Anda di halaman 1dari 13

I.

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Profil tanah merupakan suatu irisan melintang pada tubuh tanah yang
menunjukkan susunan horizon tanah, dimulai dari permukaan tanah
sampai lapisan bahan induk dibawahnya. Lapisan-lapisan tersebut
terbentuk selain dipengaruhi oleh perbedaan bahan induk sebagai bahan
pembentuknya, juga terbentuk karena pengendapan yang berulang-ulang
oleh genangan air (Muslimin, 2012).
Pengamatan profil tanah dilaksanakan tak lain agar mempermudah dalam
mengidentifikasi perbedaan antar lapisan-lapisan tanah atau horizon-horizon
tanah. Identifikasi profil tanah sangatlah penting karena dapat memberikan
banyak sekali informasi mengenai sifat fisik tanah. Karena profil tanah
sangatlah erat kaitannya dengan sifat fisik tanah itu sendiri, maka selain
mempermudah dalam identifkasi lapisan-lapisan tanah, pengamatan profil tanah
juga dapat memberikan kemudahan dalam mengedintifikasi sifat fisik
tanah itu sendiri (Muslimin, 2012).
Berdasarkan uraian diatas, pengamatan profil tanah ini diharapkan dapat
memberikan informasi penting kepada mahasiswa mengenai lapisan-lapisan tanah
serta dapat mempermudah dalam mengidentifikasi lapisan-lapisan tanah, agar
nantinya dapat menunjang pada pengamatan-pengamatan selanjutnya yang
berhubungan dengan profil tanah.
1.2. Tujuan dan Kegunaan

Tujuan dari percobaan Profil Tanah adalah untuk mendemonstrasikan


bagaimana profil tanah dibuat dan diamati, untuk mendemonstrasikan kepada
mahasiswa kenampakan dari profil tanah secara utuh, untuk menjelaskan
bagaiman pencarian horizon-horizon tanah, untuk mendemonstrasikan dan
menjelaskan pembentukan tanah dari bahan induknya, dan untuk mengetahui
bagaimana mencatat hasil pengamatan suatu profil tanah.
Kegunaannya adalah sebagai penuntun dalam mengelolah tanah menjadi lebih
baik khususnya untuk bidang Pertanian.

1
II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Faktor Pembentuk Tanah

Faktor pembentukan tanah dibedakan atas dua golongan yaitu faktor


pembentuk tanah secara pasif dan faktor pembentuk tanah secara aktif. Faktor
pembentuk tanah secara pasif adalah bagian-bagian yang menjadi sumber massa
dan keadaan yang mempengaruhi massa yang meliputi bahan induk,topografi dan
waktuatau umur. Sedangkan faktor pembentuk tanah secara aktif adalah faktor
yang menghasilkan energi yang bekerja pada massa tanah yaitu iklim dan
makhluk hidup (Hanafiah,2010).
Secara umum dikenal terdapat lima faktor pembentuk tanah, yaitu iklim,
organisme, bahan induk, topografi dan waktu (Muslimin dkk, 2012).
II.1.1 Iklim

Iklim juga mempunyai peranan yang penting dalam pembentukan tanah,


secara tidak langsung iklim juga menjadi penyebab atau menentukan vegetasi
alami. Sehingga tidaklah mengherankan juga terdapat beberapa penyebaran iklim,
vegetasi dan tanah yang paralel di permukaan bumi. Meningkatnya pelapukan dan
kandungan liat terjadi dengan meningkatnya rata-rata temperatur tanah. Rupanya
hanya tanah-tanah yang sangat muda mempunyai pengaruh iklim yang konstan
selama genesa tanah (Muslimin dkk ,2012).
II.1.2 Organisme ( Vegestasi, Jasad Renik/Mikroorganisme)

Menurut Muslimin (2012), Organisme sangat berpengaruh terhadap proses


pembentukan tanah dalam hal:
 Membuat proses pelapukan baik pelapukan organik maupun pelapukan
kimiawi.
 Membantu proses pembentukan humus.
 Pengaruh jenis vegetasi terhadap sifat-sifat tanah sangat nyata terjadi di daerah
beriklim sedang seperti di Eropa dan Amerika.
 Kandungan unsur-unsur kimia yang terdapat pada tanaman berpengaruh
terhadap sifat-sifat tanah.

