Anda di halaman 1dari 14

LAPORAN

Praktikum Farmakologi 2
“PENGARUH OBAT KOLINERGIK DAN ANTIKOLINERGIK
TERHADAP KELENJAR SALIVA”

DOSEN MATA KULIAH: TIM ISTN

DISUSUN OLEH:
Anisa Ayu Saputri (035017182190007)

POLITEKNIK HANG TUAH JAKARTA


JLN.FARMASI 1
BENHIL-JAKARTA PUSAT
2021
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang percobaan


Sistem saraf otonom merupakan sistem saraf eferen (motorik) yang mempersarafi
organorgan dalam seperti otot-otot polos, otot jantung, dan berbagai kelenjar. Sistem ini
melakukan fungsi kontrol, semisal: kontrol tekanan darah, motilitas gastrointestinal, sekresi
gastrointestinal, pengosongan kandung kemih, proses berkeringat, suhu tubuh, dan beberapa
fungsi lain. Karakteristik utama SSO adalah kemampuan memengaruhi yang sangat cepat
(misal: dalam beberapa detik saja denyut jantung dapat meningkat hampir dua kali semula,
demikian juga dengan tekanan darah dalam belasan detik, berkeringat yang dapat terlihat
setelah dipicu dalam beberapa detik, juga pengosongan kandung kemih). Sifat ini menjadikan
SSO tepat untuk melakukan pengendalian terhadap homeostasis mengingat gangguan
terhadap homeostasis dapat memengaruhi seluruh sistem tubuh manusia. Dengan demikian,
SSO merupakan komponen dari refleks visceral.
Obat otonom adalah obat yang bekerja pada berbagai bagaian susunan saraf otonom,
mulai dari sel saraf sampai dengan sel efektor. Banyak obat dapat mempengaruhi organ
otonom, tetapi obat otonom mempengaruhinya secara spesifik dan bekerja pada dosis kecil.
Obat-obat otonom bekerja mempengaruhi penerusan impuls dalam susunan saraf otonom
dengan jalan mengganggu sintesa, penimbunan, pembebasan atau penguraian neurohormon
tersebut dan khasiatnya atas reseptor spesifik.
Obat-obatan merupakan penyebab paling umum dari penurunan saliva. Berdasarkan
penelitian, dari 200 obat yang paling sering diresepkan, menunjukkan efek samping obat-
obatanpaling banyak adalah mulut kering (80,5%), disgeusia (47,5%), dan stomatitis (33,9%).
Obat-obatan yang paling sering menyebabkan mulut kering adalah tricyclic antidepresan,
antipsikotik, atropinik, beta bloker, serta antihistamin, karena itu keluhan mulut kering
merupakan hal umum pada pasien yang menjalani perawatan hipertensi, psikiatrik, atau
masalah buang air kecil. Antipsikotik merupakan obat-obatan yang
digunakanuntukmengobatipasien psikosis.Psikosis atau gangguan jiwa merupakan keadaan
abnormal yang membutuhkan perawatan jangka panjang atau bahkan selamanya. Secara garis
besar, DSM-5 (Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder-5) dan ICD-10
(International Statistical Classification of Disease and Related Health Problem-10) membagi
psikosis menjadi 2 yaitu skizofrenia dan gangguan afektif. Beberapa psikiater
mengemukakan karakteristik dari skizofrenia, yaitu kehilangan pergaulan, kehilangan kendali
ego, tidak dapat dimengerti, dan tidak rasional. Psikosis memiliki ciri-ciri seperti delusi dan
halusinasi, namun beberapa literatur sebelumnya menunjukkan bahwa suasana hati yang
kurang baik dan kecemasan, gangguan persepsi dan kognisi, bisa timbul bertahun-tahun
sebelum timbulnya gejala delusi dan halusinasi. Pengobatan yang seksama dan teratur sesuai
dengan anjuran akan mengurangi dan mengontrol gejala pada pasien psikosis.
Sekresi kelenjar saliva dikontrol oleh sistem saraf otonom simpatik dan parasimpatik.
Stimulasi pada sistem saraf simpatik akan melepaskan noradrenalin sedangkan stimulasi pada
sistem saraf parasimpatik menyebabkan pelepasan asetilkolin.5 Agen antikolinergik
merupakan obat yang dapat mengurangi atau menghambat produksi asetilkolin pada sistem
saraf sentral dan perifer, sehingga menyebabkan penurunan sekresi kelenjar saliva.
Saliva merupakan cairan dalam rongga mulut yang berperan penting dalam kesehatan
gigi dan mulut.Saliva terdiri dari sekresi kelenjar ludah dan cairan kravikular gingiva.
Sebagian besar saliva diproduksi oleh kelenjar saliva mayor, yaitu sekitar 90%. Pada rongga
mulut yang sehat, aliran saliva rata-rata perhari adalah sekitar 500mL sampai 1500mL.
Sekresi saliva merupakan pelindung alami karena dapat mempertahankan keadaan
fisiologis jaringan rongga mulut. Cairan saliva dapat menjadi pembersih mekanis dari adanya
residu pada rongga mulut seperti bakteri dan sel non-adheren, serta debris makanan. Laju
aliran saliva yang besar dapat meningkatkan kapasitas pembersih dan pengencer makanan
dalam rongga mulut, karena itu dapat terjadi perubahan drastis pada tingkat kebersihan
rongga mulut jika terjadi penurunan laju aliran saliva.
Sistem saraf otonom bekerja menghantarkan rangsang dari SSP ke otot polos,
otot jantung dan kelenjar. Sistem saraf otonom merupakan saraf eferen (motorik), dan
merupakan bagian dari saraf perifer. Sistem saraf otonom ini dibagi dalam 2 bagian, yaitu
sistem saraf simpatis dan sistem saraf parasimpatis. Pada umumnya jika fungsi salah satu
sistem dirangsang maka sistem yang lain akan dihambat.
Sistem saraf otonom tersusun atas saraf praganglion, ganglion dan saraf postganglion.
impuls saraf diteruskan dengan bantuan neurotransmitter, yang dikeluarkan oleh
saraf praganglion maupun saraf postganglion.
Sistem saraf otonom yang dikenal juga dengan nama sistem saraf fegetatif , sistem
saraf keseimbangan visceral atau sistem saraf sadar, sistem mengendalikan dan
mengatur keseimbangan fungsi-fungsi intern tubuh yang berada di luar pengaruh kesadaran
dan kemauan. Sistem ini terdiri atas serabut-serabut saraf-saraf ganglion-ganglion dan
jaringan saraf yang mendarafi jantung, pembuluh darah, kelenjar-kelenjar, alat-alat dalaman
dan otot-otot polos.
untuk selanjutnya, obat-obat yang berhubungan dengan kerja asetilkolin disebut
kolinergik, dan obat-obat yang berhubungan dengan kerja norepineprin disebut adrenergik.
Penggolongan obat-obat yang bekerja pada sistem saraf otonom
 Kolinergik
 Agonis kolinergik, contohya pilokarpin
 Antagonis kolinergik, contohnya atropine
 Adrenergik
 Agonis adrenergik, contohnya amfetamin
 Antagonis adrenergik, contohnya fenoksiben'amin

