Anda di halaman 1dari 62

RESUME

BAB VII
JENIS LAYANAN DAN KEGIATAN
BIMBINGAN DAN KONSELING

Oleh :

ST. MARDIAH
Nim. 0732006
Jurusan : Syariah

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM


DARUD DA’WAH WAL-IRSYAD
STAI DDI MAROS
TAHUN 2011
JENIS LAYANAN DAN KEGIATAN
BIMBINGAN DAN KONSELING

Ini membahas jenis-jenis layanan dan kegiatan bimbingan dan konseling.


Layanan orientasi dan informasi, penempatan dan penyaluran, bimbingan belajar,
konseling perorangan, bimbingan dan konseling kelompok, serta kegiatan penunjang,
dibicarakan secara khusus. Pembahasan dan jenis-jenis layanan dan kegiatan itu baru
menyangkut pokok-pokok saja, mengingat, pertama bahwa uraian dalam buku ini pada
umumnya dimaksudkan untuk memberikan wawasan yang mendasari pemahaman awal
tentang masing-masing jenis layanan dan kegiatan yang dimaksudkan. Kedua,
pembahasan yang lebih rinci sampai dengan pengembangan keterampilan dalam masing-
masing layanan dan kegiatan terdapat dalam buku yang khusus ditulis untuk masing-
masing layanan dan kegiatan terdapat dalam buku yang khusus ditulis untuk masing-
masing layanan dan kegiatan itu. Dalam pendidikan konselor, materi masing-masing
layanan dan kegiatan bimbingan dan konseling itu bahkan diajarkan dalam mata kuliah
tersendiri, di luar mata kuliah “Dasar-dasar Bimbingan dan Konseling”.

Tujuan
Setelah mempelajari bab ini Anda diharapkan dapat memahami dan memiliki
wawasan tentang :
1. Pengertian, tujuan, pokok-pokok dan kemungkinan pelaksanaan layanan orientasi
dan informasi, penempatan dan penyaluran, bimbingan belajar, konseling
perorangan, serta bimbingan dan konseling kelompok.
2. Pengertian, tujuan, pokok-pokok dan kemungkinan pelaksanaan kegiatan penunjang
bimbingan dan konseling, yaitu pemakaian instrumen, penyelenggaraan himpunan
data, konferensi kasus, kunjungan rumah, dan alih tangan.

Konsep-konsep Pokok
Konsep-konsep pokok yang perlu dipahami dan didalami lebih lanjut yang
terdapat pada bab ini adalah :
• Layanan orientasi
• Layanan informasi :
- Informasi pendidikan
- Informasi jabatan/pekerjaan
- Informasi sosial-budaya
• Layanan penempatan dan penyaluran
- Penempatan dalam kelas
- Penempatan dalam kelompok belajar
- Penempatan dalam jurusan/program studi
- Penempatan dan penyaluran lulusan.
• Layanan bimbingan belajar
- Keterlambatan akademik
- Ketercepatan belajar
- Sangat lambat belajar kurang motivasi belajar
- Sikap dan kebiasaan belajar
- Tes hasil belajar
- Tes kemampuan dasar
- Tes diagnostik
- Analisis hasil belajar
- Pengajaran perbaikan
- Kegiatan pengayaan
• Layanan konseling perorangan :
- Konseling sebagai “jantung hati”
- Bimbingan
- Konseling sebagai layanan ”resmi”
- Keefektifan konseling
- Konseling direktif
- Konseling non-direktif
- Konseling elektik
• Layanan bimbingan kelompok
• Layanan konseling kelompok
• Instrumentasi bimbingan dan konseling
- Teknis tes
- Teknik non-tes
• Himpunan data
- Data pribadi
- Data umum
- Data kelompok
• Konferensi kasus
• Kunjungan rumah
• Alih tangan

A. Layanan Orientasi
Layanan orientasi adalah layanan bimbingan yang dilakukan untuk
memperkenalkan siswa baru dan atau seseorang terhadap lingkungan yang baru
dimasukinya. Pemberian layanan ini bertolak dari anggapan bahwa memasuki
lingkungan baru bukanlah hal yang selalu dapat berlangsung dengan mudah dan
menyenangkan bagi setiap orang. Ibarat seseorang yang baru pertama kali datang ke
sebuah kota besar, maka ia berada dalam keadaan serba “buta”, buta tentang arah
yang hendak dituju, buta tentang jalan-jalan dan buta tentang itu dan ini. Akibat dari
kebutaannya itu, tidak jarang ada yang tersesat dab tidak mencapai apa yang hendak
ditujunya. Demikian juga bagi siswa baru di sekolah dan atau bagi orang-orang yang
baru memasuki suatu dunia kerja, mereka belum banyak mengenal tentang
lingkungan yang baru dimasukinya.
1. Layanan Orientasi di Sekolah
Allan & McKean (1984) menegaskan bahwa tanpa program-program
orientasi, periode penyesuaian untuk sebagian besar siswa berlangsung kira-kira
tiga atau empat bulan. Dalam kaitan itu, penelitian Allan & McKean
menunjukkan beberapa hal yang perlu mendapat perhatian, yaitu :
a. Program orientasi yang efektif mempercepat proses adaptasi; dan
memberikan kemudahan untuk mengembangkan kemampuan memecahkan
masalah.
b. Murid-murid yang mengalami masalah penyesuaian ternyata kurang berhasil
di sekolah.
c. Anak-anak dari kelas sosio-ekonomi yang rendah memerlukan waktu yang
lebih lama untuk menyesuaikan diri daripada anak-anak dari kelas sosio-
ekonomi yang lebih tinggi.
Untuk lingkungan sekolah misalnya, materi orientasi yang mendapat
penekanan adalah :
a. Sistem penyelenggaraan pendidikan pada umumnya;
b. Kurikulum yang ada;
c. Penyelenggaraan pengajaran;
d. Kegiatan belajar siswa yang diharapkan;
e. Sistem penilaian, ujian dan kenaikan kelas;
f. Fasilitas dan sumber belajar yang ada (seperti ruang kelas,
laboratorium, perpustakaan, ruang praktek);
g. Fasilitas penunjang (sarana olahraga dan rekreasi, pelayanan
kesehatan, pelayanan bimbingan dan konseling, kafetaria, dan tata usaha);
h. Staf pengajar dan tata usaha;
i. Hak dan kewajiban siswa
j. Organisasi siswa;
k. Organisasi orang tua siswa;
l. Organisasi sekolah secara menyeluruh.

2. Metode Layanan Orientasi Sekolah


Keluasan dan kedalaman masing-masing pokok materi di atas yang
disampaikan kepada siswa disesuaikan dengan jenjang sekolah dan tingkat
perkembangan anak. Untuk anak-anak yang baru memasuki kelas satu SD,
tentulah materi-materi tersebut tidak perlu (dan tidak dapat) disampaikan kepada
anak-anak yang masih sangat muda itu. Pokok-pokok materi itu sebaiknya
disampaikan kepada orang tua murid. Pemahaman orang tua terhadap berbagai
materi itu akan membantu mereka memberikan kemudahan dan pelayanan
kepada anak-anak mereka untuk dapat mengikuti pendidikan di SD dengan
sebaik-baiknya.
a. Kunjungan ke SD pemasok
Petugas dari SLTP (misalnya konselor sekolah bersama guru-guru
lain yang ditugaskan) mengunjungi SD-SD yang para lulusannya akan
memasuki SLTP tersebut. Di sana, para petugas itu menjelaskan berbagai
hal-ihwal SLTP itu kepada murid-murid SD kelas tinggi yang diharapkan
akan memasuki SLTP yang dimaksudkan. Alangkah baiknya kalau
penjelasan itu dilengkapi dengan penyajian gambar, film, poster, dan lain-
lain sebagainya. Tanya jawab dengan murid-murid SD itu juga dibuka seluas-
luasnya.
b. Kunjungan ke SLTP pemesan
Murid-murid SD kelas tinggi mengunjungi SLTP yang akan mereka
masuki. Di sana mereka melihat lingkungan dan kelengkapan sekolah,
menerima penjelasan lengkap dengan gambar, film, poster dan tanya jawab.
c. “Malam” pertemuan dengan orang tua
Orang tua murid baru diundang menghadiri suatu pertemuan (boleh
siang atau malam) untuk beramah-tamah dengan staf sekolah dan menerima
penjelasan tentang hal-ikhwal sekolah tempat anak-anak mereka belajar.
d. Staf konselor bertemu dengan guru membicarakan siswa-siswa baru
Dengan guru-guru (dan kepala sekolah) konselor membicarakan
materi orientasi dan cara-cara penyampaiannya kepada siswa. Guru-guru
(dengan dikoordinasikan oleh konselor sekolah) melaksanakan kegiatan
orientasi itu.
e. Mengunjungi kelas
Konselor berkeliling mengunjungi kelas-kelas murid baru. Konselor
menjelaskan dengan berbagai alat bantu dan prosedur tanya jawab tentang
berbagai materi tersebut di atas.
f. Memanfaatkan siswa-senior
Tabel
Waktu yang Diperlukan untuk Menyesuaikan Diri bagi Mahasiswa Baru

Waktu Frekuensi %
3-4 hari 45 28
1 minggu 50 31
2 minggu 26 16
3 minggu 15 9
Lebih satu bulan 27 16
Jumlah 163 100

3. Layanan Orientasi di Luar Sekolah


Demikian juga individu-individu yang memasuki lingkungan baru di luar
(seperti pegawai baru, anggota baru suatu organisasi, bekas narapidana yang
kembali ke masyarakat setelah sekian lama menjalani masa hukumannya, dan
tidak terkecuali pengantin baru) memerlukan orientasi tentang lingkungan
barunya itu. Dengan orientasi itu proses penyesuaian diri atau penyesuaian diri
kembali akan memperoleh sokongan yang amat berarti.

B. Layanan Informasi
Secara umum, bersama dengan layanan orientasi bermaksud memberikan
pemahaman kepada individu-individu yang berkepentingan tentang berbagai hal
yang diperlukan untuk menjalani suatu tugas atau kegiatan atau untuk menentukan
arah suatu tujuan atau rencana yang dikehendaki. Dengan demikian, layanan
orientasi dan informasi itu pertama-tama merupakan perwujudan dari fungsi
pemahaman pelayanan bimbingan dan konseling. Lebih jauh, layanan orientasi dan
informasi akan dapat menunjang pelaksanaan fungsi-fungsi bimbingan dan
konseling lainnya dalam kaitan antara bahan-bahan orientasi dan informasi itu
dengan permasalahan individu.
Ada tiga alasan utama mengapa pemberian informasi perlu diselenggarakan.
Pertama, membekali individu dengan berbagai pengetahuan tentang lingkungan
yang diperlukan untuk memecahkan masalah yang dihadapi berkenaan dengan
lingkungan sekitar, pendidikan, jabatan, maupun sosial-budaya. Dalam masyarakat
yang serba majemuk dan semakin kompleks, pengambilan keputusan yang dapat
dipertanggungjawabkan sebagian besar terletak di tangan individu itu sendiri. Dalam
hal ini, layanan informasi berusaha merangsang individu untuk dapat secara kritis
mempelajari berbagai informasi berkaitan dengan hajat hidup dan perkembangannya.
Kedua, memungkinkan individu dapat menentukan arah hidupnya “ke mana dia
ingin pergi”. Syarat dasar untuk dapat menentukan arah hidup adalah apabila ia
mengetahui apa (informasi) yang harus dilakukan serta bagaimana bertindak secara
kreatif dan dinamis berdasarkan atas informasi-informasi yang ada itu. dengan kata
lain, berdasarkan atas informasi yang diberikan itu individu diharapkan dapat
membuat rencana-rencana dan keputusan tentang masa depannya serta bertanggung
jawab atas rencana dan keputusan yang dibuatnya itu. Dan ketiga setiap individu
adalah unik. Keunikan itu akan membawakan pola-pola pengambilan keputusan dan
bertindak yang berbeda-beda.
Dengan ketiga alasan itu, layanan informasi merupakan kebutuhan yang amat
tinggi tingkatannya. Lebih-lebih apabila diingat bahwa “masa depan adalah abad
informasi”, maka barang siapa tidak memperoleh informasi, maka ia akan tertinggal
dan akan tertinggal dan akan kehilangan masa depan.
1. Jenis-Jenis Informasi
a. Informasi Pendidikan
Dalam bidang pendidikan banyak individu yang berstatus siswa atau
calon siswa yang dihadapkan pada kemungkinan timbulnya masalah atau
kesulitan. Di antara masalah atau kesulitan tersebut berhubungan dengan (a)
pemilihan program studi, (b) pemilihan sekolah, fakultas dan jurusannya, (c)
penyesuaian diri dengan program studi, (d) penyesuaian diri terhadap suasana
belajar, dan (e) putus sekolah. Mereka membutuhkan adanya keterangan atau
informasi untuk dapat membuat pilihan dan keputusan secara bijaksana.
Jenis-jenis informasi pada setiap tingkat itu adalah sebagai berikut :
Pertama kali masuk sekolah :
1) Jam-jam belajar
2) Disiplin dan peraturan sekolah lainnya
3) Kegiatan belajar dan kegiatan anak lainnya di
sekolah
4) Buku-buku/alat pelajaran
5) Fasilitas, makanan, kesehatan, tempat bermain
6) Fasilitas transportasi (khususnya bagi mereka yang
rumahnya jauh dari sekolah).
7) Peraturan tentang kunjungan orang tua ke sekolah.

Memasuki SLTP :
1) Jadwal kegiatan sekolah
2) Mata pelajaran yang ada (berikut nama-nama gurunya)
3) Kegiatan ko-kurikuler
4) Fasilitas sumber belajar (seperti perpustakaan, laboratorium, bengkel
kerja).
5) Sarana penunjang (seperti pelayanan kesehatan, bimbingan dan
konseling).
6) Peraturan sekolah, serta hak dan kewajiban siswa dan orang tua
7) Keadaan fisik sekolah (gedung-gedung, pekarangan sekolah, alamat)
8) Prosedur penerimaan.

