Anda di halaman 1dari 33

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar belakang

Skabies adalah suatu penyakit kulit yang disebabkan oleh infestasi dan
penetrasi tungau parasit Sarcoptes scabiei var. hominis ke epidermis.1 Tungau
betina berfertilisasi dan meletakkan telurnya di stratum korneum.2 Tungau bersifat
obligat pada manusia (bergantung hidupnya pada manusia), serta tinggal dalam
terowongan yang dibuat dalam epidermis superfisial.1 Tungau skabies sendiri
sudah diidentifikasi semenjak tahun 1600-an, namun baru sekitar tahun 1700-an
tungau ini diketahui sebagai penyebab suatu penyakit erupsi kulit.6
Skabies dapat mengenai semua kelompok usia, ras dan tingkat sosial
ekonomi, tetapi prevalensi pastinya masih sulit ditentukan. 1 Lingkungan padat
penduduk, yang sering terdapat pada negara berkembang dan hampir berkaitan
dengan kemiskinan dan kebersihan yang buruk, dapat meningkatkan penularan
dan penyebaran skabies.3 Penularan bisa melalui personal kontak1
Skabies memiliki tingkat kompetensi 4A, artinya lulusan dokter harus
mampu membuat diagnosis klinik, dan melakukan penatalaksanaan penyakit
tersebut secara mandiri dan tuntas.4 Laporan kasus ini ini bertujuan untuk
meningkatkan pemahaman penulis mengenai skabies dengan membahas kasusnya
secara keseluruhan, lalu dilanjutkan dengan tinjauan pustaka yang akan
membahas etiopatogensis, gambaran klinis, pemeriksaan penunjang, diagnosis,
diagnosis banding, penatalaksanaan, komplikasi dan prognosis pada penyakit
skabies, dan diakhiri dengan analisis kasus yang akan melihat kesesuaian antara
teori dengan apa yang ditemukan pada pasien serta cara menatalaksana pasien
dengan skabies secara tepat.

1
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Epidemiologi
Adalah penyakit kulit akibat infestasi dan sensitisasi tungau Sarcoptes
Scabiei jenis manusia dan produknya pada tubuh. Banyak menyerang anak-anak,
walaupun orang dewasa dapat pula terkena. Berdasarkan jenis kelamin Frekuensi
yang sama pada pria dan wanita. Banyak faktor yang menunjang perkembangan
penyakit ini, antara lain sosial ekonomi yang rendah, higiene yang buruk,
hubungan seksual bersifat promiskuitas kesalahan diagnosis, dan perkembangan
dermografi serta ekologik. Infeksi ini dapat dimasukkan ke dalam Infeksi menular
seksual (I.M.S)7
Cara penularan (transmisi)
1. Kontak langsung (kontak kulit dengan kulit), misalnya berjabat tangan, tidur
bersama, dan hubungan seksual.
2. Kontak tak langsung (melalui benda), misalnya pakaian, handuk, sprei, bantal
dan lain-lain.
Penularannya biasanya oleh Sarcoptes Scabiei betina yang sudah dibuahi
atau kadang-kadang oleh bentuk larva. Dikenal juga sarcoptes Scabiei
var.animals yang kadang-kadang dapat menulari manusia. Terutama pada mereka
yang benyak memelihara binatang peliharaan, misalnya anjing.7

2.2 Etiopatogenesis
Parasit Sarcoptes scabiei termasuk dalam kelompok filum Arthropoda,
kelas Arachnida. Secara morfologik merupakan tungu kecl berbentuk oval,
punggung cembung, bagian perut rata, dan mempunyai 8 kaki. Tungau ini
translusen,berwarna putih kotor, dan tidak bermata. Ukuran yang betina berkisar
antara 330-450 mikron x 250-350 mikron, sedangkan yang jantan lebih kecil,
yakni 200-240 mikron x 150-200 mikron. Bentuk dewasa mempunyai 4 pasang
kaki, 2 pasang kaki di depan sebagai alat untuk melekat dan 2 pasang kaki kedua

2
pada betina berakhir dengan rambut sedangkan pada yang jantan pasangan kaki
ketiga berakhir dengan rambut dan keempat berakhir dengan alat perekat.7
Siklus hidup tungau ini sebagai berikut: setelah kopulasi (perkawinan) yang
terjadi di atas kulit, tungau jantan akan mati, kadang-kadang masih dapat hidup
beberapa hari dalam terowongan yang digali oleh tungau betina. Tungau betina
yang telah dibuahi menggali terowongan dalam stratum korneum dengan
kecepatan 2-3 milimeter sehari sambil meletakkan telurnya 2-50. bentuk betina
yang dibuahi ini dapat hidup sebulan lamanya. Telur akan menetas biasanya
dalam waktu 3-10 hari dan menjadi larva yang mempunyai 3 pasang kaki. Larva
ini dapat tinggal dalam terowongan, tetapi dapat juga kluar. Setelah 2-3 hari larva
akan menjadi nimfa yang mempunyai 2 bentuk, jantan dan betina, dengan 4
pasang kaki. Seluruh siklus hidup mulai dari telur sampai bentuk dewasa
memerlukan waktu antara 8-12 hari.
Aktivitas S.scabiei didalam kulit menyebabkan rasa gatal dan menimbulkan
respons imunitas selular dan himoral serta mampu meningkatkan IgE baik serum
maupun dikulit. Masa inkubasi berlangsung lama 4-6 minggu. Skabies sangat
menular, transmisi melalui kontak langsung dari kuli ke kulit, dan tidak langsung
melalui berbagai benda yang terkontaminasi (seprei, sarung bantal, handuk dsb).
Tungau skabies dapat hidup di luar tubuh manusia selama 24-36 jam. Tungau
dapat ditransmisikan melalui kontak seksual, walaupun menggunakan kondom,
karena kontak melalui kulit di luar kondom.

Gambar 1. Siklus hidup Sarcoptes scabiei1

3
Tungau betina dapat hidup lebih lama dari tungau jantan yaitu lebih dari 30
hari.3 Tungau skabies umumnya hidup pada suhu lembab dan pada suhu kamar
(21 C dengan kelembaban relatif 40-80%) tungau masih dapat hidup di luar tubuh
hospes selama 24-36 jam.6 Kelainan kulit dapat tidak hanya disebabkan oleh
tungau skabies, tetapi juga oleh penderita sendiri akibat garukan. Gatal yang
terjadi disebabkan oleh sensitisasi terhadap sekreta dan ekreta tungau yang
memerlukan waktu kira-kira sebulan setelah investasi7

2.3 Manifestasi Klinis


Gejala klinis skabies pada orang belum pernah terpajan sebelumnya
biasanya berkembang dalam 4-6 minggu, tetapi dapat juga paling cepat satu pekan
dan paling lambat satu tahun. Pada pasien yang sebelumnya pernah terinfeksi
skabies, biasanya akan mengalami gejala dalam satu sampai empat hari paska
pajanan. Hal ini disebabkan karena reinfestasi akan menyebaban respon imun
yang lebih cepat.5 Kelainan klinis pada kulit yang ditimbulkan oleh
infestasi tungau sangat bervariasi. Gejala yang dominan berupa keluhan gatal
lebih berat terutama di malam hari. Predileksi skabies terdapat di beberapa area
kulit, terutama jari-jari tangan, pergelangan tangan, siku, bahu, kaki terutama
pergelangan kaki, area genital laki laki termasuk penis, skrotum, dan area genital
perempuan termasuk areola mammae (Gambar. 2).6

Gambar 2. Predileksi skabies7.

