Anda di halaman 1dari 28

MAKALAH

“ KERJASAMA INTERNASIONAL DI BIDANG EKONOMI DAN POLITIK PADA


ABAD 20 ”

Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Kapita Selekta Sejarah Dunia

Dosen Pengampu : Nuraeni Marta, S.S., M.Hum.

Disusun oleh :

Rizky Aristia Setiawan

PENDIDIKAN SEJARAH 2013 A

JURUSAN SEJARAH

FAKULTAS ILMU SOSIAL

UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA

2019
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR...............................................................................................................................2
BAB I..........................................................................................................................................................3
PENDAHULUAN......................................................................................................................................3
A. Latar Belakang.....................................................................................................................................3

B. Rumusan Masalah................................................................................................................................3

C. Tujuan..................................................................................................................................................3

BAB II 4
PEMBAHASAN.........................................................................................................................................4
A. LBB......................................................................................................................................................4

B. ASEAN...............................................................................................................................................8

C. AFTA..................................................................................................................................................10

D. EU......................................................................................................................................................12

E. IMF..........................................................................................................................................15

F. APEC.........................................................................................................................................17

G. OPEC.........................................................................................................................................19

H.
G8..............................................................................................................................................22

BAB III

PENUTUP...............................................................................................................................25

DAFTAR PUSTAKA..............................................................................................................................28

1
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, sehingga penulis dapat
menyelesaikan makalah berjudul “Kerjasama Internasional di Bidang Ekonomi dan Politik”.
Dalam penyusunan makalah ini, tidak sedikit hambatan yang penulis hadapi, namun penulis
menyadari bahwa kelancaran dalam penyusunan makalah ini tidak lain berkat bantuan, dorongan
dan bimbingan banyak pihak, sehingga kendala-kendala yang penulis hadapi teratasi. Oleh
karena itu penulis mengucapkan terima kasih kepada :
1. Ibu Nuraeni Marta, S.S., M.Hum., dosen mata kuliah Kapita Selekta Sejarah Dunia yang
telah memberikan tugas, petunjuk, dan membimbing diskusi sehingga penulis termotivasi
dan menyelesaikan makalah ini.
2. Orang tua yang telah membantu, membimbing, dan mengatasi berbagai kesulitan sehingga
makalah ini selesai.

3. Teman-teman sejarah yang turut memberikan masukan dalam penulisan makalah ini.

Semoga makalah ini dapat bermanfaat dan menjadi sumbangan pemikiran bagi pihak
yang membutuhkan, khususnya bagi penulis sehingga tujuan yang diharapkan dapat tercapai,
Amin.

Jakarta, 12 November 2019

Penulis

Rizky Aristia Setiawan

2
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Bidang ekonomi merupakan suatu proses kegiatan ekonomi dan perdagangan,di mana
Negara-negara di seluruh dunia menjadi satu kekuatan pasar yang semakin terintegrasi dengan
tanpa rintangan batas teritorial Negara. Dampak globalisasi mengarah pada meningkatnya
ketergantungan ekonomi antar Negara melalui peningkatan volume dan keragaman transaksi
antar Negara (cross-border capital flows),pergerakan tenaga kerja (human movement), dan
penyebaran teknologi informasi yang cepat sehingga secara sederhana dapat dikemukakan bahwa
globalisasi secara hamper pasti telah merupakan salah satu kekuatan yang memberikan pengaruh
terhadap masyarakat, kehidupan manusia, lingkungan kerja, & kegiatan bisnis. Bidang ekonomi
juga terkait dengan bidang politik karena dalam sebuah suatu hubungan negara pasti didasari
dengan kerjasama – kerjasama dalam bidang politik. Pada era dunia saat ini terdapat sebuah
istilah baru terkait dengan hubungan suatu negara yaitu Globalisasi. Dampak dari globalisasi
inilah yang kurang banyaknya menjadi faktor pendorong dibuatnya berbagai kerjasama
internasional, khususnya dibidang ekonomi dan politik karena ekonomi dan politik merupakan
salah satu tolak ukur suatu negara dikatakan menjadi negara maju dan negara aktif dalam dunia
internasional.

1.2 Rumusan Masalah


1. Mengapa terjadi Kerjasama Internasional?
2. Apa saja kerjasama Internasional di bidang politik yang ada di Dunia?
3. Apa saja kerjasama Internasional di bidang ekonomi yang ada di Dunia ?

1.3 Tujuan Penulisan


1. Mengetahui alasan terjadinya kerjasama Internasional.

3
2. Mengetahui apa saja faktor pendorong dan faktor penghambat terbentuknya kerjasama
internasional, khususnya dibidang ekonomi.
3. Mengetahui apa saja bentuk kerjasama internasional pada bidang ekonomi.

BAB II

PEMBAHASAN

1. Liga Bangsa Bangsa ( LBB )

Liga Bangsa-Bangsa (LBB) adalah sebuah organisasi internasional yang didirikan


setelah Konferensi Perdamaian Paris 1919, tepatnya padaa 10 Januari1920. Fungsi-
fungsi utamaanya termasuk melucuti senjata, mencegah perang melalui keamanan
kolektif, menyelesaikan pertentangan antara negara-negara melalui negosiasi daan
diplomasi, serta memperbaiki kesejahteraan hidup global.
Ide untuk mendirikan LBB dicetuskan Presiden Amerika Serikat, Woodrow
Wilson, meskipun AS sendiri kemudian tidak pernah bergabung dengan organisasi ini.
Sejumlah 42 negara menjadi anggota saa LBB didirikan. 23 diantaranya tetap bertahan
sebagai anggota hingga LBB dibubarkan pada 1946. LBB tidak mempunyai angkatan
bersenjata dan bergantung kepada kekuatan-kekuatan internasional untuk menjaga agar
resolusi-resolusinya dipatuhi. Meskipun awalnya menunjukkan keberhasilan dalam
menjalankaan tugasnya, LBB akhirnya gagal mencegah berbagai serangan yang
dilakukan Kekuatan Poros pada tahun 1930-an. Munculnya Perang Dunia II kembali
memperjelas keadaan bahwa LBB telah gagal dalama tugasnya mencegah pecahnya
perang. Setelah Perang Dunia II, pada 18 April 1946, LBB resmi dibubarkan dan
digantikan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

1.1 Sejarah Berdirinya Liga Bangsa Bangsa


Berdasarkan akibat-akibat yang ditunjukkan dalam perang dunia I, jelaslah bahwa perang
mendatangkan malapetaka bagi umat manusia. Di antara mereka timbul kesadaran untuk

4
mengusahakan terciptanya dunia yang damai. Usaha-usaha perdamaian dunia antara lain
dilakukan oleh beberapa tokoh-tokoh penting, diantaranya yaitu:
1. Pada tahun 1923, Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, William Jennings Bryan,
mengumumkan Peace Plan (rencana perdamaian). Isinya adalah suatu permintaan
agar setiap pertikaian antar dua Negara diperiksa terlebih dahulu oleh sebuah komisi.
Komisi bertugas untuk mengusahakan jangan sampai terjadi perang atau bahkan
diusahakan suatu perdamaian di antara kedua pihak tersebut;
2. Woodrow Wilson (AS) mengusulkan untuk mengakhiri perang dan menjamin
perdamaian dunia supaya melaksanakan Peace Without Victory yang berisi hal-hal
berikut:
         Perjanjian rahasia tidak diperbolehkan;
         Semua bangsa mempunyai kedudukan yang sama;
         Diadakan pengurusan persenjataan.
3. Peace Without Vicrtory ini kemudian menjelma menjadi Wilson’s Fourteen Point (14
pasal) pada tanggal 1918.

