Anda di halaman 1dari 14

LAPORAN LENGKAP

PERCOBAAN I

PEMBUATAN LARUTAN

NAMA : Sakinah
STAMBUK : A251 20 021
KELAS :B
KELOMPOK :3
ASISTEN : MOH. RAIS PERDANA PUTRA

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KIMIA

JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN


ALAM

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS TADULAKO

2021

PERCOBAAN I
PEMBUATAN LARUTAN

I. Tujuan Percobaan

Tujuan dari percobaan ini yaitu untuk membuat larutan HCl dan larutan NaOH
standar sebagai larutan sediaan/stok.

II. Dasar Teori

Pembuatan larutan adalah suatu cara mempelajari proses pembuatan larutan


dari bahan cair atau padat dengan konsentrasi tertentu. Untuk menyatakan
kepekaan atau konsentrasi suatu larutan dapat dilakukan berbagai cara tergantung
pada tujuan penggunaannya. Adapun satuan yang digunakan untuk menentukan
kepekaan larutan adalah molaritas, persen berat, persen volume dan sebagainya
(Baroroh, 2004).

Larutan adalah campuran homogen yang terdiri dari dua atau lebih zat. Zat
yang jumlahnya sedikit didalam larutan disebut zat terlarut atau solut. Sedangkan
jumlahnya yang lebih banyak daripada zat-zat lain dalam larutan disebut pelarut
atau solven. Proses pencampuran zat terlarut dan pelarut membentuk larutan
disebut pelarut atau solvasi. Contoh larutan yang umum sering dijumpai adalah
padatan yang dilakukan seperti garam atau gula yang dilarutkan dalam air. Gas
dapat pula dilakukan dalam cairan. Setelah itu, cairan dapat pula larut dalam
cairan lain, dan gas larut dalam gas lain. Terdapat pula larutan padat. Misalnya
aloy dan mineral tertentu (Oxtoby, 2001).

Campuran-campuran yang homogen disebut larutan yang memiliki komposisi


merata atau serba sama diseluruh bagian volumenya. Suatu larutan mengandung
zat terlarut atau lebih dari suatu pelarut. Zat terlarut merupakan suatu komponen
yang jumlahnya sedikit. Sedangkan pelarut adalah komponen yang terdapat pada
jumlah yang banyak (Baroroh, 2004).

Suatu larutan dengan jumlah maksimum zat terlarut yang dalam larutan lebih
banyak daripada zat terlarut yang seharusnya dapat melarutkan pada temperatur
tersebut. Larutan yang demikian disebut larutan lewat jenuh. Banyaknya zat
terlarut yang dapat menghasilkan larutan jenuh, dalam jumlah tertentu pelarut
pada temperatur konstan disebut kelarutan. Kelarutan suatu zat tergantung pada
sifat zat itu, molekul pelarut, temperatur dan tekanan. Meskipun larutan-larutan
dapat mengandung banyak komponen, tetapi pada kesempatan ini, hanya dibahas
larutan yang mengandung 2 komponen yaitu biner (Achmad, 1996).

Pada Umumnya zat yang digunakan sebagai pelarut adalah air (H 2O), selain air
yang berfungsi sebagai pelarut adalah alkohol, amoniak, kloroform, benzena,
minyak, asam asetat, akan tetapi kalau menggunakan air biasanya tidak
disebutkan (Gunawan, 2004).

Larutan gas dibuat dengan mencampurkan suatu zat dengan gas lainnya.
Karena semua gas-gas bercampur dalam semua perbandingan, maka setiap
campuran gas adalah homogen ia merupakan larutan. Larutan cairan dibuat
dengan melarutkan gas, cairan atau padatan dalam suatu cairan. Jika sebagian
cairan adalah air, maka kelarutan disebut larutan berair (Syukri, 1999).

Faktor-faktor yang mempengaruhi kelarutan yaitu temperatur, sifat pelarut,


efek ion sejenis, efek ion berlainan, hidrolisis, pengaruh kompleks dan lain-lain
(Khopkar, 2003).

Kemolaran atau molaritas adalah banyaknya jumlah mol zat terlarut dalam tiap
liter larutan atau konsentrasi suatu larutan yang mengukur banyaknya mol zat
terlarut dalam tiap liter larutan. Kemolaran atau molaritas lambangnya M.
Molaritas dapat dirumuskan sebagai berikut :

M = n.V

Keteranngan :

M = kemolaran (mol/L)

n = jumlah zat (mol)

V = volume yang ditempati zat (Achmad, 1996).