2
II.1.3 Bahan Induk

Sifat dari bahan induk sangat mempengaruhi pembentukan pada tanah muda,
Sifat bahan induk yang memakai satu pengaruh yang mendalam pada
perkembangan tanah termasuk tekstur, komposisi mineral dan tingkat stratifikasi.
Pembentukan tanah dapat dimulai segera setelah penimbunan abu vulkanik tetapi
harus menunggu penghancuran batuan keras secara fisik, dimana granit dibuka.
Selama stadia awal pembentukan tanah, penghancuran dapat membatasi laju dan
kedalaman perkembangan tanah, dimana laju dan penghancuran batuan melebihi
laju perpindahan bahan oleh erosi, tanah-tanah produktif dengan solum tebal dapat
berkembang dari batuan dasar (Muslimin, 2012).
II.1.4 Topografi/Relief

Ada tiga cara topografi mengubah tanah menurut (Muslimin, 2012), yaitu:
1. Mempengaruhi jumlah presipitasi yang diabsorbsi dan ditahan dalam tanah
sehingga sangat mempengaruhi kelembaban.
2. Mempengaruhi kecepatan perpindahan tanah yang diakibatkan oleh erosi.
3. Mengarahkan gerakan bahan-bahan dalam suspensi atau larutan dari daerah
yang satu ke daerah yang lain.
II.1.5 Waktu
Karakkter tanah berubah seiring berjalannya waktu. Tanah yang masih muda
masih mencerminkan struktur material asalnya. Tanah yang sudah dewasa akan
lebih tebal. Pada daerah volkanik aktif, rentang waktu antarerupsi dapat
ditentukan dengan meneliti ketebalan tanah yang terbentuk pada masing-masing
aliran ekstrusif. Tanah yang telah terkubur dalam-dalam oleh aliran lava, debu
vulkanik, endapan glasial, atau sedimen (Muslimin, 2012).
2.2. Profil Tanah

Profil tanah merupakan suatu irisan melintangr pada tubuh tanah dibuat
dengan cara menggali lubang dengan ukuran tertentu dan kedalaman tertentu pula
sesuai dengan keadaan tanah dan keperluan penelitian. Tekanan pori diukur
relative terhadap tekanan atmosfer dinamakan muka air tanah. Tanah yang
diasumsikan jenuh walaupun sebenarnya tidak demikian karena adanya rongga-
rongga udara (Pasaribu, 2010).

3
        Horizon tanah merupakan suatu lapisan tanah yang hampir sejajar dengan
permukaan bumi yang merupakan hasil evolusi dan terdapat perbedaan sifat-sifat
diantara horizon-horizon yang berbatasan (Hanafiah,2010)
Ada enam horizon dan lapisan utama dalam tanah yang masing-masing
diberi symbol dengan satu huruf capital yaitu (dari atas ke bawah) O, A, E, B, C
dan horizon yang berbentuk batuan atau horizon R (Hanafiah,2010).
Horizon O didominasi oleh bahan organic pecahan-pecahan mineral
volumenya kecil dan beratnya biasa kurang dari separuhnya (Hanafiah,2010).
Asam organic dan CO2 yang diproduksi oleh tumbuhan yang membusuk
meresap ke bawah horizon E atau zona pencucian (Elevasi). Pencucian mineral
lempung dan terlarut ini dapat membuat horizon tanah berwarna pucat seperti
pasir (Hakim, 2013).
Horizon B atau zona akumulasi kadang agak melempung dan berwarna
merah atau coklat karena akibat kandungan hematite dan lionitnya
(Hanafiah,2010).
Horizon C merupakan suatu lapisan yang sukar dipengaruhi oleh proses-
proses pembentukan tanah dan tidak memiliki sifat-sifat horizon lainnya
(Hakim, 2013).

