Anda di halaman 1dari 20

KLHS RPJMD

KABUPATEN MALUKU BARAT DAYA

Berisi mengenai dasar – dasar teori yang didalamnya mencakup Teori Perkembangan Wilayah,
Perkembangan Fungsi Daerah, Tujuan Pembangunan Berkelanjutan, Kajian Lingkungan Hidup Strategis,
Muatan KLHS

LAPORAN ANTARA DASAR TEORI Bab 2 - 1


KLHS RPJMD
KABUPATEN MALUKU BARAT DAYA

2.1 PERKEMBANGAN WILAYAH


Jenis wilayah dibagi menjadi tiga, yaitu wilayah fungsional, wilayah homogen dan wilayah
administratif. Wilayah fungsional adalah wilayah yang terintegrasi secara internal. Artinya,
bagian-bagian dari wilayah tersebut satu-sama lain saling berinteraksi secara lebih intensif
dibandingkan dengan wilayah-wilayah lainnya. ering kali wilayah fungsional dicirikan dengan
adanya sebuah pusat wilayah dan kawasan-kawasan sekitarnya yang berhubungan erat dengan
pusat wilayah tersebut. Wilayah homogen adalah suatu wilayah yang bagian-bagian wilayahnya
mempunyai karakteristik yang sama. Karakteristik tersebut dapat berupa iklim yang sama,
kegiatan utama yang sama (pertanian, industri, dan sebagainya), atau yang mengalami masalah
utama yang sama misalnya wilayah bersalju (snowbelt region) dan wilayah matahari (sunbelt
regions). Pengertian “wilayah administratif” sekarang mencakup wilayah yang merupakan
kewenangan pemerintah pusat (seluruh wilayah negara), wilayah yang merupakan kewenangan
pemerintah provinsi (sebagian dari wilayah negara), wilayah yang merupakan kewenangan
pemerintah kabupaten atau kota (sebagian dari wilayah provinsi), wilayah kecamatan (sebagian
dari wilayah kabupaten atau kota), dan wilayah desa (sebagian dari wilayah kecamatan).
Perkembangan wilayah menurut Kindleberger dan Herrick, perkembangan didefinisikan sebagai
semua perbaikan dalam kesejahteraan materi masyarakat. Perkembangan berikatan dengan
peningkatan kesejahteraan masyarakat yang di antaranya melalui perubahan struktur ekonomi
misalnya dari pertanian ke industri dan selanjutnya jasa (Nurzaman, 2012). Sehingga,
perkembangan ekonomi merupakan sebab dan juga akibat dari adanya perkembangan teknologi
dan berdampak pada kehidupan sosial pada sisi tata ruang wilayah atau kota.
Perkembangan wilayah juga dapat diukur dari jumlah dan ketersediaan sarana yang dapat
mendukung kegiatan penduduk diwilayah tersebut. Semakin berkembang atau maju suatu
wilayah, maka akan semakin banyak jumlah sarana penunjang kegiatan bagi penduduk di wilayah
tersebut (Bakri, Ali dan Natalia, 2016).
Tingkat perkembangan wilayah umumnya terjadi karena adanya beberapa faktor, yaitu
karakteristik fisik wilayah (topografi, kesuburan, aksesibilitas) sumber daya alam, sumber daya
manusia serta kebijakan pengelolaan wilayah daerah tersebut. Hill (1990) dalam Wilonoyudho
(2009:3) menyatakan bahwa perkembangan suatu wilayah dapat dilihat dari indikator yang
bersifat statis seperti Indeks Pembangunan Manusia (Human Development Index).
Tingkat perkembangan regional seperti yang dikemukakan BPS (2011) dalam Muta’ali (2015: 94)
dalam penyusunan Indeks Pembangunan Regional (IPR) untuk menggambarkan rating
pembangunan daerah memiliki dimensi pengukuran yang lebih lengkap, yaitu:
a. Ekonomi, meliputi komponen : pendapatan dan urbanisasi (daya beli, pendapatan per
kapita), ketenagakerjaan (pekerja formal, fulltime dengan upah di atas UMP), serta
kemampuan ekonomi dan investasi (pembentukan modal, kontribusi sektor terhadap
PDRB).
b. Sosial, meliputi komponen: pendidikan (rata-rata lama sekolah, angka melek huruf, angka
partisipasi sekolah, penduduk yang tamat PT), kesehatan (angka harapan hidup,
penduduk tidak sakit, balita imunisasi), kependudukan (pertumbuhan penduduk, rasio
ketergantungan, angka kelahiran), dan sosial lainnya (keamanan, penduduk bukan
korban kejahatan, penduduk tidak miskin).
c. Infrastrukur pelayanan publik meliputi: rasio murid di SD, SMP, SMA, rasio dokter
terhadap penduduk, penduduk berobat ke RS dan dokter, rasio bank, sawah irigasi dan
panjang jalan aspal
d. Lingkungan hidup: pencemaran udara, pencemaran air/tanah, akses air minum bersih,
akses sanitasi layak. Informasi meliputi: akses internet, penduduk mendengarkan radio,
menonton tv, rasio kantorpos, telepon selular.

