Anda di halaman 1dari 9

I.

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Bengkel pertanian dikenal sebagai tempat perancangan atau tempat


pemodifikasian mesin atau sarana pertanian. Di dalam sebuah bengkel, khususnya
bengkel pertanian, tentu saja beberapa alat dan bahan yang akan digunakan
dalam kegiatan perbengkelan sudah seharusnya berada di dalam bengkel.
Akan tetapi, tak semua bahan dan alat memiliki kondisi yang sesuai
dengan ruangan bengkel.
Untuk itu, dalam melakukan kegiatan perbengkelan, minimal pelaku
kegiatan harus memiliki pengetahuan mengenai alat-alat yang digunakan
di dalam perbengkelan pertanian. Selain itu, pengenalan dan pengetahuan
mengenai bahan-bahan yang pada umumnya digunakan untuk bengkel
pertanian juga cukup penting. Mengingat bahwa bahan-bahan yang biasanya
digunakan tak selalu ada di dalam bengkel. Bahan-bahan yang dimaksudkan
dapat dikelopompokkan menjadi beberapa jenis logam dan kayu. Dalam hal
ini, logam dan kayu masing-masing memiliki kekurangan dan kelebihan yang
tidak dapat diperbandingkan. Sebab, masing-masing memiliki fungsi dan
karakteristik yang berbeda-beda.
Pemahaman tentang logam dan kayu harus diketahui sebelum melakukan
pemilihan atau penggunaan bahan dalam pembuatan suatu objek karena
akan berpengaruh pada objek tersebut baik meliputi ketahanan, umur
ekonomis maupun lokasi yang akan di jadikan sebagai penempatan objek tersebut.
Logam terdiri dari beberapa jenis dan digolongkan berdasarkan karakteristik
masing-masing. Selain logam, kayu juga terdiri dari beberapa jenis dan tersusun
dari beberapa unsur memiliki sifat dan karakteristik yang berbeda, begitu pula
dengan kayu. Terdapat beberapa jenis kayu yang sering di gunakan dan biasanya
di bedakan berdasarkan kelas. Dimana kelas ini di tentukan sesuai dengan
tingkat kekerasan kayu tersebut.
Berdasarkan hal diatas maka perlu dilakukan pratikum Pengenalan Kayu dan
Logam, agar dapat memahami proses terbentuknya kayu, mengetahui jenis-jenis
kayu, memahami proses terbentuknya logam dan mengetahui jenis-jenis logam
1.2. Tujuan dan Kegunaan

Tujuan dilakukannya praktikum Pengenalan Kayu dan Logam adalah


agar mahasiswa dapat memahami proses terbentuknya kayu, dapat mengetahui
jenis-jenis kayu, dapat memahami proses terbentuknya logam, dan dapat
mengetahui jenis-jenis logam. Kegunaan praktikum praktikum ini agar mahasiswa
dapat memahami proses terbentuknya kayu, jenis-jenis kayu, proses terbentuknya
logam, jenis-jenis logam serta dapat mengaplikasikannya di kehidupan sehari-hari
khususnya di bidang keteknikan pertanian.
II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Pengertian Kayu

Kayu merupakan hasil hutan dari sumber kekayaan alam, merupakan


bahan mentah yang mudah diproses untuk dijadikan barang sesuai dengan
kemajuan teknologi. Kayu memiliki beberapa sifat sekaligus, yang tidak dapat
ditiru oleh bahan-bahan lain. Pengetian kayu disini ialah sesuatu bahan, yang
diperoleh dari hasil pemungutan pohon-pohon di hutan, yang merupakan bagian
dari pohon tersebut, setelah diperhitungkan bagian-bagian mana yang lebih
banyak dapat dimanfaatkan untuk sesuatu tujuan penggunaan. Baik
berbentuk kayu pertukangan, kayu industri maupun kayu bakar (Charlena, 2010).
Kayu dan pohon yang menghasilkannya dibagi ke dalam dua kategori
yaitu kayu keras dan kayu lunak. Secara botanis, pohon dari kayu keras
berbeda dengan pohon dari kayu lunak. Keduanya termasuk didalam
divisi botani spermatophyta, yang berarti tumbuhan berbiji. Pengamatan
kayu tanpa alat bantu optik menunjukkan bahwa tidak hanya terdapat
perbedaan-perbedaan antara kayu lunak dan kayu keras maupun antara berbagai
spesies. Pada kayu lunak menunjukkan suatu struktur yang relatif
sederhana karena terdiri atas 90-95% trakeid, yang merupakan sel-sel yang
panjang dan tipis dengan ujung-ujung tertutup yang pipih dan meruncing. Kayu
keras mempunyai jaringan dasar untuk penguat yang mengandung serabut
libriform dan trakeid serabut (Pardede, 2009).

