Anda di halaman 1dari 29

PROPOSAL PENELITIAN

PENGARUH PENERAPAN PAJAK PERTAMBAHAN NILAI (PPN) DAN TARIF BEA


MASUK IMPOR PADA E-COMMERCE TERHADAP CONSUMER BEHAVIOR DI MASA
PANDEMI COVID 19 DENGAN KOTLER & ARMSTRONG MODEL (SURVEY PADA
PENGGUNA E-COMMERCE DI KOTA SALATIGA)

Disusun Oleh :
DIAS IVONI DWIJAYANTI
7211419220
AKT D 19

JURUSAN AKUNTANSI
FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
2021
BAB I
PENDAHULUAN

1.1.Latar Belakang Masalah Penelitian


Pajak memegang peran yang sangat penting bagi pembangunan nasional, dimana
hampir 80% pendapatan negara bersumber dari hasil pemungutan pajak baik pajak pusat
maupun pajak daerah. Indonesia menjadikan pajak sebagai sumber penerimaan negara
yang paling utama dan memiliki peran besar dalam penerimaan pendapatan negara dan
pembangunan ekonomi. Pertumbuhan ekonomi di Indonesia sangat berpengaruh positif
terhadap penerimaan pajak. Semakin tinggi pertumbuhan ekonomi, maka penghasilan yang
diterima masyarakat akan semakin tinggi. Hal tersebut mengakibatkan penerimaan pajak
yang diterima oleh negara pun akan semakin tinggi.

Pajak merupakan iuran wajib yang dibayar rakyat kepada negara tanpa
kontraprestasi secara langsung dan akan digunakan untuk kepentingan pemerintah dan
masyarakat umum (Mardiasmo: 2011). Peranan pajak semakin besar dalam
menyumbang penerimaan Negara dalam rangka kemandirian dalam membiayai
pelaksanaan pembangunan Nasional. Untuk itu dibutuhkan peran masyarakat dalam bentuk
kesadaran dan kepedulian untuk membayar pajak. Dalam setiap kegiatan yang
berhubungan dengan jual beli tentu tidak terlepas dari masalah perpajakan salah satunya
adalah PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Pajak Pertambahan Nilai atau PPN adalah
pungutan yang dibebankan atas transaksi jual-beli barang dan jasa yang dilakukan oleh
wajib pajak pribadi atau wajib pajak badan yang telah menjadi Pengusaha Kena Pajak
(PKP). Selain PPN, pajak jual-beli juga diterapkan pada produk impor yang dilakukan oleh
seseorang. Ketentuan yang telah ditetapkan dalam setiap kegiatan impor barang yaitu
dikenai pajak bagi yang telah memenuhi ketentuan. Penting sekali untuk mengetahui setiap
ketentuan pajak atas pengadaan barang impor tersebut. Khususnya bagi wajib pajak yang
berkecimpung dalam bidang impor barang. Jadi, yang berkewajiban memungut, menyetor
dan melaporkan PPN dan pajak impor adalah para Pedagang/Penjual. Namun, pihak yang
berkewajiban membayar PPN dan pajak impor adalah konsumen akhir.

Konsumen akhir disini ialah para pembeli yang membeli dan memakai barang atau jasa
tersebut. Konsumen akan membayar PPN atas barang atau jasa kena pajak sesuai dengan
objek pajak yang dikenakan dalam UU N0.11 Tahun 1994 tentang Pajak Pertambahan Nilai
Barang dan Jasa dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah. Barang atau jasa yang dikenakan
PPN tidak hanya barang atau jasa yang dibeli di offline store, tetapi pemerintah telah
menetapkan pemungutan pajak PPN pada barang/jasa yang dijual di transaksi digital/
marketplace /e-Commerce.

Di tengah perkembangan arus teknologi dan informasi digital yang semakin canggih,
aktivitas e-commerce adalah suatu penerapan dari e-business atau bisnis elektronik yang
berhubungan dengan kegiatan transaksi komersial. Perkembangan e-commerce di
Indonesia mengalami kemajuan yan sangat pesat, khususnya di kondisi pandemi seperti
sekarang ini. Seperti yang terlihat saat ini, e-commerce semakin menjamur seiring dengan
berjalannya waktu. Hal ini tentu disebabkan oleh permintaan pasar yang semakin diminati
para konsumen yang gemar berbelanja online.

Saat ini, bisnis e-commerce menjadi kebutuhan utama publik dalam bertransaksi di
masa pandemi, mengingat masyarakat takut berbelanja secara langsung sehingga untuk
pembelian beberapa kebutuhan dilakukan secara online melalui platform-platform e-
commerce. Masyarakat semakin menghindari tempat umum dan toko ritel offline, sehingga
penjualan online untuk beberapa sektor meningkat. Di Indonesia, banyak sekali ditemukan
e-commerce yang menyediakan berbagai macam produk kebutuhan konsumen. Namun
yang populer dan sering digunakan oleh masyarakat Indonesia yaitu Tokopedia, Shopee,
Bukalapak, Lazada, Blili, JD ID, Bhineka, Sociolla, Orami, dan Ralali. Perusahaan-
perusahaan e-commerce saling bersaing untuk mendapatkan posisi teratas yang menguasai
marketplace di Indonesia.

Karena pesatnya pertumbuhan e-commerce di Indonesia, transaksi online sedikit


mengalami pembaharuan dimana mulai tanggal 1 Desember 2020, pajak pertambahan nilai
dan pajak digital dikenakan pada transaksi di e-commerce. Bagi dunia perpajakan sendiri,
transaksi e-Commerce merupakan hal yang tidak asing dan sering kali dibicarakan.
Pelaku e-Commerce wajib memungut PPN dan pajak digital atas produk/jasa yang dijual
kepada konsumen di Indonesia sebesar 10% dari harga sebelum pajak dan wajib
mencantumkannya dalam invoice yang diterbitkan. Artinya, pembeli atau konsumen e-
Commerce harus membayar PPN atau pajak digital sebesar 10% dari harga sebelum pajak,
dan akan menerima invoice yang menjadi bukti pungutan PPN atau pajak digital atas
transaksi yang dilakukan.

Sebelumnya, Direktorat Jenderal Pajak Kementerian Keuangan RI telah menerbitkan


aturan pajak khusus bagi pelaku usaha berbasis elektronik (e-Commerce) atau online shop.
Aturan yang tertuang dalam Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor
210/PMK.210/PMK.010/2018 tersebut direncanakan secera efektif berlaku pada 1 April
2019. Dalam peraturan perpajakan terkait Perlakuan Perpajakan Atas Transaksi
Perdagangan Melalui Sistem Elektronik (e-Commerce) ini, penyedia platform marketplace
wajib memiliki Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) sekaligus wajib dikukuhkan sebagai
Pengusaha Kena Pajak (PKP). Kewajiban pengukuhan sebagai Pengusaha Kena Pajak juga
diberlakukan kepada penyedia platform marketplace meskipun memenuhi kriteria sebagai
pengusaha kecil.

Dalam ketentuan memungut, menyetor dan melaporkan PPN wajib pula dipatuhi oleh
pedagang atau penyedia jasa e-commerce yang sudah ditetapkan sebagai Pengusaha Kena
Pajak (PKP). Besarnya PPN dan/atau Bea Masuk ditentukan berdasarkan nilai barang/jasa
kena pajak dikalikan tarif. Untuk tarif PPN terutang ditetapkan sebesar 10% dari nilai
transaksi barang atau jasa kena pajak. Atas transaksi tersebut, PKP pedagang atau penyedia
jasa wajib membuat faktur pajak sebagai bukti pungutan PPN, untuk kemudian dilaporkan
dalam Surat Pemberitahuan (SPT) Masa PPN. Semua ketentuan perpajakan tersebut
berlaku juga bagi penyedia platform marketplace, baik yang hanya menyediakan ruang
transaksi maupun ikut transaksi penyerahan barang/jasa e-commerce. Khusus penyedia
platform marketplace, hanya yang berstatus sebagai Pengusaha Kena Pajak yang dapat
menjalankan bisnis ini meskipun omzet yang bersangkutan kurang dari Rp4,8 miliar
setahun (kategori Usaha Mikro, Kecil dan Menengah/UMKM).

Sementara untuk bea masuk, sesuai dengan Peraturan Menteri Keuangan (PMK)
Nomor 199/PMK/010/2019, nilai ambang batas bea masuk turun dari 75 dollar AS menjadi
hanya 3 dollar AS atau setara dengan Rp 42.000 (kurs Rp 14.000). Dengan penurunan
ambang batas tersebut, pemerintah menerapkan tarif pajak impor sebesar 17,5 persen yang
terdiri atas bea masuk 7,5 persen dan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) 10 persen dan Pajak
Penghasilan (PPh) 0 persen. Khusus untuk produk tekstil, tas, dan sepatu diterapkan tarif
pajak yang berbeda. Untuk tas, sepatu, dan produk tekstil seperti baju, besaran tarifnya
tetap mengikuti tarif normal. Bea masuknya berkisar 15-20 persen untuk tas, 25-30 persen
untuk sepatu dan 15-20 persen untuk produk tekstil. Ini belum ditambah PPN sebesar 10
persen dan PPh 7,5 persen hingga 10 persen.

Saat ini, pemerintah melalui Kemenkeu akan melakukan komunikasi langsung


kesisteman dengan platform marketplace yang menghubungkan sistem bea cukai dan
marketplace yang bersangkutan. Maka dari itu, dialirkan data transaksi, jumlah, jenis, dan
harga barangnya real time dapat dibaca oleh Bea Cukai. Bea Cukai pun telah melakukan
pilot project pelaksanaan kerja sama sistem tersebut dengan beberapa e-commerce yang
memberikan layanan crossborder seperti Lazada, Blibli dan BukaLapak. Setelahnya,
diharapkan e-commerce lain ikut bergabung.

