Anda di halaman 1dari 2

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Selamat Pagi
Yth, Tutor dan rekan-rekan
Berikut tanggapan saya pada diskusi 7 kali ini,

Diskusikan mengapa hal tersebut dapat terjadi! Fokuskan diskusi pada kekuatan dan
kelemahan politik lokal di Indonesia!

Jawab :

Menurut pendapat saya politik lokal menunjukan potret buram ini semua terjadi karena
penguasa memperoleh kekuasaan dalam kerangka hukum adat yang totaliter. Akibatnya
mayoritas masyarakat hanya diakui sebagai hamba (bukan warga) yang tidak pernah menjadi
objek dari pembangunan semasa itu. Masyarakat dijadikan objek dari kehidupan politik yang
tidak berpihak kepada mereka. Para penguasa selalu menarik pajak dan upeti melalui aparatur
represif  yang menjadikan kondisi ekonomi masyarakat semakin terpuruk.

Hal tersebut terjadi karena pemberian otonom yang lebih besar kepada daerah, sebagaimana
terdapat di dalam Undang-undang No. 22 tahun 1999 dan dilanjutkan dengan Undang-undang
No.32 Tahun 2004 sebagai bagian dari rekayasa kelembagaan (institutional engineering)
untuk mempercepat proses demokratisasi di Indonesia, termasuk demokratisasi di daerah.
Melalui pengaturan itu, materi otonomi yang diberikan bukan hanya sebatas pada masalah-
masalah administrasi, tetapi juga menyangkut masalah-masalah politik. Seperti : pemberian
kewenangan yang lebih besar kepada daerah untuk mengatur dirinya sendiri. Di samping itu,
daerah juga dimungkinkan untuk mengelola ekonominya secra lebih mandiri. Jadi
bupati/walikota tidak lagi bertanggungjawab kepada pemerintah provinsi maupun pemerintah
pusat, karena bupati/walikota dipilih oleh DPRD kabupaten/kota.
Selain itu, posisi DPRD baik di tingkat Kabupaten/kota ataupun provinsi juga lebih kuat
dibanding sebelumnya. Jika di masa Orde Baru posisi DPRD menjadi bagian dari pemrintah
daerah. Namun pasca Orde Baru, DPRD memiliki peran yang lebih besar yaitu DPRD tidak
lagi dibawah Lembaga eksekutif melainkan sejajar. DPRD tidak hanya dapat memilih dan
menetapkan bupati/walikota atau gubernur, tetapi juga berhak mengajukan pemberhentian
bupati/walikota/gubernur. Secra anggran, DPRD tidak lagi bergantung pada lemabga
eksekutif karena mereka memiliki hak untuk menetapkan anggaran termasuk anggaran untuk
DPRD sendiri. Di sisi lain, kepala daerah dituntut memiliki pertanggungjawaban yang lebih
besar kepada DPRD. Seperti : Kepala daerah diwajibkan membuat LPJ setiap tahun kepada
DPRD. Sehingga dalam hal ini, bisa dikatakan bahwa posisi DPRD lebih tinggi daripada
kepala daerah (legislative heavy).

Desentralisasi dianggap sebagai gejala yang wajar dari sebuah Negara yang menerapkan
system demokrasi. Proses semacam itu merupakan kecenderungan yang tak terhindarkan dari
demokrasi politik yang menhendaki adanya perluasan partisipasi dan pemberian otonomi bagi
masyarakat local. Desentralisasi yang muncul bersamaan dengan reformasi 1998 menjadi
salah satu unsure pembeda paling elementer disbanding era orde baru.

Menurut UU No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, otonomi daerah adalah hak,
wewenang, dan kewajiban daerah otonom untuk mengatur dan mengurus sendiri urusan
pemerintahan dan kepentingan masyarakat setempat sesuai dengan peraturan perundang-
undangan. Otonomi daerah merupakan system perpanjangan kewenangan pemerintah pusat
kepada pemerintah daerah untuk melaksanakan pemerintahan sendiri di wilayahnya.

Hak daerah dalam menjalankan otonomi daerah Menurut UU No 32 Tahun 2004 Pasal 21,
dalam menyelenggarakan otonomi, daerah memiliki hak sebagai berikut:
• Mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahannya
• Memilih pimpinan daerah
• Mengelola aparatur daerah
• Mengelola kekayaan daerah
• Memungut pajak daerah dan retribusi daerah
• Mendapatkan bagi hasil dari pengelolaan sumber daya alam dan sumber daya lainnya yang
berada di daerah

Sehubungan dengan itu maka perlu dilakukan beberapa perbaikan agar desentralisasi itu
dapat berjalan dengan baik dan sesuai tujuan awalnya.
Pertama, stigma negative atas implementasi desentralisasi dan otonomi harus dijawab dengan
semangat pendalaman desentralisasi melalui penyegaran kembali nilai-nilai dasar
desentralisasi, yakni kesejahteraan public. Kedua, pejabat public dan birokrasi pemerintah
daerah harus bertransformasi pemikirannya bahwa implementasi desentralisasi bukan hanya
sekedar hak politik, tetapi juga kewajiban politik atas ukuran kesejahteraan masyarakatnya.
Apabila hal-hal tersebut dapat dilaksanakan dengan baik, maka perwujudan good governance
dan tujuan utama dari terciptanya kebijakan desentralisasi ini akan terwujud.