Anda di halaman 1dari 10

Pendidik Sebaya Sebagai Metode...

(Yuliani Winarti, Sri Sunarti)

Pendidik Sebaya Sebagai Metode alternatif dalam Peningkatan


Pengetahuan Mencegah Narkolema (Narkoba Lewat Mata)

Peer Educators as an Alternative Method in Increasing Knowledge to


Prevent Narcolema (Drugs Through The Eyes)

Yuliani Winarti1, Sri Sunarti1

1
Universitas Muhammadiyah, Kalimantan Timur, Indonesia
*Korespondensi penulis: yw399@umkt.ac.id

Penyerahan: 08-08-2019, Perbaikan: 18-03-2020, Diterima: 26-03-2020

ABSTRACT
Accessing pornography by a child was very alarming. Knowledge enhancement with peer
educator's methods as one of the preventive measures to overcome the effects of
addiction to pornographic content needs to be done immediately. This study aims to
determine whether there was an increase in knowledge of preventing addiction to
pornographic content through peer educator programs. This research was a quasi-
experiment with a non-equivalent control group design with pre-test and post-test. The
subjects in this study were 75 students consisting of classes 7 and 8. They divided into
two groups: the intervention group that received the peer educator method (40 students)
and the control group received modules as independent reading material (35 students) in
2019. the research used a purposive sampling technique, and data analysis techniques
used the Wilcoxon and Mann Whitney U test. The result showed a statistically significant
difference in knowledge between intervention groups and control groups p-value 0.003.
There was obtained that the mean change in knowledge in the treatment group that got
the peer educator method was higher than the control group by providing modules that
were read independently.

Keywords: Peer Educator, Narcotics Prevention, Pornography Addiction.

ABSTRAK
Akses pornografi oleh anak-anak sangat memprihatinkan. Peningkatan pengetahuan
dengan metode peer educator sebagai salah satu upaya preventif untuk mengatasi efek
adiksi konten pornografi perlu segera dilakukan. Penelitian ini bertujuan untuk
mengetahui ada tidaknya peningkatan pengetahuan pencegahan kecanduan konten
pornografi melalui program peer educator. Penelitian ini merupakan eksperimen semu
dengan desain kelompok kontrol dengan pre-test dan post-test. Subjek dalam penelitian
ini sebanyak 75 siswa yang terdiri dari kelas 7 dan 8 yang terbagi menjadi 2, yaitu
kelompok intervensi yang mendapat metode peer educator di SMPN 4 Samarinda
sebanyak 40 siswa dan kelompok kontrol yang mendapat modul sebagai bahan bacaan
mandiri di SMPN 24 Samarinda sebanyak 35 siswa pada tahun 2019. Teknik purposive
sampling dan teknik analisis data menggunakan uji Wilcoxon dan Mann Whitney U. Hasil
penelitian menunjukkan ada perbedaan pengetahuan yang signifikan secara statistik
antara kelompok intervensi dan kelompok kontrol p-value 0.003. Didapatkan bahwa rata-
rata perubahan pengetahuan pada kelompok perlakuan yang mendapatkan metode peer
educator lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok kontrol dengan pemberian modul
yang dibaca secara mandiri.

151
Jurnal Dunia Kesmas, Vol. 9 No. 2, April 2020, hal. 151-160
ISSN 2301-6604 (Print), ISSN 2549-3485 (Online)
http://ejurnalmalahayati.ac.id/index.php/duniakesmas/index
Pendidik Sebaya Sebagai Metode... (Yuliani Winarti, Sri Sunarti)

Kata kunci: Peer Educator, Pencegahan Narkotika, Kecanduan Pornograpi.