Intinya, keberadaan aturan ini akan memberikan beban tambahan kepada penyedia
platform marketplace, berupa kewajiban memungut, menyetor dan melaporkan PPN
dan/atau bea masuk dari pedagang atau penyedia jasa e-commerce. Bahkan, bagi
marketplace yang melakukan penyerahan barang juga wajib membuat faktur pajak. Hal ini
juga akan berdampak pada harga yang dibayarkan konsumen karena akan jauh lebih mahal
dari sebelumnya. Harga yang naik karena adanya PPN dan bea masuk ini dapat
berpengaruh terhadap perilaku konsumen di e-Commerce.

Perilaku Konsumen merupakan suatu proses atau kegiatan saat seseorang melakukan
pencarian, pemilihan, pembelian, penggunaan, serta mengevaluasi suatu produk “barang
atau jasa” untuk memenuhi kebutuhan atau keinginannya. Secara sederhana, perilaku
konsumen diartikan sebagai hal-hal yang mendasari konsumen untuk membuat keputusan
pembelian. Setiap pembeli pasti memiliki pertimbangan sebelum memutuskan untuk
melakukan transaksi pembelian terhadap suatu produk. Consumer behavior inilah yang
menjadi dasar bagi seorang konsumen dalam mengambil keputusan pembelian terhadap
produk tertentu “barang atau jasa”. Ada banyak faktor seorang konsumen akhirnya
memutuskan untuk membeli produk tersebut. Mungkin karena kualitas barang/jasa yang
ditawarkan sangat baik, atau produk tersebut sangat menarik, bahkan bisa saja karena harga
yang ditawarkan terjangkau. Harga inilah merupakan salah satu faktor penentu keputusan
konsumen, dimana produk dengan harga jual yang rendah akan lebih mudah dalam
membantu konsumen untuk melakukan proses pengambilan keputusan dibandingkan
dengan produk berharga jual tinggi. Hal ini sama dengan model perilaku konsumen
(Consumer Behavior) yang dikemukakan oleh Kotler.

Berdasarkan fenomena yang terjadi di atas, maka bidang utama penelitian ini adalah
bidang ekonomi dan teknologi yang saling terkait antara perpajakan, penjualan daring, dan
kaitannya dengan perilaku konsumen. Adapun penjualan daring yang digunakan adalah
dengan menggunakan e-commerce dimana penjualan daring ini meningkat tajam saat
pandemi Covid 19 sehingga pandemi covid 19 dijadikan sebagai variabel moderatoring
dalam penelitian ini. Oleh karena itu, penulis melaksanakan kajian dengan judul “Pengaruh
Penerapan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dan Tarif Bea Masuk Impor pada e-Commerce
terhadap Consumer Behavior di Masa Pandemi Covid 19 dengan Kotler & Armstrong
Model (Survey pada Pengguna e-Commerce di Kota Salatiga)”.

1.1 Identifikasi Masalah Penelitian


1) Pemberlakuan pajak pertambahan nilai terhadap barang/jasa di e-commerce
2) Pemberlakuan tarif bea masuk terhadap barang/jasa impor yang dijual di e-
commerce.
3) Adanya perubahan perilaku konsumen pada pengguna e-commerce di Kota
Salatiga pada masa pandemi Covid 19.

1.3 Batasan Masalah Penelitian


Pembatasan suatu masalah digunakan untuk menghindari adanya penyimpangan
maupun pelebaran pokok masalah agar penelitian tersebut lebih terarah dan
memudahkan dalam pembahasan sehingga tujuan penelitian akan tercapai.
Beberapa batasan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai
berikut:
1) Informasi yang disajikan terkait pajak pertambahan nilai dan tarif bea masuk
impor yang diterapkan pada e-commerce di Indonesia, consumer behavior yang
terjadi pada pengguna e-commerce di Kota Salatiga pada masa pandemi Covid
19.
2) Luas lingkup hanya meliputi perilaku konsumen pengguna e-commerce di Kota
Salatiga..

1.4 Rumusan Masalah Penelitian


1) Bagaimana pengaruh penerapan pajak pertambahan nilai (PPN) terhadap
consumer behavior pengguna e-commerce di kota Salatiga pada masa
pandemi covid 19?
2) Bagaimana pengaruh penerapan tarif bea masuk impor terhadap consumer
behavior pengguna e-commerce di Kota Salatiga pada masa pandemi Covid
19?
3) Bagaimana hubungan antara penerapan PPN dan bea masuk impor pada e-
Commerce terhadap consumer behavior menurut Kotler & Armstrong
Model?
1.5 Tujuan Penelitian
1) Menguji dan menganalisis pengaruh penerapan pajak pertambahan nilai (PPN)
pada e-commerce terhadap consumer behavior pengguna e-commerce di Kota
Salatiga pada masa pandemi covid 19.
2) Menguji dan menganalisis pengaruh penerapan tarif bea masuk impor pada e-
commerce terhadap consumer behavior pengguna e-commerce di Kota Salatiga
pada masa pandemi covid 19.
3) Menguji dan menganalisis hubungan penerapan PPN dan tarif bea masuk impor
pada e-Commerce terhadap consumer behavior menurut Kotler & Armstrong
Model.

1.6 Manfaat Penelitian


1) Teoritis
Diharapkan studi kasus ini dapat menjadi sumber informasi dan pedoman
bagi konsumen yang ingin melakukan transaksi jual-beli di e-commerce.
2) Praktis
Bagi para penjual di e-commerce, mengetahui faktor-faktor yang
mempengaruhi perilaku konsumen (consumer behavior) untuk
meningkatkan efisiensi dan efektivitas penjualan di e-commerce. Dan bagi
para konsumen, mengetahui kebijakan pemberlakuan PPN dan Bea Masuk
Impor di e-commerce dalam membantu meningkatkan perekonomian
negara.
3) Penelitian lanjutan
Hal tersebut dapat digunakan sebagai bahan untuk kemajuan ilmu
pengetahuan dan penelitian tentang hipotesis terkini dalam kaitannya
dengan analisis masalah kebijakan pemberlakuan PPN dan Tarif Bea Masuk
Impor pada e-commerce yang berpengaruh terhadap perilaku konsumen
pengguna e-commerce di Kota Salatiga pada masa pandemi covid 19. Selain
itu untuk studi selanjutnya dapat menjadi bahan referensi.

1.7 Orisinalitas Penelitian


Orisinalitas penelitian ini dengan penelitian yang sudah ada sebelumnya
berjudul “Pengaruh Efektivitas E-Commerce dan Kebijakan Pajak
Pertambahan Nilai (PPN) Terhadap Perilaku Konsumen (Survey Pada
Konsumen Kota Bandung)” yaitu terletak pada :

1) Nama, tahun, judul tesis, dan kampus


2) Objek penelitian berupa populasi sampel yang diambil
3) Teknik analisis data
4) Metode pengambilan sampel
5) Hasil penelitian
BAB II
KAJIAN PUSTAKA