1.2 Tujuan percobaan


Setelah menyelesaikan percobaan ini, mahasiswa dapat :
1. Menghayati secara lebih baik pengaruh berbegai obat system saraf otonom dalam
pengendalian fungsi vegetative tubuh.
2. Mengenal teknik untuk mengevaluasi aktivitas obat kolinergeik atau
antikolinergik pada neuroefektor parasimpatis.
3. mengetahui efek dan mekanisme kerja obat antikolinergik pada kelenjar saliva
kelinci dalam sekresi air liur.
1.3 Prinsip Praktikum
1. Inhibisi
Pemberian zat kolinergik pada hewan percobaan menyebabkan salivasi dan
hipersalivasi yang dapat diinhibisi oleh zat antikolinergik.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Teori Dasar
Sistem saraf pusat merupakan sistem saraf eferen (motorik) yang mempersarafi organ-
organ dalam seperti otot-otot polos, otot jantung, dan berbagai kelenjar.1 Sistem ini
melakukan fungsi kontrol, semisal: kontrol tekanan darah, motilitas gastrointestinal, sekresi
gastrointestinal, pengosongan kandung kemih, proses berkeringat, suhu tubuh, dan beberapa
fungsi lain. Karakteristik utam SSO adalah kemampuan memengaruhi yang sangat cepat
(misal: dalam beberapa detik saj denyut jantung dapat meningkat hampir dua kali semula,
demikian juga dengan tekanan darah dalam belasan detik, berkeringat yang dapat terlihat
setelah dipicu dalam beberapa detik, juga pengosongan kandung kemih). Sifat ini menjadikan
SSO tepat untuk melakukan pengendalian terhadap homeostasis mengingat gangguan
terhadap homeostasis dapat memengaruhi seluruh sistem tubuh manusia. Dengan demikian,
SSO merupakan komponen dari refleks visceral (Guyton, 2006).
Secara anatomi sususnan saraf otonom terdiri atas saraf praganglion, gangl;ion dan
pasca ganglion yang mempersarafi sel efektor. Serat eferen persarafan otonom terbagi atas
sistem persarafan simpatis dan parasimpatis. Sistem saraf simpatis (Torakolumbal segmen
susunan saraf otonom) disalurkan melalui serat torakolumbal 1 sampai lumbal 3. Serat saraf
eferennya kemudian berjalan ke ganglion vertebral, pravertebral dan ganglia terminal. Sistem
persarafan parasimpatis (segmen kraniosakral susunan saraf otonom) disalurkan melalui
beberapa saraf kranial yaitu N III, N.VII, N.IX, N.X dan serat saraf yang berasal dari sakral 3
dan 4 (Moveamura, 2008).
Didalam sistem saraf otonom terdapat obat otonom. Obat otonom adalah obat yang
bekerja pada berbagai bagaian susunan saraf otonom, mulai dari sel saraf sampai dengan sel
efektor. Banyak obat dapat mempengaruhi organ otonom, tetapi obat otonom
mempengaruhinya secara spesifik dan bekerja pada dosis kecil. Obat-obat otonom bekerja
mempengaruhi penerusan impuls dalam susunan saraf otonom dengan jalan mengganggu
sintesa, penimbunan, pembebasan atau penguraian neurohormon tersebut dan khasiatnya atas
reseptor spesifik (Pearce, 2002).
Berdasarkan macam-macam saraf otonom tersebut, maka obat berkhasiat pada sistem
saraf otonom digolongkan menjadi :
a. Obat yang berkhasiat terhadap saraf simpatik, yang diantaranya sebagai berikut:
-Simpatomimetik atau adrenergik, yaitu obat yang meniru efek berikut :
perangsangan dari saraf simpatik (oleh noradrenalin). Contohnya, efedrin,
isoprenalin, dan lain-lain.
-Simpatolitik atau adrenolitik, yaitu obat yang meniru efek bila saraf parasimpatik
ditekan atau melawan efek adrenergik, contohnya alkaloida sekale, propanolol,
dan lain-lain.
b. Obat yang berkhasiat terhadap saraf parasimpatik, yang diantaranya sebagai
berikut:
-Parasimpatomimetik atau kolinergik, yaitu obat yang meniru perangsangan dari
saraf parasimpatik oleh asetilkolin, contohnya pilokarpin dan phisostigmin
(Pearce, 2002).
-Parasimpatolitik atau antikolinergik, yaitu obat yang meniru bila saraf
parasimpatik ditekan atau melawan efek kolinergik, contohnya alkaloida
belladonna (Pearce, 2002).
Berdasarkan macam-macam saraf otonom tersebut, maka obat berkhasiat pada
sistem saraf otonom digolongkan menjadi :
