Anda di halaman 1dari 35

MANAJEMEN KEPERAWATAN

KONSEP KEPEMIMPINAN DAN KONSEP MANAJEMEN

DISUSUN OLEH

AINUL FITRI 1711312008

DINA MAHIRA 1711312018

SRI HARTINAH 1711312016

FAKUTAL KEPERAWATAN

UNIVERSITAS ANDALAS

2021

Kata Pengantar
Segala puji syukur kepada Allah SWT, atas selesainya Makalah Konsep
Kepemimpinan dan Konsep manajemen ini terdiri atas dua bab, cakupan materi yang
dibahas meliputi konsep dan teori kepemimpinan dan Manajemen.

Harapan penulis, agar makalah ini dapat menjadi bahan pendamping bagi
mahasiswa Penulis juga menyadari bahwa makalah ini jauh dari sempurna, karena itu
penulis sangat berterima kasih bila ada kritik dan saran untuk perbaikan pada
berikutnya.

Padang, 02 Januari 2021

penulis

2
BAB 1
PENDAHULUAN

Karakter leaders harus dimiliki oleh setiap calon tenaga profesional.


Mahasiswa kesehatan merupakan generasi penerus profesi. Kompetensi yang harus
dimiliki bukan hanya kompentensi keilmuan di jurusan dan peminatan yang
ditempuhnya, akan tetapi integritas personaliti. Intergritas personaliti akan terbangun
apabila memiliki dan mengembangkan karater. Karakter leasders dan manager yang
mahasiswa miliki akan sangat berpengaruh terhadap kualitas profesionalisme.
Perguruan tinggi merupakan wadah mematangkan karakter ledaers dan manager
mahasiswa. Fokus orientasi pelayanan profesi kesehatan adalah masyarakat. Profesi
kesehatan melayani masyarakat. Melayani pasien, keluarga, kelompok dan masyakat
tidak hanya dibutuhkan pengetahuan yang memadai. Dibutuhkan sikap dan
kemampuan skill yang kompeten. Pengembangan kemampuan emosi, sosial, spiritual
dan kemampuan menghadapi kesulitan menjadi penting dalam dunia kerja.
Masyarakat sebagai customer akan berkembang kebutuhan dan tuntutannya terhadap
pelayanan kesehatan sesuai perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Profesi kesehatan tidak kompeten akan mendapat complain masyarakat yang


kita layani. Masyarakat akan menyatakan ketidakpuasan terhadap profesi kesehatan
(unsatisfaction). Karakter leaders dan manager sangat penting dikembangkan dalam
melengkapi komponen kemampuan yang lainnya.

Kompetensi memimpin bukan monopoli para pejabat disuatu institusi atau


birokrasi. Sebagai profesi kesehatan (Perawat, Bidan, Ahli Gizi, Kesehatan
masyarakat, dan manajemen pelayanan rumah sakit) juga wajib memiliki karakter
leaders dan manajer yang memadai. Kemampuan mengelola dan memimpin diri
pribadi sebagai profesi dalam melayani masyarakat adalah real leader dan manager.
Perguruan tingggi kesehatan wajib menumbuh kembangkan atmosfire akademik.
Atmosfir akademik dilakukan lewat berbagai aktivitas ilmiah, seperti seminar

3
nasional atau internasional, work shop, bedah buku, penelitian bersama mahasiswa,
pertukaran mahasiswa dan dosen, kerjasama kelembagaan dalam dan luar negeri,
kuliah pakar dan juga orasi ilmiah. Saya kira memiliki karakter leaders dan manajer
sebagai salah satu komponen pendukung untuk kebersamaan yang indah, yang
memperkuat pribadi dan institusi untuk tumbuh dan berkembang.

A. Konsep Kepemimpinan
1. Pengertian Kepemimpinan
Menurut Baily, Lancoster & Lancoster, 1989, dalam (Nursalam, 2011)
Kepemimpinan adalah serangkaian kegiatan untuk mempengaruhi anggota
kelompok bergerak menuju pencapaian tujuan yang ditentukan (Baily, Lancoster
& Lancoster, 1989). Kepemimpinan adalah sebuah hubungan dimana satu pihak
memiliki kemampuan yang lebih besar untuk mempengaruhi perilaku pihak lain
yang didasarkan pada perbedaan kekuasaan antara pihak-pihak tersebut (Gillies,
1996).

Dari beberapa pengertian kepemimpinan tersebut dapat disimpulkan


bahwa ada kata kunci yang bisa kita ambil dari pengertian di atas yaitu
kemampuan seseorang untuk mempengaruhi orang lain sebagai pengikutnya.
Rumusan komponen yang ada di dalam kepemimpinan ada empat aspek, yaitu: 1)
Leader, 2) Pengikut, 3) Tujuan, 4) Situasi dan Komunikasi.

2. Syarat Pemimpin
Menurut (Dedi, 2019) Pemimpin yang handal harus mempunyai syarat-syarat
(karakteristik) tertentu yang menunjukkan kecakapannya. Ada 3 syarat pemimpin
yaitu: kekuasaan, kewibawaan dan kemampuan.

a. Kekuasaan, merupakan legalitas yang memberikan wewenang kepada pemimpin


untuk memimpin suatu kelompok.
b. Kewibawaan, merupakan kelebihan, keunggulan yang dimiliki seseorang yang
membuat orang lain bersedia melakukan perbuatan tertentu.

4
c. Kemampuan, merupakan segala kesanggupan, kecakapan yang dianggap melebihi
kemampuan anggota kelompok lainnya.
3. Peran Pemimpin
Menurut (Mugianti, 2016) Pemimpin memiliki peran sebagai beriku :

a. Interpersonal Role
Peranan yang berkaitan dengan hubungan antar pribadi.

b. Informational Role
Peranan yang berhubungan dengan informasi, baik informasi yang diterima
maupun harus disampaikan.

c. Decisional Role
Peranan terkait dengan pembuatan keputusan.