2.2. Sifat-Sifat Umum Kayu

Kayu yang berasal dari berbagai jenis pohon memiliki sifat yang
berbeda-beda. Bahkan kayu berasal dari satu pohon memiliki sifat agak
berbeda, jika dibandingkan bagian ujung dan pangkalnya. Menurut Charlena
(2010), disamping sekian banyak sifat-sifat kayu yang berbeda satu sama
lain, ada beberapa sifat yang umum terdapat pada semua kayu yaitu :
a. Semua batang pohon mempunyai pengaturan vetrtikal dan sifat simetri radial.
b. Kayu tersusun dari sel-sel yang memiliki tipe bermacam-macam dan susunan
dinding selnya terdiri dari senyawa-senyawa kimia berupa selulosa dan
hemiselulosa ( unsur karbohidrat) serta berupa lignin ( non-karbohidrat ).
c. Semua kayu bersifat anisotropik, yaitu memperlihatkan sifat-sifat yang
berlainan jika diuji menurut tiga arah utamanya ( longitudinal, tangensial dan
radial ). Hal ini disebabkan oleh struktur dan orientasi selulosa dalam dinding
sel, bentuk memanjang sel-sel kayu dan pengaturan sel terhadap sumbu vertikal
dan horisontal pada batang pohon.
d. Bersifat higroskopik, yaitu dapat kehilangan atau bertambah kelembabannya
akibat perubahan kelembaban dan suhu udara disekitarnya.
e. Kayu dapat diserang makhluk hidup perusak kayu, dapat juga terbakar terutama
jika kayu dalam keadaan kering.

2.3. Kelemahan dan Kelebihan Kayu

Sebagai bahan bangunan, kayu memiliki kelemahan dan kelebihan. Kayu


adalah salah satu produk yang paling sederhana, paling mudah digunakan, kayu
dapat dipotong dan dibentuk dengan mudah digunakan, dan mudah
dipasang. Pada saat yang sama, kayu adalah salah satu bahan yang paling
kompleks. kayu tersusun atas sel-sel yang kecil, masing-masing memiliki struktur
lubang-lubang kecil, selaput dan dinding-dinding yang berlapis-lapis rumit.
Kemudahan kayu untuk diubah menjadi suatu produk dan dapat lama
dipergunakan, tergantung pada strukturnya (Pardede, 2009).
Menurut Sucipto (2009), kayu merupakan material alami yang memiliki
kelebihan dan kekurangan. Adapun kelebihan kayu antara lain:
a. Bersifat ekonomis
b. Proses energi yang rendah
c. Dapat diperbaharui
d. Sifat mekanis yang kuat
e. Bernilai estetis.
Menurut Sucipto (2009), adapun kekurangan dari kayu antara lain:
a. Mudah terserang secara biologis
b. Bersifat higroskopis
c. Mudah terbakar
d. Mudah terdegradasi oleh sinar matahari
e. Anisotropis
f. Sifat-sifat yang bervariasi.