LAPORAN ANTARA DASAR TEORI Bab 2 - 2


KLHS RPJMD
KABUPATEN MALUKU BARAT DAYA

2.2 PERKEMBANGAN FUNGSI DAERAH


Keterbatasan wewenang daerah di masa lalu berdampak pada tumpulnya kreativitas untuk
mengembangkan sumber daya alam maupun sumber daya manusia, sehingga pembangunan
hanya dipusatkan di daerah tertentu, sementara daerah lainnya sangat tertinggal bahkan tidak
sedikit yang masih dalam keadaan terisolasi. Kondisi ini menunjukkan bahwa pembangunan yang
dilakukan dengan hanya mengandalkan kebijakan pemerintah pusat sangat terbatas untuk
menjangkau banyak daerah yang sebenarnya sangat membutuhkan pembangunan. Rasyid
(2002: 9) mengungkapkan bahwa tujuan utama dari kebijakan desentralisasi yang dijabarkan
dalam konsep otonomi daerah ini dilakukan untuk memberikan negara kesempatan lebih untuk
mempelajari, memahami dan merespons berbagai kecenderungan global dan mengambil
manfaat dari padanya, karena urusan kedaerahan telah menjadi tanggung jawab tiap daerah.
Pemerintah daerah ternyata mempunyai andil besar dalam mendorong pertumbuhan wilayah.
Pertama, pengaruh dari faktor-faktor lokal terhadap laju pertumbuhan ekonomi daerah akan
menjadi sangat nyata bila dikombinasikan dengan kondisi awal yang baik atau situasi eksternal.
Kedua, peranan yang besar dari pemerintah daerah dalam mendorong pertumbuhan wilayahnya
tidak akan terealisir kalau tidak ada rencana pengembangan yang jelas dan dilaksanakan secara
konsekuen. Ketiga, perlu pengelolaan sumber daya alam agar tidak menjadi sia-sia bagi
daerahnya. Keempat, diperlukan strategi yang berbeda dan realistis untuk masing-masing lokasi
sebagai upaya pengembangan lokasi.
Berdasarkan UU No. 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah, pembangunan daerah
merupakan perwujudan dari pelaksanaan urusan pemerintahan (konkuren) yang telah
diserahkan ke Daerah sebagai bagian integral dari pembangunan nasional, merupakan
penyelenggaraan urusan pemerintahan yang kekuasaannya dipegang oleh presiden. Urusan
pemerintah wajib (berkaitan dan tidak terkait dengan pelayanan dasar), dan urusan pilihan.
Berdasarkan Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 sebagaimana telah diamendemen dengan
Undang-undang Nomor 12 Tahun 2008 tentang Pemerintahan Daerah, definisi atau arti otonomi
daerah adalah hak, wewenang, dan kewajiban daerah otonom untuk mengatur dan mengurus
sendiri urusan pemerintahan dan kepentingan masyarakat setempat sesuai dengan peraturan
perundang-undangan.
Salah satu hal yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 23 tahun 2014 tentang Pemerintahan
Daerah adalah pernyataan tegas tentang hak daerah menetapkan kebijakan daerah untuk
menyelenggarakan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan daerah. Kebijakan
merupakan dasar dari segala bentuk tindakan atau upaya yang dilakukan oleh pemilik kuasa,
atau dalam konteks ini yaitu pemerintah, untuk mengendalikan, mengarahkan dan mengatur apa
yang menjadi kewajiban dantanggung jawabnya untuk mencapai suatu tujuan tertentu di masa
kini maupun masa mendatang (Suharto, 2005:7). Kebijakan yang dibuat oleh pemerintah
mencakup kepentingan publik atau masyarakat umum dan digunakan untuk memecahkan
masalah publik. Kebijakan merupakan pelaksanaan kekuasaan negara/ pemerintah berdasar
pada asas legalitas, artinya setiap kebijakan yang diambil ataupun ditetapkan oleh pemerintah
haruslah berpedoman pada peraturan perundang – undangan atau hukum yang berlaku
(Anderson, 1984:113).
Pembangunan daerah adalah pembangunan yang disesuaikan dengan kekhasan karakteristik,
aspirasi, dan kreativitas daerah, yang meliputi seluruh bidang/ fungsi yang kewenangannya
diserahkan kepada daerah terkait pemanfaatan setiap potensi sumber daya yang dimilikinya
dalam menunjang pembangunan daerah untuk mencapai tujuan yang ditetapkan dalam kerangka
otonomi daerah. Pembangunan daerah dilaksanakan oleh pemerintah daerah untuk kepentingan
masyarakat, karena itu aparatur pemerintahan di daerah harus mampu memahami peran dan
tanggung jawabnya sesuai kewenangan yang dimilikinya dalam konteks otonomi untuk
melaksanakan pembangunan di daerah, terkhusus yang terkait dengan penggunaan dan
pemanfaatan setiap aset dan sumber daya daerah yang sepenuhnya ditujukan untuk
kesejahteraan masyarakat sebagaimana yang diatur dalam Pasal 33 Undang– Undang Dasar
Negara Republik Indonesia Tahun 1945.

LAPORAN ANTARA DASAR TEORI Bab 2 - 3


KLHS RPJMD
KABUPATEN MALUKU BARAT DAYA

2.3 RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH (RPJMD)


Berdasarkan Permendagri No. 86 Tahun 2017 tentang Tata Cara Perencanaan, Pengendalian
dan Evaluasi Pembangunan Daerah, Tata Cara Evaluasi Ranperda tentang RPJPD, RPJMD,
serta Tata Cara Perubahan RPJPD, RPJMD, dan RKPD, RPJMD sebagai dokumen perencanaan
Daerah untuk periode 5 (lima) tahun terhitung sejak dilantik sampai berakhir masa jabatan kepala
daerah, dilakukan KLHS untuk memastikan pembangunan berkelanjutan telah menjadi dasar
kaidah perumusan kebijakan Rencana Pembangunan Daerah (pasal 161,162 dan 151,153).
Dalam peraturan ini memuat: kaidah perumusan rencana kebijakan (ps 153), analisis gambaran
umum kondisi daerah (ps 154-155), analisis keuangan daerah (ps 156-158), sinkronisasi
kebijakan dengan rencana pembangunan lainnya (ps 159-160), KLHS (ps 161-162), perumusan
permasalahan pembangunan dan analisis isu strategis Daerah (ps 163-164), perumusan dan
penjabaran visi dan misi (ps 165-166), perumusan tujuan, sasaran dan sasaran pokok (ps 167-
170), perumusan strategi dan arah kebijakan (ps 171-172), perumusan prioritas pembangunan
daerah (ps 173), perumusan sasaran, program dan kegiatan perangkat daerah (ps 174-177),
penelaahan pokok-pokok pikiran DPRD (ps 178-179) hubungannya dengan daya dukung dan
daya tampung, serta Tata cara pengendalian dan evaluasi pembangunan daerah (ps 180-306)
terkait dengan KLHS.
Menurut Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 90 Tahun 2019 Tentang Klasifikasi, Kodefikasi,
Dan Nomenklatur Perencanaan Pembangunan Dan Keuangan Daerah, Pemerintah Daerah
menyusun dokumen rencana pembangunan daerah, dokumen rencana perangkat daerah, dan
dokumen pengelolaan keuangan daerah sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-
undangan. Klasifikasi, Kodefikasi, dan Nomenklatur merupakan acuan baku bagi Pemerintah
Daerah dalam menyusun dokumen perencanaan pembangunan dan keuangan daerah.
Klasifikasi, Kodefikasi, dan nomenklatur yang digunakan pada tahapan:
a. perencanaan pembangunan daerah;
b. perencanaan anggaran daerah;
c. pelaksanaan dan penatausahaan keuangan daerah;
d. akuntansi dan pelaporan keuangan daerah;
e. pertanggungjawaban keuangan daerah;
f. pengawasan keuangan daerah; dan
g. analisis informasi pemerintahan daerah lainnya.

Klasifikasi tersebut juga termasuk pula dalam penyusunan RPJMD. Rencana Pembangunan
Jangka Menengah Daerah yang selanjutnya disingkat RPJMD sesuai Pasal 1 angka 26 Peraturan
Menteri Dalam Negeri Nomor 86 Tahun 2017 adalah dokumen perencanaan Daerah untuk
periode 5 (lima) tahun terhitung sejak dilantik sampai dengan berakhirnya masa jabatan Kepala
Daerah.
Rancangan Awal RPJMD, sebagaimana Pasal 47 ayat (1) dijelaskan bahwa penyusunan
rancangan awal RPJMD, dimulai sejak Kepala Daerah dan wakil Kepala Daerah terpilih dilantik.
Sedangkan pada ayat (2) dijelaskan bahwa Penyusunan rancangan awal RPJMD, merupakan
penyempurnaan rancangan teknokratik RPJMD dengan berpedoman pada visi, misi dan program
Kepala Daerah dan wakil Kepala Daerah terpilih. Selanjutnya pada ayat (3) dijelaskan juga bahwa
Penyusunan rancangan awal RPJMD, mencakup:
1) penyempurnaan rancangan teknokratik RPJMD;
2) penjabaran visi dan misi Kepala Daerah;
3) perumusan tujuan dan sasaran;
4) perumusan strategi dan arah kebijakan;
LAPORAN ANTARA DASAR TEORI Bab 2 - 4
KLHS RPJMD
KABUPATEN MALUKU BARAT DAYA

5) perumusan program pembangunan Daerah;


6) perumusan program Perangkat Daerah; dan
7) KLHS.

