 disebabkan karena penggunaan insulin yang tidak efektif; diabetes
mellitus tipe 2 merupakan 90% tipe dari penderita diabetes di seluruh dunia, hal
ini merupakan dampak dari kelebihan berat badan dan kurangnya aktivitas fisik.
Peningkatan kadar gula darah adalah efek dari diabetes yang tidak terkontrol

13
sehingga perlahan dapat merusak jantung, pembuluh darah, mata, ginjal, dan saraf
sehingga memiliki implikasi yang buruk terhadap kesehatan dan kualitas hidup.

Penyakit tidak menular telah menjadi kelompok penyakit yang sulit untuk
didefinisikan. Istilah penyakit tidak menular menjadi sebuah ironi karena
beberapa penyakit yang termasuk seperti kanker leher rahim, perut, dan hati
sebagian disebabkan oleh infeksi organisme. Namun, empat perilaku seperti
penggunaan tembakau, konsumsi alkohol, pola makan yang buruk, dan kurangnya
aktivitas fisik merupakan perilaku yang menjadi faktor risikodan berhubungan
erat dengan empat penyakit tidak menular utama (penyakit kardiovaskuler,
kanker, penyakit pernapasan kronis, dan diabetes) yang mencapai 80%
menyebabkan kematian dari kelompok penyakit tidak menular.

Penyakit tidak menular muncul dari kombinasi faktor risiko yang tidak
dapat dimodifikasi dan faktor risiko yang dapat dimodifikasi. Fakor risiko yang
tidak dapat dimodifikasi oleh individu adalah usia, jenis kelamin, dan genetika.
Sedangkan faktor risiko yang dapat dimodifikasi adalah faktor yang dapat diubah
melalui keadaran individu itu sendiri dan intervensi sosial. Faktor- faktor yang
dapat dimodifikasi tersebut adalah:

1. Merokok

Efek berbahaya dari merokokterhadap kematian yang disebabkan oleh


kanker, penyakit kardiovaskuler, dan penyakit pernapasan kronis telah lama
diketahui.Selain itu, paparan asap rokok pada perokok pasif seperti ibu hamil,
anak-anak, dan orang dewasa yang tidak hamil di rumah maupun di tempat-
tempat umum menyebabkan hasil kelahiran yang merugikan, penyakit pernapasan
pada masa kanak-kanak, dan penyakit lainnya seperti yang diderita oleh perokok
aktif. Setiap tahunnya, tembakau menyumbang sekitar 6 juta kematian (termasuk
perokok pasif) dan diproyeksikan akan meningkat menjadi 8 juta pada tahun
2030.

Selain pergeseran pola prevalensi merokok, telah terjadi perubahan dalam


jenis rokok yang tersedia, seperti rokok rendah tar dan rokok elektrik. Namun,
hasil tinjauan menyimpulkan bahwa selama lima dekade desain rokok

14
berkembang tidak mengurangi risiko penyakit di kalangan perokok. Satu-satunya
tindakan yang efektif untuk mencegah bahaya merokok adalah dengan
pencegahan dan penghentian merokok.

2. Konsumsi Alkohol

Alkohol merupakan zat psikoaktif dengan memproduksi substansi yang


membuat ketergantungan pengkonsumsinya. Dampak alkohol ditentukan oleh
volume alkohol yang dikonsumsi, pola minum, dan kualitas alkohol yang
dikonsumsi. Pada tahun 2012, sekitar 3.3 juta kematian, atau sekitar 5.9% dari
seluruh kematian global disebabkan oleh konsumsi alkohol.

Konsumsi Alkohol sangat umum di seluruh dunia meskipun membawa


risiko yang merugikan bagi kesehatan dan konsekuensi sosial terkait efek
memabukkan, sifat beracun, dan Nida Nabilah Nur | Faktor Risiko Perilaku
Penyakit Tidak Menular Majority | Volume 5 | Nomor 2 | April 2016 |91
ketergantungan.