Memasuki SLTA :
1) Mata pelajaran dan pembidangannya, seperti mata pelajaran umum,
persiapan ke perguruan tinggi, keterampilan.
2) Jurusan atau program-program yang disediakan.
3) Hubungan antara satu jurusan atau program dengan pekerjaan atau
kegiatan di masyarakat yang lebih luas.
4) Tersedianya latihan-latihan khusus, seperti mengetik, komputer,
perbengkelan, dan lain-lain.
5) Jadwal kegiatan belajar dan latihan
6) Kegiatan ko dan ekstrakurikuler yang disediakan.
7) Tuntutan pengembangan sikap dan kebiasaan belajar
8) Peraturan sekolah, hak dan kewajiban siswa.
9) Fasilitas sumber belajar (seperti perpustakaan, laboratorium, bengkel, dan
sebagainya).
10) Pelayanan bimbingan dan konseling
11) Fasilitas penunjang (pelayanan kesehatan, makanan, bursa buku/alat-alat
pelajaran, transportasi, sarana).
12) Kemungkinan bea siswa
13) Kemungkinan melanjutkan pelajaran ke perguruan tinggi
14) Keadaan fisik sekolah (gedung-gedung, pekarangan sekolah, alamat,
lingkungan sekolah).
15) Prosedur penerimaan

Memasuki Perguruan Tinggi :


Secara garis besar informasi pendidikan yang diperlukan para (calon)
lulusan SLTA adalah :
1) Lembaga pendidikan yang menyajikan program-program yang lebih
spesifik (dengan berbagai butir pokok informasi sebagaimana disebutkan
terdahulu);
2) Beasiswa dan berbagai kemungkinan tunjangan yang dapat diperoleh
beserta syarat-syarat dan cara-cara melamarnya (mengajukan
permohonan);
3) Program-program latihan khusus, misalnya di perusahaan-perusahaan
industri;
4) Kemungkinan lain yang dapat dimasuki oleh lulusan SLTA, seperti
memasuki jajaran ABRI, dan sebagainya.

b. Informasi Jabatan
Informasi jabatan/pekerjaan yang baik sekurang-kurangnya memuat
hal-hal sebagai berikut :
1) Struktur dan kelompok-kelompok jabatan/pekerjaan utama
2) Uraian tugas masing-masing jabatan/pekerjaan
3) Kualifikasi tenaga yang diperlukan untuk masing-masing jabatan
4) Cara-cara atau prosedur penerimaan
5) Kondisi kerja
6) Kesempatan-kesempatan untuk pengembangan karier
7) Fasilitas penunjang untuk kesejahteraan pekerjaan, seperti kesehatan,
olahraga dan rekreasi, kesempatan pendidikan bagi anak-anak, dan
sebagainya.
Pemberian informasi kepada para siswa di sekolah sifatnya sangat
strategis, baik dipandang dari segi tahap-tahap perkembangan mereka
maupun keadaan masyarakat yang selalu berubah dan menuntut adanya
tenaga kerja yang dapat mendukung kesejahteraan warga masyarakat dan
perkembangan masyarakat itu sendiri. Di sinilah letaknya “tugas rangkap”
pendidikan yaitu memperkembangkan individu-individu secara optimal dan
menyiapkan mereka menjadi warga masyarakat yang bekerja dalam arti
seluas-luasnya.

Tingkat SD
Tingkat ini merupakan tingkatan yang paling awal dan mendasar.
Informasi yang diberikan pada tingkat ini bersifat umum dan tidak mengarah
pada jenis-jenis jabatan/pekerjaan tertentu. Pemberian untuk anak-anak SD
pada umumnya dimaksudkan untuk :
1. Mengembangkan sikap terhadap segala jenis pekerjaan. Guru/konselor
sekolah benar-benar berhati-hati. Jangan sampai melalui kata atau
tindakan, menunjukkan prasangka ataupun kecenderungan positif/negatif
terhadap jenis pekerjaan tertentu.
2. Membawa anak-anak untuk menyadari betapa luasnya dunia kerja yang
ada, terentang dari pekerjaan yang dijabat orang tua anak-anak itu sampai
ke segala macam pekerjaan di masyarakat luas.
3. Menjawab berbagai pertanyaan anak-anak tentang pekerjaan. Dorongan
ingin tahu anak-anak akan membawa mereka menanyakan segala sesuatu
tentang pekerjaan. Dalam hal ini jawaban atau informasi yang tepat dan
benar (tidak dibuat-buat atau disamarkan) harus segera diberikan kepada
anak setiap waktu mereka bertanya.
4. Menekankan jasa dari masing-masing jenis pekerjaan kepada
kesejahteraan hidup rumah tangga dan masyarakat (tidak hanya
mengemukakan gaji atau penghasilan yang diperoleh melalui pekerjaan
itu). Perlunya bakat atau kemampuan atau keterampilan khusus untuk
jenis-jenis pekerjaan tertentu, terutama yang bermanfaat bagi pemberian
bantuan kepada sesama manusia, perlu disampaikan dan ditonjolkan
kepada anak-anak.
5. Pekerjaan ada dimana-mana, di tingkat desa, kecamatan, kabupaten,
provinsi, negara dan bahkan dunia. Pada tingkat perkembangan itu, anak-
anak mulai membandingkan pekerjaan-pekerjaan yang ada di desa dan di
kota, di daerahnya sendiri dan di daerah lain, bahkan di negaranya sendiri
dan di negara lain. Anak dirangsang untuk mulai menyadari bahwa ada
seribu satu macam cara yang dilakukan oleh manusia untuk mencari
penghidupan dan memenuhi kebutuhan hidupnya melalui berbagai jenis
pekerjaan.
6. Saling ketergantungan antara pekerjaan yang satu dengan yang lainnya.
Pada anak-anak perlu dikembangkan bahwa untuk terlaksananya suatu
pekerjaan yang baik, para pekerja saling bekerja antara yang satu dengan
yang lainnya; oleh karena itu mereka harus saling membantu dan
bekerjasama.
7. Baik kemampuan khusus maupun ciri-ciri kepribadian tertentu,
diperlukan untuk keberhasilan (kesuksesan) bagi sebagian besar jenis
pekerjaan.
8. Untuk memilih suatu pekerjaan diperlukan informasi yang tepat (yaitu
tentang hakikat pekerjaan itu sendiri, latihan yang diperlukan, kondisi
kerja, dan sebagainya).
9. Ada berbagai masalah yang mungkin dihadapi oleh orang-orang yang
menginginkan pekerjaan tertentu (seperti peralatan yang diperlukan untuk
pekerjaan itu mahal, biaya untuk program pendidikan dan latihan mahal
dan waktunya lama, kondisi kerja dalam pekerjaan itu kurang
menyenangkan, dan sebagainya).
10. Untuk memilih pekerjaan atau karier di masa depan perlu kehati-hatian
dan pertimbangan yang matang.

Tingkat SLTP
Informasi jabatan/pekerjaan di SLTP menyajikan bahwa informasi
dengan tujuan agar para siswa mampu merencanakan secara umum masa
depannya dan tidak merencanakan pekerjaan tertentu secara khusus. Pada
tingkat ini diharapkan para siswa mulai :
1. Mempelajari bidang pekerjaan secara lebih luas seperti bidang
perdagangan, permesinan, administrasi, perkantoran, dan lain-lain.
2. Melihat hubungan antara bidang-bidang pekerjaan itu dengan mata-mata
pelajaran yang ada di sekolah. Pada kelas tertinggi SLTP siswa
hendaknya telah mendekati pilihan program pendidikan yang ingin
diikutinya sesuai dengan arah pengembangan kariernya. Di SLTA
nantinya anak-anak akan segera memasuki jurusan-jurusan tertentu yang
secara lebih khusus mengarahkan mereka ke karier yang mereka pilih.
3. Lebih mendalami informasi tentang pekerjaan tertentu. Pada tahap
perkembangan ini anak-anak sampai pada periode yang cukup
menentukan, yaitu sebagian di antara mereka melanjutkan pelajaran dan
sebagian lagi terpaksa berhenti sekolah. Bahkan diantara mereka
mungkin ada yang terpaksa sekolah sambil bekerja, baik dengan alasan
ingin “mencoba” pekerjaan itu atau mencari penghasilan untuk biaya
sekolah.
4. Memahami cara-cara memperoleh informasi yang tepat dan mutakhir
dengan jumlah yang cukup tentang dunia kerja. Cara-cara itu meliputi
studi kepustakaan, mempelajari dokumentasi tentang pekerjaan dan
mengikuti berbagai penyajian tentang informasi pekerjaan melalui
ceramah dan atau media cetak/elektronik. Mengamati langsung
beroperasinya pekerjaan yang dimaksud dan wawancara dengan para
pekerjanya oleh para siswa sendiri sangat dianjurkan.
5. Memahami pentingnya dan ruang lingkup perencanaan pekerjaan/karier.
Pada tahap ini para siswa hendaknya menyadari bahwa memilih suatu
pekerjaan pada dasarnya adalah memilih cara hidup tertentu.
6. Memahami bahwa dunia kerja itu tidak pernah dalam keadaan tetap
(statis), tetapi terus berubah dan berkembang. Para siswa hendaknya
menyadari bahwa ketika mereka menamatkan SLTA atau bahkan sesudah
itu, pekerjaan yang diinginkan semula pada waktu itu sudah tidak ada lagi
atau sudah berubah (tidak lagi seperti dibayangkan, diinformasikan
dahulu), sementara itu jenis-jenis pekerjaan baru muncul dan
keterampilan-keterampilan baru dituntut dari para pekerja.

Tingkat SLTA
Lebih jauh, informasi pekerjaan SLTA hendaklah meliputi, cakupan
yang memungkinkan siswa :
1. Mempergunakan berbagai cara untuk memperdalam dan memperluas
pemahaman tentang dunia kerja pada umumnya dan bidang pekerjaan
tertentu pada khususnya.
2. Mengembangkan rencana sementara pekerjaan yang akan menjadi
pegangan setamat SLTA.
3. Memiliki pengetahuan tentang ataupun mempunyai hubungan dengan
pekerjaan tertentu apabila siswa memang menghendaki untuk memegang
jabatan itu (baik ataupun sementara) setamat dari SLTA. Informasi dan
bantuan khusus untuk “mendekati” pekerjaan itu perlu diberikan kepada
siswa yang menghendakinya.

Pasca SLTA
Selepas SLTA para remaja/pemuda pada umumnya memasuki dunia
kerja atau melanjutkan pelajaran ke perguruan tinggi. Karena dunia kerja itu
selalu berubah, mereka memerlukan informasi tentang pekerjaan-pekerjaan
baru dengan berbagai kondisi dan syarat-syaratnya. Informasi baru tersebut
berguna bagi penyesuaian pilihan pekerjaan dan sekaligus pilihan program-
program pendidikan dan latihan yang relevan.

c. Informasi Sosial-Budaya
Masyarakat Indonesia dikatakan juga masyarakat yang majemuk,
karena berasal dari berbagai suku bangsa, agama dan adat-istiadat serta
kebiasaan-kebiasaan yang berbeda. Perbedaan-perbedaan ini sering pula
membawa perbedaan dalam pola dan sikap hidup sehari-hari. Namun
demikian, perbedaan-perbedaan itu tetap dalam kesatuan sebagaimana tertera
dalam Lambang Negara Indonesia “Bhinneka Tunggal Ika”. Perbedaan-
perbedaan yang dimiliki itu hendaknya tidak mengakibatkan masyarakatnya
bercerai-berai, tetapi justru menjadi sumber inspirasi dalam hidup bernegara,
berbangsa dan bermasyarakat, yang dapat hidup berdampingan antara yang
satu dengan yang lain.
Untuk memungkinkan sikap warga negara Indonesia dapat hidup
seperti yang dimaksud di atas, sejak dini mereka perlu dibekali dengan
pengetahuan dan pemahaman isi informasi tentang keadaan sosial-budaya
berbagai daerah. Hal ini dapat dilakukan melalui penyajian informasi sosial-
budaya yang meliputi :
1) Macam-macam suku bangsa
2) Adat istiadat dan kebiasaan-kebiasaan
3) Agama dan kepercayaan-kepercayaan
4) Bahasa, terutama istilah-istilah yang dapat menimbulkan kesalah-
pahaman suku bangsa lainnya.
5) Potensi-potensi daerah
6) Kekhususan masyarakat atau daerah tertentu
Informasi itu perlu diperluas sampai menjangkau informasi tentang
bangsa-bangsa lain, khususnya untuk melihat kemajuan-kemajuan yang telah
dicapai oleh bangsa-bangsa lain itu. Dengan informasi seperti itu, diharapkan
masyarakat kita, terutama generasi mudanya, terangsang untuk maju lebih
cepat lagi mengejar budaya yang telah lebih maju itu, terutama dalam bidang
ilmu dan teknologinya.

2. Metode Layanan Informasi di Sekolah


Pemberian informasi kepada siswa dapat dilakukan dengan berbagai cara,
seperti metode ceramah, diskusi panel, wawancara, karyawisata, alat-alat peraga
dan alat-alat bantu lainnya, buku panduan, kegiatan sanggar karier, sosiodrama.
a. Ceramah
Ceramah merupakan metode pemberian informasi yang paling
sederhana, mudah dan murah, dalam arti bahwa metode ini dapat dilakukan
hampir oleh setiap petugas bimbingan di sekolah. Di samping itu, teknik ini
juga tidak memerlukan prosedur dan biaya yang banyak. Penyajian informasi
dapat dilakukan oleh Kepala Sekolah, konselor, guru-guru dan staf sekolah
lainnya. Atau dapat juga dengan mendatangkan narasumber, misalnya dari
lembaga-lembaga pendidikan, Departemen Tenaga Kerja, badan-badan
usaha, dan lain-lain.
b. Diskusi panel
Penyampaian informasi kepada siswa dapat dilakukan melalui
diskusi. Diskusi semacam ini dapat diorganisasikan baik oleh siswa sendiri
maupun oleh konselor, atau guru. Apabila diskusi penyelenggaraannya
dilakukan disajikannya itu, dan dengan yang lebih mengetahuinya. Konselor,
guru bertindak sebagai pengamat dan sedapat-dapatnya memberikan
pengarahan ataupun melengkapi informasi-informasi yang dibahas di dalam
diskusi tersebut. Selanjutnya, untuk menarik perhatian para peserta dapat
ditampilkan berbagai contoh dan peragaan lainnya.
c. Karyawisata
Karyawisata merupakan salah satu bentuk kegiatan belajar mengajar
yang telah dikenal secara meluas, baik oleh masyarakat sekolah maupun
masyarakat umum. Dalam bidang bimbingan dan konseling, karyawisata
mempunyai dua sumbangan pokok. Pertama, membantu siswa belajar
dengan menggunakan berbagai sumber yang ada dalam masyarakat yang
dapat menunjang perkembangan mereka. Kedua, memungkinkan
diperolehnya informasi yang dapat membantu pengembangan sikap-sikap
terhadap pendidikan, pekerjaan, dan berbagai masalah dalam masyarakat.
Penggunaan karyawisata untuk maksud membantu siswa
mengumpulkan informasi dan mengembangkan sikap-sikap yang positif,
menghendaki siswa berpartisipasi secara penuh baik dalam persiapan maupun
pelaksanaan berbagai kegiatan terhadap objek yang dikunjungi. Kegiatan
karyawisata dapat dilakukan di berbagai lapangan lapangan. Untuk itu, perlu
dibuat variasi objek-objek yang akan dikunjungi dari waktu ke waktu. Hal ini
dimaksudkan untuk memungkinkan siswa-siswa mempunyai kesempatan
mengenal banyak objek yang berbeda. Kunjungan yang bervariasi itu
merupakan salah satu cara untuk memperluas minat dan mengembangkan
sikap-sikap yang konstruktif.
d. Buku panduan
Buku-buku panduan (seperti buku panduan sekolah atau perguruan
tinggi, buku panduan kerja bagi para karyawan) dapat membantu siswa
dalam mendapatkan banyak informasi yang berguna. Selain itu siswa juga
dapat diajak membuat “buku karier” yang merupakan kumpulan berbagai
artikel dan keterangan tentang pekerjaan/pendidikan dari koran-koran dan
media cetak lainnya. Pembuatan “buku-buku di bawah bimbingan langsung
konselor. Versi lain dari “buku karier” itu menempelkan potongan atau
guntingan rubric yang mengandung nilai informasi pendidikan jabatan dari
koran/majalah pada “papan bimbingan”.
e. Konferensi karier
Konferensi karier dilakukan dengan mengikuti salah satu pola di
bawah ini :
Pola pertama, menyisihkan waktu selama satu jam atau lebih di luar
hari-hari sekolah setiap semester. Selama waktu ini siswa dibagi atas
beberapa kelompok, dan masing-masing kelompok mengadakan diskusi
dengan narasumber yang ditentukan sebelumnya.
Pola kedua, menyediakan waktu sehari penuh atau lebih setiap
semester untuk mengadakan konferensi. Pelaksanaan konferensi diawali
dengan pertemuan umum, kemudian dilanjutkan dengan pertemuan
kelompok. Dalam kesempatan ini siswa diberi kesempatan untuk mengikuti
sejumlah pertemuan yang berbeda.
Pola ketiga, menyediakan jadwal konferensi dengan mengadakan
pertemuan sekali setiap minggu. Siswa dapat mengikuti diskusi sesuai
dengan bidang-bidang yang diminatinya. Pola seperti ini tidak saja
menguntungkan bagi siswa untuk berperan serta dalam berbagai kelompok
diskusi yang diminatinya, tetapi juga prosedur administrasinya tidak terlalu
merepotkan.
Pola keempat, mengadakan pekan bimbingan karier selama satu
minggu terus menerus.