1. Obat yang berkhasiat terhadap saraf simpatik
 Simpatomimetik atau adrenergik, yaitu obat yang meniru efek perangsangan dari
saraf simpatik(oleh noradrenalin). Contohnya, efedrin, isoprenalin, dan lain-lain.
 Simpatolitik atau adrenolitik, yaitu obat yang meniru efek bila saraf
parasimpatik ditekan atau melawan efek adrenergik, contohnya alkaloida sekale,
propanolol, dan lain-lain.
2. Obat yang berkhasiat terhadap saraf parasimpatik
 Parasimpatomimetik atau kolinergik, yaitu obat yang meniru perangsangan dari saraf
parasimpatik oleh asetilkolin, contohnya pilokarpin dan phisostigmin.
 Parasimpatolitik atau antikolinergik, yaitu obat yang meniru bila saraf
parasimpatik ditekan atau melawan efek kolinergik, contohnya alkaloida
belladonna (atropine)
Kolenergika atau parasimpatomimetika adalah sekelompok zat yang dapat
menimbulkan efek yang sama dengan stimulasi Susunan Parasimpatis (SP), karena
melepaskan neurohormonasetilkolin (ACh) diujung-ujung neuronnya. Tugas utama SP adalah
mengumpulkan energi darimakanan dan menghambat penggunaannya, singkatnya berfungsi
asimilasi. Bila neuron SPdirangsang, timbullah sejumlah efek yang menyerupai keadaan
istirahat dan tidur. Efek kolinergis faal yang terpenting seperti: stimulasi pencernaan dengan
jalan memperkuat peristaltik dan sekresi kelenjar ludah dan getah lambung (HCl), juga
sekresi air mata, memperkuat sirkulasi,antara lain dengan mengurangi kegiatan jantung,
vasodilatasi, dan penurunan tekanan darah,memperlambat pernafasan, antara lain dengan
menciutkan bronchi, sedangkan sekresi dahak diperbesar, kontraksi otot mata dengan efek
penyempitan pupil (miosis) dan menurunnya tekananintraokuler akibat lancarnya
pengeluaran air mata, kontraksi kantung kemih dan ureter denganefek memperlancar
pengeluaran urin, dilatasi pembuluh dan kotraksi otot kerangka, menekanSSP setelah pada
permulaan menstimulasinya, dan lain-lain. (Tan dan Rahardja, 2002).
Antikolinergik adalah ester dari asam aromatik dikombinasikan dengan basa
organik.Ikatan ester adalah esensial dalam ikatan yang efektif antara antikolinergik dengan
reseptor asetilkolin. Obat ini berikatan secara blokade kompetitif dengan asetilkolin dan
mencegahaktivasi reseptor. Efek selular dari asetilkolin yang diperantarai melalui second
messenger seperti cyclic guanosine monophosphate (cGMP) dicegah.Reseptor jaringan
bervariasisensitivitasnya terhadap blokade. Faktanya : reseptor muskarinik tidak homogen
dan subgrupreseptor telah dapat diidentifikasikan : reseptor neuronal (M1),cardiak (M2) dan
kelenjar (M3) (Askep, 2009).
Obat antikolinergik (dikenal juga sebagai obat antimuskatrinik, parasimpatolitik,
penghambat parasimpatis). Saat ini terdapat antikolinergik yang digunakan untuk
(1). mendapatkan efek perifer tanpa efek sentral misalnya antispasmodik
(2). Penggunaan lokal pada mata sebagai midriatikum
(3). Memperoleh efek sentral, misalnya untuk mengobati penyakit parkinson.
Contoh obat-obat antikolinergik adalah atropin, skopolamin, ekstrak beladona, oksifenonium
bromida dan sebagainya. Indikasi penggunaan obat ini untuk merangsang susunan saraf pusat
(merangsang nafas, pusat vasomotor dan sebagainya, antiparkinson), mata (midriasis dan
sikloplegia), saluran nafas (mengurangi sekret hidung, mulut, faring dan bronkus, sistem
kardiovaskular (meningkatkan frekuensi detak jantung, tak berpengaruh terhadap tekanan
darah), saluran cerna (menghambat peristaltik usus/antispasmodik, menghambat sekresi liur
dan menghambat sekresi asam lambung) (Moveamura, 2008).
Obat antikolinergik sintetik dibuat dengan tujuan agar bekerja lebih selektif dan
mengurangi efek sistemik yang tidak menyenangkan. Beberapa jenis obat antikolinergik
misalnya homatropin metilbromida dipakai sebagai antispasmodik, propantelin bromida
dipakai untuk menghambat ulkus peptikum, karamifen digunakan untuk penyakit parkinson
(Moveamura, 2008).