Adapun 4 tanda cardinal :

4
1. Pruritus nokturna, artinya gatal pada malam hari yang disebabkan karena
aktivitas tungau lebih tinggi pada suhu yang lebih lembab dan panas
2. Penyakit ini menyerang manusia secara bekelompok, misalnya pada
sebuah anggota keluarga terkena infeksi. Begitu pula dalam sebuah
perkampungan yang padat penduduknya. Sebagian besar tetangga yang
berdekatan akan diserang oleh tungau tersebut akan diserang tungau
tersebut. Dikenal keadaan hiposensitiasi, yang seluruh anggota
keluarga terkena. Walaupun mengalami infestasi tungau, tetapi tidak
memberikan gejala. Penderita ini bersifat sebagai pembawa (carier)
3. Adanya terowongan (kunikulus) pada tempat-tempat predeleksi yang
berwarna putih atau keabu-abuan berbentuk garis lurus atau berkelok, rata-
rata panjang 1 cm, pada ujung terowongan (kunikulus) pada tempat-tempat
predeleksi yang berwarna putih atau keabu-abuan berbentuk garis lurus
atau berkelok, rata-rata panjang 1 cm, pada ujung terowongan itu
ditemukan papul atau vesikel. Jika timbul infksi sekunder ruam kulitnya
menjadi polimorf (pustule, eksoriasi dan lainnya). Tempat predeleksinya
biasanya merupakan tempat dengan startum korneum yang tipis, yaitu
sela-sela jari tangan, pergelangan tangan bagian volar, siku bagian luar,
lipat ketiak bagian depan, areola mammae, umbilicus, bokong, dan perut
bagian bawah. Pada bayi dapat menyerang tangan dan telapak kaki
4. Menemukan tungau merupakan hal yang paling meunjang diagnosis. Dapat
ditemukan satu atau lebih stadium hidup tungau. Selain tungau dapat
ditemukan telur dan kotoran (skibala).

Gambaran klinis skabies berupa papul, pustul, dan kanalikuli (terowongan)


yang menandai perjalanan tungau. Terowongan skabies dapat berupa peninggian
kulit atau sejajar dengan kulit berupa lesi linier melengkung dengan ujung
terdapat papul atau pustul, tempat tungau dewasa. Terowongan ini kadang sulit
ditemukan karena sering tergaruk tetapi dapat mudah dicari di tangan, jari,
pergelangan tangan, dan pergelangan kaki (Gambar. 3).

A B

C D 5
Gambar 3. Gambaran klinis lesi pada skabies. (A) Terowongan skabies pada perut. (B) Papul
B eritem pada area genital laki-laki. (C) Tipikal lesi skabies berupa papul dan pustul disertai erosi
A
C
D
akibat garukan pada pergelangan tangan. (D) Lesi skabies di area kepala dan leher pada anak-
anak.7

Petunjuk penting lain adalah keluhan gatal dengan atau tanpa ruam pada
anggota keluarga lain yang tinggal serumah. Pada perkampungan padat penduduk,
sebagian besar tetangga yang berdekatan akan terserang tungau. Pasien ini bersifat
sebagai pembawa (reservoir).6
Crusted scabies atau skabies Norwegia adalah bentuk atipikal skabies,
sangat menular dan terjadi pada pasien lebih tua, immunocompromised, atau
tinggal dalam jarak dekat. Lesi berupa plak hiperkeratotik tersebar di telapak
tangan dan kaki disertai penebalan dan distrofi kuku jari tangan dan kaki dengan
keterlibatan kulit kepala.
Umumnya, tungau yang ditemukan pada pasien skabies tipikal berjumlah 10
sampai 15 tungau. Pada Skabies Norwegia, tungau dapat ditemukan pada lesi
dengan risiko penularan yang besar.6 (Gambar 4.)

Gambar 4. Crusted Scabies1

2.4 Pemeriksaan Penunjang

6
Diagnosis skabies dapat ditegakkan dengan ditemukannya tungau pada
pemeriksaan mikroskop. Pemeriksaan kerokan kulit dilakukan pada papul eritem,
pustul, vesikel, dan nodul atau papul di ujung terowongan. Kerokan kulit
kemudian ditetesi larutan KOH 10%, hasil kerokan tersebut diamati dengan
mikroskop dengan perbesaran 10-40 kali. Cara lain adalah dengan meneteskan
minyak immersi pada lesi, dan epidermis diatasnya dikerok secara perlahan-lahan
kemudian ditutup dengan gelas objek. Pemeriksaan dengan menggunakan
mikroskop dlakukan dengan pembesaran 10x atau 40x dapat dilihat tungau, telur
atau fecal pellet (Gambar. 5).6

A A B C

Gambar 5. Pemeriksaan mikroskopis pada kerokan kulit


dengan tetesan KOH 10%. Tampak (A) tungau. (B) Telur tungau. (C) Scybala (fecal pellet). 15

Pemeriksaan lain dapat dilakukan dengan menggunakan larutan tetrasiklin.


Larutan tetrasiklin dioleskan pada terowongan yang teridentifikasi. Setelah itu,
larutan dibiarkan mengering selama 5 menit. Larutan dibersihkan dengan
isopropialkohol atau menggunakan air mengalir. Tetrasiklin yang dioleskan akan
berpenetrasi ke dalam melalui stratum korneum dan terowongan akan tampak
dengan penyinaran lampu wood, sebagai garis linier berwarna kuning kehijauan
sehingga tungau dapat ditemukan.7
Metode sederhana lain yang bisa diterapkan untuk menemukan
terowongan skabies adalah dengan tes tinta burrow (Gambar. 6). Papul skabies
dilapisi tinta pena, kemudian segera dihapus dengan alkohol, maka jejak
terowongan akan terlihat sebagai garis yang karakteristik, berbelok-belok, dan
lebih gelap dari kulit sebelahnya karena akumuluasi tinta di terowongan.4,5

7
Gambar 6. Tes tinta burrow menunjukkan terowongan skabies. Tes ini berguna ketika
pemeriksaan penunjang lain tidak tersedia.5

Pemeriksaan lain adalah dengan cara berusaha mengambil tungau dengan


jarum. Jarum dimasukkan ke dalam papul di ujung terowongan dan digerakkan
tangensial dan dilihat dengan kaca pembesar. Tungau akan memegang ujung
jarum dan dapat diangkat keluar.4
Metoda diagnostik lain mencakup biopsi plong (punch biopsy) dan
dermoskopi yang digunakan untuk memeriksa tungau secara in vivo.1 Pada situasi
diagnostik yang sulit dan pada kasus-kasus atipik, polymerase chain reaction
(PCR) dapat digunakan sebagai alat diagnostik, dengan cara mendeteksi DNA
tungau dari crusted scabies.1