4. Azas-Azas Kepemimpinan
a. Azas Kemanusian
Memperhatikan bawahan dan memandang bawahan sebagai manusia

b. Azas Efisiensi
Dengan sumber daya yang terbatas, pemimpin dapat mengefisienkan untuk
kepentingan kelompoknya

c. Azas kesejahteraan yang lebih merata


Pemimpin berusaha mengurangi kesenjangan dan konflik yang dapat
mengganggu jalannya organisasi

5. Fungsi Kepemimpinan
Menurut (Mugianti, 2016) ada tiga fungsi kepemimpinan
a. Memandu, menuntun, membimbing, memotivasi
b. Menjalin komunikasi yang baik
c. Mengorganisasi, mengawasi dan membawa organisasinya pada tujuan yang telah
ditetapkan

5
Menurut Gillies, 2000; Ruth.M.Tappen, 2005; Azwar, 2006; Nursalam, 2010
Fungsi kepemimpinan adalah sebagai berikut :

a. Mempengaruhi orang lain


Kemampuan pemimpin menyampaikan ide-ide, pandangan, gagasan dan ajakan,
sehingga konstituen tertarik untuk menerima ide-usulan dan gagasan tersebut.
Bukan hanya itu saja, konstituen juga menyetujui dan melakukan aktivitas yang
disampaikan pemimpin. Mempengaruhi orang lain bisa berupa hal-hal yang
positif ataupun negatif. Makanya seorang pemimpin perlu hati-hati
menyampaikan ide, usulan, pemikiran ataupun gagasan, supaya membawa
dampak yang positif bagi orang-orang yang dipimpinnya.

b. Motivator Selalu positif thingking kepada orang lain.


Memberi kritik dan saran dengan berkomentar yang positif terlebih dahulu baru
sarannya disampaikan dengan bahasa yang santun. Selalu memberikan
reinforcement pada keberhasilan stafnya. Bersemangat dan selalu antusias
(Euntusiame) dalam melakukan pekerjaan, tugas dan tanggungjawabnya.

c. Model/tauladan
Menjadi orang yang bisa dicontoh dalam integritas personalitinya. Integritas
personaliti tersebut adalah: disiplin, komunikasi baik, ramah, perhatian, peduli,
selalu member jalan pemecahan masalah, berkomitmen tinggi, konsekuen, jujur,
terbuka terhadap saran dan kritik, tanggungjawab, tanggunggugat, berwibawa,
berpengatuan luas, bijak sana. Menjadi contoh juga dalam hal pengembangan
karier dan tingkat pendidikan yang dicapai. Menjadi contoh dalam kehidupan
pribadi, keluarga dan spiritualitasnya. Cara berpakaian dan kepatutannya dalam
pekerjaan sehari-hari. Menginspirasi banyak orang dalam aktivitas pekerjaan dan
kariernya.

d. Membuat keputusan/Decition Maker


Membuat keputusan adalah fungsi pemimpin. Membuat keputusan diperlukan
kompetensi kepemimpinan, keberanian dan tanggung gugat dalam menghadapi

6
risiko organisasi sebagai inpact dari keputusan. Keputusan (decision making)
diperlukan pengetahuan yang luas tentang substansi yang diputuskan.
Mempertimbangkan berbagai dimensi dari keputusan, baik substansi, sosial,
psikologis, politik, referensi kekinian, trends issue dan kebijakan. Keputusan
harus lebih banyak berorientasi secara exsternal. Berinpact pada customer, user
dan stake holder.

6. Karakteristik Seorang Pemimpin


Karakter yang diperlukan seorang pemimpin adalah sebagai berikut : (Sanders et
al., 2017)

a. Pemimpin yang punya kepribadian yang berkarakter. Personality yang dimaksud


adalah mempunyai sifat-sifat : jujur, bertanggungjawab, disiplin.
b. Memiliki pengetahuan yang luas.
c. Kemampuan komunikasi yang efektif.
d. Bakat.
e. Keseimbangan emosi.
f. Sosial.
g. Spiritual.
7. Prinsip Kepemimpinan Yang Efektif
Menurut (Sanders et al., 2017)Menjadi pemimpin yang efektif selain diperlukan
kompetensi kepemimpinan, pengalaman dan karakter personality yang kuat serta
memiliki integritas personality, tetapi diperlukan juga prinsip kepemimpinan yang
efektif. Prinsip-prinsip kepemimpinan dapat di implementasikan pada berbagai
multi disiplin atau profesi. Prinsip kepemimpinan efektif tersebut adalah:

a. Intelegency : 1). Judgment, 2). Decisiveness (ketegasan), 3). Knowledge, 4).


Fluency of speechs (komunikatif).
b. Personality; 1). Adaptabilility, 2). Alertness (waspada), 3). Creativity, 4).
Cooperativeness, 5). Personal integrity, 6). Self confidance, 7). Emotional balance
and control, 8). Independence.

7
c. Abilities : 1). Ability to enlist cooperation, 2). Popularity and prestige, 3).
Sociability (interpersonal skill), 4). Social participation, 5). Tact diplomasi, 6).
Integrity, 7). Courage (keberanian), 8). Initiative, 9). Energy, 10). Optimism, 11).
Perseverance (ketekunan), 12). Balance, 13). Ability to handle stress, 14). Self-
awareness
B. Teori Kepemimpinan
1. Teori Bakat (Trait Theory)
Teori bakat menekankan bahwa setiap orang adalah pemimpin (pemimpin
dibawa sejak lahir bukan didapatkan) dan mereka mempunyai karakteristik
tertentu yang membuat mereka lebih baik dari orang lain (Marquis dan Huston,
1998). Teori ini disebut juga sebagai Great Man Theory. Teori ini
mengidentifikasi karakteristik umum tentang intelegensi, personalitas, dan
kemampuan (perilaku).
Ciri-ciri Pemimpin menurut Teori Bakat

Intelegensi Kepribadian Perilaku


 Pengetahuan  Adaptasi  Kemampuan bekerja
 Keputusan  Kreatif sama
 Kelancaran  Kooperatif  Kemampuan
berbicara  Siap/siaga interpersonal

 Rasa percaya diri  Kemampuan diplomasi

 Integritas  Partisipasi sosial

 Keseimbangan  Prestise

emosi dan
mengontrol
 Independen
 Tenang
2. Teori Perilaku
Teori perilaku lebih menekankan pada apa yang dilakukan pemimpin dan
bagaimana seorang manajer menjalankan fungsinya. Perilaku sering dilihat

8
sebagai suatu rentang dari perilaku otoriter ke demokratis atau dari fokus suatu
produksi ke fokus pegawai. Menurut Vestal (1994), teori perilaku ini dinamakan
sebagau gaya kepemimpinan seorang manajer dalam suatu organisasi. Menurut
para ahli, terdapat beberapa gaya kepemimpinan yang dapat diterapkan dalam
suatu organisasi antara lain sebagau berikut :

a. Gaya kepemimpinan menurut Tannenbau dan Warrant H. Schmitdt.


