Anda di halaman 1dari 14

1.

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Dalam kehidupan, rasanya sulit untuk memisahkan kayu dan logam sebagai
suatu bahan yang sangat dibutuhkan. Logam dan kayu termasuk salah satu bahan
yang sangat banyak dimanfaatkan oleh manusia, yang mana logam dan kayu ini
dapat dimanfaatkan dalam berbagai sektor bidang. Dari kayu maupun logam
manusia dapat memproduksi berbagai macam produk keperluan, maka tidak heran
lagi jika disekitar banyak ditemui berbagai produk yang berbahan dasar logam
maupun kayu. Untuk pemanfaatan kayu, kayu yang diambil dari pohon dapat
digunakan langsung sebagaimana adanya, kayu juga dapat digunakan sebagai
bahan konstruksi bangunan, dari kayu pula dapat dibuat berbagai produk-poduk
furniture, seperti lemari, kursi, meja dan lain sebagainya. Tidak jauh beda dengan
kayu, logam juga dapat digunakan atau dimanfaatkan sebagai konstruksi dan
bahan bangunan, dan juga sebagai furniture.
Dalam pembuatan suatu produk baik itu berbahan dasar kayu maupun logam,
tentu dalam proses pembuatannya tidak asal-asalan dalam memilih bahan, yang
mana bahan akan berpengeruh terhadap kualitas dari produk tersebut.
Sebagaimana yang diketahui bahwa kayu dan logam memiliki banyak jenis. Dari
setiap jenis-jenis kayu maupun logam tentu memiliki sifat-sifat yang berbeda, dari
sifat-sifat inilah dapat diketahui kualitas dari kayu maupun logam tersebut.
Pemilihan bahan suatu produk harus disesuaikan dengan keperluan
penggunaannya, yang mana kualitas kayu maupun logam sangat ditentukan oleh
tujuan penggunaannya. Masing-masing tujuan penggunaan memiliki persyaratan
teknis yang berbeda sehingga jenis kayu yang digunakan pun akan berbeda.
Dengan demikian diharapkan bahwa pengetahuan akan syarat kualitas kayu dan
sifat-sifat penggunaannya perlu diketahui.
Berdasarkan uraian sebelumnya, maka perlu dilakukan praktikum Pengenalan
Kayu dan Logam, agar praktikan dapat mengetahui jenis-jenis dari kayu maupun
logam, yang mana dalam proses pembuatan suatu produk harus diketahui apakah
bahan atau material tersebut cocok atau tidak untuk digunakan dalam pembuatan
produk tersebut sehingga dapat diperoleh hasil yang maksimal.
1.2. Tujuan dan Kegunaan

Tujuan praktikum Pengenalan Kayu dan Logam, yaitu agar praktikan dapat
memahami proses dari terbentuknya kayu maupun logam, serta praktikan dapat
mengetahui jenis-jenis dari kayu maupun logam. Adapun kegunaan dari
praktikum Pengenalan Kayu dan Logam, yaitu dengan mengetahui jenis-jenis dari
logam maupun kayu mahasiswa nantinya sudah dapat menentukan bahan atau
material yang cocok untuk suatu produk.
II. TINJAUAN PUSTAKA

II.1. Pengertian Kayu

Kayu adalah hasil hutan sekaligus hasil sumber kekayaan alam, merupakan
bahan mentah yang diproses untuk dijadikan barang sesuai dengan kemajuan
teknologi. Secara umum, kayu merupakan bahan organik yang diproduksi sebagai
xylem sekunder yang berasal dari dalam hutan tanaman, terutama pohon-pohon
dan tanaman lainnya (Arifin dan Yuliana, 2013).
Dalam pengertian botanis, kayu adalah suatu bahan yang merupakan bahan
mentah yang berasal dari proses metabolisme organisme hidup yaitu
tumbuhan-tumbuhan yang berbentuk pohon. Pohon sebagai penghasil kayu dalam
sistem botanis diklasifikasikan dalam divisi spermatophyta (Muin dkk., 2009).