Sementara pada ayat (4) dijelaskan bahwa penyusunan rancangan awal RPJMD, dilakukan
sesuai dengan kaidah perumusan kebijakan perencanaan, dan selanjutnya pada ayat (5)
dijelaskan bahwa Hasil perumusan rancangan awal RPJMD, disajikan dengan sistematika paling
sedikit memuat:
1) pendahuluan;
2) gambaran umum kondisi Daerah;
3) gambaran keuangan Daerah;
4) permasalahan dan isu strategis Daerah;
5) visi, misi, tujuan dan sasaran;
6) strategi, arah kebijakan dan program pembangunan Daerah;
7) kerangka pendanaan pembangunan dan program Perangkat Daerah;
8) kinerja penyelenggaraan pemerintahan Daerah; dan
9) penutup.

Selanjutnya, dalam Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 86 Tahun 2017 tentang Tata Cara
perencanaan, Pengendalian dan evaluasi pembangunan Daerah, tata cara evaluasi rancangan
Perda tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah dan Rencana Pembangunan
Jangka Menengah Daerah, serta tata cara perubahan Rencana Pembangunan Jangka Panjang
Daerah, Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah, dan Rencana Kerja Perangkat
Daerah mengamanatkan bahwa Rencana pembangunan Daerah Pemerintah daerah menyusun
KLHS RPJMD dalam rangka mewujudkan RPJMD sesuai dengan prinsip berkelanjutan. Hal ini
tentu berkaitan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan yang telah ditetapkan berdasarkan
Peraturan Presiden Nomor 59 Tahun 2017 tentang Pelaksanaan Pencapaian Tujuan
Pembangunan Berkelanjutan yang mengamanatkan bahwa untuk mencapai sasaran TPB
mengarahkan Pemerintah Daerah untuk menyusun dokumen perencanaan salah satunya
Rencana Aksi Daerah (RAD) TPB Kabupaten/Kota, sehingga dihasilkan rencana aksi TPB yang
terukur dan jelas dalam periode waktu tertentu.

2.4 TUJUAN PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN (TPB)


Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) ke 70 pada bulan September 2015 di New
York, Amerika Serikat, menjadi titik sejarah baru dalam pembangunan global. Sebanyak 193
kepala negara dan pemerintahan dunia hadir untuk menyepakati agenda pembangunan universal
baru yang tertuang dalam dokumen berjudul Transforming Our World: the 2030 Agenda for
Sustainable Development berisi 17 Tujuan dan 169 Sasaran yang berlaku mulai tahun 2016
hingga tahun 2030. Dokumen ini dikenal dengan istilah Sustainable Development Goals atau
SDGs
Berbeda dengan pendahulunya, SDGs mengakomodasi masalah – masalah pembangunan
secara lebih komprehensif baik kualitatif (dengan mengakomodir isu pembangunan yang tidak
ada dalam MDGs) maupun kuantitatif menargetkan penyelesaian tuntas terhadap setiap tujuan
dan sasaranya. SDGs juga bersifat universal memberikan peran yang seimbang kepada seluruh
negara baik negara maju, negara berkembang, dan negara kurang berkembang untuk

LAPORAN ANTARA DASAR TEORI Bab 2 - 5


KLHS RPJMD
KABUPATEN MALUKU BARAT DAYA

berkontribusi penuh terhadap pembangunan, sehingga masing masing negara memiliki peran
dan tanggung jawab yang sama antara satu dengan yang lain dalam mencapai SDGs.
SDGs membawa 5 prinsip-prinsip mendasar yang menyeimbangkan dimensi ekonomi, sosial,
dan lingkungan, yaitu 1) People (manusia), 2) Planet (bumi), 3) Prosperity (kemakmuran), 4)
Peace (perdaiaman), dan 5) Partnership (kerjasama). Kelima prinsip dasar ini dikenal dengan
istilah 5 P dan menaungi 17 Tujuan dan 169 sasaran. Kepala negara dan pemerintahan yang
menyepakati SDGs telah meneguhkan komitmen bersama untuk menghapuskan kemiskinan,
menghilangkan kelaparan, memperbaiki kualitas kesehatan, meningkatkan pendidikan, dan
mengurangi ketimpangan. Agenda pembangunan ini juga menjanjikan semangat bahwa tidak
ada seorangpun yang akan ditinggalkan. Dijelaskan bahwa setiap orang dari semua golongan
akan ikut melaksanakan dan merasakan manfaat SDGs, dengan memprioritaskan kelompok –
kelompok yang paling termarginalkan.
Berdasarkan Perpres No. 59 Tahun 2017 tentang Pelaksanaan Pencapaian TPB, tujuan adanya
TPB adalah untuk menjaga peningkatan kesejahteraan ekonomi masyarakat secara
berkesinambungan, menjaga keberlanjutan kehidupan sosial masyarakat, menjaga kualitas
lingkungan hidup serta pembangunan yang inklusif dan terlaksananya tata kelola yang mampu
menjaga peningkatan kualitas kehidupan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Sasaran
Nasional dan TPB, RAN-TPB dan RAD-TPB (2017- 2019) dan Indikator TPB dan RPJMN, Peta
Jalan TPB (2017-2030) mengacu kepada aturan ini juga,
Pembangunan berkelanjutan, sebagaimana UU No. 32 Tahun 2009 didefinisikan sebagai upaya
sadar dan terencana yang memadukan aspek lingkungan hidup, sosial, dan ekonomi ke dalam
strategi pembangunan untuk menjamin keutuhan lingkungan hidup serta keselamatan,
kemampuan, kesejahteraan, dan mutu hidup generasi masa kini dan generasi masa depan.
Sementara dalam Pasal 1 Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 59 Tahun 2017
dijelaskan bahwa yang dimaksud dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan/ Sustainable
Development Goals (SDGs) dan selanjutnya disingkat TPB adalah dokumen yang memuat tujuan
dan sasaran global tahun 2016 sampai tahun 2030. Adapun tujuan dan sasaran globalnya
memuat 17 (tujuh belas) tujuan pembangunan berkelanjutan, adalah sebagai berikut:

Tabel II.1 Tema Tujuan Pembangunan Berkelanjutan


TPB Tema Simbol Deskripsi
TPB Tanpa Kemiskinan pengentasan segala bentuk kemiskinan di
1 semua tempat

TPB Tanpa Kelaparan mengakhiri kelaparan, mencapai ketahanan


2 pangan dan perbaikan nutrisi, serta
menggalakkan pertanian yang berkelanjutan

LAPORAN ANTARA DASAR TEORI Bab 2 - 6


KLHS RPJMD
KABUPATEN MALUKU BARAT DAYA

TPB Tema Simbol Deskripsi


TPB Kehidupan Sehat dan menggalakkan hidup sehat dan mendukung
3 Sejahtera kesejahteraan untuk semua usia

TPB Pendidikan memastikan pendidikan berkualitas yang layak


4 Berkualitas dan inklusif serta mendorong kesempatan
belajar seumur hidup bagi semua orang

TPB Kesetaraan Gender mencapai kesetaraan gender dan


5 memberdayakan semua perempuan

TPB Air Bersih dan menjamin akses atas air dan sanitasi untuk
6 Sanitasi Layak semua

