Anda di halaman 1dari 8

STATUS ORTHOPEDI

KEPANITERAAN KLINIK UNIVERSITAS TRISAKTI


SMF BEDAH
RUMAH SAKIT UMUM DAERAH KOTA BEKASI
________________________________________________________
Nama Mahasiswa : Randi Dwiyanto
NIM : 030.06.210
Dokter Pembimbing : Dr. Fx. Hendroyono, Sp.OT, MARS

Tanda Tangan :

___________________________________________________________________________

I. Identitas Pasien
Nama : An. F
Umur : 12 tahun
Jenis Kelamin : perempuan
Alamat : Bekasi Utara
Agama : Islam
Pekerjaan : pelajar
Status Pernikahan : belum menikah

II. Keluhan Utama


Benjolan di lutut kanan.

III. A. Anamnesa

Benjolan di lutut kanan bagian dalam pertama kali dirasakan pasien saat 3 tahun yang lalu.
Pasien merasakan benjolan seperti tulang yang semakin lama semakin membesar. Tidak ada
rasa nyeri dan kemerahan di sekitar benjolan. Tidak ada demam, dan batuk pilek. Tidak
ditemukan benjolan di tempat lain. Pasien baru memeriksakan ke dokter saat ini, dan sewaktu
pasien berjalan tidak ada masalah atau masih bisa berjalan normal. Riwayat cedera atau jatuh
di bagian lutut disangkal.

B. Riwayat Keluarga

Tidak ada anggota keluarga yang mengalami penyakit yang sama

IV. Pemeriksaan Fisik

IV.A. Keadaan Umum dan Tanda Vital

Kesadaran : compos mentis

Kesan sakit : pasien tampak sakit ringan


Status gizi : gizi cukup

Tanda Vital :

Tekanan Darah : 110 / 70 mmHg

Nadi : 68 x / menit

Suhu : 36,2 °C

Pernapasan : 22 x / menit

IV.B. Status Generalis

1. Kepala, Leher

a. mata : CA -/- , SI -/-

b. hidung : deformitas (-), sekret (-), mukosa lembab

c. telinga : deformitas (-), sekret (-)

d. mulut : mukosa lembab, Tonsil T1/T1

e. leher: pembesaran KGB (-) dan tiroid (-)

2. Thorax

a. paru : suara nafas vesikuler,

Rhonki -/- , Wheezing -/-

b. jantung : Bunyi jantung S1/S2 reguler,

Gallop (-), Murmur (-)

3. Abdomen : cembung, teraba supel

bising usus= 5x / menit , adekuat

normal

4. Extremitas

superior : dbn

inferior : Dextra: lihat status lokalis

Sinistra: dbn
IV.C.Status Lokalis
(Regio Distal Femur Medial Dextra)

Look : benjolan melekat pada tulang paha bagian dalam (+)

deformitas (-)

nyeri (-)

kemerahan (-)

Feel : nyeri tekan (-)

hangat (-)

fixed

konsistensi keras

benjolan di tempat lain (-)

Move : pergerakan aktif (+) terasa sewaktu gerakan flexi dan extensi

pergerakan pasif (+)

V. Diagnosis Banding

- Tumor jinak tulang suspek Osteokondroma

- Gonitis

- Mal Union fraktur

VI. Pemeriksaan Pembantu (belum dilakukan)

- Lab. Darah Rutin

- Rontgen AP dan Lateral Distal Femur Dextra


VII. Penatalaksanaan

Operasi atau pembedahan


TINJAUAN PUSTAKA

Tumor Tulang

Pendahuluan
Keganasan tulang dapat dikelompokkan menjadi 2 yaitu tumor benigna dan maligna. Klasifikasi
yang banyak digunakan untuk kedua jenis tumor ini adalah sebagai berikut :

Tumor Tulang Benigna


Kondrogenik : Osteokondroma, Kondroma
Osteogenik : Osteoid osteoma, Osteobalstoma, Tumor sel Giant

Tumor Tulang Maligna


Kondrogenik : Kondrosarkoma
Osteogenik : Osteosarkoma
Fibrogenik : Fibrosarkoma
Tidak jelas asalnya : Sarcoma Ewing

Osteokondorma
Osteokondroma (Eksostosis Osteokartilaginous) merupakan tumor tulang jinak yang paling
sering ditemukan. Biasanya menyerang usia 10-20 tahun.
Tumor ini tumbuh pada permukaan tulang sebagai benjolan yang keras. Penderita dapat memiliki
satu atau beberapa benjolan.
10% dari penderita yang memiliki beberapa osteokondroma, akan mengalami kelaganasan tulang
yang disebut kondrosarkoma, tetapi penderita yang hanya memiliki satu osteokondroma, tidak
akan menderita kondrosarkoma.

Patofisiologi/Etiologi. Tumor tulang yang paling umum ditemukan adalah osteokondroma.