II.2. Jenis-Jenis Kayu

Kayu memiliki berbagai sifat, dan sifat-sifat tersebut sangat menentukan


tingkat kualitas suatu jenis kayu. Salah satu sifat kayu yang memungkinkan untuk
dijadikan dasar dalam menentukan kualitas suatu jenis kayu adalah melalui
ciri-ciri atau sifat-sifat fisik yang terdapat pada kayu tersebut. Adapun jenis-jenis
kayu yang terdapat di Indonesia yaitu:
a. Kayu Jati
Jati merupakan salah satu jenis kayu yang paling banyak diminati sejak
dahulu karena memiliki corak yang unik dan elegan, kuat, awet, stabil, dan mudah
dikerjakan (Wahyudi dkk., 2014).
Jati (Tectona grandis Linn.f.) merupakan tanaman yang sangat populer
sebagai penghasil bahan baku untuk industri perkayuan karena memiliki kualitas
dan nilai jual yang sangat tinggi. Kekuatan dan keindahan seratnya merupakan
faktor yang menjadikan kayu jati sebagai pilihan utama. Jati merupakan salah satu
jenis kayu tropis yang sangat penting dalam pasar kayu internasional karena
berbagai kelebihan yang dimilikinya dan merupakan jenis kayu yang sangat
bernilai untuk tanaman. Kayu jati memiliki keunggulan yaitu memiliki batang
yang lurus, kuat terhadap perubahan cuaca, tahan terhadap rayap, dan mudah
diolah, itulah sebabnya jati cocok dijadikan furniture (Murtinah dkk., 2015).
b. Kayu Merbau
Di Indonesia terdapat banyak jenis pohon yang selama puluhan tahun
diabaikan di hutan dengan alasan tidak disukai pasar atau memiliki kelemahan
sifat kayunya. Salah satu jenis yang sebelumnya dianggap kurang penting
penggunaannya adalah merbau (Intsia sp). Merbau adalah salah satu kayu
bernilai tinggi yang banyak terdapat terutama di Propinsi Papua, selain Aceh dan
Maluku. Kekerasan rata-rata kayu merbau sangat tinggi, dibanding jenis kayu
komersial di dunia. Kayu merbau sangat baik untuk flooring dan panel dinding
karena memberi kesan indah, teduh dan alami (Malik dkk., 2009).
c. Kayu Rasamala
Rasamala merupakan tanaman khas hutan basah campuran di perbukitan dan
pegunungan. Manfaat dari rasamala adalah kayunya sangat awet walaupun
langsung bersentuhan dengan tanah. Karena bebas cabangnya tinggi (20-35 m),
maka kayunya cocok untuk kerangka jembatan, tiang, konstruksi, tiang listrik
dan telpon, serta penyangga rel kereta api. Selain itu, kayunya dapat dimanfaatkan
untuk konstruksi berat, rangka kendaraan, perahu dan kapal, lantai, rakit,
vinir, dan plywood (Lestari, 2011).
d. Kayu Merawan
Pohon Merawan dengan nama ilmiah Hopea odorata Roxb Famili
Dipterocarpaceae. Tinggi pohon 30-40 m, panjang batang bebas cabang 15-25 m,
diameter 75-150 m, berbanir 1–3 m, mengeluarkan damar berwarna jernih,
putih, kuning sampai kuning tua. Kulit luar berwarna kelabu-coklat, coklat sampai
hitam, ralur dangkal, dan mengelupas. Kayu merawan banyak dipakai
untuk balok, tiang dan papan pada bangunan perumahan. Selain itu, juga dapat
dipakai sebagai kayu perkapalan perahu, kulit dan lain-lain), tong air, ambang
jendela, kerangka rumah, talenan dan barang bubutan. Kayunya keras, ringan
dan kuat, digunakan untuk konstruksi berat dan ringan, mebel, vinir dan
banyak kegunaan lainnya (Qalbi, 2017).
e. Kayu Meranti
Meranti (Shorea spp.) adalah komoditas penting yang merupakan salah satu
jenis tanaman komersil penghasil kayu utama di Indonesia. Dalam dunia
perdagangan, kelompok meranti dibagi menjadi empat kelompok besar yaitu
kelompok meranti merah, kelompok meranti kuning, kelompok meranti putih, dan
kelompok balau. Kayu meranti menjadi primadona dalam perdagangan kayu
sehingga kayu dari jenis meranti memiliki nilai perdagangan yang tinggi dan
sangat terkenal. Kayu meranti merupakan salah satu jenis kayu yang paling
banyak digunakan dalam kebutuhan manusia (Wahyu dkk., 2012).
f. Kayu Kamper
Kayu kamper merupakan salah satu jenis kayu keras yang biasa digunakan
sebagai bahan bangunan. Ciri umum kayu kamper adalah kayu keras berwarna
merah coklat atau merah kelabu. Kayu gubal berwarna hampir putih sampai coklat
kuning muda, tebal 2-8 cm dan dapat dibedakan dengan jelas. Kayu mempunyai
tekstur agak keras dan merata dengan arah serat yang lurus atau terpadu.
Permukaan kayu mengkilat dan memiliki kesan raba yang licin. Kayu kamper
mengandung silica. Oleh karena itu sulit dikerjakan dengan mesin dan gergaji
dalam keadaan kering (Nuwiah, 2009).
g. Kayu Zeungiing
Kayu zeungiing warnanya putih dan coklat muda. Kayunya agak lunak dan
kembang susutnya sangat besar namun agak tahan terhadap rayap. Banyak dipakai
untuk bangunan sederhana dan baik sekali untuk bangunan dengan konstruksi
paku (Salim, 2016).

