Anda di halaman 1dari 12

PEMERIKSAAN Hb A1C

Mata Kuliah : Kimia Klinik II


Dosen Pengampu :

OLEH :
Imran Ramadhan PO713203191017
Ivanka Nur Widya PO713203191018
Muhammad Raihand PO713203191019
Muhammad Yusril PO713203191020
Mustasyifa Daud PO713203191021

PRODI D.III
TEKNOLOGI LABORATORIUM MEDIS
POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES MAKASSAR
2021
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang


Diabetes mellitus (DM) didefinisikan sebagai suatu penyakit atau gangguan
metabolismekronis dengan multi etiologi yang ditandai dengan tingginya kadar
gula darah disertai dengangangguan metabolisme karbohidrat, lipid dan protein
sebagai akibat insufisiensi fungsi insulin.Insufisiensi fungsi insulin dapat
disebabkan oleh gangguan atau defisiensi produksi insulin olehsel-sel beta
Langerhans kelenjar pankreas, atau disebabkan oleh kurang responsifnya sel-
seltubuh terhadap insulin (WHO, 1999). Angka kejadian Diabetes Mellitus (DM)
terus menunjukkan peningkatan, menurut konsensus para ahli endokrin Indonesia
tahun 2002 diperkirakan terdapat kira-kira 7 juta penduduk Indonesia menderita
DM pada tahun 2020.
Diabetes Mellitus merupakan kelainan metabolik endokrin yang dapat
menyerang padasemua kelompok umur dan jenis kelamin, akan tetapi pada
beberapa penelitian menunjukkan bahwa kelainan ini ada korelasinya dengan
perubahan mutasi pada jenis gen tertentu sehinggasifatnya akan diturunkan pada
garis keturunan secara langsung. Beberapa faktor juga dapatmemicu timbulnya
kelainan ini diantaranya pola makan yang kelebihan karbohidrat, berat
badan berlebih, peminum alkohol berat dan lain-lain, akan tetapi semua faktor
yang disebutkan dapat dicegah dengan perbaikan gaya hidup (Lembar,
2006).Sebenarnya keadaan yang ditimbulkan pada DM ini dapat diatasi dengan
pengobatan yang adekuat dan diet makanan yang seimbang, akan tetapi yang
ditakutkan adalah timbulnya komplikasi pada penderita DM.
Seperti yang diketahui bahwa DM merupakan kelainan metabolik endokrin
pada tubuh manusia sebagai akibat peningkatan kadar gula darah di dalamaliran
darah sehingga menyebabkan perlambatan aliran darah karena konsentrasi dan
viskositas yang meningkat. Keadaan seperti ini lama kelamaan akan menimbulkan
kerusakan beberapa organ vital seperti ginjal, jantung, otak dan retina pada mata.
Kerusakan ini akan menimbulkangangguan fungsi ginjal sampai terjadi gagal
ginjal, penyumbatan pembuluh darah koroner jantung dan menyebabkan penyakit
jantung koroner, penyumbatan pembuluh darah otak yang bisa menyebabkan
stroke serta menimbulkan kebutaan jika terjadi penyumbatan pembuluh darah
pada organ mata terutama retina.
Untuk mencegah peningkatan angka kejadian penyakit DM, maka tenaga
kesehatan terutama dokter harus dapat mendiagnosis lebih dini terhadap kelompok
populasi dengan faktor resiko yang tinggi dan mencegah komplikasi yang terjadi
jika seseorang telah mengalami penyakit DM.Selain pemberian pengobatan yang
adekuat dan menjaga pola makan dengan baik, penderita perlu melakukan
pemeriksaan fisik, laboratorium dan pemeriksaan penunjang lainnya seperti