3. Layanan Informasi di Luar Sekolah


Sebagaimana layanan orientasi, layanan informasi juga banyak
diperlukan oleh warga masyarakat di luar sekolah. Jenis-jenis informasi yang
diperlukan itu pada dasarnya sejalan dengan informasi yang telah diuraikan di
atas, yaitu informasi berkenaan dengan penghidupan yang lebih luas, yaitu
perikehidupan beragama, berkeluarga, bekerja, bermasyarakat, dan bernegara
dapat merupakan kebutuhan banyak warga masyarakat. Rincian berbagai
informasi itu agaknya tidak terbatas, selalu dapat berubah sesuai dengan
perubahan dan perkembangan masyarakat.

C. Layanan Penempatan dan Penyaluran


Individu sering mengalami kesulitan dalam menentukan pilihan, sehingga
tidak sedikit individu yang bakat, kemampuan minat, dan hobinya tidak tersalurkan
dengan baik. Individu seperti itu tidak mencapai perkembangan secara optimal.
Mereka memerlukan bantuan atau bimbingan dari orang-orang dewasa, terutama
konselor, dalam menyalurkan potensi dan mengembangkan dirinya.
1. Penempatan dan Penyaluran Siswa di Sekolah
Penempatan dan penyaluran siswa di sekolah dapat berupa (a)
penempatan siswa di dalam kelas, (b) penempatan dan penyaluran ke dalam
kelompok-kelompok belajar, (c) ke dalam kegiatan ko/ekstra kurikuler, dan (d)
ke dalam jurusan/program studi yang sesuai.
a. Layanan Penempatan di dalam Kelas
Layanan penempatan di dalam kelas itu merupakan jenis layanan
yang paling sederhana dan mudah dibandingkan dengan layanan penempatan
penyaluran lainnya. Namun demikian, penyelenggaraannya tidak boleh
diabaikan. Penempatan masing-masing anak secara tepat akan membawa
keuntungan :
1) Bagi siswa yang bersangkutan, yaitu memberikan
penyesuaian dan pemeliharaan terhadap kondisi individu siswa (kondisi
fisik, mental, sosial).
2) Bagi guru, khususnya dalam kaitannya dengan
pengelolaan kelas, dengan penempatan yang tepat menjadi lebih mudah
menggerakkan dan mengembangkan semangat belajar siswa.
Kedua keuntungan di atas pada akhirnya bermuara pada pemberian
kemudahan bagi pengembangan anak secara optimal sesuai dengan tahap
perkembangan masing-masing.
b. Penempatan dan Penyaluran ke Dalam Kelompok Belajar
Pembentukan kelompok belajar mempunyai dua tujuan pokok.
Pertama, untuk memberikan kesempatan bagi siswa untuk maju sesuai
dengan kemampuannya masing-masing. Tujuan ini biasanya diterapkan
dalam pelaksanaan proses belajar mengajar yang menggunakan sistem maju
berkelanjutan. Dalam sistem ini setiap siswa mempunyai kesempatan untuk
maju sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya tanpa harus menunggu
atau didesak oleh siswa lain. Pada dasarnya dalam sistem ini masing-masing
siswa dapat maju setiap ada kesempatan, ibarat pengikut perlombaan balap
sepeda, balap mobil, dan sebagainya.
Kedua, untuk wadah belajar bersama. Berbeda dengan cara
pengelompokan pertama, dalam pengelompokan ini dilakukan tidak menurut
kemampuan siswa, melainkan dilakukan sedemikian rupa sehingga di dalam
suatu kelompok belajar akan terdapat siswa-siswa yang kemampuannya
pandai, sedang and kurang. Atau dapat juga dilakukan berdasarkan atas
pilihan siswa. Dalam hal ini, para siswa bebas memilih teman-teman sekelas
yang paling disukainya untuk dijadikan teman belajar. Pembentukan
kelompok seperti ini bertitik tolak dari anggapan dasar bahwa siswa dapat
belajar bersama, saling memberi dan menerima, saling tukar pengetahuan dan
keterampilan. Karena dalam kelompok itu ada siswa yang pandai, dan ada
siswa yang kurang pandai, maka siswa yang pandai dapat menularkan apa
yang ia miliki kepada siswa lain yang kurang pandai. Sedangkan siswa yang
pandai itu sendiri dapat semakin memantapkan pengetahuan dan
keterampilannya.
c. Penempatan dan Penyaluran ke Dalam Kegiatan Ko/Ekstra Kurikuler
Kegiatan ko/ekstrakurikuler merupakan bagian dari kurikulum.
Sebagaimana dengan kegiatan-kegiatan lain, kegiatan ko/ekstrakurikuler pun
dapat menjadi wadah belajar bagi siswa. Ia menempati tingkat kepentingan
yang setara dengan kegiatan-kegiatan akademik lainnya walaupun sifatnya
berlainan. Tetapi sangat disayangkan, kegiatan-kegiatan ini masih dipandang
sebagai “hiasan” tambahan, sebagai kegiatan yang tidak begitu menentukan
perkembangan siswa.
Salah satu ciri yang menonjol dari kegiatan ko/ekstrakurikuler adalah
keanekaragamannya, mulai dari memasak sampai musik, dari pengumpulan
perangko sampai dengan permainan hoki. Hampir semua minat remaja dapat
digunakan sebagai bagian dari kegiatan ko/ekstrakurikuler. Banyak
kebutuhan siswa yang dapat dilayani melalui kegiatan ko/ekstrakurikuler.
Misalnya, dalam menyesuaikan diri dengan teman-teman di lingkungannya
yang baru atau dalam usaha mendapatkan teman-teman baru.
d. Penempatan dan Penyaluran ke Jurusan/Program Studi
Setiap awal tahun ajaran, banyak siswa SMA yang menghadapi
masalah “jurusan/program apa yang sebaiknya saya ikuti?” Sebagian siswa
dapat merencanakan atau menentukan sendiri jurusan/program studi apa yang
akan diambilnya. Mereka menyiapkan diri dengan sebaik-baiknya, namun
disamping itu, banyak juga siswa yang tidak dapat membuat rencananya
secara realistis. Mereka membuat rencana hanya berdasarkan atas kemauan
dan keinginan, tidak menyesuaikannya dengan bakat dan kemampuan yang
dimilikinya, atau bahkan ada siswa-siswa yang tidak mampu membuat
rencana sama sekali. Terhadap siswa-siswa yang seperti ini perlu diberikan
bantuan agar mereka dapat membuat rencana-rencana dan mengambil
keputusan secara bijaksana.
2. Penempatan dan Penyaluran Lulusan
Pada setiap akhir tahun ajaran ratusan ribu atau bahkan jutaan anak muda
menamatkan studi dari jenjang pendidikan tertentu. Pada umumnya mereka
mendambakan untuk dapat melanjutkan pendidikan pada tingkat yang lebih
tinggi. Atau bagi yang memang tidak bermaksud untuk melanjutkan pendidikan,
mereka mendambakan untuk dapat diterima pada lapangan kerja yang sesuai.
Saat seperti itu merupakan saat yang kritis bagi kebanyakan para lulusan,
baik tamatan pendidikan dasar, pendidikan menengah, maupun pendidikan
tinggi. Mereka berada dalam masa transisi dari satu tingkat pendidikan ke tingkat
pendidikan lainnya atau dari dunia pendidikan ke dunia kerja. Dalam suasana ini,
mereka dihinggapi oleh berbagai perasaan, seperti cemas, binging, tidak
menentu, dan sebagainya. Perasaan-perasaan seperti ini terutama sekali dialami
oleh lulusan yang sebelumnya kurang mempersiapkan dirinya dengan baik.
a. Penempatan dan Penyaluran ke dalam Pendidikan Lanjutan
Penempatan dan penyaluran siswa pada pendidikan lanjutan tidak
dapat dilakukan secara acak, tetapi memerlukan perencanaan yang matang
sebelum siswa tamat dari bangku sekolah yang sedang didudukinya. Karena
hal ini, baik langsung maupun tidak langsung, juga akan menyangkut citra
sekolah secara keseluruhan, maka sekolah mempunyai tanggung jawab yang
besar dalam menyelenggarakan pelayanan penempatan dan penyaluran para
siswanya setelah mereka tamat nantinya. Masalah-masalah sebagaimana
dikemukakan di atas tidak perlu terjadi atau setidak-tidaknya dapat dikurangi
bilamana sekolah memberikan bantuan dalam pengembangan dan
penyusunan rencana pendidikan lanjutan bagi para siswanya. Rencana yang
baik ialah rencana yang disusun berdasarkan atas pertimbangan tentang
kekuatan dan kelemahan siswa dari segi-segi yang amat menentukan
keberhasilan studi pada program pendidikan lanjutan itu, terutama segi
kemampuan dasar, bakat dan minat, serta kemampuan keuangan. Oleh sebab
itu sangat penting diungkapkan bakat, minat, kemampuan dan ciri-ciri
kepribadian lainnya yang dimiliki siswa, serta keadaan sosial ekonomi orang
tua/wali siswa.
b. Penempatan dan Penyaluran ke Dalam Jabatan/Pekerjaan
Di samping penempatan dalam pendidikan, sekolah juga membantu
para siswanya yang akan memasuki dunia kerja. Walaupun di sekeliling
siswa tersedia berbagai lapangan kerja, tetapi tidak semua lapangan kerja itu
dapat dengan mudah atau cocok untuk dimasuki. Sebagaimana halnya dengan
dunia pendidikan, maka masing-masing bidang pekerjaan itu memiliki sifat
dan ciri-ciri tersendiri. Kondisi, sifat dan ciri pekerjaan tercantum pada
informasi pekerjaan sebagaimana telah diutarakan. Selanjutnya, untuk
keperluan praktis informasi tersebut dituangkan ke dalam kriteria penerimaan
tenaga kerja. Kriteria ini pada umumnya tidak dimiliki oleh setiap orang,
karena individu itu berbeda antara yang satu dengan yang lain, baik bakat,
minat, kemampuan, dan sifat-sifat kepribadian lainnya. Prinsip lain yang
perlu diperhatikan ialah bahwa bagi setiap lapangan kerja penambahan
tenaga kerja berarti peningkatan produktivitas pada lapangan kerja yang
dimaksud. Penambahan jumlah tenaga kerja tanpa diikuti dengan
peningkatan produktivitas sama dengan pemborosan. Sedangkan peningkatan
produktivitas hanya mungkin dicapai apabila tenaga kerja yang bersangkutan
mempunyai motivasi yang tinggi untuk berprestasi, mempunyai kemauan
untuk bekerja keras, mencintai dan menyenangi pekerjaannya, di samping
memiliki pengetahuan dan keterampilan yang tinggi dalam melaksanakan
pekerjaannya itu.
Peranan orang tua atau wali siswa juga cukup penting, terutama
dalam memberikan data pendukung tentang siswa, menjalankan keputusan
tentang penempatan dan penyaluran yang dilakukan oleh sekolah dengan
layanan serta perlakuan orang tua terhadap anak, dan dalam memberikan
kemudahan-kemudahan bagi kegiatan belajar siswa (seperti keizinan bagi
anak untuk melakukan kegiatan--khususnya kegiatan di luar jam pelajaran;
penyediaan buku-buku dan alat-alat keperluan pembelajaran, serta biaya).
Apabila trio “guru—konselor—orang tua” kelompok dan matang dalam
menangani layanan penempatan dan penyaluran demi kebahagiaan anak,
sangat dapat diharapkan perkembangan anak berada pada jalur yang tepat.

D. Layanan Bimbingan Belajar


Bimbingan belajar merupakan salah satu bentuk layanan bimbingan yang
penting diselenggarakan di sekolah. Pengalaman menunjukkan bahwa kegagalan-
kegagalan yang dialami siswa dalam belajar tidak selalu disebabkan oleh kebodohan
atau rendahnya inteligensi. Sering kegagalan itu terjadi disebabkan mereka tidak
mendapat layanan bimbingan yang memadai.
Layanan bimbingan belajar dilaksanakan melalui tahap-tahap : (a)
pengenalan siswa yang mengalami masalah belajar, (b) pengungkapan sebab-sebab
timbulnya masalah belajar, dan (c) pemberian bantuan pengentasan masalah belajar.
1. Pengenalan Siswa yang Mengalami Masalah Belajar
Di sekolah, di samping banyaknya siswa yang berhasil secara gemilang
dalam belajar, sering pula dijumpai adanya siswa yang gagal, seperti angka-
angka rapor rendah, tidak naik kelas, tidak lulus ujian akhir, dan sebagainya.
Secara umum, siswa-siswa yang seperti itu dapat dipandang sebagai siswa-siswa
yang mengalami masalah belajar. Secara lebih luas, masalah belajar tidak hanya
terbatas pada contoh-contoh yang disebutkan itu. Masalah belajar memiliki
bentuk yang banyak ragamnya, yang pada umumnya dapat digolongkan atas :
a. Keterlambatan akademik, yaitu keadaan siswa yang diperkirakan memiliki
inteligensi yang cukup tinggi, tetapi tidak dapat memanfaatkannya secara
optimal.
b. Ketercepatan dalam belajar, yaitu keadaan siswa yang memiliki bakat,
akademik yang cukup tinggi atau memiliki IQ 130 atau lebih, tetapi masih
memerlukan tugas-tugas khusus untuk menentukan kebutuhan dan
kemampuan belajarnya yang amat tinggi itu.
c. Sangat lambat dalam belajar, yaitu keadaan siswa yang memiliki bakat
akademik yang kurang memadai dan perlu dipertimbangkan untuk mendapat
pendidikan atau pengajaran khusus.
d. Kurang motivasi dalam belajar, yaitu keadaan siswa yang kurang
bersemangat dalam belajar; mereka seolah-olah tampak jera dan malas.
e. Bersikap dan berkebiasaan buruk dalam belajar, yaitu kondisi siswa yang
kegiatan atau perbuatan belajarnya sehari-hari antagonistik dengan yang
seharusnya, seperti suka menunda-nunda tugas, mengulur-ulur waktu,
membenci guru, tidak mau bertanya untuk hal-hal yang tidak diketahuinya,
dan sebagainya.

