Anda di halaman 1dari 62

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Farmasi didefinisikan sebagai profesi yang menyangkut seni dan ilmu
penyediaan bahan obat, dari sumber alam atau sintetik yang sesuai untuk disalurkan
dan digunakan pada pengobatan dan pencegahan penyakit, formasi menyangkut
pengetahuan mengenai identifikasi, pemilahan (selection), aksi farmakologi skema
pengawetan, penggabungan analisis, dan pembekuan bahan obat (drugs) dan sediaan
obat (medicine). Pengetahuan kefarmasian mencakup pula penyaluran dan
penggunaan obat yang sesuai dan aman, baik melalui resep ( persecription) dokter
berijin, dokter gigi, dan dokter hewan, maupun melalui cara yang sah, misalnya
dengan cara menyalurkan atau menjual langsung kepada pemakai. Di jurusan farmasi
kita akan menjumpai beberapa mata kuliah baik yang umum maupun yang khusus,
untuk mahasiswa semester 1 mereka akan mendapatkan mata kuliah botani
(voigt,1984)
Botani ini adalah ilmu yang mempelajari tentang tumbuhan, baik morfologi dan
anatomi nya untuk lebih spesifiknya maka ilmu botani ini disalurkan melalui
pembelajaran benda-benda ergastik.
Benda ergastik merupakan benda non protoplasma yang ditemukan di dalam sel.
Protoplasma yang hidup di sel disebut juga bioplasma dan benda dengan zat ergastik.
Benda organik dan non organik produk metabolisme dapat membantu organisme
dalam pertahanan dan memelihara struktur sel, juga untuk menyimpan substansi dan
vakuola dalam dinding sel. Benda ergastik terdiri atas dua sifat yaitu ada yang
bersifat cair dan pada. Benda ergastik terdiri atas dua sifat yaitu ada yang bersifat cair
dan pada. Benda atau zat yang bersifat cair yaitu: Pati, protein, cairan sel, minyak dan
lemak, minyak etheris dan damar, serta benda yang bersifat pada: kristal ca-oksalat,
kristal anorganik, dan butir amilum (Sutrian,2004)
Dalam percobaan benda ergastik, kami diharapkan mampu mengetahui
pengertian benda-benda ergastik mampu mengetahui jenis-jenis benda-benda

1
ergastik, serta mampu mengetahui bentuk dan struktur dari benda ergastik pada
tumbuhan.
1.2 Tujuan Dan Manfaat
1.2.1 Tujuan Percobaan
Agar mahasiswa dapat mengetahui bahwa selain komponen hidup didalam sel
juga terdapat komponen non protoplasma yang di sebut benda-benda ergastik baik
benda ergastik yang bersifat cair maupun yang bersifat padat.
1.2.2 Manfaat Percobaan
Mahasiswa dapat mengetahui bahwa selain komponen hidup didalam sel juga
terdapat komponen non protoplasma yang di sebut benda-benda ergastik baik benda
ergastik yang bersifat cair maupun yang bersifat padat.

2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Dasar Teori
Benda ergastik merupakan  benda nonprotaplasma yang ditemukan di dalam sel.
Protoplasma yang hidup di sel di sebut juga bioplasma dan benda dengan dengan zat
ergastik. Benda organik dan nonorganik produk metabolisme dapat membantu
organisme dalam pertahanan dalam memelihara struktur sel, juga untuk penyimpanan
substansi dalam vakuola dan dindng sel. Benda ergastik terdiri atas dua sifat yaitu ada
yang bersifat cair dan padat. Benda atau zat yang bersifat cair yaitu : pati, protein,
cairan sel, minyak dan lemak, minyak etsiri dan damar, serta benda yang bersifat
padat : Kristal ca-oksalat, kristal anorganik, dan butir amilum.(Sutrian, 2004).
Berikut adalah benda ergastik dalam bentuk cair : Menurut (Foris, 2011)
1. Pati
Pati adalah karbohidrat yang terjadi dari rangkaian molekul yang panjang.
Muncul dalam bentuk butiran yang umumnya akan berwarna hitam kebiru-biruan bila
diberi larutan iodium dalam kalium iodida. Butir-butir pati dibentuk pertama kali di
dalam kloroplas, kelak pati dipecah dan dalam  bentuk gula dipindahkan ke jaringan-
jaringan cadangan makanan. Disini gula disintesis kembali menjadi amiloplas.
Umumnya butir pati terdiri atas lapisan-lapisan yang mengelilingi suatu titik yang di
sebut hilum. Hilum dapat terletak di tengah atau dapat pula eksentrik. Pelapisan pada
butir pati terlihat sebagai akibat kepekaan molekul-molekul yang lebih banyak pada
saat permulaan terbentuknya lapisan-lapisan terluar karena keebihan air. Pada butir
pati sereales jumlah lapisan sesuai dengan jumlah hari pembentukan butir pati.
2. Protein
Protein ditemukan dalam  lapisan  endosperm paling luar yang disebut lapisan
aleuron, pada kariopsis serealis protein berbentuk kristaloid kuboidal yang ditemukan
dalam sel parenkima  ferifer umbi kentang dan dalam parenkima buah capsicum.

3
Protein bentuk kristal dan protein amorf di temukan bersama-sama dalam butiran-
butiran aleuron dalam endosperm dan embrio sebagian besar biji-bijian.
3. Cairan sel
Cairan sel adalah cairan yang terdapat dalam rongga-rongga vakuola.Cairan sel
tersebut merupakan larutan dari bermacam macam zat yang larut dalam air, baik yang
berupa persenyawaan organik maupun anorganik.Susunan cairan sel tidak tetap,
selalu berubah-ubah karena di dalam sel terus menerus berlangsung reaksi - reaksi
metabolisme. Persenyawaan-persenyawaan yang biasa terdapat dalam cairan sel di
antaranya : Menurut (Poedjiadi, 2009)
a. Air
Bagian paling besar dari cairan sel adalah air.air dalam vakuola tersebut biasanya
di sebut air sel.dalam air sel tersebut terlarut berbagai bahan baik organik maupun
anorganik.
b. Asam-asam organic
Asam-asam organik dalam vakuola menyebabkan pH cairan sel rendah, misalnya
pada buah-buah yang mentah berasa asam.Susunan cairan sel tidak selalu konstan,
tetapi selalu berubah-ubah, karena itu pH cairan sel dapat berubah-ubah pula.
c. Karbohidrat
Dalam cairan sel bahan ini terkandung guna memenuhi kebutuhan tumbuh-
tumbuhan.beberapa macam di antaranya dapat di kemukakan sebagai berikut :
a) Disakarida, yang cepat larut dalam air, seperti gula tebu (sakarosa), gula bit
(maltosa)
b) Monosakarida, yang melarut dalam air seperti misalnya gula anggur
(glukosa), gula buah-buahan (fruktosa)
c) Sejenis karbohidrat lainnya adalah lendir yang banyak di temukan pada tumbuh-
tumbuhan golongan serofita
d) Alkaloid 

4
Alkaloid adalah senyawa basa organik yang mengandung nitrogenalkaloid
biasanya tedapat pada jenis tumbuh-tumbuhan tersebut. Manfaat dari alkaloid
adalah dapat di pergunakan sebagai obat-obatan.
e) Tanin (zat penyamak)
Pada tumbuhan tertentu terdapat tanin yaitu sejenis zat cair yang merupakan
campuran dari beberapa macam zat-zat tersebut terutama misalnya asam gallus
dan glukosit.Fungsi tanin yaitu mencegah terjadinya pembusukan pada jaringan
di samping berguna bagi perlindunngan protoplas dari gangguan luar, misalnya
gangguan binatang.
d. Antosian
Antosian adalah suatu glukosida, dapat memberikan warna yang dapat larut
dalam air sel dari vakuola.Dengan demikian maka dalam vakuola terdapat pula zat-
zat warna yang terlarut dalam cairan selnya.
e. Asparagin  dan glutamine
Pada tumbuh-tumbuhan tertentu selain terdapat protein, terdapat pula senyawa-
senyawa lainnya, antara lain asparagin dan glutamine, yang termasuk golongan
amide.
4. Minyak dan lemak
Minyak dan lemak merupakan bahan cadangan penting dalam tumbuhan, yang
sering kali dijumpai dalam biji dan buah.Lemak dan minyak merupakan gliserida
asam lemak.perbedaan di antara keduanya umumnya berdasarkan sifat-sifat fisik,
Pada suhu normal lemak berbentuk benda padat dan minyak berbentuk cairan.
5. Minyak eteris dan damar
Dalam sel tumbuh-tumbuhan terdapat pula sejenis minyak yang muda
menguap.seperti halnya minyak eteris.Dalam sel tumbuh-tumbuhan minyak eteris
berupa tetes minyak yang berupa tetes-tetes minyak yang mmembiaskan
cahaya.biasanya sel-selnya telah mati dan dinding selnya bersifat suberin (zat gabus).
Benda ergastik dalam bentuk padat di antaranya  : Menurut (Firza, 2011)
1) Kristal ca-oksalat

5
Kristal ini memang cukup banyak terdapat dalam sel berbagai tumbuh-tumbuhan.
Lazimnya terdapat dalam sel korteks akan tetapi tidak jarang pula terdapat dalam
sel-sel parenkim floem dan sel parenkim xylem.