Pilokarpin
Memiliki efek nikotinik. Efek nikotinik ini juga terlihat setelah diadakan denervasi.
Pilokarpin terutama menyebabkan rangsangan terhadap kelenjar keringat, air mata, dan
kelenjar ludah. Produksi keringat dapat mencapai tiga liter. Efek terhadap kelenjar keringat
ini terjadi karena perangsangan langsung (efek muskarinik) dan sebagian karena peransangan
ganglion (efek muskarinik) dan sebagian karena peransangan ganglion (efek nikotinik). Suatu
kekhususan dari kelenjar keringat ialah bahwa, secara anatomi kelenjar ini termasuk sistem
simpatik, tetapi neurotransmitternya asetilkolin, ini yang menjelaskan terjadinya
hyperhidrosis oleh zat kolinergik. Pilokarpin juga merupakan salah satu pemacu sekresi
kelenjar yang terkuat pada kelenjar keringat, air mata, dan saliva, tetapi obat ini tidak
digunakan untuk maksud demikian.Pilokarpin adalah obat terpilih dalam keadaan gawat yang
dapat menurunkan tekanan bolamata baik glaukoma bersudut sempit maupun bersudut lebar.
Obat ini sangat efektif untuk membuka anyaman trabekular di sekitar kanal Schlemm,
sehingga tekanan bola mata turundengan segera akibat cairan humor keluar dengan lancar.
Kerjanya ini dapat berlangsungsekitar sehari dan dapat diulang kembali. Obat penyekat
kolinesterase, seperti isoflurofatdan ekotiofat, bekerja lebih lama lagi. Disamping
kemampuannya dalam mengobatiglaukoma, pilokarpin juga mempunyai efek samping.
Dimana pilokarpin dapat mencapaiotak dan menimbulkan gangguan SSP. Obat ini
merangsang keringat dan salivasi yangberlebihan (Mycek, 200).

