Anda di halaman 1dari 4

Pertemuan Ke-7

1.Apa yang dimaksud tax heaven countries dan berikan contoh

Tax haven country adalah negara-negara yang dengan sengaja memberikan fasilitas perpajakan
kepada wajib pajak negara lain agar penghasilan wajib pajak negara lain tersebut dialihkan ke negara
mereka. Selain itu, tax haven country juga tertutup perihal data perpajakan dengan negara lain.

2.Berikan contoh kasus pencucian uang yang terjadi di indonesia (minimal 5 kasus)

 Mantan Bendahara Umum Partai Demokrat, Muhammad Nazaruddin, dituntut 7 tahun


penjara dalam kasus tindak pidana pencucian uang. "Kami menuntut agar majelis
menjatuhkan hukuman kepada terdakwa dengan pidana penjara selama 7 tahun," ujar
jaksa penuntut umum KPK, Kresno Anto Wibowo, di ruang sidang Kartika 2,
Pengadilan Tipikor, Rabu, 11 Mei 2016.Kresno mengatakan, terdakwa juga dikenai
denda sebanyak Rp 1 miliar subsider 1 tahun kurungan penjara. Nazaruddin tidak
dikenai biaya pengganti, namun hanya membayar biaya perkara sebesar Rp 10
ribu.Adapun yang memberatkan Nazaruddin adalah ia memanfaatkan kekuatan politik
untuk mempermudahnya melakukan korupsi. "Sehingga bisa dikategorikan sebagai
perbuatan grand corruption," ujarnya.Sedangkan yang meringankannya adalah,
Nazaruddin dianggap bertindak baik selama persidangan dan membantu penyelidikan
penegak hukum dalam membongkar beberapa kasus korupsi.Kresno menganggap
Nazaruddin secara sah dan meyakinkan terbukti melakukan pencucian uang senilai Rp
580 miliar. Sebagian uang itu merupakan gratifikasi dari PT Duta Graha Indonesia
(DGI) sebesar Rp 23,1 miliar melalui 19 lembar cek yang diserahkan oleh Direktut PT
DGI, Mohamad El Idris. Selain itu, kata Kresno, Nazaruddin menerima hadiah atau
gratifikasi dari PT Nindya Karya sebesar Rp 17,25 miliar melalui Heru
Sulaksono."Nazaruddin, yang saat itu masih menjabat anggota DPR, diduga
menerima hadiah dari PT DGI dan PT Nindya Karya karena telah membantu kedua
perusahaan tersebut mendapatkan sejumlah proyek," ujar Kresno.Nazaruddin terbukti
telah mencuci uang haram itu dengan mengalihkan hartanya itu sejak Oktober 2010
hingga 15 Desember 2014 dengan nilai Rp 500 miliar. Selain itu, Nazar didakwa
melakukan pencucian uang dengan menyamarkan harta kekayaannya sebesar Rp 80
miliar pada 15 September 2009-22 Oktober 2010.Atas tindakannya ini, Nazaruddin
dianggap terbukti melanggar Pasal 3 UU Nomor 8 Tahun 2010 tentang pencegahan
dan pemberantasan pencucian uang juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 Pasal 65 ayat (1)
KUHP.
 JAKARTA -- Ketua DPRD Bangkalan nonaktif, Fuad Amin Imron, didakwa KPK dengan tiga
dakwaan sekaligus dalam sidang di Pengadilan Tipikor Jakarta, Kamis (7/5). Dua di antaranya
adalah kasus tindak pidana pencucian uang (TPPU).

Dugaan TPPU yang dilakukan mantan bupati Bangkalan, Jawa Timur, dua periode itu bernilai
fantasis. Dari 2003 sejak Fuad menjabat sebagai bupati hingga tertangkap tangan pada
Desember 2014, total dugaan TPPU mencapai hampir Rp 300 miliar.

