Anda di halaman 1dari 3

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Selamat Pagi
Yth, Tutor dan rekan-rekan
Berikut tanggapan saya pada diskusi 7 kali ini,

1. Menurut pendapat Anda, bagaimana Anda menanggapi ketidaksetaraan gender dalam


dunia kerja yang nyatanya masih ada sampai saat ini?

Jawab :
Menurut Nurhaeni (2009) ketidaksetaraan gender adalah perlakuan diskriminatif/
berbeda Yang diterima perempuan atau laki-laki. Perlakuan ini diberikan bukan
berdasarkan atas Kompetensi, aspirasi dan keinginannya sehingga merugikan salah
satu jenis kelamin. Ketidaksetaraan gender adalah ketidakadilan bagi perempuan atau
pun laki-laki berdasarkan Sistem dan struktur yang ada. Manifestasi yaitu
marjinalisasi, subordinasi, stereotip, Kekerasan dan beban kerja (Fakih,2008).
Ketidaksetaraan gender disebabkan oleh akses, Partisipasi dan kontrol yang tidak
seimbang bagi perempuan dalam mencapai sumber daya (Moser,1993).

Pembagian peran, tidak akan menjadi masalah selama perempuan dan laki-laki
Diperlakuan secara adil, sesuai kebutuhannya dan tidak merugikan salah satu jenis
kelamin. Masyarakat Indonesia masih menganut budaya patriarki. Dalam budaya
patriarkhi, laki-laki Memegang kendali dalam sistem kehidupan sosial, garis
keturunan dalam sistem keluarga Mempengaruhi sistem sosial kemasyarakatan.
Akibatnya, keputusan-keputusan penting dalam Keluarga atau dalam masyarakat
ditentukan oleh pihak laki-laki tua/dewasa, pembagian peran Dan status sosial
mengikuti ketentuan sistem patriarkhi, termasuk pembagian kewajiban dan Hak
perempuan dala bidang penidikan mengikuti ketentuan yang telah ditentukan oleh
lakilaki. Dalam pembagian peran, laki-laki berada pada wilayah publik, sedangkan
peran pada Perempuan ada wilayah domestik. Ketentuan ini mempengaruhi
pembagian kerja secara Seksual antara laki-laki dan perempuan. Ada pekerjaan yang
dianggap cocok dan tidak cocok Dikerjakan oleh laki-laki atau perempuan. Implikasi
dari budaya patriarkhi akhirnya memunculkan diskriminasi perempuan baik dalam
Bidang pendidikan, sistem politik, ekonomi dan sosial budaya.

Menurut saya, seharusnya tidak ada yang namanya ketidaksetaraan gender dalam
dunia kerja karena perempuan juga bisa mengerjakan pekerjaan laki-laki. Meskipun
dari segi tenaga laki-laki memiliki tenaga lebih kuat dari pada perempuan, tapi masih
banyak perempuan yang bekerja dan bisa mengurus rumah tangga. Kesetaraan gender
tidak berarti bahwa laki-laki dan perempuan adalah sama, atau telah menjadi sama,
tapi hak-hak, tanggungjawab, status sosial dan akses ke sumberdaya upah dalam
bekerja, mereka tidak tergantung dari gender mereka. Biasanya kenapa para
pengusaha enggan memperkerjakan perempuan sebab memilki potensi kehamilan,
tanggung jawab keluarga dan status pernikahan mereka. Seharusnya anggap ini
dihapuskan yang terpenting dari dunia kerja itu adalah skill dan kecerdasannya bukan
gender.

2. Menurut pendapat Anda, apakah setiap wanita berhak mendapatkan kesetaraan gender
seperti laki-laki? Mengapa demikian?

Jawab :

Pada prinsipnya bahwa kesetaraan gender merupakan anggapan terhadap semua orang
pada kedudukan yang sama dan sejajar (adil), baik itu laki-laki maupun perempuan.
Dengan mempunyai kedudukan yang sama, maka setiap individu mempunyai hak-hak
yang sama, menghargai fungsi dan tugas masing-masing, sehingga tidak ada salah
satu pihak yang mereka berkuasa, merasa lebih baik atau lebih tinggi kedudukannya
dari pihak lainnya.
Kesetaraan gender, atau kesetaraan antara laki-laki dan perempuan, mengacu pada
kesetaraan hak, tanggung-jawab, kesempatan, perlakuan dan penilaian atas
perempuan dan laki-laki, anak perempuan dan anak laki-laki dalam kehidupan
maupun di tempat kerja. Kesetaraan Gender adalah kebebasan memilih peluang-
peluang yang diinginkan tanpa ada tekanan dari pihak lain, kedudukan dan
kesempatan yang sama di dalam pengambilan keputusan dan di dalam memperoleh
manfaat dari lingkungan. Dalam situasi yang setara ini tidak adanya diskriminasi
berdasarkan jenis kelamin seseorang dalam memperoleh kesempatan dan alokasi
sumber daya, manfaat atau dalam mengakses pelayanan.

Diskriminasi berdasarkan gender masih terjadi pada seluruh aspek kehidupan, di


seluruh dunia. Ini adalah fakta meskipun ada kemajuan yang cukup pesat dalam
kesetaraan gender dewasa ini. Sifat dan tingkat diskriminasi sangat bervariasi di
berbagai negara atau wilayah. Tidak ada satu wilayah pun di negara dunia ketiga di
mana perempuan telah menikmati kesetaraan dalam hak-hak hukum, sosial dan
ekonomi. Kesenjangan gender dalam kesempatan dan kendali atas sumber daya,
ekonomi, kekuasaan, dan partisipasi politik terjadi di mana-mana. Perempuan dan
anak perempuan menanggung beban paling berat akibat ketidaksetaraan yang terjadi,
namun pada dasarnya ketidaksetaraan itu merugikan semua orang. Oleh sebab itu,
kesetaraan gender merupakan persoalan pokok suatu tujuan pembangunan yang
memiliki nilai tersendiri.
Kesetaraan gender akan memperkuat kemampuan negara untuk berkembang,
mengurangi kemiskinan, dan memerintah secara efektif. Dengan demikian
mempromosikan kesetaraan gender adalah bagian utama dari strategi pembangunan
dalam rangka untuk memberdayakan masyarakat (semua orang)-perempuan dan laki-
laki-untuk mengentaskan diri dari kemiskinan dan meningkatkan taraf hidup mereka.

Pembangunan ekonomi membuka banyak jalan untuk meningkatkan kesetaraan


gender dalam jangka panjang. Agenda Tujuan Pembangunan Berkelanjutan memiliki
makna yang penting karena setelah diadopsi maka akan dijadikan acuan secara global
dan nasional sehingga agenda pembangunan menjadi lebih fokus. Setiap butir tujuan
tersebut menjunjung tinggi Hak Asasi Manusia (HAM) dan untuk mencapai
kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan, baik tua mau-pun muda.