Pengenceran suatu larutan adalah suatu penambahan zat pelarut kedalam suatu
larutan sehingga konsentrasi larutan menjadi lebih kecil dengan menambahkan air
(pelarut) persamaan rumusnya adalah sebagai berikut :

M1.V1 = M2. V2 (Achmad, 1996).

III. Alat dan Bahan

Alat dan bahan yang digunakan yaitu :


3.1 Alat

- Gelas kimia 500 mL (1 buah)

- Gelas kimia 100 mL (1 buah)

- batang pengaduk (1 buah)

- Spatula (1 buah)

- Statif dan klem (1 buah)

- Pipet volum (1buah)

- Erlenmeyer (1 buah)

- Labu takar (1 buah)

- Pipet tetes (3 buah)

3.2 Bahan

- NaOH 0,1 M

- Padatan KI2 0,01 M

- KNO3 5 %

- Indikator PP

- Larutan H2SO4
IV. Prosedur Kerja

Prosedur kerja dari percobaan ini yaitu :

4.1 Membuat larutan KI2

1. Menyiapkan alat dan bahan yang akan digunakan

2. Menimbang padatan KI2 sebanyak 0,84 gram

3. Melarutkan padatan KI2 dengan aquades dalam gelas kimia

4. memasukkan larutan tersebut kedalam labu takar

5. Menambah aquades sampai batas ukur

6. Menghomogenkan larutan tersebut

7. Memasukkan larutan yang sudah homogen kedalam botol kaca

8. Menutup bagian atas botol menggunakan aluminium foil dan memberikan lebel
pada botol

4.2 Membuatan larutan H2SO4

1. Mentiapkan alat dan bahan yang aklan digunakan

2. Mengambil larutan H2SO4 sebanyak 6,94 mL menggunakan pipet volum

3. Memasukkan larutan tersebut kedalam gelas kimia

4. Memasukkan larutan H2SO4 kedalam labu ukur (dikerjakan dalam lemari asam)
dan menambahkan aquades sampai batas ukur

5. Memasukkan larutan kedalam erlenmeyer

6. Menambahkan 25 mL NaOH dan 2 tetes indikator PP


7. Memasukkan 50 mL NaOH kedalam buret

8. Menitrasi larutan dengan volume NaOH yang dipakai sebanyak 23,5 mL

9. Memasukkan larutan hasil titrasi kedalam botol kaca

10. Menutup bagian atas botol menggunakan aluminium foil dan memberi label
pada botol

4.3 Membuat Larutan KNO3

1. Menyiapkan alat dan bahan yang akan digunakan

2. Mengambil 2,5 mL larutan KNO3 menggunakan pipet volum

3. Memasukkan larutan tersebut kedalam labu ukur

4. Menambahkan aquades sampai batas ukur

5. Mengho9mogenkan larutan tersebut

6. Memasukkan larutan yang sudah homogen kedalam botol kaca

7. Menutup bagian atas botol menggunakan aluminium foil dan memberi label
pada botol
V. Hasil Pengamatan

Hasil pengamatan dari percobaan ini yaitu :

No Perlakuan Hasil
Padatan KI2 0,1 M sebanyak 0,84 Padatan KI2larut dalam aquades dan
1
gram + aquades larutan bening
- Larutan H2SO4 2,5 M sebanyak - Larutan bening, larutan terpisah,
6,94 mL + aquades 25 mL terdapat gelembung.
2
NaOH + 2 tetes indikator PP - Larutan berwarna merah muda,
- Titrasi HCl volume HCl 23,5 mL
Larutan bening, latutan KNO3
3 Larutan KNO3 5 % + aquades
menyatu dengan aquades
VI. Reaksi-Reaksi

Reaksi-reaksi yang terdapat dalam percobaan ini, yaitu :

1). KI2 + H2O à K+ + I- + H2O

(Kalium Iodida) (Aquades) (Kalium) (Iodida) (Aquades)

2). H2SO4 + H2O à H2SO4 + H3O

(Asam Sulfat) (Aquades) (Asam Sulfat) (Hidronium)

3). H2SO4 + NaOH à Na2SO4 + H2O

(Asam Sulfat) (Natrium Hidroksida) (Natrium Sulfat) (Aquades)

4). KNO3 + H2O à KOH + HNO3

(Kalium Nitrat) (Aquades) (Kalium Hidroksida) (Asam Nitrat)


VII. Pembahasan

Pembuatan larutan adalah suatu cara mempelajari proses pembuatan larutan


dari bahan cair atau padat dengan konsentrasi tertentu. Untuk menyatakan
kepekaan atau konsentrasi suatu larutan dapat dilakukan berbagai cara tergantung
pada tujuan penggunaannya. Adapun satuan yang digunakan untuk menentukan
kepekaan larutan adalah molaritas, persen berat, persen volume dan sebagainya
(Baroroh, 2004).