PENDAHULUAN pertimbangan dan mengambil


Narkolema (narkoba lewat mata) keputusan. PFC hanya ada pada
adalah pornografi yang biasa diakses manusia dan tidak ada pada
manusia melalui mata yang binatang, bagian otak ini akan
mempunyai daya rusak pada otak matang dengan sempurna pada usia
lebih berat dibandingkan pengguna 25 tahun, PFC ini mudah rusak
narkoba. Narkolema merusak 5 karena benturan fisik, zat kimia,
bagian otak manusia sekaligus narkotika, napza dan
sedangkan pengguna narkoba hanya narkolema/pornografi. Sistem limbik
merusak 3 bagian otak yang mengatur emosi, makan,
penggunanya, sehingga narkolema minum dan naluri seksual di dalam
sangat berbahaya. Hasil penelitian di otak akan mengaktifkan zat kimia
kota Pontianak yang dilakukan oleh otak bernama dopamine yang
Supriati dan Fikawati (2008) memberikan rasa kesenangan,
menyebutkan bahwa 83.3% remaja penasaran dan kecanduan.
SMP Pontianak telah terpapar Dopamine juga akan aktif jika
pornografi dan 79.5% sudah seseorang mengkonsumsi narkoba
mengalami efek paparan. 19.8% sehingga candu narkoba sama
berada pada tahap adiksi, serta dengan candu narkolema. Menurut
31.8% telah berada pada tahap act Wallmyr dan Welin (2006), remaja
out. Menurut Mariani dan Bachtiar yang sering terpapar media
(2010) tentang keterpaparan materi pornografi lebih dari 1x per bulan
pornografi dan perilaku seksual siswa memiliki pemikiran berbeda tentang
SMP kelas 7 dan 8 di kota Mataram, cara memperoleh informasi seks
hasil penelitian mengungkapkan dengan remaja yang tidak pernah
bahwa 91% siswa telah terpapar terpapar media pornografi dan
materi pornografi yang didominasi remaja yang jarang terpapar media
oleh laki-laki dan keterpaparan pornografi. Hal ini dikarenakan
pertama kali ketika mereka berada di adanya kerusakan otak permanen
kelas 5 SD. Keterpaparan pornografi karena adiksi narkolema dan dampak
semakin dini mengakibatkan dampak akhirnya memicu terjadinya berbagai
pada perilaku seksual siswa, yaitu perzinaan, incest, pelecehan seksual,
14% siswa telah melakukan perkosaan seks bebas dan masih
masturbasi, 45% siswa berpacaran, banyak lagi penyimpangan perilaku
dan 13% siswa sudah berciuman seksual termasuk seks sesama jenis
mulut, walaupun dalam penelitian ini atau LGBT (Lesbi, Gay, Biseksual,
belum ada yang mengungkapkan Transgender), yang kesemuannya itu
mereka pernah melakukan hubungan akan mengakibatkan penyakit dan
seksual. Seperti halnya pengguna bencana pada generasi muda, karena
narkoba yang dapat mengalami rusaknya moral sehingga tidak dapat
kecanduan, pengguna pornografi lagi membedakan yang benar dan
(Narkolema) juga dapat mengalami yang salah.
kecanduan.
Kecanduan pornografi akan merusak METODE
bagian otak yang bernama PFC (Pre Penelitian ini merupakan jenis
Frontal Cortex), yaitu bagian otak penelitian eksperimen semu dengan
yang berfungsi untuk pusat kelompok kontrol dan perlakuan
152
Jurnal Dunia Kesmas, Vol. 9 No. 2, April 2020, hal. 151-160
ISSN 2301-6604 (Print), ISSN 2549-3485 (Online)
http://ejurnalmalahayati.ac.id/index.php/duniakesmas/index
Pendidik Sebaya Sebagai Metode... (Yuliani Winarti, Sri Sunarti)