rontgen atau funduskopi dan elektrokardiogram (rekam jantung) secara berkala.
Pemeriksaan dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui lebih dini komplikasi
yang terjadi pada penderita DM sehingga dapat dicegah dan diobati lebih dini.
Salah satu pemeriksaan laboratorium yang digunakan untuk mengetahui
komplikasi lebihdini dan mengontrol kepatuhan berobat penderita DM adalah
pemeriksaan kadar HbA1c. HbA1cyang lebih dikenal dengan hemoglobin glikat
adalah salah satu fraksi hemoglobin yang terbentuk dari reaksi non-enzimatik
antara glukosa dengan N terminal Valin rantai b hemoglobin A dengan ikatan
Almidin. Produk yang dihasilkan ini diubah melalui proses Amadori menjadi
ketoamin yang stabil dan irreversibel (Widijanti dan Ratulangi, 2011).
HbA1c yang terbentuk dalam tubuhakan disimpan dalam sel darah merah dan
akan terurai secara bertahap bersama dengan berakhirnya masa hidup sel darah
merah (rata-rata umur sel darah merah adalah 120 hari). Jumlah HbA1c yang
terbentuk sesuai dengan konsentrasi glukosa darah (Prodia, 2008). Kadar HbA1c
yang terukur sekarang mencerminkan kadar glukosa pada waktu 3 bulan yang
lalusehingga hal ini dapat memberikan informasi seberapa tinggi kadar glukosa
pada waktu tersebut. Dengan melakukan pemeriksaan ini kita juga dapat
mengetahui seberapa besar kepatuhan dalam berobat pada penderita DM.
Sebagai contoh seorang penderita telah didiagnosis DM kira-kira 3tahun dan
telah diberikan pengobatan yang sesuai, namun seberapa patuh atau teraturnya
pasientersebut minum obat tidak dapat diketahui dengan pasti. Setiap datang
kontrol ke dokter selalu membawa hasil pemeriksaan laboratorium untuk glukosa
darah dalam keadaan normal atau sedikit lebih tinggi, hal ini bisa terjadi jika
pasien
minum obat-obatan 3 hari sebelum kontrol kedokter dengan dosis yang teratur,
akan tetapi setelah diukur kadar HbA1c ternyata menunjukkanhasil yang tinggi.
Hal ini menunjukkan kepatuhan berobat atau minum obat masih rendah (Lembar,
2006).Secara umum manfaat dari pemeriksaan HbA1c sehingga perlu dilakukan
oleh penderita D Mantara lain sebagai monitoring kontrol glukosa jangka panjang,
penyesuaian terapi, menilai kualitas perawatan diabetes, memprediksi kerusakan
jaringan yang disebabkan oleh tingginya kadar glukosa darah dan melihat
kepatuhan pengobatan penderita DM (Harefa, 2011).
Pemeriksaan glukosa darah tidak dapat digantikan dengan pemeriksaan
HbA1c walaupun pemeriksaan HbA1c lebih unggul karena kedua pemeriksaan ini
saling menunjang untuk mencapai kualitas pengendalian DM, walaupun
pemeriksaan glukosa darah puasa dan 2 jam setelah makan hanya dapat
mencerminkan konsentrasi glukosa darah pada saat diukur dan sangat dipengaruhi
oleh makanan, olahraga dan obat yang baru dikonsumsi tetapi pemeriksaan ini
sangat diperlukan terutama untuk melihat adanya perubahan kadar glukosa secara
mendadak.Pasien diabetes sebaiknya memeriksakan kadar HbA1c setiap 3 bulan
atau 4 kali dalam setahun dan untuk pasien diabetes yang terkendali,
direkomendasikan untuk melakukan pemeriksaan ini setiap 6 bulan (Prodia,
2008).