2.3. Sifat – Sifat Kayu

Kayu sebagai bahan bangunan diisyaratkan mempunyai kekuatan tertentu,


terutama menggenai sifat fisik atau mekaniknya dengan diketahuinya kekuatan
untuk jenis kayu tertentu, maka konsumen akan memilih jenis kayu yang tepat
sesuai penggunaannya. Setiap jenis kayu memiliki ciri tersendiri baik sifat kimia,
fisik atau mekaniknya (Damanik, 2009).
Menurut Setiawan (2010), sifat-sifat kayu yang penting sehubungan dengan
penggunaannya meliputi sifat higroskopik kayu, sifat mekanis kayu dan sifat fisik
kayu.
a. Sifat Higroskopik Kayu
Sifat higroskopik kayu adalah kemampuan penyerapan atau pelepasan air dari
dan ke udara sekitar dalam mencari kesetimbangan. Penyusutan kayu sebagai
proses fisis ditentukan oleh banyaknya air yang dikandung oleh kayu disebut
kadar air kayu. Air yang dikandung oleh kayu dibedakan dalam dua macam yaitu
air bebas dan air terikat. Air yang terikat inilah yang terpenting dalam proses
penyusutan kayu. Apabila air bebas telah dikeluarkan dan hanya tinggal air yang
terikat saja, dikatakan bahwa kayu telah mencapai titik jenuh serat (fibre
saturation point), besarnya kira-kira pada kadar air 30% untuk semua jenis kayu.
Jika kadar air turun hingga melampaui titik jenuh sear akan terjadi pengerutan
selama kadar air berada di atas titik jenuh serat pengerutan tidak akan terjadi.
b. Sifat Mekanis Kayu
Sifat mekanis kayu adalah daya tahan kayu terhadap tegangan yang diberikan
kepada kayu tersebut. Hal ini biasanya dipengaruhi oleh gaya-gaya yang bekerja
pada kayu, yaitu: gaya tarik, gaya tekan, gaya geser, gaya lentur, dan gaya puntir.
c. Sifat Fisik Kayu
Sifat fisik kayu adalah berat jenis kayu, keawetan alami, warna kayu, berat,
jejerasan dan lain-lain. Berat jenis yaitu berat kayu kering oven (105°C) dibagi
dengan berat air pada volume yang sama. Kekuatan kayu bertambah besar dengan
bertambahnya berat jenis. Keawetan alami kayu yaitu adanya suatu zat di dalam
kayu (zat ekstratif).

