Anda di halaman 1dari 16

LAPORAN KASUS

AGUSTUS 2019

EPISTAKSIS

Disusun Oleh:
dr. Nurjaya Martasari

Pendamping:
dr. Ricky Yuliam Mado, M.Kes
dr. Luh Gede Yustini Ekawati

Supervisor:
dr. Bastiana, Sp.THT-KL
dr. Nur Musa. Sp.THT-KL

DISUSUN DALAM RANGKA MEMENUHI TUGAS


PROGRAM KEMENKES DOKTER INTERNSIP
RUMAH SAKIT TK IV WIRABUANA KOTA PALU
PALU
2019
I. IDENTITAS

Nama : Tn. K

Jenis Kelamin : Pria

Usia : 20 tahun

Agama : Islam

Pekerjaan : Pelajar

Pendidikan : SMA

Alamat :

Tanggal Pemeriksaan : 26 Agustus 2019

Autoanamnesa

II. ANAMNESA

Keluhan Utama

Keluar darah dari kedua lubang hidung

Riwayat Penyakit Sekarang

Pasien datang ke RSUD Kota Surakarta dengan keluhan keluar


darah / mimisan dari kedua lubang hidung secara terus menerus. Keluhan
ini dirasakan sejak pagi hari kurang lebih 19 jam sebelum masuk RS
(pukul 7 pagi). Gejala ini dirasakan terus-menerus sejak pagi hari hingga
malam hari, sempat ditutup dengan kapas tetapi mimisan tidak terdapat
tanda-tanda akan berhenti. Karena darah cukup banyak dan

1
mengkhawatirkan pasien dan ibunya, maka darah ditampung oleh pasien
hingga +/- 75-100CC.

Keluhan pasien disertai pusing, tetapi tidak demam, tidak batuk


ataupun tidak pilek. Pasien tidak mengeluhkan nyeri telinga kanan dan
kiri. Tidak ada keluhan mual ataupun muntah. BAB (+) Normal dan BAK
(+) Normal tidak ada keluhan.

Riwayat Penyakit Dahulu

Pasien mengaku pernah mengalami keluhan serupa ketika usia Sekolah Dasar
(SD) tetapi tidak diperiksakan ke dokter karena keluhan ringan.

Riwayat penyakit sistemik ataupun penyakit lain disangkal

Riwayat alergi obat disangkal

Riwayat asma disangkal.

Riwayat Penyakit Keluarga

Tidak ada keluarga yang mengalami keluhan yang sama dengan


pasien.

Riwayat Penyakit Keluarga

Tidak ada keluarga yang mengalami keluhan yang sama dengan


pasien.

Riwayat Kebiasaan

Pasien sering mengorek dan membersihkan hidung dengan jari


tangan.

2
Riwayat Sosial Ekonomi

Pasien tinggal di rumah dengan kondisi lingkungan yang cukup


berdebu karena berada di dekat jalan raya

PEMERIKSAAN FISIK

Keadaan Umum : Sakit ringan

Kesadaran : Compos Mentis

Tanda Vital : Tekanan Darah : 160/99 mmHg

N : 128 x/menit

RR : 20 x/menit

Suhu tubuh : 36.5o C

STATUS GENERALIS

Kepala : Normocephal

Mata

Konjungtiva : Anemis -/-

Sklera : Ikterik -/-

Pupil : Bulat, Isokor, Reflek cahaya +/+

Leher ( submandibula) : Pembesaran kelenjar limfe (-)