2.1 Kajian Pustaka


2.1.1 Teori Utama (Grand Theory)
2.1.1.1 Teori Keagenan (Agency Theory)
Teori keagenan (agency theory) menjelaskan bahwa hubungan
agensi muncul ketika satu orang atau lebih (principal) mempekerjakan
orang lain (agent) untuk memberikan suatu jasa dan kemudian
mendelegasikan wewenang pengambilan keputusan kepada agent
tersebut (Jensen dan Meckling, 1976). Dalam teori keagenan
menjelaskan tentang dua pelaku ekonomi yang saling berhubungan.
Hubungan keagenan merupakan suatu kontrak dimana satu atau lebih
orang (prinsipal) memerintah orang lain (agen) untuk melakukan suatu
jasa atas nama prinsipal serta memberi wewenang kepada agen
membuat keputusan yang terbaik bagi prinsipal (Ichsan, 2013). Jika
prinsipal dan agen memiliki tujuan yang sama maka agen akan
mendukung dan melaksanakan semua yang diperintahkan oleh
prinsipal. Dalam penelitian ini, pemerintah sebagai prinsipal
sedangkan perusahaan adalah agen. Pemerintah yang bertindak
sebagai prinsipal memerintahkan kepada perusahaan untuk melakukan
penyetoran pajak sesuai dengan perundang-undangan pajak. Namun,
perusahaan sebagai agen lebih mengutamakan kepentingannya dalam
mengoptimalkan laba perusahaan sehingga meminimalisir beban,
termasuk beban pajak dengan melakukan penghindaran pajak.
Manajer perusahaan yang berkuasa dalam perusahaan untuk
pengambilan keputusan sebagai agen memiliki kepentingan untuk
memaksimalkan labanya dengan kebijakan-kebijakan yang
dikeluarkan. Karakter manajer perusahaan tentunya mempengaruhi
keputusan manajer untuk memutuskan kebijakannya untuk
meminimalkan beban termasuk beban pajak dengan
mempertimbangkan berbagai macam hal seperti sales growth atau
leverage.
2.1.2 Kajian Variabel Penelitian
2.1.2.1 Variabel Independen1 (Pajak Pertambahan Nilai)
Berdasarkan UU KUP Nomor 16 tahun 2009 Pasal 1 ayat 1,
pajak didefinisikan sebagai kontribusi wajib kepada negara yang
terutang oleh orang pribadi atau badan yang bersifat memaksa
berdasarkan undang-undang dengan tidak mendapatkan imbalan
secara langsung dan digunakan untuk keperluan negara bagi sebesar-
besarnya kemakmuran rakyat.
Pajak pertambahan nilai adalah pajak atas konsumsi barang dan
jasa di Daerah Pabean yang dikenakan secara bertingkat di setiap
jalur produksi dan distribusi. PPN dikenakan atas pertambahan nilai
dari barang yang dihasilkan atau diserahkan oleh Pengusaha Kena
Pajak (PKP) baik oleh pabrikan, importir, agen utama, ataupun
distributor utama.
PPN memiliki sifat objektif, tidak kumulatif, dan termasuk jenis
pajak tidak langsung. PPN masuk dalam kategori pajak tidak
langsung karena pajak tersebut disetorkan oleh pihak lain, dalam hal
ini pedagang bukan penanggung pajak. Secara lebih sederhana
berarti konsumen akhir yang menjadi penanggung pajak tidak
menyetorkan langsung ke kas negara.
Dasar hukum PPN di Indonesia telah mengalami tiga kali
perubahan. Perubahan ini dilakukan agar lebih sederhana dan adil
untuk masyarakat. Saat ini, dasar hukum PPN tercantum dalam
Undang-Undang Nomor 42 Tahun 2009 Tentang Pajak Pertambahan
Nilai Barang dan Jasa dan Pajak Penjualan Atas Barang Mewah.
Objek PPN meliputi :
1 Penyerahan Barang Kena Pajak (BKP) dan Jasa Kena Pajak
(JKP) di dalam Daerah Pabean yang dilakukan oleh
Pengusaha.
2 Impor BK
3 Pemanfaatan BKP tidak berwujud dan JKP dari luar daerah
pabean di dalam daerah pabean
4 Ekspor BKP berwujud atau tidak berwujud dan ekspor JKP
oleh Pengusaha Kena Pajak (PKP)
5 Kegiatan Membangun Sendiri bangunan dengan luas lebih
dari 200 m2 yang dilakukan di luar lingkungan perusahaan
dan/atau pekerjaan oleh Orang Pribadi atau Badan yang
hasilnya digunakan sendiri atau pihak lain
6 Penyerahan aktiva yang menurut tujuan semula tidak untuk
diperjualbelikan, sepanjang pajak masukan yang dibayar
pada saat perolehan aktiva tersebut boleh dikreditkan
Sedangkan barang yang tidak dikenakan PPN, antara lain:
1 Barang hasil pertambangan atau pengeboran bumi.
2 Barang kebutuhan pokok seperti beras, jagung, susu, daging,
sayur, dan lainnya.
3 Makanan dan minuman yang disajikan di restoran atau rumah
makan
4 Uang, emas batangan, dan surat berharga
5 Jasa pelayanan medis, pelayanan sosial, jasa keuangan,
asuransi, pendidikan, dan sebagainya.
2.1.2.2 Variabel Independen II (Bea Masuk)
Menurut Jafar (2015:17), “Bea Masuk adalah pungutan negara
yang dikenakan atas barang yang diimpor untuk dipakai”. Menurut
definisinya, Bea Masuk merupakan pungutan atau bea dari barang
impor yang dipungut oleh Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC)
Kementerian Keuangan RI. Secara sederhana, bea masuk merupakan
pungutan negara untuk barang impor yang harus dibayarkan pada saat
barang diimpor untuk dipakai atau sesuai dengan ketentuan Menteri
Keuangan.
Aturan mengenai Bea Masuk barang impor ini tertuang dalam
Undang-Undang (UU) Nomor 17 Tahun 2006 tentang Perubahan atas
UU No. 10/1995 tentang Kepabeanan. Pengenaan tarif Bea Masuk
sesuai dengan undang-undang yang mengaturnya yaitu atas barang
impor dipungut Bea Masuk berdasarkan tarif setinggi-tingginya 40%
(empat puluh) persen dari nilai pabean untuk perhitungan Bea Masuk.
Menurut Rukiah Komariah dan Dewi Paramita (2010), perhitungan
bea masuk berdasarkan pada persentase besaran tarif atau secara
spesifik yang dihitung berdasarkan satuan atau unit barang dengan
nilai yang telah ditetapkan berkaitan dengan harga transaksi yaitu
harga yang sebenarnya atau seharusnya dibayar.
Terdapat 2 (dua) cara pengenaan tarif Bea Masuk yaitu:
a) Tarif advalorum (persentase)
Tarif Advalorum adalah pungutan bea masuk berdasarkan pada
prosentase tarif tertentu dari harga barang. Merujuk pada Pasal 12
UU Kepabeanan tarif advalorum paling tinggi ditetapkan sebesar
40%. Secara ringkas, perhitungan bea masuk menggunakan tarif
advalorum dihitung dengan cara mengalikan tarif bea masuk suatu
barang impor dengan nilai pabeannya.
b) Tarif spesifik
Tarif spesifik adalah tarif yang dikenakan berdasarkan satuan
barang. Perhitungan dalam tarif spesifik dilakukan dengan cara
mengalikan jumlah satuan barang dengan tarif pembebanan bea
masuk. Dalam tarif spesifik akan disebutkan besaran tarif bea
masuk yang harus dibayar per satuan barang
Pada tangal 30 Januari 2020, pemerintah melalui Bea Cukai telah
menetapkan ketentuan impor terbaru terkait barang kiriman yang
diatur dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor PMK
199/PMK.10/2019 tentang Ketentuan Kepabeanan, Cukai, dan Pajak
atas Impor Barang Kiriman. Dalam peraturan tersebut dijelaskan
bahwa Bea Cukai menyesuaikan nilai pembebasan bea masuk atas
kiriman dari sebelumnya USD75 menjadi USD3 per kiriman.
Ketentuan pemungutan tarif bea masuk sesuai PMK 199/2019
adalah:
a Nilai impor kurang dari USD3 per kiriman atau setara
Rp43.500 (kurs Rp14.500 per dolar AS) => Bebas Bea Masuk,
tapi dikenakan PPN 10%
b Nilai impor lebih dari USD3 hingga USD1500 per kiriman =>
Dikenakan Bea Masuk 7,5% dan PPN 10%
c Nilai impor lebih dari USD1500 per kirian => Dikenakan Bea
Masuk, PPN, dan PDRI.
2.1.2.3 Variabel Dependen (Consumer Behavior)
Perilaku konsumen (consumer behavior) merupakan kegiatan-
kegiatan individu yang secara langsung terlibat dalam mendapatkan
dan mempergunakan barang dan jasa, termasuk di dalamnya proses
pengambilan keputusan pada persiapan dan penentuan kegiatan-
kegiatan tersebut (Dharmesta dan Handoko, 1982:9).
Mowen dan Minor dalam Bulan (2014), mendefinisikan perilaku
konsumen sebagai studi tentang unit pembelian (buying units) dan
proses pertukaran yang melibatkan perolehan, konsumsi, dan
pembuangan barang, jasa, pengalaman, serta ide-ide. Sehingga dapat
disimpulkan bahwa perilaku konsumen adalah suatu proses individu
dalam melakukan pemilihan, pembelian, penggunaaan, dan
penghentian konsumsi barang maupun jasa, ide atau pengalaman
untuk memuaskan kebutuhan dan keinginan mereka. Ada dua elemen
penting dari arti perilaku konsumen:
(1) proses pengambilan keputusan, dan
(2) kegiatan fisik, yang semua ini melibatkan individu dalam menilai,
mendapatkan dan mempergunakan barang dan jasa ekonomis.
Perilaku konsumen terhadap barang maupun jasa dipengaruhi
oleh beberapa faktor seperti pendapatan, selera konsumen, dan harga
barang disaat kondisi yang lain tidak berubah (Normawati, 2013).
Perilaku konsumen ini didasarkan pada teori yang menjelaskan bahwa
seseorang yang mempunyai pendapatan, maka dapat membeli suatu
barang maupun jasa yang dikehendakinya demi mencapai kepuasan
sesuai dengan apa yang diharapkannya.
Menurut Assael (1992) yang dikutip oleh Sutisna (2003:48-49),
terdapat empat perilaku konsumen, yaitu:
1 Konsumen yang melakukan pembeliannya dengan pembuatan
keputusan (timbul kebutuhan, mencari informasi dan
mengevaluasi merk serta memutuskan pembelian), dan dalam
pembeliannya memerlukan keterlibatan tinggi. Dua interaksi
ini menghasilkan tipe perilaku pembelian yang kompleks
(complex decision making).
2 Perilaku konsumen yang melakukan pembelian terhadap satu
merk tertentu secara berulang-ulang dan konsumen
mempunyai keterlibatan tinggi dalam 10 proses pembeliannya.
Perilaku konsumen seperti itu menghasilkan tipe perilaku
konsumen yang loyal terhadap merk (brand loyalty).
3 Perilaku konsumen yang melakukan pembeliannya dengan
pembuatan keputusan, dan pada proses pembeliannya
konsumen merasa kurang terlibat. Perilaku pembelian seperti
itu menghasilkan tipe perilaku konsumen limited decision
making.
4 Perilaku konsumen yang dalam pembelian atas suatu merk
produk berdasarkan kebiasaan, dan pada saat melakukan
pembelian, konsumen merasa kurang terlibat. Perilaku
konsumen seperti itu menghasilkan perilaku konsumen tipe
inertia.
Kotler dan Armstrong (2008) menggambarkan model perilaku
konsumen sebagai berikut:

Gambar 2.1 Model Perilaku Konsumen Menurut Kotler dan Armstrong (2008)