Meskipun awitannya biasanya dimulai pada masa anak, tumor ini berkembang sampai maturitas
skeletal dan mungkin tidak terdiagnosa sampai masa dewasa. Tumor ini mungkin tumbuh
tunggal ataupun multiple dan dapat terjadi pada tulang manapun. Femur dan tibia adalah yang
paling sering terkena.
Pada tampilan makro, tumor mempunyai tudung kartilagenus dengan tunas tulang menembus
dari tulang. Seiring perkembangan tudung, tumor menulang dan mungkin menjadi maligna. Kira-
kira 10% osteokondroma berkembang menjadi sarkoma.

Insidens/Prevalensi. Osteokondroma terjadi kira-klira 40% dari semua tumor benigna dan
cenderung terjadi pada pria.

Diagnosa
Diagnosis tumor tulang jinak ditentukan berdasarkan hasil pemeriksaan:
# Rontgen tulang
# Biopsi tulang
# Skrening tulang (bisa menunjukkan ukuran dan lokasi tumor
# Pemeriksaan darah (peningkatan kadar enzim alkalin fosfatase).

Pengobatan
Tumor tulang jinak biasanya tidak perlu diobati, tetapi harus dimonitor secara periodik untuk
mengetahui perkembangan maupun penyusutannya.
Kadang perlu diangkat melalui pembedahan.

Foto Rontgen :

Kondroma
Patofisiologi/Prevalensi. Kondroma atau endokondroma, secara histologis sangat erat kaitannya
dengan presentasi osteokondroma. Kondroma adalah lesi pada kartilago hialin matur yang
terutama mengenai tangan dan kaki. Iga, sternum, spinal, dan tulang panjang juga mungkin
terkena. Kondroma lambat berkembang dan sering mengakibatkan fraktur patologis setelah
cedera ringan.
Insiden/Prevalensi. Kondroma ditemukan pada semua usia, terjadi pada pria dan wanita serta
dapat mengnai semua tualng.

Osteoid Osteoma
Patofisiologi/Etiologi. Osteosid osteoma dibedakan melalui tampilannya yang bergranular
bersemu merah jambu, yang dihasilkan dari proliferasi osteoblas. Tidak seperti tumor lainnya,
lesi tunggalnya berdiameter kurang dari 0,4 inci (1 cm). Setiap tulang dapat terkena, tapi femur
dan tibia adalah yang paling sering. Bila osteoid osteoma terjadi pada kolumna spinalis dan
sakrum, manisfestasi klinis yang muncul menyerupai sindrom diskus lumbalis. Klien
mengeluhkan nyeri yang terputus-putus, mungkin disertai oleh peningkatan kadar prostaglandin
yang diasosiasikan dengan tumor.
Insidens/Prevalensi. Kira-kira 10% dari semua tumor benigna adalah osteoid osteoma. Lesi
terjadi pada anak dan dewasa muda dengan predominan pada pria.

Osteoblastoma
Patofisiologi/Etiologi. Sering disebut juga osteoid osteoma raksasa, osteoblastoma yang
menyerang vertebra dan tulang panjang. Tumor ini lebih besar daripada osteoid osteoma dan
terletak pada tulang berongga. Tumor ini berwarna kemerahan, dan tampakan yang granular
memfasilitasi diagnosis.
Insidens/Prevalensi. Lesi yang terjadi kurang dari 1% dan menyerang remaja pria serta dewasa
muda pada kedua jenis kelamin.

Tumor Sel Raksasa


Patofisiologi/Prevalensi. Asal tumor sel raksasa masih belum bisa ditentukan. Lesi ini agresif
dan dapat meluas. Pada pemeriksaan makro lesi tampak kelabu sampai coklat kemerahan dan
mungkin melibatkan jaringan lunak sekiarnya. Meskipun diklasifikasikan sebagai tumor benigna,
tumor ini dapat bermetastasis ke jaringan paru.
Insiden/Prevalensi. Tidak seperti kembanyakan tumor benigna lainnya, tumor ini menyerang
wanita yang berumur lebih dari 20 tahun dengan puncak insiden pada klien usia 30-an. Kira-kir
18% dari seluruh tumor benigna adalah tumor ini.

Tumor Tulang Maligna


Tumor tulang maligna dapat berupa tumor primer atau sekunder (yang berasal dari jaringan lain
dan bermetastasis ke tulang). Tumor primer terjadi lebih sering pada usia 10-30 tahun. Seperti
juga kanker tulang lainnya, penyebab pasti tidak diketahui. Lesi metastatik paling sering terjadi
pada usia yang lebih lanjut dan terjadi pada kebanyakan kanker tulang.