2) Kristal anorganik
Kristal anorganik  ialah berupa silikat yang banyak terdapat pada sel tumbuhan
jenis bambu dan rumput-rumputan terutama pada sel epidermisnya.
3) Butir amilum
Benda-benda nonprotoplasma atau benda-benda mati ini dalam sel di bentuk oleh
plastida-plastida, diantaranya amiloplas dan kloroplas.
2.2 Uraian Tanaman
2.2.1 Umbi Kentang (Solanum tuberosum)
a. Klasifikasi (Tjitrosoepomo, 2010)
Regnum : Plantae
Divisi       : spermatophyta
Kelas       : Dicotyledoneae
Ordo         : Solanales
Famili       : Solanaceae Umbi Kentang
Genus : Solanum (Solanum
Tuberosum)
Spesies : Solanum Tuberosum
b. Morfologi (FrediKurniawan, 2007)
1. Daun
Tanaman kentang umumnya berdaun rimbun terletak berselang-seling pada
batang tanaman, berbentuk oval agak bulat dengan ujung yang meruncing dan tulang
daun yang menyirip. Warna pada daun mulai dari hijau muda sampai hijau tua hingga
kelabu
2. Batang

6
Berbentuk segi empat atau segilima, tergantung varietasnya, tidak berkayu dan
bertekstur agak keras.Warna pada batang umumnya hijau tua dengan pigmen
ungu.Batang bercabang dan setiap cabang ditumbuhi daun yang rimbun.
3. Akar
Tanaman kentang memiliki sistem perakaran tunggang dan serabut.Akar
tanaman berwarna keputih-putihan dan berukuran sangat kecil. Diantara akar ini ada
yang nantinya berubah bentuk dan fungsi menjadi bakal umbi, yang selanjutnya akan
menjadi umbi kentang
4. Bunga
Tanaman kentang ada yang berbunga dan tidak tergantung varietasnya.Warna
pada bunga yaitu kuning atau ungu. Kentang varietas desiree berbunga ungu. Varietas
cipanas, segunung dan cosima berbunga kuning.
5. Umbi
Ukuran, bentuk dan warna umbi kentang bermacam-macam, tergantung
varietasnya.Ukuran umbi bervariasi dari kecil hingga besar.Bentuk umbi ada yang
bulat, oval, bulat panjang.Umbi kentang berwarna kuning, putih dan merah.
c. Manfaat/Kegunaan (Wijayakusuma, 1994)
1. Menurunkan Tekanan Darah
2. Menjaga kesehatan otak dan sistem saraf
3. Menjaga kekebalan tubuh
4. Mengurangi peradangan
5. Melancarkan pencernaan
6. Menjaga kesehatan jantung
7. Membantu kinerja atletik
2.2.2 Padi (Oryza sativa)
a. Klasifikasi (Tjitrosopemo, 2004)
Regnum : Plantae
Divisio : Spermatophyta
Kelas : Monocotyledoneae

7
Padi
(Oriza sativa)
Ordo : Poales
Familia : Graminae
Genus : Oryza
Species : Oryza sativa L

b. Morfologi (Sutrian, dkk., 2004)


1. Akar
Akar tanaman padi berfungsi menyerap air dan zat makanan dari dalam tanah
yang kemudian diangkut ke bagian atas tanaman.Akar tanaman padi adalah akar
serabut.Radikula (akar primer) yaitu akar yang tumbuh pada saat benih
berkecambah.Pada benih yang sedang berkecambah timbul calon akar dan batang.
Apabila pada akar primer terganggu, maka akar seminal akan tumbuh dengan cepat.
2. Batang
Padi termasuk kedalam familia Graminae yang memiliki batang dengan
susunan beruas-ruas. Batang padi berbentuk bulat, berongga, dan beruas.Antar ruas
pada batang padi dipisahkan oleh buku. Panjangnya tiap-tiap ruas tidak sama. Ruas
yang terpendek terdapat pada pangkal batang dan ruas kedua, ketiga, dan seterusnya
lebih panjang dari pada ruas yang didahuluinya.
3. Daun
Padi termasuk tanaman jenis rumput-rumputan mempunyai daun yang
berbeda-beda, baik bentuk, susunan, maupun bagian-bagiannya.Ciri khas daun padi
adalah terdapat sisik dan telinga daun.Daun tanaman padi tumbuh pada batang dalam
susunan yang berselang-seling.Pada setiap buku terdapat satu daun.Setiap daun terdiri
atas helai daun yang memiliki bentuk panjang seperti pita.
4. Bunga
Bunga padi pada hakikatnya terdiri atas tangkai, bakal buah, lemma, palea,
putik, dan benang sari.Tiap unit bunga terletak pada cabang-cabang bulir yang terdiri

8
atas cabang primer dan cabang sekunder.Sekumpulan bunga padi (spikelet) yang
keluar dari buku paling atas dinamakan malai.
c. Manfaat/Kegunaan
Menurut (Heyne, 1987) manfaat dari padi yaitu:
1. Sebagai sumber energi yang tinggi
2. Membantu mengobati dan mencegah gangguan pencernaan
3. Bagus untuk kesehatan tulang dan gigi
4. Sumber protein yang tinggi
5. Membantu mengurangi resiko pusing
6. Sebagai bahan pokok makanan
7. Bermanfaat untuk kesehatan
8. Sebagai bahan pembuat tepung
9. Sebagai bahan pembuat ketan
2.2.3 Pepaya (Carica Papaya)
a. Klasifikasi (Tjitrosoepomo, 2007)
Regnum : Plantae
Divisio : Magnoliophyta
Kelas : Magnoliopsida
Ordo : Violales
Familia : Caricaceae Pepaya
Genus : Carica (Carica Papaya)
Species : Carica papaya
b. Morfologi (Fredikurniawan, 2007)
1. Habitus
Deskripsi pohon pepaya berupa tumbuhan berbatang tunggal tegak dan basah
dengan payungan daun di ujungnya, dapat tumbuh setinggi 270 – 900 cm serta
mengandung getah putih di seluruh bagian pohonnya. Ciri-ciri tumbuhan pepaya
tersebut juga dipengaruhi varietas.
2. Daun

9
Bentuk daun pepaya yakni tunggal, menjari 5-9 bagian.Tangkai daun panjang
berongga 50-100 cm (tergantung umur).
3. Batang
Batang Pepaya berbentuk silinder dengan diameter 30 – 40 cm, semi berkayu,
berongga dan bergabus dengan kulit yang lembut berwarna abu-abu.Permukaan
batang dipenuhi dengan bekas tangkai daun.Arah pertumbuhan batang tegak lurus ke
atas dan tidak bercabang, kecuali bagian ujung pucuk mengalami pelukaan atau titik
tumbuhnya terpotong.
4. Bunga
Berdasarkan tipe bunganya, bagian-bagian bunga pepaya dibedakan menjadi
tiga jenis, yaitu pepaya jantan, pepaya betina dan pepaya hermafrodit.Pepaya jantan
memiliki bunga jantan yang majemuk dan tersusun menggantung pada malai.
c. Manfaat/Kegunaan (Wijayakusuma, 1994)
Tanaman pepaya bernilai ekonomi tinggi karena mempunyai banyak
kegunaan, baik bagian buah, akar, batang, daun, maupun bunganya. Buah pepaya
yang masak biasa disajikan sebagai pencuci mulut dan penyuplai nutrisi, terutama
karoten, kalsium, zat besi, vitamin A dan B, serta kaya akan vitamin C. Buah pepaya
juga dapat diolah menjadi bentuk makanan lain, seperti sari pepaya dan dodol. Dalam
bidang farmasi, akar pepaya dimanfaatkan sebagai obat penyakit ginjal dan kandung
kemih, sedangkan daunnya sebagai obat penyakit malaria, kejang perut dan demam.
2.2.4 Lidah buaya (Aloe vera)
a. Klasifikasi (Tjitrosoepomo, 2010)
Regnum : Plantae
Divisio : Magnoliophyta
Kelas : Liliopsida
Ordo : Asparagales
Familia : Asphodelaceae
Genus : Aloe Lidah buaya (Aloe vera)
Species : Aloe vera

10
b. Morfologi (Fahn, 1991)
1. Akar
Karena tergolong tumbuhan monokotil maka Lidah buaya mempunyai akar
yang serabut yang panjangnya bisa mencapai 30-40cm tergantung pada
perkembangan lidah buaya.