TPB Energi Bersih dan memastikan akses pada energi yang


7 Terjangkau terjangkau, bisa diandalkan, berkelanjutan dan
modern untuk semua

TPB Pekerjaan Layak dan mempromosikan pertumbuhan ekonomi


8 Pertumbuhan berkelanjutan dan inklusif, lapangan pekerjaan
Ekonomi dan pekerjaan yang layak untuk semua

TPB Industri, Inovasi dan membangun infrastruktur kuat,


9 Infrastruktur mempromosikan industrialisasi berkelanjutan
dan mendorong inovasi

LAPORAN ANTARA DASAR TEORI Bab 2 - 7


KLHS RPJMD
KABUPATEN MALUKU BARAT DAYA

TPB Tema Simbol Deskripsi


TPB Berkurangnya mengurangi kesenjangan di dalam dan di
10 Kesenjangan antara negara-negara

TPB Kota dan Komunitas membuat perkotaan menjadi inklusif, aman,


11 Berkelanjutan kuat, dan berkelanjutan

TPB Konsumsi dan memastikan pola konsumsi dan produksi yang


12 Produksi Yang berkelanjutan
Bertanggung Jawab

TPB Penanganan mengambil langkah penting untuk melawan


13 Perubahan Iklim perubahan iklim dan dampaknya

TPB Ekosistem Laut perlindungan dan penggunaan samudera, laut


14 dan sumber daya kelautan secara
berkelanjutan

TPB Ekosistem Daratan mengelola hutan secara berkelanjutan,


15 melawan perubahan lahan menjadi gurun,
menghentikan dan merehabilitasi kerusakan
lahan, menghentikan kepunahan
keanekaragaman hayati

TPB Perdamaian, mendorong masyarakat adil, damai, dan inklusif


16 Keadilan dan
Kelembagaan Yang
Tangguh

LAPORAN ANTARA DASAR TEORI Bab 2 - 8


KLHS RPJMD
KABUPATEN MALUKU BARAT DAYA

TPB Tema Simbol Deskripsi


TPB Kemitraan untuk menghidupkan kembali kemitraan global demi
17 Mencapai Tujuan pembangunan berkelanjutan

Gambar 2.1 Simbol Tujuan Pembangunan Berkelanjutan

2.4.1 Pengumpulan Data Pengidentifikasian TPB


Guna mengukur hasil pembangunan yang ada dalam SDGs, dilakukan proses tindak lanjut dan
pelaporan (follow up and review) dengan mendasarkan pada rangkaian indikator. Rangkaian
indikator dipersiapkan baik pada level global, regional maupun nasional. Upaya mengidentifikasi
kerangka indikator global untuk tujuan dan sasaran SDGs,
Identifikasi, yaitu (1) temu kenali target dan indikator TPB yang relevan (diperoleh dari Perpres
no. 59 tahun 2017) dan (2) temu kenali target dan indikator rencana pembangunan (diperoleh
dari Permendagri no.86 tahun 2017), untuk disesuaikan dan mempunyai relevansi dengan target
dan indikator yang terdapat dalam dokumen RPJMD. Perlunya identifikasi terhadap relevansi
indikator TPB bagi masing-masing daerah, dimaksudkan agar program dan kegiatan yang
dirumuskan di dalam RPJMD tidak bertentangan dengan kewenangan serta kondisi wilayahnya
masing-masing.
Mengumpulkan data dari tiap indikator yang sesuai (relevan antara indikator rencana
pembangunan daerah dengan TPB), dengan data yang dikumpulkan sekurang-kurangnya
mencakup:
(1) RPJMD yang berlaku 5 lima tahun (terhitung mundur mulai dari tahun 2017)
LAPORAN ANTARA DASAR TEORI Bab 2 - 9
KLHS RPJMD
KABUPATEN MALUKU BARAT DAYA

(2) RKPD tahun 2017 dan 4 tahun sebelumnya


(3) Laporan Pertanggungjawaban APBD tahun 2017 dan 3 tahun sebelumnya
(4) Daya Dukung dan Daya tampung
(5) Data kegiatan Mitra-Pemerintah dalam pembangunan (kontribusi)
(6) Data Pendukung lainnya

2.4.2 Identifikasi Indikator TPB Untuk Kabupaten


Indikator TPB digunakan untuk memonitor capaian implementasi. Adanya batasan kewenangan,
karakteristik geografis dan demografi daerah menimbulkan kekhususan beberapa indikator untuk
dilaksanakan di daerah. Karena dalam KLHS-RPJMD, tidak seluruh daerah memiliki tanggung
jawab yang sama terhadap pelaksanaan indikator TPB. Indikator kinerja pembangunan daerah
merupakan alat ukur pencapaian kinerja suatu kegiatan program dalam bentuk keluaran, hasil,
dan dampak.
Pada tahun 2017, indikator TPB diatur dalam Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 59
Tahun 2017 Tentang Pelaksanaan Pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan yang
kemudian dianalisis berdasarkan kewenangannya, maka jumlah indikator TPB untuk
kewenangan provinsi jumlah indikator TPB adalah 236 indikator, sedangkan untuk kewenangan
kabupaten jumlah indikator TPB adalah 220 indikator.
Namun sejak dikeluarkannya dokumen Metadata Indikator Tujuan Pembangunan Berkelanjutan
(TPB)/ Sustainable Development Goals (SDGS) Indonesia Jilid II yang dikeluarkan oleh
Kedeputian Bidang Kemaritiman dan Sumber Daya Alam, Kementerian Perencanaan
Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional pada September 2020
maka TPB berdasarkan kewenangannya berubah menjadi: untuk kewenangan provinsi 186
indikator, sedangkan untuk kewenangan kabupaten jumlah indikator TPB adalah 102 indikator,
dengan total beserta sub indikator adalah 134 indikator. Perubahan ini juga diikuti dengan
perubahan beberapa target yang menyesuaikan RPJMN 2020-2040.

2.5 KAJIAN LINGKUNGAN HIDUP STRATEGIS (KLHS) RPJMD


Kajian Lingkungan Hidup Strategis yang selanjutnya disingkat KLHS, sesuai angka 10 Pasal 1
UU No. 32 Tahun 2009, menjelaskan bahwa KLHS adalah rangkaian analisis yang sistematis,
menyeluruh, dan partisipatif untuk memastikan bahwa prinsip Pembangunan Berkelanjutan telah
menjadi dasar dan terintegrasi dalam pembangunan suatu wilayah dan/atau Kebijakan, Rencana,
dan/atau Program. Sedangkan KLHS RPJMD sesuai Peraturan Menteri Dalam Negeri Republik
Indonesia Nomor 7 Tahun 2018, dijelaskan bahwa KLHS RPJMD adalah analisis sistematis,
menyeluruh, dan partisipatif yang menjadi dasar untuk mengintegrasikan tujuan pembangunan
berkelanjutan ke dalam dokumen RPJMD.
Mekanisme KLHS, sesuai Pasal 15 UU No. 32 Tahun 2009, dijelaskan bahwa secara teknis KLHS
dilaksanakan dengan mekanisme: (1) pengkajian pengaruh kebijakan, rencana, dan/atau
program terhadap kondisi lingkungan hidup di suatu wilayah; (2) perumusan alternatif
penyempurnaan kebijakan, rencana, dan/atau program; dan (3) rekomendasi perbaikan untuk
pengambilan keputusan kebijakan, rencana, dan/atau program yang mengintegrasikan prinsip
pembangunan berkelanjutan. Sedangkan mekanisme KLHS RPJMD sesuai Peraturan Menteri
Dalam Negeri Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 2018 yang diterangkan dalam Pasal 3
dijelaskan bahwa Pembuatan KLHS RPJMD dilakukan dengan mekanisme: 1) pembentukan tim
pembuat KLHS RPJMD; 2) pengkajian Pembangunan Berkelanjutan; 3) perumusan skenario
Pembangunan Berkelanjutan; dan 4) penjaminan kualitas, pendokumentasian dan validasi KLHS
RPJMD.
Muatan KLHS, sesuai Pasal 16 UU No. 32 Tahun 2009 dijelaskan bahwa KLHS memuat kajian
antara lain: 1) kapasitas daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup untuk pembangunan;
LAPORAN ANTARA DASAR TEORI Bab 2 - 10
KLHS RPJMD
KABUPATEN MALUKU BARAT DAYA