Menurut kedua ahli tersebut, gaya kepemimpinan dapat dijelaskan melalui dua
titik ekstrem yaitu kepemimpinan berfokus pada atasan dan kepemimpinan
berfokus pada bawahan.

b. Gaya kepemimpinan menurut Likert.


Likert dalam (Nursalam, 2014)mengelompokkan gaya kepemimpinan dalam
empat sistem.

1) Sistem Otoriter—Eksploitatif
Pemimpin tipe ini sangat otoriter, mempunyai kepercayaan yang rendah terhadap
bawahannya, memotivasi bawahan melalui ancaman atau hukuman. Komunikasi
yang dilakukan bersifat satu arah ke bawah (top-down).

2) Sistem Benevolent—Otoritatif (Authoritative)


Pemimpin mempercayai bawahan sampai pada tingkat tertentu, memotivasi
bawahan dengan ancaman atau hukuman tetapi tidak selalu, dan membolehkan
komunikasi ke atas. Pemimpin memperhatikan ide bawahan dan mendelegasikan
wewenang, meskipun dalam pengambilan keputusan masih melakukan
pengawasan yang ketat.

3) Sistem Konsultatif
Pemimpin mempunyai kepercayaan yang cukup besar terhadap bawahan.
Pemimpin menggunakan balasan (insentif) untuk memotivasi bawahan dan
kadang-kadang menggunakan ancaman atau hukuman. Komunikasi dua arah dan
menerima keputusan spesifik yang dibuat oleh bawahan.

9
4) Sistem Partisipatif
Pemimpin mempunyai kepercayaan sepenuhnya terhadap bawahan, selalu
memanfaatkan ide bawahan, serta menggunakan insentif ekonomi untuk
memotivasi bawahan. Komunikasi bersifat dua arah dan menjadikan bawahan
sebagai kelompok kerja.

c. Gaya kepemimpinan menurut Teori X dan Teori Y


Teori ini dikemukakan oleh Douglas McGregor dalam bukunya The Human
Side Enterprise (1960). Dia menyebutkan bahwa perilaku seseorang dalam suatu
organisasi dapat dikelompokkan menjadi dua kutub utama, yaitu sebagai Teori X
dan Teori Y. Teori X mengasumsikan bahwa bawahan itu tidak menyukai
pekerjaan, kurang ambisi, tidak mempunyai tanggung jawab, cenderung menolak
perubahan, dan lebih suka dipimpin dari pada memimpin. Sebaliknya Teori Y
mengasumsikan bahwa bawahan itu senang bekerja, bisa menerima tanggung
jawab, mampu mandiri, mampu mengawasi diri, mampu berimajinasi, dan kreatif.
Berdasararkan teori ini, gaya kepemimpinan dibedakan menjadi empat macam.

1) Gaya kepemimpinan diktator.


Gaya kepemimpinan yang dilakukan dengan menimbulkan ketakutan serta
menggunakan ancaman dan hukuman merupakan bentuk dari pelaksanaan Teori
X.(Dedi, 2019)

2) Gaya kepemimpinan otokratis.


Pada dasarnya gaya kepemimpinan ini hamper sama dengan gaya kepemimpinan
diktator namun bobotnya agak kurang. Segala keputusan berada di tangan
pemimpin, pendapat dari bawahan tidak pernah dibenarkan. Gaya ini juga
merupakan pelaksanaan dari Teori X.(Dedi, 2019)

3) Gaya kepemimpinan demokratis.


Ditemukan adanya peran serta dari bawahan dalam pengambilan sebuah
keputusan yang dilakukan dengan cara musyawarah. Gaya kepemimpinan ini
pada dasarnya sesuai dengan Teori Y.(Dedi, 2019)

10
4) Gaya kepemimpinan santai.
Peranan dari pemimpin hampir tidak terlihat karena segala keputusan diserahkan
pada bawahan. Gaya kepemimpinan ini sesuai dengan Teori Y (Azwar, 1996).

d. Gaya kepemimpinan menurut Robert House.


Berdasarkan teori motivasi pengharapan, Robert House dalam (Nursalam, 2014)
mengemukakan empat gaya kepemimpinan.

1) Direktif.
Pemimpin menyatakan kepada bawahan tentang bagaimana melaksanakan suatu
tugas. Gaya ini mengandung arti bahwa pemimpin selalu berorientasi pada hasil
yang dicapai oleh bawahannya.

2) Suportif.
Pemimpin berusaha mendekatkan diri kepada bawahan dan bersikap ramah
terhadap bawahan.

3) Partisipatif.
Pemimpin berkonsultasi dengan bawahan untuk mendapatkan masukan dan saran
dalam rangka pengambilan sebuah keputusan.

4) Berorientasi tujuan.
Pemimpin menetapkan tujuan yang menantang dan mengharapkan bawahan
berusaha untuk mencapai tujuan tersebut dengan seoptimal mungkin

e. Gaya kepemimpinan menurut Hersey dan Blanchard.


Berikut adalah beberapa gaya kepemimpinan menurut Hersey dan Blanchard
(1997) dan ciri-ciri pada tiap gaya kepemimpinan tersebut.