dengan pre-test and post-test. ini adalah peserta menunjukkan


Penelitian ini dilakukan di SMPN 4 peningkatan kemampuan,
Samarinda Jl. Ir. H. Juanda dan menunjukkan semangat belajar yang
SMPN 24 Jl. Suryanata Samarinda tinggi dan terlibat aktif berpartisipasi
Kalimantan Timur Kode Pos 75124, selama pelatihan. Menurut BKKBN
pada tanggal 30 Mei s.d. 31 Juli (2008), kriteria keberhasilan
2018. Subjek pada penelitian ini pelatihan dapat diukur dengan
adalah Siswa SMPN 4 dan SMPN 24 menggunakan lembar observasi,
Samarinda Tahun Akademik dikatakan rata-rata baik apabila hasil
2017/2018. dari observasi nilai yang didapatkan
Penelitian menggunakan 2 kelompok minimal 60% untuk semua peserta
yaitu Kelompok perlakuan yaitu (nilai pengetahuan dan
siswa SMPN 4 dengan menggunakan keterampilannya). Hasil pelatihan
metode peer educator yang rata-rata nilai yang didapatkan
diperkuat dengan Modul pencegahan diatas 60 % yaitu rata-rata
Narkolema dan Kelompok kontrol mendapatkan nilai 80% dari kriteria
yaitu siswa SMPN 24 Samarinda, yang ditentukan artinya semua
dengan pemberian Modul. Teknik peserta peer educator telah
sampling dilakukan secara purposive memenuhi persyaratan sebagai
sampling. Pemilihan subjek kelompok pendidik sebaya dan siap untuk
perlakuan di SMPN 4 yaitu dengan melakukan kegiatan edukasi dalam
teknik purposive sampling. Dalam penelitian ini.
tahap ini, peneliti melakukan Adapun kriteria inklusi subyek
recruitment peer educator terlebih penelitian, yaitu: usia 14 dan 15
dahulu sebelum menentukan subyek tahun, bukan sebagai anggota PIK
penelitian. Adapun peer yang terpilih (Pusat Informasi dan Konseling)
sebanyak 8 orang anggota OSIS BKKBN Samarinda dan bersedia
(Organisasi Siswa Intra Sekolah) dari terlibat dalam penelitian hingga
kelas 7 dan 8, kemudian untuk tahap selesai. Proses penelitian diawali
selanjutnya peer educator tersebut dengan pelatihan yang dilakukan
memilih peer groupnya sebanyak 5 pada 8 orang peserta peer educator
orang sehingga didapatkan jumlah selama 2 hari yang melibatkan
sampel dalam penelitian ini sebanyak pemateri dari BKKBN dan
40 pada kelompok perlakuan dan 35 Keperawatan medical bedah yang
pada kelompok kontrol. Peer berkaitan dengan kerusakan otak
educator dalam penelitian telah karena dampak narkolema,
memenuhi kriteria, yaitu mampu kemudian melibatkan ahli promosi
berkomunikasi aktif, mempunyai kesehatan (komunikasi dan media
latar belakang sosial budaya yang promosi kesehatan) dan pemateri
sama dengan kelompok target kesehatan jiwa.
(termasuk usia, jenis kelamin, asal Teknik pengumpulan data dilakukan
sekolah), dapat diterima dan dihargai dengan menggunakan data primer
serta disukai oleh kelompoknya, aktif melalui kuesioner pretest dan
dalam kegiatan organisasi dan posttest dengan model kuesioner
ekstrakurikuler, mempunyai rasa tertutup dan terstruktur. Data
percaya diri dan mempunyai sifat sekunder diperoleh dari hasil
kepemimpinan serta mempunyai wawancara dengan para siswa
waktu dan sumber daya untuk tentang pengetahuan pencegahan
diabdikan dalam penelitian ini. Narkolema. Hasil uji validitas dan
Kriteria keberhasilan dalam pelatihan reliabilitas variabel pengetahuan di

153
Jurnal Dunia Kesmas, Vol. 9 No. 2, April 2020, hal. 151-160
ISSN 2301-6604 (Print), ISSN 2549-3485 (Online)
http://ejurnalmalahayati.ac.id/index.php/duniakesmas/index
Pendidik Sebaya Sebagai Metode... (Yuliani Winarti, Sri Sunarti)

dapatkan nilai alpha sebesar 0.844. didapatkan hasil data tidak


Tekhnik Analisis data dilakukan berdistribusi normal untuk variabel
melalui proses editing. coding. dan pengetahuan (p<0.05). Selanjutnya
data entry. selanjutnya data siap uji homogenitas dengan
dianalisis. Untuk membandingkan menggunakan uji levene (p>0.05)
atau melihat perbedaan antara menunjukkan pengetahuan pada
pengetahuan dari masing-masing kedua kelompok adalah homogen,
subjek (pada kelompok perlakuan artinya varian data kedua kelompok
dan kontrol) dilakukan uji Wilxocon adalah sama. Selanjutnya, melihat
test dan uji man whitney U dengan apakah ada perbedaan pengetahuan
keputusan pengujian hipotesis sebelum dan setelah perlakuan
penelitian ini berdasarkan taraf dilakukan uji wilcoxon test dan
signifikansi 5% atau p = 0.05. dilanjutkan dengan uji Z score
menggunakan Man Whitney U untuk
HASIL melihat perbedaan pengetahuan
Sebelum data dianalisis secara antar kedua kelompok, untuk lebih
statistik, dilakukan uji normalitas dan jelasnya dapat dilihat pada tabel
uji homogenitas. Uji normalitas berikut.
menggunakan uji shapiro wilk dan

Tabel 1. Distribusi Responden Menurut Karakteristik Responden (N=75)


Kelompok
Karakteristik Perlakuan Kontrol P-value
n = 40 n = 35
Umur
13 tahun 23 (57.5%) 12 0.163
(34.3%)
14 tahun 17 (42.5%) 23
(65.7%)
Jenis
kelamin
Laki-laki 18 (45.0%) 10 0.009
(28.6%)
Perempuan 22 (55.0%) 25
(71.4%)

