Anda di halaman 1dari 22

MAKALAH

“WTO Sebagai Organisasi Perdagangan Dunia ”


Disusun untuk memenuhi tugas UAS mata kuliah Kapita Selekta Sejarah Dunia

Dosen Pengampu : Nuraeni Marta, S.S., M.Hum.

Disusun oleh :

Rizky Aristia Setiawan ( 4415133836 )

PENDIDIKAN SEJARAH 2013 A

JURUSAN SEJARAH

FAKULTAS ILMU SOSIAL

UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA

2019
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR......................................................................................................................................2
BAB I............................................................................................................................................................3
PENDAHULUAN...........................................................................................................................................3
A. Latar Belakang.....................................................................................................................................3

B. Rumusan Masalah...............................................................................................................................3

C. Tujuan..................................................................................................................................................3

BAB II 4
PEMBAHASAN.............................................................................................................................................4
A. TERBENTUKNYA WTO..........................................................................................................................4

B. FUNGSI, SASARAN, SISTEM DAN TUJUAN WTO.................................................................................9

C. PERSETUJUAN PERSETUJUAN WTO...............................................................................................11

D. PENGARUH WTO DALAM DUNIA INTERNASIONAL......................................................................15

E. INDONESIA DALAM WTO.............................................................................................................17

BAB III

PENUTUP.........................................................................................................................20

DAFTAR PUSTAKA.....................................................................................................................................21

1
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, sehingga penulis dapat
menyelesaikan makalah berjudul “WTO Sebagai Organisasi Perdagangan Dunia”. Dalam
penyusunan makalah ini, tidak sedikit hambatan yang penulis hadapi, namun penulis
menyadari bahwa kelancaran dalam penyusunan makalah ini tidak lain berkat bantuan,
dorongan dan bimbingan banyak pihak, sehingga kendala-kendala yang penulis hadapi
teratasi. Oleh karena itu penulis mengucapkan terima kasih kepada :
1. Ibu Nuraeni Marta, S.S., M.Hum., dosen mata kuliah Kapita Selekta Sejarah Dunia yang
telah memberikan tugas, petunjuk, dan membimbing diskusi sehingga penulis
termotivasi dan menyelesaikan makalah ini.
2. Orang tua yang telah membantu, membimbing, dan mengatasi berbagai kesulitan
sehingga makalah ini selesai.

3. Teman-teman sejarah yang turut memberikan masukan dalam penulisan makalah ini.

Semoga makalah ini dapat bermanfaat dan menjadi sumbangan pemikiran bagi pihak
yang membutuhkan, khususnya bagi penulis sehingga tujuan yang diharapkan dapat tercapai,
Amin.

Jakarta, 5 Oktober 2019

Penulis

Rizky Aristia Setiawan


BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Bidang ekonomi merupakan suatu proses kegiatan ekonomi dan perdagangan,di mana
Negara-negara di seluruh dunia menjadi satu kekuatan pasar yang semakin terintegrasi
dengan tanpa rintangan batas teritorial Negara. Dampak globalisasi mengarah pada
meningkatnya ketergantungan ekonomi antar Negara melalui peningkatan volume dan
keragaman transaksi antar Negara (cross-border capital flows),pergerakan tenaga kerja
(human movement), dan penyebaran teknologi informasi yang cepat sehingga secara
sederhana dapat dikemukakan bahwa globalisasi secara hampir pasti telah merupakan salah
satu kekuatan yang memberikan pengaruh terhadap masyarakat, kehidupan manusia,
lingkungan kerja, & kegiatan bisnis. WTO merupakan organisasi yang dibentuk untuk
mengatur ekonomi dunia khususnya dalam hal perdagangan. WTO diharapkan mampu
mengatasi masalah – masalah yang muncul serta mampu mengatur sistem – sistem
perdagangan yang ada didunia terlebih untuk membantu para produsen barang dan jasa,
eksportir dan importir dalam kegiatan perdagangan.

1.2 Rumusan Masalah


1. Bagaimana latarbelakang terbentuknya WTO?
2. Apa saja tujuan dan fungsi yang hendak dicapai WTO?
3. Bagaimana peran WTO dalam perdagangan dunia ?

1.3 Tujuan Penulisan


1. Mengetahui latarbelakang terbentuknya WTO
2. Mengetahui apa fungsi dan tujuan yang hendak dicapai oleh WTO
3. Mengetahui bagaimana peran WTO dalam mengatasi perdagangan di dunia.

3
BAB II

PEMBAHASAN

A. SEJARAH DAN LATAR BELAKANG PENDIRIAN WTO

World Trade Organization (WTO) merupakan satu-satunya badan internasional yang


secara khusus mengatur masalah perdagangan antar negara. Sistem perdagangan
multilateral WTO diatur melalui suatu persetujuan yang berisi aturan-aturan dasar
perdagangan internasional sebagai hasil perundingan yang telah ditandatangani oleh
negara-negara anggota. Persetujuan tersebut merupakan kontrak antar negara-anggota
yang mengikat pemerintah untuk mematuhinya dalam pelaksanaan kebijakan
perdagangan di negaranya masing-masing. Walaupun ditandatangani oleh pemerintah,
tujuan utamanya adalah untuk membantu para produsen barang dan jasa, eksportir dan
importir dalam kegiatan perdagangan. Pemerintah Indonesia merupakan salah satu negara
pendiri Word Trade Organization (WTO) dan telah meratifikasi Persetujuan
Pembentukan WTO melalui Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1994. Latar belakang
berdirinya the Wolrd Trade Organization ( WTO) tidak terlepas dari peristiwa sejarah
yaitu perang dunia II. Pada waktu berlangsungnya PD II, negara sekutu khususnya
Amerika Serikat dan Inggris memprakarsai pembentukan organisasi ekonomi
internasional untuk mengisi kebijakan-kebijakan ekonomi internasional. Tujuan pertama
dari prakarsa tersebut mengeluarkan kebijakan The Reciprocal Trade Agreement yakni
undang-undang yang mensyaratkan kewajiban timbal balik untuk pengurangan-
pengurangan tarif dalam perdagangan.1 The Reciprocal Trade Agreement Act
memberikan kebijakan kepada presiden ntuk melakukan negoisasi penurunan tarif.
Tujuan kedua memberikan kerangka hukum untuk mencegah konflik seperti pada saat
PD1 dan PD II. Pada saat PD II seluruh negara menggunakan sistem ekonomi
proteksionistis sehingga mengakibatkan terhambatnya hubungan internasional yang
berdampak pada kemerosotan dan resesi ekonomi di dunia.