1.2 Tujuan
Tujuan dari terapi DM adalah untuk mendapatkan kadar glukosa darah yang
tetap normal atau mendekati normal. Hemoglobin terglikosilasi telah diakui
sebagai permeriksaan yang menggambarkan kadar glukosa darah harian rata-rata
dan derajat ketidak seimbangan karbohidrat dua bulan yang lalu (lebih baik dari
kadar gula darah puasa ).
Tabel 3 : Kriteria Pengendalian DM
No Parameter Tes Baik Sedang Buruk
1 Glukosa darah puasa 80 –120 120 –140 > 140
Glukosa darah 2 jam 80 – 160 160 - 200 > 200
pp
2 HbA1c 4–6 6–8 >8
3 Kolesterol total < 200 200 – 240 > 240
Kolesterol-HDL > 40 35 – 40 < 35
Trigliserida :
- tanpa PJK < 200 200 – 400 > 400
- dengan PJK < 150 < 200 > 200

HbA1c merupakan kombinasi glukosa dan hemoglobin dewasa (HbA). Jumlah


hemoglobin dewasa yang terglikosilasi membentuk HbA1c berhubungan langsung
dengan kadar glukosa darah rata-rata dalam darah. Tidak seperti tes urine dan
glukosa darah, yang dipengaruhi oleh keadaan saat pemeriksaan.misalnya diet
yang ketat menjelang pemeriksaan. Pemeriksaan HbA1c tidak dipengaruhi oleh
kadar glukosa darah saat itu, tapi merupakan indikator kadar glukosa darah rata-
rata beberapa bulan sebelumnya.
Kadar HbA1c menggambarkan kontrol glikemik kadar glukosa 2-3 bulan
sebelumnya. Karena itu dianjurkan untuk diperiksa setiap 3 bulan sekali,
setidaknya 2 kali setahun. Fruktosamin mengambarkan kadar glukosa 2-3 minggu
sebelumnya. Penggunaan kombinasi kedua pemeriksaan yakni HbA1c dan
fruktosamin bermanfaat karena walaupun keduanya serupa menggambarkan
kontrol glikemik tetapi berbeda jangka waktu kadar glukosa yang
digambarkannya. Kadar fruktosamin berguna untuk memantau yang lebih cepat
sedangkan HbA1c untuk jangka waktu yang lebih lama.
BAB II
PEMBAHASA
N

2.1 Prinsip pemeriksaan


Prinsip pemeriksaan HbA1c adalah mengukur persentasi hemoglobin sel
darah merahyang diselubungi oleh gula. Semakin tinggi nilainya berarti kontrol
gula darah buruk dankemungkinan komplikasi semakin tinggi. Pada orang yang
tidak menderita diabetes, kadar HbA1c berkisar antara 4,5 sampai 6%. Jika
kadarnya 6,5% atau lebih pada dua pemeriksaanterpisah, maka kemungkinan
orang tersebut menderita diabetes. Nilai antara 6 sampai 6,5%menunjukkan
keadaan pradiabetes. Penderita diabetes yang tidak terkontrol dalam waktuyang
lama biasanya memiliki kadar HbA1c lebih dari 9% sedangkan target
pengobatanadalah kadar HbA1c sebesar 7% atau kurang (Githafas, 2010). Lebih
jelasnya dapat dilihat pada tabel dibawah ini:(Harefa, 2011)