Tabel 1 menunjukkan menunjukkan control, dari hasil uji homogenitas


sebagian rata-rata kelompok didapatkan hasinya 0.009 (p<0.05)
perlakuan dan kontrol berada pada artinya utuk jenis kelamin antara
usia remaja awal, yaitu usia 13 - 14 kelompok perlakuan dan kelompok
tahun, sementara itu hasil uji kontrol berbeda secara varian atau
homogenitas menggunakan uji tidak homogen.
levene didapatkan p-value sebesar
0.163 (p>0.05) artinya antara Pengetahuan
kelompok perlakuan dan kelompok Pada tahapan analisis ini, dilakukan
kontrol mempunyai varian yang untuk menguji perbedaan tingkat
sama untuk kategori usia atau pengetahuan pencegahan penularan
homogen. Karakteristik jenis kelamin narkolema pada kelompok perlakuan
pada kedua kelompok (perlakuan dan kelompok kontrol, sebelum
dan kontrol) didominasi oleh jenis (pretest) dan sesudah (posttest).
kelamin perempuan baik pada Pengujian menggunakan uji wilcoxon
kelompok perlakuan dan kelompok

154
Jurnal Dunia Kesmas, Vol. 9 No. 2, April 2020, hal. 151-160
ISSN 2301-6604 (Print), ISSN 2549-3485 (Online)
http://ejurnalmalahayati.ac.id/index.php/duniakesmas/index
Pendidik Sebaya Sebagai Metode... (Yuliani Winarti, Sri Sunarti)

test, dimana hasilnya dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 2. Analisis Wilcoxon Test Pengetahuan Pencegahan


Narkolema pada Kelompok Perlakuan
Kelompok perlakuan
Negative
Tindakan
Mean (SD) Ranks Ties Z P
Positive Ranks
Post test 1 dengan Pre test 15.63 0 1 - <0.001
(1.27) 39 5.478
12.10
(1.83)
Post test 2 dengan Posttest 16.55 6 11 - <0.001
1 (0.59) 23 3.684
15.63
(1.27)
Post test 2 dengan Pre test 16.55 0 0 - <0.001
(0.59) 40 5.531
12.10
(1.83)

Tabel 2 memperlihatkan hasil uji deibandingkan data pretest (Mean =


perbedaan wilcoxon. ada perbedaan 12.10; SD = 1.83). Artinya
yang signifikan tingkat pengetahuan pendidikan kesehatan yang dilakukan
kelompok perlakuan melalui metode melalui peer educator berhasil
peer educator saat pretest dan meningkatkan pengetahuan
posttest 1. Z = 5.478; p < 0.05. kelompok perlakuan tentang
Data posttest 1 (Mean= 15.63; SD = pencegahan narkolema.
1.27) memiliki rata-rata lebih besar

Tabel 3. Analisis Wilcoxon T-Test Pengetahuan Pencegahan


Narkolema pada Kelompok Kontrol
Kelompok Kontrol
Negative
Tindakan Mean
Ranks Ties Z p
SD
Positive Ranks
Post test 1 dengan Pre test 13,60 15 5 - 0,875
(2,13) 16 0,157
13,57
(2,17)
Post test 2 dengan Pre test 13,51 15 4 - 0,777
(2,41) 17 0,010
13,57
(2,17)
Post test 2 dengan Post test 13,51 17 5 - 0,819
1 (2,41) 14 0,228
13,60
(2,13)

155
Jurnal Dunia Kesmas, Vol. 9 No. 2, April 2020, hal. 151-160
ISSN 2301-6604 (Print), ISSN 2549-3485 (Online)
http://ejurnalmalahayati.ac.id/index.php/duniakesmas/index
Pendidik Sebaya Sebagai Metode... (Yuliani Winarti, Sri Sunarti)