Model perilaku konsumen menurut Kotler dan Armstrong pada


gambar diatas memperlihatkan bahwa pemasaran dan rangsangan-
rangsangan lain memasuki “kotak hitam” konsumen dan
menghasilkan respon tertentu. Pemasar harus menemukan apa yang
ada di dalam kotak hitam pembeli (Kotler dan Armstrong, 2008).
Rangsangan pemasaran yang dimaksud oleh Kotler terdiri dari empat
P yaitu Product (produk), Price (harga), Place (tempat), dan
Promotion (promosi). Rangsangan lain meliputi kekuatan dan faktor
utama dalam lingkungan pembeli : ekonomi, teknologi, politik, dan
budaya. Semua masukan ini memasuki kotak hitam pembeli, di mana
masukan ini diubah menjadi sekumpulan respons pembeli yang dapat
diobservasi : pilihan produk, pilihan merek, pilihan penyalur, waktu
pembelian, dan jumlah pembelian.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa karakteristik
pembeli sangat mempengaruhi perilaku pembeli dan kemudian
mendiskusikan proses keputusan pembeli (Kotler dan Armstrong,
2008).
Menurut Kotler dan Armstrong (2008), faktor-faktor yang
mempengaruhi perilaku konsumen terdiri dari :
1) Faktor Kebudayaan
Faktor kebudayaan berpengaruh luas dan mendalam terhadap
perilaku konsumen. Faktor kebudayaan terdiri dari :
a Budaya
Budaya merupakan penentu keinginan dan perilaku yang
paling mendasar. Anak-anak mendapatkan mendapatkan
kumpulan nilai, persepsi, preferensi, dan perilaku dari
keluarganya serta lembaga-lembaga penting lainnya.
b Sub-budaya
Masing-masing budaya terdiri dari sub-budaya yang lebih
kecil yang memberikan lebih banyak ciri-ciri dan sosialisasi
khusus bagi anggotanya. Sub-budaya terdiri dari :
kebangsaan, agama, kelompok ras, dan daerah geografis.
c. Kelas sosial
Pada dasarnya masyarakat memiliki strata sosial. Stratifikasi
tersebut kadang berbentuk sistem kasta di mana anggota
kasta yang berbeda dibesarkan dengan peran tertentu dan
tidak dapat mengubah keanggotaan kasta mereka.
2) Faktor Sosial
Perilaku konsumen juga dipengaruhi oleh faktor-faktor sosial
seperti kelompok acuan, keluarga serta status sosial.
a Kelompok acuan
Kelompok acuan seseorang terdiri dari semua kelompok
yang memiliki pengaruh langsung (tatap muka) atau tidak
langsung 12 terhadap sikap atau perilaku seseorang.
Kelompok yang memiliki pengaruh langsung terhadap
seseorang dinamakan kelompok keanggotaan. Beberapa
kelompok keanggotaan adalah kelompok primer, seperti
keluarga, teman, tetangga, dan rekan kerja, yang berinteraksi
dengan seseorang serta terus menerus dan informal. Orang
juga menjadi anggota kelompok sekunder, seperti kelompok
keagamaan, professional, dan asosiasi perdagangan, yang
cenderung lebih formal dan membutuhkan interaksi yang
tidak begitu rutin.
b Keluarga
Keluarga adalah kelompok yang terdiri dari dua atau lebih
orang yang berhubungan melalui darah, perkawinan, atau
adopsi dan tinggal bersama. Keluarga merupakan organisasi
pembelian konsumen yang paling penting dalam masyarakat,
dan ia telah menjadi obyek penelitian yang luas. Anggota
keluarga merupakan kelompok acuan primer yang paling
berpengaruh. Kita dapat membedakan antara dua keluarga
dalam kehidupan pembeli. Keluarga orientasi terdiri dari
orang tua dan saudara kandung seseorang. Dari orang tua,
seseorang mendapatkan orientasi atas agama, politik, dan
ekonomi serta ambisi pribadi, harga diri dan cinta. Bahkan
jika pembeli tidak lagi berinteraksi secara mendalam dengan
keluarganya, pengaruh keluarga terhadap perilaku pembeli
dapat tetap signifikan. Pengaruh yang lebih langsung
terhadap perilaku pembelian sehari-hari adalah keluarga
prokreasi yaitu, pasangan (suami atau istri) dan anak-anak.
c. Status sosial
Kedudukan seseorang di masing-masing kelompok dapat
ditentukan berdasarkan peran dan status. Peran meliputi
kegiatan yang menghasilkan status. Dengan status sosial
yang dimiliki seseorang di masyarakat, dapat dipastikan ia
akan mempengaruhi pola atau sikap orang lain dalam hal
berperilaku terutama dalam perilaku pembelian.
3) Faktor Pribadi
a Usia dan tahap siklus hidup
Seseorang membeli suatu barang dan jasa akan berubah
selama hidupnya. Kebutuhan ketika bayi hingga menjadi
dewasa dan pada waktu menginjak usia lanjut akan berbeda.
Selera seseorang pun dalam pakaian, perabot dan rekreasi
berhubungan dengan usianya.
b Pekerjaan dan lingkungan ekonomi
Pola konsumsi seseorang juga dipengaruhi oleh
pekerjaannya. Seorang pekerja kasar akan membeli pakaian
kerja, sepatu kerja, kotak makanan. Sedangkan seorang
presiden perusahaan akan membeli pakaian yang mahal,
bepergian dengan pesawat terbang.
c Gaya hidup
Gaya hidup seseorang adalah kehidupan sehari-hari yang
dinyatakan dalam kegiatan, minat dan pendapat (opini) yang
bersangkutan. Gaya hidup melukiskan keseluruhan pribadi
yang berinteraksi dengan lingkungannya. Gaya hidup
mencerminkan sesuatu yang lebih dari kelas sosial di satu
pihak dan kepribadian di pihak lain.
d Kepribadian dan konsep diri
Setiap orang memiliki kepribadian yang berbeda dan akan
mempengaruhi perilaku membeli. Kepribadian adalah ciri-
ciri psikologis yang membedakan seseorang, yang
menyebabkan terjadinya jawaban yang relatif tetap dan
bertahan lama terhadap lingkungannya. Sedangkan konsep
diri dibagi menjadi dua yaitu konsep diri ideal (bagaimana
dia ingin memandang dirinya sendiri) dan konsep diri
menurut orang lain (bagaimana pendapat orang lain
memandang dia).
4) Faktor Psikologis
Pilihan pembelian seseorang dipengaruhi oleh empat faktor
psikologi utama yaitu :
a. Motivasi
Motivasi adalah keadaan dalam pribadi seseorang yang
mendorong keinginan individu untuk melakukan kegiatan
tertentu guna mencapai suatu tujuan. Dapat dikatakan bahwa
motivasi adalah suatu dorongan kebutuhan dan keinginan
individu diarahkan pada tujuan untuk memperoleh kepuasan.
b. Persepsi
Seseorang yang termotivasi bertindak akan dipengaruhi oleh
persepsinya terhadap situasi tertentu. Persepsi adalah proses
yang digunakan oleh seorang individu untuk memilih,
mengorganisasi, dan mengintepretasi masukan-masukan
informasi guna menciptakan gambaran yang memiliki arti.
Persepsi tidak hanya dipengaruhi rangsangan fisik, tetapi juga
dipengaruhi rangsangan yang berhubungan dengan lingkungan
sekitar dan keadaan individu yang bersangkutan.
c. Pembelajaran
Belajar adalah perubahan-perubahan perilaku yang terjadi
sebagai hasil dari akibat adanya pengalaman. Perubahan-
perubahan perilaku tersebut bersifat tetap dan bersifat fleksibel.
Hasil belajar ini akan memberikan tanggapan tertentu yang
cocok dengan rangsangan dan yang mempunyai tujuan tertentu.
d. Keyakinan dan sikap
Melalui bertindak dan belajar, seseorang mendapatkan
keyakinan dan sikap. Keduanya kemudian mempengaruhi
pembelian mereka. Keyakinan adalah gambaran pemikiran yang
dianut seseorang tentang suatu hal. Keyakinan tersebut
berdasarkan pengetahuan, pendapat atau kepercayaan.
Kesemuanya itu mungkin mengandung 15 faktor emosional.
Sikap adalah evaluasi, perasaan emosional, dan kecenderungan
tindakan yang bisa menguntungkan dan tidak menguntungkan
dan bertahan lama dari seseorang terhadap suatu obyek atau
gagasan.