Menurut Kepala Bagian Pemberitaan dan Publikasi KPK Priharsa Nugraha, kasus TPPU Fuad
merupakan yang paling besar dari semua kasus yang pernah ditangani lembaga antikorupsi
itu dari sisi jumlah. “Ini (kasus TPPU Fuad) yang paling besar jumlahnya,” katanya saat
dikonfirmasi, Sabtu (9/5).

Dalam surat dakwaan, Fuad diduga melakukan TPPU berkaitan dengan tugas dan jabatannya
selaku bupati Bangkalan dari Oktober 2010-Februari 2013 dan ketua DPRD Kabupaten
Bangkalan pada September-1 Desember 2014. Total dugaan TPPU dalam periode Oktober
2010 hingga Desember 2014 mencapai Rp 229,45 miliar.

Didakwaan yang lain, Fuad dijerat melakukan TPPU dalam kurun waktu 2003 hingga 2010.
Total pencucian uang itu mencapai Rp 54,903 miliar. Padahal, setelah dihitung, profil
pendapatan Fuad selaku bupati Bangkalan dalam kurun waktu 13 Oktober 2003 sampai
September 2010 seluruhnya mencapai Rp 3,69 miliar.n mas alamil huda ed: muhammad
hafil

 Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menetapkan mantan Direktur Utama Garuda


Indonesia, Emirsyah Satar, dan eks Dirut PT Mugi Rekso Abadi (MRA) Soetikno
Soedarjo sebagai tersangka tindak pidana pencucian uang (TPPU). Penetapan
tersangka dilakukan KPK setelah melacak suap dan penerimaan hadiah dari pihak-
pihak terkait. "KPK menemukan adanya fakta baru, adanya program peremajaan di
empat pabrikan pada periode 2008-2013 ketika yang ESA (Emirsyah Satar) menjadi
direktur," kata Wakil Ketua KPK, Laode M Syarif saat konferensi pers di Gedung
KPK, Jakarta Selatan, Rabu (7/8). "Dari hasil penyelidikan, KPK menetapkan ESA
(Emirsyah Satar) dan SS (Soetikno Soedarjo) dalam tindak pidana pencucian uang,"
ujar Laode M Syarif. Penetapan tersangka juga dilakukan KPK berdasarkan
pengembangan penyidikan terhadap Direktur Teknik Pengelolaan Armada PT Garuda
Indonesia, Hadinoto Soedigno (HDS). "Uang itu diperoleh SS karena berhasil
menggolkan kontrak antara empat pabrikan itu dengan PT Garuda Indonesia. SS
kemudian membagikan komisi itu ke ESA dan Direktur Teknik Garuda HDS
(Hadinoto Soedigdo)," kata Laode. Soetikno juga merupakan beneficial owner pada
Connaught International Pte Ltd, sebuah perusahaan yang berdomisili di Singapura.
Dalam kasus ini, Emirsyah diduga telah menerima komisi dari Soetikno senilai Rp 5,9
miliar, US$ 680 ribu dan US$ 1,02 juta. Suap tersebut, menurut KPK, berwujud uang
dan barang yang tersebar di Singapura dan Indonesia.