Thorax

3
Inspeksi : Simetris hemitoraks kanan dan kiri

Palpasi : Simetris hemitoraks kanan dan kiri

Perkusi : Sonor diseluruh lapang paru

Auskultasi

Cor : BJ I-II reguler murni, murmur (-),


gallop (-)
Pulmo : SN Vesikuler +/+, Ronkhi -/-,
Wheezing -/-

Abdomen

Inspeksi : Simetris datar

Auskultasi : Bising usus (+) N

Palasi : Nyeri tekan (-), hepar dan lien tidak teraba

Perkusi : Timpani pada lapang abdomen

Ekstremitas

Edema : - -

Sianosis : - -

Neurologis

Refleks fisiologis : +/+

Refleks patologis : -/-

Genitalia : Tidak diperiksa

STATUS LOKALIS

TELINGA

4
BAGIAN KELAINAN KANAN KIRI
PREAURIKULER Kongenital - -
Radang - -
Tumor - -
Trauma - -
Nyeri tekan tragus - -
AURIKULER Kongenital - -
Radang - -
Tumor - -
Trauma - -
RETROAURIKULE Edema - -
R Nyeri tekan - -
Hiperemis - -
Sikatriks - -
Fistula - -
Fluktuasi - -
CAE Kongenital - -
Kulit - -
Sekret - -
Serumen - -
Edema - -
Jaringan granulasi - -
Massa - -

MEMB. TIMPANI Warna Putih perak Putih perak


Intak + +
Refleks Cahaya + pukul 5 + pukul 7
Bulging - +
Sekret - -
Gambar

5
Membran Refleks
timpani intak cahaya (+) pukul
7
refleks cahaya Membran
(+) pukul 5 timpani intak
CAVUM TIMPANI Tidak dapat Tidak dapat
dinilai dinilai

TES PENDENGARAN KANAN KIRI


TES RINNE
TES WEBER
Tidak Dilakukan
TES SWABACH

HIDUNG

PEMERIKSAAN KANAN KIRI


KEADAAN LUAR Bentuk dan Normal Normal
Ukuran
Mukosa Edema, livid Edema, livid
RHINOSKOPI Sekret (+)darah cair, (+)darah cair,
ANTERIOR mengalir mengalir
Krusta - -
Konka Inferior Hipertrofi Hipertrofi
Septum deviasi (edema) (edema)
Polip tumor - -
Pasase udara - -
(+) menurun (+) menurun

septum Mukosa
tidak Edema,livid
ditengah

6
Konka inferior
edema dan livid
Konka
media
RHINOSKOPI Mukosa
POSTERIOR Sekret
Choana Tidak dilakukan
Fossa
Rossenmuller
Massa/tumor
Os.tuba eustachius

CAVUM ORIS DAN OROFARING

BAGIAN KETERANGAN
MUKOSA Normal
LIDAH Normal
GIGI GELIGI Normal
UVULA Hiperemis, ditengah
PILAR Hiperemis, simetris + / +
HALITOSIS -
TONSIL:
Mukosa Hiperemis + / +
Besar T3 – T2
Kripta Melebar +/+
Detritus +/+
Perlengketan -/-
Gambar

7
T3 T2
UVULA DI
TENGAH FARING
HIIPEREMIS HIPEREMIS
FARING
Mukosa Hiperemis
Granula +
Post nasal drip -

LARING
Epiglotis Tidak diperiksa
Kartilago arytenoid Tidak dilakukan
Plika aryepiglotika Tidak dilakukan
Plika vestibularis Tidak dilakukan
Plika vikalis Tidak dilakukan
Rima glotis Tidak dilakukan
Trakea Berada ditengah

Keterangan:
Epiglotis Tidak diperiksa
Kartilago arytenoid
Kartilago aryepiglotika
Plika vestibularis
Plika vokalis
Rima glotis
Trakea

8
MAXILLOFACIAL

BAGIAN KETERANGAN
MAXILLOFACIAL
Bentuk Simetris
Parese N. Cranialis -

LEHER

BAGIAN KETERANGAN
LEHER
Bentuk Simetris, tidak ada deviasi trakea
Massa -

KGB submandibula membesar Trakea di


Tengah

9
IV. PEMERIKSAAN PENUNJANG

Pemeriksaan penunjang belum dilakukan.