Konsumsi alkohol merupakan faktor risiko utama untuk beban penyakit di


negara berkembang berkaitan dengan berbagai penyakit dan cedera, termasuk
kecelakaan lalu lintas, kekerasan, dan bunuh diri. Secara keseluruhan, 5.1% dari
beban penyakit global dan cedera disebabkan oleh alkohol (diukur dalam
Disability-Adjusted Life Years, DALYs).

Konsumsi alkohol yang berlebih tidak hanya meningkatkan risiko cedera


secara substansial, tetapi juga memperburuk penyakit kardiovaskuler dan hati.
Konsumsi alkohol terus meningkat di Jepang, Cina, dan banyak negara lain di
Asia yang sebelumnya rendah.

Faktor lingkungan meliputi pembangunan, ekonomi, budaya, ketersediaan


alkohol, serta kelengkapan tingkat pelaksanaan dan penegakkan kebijakan alkohol
mempengaruhi pola konsumsi alkohol dan besarnya masalah yang berhubungan
dengan alkohol dalam populasi.

3. Pola Makan yang Buruk

15
Sekitar 16 juta (1%) DALYs (ukuran potensial kehilangan kehidupan
karena kematian dini dan tahun-tahun produktif yang hilang karena cacat) dan 1.7
juta (2.8%) dari kematian di seluruh dunia disebabkan oleh kurangnya konsumsi
buah dan sayur.Konsumsi cukup buah dan sayur mengurangi risiko penyakit
kardiovaskular, kanker perut, dan kanker kolorektal. Konsumsi makanan tinggi
kalori seperti makanan olahan yang tinggi lemak dan gula cenderung
menyebabkan obesitas dibandingkan makanan rendah kalori seperti buah dan
sayuran.

Jumlah garam yang dikonsumsi merupakan faktor penentu penting dari


tingkat tekanan darah dan risiko kardiovaskuler secara keseluruhan. Diperkirakan
bahwa mengurangi asupan garam dari konsumsi rata-rata 9-12 gram per hari
menjadi 5 gram per hari memiliki dampak besar pada tekanan darah dan penyakit
kardiovaskuler.

Konsumsi makanan tinggi lemak jenuh dan trans fatty acid terkait dengan
penyakit jantung; minyak nabati tak jenuh ganda dapat menjadi pengganti untuk
menurunkan risiko penyakit jantung koronerdan diabetes mellitus tipe 2.

4. Kurangnya Aktivitas Fisik

Aktivitas fisik yang tidak memadai merupakan satu dari sepuluh faktor
risiko utama kematian global. Orang yang kurang aktif secara fisik memiliki 20%-
30% peningkatan faktor risiko penyebab kematian dibandingkan dengan mereka
yan setidaknya melakukan aktivitas fisik selama 150 menit per minggu, atau
setara seperti yang direkomendasikan WHO.

Aktivitas fisik yang teratur mengurangi risiko penyakit jantung iskemik,


diabetes, kanker payudara, dan kanker kolon.Selain itu, aktivitas yang cukup
mengurangi risiko stroke, hipertensi, dan depresi. Aktivitas fisik juga merupakan
penentu utama dari pengeluaran energi dan dengan demikian penting untuk
keseimbangan energy dan control berat badan.

Empat perilaku umum diatas (merokok, konsumsi alkohol, pola makan


yang buruk, dan kurangnya aktivitas fisik)menyebabkan gangguan metabolik
berupa peningkatan tekanan darah, kelebihan berat badan/obesitas, tingginya

16
kadar glukosa darah, dan peningkatan kadar kolesterol yang berpengaruh terhadap
kejadian penyakit tidak menular.