Pemeriksaan kadar HbA1c memiliki banyak keunggulan dibandingkan


pemeriksaanglukosa darah yaitu antara lain:
a. Tidak perlu puasa dan dapat diperiksa kapan saja
b. Memperkirakan keadaan glukosa darah dalam jangka waktu lebih lama (2-
3 bulan)atau tidak dipengaruhi perubahan gaya hidup jangka pendek.
c. Metode telah terstandarisasi dengan baik dan keakuratannya dapat
dipercaya
d. Variabilitas biologisnya dan instabilitas preanalitiknya lebih rendah
dibanding glukosa plasma puasa.
e. Kesalahan yang disebabkan oleh faktor nonglikemik yang dapat
mempengaruhi nilaiHbA1c sangat jarang ditemukan dan dapat
diminimalisasi dengan melakukan pemeriksaan konfirmasi diagnosis
dengan glukosa plasma.
f. Pengambilan sampel lebih mudah dan pasien merasa lebih nyaman.
g. Lebih stabil dalam suhu kamar dibanding glukosa plasma puasa.
h. Memiliki keterulangan pemeriksaan yang jauh lebih baik dibanding
glukosa puasa
i. Lebih direkomendasikan untuk pemantauan pengendalian glukosa
j. Level HbA1c berkorelasi dengan komplikasi diabetes sehingga lebih baik
dalam memprediksi komplikasi mikro dan makrokardiovaskular. (Harefa,
2011)
Selain keunggulan, pemeriksaan kadar HbA1c juga memiliki beberapa
keterbatasanantara lain :
a. Saat interpretasi HbA1c bermasalah, maka pemeriksaan glukosa puasa
dan postprandial dianjurkan untuk tetap digunakan.
b. Meningkat seiring bertambahnya usia, akan tetapi seberapa besar
perubahan dan pengaruh usia terhadap peningkatan HbA1c belum dapat
dipastikan.
c. Harganya lebih mahal dibandingkan pemeriksaan glukosa
d. Etnis yang berbeda memiliki sensitivitas dan spesifisitas HbA1c yang
berbeda, diduga mungkin berkaitan dengan: perbedaan genetik dalam
konsentrasi hemoglobin (Hb),tingkat kecepatan glikasi (perbedaan tingkat
kecepatan glukosa masuk dalam eritrosit,kecepatan penambahan atau
lepasnya glukosa dari hemoglobin) dan masa hidup/dayatahan serta jumlah
sel darah merah.
2.2 Metode pemeriksaan
Terdapat beberapa metode yang sering digunakan dalam pemeriksaan kadar
HbA1cantara lain :
1. Metode Kromatografi Pertukaran Ion (Ion Exchange
Chromatography)
Prinsip dari metode ini adalah titik isoelektrik HbA1c lebih rendah
dan lebih cepat bermigrasi dibandingkan komponen Hb lainnya. Apabila
menggunakan metode ini harusdikontrol perubahan suhu reagen dan
kolom, kekuatan ion dan pH dari buffer (Widijantidan Ratulangi, 2011).
Kelemahan dari metode ini adalah adanya interferensi variabel
darihemoglobinopati, HbF dan carbamylated Hb (HbC) yang bisa
memberikan hasil negatif palsu. Keuntungan metode ini adalah dapat
memeriksa kromatogr am Hb varian dengan tingkat presisi yang tinggi
(Harefa, 2011).
2. Metode HPLC (High Performance Liquid Chromatography)
Metode ini memiliki prinsip yang sama dengan Ion Exchange
Chromatography, bias diotomatisasi serta memiliki akurasi dan presisi
yang baik sekali. Metode ini juga direkomendasikan menjadi metode
referensi untuk pemeriksaan kadar HbA1c (Widijantidan Ratulangi, 2011).
3. Metode Agar Gel Elektroforesis
Metode ini memiliki hasil yang berkorelasi dengan baik dengan HPLC
tetapi presisinyakurang dibandingkan HPLC. HbF memberikan hasil
positif palsu tetapi kekuatan ion, pH,suhu, HbS dan HbC tidak banyak
berpengaruh pada metode ini (Widijanti dan Ratulangi,2011).
4. Metode Immunoassay (EIA)
Prinsip dari metode ini adalah ikatan yang terjadi antara antibodi
dengan glukosa danantara asam amino-4 dengan 10 N-terminal rantai β.
Kelemahan dari metode ini adalahdipengaruhi oleh gangguan
hemoglobinopati dengan asam amino lengkap pada sisi yang berikatan dan
beberapa gangguan yang berasal dari HbF (Harefa, 2011) sehingga
metodeini hanya mampu mengukur HbA1c dan tidak dapat mengukur
HbA1c yang labil maupunHbA1A dan HbA1B (Widijanti dan Ratulangi,
2011).
Keuntungan dari metode ini adalah tidak dipengaruhi oleh HbE dan
HbD maupun carbamylated Hb, relatif lebih mudahdiimplementasikan
pada berbagai format yang berbeda dan memiliki presisi yang baik
(Harefa, 2011).
5. Metode Affinity Chromatography
Prinsip dari metode ini adalah glukosa yang terikat pada asam m-
aminofenilboronat.Kelemahan dari metode ini adalah bukan hanya
mengukur glikasi valin pada N-terminalrantai β tetapi juha glikasi rantai β
pada bagian lain dan glikasi rantai α sehingga hasil pengukuran dengan
metode ini lebih tinggi daripada dengan metode HPLC (Harefa,2011).
Keuntungan metode ini adalah non-glycated hemoglobin serta bentuk labil
dariHbA1c tidak mengganggu penetuan hemoglobin glikasi, tidak
dipengaruhi suhu, presisi baik, HbF, HbS dan HbC hanya sedikit
mempengaruhi metode ini (Widijanti dan Ratulangi, 2011).
6. Metode Analisis Kimiawi dengan Kolorimetri
Metode ini memerlukan waktu inkubasi yang lama yaitu sekitar 2 jam
tetapikeuntungannya lebih spesifik karena tidak dipengaruhi oleh -
glycosylated ataupun glycosylated labil. Kerugiannya adalah waktu lama,
sampel besar dan satuan pengukuran yang kurang dikenal oleh klinisi yaitu
mmol/L (Widijanti dan Ratulangi, 2011).7. Metode Spektrofotometri
Prinsip dari metode ini adalah penghilangan fraksi labil dari hemoglobin
dengan cara haemolysate kemudian ditambahkan agen penukar ion
kationik kemudian dibaca dengan instrument spektrofotometer pada
panjang gelombang 415 nm (Fortress, 2000).