2. Batang
Batang dari lidah buaya sangat pendek bahkan jarang terlihan dikarenakan
terhalang oleh kumpulan daun lidah buaya, panjang batang lidah buaya sekitar 3-4
cm. Batang lidah buaya berserat dan berkayu juga dapat menghasilkan tunas baru
pada batangnya.
3. Daun
Daun tanaman lidah buaya berbentuk pita dengan helaian yang memanjang.
Daunnya berdaging tebal, tidak bertulang, berwarna hijau keabu-abuan, bersifat
sukulen (banyak mengandung air) dan banyak mengandung getah atau lendir (gel)
sebagai bahan baku obat
4. Bunga
Bunga lidah buaya menyerupai terompet atau tabung kecil dengan panjang
rata-rata sekitar 2-3cm, bunga lidah buaya mempunyai batang dengan panjang 50
sampai 100cm dan  warna dari lidah buaya berwarna kuning sampai orange.
c. Manfaat/Kegunaan (Wijayakusuma, 1994)
1. Menyembuhkan ruam dan iritasi kulit
2. Mengobati luka bakar
3. Menyembuhkan luka
4. Melembapkan rambut dan kulit kepala
5. Mengobati sembelit
6. Membantu sistem pencernaan
7. Meningkatkan sistem kekebalan tubuh
8. Antioksidan dan mengurangi peradangan

11
2.2.5 Nanas (Ananas commosus)
a. Klasifikasi (Tjitrosoepomo, 1993)
Regnum : Plantae
Divisio : Spermatophyta
Kelas : Magnoliopsida
Ordo : Poales
Familia : Bromoliaceae
Nanas
Genus : Ananas (Ananas commosus)
Species : Ananas commosus
b. Morfologi (Sumardi, 1993)
1. Akar
Nanas memiliki akar serabut dengan sebaran ke arah vertikal dan
horizontal.Perakaran dangkal dan terbatas walaupun ditanam pada media yang paling
baik. Kedalaman akar nenas tidak akan lebih dari 50 cm.
2. Batang
Batang tanaman nenas dapat dilihat apabila daun-daun dihilangkan. Hal ini
disebabkan batang nenas sangat pendek yaitu 20-25 cm dengan diameter bawah 2
sampai 3,5 cm, sedangkan diameter bagian tengah 5,5 sampai 6,5 cm dan mengecil
pada bagian puncak. 2.0-3.5 cm. Batang tanaman nenas beruas-ruas dengan panjang
masing-masing ruas bervariasi antara 1 sampai 10 cm. Batang berfungsi sebagai
tempat melekat akar, daun, bunga, tunas, dan buah, sehingga secara visual batang
tersebut tidak nampak karena di sekelilingnya tertutup oleh daun.
3. Daun

12
Daun berbentuk memanjang dan sempit, panjang daun dapat mencapai 130-
150 cm, dengan daun tua lebih pendek dari daun muda yang ada
diatasnya.Pertumbuhan daun nenas biasanya satu dalam seminggu.Pada mulanya
pertumbuhannya lambat, kemudian cepat.
4. Bunga
Bunga tanaman nanas bersifat majemuk terdiri dari 50-200 kuntum bunga
tunggal atau lebih.Letak bunga duduk tegak lurus pada tangkai buah
kemudian berkembang menjadi buah mejemuk.Bunga nenas bersifat
hermaprodit, mempunyai tiga kelopak, tiga mahkota, enam benang sari dan
sebuah putik dengan kepala putik bercabang tiga.
5. Buah
Buah nenas merupakan buah majemuk yang terbentuk dari gabungan 100
sampai 200 bunga, berbentuk silinder, dengan panjang buah sekitar 20.5 cm dengan
diameter 14.5 cm dan beratnya sekitar 2.2 kg (Collins 1960 cit Rosmaina 2007). Kulit
buah keras dan kasar, saat menjelang panen, warna hijau buah mulai memudar.
c. Manfaat/Kegunaan (Heyne, 1987)
Nanas juga mengandung serat yang berguna untuk membantu proses
pencernaan, menurunkan kolesterol dalam darah dan mengurangi resiko diabetes dan
penyakit jantung.
2.2.6 Jeruk (Cytrus Sp.)
a. Klasifikasi (Setyawan, 2009)
Regnum : Plantae
Divisio : Magnoliophyta
Kelas : Magnoliopsida
Ordo : Sapindales
Familia : Rutaceae
Jeruk (Cytrus sp.)
Genus : Citrus (Cytrus Sp.)
Species : Cytrus Sp.
b. Morfologi (Hasnunidah, 2010)

13
1. Akar
Akar jeruk terdiri dari akar tunggang, akar serabut serta akar-akar
rambut.Akar tunggang pada tanaman jeruk dapat mencapai kurang lebih 4 meter jika
akar mendapat tanahyang subur dan tidak bertemu dengan tanah yang keras ataupun
tanah berair.

2. Batang
Batang tanaman jeruk berbentuk bulat dan ditumbuhi mata tunas. Batang
tanaman jeruk ada yang terlihat kasar dan berduri, tetapi adapula yang permukaannya
halus, tinggi batang tanaman jeruk ada yang dapat mencapai tinggi 15m dan ada pula
yang hanya mencapai 5m dan memiliki beragam warna, semua itu tergantung dari
jenis tanaman jeruk itu sendiri.
3. Daun
Daun tanaman jeruk berbentuk bulat lonjong menyerupai telur, berwarna hijau
tua dan terlihat tebal.Tidak terdapat bulu pada kedua sisi daun, dan tulang daun
berbentuk menyirip beraturan, walaupun ada juga yang berselang seling.
4. Bunga
Jeruk merupakan tanaman berbunga majemuk, berwarna putih pucat dan
termasuk kedalam bunga sempurna (dalam 1 kuntum bunga terdapat 2 kelamin atau
hermafrodit).Biasanya bunga jeruk muncul pada ketiak daun atau pucuk ranting yang
masih muda dan berbau harum karena mengandung nektar/madu dalam jumlah
banyak.
5. Buah
Buah jeruk ada yang berbentuk bulat, oval dan ada pula yang berbentuk
lonjong dengan sedikit memanjang.Kulit buahnya ada yang tebal dan alot, ada pula
yang tipis dan mudah dikupas, memiliki warna kuning, jingga dan hijau tergantung
jenisnya.
6. Biji

14
Pada tanaman jeruk, biji terdapat pada bulir buahnya, ketersediaan biji pada
tanaman jeruk tergantung dari varietasnya, ada yang berbiji banyak sampai yang tidak
berbiji.Biji jeruk biasanya berwarna putih atau putih keabuan, berbentuk bulat telur
dan runcing di salah satu ujungnya, bersifat poliembrional dengan embrio berwarna
putih. 
c. Manfaat/Kegunaan (Sudarsono, dkk., 2002)
1. Meredakan Sembelit
2. Mengatur Tekanan Darah
3. Mencegah Kanker
4. Melindungi Tubuh dari Penyakit Jantung
5. Melawan Infeksi Virus
6. Membersihkan Darah
7. Tulang Kuat
8. Gigi Kuat
2.2.7 Daun Beringin (ficus benjamina)
a. Klasifikasi menurut Heyne (1987)
Regnum : plantae
Divisi : Spermatophyta (magnoliopsida)
Kelas : Dicotyledoneae (magnoliopsida)
Ordo : Urticales
Famili : Moraceae
Daun beringin (ficus
Genus : Ficus benjamina L)
Spesies : Ficus benjamina
b. Morfologi
Beringin merupakan tanaman yang memiliki kemampuan hidup dan beradap
tasi dengan bagus pada berbagai kondisi lingkungan. Selain itu keberadaan tanaman
beringin pada kawasan hutan bisa di jadikan sebagai indikator proses terjadinya
subsesi hutan. Beringin juga merupakan tanaman yang memeiliki umurn sangat tua,
tanaman tersebut dapat hidup dalam waktu hingga ratusan tahun ( Kinanthy, 2011)

15
Nama lain dari tanaman beringin menurut Sastrapraja (1984), yaitu caringin
(Sunda), waringin (Jawa, Sumatera), Chinese bayan (China), banyan tree (Inggris)
pohon beringin banyak di temukan di tepi jalan, pinggiran kota atau tumbuh di tepi
jurang. Pohon ini berukuran besar dengan tinggi 20-25 meter, berakar tunggang dan
memilki batang yang tegak dengan percabangan simpodial, bulat, permukaan kasar,
dan cokelat kehitaman, pada batang keluar akar gantung (akar udara). Pohon beringin
memilki daun 12 tunggal, pertulangan menyirip, dan berwarna hijau. Sastrapraja
(1984), mengatakan bahwa buah ara muuncul di ranting-ranting, tunggal atau
berpasangan. Penyebaran pohon ini di daerah-daerah beriklim tropis.
c. Khasiat
Akar udara mengandung asam amino, fenol, gula. Penyakit yang dapat diobati
: pilek, demam tinggi, radang amandel (tonsilitis), nyeri rematik sendi, luka terpukul
(memar), influenza, radang saluran napas (bronkitis), batuk rejan (pertusis), malaria,
radang usus akut (acute enteritis), disentri, dan kejang panas pada anak
(Osmina,1990).
2.2.8 Daun Bayam (Amaranthus Sp)
a. Klasifikasi menurut (Arif,1990)
Kingdom : Plantae
Sub kingdom : Tracheobionta
Sub divisi : Spermathopyta
Divisi : Magnoliphyta
Kelas : Magnoliophyta
Sub klas : Caryophyllidae
Daun Bayam
Famili : Amaranthacea
(amaranthus sp)
Genus : Amaranthus
Spesies : Amaranthus sp
b. Morfologi
1 Akar