2.5. Peningkatan Tekanan Darah

Peningkatan tekanan darah merupakan faktor risiko utama untuk penyakit


jantung koroner, iskemik, dan stroke hemoragik.Tingkat tekanan darah telah
terbukti berhubungan dengan risiko tersebut. Dikatakan dalam beberapa
kelompok usia, setiap kenaikan 20/10 mmHg tekanan darah, mulai dari 115/75
mmHg meningkatkan risiko dua kalilipat terkena penyakit kardiovaskuler.Selain
penyakit jantung koroner, iskemik, dan stroke, komplikasi peningkatan tekanan
darah dapat menyebabkan gagal jantung, penyakit pembuluh darah perifer,
gangguan ginjal, dan gangguan penglihatan.Mengontrol tekanan darah sampai
kurang dari 140/90 mmHg dikaitkan dengan penurunankomplikasi
kardiovaskuler.

2.6. Kelebihan Berat Badan

Obesitas memiliki efek metabolik yang buruk pada tekanan darah,


kolesterol, trigliserida, dan resistensi insulin. Risiko penyakit jantung koroner,
stroke iskemik, dan diabetes mellitus tipe 2 terus meningkat seiring dengan
meningkatnya indeks massa tubuh (IMT). IMT yang meningkat juga
meningkatkan risiko kanker payudara, kanker kolon, kanker prostat, kanker
endometrium, kanker ginjal, dan kanker hati. Untuk mencapai kesehatan optimal,
IMT rata-rata untuk populasi dewasa harus berada pada isaran 21-23 kg/m2,
sedangkan bagi individu harus menjaga IMT dalam kisaran 18.5-24.9 kg/m2.
Terdapat peningkatan risiko penyakit penyerta untuk orang dengan IMT 25-29.9
kg/m2 dan komorbiditas yang parah untuk IMT lebih dari 30 kg/m2.

2.7. Kadar Glukosa Darah yang Tinggi

17
Diabetes bertanggung jawab untuk kematian 1,5 juta jiwa pada tahun 2012
dan 89 juta DALYs. Toleransi glukosa yang terganggu, dan gangguan gula darah
puasa adalah kategori risiko untuk diabetes dan penyakit kardiovaskuler.Orang
dengan diabetes memiliki risiko dua kali lipat terkena stroke.Diabetes juga
menyebabkan kegagalan ginjal pada banyak populasi.Amputasi tungkai bawah
meningkat 10 kali lebih umum pada orang dengan diabetes.Diabetes juga
merupakan penyebab utama gangguan penglihatan dan kebutaan. Prevalensi
hiperglikemi bergantung pada kriteria diagnostik epidemiologi, dikatakan nilai
gula darah puasa ≥7.0 mmol/L (126 mg/dL) sudah cukup untuk mendiagnosis
diabetes.

2.8. Peningkatan Kadar Kolesterol

Kadar kolesterol yang tinggi meningkatkan risiko penyakit jantung dan


stroke. Secara umum, sepertiga dari penyakit jantung iskemik disebabkan oleh
kadar kolesterol yang tinggi. Kolesterol yang tinggi diperkirakan menyebabkan
2.6 juta kematian (4.5% dari total kematian) dan 2.0% dari total DALYs.

Untuk mengurangi dampak dari PTM pada individu dan masyarakat,


diperlukan pendekatan komprehensif dari semua sektor, termasuk kesehatan
keuangan, pendidikan, pertanian, perencanaan, dan lain-lain. Berbagai penyakit
tidak menular dapat dicegah dengan mengatasi faktor risiko yang terkait,
ditargetkan dengan kebijakan kesehatan formal dan informal dari inisiatif
pemerintah. Temuan kunci telah menggaris bawahi efektivitas kebijakan
pemerintah dalam mencegah penyakit tidak menular.

WHO dalam mengatasi dan mengendalikan penyakit tidak menular


mendukung negara-negara anggota untuk mengembangkan dan melaksanakan
kebijakan yang komprehensif dan terpadu.