1
Huala Adolf. Hukum Ekonomi Internasional,( Jakarta: Rajawali Grafindo, 1998),h.20.
Upaya untuk menata hubungan ekonomi internasional dilakukan melalui konferensi di
Bretton Woods, New Hampshire, Amerika Serikat. Gagasan untuk mendirikan suatu
organisasi perdagangan multilateral telah mulai dirintis dengan disepakatinya General
Agreement on Tariffs and Trade (GATT) pada tahun 1947, sebagai awal dari rencana
pembentukan International Trade Organization (ITO), yang merupakan satu dari 3 (tiga)
kerangka Bretton Woods Institution. Kedua organisasi lainnya adalah International
Monetary Fund (IMF) dan International Bank for Reconstruction and Development
(IBRD) yang sering dikenal dengan World Bank.
Pada tahun 1945 perserikatan bangsa-bangsa ( PBB ) didirikan, salah satu program
kerja yang dilakukan adalah menyelenggarakan konferensi-konferensi pada tahun 1946-
1947. Salah satu konferensinya adalah merancang suatu piagam organisasi perdagangan
Internasional ( ITO ), yang pada nantinya akan menghasilkan piagam Havana pada tahun
1948 yang memerlukan ratifikasi dari negara sebagai pelaku utama eknoomi dunia.
Sementara piagam Havana belum berlaku, guna mengisi kekosongan hukum perdagangan
internasional , negara-negara merundingakan aturan-aturan perdagangan internasional
yang kemudian diwadahi oleh the general Agrement On Tariffs And Trade ( GATT)
1947. Pada mulanya GATT 1947 merupakan suatu persetujuan multilateral yang
mensyaratkan pengurangan secara timbal balik tarif yang berada dibawah naungan ITO. 2
Dasar pemikiran pembentukan GATT 1947 adalah kesepakatan yang memuat hasil-hasil
negoisasi negara-negara dalam hal tarif dan mengenai klausul perlindungan
gunamengatur komitmen tarif
GATT sebenarnya hanya salah satu dari IX Chapters yang direncanakan menjadi isi
dari Havana Charter mengenai pembentukan International Trade Organization (ITO) pada
tahun 1947, yaitu Chapter IV: Commercial Policy. Namun International Trade
Organization (ITO) tidak berhasil didirikan, walaupun Havana Charter sudah disepakati
dan ditandatangani oleh 53 negara pada Maret 1948. Hal tersebut dikarenakan Amerika
Serikat menolak untuk meratifikasinya di mana Kongres Amerika Serikat khawatir
wewenangnya dalam menentukan kebijakan Amerika Serikat semakin berkurang. GATT
kemudian dimasukkan hanya sebagai perjanjian sementara (interim) melalui sebuah
Protocol of Provisional Application sampai Havana Charter dapat diberlakukan. Tahun –
tahun pertama GATT diwarnai dengan bermacam-macam forum negosiasi diikuti dengan
perjanjian-perjanjian yang terkait dengan perdagangan multilateral yang membahas tarif
yang lebih besar. Memperhatikan perubahan dan perkembangan yang terjadi dalam
2
Ibid.,h.21.
5
hubungan perdagangan internasional sejak berdirinya GATT menimbulkan pandangan
perlunya beberapa peraturan dan prosedur diperbaharui, khususnya didasarkan akan
kebutuhan untuk memperketat prosedur penyelesaian sengketa. Timbul pemikiran untuk
membentuk suatu badan tingkat tinggi yang permanen untuk mengawasi bekerjanya
sistem perdagangan multilateral dan diarahkan pula untuk menjamin agar negara-negara
peserta (Contracting parties) GATT mematuhi peraturan-peraturan yang telah disepakati
dan memenuhi kewajiban-kewajibannya.
Sesudah melalui tahapan-tahapan proses perundingan yang alot dan konsultasi-
konsultasi maraton yang intensif atas draft-draft yang diusulkan lebih dari 120 negara,
akhirnya pada Pertemuan Tingkat Menteri Contracting Parties GATT di Marrakesh,
Maroko, pada tanggal 12-15 April 1994, disahkan Final Act tanggal 15 April 1994 dan
tanggal berlakunya WTO. Persetujuan pembentukan WTO terbuka bagi ratifikasi oleh
negara-negara dan diharapkan dapat diberlakukan efektif pada 1 Januari 1995. Untuk
mengatasi adanya kekosongan antara Pertemuan Tingkat Menteri di Marrakesh, Maroko
sampai dengan tanggal berlakunya WTO, dibentuklah suatu lembaga sementara yaitu
Implementation Committee yang bertugas antara lain memperhatikan program kerja
WTO, masalah anggaran dan kontribusi serta masalah keanggotaan WTO. 3

Sebelum berdirinya WTO banyak perundingan yang dilakukan dalam rangka


memujudkan perjanjian multilateral berkaitan dengan perdagangan antara lain:

1) Tahun 1947-1948: Untuk pertama kalinya sejak PD II berakhir, negara-negara di


dunia terutama dari Blok Barat menginginkan adanya suatu bentuk sistem
perdagangan internasional yang lebih adil dan komprehensif untuk membangun
ekonomi dunia yang hancur akibat perang. Pada tahun 1947 di Geneva diadakan
perundingan perumusan perjanjian GATT yang menetapkan penurunan 45.000 jenis
tarif dengan nilai 10 miliar dolar AS. Perundingan ini diikuti 23 negara.
2) 1949: Pada tahun 1949 di Kota Annecy berlangsung perundingan yang lebih dikenal
sebagai “Perundingan Annecy”. Dalam perundingan kali ini, telah disepakati untuk
meratifikasi 5000 jenis tarif yang diikuti 33 negara.