Atropin
Merupakan (campuran d- dan l- hiosiamin) dan skopolamin (l-hiosin) merupakan dua
alkaloid aktif. Atropine terutama ditemukan pada Atropa belladonna dan Datura stramonium,
sedangkan skopolamin terutama diperoleh dari Hyoscyamus niger. Alkaloid-alkaloid ini
merupakan ester organik dari asam tropat dengan tropanol atau skopin (basa organik).
Hambatan oleh atropine bersifat reversible dan dapat diatasi dengan pemberian asetilkolin
dalam jumlah berlebihan atau pemberian antikolinesterase. Atropine memblok asetilkolin
endogen maupun eksogen, tetapi hambatannya jauh lebih kuat terhadap yang eksogen.
Skopolamin memiliki efek depresi sentral yang lebih besar daripada atropine, sedangkan efek
perifer terhadap jantung, usus, dan otot bronkus lebih kuat dipengaruhi oleh atropine.
Fenobarbital
Fenobarbital bekerja pada seluruh SSP, walaupun pada setiap tempat tidak sama
kuatnya. Dosis nonanestesi terutama menekan respons pasca sinaps. Penghambatan hanya
terjadi pada sinaps GABAnergik. Walaupun demikian efek yang terjadi mungkin tidak
semuanya melalui GABA sebagai mediator
BAB III
ALAT,BAHAN & METODE KERJA

3.1 Hewan Percobaan :


Kelinci (jumlah 1 ekor), bobot tubuh ±1,5 kg
3.2 Alat
Alat yang digunakan :
a) Spuit injeksi 1 ml
b) timbangan hewan
c) corong gelas
d) beaker glass
e) gelas ukur
3.3 Bahan
Bahan yang digunakan :
a) Fenobarbital 100 mg/ 70 kgBB manusia secara IV.
b) Pilokarpin HCl 5 mg/kg BB kelinci secara IM
c) Atropin SO4 0,25 mg/ kgBB kelinci secara IV
3.4 Metode Kerja
1. Siapkan kelinci.
2. Hitung dosis dan volume pemberian obat dengan tepat untuk kelinci.
3. Sedasikan kelinci dengan Fenobarbital 100 mg/ 70 kgBB manusia secara IV.
4. Suntikkan kelinci dengan pilokarpin HCl 5 mg/kg BB kelinci secara IM.
5. Catat waktu saat muncul efek salivasi akibat pilokarpin HCl dan tampung saliva
yang diekskresikan kelinci ke dalam beaker glass selama lima menit. Ukur volume
saliva yang ditampung.
6. Setelah lima menit, suntikkan atropin SO4 0,25 mg/ kgBB kelinci secara IV.
7. Catat waktu saat muncul efek salivasi akibat atropine SO4 dan tampung saliva
yang diekskresikan kelinci ke dalam beaker glass selama lima menit. Ukur volume
saliva yang ditampung.
BAB III
HASIL PERCOBAAN DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Pengamatan


Dalam percobaan ini digunakan kelinci dengan bobot tubuh 1,5 Kg.
Larutan obat yang tersedia adalah sebagai berikut:
Nama Obat Konsentrasi
Fenobarbital 1%
Pilokarpin HCL 2% (100 mg dalam 5 ml)
Atropin SO4 1% (50 mg dalam 5 ml)