Komponen program pengendalian dan pencegahan penyakit tidak menular


tersebut adalah:

1. Pencegahan dan pengendalian penyakit kardiovaskuler.

18
Solusi untuk penyakit kardiovaskuler adalah dengan diet makanan yang
sehat dan meningkatkan aktifitas fisik, menghentikan merokok, dan mengetahui
kemungkinan risiko.

2. Pencegahan dan pengendalian kanker

Strategi kunci untuk pencegahan kanker adalah dengan mengontrol


merokok, promosi makanan sehat dan aktivitas fisik yang cukup, proteksi
terhadap agen infeksi seperti dengan melakukan vaksinasi, mencegah konsumsi
alkohol yang berlebihan, dan menggurangi paparan terahap radiasi dan agen
karsinogenik lain, serta proteksi diri.

3. Pencegahan dan pengendalian penyakit pernapasan kronis

Fokus pencegahan pada penyakit pernapasan kronis adalah pencegahan


merokok, deteksi dini penyakit paru yang berhubungan dengan paparan,
pengaturan diet dan nutrisi, memperhatikan kualitas udara yang dihirup, dan
memperhatikan kualitas pernapasan pada awal-awal kehidupan.

4. Kontrol diabetes mellitus

Untuk membantu mencegah diabetes mellitus tipe 2 dan komplikasinya,


dilakukan dengan cara mencapai dan mempertahan kan berat badan yang ideal,
melakukan aktivitas fisik yang cukup, deteksi dini, pengobatan, dan menghentikan
rokok. Pengendalian diabetes dilakukan dengan memberikan insulin, mengontrol
tekanan darah, merawat kaki apabila telah terjadi komplikasi, skrining dan
pengobatan retinopati, mengontrol kadar lipid darah.

Pengetahuan tentang faktor risiko menggambarkan lebih lengkap transisi


epidemiologi dan bagaimana untuk mengurangi faktor risiko di semua tingkat
pembangunan negara dengan penggunaan berbagai strategis. Meskipun perilaku
individu merupakan faktor penting dalam pola pengendalian faktor risiko untuk
penyakit menular, upaya untuk mengurangi merokok, konsumsi alkohol,
konsumsi makanan yang mengandung lemak trans, dan konsumsi garam
menunjukkan bahwa terdapat ruang melalui perumusan kebijakan dan
implementasi.

19
WHO mengusulkan beberapa intervensi untuk mencegah dan mengontrol
penyakit tidak menular, seperti untuk peningkatan pajak tembakau dan alkohol,
tempat kerja dan publik harus bebas dari asap rokok, memberi informasi
kesehatan dan peringatan, larangan klan rokok, promosi, dan sponsorships, akses
terbatas untuk alkohol, melarang iklan alkohol, mengurangi asupan garam dalam
makanan, penggantian lemak trans dengan lemak tidak jenuh ganda, dan
menyadarkan public melalui media massa tentang diet dan aktivitas fisik.

2.9. Penyakit Degeneratif

Ada 2 Penyakit Degeneratif, diantaranya :

1. Osteoporosis

Tulang keropos akibat kepadatan tulang yang menurun, sehingga


mengurangi massanya.

2. Alzheimer

Penyebab utama demensia di antara orang-orang yang berusia di atas 60.

Gejala: berkurangnya memori serta kesulitan menghitung dan mengelola


tugas sehari-hari, tersesat, perubahan kepribadian, delusi dan hilangnya
kontrol fungsi tubuh

2.10. Pencegahan Penyakit Tidak Menular (PTM)

Ada 2 cara pencegahan Penyakit Tidak Menular (PTM) di masyarakat :

1. Cara CERDIK
2. Cara PATUH

Cara CERDIK yaitu :

C ----> Cek Kesehatan Secara Rutin

E ----> Enyahkan Asap Rokok

20
R ----> Rajin Aktifitas Fisik Rajin Aktifitas Fisik

D ----> Diet Seimbang

I ----> Istirahat Cukup

K ----> Kelola Stres

Cara PATUH yaitu :

P ----> Periksa Kesehatan Secara Rutin dan Ikuti Anjuran Dokter

A ----> Atasi Penyakit dengan Pengobatan Yang Tepat dan Teratur

T ----> Tetap Diet Sehat dengan Gizi Seimbang

U ----> Upayakan beraktifitas fisik dengan aman

H ----> Hindari Rokok, Alkohol dan Zat Karsinogenik lainnya.