2.1.2.4 Variabel Moderating (Pandemi Covid 19)


Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), pandemi
merupakan wabah yang berjangkit serempak di mana-mana atau
meliputi geografi yang luas. Sedangkan menurut WHO sendiri,
pandemi didefinisikan sebagai situasi ketika populasi seluruh dunia
ada kemungkinan akan terkena infeksi virus dan berpotensi sebagian
dari mereka jatuh sakit.
Sementara COVID-19 (coronavirus disease 2019) merupakan
penyakit yang disebabkan oleh jenis coronavirus baru yaitu Sars-CoV-
2. COVID-19 ini dapat menimbulkan gejala gangguan pernafasan akut
seperti demam diatas 38°C, batuk dan sesak nafas bagi manusia.
Selain itu dapat disertai dengan lemas, nyeri otot, dan diare. Pada
penderita COVID-19 yang berat, dapat menimbulkan pneumonia,
sindroma pernafasan akut, gagal ginjal bahkan sampai kematian.
COVID-19 dapat menular dari manusia ke manusia melalui kontak
erat dan droplet (percikan cairan pada saat bersin dan batuk), tidak
melalui udara. Bentuk COVID-19 jika dilihat melalui mikroskop
elektron (cairan saluran nafas/ swab tenggorokan) dan digambarkan
kembali bentuk COVID-19 seperti virus yang memiliki mahkota.
Dari definisi di atas, pandemi covid 19 merupakan wabah virus
yang disebabkan oleh COVID-19 yang menjangkit wilayah geografi
yang luas. Pandemi covid 19 dimulai sejak terjadinya infeksi pertama
kali di Kota Wuhan Tiongkok pada tanggal 31 Desember 2019. Sejak
saat itu, virus corona dengan cepat menyebar ke negara-negara lain
bahkan secara global mempengaruhi dunia.
2.1.3 Kajian Penelitian Terdahulu
No Penulis Penerbit Judul Variabel Alat analisis Hasil
(Tahun)
1. Maulida Unikom Pengaruh - Independen Metode Hasil penelitian
Nur Repository Efektivitas E- 1 : Pengaruh deskriptif menunjukkan bahwa
Solicha, Commerce Efektivitas E- dan efektivitas e-commerce
Octavian Dan Kebijakan Commerce verifikatif. berpengaruh terhadap
i (2015) Pajak - Independen Teknik perilaku konsumen dan
Pertambahan 2 : Kebijakan analisis data kebijakan PPN
Nilai (PPN) Pajak menggunak berpengaruh terhadap
Terhadap Pertambahan an SEM perilaku konsumen,
Perilaku Nilai (PPN) PLS dengan dimana efektivitas e-
Konsumen - Dependen : bantuan commerce dan kebijakan
(Survey Pada Perilaku software PPN yang dapat terlaksana
Konsumen Konsumen SmartPLS dengan optimal akan
Kota Bandung) 2.0 memberikan pengaruh
positif terhadap perilaku
konsumen. Maka,
permasalahan yang terjadi
pada perilaku konsumen
(Y) dikarenakan oleh
variabel efektivitas e-
commerce dan kebijakan
PPN yang belum terlaksana
dengan baik.
2.2 Kerangka Teoritis
Kerangka teoritis merupakan bagian dimana akan dijelaskan teori-teori yang
berhubungan dengan variabel-variabel yang diteliti. Dalam Arikunto (2006: 107)
dijelaskan bahwa “Kerangka teori merupakan wadah yang menerangkan variabel
atau pokok permasalahan yang terkandung dalam penelitian.” Teori-teori tersebut
digunakan sebagai bahan acuan untuk pembahasan selanjutnya. Dengan demikian,
kerangka teoritis disusun agar penelitian diyakini kebenarannya.
1. Pengertian Pengaruh
Di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia pengaruh didefinisikan sebagai daya
yang ada atau timbul dari sesuatu (orang, benda) yang ikut membentuk watak,
kepercayaan, atau perbuatan seseorang. Sedangkan menurut W.J.S
Poewadarmita, pengaruh adalah suatu daya yang ada dalam sesuatu yang
sifatnya dapat memberi perubahan kepada yang sifatnya dapat memberi
perubahan kepada yang lain. Secara sederhana, pengaruh berarti daya yang
timbul yang sifatnya memberi perubahan kepada yang lain.
2. Pengertian penerapan
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), pengertian penerapan adalah
perbuatan menerapkan, sedangkan menurut Usman (2002), penerapan
(implementasi) adalah bermuara pada aktivitas, aksi, tindakan, atau adanya
mekanisme suatu sistem.Implementasi bukan sekedar aktivitas, tetapi suatu
kegiatan yang terencana dan untuk mencapai tujuan kegiatan. Secara sederhana,
penerapan dapat diartikan sebagai perbuatan atau tindakan yang terencana
untuk mencapai tujuan kegiatan.
3. Pengertian Pajak Pertambahan Nilai (PPN)
Pajak pertambahan nilai adalah pajak atas konsumsi barang dan jasa di Daerah
Pabean yang dikenakan secara bertingkat di setiap jalur produksi dan distribusi.
PPN dikenakan atas pertambahan nilai dari barang yang dihasilkan atau
diserahkan oleh Pengusaha Kena Pajak (PKP) baik oleh pabrikan, importir,
agen utama, ataupun distributor utama.
4. Pengertian Tarif Bea Masuk
Menurut Jafar (2015:17), “Bea Masuk adalah pungutan negara yang dikenakan
atas barang yang diimpor untuk dipakai”. Menurut definisinya, Bea Masuk
merupakan pungutan atau bea dari barang impor yang dipungut oleh Direktorat
Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) Kementerian Keuangan RI. Secara sederhana,
bea masuk merupakan pungutan negara untuk barang impor yang harus
dibayarkan pada saat barang diimpor untuk dipakai atau sesuai dengan
ketentuan Menteri Keuangan.
5. Pengertian Consumer Behavior (Perilaku Konsumen)
Menurut Dharmesta dan Handoko (1982:9), perilaku konsumen (consumer
behavior) didefinisikan sebagai kegiatan-kegiatan individu yang secara
langsung terlibat dalam mendapatkan dan mempergunakan barang dan jasa,
termasuk di dalamnya proses pengambilan keputusan pada persiapan dan
penentuan kegiatan-kegiatan tersebut.
6. Pengertian E-commerce
Laudon & Laudon (1998) mendefinisikan e-commerce sebagai suatu proses
untuk menjual dan membeli produk-produk secara elektronik oleh konsumen
dan dari perusahaan ke perusahaan dengan perantara komputer yaitu
memanfaatkan jaringan komputer. Sedangkan David Baum (1999)
mendefinisikannya sebagai satu set teknologi, aplikasi-aplikasi, dan proses
bisnis yang dinamis untuk menghubungkan perusahaan, konsumen, dan
masyarakat melalui transaksi elektronik dan pertukaran barang, pelayanan, dan
informasi yang dilakukan secara elektronik. Secara lebih ringkas, e-commerce
dapat diartikan sebagai kegiatan jual-beli produk maupun jasa yang dilakukan
secara daring dengan memanfaatkan teknologi jaringan komputer.
7. Pengertian Model Perilaku Konsumen menurut Kotler dan Armstrong
Model perilaku konsumen menurut Kotler dan Armstrong memperlihatkan
bahwa pemasaran dan rangsangan-rangsangan lain seperti ekonomi, teknologi,
politik, dan budaya memasuki “kotak hitam” konsumen dan menghasilkan
respon tertentu. Pemasar harus menemukan apa yang ada di dalam kotak hitam
pembeli (Kotler dan Armstrong, 2008). Rangsangan pemasaran yang dimaksud
oleh Kotler terdiri dari empat P yaitu Product (produk), Price (harga), Place
(tempat), dan Promotion (promosi).
8. Pengertian Pandemi Covid-19
Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), pandemi merupakan
wabah yang berjangkit serempak di mana-mana atau meliputi geografi yang
luas. Sementara COVID-19 (coronavirus disease 2019) merupakan penyakit
yang disebabkan oleh jenis coronavirus baru yaitu Sars-CoV-2. Dengan
demikian, pandemi covid 19 dapat didefinisikan sebagai wabah virus yang
disebabkan oleh COVID-19 yang menjangkit wilayah geografi yang luas
2.3 Kerangka Berpikir
Perilaku konsumen dalam kegiatan jual beli baik secara langsung maupun
secara daring dipengaruhi oleh banyak faktor. Perilaku konsumen biasanya terlihat
pada saat konsumen membeli sebuah produk/jasa. Konsumen mempertimbangkan
beberapa hal untuk memutuskan dalam membeli sebuah produk/jasa. Salah satu hal
utama yang harus dipertimbangkan konsumen dalam membeli sebuah produk/jasa
adalah harga. Konsumen cenderung memilih produk dengan harga yang terjangkau
atau harga yang sebanding dengan kualitas produk yang akan dibeli. Dalam
penetapan harga jual ini, pihak penjual akan memperhitungkan harga yang cocok
dengan barang yang dijual agar menarik minat pembeli dalam membeli produk
tersebut. Di Indonesia, harga jual telah diperhitungkan dengan pengenaan pajak
pertambahan nilai di dalamnya. Biasanya, penjual akan menaikkan harga jual karena
adanya pengenaan pajak pertambahan nilai tersebut.
Pajak pertambahan nilai ini tidak hanya dikenakan pada barang/jasa yang dibeli
secara langsung, namun saat ini kebijakan pemerintah juga memberlakukan pajak
pertambahan nilai pada transaksi jual-beli produk/jasa di e-commerce. Untuk produk
impor, pemerintah telah menetapkan tarif bea masuk terhadap barang-barang impor
baik barang yang diimpor/dibeli langsung maupun melalui e-commerce. Adanya
pajak pertambahan nilai dan bea masuk yang dikenakan pada barang yang dijual
maka akan menyebabkan harga barang naik/lebih tinggi. Padahal harga jual
termasuk dalam salah satu faktor yang dipertimbangkan oleh konsumen dalam
keputusan pembelian suatu produk. Menurut Kotler & Armstrong (2014), keputusan
pembelian adalah tahap dalam proses pengambilan keputusan pembeli di mana
konsumen benar-benar membeli. Dalam model perilaku konsumen menurut Kotler
dan Amstrong, harga termasuk dalam rangsangan pembelian yang menjadi faktor
dalam keputuan pembelian bagi konsumen.
Dalam uraian di atas, kerangka berpikir dalam penelitian ini dapat digambarkan
sebagai berikut :

Pajak Pertambahan
Nilai (PPN)