1.2 Tujuan
Liga Bangsa-Bangsa beranggotakan 28 negara sekutu dan 14 negara netral. Tujuan
pembentukan LBB pada waktu itu adalah untuk:
1.      Memelihara perdamaian dunia, mencegah perang, menjadi pengawas daerah
mandat (bekas jajahan Negara-negara yang kalah dalam perang dunia I), dan memberikan
perlindungan kepada bangsa-bangsa minoritas;
2.      Memajukan dan memelihara hubungan persahabatan antar bangsa dan Negara
(melenyapkan perang);
3.      Menegakkan hokum internasional serta berusaha agar perjanjian antar bangsa
dipatuhi;
4.      Memajukan dan memelihara kerjasama internasional di bidang ekonomi, social,
pendidikan, dan kebudayaan.

1.3 Kegagalan Liga Bangsa Bangsa

5
LBB tidak mempunyai angkatan bersenjata dan bergantung kepada kekuatan
internasional untuk menjaga resolusi-resolusi mereka agar dipatuhi. Meskipun awalnya
berhasil menjalankan tugas dengan baik, LBB kemudian menemui kegagalan saat
mencegah berbagai serangan yang dilakukan Kekuatan Poros pada 1930-an. ecahnya
Perang Dunia II semakin menunjukkan LBB telah gagal mencegah pecahnya perang.
Akhirnya setelah Perang Dunia II berakhir, tepatnya pada 18 April 1946, LBB resmi
dibubarkan dan diganti dengan Perserikatan Bangsa-Bangsa.

2. Perserikatan Bangsa – Bangsa ( PBB)


Perserikatan Bangsa-Bangsa atau biasa disingkat PBB (United Nations) adalah
sebuah organisasi internasional yang anggotanya hampir seluruh negara di dunia.
Lembaga ini dibentuk untuk memfasilitasi dalam hukum internasional, pengamanan
internasional, lembaga ekonomi, dan perlindungan sosial. Perserikatan Bangsa-bangsa
didirikan di San Francisco pada 24 Oktober 1945 setelah Konferensi Dumbarton Oaks di
Washington, DC, namun Sidang Umum yang pertama – dihadiri wakil dari 51 negara,
baru berlangsung pada 10 Januari 1946 (di Church House, London). Dari 1919 hingga
1946, terdapat sebuah organisasi yang mirip, bernama Liga Bangsa-Bangsa, yang bisa
dianggap sebagai pendahulu PBB. Sejak didirikan pada tahun 1945 hingga 2019, sudah
ada 193 negara yang bergabung menjadi anggota PBB, termasuk semua negara yang
menyatakan kemerdekaannya masing-masing dan diakui kedaulatannya secara
internasional, kecuali Vatikan.

2.1 Azaz dan Tujuan Berdirinya PBB

Asas PBB

Asas Perserikatan Bangsa-Bangsa sebagai berikut.

1. Persamaan derajat dan kedaulatan semua negara anggota.


2. Persamaan hak dan kewajiban semua negara anggota.
3. Penyelesaian sengketa dengan cara damai.
4. Setiap anggota akan memberikan bantuan kepada PBB sesuai ketentuan Piagam PBB.
5. PBB tidak boleh mencampuri urusan dalam negeri negara anggota.

6
Tujuan PBB

Tujuan Perserikatan Bangsa-Bangsa sebagai berikut.

1. Memelihara perdamaian dan keamanan dunia.


2. Mengembangkan hubungan persahabatan antarbangsa berdasarkan asas-asas persamaan
derajat, hak menentukan nasib sendiri, dan tidak mencampuri urusan dalam negeri negara
lain.
3. Mengembangkan kerjasama internasional dalam memecahkan masalah-masalah
ekonomi, sosial, budaya, dan kemanusiaan.
4. Menyelesaikan perselisihan dengan cara damai dan mencegah timbulnya peperangan.
5. Memajukan dan menghargai hak asasi manusia serta kebebasan atau kemerdekaan
fundamental tanpa membedakan warna, kulit, jenis kelamin, bahasa, dan agama.
6. Menjadikan pusat kegiatan bangsa-bangsa dalam mencapai kerja sama yang harmonis
untuk mencapai tujuan PBB.

2.2 Keanggotaan PBB

Keanggotaan PBB terdiri dari 2 macam, yaitu:

1. Anggota asli (orginal members) yang terdiri dari 50 negara yang menandatangani Piagam
San Fransisco 26 Juni 1945. Pada tanggal 15 Oktober 1945 Polandia menyusul sehingga
menjadi 51 negara.
2. Anggota tambahan, yakni negara-negara anggota PBB yang masuk kemudian berdasar
syarat-syarat disetujui Majelis Umum PBB.

Syarat-syaratnya adalah sebagai berikut.

1. Negara merdeka.
2. Negara yang cinta damai.
3. Sanggup mematuhi ketentuan-ketentuan yang tercantum dalam Piagam PBB.
4. Diusulkan oleh Dewan Keamanan dan disahkan oleh Majelis Umum PBB.

Susunan Keanggotaan dan Tugas Badan-badan PBB :

a. Majelis Umum PBB ( General Assembly )


Semua negara anggota PBB adalah anggota Majelis Umum. Sidang Majelis umum terdiri
dari seluruh anggota dan setiap anggota memiliki satu suara. Majelis Umum bersidang
sekali setahun

b. Dewan Keamanan

7
Lima negara anggota tetap (the Big Five) yakni Inggris, Perancis, RRC, Amerika Serikat,
dan Uni Sovyet (Rusia) serta 10 orang anggota tidak tetap yang dipilih setiap dua tahun.

c. Dewan Ekonomi dan Sosial

ECOSOC memiliki 54 anggota, yang semuanya dipilih oleh Majelis Umum untuk masa
jabatan tiga tahun. fungsi ECOSOC mencakup pengumpulan informasi, menasihati
negara anggota, dan membuat rekomendasi. Selain itu, ECOSOC mempunyai posisi yang
baik untuk memberikan koherensi kebijakan dan mengkoordinasikan fungsi tumpang
tindih dari badan anak PBB dan dalam peran-peran inilah ECOSOC yang paling aktif.

d. Dewan Perwalian
Tugas dewan pewalian adalah melindungi kepentingan penduduk di daerah – daerah yang
belum mempunyai kepentingan sendiri

e. Mahkamah Internasional

Keanggotaan Mahkamah Internasional adalah Badan Peradilan utama dari PBB. Mahkamah
Internasional terdiri atas 15 hakim dari 15 negara. Anggota ini bertugas selama 9 tahun.
Mahkamah Internasional ini berkedudukan di Den Haag.

Tugas Mahkamah Internasional sebagai berikut.

1. Mengadili perselisihan-perselisihan atau persengketaan antarnegara-negara anggota PBB


yang persoalannya diajukan oleh negara yang berselisih.
2. Memberikan pendapat kepada Majelis Umum PBB tentang penyelesaian sengketa
antarnegara-negara anggota PBB.
3. Mendesak DK PBB untuk mengambil tindakan terhadap pihak yang tidak menghiraukan
keputusan Mahkamah Internasional.

f. Sekretariat PBB

Sekretariat PBB dipimpin oleh seorang sekretaris jenderal yang dipilih oleh Majelis Umum
atas usul DK PBB untuk masa jabatan 5 tahun dan dapat dipilih kembali.