Perhitungan dosis dan volume pemberian


1) Konversi Dosis = Dosis Lazim (mg) x Faktor Konversi
𝐵𝐵 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑑𝑖𝑘𝑒𝑡𝑎ℎ𝑢𝑖 (𝑔)
2) Dosis berdasarkan BB = x Hasil Konversi (mg)
𝐵𝐵 𝑚𝑎𝑘𝑠𝑖𝑚𝑎𝑙 (𝑔)
𝑗𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑑𝑜𝑠𝑖𝑠 𝑏𝑒𝑟𝑑𝑎𝑠𝑎𝑟𝑘𝑎𝑛 𝐵𝐵 (𝑚𝑔)
3) Volume Pemberian = x konsentrasi sediaan obat (ml)
𝑗𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑑𝑜𝑠𝑖𝑠 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑡𝑒𝑟𝑠𝑒𝑑𝑖𝑎 (𝑚𝑔)

a. Phenobarbital (100 mg/70kg BB manusia)


Konversi 70kg Manusia-Kelinci 1,5 kg = 0,07
Dosis Berdasarkan BB = 100 mg x 0,07 = 7 mg
7𝑚𝑔
Volume Pemberian = 1000 𝑚𝑔 𝑥 100 𝑚𝑙 = 0,7 ml

b. Pilokarpin HCL (5 mg/kg BB kelinci)


1,5 𝑚𝑔
Dosis Berdasarkan BB = 𝑥 5 𝑚𝑙 = 5 mg
1,5 𝑚𝑔
5 𝑚𝑔
Volume Pemberian = 𝑥 5 𝑚𝑙 = 0,25 ml
100 𝑚𝑔

c. Atropin SO4 (0,25mg/kg BB kelinci)


1,5 𝑚𝑔
Dosis Berdasarkan BB = 1,5 𝑥 0,25 = 0,25 mg
𝑚𝑔
0,25 𝑚𝑔
Volume Pemberian = 𝑥 5 𝑚𝑙 = 0,025 ml
50 𝑚𝑔

Nama Obat Konsentrasi Dosis Pemberian Volume


Berdasarkan BB (mg) pemerian (ml)
Phenobarbital 1% 7 mg 0,7 ml
Pilokarpin HCL 2% (100 mg dalam 5 ml) 5 mg 0,25 ml
Atropin SO4 1% (50 mg dalam 5 ml) 0,25 mg 0,025 ml
Hasil pengamatan dapat di lihat pada tabel berikut:
Kolinergik dan Antikolinergik Kelenjar Saliva
Percobaan Bahan Obat Efek Salivasi
Efek Obat Kelinci Pilokarpin HCL Volume saliva yang 1,2 ml
Sistem Saraf ditampung selama 5
Otonom pada menit (ml)
Kelenjar Saliva Atropine SO4 Volume saliva yang 0,3 ml
ditampung selama 5
menit (ml)