Harga Jual di E-
Commerce

Tarif Bea Masuk


Impor

Keputusan Pembelian Penerapan Model


Konsumen Perilaku Konsumen
Kotler dan Armstrong

Dengan kerangka berpikir yang digambarkan diatas dapat dijelaskan bahwa model
perilaku konsumen menurut Kotler dan Armstrong mendukung dalam penelitian ini
2.4 Hipotesis Penelitian
Menurut Sugiyono (2017) hipotesis merupakan jawaban sementara terhadap
rumusan masalah. Karena sifatnya masih sementara, maka perlu dibuktikan
kebenarannya melalui fakta yang terkumpul di lapangan. Berdasarkan judul
penelitian, maka hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah :

H1 : penerapan pajak pertambahan nilai dan tarif bea masuk impor pada e-commerce
berpengaruh terhadap consumer behavior pengguna e-commerce di Kota Salatiga
pada masa pandemi covid 19.
BAB III
METODE PENELITIAN

3.1 Desain Penelitian


Penelitian ini menggunakan pendekatan deduktif karena penelitian deduktif
memiliki kekhasan utama adalah adanya perumusan hipotesis. Pola pikir deduktif
secara sederhana dapat dikatakan “pemikiran yang berpangkal dari hal yang bersifat
umum diterapkan atau diarahkan kepada hal yang bersifat khusus”. Pola pikir
deduktif merupakan salah satu tujuan yang besifat formal dan memberi tekanan
pada penataan nalar (Rochmad, 2007:114).
Sementara untuk metode penelitian yang digunakan adalah dengan metode
kuantitatif karena hasil pengamatan dikonversikan ke dalam angka-angka yang
dianalisis menggunakan statistik. Menurut Kasiram (2008), penelitian kuantitatif
dapat didefinisikan sebagai suatu proses menemukan pengetahuan dengan
menggunakan data berupa angka sebagai alat untuk menganalisis keterangan
tentang apa yang ingin diketahui. Metode penelitian kuantitatif ini menerjemahkan
data menjadi angka untuk selanjutnya dianalisis hasil temuannya.
Jenis penelitian ini termasuk dalam penelitian survei. Penelitian survei
didefinisikan sebagai sebuah penelitian yang dilakukan pada populasi yang besar
maupun kecil, akan tetapi data yang dipelajari diambil dari sampel dalam populasi
tersebut dengan tujuan untuk menemukan kejadian-kejadian relatif, distribusi, dan
hubungan-hubungan antar variabel sosiologis maupun psikologis. Ada dua jenis
desain penelitian survei, yaitu :
a) Desain pembagian silang atau cross sectional design
Desain penelitian ini paling populer yang digunakan untuk mengetahui isu-isu
yang bersifat temporer melalui pengumpulan data yang dilakukan satu kali saja.
b) Desain survei berkepanjangan atau longitudinal survey (Widodo, 2008)
Desain survei berkepanjangan biasanya digunakan untuk memahami suatu isu
secara berkelanjutan. Populasi yang digunakan tidak banyak dengan
pengambilan data yang dilakukan secara berkala. Desain penelitian jenis ini
terdiri dari kajian kecenderungan atau trend studies, studi panel atau panel
studies, sosiometrik, dan desain kontekstual atau contextual design.
c) Desain Sample survey
Survei sampel merupakan survei yang dilakukan pada sebagian populasi atau
sampel
d) Desain sensus survei (Irawan Soehartono, 2000)
Sensus survei adalah survei yang dilakukan pada seluruh populasi.
Dalam penelitian ini, jenis desain penelitian survei yang digunakan adalah
desain pembagian silang. Desain ini cenderung cocok dengan penelitian yang akan
dilakukan karena data dalam bagian silang (cross section) pada pilihan responden
mewakili populasi amat besar sehingga dapat mengumpulkan perhatian pada hal-hal
yang perlu pada suatu waktu.
Untuk teknik analisis yang digunakan yaitu teknik analisis kausal komparatif.
Alat analisis yang akan digunakan berupa regresi karena tujuan penelitian ini adalah
untuk menguji pengaruh variabel bebas terhadap variabel terikat.
3.2 Populasi dan Sampel
3.2.1 Populasi Penelitian
Dikutip dari Kamus Besar Bahasa Indonesia, populasi adalah sekelompok
orang, benda, atau hal yang menjadi sumber pengambilan sampel; suatu kumpulan
yang memenuhi syarat tertentu yang berkaitan dengan masalah penelitian. Dalam
bukunya yang dikutip pada halaman 135, Sugiyono mendefinisikan populasi
sebagai wilayah generalisasi yang terdiri atas objek/subjek yang mempunyai
kuantitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari
dan kemudian ditarik kesimpulannya (Sugiyono,2016:135). Sedangkan menurut
Bungin (2000: 40), Populasi adalah keseluruhan (universum) dari objek penelitian
berupa manusia, hewan, tumbuhan, udara, gejala, nilai, peristiwa, sikap hidup, dan
sebagainya sehingga objek ini dapat menjadi sumber data penelitian. Dari
pernyataan tersebut, dapat disimpulkan bahwa definisi dari populasi ialah
keseluruhan objek yang berupa manusia, benda, atau hal yang dapat dijadikan
sebagai sumber dalam mengambil data penelitian. Populasi yang dijadikan dalam
objek penelitian ini adalah seluruh pengguna e-commerce yang berada di Kota
Salatiga.
3.2.2 Sampel Penelitian
Menurut Sugiyono (2008: 118), sampel didefinisikan sebagai suatu bagian dari
keseluruhan serta karakteristik yang dimiliki oleh sebuah populasi. Jika populasi
tersebut besar, sehingga para peneliti tidak memungkinkan untuk mempelajari
keseluruhan yang terdapat pada populasi tersebut karena beberapa kendala yang
akan dihadapi nantinya seperti: keterbatasan dana, tenaga dan waktu. Maka, peneliti
perlu menggunakan sampel yang diambil dari populasi tersebut. Kemudian, apa
yang dipelajari dari sampel tersebut akan menghasilkan kesimpulan yang
diberlakukan untuk populasi. Oleh karena itu sampel yang didapatkan dari populasi
harus benar-benar representatif (mewakili).
Teknik pengambilan sampel pada penelitian ini menggunakan probability
sampling. Probability sampling merupakan teknik pengambilan sampel yang
memberikan kesempatan yang sama bagi setiap angota atau unsur populasi agar
dipilih menjadi anggota sampel. Teknik probability sampling yang digunakan
secara lebih rinci yaitu menggunakan teknik area sampling (cluster sampling)
karena objek yang diteliti berada dalam satu wilayah yang luas yaitu satu kota.
Ukuran sampel yang digunakan dihitung menggunakan rumus Solvin. Menurut
Aloysius Rangga Aditya Nalendra, dkk. (2021:27-28), rumus slovin adalah formula
untuk menghitung jumlah sampel minimal jika perilaku sebuah populasi belum
diketahui secara pasti. Rumus solvin diformulasikan sebagai berikut :
Keterangan :
n : ukuran sampel
N : ukuran populasi
e : persen kelonggaran ketidakefektifan karena kesalahan pengambilan sampel yang
masih dapat ditolerir atau diinginkan, misalnya 5%
Menggunakan rumus solvin di atas, apabila jumlah populasi yang dibutuhkan
sebanyak 100 orang dengan tingkat kesalahan 5%, maka ukuran sampel minimal
yang dibutuhkan dari 100 populasi yaitu
n= 100
1+ 200 (0,05)2
n= 100
1 + 200 (0,0025)
n = 100
1 + 0,5
n = 100
1,05
n = 95,238 dibulatkan menjadi 95
Jadi, sampel minimal yang akan digunakan sebanyak 95 sampel.
3.3 Variabel Penelitian
Variabel penelitian adalah suatu atribut atau sifat atau nilai dari orang, objek atau
kegiatan yang memepunyai variasi tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari
dan kemudian ditarik kesimpulannya (Sugiyono, 2019:68). Variabel dalam penelitian ini
terdiri dari :
1) Variabel Independen
Menurut Sugiyono (2012, hlm. 64) variabel independen sering disebut sebagai
variabel stimulus, predictor, antecedent, dalam bahasa Indonesia sering disebut
juga variabel bebas, variabel bebas merupakan variabel yang memengaruhi atau
yang menjadi sebab perubahannya atau timbulnya variabel dependen (terikat).
Variabel independen dalam penelitian ini terbagi atas 2 yaitu pajak pertambahan
nilai (PPN) (X1) dan bea masuk impor (X2).
2) Variabel Dependen
Menurut Sugiyono (2012, hlm. 39) variabel dependen sering disebut sebagai
variabel output, kriteria, konsekuen. Dalam bahasa Indonesia sering disebut sebagai
variabel terikat, variabel terikat merupakan variabel yang dipengaruhi atau yang
menjadi akibat, karena adanya variabel bebas.
Variabel dependen dalam penelitian ini yaitu consumer behavior (perilaku
konsumen) (Y)
3) Variabel Moderating (Z)
Menurut Sugiyono (2013:64) mendefinisikan variabel moderating sebagai variabel
yang mempengaruhi (memperkuat dan memperlemah) hubungan antara variabel
independen dan dependen.Variabel moderating dalam penelitian ini adalah
Pandemi Covid 19 (Z) .
Jadi dalam penelitian ini terdapat empat variabel yang digambarkan dalam sebuah pola
sebagai berikut :

Variabel Independen 1
(X1)

Pajak Pertambahan Nilai


(PPN) Variabel Dependen (Y)

Consumer Behavior
Variabel Independen 2
(X2)
Variabel Moderating (Z)
Tarif Bea Masuk
Pandemi Covid 19