16
Tanaman bayam memiliki akar perdu ( terma ), akar tanaman bayam ini akan
menembus tanah hingga kedalaman 20-40 cm bahkan lebih. Akar tanaman bayam ini
tergolong akar tunggang dan memiliki serabutan di bagian atasnya.
2. Batang
Tanaman bayam memiliki batang tumbuh dengan tegak, tebal dan banyak
mengandung air. Batang pada tanaman ini memiliki panjang hingga 0.5-1 meter dan
memiliki cabang monodial. Batang bayam berwarna kecoklatan, abu-abu dan juga
memiliki duri halus di bagian pangkal ujung batang tanaman bayam.
3. Daun
Tanaman ini memiliki daun tunggal, berwarna hijau muda dan tua, berbentuk bulat
memanjang serta oval. Panjang daun pada bayam 1,5-6,0 cm bahkan lebih, dengan
lebar 0,5 – 3,2 cm dan memiliki pangkal ujung daun runcing serta obtusus. Batang
bayam di sertai dengan tangkai yang berbentuk bulat dan memiliki permukaan
opacus. Panjang tangkai ini mencapai 9.0 cm dan memiliki bagian tepi atau
permukaan repandus.
4. Bunga
Bunga tanaman bayam ini memiliki kelamin tunggal, berwarna hijau tua, dan
juga memiliki mahkota terdiri dari daun bunga 4-5 buah, benang sari 1-5, dan bakal
buah 2-3 buah serta lainnya yang membantu dalam penyerbukan. Bunga tanaman
bayam ini berukuran kecil dan memiliki panjang mencapai 1,5-2,5 cm, serta tumbuh
di ketiak daun yang tersusun tegak. Namun, penyerbukan bunga ini biasanya di bantu
juga dengan binatang sekitar dan angin.
5. Biji
Tanaman bayam memiliki biji berukuran kecil, dan halus, memiliki bentuk
bulat serta memiliki warna kecoklatan hingga kehitaman. Namun, ada beberapa jenis
bayam yang terdapat biji berwarna putih dan merah, contohnya bayam maksi
(Arif,1990).
c. Khasiat

17
Tanaman bayam berkhasiat sebagai obat beri-beri dan akarnya sebagai obat
kencing nanah. Untuk obat beri-beri dipakai + 20 gram daun segar daun
bayam,dicuci,direbus dengan 1 gelas diminum sekaligus (Arif,1990).

2.2.9 Jahe (zingiber offinale)


a. Klasifikasi (Soepono,1990)
Divisi : Spermatophyta
Sub divisi : Angiospermae
Kelas : Monocotyledoneae
Ordo : Zingiberles
Jahe (zingiber
Famili : Zingiberaceae officinale)
Genus : Zingiber Officinale
b. Morfologi
1. Tanaman ini memiliki akar tunggal yang semakin membesar sesuai dengan
pertumbuhannya atau umurnya, hingga membentuk rimpang serta tunas yang akan
tumbuh menjadi tanaman baru. Akar tanaman tumbuh dari bagian rimpang sedangkan
tunas tumbu dari bagian atas rimpang. Akar tanaman ini memiliki warna kecoklatan
jika sudah menjadi rimpang menjadi kemerahan atau sesuai dengan variaetes.
2. Batang
Tanaman jahe memiliki batang semu yang tumbuh tegak, berbentuk bulat
pipih, tidak memiliki cabang terseusun ruas, dan pelapah daun saling menutup
sehingga membentuk seperti batang. Bagian luar batang licin dan mengkilap, serta
banyak mengandung air, berwrna hijau pucatm bagian pangkal berwarna kemarahan.

18
Batang bagian bawah tanah berdagingm bernas , berbuku-buku, dan memilki struktur
yang bercabang.
3. Rimpang jahe
Tanaman jahe memiliki rimpang jahe yang tidak beraturan, bagian luar di
tutupi dengan daun yang terbentuk sisik tipis, tersusun melingkar. Rimpang
merupakan bagian tanaman jaeh yang memiliki manfaat yang besar dan memiliki
nilai ekonomis yang tinggi. Rimpang tanaman jahe memiliki warna yang sangat
bervariasi dan beragam berupa warna putih, kemerahan dan kekuningan.
Tergantung dengan varietes.

4. Bunga
Tanaman jahe memiliki bunga yang terletak di bagian ketiak daun pelindung.
Bentuk bungan jahe sangat bervariasi : panjang, bulat telur, lonjong, runcing atau
tumpul dan lainnya. Bunga ini memiliki ukuran 2-2.5 cm dan lebar 1-1.5 cm. Bunga
tanaman jaeh memiliki panjang 30 cm berbentuk spika, bungan berwrna putih
kekuningan dengan bercak ungu merah(Sopepono,1990).
c. Khasiat
1. Pusing
Kondisi ini membuat Anda merasa seperti berputar (vertigo) atau kepala
terasa ringan (lightheadedness). Dapat juga terasa seperti kehilangan keseimbangan
atau terasa melayang. Jahe diduga dapat meringankan pusing dengan cara
merangsang aliran darah ke otak. Selain itu jahe dipercaya dapat meringankan mual.
2. Nyeri menstruasi.
Bagi para wanita yang sering merasa nyeri saat menstruasi, bisa coba
mengonsumsi ekstrak jahe dengan dosis empat kali sehari selama tiga hari di awal
menstruasi. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa mengonsumsi jahe bisa
membantu mengurangi gejala nyeri menstruasi. Khasiat jahe sepertinya dapat
disamakan dengan obat ibuprofen dan asam mefenamat.
3. Mencegahmorning sickness.

19
Kondisi mual dan muntah ini kerap dialami oleh beberapa wanita di awal
masa kehamilan. Sepertinya kondisi tersebut dapat diminimalisasi dengan
mengonsumsi jahe. Namun ingat, ibu hamil tidak boleh sembarang mengonsumsi
asupan tertentu, khususnya obat-obatan tradisional. Oleh karena itu, konsultasikan
terlebih dahulu kepada dokter sebelum mengonsumsi jahe.
4. Osteoarthritis.
Menurut sejumlah penelitian, rasa sakit akibat kondisi ini dapat diatasi dengan
mengonsumsi ekstrak jahe. Senyawa kimia pada jahe dapat mengurangi zat kimia
yang memicu peradangan sendi. Selain itu, jahe juga bisa merangsang tubuh
memproduksi asam salisilat, yaitu sebuah zat yang bisa meringankan rasa sakit dan
ketidak nyamanan.
5. Mual dan muntah usai operasi.
Mengonsumsi jahe sebelum operasi sepertinya bisa mengurangi rasa mual dan
muntah setelah operasi. Selain dikonsumsi melalui mulut, mengoleskan minyak jahe
pada pergelangan tangan juga sepertinya bisa mencegah mual.
2.2.10 Biji Jarak (Ricinus Communis)
a. Klasifikasi (Ratan, 2008)
Divisi : Spermatophyta
Sub divisi : Angiospermae
Kelas : Dicotyledonae
Ordo : Euphorbiales
Famili : Euphorbiaceae Biji Jarak (Ricinus
Genus : Ricinus Communis)
Spesies :Ricinus communis
b. Morfologi
Menurut Ratan (2008)
Jarak pagar berbentuk pohon kecil atau belukat besar dengan tinggi tanaman
mencapai 5 meter dan bercabang tidak teratur. Batang berkayu, berbentuk silindris,
dan bergetah. Daun jarak pagar berupa daun tunggal, berwarna hijau mudah sampai

20
hijau tua, permukaa bawah lebih pucat daripada bagian atasnya. Bunga berwarna
kuning kehijauan , berupa bunga majemuk berbentuk malai.buah berbentuk bunga
kendaga, oval, berupa buah kotak, berdiameter 2-4 cm. berwarna hijau ketika masih
muda dan kuning jika sudah matang. Biji berbentuk bulat lonjong, berwarna coklat
kehitaman dengan ukuran panjang 2 cm, tebal 1 cm, dan berat 0,4-0,6 gram/biji.
Tanaman jarak bisa diperbanyak dengan biji atau setek batang. Karakteristik tanaman
jarak yang berasal dari biji dan setek batang berbeda. Selain kedua cara tersebut,
tanaman jarak juga dapat diperbanyak melalui kultur jaringan (in-vitro).
Dengan cara ini kita dapat memperoleh bibit jarak dengan jumlah yang banyak
pada waktu yang bersamaan. Jarak pagar akan tumbuh dan berproduksi optimal jika
ditanam di lahan kering dataran rendah yang beriklim kering, dengan ketinggian 0-
500 meter dpl, curah hujan 300-1000 mm per tahun, dan temperature lebih dari
200°c. jarak pagar dapat tumbuh di lahan marginal yang miskin hara, tetapi
berdreinase dan aerasi baik. Produksi optimal akan diperoleh dari tanaman yang
ditanam di lahan subur. Jenis tanah yang baik untuk tanamn jarak pagar adalah yang
mengandung pasir 60-90 % dan pH tanah 5,5-6,5. Produksi optimal juga bisa tercapai
jika tanaman dipupuk dengan dosis yang sesuai dan tersedia air pada musim kemarau.
c. Khasiat (Ratan,2008)
Getah tanaman jarak pagar mengandung flavonoid dan saponin serta
kandungan jatrophie yang bersifat antijamur. pada bagian daun jarak pagar ditemukan
senyawa kaemfesterol, sitosterol, stigmasterol, amirin, dan teraksol. sedangkan biji
tanaman jarak(Ricinus Communis) telah ditemukan kandungan glukanase yang
memiliki aktivitas antifungi, toksalbumin dan cucin yang tidak hanya memiliki
aktivitas sebagai antifungi, tetapi kandungan kimia ini juga bermanfaat sebagai
antikanker. Ampas dari biji jarak yang sudah diperas minyaknya mengandung
nitrogen,fosfat dan kalium. kulit batang jarak pagar mengandung tannin, malam, resin
dan saponin.
2.3 Uraian Bahan
2.3.1 Alkohol (Dirjen POM,1979)