2.4. Kelas Kekuatan Kayu

Pada umumnya dapat dikatakan bahwa kayu-kayu yang berat sekali juga kuat
sekali, dan bahwa kekuatan, kekerasan dan sifat tekik lainnya adalah berbanding
lurus dengan berat jenisnya. Tetapi perbandingan ini tidak selalu cocok. Lembaga
Pusat Penyelidikan Kehutanan membagi kekuatan kayu Indonesia dalam 5 kelas
kuat didasarkan kepada jenis kayu tersebut (Setiawan, 2010) :

Gambar 9. Kelas Kekuatan Kayu.


(Sumber: Setiawan, 2010).
2.5. Pengaplikasian Kayu di Bidang Pertanian

Dalam bidang pertanian, kayu banyak dimanfaatkan sebagai bahan atau


material dalam pembuatan mesin, misal mesin perontok padi manual. Alat
perontok padi manual ini dibuat dari kayu yang berbentuk silinder dan diberi paku
paku. Silinder paku paku ini akan dihubungkan dengan kayuh melalui rantai. Cara
kerja alat perontok padi manual ini adalah saat batang dikayuh, maka silinder
yang berpaku tersebut akan berputar ( mirip sepeda ) kemudian batang batang
padi didekatkan ke silinder. Maka silinder berpaku akan bekerja seperti menyisir
bulir-bulir padi sehingga terpisah dengan batangnya (Setiawan, 2010).

2.6. Pengertian Logam

Logam adalah material yang sangat banyak dimanfaatkan dalam berbagai


sektor kehidupan yang berguna bagi manusia. Logam adalah ilmu yang
mempelajari tentang benda yang mengandung besi (ferro) dan bukan besi
(non ferro). Logam terbuat bukan dalam bentuk murni, melainkan dalam bentuk
batuan yang mengandung bijih besi yang juga merupakan persenyawaan antara
besi dan oksigen tapi dalam bentuk silivat (Hartanti dan Amarena, 2016).
Logam dapat dibagi dalam dua golongan yaitu logam ferro atau logam besi
dan logam non ferro yaitu logam bukan besi. Logam ferro adalah suatu logam
paduan yang terdiri dari campuran unsur karbon dengan besi.. Logam ferro terdiri
dari komposisi kimia yang sederhana antara besi dan karbon. Contoh logam ferro
yaitu, besi tuang, besi tempa, baja lunak, dan lain-lain. Logam non ferro yaitu
logam yang tidak mengandung unsur besi (Fe). Logam non ferro yaitu seperti,
tembaga, aluminium, dan timbel (Indiyanto, 2011).