21
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Penyakit tidak menular merupakan penyakit kronis yang tidak ditularkan


dari orang ke orang. Berdasarkan profil WHO, terdapat empat penyakit tidak
menular utama yang menyebabkan kematian tertinggi di dunia, yaitu (1) penyakit
kardiovaskuler; (2) kanker; (3) penyakit pernapasan kronis; dan (4) diabetes
mellitus.

Penyakit tidak menular erat kaitannya dengan faktor lingkungan,


khususnya faktor perilaku. Terdapat empat faktor perilaku utama yang
berpengaruh pada penyakit tidak menular, yaitu (1) merokok; (2) konsumsi
alkohol berlebihan; (3) pola makan yang buruk; dan (4) kurangnya aktivitas fisik.

Pencegahan dan kontrol penyakit tidak menular dilakukan dengan (1)


pencegahn dan pengendalian penyakit kardiovaskuler; (2) pencegahan dan
pengendalian kanker; () pencegahan dan pengendalian penyakit pernapasan
kronis; dan (4) kontrol diabetes mellitus.

Penyakit tidak menular diproyeksikan akan terus meningkat persentasenya


dalam menyebabkan kematian dan penurunan kualitas hidup. Empat kelompok
penyakit utamanya berkaitan erat dengan empat faktor perilaku seperti merokok,
konsumsi alkohol, pola makan yang buruk, dan kurangnya aktivitas fisik. Empat

22
faktor perilaku tersebut berpengaruh terhadap empat faktor metabolik kunci
penyakit tidak menular, yaitu, tekanan darah meningkat, kelebihan berat
badan/obesitas, kadar glukosa darah yang tinggi, dan kadar kolesterol yang
meningkat.

Ada 2 cara pencegahan Penyakit Tidak Menular (PTM) di masyarakat : Cara


CERDIK dan Cara PATUH

3.2 Saran

Dengan telah dibahasnya tentang penyakit tidak menular (PTM) diatas


maka kita dapat mengetahui langkah-langkah apa yang saja yang mesti di hadapi
serta menjaga pola makan dan pola hidup yang lebih sehat lagi di kemudian hari.

23
DAFTAR PUSTAKA

World Health Organization; 2015 [diakses tanggal 24 Agustus 2021]. Tersedia


dari: http://www.who.int/mediacentre/factsheets/fs355/en/

Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. Buletin Jendela Data dan Informasi


Kesehatan Penyait Tidak Menular. Jakarta: Pusat Data dan Informasi
Kementrian Kesehatan RI; 2012. hlm. 1-28.

Anies. Waspada Ancaman Penyakit Tidak Menular: Solusi Pencegahan Aspek


Perilaku & Lingkungan. Jakarta: PT. Elex Media Komputindo; 2003.

World Medical Association, Inc; 2015 [diakses tanggal 24 Agustus 2021].


Tersedia
dari:http://www.wma.net/en/20activities/30publichealth/10noncommunic
ablediseases/index.html

The Jakarta Post; 2011 [diakses tanggal 24 Agustus 2021]. Tersedia dari:
http://www.thejakartapost.com/news/2011/06/23/indonesia-loses-
billions-diabetes-chronic-diseases.html

World Health Organization; 2015 [diakses tanggal 24 Agustus 2021]. Tersedia


dari:

http://www.who.int/nmh/publications/fact_sheet_cardiovascular_en.pdf?ua=1

24
Fatimah RN. Diabetes Melitus Tipe 2. J Majority. 2015;5(4):93-101.

25