Tumor Primer

Osteosarkoma
Patofisiologi/Etiologi. Osteosarkoma atau osteogenik sarkoma adalah tipe tumor maligna primer
yang paling banyak ditemukan. Lebih dari 50% terjadi pada femur distal dan disusul oleh tibia
proksimal dan humerus. Tulang pipih dan tulang panjang mempunyai insiden yang hampir sama
pada usia lebih dari 25 tahun.
Osteosarkoma adalah lesi yang relatif besar, menyebabkan nyeri dan pembengkakan dalam
durasi singkat. Area yang terkena biasanya hangat karena vaskularisasi pada area tersebut
meningkat. Bagian pusat massa berupa sklerotik meningkatkan aktivitas osteoblastik; bagian
perifernya lembut, meluas melalui korteks tulang dengan tampakan seperti sinar matahari yang
klasik, yang diasosiasikan dengn neoplasma. Ekpansi ke dalam kanalis medularis juga umum
terjadi.
Osteosarkoma mungkin osteoblastik, kondroblastik, atau fibroblastik, tergantung asal
jaringannya. Apapun sumbernya lesinya biasanya bermetastasi ke perifer paru dalam 2 tahun
setelah tindakan, dan biasanya berakhir dengan kematian.
Insidens/Prevalensi. Osteosarkoma terjadi lebih sering pada pria dibandingkan wanita (2:1),
antara usai 10-30 tahun. Dan pada usia yang lebih tua pada klien dengan penyakit Paget. Klien
yang menerima radiasi untuk kanker jenis lain atau klien yang mempunyai lesi benigna juga
mempunyai resiko yang tinggi.

Sarkoma Ewing
Patofisiologi/Etiologi. Meskipun sarkoma Ewing tidak seumum tumor tulang lainnya, tumor ini
yang paling maligna. Seperti tumor lainnya, tumor ini juga menyebabkan nyeri dan
pembengkakan. Sebagi tambahan manifestasi klinis; demam derajat rendah tertentu, leukositosis,
dan anemia; membeikan karakter pada lesi ini. Pelvis dan ektremitas bawah adaah yang paling
sering diserang. Serangan pada pelvis memberikan tanda prognosa yang buruk.
Pada tingkat selular tumor ini serupa dengan limfoma tulang. Pada hasil Rontgen karakteistiknya
berbintik pola destruktif dan tampakan kulit bawang pada permukaan tulang membedakan
neoplasma sarkoma Ewing. Seperti tumor maligna lainnya tumor ini juga tidak mempunyai
tudung dan sering meluas ke jaringan lunak. Kematian terjadi karena metastasis ke paru atau
tulang lainnya.
Insidens/Prevalensi. 5% dari seluruh tumor tulang maligna adalah sarkoma Ewing. Meskipun
tumor ini dapat dilihat pada klien berbagai usia, biasanya terjadi pada anak dan dewasa muda
pada usia 20-an. Pria mempunyai kecenderungan yang lebih besar.

Kondrosarkoma
Patofisiologi/Etiologi. Kebalikan dari ostosrakoma, klien dengan kondrosarkoma mengalami
nyeri tumpul dan pembengkakan dalam waktu yang lama. Tumor umumnya menyerang pelvis
dan femur proksimal dekat diafisis. Timbul dari jaringan kartilago, lesi ini merusak tulang dan
sering mengkalsifikasinya. Klien dengan kondrosarkoma mempunyai prognosis yang lebih baik
dar pada sarkoma osteogenik.
Insidens/Prevalensi. Kondrosarkoma terjadi pada usia paruh baya dan usia yang lebih tua,
dengan predominansi ringan pada pria dan terjadi kurang dari 10% dari seluruh tumor tulang
maligna.

Fibrosarkoma
Patofisiologi/Etiologi. Muncul dari jaringa fibrosa, fibrosakoma dapat dibagi menjadi beberapa
subtipe. Subtipe yang paling maligna adalah histiositoma fibrosa maligna (MFH). Kebanyakan
presentasi klinisnya rendah dan insidious, tanpa manifestasi spesifik. Nyeri lokal, dengan atau
tanpa masa teraba, terjadi pada tulang panjang ekstremitas bawah. Seperti kanker tulang lainnya,
lesi dapat bermetastasis ke paru.
Insidens/Prevalensi. Meskipun MFH menyerang pada semua usia, umumnya terjadi pada pria
usia paruh baya. Untungnya lesi ini tidak umum.

Penyaki Tulang Metastatik


Tumor primer pada prostat, payudara, ginjal, tiroid dan paru disebut sebagai kanker ‘pencari
tulang’ karena bermetastasi ke tulang lebih sering daripada tumor lain. Vertebra, pelvis, femur
dan iga adalah lokasi yang umum diserang. Secara sederhana, tumor primer dibawa melalui
aliran darah. Hampir semua lesi metastastatik berasal dari epitel dan berawal dari sumsusm
tulang.
Fraktur patologis yang terjadi dalam 10-15% kasus, merupakan pertimbangan utama dalam
penatalaksanaan. Area yang paling seing terserang adalah asetabulum dan femur proksimal.
Insidens/Prevalensi. Penyakit ini terutama menyerang orang yang berusia lebih dari 40 tahun.
Pada klien dengan wiwayat kanker dan nyeri lokal, perlu diduga adanya metastasis. Insiden
metastasis tulang berentang dari 20-70% tergantung dari sumber laporan statistik. Diduga insiden
yang dilaporkan jauh dibawah nilai yang sebenarnya.