Tes Hasil Belajar


Tes hasil belajar adalah suatu alat yang disusun untuk mengungkapkan
sejauh mana siswa telah mencapai tujuan-tujuan pengajaran yang ditetapkan
sebelumnya. Siswa-siswa dikatakan telah mencapai tujuan pengajaran apabila dia
telah menguasai sebagian besar materi yang berhubungan dengan tujuan
pengajaran yang telah ditetapkan. Ketentuan ini merupakan penerapan dari
konsep belajar tuntas (mastery learning) yang didasarkan pada asumsi bahwa
setiap siswa dapat mencapai hasil belajar sebagai yang diharapkan jika dia diberi
waktu yang cukup dan bimbingan yang memadai untuk mempelajari bahan yang
disajikan. Ketuntasan penguasaan bahan ditentukan dengan menetapkan patokan,
yaitu persentase minimal yang harus dicapai oleh siswa. Siswa yang belum
menguasai bahan pelajaran sesuai dengan patokan yang ditetapkan, dikatakan
belum menguasai tujuan-tujuan pengajaran. Siswa yang seperti ini digolongkan
sebagai siswa yang mengalami masalah dalam belajar dan memerlukan bantuan
khusus. Sedangkan siswa yang sudah menguasai secara tuntas semua bahan yang
disajikan sebelum batas waktu yang ditetapkan berakhir, digolongkan sebagai
siswa yang sangat cepat dalam belajar. Mereka ini patut mendapat tugas-tugas
tambahan sebagai pengayaan.
Cara lain untuk melihat derajat keberhasilan siswa belajar ialah dengan
memperhatikan kurva yang dibentuk oleh nilai-nilai hasil belajar yang dicapai
oleh kelompok siswa (misalnya siswa dalam satu kelas, atau dalam satu
tingkatan kelas). Anggota kelompok itu menyebar pada keseluruhan kurva
seperti tampak pada Gambar 9.

Lambat sekali Lambat Sedang Pandai Pandai sekali

Gambar 9
Kurva Hasil Belajar

Tingkat keberhasilan siswa dalam belajar ditentukan dengan melihat


kedudukan nilai siswa yang bersangkutan pada kurva. Nilai yang terletak di
tengah kurva menandakan bahwa siswa yang mencapai nilai itu tergolong
sedang, yang di sebelah kanan kurva tergolong pandai, dan yang berada di ujung
kurva sebelah kanan tergolong amat pandai. Sebaliknya yang berada di sebelah
kiri tergolong lambat, dan yang di ujung kiri termasuk lambat sekali. Dengan
penggolongan itu dapatlah diketahui siapa-siapa yang memerlukan bantuan
khusus, dan siapa-siapa yang memerlukan materi pengayaan.

Tes Kemampuan Dasar


Setiap siswa memiliki kemampuan dasar atau intelegensi tertentu.
Tingkat kemampuan dasar ini biasanya diukur atau diungkapkan dengan
mengadministrasikan tes intelegensi yang sudah baku. Beberapa tes yang
terkenal dalam bidang ini antara lain adalah Progressive Matrices (PM), Wechles
Intelligence Scale (WAIS dan WISC), Stanford Binet Intelligence Scale (SBIS).
Dalam banyak skala inteligensi, kemampuan dasar manusia diklasifikasikan
sebagai berikut :

I.Q. 140 ke atas - Sangat cerdas


120 – 139 - Cerdas
110 – 129 - Di atas rata-
90 – 109 rata
80 – 89 - Normal atau
70 – 79 rata-rata
Di bawah 70 - Di bawah rata-
rata
- Bodoh
- Sangat bodoh

Hasil belajar yang dicapai siswa seyogyanya dapat mencerminkan tingkat


kemampuan dasar yang dimilikinya. Siswa yang kemampuan dasarnya tinggi
akan mencapai hasil belajar tinggi pula. Bilamana seorang siswa mencapai hasil
belajar lebih rendah dari teraan inteligensi yang dimilikinya, maka siswa yang
bersangkutan digolongkan sebagai siswa yang mengalami masalah dalam belajar.

Skala Sikap dan Kebiasaan Belajar


Sikap dan kebiasaan belajar merupakan salah satu faktor yang penting
dalam belajar. Sebagian dari hari belajar ditentukan oleh sikap dan kebiasaan
yang dilakukan siswa dalam belajar. Dari berbagai penelitian yang pernah
diadakan di tanah air terdapat hubungan yang berarti antara sikap dan kebiasaan
belajar dengan hasil belajar.
Sebagian dari sikap dan kebiasaan siswa belajar itu dapat diketahui
dengan mengadakan pengamatan dalam kelas. Misalnya, dalam hal mengerjakan
tugas-tugas, membaca buku, membuat catatan dan kegiatan-kegiatan lain yang
berhubungan dengan belajar siswa. Tetapi pengamatan biasanya terbatas pada
sikap dan kebiasaan yang dapat diterima oleh alat indra.

Tes Diagnostik
Tes diagnostik merupakan instrumen untuk mengungkapkan adanya
kesalahan-kesalahan yang dialami oleh siswa dalam bidang pelajaran tertentu.
Misalnya untuk mata pelajaran berhitung/matematika apakah dijumpai
kesalahan-kesalahan dalam operasi berhitung, atau pemakaian rumus-rumus;
untuk pelajaran bahasa dijumpai kesalahan-kesalahan dalam penerapan tata
bahasa dan pemakaian ejaan. Untuk semua mata pelajaran diharapkan dapat
disusun dan dibuatkan tes diagnostiknya masing-masing.
Dengan tes diagnostik sebenarnya sekaligus dapat diketahui kekuatan dan
kelemahan siswa. Makin sedikit siswa membuat kesalahan pada tes diagnostik,
makin kuatlah siswa pada materi pelajaran yang bersangkutan; dan sebaliknya.
Siswa-siswa yang ternyata sudah cukup kuat dalam mata pelajaran yang
dimaksud dianjurkan untuk terus memupuk kekuatan mereka itu, sedangkan
siswa yang masih mengalami banyak kesalahan berarti memerlukan bantuan
khusus.

Analisis Hasil Belajar atau Karya


Analisis hasil belajar atau karya merupakan bentuk lain dari tes
diagnostik. Tujuannya sama, yaitu mengungkapkan kesalahan-kesalahan yang
dialami oleh siswa dalam mata pelajaran tertentu. Apabila tes diagnostik disusun,
dibakukan, dsn diselenggarakan dalam bentuk tes (sebagian besar tertulis),
analisis hasil belajar merupakan prosedur yang pelaksanaannya dilakukan
dengan jalan memeriksa secara langsung materi hasil belajar yang ditampilkan
siswa, baik melalui tulisan, bentuk grafik atau gambar, bentuk tiga dimensi yang
berupa model, maket dan bentuk-bentuk tiga dimensi hasil kerajinan dan
keterampilan tangan lainnya, serta gerak dan suara. Bentuk hasil belajar yang
lain dapat berupa foto, film, ataupun rekaman video.

2. Upaya Membantu Siswa yang Mengalami Masalah Belajar


Siswa yang mengalami masalah belajar seperti diutarakan di depan perlu
mendapat bantuan agar masalahnya tidak berlarut-larut yang nantinya dapat
mempengaruhi proses perkembangan siswa. Beberapa upaya yang dapat
dilakukan adalah dengan (a) pengajaran perbaikan, (b) kegiatan pengayaan, (c)
peningkatan motivasi belajar, dan (c) pengembangan sikap dan kebiasaan belajar
yang efektif.
a. Pengajaran Perbaikan
Pengajaran perbaikan merupakan suatu bentuk bantuan yang
diberikan kepada seorang atau sekelompok siswa yang menghadapi masalah
belajar dengan maksud untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan dalam
proses dan hasil belajar mereka. Dalam hal ini bentuk kesalahan yang paling
pokok berupa kesalahpengertian, dan tidak menguasai konsep-konsep dasar.
Apabila kesalahan-kesalahan itu diperbaiki, maka siswa mempunyai
kesempatan untuk mencapai hasil belajar yang optimal.
b. Kegiatan Pengayaan
Kegiatan pengayaan merupakan suatu bentuk layanan yang diberikan
kepada seorang atau beberapa orang siswa yang sangat cepat dalam belajar.
Mereka memerlukan tugas-tugas tambahan yang terencana untuk menambah
memperluas pengetahuan dan keterampilan yang telah dimilikinya dalam
kegiatan belajar sebelumnya. Siswa-siswa seperti ini sering muncul dalam
kegiatan pelajaran dengan menggunakan sistem pengajaran yang terencana
secara baik. Misalnya, sistem pengajaran dengan modul, paket belajar, dan
pengajaran yang berprogram lainnya. Siswa yang amat cepat belajar hampir
selalu dapat mengerjakan tugas-tugas lebih cepat dari rekan-rekan mereka
dalam waktu yang ditetapkan.
c. Peningkatan Motivasi Belajar
Apabila kepada siswa ditanyakan mengapa mereka belajar, maka
akan diperoleh berbagai jawaban. Si Ani mungkin mengatakan ia belajar
karena ingin pandai. Si Badrun mungkin mengatakan ia belajar karena ingin
lulus dalam ujian.
Guru konselor dan staf sekolah lainnya berkewajiban membantu
siswa meningkatkan motivasinya dalam belajar. Prosedur-prosedur yang
dapat dilakukan adalah dengan :
1) Memperjelas tujuan-tujuan belajar. Siswa akan terdorong untuk lebih giat
belajar apabila ia mengetahui tujuan-tujuan atau sasaran yang hendak
dicapai.
2) Menyesuaikan pengajaran dengan bakat, kemampuan dan minat siswa
3) Menciptakan suasana pembelajaran yang menantang, merangsang dan
menyenangkan.
4) Memberikan hadiah (penguatan) dan hukuman bilamana perlu*)
5) Menciptakan suasana hubungan yang hangat dan dinamis antara guru dan
murid, serta antara murid dan murid.
6) Menghindari tekanan-tekanan dan suasana yang tidak menentu (seperti
suasana yang menakutkan, mengecewakan, membingungkan,
menjengkelkan).
d. Pengembangan Sikap dan Kebiasaan Belajar yang Efektif
Setiap siswa diharapkan menerapkan sikap dan kebiasaan belajar
yang efektif. Tetapi tidak tertutup kemungkinan ada siswa yang
mengamalkan sikap dan kebiasaan yang tidak diharapkan dan tidak efektif.
Apabila siswa memiliki sikap dan kebiasaan seperti itu, maka dikhawatirkan
siswa yang bersangkutan tidak akan mencapai hasil belajar yang baik, karena
hasil belajar yang baik itu diperoleh melalui usaha atau bahkan perjuangan
yang keras.
Prinsip-prinsip belajar, antara lain :
1) Belajar berarti melibatkan diri secara penuh, lebih dari sekedar membaca
bahan-bahan yang tercetak dalam buku-buku teks.
2) Efisiensi belajar akan meningkat apabila perbuatan belajar itu didasarkan
atas rencana atau tujuan yang nyata dan hasil dapat diukur.
3) Kata-kata, ungkapan-ungkapan, dan kalimat-kalimat yang ada dalam
bahan yang dipelajari baru dibaca dengan penuh pengertian.
4) Sebagian bahan belajar hanya dapat dipelajari dengan baik kalau
menggunakan seluruh metode belajar.
5) Belajar dalam suasana terpaksa tidak memberikan harapan besar untuk
berhasil dengan baik.
6) Untuk dapat melaksanakan kegiatan dan mencapai hasil belajar yang baik
diperlukan adanya suasana hati yang aman, kesehatan yang baik, tidur
teratur, dan rekreasi yang memadai.
Lebih jauh, sikap dan kebiasaan belajar yang baik tidak tumbuh
secara kebetulan, melainkan sering kali perlu ditumbuhkan melalui bantuan
yang terencana, terutama oleh guru-guru konselor, dan orang tua siswa.
Untuk itu siswa hendaklah dibantu dalam hal :
1) Menemukan motif-motif yang tepat dalam belajar
2) Memelihara kondisi kesehatan yang baik
3) Mengatur waktu belajar, baik di sekolah maupun di rumah
4) Memilih tempat belajar yang baik
5) Belajar dengan menggunakan sumber belajar yang kaya, seperti
buku-buku teks dan referensi lainnya.
6) Membaca secara baik dan sesuai dengan kebutuhan, misalnya
kapan membaca secara garis besar, kapan secara terinci, dan sebagainya.
7) Tidak segan-segan bertanya untuk hal-hal yang tidak diketahui
kepada guru, teman atau siapapun juga.
Berdasarkan hasil-hasil pengungkapan kelemahan dan kekuatan siswa
dengan mempergunakan instrumen/prosedur di atas, konselor dan guru
merancang layanan bimbingan belajar bagi siswa yang memerlukannya, baik
layanan individual maupun kelompok, baik dalam bentuk penyajian klasikal,
kegiatan kelompok belajar, bimbingan/konseling kelompok atau individual,
ataupun kegiatan lainnya. Dalam pelaksanaannya peranan konselor dan guru
masing-masing atau bersama-sama tergantung pada materi layanan. Layanan
yang materinya lebih banyak menyangkut penguasaan bahan pelajaran
(seperti pengajaran perbaikan dana kegiatan pengayaan) menutut peranan
guru lebih besar, sedangkan pelayanan yang menuntut pengembangan
motivasi, minat, sikap dan kebiasaan belajar menuntut lebih banyak peranan
konselor. Keadaan yang lebih dikehendaki ialah apabila kedua pihak selalu
bahu-membahu meningkatkan kemampuan siswa belajar, baik di sekolah
maupun di luar sekolah.

E. Layanan Konseling Perorangan


Pada bagian-bagian terdahulu konseling telah banyak disebut. Pada bagian
ini konseling dimaksudkan sebagai pelayanan khusus dalam hubungan langsung
tatap muka antara konselor dan klien. Dalam hubungan itu masalah klien dicermati
dan diupayakan pengentasannya, sedapat-dapatnya dengan kekuatan klien sendiri.
Dalam kaitan itu, konseling dianggap sebagai upaya layanan yang paling utama
dalam pelaksanaan fungsi pengentasan masalah klien. Bahkan dikatakan bahwa
konseling merupakan “jantung hatinya” pelayanan bimbingan secara menyeluruh.
Implikasi lain pengertian “jantung hati” itu ialah, apabila seorang konselor
telah menguasai dengan sebaik-baiknya apa, mengapa dan bagaimana pelayanan
konseling itu (dalam arti memahami, menghayati, dan menerapkan wawasan,
pengetahuan dan keterampilan dengan berbagai teknik dan teknologinya), maka
dapat diharapkan ia akan dapat menyelenggarakan layanan-layanan bimbingan
lainnya dengan tidak mengalami banyak kesulitan. Hal itu dapat dimengerti karena,
layanan konseling yang tuntas telah mencakup sebagian fungsi-fungsi pemahaman.
Di samping itu, perlu dipahami pula bahwa “konseling multidimensional”,
sebagaimana telah disebut terdahulu, menjangkau aspek-aspek yang lebih luas dari
pada apa yang muncul pada saat wawancara konseling. Isi konseling menyangkut
berbagai segi kehidupan dan perkembangan klien yang mungkin perlu dikaitkan
pada layanan-layanan orientasi dan informasi, penempatan dan penyaluran, serta
bimbingan belajar.
1. Layanan Konseling Diselenggarakan Secara “Resmi”
Konseling merupakan layanan yang teratur, terarah, dan terkontrol, serta
tidak diselenggarakan secara acak ataupun seadanya. Sasaran (subjek penerima
layanan), tujuan, kondisi dan metodologi penyelenggaraan layanan telah
digariskan dengan jelas. Sebagai rambu-rambu pokok dalam pelaksanaan
layanan konseling, Munro dkk. (1979) mengemukakan tiga dasar etika konseling,
yaitu (a) kerahasiaan, (b) keterbukaan, dan (c) tanggung jawab pribadi klien.
Di atas landasan sebagaimana telah diutarakan itu, sifat “resmi” layanan
konseling ditandai dengan adanya ciri-ciri yang melekat pada pelaksanaan
layanan itu, yaitu bahwa :
a. Layanan itu merupakan usaha yang disengaja
b. Tujuan layanan tidak boleh lain dari pada untuk
kepentingan dan kebahagiaan klien.
c. Kegiatan layanan diselenggarakan dalam format yang
telah ditetapkan
d. Metode dan teknologi dalam layanan berdasar teori yang
telah teruji.
e. Hasil layanan dinilai dan diberi tindak lanjut.
Sebagaimana telah dikemukakan di depan, tujuan konseling umum
bimbingan dan konseling adalah pemeliharaan dan pengembangan diri klien
seutuhnya. Kepentingan dan kebahagiaan klien yang menjadi arah layanan
konseling secara langsung mengacu kepada pemeliharaan dan pengembangan
klien itu. Apa pun yang muncul dalam layanan bimbingan dan konseling harus
diarahkan pada tujuan tersebut; dan apa pun yang menjadi persepsi, sikap dan
tindakan konselor harus berorientasi pada tujuan positif bagi klien itu. Lebih
jauh, sebuah kondisi yang terbangun selama hubungan konseling berlangsung
dan berbagai kemungkinan implikasinya, baik ditinjau dari sisi klien, konselor,
maupun kondisi hubungan itu sendiri, tidak lain adalah untuk kepentingan dan
kebahagiaan klien.
Format apa pun yang terbentuk, standar atau hasil modifikasi efek yang
diharapkan dari terbentuknya format itu adalah :
a. Konselor sepenuhnya menghadapi (dan mencurahkan perhatian kepada)
klien; dan sebaliknya klien dapat sepenuhnya memperhatikan konselor dalam
hal ini baik klien maupun konselor menyediakan diri dalam kondisi
transparan (tidak ada yang ditutup-tutupi).
b. Klien benar-benar melihat dan merasakan bahwa konselor dalam “sikap
sempurna” selalu memperhatikan (dalam arti positif) diri klien dan
permasalahannya.
c. Suara, mimik dan gerak-gerik klien dan konselor jelas ditangkap oleh pihak
lainnya.
d. Klien dan konselor mudah bergerak
e. Klien dan konselor merasa dekat satu sama lain, sambil tetap menjaga jarak.
Format hubungan konseling yang diterapkan oleh seorang konselor boleh jadi
tidak sama untuk semua kliennya. Format standar dan berbagai
modifikasinya dipakai secara bervariasi sesuai dengan kondisi klien, kondisi
sosial budaya, kondisi ruang dan peralatan yang ada, dan kondisi konselor
sendiri.