2.5 Diagnosis
Penegakan diagnosis skabies dilakukan dengan melihat tanda kardinal
skabies. Tanda kardinal antara lain pruritus nokturnal, menyerang secara
7
berkelompok, ada terowongan dan ditemukan tungau. Pruritus nokturnal yaitu
rasa gatal timbul dominan pada malam hari. Hal ini disebabkan oleh aktivitas
tungau yang lebih tinggi pada suhu yang lembab dan panas. 7
Penyakit ini menyerang manusia secara kelompok, sebagai contoh dalam
satu keluarga bisa saja semua anggota keluarga menderita skabies. Begitu pula

8
dalam sebuah perkampungan yang padat penduduk, sebagian besar warga yang
tinggal berdekatan dapat diserang oleh tungau Sarcoptes scabiei. Seluruh anggota
keluarga yang terinfeksi dikenal dengan keadaan hiposensitisasi. Yakni
mengalami infestasi tungau namun tidak memberikan gejala. Pasien bersifat
sebagai pembawa (carrier). 7
Terowongan (kunikulus) pada tempat predileksi berwarna putih atau
keabuan, berbentuk garis lurus atau berkelok, rerata panjang 1 cm, pada ujung
terowongan ditemukan papul dan vesikel. Jika timbul infeksi sekunder ruam kulit
menjadi polimorf (pustul, ekskoriasi dan lain-lain). Tempat predileksi merupakan
tempat dengan stratum korneum tipis, yaitu sela jari tangan, pergelangan tangan
bagian polar, siku bagian luar, lipatan ketiak bagian depan, aerola mammae
(perempuan), umbilikus, bokong, genitalia eksterna (pria) dan perut bagian
7
bawah. Pada bayi dapat mengenai telapak tangan dan telapak kaki. Tanda
diagnosis paling utama adalah dengan menemukan tungau. Diagnosis dapat dibuat
dengan menemukan 2 dari 4 tanda cardinal diatas. 7

2.6 Diagnosis Banding


Beberapa penyakit yang secara klinis menyerupai skabies antara lain
prurigo, dermatitis atopik, folikulitis dan insect bite.7 Prurigo dapat disebabkan
gigitan serangga, suhu atau infestasi parasit dengan predileksi di ekstremitas
bagian ekstensor dan simetrik, meluas ke bokong, perut dan wajah. Gejala klinis
berupa gatal, disertai lesi miliar sewarna kulit, berbentuk kubah, lebih mudah
diraba daripada dilihat. Gatal akan menimbulkan lesi-lesi sekunder akibat garukan
seperti erosi, ekskoriasi, krusta, hiperpigmentasi dan likenifikasi. Perbedaaan
dengan skabies adalah pada pemeriksaan penunjang tidak ditemukan tungau atau
terowongan yang terlihat lebih gelap dari kulit sebelahnya padates tinta burrow.7
Dermatitis atopik berupa gatal dengan bercak eritem berbatas tegas, edem,
papulovesikel, vesikel, atau bula pada tangan, lengan, wajah, telinga, leher, badan,
genitalia, paha dan tungkai bawah. Vesikel atau bula dapat pecah menimbulkan
erosi dan eksudasi. Diagnosis ditegakkan dengan minimal 3 mayor dan 3 minor
kriteria Harifin dan Radjka.1
Folikulitis adalah peradangan pada folikel rambut. Lesi berupa papul atau
pustul eritematosa, ditengahnya terdapat rambut, biasanya multipel. Predileksi di

9
tungkai bawah. Folikulitis disebabkan infeksi Staphylococcus aureus,
pemeriksaan penunjang dengan pulasan Gram didapatkan Gram positif berwarna
ungu.1,6
Insect Bite atau gigitan serangga adalah kelainan kulit yang timbul akibat
gigitan atau tusukan serangga yang disebabkan reaksi terhadap toksin atau alergen
yang dikeluarkan serangga. Reaksi akibat gigitan serangga akan menimbulkan
gejala klinis yang berbeda tiap individu tergantung jenis spesies serangga. Reaksi
yang timbul dapat berupa lokal atau generalisata. Lesi terbatas pada gigitan atau
tusukan serangga berupa papul urtikaria disertai gatal, vesikel atau bula hingga
pembengkakan wajah dan syok anafilaktik.6

2.7 Tatalaksana
Dalam melakukan tatalaksana pada skabies diperlukan komunikasi,
informasi dan edukasi pada pasien dan keluarga pasien.
Non farmakologi
Untuk penatalaksanaan umum, menjadi penting untuk diberitahukan kepada
pasien bahwa penyakit ini merupakan suatu penyakit yang sangat menular.
Perlunya dilakukan edukasi pada pasien tentang penyakit skabies, perjalanan
penyakit, penularan, cara eradikasi tungau skabies, menjaga higeni pribadi, dan
tata cara pengolesan obat. Rasa gatal terkadang tetap berlangsung walaupun kulit
sudah bersih. Pengobatan dilakukan pada orang serumah dan orang dsekitar
pasien yang berhubungan erat.7
Obat topikal sebaiknya digunakan setelah mandi karena hidrasi kulit yang
baik akan meningkatkan absorpsi dan efektifitas obat. Pakaian, sprei, handuk dan
alat tidur lain hendaknya dicuci dengan air panas, atau dimasukkan dalam kantong
plastik dan dibiarkan selama 1 minggu.2

Farmakologi
Terapi Topikal
Terapi topikal yang sering digunakan untuk skabies antara lain belerang
endap (sulfur prespitatium), emulsi benzl-benzoas (20-25%), gama benzena heksa
klorida (gammexane), krotamiton 10% dan Permetrin 5%.

10
a. Belerang endap (sulfur prepitatum) dengan kadar 4-20% dalam bentuk salap
atau krim. Preparat ini karena tidak efektif terhadap stadium telur, maka
penggunaan dilakukan selama 3 hari berturut-turut. Kekurangan yang lain
ialah berbau dan mengotori pakaian serta kadang-kadang menimbulkan
iritasi. Dapat dipakai pada bayi berumur kurang dari 2 tahun.
b. Emulsi benzil-benzoas (20-25%), efektif terhadap semua stadium, diberikan
setiap malam selama 3 hari. Obat ini sulit diperoleh, sering memberi iritasi,
dan kadang-kadang makin gatal dan panas setelah dipakai.
c. Gama benzena heksa klorida (gameksan = gammexane) kadarnya 1% dalam
krim atau losio, termasuk obat pilihan karena efektif terhadap semua stadium,
mudah digunakan, dan jarang memberi iritasi. Obat ini tidak dianjurkan pada
anak dibawah 6 tahun dan ibu hamil karena toksis terhadap susunan saraf
pusat. Pemberian cukup sekali, kecuali jika masih ada gejala, diulangi
seminggu kemudian
d. Krotamiton 10% dalam krim atau losio juga merupakan obat pilihan,
mempunyai dua efek sebagai antiskabies dan antigatal, harus dijauhkan dari
mata, mulut dan uretra.
e. Permetrin dengan ladar 5% dalam krim, efektivitas sama, aplikasi hanya
sekali, dan dibersihkan dengan mandi setelah 8-10 jam. Pengobatan diulangi
setelah seminggu. Tidak dianjrukan paa bayi dibawah umur 2 bulan