 Jakarta, CNBC Indonesia - Sebanyak enam terdakwa dari kasus dugaan korupsi PT
Asuransi Jiwasraya (Persero) atau AJS sudah menjalani sidang pertama pada Rabu
kemarin (4/6). Keenam tersangka menjalani sidang pada hari yang sama di Pengadilan
Negeri Jakarta Pusat (PN Jakpus).Mereka adalah Direktur Utama PT Hanson
International Tbk (MYRX) Benny Tjokrosaputro, Komisaris Utama PT Trada Alam
Minera Tbk (TRAM) Heru Hidayat, Direktur Keuangan Jiwasraya periode 2013-2018
Hary Prasetyo, Direktur Utama Jiwasraya periode 2008-2018 Hendrisman Rahim,
mantan Kepala Divisi Investasi dan Keuangan Jiwasraya Syahmirwan, dan Direktur
PT Maxima Integra, Joko Hartono Tirto.Sidang ini dihadiri Tim Jaksa Penuntut
Umum (JPU) dari Direktorat Penuntutan Jampidsus Kejaksaan Agung (Kejagung) RI
dan Tim Jaksa Penuntut Umum pada Kejaksaan Negeri Jakarta Pusat dengan jumlah
seluruhnya sebanyak 50 orang JPU. Tim JPU terbagi ke dalam enam Tim JPU.
Dalam pembacaan surat dakwaan, yang dibacakan hanya surat dakwaan atas nama
terdakwa Heru Hidayat karena dakwaan terhadap terdakwa Heru Hidayat sudah
mencakup semua perbuatan para terdakwa lainnya.