2. Pengentasan Masalah Melalui Konseling


Melalui konseling klien mengharapkan agar masalah yang dideritanya
dapat dientaskan. Langkah-langkah umum upaya pengentasan masalah melalui
konseling pada dasarnya adalah :
a. Pemahaman masalah;
b. Analisis sebab-sebab timbulnya masalah;
c. Aplikasi metode khusus;
d. Evaluasi;
e. Tindak lanjut.
Kegiatan pengenalan dan pemahaman masalah secara umum telah
dibahas pada bagian terdahulu. Dalam konseling klien dan konselor harus benar-
benar memahami masalah yang dihadapi klien, sedapat-dapatnya secara lengkap
dan rinci. Pemahaman masalah oleh klien harus benar-benar persis sama dengan
pemahaman konselornya dan objektif sebagaimana adanya masalah itu. Hal itu
perlu justru untuk menjamin ketetapan, efektivitas, dan efisiensi proses
konseling. Upaya pemahaman masalah itu biasanya dilakukan pada awal proses
konselor di luar proses konseling (misalnya melalui laporan pihak ketiga, dan
dalam cumulative record, keterangan dari klien sendiri dalam proses konseling.
Konselor tidak seyogyanya meyakini kebenaran suatu pendapat konselor sendiri,
apalagi pendapat atau keterangan dari pihak ketiga, tentang klien dan
permasalahannya, sebelum dicetak terlebih dahulu kepada klien yang
bersangkutan.
Hubungan konseling adalah hubungan pribadi yang terbuka dan dinamis
antara klien dan konselor. Hubungan ini ditandai oleh adanya kehangatan,
kebebasan dan suasana yang memperkenalkan klien menampilkan diri
sebagaimana adanya. Dalam proses konseling tidak ada kata-kata seperti “Anda
salah”, “harus begini atau begitu”, “tidak boleh begini atau begitu”, “kok sampai
begitu”, atau kata-kata yang mencemooh, merendahkan atau menyesalkan,
menilai negatif atau menyalahkan, atau kata-kata yang mencela dan bermakna
negatif lainnya. Sebaliknya, juga tidak ada kata-kata seperti “semua terserah
Anda”, yang akan menanggung risiko kan Anda sendiri”, “saya tidak mau
mencampuri urusan Anda” atau kata-kata yang sebenarnya palsu, seperti “Anda
sebenarnya memang hebat”, “Anda dapat menyelesaikan semua urusan sendiri”,
“anda sebenarnya tidak memerlukan bantuan”, “Anda tidak berdosa”, “Anda
tidak perlu menyesali diri sendiri” dan sebagainya. Contoh-contoh tersebut
sengaja dikemukakan untuk menekankan betapa pentingnya isi dan suasana
wawancara konseling itu. Setiap kata yang dilancarkan dan diluncurkan oleh
konselor hendaknya benar-benar tepat dan benar-benar mengenai
permasalahannya, dapat menggugah hati serta pikiran klien, tanpa menimbulkan
reaksi-reaksi negatif pada diri klien (seperti ragu-ragu, cemas, perasaan
tersinggung, bangga yang berlebihan atau sombong, sikap mempertahankan diri,
masa bodoh, dan lain sebagainya). Wawancara konseling bukanlah pembicaraan
biasa, melainkan dialog teraputik untuk membantu klien.
Terpahaminya masalah klien dengan baik serta tergugahnya hati dan
pikiran klien belum tentu serta merta membuahkan hasil terpecahkannya
masalah. Dalam hal ini proses konseling masih perlu dilanjutkan dengan
penerapan metode khusus sesuai dengan rincian masalah dan sumber-sumber
penyebabnya. Metode-metode khusus bervariasi dari pengembangan penalaran
dan kata hati, peneguhan hasrat untuk mencapai tujuan tertentu (dalam rangka
pemecahan masalah), latihan merencana suatu kegiatan, pemberian contoh,
latihan bersikap dan bertindak, desensitisasi, sampai dengan penerapan program-
program komputer dalam konseling (Brammer & Shostrom, 1982). Penerapan
metode khusus ini menjadikan proses konseling tidak semata-mata berdimensi
verbal melainkan berkembang menjadi proses multi-dimensional sebagaimana
pernah disinggung pada bab terdahulu.
Upaya evaluasi dalam proses diakhiri dengan “evaluasi akhir proses”
Konselor dapat meminta klien menyampaikan kesan-kesan dan perasaannya
terhadap proses konseling yang baru saja dijalaninya, hal-hal apa yang sudah dan
belum ia peroleh, dan harapan-harapannya, khususnya dengan masalah yang
dihadapinya. Hasil evaluasi akhir ini dapat pula dikaitkan dengan rencana lebih
lanjut klien, termasuk di dalamnya kemungkinan penerapan hasil-hasil konseling
(seperti beberapa alternatif tindakan untuk mencapai tujuan, latihan-latihan
bertingkah laku) dalam kehidupan* sehari-hari, dan konseling lebih lanjut.
Evaluasi pasca proses konseling biasanya lebih sukar dilakukan, lebih-
lebih dengan klien-klien yang berada di luar lembaga tempat konselor bekerja.
Konselor sukar menjangkau mereka sehingga evaluasi sistematik sukar
dilakukan. Evaluasi insidentil dapat berlangsung apabila konselor bertemu
mereka dan menanyakan dampak konseling yang pernah terlaksana, atau melalui
pihak ketiga yang mengenal klien. Evaluasi seperti ini derajat kesahihan dan
keterandalannya tidak cukup tinggi atau bahkan diragukan. Untuk klien-klien
yang berada dalam lembaga tempat konselor bekerja evaluasi pasca proses lebih
mungkin dilaksanakan; apalagi kalau untuk mereka disediakan program
pelayanan yang terjadwal sehingga antara klien dan konselor dapat diatur
pertemuan berkala. Evaluasi melalui instrumen tertulis (misalnya angket) juga
dapat dilakukan. Hasil evaluasi itu dipakai sebagai masukan dan bahan
pertimbangan baik bagi rencana tindak lanjut yang akan dilaksanakan dalam
pertemuan terjadwal dengan masing-masing klien, maupun bagi penyusutan
program-program pelayanan periode-periode berikutnya.

3. Tahap-tahap Keefektifan Pengentasan Masalah Melalui


Konseling
Sangat diinginkan oleh semua pihak bahwa proses tahap konseling dapat
memberikan hasil yang sebesar-besarnya untuk menunjang perkembangan dan
kehidupan klien pada umumnya, dan khususnya untuk mengentaskan masalah
klien. Keefektifan pengentasan masalah melalui konseling sebenarnya dapat
dideteksi sejak awal klien mengalami masalah. Dari keadaan yang paling awal
itu sampai konseling yang paling efektif akhir nantinya pada waktu masalah
klien terentaskan, dapat diidentifikasi lima tahap. Dengan memperhatikan tahap-
tahap tersebut akan terlihat apakah klien sejak awalnya sampai dengan akhirnya
memang menjalani tahap-tahap yang mengarahkan dirinya untuk mencapai
keadaan terentaskan masalahnya. Atau sebaliknya, ia berhenti pada suatu tahap
dan tidak melanjutkannya ke tahap berikutnya, sehingga keefektifan pengentasan
masalah tidak meningkatkan kepada taraf keefektifan yang lebih tinggi.
Namun keefektifan konseling tidak dapat begitu saja. Klien dituntut
untuk aktif dalam proses konseling. Keaktifan klien inilah yang justru
menentukan tahap keempat keefektifan konseling, dan partisipasi aktif klien
itulah yang merupakan keefektifan konseling. Partisipasi aktif klien itu
diharapkan dapat terselenggara dari awal proses konseling sampai konseling itu
dinyatakan berakhir. Setelah berakhirnya proses konseling, pertanyaan yang
masih tersisa ialah, apakah konseling itu telah memberikan hasil yang benar-
benar efektif? Pertanyaan itu mengacu pada tahap keefektifan konseling yang
kelima. Konseling yang telah terselenggara itu benar-benar efektif apabila klien
benar-benar menjalankan (menerapkan) hasil-hasil yang telah dicapai melalui
konseling dalam kehidupan sehari-hari klien. Dengan kata lain, hasil konseling
itu benar-benar mengubah tingkah laku klien, dan dengan demikian masalah
klien secara berangsur-angsur teratasi.
Kelima tahap keefektifan konseling itu dapat digambarkan melalui
diagram sebagai berikut (Diagram 1).
5
Pa
Konseling
4
Partisipasi aktif dalam
proses bantuan konseling
3
Usaha mencari
bantuan

2 Kesadaran akan perlunya


bantuan orang lain
1
Kesadaran dan
pemahaman masalah

Individu

Diagram 2
Lima Tahap Keefektifan Konseling

Catatan : Sering kali individu datang kepada konselor tanpa memahami


masalah yang sebenarnya ada pada dirinya. Pemahaman masalah
baru terjadi dalam proses konseling.

4. Pendekatan dan Teori Konseling


Pada Bab V telah disinggung sedikit tentang adanya sejumlah teori
konseling. Apabila dititik lebih lanjut teori-teori tersebut pada dasarnya dapat
dikelompokkan ke dalam tiga pendekatan, yaitu pendekatan konseling direktif,
konseling non-direktif dan konseling elektrik. Pendekatan-pendekatan itu
terutama pendekatan direktif dan non-direktif, masing-masing memiliki
pandangan yang berbeda, bahkan di sana-sini bertolak belakang, terutama
tentang hakikat tingkah laku individu dan timbulnya masalah. Perbedaan-
perbedaan tersebut mengakibatkan timbulnya perbedaan-perbedaan dalam
teknik-teknik konseling yang secara langsung diterapkan terhadap klien.
a. Konseling Direktif
Konseling direktif berlangsung menurut langkah-langkah umum
sebagai berikut :
1) Analisis data tentang klien
2) Pensintesisan data untuk mengenali kekuatan-kekuatan dan
kelemahan-kelemahan klien.
3) Diagnosis masalah
4) Prognosis atau prediksi tentang perkembangan masalah
selanjutnya
5) Pemecahan masalah
6) Tindak lanjut dan peninjauan hasil-hasil konseling
Upaya pemecahan masalah didasarkan pada hasil diagnosis yang pada
umumnya berbentuk kegiatan yang langsung ditujukan pada pengubahan
tingkah laku klien.

b. Konseling Non-Direktif
Konseling non-direktif sering juga disebut “Client Centered
Therapy”. Pendekatan ini diperoleh oleh Carl Rogers dari Universitas
Wisconsin di Amerika Serikat. Konseling non-direktif merupakan upaya
bantuan pemecahan masalah yang berpusat pada klien. Melalui pendekatan
ini, klien diberi kesempatan mengemukakan persoalan, perasaan dan pikiran-
pikirannya secara bebas. Pendekatan ini berasumsi dasar bahwa seseorang
yang mempunyai masalah pada dasarnya tetap memiliki potensi dan mampu
mengatasi masalahnya sendiri. Tetapi oleh karena sesuatu hambatan, potensi
dan kemampuannya itu tidak dapat berkembang atau berfungsi sebagaimana
mestinya. Untuk mengembangkan dan memfungsikan kembali
kemampuannya itu klien memerlukan bantuan. Bertitik tolak dari anggapan
dan pandangan tersebut, maka dalam konseling, inisiatif dan peranan utama
pemecahan masalah diletakkan di pundak klien sendiri. Sedangkan kewajiban
dan peranan utama konselor adalah menyiapkan suasana agar potensi dan
kemampuan yang ada pada dasarnya ada pada diri klien itu berkembang
secara optimal, dengan jalan menciptakan hubungan konseling yang hangat
dan permisif. Suasana seperti itu akan memungkinkan klien mampu
memecahkan sendiri masalahnya. Dalam suasana seperti itu konselor
merupakan “agen pembangun” yang mendorong terjadinya perubahan pada
diri klien tanpa konselor sendiri banyak masuk dan terlibat langsung dalam
proses perubahan tersebut. Menurut Rogers, adalah menjadi tanggung jawab
klien untuk membantu dirinya sendiri. Salah satu prinsip yang penting dalam
konseling non-direktif adalah mengupayakan agar klien mencapai
kematangannya, produktif, merdeka dan dapat menyesuaikan diri dengan
baik.

c. Konseling Elektrik
Pendekatan dan teori-teori konseling itu telah ditempa dan
dikembangkan oleh pencetus dan ahlinya, dan telah dipelajari oleh berbagai
kalangan dalam bidang bimbingan dan konseling. Disadari bahwa setiap
pendekatan atau teori itu mengandung kekuatan dan kelemahan, namum
semuanya telah menyumbang secara positif pada dunia bimbingan dan
konseling, baik secara teoritis maupun secara praktis. Disadari pula bahwa
dalam kenyataan praktek konseling menunjukkan bahwa tidak semua
masalah dapat dientaskan secara baik hanya dengan satu pendekatan atau
teori saja. Ada masalah yang lebih cocok diatasi dengan pendekatan direktif,
dan ada pula yang lebih cocok dengan pendekatan non-direktif atau dengan
teori khusus tertentu. Dengan pendekatan lain, tidaklah dapat ditetapkan
bahwa setiap masalah harus diatasi dengan salah satu pendekatan atau teori
saja. Pendekatan atau teori mana yang cocok digunakan sangat ditentukan
oleh beberapa faktor, antara lain :
1) Sifat masalah yang dihadapi (misalnya tingkat kesulitan dan
kekompleksannya).
2) Kemampuan klien dalam memainkan peranan dalam proses konseling.
3) Kemampuan konselor sendiri, baik pengetahuan maupun keterampilan
dalam menggunakan masing-masing pendekatan atau teori konseling.
Mereka yang mempelajari pendekatan dan teori-teori itu mungkin ada
yang tertarik dan merasa dirinya lebih cocok untuk mendalami dan
mempraktekkan satu pendekatan atau teori konseling tertentu saja, dan
mungkin ada pula yang berusaha “menggabungkan” dan-tiga teori yang
berdekatan dalam wilayah garis kontinum yang dimaksudkan di atas.
Kebanyakan diantara mereka bersikap elektrik yang mengambil berbagai
kebaikan dari kedua pendekatan ataupun dari berbagai teori konseling
yang ada itu, mengembangkan dan menerapkannya dalam praktek sesuai
dengan permasalahan klien. Sikap elektrik ini telah ada sejak lama dan
bahkan dianggap lebih tepat dan sesuai dengan filsafat atau tujuan
bimbingan dan konseling daripada sikap yang hanya mengandalkan satu
pendekatan atau satu-dua teori tertentu saja (Tolbert, 1959; Hansen, dkk.,
1977; dan Brammer & Shostrom, 1982).