2.8 Komplikasi
Infeksi sekunder bakteri seperti Staphylococcus aureus merupakan
komplikasi tersering yang ditimbulkan skabies. Infeksi tersebut dapat terjadi
karena luka akibat garukan lesi. Infeksi Staphylococcus aureus yang timbul akan
menyebabkan komplikasi ikutan seperti glomerulonefritis. Pada beberapa jurnal
dan literatur melaporkan Glomerulonephritis akut paska Steptokokus lebih banyak
terjadi akibat infeksi kulit skabies dibandingkan faringitis.2,3

11
BAB III
STATUS PASIEN

3.1. Identifikasi
Nama : An. T
Umur : 16 tahun
Tempat Tanggal Lahir : Palembang, 31 Mei 2005
Status : Belum menikah
Agama : Islam
Bangsa : Indonesia
Alamat : kertapati
Pekerjaan : siswa
Pendidikan Terakhir : SMP
Tanggal Pemeriksaan : 08-05-2021

3.2. Anamnesis
( alloanamnesispasien pada tanggal 08 mei 2021, pukul 09.00)

Keluhan utama:
Timbul Bintil-bintil merah pada hampir seluruh tubuh ± 1 bulan yang lalu.

Keluhan tambahan:
Rasa gatal pada bintil kemerahan yang sangat gatal pada malam hari.

Riwayat perjalanan penyakit :


Sejak kurang lebih 1 bulan yang lalu pasien mengatakan timbul bintil-
bintil merah pada pada selah jari kiri dan kanan. Awalnya pasien
mengatakan ia tinggal di pesantren, Pasien mengatakan jumlah bintil sedikit
dan terasa gatal. Bintil berisi cairan bening.
Menurut pasien ia sering merasakan gatal pada saat malam hari dan
juga dirasakan saat berkeringat. Saat gatal, ia akan menggaut bintil, apabila
digaruk akan pecah dan mengeluarkan cairan. Sehingga pasien sulit tidur.

12
Tidak ada riwayat di gigit serangga sebelumnya. Bintil merah terasa gatal
setelah mengkonsumsi makanan atau obat-obat tertentu disangkal. Sesak
nafas disertai mengik atau sering bersin pada pagi hari disangkal. Pasien
belum berobat ke dokter, ketika itu keluhan gatal semakin hari dirasakan
semakin meningkat.
Menurut pasien keluhan seperti ini diderita oleh teman satu pesantren,
Pasien mengatakan ia tidur bersama di kasur yang sama dengan teman yang
lain. Riwayat adanya penyakit kulit sebelumya disangkal, Riwayat
hubungan kontak kulit dengan penyakit yang sama sebelumnya ada.
Riwayat adanya penyakit kulit dalam keluarga juga disangkal .
3 minggu yang lalu keluhan pasien muncul lagi, gatal dan bintil-bintil
dirasakan semakin meningkat dibandingkan sebelumnya. Bintil-bintil timbul
di sekitar kaki, paha, lutut, dan selangkangan. Pasien mengaku bintil-bintil
lebih banyak di daerah alat kelamin dan disertai rasa gatal yang meningkat.
1 minggu yang lalu keluhan bertambah parah. Binti-bintil semakin
meluas dan terdapat koreng akibat digaruk pasien. Lalu pada tanggal 08 mei
2021 pasien berobat ke poli kulit kelamin RSUD Palembang Bari.
Riwayat penyakit dahulu
 Keluhan timbul bintil merah pada paha, kelamin, sela jari tangan dan
bokong sebelumnya tidak ada
 Bintil merah terasa gatal setelah konsumsi makanan dan obat-obatan
tertentu disangkal.
 Sesak nafas disertai mengik dan sering bersin pagi hari sebelumnya
disangkal.
 Digigit serangga sebelum timbul bintil merah sebelumnya disangkal.
 Riwayat Penyakit kulit sebelumnya tidak ada

Riwayat Penyakit Keluarga


 Riwayat sakit kulit tidak ada
 Keluarga tidak ada yang menderita penyakit yang sama

Riwayat Higienitas dan Kebiasaan

13
 Pasien tidur bersama orang-orang di pesantren
 Pasien mandi 2 kali sehari dengan menggunakan air PDAM dan sabun
 Sarung kasur dan bantal diganti 1 bulan sekali
Kesan: Higienitas kurang baik.

3.3. Pemeriksaan Fisik (tanggal 08 mei 2021 pukul 09.00 WIB)


Pemeriksaan Fisik
A. Status Generalis
Keadaan Umum : Baik
Kesadaran : Compos Mentis
Nadi : 85 x/menit
Pernapasan : 20 x/menit
Suhu : 36,6oC
Berat badan : 25 kg
TB : 108 cm

B. Status Generalisata
Keadaan Spesifik
Kepala
- Mata : Konjungtiva anemis (-/-), Sklera Ikterik (-/-)
- Hidung : sekret (-/-)
- Telinga : sekret (-/-)
Leher
Tidak dilakukan Pemeriksaan
Thorax
Pulmo
Inspeksi : simetris kanan=kiri, retraksi sela iga (-)
Palpasi : stem fremitus kanan=kiri
Perkusi : sonor kedua lapang paru
Auskultasi : vesikuler (+/+) normal wheezing (-/-), ronkhi (-/-)
Cor
Inspeksi : iktus kordis tidak tampak

14
Palpasi : teraba iktus kordis ICS IV linea aksilaris anterior sinistra
Perkusi : batas jantung paru normal
Auskultasi : S1/S2 normal, gallop (-), murmur (-)
Ekstremitas Superior : tidak ada kelainan fungsi pergerakan maupun
deformitas
Ekstremitas Inferior : tidak ada kelainan fungsi pergerakan maupun
deformitas

3.4. Status dermatologikus

Papul

pustul

Erosi

Gambar 1. Regio dorsum manus sinistra


Regio dorsum manus sinistra, terdapat papul, multiple, ukuran miliar,
bentuk irreguler, penyebran diskret. Tampak pustul, multiple, ukuran
miliar, bentuk irreguler dan erosi disertai krusta berwarna kekunigan.

15
makula
hiperpigmentasi

krusta

pustul eritematosa

Gambar 2. Regio genital dan ingiunal


Regio genital dan inguinal tampak makula hiperpigmentasi, multiple,
bentuk irreguler, penyebaran diskret sebagian disertai krusta berwanah
coklat, kemudian terdapat pustul eritematosa, multiple, bentuk bulat,
miliar, penyebaran diskret.

krusta

krusta

Gambar 3. Regio femoral bilateral


Regio femoralis bilateral tampak krusta , multiple, ukuran miliar, bentuk
irreguler, penyebaran diskret. disertai makula eritema.

16
Pustul Dan Krusta

Makula
eritema

Gambar 4. Regio genus dan cruris


Pada Regio genus dan cruris sinistra tampak pustul, multipel, ukuran
miliar, bentuk irreguler, penyebaran diskret dengan krusta berwarna
kekuningan dan makula eritema diserati erosi sebagian.

