Anda di halaman 1dari 1

Jelaskan kenapa banyak proses keberatan ditolak!

Alasan ditolaknya keberatan menurut UU KUP berdasarkan pasal 25 angka 4 bab V tentang Keberatan
dan Banding UU KUP menyatakan bahwa “Keberatan yang tidak memenuhi persyaratan sebagaimana
dimaksud pada ayat (1), ayat (2), ayat (3), atau ayat (3a) bukan merupakan surat keberatan sehingga
tidak dipertimbangkan”. Adapun persyaratan yang harus dipenuhi oleh Wajib Pajak dalam mengajukan
Surat Keberatan agar dipertimbangkan adalah :
• Pasal 25 ayat (1): Wajib Pajak dapat mengajukan keberatan hanya kepada Direktur Jenderal Pajak atas
suatu Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar, Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar Tambahan, Surat
Ketetapan Pajak Nihil, Surat Ketetapan Pajak Lebih Bayar, atau pemotongan/pemungutan pajak oleh
pihak ketiga berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan.
• Pasal 25 ayat (2): Keberatan diajukan secara tertulis dalam Bahasa Indonesia dengan mengemukakan
jumlah pajak yang terutang, jumlah pajak yang dipotong atau dipungut, atau jumlah rugi menurut
penghitungan Wajib Pajak dan disertai alasan dasar penghitungannya.
• Pasal 25 ayat (3): Keberatan harus diajukan dalam jangka waktu tiga bulan sejak tanggal dikirim surat
ketetapan pajak atau sejak tanggal pemotongan/pemungutan pajak sesuai Pasal 25 ayat (1) kecuali Wajib
Pajak bisa menunjukkan bahwa jangka waktu tersebut tidak dapat dipenuhi karena keadaan di luar
kekuasaannya.
• Pasal 25 ayat (3a): Sebelum menyampaikan surat keberatan, Wajib Pajak wajib melunasi pajak yang
masih harus dibayar paling sedikit sejumlah yang telah disetujui oleh WP dalam pembahasan akhir
pemeriksaan.
Selain tidak melakukan hal – hal yang telah dipersyaratkan di dalam peraturan sebagaimana diatas, ada
hal-hal lain yang sering terjadi sehingga permohonan Wajib Pajak ditolak. Diantranya
1. Wajib Pajak tidak menyertakan alasan yang jelas dalam permohonan keberatan
2. Tidak membayar sejumlah uang yang disetujui dalam pembahasan akhir pemeriksaan jika keberatan
dilakukan atas Surat Ketatapan Pajak
3. Kurangnya independensi dari proses Keberatan itu sendiri. Pemeriksaan atas pengajuan keberatan ini
dilakukan oleh Direktorat Jenderal Pajak atau pihak yang menerbitkan SKP atau pihak yang
menghukum Wajib Pajk itu sendiri. Dalam opini masyarakat, secara tidak langsung Wajib Pajak
melaporkan keberatan atas SKP ini kepada lembaga negara yang ingin Pajak atas SKP itu dapat
terbayarkan.

Sumber :
BMP PAJA3211 Modul 7
https://armuhammad.wordpress.com/2012/06/11/keberatan-sebaiknya-ditiadakan/
https://www.online-pajak.com/tentang-pajak/keberatan-pajak
https://www.ortax.org/ortax/?mod=studi&page=show&id=110