3
Jurnal Direktorat Perdagangan, Perindustrian, Investasi dan HKI, Direktorat Jenderal Multilateral, Departemen Luar
Negeri, Sekilas WTO (World Trade Organization, edisi keempat (Jakarta: Penerbit Dit. Perdagangan, Perindustrian,
Investasi, dan HKI, Ditjend Multilateral, Departemen Luar Negeri, 2006), h. 3.
3) 1950-1951: Pada periode ini berlangsung “Perundingan Torquay” yang
diselenggarakan di Kota Torquay dimana disepakati untuk meratifikasi 5,500 jenis
tarif yang diikuti oleh 34 negara.

4) 1955-1956: Pada periode ini berlangsung “Perundingan Jenewa” yang


diselenggarakan di Kota Jenewa di mana disepakati untuk meratifikasi sejumlah jenis
tarif dengan nilai perdagangan sejumlah 2,5 miliar dolar AS, yang diikuti oleh 34
negara.

5) 1960-1961: Pada periode ini berlangsung Perundingan yang lebih dikenal sebagai
“Putaran Dillon”, yang diselenggarakan di Kota Jenewa, putaran GATT kali ini
diikuti oleh 45 negara yang menghasilkan kesepakatan untuk meratifikasi 4.400 jenis
tarif dengan nilai perdagangan sejumlah 4,9 miliar dolar AS, yang diikuti oleh 34
negara.

6) 1964-1967: Putaran GATT kali ini lebih dikenal sebagai “Putaran Kennedy”, yang
diselenggarakan di Jenewa. Perundingan ini menyepakati penurunan sejumlah jenis
tarif dengan nilai perdagangan sejumlah 40 miliar dolar AS dan kesepakatan anti-
dumping yang diikuti 48 negara.

7) 1973-1979: Putaran GATT yang lebih dikenal sebagai “Putaran Tokyo”, Jepang
dengan menghasilkan beberapa kesepakatan antara lain; ratifikasi sejumlah jenis tarif
dan non-tarif dengan nilai perdagangan sejumlah 155 miliar dolar AS. Perundingan
kali ini diikuti oleh 99 negara.

8) 1986-1988: Dalam periode ini, negara-negara peserta mengadakan perundingan di


Jenewa berdasarkan mandat Deklarasi Punta Del Este. Perundingan kali ini tidak
hanya membahas peratifikasian tarif dan non-tarif sejumlah komoditas, namun juga
telah membahas bidang jasa dalam perdagangan dunia. Di tahun 1980-an, Indonesia
memainkan peranan aktifnya dalam putaran GATT ini dengan ditariknya suatu
konklusi bahwa Indonesia harus mengubah haluan dari orientasi yang berbasis impor
ke arah strategi orientasi ekspor.

9) 1988: Pada bulan Desember tahun 1988 di Montreal, Kanada telah diadakan
pertemuan tingkat meneteri yang dikenal sebagai Mid-Term Ministerial Meeting
untuk mereview kembali beberapa poin yang telah dicapai dalam perundingan
sebelumnya. Pada sidang tersebut telah dicapai kemajuan pada 11 bidang kecuali
7
pertanian. Dalam periode ini, Indonesia mulai memainkan peranan aktifnya dalam
Putaran Uruguay.

10) 1989: Perundingan ini diselenggarakan pada April 1989 untuk meneruskan kembali
kemacetan perundingan pada putaran sebelumnya yang deadlock pada masalah
pertanian.

11) 1990: Pada bulan Desember 1990 di Brussel, telah diselenggarakan sidang tingkat
menteri. Namun, kali ini tidak dihasilkan kesepakatan apapun, karena Amerika
Serikat dan Uni Eropa sebagai negara utama menolak untuk meratitikasi bidang
pertaniannya. Dengan demikian, perundingan pada semua bidang mencapai
deadlock.

12) 1991: Pada bulan Desember 1991, Direktorat Jenderal GATT selalu ketua Trade
Negotiations Committee (TNC) pada tingkat pejabat tinggi telah menyerahkan Draft
Final Act sebagai hasil akhir dari Uruguay Round.

13) 1992-1993: Pada tanggal Januari 1992, TNC bersidang untuk menampung reaksi
negara-negara peserta dan menentukan langkah selanjutnya dalam perundingan.
Negara-negara perserta menyatakan kesulitannya untuk menerapkan DFA pada
berbagai bidang termasuk kewajiban menghapus subsidi pertanian dan sistem
proteksi atas beberapa jenis komoditas. Dalam perundingan yang berlangsung di
Jenewa ini, telah dilakukan pembahasan antara lain; tariff dan non-tarif, perdagangan
jasa, hak atas kekayaan intelektual (hak cipta), komoditas tekstil, serta pertanian.
Dalam periode ini juga telah disepakati untuk membentuk kerangka kerja WTO yang
merupakan kelanjutan dari GATT. Pada tanggal 14 Desember 1993, Indonesia telah
menyatakan komitmennya untuk mulai membuka akses pasar secara bertahap pada
sector telekomunikasi, industri, angkutan laut, turisme dan jasa keuangan.