2.3 Cara kerja


Glikosilasi adalah apabila hemoglobin bercampur dengan larutan dengan
kadar glukosa sangat tinggi serta rantai beta molekul hemoglobin mengikat satu
gugus glukosa secara irreversibel. Glikosilasi dapat terjadi secara spontan dalam
sirkulasi dan tingkat glikosilasi ini meningkat apabila kadar glukosa dalam darah
tinggi. Pada orang normal, sekitar 4-6% hemoglobin mengalami glikosilasi
menjadi hemoglobin glikosilat atau hemoglobin A1c. Pada kasus hiperglikemia
yang
berkepanjangan, dapat meningkatkan kadar hemoglobin A1c hingga 18-20%.
Glikosilasi tidak mengganggu kemampuan hemoglobin dalam hal mengangkut
oksigen, akan tetapi kadar hemoglobin A1c yang tinggi mencerminkan kurangnya
pengendalian diabetes selama 3-5 minggu sebelumnya. Setelah jumlah kadar
normoglikemik menjadi stabil maka kadar hemoglobin A1c kembali normal
dalam waktu sekitar 3 minggu.
Karena HbA1c terkandung dalam eritrosit yang hidup sekitar 3 – 4 bulan,
maka HbA1c dapat mencerminkan pengendalian metabolisme glukosa selama 100
– 120 hri sebelumnya. Hal ini lebih menguntungkan secara klinis karena
memberikan informasi yang lebih jelas tentang keadaan penderita dan seberapa
efektif terapi diabetik yang diberikan. Peningkatan kadar HbA1c > 8%
mengindikasikan diabetes mellitus yang tidak terkendali sehingga menyebabkan
penderita berisiko tinggi dapat mengalami berbagai macam komplikasi jangka
panjang seperti nefropati, neuropati, retinopati, dan/atau kardiopati.

Eritrosit yang tua karena berada dalam sirkulasi lebih lama dari pada sel-sel
eritrosit yang masih muda memiliki kadar HbA1c yang lebih tinggi. Penurunan
hasil palsu kadar HbA1c bisa disebabkan oleh penurunan dari jumlah eritrosit
total. Pada penderita dengan gejala hemolisis episodik atau kronis, darah dapat
mengandung lebih banyak eritrosit muda sehingga jumlah kadar HbA1c dapat
dijumpai dalam kadar yang sangat rendah. Adanya Glikohemoglobin total dalam
darah merupakan indikator yang lebih baik untuk pengendalian terhadap penyakit
diabetes pada penderita yang mengalami anemia ataupun kehilangan darah.
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
HbA1c adalah zat yang terbentuk dari aksi antara glukosa dengan hemoglobin
(bagian dari sel darah merah yang bertugas mengangkut oksigen ke seluruh bagian
tubuh).
Prinsip Hba1c mengukur persentasi hemoglobin sel darah merah yang
diselubungi oleh gula. Semakin tinggi nilainya berarti kontrol gula darah buruk
dan kemungkinan komplikasi semakin tinggi
Manfaat Pemeriksaan HbA1c :
1. Mencerminkan kadar rerata glukosa 3 bulan terakhir
2. Melihat kepatuhan pengobatan penderita DM
3. Memantau resiko kerusakan jaringan yang disebabkan oleh tingginya
kadar glukosa darah
Pemeriksaan Hb A1c Untuk Penderita Diabetes HbA1c adalah salah satu
pemeriksaan yang digunakan untuk menegakkan diagnosis diabetes, baik tipe 1
maupun 2.
 Kelebihan :Dapat memperkirakan kondisi glukosa darah dalam jangka
waktu panjang serta tidak dipengaruhi oleh perubahan gaya hidup jangka
pendek maupun gangguan akut seperti stres atau penyakit yang terkait.
 Kekurangan :Biaya pemeriksaan HbA1c memang relatif lebih mahal
dibanding pemeriksaan glukosa darah,
DAFTAR PUSTAKA

Hardy, Robert A. Retina dan Tumor Intraokular. Dalam buku: Vaughan DG,
Asbury T, Riordan-Eva P. Oftalmologi Umum. Edisi 14. Alih bahasa:
Tambajong J, Pendit BU. Jakarta: Widya Medika, 2000: p.197-219

Ilyas S. Ilmu Penyakit Mata. Jakarta: Balai Penerbit FK UI, 1998.p.224-7

Sudoyo AW, Setiyohadi B, Alwi I, Simadibrata M. Buku Ajar Ilmu

Penyakit
Dalam. Edisi IV. Jilid III. Jakarta: Pusat Penerbitan Departemen
Ilmu Penyakit Dalam FK UI, 2006: p.1857-9,1889-93

World Health Organization. Magnitude and Causes of Visual Impairment.


Available from: URL:
http://www.who.int/mediacentre/factsheets/fs282/en/.
Accessed August 2, 2007

National Eye Institute. Diabetic Retinopathy. Available from: URL:


http://www.nei.nih.gov/health/diabetic/retinopathy.asp. Accessed August 6,
2007

Anda mungkin juga menyukai