V, RESUME

Pasien laki-laki 20 tahun datang ke IGD RSUD Kota Surakarta


pukul 2 pagi tanggal 18 Agustus 2017 dengan keluhan keluar darah /
mimisan dari kedua lubang hidung secara terus menerus. Keluhan ini
dirasakan 19 jam sebelum masuk RS (pukul 7 pagi), sempat ditutup
dengan kapas tetapi mimisan tidak terdapat tanda-tanda akan berhenti
dan darah ditampung oleh pasien hingga +/- 75-100CC. Keluhan ini
disertai pusing cekot-cekot dikedua sisi kepala, tetapi tidak disertai
keluhan di bagian THT lain.

Pasien pernah mengeluhkan keluhan yang sama tetapi tidak pernah


mengalami pengobatan dengan keluhan yang sama sebelumnya.

Pada pemeriksaan fisik, status generalis dalam batas normal. Pada


pemeriksaan status lokalis telinga dalam batas normal. Status lokalis
pada hidung didapatkan; mukosa edema dan livid, sekret
konsistensi encer berwarna merah mengalir, banyak dan tidak
berbau, konka inferior tampak hipertrofi (edema), pasase udara
sedikit menurun. Status lokalis orofaring didapatkan; uvula
hiperemis (+) ditengah, pilar hiperemis (+/+) simetris, Mukosa
tonsil hiperemis (+/+) T3/T2, kripta melebar (+/+), detritus (+/+).
Mukosa faring hiperemis (+) dan terdapat granula. Status lokalis
leher tidak terdapat pembesaran KGB submandibula.
Pemeriksaan penunjang belum dilakukan

PERMASALAHAN

Anamnesis Pemeriksaan fisik

Keluar darah dari kedua lubang hidung

10
Selama 19 jam darah mimisan tidak berhenti Tampak sakit ringan
sekalipun sudah ditutup dengan kapas dan
Uvula hiperemis (+) berada
tertampung 75-100CC.
ditengah
Keluhan tambahan: pusing cekot-cekot.
Riwayat kebiasaan : pasien memiliki
Pilar hiperemis
kebiasaan sering mengorek dan membersihkan Mukosa tonsil hiperemis
hidung dengan jari tangan secara berlebihan T3/T2, Kripta melebar,
Lingkungan pasien tempat beraktivitas dedritus (+/+)
sering terpapar debu setiap harinya Mukosa faring hiperemis dan
(menjadi faktor predisposisi kebiasaan terdapat granula
pasien sering mengorek hidung) Mukosa hidung tampak
edema dan livid (pucat)
Terdapat sekret konsistensi
encer berwarna jernih dan
banyak, konka inferior
tampak hipertrofi.
Pasase udara sedikit
menurun
Terdapat pembesaran KGB
submandibula

DIAGNOSIS KERJA

Epistaksis Posterior et causa Septum Deviasi dengan Hipertensi

DIAGNOSIS BANDING

RENCANA PEMERIKSAAN PENUNJANG (IPDx)

Pemeriksaan Laboratorium (darah lengkap, fungsi hemostasis).

Pemeriksaan fungsi hepar dan ginjal serta Gula Darah.

11
Pemeriksaan foto polos atau CT Scan Sinus bila dicurigai ada sinusitis.

Konsul atau Rawat Bersama dengan

Uji kultur dan Uji resistensi kuman dari swab mukosa tenggorok.

Uji intrakutan atau intradermal yang tunggal atau berseri

(Skin End-point Titration/SET)

Uji ELISA (Enzyme Linked Immuno Sorbent Assay)

RENCANA PENATALAKSANAAN (IPTx)

Tatalaksana IGD

Tampon Bellocq / Posterior + Epinefrin

IVFD RL 20tpm + Drip Adona (Pengawasan Epistaksis)

Inj. Asam Traneksamat 500mg / 8 jam

Inj. Vit.K 1 Amp / 8 jam

Inj. Ondasentron 4mg / 12 jam

Inj. Ceftriaxon 1gr/12 jam

Inj. Ranitidin 1 Amp / 12 jam

MONITOR

Subjektif :

Memantau keluhan-keluhan seperti seberapa sering perdarahan berulang,


kesulitan bernafas, nyeri kepala, demam ataupun keluhan dibagian THT lainnya.