1) Instruksi
 Tinggi tugas dan rendah hubungan
 Komunikasi sejarah
 Pengambilan keputusan berada pada pimpinan dan peran bawahan sangat

11
minimal
 Pemimpin banyak memberikan pengarahan atau instruksi yang spesifik serta
mengawasi dengan ketat.
2) Konsultasi
 Tinggi tugas dan tinggi hubungan
 Komunikasi dua arah
 Peran pemimpin dalam pemecahan masalah dan pengambilan keputusan cukup
besar, bawahan diberi kesempatan untuk memberi masukan, dan menampung
keluhan.
3) Partisipasi
 Tinggi hubungan tapi rendah tugas
 Pemimpin dan bawahan bersama-sama memberi gagasan dalam pengambilan
keputusan.
4) Delegasi
 Rendah hubungan dan rendah tugas
 Komunikasi dua arah, terjadi diskusi dan pendelegasian antara pemimpin dan
bawahan dalam pengambilan keputusan pemecahan masalah.
f. Gaya kepemimpinan menurut Lippits dan K. White.
Menurut Lippits dan White, terdapat tiga gaya kepemimpinan yaitu: otoriter,
demokrasi, dan liberal yang mulai dikembangkan di Universitas Iowa.

1) Otoriter.
Gaya kepemimpinan ini memiliki ciri-ciri antara lain:

 Wewenang mutlak berada pada pimpinan


 Keputusan selalu dibuat oleh pimpinan
 Kebijaksanaan selalu dibuat oleh pimpinan
 Komunikasi berlangsung satu arah dari pimpinan kepada bawahan
 Pengawasan terhadap sikap, tingkah laku, perbuatan atau kegiatan para
bawahan dilakukan secara ketat

12
 Prakarsa harus selalu berasal dari pimpinan
 Tidak ada kesempatan bagi bawahan untuk memberikan saran, pertimbangan atau
pendapat
 Tugas-tugas bawahan diberikan secara instruktif
 Lebih banyak kritik daripada pujian
 Pimpinan menuntut prestasi sempurna dari bawahan tanpa syarat
 Pimpinan menuntut kesetiaan tanpa syarat
 Cenderung adanyapaksaan, ancaman, dan hukuman
 Kasar dalam bersikap
 Tanggung jawab keberhasilan organisasi hanya dipikul oleh pimpinan.
2) Demokratis.
Kepemimpinan gaya demokratis adalah kemampuan dalam memengaruhi orang
lain agar bersedia bekerja sama untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
Berbagai kegiatan yang akan dilakukan ditentukan bersama antara pimpinan dan
bawahan. Gaya kepemimpinan ini memiliki ciri-ciri antara lain :

 Wewenang pimpinan tidak mutlak


 Pimpinan bersedia melimpahkan sebagian wewenang kepada bawahan
 Keputusan dibuat bersama antara pimpinan dan bawahan
 Komunikasi berlangsung timbal balik
 Pengawasan dilakukan secara wajar
 Prakarsa dapat datang dari bawahan
 Banyak kesempatan dari bawahan untuk menyampaikan saran dan pertimbangan
 Tugas-tugas yang kepada bawahan lebih bersifat permintaan daripada instruktif
 Pujian dan kritik seimbang
 Pimpinan mendorong prestasi sempurna para bawahan dalam batas masing-
masing
 Pimpinan meminta kesetiaan bawahan secara wajar
 Pimpinan memperhatikan perasaan dalam bersikap dan bertindak

13
 Terdapat suasana saling percaya, saling menghormati, dan saling menghargai
 Tanggung jawab keberhasilan organisasi ditanggung bersama-sama.
3) Liberal atau Laissez Faire.
Kepemimpinan gaya liberal atau Laissez Faire adalah kemampuan memengaruhi
orang lain agar bersedia bekerja sama untuk mencapai tujuan dengan cara lebih
banyak menyerahkan pelaksanaan berbagai kegiatan kepada bawahan. Ciri gaya
kepemimpinan ini antara lain

 Pemimpin melimpahkan wewenang sepenuhnya kepada bawahan


 Keputusan lebih banyak dibuat oleh bawahan
 Kebijaksanaan lebih banyak dibuat oleh bawahan
 Pimpinan hanya berkomunikasi apabila diperlukan oleh bawahan
 Hampir tidak ada pengawasan terhadap tingkah laku bawahan
 Prakarsa selalu berasal dari bawahan
 Hampir tidak ada pengarahan dari pimpinan
 Peranan pimpinan sangat sedikit dalam kegiatan kelompok
 Kepentingan pribadi lebih penting dari kepentingan kelompok
 Tanggung jawab keberhasilan organisasi dipikul oleh perorangan.
g. Gaya kepemimpinan berdasarkan kekuasaan dan wewenang.
Menurut Gillies (1996), gaya kepemimpinan berdasarkan wewenang dan
kekuasaan dibedakan menjadi empat.

1) Otoriter.
Merupakan kepemimpinan yang berorientasi pada tugas atau pekerjaan.
Menggunakan kekuasaan posisi dan kekuatan dalam memimpin. Pemimpin
menentukan semua tujuan yang akan dicapai dalam pengambilan keputusan.
Informasi diberikan hanya pada kepentingan tugas. Motivasi dilakukan dengan
imbalan dan hukuman.

2) Demokratis.

14
Merupakan kepemimpinan yang menghargai sifat dan kemampuan setiap staf.
Menggunakan kekuasaan posisi dan pribadinya untuk mendorong ide dari staf,
memotivasi kelompok untuk menentukan tujuan sendiri. Membuat rencana dan
pengontrolan dalam penerapannya. Informasi diberikan seluasluasnya dan
terbuka.

3) Partisipatif.
Merupakan gabungan antara otoriter dan demokratis, yaitu pemimpin yang
menyampaikan hasil analisis masalah dan kemudian mengusulkan tindakan
tersebut pada bawahannya. Pemimpin meminta saran dan kritik staf serta
mempertimbangkan respons staf terhadap usulannya. Keputusan akhir yang
diambil bergantung pada kelompok.

4) Bebas tindak.
Merupakan pimpinan ofisial, karyawan menentukan sendiri kegiatan tanpa
pengarahan, supervisi dan koordinasi. Staf/bawahan mengevaluasi pekerjaan
sesuai dengan caranya sendiri. Pimpinan hanya sebagai sumber informasi dan
pengendalian secara minimal.