2.7. Jenis – Jenis Logam

2.7.1. Molliable Iron


Molliable iron atau besi tuang mampu tempa dibuat dari besi tuang putih
dengan suatu proses yang dinamakan malleableisasi bertujuan mengubah sementit
besi tuang putih menjadi temper karbon dan ferrit, proses ini dilakukan dengan
dua tahapan annealing. Biasanya struktur perlitik dari melleabel cast iron perlu
ditemparing untuk yang berstruktur perlitik kasar, tempering dilakukan pada
temperatur antara 650-700˚C, sehingga diperoleh speroidized carbide, karena
sementit yang ada pada perlit akan berubah menjadi spheoroidit dengan demikian
kemampuan mesin akan naik, begitu juga dengan ketangguhannya, sedangkan
kekerasannya akan menurun (Ferdiansyah, 2013).
2.7.2. Chilled Iiron
Merupakan jenis besi yang dibuat dalam bentuk yang lebih khusus dan
berasal dari pig iron yang dilebur (Salim, 2016).
2.7.3. Mild Steel
Besi karbon kadang disebut juga sebagai mild steel atau plain carbon steel.
Sifat umumnya dari jenis ini adalah kaku dan kuat dan juga memiliki sifat
magnetis. Sehingga banyak digunakan pada mesin motor dan peralatan listrik.
Kekurangan dari baja jenis ini adalah terhadap serangan karat, sehingga tidak
cocok untuk digunakan pada lingkungan yang korosif, kecuali sudah diberikan
perlindungan yang sesuai sebelumnya. Jenis baja mild steel adalah bahan
konstruksi yang sangat kuat (Ferdiansyah, 2013).
2.7.4. Wrought Iron
Sifat strukturnya mudah ditempa dan lebih kuat daripada besi tuang.
Warna besi tempa (wrought iron) adalah abu-abu terang. Ciri khas dari besi
tempa adalah keras tapi ulet dan mudah lentur. Besi tempa juga banyak
digunakan dalam industri kereta api, kapal laut, industri minyak, arsitektur
dan pertanian. Selain itu, aplikasi dari besi tempa banyak dijumpai untuk
furnitur outdoor, pagar. Gaya interior ini banyak menggunakan material besi
tempa untuk lampu gantung (chandelier), tempat lilin (candelabrum) dan
aksesoris interior lainnya (Hartanti dan Amarena, 2016).
2.7.5. Soft center steel
Merupakan logam yang pada bagian-bagian yang tidak terpakai bersifat lunak
dan bersifat keras pada bagian-bagian yang terpakai (Salim, 2016).

2.8. Pengaplikasian Logam di Bidang Pertanian

Dalam bidang pertanian logam banyak digunakan sebagai bahan atau material
dalam pembuatan mesin atau alat. Alat dan mesin tersebut banyak dijumpai
contohnya seperti cangkul, gergaji, gerinda, dan lain-lain (Ferdiansyah, 2013).
III. METODE PRAKTIKUM

3.1. Waktu dan Tempat

Praktikum Pengenalan Kayu dan Logam dilakukan pada hari Senin, 4 Maret
2019, pukul 11.00-11.40 WITA. Bertempat di Bengkel Pertanian, Program Studi
Teknik Pertanian, Departemen Teknologi Pertanian, Fakultas pertanian,
Universiras Hasanuddin, Makassar.

3.2. Alat dan Bahan

Alat yang digunakan pada praktikum Pengenalan Kayu dan Logam yaitu
kayu kamper, kayu meranti, kayu merawan, kayu jati, kayu merbau, logam soft
center steel, logam mild steel, logam wrought iron, logam chilled steel, dan logam
molliable iron. Adapun bahan yang digunakan yaitu kertas dan pulpen.

3.3. Prosedur Praktikum

Adapun prosedur yang dilakukan dalam praktikum Pengenalan Kayu dan


Logam, yaitu:
3.3.1. Penggolongan Kayu
Prosedur praktikum identifikasi kayu yaitu:
1. Melakukan pemahaman mengenai jenis kayu.
2. Melakukan identifikasi terhadap jenis kayu.
3. Mencari jenis kayu yang terdapat pada lingkungan sekitar kampus.
4. Melakukan pencocokan terhadap ciri-ciri jenis kayu.
5. Mendokumentasikan hasil praktikum.
3.3.2. Penggolongan Logam
Prosedur praktikum identifikasi logam yaitu:
1. Melakukan pemahaman mengenai jenis logam.
2. Melakukan identifikasi terhadap jenis logam.
3. Mencari jenis logam yang terdapat pada lingkungan sekitar kampus.
4. Melakukan pencocokan terhadap ciri-ciri jenis logam.
5. Mendokumentasikan hasil praktikum.
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Hasil Dan Pembahasan

No. Nama Kayu Gambar Karakteristik

1. Kayu Kamper Kayu kamper berwarna kuning


kemerah-merahan. Kayu ini
tahan bubukan tetapi tidak
tahan rayap.