Pustule eritematosa

Makula
hiperpigmentasi

krusta

Gambar 5. Regio tibia bilateral dan pedis bilateral


Pada Regio tibia bilateral dan pedis bilateral tampak macula hiperpigmentasi ,
multipel, ukuran miliar, bentuk irreguler, penyebaran diskret sebagian konvluens,
terdapat pustule eritematosa multiple, ukuran miliar, bentuk ireguler, penyebaran
diskret. Dan terdapat krusta berwarna kecoklatan, bentuk ireguler ukuran
lentikuler.

17
3.5. Diagnosis Banding
1. Skabies
2. Prurigo hebra
3. Dermatitis atopik

3.6. Diagnosis Kerja


Skabies

3.7. Penatalaksanaan
Non Farmakologi
 Menjelaskan kepada pasien bahwa penyakit disebabkan oleh infeksi
tungau.
 Menjelaskan tentang cara penularan penyakit melalui kontak personal
langsung dari kulit ke kulit atau melalui kontak tidak langsung, seperti
pakaian, handuk, sprei, bantal.
 Menjelaskan kepada pasien untuk merendam pakaian di air panas agar
tungaunya mati, jemur di tempat panas dan setrika pakaian.
 Menjelaskan cara mencegah penualaran penyakit, yaitu pakaian,
handuk, sprei, bantal perlu dicuci dengan air panas.
 Menjelaskan bahwa seluruh individu yang berkontak dengan pasien
harus diberikan terapi yang sama walaupun gejalanya belum ada.

Farmakologi
Topikal : Krim Permethrin 5% dioleskan mulai leher kebawah/ pada lesi dan
dibiarkan selama 8 jam lalu di bilas (ulangi dalam 7 hari)
Sistemik : Cetrizine 1x1 mg/hari

18
3.8. Pemeriksaan Penunjang
Cara menemukan tungau
1. Carilah mula-mula terowongan kemudian pada ujung yang terlihat papul
atau vesikel dicongkel jarum dan diletakkan di atas sebuah objek, lalu
ditutup dengan kaca penutup dan dilihat dengan mikroskop cahaya
2. Dengan cara menyikat dengan sikat dan ditampung diatas selembar kertas
putih dan dilihat dengan kaca pembesar.
3. Dengan membuat biopsi irisan
4. Dengan biopsi eksisional dan diperiksa dengan pewarnaan hematoksilin eosin
(H.E)

3.9. Prognosis
Quo ad vitam : Bonam
Quo ad fungtionam : Bonam
Quo ad sanationam : Dubia ad bonam

19
BAB IV
ANALISIS KASUS

Diagnosa pada kasus ini ditegakkan berdasarkan anamnesis, gejala klinik


dan pemeriksaan fisik yang telah dilakukan.
Pada Kasus ini diketahui An. T berjenis kelamin laki-laki berusia 16 tahun,
dan pernah tinggal di pesantren. Berdasarkan teori Secara epidemiologi banyak
menyerang anak-anak, walaupun orang dewasa dapat pula terkena. Berdasarkan
jenis kelamin Frekuensi yang sama pada pria dan wanita . Banyak faktor yang
menunjang perkembangan penyakit ini, antara lain sosial ekonomi yang rendah,
higiene yang buruk, hubungan seksual bersifat promiskuitas kesalahan diagnosis,
dan perkembangan dermografi serta ekologik.7
Dari anamnesis pasien mengatakan sejak kurang lebih 1 bulan yang lalu
pasien mengatakan timbul bintil-bintil merah pada pada selah jari kiri dan kanan.
Awalnya pasien mengatakan ia tinggal di pesantren, Pasien mengatakan jumlah
bintil sedikit dan terasa gatal. Bintil berisi cairan bening.
Berdasarkan teori gambaran klinis skabies berupa papul eritema berukuran
1-2mm, dan adanya kanalikuli (terowongan) yang menandai perjalanan tungau.7
Kemudian bintil muncul pada kaki kiri, paha, selangkangan, pinggang, disela-sela
jari tangan kiri, dan disiku depan tangan kanan.
Berdasarkan teori hal ini sesuai dengan salah satu manifesitasi dari skabies
dimana tempat predileksinya biasanya merupakan tempat dengan stratum
korneum yang tipis, yaitu di sela-sela jari tangan, pergelangan tangan, siku bagian
luar, ketiak, dan pusat.7
Dari anamnesis didapatkan bawah bintil terasa gatal terutama pada malam
hari dan ketika berkeringat. Berdasarkan teori hal ini sesuai manifestasi klinis dari
scabies yakni gejala pruritus nokturna yaitu gatal pada malam hari yang
disebabkan oleh aktivitas tungau lebih tinggi pada suhu yang lebih lembab dan
panas.7
Dari anamnesis juga didapatkan keluhan seperti itu diderita oleh teman satu
pesantren, berdasarkan teori hal ini merupakan salah satu manifestasi klinis dari

20
scabies oleh tungau Sarcoptes scabiei yakni dapat menyerang sekelompok
manusia, misalnya sebuah keluarga, sehingga seluruh anggota keluarga terkena
infeksi begitu juga di asarma maupun di pondokan dan hal ini termasuk dari tanda
cardinal sign untuk dapat menegakkan diagnosis scabies.7
Pasien mengatakan ia tidur bersama di kasur yang sama dengan teman yang
lain. Serta riwayat hubungan kontak kulit dengan penyakit yang sama sebelumnya
ada. Berdasarkan teori Hal ini bermakna terjadi penularan secara secara langsung
maupun tak langsung. Berdasarkan teori menyatakan bahwa cara penularan
(tranmisi) skabies itu dibagi 2 yakni kontak langsung ( kontak kulit dengan kulit,
misalnya berjabat tangan, tidur bersama dan hubungan seksual) dan kontak tidak
langsung ( melalui benda) misalnya pakaian, handuk, sprei, bantal dan lain-lain.7
Dari pemeriksaan fisik didapatkan Pada regio dorsum manus sinistra, regio
genital dan ingiunal, regio femoral bilateral, regio genus dan cruris, regio tibia
bilateral dan pedis bilateral terdapat papul, pustul, disertai krusta berwarna
kekunigan, makula hiperpigmentasi
Hal ini sesuai dengan teori yakni pada daerah predeleksi ditemukan papul
eritema, karena gatal hebat pasien menggaruk dengan kuat menimbulkan erosi,
eksoriasi, skuama dan krusta. Terowongan biasanya sulit ditemukan, karena gatal
pasien akan menggaruk dan terowongan (kunikulus) akan sukar terlihat.
Terowongan berwarna putih abu-abu, tipis dan kecil seperti benang dengan
struktur linear atau berkelok-kelok kurang lebih 1-10 mm yang merupakan hasil
dari pergerakan tungau di dalam stratum korneum. Di ujung terowongan dapat
ditemukan vesikel atau papul kecil.7

Tabel 4.1 Anamnesis secara teori dan kasus


Teori Kasus
Epidemiologi  Banyak menyerang anak-  Pada Kasus ini diketahui An. T
anak, walaupun orang berjenis kelamin laki-laki
dewasa dapat pula terkena. berusia 16 tahun, dan pernah
 Berdasarkan jenis kelamin tinggal di pesantren.
Frekuensi yang sama pada
pria dan wanita.
 Banyak faktor yang