3.4 Teknik Pengambilan Data & Uji Instrumen


3.4.1 Teknik Pengambilan Data
Teknik pengambilan data didefinisikan sebagai prosedur pengambilan,
pengumpulan, pengukuran, dan analisis wawasan yang akurat untuk penelitian
dengan menggunakan teknik standar yang divalidasi. Unaradjan (2019, p.130 –
131) menjelaskan terdapat lima jenis teknik pengumpulan data, yaitu sebagai
berikut :
1) Angket atau kuesioner
Menurut Silalahi (2012;296) Kuesioner adalah satu set tulisan tentang
pertanyaan yang diformulasi agar responden mencatat jawabannya,
biasanya secara terbuka alternatif jawaban ditentukan. Secara lebih
sederhana, angket atau kuesioner merupakan sejumlah pertanyaan tertulis
yang digunakan untuk memperoleh informasi dari responden mengenai hal-
hal yang diketahui responden tersebut. Instrumen penelitian yang dapat
digunakan yaitu kuesioner, daftar cocok (checklist), dan skala (scala).
2) Wawancara
Menurut Silalahi (2012 ; 312) wawancara dapat dilakukan dengan individu
tertentu untuk mendapatkan data atau informasi tentang masalah yang
berhubungan dengan satu subjek tertentu atau orang lain. Instrumen
penelitian dari teknik wawancara dapat menggunakan pendoman
wawancara (interview guide) dan daftar cocok (checklist).
3) Pengamatan atau Observasi,
Menurut Riyanto (2010:96), observasi merupakan metode pengumpulan
data yang menggunakan pengamatan secara langsung maupun tidak
langsung. Observasi dapat menggunakan instrumen penelitian berupa
lembar pengamatan, panduan pengamatan, panduan observasi (observation
sheet atau observation schedule), dan daftar cocok (checklist).
4) Ujian atau Tes
Ujian atau tes umumnya bersifat mengukur, walaupun beberapa bentuk tes
psikologis terutama tes kepribadian banyak yang bersifat deskriptif, tetapi
deskripsinya mengarah kepada karakteristik atau kualifikasi tertentu
sehingga mirip dengan interpretasi dari hasil pengukuran. Instrumen
penelitian dengan ujian atau tes berupa soal ujian (soal tes) dan inventori
(inventory).
5) Dokumentasi
Menurut Sugiyono pengertian studi dokumentasi merupakan suatu teknik
pengumpulan data dengan cara mempelajari dokumen untuk mendapatkan
data atau informasi yang berhubungan dengan masalah yang diteliti.
Instrumen penelitian yang dapat digunakan yaitu berupa daftar cocok
(checklist) dan tabel.
Dalam penelitian ini, teknik pengambilan data yang digunakan berupa
kuesioner atau angket. Dalam penelitian ini kuisioner digunakan untuk
mengumpulkan data dari para responden yang telah ditentukan. Kueisioner berisi
pertanyaan yang menyangkut tentang penerapan pajak pertambahan nilai dan tarif
bea masuk impor dan pengaruhnya terhadap perilaku konsumen pengguna e-
commerce . Pertanyaan disusun dengan memperhatikan prinsip-prinsip penulisan
kuesioner seperti isi dan tujuan pertanyaan, bahasa yang digunakan, tipe dan bentuk
pertanyaan, panjang pertanyaan, urutan pertanyaan, penampilan fisik kuesioner dan
sebagainya. Kuesioner akan dibuat dalam bentuk google form dan akan dibagikan
dengan menggunakan link. Selain kuesioner, teknik pengumpulan data yang
digunakan adalah dengan dokumentasi yang digunakan sebagai pembanding atau
untuk mendukung informasi yang berkaitan dengan masalah penelitian. Teknik ini
digunakan untuk melengkapi data-data dalam rangka menganalisis masalah yang
sedang diteliti.
3.4.2 Uji Instrumen
3.4.2.1 Uji Validitas
Validitas berasal dari kata validity yang berarti sejauh mana ketepatan dan
kecermatan suatu alat ukur dalam melakukam fungsi ukurannya (Azwar 1986).
Selain itu validitas adalah suatu ukuran yang menunjukkan bahwa variabel yang
diukur memang benar-benar variabel yang hendak diteliti oleh peneliti (Cooper
dan Schindler, dalam Zulganef, 2006).
Uji validitas sendiri digunakan dengan tujuan untuk menguji apakah instrumen
penelitian yang digunakan valid atau tidak. Hal ini berarti, instrumen penelitian
tersebut dapat digunakan untuk mengukur apa yang sebenarnya diukur. Hasil
instrumen dikatakan valid apabila data yang terkumpul dengan data yang
sesungguhnya terjadi pada objek yang akan diteliti. Kuesioner dikatakan valid
jika nilai korelasi R hitung > R tabel (Sugiyono, 2008;248).Pengujian instrumen
menggunakan sampel sebanyak 100 orang bertujuan agar butir pertanyaan dalam
kuesioner memiliki tingkat validitas yang dapat diandalkan karena nilai r tabel
yang dimaksudkan cukup tinggi.
Dalam penelitian ini, untuk menguji validitas kuesioner, digunakan analisis
item dengan menguji karakteristik masing-masing item yang menjadi bagian tes
yang bersangkutan. Teknik penyusunan yang akan digunakan adalah penyusunan
skala sikap pada validitas konstruk. Validitas konstruk (construk validity) dapat
dilihat dari bagaimana alat ukur yang dikembangkan mampu mengemukakan
seluruh aspek yang membangun kerangka dari konsep-konsep yang diteliti. Uji
validitas dilakukan dengan cara mengkorelasikan skor tiap butir item dengan skor
total. Rumus ini menggunakan korelasi product moment yang dikembangkan oleh
Karl Pearson (Arikunto, 2010;213), sebagai berikut :

Keterangan :
rxy = Koefisien korelasi product moment
n = Jumlah responden
∑Xi = Jumlah skor item ke i
∑𝑋𝑖 2 = Jumlah dari kuadrat item ke i
∑Y = Total dari jumlah skor yang diperoleh tiap responden
∑𝑌𝑖 2 = Total dari kuadrat jumlah skor yang diperoleh tiap responden
Pengujian validitas pada penelitian ini menggunakan program SPSS 23.0 for
windows yang dilakukan dengan cara membandingkan antara nilai rxy dengan r
tabel untuk degree of freedom (df) = n-2. Dalam hal ini, n merupakan jumlah
sampel dalam penelitian ini yaitu 100. Maka df dapat dihitung dengan 100-2 =
98. Dengan df = 98, alpha = 0,05. Keputusan uji validitas ditentukan dengan
kriteria sebagai berikut :
 Jika rxy > r tabel, maka item pertanyaan dinyatakan valid.
 Jika rxy < r tabel, maka item pertanyaan dinyatakan tidak valid
 Nilai r hitung dapat dilihat pada kolom corrected item total correlati