2. Kayu Meranti Terdiri atas meranti merah dan


putih. Jenis kayu ini digunakan
untuk bangunan ringan, papan,
cetakan.

3. Kayu Merawan Berwarna coklat muda yang


lama kelamaan menjadi coklat
tua. Digunakan untuk
perabotan.

4. Kayu Jati Berwarna coklat muda jika


sudah lama terkena cahaya dan
udara, warnanya menjadi sawo
matang. Digunakan untuk
perabot rumah tangga.

5. Kayu Merbau Berwarna coklat muda dan


lama kelamaan menjadi coklat
tua.

Tabel 6. Jenis Kayu


Berdasarkan tabel diatas, dapat diketahui bahwa kayu memiliki banyak jenis,
yaitu seperti kayu kamper, kayu meranti, kayu jati, kayu merawan, dan kayu
merbau. Pada kelima jenis kayu ini memiiki sifat yang berbeda-beda. Hal tesebut
didukung oleh pernyatan Damanik (2009), bahwa kayu sebagai bahan bangunan
diisyaratkan mempunyai kekuatan tertentu, terutama menggenai sifat fisik atau
mekaniknya dengan diketahunya kekuatan untuk jenis kayu tertentu, maka
konsumen akan memilih jenis kayu yang tepat sesuai penggunaannya. Setiap jenis
kayu memiliki ciri tersendiri baik sifat kimia, fisik atau mekaniknya.
Dapat dilihat pada tabel bahwa masing-masing jenis kayu memiliki
perbedaan, misal kayu kamper dan kayu merawan. Pada kayu kamper memiliki
karakteristik berwarna kuning kemerah-merahan. Kayu ini tahan bubukan tetapi
tidak tahan rayap, sedangkan pada kayu merawan Berwarna coklat muda yang
lama kelamaan menjadi coklat tua. Digunakan untuk perabotan.Hal tersebut
didukung oleh pernyataan Nuwiah (2009) dan Qalbi (2017), bahwa ciri umum
kayu kamper adalah kayu keras berwarna merah coklat atau merah kelabu
sedangkan kayu merawan memilki kulit luar berwarna kelabu-coklat, coklat
sampai hitam, ralur dangkal, dan mengelupas.
Tabel 7. Jenis Logam
No. Nama Logam Gambar Karakteristik

1. Soft center steel


Bersifat lunak dan bersifat
keras pada bagian-bagian yag
terpakai.

2. Mild steel Logam yang memiliki


kandungan karbon sebesar
0,1% sampai dengan 0,3%.

3. Wrought iron Bersifat tidak dapat dikeraskan


dan mudah dipotong, dibentuk
dan di las.
4. Chiled iron Jenis besi yang dibuat dalam
bentuk yang lebih khusus dan
berasal dari pig iron yang
dilebur.

5. Molliable iron Sifat bahannya lebih lunak dan


tidak mudah patah saat
dibentuk.

Berdasarkan tabel diatas, dapat diketahui bahwa logam terdiri atas


beberapa jenis, yaitu molliable iron, chilled iron, wrought iron, mild steel dan soft
center steel yang mana pada setiap jenis logam tersebut memiliki sifat yang
berbeda-beda. Hal tersebut didukung oleh pernyataan Salim (2016), bahwa logam
terdiri atas beberapa jenis dan pada setiap jenis logam tersebut memiliki sifat yang
berbeda-beda. Misal pada jenis logam soft center steel dan chilled iron, pada
logam soft center steel memiliki sifat lunak dan keras pada bagian-bagian yag
terpakai, sedangkan pada chilled iron merupakan jenis besi yang dibuat dalam
bentuk yang lebih khusus dan berasal dari pig iron yang dilebur contohnya yaitu
cangkul.