21
Nama Resmi : AETHANOLUM
Nama Lain : Etanol, Alkohol
Rumus Molekul : C2H5OH
Rumus Struktur :

Berat Molekul : 46 g/mol


Pemerian :Cairan tak berwarna jernih, mudah menguap dan
mudah bergerak, bau khas, rasa panas, mudah terbakar
dengan memberikan nyala api biru yang tidak berasap.
Kelaruran : Sangat mudah larut dalam air, dalam klorofom P,
dan dalam eter P
Penyimpanan :Dalam wadah tertutup rapat, terlindungi dari
cahaya, ditempat sejuk, jauh dari nyala api
Kegunaan : Sebagai zat tambahan
2.3.2 Aquades (FI Edisi III Hal 96)
Nama Resmi : AQUA DESTILLATA
Nama Lain : Aquadest, air suling
Rumus Molekul : H2O
Rumus Struktur :

Berat Molekul : 18,02 g/mol


Pemerian : Cairan tidak berwarna, tidak berbau, tidak berasa
Kelarutan : Larut dengan semua jenis larutan
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup kedap
Kegunaan : Zat pelarut

22
BAB III
METODE PRAKTIKUM
3.1 Waktu Dan Tempat
          Praktikum benda ergastik ini dilakukan pada tanggal 28 Oktober 2021 pada
pukul 10.30- selesai. Pelaksanaan praktikum bertempat di laboratorium bahan alam,
jurusan farmasi, fakultas olahraga dan kesehatan, universitas negeri Gorontalo.
3.2 Alat Dan Bahan
3.2.1 Alat
         Alat yang digunakan adalah: kaca objek, micro glass, mikroskop, pipet, silet,
pensil, pinset, lumpang,alu.
3.2.2 Bahan
          Bahan yang digunakan adalah: aqua, alkohol 70%, asam cuka, tisu, biji jarak
(ricinus ermunis), daun bayam (ficus benjamina), daun nanas (ananas comocus), jahe
(zingibae officinaly), kulit buah jeruk (cytrus sp), lidah buaya (aloe vera),padi (oryza
sativa), tangkai daun pepaya (carica pepaya), umbi karang (solanum tuberosum).
3.3 Cara Kerja
3.3.1 Percobaan 1-Pati (Solanum tuberosum)
1. Di bersihkan objek gelas dengan alkohol 70% lengkap bebas lemak dan debu.
2. Dikerok bagian dalam umbi kentang dengan pinset atau jarum pentul.

23
3. Dipindahkan cairan tersebut di atas permukaan kaca dan ditetesi dengan
aquades lalu ditutup.
4. Diamati dibawah mikroskop objektif dalam perbesaran objektif lemah
kemudian diganti dengan objek kuat
5. Di ambil gambar/foto bagian-bagian pati
3.3.2 Percobaan II- Amilum (Oryza sativa)
1. Disiapkan mikroskop sesuai dengan prosedur penggunaannya.
2. Dikerok bagian dalam umbi kentang dengan pinset atau jarum pentul sementara
butiran beras dihaluskan dengan mengunakan lumpang dan alu.
3. Dipindahkan cairan di permukaan objek gelas lalu ditetesi dengan air lalu
ditutup.
4. Amati di bawah mikroskop dengan perbesaran objektif lemah dan kuat
5. Di gambar bentuk amilum pada sampel tersebut
6. Diambil kesimpulan dari pengamatan preparat tersebut
3.3.3 Percobaan III-Aleuron (Ricinus communis)
1. Disiapkan mikroskop sesuai dengan prosedur penggunaannya.
2. Diambil biji jarak yang belum terlalu tua lalu lepaskan kulit biji nya dengan
pisau dan ambil endospermnya.
3. Iris endospermnya tersebut setipis mungkin lalu pindahkan ke atas objek gelas
lalu ditetesi dengan air dan ditutup.
4. Amati di bawah mikroskop dengan perbesaran lemah dan kuat.
5. Gambar beberapa endosperm yang mengandung butir aleuron tersebut lalu
tentukan di mana letak butir aleuron dalam sel.
3.3.4 Percobaan IV- Kristal dan bentukannya (Carica papaya)
1. Disiapkan mikroskop sesuai dengan prosedur penggunaannya.
2. Diambil tangkai daun pepaya, batang melinjo, dan tangkai daun kecubung lalu
iris setipis mungkin dan pindahkan di atas objek gelas, beri air dan tutup.
3. Di amati di bawah mikroskop dengan perbesaran lemah dan kuat.

24
4. Di gambar beberapa buah sel yang berisi kristal kalsium oksalat. Bentuk apakah
kristal masing-masing sampel tersebut.
3.3.5 Percobaan V- Bentuk Kristal (Amaranthus sp.)
1. Disiapkan mikroskop sesuai dengan prosedur penggunaannya.
2. Diambil tangkai daun bayam dan tangkai daun bawang iris tipis mungkin dan
pindahkan ke atas objek gelas, beri air dan tutup.
3. Di amati di bawah mikroskop dengan perbesaran lemah maupun kuat
4. Di gambar beberapa buah yang berisi kristal kalsium oksalat, bentuk apakah
kristal masing-masing sampel tersebut.
5. Diambil kesimpulan dari pengamatan tersebut. Bentuk apakah kristal dalam
preparat yang sedang anda amati.
3.3.6 Percobaan VI-kristal kalsium oksalat (Aloevera & Ananas commosus)
1. Disiapkan crossover sesuai dengan prosedur penggunaannya.
2. Diambil batang suji, daun lidah buaya, dan daun nanas diiris setipis mungkin
dan dipindahkan ke atas objek, air dan tutup.
3. Diamati di mikroskop dengan perbesaran lemah dan kuat.
4. Di gambar berapa buah sel yang berisi kristal kalsium oksalat, bentuk apakah
kristal masing-masing sampel tersebut?
5. Diambil kesimpulan dari hasil pengamatan anda
6. Disebutkan pula bentuk kristal dari masing-masing preparat tersebut.
3.3.7 Percobaan-VII sistoloit (Ficus benjamina)
1. Disiapkan mikroskop sesuai dengan prosedur
2. Diambil sehelai daun beringin yang tidak terlalu tua, diiris secara melintang
setipis mungkin kemudian diletakkan di atas kaca objek, ditetesi Aqua dan
ditutup.
3. Diamati dibalik mikroskop dengan perbesaran lemah dan kuat
4. Di gambar sel-sel epidermis mengandung sistolit.
5. Dicatat pula apa yang terjadi pada reaksi asam cuka.
3.3.8 Percobaan VIII- Minyak Etheris (Cytrus sp. & Zingiber officinale)

25
1. Disiapkan mikroskop sesuai dengan prosedur penggunaannya.
2. Diambil kulit buah jeruk, Simpang jahe dan daun kayu putih kemudian iris
setipis mungkin secara melintang.
3. Dipindahkan preparat tersebut diatas gelas objek.  lalu ditetesi dengan air dan
ditutup.
4. Di amati di bawah mikroskop dengan perbesaran lemah dan kuat.
5. Di gambar beberapa sel yang mengandung minyak. Diambil kesimpulan dari
pengamatan preparat tersebut.

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil
No Pengamatan Literatur
1 Umbi kentang (solanum tubersum) Umbi kentang (solanum
Perbesaran 10 tuberosum)

Keterangan : (Lia muliyani, 2018)


a. Pati

2 Padi(Oryza sativa) Perbesaran 10 Padi(Oryza sativa)

(Lia Muliyani)
Keterangan :
a. Amilum

26
3 Biji jarak (Ricinus communis) Biji
Perbesaran 100

jarak (Ricinus communis)

Keterangan :
a. Aleuron

(Liya muliyani, 2018)


4 Daun pepaya(Carica papaya) Daun pepaya(Carica papaya)
Perbesaran 10

a
Keterangan : (Hidayat, 1995)
a. Kristal kalsium oksalat
5 Daun Bayam (Amaranthus sp.) Daun Bayam (Amaranthus sp.)
Perbesaran 10 ( Liya muliyani, 2018)

a
Keterangan :
a. Kristal Ca Oksalat
6 Lidah Buaya (Aloevera) Lidah Buaya (Aloevera)
Perbesaran 10

27
Keterangan :
a.Kristal kalsium oksalat (Lia muliyani, 2018)

7 Daun beringin (Ficus benjamina) Daun beringin (Ficus benjamina)


Perbesaran 10

a
Keteragan : (Liya muliyani, 2018)
a. Sistolit
8 Daun nanas (Ananas commosus) Daun nanas (Ananas commosus)
Perbesaran 10

a
Keterangan : (Rini agustina, 2019)
a. Ca oksalat
9 Kulit buah jeruk (Cytrus sp.) Kulit buah jeruk (Cytrus sp.)
Perbesaran 10

a
Keterangan : a. minyak etheris (Sutrian, 2004)