B. KONSEP MANAJEMEN

Taylor dalam bukunya The Principles of Scientific Management (1911)


menganjurkan bahwa pekerjaan harus dipelajari secara ilmiah untuk menentukan
jalan terbaik dalam melaksanakan setiap tugas. Prinsip yang dianut adalah
menghasilkan produksi semaksimal mungkin dengan pengeluaran energi yang
minimal. Menurut (Wijaya & Rifa’i, 2016) Manajemen ilmiah ini membutuhkan
revolusi mental dan tanggung jawab moral yang tinggi dalam upaya mencapai
tujuan organisasi. Dengan kata lain, semua kegiatan harus direncanakan sebaik

15
mungkin baik dari segi keuntungan maupun kerugiannya berdasarkan parameter-
parameter ilmiah yang telah ditetapkan.

Manajemen adalah proses merencanakan, mengorganisasi, mengarahkan,


dan mengendalikan kegiatan untuk mencapai tujuan organisasi secara efektif dan
efisien dengan menggunakan sumberdaya organisasi.(Nursalam, 2011)

Gambar 1.1 berikut ini menunjukkan definisi dan pengertian


manajemenyang dikaitkan dengan organisasi dan manajer

Gambar 1.1 menunjukkan bahwa kegiatan manajemen atau proses


manajemen sering juga disebut sebagai fungsi manajemen yang meliputi kegiatan
merencanakan, mengorganisasikan, mengarahkan, dan mengendalikan kegiatan
yang menggunakan sumberdaya tertentu untuk mencapai tujuan organisasi
tertentu dengan efisien dan efekti yang dilakukan oleh manager.. Dengan
demikian, manajer bisa didefinisikan sebagai orang yang melakukan kegiatan
manajemen atau kegiatan proses manajemen (Hanafi, 2015)

a. Teori manajemen
a) Robert Owen (1771-1858)
Ia adalah seorang manajer beberapa pabrik pemintal kapas di New Lanark
Scotlandia semenjak tahun 1800-an. Dalam teorinya la menekankan tentang
peranan sumber daya manusia sebagai kunci keberhasilan perusahaan. Khususnya

16
peranan jabatan manajer (kader) yang harus berfungsi sebagai reformis (pembaru)
dalam manajemen sumber daya manusia ini (Nursalam, 2014).
Robert Owen merintis manajemen ilmiah, karena beliau digerak kan oleh
kenyataan kondisi dan persyaratan kerja yang tidak memadai; di mana kondisi
kerja sebelumnya dan kehidupan pada pekerja pada saat itu sangat buruk. dan
kehidupan pada pekerja pada saat itu sangat buruk. Memperkerjakan anak-anak di
bawah usia 5 tahun pada saat itu sudah umum berlaku. Standar waktu hari kerja
sehari selama 13 jam sudah biasa terjadi. Oleh karena itu, Robert Owen
memunculkan gagasan yang mengintrodusir tentang perbaikan kondisi dan
persyaratan kerja seperti pengurangan standar hari kerja menjadi 10,5 jam.
b) Charles Babbage (1792-1971)
Babbage seorang professor matematika, ia percaya penerapan prinsip-prinsip
ilmiah dalam proses kerja akan dapat meningkatkan produktivitas kerja dan dapat
menekan biaya. Babbage menganjurkan mengadakan pembagian tenaga kerja
sesuai dengan pembagian pekerjaan. Setiap pekerja dididik dalam suatu
keterampilan khusus sehingga hanya dituntut tanggung jawab sesuai dengan
spesialisasinya dari bagian perusahaan. Dengan demikian waktu dan biaya dalam
pelatihan dapat ditekan dan proses pengulangan pekerjaan secara terus- menerus
meningkatkan keterampilan pekerja.(Nursalam, 2014)
c) Frederick W. Taylor
Mula-mula yang menjadi titik tolak penerapan manajemen secara ilmiah
berasal dari hasil penelitian F.W Taylor tentang studi waktu kerja (time and
motion studies) pada bagian produksi di mana dia bekerja, di perusahaan
Midvales Stell. Dengan penelitian waktu sebagai dasarnya ia dapat memecahkan
setiap pekerjaan ke dalam komponen-komponennya dan merancang cara
pengerjaannya yang tercepat dan terbaik untuk setiap pekerjaan. Ini juga berarti
bahwa ketentuannya adalah menentukan seberapa pekerja dapat menyelesaikan
dengan bahan dan peralatan yang tersedia di perusahaan (Sulastri, 2012). Taylor
menekankan bahwa antara waktu penyelesaian pekerjaan dapat dikorelasikan
dengan upah yang diterimakan; vaitu semakin cepat atau tinggi prestasi kerja

17
dalam menyelesaikan pekerjaannya, akan semakin tinggi upah yang diterimanya.
Metode pendekatan ini disebut sebagai “sistem upah defferensiasi” (defferensial
rate system).
d) Henry L. Gantt (1861-1919)
Dalam (Sulastri, 2012) menyatakan bahwa Henry L Gantt yang dalam
pengalamannya pernah bekerja bersama-sama dengan Taylor mengemukakan
teorinya, juga bertitik tolak pada usaha meningkatkan produktivitas, efisiensi dan
efktivitas kerja dengan rangsangan upah atau insentif. Gagasan Henry L Gantt
mempunyai kesamaan dengan gagasan Taylor, antara lain:
1. Kerja sama yang saling menguntungkan antar manajer dan karyawan
2. Mengenai metode seleksi yang ilmiah untuk menentukan tenaga kerja yang benar-
benar tepat
3. Sistem bonus dan penggunaan intruksi dalam pengaturan kerja. Tetapi dalam
penentuan bonus tidak seperti yang dikemukakan oleh Taylor dengan sistem upah
differensial.

