Anda di halaman 1dari 2

Nama: Winner Nainggolan

NIM: 043598663
UPBJJ : UT Jakarta

1. Secara umum, sumber hukum merupakan asal mula hukum itu ada, dari mana, dan bagaimana
awalnya diterapkan. Dapat ditinjau dari berbagai sudut misalnya sudut ekonomi, sejarah, sosiologi,
filsafat, agama, dll. Dalam kata lain sumber hukum material adalah faktor-faktor masyarakat yang
mempengaruhi pembentukan hukum (pengaruh terhadap pembuatan UU, pengaruh terhadap
keputusan hakim. Atau faktor yang ikut mempengaruhi materi (isi) dari aturan-aturan hukum, atau
tempat dari mana materi hukum itu diambil. Menurut Ultrecht: Perasaan atau keyakinan hukum
individu dan masyarakat (public opinion) yang menjadi determinan material membentuk hukum
dan membentuk isi hukum.
Pembentukan hokum dapat ditentukan berdasarkan keyakinan terhadap hukum dari
masyarakatnya sendiri. Sumber hukum ini menjadi faktor yang membantu menentukan isi atau
materi hukum. Contohnya, sumber hukum materiil seperti agama, kesusilaan, kehendak Tuhan,
akal budi, hubungan sosial, dan sebagainya.

2. Sistem hukum Indonesia pada dasarnya menganut teori yang dikembangkan oleh
HansKelsen. Hal ini tampak dalam rumusan hirarkhi peraturan perundangan-undangan Indonesia
sebagaimana dapat kita temukan dalam Pasal 7 Undang-Undang Nomor 10
Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan. Dalam Pasal 7 undang-
undang tersebut dinyatakan bahwa, Jenis dan hierarki Peraturan Perundang-
undangan adalah sebagai berikut :Menurut Bagir Manan, hukum positif adalah kumpulan asas dan
kaidah hokum tertulis dan tidak tertulis yang pada saat ini yang
berlaku dan mengikat secara umum atau khusus dan ditegakkan oleh atau melalui
pemerintah atau pengadilan dalam negara. Teori Hukum Murni masih banyak dipakaidi Indonesia,
hal tersebut tercermin dengan masih diikutinya/diterapkannya beberapa pemikiran dari Hans
Kelsen dalam sistem kehidupan secara yuridis. Dalam hubungan tugas hakim dan perundang-
undangan masih terlihat pengaruh aliran Aliran Legis (pandangan Legalisme), yang menyatakan
bahwa hakim tidak boleh berbuat selain daripada menerapkan undang-undang secara tegas.
Hakim hanya sekedar terompet undang-undang dan selain itu juga dalam penerapan hukum
oleh para Hakim masih terpaku peraturan perundang-undangan tertulis. Hal ini senada dengan
kasus nenek Minah, terlepas dari rasa iba dan simpati kepada nenek Minah, Hakim tetap harus
tegas mengambil keputusan saat pemberian vonis kepada nenek Minah yang telah terbukti
melanggar undang-undang, Hal ini juga menjadi cerminan dan pelajaran yang mengungkapkan
bahwa hukum bersifat tegas dan harus ditegakkan bagi seluruh masyarakat Indonesia.

3. Dalam implementasi paradigma hukum progresif menjelaskan bahwa problematika penegakan


hukum disebabkan kuatnya pengaruh paradigma legal positivistik sehingga nilai-nilai di
masyarakat menjadi ditabrak dan diabaikan; kekeliruan dalam menafsirkan hukum yang
dimaknai secara tekstual dari pasal-pasal yang tertulis; dan kurang
tegasnya suatu ketentuan dalam peraturan perundang
undangan sehingga membukacelah kemungkinan penyimpangan oleh para pelaksananya. Disamp
ing itu, hokum progresif bisa menjadi alternatif sekaligus solusi dalam penegakan hukum yang
mencerminkan nilai-nilai keadilan dalam masyarakat. Dengan hukum progresif, penegak hukum
harus mempunyai cara pandang progresif agar tidak terkungkung pada formalisme hukum demi
menegakkan nilai-nilai keadilan dalam masyarakat.

Sumber Referensi:
Fuady, Munir, 2007, Dinamika Teori Hukum. Penerbit Ghalia Indonesia. Bogor.
Marzuki, Peter Mahmud, 2009, Pengantar Ilmu Hukum. Cetakan Ketiga Kencana, Jakarta.