28
10 Jahe (Zingiber officinale) Jahe (Zingiber officinale)
Perbesaran 10

a
keterangan : (Liya muliyani, 2018)
a. minyak etheris

4.2 Pembahasan
Benda-benda ergastik merupakan produk non-protoplasmik pada proses
metabolisme protoplasma; butir pati, tetes minyak, kristal dan cairan tertentu;
terdapat pada sitoplasma, vakuola, dan dinding sel (Setjo, S. 2004).
Pada praktikum kali ini, kami mengamati benda-benda ergastik berupa kristal,
pati, aleuron, dan minyak eteris. Untuk percobaan pengamatan benda-benda ergastik
ini, kami menggunakan sampel kentang (Solanum tuberosum), Padi (Oryza sativa),
Biji jarak (Ricinus communis), tangkai daun pepaya (Caricapapaya), daun bayam
(Amaranthus sp.), lidah buaya (Aloevera), daun beringin (Ficus benjamina), nanas
(Ananas commosus), jeruk (Cytrus sp), jahe (Zingiber officinale).
Pertama-tama di siapkan alat dan bahan kemudian dibersihkan alat dengan
menggunakan alkohol 70% agar bebas lemak dan debu. Alkohol 70% merupakan
cairan yang dapat digunakan sebagai antiseptik (membunuh atau menghambat
pertumbuhan mikroorganisme). Dengan begitu alkohol 70% sangat baik dipakai
dalam membersihkan alat-alat yang digunakan dalam proses pengamatan karena
menurut Margono et al (1993) bahwa alkohol yang digunakan untuk sterilisasi adalah
alkohol 70% karena efektif memecah protein yang ada dalam mikroorganisme.
Untuk kentang (solanum tuberosum), padi (Oryza sativa), dilihat pembentukan
amilum atau Pati. Pertama dikerok bagian dalam sampel kentang jika padi digerus

29
hingga halus, kemudian diletakkan diatas objek gelas. Menurut Rukmana, R (2007),
sampel kentang dikerok agar didapat sel yang sesungguhnya. Kemudian ditetesi air,
tujuan ditetesi air untuk menjaga lingkungan agar tetap segar, setelah itu ditutup
dengan cover glass, agar udah tidak masuk ke dalam, angkasa luka terjaga
lingkungannya, kemudian dia mati di mikroskop dengan perbesaran dari lemah ke
kuat. Digunakan pembesaran lemah terlebih dahulu untuk memfokuskan pengamatan
dan permudah and pengamatan. Gunakan pembesaran objektif lemah terhadap
terlebih dahulu untuk pengamatan awal, sudahlah fokus didapat lalu mengganti
dengan pembesaran kuat agar semakin jelas (Yulilina 2016).
Untuk sampel biji jarak (Ricinus communis) dilihat Aleoron.Pertama sampel
diiris setipis mungkin, menurut Setjo, S. (2004), sampel diiris tipis agar dapat terlihat
jelas sel-sel yang terdapat dalam tumbuhan tersebut. Setelah sampel diiris tipis,
kemudian diletakkan diatas kaca objek dan ditetesi dengan air menggunakan pipet.
Tujuan ditetesi air menurut Setjo, S. (2004),untuk menjaga lingkungan sel agar tetap
segar. Kemudian ditutup dengan menggunakan cover glass, agar udara tidak masuk
kedalam, agar sel tetap terjaga lingkungannya, kemudian diamati dimikroskop dengan
perbesaran dari lemah ke kuat. Digunakan pembesaran lemah terlebih dahulu untuk
memfokuskan pengamatan dan mempermudah pengamatan gunakanlah pembesaran
objektif lemah terlebih dahulu untuk pengamatan awal, setelah fokus didapat lalu
mengganti dengan pembesaran kuat agar semakin jelas (Yulilina, 2016).
Untuk sampel daun papaya ( Caricapapaya) dilihat kristal dan bentuknya.
Pertama sampel diiris setipis mungkin, menurut Setjo, S. (2004) sampel diiris tipis
agar dapat terlihat jelas sel-sel yang terdapat dalam tumbuhan tersebut. Setelah
sampel diiris tipis, kemudian diletakkan diatas kaca objek dan ditetesi dengan air
menggunakan pipet. Tujuan ditetesi air menurut Setjo, S. (2004) untuk menjaga
lingkungan sel agar tetap segar. Kemudian ditutup dengan menggunakan cover glass,
agar udara tidak masuk ke dalam, agar sel tetap terjaga lingkungannya, kemudian
diamati dimikroskop dengan perbesaran dari lemah ke kuat. Digunakan pembesaran
lemah terlebih dahulu untuk memfokuskan pengamatan dan mempermudah

30
pengamatan. Menurut yulilina (2016), gunakanlah pembesaran objektif lama terlebih
dahulu untuk pengamatan awal, su tara aku tidak perlu mengganti dengan
pembesaran kuala agar semakin jelas (Yulilina, 2016).
Untuk sampel daun bayam (Amarantus sp), dilihat bentuk kristal. Pertama
sampel diri setipis mungkin, menurut Setjo, S. (2004) sampel diiris tipis agar dapat
terlihat jelas yang serem yang terdapat dalam tumbuhan tersebut. Setelah sampel
diiris tipis, kemudian diletakkan di atas kaca objek dan ditetesi dengan air
menggunakan pipet. Tujuan ditetesi air menurut Setjo,S (2004) untuk menjaga
lingkungan sel agar tetap segar. Kemudian ditutup dengan menggunakan cover glass,
agar ular tidak masuk ke dalam, agar tetap terjaga lingkungannya kemudian diamati
di mikroskop dengan perbesaran dari lemah ke kuat. Digunakan pembesaran lemah
terlebih dahulu untuk memfokuskan pengamatan dan mempermudah pengamatan titik
lemah terlebih dahulu untuk pengamatan awal setelah fokus didapat lalu mengganti
dengan pembesaran kuat agar semakin jelas (Yulilina, 2016).
Untuk sampel lidah buaya (aloevera), dilihat kristal kalsium oksalat pertama
sampel diiris tipis mungkin, menurut Setjo, S. (2004) sampel diiris tipis agar dapat
terlihat jelas sel-sel yang terdapat dalam tumbuhan tersebut. Setelah sampel diiris
tipis, kemudian diletakkan di atas kaca objek dan ditetesi dengan air menggunakan
pipet. Tujuan ditetesi air menurut Setjo, S. (2004) untuk menjaga lingkungan sel agar
tetap segar. Kemudian ditutupi dengan menggunakan cover glass, agar udara tidak
masuk ke dalam, agar tetap terjaga lingkungannya kemudian diamati di mikroskop
dengan perbesaran dari lemah ke kuat. Digunakan pembesaran lemah terlebih dahulu
untuk memfokuskan pengamatan dan mempermudah pengamatan. Gunakanlah
pembesaran objektif lemah terlebih dahulu untuk pengamatan awal, setelah fokus
didapat lalu mengamati dengan pembesaran kuat agar semakin jelas (Yulilina, 2016).
Untuk sampel daun nanas (Ananas commosus) dilihat kristal kalsium oksalat
pertama sampel diiris tipis mungkin, menurut Setjo, S. (2004)sampel diiris tipis agar
dapat terlihat jelas sel-sel yang terdapat dalam tumbuhan tersebut titik Setelah sampel
diiris tipis, kemudian diletakkan di atas kaca objek dan ditetesi dengan air

31
menggunakan pipet. Tujuan ditetesi air menurut Setjo, S. (2004) untuk menjaga
lingkungan agar tetap segar. Kemudian ditutup dengan menggunakan cover glass,
agar tidak masuk ke dalam, agar tetap terjaga lingkungannya, kemudian diamati di
mikroskop dengan perbesaran dari lemah ke kuat. Digunakan pembesaran lemah
terlebih dahulu untuk memfokuskan pengamatan dan mempermudah pengamatan.
Gunakanlah pembesaran objektif lemah terlebih dahulu untuk pengamatan awal,
fokus didapat lalu mengganti dengan perbesaran kuat agar semakin jelas (Yulilina,
2016).
Untuk sampel daun beringin (Ficus Benyamina) dilihat sistolit pertama sampel
diri setipis mungkin, menurut Setjo, S. (2004) sampel diiris tipis agar dapat terlihat
jelas sel-sel yang terdapat dalam tumbuhan tersebut. Setelah sampai di RS tipis,
kemudian diletakkan di atas kaca objek dan ditetesi dengan air menggunakan pipet.
Tujuan ditetesi air menurut Setjo, S. (2004) untuk menjaga lingkungan silaga tetap
segar, kemudian ditutup dengan menggunakan cover glass, negara-negara tidak
masuk ke dalam, agar sel tetap terjaga lingkungannya, kemudian dia mati di
mikroskop dengan perbesaran dari lemah ke kuat. Digunakan pembesaran lemah
terlebih dahulu untuk memfokuskan pengamatan dan mempermudah pengamatan.
Gunakanlah pembesaran objektif lemah terlebih bedahulu untuk pengamatan awal,
setelah fokus didapat lalu mengganti dengan pembesaran kuat agar semakin jelas
(Yulilina, 2016).
Untuk sampel jahe (Zinggiber officinale), dilihat minyak eteris pertama sampai
di setipis mungkin, menurut Setjo, S. (2004) sampel di SD bisa gak dapat terlihat
jelas yang terdapat dalam tumbuhan tersebut. Tujuan ditetesi air menurut Setjo, S.
(2004) untuk menjaga lingkungan sel agar tetap segar. Kemudian ditutup dengan
menggunakan cover glass, agar udara tidak masuk ke dalam, agar sel tetap terjaga
lingkungannya, kemudian diamati dimikroskop dengan perbesaran dari lemah ke
kuat. Digunakan pembesaran lemah terlebih dahulu untuk memfokuskan pengamatan
dan mempermudah pengamatan. Gunakan pembesaran objektif lemah terlebih dahulu