21
menunjang perkembangan
penyakit ini, antara lain
sosial ekonomi yang
rendah, higiene yang buruk,
hubungan seksual bersifat
promiskuitas kesalahan
diagnosis, dan
perkembangan dermografi
serta ekologik.
Anamnesis  Gambaran klinis skabies  Timbul bintil-bintil merah pada
berupa papul eritema pada selah jari kiri dan kanan.
berukuran 1-2mm, , dan  Pasien mengatakan jumlah
kanalikuli (terowongan) bintil sedikit dan terasa gatal.
yang menandai perjalanan Bintil berisi cairan bening.
tungau.  Bintil terasa gatal terutama pada
 Manifestasi klinis dari malam hari dan ketika
scabies yakni gejala pruritus berkeringat.
nokturna yaitu gatal pada  Keluhan seperti itu diderita oleh
malam hari yang teman satu pesantren.
disebabkan oleh aktivitas  An. T tidur bersama di kasur
tungau lebih tinggi pada yang sama dengan teman yang
suhu yang lebih lembab dan lain.
7
panas.  Serta riwayat hubungan kontak
 Tungau Sarcoptes scabiei kulit dengan penyakit yang
yakni dapat menyerang sama sebelumnya ada.
sekelompok manusia,
misalnya sebuah keluarga,
sehingga seluruh anggota
keluarga terkena infeksi
begitu juga di asarma
maupun di pondokan
 Berdasarkan teori cara
penularan (tranmisi) skabies
itu dibagi 2 yakni kontak
langsung (kontak kulit
dengan kulit, misalnya

22
berjabat tangan, tidur
bersama dan hubungan
seksual) dan kontak tidak
langsung ( melalui benda)
misalnya pakaian, handuk,
sprei, bantal dan lain-lain.7

Predileksi  salah satu manifesitasi dari  Bintil muncul pada disela-sela


skabies dimana tempat jari tangan kiri dan kanan, kaki,
predileksinya biasanya paha, lutut, dan selangkangan.
merupakan tempat dengan
stratum korneum yang
tipis, yaitu di sela-sela jari
tangan, pergelangan tangan,
siku bagian luar, ketiak, dan
pusat.

Berdasarkan hasil anamnesis dan pemeriksaan fisik tersebut dapat kita


pikirkan tiga diagnosis banding yaitu Skabies, Prurigo hebra dan Dermatitis
atopik
Diagnosis banding dapat ditinjau dari epidemiologi, gejala klinis, daerah
predeleksi, dan efloresensinya. Dilihat secara epidemiologi An. T berusia 16
tahun, dan berjenis kelamin laki-laki serta mempunyai riwayat tinggal di
pesantren dengan keadaan higenitas yang kurang bersih. Berdasarkan teori
epidemiologi banyak menyerang anak-anak, walaupun orang dewasa dapat pula
terkena. Berdasarkan jenis kelamin Frekuensi yang sama pada pria dan wanita.
Banyak faktor yang menunjang penyakit ini, antara lain sosial ekonomi yang
rendah, higenitas yang buruk, dan hubungan seksual bersifat promiskuitas. Serta
penyakit ini menyerang sekelompok manusia, baik keluarga, pondok, pesantren
ataupun asrama.7 Untuk insiden Prurigo hebra secara epidemiologi sering terdapat
pada keadaan sosial-ekonomi dan higenitas yang rendah. Dijakarta penderita
perempuan lebih banyak dari pada laki-laki. Umumnya terdapat pada anak-anak.7
Sedangkan epidemiologi dermatitis atopik sulit memperoleh data akurat mengenai
epidemiologi diindonesia, namun berdasarkan data kunjungan pasien baru di

23
Divisi Kulit, Poliklinik Departemen IK dan Kelamin, RSCM pada periode 2005-
2007 dermatitis atopik lebih banyak diderita pada kelompok usia 0-14 tahun.
Dari anamnesis timbul bintil-bintil merah pada pada selah jari kiri dan
kanan. Awalnya pasien mengatakan ia tinggal di pesantren, Pasien mengatakan
jumlah bintil sedikit dan terasa gatal. Bintil berisi cairan bening.
Sering merasakan gatal pada saat malam hari dan juga dirasakan saat
berkeringat. Saat gatal, ia akan menggaut bintil, apabila digaruk akan pecah dan
mengeluarkan cairan. Sehingga pasien sulit tidur. Tidak ada riwayat di gigit
serangga sebelumnya. Bintil merah terasa gatal setelah mengkonsumsi makanan
atau obat-obat tertentu disangkal. Sesak nafas disertai mengik atau sering bersin
pada pagi hari disangkal. Pasien belum berobat ke dokter, ketika itu keluhan gatal
semakin hari dirasakan semakin meningkat.
Menurut pasien keluhan seperti ini diderita oleh teman satu pesantren,
Pasien mengatakan ia tidur bersama di kasur yang sama dengan teman yang lain.
Riwayat adanya penyakit kulit sebelumya disangkal, Riwayat hubungan kontak
kulit dengan penyakit yang sama sebelumnya ada. Riwayat adanya penyakit kulit
dalam keluarga juga disangkal .
3 minggu yang lalu keluhan pasien muncul lagi, gatal dan bintil-bintil
dirasakan semakin meningkat dibandingkan sebelumnya. Bintil-bintil timbul di
sekitar kaki, paha, lutut, dan selangkangan. Pasien mengaku bintil-bintil lebih
banyak di daerah alat kelamin dan disertai rasa gatal yang meningkat. 1 minggu
yang lalu keluhan bertambah parah. Binti-bintil semakin meluas dan terdapat
koreng akibat digaruk pasien.
Berdasarkan teori lesi pada skabies berupa papul eritema, adanya
kanalikuli (terowongan) yang menandai perjalanan tungau. Diujung terowongan
ditemukannya papul atau vesikel, jika timbul infeksi sekunder ruam kulit menjadi
polimorf (pustul, eksoriasi dan lain-lain) disertai dengan rasa gatal yang
meningkat terutama pada malam hari dan pada saat berkeringat. Tempat
predeleksi skabies pada startum korneum yang tipis, seperti sela-sela jari tangan,
pergelangan tangan, bagian volar, siku bagian luar, lipat ketiak bagian depan,
aerola mamae (perempuan), umbilikus, bokong, dan didaerah selangkangan dan
genetilia. Cara Penyebaran Skabies bisa melalui kontak langsung maupun tak