14) 1994: Pada tanggal 15 April 1994 di Marrakesh tercapai kesepakatan mengenai hasil
perundingan dari Putaran Uruguay sebagai suatu paket yang ditandatangani oleh
Negara peserta yang kemudian melahirkan WTO. Sementara dalam tahun yang sama,
Indonesia telah menyelesaikan prosedur ratifikasi dengan DPR pada bulan Oktober
1994. Sehingga Indonesia siap memberlakukan kewajiban perjanjian sesuai
ketentuan dalam perjanjian tersebut, antara lain; perlindungan terhadap hak atas
kekayaan intelektual, perdagangan jasa, turisme, telekomunikasi, dan beberapa sektor
lain.

15) 1995: Sesuai dengan hasil kesepakatan dari Putaran Uruguay, maka pada tanggal 1
Januari 1995 di Jenewa Swiss, WTO resmi berdiri dengan beranggotakan 146 negara
termasuk Indonesia. Berdasarkan hasil kesepakatan Putaran Uruguay, terdapat
beberapa hal yang bersifat new issues, antara lain; trade in services, intellectual
property rights, dan trade-related investment measures (TRIMs). Beberapa hal yang
menjadi perhatian Indonesia sebagai konsekuensi logis dari keikutsertaannya dalam
WTO antara lain; masalah tarif, akses pasar, komiditas tekstil, produk pertanian,
regulasi dan penyelesaian sengketa, hak atas kekayaan intelektual, bidang jasa dan
investasi.4

B. FUNGSI , TUJUAN, SASARAN DAN SISTEM ORGANISASI WTO

Mengenai fungsi atau tujuan WTO dapat dilihat dalam Article III WTO, yaitu:
(1) mendukung pelaksanaan, pengaturan, dan penyelenggaraan persetujuan yang telah
dicapai untuk memujudkan sasaran perjanjian tersebut, (2) sebagai forum perundingan
bagi negara-negara anggota mengenai perjanjian-perjanjian yang telah dicapai beserta
lampiran-lampirannya, termasuk keputusan-keputusan yang ditentukan kemudian
dalam Perundingan Tingkat Menteri, (3) mengatur pelaksanaan ketentuan mengenai
penyelesaian sengketa perdagangan; (4) mengatur mekanisme peninjauan kebijakan di
bidang perdagangan, dan (5) menciptakan kerangka penentuan kebijakan ekonomi
global berkerja sama dengan Dana Moneter Internasional (IMF) dan Bank Dunia
(World Bank), serta badan-badan yang berafiliasi.

Dari fungsi-fungsi WTO, tampak fungsi-fungsi tersebut merupakan upaya


untuk menafsirkan dan menjabarkan lebih lanjut tentang Multilateral Trade
Agreements (MTAs) dan Plurilateral Trade Agreements (PTAs), termasuk
mengawasi pelaksanaan maupun penyelesaian sengketa serta perbedaan pendapat
mengenai perjanjian-perjanjian yang disepakati. WTO juga akan melakukan

4
H.S. Kartadjoemena, GATT, WTO dan Hasil Uruguay Round, cet. 2 (Jakarta: Penerbit Universitas Indoneia (UI-Press),
1998), h. 4.
9
peninjauan atas implementasi perjanjian-perjanjian oleh setiap negara anggota dan
menjatuhkan sanksi atas pelanggaran-pelanggaran terhadap ketentuan-ketentuan
dalam perjanjian. Dengan demikian, seperti halnya IMF dan World Bank, WTO
memiliki alat untuk memaksa negara-negara anggota untuk mengikuti ketentuan-
ketentuannya. Dengan fungsi-fungsi yang dipunyai WTO tersebut, menjadikan WTO
sekaligus sebagai forum bagi perundingan-perundingan selanjutnya di masa
mendatang dalam perjanjian multilateral.5

Adapun sasaran yang ingin dicapai WTO dalam bekerja yaitu:

1. Non-diskriminasi
Sebuah negara tidak harus membedakan antara mitra dagang dan
seharusnya tidak membedakan antara produk, jasa sendiri dan asing
atau warga negara.
2. Lebih terbuka
Menurunkan hambatan perdagangan adalah salah satu cara yang paling
jelas untuk mendorong perdagangan; hambatan ini termasuk bea masuk
(atau tarif) dan langkah-langkah seperti larangan impor atau kuota yang
membatasi jumlah selektif.
3. Transparan dan kompetitif
Mengecilkan praktek 'tidak adil', seperti subsidi ekspor dan
pembuangan produk di bawah biaya untuk mendapatkan pangsa pasar;
masalah yang kompleks, dan aturan mencoba untuk menetapkan apa
yang adil atau tidak adil, dan bagaimana pemerintah dapat merespon,
khususnya dengan pengisian bea masuk tambahan dihitung untuk
mengimbangi kerusakan yang disebabkan oleh perdagangan yang tidak
adil.
4. Lebih bermanfaat bagi negara-negara kurang berkembang
Memberi mereka lebih banyak waktu untuk menyesuaikan, fleksibilitas
yang lebih besar dan hak-hak istimewa; lebih dari tiga perempat dari
anggota WTO negara berkembang dan negara dalam transisi ke
ekonomi pasar. Perjanjian WTO memberi mereka periode transisi
5
Fuandy Munir, Hukum Dagang Internasional, (PT Citra Aditya Bakti,2003),h,3.
untuk menyesuaikan diri dengan mungkin, ketentuan WTO sulit lebih
asing dan,.
5. Lindungi Lingkungan
Perjanjian WTO mengizinkan anggota untuk mengambil langkah-
langkah untuk melindungi tidak hanya lingkungan tapi juga kesehatan
masyarakat, kesehatan hewan dan kesehatan tanaman. Namun,
langkah-langkah ini harus diterapkan dengan cara yang sama untuk
kedua bisnis nasional dan asing. Dengan kata lain, anggota tidak harus
menggunakan langkah-langkah perlindungan lingkungan sebagai
sarana menyamarkan kebijakan proteksionis.