V. PENUTUP

5.1. Kesimpulan
Berdasarkan Praktikum Pengenalan Kayu dan Logam, maka dapat
disimpulkan bahwa:
a. Logam dan kayu terdiri atas beberapa jenis, yang mana setiap jenis kayu
memiliki sifat yang berbeda-beda.
b. Sifat yang dimiliki oleh setiap jenis kayu maupun logam berpengaruh
terhadap kualitas kayu atau logam tersebut.
c. Mengetahui jenis-jenis logam dan kayu sangat penting untuk dilakukan, agar
ketika memilih bahan atau material untuk suatu produk sesuai dengan tujuan
kegunaannya.
d. Adapun jenis-jenis kayu dan logam, pada kayu terdiri atas kayu jati, kayu
meranti, kayu kamper, kayu merawan, kayu merbau dan lain-lain, sedangkan
pada logam terdiri dari molliable iron, chilled iron, wrought iron, mild steel
dan soft center steel.

DAFTAR PUSTAKA
Arifin J dan Yuliana M. 2013. Klasifikasi Jenis Kayu dengan Gray-Level Co-
Occurrence Matrices (Glcms) dan K-Nearest Neighbor. Sekolah Tinggi
Manajemen Informatika dan Komputer ASIA Malang: Malang.
Damanik RIM. 2009. Kekuatan Kayu. Universitas Sumatera Utara: Medan.
Ferdiansyah E. 2013. Ilmu Bahan Teknik. Institut Pertanian Bogor: Bogor.
Hartanti G, dan Amarena N. 2016. Inspirasi Material Logam Pada Elemen
Interior Ruang Publik Untuk Mendukung Pelestarian Budaya Bangsa.
Universitas Bina Nusantara: Jakarta Barat.
Indiyanto R. 2011. Pengantar Pengetahuan Bahan Teknik. Universitas
Pembangunan Nasional “Veteran”: Surabaya.
Lestari. 2011. Perbaikan Pertumbuhan Tanaman Rasamala (Altingia Excelsa
Noronhae) dengan Teknik Lateral Root Manipulation (Lrm) Di Hutan
Pendidikan Gunung Walat, Kabupaten Sukabumi. Universitas Pertanian
Bogor: Bogor.
Malik J., Rahman O., Jamal B, dan Akhmad S. 2009. Kajian Efisiensi
Pemanfaatan Kayu Merbau dan Relokasi Industri Pengolahannya. Peneliti
pada Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan: Bogor.
Muin M., Astuti A, dan Syahidah. 2009. Deteriorasi dan Perbaikan Sifat Kayu.
Universitas Hasanuddin: Makassar.
Murtinah V., Marjenah., Afif R, dan Daddy R. 2015. Pertumbuhan Hutan
Tanaman Jati (Tectona Grandis Linn.F.) di Kalimantan Timur. Universitas
Mulawarman: Samarinda.
Nuwiah. 2009. Pemanfaatan Limbah Kayu Kamper sebagai Karbon Aktif.
Universitas Haluoleo: Kendari.
Qalbi AH. 2017. Karakteristik Hidrologi Tanah di Bawah Tegakan Pinus (Pinus
Merkusii), Mahoni Uganda (Khaya Anthoteca), dan Merawan (Hopea
Odorata Roxb). Institut Pertanian Bogor: Bogor.
Salim I. 2016. Penuntun Praktikum Teknik Perbengkelan. Universitas
Hasanuddin: Makassar.
Setiawan L. 2010. Struktur Konstruksi I. Universitas Gajah Mada: Yogyakarta.
Wahyu E., Evi S, dan Tuti A. 2012. Inventarisasi Permudaan Meranti (Shorea
spp.) pada Arboretum Kawasan Universitas Riau Kota Pekanbaru Provinsi
Riau: Universitas Riau: Riau.
Wahyudi I., Trisna P, dan Istie SR. 2014. Karakteristik dan Sifat-Sifat Dasar
Kayu Jati Unggul Umur 4 dan 5 Tahun Asal Jawa Barat. Institut Pertanian
Bogor: Bogor.