2.4. Jenis – Jenis Kayu dan Kategori Kayu

Menurut Salim (2016) bahwa jenis-jenis kayu sebagai berikut:


a. Kayu Jati
Kayu jati berwarna coklat muda jika sudah lama terkena cahaya dan udara,
warnanya menjadi sawo matang. Banyak dipergunakan untuk perabot rumah
tangga dan bangunan rumah seperti kusen, daun pintu, jendela, dinding, lantai
loteng dan sebagainya.
b. Kayu Merbabu
Warnanya coklat muda dan jika telah lama akan menjadi coklat tua. Banyak
dipergunakan untuk bangunan diluar dan atap karena kuat serta tahan terhadap
rayap, pembangunan dan penyusutan kecil karena tingginya kadar O 2 paku atau
baut ataupun bahan yang terbuat dari besi yang berhubungan dengan kayu
tersebut. kejelekan kayu ini adalah mudah terbakar.
c. Kayu Rasmala
Warna merah dan coklat kehitam-hitaman. Banyak digunakan untuk rangkap
atap, balak, loteng, tiang-tiang, dan lain sebagainya. Kayu ini tahan terhadap
rayap dan jika terlindung iklim tidak menyebabkan banyak perubahan kadar
lengas tahan terhadap bubuk. Kayu ini mengalami pengembangan dan penyusutan
besar berlebih jika lenas cepat dan besar, maka dapat memilin. Kayu jenis ini
banyak tumbuh di daerah Jawa Barat dan Sumatera.
d. Kayu Merawan
Warnanya coklat muda yang lama kelamaan menjadi coklat tua. Banyak
digunakan untuk bangunan rumah dan perabotan. Kayu jenis ini banyak di
temukan di daerah Sumatera dan Kalimantan.
e. Kayu Meranti
Terdiri dari dua jenis yaitu meranti merah dan meranti putih. Kayu ini banyak
digunakan untuk kasau, reng, bangunan yang ringan, papan, cetakan beton, tiang
papan cetakan dan lain-lain.
f. Kayu Kamfer
Berwarna kuning kemerah-merahan. Kayu ini tahan bubukan tetapi tidak
tahan rayap, oleh karena itu bangunan ini hanya digunakan pada bangunan bawah
atap seperti rangka atap, balok loteng, papan loteng dan sebaginya.
g. Kayu Zeungiing
Warnanya putih dan coklat muda, kayunya agak lunak dan kembang susutnya
sangat besar namun agak tahan terhadap rayap. Banyak dipakai untuk bangunan
sederhana dan baik sekali untuk bangunan kontruksi paku.

2.5. Logam

Logam adalah barang yang padat dan berat, yang biasanya digunakan orang
untuk membuat alat ata perhiasan misalnya besi, baja, emas, dan perak. Masih
banyak logam lain yang penting dalam proses biologis mahluk hidup misalnya
kobalt, mangan, dan lain-lain. Logam adalah sebuah unsur kimia yang siap
membentuk ion (kation) dan memiliki ikatan logam. Logam adalah salah satu dari
tiga kelompok unsur yang dibedakan oleh sifat ionisasi dan ikatan, bersama
dengan semi-logam dan non-logam (Sofyan, 2014).
Pada dasarnya logam dibagi menjadi 2 bagian yaitu logam esensial dan logam
non esensial. Logam esensial adalah logam yang sangat membantu dalam proses
fisiologis mahluk hidup yaitu membantu kerja enzim atau pembentukan organ dari
mahluk hidup itu sendiri. Sedangkan logam non esensial adalah logam yang
peranannya dalam tubuh mahluk hidup belum diketahui, kandungannya dalam
jaringan sangat kecil dan apabila kandungannya tinggi dapat merusak organ-organ
tubuh mahluk hidup yang bersangkutan (Sofyan, 2014).
Menurut Sofyan (2014), secara umum, sifat-sifat logam dapat
dijelaskan sebagai berikut :
a. Pada suhu biasa umumnya berwujud padat, kecuali air raksa (Hg) yang
berwujud cair sehingga dapat digunakan untuk melarutkan logam lainnya.
b. Mempunyai kilap karena adanya refleksi cahaya pada permukaannya.
c. Umumnya berwarna putih, kecuali tembaga (Cu) yang berwarna merah dan
emas (Au) yang berwarna kuning.
d. Dapat ditempa dan mempunyai daya rentang yang kuat.
e. Penghantar listrik dan panas yang baik.
f. Cenderung mudah teroksidasi atau bereaksi dengan oksigen di udara terbuka.
g. Oksida logam bereaksi dengan air membentuk basanya.
h. Dapat membentuk alloy atau paduan dengan logam lainya, misalnya
perunggu yang merupakan paduan antara tembaga dan timah, kuningan yang
merupakan paduan antara seng dan tembaga.