Selain itu WTO juga memiliki suatu sistem organisasi seperti halnya
organisas-organisasi lan didunia. Sistem organisasi WTO memiliki sistem yang sama
dengan GATT, mekanisme pengambilan keputusan dalam WTO adalah Konsensus.
Apabila konsensus sulit dicapai, pengambilan keputusan akan dilakukanVoting
dengan sistem satu negara satu suara & kemenangan mayoritas. 6

C. Persetujuan-persetujuan dalam WTO


Peraturan – peraturan perdagangan dalam kerangka WTO dibentuk melalui
serangkaian putaran atau persetujuan dalam perundingan. Hasil dari Putaran Uruguay
berupa the Legal Text terdiri dari sekitar 60 persetujuan, lampiran (annexes), keputusan
dan kesepakatan. Persetujuan-persetujuan dalam WTO mencakup barang, jasa, dan
kekayaaan intelektual yang mengandung prinsip-prinsip utama liberalisasi.

Struktur dasar persetujuan WTO, meliputi:

a.            Barang/ goods (General Agreement on Tariff and Trade/ GATT)

b.            Jasa/ services (General Agreement on Trade and Services/ GATS)

c.     Kepemilikan intelektual (Trade-Related Aspects of Intellectual Properties/ TRIPs)

d.            Penyelesaian sengketa (Dispute Settlements)

Persetujuan-persetujuan di atas dan annexnya berhubungan antara lain dengan sektor-


sektor seperti pertanian, Sanitary and Phytosanitary/ SPS, Badan Pemantau Tekstil (Textiles
and Clothing), standar produk, Investasi perdagangan, tindakan anti dumping, penilaian
6
Huala Adolf Hukum Perdagangan Internasional, (Bandung : PT. Raja Grafindo Persada, 2004), h.37.
11
pabean, lisensi impor, subsidi, dan tindakan pengamanan. Sedangkan dalam bidang jasa
meliputi Pergerakan tenaga kerja, transportasi udara, jasa keuangan, perkapalan dan
komunikasi

Selain itu, WTO juga pernah melakukan beberapa konferensi yang terkait mengenai
hubungan perdagangan multirateral negara, antara lain :

1. Deklarasi Doha , Qatar ( KTM Ke 4)

Sejak terbentuknya WTO awal tahun 1995 telah diselenggarakan enam kali Konferensi
Tingkat Menteri (KTM) yang merupakan forum pengambil kebijakan tertinggi dalam WTO.
KTM-WTO pertama kali diselenggarakan di Singapura tahun 1996, kedua di Jenewa tahun
1998, ketiga di Seatlle tahun 1999 dan KTM keempat di Doha, Qatar tahun 2001. Sementara
itu KTM kelima diselenggarakan di Cancun, Mexico tahun 2003.

KTM ke-4 (9-14 November 2001) yang dihadiri oleh 142 negara, menghasilkan
dokumen utama berupa Deklarasi Menteri (Deklarasi Doha) yang menandai diluncurkannya
putaran perundingan baru mengenai perdagangan jasa, produk pertanian, tarif industri,
lingkungan, isu-isu implementasi, Hak Atas Kekayaan Intelektual (HAKI), penyelesaian
sengketa dan peraturan WTO. Deklarasi Doha juga memuat mandat untuk meneliti program-
program kerja mengenai electronic commerce, negara-negara kecil (small economies), serta
hubungan antara perdagangan, hutang dan alih teknologi, dan memberikan mandat kepada
anggota WTO untuk melakukan negosiasi di berbagai bidang, termasuk isu-isu yang
berkaitan dengan pelaksanaan persetujuan yang ada.

Deklarasi Doha mencanangkan segera dimulainya perundingan lebih lanjut mengenai


beberapa bidang spesifik, antara lain di bidang pertanian. Perundingan di bidang pertanian
telah dimulai sejak bulan sejak bulan Maret 2000. Sudah 126 anggota (85% dari 148 anggota)
telah menyampaikan 45 proposal dan 4 dokumen teknis mengenai bagaimana perundingan
seharusnya dijalankan. Salah satu keberhasilan besar negara-negara berkembang dan negara
eksportir produk pertanian adalah dimuatnya mandat mengenai ”pengurangan, dengan
kemungkinan penghapusan, sebagai bentuk subsidi ekspor”.

Mandat lain yang sama pentingnya adalah kemajuan dalam hal akses pasar,
pengurangan substansial dalam hal program dukungan/subsidi domestik yang mengganggu
perdagangan (trade-distorting domestic suport programs), serta memperbaiki perlakukan
khusus dan berbeda di bidang pertanian bagi negara-negara berkembang.7

7
H. S. Kartadjoemena, Op.cit.,h.338.
2. Konferensi Tingkat Menteri (KTM) V WTO di Cancun, Meksiko

Konferensi Tingkat Menteri (KTM) V WTO berlangsung di Cancun, Meksiko tanggal


10-14 September 2003 tidak mengeluarkan Deklarasi yang rinci, karena gagal menyepakati
secara konsensus, terutama terhadap draft teks pertanian, akses pasar produk non pertanian
dan Singapore issues yang mencakup isu-isu: investasi, kebijakan kompetisi (competition
transparansi dalam pengadaan pemerintah dan fasilitasi perdagangan.