12
Tanya apakah keluhan tersebut membaik/ berkurang, memburuk atau bahkan ada
keluhan lain yang baru muncul

Objektif :

Penilaian Keadaan Umum, cari sumber perdarahan lain (jika


masih ada), hentikan perdarahan dan cari faktor penyebab
untuk mencegah berulangnya perdarahan.

EDUKASI

Minum obat teratur.

Hindari makanan atau minuman yang mengiritasi seperti minum dingin, makanan
berbumbu, gorengan dan makanan pedas.

Hindari paparan alergen rhinitis alergi (debu, asap).

Istirahat cukup.

Hiegen mulut dengan obat kumur.

Mencuci tangan sebelum makan dan setelah beraktivitas.

Banyak minum air hangat.

Kembali ke dokter setelah obat habis.

Berdoa agar lekas sembuh

KOMPLIKASI EPISTAKSIS DAN PENCEGAHAN

Komplikasi dapat terjadi sebagai akibat dari epistaksisnya


sendiri atau sebagai akibat dari usaha penanggulangan
epistakis.

13
Akibat perdarahan yang hebat dapat terjadi aspirasi darah
ke dalam saluran napas bawah, juga dapat menyebabkan
syok, anemia dan gagal ginjal. Turunnya tekanan darah
secara mendadak dapat menimbulkan hipotensi, hipoksia,
iskemia serebri, insufisiensi koronersampai infark miokard
yang dapat berujung pada kematian. Dalam hal ini
pemberian infus dan tranfusi darah harus dilakukan
secepatnya.
Akibat pembuluh darah yang terbuka dapat terjadi infeksi,
sehingga perlu diberikan antibiotik.
Pemasangan tampon dapat menyebabkan rino-sinusitis,
otitis media, septikemia, atau toxic shock syndrome. Oleh
karena itu, harus selalu diberikan antibiotik pada setiap
pemasangan tampon hidung, dan setelah 2-3 hari tampon
harus dicabut. Bila perdarahan masih berlanjut dipasang
tampon baru.
Selain itu dapat terjadi hemotimpanum sebagai akibat
mengalirnya darah melalui tuba Eustachius, dan airmata
berdarah (bloody tears), akibat mengalirnya darah secara
retrograd melalui duktus nasolakrimalis.
Pemasangan tampon posterior (tampon bellocq) dapat
menyebabkan laserasi palatum mole atau sudut bibir, jika
benang yang keluar dari mulut terlalu ketat dilekatkan pada
pipi. Kateter balon atau tampon balon tidak boleh dipompa
terlalu keras karena dapat menyebabkan nekrosis mukosa
hidung atau septum.

PROGNOSIS

QUO AD VITAM : ad bonam


QUO AD FUNCTIONAM : ad bonam

14
Abstrak

Epistaksis berulang selalu menimbulkan kecemasan pada orang tua dan


seringkali menjadi keluhan yang
menyebabkan seorang anak dibawa berobat ke unit rawat jalan. Etiologi
epistaksis dapat dibagi atas penyebab
lokal dan sistemik, namun pada umumnya kasus epistaksis idiopatik.
Diagnosis dan penanganan epistaksis
bergantung pada lokasi dan penyebab perdarahan. Diagnosis ditegakkan
berdasarkan anamnesis, pemeriksaan
fisis, dan pemeriksaan penunjang. Pemeriksaan penunjang sesuai dengan
indikasi dapat yaitu pemeriksan
laboratorium darah, radiografi, endoskopi, CT scan dan biopsi. Tata laksana
mencakup resusitasi jika
diperlukan, penekanan dengan jari, tampon anterior, kauterisasi, tampon
posterior dan, pembedahan.
Saat ini terdapat berbagai alternatif terapi seperti krim antiseptik,
petroleum jelly, kauterisasi silver nitrate,
embolisasi angiografi, fibrin glue, endoscopic electrocautery, irigasi air
panas, dan laser

15