Tabel 3 Menunjukkan, berdasarkan peningkatan rerata skor


uji perbedaan wilcoxon test diatas, pengetahuan yang bermakna dari
tidak ada perbedaan yang signifikan pretest ke posttest pada kelompok
antara sebelum dan setelah diberikan perlakuan disebabkan oleh adanya
modul pada kelompok kontrol intervensi edukasi melalui peer
dengan nilai Z = -0.157 ; p > 0.05. educator. Tidak adanya kenaikan
Data posttest 1 (Mean= 13.60; SD = skor pengetahuan secara bermakna
2.13) memiliki rata-rata peningkatan pada kelompok kontrol disebabkan
yang sangat kecil dibandingkan data karena kelompok ini hanya diberi
pretest (Mean = 13.57; SD = 2.17). modul sebagai bahan bacaan mandiri
Artinya kelompok kontrol yang tentang pencegahan Narkolema.
mendapatkan modul memiliki nilai Artinya metode yang digunakan
rata-rata peningkatan yang sangat dalam pemberian pendidikan
sedikit dibanding dengan kondisi saat kesehatan hanya menggunakan
pretest akan tetapi belum berbeda metode komunikasi searah saja
secara signifikan. Artinya perlakuan (komunikasi tidak langsung). Hal ini
dengan pemberian modul belum dikuatkan oleh pendapat Depkes RI
berhasil meningkatkan pengetahuan (2008) yang menyatakan bahwa
kelompok kontrol tentang metode promosi kesehatan berupa
pencegahan Narkolema. edukasi dapat dilakukan dengan cara
komunikasi langsung dan tidak
PEMBAHASAN langsung, pemberian modul
Pada penelitian ini, metode yang termasuk promosi kesehatan tidak
digunakan untuk kelompok perlakuan langsung karena tidak adanya
dengan edukasi melalui peer komunikasi 2 arah yang terjadi,
educator sebagai pelaksana kegiatan dibandingkan dengan kelompok
pada anggota kelompoknya tentang intervensi yang mendapat perlakuan
pencegahan narkolema, sedangkan melalui peer educator dimana terjadi
pada kelompok kontrol metode yang proses diskusi dan komunikasi 2
digunakan adalah dengan pemberian arah. Promosi kesehatan melalui
modul pencegahan narkolema yang peer educator yang diberikan kepada
dibaca secara mandiri. Terdapat kelompok perlakuan terbukti dapat
peningkatan nilai rata-rata beda meningkatkan pengetahuan subjek
pada kelompok yang mendapat tentang pencegahan narkolema.
perlakuan peer educator Peningkatan pengetahuan ini
dibandingkan dengan kelompok yang merupakan hasil dari proses belajar
mendapatkan modul. Perbedaan yang terjadi akibat pemberian KIE
yang signifikan antara pretest dan melalui peer educator atau pendidik
posttest, baik pada kelompok sebaya. Hal tersebut sesuai dengan
perlakuan maupun kelompok kontrol, hasil penelitian dari Jennings et al.
karena adanya intervensi edukasi (2014) yang menyebutkan bahwa
pencegahan penularan Narkolema program pendidik sebaya dapat
melalui metode peer educator. memberikan kesempatan dalam
Pada saat posttest, rerata skor meningkatkan keterampilan
pengetahuan kelompok perlakuan berkomunikasi, berinteraksi, dan
mengalami peningkatan yang meningkatkan kemauan berbicara
bermakna dibandingkan dengan antar sesama teman sebaya tentang
rerata skor pretest nya, sedangkan pendidikan reproduksi termasuk
pada kelompok kontrol tidak terjadi pencegahan narkolema dan program
peningkatan yang bermakna. Adanya pelatihan peer educator ini dapat

156
Jurnal Dunia Kesmas, Vol. 9 No. 2, April 2020, hal. 151-160
ISSN 2301-6604 (Print), ISSN 2549-3485 (Online)
http://ejurnalmalahayati.ac.id/index.php/duniakesmas/index
Pendidik Sebaya Sebagai Metode... (Yuliani Winarti, Sri Sunarti)