32
untuk pengamatan awal, setelah fokus didapat lalu mengganti dengan pembesaran
kuat agar semakin jelas (Yulilina, 2016).
Untuk sampel jeruk ( cytrus sp) dilihat minyak eteris pertama sampel diiris
setipis mungkin, menurut Setjo, S. (2004) sampel diiris tipis agar dapat terlihat jelas
sel-sel yang terdapat dalam tumbuhan tersebut. Setelah sampai di iris tipis, kemudian
diletakkan di atas kaca objek dan ditetesi dengan air menggunakan pipet. Tujuan
ditetesi air menurut Setjo, S. (2004) untuk menjaga lingkungan agar tetap segar.
Kemudian ditutupi dengan menggunakan cover glass, agar udara tidak masuk ke
dalam, agar tetap terjaga lingkungan yang sama kemudian diamati mikroskop dengan
perbesaran dari lemah ke kuat. Digunakan pembesaran lemah terlebih dahulu untuk
memfokuskan pengamatan dan mempermudah pengamatan. Gunakanlah pembesaran
objektif lemah terlebih dahulu untuk pengamatan awal, setelah fokus didapat lalu
mengganti dengan pembesaran kuat agar semakin jelas (Yulilina,2016).

33
BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Bentuk-bentuk benda ergastik pada sel tumbuhan baik bersifat cair maupun
padat yaitu seperti bentuk butir amilum, bentuk amilum, butir endosperm, Kristal
kalsium oksalat, epidermis mengandung oksalat, dan sel minyak etheris. Untuk
didapatkan bentuk-bentuk tersebut dilakukan pengamatan sel dengan menggunakan
mikroskop dan juga dengan menggunakan irisan melintang maupun membujur.
5.2 Saran
5.2.1 Saran Untuk Jurusan
Agar kiranya dari pihak jueusan dapat meningkatkan fasilitas-fasilitas yang ada
pada labolatorium yang digunakan.
5.2.2 Saran Untuk Labolatorium
Agar kiranya dapat meningkatkan kelengkapan alat-alat yang ada dalam
labolatorium. Agar para praktikum dapat lebih mudah, cepat dan lancer dalam
melakukan suatu percobaan atau penelitian.
5.2.3 Saran Untuk Asisten
Kami mengharapkan agar kiranya dapat terjadi kerja sama yang lebih baik lagi
antar asisten dan praktikan saat berada didalam labolatorium maupun di luar
laboratorium. Sebab kerja sama yang baik akan lebih mempermudah proses
penyaluran pengetahuan dari asisten kepada praktikan.
5.2.4 Saran Untuk Praktikan
Kami berharap agar kiranya kepada sesama praktikan dapat menyimak dengan
baik saat asisten memberikan arahan agar mempermudah kita menyelesaikan
praktikan tersebut.

34
DAFTAR PUSTAKA
Arif S. Sadiman, dkk. 1990. Media Pendidikan, Pengertian, Pengembangan, dan
Pemanfaatannaya. Jakarta: CV. Rajawali

Collins, J. L. 1960. The Pineapple. World Corps Series. Leonard Hill Interscience
Publ. Inc. London. 295 p.

Dalimartha, S. 2006. Atlas Tumbuhan Obat Indonesia. Jilid V. Jakarta: Pustaka


Bunda.

Depkes RI., 1979. Farmakope Indonesia, Edisi III, Departemen Kesehatan


Republik Indonesia, Jakarta,6-7.

Dirjen pom, 1979. Farmakope Indonesia. Edisi Ketiga. Jakarta

Fahn, A. 1991. Anatomi Tumbuhan edisi ke 3. Yogyakarta : UGM Press

Farmakope Indonesia, 1997. Edisi III, Departemen Kesehatan


Republik Indonesia, Jakarta,6-7.

Firza .2011. Bentuk dan sel.

Foris. 2011. Komponen-komponen Nonprotoplasma Dalam Sel.

Fredikurniawan. 2007. Klasifikasi dan morofologi tanaman. Jakarta : Rineka


Cipta

35
Hasnunidah, Neni. 2011. Fisiologi Tumbuhan. Universitas Lampung. Bandar
Lampung.

Heyne, K. 1987. Tumbuhan Berguna Indonesia. Jilid I dan II. Terj. Badan Libang
Kehutanan. Cetakan I. Koperasi Karyawan Departemen Kehutanan Jakarta
Pusat.

Hidayat, Estiti B.1995. Anatomi tumbuhan berbiji. Bandung : Penerbit ITB

Kimball,John W. 1983. Biologi ,jilid 1 cet.5. Jakarta : Erlangga

Mulyani, Sri.2006. Anatomi Tumbuhan. Yogyakarta : Kanisius

Osmina,1990.Botani Farmasi,Mataram University Press,Surabaya.

Poedjiadi, A. Dkk. 2009. Dasar-dasar Biokimia. Universitas Indonesia (UI-Press).


Jakarta.

Ratan,2008.Morfologi Tumbuhan,Erlangga,Jakarta.

Rini agustina 2019 Benda-benda Ergastik Pada Tumbuhan Yang Memiliki Kristal
Oksalat

Rukmana. 1997. Ubi Jalar Budidaya dan Pasca Panen. Penerbit Kanisius.
Yogyakarta.

Setjo, Susetyoadi, 2004. Anatomi Tumbuhan. Malang: Universitas Negeri Malang.

Soepono,1990.Penelitian Tumbuhan,Farmasi UPI,Bandung.

36
Sudarsono, Gunawan, dkk. 2002. Tumbuhan Obat II (Hasil Penelitian, Sifat-sifat dan
penggunaan), 66-68, Pusat Studi Obat Tradisional-Universitas Gadjah Mada,
Yogyakarta.

Setyawan 2009, Identifikasi Unsur yang Terkandung Pada Tanaman di Bantaran


Sungai Gajahwong Yogyakarta dengan Metode AANC (Analisis Aktivasi
Neutron Cepat).
Sumardi,Iserep.1993. struktur dan perkembangan tumbuhan. Bandung : ITB

Sutrian, Yayan. 2004. Pengantar Anatomi Tumbuh-tumbuhan Tentang Sel dan


Jaringan. Jakarta: PT Rineka Cipta.

Tjitrosoepomo, Gembong.1993. morfologi tumbuhan. Yogyakarta : UGM- Press

Tjitrosoepomo, Gembong. 2004. Taksonomi Tumbuhan. Gadjah Mada University


Press.

Tjitrosoepomo, Gembong.2005. morfologi tumbuhan. Yogyakarta : UGM- Press

Tjitrosoepomo, Gembong.2007. morfologi tumbuhan. Yogyakarta : UGM- Press

Tjitrosoepomo, Gembong. 2010. Taksonomi Tumbuhan (Sphermatophyta).


Yogyakarta: Gajah Mada Universitas Press.

Voigt, R. 1984. Buku Ajar Teknologi Farmasi. Diterjemahkan oleh Soendani Noeroto
S.,UGM Press, Yogyakarta. Hal:337-338.

Warisno. 2003. Budidaya Pepaya. Yogaykarta: Kanisius.

37
Wijayakusuma, H. 1994, Tumbuhan Berkhasiat Obat Indonesia, 93-97, Jakarta,
Prestasi Intan Indonesia.

38
LAMPIRAN-LAMPIRAN
Lampiran 1:Alat dan Bahan
1.1 Alat
No Nama Alat Gambar Fungsi
1 Cutter Digunakan untuk memotong
sterofoam

2 Cover glass Digunakan sebagai penutup


preparat

3 Kaca preparat Digunakan untuk


meletakkan sampel

4 Mikroskop Digunakan sebagai alat


untuk mengamati suatu
sampel

5 Pipet Digunakan sebagai alat tetes

6 Pulpen Digunakan sebagai alat


bantu untuk menyayat
sampel dengan cara
membujur
7 Silet Sebagai alat untuk mengiris
sampel

39
1.2 Bahan
No Nama Bahan Gambar Fungsi
1. Alkohol 70 % Untuk membunuh
mikroorganisme

2. Aquadest Untuk melindungi


lingkungan sel agar

3. Biji Jarak Digunakan sebagai sampel


yang akan di amati

4. Daun Bayam Digunakan sebagai sampel


yang akan di amati

5. Daun Beringin Digunakan sebagai sampel


yang akan di amati

40
6. Daun nanas Digunakan sebagai sampel
yang akan di amati

7. Jahe Digunakan sebagai sampel


yang akan di amati

8. Kulit buah jeruk Digunakan sebagai sampel


yang akan di amati

9. Lidah buaya Digunakan sebagai sampel


yang akan di amati

10. Padi/ beras Digunakan sebagai sampel


yang akan di amati

41
11. Tangkai daun Digunakan sebagai sampel
pepaya yang akan di amati

12. Umbi kentang Digunakan sebagai sampel


yang akan di amati

13. Sterofoam Sebagai alat bantu potongan


melintang

14. Tisu Untuk membersihkan kaca


preparat dan cover glass

42
Lampiran 2: Diagram Alir
2.1 Umbi Kentang (Solanum tuberosum)
Kentang (solanum tuberosum)

Disiapkan mikroskop sesuai dengan prosedur penggunaannya


Dikerok bagian dalam umbi kentang dengan pingset atau jarum
pentul
Dipindahkan cairan tersebut di atas permukaan kaca dan tetesi
aquadest lalu tutup
Diamati di bawah mikroskop dengan pembesaran objektif lemah dan
kuat
Digambar bentuk pati kentang tersebut