Tugas utama Sekretaris Jenderal sebagai berikut.

1. Melaksanakan tugas-tugas administrasi PBB.


2. Menyusun laporan tahunan tentang kegiatan PBB yang harus disampaikan kepada MU.
3. Menyiapkan, mengumumkan dan melaksanakan segala keperluan badan-badan PBB.
4. Mengajukan kepada DK PBB mengenai situasi yang menurut pendapatnya dapat
membahayakan perdamaian internasional.

8
3. ASEAN

3.1 Sejarah Terbentuknya ASEAN

Pada 8 Agustus 1967 bertempat di Bangkok. Indonesia, Singapura, Malaysia, dan Filipina
menyetujui terbentuknya ASEAN (Association of South East Asia Nation). Sejatinya ada
beberapa persamaan yang melatar belakangi dibentuknya organisasi ini yakni :

 Negara-negara Asia Tenggara memiliki persamaan Geografis yakni berbatasan utara


dengan Republik Rakyat Cina, berbatasan selatan dengan samudera hindia, berbatasan
timur dengan samudera pasifik, dan berbatasan barat dengan teluk bengala dan anak
benua India.
 Bangsa-bangsa di Asia Tenggara memiliki persamaan ras mongoloid dan memiliki
kebudayaan dasar melayu austronesia.
 Pernah mengalami penjajahan beberapa diantaranya yakni oleh bangsa Portugis, Belanda,
Perancis, dan Inggris yang datang ke Asia Tenggara melalui jalur perdagangan laut.
Hanya Thailand, Negara di Asia Tenggara yang tidak mengalami Penjajahan.
 Memiliki persamaan kepentingan dalam memajukan negaranya.

Kelima Negara yang masing-masing diwakili oleh Menteri Luar Negeri yang memprakarsai
terbentuknya ASEAN melakukan diskusi tanggal 5-8 Agustus 1967 untuk membicarakan
terbentuknya ASEAN dan berakhir dengan kesepakatan penandatanganan deklarasi Bangkok
yang menjadi tanda telah resmi berdiri suatu organisasi regional baru di kawasan Asia tenggara.
Perwakilan Menteri Luar Negeri tersebut yakni :

1. Adam Malik perwakilan Menteri Luar Negeri Indonesia


2. Rajaratnam perwakilan Menteri Luar Negeri Singapura
3. Tun Abdul Razak perwakilan Menteri Luar Negeri Malaysia
4. Narcisco Ramos perwakilan Menteri Luar Negeri Thailand
5. Thanat Koman perwakilan Menteri Luar Negeri Filipina

Berikut isi dari deklarasi Bangkok yang merupakan tujuan dari dibentuknya ASEAN:

1. Meningkatkan pertumbuhan ekonomi, mengembangkan kebudayaan, dan memajukan


kehidupan sosial kawasan Asia Tenggara.
2. Menjaga stabilitas regional dan meningkatkan perdamaian.
3. Dalam bidang ekonomi, sosial, ilmu pengetahuan, administrasi, dan teknik akan
ditingkatkan dalam kerja sama dan saling membantu antar kepentingan bersama.

9
4. Berupaya menjalin kerja sama yang solid meski telah ada organisasi regional dan
internasional lainnya.
5. Dalam bidang pendidikan, latihan, dan penelitian kawasan Asia Tenggara akan
ditingkatkan dalam kerja sama.

Pada awal dibentuknya ASEAN tidak semua Negara ikut bergabung. Negara-negara tersebut satu
persatu bergabung. Uruta waktu kelima Negara lainnya bergabung yakni :

1. Brunei Darussalam bergabung pada 7 Januari 1987 satu minggu setelah mereka
dinyatakan merdeka.
2. Vietnam bergabung pada 28 Juli 1995.
3. Laos dan Myanmar bergabung bersamaan pada 23 Juli 1997.
4. Kamboja bergabung pada 16 Desember 1998.
5. Timor Leste belum dinyatakan resmi bergabung meski telah mengikuti beberapa kegian
dari ASEAN.

3.2 Peranan Indonesia dalam ASEAN

Indonesia merupakan negara terbesar dengan wilayah terluas dan jumlah penduduk terbanyak di
Asia Tenggara. Tak hanya itu, Indonesia pun memiliki andil yang begitu besar dalam ASEAN.

Berikut adalah peranan Indonesia dalam ASEAN :

1. Dari kelima Negara yang memprakarsai dan mendirikan organisasi ASEAN. Indonesia
merupakan salah satunya.
2. Mendirikan Gedung sekretariat ASEAN di Jakarta.
3. Indonesia sebagai tempat berlangsungnya Konferensi Tingkat Tinggi ASEAN I yakni di
Bali.
4. Kepulauan Riau diperbolehkan oleh pemerintahan Indonesia untuk menyediakan sebagai
pusat karantina hewan dan tanaman untuk keperluan ASEAN.
5. Sepenuhnya mendukung terselenggaranya Masyarakat Ekonomi Asean.
6. Ikut serta dalam menciptakan perdamaian di kawasan Asia Tenggara.
7. Salah satu penggagas terbentuknya komunitas keamanan ASEAN.

4. AFTA

10
4.1 Sejarah Terbentuknya AFTA

AFTA dibentuk pada KTT ASEAN ke-4 di Singapura pada tahun 1992. Awalnya, AFTA
adalah tujuan Kawasan Perdagangan Bebas ASEAN (AFTA) sebagai bentuk kesepakatan
negara-negara ASEAN untuk membangun kawasan perdagangan bebas. untuk meningkatkan
daya saing ekonomi daerah. ASEAN dengan menjadikan ASEAN sebagai basis produksi dunia
akan dicapai dalam 15 tahun (1993-2008), kemudian dipercepat hingga 2003 dan akhirnya
dipercepat lagi hingga 2002.

Skema Tarif Preferensial Efektif Bersama untuk Kawasan Perdagangan Bebas ASEAN
(CEPT-AFTA) adalah skema untuk melaksanakan AFTA melalui: mengurangi tarif sehingga
menjadi 0-5%, menghilangkan pembatasan kuantitatif dan lain-lain hambatan non tarif.

AFTA dibentuk dengan harapan bahwa ekonomi negara-negara ASEAN akan memiliki
daya saing ekonomi yang lebih baik dalam waktu 9 tahun (1993 – 2002). Dalam
implementasinya, hal itu dilakukan dengan menghilangkan tingkat tarif impor 0 hingga 5%
untuk negara-negara anggota ASEAN. Selain itu, AFTA juga akan menciptakan pasar regional
untuk lebih dari 500 juta orang.

Perkembangan terakhir AFTA adalah pembentukan perjanjian untuk menghapuskan


semua tarif impor barang. Perjanjian ini berlaku untuk Brunei Darussalam pada 2010 dan juga
untuk Indonesia, Filipina, Malaysia, Singapura, Thailand, Kamboja, Laos, Vietnam, dan
Myanmar pada 2015.