2.3 Sifat-Sifat Tanah

2.3.1    Sifat Biologi Tanah


Sifat biologi tanah terbagi menjadi empat,yaitu : Keragaman jenis
organisme yang hidup dalam tanah,keberadaan jenis organisme tanah
yang bermanfaat,populasi organisme danaktivitas metabolisme organisme tanah.
Tanah dihuni oleh bermacam-macam mikroorganisme. Jumlah tiap grup
mikroorganisme sangat bervariasi, ada yang terdiri dari beberapa individu, akan
tetapi ada pula yang jumlahnya mencapai jutaan per gram tanah. Mikroorganisme
tanah itu sendirilah yang bertanggung jawab atas pelapukan bahan organik dan
pendauran unsur hara. Dengan demikian mereka mempunyai pengaruh terhadap
sifat fisik dan kimia tanah. Respirasi mikroorganisme tanah mencerminkan tingkat
aktivitas mikroorganisme tanah. Pengukuran respirasi (mikroorganisme) tanah

4
merupakan cara yang pertama kali digunakan untuk menentukan tingkat aktifitas
mikroorganisme tanah. Pengukuran respirasi telah mempunyai korelasi yang baik
dengan parameter lain yang berkaitan dengan aktivitas mikroorganisme tanah
seperti bahan organik tanah, transformasi N, hasil antara, pH dan rata-rata jumlah
mikroorganisrne (Pasaribu, 2010).

2.3.2.    Sifat Fisika Tanah

Sifat fisika tanah adalah sifat yang bertanggung jawab atas peredaran udara,
air, dan zat terlarut dalam tanah. Tekstur tanah adalah kehalusan atau kekasaran
bahan tanah pada perabaan berkenaan dengan perbandingan berat antar fraksi
tanah (Pasaribu, 2010).
Dalam hal fraksi lempung merajai dibandingkan dengan fraksi debu dan
pasir, tanah dikatakan bertekstur halus atau lempungan. Oleh karena tanah
bertekstur halus sering bersifat berat diolah karena sangat sulit dan lekat sewaktu
basah dan keras sewaktu kering, tanah yang dirajai fraksi lempung juga disebut
bertekstur berat (Hakim, 2013).

2.3.3.    Sifat Kimia Tanah

Sistem tanah tersusun oleh tiga fase yaitu padat, cairan, dan gas. Fase padat
merupakan campuran mineral dan bahan organik dan membentuk jaringan
kerangka tanah. Fase cairan yang juga disebut larutan tanah terdiri atas air dan
zat-zat terlarut. Zat terlerut ini kadang berupa garam bebas dan seringkali ion dari
garam-garam tersebut terikat pada lempung, bahan kolodial lainnya/zat organik
terlarut. Fase gas atau udara tanah merupakan campuran dari beberapa gas.
Kandungan dan komposisi udara tanah ditentukan oleh hubungan air tanah
tanaman (Pasaribu, 2010).

5
III. METODOLOGI

III.1 Letak Geografis dan Administrasi

Letak geografis lokasi pengamatan profil tanah berada antara 5o7’44.5368” S dan
119o29’1.0644” E.
Letak astronomis dengan batas administratifnya yaitu sebelah utara
berbatasan dengan empang, Sebelah Selatan berbatasan dengan tegalan, Sebelah
Timur berbatasan dengan jalanan, dan Sebelah Barat berbatasan dengan
pemukiman warga.