5. Konseling di Lingkungan Kerja yang Berbeda


a. Konseling di Sekolah Dasar
Sasaran layanan konseling di SD adalah anak-anak yang masih sangat
muda. Barangkali masih ada yang beranggapan bahwa anak0anak yang masih
sangat muda jarang yang mengalami masalah sehingga layanan konseling
sebenarnya tidak diperlukan di SD. Untuk mereka yang berpendapat seperti
itu perlu diingatkan bahwa perkembangan dan kehidupan itu penuh dengan
tantangan; tidak peduli tua ataupun muda, setiap individu yang berkembang
dan hidup pasti selalu menghadapi tantangan. Di samping itu perlu
digarisbawahi pula bahwa masalah-masalah yang ternyata sudah muncul
perlu dientaskan seawal, sesegera, secepat, dan setepat mungkin. Oleh karena
itu, pelayanan bimbingan dan konseling pada umumnya, dan layanan
konseling khususnya tetap sangat diperlukan bagi mereka yang masih sangat
muda sekalipun.
Aspek-aspek lain juga muncul dalam layanan konseling di SD.
Karena anak-anak SD menurut kenyataannya masih amat tergantung pada
orang tua dan guru, maka peningkatan keterampilan berkomunikasi, sikap
dan perilaku orang tua dan guru terhadap anak-anak merupakan layanan
pokok yang justru lebih mendasar dari pada layanan konseling dalam arti
konsultasi dalam bentuk hubungan tatap muka antara konselor dan klien
(Dinkmeyer, Frust, Linduquist dan Chamley dalam Nugent, 1981).
Dibanding dengan layanan konseling perorangan, layanan konseling
kelompok agaknya lebih mungkin dilaksanakan dengan anak-anak SD.
Hal lain lagi yang perlu mendapat perhatian konselor ialah bagaimana
mendorong anak-anak untuk datang kepada konselor untuk memperoleh
layanan bimbingan. Nogent (1981) melihat empat sumber yang
memungkinkan alih tangan anak-anak kepada konselor, yaitu guru, kepala
sekolah, anak-anak itu sendiri, dan konselor sendiri. Guru-guru adalah orang-
orang yang paling banyak bergaul dan memperhatikan segenap tingkah laku
anak-anak sehari-hari di sekolah. Sikap dan kebiasaan masing-masing anak
belajar, hubungan sosial mereka satu sama lain, sampai dengan tingkah laku
yang menyimpang, seperti nakal, mencuri dan sebagainya teramati oleh guru.
Kekuatan dan kelemahan anak-anak dapat diketahui secara langsung oleh
guru. Anak-anak yang memerlukan bantuan konselor, oleh guru dapat secara
langsung diahlihtangankan kepada konselor.
Konselor sendiri juga merupakan figur yang penting sebagai sumber
alih tangan. Konselor yang aktif, yang menunjukkan banyak perhatian dan
sering berhubungan dengan anak, yang sering menampilkan diri di hadapan
anak-anak dan sering menciptakan suasana dan melakukan kegiatan yang
menyenangkan dan menguntungkan bagi anak-anak, akan dirasakan dekat
oleh anak-anak dan besar kemungkinan akan banyak dikunjungi oleh anak-
anak itu. Hubungan baik antara konselor dengan murid, ditambah dengan
pemahaman yang cukup baik dari anak-anak tentang fungsi dan peranan
konselor yang dapat diberikan kepada mereka, akan banyak menentukan
frekuensi dan intensitas pemanfaatan jasa konseling oleh anak-anak di SD.

b. Konseling di Sekolah Menengah


Siswa sekolah menengah berbeda dari murid SD. Mereka berada pada
tahap perkembangan remaja yang merupakan transisi dari masa anak-anak ke
dewasa. Banyak gejolak menandai masa perkembangan remaja itu. Konselor
di sekolah menengah dituntut untuk memahami berbagai gejolak yang secara
potensial sering muncul itu dan cara-cara penanganannya. Bentuk-bentuk
permasalahan khusus seperti masalah hubungan muda-mudi, masalah
perkembangan seksual, masalah sosial dan ekonomi, masalah masa depan
banyak muncul di antara para remaja itu.
Pendekatan dan teknik-teknik konseling dalam berbagai bentuknya
dapat dipakai terhadap para pemuda yang sudah lebih berkembang dari pada
anak-anak SD itu. Aplikasi pendekatan dan teknik konseling serta
penyesuaiannya banyak tergantung pada keunikan klien dan masalahnya,
serta spesialisasi keahlian konselor sendiri. Tentang sumber alih tangan klien,
sama dengan yang telah diuraikan terdahulu, yaitu sangat mengandalkan pada
peranan guru, kepala sekolah, siswa dan konselor sendiri, serta orang tua.
Kehadiran konselor langsung dihadapan para siswa (di muka kelas dan pada
kesempatan-kesempatan lain), disertai dengan informasi yang tepat dan
mantap tentang fungsi konselor dan pelayanan bimbingan dan konseling pada
umumnya, akan sangat membantu peningkatan pemanfaatan layanan
konseling oleh para siswa.

c. Konseling di Perguruan Tinggi


Perbedaan antara konseling di sekolah menengah dan di perguruan
tinggi diwarnai oleh arah perkembangan dan tujuan-tujuan yang hendak
dicapai serta kekompleksan program pendidikan dan latihan di kedua jenjang
pendidikan itu. Apabila di sekolah menengah para siswa belum akan segera
dituntut untuk bekerja atau terjun di masyarakat, maka para mahasiswa sudah
berada pada batas antara “hidup tergantung pada orang tua” dan “hidup bebas
dan mandiri”. Disamping itu, para siswa di sekolah menengah mengalami
proses pembelajaran yang secara relatif lebih terbimbing dari pada para
mahasiswa di perguruan tinggi; proses pembelajaran di perguruan tinggi
lebih bervariasi dan menuntut kemandirian mahasiswa.
Praktek pelaksanaan konseling di perguruan tinggi tidak banyak
berada dari pada pelaksanaannya di sekolah menengah. Penekanan pada
kondisi akademik dan kemandirian mewarnai pelaksanaan konseling. Sumber
alih tangan klien lebih banyak ditekankan pada keadaan mahasiswa sendiri.
Oleh karena itu permasyarakatan pelayanan bimbingan dan konseling dan
peranan konselor lebih perlu diperluas melalui berbagai media yang ada di
kampus. Unit pelayanan bimbingan dan konseling yang ada perlu bekerja
sama dengan unit-unit yang langsung berhubungan dengan mahasiswa;
pertama, untuk ikut serta memasyarakatkan pelayanan bimbingan dan
konseling, dan kedua, untuk menjadi “agen alih tangan”.

d. Konseling di Masyarakat
Dipandang dari segi masalah klien serta pendekatan dan teknik
konseling, layanan konseling di masyarakat (di luar satuan pendidikan
formal) tidak berbeda dari layanan di satuan pendidikan. Jika terdapat
perbedaan, maka hal itu terletak pada kondisi lembaga tempat konselor
bekerja. Layanan konseling dapat diselenggarakan di lembaga tertentu,
seperti lembaga kerja (perusahaan, kantor, pabrik), lembaga kemasyarakatan,
Lembaga Bantuan Hukum, Puskesmas, “Badan Penasihat Perkawinan”,
“Lembaga Kesehatan Masyarakat”, “Biro Konsultasi” dan berbagai lembaga
swadaya masyarakat lainnya. Tidak dilupakan, konselor yang membuka
“praktek pribadi”. Semua “lembaga” tempat konselor berpraktek layanan
konseling menerapkan nilai-nilai sendiri yang harus diikuti oleh konselor.

F. Layanan Bimbingan dan Konseling Kelompok


Apabila konseling perorangan menunjukkan layanan kepada individu atau
klien orang-perorangan, maka bimbingan dan konseling kelompok mengarahkan
layanan kepada sekelompok individu. Dengan satu kali kegiatan, layanan kelompok
itu memberikan manfaat atau jasa kepada sejumlah orang. Kemanfaatan yang lebih
meluas inilah yang paling menjadi perhatian semua pihak berkenaan dengan layanan
kelompok itu. Apalagi pada zaman perlunya efisiensi, perlunya perluasan pelayanan
jasa yang mampu menjangkau lebih banyak konsumen secara tepat dan cepat,
layanan kelompok semakin menarik. Bahkan Larrabee & Terres (1984) meramalkan
bahwa pada tahun 2004 layanan konseling kelompok mendominasi segenap upaya
pelayanan bimbingan dan konseling. Pada waktu itu dunia dan masyarakat sudah
sangat terbuka, lembaga-lembaga kemasyarakatan, sekolah dan keluarga juga sangat
terbuka; arus informasi dan mobilitas penduduk semakin deras; segala macam
kebutuhan semakin meningkat baik jenis maupun intensitasnya—hal itu semua
mengakibatkan semakin banyak orang memerlukan bimbingan dan konseling yang
tepat dalam waktu yang relatif cepat. Jawaban terhadap tantangan itu ialah konseling
kelompok.
1. Ciri-ciri Kelompok
Meskipun suatu kelompok terdiri dari sejumlah orang, tetapi kelompok
bukan sekedar kumpulan sejumlah orang. Sejumlah orang yang berkumpul itu
baru merupakan “lahan” bagi terbentuknya kelompok. Beberapa unsur perlu
ditambahkan apabila kumpulan sejumlah orang itu hendak menjadi sebuah
kelompok. Unsur-unsur tersebut yang paling pokok menyangkut tujuan,
keanggotaan dan kepemimpinan, serta aturan yang diikuti.
Selanjutnya, kelompok yang sudah memiliki tujuan, anggota dan
pemimpin itu tidaklah lengkap apabila belum memiliki aturan dalam
melaksanakan kegiatan-kegiatannya. Tanpa aturan itu pemimpin kelompok tidak
dapat menjalankan fungsinya dengan baik, kegiatan anggota tidak terarah, atau
akan terjadi kesimpangsiuran, atau bahkan benturan dan kekacauan, yang
semuanya akan mengakibatkan tujuan bersama tidak tercapai. Dengan demikian,
jelaslah bahwa suatu kelompok membutuhkan aturan, nilai-nilai atau pedoman
yang memungkinkan seluruh anggota bertindak dan mengarahkan diri bagi
pencapaian tujuan-tujuan yang mereka kehendaki.
Keempat unsur terbentuknya kelompok tersebut berlaku untuk semua
jenis kelompok, baik ditinjau dari sejumlah anggota maupun sifat dan tujuan
terbentuknya kelompok. Menurut jumlah anggotanya dikenal adanya kelompok
dua (yang terdiri dari dua orang), kelompok tiga dan seterusnya; kelompok kecil
(beranggotakan 2-5 orang), kelompok sedang (6-15 orang), dan seterusnya
sampai dengan kelompok “raksasa” yang jumlah anggotanya ratusan ribu orang.
Menurut sifat pembentukannya dikenal adanya kelompok primer (misalnya
satuan keluarga) dan kelompok sekunder, yaitu kelompok yang dibentuk secara
sengaja untuk tujuan-tujuan tertentu (misalnya kelompok belajar, kelompok
murid dalam satu kelas), kelompok organisasi pemuda, dan lain-lain.). kombinasi
karakteristik kelompok itu (jumlah, sifat, dan tujuan pembentukannya) dapat
terpadu dalam satu kelompok. Kelompok apapun yang terbentuk menurut adanya
unsur-unsur tujuan bersama, keanggotaan dan kepemimpinan, serta aturan.

2. Bimbingan Kelompok
Bimbingan kelompok adalah layanan bimbingan yang diberikan dalam
suasana kelompok. Gazda (1978) mengemukakan bahwa bimbingan kelompok di
sekolah merupakan kegiatan informasi kepada sekelompok siswa untuk
membantu mereka menyusun rencana dan keputusan yang tepat. Gazda juga
menyebutkan bahwa bimbingan kelompok diselenggarakan untuk memberikan
informasi yang bersifat personal, vokasional dan sosial. Telah lama dikenal
bahwa berbagai informasi berkenaan dengan orientasi siswa baru, pindah
program dan peta sosiometri siswa serta bagaimana mengembangkan hubungan
antar siswa dapat disampaikan dan dibahas dalam bimbingan kelompok
(McDaniel, 1956). Dengan demikian jelas bahwa kegiatan dalam bimbingan
kelompok ialah pemberian informasi untuk keperluan tertentu bagi para anggota
kelompok.
Dari gambaran di atas tampak adanya beberapa hal yang menunjukkan
homogenitas dalam kelompok. Pertama, bimbingan kelompok para anggota
kelompok homogen (yaitu siswa-siswa satu kelas atau satu tingkat kelas yang
sama). Kedua, “masalah” yang dialami oleh semua anggota kelompok adalah
sama, yaitu memerlukan informasi yang akan disajikan itu. Ketiga, Tindak lanjut
dari diterimanya informasi itu juga sama, yaitu untuk menyusun rencana dan
membuat keputusan. Dan keempat, reaksi atau kegiatan yang dilakukan oleh para
anggota dalam proses pemberian informasi (dan tindak lanjutnya) secara relatif
sama (seperti mendengarkan, mencatat, bertanya). Ciri homogenitas inilah yang
ikut menandai layanan bimbingan kelompok dan membedakannya dari konseling
kelompok.