Tujuan AFTA adalah untuk meningkatkan daya saing ekonomi negara-negara ASEAN
dengan menjadikan ASEAN sebagai basis produksi pasar dunia, untuk menarik investasi dan
meningkatkan perdagangan di antara anggota ASEAN. Dalam perjanjian tersebut, AFTA
direncanakan akan beroperasi penuh pada tahun 2008, tetapi dipercepat pada tahun 2003.

Mekanisme utama untuk mencapai tujuan yang disebutkan di atas adalah skema
“Common Preferential Rate Preferential” (CEPT) yang bertujuan untuk memastikan bahwa
barang yang diproduksi antara negara-negara ASEAN yang memenuhi persyaratan dari minus
40% dari konten lokal dikenakan biaya hanya 0-5%. Anggota ASEAN memiliki tiga
pengecualian CEPT dalam tiga kategori:

1) pengecualian sementara,

(2) produk pertanian yang sensitif

(3) pengecualian umum lainnya (Sekretariat ASEAN 2004)

Untuk kategori pertama, pengecualian bersifat sementara karena pada akhirnya mereka
diharapkan memenuhi standar tertentu, yaitu 0-5%. Sementara itu, produk pertanian sensitif akan
ditunda hingga 2010. Dapat disimpulkan, selambat-lambatnya tahun 2015, semua tarif antar
negara ASEAN diperkirakan akan mencapai 0%.

11
AFTA diluncurkan dengan instrumen CEPT, yang diperkenalkan pada Januari 1993. ASEAN
pada 2002, menyatakan bahwa komitmen utama CEPT-AFTA hingga saat ini mencakup 4
program, yaitu:

1. Program pengurangan tingkat tarif yang secara efektif sama di antara negara- negara
ASEAN hingga mencapai 0-5 persen.
2. Penghapusan hambatan-hambatan kuantitatif (quantitative restrictions) dan hambatan-
hambatan non-tarif (non tariff barriers).
3. Mendorong kerjasama untuk mengembangkan fasilitasi perdagangan terutama di bidang
bea masuk serta standar dan kualitas.
4. Penetapan kandungan lokal sebesar 40 persen.

4.2 AFTA Untuk Indonesia

Dalam sejarah pembentukan AFTA, partisipasi Indonesia harus diperhitungkan untuk


mendapatkan keuntungannya sendiri. AFTA adalah program kolaborasi yang bermanfaat bagi
Indonesia karena hal-hal berikut:

1. Memberikan peluang untuk kegiatan ekspor produk pertanian


2. Menantang Indonesia untuk menghasilkan produk kompetitif di pasar regional AFTA sendiri.
3. Peningkatan daya saing ini diharapkan akan semakin mendorong perkembangan ekonomi
Indonesia dan                       mendorong perusahaan untuk menghasilkan barang yang berkualitas
sehingga mereka dapat bersaing dengan             produk yang diproduksi oleh negara-negara
ASEAN lainnya.
4. Berikan peluang bagi pengusaha kecil dan menengah sehingga mereka dapat mengekspor
produk mereka untuk         mendapatkan pasar selain yang nasional.
5. Mempromosikan kesadaran wirausaha untuk memiliki daya saing bisnis yang lebih besar.
Semua hal ini tidak dapat dilakukan tanpa dukungan pemerintah dalam hal modal untuk
meningkatkan kualitas produksi dan juga standar kualitas produk. Dukungan pemerintah
diperlukan untuk menciptakan bisnis independen terhadap AFTA, karena jika suatu industri tidak
dapat bersaing karena rendahnya kualitas barang, pemerintah harus memberikan dukungan
dengan bantuan modal.

5. EU ( Europe Union )

5.1 Sejarah Terbentuknya Europe Union

Uni Eropa mengalami sejarah yang cukup panjang dalam pembentukannya. Akan
dipaparkan seperti di bawah ini:
1. The Treaty of Paris (ECSC), 1952

12
Proses integrasi Eropa bermula dari dibentuknya “Komunitas Batu Bara dan Baja Eropa”
(European Coal and Steel Community/ECSC), yang Traktat-nya ditandatangani tanggal 18 April
1951 di Paris dan berlaku sejak 25 Juli 1952 sampai tahun 2002. Tujuan utama ECSC Treaty
adalah penghapusan berbagai hambatan perdagangan dan menciptakan suatu pasar bersama
dimana produk, pekerja dan modal dari sektor batu bara dan baja dari negara-negara anggotanya
dapat bergerak dengan bebas. Traktat ini ditandatangani oleh Belanda, Belgia, Italia, Jerman,
Luksemburg dan Perancis.
Hasil utama:
 Pembentukan European Coal and Steel Community (ECSC)
 Penghapusan rivalitas lama antara Jerman dan Perancis, dan memberi dasar bagi
pembentukan “Federasi Eropa”.

2. The Treaty of Rome (Euratom dan EEC), 1957


Pada tanggal 1-2 Juni 1955, para menlu 6 negara penandatangan ECSC Treaty bersidang di
Messina, Itali, dan memutuskan untuk memperluas integrasi Eropa ke semua bidang ekonomi.
Pada tanggal 25 Maret 1957 di Roma ditandatangani European Atomic Energy Community
(EAEC), namun lebih dikenal dengan Euratom dan European Economic Community (EEC).
Keduanya mulai berlaku sejak tanggal 1 Januari 1958. Jika ECSC dan Euratom merupakan
traktat yang spesifik, detail dan rigid law treaties, maka EEC Treaty lebih merupakan sebuah
framework treaty. Tujuan utama EEC Treaty adalah penciptaan suatu pasar bersama diantara
negara-negara anggotanya melalui:
Pencapaian suatu Custom Unions yang di satu sisi melibatkan penghapusan customs duties,
import quotas dan berbagai hambatan perdagangan lain diantara negara anggota, serta di sisi lain
memberlakukan suatu Common Customs Tariff (CCT) vis-á-vis negara ketiga (non anggota).
Implementasi, inter alia melalui harmonisasi kebijakan-kebijakan nasional anggota, 4 freedom of
movement -  barang, jasa, pekerja dan modal.

Hasil utama:
 Ketiga Communities tersebut masing-masing memiliki organ eksekutif yang berbeda-
beda. Namun sejak tanggal 1 Juli 1967 dibentuk satu Dewan dan satu Komisi untuk lebih
memudahkan manajemen kebijakan bersama yang semakin luas, dimana Komisi Eropa
mewarisi wewenang ECSC High Authority, EEC Commission dan Euratom Commission.
Sejak saat itu ketiga communities tersebut dikenal sebagai European Communities (EC).
 Pembentukan Dewan Menteri UE, yang menggantikan Special Council of Ministers di
ketiga Communities, dan melembagakan “Rotating Council Presidency” untuk masa
jabatan selama 6 bulan.
 Membentuk Badan Audit Masyarakat Eropa, menggantikan Badan-badan Audit ECSC,
Euratom dan EEC.

3. Schengen Agreement, 1985

13
Pada tanggal 14 Juni 1985, Belanda, Belgia, Jerman, Luksemburg  dan Perancis
menandatangani Schengen Agreement, dimana mereka sepakat untuk secara bertahap
menghapuskan pemeriksaan di perbatasan mereka dan menjamin pergerakan bebas manusia,
baik warga mereka maupun warga negara lain. Perjanjian ini kemudian diperluas dengan
memasukkan Itali (1990), Portugal dan Spanyol (1991), Yunani (1992), Austria (1995),
Denmark, Finlandia, Norwegia dan Swedia (1996).