Terdapat beberapa pendapat seperti negara Amerika dan negara-negara di Eropa


membuat proposal yang menghendaki adanya penurunan tarif yang cukup signifikan di
negara berkembang, tetapi tidak menginginkan adanya pengurangan subsidi dan tidak secara
tegas memuat komitmen untuk menurunkan tarif tinggi (tariff peak) di negara maju.

Sebaliknya, negara berkembang yang tergabung dalam Group 20 menginginkan adanya


penurunan subsidi domestik (domestik support) dan penghapusan subsidi ekspor pertanian di
negara-negara maju, sebagaimana dimandatkan dalam Deklarasi Doha.

Sedangkan kelompok negara-negara berkembang lainnya yang tergabung dalam Group


33 (group yang dimotori Indonesia dan Filipina) mengajukan proposal yang menghendaki
adanya pengecualian dari penurunan tarif, dan subsidi untuk Special Products (SPs) serta
diberlakukannya Special Safeguard Mechanism (SSM) untuk negara-negara berkembang.

3.    Kesepakatan Juli 2004

Setelah gagalnya KTM V WTO di Cancun, Meksiko pada tahun 2003, Sidang Dewan
Umum WTO tanggal 1 Agustus 2004 berhasil menyepakati Keputusan Dewan Umum
tentang Program Kerja Doha, yang juga sering disebut sebagai Paket Juli. Pada kesempatan
tersebut berhasil disepakati kerangka perundingan lebih lanjut untuk DDA (Doha
Development Agenda) bagi lima isu utama yaitu perundingan pertanian, akses pasar produk
non-pertanian (NAMA), isu-isu pembangunan dan impelementasi, jasa, serta Trade
Facilitation dan penanganan Singapore issues lainnya.

Keputusan untuk tiga pilar perundingan sektor pertanian (subsidi domestik, akses pasar
dan subsidi ekspor) adalah:

a.            Subsidi domestik

 Negara maju harus memotong 20% dari total subsidi domestiknya pada tahun pertama
implementasi perjanjian pertanian.

13
 Negara berkembang dibebaskan dari keharusan untuk menurunkan subsidi jika subsidi
tersebut ditujukan untuk membantu petani kecil dan miskin.

b.          Subsidi ekspor

 Semua subsidi ekspor akan dihapuskan dan dilakukan secara paralel dengan penghapusan
elemen subsidi program seperti kredit ekspor, garansi kredit ekspor atau program asuransi
yang mempunyai masa pembayaran melebihi 180 hari.

 Implementasi penghapusan subsidi ekspor bagi negara berkembang lebih lama


dibandingkan dengan negara maju.

 Aturan pemberian bantuan makanan (food aid) diperketat untuk menghindari


penyalahgunaannya untuk mengalihkan kelebihan produksi negara maju

 Aturan perlakuan khusus dan berbeda (S&D) untuk negara berkembang diperkuat.

c.                  Akses Pasar

 Penurunan tarif akan semua transaksi

 Paragraf mengenai special products (SP) dibuat lebih umum dan tidak lagi menjamin
jumlah produk yang dapat dikategorikan sebagai sensitive product. Negara berkembang
dapat menentukan jumlah produk yang dikategorikan sebagai special products
berdasarkan kriteria food security, livelihood security, dan rural development.8

4. KTM VI Hong Kong

KTM terakhir WTO dilaksanakan tanggal 13-18 Desember 2005 di Hong Kong
dengan tujuan untuk mencari kesepakatan Program Kerja Doha di bidang pertanian, Akses
Produk Non Pertanian, jasa, aturan main perdagangan (rules), TF, keterkaitan perdagangan
dngan lingkungan dan isu pembangunan. Dalam KTM tersebut telah berhasil disepakati
Program Kerja Doha yang dituangkan dalam Ministerial Declaration yang berisi arahan dan
time line bagi tiap isu yang dirundingkan, yakni sebagai berikut :
8
Jurnal Hukum , “ Peran WTO Dalam Pembentukan Peraturan Perdagangan Internasional” oleh Gunarto ( diakses pukul
08.30.wib,6 November 2019)
a) Pertanian
 Ditetapkannya batas akhir penurunan subsidi ekspor sampai dengan tahun
2013.
 Dimasukkannya konsep SP ( Special Product ) yang menyebutkan bahwa
negara berkembang memiliki fleksibilitas untuk menentukan sendiri
banyaknya tariff bagi SP
 Modalitas di bidang pertanian harus diselesaikan paling lambat tanggal 30
April 2006 dan draf jadwal yang komprehensif berdasarkan modalitas harus
disampaikan paling lambat tanggal 31 Juli 2006.

b) Akses Produk Non Pertanian


 Ditetapkannya Swiss Formula dengan koefisien lebih dari satu (Swiss
Formula with Coefficients) sebagai penurunan tarif yang membedakan besaran
antara negara berkembang dan negara maju
 Negara berkembang mendapat jangka waktu implementasi penurunan tarif
yang lebih lama, pengecualian produk tertentu dari formula penurunan tarif,
dan memberlakukan status unbound untuk sejumlah produk tertentu (besaran
persentase akan dirundingkan) serta penghapusan tarif secara sektoral yang
bersifat tidak mengikat (non mandatory).
 Modalitas di bidang Akses Produk Non Pertanian harus disesuaikan paling
lambat tanggal 30 April 2006 dan draf jadwal yang komprehensif berdasarkan
modalitas harus disampaikan paling lambat tanggal 31 Juli 2006.
c) Jasa
Deklarasi memuat elemen-elemen yang memungkinkan pembahasan tentang
perluasan akses pasar tenaga kerja (medium-skill dan low-skill) dari negara
berkembang di luar negeri. Dimuat juga fleksibilitas negara berkembang dalam
menyampaikan komitmennya yang disesuaikan dengan pertumbuhan ekonomi /
pembangunan negara berkembang, serta sector jasa yang menjadi kepentingan negara
berkembang.9