Tujuan dari percobaan ini yaitu untuk membuat larutan HCl dan larutan
NaOH standar sebagai larutan sediaan/stok (Staf Pengajar Kimia Analitik, 2021).

Prinsip dasar dari percobaan ini yaitu pembuatan larutan dengan melihat jenis
zat yang akan dilarutkan. Apakah zat berupa cairan atau padatan. Bila padatan,
maka zat dilakukan penimbangan terlebih dahulu, dan memahami sifat dasar dari
larutan tersebut (Staf Pengajar Kimia Analitik, 2021).

Prinsip kerja dari percobaan ini yaitu pembuatan larutan dari bahan cair dan
padatan. Untuk pembuatan larutan bahan cair yaitu mereaksikan larutan KNO3 5
% kedalam pelarut aquades. Sedangkan pembuatan larutan dari bahan padatan
KI2 0,1 M kedalam pelarut aquades. Standarisasi dengan menggunakan larutan
HCl dititrasi dengan NaOH 0,1 M dengan menggunakan indikator PP hingga
terjadi perubahan warna (Staf Pengajar Kimia Analitik, 2021).

Percobaan ini dilakukan dengan 3 perlakuan, yaitu sebagai berikut:

A. Membuat larutan KI2

Pada percobaan ini melakukan pembuatan larutan KI 2 0,1 M sebanyak 0,84


gram yaitu pertama-tama menyiapkan alat dan bahan yang akan digunakan.
Kemudian menimbang padatan KI2 0,1 M sebanyak 0,84 gram menggunakan
neraca digital. Fungsi dari penimbangan yaitu untuk mengetahui massa pada
sampel. Lalu melarutkan padatan KI2 dengan aquades. Fungsi dari penambahan
aquades yaitu untuk melarutkan padatan. Kemudian mengencerkan dengan
menambahkan aquades hingga tanda batas labu ukur yang bertujuan untuk
menghomogenkan larutan agar larutan tercampur sempurna.Setelah itu, hasil
larutan tadi dimasukkan ke dalam botol yang bersih dan diberi label yang
berfungsi untuk pengukuran larutan menggunakan gelas ukur agar larutan yang
akan digunakan dalam praktikum sesuai dengan takaran atau ketentuan yang telah
ditentukan. Fungsi penghomogenan suatu larutan adalah agar larutan yang satu
dengan larutan yang lainnya bercampur sempurna. Hasil yang diperoleh dari
perlakuan ini yaitu padatan KI2 larut dalam aquades dan larutan bening (Staf
Pengajar Kimia Analitik, 2021).

B. Pembuatan Larutan H2SO4

Pada percobaan ini melakukan pembuatan larutan H2SO4 2,5 M sebanyak 6,94
mL yaitu pertama-tama menyiapkan alat dan bahan yang akan digunakan.
Kemudian mengambil larutan H2SO4 menggunakan pipet volum. Fungsi larutan
H2SO4 sebagai bahan dalam pengenceran larutan. Lalu memasukkan ke dalam
labu ukur ditambahkan aquades sampai batas labu ukur dan dihomogenkan. Hal
ini disebabkan karena sifat hidroskopis yang dimiliki H2SO4 yaitu kemampuan
suatu zat untuk menyerap molekul air dari lingkungannya baik absorbsi atau
adsorpsi. Bahan ini dipilih karena H2SO4 dalam bentuk larutan memiliki
kepangkatan yang tinggi sehingga sangat cocok bila digunakan dalam percobaan
pembuatan larutan. Fungsi penghomogenan dalam percobaan ini agar larutan
dapat tercampur dengan sempurna. Hasil yang diperoleh yaitu larutan bening,
larutan terpisah dan terdapat gelembung. Setelah itu melakukan standarisasi
dengan menggunakan larutan HCl yang dititrasi dengan larutan NaOH 0,1 M yang
dimasukkan ke dalam buret sebanyak 25 mL. HCl diambil sebanyak 25 mL lalu
ditambahkan 2 tetes indikator PP. Fungsi dari indikator PP adalah untuk
menunjukkan titik akhir dari pencapaian titik ekivalen. Kemudian larutan HCl
dititrasi menggunakan larutan NaOH 0,1 M dan hasil yang diperoleh adalah
larutan berwarna merah muda dan volume NaOH yang terpakai sebanyak 23,25
mL. Fungsi menitrasi yaitu untuk mengetahui konsentrasi suatu larutan (Staf
Pengajar Kimia Analitik, 2021).