4. Single Act, Brussels, 1987


Berdasarkan White Paper yang disusun oleh Komisi Eropa dibawah kepemimpinan
Jacques Delors pada tahun 1984, Masyarakat Eropa mencanangkan pembentukan sebuah Pasar
Tunggal Eropa. Single European Act, yang ditandatangani pada bulan Pebruari 1986, dan mulai
berlaku mulai tanggal 1 Juli 1987, terutama ditujukan sebagai suplemen EEC Treaty. Tujuan
utama Single Act adalah pencapaian pasar internal yang ditargetkan untuk dicapai sebelum 31
Desember 1992.
Hasil utama:
 Melembagakan pertemuan reguler antara Kepala Negara dan/atau Pemerintahan negara
anggota Masyarakat Eropa, yang bertemu paling tidak setahun dua kali, dengan dihadiri
oleh Presiden Komisi Eropa.
 European Political Cooperation secara resmi diterima sebagai forum koordinasi dan
konsultasi antar pemerintah.
 Seluruh persetujuan asosiasi dan kerjasama serta perluasan Masyarakat Eropa harus
mendapat persetujuan Parlemen Eropa.

5. The Treaty of Maastricht (Treaty on European Union), 1992


Treaty on European Union (TEU) yang ditandatangani di Maastricht pada tanggal 7
Februari 1992 dan mulai berlaku tanggal 1 November 1993, mengubah European Communities
(EC) menjadi European Union (EU). TEU mencakup, memasukkan dan memodifikasi traktat-
traktat terdahulu (ECSC, Euratom dan EEC). Jika Treaties establishing European Community
(TEC) memiliki karakter integrasi dan kerjasama ekonomi yang sangat kuat, maka TEU
menambahkan karakter lain yaitu kerjasama dibidang Common Foreign and Security Policy
(CFSP) dan Justice and Home Affairs (JHA).

5.2 Tujuan Uni Eropa

Tujuan UE yang sebelumnya hanya untuk meningkatkan integritas ekonomi kemudian


berkembang ke bidang-bidang lain seperti kebijakan luar negeri, isu sosial, pertahanan dan
keamanan dan persoalan hukum.

Tujuan lain dari UE adalah untuk mengimplementasikan Economic and Monetary Union
(EMU) dengan memperkenalkan satu mata uang eropa yaitu Euro untuk semua negara anggota
UE. 2002, mata uang ini telah menggantikan 12 mata uang negara anggota UE. Kelimabelas

14
negara lainnya belum menggunakan Euro sebagai mata uangnya yaitu Inggris Raya, Denmark,
dsb.
Selain tujuan integrasi ekonomi UE juga menginginkan kesatuan suara mereka dalam
menanggapi isu-isu global. Hal ini lebih mudah diimplementasikan dalam kehidupan ekonomi,
karena dalam kehidupan sosial dan politik hal tersebut masih agak sulit untuk dicapai. Perjanjian
perdagangan telah ditandatangani baik secara bilateral maupun multilateral antara UE dengan
negara-negara berkembang. Namun, dalam isu-isu politik, negara-negare eropa masih terpecah
dan tidak memiliki satu suara yang bulat, seperti halnya yang terjadi saat perang teluk tahun
1991.

Secara garis besar bisa ditarik dua tujuan utama pembentukan Uni Eropa, yaitu:
Terjalinnya kerjasama antar negara anggota di bidang ekonomi yang fokus terhadap
keleluasaan gerak sumber produksi, manusia (sumber tenaga kerja), hasil produksi, dan jasa
tanpa tarif atau minimal dengan kesegaraman tarif yang rendah.

Terjalinnya kerjasama antar negara anggota di bidang politik sehingga dapat mengurangi
dampak negatif rivalitas antar negara-negara besar di Eropa yang telah ada sejak dahulu kala
sehingga bisa menghindari terjadinya perang kembali di Eropa, serta menjadi salah satu kekuatan
di dunia dalam regulasi internasional.

5.3 Uni Eropa dengan Indonesia

Indonesia adalah salah satu mitra penting bagi Uni Eropa baik dalam perdagangan
maupun investasi. Tugas utama dari Delegasi Uni Eropa di Indonesia adalah memfasilitasi arus
perdagangan dan investasi antara Uni Eropa dan Indonesia, serta membantu perusahaan-
perusahaan dalam menjawab tantangan-tantangan dan rintangan-rintangan yang mereka hadapi
ketika melakukan usaha lintas batas.
Pada saat yang bersamaan, Uni Eropa sedang memfasilitasi ekspor Indonesia ke Uni Eropa
melalui pemberian akses istimewa ke pasarnya melalui skema Generalised System of Preference
(GSP). Guna membantu mendukung perluasan perdagangan lebih lanjut antara Uni Eropa dan
Indonesia, Uni Eropa memberikan bantuan kepada Indonesia melalui kerjasama ekonomi dan
perdagangan

International Monetary Fund (IMF)


1. Sejarah Terbebntuknya IMF
Dana Moneter Internasional atau International Monetary Fund (IMF) adalah organisasi
internasional yang bertanggung jawab dalam mengatur sistem finansial global dan
menyediakan pinjaman kepada negara anggotanya untuk membantu masalah-masalah
keseimbangan neraca keuangan masing-masing negara. Salah satu misinya adalah membantu
negara-negara yang mengalami kesulitan ekonomi yang serius, dan sebagai imbalannya, negara

15
tersebut diwajibkan melakukan kebijakan-kebijakan tertentu, misalnya privatisasi badan usaha
milik negara.

Pada saat akhir Perang Dunia II tersebut, ekonomi cenderung mengerucut pada satu
tumpuan kekuatan, Amerika Serikat (AS). Britania Raya mengalami kebangkrutan ekonomi
akibat resesi sejak akhir abad ke-19 dengan kehilangan cadangan emasnya. Eropa Barat hancur
sebagai akibat perang dunia. Demikian juga dengan Jepang. Dan tidak ada negara satu pun di
dunia yang cukup kuat, kecuali AS.

AS menjadi kekuatan ekonomi tunggal pada saat itu dengan memiliki cadangan emas
mencapai 65 persen dari seluruh dunia. Dia juga menjadi pemimpin dalam Perang Dunia II dan
menang. AS juga, yang secara fisik, tidak tersentuh dan terseret menjadi medan perang, kecuali
wilayah Hawai yang dihajar bom oleh Jepang.

Atas dasar peta kekuatan tersebut, kesepakatan Bretton Woods sangat kental dengan
nuansa peran AS dalam mengatur tatanan ekonomi dunia. Salah satunya, peran dolar AS
sebagai satu-satunya alat pembayaran dunia. Pada saat itu, setiap mata uang ditetapkan nilai
berdasarkan cadangan emas masing-masing negara dan kemudian menetapkan nilai tukar mata
uang terhadap dolar AS berdasarkan nilai paritasnya terhadap emas masing-masing.