mendukung peningkatan berkumpul dengan rekan-rekan


pengetahuan siswa tentang mahasiswa disaat waktu istirahat
pencegahan narkolema. berlangsung, meskipun hanya
Terjadinya peningkatan pengetahuan sebentar tetapi jika dilakukan rutin
pada kelompok perlakuan dapat memberikan informasi secara
dikarenakan para responden ingin terus menerus kepada rekan-
mengetahui yang disampaikan oleh rekannya, yang dapat lebih
pendidik sebaya. Informasi yang memberikan tambahan pengetahuan
diberikan pendidik sebaya kepada mereka karena langsung melihat
rekan-rekannya secara bertahap yang disampaikan oleh pendidik
dimulai dari definisi, penyebab, sebaya tersebut. Hal ini pun sesuai
dampak kerusakan otak akibat dengan Nasution dan Suryanto (2002
narkolema, tanda-tanda kecanduan dalam Riswanda, 2006) yang
narkolema, dan cara pencegahan menyatakan bahwa keberhasilan
narkolema, sehingga dapat suatu pendidikan dipengaruhi oleh
memberikan tambahan pengetahuan strategi yang digunakan, metode
bagi peer group nya. Selain itu, serta alat bantu yang dapat
meningkatnya pengetahuan menunjang keberhasilan kegiatan
kelompok ini bisa dikarenakan para pendidikan tersebut.
pendidik sebaya dalam Hal ini, sesuai dengan Nasution dan
menyampaikan informasi Suryanto (2002 dalam Riswanda,
menggunakan berbagai cara agar 2006), yang menyatakan bahwa
peer group nya memperhatikan keberhasilan suatu program atau
pendidik sebaya dalam menyampaian kegiatan pendidikan karena adanya
informasi tersebut, baik meminta peningkatan dari hasil pendidikan
waktu istirahat sejenak di saat waktu yang dilaksakanan, sehingga
senggang maupun dengan kesesuaian peningkatan hasil pada
penggunaan media KIE (Konseling, kelompok perlakuan daripada
Informasi dan Edukasi) dalam kelompok kontrol telah sesuai
membantu penyampaiannya dengan teori yang ada. Selain itu,
informasi mengenai pencegahan kelompok kontrol mengalami
narkolema, sehingga rekan-rekan penurunan menurut Riswanda (2006)
yang lain merasa tertarik untuk diakibatkan kurangnya pengulangan
memperhatikan. Selain itu proses suatu materi yang telah
penyampaian informasi disampaikan, sehingga informasi
menggunakan group-group kecil tersebut tidak dapat selalu diingat
untuk masing-masing peer educator dan hanya tersimpan dalam waktu
sehingga lebih fokus dan lebih yang relatif pendek.
efektif. Selain itu, peneliti juga Menurut Sandhu S, et al. (2013),
memberikan kebebasan kepada para yang melakukan penelitian tentang
pendidik sebaya untuk pengetahuan kesehatan seksual pada
menyampaikan berbagai hal tersebut para pengungsi Afrika Barat di
dengan cara mereka sendiri, dan hal Australia Barat, pendidikan
tersebut dapat memberikan kesehatan dilakukan dengan
kesempatan kepada pendidik sebaya memisahkan antara pendidik sebaya
untuk lebih bisa menyampaikan berdasarkan jenis kelamin, sehingga
informasi tersebut kepada peer para pendidik sebaya ini bisa lebih
group mereka. Ada yang nyaman dalam menerima materi
menyampaikan informasi tersebut di tersebut serta tidak adanya
saat waktu senggang, di saat sedang kecanggungan antar pendidik sebaya

157
Jurnal Dunia Kesmas, Vol. 9 No. 2, April 2020, hal. 151-160
ISSN 2301-6604 (Print), ISSN 2549-3485 (Online)
http://ejurnalmalahayati.ac.id/index.php/duniakesmas/index
Pendidik Sebaya Sebagai Metode... (Yuliani Winarti, Sri Sunarti)