Henry L. Gantt justru menolak sistem upah differensial. Hal ini menurutnya
justru akan berdampak terlampau kecil motivasi kerja bagi tenaga kerja. Oleh
karena itu, dia mengemukakan gagasan bahwa bagi tiap-tiap pekerja yang dapat
menvelesaikan tugas yang dibebankan kepadanya untuk suatu hari, maka ia
berhak menerima bonus sebesar 50 sen dollar untuk hari itu. Sistem bonus yang
diterapkan Gantt ini juga berlaku bagi para mandor manakala yang menjadi
tanggung jawabnya (anak buah) itu dapat menyelesaikan pekerjaannya sesuai
dengan standar yang telah ditetapkan. Selain itu, Henry mengembangkan gagasan
Owen dalam metode penilaian atas pekerjaan karyawan, yakni dengan
mengadakan metode pencatatan atas hasil pekerjaan karyawan di dalam kartu
pribadi. Jika pekerjaan karvawan memenuhi standar, maka dia beri warna. hitam,
jika tidak memenuhi standar maka kode warnanya merah. Lebih lanjut dia
mengemukakan gagasannya dalam membuat sistem baru tentang penggambaran

18
jadwal produksi sebagai alat untuk instruksi dan penagwasan bagi manajer
perusahaan.

e) Frank B(1968-1424) dan Lillian M Gilbreth (1878 1972)


Kedua pelopor manajemen ilmiah ini mendasarkan gagasannya pada hasil
penelitian tentang hubungan gerakan dan kelelahan dalam pekerjaan. Menurut
Frank B Gilbreth, bahwa antara gerakan dan kelelahan saling berkaitan, setiap
gerakan yang dihilangkan juga menimbulkan kelelahan. Sementara, itu menurut
M. Gilbreth dalam pengaturan untuk mencapai gerakan yang efektif dapat
mengurangi kelelahan, maka akan mepunyai pengaruh terhadap upaya untuk
mengoptimalkan kemampuan pekerja sebagai manusia. Jadi menurut kedua tokoh
ini bahwa penelitian gerakan akan meningkatkan semangat kerja bagi pekerja; hal
ini dikarenakan adanya keuntungan-keuntungan fisik terhadap pekerja itu sendiri
yang harus dapat memanfaatkan kemampu an secara optimal. Gagasan program
pengembangan karvawan lebih ditekankan pada karyawan itu sendiri untuk
mengembangkan dirinva melalui persiapan untuk dapat menerima jabatan yang
lebih tinggi, penyelesaian pekerjaan tepat pada waktunya dan mampu memberi
pelatihan terhadap .pengganti-penggantinya. Jadi setiap pekerja harus bisa ber
fungsi sebagai pelaku, pelajar dan guru dan berharap akan kesempatan baru.
f) Herrington Emerson (1853-1931)
Herrington Emerson dalam (Sulastri, 2012) melihat bahwa penyakit yang
menggangu sistem manajemen di dalam industri ialah adanya masalah
pemborosan dan in-efisiensi. Oleh karena itu dia mencetuskan ide-ide yang
terformulasikan dalam 12 prinsip sebagai berikut:
 Perumusan tujuan dengan jelas
 Kegiatan yang dilaksanakan masuk akal
 Tersedianya staf yang cakap
 Terciptanya disiplin kerja
 Pemberian balas jasa yang adil
 Laporan terpecaya, cepat, tepat, dan kontinyu

19
 Pemberian instruksi - perencanaan dari urutan-urutan kerja
 Adanya standar-standar dan skedul, metode dan waktu setiap kegiatan
 Kondisi yang standar
 Operasi yang standar
 Intruksi-intruksi praktis tertulis standar.
 Balas jasa efisien - rencana insentif.

b. Prinsip Manajemen

Menurut (Wijaya & Rifa’i, 2016) Prinsip-prinsip dalam manajemen


bersifat lentur dalam arti bahwa perlu di pertimbangkan sesuai dengan kondisi-
kondisi khusus dan situasi-situasi yang berubah. Menurut Henry Fayol dalam
(Priyono, 2007), seorang pencetus teori manajemen yang berasal dari Perancis,
prinsip-prinsip umum manajemen ini terdiri dari:

 Pembagian kerja (division of work)


 Wewenang dan tanggung jawab (authority and responsibility)
 Disiplin (discipline)
 Kesatuan perintah (unity of command)
 Kesatuan pengarahan (unity of direction)
 Mengutamakan kepentingan organisasi di atas kepentingan sendiri (Sub
ordination of individual to generate interest)
 Penggajian pegawai (Renumeration of personal)
 Pemusatan (Centralization)
 Jenjang karir Hirarki (Scalar of hierarchy)
 Ketertiban (Order)
 Keadilan dan kejujuran (equity & Honesty)
 Stabilitas kondisi karyawan (Stability of tenure of personal)
 Prakarsa (Inisiative)
(1) Semangat kesatuan, semangat korps (Esprit de Corps)

20
c. Konsep Manajemen Keperawatan
1. Pengertian manajemen Keperawatan

Manajemen keperawatan merupakan suatu bentuk koordinasi dan integrasi


sumber-sumber keperawatan dengan menerapkan proses manajemen untuk
mencapai tujuan dan obyektifitas asuhan keperawatan dan pelayanan keperawatan
(Huber, 2000). (Nursalam, 2011) menyatakan bahwa manajemen keperawatan
dapat didefenisikan sebagai suatu proses dari perencanaan, pengorganisasian,
kepemimpinan dan pengawasan untuk mencapai tujuan.

2. Tujuan Manajemen Keperawatan


1. Mengarahkan seluruh kegiatan yang direncanakan
2. Mencegah/mengatasi permasalahan manajerial
3. Pencapaian tujuan organisasi secara efektif dan efisien dengan melibatkan
seluruh komponen yang ada
4. Meningkatkan metode kerja keperawatan sehingga staf perawatan bekerja
lebih efektif dan efisien, mengurangi waktu kerja yang sia-sia, mengurangi
duplikasi tenaga dan upaya

Hasil akhir (outcome) yang diharapkan dari manajemen keperawatan adalah:

1. Terselenggaranya pelayanan/
2. Asuhan keperawatan yang berkualitas.
3. Pengembangan staf
4. Budaya riset bidang keperawatan

3. Prinsip-Prinsip Manajemen Keperawatan

Seorang manajer keperawatan melaksanakan manajemen keperawatan


untuk memberikan perawatan kepada pasien. Swanburg (2000) menyatakan
bahwa prinsip-prinsip manajemen keperawatan sebagai berikut:

21
a. Manajemen keperawatan adalah perencanaan
b. Manajemen keperawatan adalah penggunaan waktu yang efektif
c. Manajemen keperawatan adalah pembuatan keputusan
d. Pemenuhan kebutuhan asuhan keperawatan pasien adalah urusan manajer
perawat
e. Manajemen keperawatan adalah suatu perumusan dan pencapaian tujuan
sosial
f. Manajemen keperawatan adalah pengorganisasian
g. Manajemen keperawatan merupakan suatu fungsi, posisi atau tingkat sosial,
disiplin, dan bidang studi
h. Manajemen keperawatan bagian aktif dari divisi keperawatan, dari lembaga,
dan lembaga dimana organisasi itu berfungsi
i. Budaya organisasi mencerminkan nilai-nilai kepercayaan
j. Manajemen keperawatan mengarahkan dan pemimpin
k. Manajemen keperawatan memotivasi
l. Manajemen keperawatan merupakan komunikasi efektif
m. Manajemen keperawatan adalah pengendalian atau pengevaluasian.