International Monetary Fund (IMF) muncul sebagai hasil dari perundingan Bretton Woods,
pasca Great Depression yang melanda dunia pada dekade 1930-an. Pada Pada tanggal 22 Juli
1944 – sebagai akibat dari Great Depression – 44 negara mengadakan pertemuan di Hotel
Mount Washington Hotel, Kota Bretton Woods, New Hampshire, Amerika Serikat, untuk
membahas kerangka kerja sama ekonomi internasional baru yang akan dibangun setelah Perang
Dunia II. Negara-negara ini percaya bahwa kerangka kerja sama tersebut sangat dibutuhkan
untuk menghindari pengulangan bencana ekonomi yang terjadi selama Great Depression.
Pertemuan ini melahirkan “Bretton Woods Agreements” yang membangun IMF dan organisasi
kembarannya, The International Bank for Reconstruction and Development (sekarang lebih
dikenal dengan nama World Bank). Pada awalnya, IMF hanya beranggotakan 29 negara,
namun kemudian pada awal tahun 2004 anggota IMF sudah mencapai 184 negara, yang berarti
hampir semua negara anggota PBB juga menjadi anggota IMF.

2. Peranan dan Fungsi IMF


IMF memiliki tiga fungsi yang berperan dalam pencapaian dua tujuannya. Adapun fungsi
yang pertama yaitu pemantauan, yang diartikan sebagai tanggung jawab mengawasi system
keuangan internasional dan mengawasi kepatuhan setiap negara anggota dalam memenuhi
kewajibannya untuk mengimplementasi kebijakan-kebijakan yang kondusif bagi pertumbuhan
yang terpadu seperti stabilitas harga, membantu memajukan pengaturan pertukaran yang stabil
dan menghindari manipulasi nilai tukar, serta memberikan data perekonomiannya kepada IMF
sehingga dapat  memantau kondisi ekonomi dan keuangan di seluruh dunia serta memeriksa
apakah kebijakan di negara anggota terbukti benar menurut sudut pandang internasional

16
maupun nasional. Selain itu juga IMF memiliki kewengan dalam memperingatkan negara
anggota untuk mewaspadai bahaya yang mengintai, dengan demikian pemerintah dapat
mengambil tindakan pencegahan. Untuk fungsi kedua yaitu peminjaman, yang diartikan
sebagai institusi yang  memberikan pinjaman kepada negara- negara yang mengalami kesulitan
dengan neraca pembayarannya. Tujuan utama peminjaman bagi negara-negara berpendapatan
rendah adalah demi pertumbuhan ekonomi dan pengurangan kemiskinan. Sedangkan fungsi
ketiga yaitu bantuan teknis dan pelatihan. Fungsi ketiga ini membuat IMF membantu negara-
negara anggotanya dalam memberikan saran untuk mengembangkan institusi pembuat
kebijakan dan instrument kebijakan ekonomi yang kuat.

3. Tujuan IMF
Dalam status pendirian IMF disebut enam tujuan yang ingin dicapai oleh IMF, yaitu :

1)      Menjadi tempat secara permanen bagi pertemuan-pertemuan dan perundingan untuk


mencapai kerja sama internasional dalam bidang keuangan

2)      Membantu memperluas perdagangan internasional yang seimbang diantara anggotanya


dan membantu perekonomian para anggotanya

3)      Berusaha meniadakan competitive depresitions dan mengusahakan tercapainya stable


exchange rates.

4)   Menghilangkan exchange retrictions.

5)   Membantu para anggota yang mengalami kesukaran dalam pinjaman luar negeri agar
jangan mengambil tindakan-tindakan yang dapat merugikan negara yang bersangkutan dan
negara lainnya. Tujuannya adalah memberikan kepercayaan kepada para anggotanya.

6)   Mengurangi waktu dan besarnya disekuilibrium dalam neraca pembayaraan negara
anggota IMF.

6. APEC (Asia-Pacific Economic Cooperation )

APEC adalah singkatan dari Asia-Pacific Economic Cooperation atau Kerjasama


Ekonomi Asia Pasifik. APEC didirikan pada tahun 1989. APEC bertujuan mengukuhkan
pertumbuhan ekonomi dan mempererat komunitas negara-negara di Asia Pasifik.

6.1 Sejarah Terbentuknya APEC

APEC dilatarbelakangi oleh perubahan di Uni Soviet dan Eropa Timur. Runtuhnya Uni
Soviet dengan sistem ekonomi komunisnya, diikuti perubahan sistem ekonomi negara-negara di

17
Eropa Timur yang sebelumnya menjadi pengikutnya. Sistem ekonomi komunis yang tertutup
secara bertahap berubah menjadi sistem ekonomi liberal yang bebas. Sehingga, muncullah
kesadaran bahwa pada dasarnya setiap negara saling membutuhkan. Saat itu berlangsung
perundingan Putaran Uruguay yang membahas tatanan perdagangan dunia. Putaran Uruguay
adalah perundingan Negara-negara anggota GATT (General Agreement of Trade and Tariff)
pada tahun 1986 di Punta del Este, Urugay.

Adanya kekhawatiran atas gagalnya perundingan itu menjadi sebab dibentuknya APEC.
Bila perundingan itu gagal, dikhawatirkan akan muncul sikap proteksionis dan lahir kelompok-
kelompok regional yang tertutup. Padahal, dunia saat itu sedang mengarah kepada sistem
perdagangan bebas.

Organisasi APEC diprakarsai oleh mantan Perdana Menteri Australia Bob Hawke ketika
berpidato di Seoul, Korea pada tahun 1989. Pada akhir tahun itu juga, 12 negara hadir di
Canbera, Australia dan sepakat mendirikan APEC. Kedua belas negara pendiri itu adalah
Australia, Brunei Darussalam, Kanada, Indonesia, Jepang, Korea, Malaysia, New Zealand,
Philippina, Singapura, Thailand, dan Amerika Serikat. Setelah itu Cina, Hong Kong, dan Taipei
bergabung pada tahun 1991, Meksiko dan Papua Nugini pada tahun 1993, Chile pada tahun
1994, Peru, Rusia, dan Vietnam pada tahun 1998, Mongolia pada tahun 2013. Jadi, jumlah
anggota APEC seluruhnya adalah 22 negara yang berada di kawasan Asia-Pasifik.

1.2 Anggota APEC

22 Daftar Negara Anggota Organisasi APEC

No. Negara No. Negara


1. Amerika Serikat ( 1989 ). 12. Meksiko / Mexico ( 1993 ).
2. Australia ( 1989 ). 13. Mongolia ( 2013 ).
3. Brunei Darussalam ( 1989 ). 14. Papua New Guinea ( 1993 ).
4. Chili ( 1994 ). 15. Peru ( 1998 ).
5. Filipina ( 1989 ). 16. RRC / Republik Rakyat China ( 1991 ).
6. Hongkong ( 1991 ). 1. Rusia ( 1998 ).
. Indonesia ( 1989 ). 18. Selandia Baru / New Zealand ( 1989 ).
8. Jepang / Japan ( 1989 ). 19. Singapura / Singapore ( 1989 ).
9. Kanada / Canada ( 1989 ). 20. Taiwan ( 1991).
10. Korea Selatan / South Korea ( 1989 ). 21. Thailand ( 1989 ).
11. Malaysia ( 1989 ). 22. Vietnam ( 1998 ).