24
langsung7 Sedangkan pada prurigo lesi berbentuk papul-papul miliar tidak
berwarna, berbentuk kubah, lebih mudah diraba dari pada dilihat. Rasa gatal yang
terus menerus akan menimbulkan erosi, eksoriasi, krusta, hiperpigmentasi, serta
likenifikasi7. Tempat predilkesinya di ektremitas bagian ektensor dan simetrik,
dapat pula meluas ke bokong dan perut, wajah dan dapat pula meluas ke
ektremitas bagian bawah. Serta penyebarannya melalui gigitan serangga. Pada
dermatitis atopik peradangan kulit berupa dermatitis yang kronis residif, diserati
rasa gatal yang hebat. Sedangkan untuk dermatitis atopik penyebabnya merupakan
hasil interaksi berbagai faktor internal dan ekternal berupa perubahan pada siste
imun, genetik, dan faktor psikologis. Pada dermatitis atopik terjadi perubahan
kulit menjadi kering dan bersisik.1 Dasar penyakit adalah faktor herediter yang
oleh faktor luar menimbulkan kelainan kulit dimulai dengan eritema, papula-
papula, vesikel sampai erosi dan likenifikasi. Penderita tampak gelisah, gatal dan
sakit berat. 4
Dari anamnesis juga didapatkan An. T mengatakan tidak ada riwayat di
gigit serangga sebelumnya. Hal ini dapat menyingkirkan diagnosis dari prurigo,
Berdasarkan teori menyatakan bahwa etiologi dari prurigo secara pasti belum
dapat diketahui. Pada umumnya terdapat anggota keluarga yang menderita
penyakit ini, sehingga penyakit ini dianggap herediter, sebagian para ahli
mengatakan bahwa kulit penderita prurigo peka terhadap gigitan serangga
misalnya nyamuk. Hal ini disebabkan adanya toksin atau antigen dalam ludah
serangga yang dapat menyebabkan timbulnya gatal.7
Bintil merah terasa gatal setelah mengkonsumsi makanan atau obat-obat
tertentu disangkal serta sesak nafas disertai mengik atau sering bersin pada pagi
hari disangkal. Riwayat asma pada keluarga disangkal. Hal ini juga dapat
menyingkirkan diagnosis dari dermatitis atopik, berdasarkan teori timbulnya
inflamasi dan rasa gatal merupakan interaksi berbagai faktor internal dan ekternal.
Faktor internal adalah fakotr predesposisi genetik (melibatkan banyak gen) yang
menghasilkan disfungsi sawar kulit serta perubahan pada sistem imun, khususnya
hipersenstivitas terhadap berbagai alergen dan antigen mikroba yang merupakan
salah satu faktor resiko dari dermatitis atopik 7 serta tidak ditemukannya 3 kriteria

25
mayor maupun minor dari hanifin-rajka yang digunakan untuk dapat menegakkan
diagnosis Dermatiti atopik.

Tabel 4.2 Diagnosis banding

Kasus Skabies Prurigo Hebra Dermatitis Atopik


Definisi  Skabies adalah  Penyakit Peradangan kulit
penyakit kulit yang kulit kronik yang disertai dengan
disebabkan oleh yang rasa gatal
infestasi dan dimulai
sensitisasi sejak bayi
terhadap scabies dan anak-
var. Hominis dan anak
produknya.
Anamnesis  Mengeluh gatal  Gatal terutama  Gatal Terjadi pada orang
pada malam pada malam hari terutama yang memiliki
hari dan jika disebabkan karena terjadi pada riwayat atopi seperti
berkeringat aktivitas tungau anak-anak, rhinitis alergi
 Keluhan seperti lebih aktif pada yang
itu diderita oleh malam hari didahului
teman satu terutama pada oleh
pesantren. suhu yang lembab serangga
 An. T tidur dan panas
bersama di  Dan menyerang
kasur yang sekelompok
sama dengan manusia, Keluarga
teman yang Pondok Pesantren
lain.
 Serta riwayat
hubungan
kontak kulit
dengan penyakit
yang sama
sebelumnya
ada.
Lokasi  Dimulai dari  Bertempat di  Daerah dibagian tubuh

26
selah-selah jari stratum Korenum yang tidak tertentu terutama
tangan kanan yang tipis yaitu di terutup dibagian fleksural
dan kiri, ke sela-selajari pakaian ektremitas dan pada
daerah tangan,pergelangn dan di wajah,
selangkangan tangan,siku bagian bagian
dan alat luar, ketiak, dan ektremitas
kelamin lalu pusat. bawah.
kepaha, lutut,
betis dan kaki
Efloresensi  Terdapat  Papul, vesikel  Terdiri dari Makula, papul,
makula eritem, miliar sampai papul- eritematosa,
papul, skuama lentikular disertai papul hiperpigmentosa,
dan krusta erosi,eksoriasi miliar yang skuama halus
berwarna  Serta lesi yang berbentuk
kecoklatan khas adalah kubah dan
terowongan infiltrasi
(kanalikulus) sel ringan
miliar, tampak disekitar
berasal dari salah papul
satu papul atau
vesikel, panjang
kira-kira 1cm

Berdasarkan teori, anamnesis dan pemeriksaan fisik tersebut maka


diagnosis pada kasus ini lebih mendekati skabies dibandingkan prurigo hebra dan
dermatitis atopik. Namun perlu dilakukan pemeriksaan penunjang, pemeriksaan
yang dianjurkan pada kasus ini yakni :
Cara menemukan tungau
1. Carilah mula-mula terowongan kemudian pada ujung yang terlihat papul
atau vesikel dicongkel jarum dan diletakkan di atas sebuah objek, lalu
ditutup dengan kaca penutup dan dilihat dengan mikroskop cahay a
2. Dengan cara menyikat dengan sikat dan ditampung diatas selembar kertas
putih dan dilihat dengan kaca pembesar.
3. Dengan membuat biopsi irisan

27
4. Dengan biopsi eksisional dan diperiksa dengan pewarnaan hematoksilin eosin
(H.E).7
Untuk menegakan diagnosis kerja skabies sendiri diperlukan 2 dari 4 tanda
kardinal yaitu pruritus nokturna, menyerang sekelompok orang, ditemukannya
terowongan dan ditermukannya tungau. Pada kasus ini ditemukan 2 tanda cardinal
sign yakni adanya pruritus nokturna dan terjadi pada sekelompok sehingga dapat
ditegakkan diagnosis scabies.

Penatalaksaan dalam kasus ini berupa:


A. Non Farmakologi
Sesuai teori penatalaksanaan kasus skabies biasanya diberikan
penatalaksanaan non medika mentosa berupa edukasi yakni
1. Menjelaskan kepada pasien bahwa penyakit disebabkan oleh infeksi tungau.
2. Menjelaskan tentang cara penularan penyakit melalui kontak personal
langsung dari kulit ke kulit atau melalui kontak tidak langsung, seperti
pakaian, handuk, sprei, bantal.
3. Menjelaskan kepada pasien untuk merendam pakaian di air panas agar
tungaunya mati, jemur di tempat panas dan setrika pakaian.
4. Menjelaskan cara mencegah penualaran penyakit, yaitu pakaian, handuk,
sprei, bantal perlu dicuci setiap 5 hari sekali dengan air panas.
5. Menjelaskan bahwa seluruh individu yang berkontak dengan pasien harus
diberikan terapi yang sama walaupun gejalanya belum ada.
6. Serta, menyarakan bila terasa gatal sebaiknya jangan menggaruk terlalu keras
karena dapat menyebabkan luka dan infeksi sekunder.

B. Farmakologi
Untuk pengobatan medikamentosa yang sesuai dengan teori yaitu
diberikan berupa obat topika untuk membasmi skabies, yaitu belerang endap atau
sulfur presitatum dengan kadar 4-20%, emulsi benzil benzoat 20-25%, gama
benzena heksa klorida atau gameksan 1%, krotamiton 10% dan permetrin 5%
dalam krim.