 Tiga perusahaan pengemasan barang di Makassar, Sulawesi Selatan mengaku kaget


saat dibebani pajak aktivitas ekspor yang justru tidak mereka lakukan. Ketiga
perusahaan tersebut adalah CV Marine 33, CV Rezky Bahari dan CV Putri Laut Biru
mengaku dirugikan oleh tindakan salah satu perusahaan pengekspor ikan terbesar di
Indonesia Timur, yaitu PT. Suryagita Nusaraya (SN).Ketiga perusahaan pengemas
barang itu mengaku tidak melakukan aktivitas ekspor ikan yang sama sekali tidak
mereka lakukan tetapi justru dilakukan oleh PT SN yang berkantor di
Makassar."Selama ini PT SN menggunakan perusahaan kami mengekspor barang ke
beberapa negara. Tapi dia tak menyetorkan pajak eksportir sehingga beban pajak
diarahkan ke perusahaan kami yang sama sekali tak pernah berakfifitas demikian,"
kata Aris Titti, Wakil Direktur CV. Marine 33 di Makassar, Selasa (9/7/2019).Lebih
lanjut Aris mengungkapkan bahwa kerja sama antara Marine 33 dengan PT SN hanya
dalam bentuk pengemasan barang (packing). Tetapi dia mengaku terkejut setelah
perusahaannya memeropleh surat teguran oleh Kantor Pajak atas tunggakan pajak
eksportir ikan yang dilakukan oleh PT. SN."PT SN hanya membayarkan upah jasa
packing barang (UPI) saja ke kami sebesar Rp 500 per kilogram. Semua transaksi
pengiriman barang ke luar negeri dilakukan oleh PT. SN selaku eksportir dan semua
barang berupa ikan yang dikirim PT. SN itu yang kami tahu diambil dari beberapa
pengumpul," terang Aris.Terkait hal tersebut, CV Marine 33 telah berupaya
berkomunikasi dengan PT SN atas adanya tunggakan pajak eksportir barang sebesar
Rp 1,6 miliar yang terhitung di tahun 2016. Namun PT SN, kata Aris, hingga saat ini
tidak kooperatif."Kami yakin PT. SN memalsukan data dalam mengisi draf
pemberitahuan ekspor ikan. Kami heran data perusahaan kami didaftarkan sebagai
perusahan pengekspor barang sementara kami tidak menjalankan aktifitas yang
dimaksud," beber Aris.Sementara itu hal yang sama juga dipaparkan Firmansyah
selaku Direktur CV. Rezky Bahari dan CV. Putri Laut Biru. Kedua perusahaannya
tersebut, kata dia, diam-diam digunakan oleh PT. SN dalam kegiatan eksportir barang
berupa ikan ke sejumlah negara di Asia diantaranya Hongkong, Jepang dan Arab
Saudi."Kami kaget setelah surat teguran Kantor Pajak muncul. Di mana kami
dibebankan aktivitas eksportir barang yang kami tak lakukan. Tapi semuanya
dilakukan oleh PT. SN. Ini tentu sangat merugikan kami," jelas
Firmansyah.Firmansyah mengakui bahwa selama ini perusahaannya sangat
mempercayai PT SN. Namun diam-diam kepercayaan tersebut akhirnya hilang setelah
mengetahui aksi PT SN yang dianggapnya telah melakukan penipuan."Kami akan
bawa kasus ini ke ranah hukum. Kami tak terima ditipu oleh PT SN dengan
membebankan pajak eksportir barang yang jumlahnya bisa mencapai ratusan miliar.
PT SN kami duga lakukan modus penipuan untuk menghindari pajak kegiatan
eksportir barang yang telah ia lakukan selama ini," tandas Firmansyah.Secara
terpisah, Manajer Area Kawasan Timur Indonesia Kantor PT. Suryagita Nusaraya
(SN) Cabang Makassar, Herybertus Dewanto mengatakan bahwa pihaknya tidak
berwenang menjawab klarifikasi atas permasalahan yang dituduhkan ketiga
perusahaan itu. Hal tersebut menurut Herybertus merupakan wewenang dari kantor
pusat."Intinya ketiga perusahaan masing-masing CV. Marine 33, CV. Rezky Bahari
dan CV. Putri Laut Biru telah memberikan kuasa untuk melakukan kegiatan eksportir
barang berupa ikan. Dan mereka telah menerima dana untuk penyetoran pajak
eksportir yang dipungut dari masyarakat pengumpul. Kami ada bukti transferannya,"
terang Herybertus via telepon, Selasa (9/7/2019).Menurut pengacara Jermias Rarsina
yang didampingi Yohana Galenta selaku tim kuasa hukum tiga perusahaan pengemas
barang (packing) masing-masing CV Marine 33, CV Rezky Bahari dan CV Putri Laut
Biru mengatakan bahwa PT SN dalam kegiatan bisnis korporasinya telah memenuhi
unsur dugaan tindak pidana pencucian uang (TPPU).Hal tersebut dilakukan dengan
mengisi dokumen pengiriman barang ekspor yang memosisikan CV Marine 33
beserta CV Rezky Bahari dan CV Putri Laut Biru selaku eksportir, padahal fakta yang
terjadi adalah perusahaan melakukan kegiatan eksportir adalah PT SN."Akibatnya
harta kekayaan yang diperoleh dari bisnis ekspor berupa ikan segar telah menjadi
keuntungan yang besar kepada perusahaan PT. SN. Namun untuk kepentingan pajak
eksportir bagi negara telah disembunyikannya," jelas Jermias, Selasa
(9/7/2019).Perbuatan tersebut, kata dia, mengakibatkan pajak eksportir menjadi
lenyap dari tangan perusahaan PT SN. Sedangkan bisnis ekspornya tetap kelihatan
berjalan secara sah dan resmi."Padahal omzet dan keuntungan yang diterimanya
melalui dugaan tindak pidana di bidang perpajakan yang jelas merugikan keuangan
atau ekonomi bagi kepentingan negara," beber Jermias.Di sisi lain, lanjut Jermias,
klien mereka merasa tertipu oleh karena seharusnya kewajiban membayar pajak
ekspor tidak ada/bukan kewajiban pada mereka. Tetapi melekat pada perusahaan PT.
SN."Namun pada kenyataannya, pelaporan dokumen ekspor barang oleh PT SN
membuat dan menyebut klien kami selaku eksportir. Hal ini merupakan modus
operandi dari pemalsuan dokumen untuk menghindari kewajiban membayar pajak
ekspor oleh PT. SN selaku eksportir," papar Jermias.Dengan kenyataan yang ada,
Jermias menilai bahwa transaksi keuangan dalam bisnis korporasi PT. SN menjadi
sumber harta kekayaan yang diperoleh dari omzet atau keuntungan melalui kegiatan
ekspor yang dilakukan oleh PT. SN dan itu dilakukan bertahun-tahun dengan secara
sadar.