3. Konseling Kelompok
Unsur-unsur konseling perorangan tampil secara nyata dalam konseling
kelompok. Kalau demikian adanya, apa yang membedakan konseling kelompok
dari konseling perorangan? Satu hal yang paling pokok ialah dinamika interaksi
sosial yang dapat berkembang dengan intensif dalam suasana kelompok, yang
justru tidak dapat dijumpai dalam konseling perorangan. Disitulah keunggulan
konseling kelompok. Melalui dinamika interaksi sosial yang terjadi diantara
anggota kelompok, masalah yang dialami oleh masing-masing individu anggota
kelompok dicoba untuk dientaskan. Peranan konselor sebagai “agen
pembangunan” dalam konseling perorangan diperkuat oleh peranan dinamika
interaksi sosial dalam suasana kelompok. Dengan demikian, proses pengentasan
masalah individu dalam konseling kelompok mendapatkan dimensi yang lebih
luas. Kalau dalam konseling perorangan klien hanya memetik manfaat dari
hubungannya dengan konselor saja, dalam konseling kelompok klien
memperoleh bahan-bahan bagi pengembangan diri dan pengentasan masalahnya
biak dari konselor maupun rekan-rekan anggota kelompok. Lebih dari itu lagi,
dinamika interaksi sosial yang secara intensif terjadi dalam suasana kelompok
akan meningkatkan kemampuan berkomunikasi dan keterampilan sosial pada
umumnya, meningkatkan kemampuan pengendalian diri, tenggang rasa atau
teposaliro. Dalam kaitan itu suasana kelompok menjadi tempat penempaan sikap,
keterampilan dan keberanian sosial yang bertenggang rasa (Prayitno, 1985).
Mengenai kondisi homogenitas heterogenitas yang terdapat di dalam
konseling kelompok dapat dilihat bahwa anggota kelompok sedapat-dapatnya
homogen, dalam arti semua anggota kelompok diharapkan dapat
menyumbangkan sesuatu dalam pengembangan dinamik interaksi sosial yang
terjadi di dalam kelompok. Untuk itu dikehendaki kemampuan para anggota
yang seimbang. Dalam keadaan tertentu, konselor dapat menghadirkan seorang
(atau lebih) klien tertentu ke dalam suasana konseling kelompok. “Klien khusus”
ini dihadirkan di sana dengan tujuan untuk melibatkannya ke dalam interaksi
sosial yang terjadi dalam kelompok, dan dengan keterlibatan yang intensif yang
terjadi dalam kelompok, dan dengan keterlibatan yang intensif itu ia (atau
mereka) diharapkan dapat memetik berbagai hal berkenaan dengan masalah-
masalah yang ia atau mereka alami. “Tujuan khusus” untuk “klien khusus” itu
tidak perlu disampaikan kepada anggota kelompok lainnya. Hal ini dimaksudkan
agar dalam dinamika interaksi sosial “klien khusus” itu tidak diperlukan secara
khusus. Mereka justru diberi kesempatan untuk menjalani keterlibatan sosial
dalam kenyataan yang sebenarnya, tidak berpura-pura, dan tidak diatur secara
tersendiri.
Untuk memasuki konseling kelompok para anggota atau klien pada
awalnya tidak memerlukan persiapan tertentu. Dengan demikian masalah yang
akan mereka bawa masing-masing ke dalam kelompok besar kemungkinan
berbeda-beda; atau bahkan ada diatara mereka yang menurut kategori Bordin
“tidak bermasalah”. Masalah-masalah yang dibawa oleh masing-masing anggota
itu nantinya akan dikemukakan dalam kegiatan kelompok. Oleh karena itu akan
muncul sejumlah masalah yang berbeda-beda yang akan dibicarakan melalui
dinamika interaksi sosial dalam kelompok itu.
Satu hal yang perlu mendapat perhatian khusus, ialah sifat isi
pembicaraan dalam konseling kelompok. Sebagaimana dalam konseling
perorangan, konseling kelompok menghendaki agar para klien (para peserta)
dapat mengungkapkan dan mengemukakan keadaan diri masing-masing
sepenuh-penuhnya dan seterbuka mungkin. Dalam hal ini, asas kerahasiaan
menjadi menonjol. Masing-masing klien perlu mempercayai konselor dan rekan-
rekan mereka sesama anggota kelompok, bahwa kerahasiaan segenap apa yang
mereka kemukakan terjamin sepenuhnya. Meyer dan Smith pada tahun 1977
melalui penelitiannya membuktikan bahwa kurangnya kepercayaan para anggota
tentang terjaminnya kerahasiaan itu akan mengurangi sikap keterbukaan para
anggota (dalam Davis, 1980). Selanjutnya, Davis sendiri mengungkapkan,
berdasarkan hasil penelitiannya bahwa pernyataan konselor yang meyakinkan
dihadapan segenap anggota kelompok bahwa ia benar-benar akan menjaga
kerahasiaan seluruh anggota kelompok secara signifikan mempengaruhi
kehendak dan sikap para anggota itu mengemukakan apa yang ingin
dikemukakan di dalam kelompok itu. Lebih jauh, konselor juga harus membina
semua anggota kelompok agar mereka menyadari pentingnya menjaga rahasia
itu, dan agar mereka saling menjaga rahasia temannya, sehingga dengan
demikian mereka saling mempercayai. Sikap konselor dan para anggota serta
suasana yang sepenuhnya sejalan dengan asas kerahasiaan itu merupakan salah
satu aturan yang khas harus diikuti oleh seluruh warga kelompok, dan hal itu
merupakan ciri khusus pula dari konseling kelompok.
Dari gambaran tersebut tampak dengan jelas perbedaan antara bimbingan
kelompok dan konseling kelompok, yaitu sebagai berikut :
Matrik 4
Perbandingan Antara Bimbingan Kelompok dan Konseling Kelompok

Aspek Bimbingan Kelompok Konseling Kelompok


1. Tidak terlalu dibatasi; dapat Terbatas :
Jumlah anggota sampai 60-80 orang. 5-10 orang

2. Relatif homogen Hendaknya homogen; dapat


Kondisi dan pula heterogen terbatas.
karakteristik
anggota

Aspek Bimbingan Kelompok Konseling Kelompok


3. Penguasaan informasi a.
Tujuan yang ingin untuk tujuan yang lebih Pemecahan masalah
dicapai luas. b.
Pengembangan
kemampuan komunikasi
dan interaksi sosial.

4. Konselor dan narasumber Konselor


Pemimpin
kelompok

5. Menerima informasi untuk a.


Peranan anggota tujuan kegunaan tertentu. Berpartisipasi dalam
dinamika interaksi
sosial.
b.
Menyumbang
pengentasan masalah.
c.
Menyerap bahan untuk
pemecahan masalah.

6. a. a.
Suasana interaksi Menolong atau dialog Interaksi multiarah
terbatas. b.
b. Mendalam dengan
Dangkal melibatkan aspek
emosional.
7. Tidak rahasia Rahasia
Sifat isi
pembicaraan.

8. Kegiatan berakhir apabila Kegiatan berkembang


Frekuensi kegiatan informasi telah sesuai dengan tingkat
disampaikan. kemajuan pemecahan
masalah Evaluasi dilakukan
sesuai dengan tingkat
kemajuan pemecahan
masalah.

G. Kegiatan Penunjang
Pelaksanaan berbagai jenis layanan bimbingan dan konseling memerlukan
sejumlah kegiatan penunjang.
Agaknya memang benar apabila dikatakan bahwa alat dan kelengkapan yang
paling handal dimiliki oleh konselor untuk menjalankan tugas-tugas pelayanannya
ialah mulut dan berbagai keterampilan berkomunikasi, baik verbal maupun non-
verbal. Namun, mengingat apa yang menjadi isi komunikasi itu menjangkau
wawasan yang sedemikian luas dan “multi-dimensional”, serta harus sesuai dengan
data dan kenyataan yang berkenaan dengan objek-objek yang dibicarakan, maka
konselor perlu diperlengkapi dengan berbagai data, keterangan dan informasi ,
terutama tentang klien dan lingkungannya.
1. Instrumen Bimbingan dan Konseling
Ada beberapa pertimbangan yang perlu mendapat perhatian para konselor
dalam penerapan instrumental bimbingan dan konseling. Antara lain adalah :
a. Instrumen yang dipakai haruslah yang sahih dan terandalkan. Pemilihan
instrumen yang akan dipergunakan didasarkan atas ketepatan kegunaan dan
tujuan yang hendak dicapai. Dalam hal ini Anastasi (1992) mengingatkan
bahwa keefektifan penggunaan instrumen dalam konseling tergantung pada
ketepatan pilihan instrumen yang akan dipakai berkenaan dengan individu
(yang akan mengikuti tes) dan permasalahan yang sedang ditangani.
Konselor dituntut memiliki wawasan yang memadai tentang kegunaan
berbagai instrumen dalam kaitannya dengan karakteristik individu dan
berbagai permasalahan.
b. Pemakai instrumen (dalam hal ini konselor) bertanggung jawab atas
pemilihan instrumen yang akan dipakai (misalnya tee), monitoring
pengadministrasiannya dan skoring, penginterpretasian skor dan
penggunaannya sebagai sumber informasi bagi pengambilan keputusan
tertentu (Anastasi, 1992). Adakalanya pemakai instrumen tidak mampu
mengambil seluruh tanggung jawab tersebut; maka ia memerlukan penyelia
ataupun konsultan. Dalam hal ini diingatkan oleh Anastasia bahwa instrumen
hanyalah alat; baik-buruknya instrumen itu sebagai alat tergantung pada
pemakaiannya.
c. Pemakaian instrumen, misalnya, harus dipersiapkan secara matang, bukan
hanya persiapan instrumennya saja, tetapi persiapan klien yang akan
mengambil tes itu. klien hendaknya memahami tujuan dan kegunaan tes itu
dan bagaimana kemungkinan hasilnya. Bagi klien-klien yang secara khusus
meminta tes, perlu diungkapkan mengapa ia merasa perlu di tes. Lebih jauh,
klien itu juga dipersiapkan untuk menerima hasil tes sebagaimana adanya.
Apabila hasil ternyata baik, bagaimana reaksi klien dan apa yang akan
dilakukannya? Sebaliknya, apabila hasilnya ternyata tidak sebaik yang
diharapkan, bagaimana pula reaksinya? Konselor perlu memperoleh
kejelasan tentang alasan klien, dan apakah alasan yang dikemukakan itu
dapat diterima. Konselor juga perlu membimbing klien agar nantinya dapat
menerima hasil tes secara positif dan dinamis. Kalau hasilnya baik klien tidak
menjadi sombong atau besar kepala, dan apabila hasilnya jelas tidak menjadi
kecewa atau putus asa. Hasil apa pun yang dicapai hendaknya diterima
sebagaimana adanya, dan menjadi pendorong bagi klien untuk berbuat dan
berusaha lebih baik lagi untuk mencapai hasil yang lebih tinggi.
d. Perlu diingat bahwa tes atau instrumen apa pun hanya merupakan salah satu
sumber dalam rangka memahami individu secara lebih luas dan dalam. Oleh
karena itu pemahaman terhadap klien hendaknya tidak hanya didasarkan atas
data tunggal, yang dihasilkan oleh tes semata-mata, melainkan harus
dilengkapi dengan data lain dari sumber-sumber yang relevan sehingga
gambaran tentang klien lebih bersifat komprehensif dan bermakna. Dalam
kaitan ini, Mortensen & Schmuller (1976) mengingatkan bahwa kesalahan-
kesalahan yang sering dilakukan oleh para petugas bimbingan dan konseling
dimasa lampau adalah memaksakan pemahaman tingkah laku individu hanya
berdasarkan pada hasil tes tunggal semata-mata, tanpa memahami secara
menyeluruh keadaan individu itu dalam batas-batas perkembangan
individualnya.
e. Ada dan dipergunakannya berbagai instrumen lainnya bukanlah syarat
mutlak bagi pelaksanaan pelayanan bimbingan dan konseling. Tes dan
berbagai instrumen itu sekedar alat bantu. Seperti telah dikemukakan di atas
pemahaman tentang klien dan permasalahannya dapat dilaksanakan melalui
wawancara dan dialog mendalam. Oleh karena itu, kekurangan ataupun
ketiadaan instrumen hendaknya tidak merupakan penghambat bagi
pelaksanaan bimbingan dan konseling (lihat kembali “kesalahpahaman
tentang instrumentasi BK” pada Bab III).
1) Instrumen Tes
Secara umum kegunaan berbagai tes itu ialah membantu konselor
dalam :
a) Memperoleh dasar-dasar pertimbangan berkenaan dengan berbagai
masalah pada individu yang di tes, seperti masalah penyesuaian
dengan lingkungan, masalah prestasi atau hasil belajar, masalah
penempatan dan penyaluran;
b) Memahami sebab-sebab terjadinya masalah diri individu;
c) Mengenali individu (misalnya siswa di sekolah) yang memiliki
kemampuan yang sangat tinggi dan sangat rendah yang memerlukan
bantuan khusus;
d) Memperoleh gambaran tentang kecakapan, kemampuan, atau
keterampilan seseorang individu dalam bidang tertentu.
Berbagai hal yang diperoleh konselor dari hasil tes dipergunakan
konselor untuk menetapkan jenis layanan yang perlu diberikan kepada
individu yang dimaksudkan.
2) Instrumen Non-Tes
Instrumen non-tes meliputi berbagai prosedur, seperti
pengamatan, wawancara, catatan anekdot, angket, sosiometri, inventori
yang dibakukan. Agar diperoleh hasil yang terandalkan, pengamatan dan
wawancara dilakukan dengan mempergunakan pedoman pengamatan
atau pedoman wawancara. Catatan anekdot merupakan hasil pengamatan,
khususnya tentang tingkah laku yang tidak biasa atau khusus yang perlu
mendapatkan perhatian tersendiri. Angket dan daftar isian dipergunakan
untuk mengungkapkan berbagai hal, biasanya tentang diri individu, oleh
individu sendiri. Sosiometri untuk melihat dan memberikan gambaran
tentang pola hubungan sosial di antara individu-individu dalam
kelompok. Dengan sosiometri akan dapat dilihat individu-individu yang
populer, yang membentuk klik atau kelompok-kelompok tertentu, dan
mereka yang terpencil (terisolasi). Sedangkan melalui inventori yang
dibakukan akan dapat diungkapkan berbagai hal yang biasanya
merupakan pokok pembahasan dalam rangka pelayanan bimbingan dan
konseling secara lebih luas, seperti pengungkapan jenis-jenis masalah
yang dialami individu, sikap dan kebiasaan belajar siswa.