4.2 Pembahasan
Dalam praktikum farmakologi kali ini mengenai obat sistem syaraf otonom atau obat
kolinergik, dimana dilakukan pengujian terhadap pengaruh aktivitas obat-obat sistem
syaraf otonom pada kelinci. Syaraf otonom atau dapat disebut juga sebagai sistem saraf
tak sadar merupakan syaraf-syaraf yang bekerja tanpa disadari atau bekerja secara
otomatis tanpa diperintah oleh sistem saraf pusat dan terletak khusus pada sumsum tulang
belakang. Sistem saraf otonom ini terdiri dari neuron-neuron motorik yang mengatur
kegiatan organ-organ dalam, misalnya jantung, paru-paru, ginjal, kelenjar keringat, otot
polos sistem pencernaan dan otot polos pembuluh darah.
Percobaan dimulai dengan menyuntikan kelinci dengan phenobarbitalum terlebih
dahulu yang bertujuan untuk menenangkan ( merangsang sistem kolinergik ), setelah
kelinci tenang lalu diberikan larutan pilokarpin yang diberikan secara intra muscular (IM)
efek yang ditimbulkan sangat cepat kelenjar saliva yang dikeluarkan oleh kelinci selama 5
menit sebanyak (1,2 ml). Berbeda dengan kelinci yang setelah disuntikan oleh atropin
hanya menghasilkan kelenjar saliva sebanyak (0,3 ml) dalam 5 menit , Hal ini
membuktikan bahwa pemberian obat kolinergik pilokarpin dapat meningkatkan kelenjar
saliva kelinci untuk mengeluarkan air liur karena pilokarpin memberikan efek muskarinik
dan efek nikotinik. Pilokorpin dapat menyebabkan rangsangan terhadap kelenjar ludah
yang terjadi karena perangsangan langsung (efek muskarinik) dan sebagian karena
perangsangan ganglion (efek nikotinik). Sedangkan pemberian obat atropine dapat
menghambat eksresi kelenjar saliva. Atropin sulfat merupakan antikolinergik golongan
anti muskarinik yaitu golongan yang menyekat sinaps muskarinik saraf parasimpatis
secara selektif. Pada percobaan, atropin memperlihatkan efek hambatan terhadap saraf
parasimpatis dan rangsangan terhadap saraf simpatis yaitu mukosa mulut kering (saliva
berkurang).
Pilokarpin merupakan obat kolinergik yang merangsang saraf parasimpatik yang
dimana efeknya akan menyebabkan percepatan denyut jantung dan mengaktifkan kelenjar-
kelenjar pada tubuh salah satunya kelenjar saliva. Obat kolinergik adalah sekelompok zat
yang dapat menimbulkan efek yang sama dengan stimulasi Susunan Parasimpatis (SP),
karena melepaskan neurohormon asetilkolin (ACh) diujung-ujung neuronnya. Efek
kolinergis yang ditimbulkan juga termasuk dalam merangsang atau menstimulasi sekresi
kelenjar ludah, sehingga hal tersebut dapat memicu terjadinya hipersalivasi sehingga air
liur atau saliva yang dikeluarkan oleh kelinci menjadi lebih banyak karena pilokarpin
merupakan salah satu pemacu sekresi kelenjar yang terkuat pada kelenjar saliva.
Sedangkan Atropin merupakan obat yang digolongkan sebagai antikolinergik atau
simpatomimetik. Atropin termasuk dalam alkaloid beladona, yang bekerja memblokade
asetilkolin endogen maupun eksogen. Atropin bekerja sebagai antidotum dari pilokarpin.
Efek atropin pada saluran cerna yaitu mengurangi sekresi liur, sehingga pemberian atropin
ini dilakukan agar produksi saliva menurun karena mukosa mulut kelinci menjadi kering
(serostomia).

.
BAB V
KESIMPULAN

Dari praktikum yang dilakukan yaitu percobaan efek obat kolinergik dan
antikolinergik pada sekresi kelenjar ludah dapat disimpulkan bahwa :Semakin besar
bobot hewan percobaan, maka dosis pemberian obat semakin besar. Pemberian
Phenobarbital pada hewan uji bertujuan untuk menghasilkan efek sedasi yang
memaksimalkan kerja saraf parasimpatis untuk merangsang eksresi kelenjar saliva
ketika kelinci dalam keadaan tenang atau istirahat.
Pemberian obat kolinergik (pilokarpin) dapat meningkatkan kelenjar saliva
untuk mengeluarkan air liur karena pilokarpin memberikan efek muskarinik dan efek
nikotinik. Pemberian obat antikolinergik (atropine) mampu menginhibisi hipersaliva
pada hewan percobaan dan dapat menghambat eksresi kelenjar saliva, yaitu yang
menyekat sinaps muskarinik saraf parasimpatis secara selektif. Semakin tinggi dosis
atropin yang diberikan terhadap hewan percobaann, semakin sedikit saliva yang
dikeluarkan oleh hewan percobaan tersebut.
Daftar Pustaka
 Modul praktikum farmakologi II Hang Tuah
 Petunjuk Praktikum Farmakologi ISTN
http://repository.istn.ac.id/594/1/Petunjuk%20Prak%20Farmakologi.pdf
 Laporan akhir Praktikum farmakologi modul 3 Universitas Andalas
https://dokumen.tips/reader/f/laporan-akhir-praktikum-farmakologi-modul-3
 http://scholar.unand.ac.id/36703/2/BAB%20I.pdf
 https://pdfcoffee.com/efek-obat-kolinergik-dan-antikolinergik-pada-sekresi-kelenjar-
ludah-pdf-free.html
 Clara, dkk. 2016. Laporan Praktikum Farmakologi Efek obat kolinergik dan
antikolinergik pada sekresi kelenjar ludah. Jakarta

Anda mungkin juga menyukai