4. Fungsi-Fungsi Manajemen Keperawatan


Manajemen memerlukan peran orang yang terlibat di dalamnya untuk
menyikapi posisi masing-masing sehingga diperlukan fungsi-fungsi yang jelas
mengenai manajemen (Suarli dan Bahtiar, 2009). Fungsi manajemen pertama
sekali diidentifikasi oleh Henri Fayol (1925) yaitu perencaanaan, organisasi,
perintah, koordinasi, dan pengendalian. Luther Gulick (1937) memperluas fungsi
manajemen fayol menjadi perencanaan (planning), pengorganisasian (organizing),
personalia (staffing), pengarahan (directing), pengkoordinasian (coordinating),
pelaporan (reporting), dan pembiayaan (budgeting) .
Proses manajemen mencakup kegiatan perencanaan, pengorganisasian,
pengarahan, dan pengendalian.. Keempat kerangka tersebut dapat dilihat pada
bagan berikut ini. Tanda panah gelap menunjukkan urutan kegiatan secara

22
teoretis, dimulai dari perencanaan, kemudian diakhiri oleh pengendalian, yang
kemudian berputar lagi kembali ke perencanaan. Tanda panah terang
menunjukkan urutan yang lebih realistis, yang terjadi di praktik manajemen.
(Hanafi, 2015)

1. Perencanaan (Planning)
Perencanaan berarti kegiatan menetapkan tujuan organisasi dan memilih cara
yang terbaik untuk mencapai tujuan tersebut. Pengambilan keputusan merupakan
bagian dari perencanaan yang berarti menentukan atau memilih alternatif
pencapaian tujuan dari beberapa alternatif yang ada. Perencanaan diperlukan
untuk mengarahkan kegiatan organisasi.(Hanafi, 2015)
Menurut (Setiadi, 2019) ada beberapa manfaat perencanaan yaitu:
 mengarahkan kegiatan organisasi yang meliputi penggunaan sumberdaya
dan penggunaannya untuk mencapai tujuan organisasi,
 memantapkan konsistensi kegiatan anggota organisasi agar sesuai dengan
tujuan organisasi, dan
 memonitor kemajuan organisasi. Jika organisasi berjalan menyimpang
dari tujuan yang telah ditetapkan, dapat dilakukan perbaikan

Dalam manajemen keperawatan, perencanaan membantu untuk menjamin bahwa


klien akan menerima pelayanan keperawatan yang mereka ingini dan butuhkan
dengan memuaskan. Selama perencanaan perawat manajer menganalisa dan
mengkaji sistem, menyusun strategi dan rencana operasional dan memprioritaskan
aktivitas yang akan dilakukan (Setiadi, 2019).Langkah pengumpulan data terdiri
dari pengumpulan informasi tentang pasien, lembaga, masyarakat, tenaga kerja
dan desakan-desakan lingkungan.Data yang terkumpul akan menjadi suatu

23
pijakan dalam menentukan kebijakan-kebijakan yang diambil selama tahap
perencanaan.

2. Pengorganisasian (Organizing dan Staffing)


Tahap berikutnya adalah pengorganisasian. Pengorganisasian dapat diartikan
sebagai kegiatan mengoordinasi sumberdaya, tugas, dan otoritas diantara anggota
organisasi agar tujuan organisasi dapat dicapai dengan cara yang efisien dan
efektif. organisasi itu sendiri diartikan sebagai kumpulan orang dengan sistem
kerjasama untuk mencapai tujuan bersama. Dalam sistem kerjasama secara jelas
diatur siapa menjalankan apa, siapa bertanggung jawab atas siapa, arus
komunikasi dan memfokuskan sumber daya pada tujuan.(Hanafi, 2015)

3. Pengarahan (Leading)

Setelah struktur organisasi ditetapkan, orang-orangnya ditentukan.Langkah


selanjutnya adalah membuat bagaimana orang-orang tersebut bekerja untuk
mencapai tujuan organisasi. Manajer perlu “mengarahkan” orang-orang tersebut.
Pengarahan adalah proses memberikan bimbingan kepada staff agar mereka
mampu bekerja secara optimal dalam melaksnaakan tugas-tugasnya sesuai dengan
ketrampilan yang mereka miliki.(Setiadi, 2019)

.Pengarahan ini termasuk didalamnya adalah kejelasan komunikasi,


pengembangan motivasi yang efektif. Pelaksanaan pengarahan (actuating)
merupakan fungsi yang paling fundamental dalam manajemen, karena merupakan
pengupayaan berbagai jenis tindakan itu sendiri, agar semua anggota kelompok
mulai dari tingkat teratas sampai terbawah, berusaha mencapai sasaran organisasi
sesuai rencana yang telah ditetapkan semula, dengan cara terbaik dan benar.
(Hanafi, 2015)

4. Pengendalian (Controlling)

24
Elemen terakhir proses manajemen adalah pengendalian. Pengendalian bertujuan
melihat apakah kegiatan organisasi sesuai dengan rencana. Manajer harus selalu
memonitor kemajuan organisasi.(Hanafi, 2015)

Fungsi pengendalian meliputi empat kegiatan:

 menentukan standar prestasi,


 mengukur prestasi yang telah dicapai selama ini,
 membandingkan prestasi yang telah dicapai dengan standar prestasi, dan
 melakukan perbaikan jika ada penyimpangan dari standar prestasi yang
telah ditentukan.Kemudian, kembali lagi ke fungsi perencanaan untuk
periode berikutnya.