2) perkiraan mengenai dampak dan risiko lingkungan hidup; 3) kinerja layanan/jasa ekosistem;
4) efisiensi pemanfaatan sumber daya alam; 5) tingkat kerentanan dan kapasitas adaptasi
terhadap perubahan iklim; dan 6) tingkat ketahanan dan potensi keanekaragaman hayati.
Sementara berdasarkan Peraturan Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia Nomor 7 Tahun
2018, muatan KLHS terdapat dalam Pasal 17 yang memuat: gambaran umum kondisi daerah,
berupa: a) aspek geografis dan demografis, mencakup analisis yang didasarkan pada daya
dukung dan daya tampung untuk pembangunan daerah; b) aspek kesejahteraan masyarakat,
mencakup analisis kondisi ekonomi, sosial, dan kemasyarakatan; c) aspek pelayanan umum,
mencakup analisis kesinambungan pelayanan umum terhadap masyarakat, usaha pemanfaatan
dan pemeliharaan dalam mencapai target Pembangunan di akhir tahun dokumen perencanaan;
dan d) aspek daya saing daerah, mencakup analisis peningkatan potensi daerah dalam
mendukung keunggulan kompetitif dan keunggulan komparatif daerah, dengan tetap
memperhatikan prinsip keberlanjutan.
Secara khusus KLHS yang mengatur tentang KLHS untuk rencana pembangunan jangka
menengah daerah (RPJMD) didasari oleh Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang
pemerintahan daerah, Perpres 56 Tahun 2017 tentang pelaksanaan pencapaian tujuan
pembangunan berkelanjutan (TPB), Permendagri 86 Tahun 2017 tentang tata cara perencanaan,
pengendalian dan evaluasi pembangunan daerah dan Permendagri Nomor 7 tahun 2018 tentang
pembuatan dan pelaksaan kajian lingkungan hidup strategis dalam penyusunan rencana
pembangunan jangka menengah daerah (RPJMD).
Dalam Pasal 4 Ayat (1) Pemerintah Daerah membentuk tim pembuat KLHS RPJMD yang
ditetapkan dengan keputusan kepala daerah.
1) Tim pembuat KLHS RPJMD dikoordinasikan oleh Sekretariat Daerah bersama dengan
perangkat daerah yang membidangi perencanaan pembangunan daerah dan dengan
perangkat daerah yang melaksanakan tugas urusan lingkungan hidup.
2) Tim pembuat KLHS RPJMD beranggotakan perangkat daerah terkait sesuai dengan
kompetensi dan kebutuhan dalam pembuatan KLHS RPJMD.
3) Dalam melaksanakan tugasnya tim pembuat KLHS RPJMD melibatkan Ormas, Filantropi,
Pelaku Usaha, Akademisi dan pihak terkait lainnya sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan.

Berdasarkan PP 46/2016 tentang Tata Cara Penyelenggaraan KLHS, Pemerintah pusat dan
pemerintah daerah wajib membuat KLHS untuk memastikan bahwa prinsip pembangunan
berkelanjutan telah menjadi dasar dan terintegrasi dalam pembangunan suatu wilayah dan/atau
KRP; dan dilaksanakan dalam penyusunan dan evaluasi ke dalam penyusunan dan evaluasi (a)
RTRW dan rinciannya, RPJPN/D, RPJMN/D, (b) KRP yang menimbulkan dampak dan/atau risiko
lingkungan hidup. Dalam peraturan ini belum mengatur ketentuan mengenai KLHS-RPJMD,
dipandang perlu adanya Permendagri. KLHS-RPJMD dibuat menjelang sebelum berakhirnya
periode RPJMD atau pelantikan kepala daerah (min 3 bulan).
Pembuatan KLHS-RPJMD disusun dengan kerangka pikir berikut ini.

LAPORAN ANTARA DASAR TEORI Bab 2 - 11


KLHS RPJMD
KABUPATEN MALUKU BARAT DAYA

Gambar 2.2 Kerangka Pikir KLHS RPJMD

Identifikasi, pengumpulan dan analisis data dilakukan oleh Tim, dengan alur pikir berikut ini:

LAPORAN ANTARA DASAR TEORI Bab 2 - 12


KLHS RPJMD
KABUPATEN MALUKU BARAT DAYA

Gambar 2.3 Alur Pikir Identifikasi, Pengumpulan Dan Analisis Data

LAPORAN ANTARA DASAR TEORI Bab 2 - 13


KLHS RPJMD
KABUPATEN MALUKU BARAT DAYA

Gambar 2.4 Alur Pikir Pengkajian

LAPORAN ANTARA DASAR TEORI Bab 2 - 14


KLHS RPJMD
KABUPATEN MALUKU BARAT DAYA

2.6 MUATAN KLHS (DDDTLH DAN JASA EKOSISTEM)


2.6.1 Daya Dukung dan Daya Tampung Lingkungan Hidup (DDDTLH) Untuk
Pembangunan
Menurut UU. No. 32 Tahun 2009 dijelaskan bahwa Lingkungan Hidup adalah kesatuan ruang
dengan semua benda, daya, keadaan, dan makhluk hidup, termasuk manusia dan perilakunya,
yang mempengaruhi alam itu sendiri, kelangsungan peri kehidupan, dan kesejahteraan manusia
serta makhluk hidup lain. Sedangkan daya dukung lingkungan hidup adalah kemampuan
lingkungan hidup untuk mendukung peri kehidupan manusia, makhluk hidup lain, dan
keseimbangan antar keduanya. Sementara definisi daya tampung lingkungan hidup adalah
kemampuan lingkungan hidup untuk menyerap zat, energi, dan/atau komponen lain yang masuk
atau dimasukkan ke dalamnya.
Soemarwoto (2001) mendefinisikan daya dukung lingkungan pada hakikatnya adalah daya
dukung lingkungan alamiah, yaitu berdasarkan bio-mass tumbuhan dan hewan yang dapat
dikumpulkan dan ditangkap per satuan luas dan waktu di daerah itu. Sedangkan Khanna (1999),
menjelaskan bahwa daya dukung lingkungan hidup terbagi menjadi 2 (dua) komponen, yaitu
kapasitas penyediaan (supportive capacity) dan kapasitas tampung limbah (assimilative
capacity).
Daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup, terkait dengan RPJMD, sebagaimana
dijelaskan dalam UU No 32 Tahun 2009, pada Pasal 10 bahwa RPPLH menjadi dasar
penyusunan dan dimuat dalam RPJP dan RPJM. Namun pada Pasal 12 ayat (2) dijelaskan
bahwa dalam hal RPPLH belum tersusun, pemanfaatan sumber daya alam dilaksanakan
berdasarkan daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup.
Berdasarkan UU No. 26 tahun 2007 tentang Rencana Tata Ruang, pada Pasal 23 ayat (2)
dijelaskan bahwa penyusunan RTRW Provinsi menjadi pedoman untuk penyusunan RPJP
Daerah dan RPJM Daerah. Sehingga terkait dengan hal tersebut, pada UU No. 32 Tahun 2009
tentang PPLH, 19 ayat (1) dan (2) adalah sebagai berikut: (1) untuk menjaga kelestarian fungsi
lingkungan hidup dan keselamatan masyarakat, setiap perencanaan tata ruang wilayah wajib
didasarkan pada KLHS, (2) Perencanaan tata ruang wilayah sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) ditetapkan dengan memperhatikan daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup.
Daya Dukung Lingkungan Hidup dalam UU No 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang,
dijelaskan di dalam Pasal 3 adalah: Penyelenggaraan penataan ruang bertujuan untuk
mewujudkan ruang wilayah nasional yang aman, nyaman, produktif, dan berkelanjutan
berlandaskan Wawasan Nusantara dan Ketahanan Nasional dengan:
a. terwujudnya keharmonisan antara lingkungan alam dan lingkungan buatan;
b. terwujudnya keterpaduan dalam penggunaan sumber daya alam dan sumber daya buatan
dengan memperhatikan sumber daya manusia; dan
c. terwujudnya pelindungan fungsi ruang dan pencegahan dampak negatif terhadap
lingkungan akibat pemanfaatan ruang.

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) telah melakukan identifikasi daya dukung
dan daya tampung lingkungan hidup Indonesia yang secara spasial disusun pada skala 1 :
1.000.000 dan 1.250.000 dan diukur dengan pendekatan jasa ekosistem (ecosystem services)
sebagaimana yang dilakukan dalam Millenium Ecosystem Assessment United Nation.
Asumsinya, semakin tinggi jasa ekosistem semakin tinggi kemampuan daya dukung dan daya
tampung lingkungan. Beberapa daerah di Indonesia saat ini juga telah melakukan identifikasi
daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup dengan pendekatan jasa ekosistem tersebut
dengan skala yang lebih detail, skala 1 : 50.000 untuk kabupaten dan 1 : 25.000 untuk kota. Jasa
ekosistem pada habitat bumi ditentukan oleh keberadaan factor endogen dan dinamika faktor
eksogen yang dicerminkan dengan dua komponen yaitu kondisi ecoregion dan penutup lahan
(landcover/landuse) sebagai penaksir atau proxy.
LAPORAN ANTARA DASAR TEORI Bab 2 - 15
KLHS RPJMD
KABUPATEN MALUKU BARAT DAYA

2.6.2 Perkiraan Mengenai Dampak dan Resiko Kerusakan Lingkungan Hidup


Dampak lingkungan hidup, berdasarkan UU No 32 Tahun 2009 didefinisikan sebagai pengaruh
perubahan pada lingkungan hidup yang diakibatkan oleh suatu usaha dan/atau kegiatan. Risiko
adalah bahaya, akibat atau konsekuensi yang dapat terjadi akibat sebuah proses yang sedang
berlangsung atau kejadian yang akan datang. Risiko yang terjadi kepada manusia disebut
sebagai risiko kesehatan, sedangkan risiko yang terjadi kepada lingkungan disebut sebagai risiko
ekologi yaitu dampak suatu kegiatan terhadap perubahan lingkungan hidup yang mendasar.
Kajian ini mengukur besar dan pentingnya dampak dan/atau risiko suatu kebijakan, rencana,
dan/atau program terhadap perubahan – perubahan lingkungan hidup dan kelompok masyarakat
yang terkena dampak dan/atau risiko.
Dijelaskan dalam penjelasan Pasal 47 UU No 32 Tahun 2009 ayat (2) huruf a, bahwa yang
dimaksud dengan "pengkajian risiko" meliputi seluruh proses mulai dari identifikasi bahaya,
penaksiran besarnya konsekuensi atau akibat, dan penaksiran kemungkinan munculnya dampak
yang tidak diinginkan, baik terhadap keamanan dan kesehatan manusia maupun lingkungan
hidup. Sementara ayat (2) huruf b, menjelaskan bahwa "pengelolaan risiko" meliputi evaluasi
risiko atau seleksi risiko yang memerlukan pengelolaan, identifikasi pilihan pengelolaan risiko,
pemilihan tindakan untuk pengelolaan, dan pengimplementasian tindakan yang dipilih. Lebih
lanjut pada ayat (2) huruf c, dijelaskan bahwa "komunikasi risiko" adalah proses interaktif dari
pertukaran informasi dan pendapat di antara individu, kelompok, dan institusi yang berkenaan
dengan risiko.
Dampak suatu kegiatan terhadap perubahan lingkungan hidup yang mendasar; Bisa diukur dari
beberapa media lingkungan antara lain: tanah, air, udara, atau seperti yang tertuang dalam
penjelasan UUPPLH Nomor: 32 Tahun 2009 Pasal 15 ayat (2) huruf b. Pemerintah dan
pemerintah daerah wajib melaksanakan KLHS sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ke dalam
penyusunan atau evaluasi: b) kebijakan, rencana, dan/atau program yang berpotensi
menimbulkan dampak dan/atau risiko lingkungan hidup.

2.6.3 Kinerja Layanan/Jasa Ekosistem (Jasa Lingkungan Hidup)


Ekosistem adalah entitas yang kompleks yang terdiri atas komunitas tumbuhan, binatang dan
mikro organisme yang dinamis beserta lingkungan abiotiknya yang saling berinteraksi sebagai
satu kesatuan unit fungsional. Fungsi ekosistem adalah kemampuan komponen ekosistem untuk
melakukan proses alam dalam menyediakan materi dan jasa yang dibutuhkan untuk memenuhi
kebutuhan manusia, baik secara langsung maupun tidak langsung.
Jasa Ekosistem adalah manfaat yang diperoleh oleh manusia dari berbagai sumber daya dan
proses alam yang secara bersama-sama diberikan oleh suatu ekosistem. Kinerja layanan/ jasa
ekosistem dikelompokkan ke dalam 4 (empat) macam manfaat, yaitu manfaat penyediaan
(provisioning), produksi pangan dan air; manfaat pengaturan (regulating) pengendalian iklim dan
penyakit; manfaat pendukung (supporting), seperti siklus nutrien dan polinasi tumbuhan; serta
manfaat kultural (cultural), spiritual dan rekreasional. Sistem klasifikasi jasa ekosistem tersebut
menggunakan standar dari Millenium Ecosystem Assessment (2005).
Untuk penilaian DDDT ekosistem, Millennium Ecosystem Assessment (MEA), (2005)
mendefinisikan 4 (empat) kategori dasar jasa ekosistem, yaitu :

Tabel II.2 Klasifikasi Jasa Ekosistem


Klasifikasi Jasa Ekosistem Definisi Operasional
Fungsi Penyediaan (Provisioning)
1 Pangan Hasil laut, pangan dari hutan (tanaman dan hewan), hasil
pertanian & perkebunan untuk pangan, hasil
2 Air bersih Penyediaan air dari tanah (termasuk kapasitas
penyimpanannya), penyediaan air dari sumber permukaan