tersebut. Namun, dalam penelitian tentang pencegahan narkolema


ini tidak adanya pemisahan pendidik dalam program promosi kesehatan
sebaya berdasarkan jenis kelamin sesuai dengan level tahap
dikarenakan materi yang perkembangan manusia. Proses
disampaikan tidak memuat unsur mengubah pengetahuan melalui
tabu atau sebagainya, melainkan edukasi oleh pendidik sebaya
memuat unsur pencegahan digunakan untuk memberikan
narkolema yang bisa terjadi setiap berbagai informasi dan juga
saat dan pada setiap orang tanpa pengalaman-pengalaman mengenai
pandang usia dan jenis kelamin. Oleh pencegahan narkolema dengan gaya
karena itu, pelatihan untuk pendidik bahasa mereka masing-masing dan
sebaya dilakukan di sebuah ruangan sebagai leading bagi peer groupnya
tanpa memisahkan mereka, agar untuk memahami berbahayanya
materi yang disampaikan dapat narkolema bagi masa depan mereka,
diterima semua peserta pelatihan sehingga dapat mengubah
tersebut dan dapat diaplikasikan pengetahuan seseorang melalui
kepada rekan-rekannya. Tujuan pendidikan kesehatan ini. Oleh
utama pelatihan pendidikan sebaya karena itu, peningkatan yang terjadi
adalah untuk menyediakan pendidik tidak lepas dari usaha dari peer
sebaya dengan: pengetahuan, educator yang memberikan informasi
pemahaman dan keterampilan untuk kepada peer group nya, sehingga
melakukan KIE pencegahan mereka memiliki informasi yang baru
narkolema dintara teman-temannya; tanpa harus merasa digurui tentang
pengetahuan dan kesadaran tentang pencegahan narkolema secara
bahaya narkolema, kemampuan khusus.
menjelaskan dan keterampilan yang Dari sisi role models yang positif,
diperlukan untuk melakukan peningkatan pengetahuan pada
kegiatan pencegahan narkolema. kelompok intervensi juga didukung
Setelah mendapatkan pelatihan, dari pemilihan peer educator yang
selanjutnya para pendidik sebaya merupakan anggota organisasi
bertugas memberitahukan kepada sekolah atau Osis, mereka
peer group nya mengenai berbagai merupakan contoh nyata siswa aktif,
hal yang diperoleh terkait mengenai komunikatif, berprestasi serta
pencegahan narkolema. disenangi oleh teman-temannya,
Menurut Wilson and Milburn mereka dipilih karena dianggap
(2000), menyatakan bahwa seorang cakap dan mampu dalam hal
remaja dapat menjadi pendidik komunikasi, dan berprestasi. Hal ini
sebaya yang efektif pada teman sesuai dengan pendapat dari Shiner
sebayanya dalam meningkatkan (1992) yang menyatakan bahwa role
pengetahuan mereka tentang models yang positif dapat
masalah kesehatan termasuk meningkatkan kepercayaan diri
narkolema, serta mendukung remaja mereka dalam mengembangkan
untuk mendapatkan informasi kemampuannya dalam hal
dengan cara yang berbeda dari penyampaian informasi kepada
sebelumnya tentang pencegahan teman sebayanya dengan hasil akhir
narkolema dan mengembangkan perubahan perilaku yang lebih
keterampilan dalam mencegah positif.
kecanduan narkolema. Pendidik Dari sisi materi yang digunakan,
sebaya dapat digunakan sebagai media berupa leaflet dan lembar
metode dalam penyampain edukasi balik dibuat langsung oleh peer

158
Jurnal Dunia Kesmas, Vol. 9 No. 2, April 2020, hal. 151-160
ISSN 2301-6604 (Print), ISSN 2549-3485 (Online)
http://ejurnalmalahayati.ac.id/index.php/duniakesmas/index
Pendidik Sebaya Sebagai Metode... (Yuliani Winarti, Sri Sunarti)

educator yang disesuaikan dengan menyenangkan bagi peer groupnya


tujuan penelitian ini, sehingga dapat yaitu penggunaan media sosial untuk
dengan mudah tersampaikan oleh pembuatan group sehingga waktu
pendidik sebaya kepada peer group untuk diskusi atau bertanya lebih
nya. Kesesuaian antara materi yang bebas dan fleksibel. Peer educator
ada dengan kebutuhan penyampaian sebaiknya mengembangkan prior of
pencegahan narkolema menurut knowledge tentang pencegahan
peneliti telah sesuai, yang didukung Narkolema, tidak hanya dari
oleh Green and Kreuter (2000) yang pelatihan saja sehingga dapat dan
menyatakan bahwa pengetahuan mampu menjawab jika ada
merupakan hasil dari tahu yang pertanyaan dari peer groupnya dan
didapatkan seseorang sesudah meningkatkan kemampuan
mendapatkan intervensi dan juga berkomunikasi secara aktif kepada
pengetahuan mempunyai pengaruh para peer groupnya. Selain itu media
terhadap seseorang dalam bersikap yang dipakai oleh peer educator
dan berperilaku. Selain itu, untuk menyampaikan pencegahan
pengetahuan adalah berbagai narkolema dimodifikasi dan lebih
informasi yang diperoleh seseorang variatif tidak hanya terbatas lembar
dari proses belajar yang nantinya balik dan leaflet saja. Sebaiknya
dapat digunakan dalam kegiatan siswa lebih aktif untuk bertanya
masyarakat yang memiliki sifat yang karena proses penyampaian
sangat objektif. Suatu pengetahuan informasi yang dilakukan oleh peer
bisa beralih ke sikap jika memiliki educator lebih bebas dan tidak
kesiapan untuk bertindak sesuai mengintimidasi, serta lebih leluasa
dengan pengetahuan yang telah dia dalam menyampaikan pertanyaan
peroleh (Sarwono, 2002). seputar pencegahan narkolema.
Sehingga dengan adanya metode
KESIMPULAN peer educator ini akan membentuk
Terdapat perbedaan nilai rerata yang kelompok-kelompok volunteer pada
bermakna secara statistik pada siswa di SMPN 4 dalam melakukan
kelompok perlakuan yang kegiatan edukasi pencegahan
mendapatkan metode peer educator narkolema.
dibandingkan dengan kelompok
kontrol dengan pemberian modul. DAFTAR PUSTAKA
Serta, metode peer educator lebih Depkes RI. (2008). Pusat Promosi
efektif dibandingan pemberian modul Kesehatan, Metode dan Media
dalam meningkatkan pengetahuan Promosi Kesehatan, Jakarta
siswa SMPN 4 di kota Samarinda Green, LW., & Kreuter, MW. (2000).
dalam pencegahan Narkolema. Health Promotion Planning An
Educational and Environmental
SARAN Approach, Institute of Health
Peneliti disarankan untuk Promotion Research University of
mengembangkan metode KIE yang British California.
dilakukan oleh peer educator, tidak J.M. Jenings.,S. Howard and C. L.
hanya melakukan metode ceramah, Perotte. (2014). Effect of a School
tanya-jawab dan diskusi saja – Based Sexuality Education
(konvensional) akan tetapi Program on Peer Educator : The
dikombinasikan dengan Teen PEP Model. Journal of Health
memanfaatkan metode penyampaian Education Research, Vol. 29, 319
yang lebih kreatif dan inovatif serta – 329