Menurut (Setiadi, 2019) Pengawasan bisa berjalan secara efektif diperlukan


beberapa kondisi yang harus diperhatikanyaitu:

a. Pengawasan harus dikaitkan dengan tujuan, dan kriteria yang dipergunakan


dalam system Pelayanan kesehatan, yaitu relevansi, efektivitas, efisiensi,
dan produktivitas.
b. Sulit, tetapi standar yang masih dapat dicapai harus ditentukan. Ada dua
tujuan pokok, yaitu: (1) untuk memotivasi, dan (2) untuk dijadikan patokan
guna membandingkan dengan prestasi. Artinya jika pengawasan ini efektif
akan dapat memotivasi seluruh anggota untuk mencapai prestasi yang
tinggi.
c. Pengawasan hendaknya desesuaikan dengan sifat dan kebutuhan
organisasi. Di sini perlu diperhatikan pola dan tata organisasi, seperti
susunan, peraturan, kewenangan dan tugas-tugas yang telah digariskan
dalam uraian tugas (job discription).
d. Banyaknya pengawasan harus dibatasi, artinya jika pengawasan terhadap
karyawan terlampau sering, ada kecenderungan mereka kehilangan
otonominya dan dapat dipersepsi pengawasan itu sebagai pengekangan.
e. Sistem pengawasan harus dikemudi (steering controls) tanpa
mengorbankan otonomi dan kehormatan manajerial tetapi fleksibel, artinya
sistem pengawasan menunjukkan kapan, dandimana tindakan korektif
harus diambil.
f. Pengawasan hendaknya mengacu pada tindakan perbaikan, artinya tidak
hanya mengungkap penyimpangan dari standar, tetapi penyediaan alternatif
perbaikan,menentukan tindakan perbaikan.

5. Perbedaan Manajer Dan Leader

25
Berikut ini adalah perbedaan antara manajer dan pemimpin (leader)(Mugianti,
2016)

26
KESIMPULAN
Kepemimpinan yaitu kemampuan seseorang untuk mempengaruhi orang
lain sebagai pengikutnya. Rumusan komponen yang ada di dalam kepemimpinan ada
empat aspek, yaitu: 1) Leader, 2) Pengikut, 3) Tujuan, 4) Situasi dan Komunikasi.
Dalam menjalankan tugasnya keberhasilan seorang pemimpin tergantung
kemampuannya untuk menyesuaikan diri dalam mempengaruhi bawahannya.
Pemimpin dalam menjalankan tugasnya diperlukan kemampuan dalam menggunakan
gaya kepemimpinan yang tepat. Oleh karena itu seorang pemimpin harus paham
bagaimana sifat dan karakteristik bawahannya. Pengunaan gaya kepemimpinan tidak
sama pada setiap individu, hal tersebut mempertimbangkan karakteristik pemimpin
itu sendiri, orang yang dipimpin dan situasi sehingga pemimpin memiliki gaya
kepemimpinan yang berbeda.
Manajemen adalah proses merencanakan, mengorganisasi, mengarahkan,
dan mengendalikan kegiatan untuk mencapai tujuan organisasi secara efektif dan
efisien dengan menggunakan sumberdaya organisasi. Manajemen keperawatan
merupakan suatu bentuk koordinasi dan integrasi sumber-sumber keperawatan
dengan menerapkan proses manajemen untuk mencapai tujuan dan obyektifitas
asuhan keperawatan dan pelayanan keperawatan. Manajemen memerlukan peran
orang yang terlibat di dalamnya untuk menyikapi posisi masing-masing sehingga
diperlukan fungsi-fungsi yang jelas mengenai manajemen yang mana fungsi
manajemen antara lain: perencaanaan, organisasi, perintah, koordinasi, dan
pengendalian.

27
DAFTAR PUSTAKA

Dedi, B. (2019). Kepemimpinan dan manajemen pelayanan keperawatan: Teori,


Konsep dan Implementasi (L. Dwiantoro (ed.); cetakan 1, Issue November 2019).
Hanafi, M. (2015). Konsep Dasar dan Perkembangan Teori Manajemen. Managemen,
1(1), 66. http://repository.ut.ac.id/4533/1/EKMA4116-M1.pdf
Mugianti, S. (2016). Manajemen dan Kepemimpinan dalam Praktik Keperawatan (J.
Hotman (ed.); cetakan 1). Kementrian Kesehatan Republik Indonesia.
http://library1.nida.ac.th/termpaper6/sd/2554/19755.pdf
Nursalam. (2011). Manajemen Keperawatan Aplikasi dalam Praktik Keperawatan
Profesional Edisi 3. In Salemba Medika (edisi 3). Salemba Medika.
Nursalam. (2014). Manajemen Keperawatan: Aplikasi dalam Praktik Keperawatan
Profesional Edisi 4. (A. Suslia (ed.); edisi 4). Salemba Medika.
Priyono. (2007). Pengantar Manajemen (T. Chandra (ed.); cetakan 1). Zifatama
Publishing. http://library1.nida.ac.th/termpaper6/sd/2554/19755.pdf
Sanders, M. G., Lukmansyah, D., Danniarti, R., & Moh. Rois, Fartika Ifriqia, D. S.
(2017). Jurnal Manajemen, Kepemimpinan, dan Supervisi Pendidikan. American
Journal of Education, 1(2), 233–255. The Value of Pancasila, National Insight,
PPKn Subject
Setiadi. (2019). Konsep Manajemen Keperawatan. In Stikes Hang Tuah Surabaya (pp.
1–30). http://www.rsaudrefram.co.id/wp-
content/uploads/2020/04/Konsep_manajemen_Keperawatan.pdf.pdf
Sulastri, L. (2012). Manajemen sebuah pengantar (A. Muhammad (ed.); cetakan 3). La
Goods Publisher.
Wijaya, C., & Rifa’i, M. (2016). Dasar Dasar Manajemen: Mengoptimalkan
Pengelolaan Organisasi Secara Efektif dan Efesien (S. Saleh (ed.); cetakan 1).
Perdana Publishing. http://repository.uinsu.ac.id/2836/1/Dasar-Dasar
Manajemen.pdf

28
29
LAMPIRAN

30
31
32
33
34
35