HASIL

43
2.2 Beras Beras (Oryza sativa)
Beras (Oryza sativa)

Disiapkan mikroskop sesuai dengan prosedur penggunaannya


Digerus butir beras dengan menggunakan lumpang dan alu
Dipindahkan cairan yang di permukaan objek glass lalu tetesi dengan
air lalu tutup
Diamati di bawah mikroskop dengan pembesaran objektif lemah dan
kuat
Digambar bentuk amilum pada sampel tersebut
Dibuat kesimpulan dari pengamatan preparat tersebut
HASIL

44
2.3 Biji Jarak (Ricinus communis)

Biji Jarak (Ricinus communis)

Disiapkan mikroskop sesuai dengan prosedur penggunaannya


Diambil biji jarak yang belum terlalu tua lalu lepaskan kulit
bijinya dengan pisau dan ambil endospermnya
Diiris endosperm tersebut setipis mungkin lalu pindahkan ke atas
objek glass lalu tetesi dengan air dan tutup
Diamati di bawah mikroskop dengan pembesaran objek lemah
dan kuat
Digambar beberapa sel endosperm yang mengandung butir
aleuron tersebut lalu tentukan dimana letak butir aleuron dalam
sel tersebut

HASIL

45
2.4 Tangkai Daun Papaya (Carica papaya)

Tangkai Daun Papaya (Carica papaya)

Disiapkan mikroskop sesuai dengan prosedur penggunaanya


Diambil tangkai daun papaya lalu iris setipis mungkin dan
pindahkan di atas objek glass, tetesi air dan tutup
Diamati dibawah mikroskop dengan pembesaran objek lemah dan
kuat
Digambar beberapa buah sel yang berisi Kristal kalsium
oksalat.Bentuk apakah Kristal masing-masing sampel.

HASIL

46
2.5 Daun Bayam (Amaranthus sp.)

Daun Bayam (Amaranthus sp.)

Disiapkan mikroskop sesuai dengan prosedur penggunaannya


Diambil tangkai daun bayam lalu iris setipis mungkin dan
pindahkan ke atas objek glass, beri air dan tutup
Diamati di bawah mikroskop sesuai dengan pembesaran objek
lemah dan kuat
Digambar beberapa buah yang berisi Kristal kalsium oksalat,
bentuk apakah Kristal masing-masing sampel tersebut
Dibuat kesimpulan dari hasil pengamatan tersebut. Bentuk
apakah Kristal dalam preparat yang sedang diamati
HASIL

47
2.6 Lidah buaya (Aloe vera)

Lidah buaya (Aloe vera)

Disiapkan mikroskop sesuai dengan prosedur penggunaannya


Diambil daun lidah buaya lalu iris setipis mungkin dan
pindahkan ke atas objek, beri air dan tutup
Diamati di mikroskop dengan pembesaran lemah dan kuat
Digambar beberapa buah sel yang berisi kristal kalsium oksalat,
bentuk apakah kristal masing-masing sampel tersebut
Dibuat kesimpulan hasil pengamatan tersebut
Disebutkan pula bentuk kristal dari masing-masing preparat
tersebut
HASIL

48
2.7 Daun Beringin (Ficus benyamina)
Daun Beringin (Ficus benyamina)

Disiapkan mikroskop sesuai dengan prosedur penggunaannya


Diambil sehelai daun beringin yang tidak tahu terlalu tua, iris
secara setipis mungkin kemudian letakkan di atas kaca objek,
tetesi aqudes dan tutup
Diamati dibalik mikroskop dengan pembesaran objek lemah dan
kuat
Digambar sel-sel epidermis mengandung sistolit
Dicatat pula apa yang terjadi pada reaksi dengan asam cuka

HASIL

49
2.8 Daun Nanas (Ananas Commosus)

Daun Nanas (Ananas Commosus)

Disiapkan mikroskop sesuai dengan prosedur penggunaannya


Diambil daun nanas lalu iris setipis mungkin dan pindahkan ke
atas objek glass, beri air dan tutup
Diamati di bawah mikroskop sesuai dengan pembesaran objek
lemah dan kuat
Digambar beberapa buah yang berisi Kristal kalsium oksalat,
bentuk apakah Kristal masing-masing sampel tersebut
Dibuat kesimpulan dari hasil pengamatan tersebut. Bentuk
apakah Kristal dalam preparat yang sedang diamati
HASIL

50
2.9 Kulit Buah Jeruk (Citrus Sp)

Kulit Buah Jeruk (Citrus Sp)

Disiapkan mikroskop sesuai dengan prosedur penggunaannya


Diambil kulit buah jeruk lalu iris setipis mungkin dan pindahkan
ke atas objek glass, beri air dan tutup
Diamati di bawah mikroskop sesuai dengan pembesaran objek
lemah dan kuat
Digambar beberapa buah yang berisi Kristal kalsium oksalat,
bentuk apakah Kristal masing-masing sampel tersebut
Dibuat kesimpulan dari hasil pengamatan tersebut. Bentuk
apakah Kristal dalam preparat yang sedang diamati
HASIL

51
2.10 Jahe (Zingiber officinale)

Jahe (Zingiber Offinale)

Disiapkan mikroskop sesuai dengan prosedur penggunaanya


Diambil, rimpang jahe kemudian iris setipis mungkin secara
melintang
Dipindahkan preparat tersebut diatas gelas objek. Lalu tetesi air
dan tutup
Diamati bawah mikroskop dengan pembasaran objek lemah dan
kuat
Digambar beberapa sel yang mengandung minyah etheris. Buat
kesimpulan dan dari pengamatan preparat tersebut
HASIL

52
Lampiran 3: Skema Kerja
3.1 Umbi Kentang (solanum tuberosum)

Membersihkan Mengerok bagian Meleletakkan di


alat dan bahan dalam umbi atas kaca preparat
yang akan kentang lalu ditetesi
digunakan aquadest

Mengamati Menutup dengan


dengan micro glass
menggunakan
mikroskop

53
3.2 Beras/padi (oryza sativa)

Membersihkan Menggerus beras Meleletakkan di


alat dan bahan menggunakan atas kaca preparat
yang akan lumpang & alu lalu ditetesi
digunakan aquadest

Mengamati Menutup dengan


dengan micro glass
menggunakan
mikroskop

54
3.3 Biji Jarak (Ricinus communis)

Membersihkan Mengiris bagian Meleletakkan di


alat dan bahan dalam biji jarak atas kaca preparat
yang akan lalu ditetesi
digunakan aquadest

Mengamati Menutup dengan


dengan micro glass
menggunakan
mikroskop

55
3.4 Tangkai Daun papaya (Carica papaya)

Membersihkan Meleletakkan di
Mengiris bagian
alat dan bahan atas kaca preparat
tangkai daun
yang akan lalu ditetesi
pepaya
digunakan aquadest

Mengamati Menutup dengan


dengan micro glass
menggunakan
mikroskop

56
3.5 Tangkai Daun Bayam (Amaranthus sp)

Membersihkan Meleletakkan di
Mengiris bagian
alat dan bahan atas kaca preparat
tangkai daun
yang akan lalu ditetesi
bayam
digunakan aquadest

Mengamati Menutup dengan


dengan micro glass
menggunakan
mikroskop

57
3.6 Lidah Buaya (Aloevera)

Membersihkan Meleletakkan di
alat dan bahan Mengiris lidah atas kaca preparat
yang akan bauaya lalu ditetesi
digunakan aquadest

Mengamati Menutup dengan


dengan micro glass
menggunakan
mikroskop

58
3.7 Daun Nanas (Ananas commosus)

Membersihkan Meleletakkan di
alat dan bahan Mengiris bagian atas kaca preparat
yang akan daun nanas lalu ditetesi
digunakan aquadest

Mengamati Menutup dengan


dengan micro glass
menggunakan
mikroskop

59
3.8 Daun Beringin (Ficus benjamina)

Membersihkan Meleletakkan di
alat dan bahan Mengiris bagian atas kaca preparat
yang akan daun beringin lalu ditetesi
digunakan aquadest

Mengamati Menutup dengan


dengan micro glass
menggunakan
mikroskop

60
3.9 Kulit buah Jeruk (Cytrus sp)

Membersihkan Meleletakkan di
alat dan bahan Mengiris bagian atas kaca preparat
yang akan kulit buah jeruk lalu ditetesi
digunakan aquadest

Mengamati Menutup dengan


dengan micro glass
menggunakan
mikroskop

61
3.10 Jahe (Zingiber Officinale)

Membersihkan Meleletakkan di
alat dan bahan Mengiris bagian atas kaca preparat
yang akan rimpang jahe lalu ditetesi
digunakan aquadest

Mengamati Menutup dengan


dengan micro glass
menggunakan
mikroskop

62

Anda mungkin juga menyukai