18
1.3 Tujuan Dibentuknya APEC

Tujuan didirikannya APEC adalah untuk meningkatkan kesejahteraan dan pertumbuhan


ekonomi di kawasan Asia Pasifik dan meningkatkan kerja sama ekonomi melalui peningkatan
volume perdagangan dan investasi. Selan itu, APEC bertujuan untuk memperjuangkan
kepentingan ekonomi di kawasan tersebut di tengah-tengah perkembangan ekonomi
internasional. Untuk mencapai tujuan tersebut APEC melakukan kerja sama dalam tiga ruang
lingkup yang disebut dengan Tiga Pilar Kerja Sama APEC. Ketiga pilar itu adalah liberalisasi
perdagangan dan investasi, fasilitasi usaha, kerja sama ekonomi, dan teknik.

Untuk bisa mencapai tujuannya, APEC melakukan kerja sama dalam 3 ruang lingkup
yang disebut Tiga Pilar Kerja sama APEC . Ketiga pilar itu ialah Fasilitasi usaha, liberalisasi
perdagangan dan invesatasi, kerjasama ekonomi dan teknik.

APEC bekerja sama untuk membangun kebijakan anti proteksionis di negara anggota
dengan cara mengurangi tarif dan juga menjauhi hambatan ketika perdagangan bebas. Penyatuan
sumber daya menyebabkan anggota dapat berbagi informasi dan meningkatkan kekayaan untuk
individu dan bisnis. APEC memiliki manfaat untuk warga negara yaitu menciptakan lebih
banyak kesempatan di tempat kerja. Barang dan jasa lebih murah, dan juga lebih meningkatkan
kemampuan untuk berpartisipasi dalam pasar Internasional.

7. OPEC ( Organization of the petroleum Exporting Countries )

OPEC ( Organization of the petroleum Exporting Countries ) yang merupakan negara


pengekspor minyak bumi. OPEC didirikan pada tanggal 14 September 1960 di Bagdad, Irak.
Kemudian di pindahkan ke Wina, Austria pada tanggal 1 September 1965.

7.1 Sejarah Terbentuknya OPEC

19
Venezuela merupakan negara pertama yang memprakarsai pembentukan OPEC dengan
cara mendekati negara Gabon, Iran, Libya, Saudi Arabia dan Kuwait pada tahun 1949.
Venezuela menyarankan untuk menukar pandangan dan mengeksplorasi jalan yang lebar dan
komunikasi lebih dekat dengan negara penghasil minyak. Pada tanggal 10 samapi 14 September
1960, gagasan dari Menteri Pertambangan dan Energi Venezuela, dan Menteri Pertambangan
dan Energi Saudi Arabia, pemerintahan Irak, Kuwait, dan Persia bertemu di Baghdad untuk
bermusyawarah bagaimana cara untuk meningkatkan harga minyak mentah yang telah dihasilkan
oleh negara masing-masing.

Organisasi OPEC didirikan pada 14 September 1960 oleh lima negara anggota: Iran, Irak,
Kuwait, Arab Saudi, dan Venezuela, yaitu setelah diselenggarakannya Konferensi Baghdad 10-
14 Agustus 1960 yang diikuti oleh lima negara produsen minyak tersebut. Markas OPEC semula
berada di Jenewa (21 Januari 1961-Agustus 1965) kemudian pindah ke Wina.

OPEC didirikan untuk mengkoordinasikan dan menggabungkan kebijakan dari negara


anggota sebagai kelanjutan yang telah dilakukan. Berdirinya organisasi OPEC dipicu karena
keputusan sepihak dari perusahaan minyak multinasional pada tahun 1959 sampai 1960. The
Seven Sister yaitu Anglo –Persian Oil Company, Gulf Oil, Standard Oil Of California, Texaco,
Royal Dutch Shell, Standard Oil Of New Jersey dan Standard Oil Company Of Newyork yang
menguasai industri minyak dan menetapkan harga minyak dipasar internasional.

7.2 Anggota OPEC

Syarat utama anggota di dalam OPEC :

1. Negara yang berkaitan secara substansial yang merupakan pengekspor minyak mentah.
2. Memiliki kepentingan yang sama dengan negara-negara yang sudah menjadi anggota
OPEC

3. Disetujui oleh mayoritas anggota OPEC

5 negara pendiri OPEC :

1. Arab Saudi ( september 1960 ).

20
2. Irak ( september 1960 ).

3. Iran ( september 1960 ).

4. Kuwait ( september 1960 ).

5. Venezuela ( september 1960 ). 

Daftar 12 negara anggota OPEC :

1. Aljazair ( 1969 ).
2. Angola ( 2007 ).

3. Arab Saudi ( 1960 ).

4. Ekuador ( 1973 -1993, masuk kembali jadi anggota 2007 ).

5. Irak ( 1960 ).

6. Iran ( 1960 ).

7. Kuwait ( 1960 ).

8. Libya ( 1962 ).

9. Nigeria ( 1971 ).

10. Qatar ( 1961 ).

11. Uni Emirat Arab ( 1967 ).

12. Venezuela ( 1960 ).

Pada tahun 2008 Indonesia mengumumkan bahwa mereka mengajukan surat untuk leuar
dari organisasi OPEC. Mengingat saat ini, Indonesia telah menjadi importir minyak dan tidak
mampu memenuhi kuota produksi yang sudah ditetapkan.

7.3 Tujuan Dibentuknya OPEC

21
Tujuan OPEC adalah mempertahankan harga minyak dan menentang aksi penurunan
harga minyak secara sepihak oleh perusahaan minyak besar yang disebut The Seven Mayor
seperti Exxon, Texaco, Socal, Gulf, British Petroleum, Shell. Perusahaan raksasa minyak
bumi ini adalah dari negara-negara maju seperti Amerika Serikat, Inggris, jerman Barat dan
Jepang. OPEC berusaha secara kolektif menentukan kebijakan harga dan jumlah produksi
minyak bumi di pasaran dunia.

Setelah lebih dari 40 tahun OPEC berdiri, organisasi ini telah menerapkan berbagai strategi
untuk mencapai tujuannya.

1. Menetapkan strategi yang tepat untuk melindungi kepentingan negara anggota OPEC.
2. Menerapkan beberapa cara untuk menstabilkan harga minyak

3. Menjamin suplai minyak untuk konsumen

4. Menjamin kembalinya modal investor pada bidang minyak secara adil.

8. G-20

Group of Twenty biasa disingkat dengan 20, sesuai dengan namanya anggota G20 terdiri
dari 19 negara dengan perekonomian besar serta ditambah dengan Uni Eropa. Tujuan mutlak
G20 adalah menghimpun para pemimpin Negara ekonomi maju serta berkembang  untuk
menanggulangi tantangan ekonomi global. Pertemuan para pemimpin Negara G20 diperbuat
setiap setahun sekali, sedangkan pertemuan para Menteri Keuangan serta Gubernur Bank
Sentral dilakukan beberapa kali dalam setahun.

8.1 Sejarah Terbentuknya G-20

22
Latar belakang terbentuknya G20 atau Group of Twenty yaitu dari terjadinya Krisis
Keuangan 1998 dan pendapat yang muncul pada forum G-7 mengenai kurang efektifnya
pertemuan itu bila tidak melibatkan kekuatan-kekuatan ekonomi lain agar keputusan-
keputusan yang mereka buat memiliki pengaruh yang lebih besar dan mendengarkan
kepentingan-kepentingan yang barangkali tidak tercakup dalam kelompok kecil itu.
Kelompok ini menghimpun hampir 90% GNP dunia, 80% total perdagangan dunia dan dua
per tiga penduduk dunia.