III.2 Tempat dan Waktu

Praktikum pengamatan profil tanah dilakukan di EX FARM (kebun percobaan)


pada hari Minggu, 09 Oktober 2015 mulai pukul 16.00 WITA sampai selesai.
III.3 Alat dan Bahan

Alat-alat yang digunakan pada praktikum pengamatan profil tanah adalah


cangkul, linggis, skop, pisau lapangan, lup, buku munsell, computer, monolite
(bila tersedia).
Bahan-bahan yang digunakan dalam praktikum adalah profil tanah, dan
gambar-gambar profil tanah dari foto-foto dan literature.
3.3. Prosedur Kerja

3.3.1 Pengambilan profil tanah adalah sebagai berikut:

Pertama lubang penampang harus cukup besar, supaya orang dapat dengan
mudah duduk atau berdiri didalamnya dan pemeriksaan dapat dijalankan dengan
sempurna, ukuran penampang 1,5 x 1 m sampai bahan induk dan pemeriksaan
dipilih disisi lubang penampang yang mendapat sinar matahari, di tempat miring
penampang dipilih pada dinding teratas. Tanah bekas galian jangan ditumpuk di
atas sisi penampang pemeriksaan, penampang pewakil adalah tanah yang belum
mendapat gangguan misalnya timbunan serta jauh dari pemukiman. Jika berair,
maka air yang berada dalam penampang harus dikeluarkan sebelum pengamatan.

6
3.3.2. Pengambilan Sample Tanah

Pengambilan contoh tanah sangat mempengaruhi tingkat kebenaran hasil


analisis di laboratorium. Metode cara pengambilan contoh tanah yang tepat sesuai
dengan jenis analisis yang akan dilakukan merupakan persyaratan penting yang
harus dilakukan.
A. Sampel Tanah Utuh

Pengambilan sample tanah utuh dilakukan dengan meratakan dan


membersihkan lapisan yang akan diambil, kemudian meletakkan ring sample
tegak lurus (bagian runcing menghadap ke bawah) pada lapisan tanah tersebut.
Menekan ring sample hingga ¾ bagiannya masuk kedalam tanah. Kemudian
meletakkan ring sample lain tepat di atas ring sample pertama, kemudian menekan
lagi sampai bagian bawah ring sample kedua masuk kedalam tanah. Selanjutnya
memisahkan ring sample dari ring sample pertama dengan hati-hati, kemudian
memotong kelebihan tanah yang ada di permukaan dan bawah ring sample sampai
permukaan tanah rata dengan permukaan ring sample, menutup ring sample
dengan plastik, lalu menyimpannya dalam kotak khusus yang sudah disediakan
B. Tanah Terganggu

Mengambil tanah dengan cutter sesuai dengan lapisan yang akan diambil,
mulailah dengan lapisan paling bawah. Memasukkan tanah ke dalam kamtong
plastik yang telah diberi label.

7
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil dan Pembahasan

Berdasarkan hasil pengamatan yang diperoleh di lapangan dapat dilihat


pada table berikut :

Tabel 1 : Hasil Pengamatan Profil Tanah di Ex Farm


LAPISAN
KATEGORI
1 2 3
Kedalaman lapisan (cm) 0 – 18 cm 18 - 35cm 35-80 cm
Batas lapisan Baur Baur Baur
Topografi batas lapisan
Berombak Berombak Berombak
Warna (Munsel) Dark reddish Bright Reddish
Reddish Brown
brown Brow
Tekstur
Liat berpasir Liat berdebu Liat berdebu
Struktur Granular Granular Granular
Konsistensi Lepas Gembur Teguh

4.2 Pembahasan

Pada percobaan didapatkan kedalaman lapisan pertama yaitu 0 – 18 cm,


lapisan kedua yaitu 18 - 35cm, dan lapisan ketiga yaitu 35-80 cm. Lapisan
pertama atau sering di sebut top soil memiliki warna yang lumayan gelap. Sesuai
dengan pernyataan Hardjowigeno,S (2003) yang menyatakan bahwa akumulasi
bahan organik inilah maka lapisan tanah tersebut berwarna gelap dan merupakan
lapisan tanah yang subur.
Berdasarkan uji feeling di lapangan, tekstur lapisan tanah I adalah
Lempung berdebu, tanah II Liat berdebu dikarenakan terasa licin dan tanah III
Liat berdebu dikarenakan terasa licin.Hal ini sesuai dengan pendapat Hanafiah
(2010).Yang menyatakan bahwa di lapangan tekstur tanah dapat ditentukan
dengan memijit tanah basah diantara jari-jari, sambil dirasakan halus dan kasarnya
yaitu dirasakan adanya butir-butir pasir, debu dan liat.