2. Penyelenggaraan Himpunan Data


Data yang perlu dikumpulkan, disusun dan dipelihara meliputi data
pribadi dan data umum. Data pribadi siswa di sekolah, misalnya meliputi
berbagai hal dalam pokok-pokok berikut :
a. Identitas pribadi
b. Latar belakang rumah tangga dan keluarga
c. Kemampuan mental, hasil belajar, nilai-nilai mata pelajaran
d. Hasil tes diagnostik
e. Sejarah kesehatan
f. Pengalaman ekstra kurikuler dan kegiatan di luar sekolah
g. Minat dan cita-cita pendidikan dan pekerjaan/jabatan
h. Prestasi khusus yang pernah diperoleh.
Beberapa hal perlu mendapatkan perhatian dalam rangka
penyelenggaraan himpunan data dan pemanfaatannya secara optimal.
a. Materi himpunan data yang baik (akurat dan lengkap) sangat berguna untuk
memberikan gambaran yang tepat tentang individu. Gambaran ini dapat
memberikan proyeksi untuk masa depan tentang individu yang bersangkutan.
b. Data tentang individu selalu bertambah, berubah, berkembang, dan dinamis.
Oleh karena itu data dalam kumpulan data harus selalu baru dengan
menambahkan data baru dan meninggalkan data lama yang sudah tidak
relevan lagi. Data lama yang sudah tidak ada sangkut-pautnya lagi dengan
kepentingan perkembangan kehidupan individu tidak perlu dipertahankan
atau terus disimpan mengingat bahwa kumpulan data itu diadakan untuk
kepentingan individu yang bersangkutan, bukan untuk kepentingan orang
lain. Kumpulan data untuk keperluan bimbingan dan konseling bukanlah
arsip ataupun dokumen yang sewaktu-waktu dapat dipakai untuk menjabat
atau mengetahui kekurangan-kekurangan yang bersangkutan, melainkan
sebaliknya, data yang dikumpulkan itu hendaknya mampu mendukung
program-program pengembangan dan pencapaian tujuan-tujuan individu
yang bersangkutan. Dalam kaitan itu, data yang bermakna ataupun
berdampak negatif atau merugikan terhadap individu yang bersangkutan
hendaknya tidak dijumpai dalam kumpulan data.
c. Data yang terkumpul disusun dalam format-format yang teratur rapi menurut
sistem tertentu. Data untuk masing-masing individu dipisahkan sepenuhnya.
Format dan sistem yang dipakai itu hendaknya memudahkan pemasukan data
baru dan penanggalan data lama, serta memudahkan pengambilan data
tertentu untuk dipergunakan dan pengembaliannya. Pemanfaatan komputer
akan sangat memudahkan penyelenggaraan himpunan data seperti itu.
d. Data dalam himpunan data itu pada dasarnya bersifat rahasia. Hanya orang-
orang tertentu saja yang dapat berhubungan dengan kumpulan data itu.
Konselor wajib menyimpan dana memelihara segenap data itu sehingga
kerahasiaan yang ada di dalamnya benar-benar terjamin. Orang-orang yang
hendak berhubungan dengan himpunan data itu (misalnya guru) harus
melalui konselor dengan jaminan bahwa kerahasiaan data itu tetap terjaga.
e. Mengingat bahwa data yang dikumpulkan cukup banyak, harus pula
ditambah dan dikurangi sesuai dengan perkembangan, lagi pula pengeluaran
data (untuk dipakai) dan pemasukannya kembali memakan waktu yang cukup
banyak, konselor sering terjebak oleh pekerjaan rutin penyelenggaraan
himpunan data itu. Bahkan mungkin masih ada konselor sekolah yang
menganggap bahwa penyelenggaraan himpunan data itu merupakan tugas
yang paling utama bagi konselor di sekolah. Pandangan seperti itu
merupakan kesalahan mendasar. Tugas utama konselor adalah membuerkan
berbagai layanan, yaitu layanan orientasi dan informasi, penempatan dan
penyaluran, bimbingan belajar, konselor perorangan, serta bimbingan dan
konseling kelompok. Kegiatan yang menyangkut himpunan data hanyalah
sebagai penunjang belaka. Sangat diharapkan agar kegiatan penunjang itu
tidak mengalahkan penyelenggaraan tugas utama konselor di sekolah.
Data tentang berbagai aspek perkembangan dan kehidupan sejumlah
siswa atau individu di luar sekolah dapat disebut data kelompok, misalnya
gambaran umum tentang cita-cita pendidikan dan jabatan, masalah-masalah yang
dialami, penyebaran prestasi belajar, sikap dan kebiasaan belajar, hubungan
sosial antar anggota kelompok. Data ini bersifat umum juga, dalam arti bahwa
dapat diketahui oleh pihak-pihak lain, asalkan tidak disebutkan nama atau
identitas dari seseorang yang datanya ada di dalam kumpulan data itu. data
kelompok dapat dipergunakan untuk layanan tertentu, seperti layanan bimbingan
belajar, bimbingan kelompok, konseling kelompok, dengan catatan, kerahasiaan
setiap pribadi yang ada dalam data kelompok itu tetap terjaga dengan sebaik-
baiknya.
3. Kegiatan Khusus
Masih ada beberapa kegiatan khusus yang memerlukan perhatian
konselor, khusus konselor yang bekerja di sekolah, untuk dapat diselenggarakan
dengan baik. Di sini hanya akan disinggung tiga kegiatan, yaitu konperensi
kasus; bimbingan ke rumah siswa, dan alih tangan klien.
a. Konferensi Kasus
Konferensi kasus diselenggarakan untuk membicarakan suatu kasus.
Di sekolah, konferensi kasus biasanya diselenggarakan untuk membantu
permasalahan yang dialami oleh seorang siswa. Tujuan konferensi kasus
ialah untuk :
1) Diperolehnya gambaran yang lebih jelas, mendalam dan menyeluruh
tentang permasalahan siswa. Gambaran yang diperoleh itu lengkap
dengan saling sangkut paut data atau keterangan yang satu dengan yang
lain.
2) Terkomunikasinya sejumlah aspek permasalahan kepada pihak-pihak
yang berkepentingan dan yang bersangkutan, sehingga penanganan
masalah itu menjadi lebih mudah dan tuntas.
3) Terkoordinasinya penanganan masalah yang dimaksud sehingga upaya
penanganan itu lebih efektif dan efisien.
Dalam penstrukturan itu konselor perlu membangun persepsi dan
tujuan bersama dengan pertemuan itu dengan arahan sebagai berikut :
1) Tidak menekankan pada nama dan identitas siswa yang permasalahannya
dibicarakan.
2) Tujuan pertemuan pada umumnya, dan semua pembicaraan pada
khususnya ialah semata-mata untuk kepentingan perkembangan dan
kehidupan klien; semua isi pembicaraan ialah untuk kebahagiaan klien.
3) Semua pembicaraan dilakukan secara terbuka, tetapi tidak membicarakan
hal-hal yang negatif tentang diri siswa yang bersangkutan. Permasalahan
siswa disoroti secara objektif dan tidak ditafsirkan secara negatif atau
mengarah kepada hal-hal yang merugikan siswa.
4) Penafsiran data dan rencana-rencana kegiatan dilakukan secara nasional,
sistematik, dan ilmiah.
5) Semua pihak berpegang teguh pada asas kerahasiaan. Semua isi
pembicaraan terbatas hanya untuk keperluan pada saat pertemuan itu saja,
dan tidak boleh dibawa keluar.

b. Kunjungan Rumah
Kegiatan kunjungan rumah, dan juga pemanggilan orang tua ke
sekolah, setidak-tidaknya memiliki tiga tujuan utama, yaitu :
1) Memperoleh data tambahan tentang permasalahan siswa, khususnya yang
bersangkut paut dengan keadaan rumah/orang tua,
2) Menyampaikan kepada orang tua tentang permasalahan anaknya,
3) Membangun komitmen orang tua terhadap penanganan masalah anaknya.
Ketiga tujuan itu sering kali tampil sekaligus pada waktu kunjungan
rumah atau pemanggilan orang tua ke sekolah; namun demikian, dapat pula
terjadi ketiganya direncanakan secara bertahap sesuai dengan tahap-tahap
penanganan masalah. Untuk menyampaikan tujuan yang mana pun, sebagian
atau bertahap, dalam kunjungan rumah konselor terlebih dahulu :
1) Menyampaikan perlunya kunjungan rumah kepada siswa yang
bersangkutan. Siswa perlu memahami perlunya dan kegunaan kunjungan
itu berkenaan dengan penanganan masalahnya. Kunjungan rumah tidak
dapat dilakukan sebelum siswa memahami kegunaannya itu, dan
mempersilahkannya.
2) Menyusun rencana dan agenda yang konkrit dan menyampaikannya
kepada orang tua yang akan dikunjungi itu. Kunjungan rumah tidak dapat
dilakukan sebelum orang tua mengizinkannya.

c. Alih Tangan
Kegiatan alih tangan meliputi dua jalur, yaitu jalur kepada konselor
dan jalur dari konselor. Jalur kepada konselor, dalam arti konselor menerima
“kiriman” klien dari pihak-pihak lain, seperti orang tua, kepala sekolah, guru,
pihak atau ahli lain (misalnya dokter, psikiater, psikolog, kepala suatu kantor
atau perusahaan). Sedangkan jalur dari konselor, dalam arti konselor
“mengirimkan” klien yang belum tuntas ditangani kepada ahli-ahli lain,
seperti konselor yang lebih senior, konselor yang membidangi spesialisasi
tertentu, ahli-ahli lain (misalnya guru bidang studi, psikolog, psikiater,
dokter). Konselor menerima klien dari pihak lain dengan harapan klien itu
dapat ditangani sesuai dengan permasalahan klien yang belum atau tidak
tuntas ditangani oleh pihak lain itu; atau permasalahan klien itu tidak sesuai
dengan bidang keahlian pihak yang mengirimkan klien itu. Di sisi lain,
konselor mengalihtangankan klien kepada pihak lain apabila masalah yang
dihadapi klien memang di luar kewenangan konselor untuk menanganinya,
atau setelah konselor berusaha sekuat tenaga memberikan bantuan, namun
permasalahan klien belum berhasil ditangani secara tuntas.
Dalam kaitan itu, Cornier & Bernard (1982) mengemukakan beberapa
praktek yang salah yang hendaknya tidak dilakukan konselor dalam kegiatan
alih tangan, yaitu :
1) Klien tidak diberi alternatif pilihan kepada ahli mana ia akan dialih-
tangankan.
2) Konselor mengalihtangankan klien kepada pihak yang keahliannya
diragukan, atau kepada ahli yang reputasinya kurang dikenal.
3) Konselor membicarakan permasalahan klien kepada calon ahli tempat
alih tangan tanpa persetujuan klien.
4) Konselor menyebutkan nama klien kepada calon ahli tempat alih tangan.
Pelayanan bimbingan dan konseling meliputi berbagai layanan dan
kegiatan penunjang yang semua itu hendaknya dilakukan konselor,
khususnya konselor yang bekerja pada lembaga tertentu (misalnya sekolah)
dengan sejumlah warga lembaga yang menjadi tanggung jawab penuh
konselor sebagai sasaran layanan. Layanan orientasi mengacu pada
diperkenalkannya individu atau klien kepada lingkungan yang baru
dimasukinya. Dengan program orientasi itu proses penyesuaian diri individu
kepada lingkungan biasanya akan lebih cepat sehingga ia dapat menjalani
perkembangan dan kehidupannya di lingkungan yang baru itu secara optimal.
Layanan informasi amat dibutuhkan oleh individu-individu yang
perlu mempertimbangkan dan hendaknya mengambil keputusan tentang
sesuatu (misalnya pilihan sekolah lanjutan), tetapi belum memiliki
pemahaman yang cukup tentang berbagai hal berkenaan dengan apa yang
hendak diputuskan itu. secara garis besar diketahui adanya informasi
pendidikan, informasi jabatan/pekerjaan, dan informasi sosial-budaya.
Berbagai informasi itu diperlukan oleh individu-individu, baik di sekolah
maupun di luar sekolah. Metode layanan informasi yang lazim dipakai ialah
ceramah, diskusi, karyawisata, buku panduan, dan konferensi karier.
Pada siswa yang mengalami masalah belajar, seperti keterlambatan
akademik, ketercepatan belajar, sangat lambat belajar, kurang motivasi
belajar, serta bersikap dan berkebiasaan belajar buruk dalam belajar
memerlukan bimbingan belajar. Masalah-masalah belajar itu dapat
diidentifikasi, melalui sejumlah cara, yaitu melalui pengadministrasian tes
hasil belajar, tes kemampuan dasar, tes diagnostik, analisis hasil belajar atau
karya, dan pengungkapan sikap dan kebiasaan belajar. Upaya penanganan
masalah belajar itu dilakukan melalui sejumlah layanan, antara lain
pengajaran perbaikan, kegiatan pengayaan, peningkatan motivasi, sikap dan
kebiasaan belajar. Semua layanan itu sangat memerlukan kerja sama antara
konselor, guru dan personel sekolah lainnya.
Konseling program merupakan layanan yang amat khas, yaitu
komunikasi langsung tatap muka antara klien dan konselor. Layanan khas ini
sering dianggap sebagai “jantung hatinya” pelayanan bimbingan dan
konseling secara keseluruhan. Apabila “jantung hati” itu telah dikuasai, maka
layanan-layanan lainnya akan mengikut. Layanan konseling perorangan juga
diberi sifat “resmi” dalam arti bahwa layanan itu merupakan usaha yang
disengaja dengan niat yang mantap, memiliki tujuan yang tidak bisa lain
kecuali untuk kepentingan dan kebahagiaan klien, dilaksanakan dalam format
tertentu, dengan mempergunakan metode yang terukur dan teruji, serta
hasilnya dievaluasi dan ditindaklanjuti. Dalam sifatnya yang “resmi” itu
layanan konseling berupa mengentaskan masalah klien melalui sejumlah
langkah umum, yaitu pengenalan/pemahaman masalah klien, analisis sebab-
sebab timbulnya masalah, aplikasi metode khusus pengentasan, evaluasi dan
tindak lanjut. Langkah-langkah umum tersebut diwarnai oleh lima tahap
keefektifan konseling. Para konselor yang menyelenggarakan layanan
konseling perorangan yang unik itu biasanya mendasarkan pelaksanaan
layanan pada pendekatan ataupun teori konseling tertentu. Secara garis besar
pada umumnya dikenal tiga pendekatan, yaitu pendekatan konseling direktif,
non-direktif, dan elektrik. Konselor dapat menganut salah satu pendekatan
itu, namun agaknya pendekatan elektrik lebih banyak pengaruhnya. Layanan
konseling itu dapat diselenggarakan di segenap lingkungan kerja yang
berbeda, di sekolah dasar, sekolah menengah, perguruan tinggi, dan di
masyarakat pada umumnya.
Layanan bimbingan dan konseling kelompok memberikan
kekhususan tersendiri terhadap pelayanan bimbingan dan konseling secara
keseluruhan. Layanan kelompok itu memiliki beberapa keunggulan, yang
paling pokok ialah bahwa ia lebih efisien, lebih ekonomis. Dinamika
interaksi sosial yang terjadi di dalam kelompok memberikan warna khas yang
tidak dapat terjadi pada konseling perorangan misalnya, dan kekhasan ini
memberikan keunggulan yang lain. Interaksi sosial itu memungkinkan
terjadinya suasana bimbingan yang nyata (yang terjadi sehari-hari) di dalam
kelompok. Kekhususan out pula yang merupakan media tersedia bagi upaya
pengentasan masalah klien melalui konseling kelompok. Di samping itu,
konseling kelompok di satu sisi dapat menjadi lahan penjajagan bagi
pelaksanaan konseling perorangan untuk klien tertentu, dan di sisi lain
menjadi lahan latihan pengembangan keterampilan berkomunikasi dan
berinteraksi sosial bagi klien yang oleh konseling perorangan disarankan
untuk melakukan latihan yang dimaksudkan itu. Begitu menonjolkan
keunggulan yang dapat ditampilkan oleh layanan konseling kelompok,
sampai-sampai diramalkan bahwa pada tahun 2000 nanti seluruh pelayanan
bimbingan dan konseling didominasi oleh layanan konseling kelompok.
Pelaksanaan berbagai layanan tersebut perlu ditunjang oleh sejumlah
kegiatan. Instrumentasi bimbingan dan konseling dengan mempergunakan
berbagai teknik tes dan non-teknis perlu dikembangkan oleh konselor.
Penggunaan setiap instrumen hendaknya disertai pertimbangan yang matang,
kemampuan dan ketepatan pengadministrasian/pengolahan dan penafsiran,
serta tanggung jawab yang tinggi. Pemakaian berbagai instrumen itu,
ditambah dengan penyelenggaraan sejumlah prosedur lainnya (antara lain
pengamatan, wawancara dan pengumpulan bahan akan menghasilkan
berbagai data, baik data pribadi, data umum, maupun data kelompok. Data
pribadi disimpan secara khusus dalam bentuk himpunan data. Sedangkan data
umum dan data kelompok dikumpulkan dalam kemasan tersendiri. Semua
data itu, sesuai dengan relevansinya masing-masing, dipergunakan untuk
menunjang sikap jenis layanan yang disebut di atas.
Kegiatan penunjang lain yang cukup penting adalah konferensi kasus,
kunjungan ke rumah, dan penyelenggaraan alih tangan. Masing-masing
kegiatan tersebut memiliki tujuan dan pola-pola pelaksanaannya sendiri yang
kesemuanya tidak lain untuk meningkatkan penyelenggaraan dan
keberhasilan segenap fungsi pelayanan bimbingan dan konseling.