159
Jurnal Dunia Kesmas, Vol. 9 No. 2, April 2020, hal. 151-160
ISSN 2301-6604 (Print), ISSN 2549-3485 (Online)
http://ejurnalmalahayati.ac.id/index.php/duniakesmas/index
Pendidik Sebaya Sebagai Metode... (Yuliani Winarti, Sri Sunarti)

Mariani.,A. & Bachtiar I., (2010). remaja SMP Negeri Pontianak


Keterpaparan Materi Pornografi tahun 2008. Makara Sosial
dan Perilaku Seksual Siswa Humaniora, Vol. 13 Hal. 48 – 56.
Sekolah Menengah Pertama https://www.researchgate.net/pu
Negeri. Makara, Sosial blication/47407020.
Humaniora, Vol. 14, No. 2. Di Strange, V. et al., (2002). Peer-led
akses secara online Februari 2018 sex education — characteristics of
Milburn, M.A., Mather, R., & Conrad, peer educators and their
S.D. (2000). The effects of perceptions of the impact on
viewing R-rated movie scenes them of participation in a peer
that objectify women on education programme. , 17(3),
perceptions of date rape. pp.327–337.
Abstract. Sex Roles, 43. Diakses Wallmyr, G., & Welin, C.
secara online Februari 2018 (2006).Young people,
Rakhmat, J. (2003). Psikologi pornography, and sexuality:
Komunikasi.Bandung : PT Remaja source and attitude. Journal of
Rosdakarya. School Nursing, 22 (5), 262-263.
Riswanda J. (2006). Promosi
Kesehatan Melalui Pendidikan
Teman Sebaya (Peer Education)
Terhadap Peningkatan
Pengetahuan dan Sikap Siswa
SMP di Kabupaten Muara Enim,
Tesis Minat Utama perilaku dan
Promosi Kesehatan, Universitas
Gadjah Mada Yogyakarta
Sandhu S, Veinot P, Embuldeniya G,
Brooks S, Sale J (2013). Peer-to-
peer mentoring for individuals
with early inflammatory
arthritis:feasibility pilot. BMJ
Open,3(3). pii: e002267.
Sarwono, S. (2002). Psikologi
Remaja. Raja Grafindo Persada,
Jakarta.
Shiner.,M. (1999). Defining Peer
Education. Journal of Adolosence,
Vol. 22, 555 – 566
Sunarsih S., Purwanti.S., dan
Khosidah A. (2010). Hubungan
Frekuensi paparan media
pornografi dengan frekuensi
perilaku Masturbasi Remaja Putri
di SMK Wongsorejo Gombong
Kebumen. Jurnal Ilmiah
Kebidanan, Vol. 1 No.
http://ojs.akbidylpp.ac.id/index.p
hp/Prada/article/viewFile/43/41
Supriati, E. & Fikawati, S. (2009).
Efek Paparan pornografi pada

160
Jurnal Dunia Kesmas, Vol. 9 No. 2, April 2020, hal. 151-160
ISSN 2301-6604 (Print), ISSN 2549-3485 (Online)
http://ejurnalmalahayati.ac.id/index.php/duniakesmas/index

Anda mungkin juga menyukai