Dikarenakan krisis keuangan Asia yang terjadi pada tahun 1998 sehingga muncul
pendapat untuk membentuk forum yang dapat menghimpun kekuatan-kekuatan ekonomi
Negara maju dan berkembang dalam membahas isu-isu penting perekonomian dunia dan
memajukan kerjasama untuk mencapai pertumbuhan ekonomi dunia yang stabil. Pertemuan
G20 yang pertama dihadiri oleh Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Sentral Negara
anggota G20 pada tahun 1999 di Berlin.

Pada tahun 2008, G20 mulai mengadakan Konferensi Tinggi Tingkat Pemimpin yang
dihadiri oleh para pemimpin Negara ataupun pemimpin pemerintahan. Hingga tahun 2015,
G20 telah menyelenggarakan 10 kali KTT tingkat pemimpin. KTT G20 pertama kali
diselenggarakan di Washington DC Amerika Serikat pada tahun 2008 sedangkan pada tahun
2015 G20 menyelenggarakan KTT tingkat Pemimpin Negara/Pemerintahan di Antalya
Turki pada tanggal 15-16 November 2015. KTT G20 selanjutnya yaitu KTT yang ke-11
diselenggarakan di Hangzhou China pada bulan September 2016.

8.2 Anggota G-20

G-20 tidak memiliki staf tetap. Kursi ketua dirotasi di antara anggota-anggotanya dan
dipegang oleh Troika yang beranggotakan tiga anggota: ketua tahun berjalan, ketua tahun
lalu, dan ketua tahun berikut. Sistem ini dipilih untuk menjamin keberlangsungan kegiatan
dan pengelolaan. Ketua tahun berjalan membuka sekretariat tidak tetap yang buka hanya
selama masa tugasnya. Sebagian besar anggota adalah negara-negara dengan Keseimbangan
Kemampuan Berbelanja (PPP) terbesar dengan sedikit modifikasi.

23
Negara- negara anggota:

1. Afrika Selatan 11. Italia

2. Amerika Serikat 12. Jepang

3. Arab Saudi 13. Jerman

4. Argentina 14. Kanada

5. Australia 15. Korea Selatan

6. Brasil 16. Meksiko

7. Britania Raya 17. Perancis

8. RRC 18. Rusia

9. India 19. Turki

10. Indonesia 20. Uni Eropa

8.3 Peran Indonesia Pada G-20

KTT G20 di Toronto, Kanada, diharapkan bisa bersepakat dalam hal penanggulangan
krisis ekonomi dunia. Apa peran Indonesia di sini? Menurut pengamat ekonomi Revrisond
Baswir peran Indonesia dalam G20 tidak perlu dibesar-besarkan.

Pembentukan G20 lebih dimotivasi oleh kepentingan Amerika Serikat, untuk


menanggulangi krisis ekonomi yang mereka hadapi. Jadi sebenarnya tidak bersangkut paut
dengan kepentingan Indonesia. Kecuali kalau Indonesia punya agenda sendiri yang bisa

24
ditawarkan kepada negara-negara G20. Itulah pendapat pengamat ekonomi Universitas Gadjah
Mada di Yogyakarta.

 Surplus perdagangan

Walaupun menikmati surplus perdagangan, posisi Indonesia sangat berbeda dari posisi
India, Cina dan Brasil. Masalahnya, pertama, Indonesia tidak menawarkan tatanan spesifik untuk
perekonomian dunia, dan kedua, uang surplus perdagangan itu habis melunasi pokok dan bunga
hutang. Di antara negara-negara anggota G20, cadangan devisa Indonesia paling kecil, namun
kewajiban membayar hutangnya cukup besar.

Lalu bagaimana posisi Amerika Serikat? Menurut Revrisond Baswir, G20 tidak didirikan
untuk kepentingan negara-negara berkembang. Untuk Amerika yang penting posisi dominannya
dalam perekonomi dunia tidak terpengaruh. Dan bagaimana dengan posisi Eropa? Dalam hal ini,
walau pun Uni Eropa terbentuk sebelum G20, tapi Eropa juga mengalami krisis serupa. Pusat-
pusat kapitalisme, baik Amerika Serikat maupun Eropa saat ini mengalami instabilitas, demikian
Revrisond Baswir.

Dan kita lihat munculnya India dan Cina sebagai negara-negara ekonomi baru.
Masalahnya bukan menyelamatkan ekonomi Amerika atau Eropa, tapi marilah bicara tentang
tatanan ekonomi dunia baru yang lebih berkeadilan. Demikian Revrisond Baswir.

 Peran Indonesia

Posisi Indonesia dalam hal ini sulit, karena sebagai negara dunia ketiga, Indonesia
terjebak hutang yang besar dan cadangan devisa yang lemah. Jadi Indonesia tidak punya tawaran
yang spesifik. Indonesia tidak punya harapan dalam pertemuan G20. Hubungan Indonesia
dengan Amerika Serikat berbeda dengan hubungan Cina dan India dengan Amerika. Dalam
kurun waktu 40 tahun terakhir Indonesia cenderung menjadi good boy di hadapan Amerika
Serikat.

25
Kehadiran Indonesia di G20 dijadikan kanal untuk memperjuangkan kepentingan
Amerika Serikat untuk merayu India dan Cina. Karena India, Cina, Brasil dan juga Rusia sulit
untuk dirayu Amerika Serikat. Indonesia sering dipakai Amerika, 40 tahun terakhir ini Indonesia
bisa dikatakan telah menjadi koloni Amerika Serikat.

BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Berdasarkan pembahasan makalah yang berjudul kerja sama internasional di bidang


ekonomi dan politik, dapat disimpulkan bahwa ekonomi dan politik merupakan faktor penting
dalam suatu negara. Negara dikatakan maju, bila keadaan politik negara tersebut stabil dan
negara tersebut dapat memenuhi semua kebutuhan masyarakatnya.

26
Berbagai cara dilakukan untuk mewujudkan ekonomi yang stabil di dalam suatu negara.
Salah satunya adalah dengan kerja sama antara suatu negara. Kerja sama internasional dibidang
ekonomi dan politik merupakan dampak dari adanya globalisasi. Globalisasi merupakan suatu
hubungan atau komunikasi antar suatu negara yang tidak ada batas.

Kerja sama di bidang ekonomi mempunyai dampak positif dan dampak negatif. Salah
satu dampak positif yang sangat dirasakan adalah dengan terjalinnya kerja sama internasional di
bidang ekonomi sehingga dapat membantu perekonomian negara-negara yang menjadi
anggotanya untuk mensejahterakan rakyatnya. Kerja sama dalam politik juga dapat mempererat
hubungan antar negara baik dalam hal pemerintahan ataupun hal – hal yang dibahas dalam
pertemuan suatu politik seperti bidang kemanusiaan , budaya dan teknologi, pertahanan dan
kemanan

Daftar Pustaka

Widjaja, Gunawan. Rahasia Dagang. Jakarta. PT RajaGrafindo. 2001.

Tambunan, Tulus. Globalisasi dan Perdagangan Internasional. Bogor. Ghalia Indonesia. 2004

Gautama, Sudargo. Hukum Dagang Internasional. Bandung. PT Alumni. 2010.

Suryokusumo, Sumaryo. Organisasi Internasional. Jakarta. UI Press. 1987.

27