D. Pengaruh WTO Dalam Dunia Internasonal

9
Adolf Huala, Op.Cit.,h.44.
15
Banyak pihak yang menganggap bahwa WTO adalah badan perdagangan bebas,
padahal dalam kenyataannya WTO bukanlah demikian. WTO merupakan tempat
melakukan sistem perdagangan internasional dengan adil, sehat, serta terbuka. WTO
hanyalah Organisasi yang mengatur perdagangan bebas. Pengaruh WTO dalam
perdagangan internasional dibedakan menjadi beberapa hal, yaitu:

1.      Mendorong Persaingan yang Terbuka


Tarif dan Proteksi masih diperbolehkan dalam WTO. WTO adalah sistem yang
mengatur kompetisi yang terbuka adil serta sehat. Didalam WTO diberlakukan kebijakan
Most Favoured Nation yang merupakan membebaskan perdagangan tanpa adanya
diskriminasi. Pemberlakuan prinsip MFN dirancang untuk membuat perdagangan yang
adil, termasuk pada masalah dumping dan subsidi. Semua persetujuan yang dilakukan
WTO adalah demi untuk menciptakan kompetisi perdagangan yang sehat.

2.   Mendorong Reformasi Pembangunan Ekonomi


Sistem yang terdapat dalam WTO dapat memberikan kontribusi pada pembangunan.
Putusan dalam WTO juga memuat aturna mengenai fleksibilitas yang diberikan pada
negara berkembang dalam menerapkan peraturan-peraturan yang dibuat WTO.
Persetujuan WTO juga memungkinkan negara berkembang terbelakang untuk
mendapatkan bantuan khusus serta keringanan dalam berdagang.

3.      Meningkatkan Prediktabilitas


Dibentuknya sistem multilateral adalah salah satu trik dalam WTO untuk menciptakan
perdagangan yang stabil serta dapat diprediksi. Dengan stabilitas dan kebijakan yang
dapat diprediksi maka investasi dapat dilakukan, lapangan pekerjaan dapat diciptakan
serta konsumen yang dpaat memenuhi kebutuhannya. 10

Akan tetapi ternyata dampak dari organisasi WTO tidak selalu bersfat baik khususnya
untuk negara berkembang, karena beberapa peraturan masih terdapat celah yang membuat
negara maju masih bisa memanfaatkan negara berkembang untuk kepentingan negaranya.
Salah satu peraturannya seperti dengan penerapan pasar bebas oleh WTO, banyak sekali
perusahaan di negara maju yang memindahkan proses industri ke negara berkembang
yang dianggap memiliki tingkat biaya rendah, sehingga mengakibatkan penurunan
10
Huala Adolf Hukum Perdagangan Internasional, Bandung : PT. Raja Grafindo Persada, 2004, h. 37.
penyerapan tenaga kerja di negara industri maju, yang dalam jangka panjang menciptakan
tingkat pengangguran yang tinggi dan tingkat kesejateraan yang menurun.11
Keseluruhan perjanjian pada WTO pada akhirnya hanya memberikan keuntungan pada
segelintir perusahaan multinasional dengan modal yang besar, tujuan utama dari WTO
untuk mengembangan pembangunan ekonomi yang merata saat ini, dikesampingkan
dengan pengembangan pasar bebas untul perusahaan multinasional yang
kecenderungannya merupakan perusahaan – perusahaan dari kelompok negara maju
seperti Amerika Serikat, Jepang atau negara di benua Eropa.12[39] Pengesampingan dari
tujuan utama tersebutkan diakibatkan pembentukan dari perjanjian perdagangan seperti
Trade Related Investment Measures (TRIMs) dan Trade Related Aspect of Intellectual
Property Rights (TRIPs).13

E. Indonesia Dalam WTO

Sejak tahun 1995 Indonesia telah menjadi anggota WTO yang ditandai dengan
ratifikasi atas persetujuan WTO melalui undang-undang nomor 7 tahun 1994 tentang
pengesahan Agreement Establishing The World Trade Organization ( Persetujuan
pembentukan organisasi perdagangan dunia ). Melalui hal ini, maka secara sah semua
persetujuan WTO merupakan menjadi bagian dalam legislasi nasional. Di Indonesia
dan di negara berkembang yang pada umumnya negara-negara yang ekonominya
masih kurang, permasalahan yang paling besar adalah bahwa pasar dan politik sama-
sama meminggirkan sektor pertanian. Kebijakan ekonomi politik sering tidak sesuai
dengan kondisi keadaan masyarakat yang menguasai sebagian besar penduduk,
sehingga masyarakat mengalami masalah yang paling utama yaitu pemenuhan
pangan, padahal pangan merupakan tolak ukur mengenai kemakmuran suatu negara.

Dalam konteks ketahanan pangan Indonesia status tingkat produksi dan


penyebaran musim panen yang dmikian serta laju konsumsi masyarakat lokal selalu
meningkat, negara mempunyai kewajiban untuk mengelola impor beras dan bahan
pangan. Akan tetapi setelah Indonesia masuk kedalam organisasi WTO, berarti

11
Zulkarnain Sitompul, Masih Perlukah WTO bagi Negara Berkembang, Jurnal Hukum, Medan, 2005, h.50.
12

13
A.F. Elly Erawati, Globalisasi dan Perdagangan Bebas: Suatu Pengantar, dalam Aspek Hukum dari Perdagangan Bebas
- Menelaah Kesiapan Hukum Indonesia dalam Melaksanakan Perdagangan Bebas, edited by Ida Susanti dan Bayu Seto,
(Bandung: PT. Citra Aditya Bakti, 2003), h. 30 – 31.
17
Indonesia juga harus mengikuti aturan-aturan yang sudah ada pada organisasi
tersebut. Dalam hal ini Indonesia juga menurunkan atau menghilangkan hambatan
perdagangan seperti tarif dan hambatan non tarif dengan tujuan meningkatkan akses
pasar di negara anggota lainnya.