LAPORAN ANTARA DASAR TEORI Bab 2 - 16


KLHS RPJMD
KABUPATEN MALUKU BARAT DAYA

Klasifikasi Jasa Ekosistem Definisi Operasional


3 Serat (fiber) Hasil hutan, hasil laut, hasil pertanian & perkebunan untuk
material
4 Bahan bakar (fuel) Penyediaan kayu bakar dan bahan bakar dari fosil
5 Sumberdaya Genetik Penyediaan Sumberdaya Genetik termasuk flora dan fauna
Fungsi Pengaturan (Regulating)
1 Pengaturan iklim Pengaturan suhu, kelembaban dan hujan, pengendalian gas
rumah kaca & karbon
2 Pengaturan tata aliran air & Siklus hidrologi, serta infrastruktur alam untuk penyimpanan air,
banjir pengendalian banjir, dan pemeliharaan air
3 Pencegahan dan perlindungan Infrastruktur alam pencegahan dan perlindungan dari kebakaran
dari bencana lahan, erosi, abrasi, longsor, badai dan
4 Pemurnian air Kapasitas badan air dalam mengencerkan, mengurai dan
menyerap pencemar
5 Pengolahan dan penguraian Kapasitas lokasi dalam menetralisir, mengurai dan menyerap
limbah limbah dan sampah
6 Pemeliharaan kualitas udara Kapasitas mengatur sistem kimia udara
7 Pengaturan penyerbukan Distribusi habitat spesies pembantu proses penyerbukan alami
alami (pollination)
8 Pengendalian hama & penyakit Distribusi habitat spesies trigger dan pengendali hama dan
penyakit
Fungsi Budaya (Cultural)
1 Tempat tinggal & ruang hidup Ruang untuk tinggal dan hidup sejahtera, jangkar “kampung
(sense of place) halaman” yang punya nilai sentimental
2 Rekreasi & ecotourism Fitur lansekap, keunikan alam, atau nilai tertentu yang menjadi
daya tarik wisata
3 Estetika Keindahan alam yang memiliki nilai jual
Fungsi Pendukung (Supporting)
1 Pembentukan lapisan tanah & Kesuburan tanah
pemeliharaan
2 Siklus hara (nutrient) Kesuburan tanah, tingkat produksi pertanian
3 Produksi primer Produksi oksigen, penyediaan habitat spesies
4 Biodiversitas Keanekaragaman Hayati

Sistem klasifikasi jasa ekosistem tersebut menggunakan standar dari Millenium Ecosystem
Assessment (2005). Berdasarkan batasan konsep tersebut, pendekatan jasa ekosistem INI
digunakan untuk menentukan daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup. Untuk
memperoleh nilai jasa ekosistem digunakan dua penaksiran yaitu landscape base proxy dan
landcover/ landused based proxy, yang selanjutnya digunakan dasar untuk melakukan pemetaan
daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup.
Berdasarkan pengertian dan klasifikasi di atas, terdapat kesamaan substansi pengertian jasa
ekosistem dengan daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup, dimana pengertian jasa
penyediaan, budaya lebih mencerminkan konsep daya dukung lingkungan dan jasa pengaturan
memiliki kesamaan subtansi dengan daya tampung lingkungan. Sedangkan jasa pendukung bisa
bermakna dua yaitu daya dukung maupun daya tampung lingkungan secara operasional, kajian
ini menetapkan daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup dengan pendekatan konsep
jasa ekosistem, dengan pengembangan asumsi dasar sebagai berikut:
1) Semakin tinggi jasa ekosistem suatu wilayah, maka semakin tinggi kemampuan
lingkungan hidup untuk mendukung perikehidupan manusia, makhluk hidup lain, dan
keseimbangan antar keduanya (lihat jasa penyediaan, Jasa budaya, dan pendukung).
2) Semakin tinggi jasa ekosistem suatu wilayah, maka semakin tinggi kemampuan
lingkungan hidup untuk menyerap zat, energi, dan/ atau komponen lain yang masuk atau
dimasukkan kedalamnya (lihat jasa pengaturan).

LAPORAN ANTARA DASAR TEORI Bab 2 - 17


KLHS RPJMD
KABUPATEN MALUKU BARAT DAYA

2.6.4 Efisiensi Pemanfaatan Sumber Daya Alam


Pemanfaatan sumber daya yang efisien, tepat sasaran dan sekaligus menentukan indikator
peningkatan efisiensi penggunaan sumber daya dan target penghematan biaya produksi.
Pemanfaatan sumber daya alam dengan bijaksana dan berwawasan lingkungan harus didorong
menjadi arus utama (mainstream) dalam sistem pembangunan nasional, sehingga sumber daya
alam yang terbatas dan lingkungan yang semakin rentan tetap dapat memberikan kehidupan
yang layak bagi penduduk Indonesia dengan pertumbuhan populasinya yang kian tahun terus
mengalami peningkatan. Nilai manfaat sumber daya alam, dapat diukur atau dikuantifikasi ke
dalam nilai moneter dengan metode valuasi ekonomi lingkungan.
Kajian ini mengukur tingkat optimal pemanfaatan sumber daya alam yang dapat dijamin
keberlanjutannya. Dilakukan dengan cara :
a. Mengukur kesesuaian antar tingkat kebutuhan dan ketersediaannya;
b. Mengukur cadangan yang tersedia, tingkat pemanfaatannya yang tidak menggerus
cadangan, serta perkiraan proyeksi penyediaan untuk kebutuhan di masa mendatang;
dan
c. Mengukur dengan nilai dan distribusi manfaat dari sumber daya alam tersebut
secara ekonomi

Semua kekayaan bumi baik biotik maupun abiotik, yang dapat dimanfaatkan untuk kesejahteraan
manusia merupakan sumber daya alam. Tumbuhan, hewan, manusia dan mikroba merupakan
sumber daya alam hayati. Sedangkan faktor abiotik lainnya merupakan sumber daya alam non
hayati. Pemanfaatan sumber daya alam harus diikuti oleh pemeliharaan dan pelestarian, karena
sumber daya alam bersifat terbatas. Di bumi ini, penyebaran sumber daya alam tidak merata
letaknya. Ada bagian bumi yang sangat kaya akan mineral, ada pula yang tidak. Oleh karena itu
agar pemanfaatannya dapat berkesinambungan, maka tindakan eksploitasi harus disertai
dengan tindakan perlindungan. Pemeliharaan dan pengembangan lingkungan hidup harus
dilakukan dengan cara yang rasional antara lain sebagai berikut :
1. Memanfaatkan sumber daya alam yang dapat diperbaharui dengan hati-hati dan efisien,
misal: air, tanah dan udara.
2. Menggunakan bahan pengganti, misalnya: hasil metalurgi (campuran).
3. Mengembangkan metoda menambang dan memproses yang efisien, serta pendaur-
ulangan (recycling).
4. Melaksanakan etika lingkungan berdasarkan falsafah hidup secara damai dengan alam.