28
Dari kelima obat tersebut, dipilih obat yang sesuai dengan syarat obat
skabies yaitu efektif terhadap semua stadium tungau, tidak menimbulkan iritasi
dan tidak toksik, tidak berbau atau kotor serta tidak merusak pakaian dan mudah
diperoleh serta harganya yang murah. Obat tersebut adalah permetrin 5% dalam
krim, dosis tunggal yaitu oleskan dikulit dari leher hingga kelseluruh tubuh pada
malam hari karena obat ini kurang toksik jika dibandingkan gameksan dan obat
lainnya, efektifitasnya sama. Aplikasi hanya sekali dan dihapus setelah 8-12jam
dioleskan sebelum tidur kemudian dibilas keesokan harinya lalu oleskan satu kali
seminggu. Pengobatan skabies dilakukan pada malam hari karena aktivitas tungau
penyebab skabies ini meningkat pada suhu yang lembab dan panas yaitu pada
malam hari.

Untuk menghitung jumlah permetrin yang diberikan dapat mengukur


dengan pengkuruan ‘finger tape unit’. Dimana ukuran pada orang dewasa laki-
laki yakni 1 FTU = 0,5 gr. Untuk krim permetrin 5% yang tersedia dipasaran
adalah sebanyak 30 gram, menandakan krim tersebut dapat digunakan kembali
pada minggu kedua apabila keluhan yang diderita belum membaik.

29
Pada kasus ini diketahui umur An. T 16 tahun, dengan predileksi pemberian
krim prermetrin yaitu dari kedia tangan, perut, kedua tungkai kaki dan kedua kaki
( kedua tangan : 2 FTU, perut : 3,5 FTU, genital : 1 FTU, kedua tungkai kaki 12
FTU, kedua Kaki : 4 FTU total 22,5 FTU ).
Untuk pengobatan simptomatik diberikan obat antihitamin golongan ke dua
yakni astemizol dengan dosis 10 mg, loratadin 10 mg dan cetrizine 10 mg dipilih
cetrizine dengan dosis 10 mg. Hal ini karena Pada astemizol 10 mg, obat ini
secara cepat dan sempurna diabsrosi setelah pemberian oral, tetapi astemizol
metabolitnya sangat banyak distribusinya dan mengalami metabolisme yang
sangat lambat, waktu paruh kerjanya < 24 jam. Ioratadin Pada obat ini mula-mula
mengalami metabolisme menjadi metabolit aktif dan selanjutnya mengalami
metabolisme lebih lanjut. Ioratadin ditoleransi dengan baik, tanpa efek sedasi,dan
tidak mempunyai efek susunan saraf pusat.
Sedangkan Cetrizin, Obat ini tidak mengalami metabolisme, mulai kerjanya
lebih cepat dari pada obat yang sejenis. Efeknya antara lain menghambat fungsi
eosinofil, menghambat pelepasan histamin dan prostaglandin Cetirizin tidak
menyebabkan aritmia jantung, namun mempunyai sedikit efek sedasi sehingga
bila dibandingkan dengan terfenadin, astemizol dan loratadin obat ini lebih
rendah. Dosis cetrizine untuk dewasa adalah 5- 10 mg. Pemberian 1 x1 hari
dikarnekan masa kerja cetrizine 12-24 jam. Ceitrizine merupakan obat
antihistamin generasi keduia yang memiliki efek sedatif lebih rendah dari
generasi pertama. Pemilihan citrazine dibandingkan obat lain pada generasi kedua
seperti loratadine, karena estimasi efek kerja setelah menggunakan cetrizine lebih
cepat dibandingkan lotradine. Sementara tidak menggunakan asetamizo atau
loratadine karena kedua efek kerja obat tersebut lebih lambat. Cetrizine juga tidak
menyebabkan efek aritmia jantung.
Prognosis pada penyakit skabies ini baik jika diterapi adekuat, terapi
meliputi nonmedika mentosa dan medika mentosa. Pasien juga perlu untuk
menghindari faktor predesposisi, berupa menjaga higentias individu dan
lingkungan, mncuci pakaian, handuk, sprei yang dihunakan dengan air panas atau
direndam kemudia jemur dibawah sinar matahari, Prognosisnya adalah baik

30
berikut ini adalah penjabaran prognosisnya quo ad vitam dan quo ad fungsional
adalah bonam karena predeleksi penyakit scabies tidak mengancam jiwa dan
untuk quo ad sanationam adalah bonam karena berdasarkan kepatuhan pasien
dalam pengobatan, serta diperlukan juga pengibatan kepada keluarga pasien bila
mengalami keluhan yang sama.

31
BAB V
KESIMPULAN

1. Diagnosis pada pasien An.T, 16 tahun adalah scabies, Penyakit Scabies adalah
penyakit kulit yang menular yang disebabkan oleh infeksi dan sensitisasi
terhadap sarcoptes scabei varian hominis dan produknya.
2. Penegakan diagnosis pada pasien ini dengan terpenuhnya dua dari empat
kardinal sign yaitu pruritus nokturna dan menyerang secara kelompok.
3. Pada terapi non medikamentosa yang terpenting adalah menjelaskan kepada
pasien bahwa penyakit scabies ini adalah penyakit yang menular, kemudian
menerangkan pentingnya menjaga kebersihan diri dan lingkungan tempat
tinggal. Sedangkan terapi farmakologi diberikan diberikan permetrin 5% dan
antihistamin cetrizine
4. Prognosis pada pasien ini quo et vitam, quo et fungsional, quo et sanationam
dan quo ad kosmetika : dubia ad bonam

32
DAFTAR PUSTAKA
1. Burkhart N, Burkhart G. Scabies, Other Mites, and Pediculosis. In:
Goldsmith LA, Katz SI, Gilchrest BA, Paller AS, Leffell DJ, Wolff K
editors. Fitzpatrick’s Dermatology in General Medicine. 8th ed. New York:
Mc-Graw Hill; 2012.p. 869-876
2. James WD, Berger TG and Elston DM. Parasitic Infestations, Stings, and
Bites. Andrews’ Diseases of the Skin Clinical Dermatology. 12th ed.
Philadelphia. 2016.p.452-3.
3. Weller R, Hunter J and Savin J. Infestations. In: Weller R, Hunter J, and
Savin J, ed. Clinical Dermatology. 4th ed. Oxford: Blackwell. 2008.p.262-
6.
4. Konsil Kedokteran Indonesia. Standar Kompetensi Dokter Indonesia.
Jakarta: KKI; 2012. hal.54.
5. Murtiastutik D. Buku Ajar Infeksi Menular Seksual: Skabies. Surabaya:
Airlangga University Press. 2005. hal.202-208
6. Kartowigno S. 10 Besar Kelompok Penyakit Kulit. Palembang: Fakultas
Kedokteran Universitas Sriwijaya. 2011.hal.167-173
7. Handoko R, Boediardja S. Skabies. Dalam: Menaldi SL, editor. Ilmu
Penyakit Kulit Dan Kelamin. 7th ed. Jakarta: Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia. 2015.hal.137-140.

33