2.6. Jenis-Jenis Logam

Menurut Ishak (2011), adapun jenis-jenis logam yaitu :


a. Chilled iron
Chilled iron ini merupakan jenis besi yang dibuat dalam bentuk lebih khusus.
Chilled iron ini berasal dari pig iron yang dilebur. Chilled iron memiliki sifat
yang lebih keras karena pendinginan tercepat pada bagian luarnya.
b. Molliable iron
Molliable iron ini merupakan besi yang dapat ditempa. Molliable iron ini
berasal dari cast iron yang dipanaskan dalam jangka waktu yang lama (jangka
panjang) untuk mengurangi jumlah karbon pada bagian luar sehingga sifat
bahannya lebih lunak dan tidak mudah atah bila dibentuk.
c. Wrought iron
Wrought iron ini adalah merupakan pig iron yang dimasukkan ke dalam bara.
Wrought iron memiliki sifat-sifat antara lain tidak dapat dikeraskan serta mudah
dipotong, dibentuk, dan dilas.
d. Mild steel
Mild steel atau yang biasa juga disebut dengan low carbon steel atau black
smith iron atau soft steel memiliki kandungan karbon sebesar 0,1 sampai dengan
0,3 %. Mild steel ini tersedia dalam bentuk batangan dan besi siku dalam berbagai
ukuran, banyak digunakan dalam berbagai perlengkapan pertanian dan juga
untuk konstruksi plat. Sifat-sifat mild steel ini yaitu tidak dapat dikeraskan, sedikit
mudah dikerjakan dalam keadaan dingin, mudah digergaji, dikikir, dan
dibulatkan, dapat ditempa dan dilas pada pandai besi, sedikit lebih sulit dilas dari
pada ditempa, dan dapat dilas dengan menggunakan las listrik dan las karbit.
e. Soft center steel
Soft center steel ini digunakan untuk bajak, pisau-pisau bajak, hanyalah pada
bagian-bagian yang terpakai lebih keras. Sedangkan pada bagian yang tidak
terpakai adalah merupakan besi lunak.
f. Alloy steel
Alloy steel ini biasa juga disebut sebagai baja campuran yang merupakan
campuran antara baja ditambahkan dengan nikel choromoun dan vanadiom.
Alloy steel ini memiliki sifat-sifat yaitu ketahanan akan kekuatan lebih
besar, tahan  terhadap korosi atau karatan, tahan terhadap kekasaran, dan lebih
tahan terhadap guncangan.
DAFTAR PUSTAKA

Charlena, A. 2010. Proses Pembuatan Pulp. Universitas Sumatera Utara: Medan.


Ishak, M. 2011. Pembuatan Barang Keperluan Sehari-Hari Dengan Logam.
Universitas Negeri Yogyakarta: Yogyakarta.
Muchlis, M. 2013. Teknologi Bahan Logam. Universitas Teknologi
Yogyakarta: Yogyakarta

Pardede, N. 2009. Pengaruh Penambahan Oksigen Terhadap Derajat Putih Pada


Tahap Ekstraksi Oksidasi Di Unit Pencucian PT. Toba Pulp Lestari.
Universitas Sumatera Utara: Medan.

Ryadi, S. 2015. Logam Dalam Sistem Biologi Makhluk Hidup. Universitas


Indonesia: Depok.
Salim, I. 2016. Penuntun Praktikum Teknik Perbengkelan. Universitas
Hasanuddin: Makassar.

Sofyan, N. 2014. Pengetahuan Bahan Logam. Institut Seni Indonesia: Surakarta.

Sucipto, T. 2009. Stabilitas Dimensi Kayu. Universitas Sumatera Utara: Medan.