Berikut beberapa pemanfaatan sumber daya alam ;


1. Pemanfaatan sumber daya alam nabati, antara lain: Sebagai sumber bahan pangan,
sumber sandang (seperti: kapas) dan sebagai tanaman hias.
2. Pemanfaatan sumber daya alam hewani, antara lain: sebagai sumber bahan pangan dan
sandang, sebagai benda-benda hasil seni dan kerajinan tangan manusia, dan
meningkatkan nilai kehidupan dan nilai budaya manusia.
3. Pemanfaatan sumber daya alam barang tambang, antara lain: a) minyak bumi, digunakan
untuk bahan bakar kendaraan, tenaga penggerak mesin pabrik, dan penerangan tanah;
b) gas alam, digunakan untuk bahan bakar rumah tangga dan industri; serta c) batu bara,
digunakan untuk bahan bakar pemberi tenaga dan bahan mentah untuk cat, obat-obatan,
wangi-wangian, bahan peledak dan lain sebagainya.

LAPORAN ANTARA DASAR TEORI Bab 2 - 18


KLHS RPJMD
KABUPATEN MALUKU BARAT DAYA

Sumber daya alam tersebut memberikan manfaat bagi kehidupan manusia. Akan tetapi dalam
pemanfaatan dan pengelolaannya harus dilakukan sesuai peraturan-peraturan yang mengikat
semua pihak agar dapat bermanfaat dalam jangka waktu yang panjang. Maka hal-hal berikut
sangat perlu dilaksanakan, antara lain :
1. Sumber daya alam harus dikelola untuk mendapatkan manfaat yang maksimal, tetapi
sumber daya alam harus diusahakan agar produktivitasnya tetap berkelanjutan.
2. Eksploitasinya harus di bawah batas daya regenerasi atau asimilasi sumber daya alam.
3. Diperlukan kebijaksanaan dalam pemanfaatan sumber daya alam yang ada dapat lestari
dan berkelanjutan dengan menanamkan pengertian sikap serasi dengan lingkungan.

2.6.5 Tingkat Kerentanan dan Kapasitas Adaptasi Terhadap Perubahan Iklim


Perubahan iklim adalah berubahnya iklim yang diakibatkan langsung atau tidak langsung oleh
aktivitas manusia sehingga menyebabkan perubahan komposisi atmosfer secara global dan
selain itu juga berupa perubahan variabilitas iklim alamiah yang teramati pada kurun waktu yang
dapat dibandingkan. Analisis dilakukan dengan cara : a. Mengkaji kerentanan dan risiko
perubahan iklim sesuai ketentuan yang berlaku, b. Menyusun pilihan adaptasi perubahan iklim,
dan c. Menentukan prioritas pilihan adaptasi perubahan iklim
Perubahan jangka panjang dalam distribusi pola cuaca secara statistik sepanjang periode waktu
mulai dasawarsa hingga jutaan tahun. Istilah ini bisa juga berarti perubahan keadaan cuaca rata-
rata atau perubahan distribusi peristiwa cuaca rata-rata, contohnya, jumlah peristiwa cuaca
ekstrem yang semakin banyak atau sedikit. Perubahan iklim terbatas hingga regional tertentu
atau dapat terjadi di seluruh wilayah bumi. Kondisi lingkungan yang diukur dari kemungkinan
dampak perubahan iklim, apakah semakin memburuk (seperti misalnya peningkatan muka air
laut atau perubahan cuaca yang ekstrim) atau mempunyai daya lenting/kapasitas untuk
menyesuaikan.
Polusi dan pencemaran lingkungan, pembangunan perkotaan dan industrialisasi, limbah,
penggundulan hutan, dan beberapa aktivitas manusia lainnya terhadap lingkungan semakin
membuat ketidakseimbangan alam yang memicu munculnya potensi yang mengganggu
kehidupan manusia dan lingkungan hidup. Hal ini juga dikaitkan dengan isu perubahan iklim dan
pemanasan global. Pemanasan global diakibatkan emisi gas rumah kaca yang dapat membuat
suhu permukaan bumi semakin hangat.
Semakin hangatnya suhu permukaan bumi menyebabkan sejumlah stok es di kutub mencair, lalu
dapat meningkatkan tinggi permukaan air laut. Hal ini berpotensi menenggelamkan sejumlah
wilayah padat penduduk di permukaan bumi. Pemanasan global juga menyebabkan terjadinya
perubahan iklim yang mendorong semakin sering terjadinya bencana alam seperti badai dan
tsunami, banjir, dan kekeringan.

2.6.6 Tingkat Ketahanan dan Potensi Keanekaragaman Hayati (Biodiversity)


Merujuk pada Konvensi PBB tentang Keanekaragaman Hayati 1992, keanekaragaman hayati
adalah “variabilitas antara organisme hidup dari semua sumber, termasuk, antara lain darat, laut,
dan ekosistem air lainnya, serta kompleks ekologi di mana mereka merupakan bagian: termasuk
keragaman di dalam spesies, antara spesies dan ekosistem”. Keanekaragaman hayati adalah
berbagai bentuk kehidupan di semua tingkat sistem biologis dari tingkat gen, molekul, jaringan,
organisme, populasi, spesies, komunitas hingga ekosistem. Kondisi lingkungan yang diukur
dengan indeks keanekaragaman hayati, apakah cenderung tetap menurun atau meningkat.
Ukuran lain bisa dipakai, seperti kepunahan kemerosotan dan kerusakan.
Pemanasan global dapat mengancam eksistensi makhluk hidup, termasuk manusia, sehingga
isu ini semakin menjadi isu di tingkat global. Salah satu ancaman ketahanan lingkungan adalah
semakin berkurangnya luas hutan dan wilayah tutupan hijau vegetasi tanaman. Hal ini
LAPORAN ANTARA DASAR TEORI Bab 2 - 19
KLHS RPJMD
KABUPATEN MALUKU BARAT DAYA

diakibatkan oleh meluasnya pembukaan lahan pertanian, peningkatan aktivitas pertambangan


dan industri, serta semakin meningkatnya populasi manusia yang mendorong perluasan wilayah
perkotaan dan pemukiman penduduk.
Padahal seperti telah dipahami bersama bahwa hutan atau tutupan hijau vegetasi tanaman
merupakan paru-paru alami dunia. Emisi dari pembakaran fosil dan aktivitas industri semakin
meningkat dari tahun ke tahun. Hal ini dipadukan dengan penggundulan hutan (deforestation)
yang juga semakin meningkat. Perpaduan hal ini memicu perubahan iklim dunia menjadi lebih
panas.
Pengetahuan tumbuhan sebagai obat dimulai dari kearifan lokal masyarakat yang sayangnya
jarang sekali diwariskan kepada generasi berikutnya. Maka, sangat wajar jika Elizabeth Lindsey,
sebagai mitra dari National Geographic Society, mengungkapkan bahwa setiap tetua adat yang
menjelang akhir hayatnya identik dengan sebuah perpustakaan pengetahuan tradisional yang
sedang terbakar. Keanekaragaman hayati sejatinya bisa menjadi alternatif bagi bangsa Indonesia
untuk meningkatkan kesejahteraannya. Untuk itu, pengetahuan dan pola pikir yang berbasis pada
keanekaragaman hayati merupakan hal yang penting untuk masa depan. Selain itu, sumber daya
alam yang melimpah perlu dibarengi dengan penguatan modal dan penguasaan teknologi serta
ditopang peraturan yang jelas dan transparan.

LAPORAN ANTARA DASAR TEORI Bab 2 - 20