Kepentingan Indonesia di WTO

Kepentingan Indonesia dalam perundingan perdagangan di WTO berkaitan erat


dengan tujuan dibentuknya WTO serta demi memajukan negara khususnya negara
berkembang, yaitu :

a. Pertanian:
 Memperjuagkan pertimbangan khusus bagi negara – negara berkembang yang
mempunyai kesulitan sosial dan ekonomi.
 Menurunkan tarif produk pertanian yang tinggi di negara – negara maju, , serta
subsidi pemerintahan kepada petaninya.
b. Jasa:
 Fleksibilitas bagi negara berkembang dalam membuka sektor jasa, sesuai dengan
prioritas pembangunan nasionalnya.
 Melindungi industri jasa negara berkembang dan kerugian (injury) yang ditimbulkan
oleh melimpahnya impor jasa akibat liberalisasi perdagangan dibidang jasa.
 51 negara telah menyampaikan initial offers: Indonesia telah mengajukan initial
requests kepada 16 anggota untuk sektor pendidikan, pariwisata dan energi, dan 19
anggota initial request-nya kepada Indonesia.

c. Non Algiculture Market Acces (NAMA)

 Memperjuangkan persentase penurunan tarif yang berbeda antara negara


maju dan berkembang.
 Mengatasi masalah tariff di negara maju yang merugikan kepentingan
ekspor negara berkembang.
 Menanggulangi masalah hambatan non-tarif dan memberikan perlakuan /
perhatian yang sama dengan hambatan tarif dalam perundangan akses
pasar produk nono-pertanian.

d. TRIPS and Public Health

 Memperjuangkan terbukanya akses bagi negara-negara berkembang dalam


memperoleh obat-obatan paten dengan harga murah untuk melindungi
kesehatan masyarakat.14

BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Berdasarkan pembahasan makalah yang berjudul kerja sama internasional di bidang


ekonomi dan politik, dapat disimpulkan bahwa ekonomi dan politik merupakan faktor

14
http://mission-indonesia.org/2015/10/05/showdown-at-the-wto-indonesia-mempertahankan-kepentingan-perdagangan-
dan-industri-nasional-dalam-pertemuan-komite-trade-related-invesment-measure-trims/perdagangan-dan-industri-nasional-
dalam-pertemuan-komite-trade-related-invesment-measure-trims/. ( Diakses pukul 17.05 wib, 8 November 2019)
19
penting dalam suatu negara. Negara dikatakan maju, bila keadaan politik negara tersebut
stabil dan negara tersebut dapat memenuhi semua kebutuhan masyarakatnya.

Berbagai cara dilakukan untuk mewujudkan ekonomi yang stabil di dalam suatu
negara. Salah satunya adalah dengan kerja sama antara suatu negara. Kerja sama
internasional dibidang ekonomi dan politik merupakan dampak dari adanya globalisasi.
Globalisasi merupakan suatu hubungan atau komunikasi antar suatu negara yang tidak ada
batas.

Kerja sama di bidang ekonomi mempunyai dampak positif dan dampak negatif. Salah
satu dampak positif yang sangat dirasakan adalah dengan terjalinnya kerja sama internasional
di bidang ekonomi sehingga dapat membantu perekonomian negara-negara yang menjadi
anggotanya untuk mensejahterakan rakyatnya. Kerja sama dalam politik juga dapat
mempererat hubungan antar negara baik dalam hal pemerintahan ataupun hal – hal yang
dibahas dalam pertemuan suatu politik seperti bidang kemanusiaan , budaya dan teknologi,
pertahanan dan kemanan

Daftar Pustaka
Adolf,Huala. Hukum Ekonomi Internasional,Jakarta: Rajawali Grafindo, 1998.

Adolf,Huala Perdagangan Internasional, Bandung : PT. Raja Grafindo Persada, 2004

H.S. Kartadjoemena, GATT, WTO dan Hasil Uruguay Round, cet. 2 .Jakarta: Penerbit Universitas Indoneia (UI-
Press), 1998.
Erawati, Elly. Globalisasi dan Perdagangan Bebas: Suatu Pengantar, dalam Aspek Hukum dari Perdagangan Bebas -
Menelaah Kesiapan Hukum Indonesia dalam Melaksanakan Perdagangan Bebas, edited by Ida Susanti dan Bayu Seto,
Bandung: PT. Citra Aditya Bakti, 2003.

Jurnal :
Jurnal Direktorat Perdagangan, Perindustrian, Investasi dan HKI, Direktorat Jenderal Multilateral, Departemen Luar Negeri,
Sekilas WTO (World Trade Organization, edisi keempat Jakarta: Penerbit Dit. Perdagangan, Perindustrian, Investasi, dan
HKI, Ditjend Multilateral, Departemen Luar Negeri, 2006.

Website :

Jurnal Hukum , “ Peran WTO Dalam Pembentukan Peraturan Perdagangan Internasional” oleh Gunarto ( diakses pukul
08.30.wib, 6 November 2019 )

http://mission-indonesia.org/2015/10/05/showdown-at-the-wto-indonesia-mempertahankan-kepentingan-perdagangan-dan-
industri-nasional-dalam-pertemuan-komite-trade-related-invesment-measure-trims/perdagangan-dan-industri-nasional-
dalam-pertemuan-komite-trade-related-invesment-measure-trims/. ( Diakses pukul 17.05 wib, 8 November 2019)

21