3.4.2.2 Uji Reliabilitas


Menurut Sugiyono (2017: 130) , uji reliabilitas adalah sejauh mana hasil
pengukuran dengan menggunakan objek yang sama, akan menghasilkan data
yang sama. Pengujian reliabilitas ini dilakukan pada responden sebanyak 100
pengguna e-commerce di Kota Salatiga, dengan menggunakan pertanyaan yang
telah dinyatakan valid dalam uji validitas dan akan ditentukan reliabilitasnya.
Pengujian ini juga menggunakan program SPSS 23.0 for windows dan variabel
dinyatakan reliabel apabila memenuhi kriteria berikut :
 Jika r-alpha positif dan lebih besar dari r-tabel maka pernyataan tersebut
reliabel. 2.
 Jika r-alpha negatif dan lebih kecil dari r-tabel maka pernyataan tersebut
tidak reliabel.
a. Jika nilai Cronbach’s Alpha > 0,6 maka reliable
b. Jika nilai Cronbach’s Alpha < 0,6 maka tidak reliable
Pengujian terhadap tingkat reliabilitas atau keandalan sebuah instrumen,
dimaksudkan untuk mengetahui apakah kuesioner dapat memberikan ukuran
yang konstan atau tidak.. Bila suatu alat ukur dipakai lebih dari satu kali untuk
mengukur gejala yang sama dan hasil pengukuran yang diperoleh relatif
konsisten, maka alat ukur tersebut reliabel.
3.5 Teknik analisis data
3.5.1 Teknik Analisis Deskriptif
Menurut Sugiyono (2011, hlm. 169), statistika deskriptif didefinisikan sebagai
statistik yang digunakan untuk menganalisis data dengan cara mendeskripsikan atau
menggambarkan data yang terkumpul sebagaimana adanya tanpa bermaksud
membuat kesimpulan yang berlaku untuk umum. Teknik analisis deskriptif
digunakan untuk mendeskripsikan dan menganalisis gambaran variabel. Secara
khusus, analisis data deskriptif yang digunakan dihitung berdasarkan ukuran
pemusatan dan penyebaran data yang telah diperoleh, yang selanjutnya disajikan
dalam bentuk tabel dan grafik. Untuk menjawab rumusan masalah nomor 1 dan 2,
analisis deskriptif akan digunakan.
3.5.2 Teknik Analisis Inferensial
Statistik inferensial merupakan teknik statistik yang digunakan dengan tujuan
untuk menganalisis data sampel dan hasilnya diberlakukan untuk populasi. Statistik
ini sangat cocok digunakan pada sampel yang diambil dari populasi yang jelas dan
teknik pengambilan sampel yang dilakukan secara random. Statistik ini juga disebut
sebagai statistik probabilitas, karena kesimpulan yang dihasilkan berdasarkan data
sampel kebenarannya bersifat peluang (probability) baik peluang kesalahan dan
kepercayaan yang dinyatakan dalam bentuk presentase. Peluang kesalahan dan
kepercayaan ini disebut dengan taraf signifikansi (Sugiyono, 2013).
Metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini yaitu analisis regresi linier
berganda yang bertujuan untuk memperoleh gambaran yang menyeluruh mengenai
hubungan antara variabel independen dan variabel dependen. Sebelum melakukan
uji linier berganda, metode mensyaratkan untuk melakukan uji asumsi klasik guna
mendapatkan hasil yang terbaik (Ghozali, 2011: 105). Tujuan pemenuhan asumsi
klasik ini dimaksudkan agar variabel bebas sebagai estimator atas variabel terikat
tidak bias.
3.5.2.1 Uji Asumsi Klasik
Menurut Sunjoyo, dkk (2013:54), uji asumsi klasik adalah persyaratan statistik
yang harus dipenuhi pada analisis regresi linier berganda yang berbasis Ordinary
Least Square (OLS). Uji asumsi klasik dilakukan sebelum pengujian analisis
regresi linier berganda dimulai terhadap hipotesis penelitian atas data yang akan
diolah sebagai berikut :
a) Uji Normalitas
Tujuan dari pengujian normalitas adalah untuk menguji apakah dalam model
regresi, variabel pengganggu atau residual memiliki distribusi normal. Seperti
diketahui bahwa uji t dan F mengasumsikan bahwa nilai residual mengikuti
distribusi normal. Apabila asumsi ini dilanggar, maka uji statistik menjadi
tidak valid untuk jumlah sampel yang kecil. Ada dua cara untuk mendeteksi
residual yang berdistribusi normal atau tidak yaitu dengan cara analisis grafik
dan uji statistik. Untuk menguji apakah data berdistribusi normal atau tidak
dilakukan uji statistik Kolmogorov-Smirnov Test. residual berdistribusi
normal jika memiliki nilai signifikansi >0,05 (Imam Ghozali, 2011: 160-165).
b) Uji Multikolinieritas
Menurut Imam Ghozali (2011: 105-106), uji multikolinieritas memiliki tujuan
untuk menguji adanya korelasi antar variabel bebas (independen) dengan
model regresi yang ditemukan. Untuk menguji multikolinieritas, dapat dilihat
dari nilai VIF masing-masing variabel independen, jika nilai VIF < 10, maka
hasilnya data bebas dari gejala multikolinieritas.
c) Uji Heteroskedastisitas
Uji heterokedastisitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi
terjadi ketidaksamaan variance dari residual satu pengamatan ke pengamatan
yang lain. Ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk melakukan uji
heteroskedastisitas, yaitu uji grafik plot, uji park, uji glejser, dan uji white.
heteroskedastisitas tidak akan terjadi apabila tidak ada pola yang jelas, serta
titik-titik menyebar di atas dan di bawah angka 0 pada sumbu Y. (Imam
Ghozali, 2011: 139-143)
d) Uji Autokorelasi
Uji autokorelasi bertujuan menguji apakah dalam model regresi linier ada
korelasi antara kesalahan pengganggu pada periode t dengan kesalahan
pengganggu pada periode t-1 (sebelumnya). Jika terjadi korelasi, maka
dinamakan ada problem autokorelasi (Imam Ghozali, 2011: 110).
Penelitian ini menggunakan uji normalitas, uji multikolinieritas, dan uji
heteroskedastisitas dalam melakukan uji asumsi klasiknya untuk menguji apakah dalam
model regresi, variabel pengganggu atau residual memiliki distribusi normal atau tidak
dengan cara analisis grafik dan uji statistik.
3.5.2.2 Teknik Analisis Regresi Linier Berganda
Regresi linier berganda merupakan metode untuk mempelajari suatu kejadian
yang dipengaruhi oleh lebih dari satu variabel. Menurut Kuncoro (2013: 241)
analisis regresi linier berganda digunakan untuk melihat seberapa besar pengaruh
antar variabel bebas dan variabel terikat, dan variabel bebas lebih dari satu.
Dalam penelitian ini, teknik analisis yang digunakan adalah teknik analisis data
regresi linier berganda dengan menggunakan bantuan program SPSS versi 23.0.
Tujuan dari penggunaan teknik analisis ini adalah untuk mengetahui bagaimana
pengaruh penerapan pajak pertambahan nilai (PPN) dan penerapan tarif bea
masuk impor terhadap Consumer Behavior. Persamaan umum regresi berganda
adalah sebagai berikut:
Y = α + β1X1 + β2X2 + e

Keterangan:
α = Konstanta
β1, β2, dan β3 = Koefisien regresi
Y = Consumen Behavior
X1 = Pajak pertambahan nilai (PPN)
X2 = Tarif bea masuk impor
e = erorr
3.5.2.3 Uji Hipotesis
Uji hipotesis dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui ada/tidaknya pengaruh
penerapan pajak pertambahan nilai dan tarif bea masuk impor terhadap consumer
behavior pengguna e-commerce di Kota Salatiga. Teknik yang digunakan untuk
menguji hipotesis adalah dengan uji-t. Rumusnya sebagai berikut:

(Muhidin, 2010. hlm. 105)


Keterangan :
t : nilai t hitung
n : jumlah sampel
r : nilai koefisien korelasi
Nilai t hitung tersebut selanjutnya dibandingkan dengan t tabel sebagai
titik kritis atau daerah kritis. Kriteria yang digunakan adalah :
 Ho ditolak dan Ha diterima, apabila thitung > ttabel dinyatakan signifikan
(diterima) atau nilai sig < α.
 Ho dterima dan Ha ditolak, apabila thitung ≤ ttabel dinyatakan tidak
signifikan (ditolak) atau nilai sig ≥ α.

Pengajuan hipotesis dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:


1) HO1 : tidak ada pengaruh penerapan pajak pertambahan nilai terhadap
consumer behavior pengguna e-commerce di Kota Salatiga pada masa
pandemi covid 19.
Ha1 : ada pengaruh pajak pertambahan nilai terhadap consumer behavior
pengguna e-commerce di Kota Salatiga pada masa pandemi covid 19.
2) HO1 : tidak ada pengaruh penerapan tarif bea masuk terhadap consumer
behavior pengguna e-commerce di Kota Salatiga pada masa pandemi covid
19.
Ha2 : ada pengaruh penerapan tarif bea masuk impor terhadap consumer
behavior pengguna e-commerce di Kota Salatiga pada masa pandemi covid
19.
3) HO3 : tidak ada pengaruh penerapan pajak pertambahan nilai dan tarif bea
masuk terhadap consumen behavior pengguna e-commerce di Kota Salatiga
pada masa pandemi covid 19.
Ha3 : ada pengaruh penerapan pajak pertambahan nilai dan tarif bea masuk
terhadap consumen behavior pengguna e-commerce di Kota Salatiga pada
masa pandemi covid 19.

3.5.2.4 Koefisien Determinasi


Koefisien determinasi digunakan untuk mengetahui seberapa besar variasi
perubahan variabel dependen yang dipengaruhi oleh variabel independen.
Koefisien determinasi akan menghasilkan persentase yang menunjukkan
persentase variabel independen dalam mempengaruhi perubahan nilai variabel
dependen di dalam model regresi. Adapun perhitungannya adalah dengan
menggunakan rumus Muhidin (2010, hlm. 105) sebagai berikut :

KD = r2 x 100%
Keterangan :
KD : koefisien determinasi
r : koefisien korelasi
100% : bilangan tetap

Nilai koefisien determinasi / R2 berada pada rentang angka nol (0) hingga satu
(1). Jika nilai koefisien determinasi yang mendekati angka nol (0) berarti
kemampuan model dalam menerangkan variabel terikat sangat terbatas.
Sebaliknya apabila nilai koefisien determinasi variabel mendekati satu (1) berarti
kemampuan variabel bebas dalam menimbulkan keberadaan variabel terikat
semakin kuat.
DAFTAR PUSTAKA

Pius Abdillah & Danu Prasetya, Kamus Lengkap Bahasa Indonesia, (Surabaya: Arloka,
2003), hlm. 256
W.J.S Poewadarmita, Kamus Umum Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 1996),
hlm. 664.
Sugiyono. 2013. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Alfabeta:
Bandung.
Bungin, Burhan. 2005. Metodologi Penelitian Kuantitatif. Kencana: Jakarta.
Martono, Nanang. 2010. Metode Penelitian Kuantitatif. RajaGrafindo Persada: Jakarta
https://www.pajak.com/pwf/tarif-pajak-e-commerce-dan-umkm/
https://www.kemenkeu.go.id/publikasi/berita/ini-ketentuan-pajak-bagi-pelaku-e-
commerce/
https://fiskal.kemenkeu.go.id/fiskalpedia/2021/03/26/221036799823080-mengenal-
pajak-penjualan-barang-mewah-ppnbm
http://repository.umy.ac.id/bitstream/handle/123456789/19880/BAB%20II.pdf?seque
nce=6&isAllowed=y
http://e-journal.uajy.ac.id/2166/3/2EM15546.pdf
http://eprints.mercubuana-yogya.ac.id/2087/2/BAB%20II.pdf
https://dspace.uii.ac.id/bitstream/handle/123456789/10672/05.2%20bab%202.pdf?seq
uence=5&isAllowed=y#:~:text=Menurut%20Kamus%20Besar%20Bahasa%20Indone
sia%20(KBBI)%2C%20pengertian%20penerapan%20adalah,oleh%20suatu%20kelo
mpok%20atau%20golongan
https://penerbitdeepublish.com/desain-penelitian/
https://kbbi.web.id/
http://repository.stei.ac.id/1343/4/BAB%20III.pdf
https://eprints.uny.ac.id/27436/3/BAB%20III.pdf
http://repository.upi.edu/18388/3/S_SOS_1100884_Chapter3.pdf