8
Topografi batas lapisan antara horison I, II, III mempunyai kesamaan yaitu
datar, sebagaimana pendapat Hanafiah (2008), bahwa perbedaan topografi
tersebut dikarenakan suatu wilayah memiliki perbedaan kecuraman dan bentuk
lereng.
Untuk struktur tanah pada lapisan 1 berstruktur sedang. Dan lapisan ke 2
berstruktur sedang. Sedangkan pada lapisan ke 3 berstruktur granular
menggumpal pada bulatan-bulatan berukuran kecil, dimana menurut pendapat
Muslimin (2012), granular: agregat yang membulat, biasanya diameternya tidak
lebih dari 2 cm. Umumnya terdapat pada lapisan 2 atau 3 yang dalam keadaan
lepas disebut "Crumbs" atau Spherical.
Adapun konsistensi pada lapisan pertama yaitu kering (teguh), pada
lapisan ke dua didapat dalam lost (L) dan pada lapisan ke tiga di dapat lost (L) .
Hal itu di pengaruhi oleh adanya bahan organik yang menyebabkan infiltrasi air
menjadi lebih baik sesuai dengan pendapat Hardjowigeno S. (2003) apa kata-
katanya harjowigeno. Hasil pelapukan bahan organik membantu agregasi tanah
sehingga diperoleh struktur yang mempunyai baik pori makro maupun mikro, dan
konsekuensinya memperbaiki infiltrasi air dan aerasi tanah.

9
V. KESIMPULAN DAN SARAN

V.1Kesimpulan

Berdasarkan hasil pengamatan praktikum maka dapat disimpulkan bahwa :


a.    Lapisan I mempunyai kedalaman 0 - 18 cm dan memiliki batasan lapisan baur
Warnanya merah kehitaman dan memiliki tekstur lempung berdebu dan
strukturnya sedang.
b.   Lapisan II mempunyai kedalaman 18 - 35 cm dan memiliki batasan lapisan
baur. Warnanya merah kecoklatan dan memiliki teksturliat berdebu dan
strukturnya sedang.
c. Lapisan III mempunyai kedalaman 35 - 80 cm dan memiliki batasan lapisan
baur.Warnanya merah kecoklatan dan memiliki tekstur liat berdebu dan
strukturnya granular. Sedangkan konsistensi untuk tanah tersebut lost dan
mengandung Al (orange).
d. Faktor- faktor pembentukan tanah yaitu topografi wilayah, bahan induk,
organisme hidup, waktu serta iklim.

V.2Saran

Saran untuk praktikum ini adalah sebaiknya apa yang dipelajari pada
praktikum ini dapat dipergunakan sebagaimana mestinya.

10
DAFTAR PUSTAKA

Hakim, 2013. Dasar-dasar Ilmu Tanah. Badan Kerjasama Perguruan Tinggi


Negeri Indonesia Bagian timur : Makassar.
Hanafiah, Kemas Ali, 2010. Dasar-Dasar Ilmu Tanah . Rajawali Pers: Jakarta.
Muslimin, 2012 . Ilmu Tanah. Akademik Persindo : Jakarta.
Pasaribu, 2010. Dasar-Dasar Ilmu Tanah.Gajah Mada University Press:
Yogyakarta.

11
LAMPIRAN

Gambar 1. Profil Tanah


(Sumber: Data Primer, 2016)

12
13