C. Membuat larutan KNO3 5%


Pada percobaan ini melakukan pembuatan larutan KNO3 5%, yaitu pertama-
tama menyiapkan alat dan bahan yang akan digunakan. Kemudian menggambil
2,5 mL larutan KNO3 menggunakan pipet volum. Fungsi dari pipet volum adalah
untuk mengambil cairan dengan volume tertentu dengan ketelitian yang lebih
tinggi. Setelah itu, memasukkan larutan kedalam labu ukur dan menambahkan
aquades sampai batas labu ukur dan homogenkan larutan tersebut. Fungsi dari
penambahan aquades yaitu agar larutan KNO3 5% larut dalam aquades t. Fungsi
penghomogenan suatu larutan adalah agar larutan yang satu dengan larutan yang
lainnya bercampur sempurna. Hasil yang diperoleh larutan bening dan larutan
KNO3 5% menyatu dengan aquades (Staf Pengajar Kimia Analitik, 2021).
Berdasarkan perbandingan literatur, hasil yang diperoleh tidak sama dengan
literatur. Pada literatur untuk pembuatan larutan H 2SO4 digunakan sebanyak 5,5
mL sedangkan jumlah volume yang kami gunakan yaitu sebanyak 6,94 mL.
Kemudian standarisasi HCl dan NaOH menggunakan 2 erlenmeyer dengan
volume HCl sebanyak 10 mL sedangkan kami hanya menggunakan 1 erlenmeyer
dengan volume HCl 25 mL. Pada literatur volume NaOH yang terpakai yaitu
11,45 mL dan 11, 4 mL sedangkan volume yang terpakai pada perlakuan yang
kami lakukan adalah 23,5 mL (Syukri,1999).
Kesalahan-kesalahan yang terjadi pada percobaan yaitu alat yang tidak
terkalibrasi tidak ada perhatian saat melakukan percobaan, terlalu terburuh-buruh,
tidak hati-hati, tidak teliti dalam menganalisa hasil percobaan dan tidak menguasai
prosedur kerja (Staf Pengajar Kimia Analitik, 2021).
VIII. Kesimpulan

Kesimpulan yang diperoleh dari percobaan ini yaitu dalam proses


pembuatan HCl dan larutan NaOH standar sebagai larutan sedian/stok, terlebih

M x Mr x V
dahulu mencari masing-masing larutan dengan rumus gram = .
1000
Khusus untuk padatan NaOH 0,1 M dan didapatkan hasilnya 1 gram. Sedangkan,

n
untuk mencari massa larutan KCl menggunakan rumus V = dan didapatkan
m
hasilnya sebesar 9,9 mL. Kemudian setelah didapatkan massa masing-masing
larutan. Selanjutnya HCl dititrasi dengan NaOH dan didapatkan hasil untuk
volume akhir NaOH sebesar 23,6 mL (0,0236 L). Kemudian distandarisasi dengan
rumus NaOH = ¿ ¿ dan didapatkan hasilnya sebesar 24,24 N.
DAFTAR PUSTAKA

Achmad, Hiskia. (1996). Kimia Larutan. Bandung:Citra Aditya Bakti.

Baroroh, Umi L.U.(2004). Diktat Kimia Dasar 1. Banjar Baru: Universitas


Lambung Mangkurat.

Gunawan, Adi dan Roeswati. (2004). Tanggkas Kimia. Surabaya: Kartika.

Khopkar, S. M. (1990). Konsep Dasar Kimia Analitik. Jakarta: Universitas


Indonesia.

Oxtoby, David W. (2001). Prinsip-Prinsip Kimia Moderen Jilid 1. Jakarta:


Erlangga.

Staf Pengajar Kimia Analitik. (2021). Penuntun Praktikum Kimia Analitik. Palu:
Universitas Tadulako.

Syukri, S. (1999). Kimia Dasar 2. Bandung: ITB.